Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH

MANAJEMEN BIAYA
“ALOKASI BIAYA : DEPARTEMEN, PRODUK GABUNGAN,
DAN PRODUK SAMPINGAN”

Pembimbing :
Yayuk Dwi Prasetya, S. Pd

Disusun oleh :
 Trisna Eka Wulansari ( 15041101 )
 Dian Eka Purwati (15041087)
 Mira Agustin (15041092)

FAKULTAS EKONOMI PRODI AKUNTANSI


UNIVERSITAS ISLAM DARUL ‘ULUM
LAMONGAN
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan petunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul
“Alokasi Biaya : Departemen, Produk Gabungan, dan Produk Sampingan”,
yang mana makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata
kuliah Manajemen Biaya.
Ada pepatah yang mengatakan “Tak ada gading yang tak retak”, kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyajian makalah ini.Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini berguna dan dapat
menambah pengetahuan pembaca.
Demikian makalah ini kami buat, apabila ada kata- kata yang kurang
berkenan dan banyak terdapat kekurangan, kami mohon maaf yang sebesar-
besarnya.

Lamongan, 06 Desember 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................ ii
Daftar Isi...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Pokok - Pokok Pembahasan ................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Peran Strategis Alokasi Biaya .................................................... 3
2.2 Isu Etika dalam Alokasi Biaya ................................................... 4
2.3 Alokasi Biaya ke Departemen Jasa dan Departemen Produksi...... 4
2.4 Penerapan Manajemen Biaya ......................................................... 15
2.5 Alokasi Biaya pada Produk Jasa .................................................... 24
2.6 Perhitungan Biaya Produk Gabungan ............................................ 28
2.7 Perhitungan Biaya Produk Gabungan ............................................ 35
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................ 40
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 41

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Produk Gabungan (joint product) dihasilkan secara simultan melalui suatu
proses atau serentetan proses umum, dimana setiap produk yang dihasilkan
dari proses tersebut memiliki lebih dari sekedar nilai nominal. Proses
produksi tersebut bersifat simultan karena proses itu menghasilkan seluruh
produk tersebut tanpa kecuali. Peningkatan dalam output salah satu produk
pasti akan menyebabkan peningkatan kuantitas dari produk atau produk-
produk lain, dan demikian pula sebaliknya, walaupun tidak harus dalam
proporsi yang sama.
Biaya gabungan terjadi dalam bentuk jumlah total biaya yang dapat dibagi
untuk semua produk dihasilkan dan bukan berasal dari penjumlahan biaya
individual masing-masing produk. Total biaya produksi dari beragam produk
melibatkan biaya gabungan maupun biaya produksi individualyang terpisah.
Titik pisah batas (split-off point) didefinisikan sebagai titik dimana produk-
produk tersebut dapat dipisahkan sebagai unit-unit individual. Sebelum titik
tersebut, produk-produk tadi masih dalam satu kesatuan yang homogen.
1.2. Pokok - Pokok Pembahasan
Dalam tulisan ini, Penulis akan membahas dan berfokus pada :
1. Peran Strategis Alokasi Biaya
2. Isu Etika dalam Alokasi Biaya
3. Alokasi Biaya ke Departemen Jasa dan Departemen Produksi
4. Penerapan Manajemen Biaya
5. Alokasi Biaya pada Industri Jasa
6. Perhitungan Biaya Produk Gabungan
7. Perhitungan Biaya Produk Sampingan
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana peran strategis dari alokasi biaya.

1
2. Untuk mengetahui bagaimana isu etika dalam alokasi biaya.
3. Untuk mengetahui cara alokasi biaya ke departemen jasa dan produksi.
4. Untuk mengetahui bagaimana penerapan manajemen biaya.
5. Untuk mengetahui bagaimana perlakuan alokasi pada industri jasa.
6. Untuk mengetahui bagaimana perhitungan biaya produk gabungan.
7. Untuk mengetahui bagaimana perhitungan biaya produk sampingan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERAN STRATEGIS ALOKASI BIAYA


Peran strategis alokasi biaya memiliki empat tujuan :
1. Menentukan biaya departemen yang akurat dan biaya produk(accurute
departmental and product costs) sebagai dasar untuk melakukan evaluasi
efisien biaya departemen dan profabilitas dari berbagai produk, untuk
pelaporan keuangan, serta kepatuhan pajak.
2. Memotivasi manajer untuk mengarahkan segala upaya tingkat tinggi dalam
mencapai tujuan akhir manajemen puncak.
3. Menyediakan insentifyang tepat bagi manajer untuk mengambil keputusan
yang konsisten dengan tujuanmanajemne puncak.
4. Secara wajar menentukan imbal jasa yang diperoleh manajer atas upaya
dan keahliannya serta efektifitas pengambilan keputusan mereka.

Tujuan pertama dan yang terpenting membutuhkan metode alokasi biaya yang
cukup akurat untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen yang efektif
mengenai produuk dan departemen. Metode alokasi biaya juga harus mematuhi
standart-standart pelaoran keuangan FASB (dan pada akhirnya, standart-standart
Pelaporan keuangan Internasional dari Dewan Standar Akuntansi Internasional –
International Financial reporting Standarts of the International Accouning
Standards Board, ketika SEC bergerak menuju ke satu titik temu antara standar-
standar AS dengan Internasional) dan Internal Revenue Service.
Tujuan kedua adalah memotivasi manajer, yang berarti ahwa, agar dapat efektif,
alokasi biaya harus memberikan imbal jasa kepada manajer departemen atas
penurunan biaya yang harus memberikan imbal jasa kepada manajer departemen
atas penurunan biaya yang diharapkan. Isu motivasi utamanya adalah apakah
manajer dapat mengendalikan biaya yang dialokasikan.
Tujuan ketiga adalah menyediakan intensif untuk pengembalian keputusan, yang
akan dicapai ketika alokasi biaya menyediakan insentif yang efektif untuk setiap

3
manajer yang bertindak secara otonom dengan cara yang konsisten dengan tujuan
manajemen puncak.
Tujuan keempat adalah kewajaran, yang tercapai ketika alokasi biayanya jelas,
objektif, dan diaplikasikan secara konsisten. Dasar alokasi biaya yang paling
objektif hanya ada ketika hubungan sebab-akibat dapat ditentukan.

2.2. ISU ETIKA DALAM ALOKASI BIAYA


1. Isu etika muncul ketika biaya dialokasikan ke produk atau jasa yang
dihasilkan baik untuk pasar yang penuh kompetisi maupun badan publik
atau departemen pemerintah.
2. Dalam mengimplementasikan metode alokasi biaya adalah isu ekuitas atau
kewajaran yang muncul ketika unit pemerintahan mengganti biaya institusi
swasta atau ketika unit pemerintahan memberikan pelayanan kepada
publik dengan uang pembayaran.
3. Pengaruh dari metode alokasi yang dipilih terhadap biaya produk yang
dijual ke atau dibeli dari anak perusahaan diluar negeri.

2.3. ALOKASI BIAYA KE DEPARTEMEN JASA DAN DEPARTEMEN


PRODUKSI
Pendekatan departemen merupakan perbaikan dari pendekatan berdasarkan
volume satu tahapan karena memperhitungkan perbedaan biaya yang terjadi pada
berbagai departemen dan perbedaan konsumsi sumber daya departemen dengan
produk, dengan demiian menyebabkan biaya produk yang lebih akurat.
Pendekatan berdasarkan aktivitas, yang dijelaskan pada bab 5, mengikuti
pendekatan dua tahap seperti pendekatan departemen, dengan perbedaan bahwa
pendekatan itu membebankan biaya pada tingkat yang jauh lbeih terperinci yaitu
aktivitas operasi selain departemen.karena tingkat perincian yang lebih besar,
pendekatan berdasarkan aktivitas menangkap penggunaan sumber daya yang lebih
akurat dengan berbagai produk, dan oleh karena itu menyediakan biaya produk
yang lebih akurat. Karena adanya tingkat keakuratan yang meningkat, pendekatan
berdasarkan aktivitas pada umumnya lebih disukai. Akan tetapi berdasarkan

4
aktivitas tidak disukai dalam seluruh situasi, seperti dimana perusahaan meemiliki
produk dan proses yang homogen. Kemudian pendekatan departemen lebih
disukai karena lebih sederhana, murah, dan menghasilkan hasil-hasil yang dapat
dibandingkan dengan pendekatan berdasarkan aktivitas.
Pendekatan departemen mengakui bahwa operasi produksi secara umum
mencakup dua jenis departemen operasi, departemen produksi dan departemen
jasa. Pendekatan departemen memilikitiga tahapan, yaitu :
1. Menelusuri seluruh biaya produksi langsung dan mengalokasikan biaya
overhead pabrik ke departemmen jasa dan departemen produksi.
Tahap pertama pada pendekatan alokasi departemen adalah menelusuri biaya
produksi langsung dan mengalokasikan biaya produksi tidak langsung
padapabrik ke setiap departemen jasa dan departemen produksi.
Untuk alokasi tahap pertama, liht informasi Bear Company pada tampilan 7.3
berikut:
Departemen jasa 1 $ 5.850
Departemen jas 2 8.250
Departemen produksi 1 24.750
Departemen produksi 2 27.150
Total $66.000

Departemen Departemen Departemen Departemen Total Total Jumlah


Jasa 1 jasa 2 Produksi 1 Produksi 2 Jam
Jumlah jam 1.800 1.200 3.600 5.400 12.000
tenaga
kerja
Jumlah jam 320 160 160 1.600 3.200
mesin
Biaya $ 1.600 $ 5.500 $ 5.500 $ 15.500 $ 36.000
langsung
Tenaga Tidak dapat 25.000
kerja tidak ditelusuri
langsung
Bahan baku Tidak dapat 5.000
tidak ditelusuri
langsung

5
Beary memproduksi dua produk serta memiliki dua departemen produksi dan
dua departemen jasa. Biaya langsung sebesar $36.000 dapat ditelusuri ke
setiap departemen, dan biaya tidak langsung sebesar $30.000 (biaya tenaga
kerja sebesar $25.000 dan biaya bahan baku sebesar $5.000) bersifat umum
bagi seluruh departemen tetapi tidak dapat ditelusuri langsung ke departemen.
Beary menggunakan jumlah jam tenaga kerja langsung ke departemen. Beary
menggunakan jumlah jam tenaga kerja untuk mengalokasikan biaya tenaga
kerja tidak langsung dan jumlah jam mesin untuk mengalokasikan biaya
bahan baku tidak langsung.
Alokasi tahap pertama akan ditunjukkan pada tampilan 7.4 sebagai berikut :
Seluruh Departemen

Dasar Alokasi Dep. Jasa 1 Dep. Jasa 2 Dep. Dep. Total


Departemen Produksi 1 Produksi 2
Jumlah jam tenaga 1.800 1.200 3.600 5.400 12.000
kerja langsing
Persentase 15% 10% 30% 45% 100%

Jumlah jam kerja 320 160 1.120 1.600 3.200


mesin
Persentase 10% 5% 35% 50% 100%

Tahap Pertama: Menelusuri Biaya Langsung & Mengalokasikan BTKL ke seluruh Departemen

Biaya Langsung $1.600 $5.500 $15.500 $13.400 $36.000

Mengalokasikan BTKL ke
departemen:
Tenaga kerja tak 3.750 2.500 7.500 11.250 25.000
langsung = 15% x $25.000 = 10% x $25.000 =30%x$25.000 =45%x$25.000
Bahan baku tidak 500 250 1.750 2.500 5.000
langsung =10% x = 5% x $5.000 =35%x$5.000 =50%x$5.000
$5.000
Total untuk seluruh $5.850 $8.250 $24.750 $27.150 $66.000
departemen
Total biaya langsung sebesar $36.000 dapat di telusuri ke empat departemen,
dan biaya overhead dialokasikan menggunakan jumlah jam tenaga kerja
(untuk tenaga kerja tidak langsung) dan jumlah jam mesin (untuk bahan baku
tidak langsung). Tampilan tersebut menyajikan dasar alokasi untuk

6
penggunaan jumlah jam tenaga kerja dan jumlah jam mesin sebagai
persentase dari total penggunaan. Biaya tenaga kerja tidak langsung sebesar
$25.000 dialokasikan ke empat departemen menggunakan dasar alokasi
jumlah jam tenaga kerja. Contohnya, jumlah biaya tenaga kerja tidak
langsung yang dialokasikan ke departemen jasa 1 sebesar $3.750 (bagian total
biaya tenaga kerja tidak langsung pada departemen 1, atau 15% x $25.000).
alokasi biaya tenaga kerja tidak langsung ke departemen lainnya dilakukan
dengna cara yang sama. Demikian pula, biaya bahan baku tidak langsung
sebesar $5.000 dialokasikan ke empat departemen menggunakan jumlah jam
mesin. Jumlah biaya bahan baku tidak langsung yang dialokasikan ke
departemen jasa 1 sebesar $500 (10% x $5.000). total biaya langsung dan
biaya tidak langsung yang dialokasikan sebesar $66.000, sama dengan total
biaya dari Tampilan 7.3
2. Mengalokasikan biaya departemen jasa ke departemen produksi
Tahap kedua yaitu mengalokasikan biaya departemen jasa ke departemen
produksi. Tahap ini adalah tahap alokasi yang paling kompleks karena jasa
dapat mengalir bolak-balik antardepartemen jasa. Tahap ini sering kali
disebut juga arus timbale-balik (reciprocal flows). Misalnya, asumsikan
bahwa 40% dari 1.800 jumlah jam tengaa kerja departemen jasa 1 (720 jam)
digunakan untuk melayani departemen jasa 1. Dapat kita lihat kedua arus
bolak-balik untuk Beary Company pada tampilan 7.5. Hubungan timbal balik
pada Bear :

Ke

Dari : Departemen Departemen Departemen Departemen


Jasa 1 Jasa 2 Produksi 1 Produksi 2

Departemen - 40% 30% 30%


Jasa 1
Departemen 10% - 30% 60%
Jasa 2
Persentase hubungan jasa pada umumnya ditentukan dengan mengacu pada
jumlah jam tenaga kerja, jumlah unit yang diproses atau beberapa dasar

7
alokasi lainnya yang paling baik mencerminkan jasa yang disediakan bagi
departemen tersebut. Pada Beary Company, persentase arus jasa untuk setiap
departemen jasa ditentukan menurut jumlah jam tenaga kerja yang digunakan
untuk jasa yang disediakan bagi departemen jasa lainnya dan departemen
produksi. Departemen jasa pertama Beary Company menggunakan 40%
waktunya untuk melayani departemen jasa 2 dan 30% waktunya untuk
melayani kedua departemen produksi. Departemen jasa 2 melayani
departemen jasa 1 sebesar 10% dari waktunya, departemen produksi pertama
sebesar 30% dari waktunya, dan departemen produksi kedua sebesar 60% dari
waktunya.
Akuntan menggunakan tiga metode umum untuk mengalokasikan biaya
dengan dua tahap ;
1. Metode Langsung
Metode Langsung (direct method) merupakan metode yang paling
sederhana dari ketiga metode alokasi biaya per departemen karena
mengabaikan arus timbal balik. Alokasi biaya diselesaikan dengan
menggunakan arus jasa hanya ke departemen produksi dan menentukan
bagian dari jasa tersebut untuk setiap departemen produksi. Contohnya
untuk departemen jasa 1, bagian waktu untuk setiap departemen
produksi adalah sebesar 50% dari total jasa yang digunakan oleh
departemen produksi, yang ditentukan sebagai berikut :
Untuk Departemen 1 :
Jasa bersih untuk kedua departemen dari departemen jasa 1 :
= 100% - Waktu jasa untuk departemen jada kedua
= 100% - 40% = 60%
Bagian departemen produksi 1 : 30 persen/60 persen = 50 persen
Bagian departemen produksi 2 : 30 persen/60 persen = 50 persen

8
Untuk Departemen 2 :
Jasa bersih untuk kedua departemen dari departemen jasa 2 :
100% - 10% = 90%

Bagian departemen produksi 1 : 30% / 90% = 33.33%


Bagian departemen produksi 2 : 60% / 90% = 66.67%

Persentase dari bagian-bagian ini digunakan untuk mengalokasikan


biaya dari departemen jasa ke departemen produksi, seperti ditunjukkan
pada bagian tahap kedua pada Tampilan 7.6.
Tahap kedua : Mengalokakasikan Biaya Departemen Jasa ke Departemen produksi:
Menggunakan Metode Langsung

Departemen Departemen Total


Produksi 1 Produksi 2
Dep. Jasa 1 Persentase jasa ke 30% 30%
Dep. Produksi
Persentase alokasi 50% = 30/ (30+30) 50% = 30/ (30+30)
per metode
langsung
Jumlah alokasi $2.925 $2.925 $5.5850
=50%x$5.850 =50%x$5.850
Dep Jasa 2 Persentase jasa ke 30% 60%
Dep. Produksi
Persentase alokasi 33,33% = 30/ 66,67% = 30/
per metode (30+60) (30+60)
langsung $8.250
Jumlah alokasi $5.500
$2.750
=50%x$5.850
=50%x$5.850
Ditambah: Alokasi Tahap 1 $24.750 $27.150 $51.900

Total untuk Dep. Produksi $30.425 $35.575 $66.000

9
Tahap Ketiga : mengalokasikan Biaya Departemen Produksi ke Produk

1. Dasar Alokasi Produk 1 Produk 2

Dasar Jumlah jam tenaga kerja

Jumlah 1.800 1.800 3.600

Persentase 50% 50%

Jumlah Jam Mesin

Jumlah 400 1.200 1.600

Persentase 25% 75%

2. Alokasi biaya ke Produk

Dep. Produksi 1 (dasar jumlah $15.212,50 $15.212,50


Tenaga Kerja) =50% x $30.425 =50% x $30.425
Dep. Produksi 2 (dasar jumlah $8.991,25 $26.973,75
Jam Mesin) =25% x $35.965 =75% x $35.965
Total untuk setiap produk $24.106,75 $41.893,25 $66.000

2. Metode Bertahap
Metode bertahap dalam mengalokasikan biaya departemen jasa adalah
metode bertahap (step method), disebut demikian karena metode
tersebut menggunakan serangkaian tahap dalam mengalokasikan biaya
departemen jasa ke departemen produksi. Pada tahap pertama, satu
departemen jasa dipilih untuk dialokasikan seluruhnya, yaitu ke
departemen jasa lainnya maupun ke setiap departemen produksi.
Departemen yang akan dialokasikan seluruhnya biasanya dipilih karena
departemen tersebut memberikan jasa terbanyak ke departemen jasa
lainnya.
Pada Beary Company departemen jasa 1 memeberikan jasa lebih
banyak (40%) dan dialokasikan pertama kali. Departemen jasa 2 hanya

10
dialokasikan ke departemen produksi, dengan cara yang sama seperti
metode langusng. Secara keseluruhan, ini berarti bahwa metode
bertahap dapat menyediakan alokasi yang lebih akurat karena salah satu
dari arus timbal balik antara kedua departemen jasa (salah satu arus
pada tahap pertama) dieperhitungkan dalam alokasi tersebut, tidak
seperti metode langsung yang mengabaikan seluruh arus timba balik.
Tahap pertama dari metode bertahap (menelusuri biaya langsung dan
alokasi awal biaya tidak langsung) adalah sama seperti pada metode
langsung yang ditunjukkan dalam Tampilan 12.4 akna tetapi, pada
tahap kedua (Tampilan 7.7), departemen jasa 1 yang berada pada tahap
pertama, dialokasikan ke departemen jasa 2 dan kedua departemen
produksi. Alokasi ke departemen jasa 2 adalah sebesar $2.340 (40% x
$5.850). alokasi untuk kedua departemen produksi ditentukan dengan
cara yang sama. Kemudian, pada tahap kedua, departemen jasa 2
dialokasikan ke dua departemen produksi menggunakan metode
langsung dengan cara yang sama seperti Tampilan 7.6 satu-satunya
perbedaan adalah bahwa total biaya departemne jasa 2 ($10.590)
sekarang mencakup biaya departemen jasa 2 ($8.250) ditambah biaya
yang dialokasikan dari epartemen jasa 1 pada tahap pertama ($2.340).
Tahap ketiga dari metode bertahap yang telah diselesaikan terdapat
pada Tampilan 7.6. dengan menggunakan metode bertahap, total biaya
yang dialokasikan ke produk 1 adalah sebesar $24.008,75 dan total
biaya yang dialokasikan ke produk 2 adalah sebesar $41.991,25 dengan
total biaya keduanya adalah sebesr $66.000.
Tampilan 7.7
Tahap kedua : mengalokakasikan Biyaa Departemen Jasa ke Departemen produksi:
Menggunakan Metode Bertahap

Departemen Departemen Departemen Total


Jasa 2 Produksi 1 Produksi 2
Tahap Pertama

11
Dep. Jasa 1

Persentase 40% 30% 30%


jasa
Jumlah $2.340 $1.755 $1.755 $5.850

= 40% x = 30% x $5.850 = 30% x $5.850


$5.850
Tahap kedua

Dep. Jasa 2

Persentase 30% 60%


Jasa
Persentase alokasi dg metode 33,33% 66,67%
langsung
Jumlah $10.590 $3.530 $7.060 $8.250

=$8.250+$2.340 =33,33%x$10.590 =66,67%x$10.590 =$3.530+$7.060+$3.340

Ditambah: Alokasi tahap pertama $24.750 $27.150 $51.900

Total untuk Departemen Produksi $30.035 $35.965 $66.000

Tahap ketiga: mengalokasikan Biaya Dep. Produksi Ke produk

3. Dasar Alokasi Produk 1 Produk 2

Jumlah jam tenaga kerja

Jumlah 1.800 1.800 3.600

Persentase 50% 50%

Jumlah Jam Mesin

Jumlah 400 1.200 1.600

Persentase 25% 75%

12
4. Alokasi biaya ke Produk

Dep. Produksi 1 (dasar jumlah $15.017,50 $15.017,50


Tenaga Kerja) =50% x $30.035 =50% x $30.035
Dep. Produksi 2 (dasar jumlah $8.991,25 $26.973,75
Jam Mesin) =25% x $35.965 =75% x $35.965
Total untuk setiap produk $24.008,75 $41.991,25 $66.000

3. Metode Timbal-balik
Metode Timbal-balik (reciprocal method) merupakan metode yang
paling dipilih dari ketiga metode yang ada, karema tidak seperti metode
lainnya, metode tersebut memperhitungkan seluruh arus timbal-balik
antar departemen jasa. Metode ini diselesaikan dengan menggunakan
persamaan simultan : arus timbale-balik secara simultan yang
ditentukan pada suatu system persamaan.
Persamaan pada setiap departemen jasa menunjukkan biaya yang akan
dialokasikan. Terdiri dari biaya alokasi tahap pertama ditambah alokasi
biaya dari departemne lain. Pada beary company, persamaan pada
departemen jasa 1 adalah sebagai berikut, menggunakan symbol S1
untuk menunjukkan biaya departemen jasa 1 dan S2 untuk
menunjukkan biaya departemen jasa 2.
Alokasi Biaya S1 = Alokasi awal + Alokasi biaya dari S2
S1 = $5.850 + (10% x S2)
Demikian pula, persamaan untuk departemen jasa kedua adalah sebagi
berikut
Alokasi Biaya S2 = Alokasi awal + Alokasi biaya dari S1
S2 = $8.250 + (40% x S1)

Kedua persamaan ini dapat diselesaikan untuk mencari S1 dan S2


dengan mensubstitusikan persamaan kedua ke dalam persamaan
pertama sebagai berikut :
S1 = $5.850 + [10% x ($8.250 + 40% x S1)]

13
S1 = $6.953,13
Kemudian substitusikan S1 kembali ke persamaan kedua :
S2 = $11.031,25
Nilai-nilai S1 dan S2 ini dialokasikan ke departemen produksi
menggunakan persentase jumlah jasa untuk setiap departemen. Kita
akan mengilustrasikan proses Beary Company dalam Tampilan 7.8.
perlu diingat bahwa karena metode timbal-balik, alokasi pada tahap
kedua berdasarkan persentase jasa actual untuk setiap departemen
produksi. Contohnya, departemen produksi 1, yang menerima 30% dari
pekerjaan departemen jasa 1, dialokasikan sebesar 30% dari biaya
departemen jasa 1, yaitu sebsar $2.086 (30% x $6.953,13). Alokasi
tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti alokasi biaya
departemen jasa 2 dan dengan departemen produksi 2.
Cara yang sederhana dan akurat untuk mengkalkulasikan biaya timbale-
balik untuk S1 dan S2 adalah dengan cara menggunakan fngsi Solver
pada Excel, Tampilan 7.9 mengilustrasikan bagaimana cara
menggunakan Solver untuk tujuan ini.
Analisi tahap ketiga pada Tampilan 7.8 dilakukan dengan cara yang
sama seperti terdapat pada Tampilan 7.6 dan 7.7. total biaya yang
dialokasikan ke produk 1 adalah sebesar $24.036,25 dan ke produk 2
sebesar $41.963,75,

Penyedia layanan perawatan kesehatan mengalokasikan


Penerapan manajemen biaya
biaya untuk memperoleh penggantan biaya dari Medicare.
Sejak medicare dibentuk pada tahun 1966 untuk
menutup beban medis dari para manula, Jasa bagi pasien yang menghasilkan pendapatan
tunanetra, dan orang cacat, penyedian layanan
perawatan kesehatan diwajibkan menggunakan Unit perawatan intensif Laboratorium
metode alokasi biaya untuk menerima Perawatan psikiater Radiologi
penggantian biaya dari pemerintah pusat atas Perawatan jantung Ruang gawat darurat
jasa yang ditanggung oleh Medicare. Biaya atas Bedah Farmasi

14
aktivitas layanan perawatan kesehatan Pembiusan
dialokasikan ke jasa bagi pasien yang
menghasilkan pendapatan. Beberapa contoh Aktivitas jasa
aktivitas layanan dan jasa bagi pasien yang Program diet Operasi bangunan rumah sakit
menghasilkan pendapatan disuatu rumah sakit Binatu Administrasi dan umum
tertera di bawah ini bagaimana rumah sakit Pendaftaran Kerumahtanggaan
merespon ketentuan Medicare dan Layanan sosial
mengalokasikan biaya dari aktivitas jasa ke jasa
Administrasi perawatan
bagi pasien yang menghasilkan pendapatan?
Metode apakah yang mungkin dipilih

2.4 PENERAPAN MANAJEMEN BIAYA


Isu-Isu Implementasi
Isu implementasi yang utama adalah pilihan metode alokasi yang paling akurat.
Singkatnya, tinjau ulang tampilan 7.6, 7.7, dan 7.8. perlu diingat bahwa meskipun
total biayanya sama ($66.000), jumlah yang dialokasikan pada kedua produk
bervariasi. Meskipun jumlah ini tidak jauh bervariasi pada Beary Company,
dalam praktiknya dapat sangat bervariasi. Apabila terjadi perbedaan yang
signifikan akuntan manajemen harus mempertimbangkan nilai yang dihasilkan
dari metode timbal balik, yang lebih lengkap dan akurat jika dibandingkan dengan
metode lainnya karena metode timbal balik tersebut sepenuhnya
memperhitungkan arus timbal balik antardepartemen jasa.
Tiga isu tambahan yang perlu dipertimbangkan ketika mengimplementasikan
pendekatan alokasi departemen adalah (1) pengaruh disinsentif yang muncul
ketika dasar alokasi yang ditetapkan tidak berkaitan dengan penggunaan, (2)
pengaruh disinsentif yang muncul ketika dasar alokasi ditetapkan berdasarkan
penggunaan aktual, (3) pengaruh disinsentif yang muncul ketika alokasi biaya
melebihi harga beli di luar.

15
Pengaruh disinsentif yang muncul ketika dasar alokasi yang ditetapkan tidak
berkaitan dengan penggunaan
Menentukan dasar alokasi yang tepat dan jumlah persentase jasa yang disediakan
oleh departemen jasa sering kali merupakan suatu hal yang sulit. Cotohnya,
penggunaan jumlah jam tenaga kerja dapat menjadi tidak tepat pada pabrik yang
terotomatisasi di mana tenaga kerja merupakan sebagian kecil dari total biaya.
Demikian pula, luas ruangan dalam kaki persegi dapat menjadi tidak tepat untuk
mengalokasikan biaya tertentu ketika banyak terdapat ruangan yang kosong.
Lebih lanjut, penggunaan luas ruangan dalam kaki persegi dapat memunculkan
konsekuensi motivasi yang tidak diinginkan. Contohnya, jika kita sedang
mengalokasikan biaya pemeliharaan.

Tampilan 7.8 Alokasi Departemen Tahap Kedua dan Ketiga, menggunakan


Metode Timbal Balik
Tahap kedua : Mengalokasikan biaya departemen jasa ke departemen produksi menggunakan
metode timbal balik
Pertama : selesaikan persamaan simultan untuk jasa 1 dan jasa 2
Jumlah yang dialokasikan dari jasa 1 $6.953,13
Jumlah yang dialokasikan dari jasa 1 $11.031,25
Departemen Departemen Total
produksi 1 produksi 2
Kedua : mengalokasikan ke departemen produksi
Departtemen jasa 1
Persentase jasa 30% 30%
Jumlah yang dialokasikan $2.086 $2.086 $4.172
= 30% x = 30% x
$6.953 $6.953

Departemen jasa 2
Persentase jasa 30% 30%

16
Jumlah yang dialokasikan $3.309 $6.619 $9.928
= 30% x = 60% x
$11.031 $11.031
Ditambah : alokasi biaya pada tahap $24.750 $27.150 $51.900
pertama
Total untuk departemen produksi $30.145 $35.855 $66.000

Tahap ketiga : mengalokasikan biaya


departemen produksi ke produk
1. Dasar alokasi Produk 1 Produk 2
Dasar : jumlah jam tenaga kerja
Jam 1.800 1.800 3.600
Presentase 50% 50%
Jumlah jam mesin
Jam 400 1.200 1.600
Presentase 25% 75%
2. Alokasi biaya ke produk
Departemen produksi 1 ( dasar jumlah jam $15.072,50 $15.072,50
tenaga kerja )
= 50% x = 50% x
$30.145 $30.145
Departemen produksi 2 (dasar jumlah jam $8.963,75 = $26.891,25 =
mesin ) 25% x 75% x $35.855
$35.855
Total untuk setiap produk $24.036,25 $41.963,75 $66.000

diseluruh pabrik ke departemen-departemen produksi dengan menggunakan dasar


luas ruangan, suatu departemen tidak memiliki inseftif yang cukup untuk
membatasi penggunaan beban pemeliharaan. Karena penggunaan aktual dari
pemeliharaan tidak berkaitan dengan luas ruangan, jika suatu departemen tertentu

17
meningkatkan biaya pemeliharaannya kemudian departemen lainnya juga harus
menanggung peningkatan biaya tersebut.

Pengaruh disinsentif yang muncul ketika dasar alokasi ditetapkan


berdasarkan penggunaan aktual.
Apabila dasar alokasi biaya ditentukan dari penggunaan aktual, disinsentif dapat
muncul karena penggunaan sumber daya satu departemen akan memengaruhi
alokasi biaya ke departemen lainnya, seperti diilustrasikan pada Tampilan 7.11.
Kita lanjutkan dengan contoh yang sama seperti Tampilan 7.10, kecuali sekarang
kita berasumsi bahwa biaya yang akan dialokasikan membentuk biaya tetap
sebesarr $100,000 dan biaya variabel sebesar $1,000 per permintaan perawatan.
Panel 2 menunjukkan bahwa jumlah biaya yang dialokasikan akan sama dengan
jumlah biaya pada kedua departemen jika tingkat penggunaannya sama. Panel 3
dan 4 mengilustrasikan bagaimana alokasi biaya berubah jika penggunaan
perawatan dari salah satu departemen berubah. Jika penggunaan perawatan pada
pada departemen A mehingkat (Panel 3) sementara penggunaan perawatan pada
departemen B masih sama, kemudian departemen B mengalami penurunan alokasi
biaya yang tida terduga dari sebesar $100,000 menjadi $88,462. Alasannya adalah
bahwa biaya tetap per permintaan perawatan sekarang lebih rendah yang
disebabkan karena peningkatan total permintaan perawatan. Departemen A tidak
mungkin melihat alokasi ini secara wajar. Sebaliknya, Panel 4 menunjukkan hasil
jika departemen A mengurangi penggunaan perawatan, sementara departemen B

tetap memelihara, tingkat penggunaan perawatan yang sama. Sekarang alokasi


biaya departemen B meningkat dari sebesar $100,000 menjadi $112,500.
Peningkatannya disebabkan karena fakta bahwa biaya tetap per permintaan
perawatan sekarang lebih besar karenapengurangan permintaan perawatan secara
keseluruhan. Sekarang departemen tidak mungkin melihat bahwa alokasinya
wajar.

Tampilan 7.9 Penyelesaian Metode Alokasi Timbal Balik dengan


Menggunakan FungsiSolver pada Microsoft Excel

18
Pemecahan masalah alokasi departemen timbai-balik dapatmenjadi menjemukan
jika tiga atau lebih dari tiga departemendilibatkan. Pada kasus ini, kami
menyarankan penggunaan program perantilunak seperti peralatan Solver pada
Excel, tampilan pada layar monitor mengilustrasikan bagaimanaperalatan Solver
dapat digunakan untuk menyelesaikan contoh Beary Company pada teks ini.
Kolom “Alokasi Biaya" padaProgram komputer akuntansi terdiri dari biaya pada
setiap departemen jasa, sementara kolom “Tarif Jasa" terdiri dari tarif jasa timbal-
balik. Kolom “Alokasi Awal ke” terdiri dari hasil kolom "Alokasi Biaya” dan
“Tarif Jasa”, dengan menggunakan rumusan berbasis sel. Sel E7 dan F7 terdiri
pari penjumlahan kolom-kolom tersebut berdasarkan rumus. Setelah memilih
Solver dari menu Data, kotak dialog pada panel A Tampilan 7.9 muncul dan harus
diselesaikan seperti yang ditampilkan. Contohnya, sel target (E7) harus diterapkan
bernilai $5.850 (biaya dari departemen jasa pertama). Jika kotak dialog telah
diselesaikan, pilih Solve dan hasilnya akan muncul pada sel B5 dan B6 (menimpa
jumlah yang dimasukkan pertama kali pada kolom Alokasi Biaya). Hasilnya
adalah sebesar $6,953,13 pada sel B5 dan sebesar $11,031,25 pada sel B6.
Hasilnya ditunjukkan pada panel B.
Catalan: Parameter penyelesaian Solver harus ditetapkan
pada “Nilai” seperti ditaridai pada lingkaran yang ditandai pada Panel A.
Panel A : Kotak Dialog Solver

19
Alokasi Berganda
Disinsentif yang diilustrasikan pada Tampilan 7.11 dapat diselesaikan dengan
menggunakan alokasi berganda. Alokasi berganda (dual allocation) memisahkan
biaya.
TABEL 7.9 Lanjutan
Panel B : Penyelesaian Solver untuk contoh kasus Beary

Tampilan 7.10 Pengaruh Disinsentif Ketika Dasar Alokasi yang Ditetapkan


Tidak Berkaitan dengan Penggunaan

tetap dengan biaya variabel serta menelusuri biaya variabel ke departemen


berdasarkan penggunaan aktual biaya tetap dialokasikan berdasarkan

20
tanggungan yang sama antardepartemen atau proporsi anggaran yang telah
ditetapkan sebelumnya. Tampilan 7.12 mengilustrasikan bagaimana cara
kerja alokasi berganda. Selain itu, Panel 1 dan 2 mengikuti contoh dari
Tampilan 7.11. Panel 3 mengilustrasikan alokasi berganda di mana biaya
tetap ditanggung secara bersama-sama antardepartemen. Alasan
menggunakan pendekatan tanggungan yang sama adalah bahwa setiap
departemen membayar tarif yang berlaku untuk hak menerima jasa di
masa yang akan datang dari departemen pemeliharaan, terlepas dari
jumlah jasa yang akan digunakan. Konsep tersebut sama dengan tarif
minimum per buian untuk memeriksa akun di bank atau telepon seluler.
Perlu diingat bahwa pengaruh dari memisahkan biaya tetap dengan biaya
variabel adalah bahwa departemen A membayar untuk peningkatan
penggunaan pemeliharaan, yang diukur pada biaya variabel, dan alokasi
biaya departemen B tidak berubahhasilnya mungkin memuaskan untuk
kedua departemen.
Panel 4 dari Tampilan 7.12 mengilustrasikan metode alokasi berganda
ketika biaya tetap dialokasikan berdasarkan anggaran yang telah
ditetapkan sebelumnya. Pendekatan tersebut digunakan ketika penggunaan
pemeliharaan berbeda-beda secara signifikan antardepartemen; alasannya
adalah bahwa alokasi biaya tetap seharusnya mencerminkan rata-rata
penggunaan pemeliharaan jangka panjang oleh setiap departemen. Pada
contoh ini, kita asumsikan bahwa tingkat penggunaan jangka panjang
sebesar 60 persen untuk departemen A dan 40 persen untuk departemen B.

Pengaruh Disinsentif yang Muncul Ketika Alokasi Biaya Melebihi


Biaya Pembelian dari Luar
Keterbatasan lain dari metode alokasi tiga departemen adalah bahwa
metode tersebut dapat mengalokasikan biaya ke suatu departemen yang
lebih tinggi daripada biaya jasa yang dapat dibeli departemen tersebut dari
pemasok luar. Haruskah departemen tersebut membayar jasa dari pihak
internal lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan oleh pemasok luar?

21
Untuk memotivasi manajer agar lebih efisien dan mengambil keputusan
yang tepat, alokasinya harus didasarkan pada biaya seolah-olah setiap
departemen memperoleh jasa dari luar perusahaan. Perhatikan data pada
Tampilan 7.13 untuk suatu perusahaan dengan empat departemen yang
membagi biaya pemrosesan data umum sebesar $1,000. Biaya pemrosesan
data dialokasikan menggunakan jumlah jam tenaga kerja langsung pada
setiap departemen seperti ditunjukkan pada kolom (B), (C), dan (D) dari
Tampilan 7.13. Jasa pemrosesan data juga dapat diperoleh dari perusahaan
diluar dengan biaya yang ditunjukkan pada kolom (E).
Dasar alokasi jumlah jam tenaga kerja langsung pada contoh ini
membebankan departemen D, yang dapat memperoleh jasa dari luar
perusahaan sebesar $80 lebih rendah daripada biaya dari dalam
perusahaan ($200 - $120), mungkin karena sifat persyaratan yang
sederhana pada departemen D. Sebaliknya, departemen B dapat

TABEL 7.11 Pengaruh Disinsentif yang Muncul Ketika Dasar Alokasi


Ditetapkan Berdasarkan Penggunaan Aktual

22
memperoleh jasa dari pihak luar hanya dengan harga yang jauh lebih tinggi
(sebesar $600, sedangkan dari dalam perusahaan sebesar $400), mungkin karena
sifat jasa yang khusus. Dalam kasus ini, alokasi berdasarkan pada harga eksternal
(kolom G pada Tampilan 7.13) bersifat wajar untuk departemen B dan D. Hal
tersebut merupakan refleksi yang lebih baik dari biaya jasa yang kompetitif,
Pertanyaan mengenai apakah dan berdasarkan kondisi apakah, departemen
seharusnya diperbolehkan untuk membeli dari luar perusahaan adalah isu yang
berbeda, yang ditujukan pada ruang lingkup pengendalian manajemen pada Bab
18 dan 19
TABEL 7.12 Alokasi Berganda

\
3.

23
2.5 ALOKASI BIAYA PADA PRODUK JASA
Konsep yang disajikan pada bab ini sama-sama dapat diterapkan dengan baik
pada perusahaan manufaktur, jasa, atau organisasi nirlaba yang memikul biaya
gabungan. Contohnya, institusi keuangan seperti bank komersial juga
menggunakan alokasi biaya. Untuk mengilustrasikannya, kita akan gunakan
Community General Bank

TABEL 7.13 Alokasi biaya dengan menggunakan harga eksternal


(A) (B) (C) (D) (E) (F) (G)
Alokasi biaya Dasar
Jumlah jam Dasar alokasi Alokasi
Depertemen berdasarkan Harga alokasi
tenaga kerja jumlah jam tenaga berdasarkan
pengguna jumlah jam di luar untuk
langsung kerja langsung harga diluar
tenaga kerja harga
30% 30%
A 3.000 $300 $360 $300
(3.000/10.000) (360/1.200)
40% 50%
B 4.000 400 600 500
(4.000/10.000) (600/1.200)
10% 10%
C 1.000 100 120 100
(1.000/10.000) (120/1.200)
20% 10%
D 2.000 120 120 100
(2.000/10.000) (120/1.200)
Total 10.000 $1.000 $1.200 $1.000

(CGB), yang menyediakan berbagai macam jasa perbankan, mencakup tabungan


dan deposito, pinjaman dengan agunan, pinjaman dengan cicilan, jasa investasi,
dan jasa lainnya. Saat ini, CGB sedang menganalisis profitabilitas dari unit
pinjaman / dengan agunan, yang memiliki dua jenis pinjaman utama, yaitu
pinjaman konstruksi , komersial dan pinjaman konstruksiperumahan. Bagian
penting dari analisis jems-jenispinjaman ini adalah menentukan bagaimana cara
menelusuri atau mengalokasikanbiaya ke dua jenis pinjaman tersebut.
Alokasi biaya dimulai dengan mengidentifikasi departemen mana yang langsung,
mendukung kedua jenis pinjaman, yaitu departemen operasi dan departemen

24
pemasaran. Departemen operasi menangani pemrosesan pengajuan penyimpanan
dokumen yang tepat, penagihan, serta pemeliharaan rekenmg untuk pinjaman
komersial dan perumahan. Departemen pemasaran menyediakan perilperiklanan
langsung, promosi, dan pelayanan pelanggan bagi kedua jenis pinjaman.
Departemen operasi dan pemasaran dalam ilustrasi ini dapat dibandingkan dengan
departemen produksi pada contoh Beary Company yang digunakan di bab
sebelumnya.
Departemenlainnyamendukungdepartemenoperasidandepartemenpemasaran. Dua
departemen pendukung yang penting adalah departemen jasa administrasi dan
departemen akuntansi. Departemen jasa administrasi menyediakan dukungan
bidang hukum dan teknis. Departemen akuntansi menyediakan jasa keuangan,
mencatat laporan keuangan secara teratur dan pemeliharaan data pelanggan.
Departemen administrasi dan departemen akuntansi saling menyediakan jasa serta
bagi departemen operasi dan departemen pemasaran, seperti yang diilustrasikan
pada lampiran 7.14 Setiap departemen memiliki biaya tenaga kerja dan biaya
perlengkapan tertentu dapat ditelusuri secara langsung ke setiap departemen.
Selain itu, departemen sumber daya manusia dan departemen jasa komputer CGB
menyediakan jasa bagi empat departemen. Pada contoh ini, sumber daya manusia
dan jasa komputer diasumsikan menjadi bagian dari serangkaian aktivitas jasa
yang lebih luas yang disediakan oleh CGB kepada seluruh unit bisnisnya; unit
pinjaman dengan agunan hanya menjadi satu-satunya aktivitas jasa ini. Dengan
demikian, sumber daya manusia dan jasa komputer dapat dibandingkan dengan
penggunaan tenaga kerja tidak langsung dan bahan baku tidak langsung dalam
contoh Beary Company pada bab sebelumnya; departemen akuntansi dan
departemen jasa administrasi hanya menyediakan jasJ bagi unit pinjaman dan
dapat dibandingkan dengan departemen jasa yang digunakan pada contoh Beary
Company.
Untuk menngkasnya, unit pinjaman dengan agunan pada CGB memiliki dua
departemen jasa (akuntansi dan jasa administrasi), dua departemen produksi
(pemasaran dan operasi), dan dua produk (pinjaman konstruksi komersial dan
pinjaman konstruksi perumahan). Biaya tidak langsung pada unit pinjaman

25
dengan agunan terdiri dari biaya tenaga kerja sebesar $1,560,000 dan biaya
perlengkapan sebesar $33,000 yang dapat ditelusuri secara langsung pada dua
departemen jasa dan dua departemen produksi. Seiain terdapat biaya tidak
langsung yang mencakup biaya jasa manusia sebesar $80,000, biaya jasa
komputer sebesar $66,000 harus dialokasikan pada dua departemen jasa dan dua
departemen produksi.
CGB menggunakan metode bertahap untuk mengalokasikan biaya dari
departemen pendukung ke jenis-jenis pinjaman. Lihat metode bertahap pada
Tampilan 7.15, yang mengikuti pendekatanyang sama untuk Beary Company
seperti pada Tampilan 7.7. Bagian atas dari Tampilan 7.15 menunjukkan dasar
alokasi yang digunakan CGB untuk mengalokasikan biaya sumber daya dan biaya
jasa komputer ke setiap departemen. Dasar alokasi untuk biaya sumber daya
manusia adalah jumlah karyawan atau jumlah kepala dalam setiap departemen,
dan alokasi biaya jasa komputer berdasarkan jumlah komputer pada setiap
departemen. Jumlah karyawan dan jumlah komputer pada setiap departemen
sudah diketahui.
Tahap pertama alokasi pada Tampilan 7.15 menunjukkan penelusuran total biaya
tenaga kerja langsung sebesar $1,560,000 dan biaya perlengkapan sebesar
$33,000 untuk setiap departemen serta alokasi biaya sumber daya manusia
($80,000) dan biaya jasa komputer ($66,000) secara berturut-turut dengan
menggunakan dasar alokasi dan jumiah komputer. Hasilnya adalah bahwa total
biaya sebesar $1,739,000 dialokasikan sebagai berikut:
Departemen akuntansi $253.700
Departemen jasa administrasi 381.500
Departemen operasi 623.700
Departemen pemasaran 480.100
Total biaya $1.739.000

26
TABEL 7.14 Arus biaya pada Community General Bank
Ke
Dari Departemen Departemen jasa Departemen Departemen
akuntansi administrasi operasi pemasaran

Departemen akuntansi - 25% 35% 40%


(jasa)
Departemen jasa 20% - 40% 40%
administrasi (jasa)

Pada tahap kedua, biaya departemen akuntansi dan departemen jasa akuntansi
dialokasikan ke departemen operasi dan departemen pemasarandengan
menggunakan metode bertahap dan persentase jasa pada Tampilan 7.14. Hasilnya
adalah bahwa total G biaya sebesar $ 1.739.000 sekarang dialokasikan ke
departemen operasi ($934,957,51 dan departemen pemasaran (5804.042,50).
Pada tahap ketiga dan terakhir, biaya dari departemen operasi dan departemen
pemasaran dialokasikan ke dua jenis pinjaman, yaitu pinjaman komersial dan
pinjaman perumahan. Dasar yang digunakan oleh CGB untuk
mengalokasikanbiaya departemen operasi adalah jumlah transaksi perbankan yang
ditangr pada departemen operasi (15.000 transaksi untuk pinjaman komersial dan
transaksi untuk pinjaman perumahan) dan dasar yang digunakan oleh CGB
untukmengalokasikan biaya pemasaran adalah jumlah pinjaman dari kedua jenis
pinjam; tersebut (900 pinjaman komersial dan 3.600 pinjaman perumahan). Hasil
alokasi akhir adalah bahwa total biaya sebesar $ 1.739.000 dialokasikan ke
deparrtemen pinjaman komersial ($721,783) dan departemen pinjaman
perumahan ($1.017.217) seperti diilustrasikan pada tahap ketiga dalam Tampilan
7.15.
Alokasi biaya memberikan dasar bagi CGB untuk mengevaluasi
biayaProfitabilitasdarijasanya.Denganmengalokasikanbiayaoperasiyangtelahditent
ukanbiaya dari dana yang diberikan dan pendapatan yang dihasilkan dari
pinjaman komersial dan perumahan, analisis profitabilitas atas pinjaman
komersial di perumahan dapat diselesaikan. Asumsikan bahwa departemen

27
pinjaman komersi dan perumahan memiliki pendapatan secara berturut-turut
sebesar $2,755,455 dan $2,998,465, serta biaya dana langsung secara berturut-
turut sebesar $1,200,736 dan $1,387,432.
Analisis profitabilitas pada Tampilan 7.16 menunjukkan bahwa biaya operasi
yang dialokasikan yang relatif besar dari unit pinjaman perumahan merupakan hal
penting dari kinerja secara keseluruhan yangburuk (hanya berkontribusi sebesar 1
persen per dolar pendapatan yang berlawanan dengan unit pinjaman komersial
berkontribusi lebih dari 30 persen). Sebaliknya, biaya dana dari kedua jenis
pinjaman ini nampak sebanding (43,58 persen dari pendapatan pinjaman
komersial dan 46,27 persen dari pendapatan pinjaman perumahan). Analisis
tersebut mengindikasi bahwa bank seharusnya menginvestigasikan profitabilitas
dari pinjaman perumahan dan, secara khusus, biaya operasi dan pemasaran untuk
pinjaman-pinjaman tersebut.

2.6 PERHITUNGAN BIAYA PRODUK GABUNGAN


Banyak pabrik manufaktur yang menghasilkan lebih dari satu produk dari proses
produksi gabungan. Contohnya, industri minyak memroses minyak mentah
menjadi berbagai produkbensin, nafta, kerosin, minyak tanah, dan minyak berat
hasil sisa. Demikian puia, industri semikonduktor memproses lempengan silikon
menjadi berbagai chipmemori komputer dengan kecepatan, toleransi suhu udara,
dan usia yang berbeda-beda. Daging sapi dan kulit binatang merupakan produk-
produk yang berkaitan dengan proses pengemasan daging; tidak satu pun dari
produk-produk ini yang dapat diproduksi tanpa memproduksi produk lain. produk
yang nilai total penjualannya lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai jual
produk gabungan diklasifikasikan sebagai produk sampingan (by-products).
Produk gabungan dan produk sampingan keduanya diproduksi dari bahan mentah
yang sama. Sampai dengan suatu titik tertentu pada proses produksi, tidak ada
perbedaan yang dapat dibuat antara produk-produk tersebut. Titik dalam proses
produksi gabungan di mana setiap produk dapat diidentifikasi untuk pertama
kalinya disebut juga titik pisah (split-offpoint).Setelah itu, proses produksi yang
terpisah dapat diaplikasikan pada setiap produk. Pada titik pisah, produk

28
gabungan atau produk sampingan mungkin dapat dijual atau membutuhkan
pemrosesan lebih lanjut agar dapat dijual, bergantung pada sifatnya.
Biaya gabungan mencakup seluruh biaya produksi yang terjadi sebelum titik pisah
(meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overheadpabrik).
Untuk tujuan pelaporan keuangan, biaya-biaya ini dialokasikan di antara produk-
produk gabungan. Biaya tambahan yang terjadi setelah titik pisah yang dapat
diidentifikasi langsung ke setiap produk disebut juga biaya pemrosesan
tambahan (additionalprocessing cost)atau biaya yang dapat dipisahkan
(separable cost).
Output lain dari produksi gabungan mencakup bahan sisa, limbah, serta unit- unit
rusak dan cacat. Bahan sisa merupakan sisa proses produksi yang memiliki nilai
pemulihan yang kecil atau tidak memiliki nilai pemulihan. Limbah, seperti halnya
limbah kimia, merupakan bahan baku sisa yang tidak memiliki nilai pemulihan
dan harus dibuang oleh perusahaan ketika dibutuhkan.
Metode untuk Mengalokasikan Biaya Gabungan ke Produk Gabungan
Biaya gabungan paling sering dialokasikan ke produk gabungan dengan
menggunakan metode :
1. Metode Ukuran Fisik
Metode Ukuran Fisik (Physical Measure Method). Cukup alamiah,
menggunakan ukuran fisik seperti pon, galon, yard atau volume unit yang
diproduksi pada titik pisah untuk mengalokasikan biaya gabungan ke produk
gabungan. Tahap pertama adalah memilih ukuran fisik yang tepat sebagai
dasar alokasi. Kita dapat menggunakan unit input atau output. Contonya, jika
kita menghitung biaya produk ikan tuna, produksi 100 pon ikan tuna yang
dimasukkan ke dalam kaleng dengan berat ¼ pon, maka ukuran inputnya
adalah sebesar 100 pon dan ukuran outputnya adala sebesar 400 kaleng. Jika
unit output digunakan, metode ini disebut juga metode biaya rata-rata
(average cost method). Asumsikan bahwa Jhonson Seafood memproduksi
irisan tuna dan ikan tuna kalengan untuk didistribusikan ke restoran dan pasar
swalayan di bagian tenggara AS. Biaya 14.000 pon ikan tuna mentah yang
belum diproses dita,bah tenaga kerja langsung dan overhead untuk

29
pemotongan dan pemrosesan ikan tuna menjadi irisan ikan tuna dan ikan tuna
kalengan merupakan biaya gabungan dari proses tersebut. Arus produksinya
diilustrasikan sebagai berikut :
Titik 1 Titik 2
Biaya Gabungan yang Titik Pisah Harga Jual
Dikeluarkan
2.000 pon irisan ikan $2,20/pon
tuna
Ikan tuna yang belum 14.000 pon
diproses sebesar $16.000
8.000 pon ikan tuna $1,65/pon
kalengan

4.000 pon produk


sampingan, bahan sisa
dan limbah
Proses produksi dimulai dari titik 1. Total biaya gabungan yang terjadi adalah
sebesar $16.000 (bahan baku langsung sebesar $7.000, tenaga kerja langsung
sebesar $5.000, dan overhead sebesar $4.000). tittik 2 merupakan titik pisah
di mana dua produk gabungan dipisahkan: 2.000 pon irisan ikan tuna dan
8.000 pon ikan tuna kalengan. Sisanya sebesar 4.000 pon merupakan produk
sampinganm baan sisa, dan limbah yang tidak akan diperhitungkan. Jika kita
menggunakan metode ukuran fisik, biaya gabungan sebesar $16.000
dialokasikan menjadi :
Produk Ukuran Fisik Proporsi Alokasi Biaya Gabungan Biaya per Pon
Irisan ikan tuna 2.000 pon 0,20 $16.000 x 20% = $1,60
$3.200
Ikan tuna kalengan 8.000 pon 0,80 $16.000 x 80% = $1,60
$12.800
Total 10.000 pon 1,00 $ 16.000

30
Berdasarkan metode ukuran fisik (dalam contoh ini pon), ketika produk
gabungan mencapai titik pisah, kita dapat mengitung hubungan dari setiap
produk gabungan dengan jumlah total unit. Biaya gabungan yang
dialokasikan ke produk merupakan biaya rata-rata per pon dari biaya
gabungan, yaitu sebesar $1,60 per pon.
Ukuran fisik yang digunakan untuk menentukan bobot relative dalam
mengalokasikan biaya gabungan seharusnya menjadi ukuran produk pada
titik pisah, bukan ukuran ketika produksi dari produk-produk tersebut selesai.
Dengan demikian, ukuran yang relevan dalam contoh tersebut adala 2.000
pon irisan ikan tuna dan 8.000 pon ikan tuna kalengan.
Biaya produksi per pon untuk kedua produk adala sebagai berikut :
Biaya ikan tuna $1,60 per pon = $3.200 / 2.000 pon
Biaya ikan kalengan $1,60 per pon = $12.800/8.000 pon
Keunggulan dan Kelemahan
Keunggulan metode ukuran fisik :
1. Mudah digunakan.
2. Kriteria untuk alokasi biaya gabungan bersifat objektif.
Kelemaan metode ukuran fisik :
1. Mengabaikan kapabilitas untuk menghasilkan pendapatan dari setiap
produk yang dapat bervariasi di antara produk-produk gabungan dan tidak
memiliki hubungan sama sekali dengan ukuran fisik apapun.
2. Setiap produk dapat memiliki ukuran fisik yang unik (gallon untuk satu
produk dan pon untuk produk lainnya).

2. Metode Nilai Jual pada Titik Pisah


Metode ini merupakan metode alternatif dan banyak digunakan. Metode nilai
jual pada titik pisah (sales value at split-off method) mengalokasikan biaya
gabungan ke produk gabungan berdasarkan nilai jual relatifnya pada titik
pisah. Metode ini hanya dapat digunakan ketika produk gabungan dapat dijual
pada titik pisah.
Contoh :

31
Johnson menjual satu pon irisan ikan tuna sebesar $2,20 dan satu ikan tuna
kalengan sebesar $1,65 dan Johnson telah memproduksi sebanyak $2.000 pon
irisan ikan tuna dan 8.000 pon ikan tuna kalengan, maka biaya gabungan
sebesar $16.000 harus dialokasikan di antara produk-produk seperti berikut :
Produk Jumlah Harga Nilai Proporsi Alokasi Biaya Biaya
Unit per Unit Jual Gabungan per Pon
Irisan ikan 2.000 pon $2,20 $4.400 0,25 $16.000 x 25% = $2,00
tuna $4.000
Ikan tuna 8.000 pon $1,65 $13.200 0,75 $16.000 x 75% = $1,50
kalengan $12.000
Total $17.600 1,00 $16.000
Tahap pertama pada metode ini adalah mengitung total nilai jual dari produk
gabungan pada titik pisah. Perlu diingat bahwa nilai jual merupakan harga jual
dikalikan dengan jumlah unit produksi, bukan jumlah unit penjualan aktual.
Tahap kedua adalah menetukan proporsi nilai jual setiap produk gabungan
terhadap total nilai jual.
Tahap terakhir adalah mengalokasikan total biaya gabungan antarproduk
gabungan berdasar proporsi tersebut.
Irisan ikan tuna memiliki biaya per unit yang lebih besar berdasarkan metode
nilai jual jika dibandingkan dengan metode ukuran fisik. Alasannya karena
irisan ikan tuna memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Jika harga jualnya
diestimasikan secara akurat dan tidak ada biaya pemrosesan tambahan yang
dimasukkan ke dalamnya, metode nilai jual pada titik pisa menghasilkan
persentase margin kotor yang sama untuk irisan ikan tuna dan ikan tuna
kalengan seperti berikut :
Irisan Ikan Tuna Ikan Tuna Kalengan
Penjualan $2,20 x 2.000 = $4.400 $1,65 x 8.000 = $13.200
Harga Pokok Penjualan $2,00 x 2.000 = $4.000 $1,50 x 8.000 = $12.000
Margin kotor $400 $1.200
Persentase margin kotor 9,09% 9,09%

32
Keunggulan dan Kelemahan
Keunggulan metode nilai jual :
1. Mudah dihitung.
2. Dialokasikan menurut pendapatan dari setiap produk.
Metode ini lebih unggul daripada metode ukuran fisik karena mengalokasikan
biaya gabungan secara proporsional terhadap kemampuan setiap produk dalam
menyerap biaya-biaya ini.
Kelemahan metode nilai jual :
1. Harga pasar untuk beberapa industri berubah secar konstan.
2. Harga jual pada titik pisah mungkin tidak tersedia karena pemrosesan
tambahan dibutuhkan selama produk tersebut dapat dijual.
3. Metode Nilai Bersih yang dapat Direalisasikan
Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value – NRV)
dari suatu produk adalah estimasi nilai jual produk pada titik pisah; yang
ditentukan dengan cara mengurangkan biaya pemrosesan tambahan dengan
biaya penjualan sesuda titik pisah dari estimasi nilai jual akhit produk.
NRV = Nilai jual akhir – Biaya pemrosesan tambahan dan biaya penjualan
Contoh :
Pada Johnson Seafood, asumsikan bawa selain irisan ikan tuna dan ikan tuna
kalengan, perusahaan memroses makanan kucing dari ikan tuna mentah yang
belum diproses. Asumsikan bahwa 14.000 pon ikan tuna pada titik pisah
menghasilkan 2.000 pon irisan ikan tuna dan 8.000 pon ikan tuna kalengan
seperti sebelumnya, tapi sekarang terdapat tambahan 3.000 pon makanan
kucing. Sisanya sebanyak 1.000 pon adalah bahan sisa, limbah, daan produk
sampingan. Untuk makanan kucing, ikan tuna harus diproses lebih lanjut agar
dapat dijual ke distributor makanan hewan peliharaan. Biaya pemrosesan
tambahan sebesar $850 untuk mineral dan suplemen lainnya yang penting
untuk nutrisi kacang, tetapi tidak menambah berat produk. Distributor
makanan hewan peliharaan membeli makanan kucing siap saji dari Johnson
sebesar $1,75 per pond an mengemasnya ke dalam kaleng dengan berat 3 ons
untuk dijual ke toko hewan peliharaan dan swalayan.

33
Alokasi Biaya Gabungan Menggunakan Metode Nilai Bersih yang dapat
Direalisasikan
Produk Pon Harga Nilai Jual Pemrosesan Nilai Bersih Persentase Alokasi Proporsi Biaya
per Unit Tambahan yang dapat NRV Biaya per Pon
Direalisasikan
Irisan 2.000 $2,20 $4.400 - $4.400 20% $3.200 $3.200 $1,60
ikan tuna

Ikan tuna 8.000 $1,65 $13.200 - $13.200 60% $9.600 $9.600 $1,20
kalengan
Makanan 3.000 $1,75 $5.250 $850 $4.400 20% $3.200 $4.050 $1,35
Kucing
Total 13.000 $22.850 $850 $22.000 100% $16.000 $16.850

Jika Jhonson Seafood menjual seluruh produk yang dihasilkan selama periode
tersebut, maka jumlah margin kotor untuk produknya ditunjukkkan sebagai
berikut :
Irisan Ikan Tuna Ikan Tuna Kalengan Makanan Kucing
Penjualan $2,20 x 2.000 = $1,65 x 8.000 = $1,75 x 3.000 =
$4.400 $13.200 $5.250
Harga Pokok Penjualan $1,60 x 2.000 = $1,20 x 8.000 = $1,35 x 3.000 =
$3.200 $9.600 $4.050
Margin kotor $1.200 $3.600 $1.200
Persentase margin kotor 27,27% 27,27% 22,86%

Margin kotor untuk makanan kucing lebi rendah karena biaya pemrosesan
tambahan adalah sebesar $850.
Keunggulan dan Kelemahan
Metode NRV lebih unggul dibandingkan dengan metode ukuran fisik karena,
seperti metode nilai jual pada titik pisah, metode ini memerlihatkan alokasi
yang menghasilkan tingkat profitabilitas yang dapat diprediksi dan
dibandingkan antarproduk. Metode ukuran fisik dapat memberikan pedoman

34
yang menyesatkan bagi manajemen puncak terkait dengan profitabilitas
produk.

2.7 PERHITUNGAN BIAYA PRODUK SAMPINGAN


Produk sampingan merupakan produk dengan nilai jual yang relatif kecil yang
diproduksi secara simultan dengan satu atau lebih dari satu produk gabungan.
Terdapat dua pendekatan yang digunakan untuk perhitungan biaya produk
sampingan : (1) pendekatan pengakuan aktiva dan (2) pendekatan pendapatan.
Perbedaan utama antara kedua pendekatan tersebut adalah terletak pada apakah
keduanya membebankan alat produk sampingan yang dapat diinventarisasi pada
titik pisah. Pendekatan pengakuan aset mencatat produk sampingan sebagai
persediaan pada nilai bersih yang dapat direalisasikan, oleh karena itu produk
sampingan sebagai persediaan ketika produk sampingan diproduksi. Sebaliknya,
pendekatan pendapatan tidak membebankan nilai ke produk sampingan dalam
periode produksi tetapi mengakui pendapatan produk sampingan pada periode
ketika produk tersebut dijual.
Setiap pendekatan memiliki dua metode alternatif, bergantung pada cara produk
sampingan dilaporkan pada laporan laba rugi.
Dua metode pengakuan aktiva adalah sebagai berikut :
1. Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan
Metode ini memerlihatkan nilai bersih yang dapat direalisasikan dari
produk sampingan pada neraca sebagai persediaan dan pada laporan laba
rugi sebagai pengurang total biaya produksi produk gabungan. Hal ini
dilakukan pada periode di mana produk sampingan diproduksi.
2. Metode pendapatan lai-lain pada titik produksi.
Metode ini memerlihatkan nilai bersih yang dapat direalisasikan dari
produk sampingan pada laporan laba rugi sebagai pendapatan lain-lain
atau pendapatan penjualan lainnya, hal ini dilakukan pada periode di mana
produk sampingan diprosuksi.
Dua metode pendapatan adalah sebagai berikut :
1. Metode pendapatan lain-lain pada titik penjualan

35
Metode ini memerlihatkan pendapatan penjualan bersih dari produk
sampingan yang dijual pada waktu penjualan dalam laporan laba rugi
sebagai pendapatan lain-lain atau pendapatan penjualan lainnya.
2. Metode pengurangan biaya produksi pada titik penjualan
Metode ini memerlihatkan pendapatan penjualan bersih dari produk
sampingan yang dijual pada waktu penjualan dalam laporan laba rugi
sebagai pengurangan dari total biaya produksi
Ringkasan empat metode utama dalam perhitungan biaya produk sampingan
Posisi dalam Laporan Keuangan
Waktu Pengakuan Sebagai Pendapatan Lain-lain Sebagai Pengurang dari Biaya
Produksi
Pada waktu produksi Pendapatan lain-lain pada waktu Metode nilai bersih dapat
produksi direalisasikan
Pengurangan pada biaya produk
gabungan
Ketika berlangsung proses
produksi
Pada waktu penjualan Pendapatan lain-lain pada waktu Pengurangan pada biaya produk
penjualan gabungan ketika tetjadi
penjualan

METODE PENGAKUAN ASET


Untuk mengilustrasikan metode pengakuan aset, asumsikan bahwa Johnson
Seafood yakin bahwa perusahaannya dapat menambah labanya dengan cara
mengambil sebagian dari 1.000 pon bahan sisa dan limbah pada setiap kumpulan
produk ikan tuna yang belum diproses kemudian memroses ulang agar dapat
menghasilkan pupuk tanaman yang berkualitas tinggi. Tapi, harga jual pupuk
tersebut diperkirakan relatif rendah, yaitu 50 sen per pon. Selain itu, biaya
pemrosesan tambahan dan biaya penjualan sebesar 30 sen per pon diperlukan
untuk menyiapkan, mengemas, dan mendistribusikan produk. Karena nilai jual
pupuk relatif rendah, perusahaan memutuskan untuk memperlakukan irisan ikan

36
tuna, ikan tuna kalengan, dan makanan kucing sebagai produk gabungan dan
pupuk sebagai produk sampingan. Misalnya Johnson menjual seluruh produk
irisan ikan tuna, ikan tuna kalengan, dan makanan kucing yang diproduksinya,
tetapi hanya mampu menjual 400 dari 500 pon pupuk yang diproduksi.
Diagram arus biaya tiga produk gabungan dan satu produk sampingan Johnson
Seafood
Titik 1 Titik 2 Titik 3
Biaya Gabungan Titik Pisah Pemrosesan
yang Tambahan
Dikeluarkan
Produk gabungan
#1-
2.000 pon irisan
ikan tuna, harga
jual $2,20/pon
Produk gabungan Biaya 3.000 pon
#2- Pemrosesan makanan kucing,
8.000 pon ikan $850 harga jual
14.000 pon ikan
tuna kalengan, $,75/pon
tuna yang belum
harga jual
diproses sebesar
$1,65/pon
$16.000
Produk gabuang Biaya 500 pon pupuk,
#3- Pemrosesan harga jual
3.000 pon makan $0,30/pon $0,50/pon
kucing
Produk sampingan
– 500 pon pupuk
Bahan sisa dan
limbah 500 pon

Nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value – NRV) dari 500 pon
pupuk yang diproduksi adalah :
NRV = Nilai jual – Biaya pemrosesan tambahan
= ($0,50 x 500) – ($0,30 x 500)
=$100
Perlakuan akuntansi Johnson untuk produk sampingan dengan metode pengakuan
aktiva (metode nilai bersih yang dapat direalisasikan dan metode pendapatan lain-
lain pada titik produksi)

37
Perhitungan produk sampingan – metode pengakuan aktiva
Metode Nilai Bersih Metode Pendapatan
yang dapat Lain-lain pada Titik
Direalisasikan Produksi
Penjualan produk gabungan $22.850 $22.850
Harga pokok penjualan $16.850 $16.850
produk gabungan
Dikurangi nilai bersih yang (100) -
dapat direalisasikan produk
sampingan
Harga Pokok Penjualan $16.750 $16.850
Margin Kotor $6.100 $6.000
Pendapatan lain-lain ketika - 100
berlangsung proses produksi
Laba sebelum pajak $6.100 $6.100

Metode pengakuan aktiva didasarkan pada konsep akuntansi keuangan mengenai


pengakuan, pengaitan, dan sifat material dari aktiva. Produk sampingan diakui
sebagai aktiva dengan kemungkinan manfaat ekonomi di masa yang akan datang
karena terdapat pasar untuk produk sampingan tersebut. Metode pengakuan aktiva
juga memiliki dampak yang dapat dipilih dari pengaitan nilai produk sampingan
dengan biaya produksinya, ketika produk sampingan itu terjual, biaya
persediaannya ditunjukkan sebagai harga pokok penjualan. Jika nilai bersih yang
dapat direalisasikan dari produk sampingan bersifat penting, metode pengakuan
aktiva seharusnya diguankan karena adanya konsep pengaitan tersebut.

METODE PENDAPATAN
Metode pendapatan mengakui produk sampingan ketika terjadi penjualan.
Perhitungan biaya produk sampingan – metode pengakuan pendapatan

38
Metode Pendapatn Lain- Metode Pengurangan
Lain Ketika Terjadi Biaya Produksi
Penjualan
Penjualan produk gabungan $22.850 $22.850
Harga pokok penjualan $16.850 $16.850
produk gabungan
Dikurangi pendapatan - (80)
penjualan bersih dari produk
sampingan
Harga Pokok Penjualan $16.850 $16.770
Margin Kotor $6.000 $6.080
Pendapatan produk 80 -
sampingan
Laba sebelum pajak $6.080 $6.080
Metode pendapatan disesuaikan dengan konsep akuntansi keuangan mengenai
realisasi pendapatan, sifat material, dan manfaat biaya. Metode ini konsisten
dengan pendapat bahwa pendapatan bersih dari produk sampingan seharusnya
dicatat ketika terjadi penjualan karena merupakan titik di mana pendapatan
direalisasikan. Metode pendapatan juga tepat diguankan ketika nilai produk
sampingan tidak penting, yaitu sangat kecil dalam kaitannya dengan laba bersih.
Untuk pertimbangan biaya manfaat, banyak perusahaan menggunakan metode
pendapatan karena kemudahan penggunaannya.

39
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Biaya gabungan terjadi sebelum titik pisah (split-off). Titik pisah adalah saat
dihasilkannya dua atau lebih produk bersama, dimana pada saat itu produk
bersama bisa langsung dijual atau diproses lebih lanjut.
Istilah produk sampingan digunakan untuk suatu produk yang bernilai total relatif
kecil dan diproduksi secara berbarengan dengan produk yang bernilai lebih besar.
Produk yang nilainya lebih besar biasa disebut dengan produk utama. Produk
sampingan juga bisa diartikan sebagai produk yang bukan tujuan utama operasi
perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses pengolahan
produk disebabkan sifat bahan yang diolah atau karena sifat pengolahan produk,
kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil dibandingkan dengan nilai
keseluruhan produk.
.

40
DAFTAR PUSTAKA

Blocher, Edward J. dkk.Manjemen Biaya Penekanan Strategis. Salemba


Empat.Jakarta:2010.

https://mynewacehloensayang.blogspot.com/2018/02/makalah-akuntansi-biaya-
produk-gabungan.html

41