Anda di halaman 1dari 8

HORMON DAN REGULATOR PERTUMBUHAN PADA TANAMAN

NABILLAH HAZIMAH
1710423009
nabillahhazimah@gmail.com

ABSTRAK
Praktikum Hormon dan Reguator Pertumbuhan Pada Tanaman ini dilaksanakan pada
Selasa, 13 November 2018 di Laboratorium Teaching 4, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Praktikum ini bertujuan untuk
melihat pengaruh 2,4-D dalam perkecambahan dan pertumbuhan akar, melihat bahwa
sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang berperan dalam perlambatan proses
senescence, dan melihat pengaruh giberelin terhadap perkecambahan biji. Panjang akar
tertinggi yaitu pada konsentrasi 0,01. Sedangkan Panjang akar terpendek yaitu pada
konsentrasi 1. Daun mengalami pencoklatan dibagian tepi-tepi daun. Presentase kecambah
tertinggi pada konsentrasi 1 yaitu sebesar 60% sedangan presetase kecambah tertinggi
pada konsentrasi 0,001 dan 0,01 sebesar 20%.
Kata kunci: 2,4-D, giberelin, senescence, sitokinin.

PENDAHULUAN ditemukan pada tahun 1930-an


Hormon pertumbuhan menunjukkan bahkan saat itu hormon mula-mula
pengaruh satu sama lain atau dimurnikan dari air seni. Karena
hubungannya dengan perubahan sel- semakin banyak hormon ditemukan
sel dari bentuk-bentuk unit yang maka efek serta konsentrasi
bebas menjadi bagian organisme endogennya dikaji. Hormon pada
yang menyatu. Dengan adanya tanaman jelas mempunyai ciri, yaitu
hormon itu, hormon terbagi atas tiga setiap hormon mempengaruhi respon
salah satunya adalah auksin, yang pada bagian tumbuhan, respon itu
mempercepat perkembangan bergantung pada spesies, bagian
tumbuhan dengan adanya tumbuhan, fase perkembangan,
rangsangan dari perbesaran sel-sel konsentrasi hormon, interaksi antar
tumbuhan yang akan mempercepat hormon, yang diketahui dan berbagai
pertumbuhan (Bidwell, 1979) faktor lingkungan yaitu cahaya, suhu,
Faktor pertumbuhan adalah kelembaban dan lainnya (Salisbury,
faktor yang dibutuhkan oleh sel untuk 1995).
mempertahankan kelangsungan hidup Pada tanaman ada lima
dirinya. Ditinjau dari asal senyawa, kelompok besar hormon yaitu auksin,
faktor pertumbuhan dapat dibedakan giberelin, sitokinin, Absisin (ABA) dan
menjadi dua, yaitu pengatur tumbuh ethylen. Dalam kelompok besar ini
yang merupakan senyawa-senyawa mempunyai peranan sendiri-sendiri
yang datang dari luar/lingkungan (Yonni, 2000). Peredaran auksin ke
tumbuhan dan senyawa-senyawa seluruh tubuh tumbuhan adalah
yang dihasilkan dalam tubuh secara basipetal, artinya menuju ke
tumbuhan (hormon) (Jinus, 2012). basis. Tersedianya auksin dalam
Hormon yang pertama kali tanaman sangat dipengaruhi oleh
ditemukan adalah auksin. Auksin cahaya matahari. Pada cahaya
endogen yaitu IAA (Indol Acetic Acid) matahari yaitu sinar nila terdapat
riboflavin yaitu suatu pigmen yang
dapat merusak enzim-enzim yang sitokinin merupakan sitokinin alami
membantu pembentukan IAA (Kimball, (misal :kinetin, zeatin) dan beberapa
2000). lainnya merupakan sitokinin sintetik.
Pengaruh fisiologi auksin Sitokinin alami dihasilkan pada
diantaranya yaitu (1) pemanjangan jaringan yang tumbuh aktif terutama
sel, IAA dan auksin lain merangsang pada akar, embrio, dan buah. Sitokinin
pemanjanga sel dan juga akan yang diproduksi di akar selanjutnya
berakibat pada pemanjangan kaleoptil diangkut oleh xylem menuju sel – sel
dan batang auksin pada umumnya target pada batang (Prawiranata,
menghambat pemanjangan sel-sel 1989).
jaringan akar, (2) tunas ketiak, IAA Giberelin ditemukan oleh
yang dibentuk pada meristem apikal kurosawa, pada tahun 1930 yaitu
dan ditransfer ke bawah menghambat seorang penyakit tanaman jepang
perkembangan tunas ketiak (lateral), pada padi yang diserang oleh
(3) absisi daun, (4) aktivitas kambium, penyakit “bakanae” atau kecambah
(5) Tumbuh akar, dalam akar totol. Padi yang sakit menjadi panjang
pengaruh IAA biasanya menghambat dan seperti pita (spindle) dan jamur
pemanjangan sel, kecuali pada yang menyebabkan padi sakit
konsentrasi yang sangat rendah tersebut adalah jamur giberella
(Rosihan, 2009). fujikoroi (Fussarium moniliformae).
Senyawa 2,4-D (2,4- Peranan fisiologis giberelin yaitu
dichlorophenoxy acetic acid) adalah dapat mengatasi dormansi biji dan
senyawa sintesis yang dalam banya tunas, pembebasan giberelin setelah
hal sama dengan hormon alami IAA, proses imbibisi, pertumbuhan batang,
yaitu dapat merangsang atau dapat mengatasi kekerdilan termasuk
menghambat proses-proses per- dari bawaan genetik, penginduksi
kembangan tumbuhan. Secara pembuangan, dan Sex expression
komersil, dapat digunakan sebagai (Pasetryani, 2007).
herbisida dan memiliki sifat fisiologis ABA (Absicid acid) merupakan
yang lebih aktif dan tahan lama di substansi yang berperan sebagai
dalam jaringan tumbuhan. Herbisida inhibitor, dialam substanssi ini
auksin menyebabkan beberapa kebanyakan merupakan senyawa
bagian tertentu dari organ tumbuh phenolik dan termasuk kelompok
lebih cepat daripada bagian lainnya metabolit skunder. Disebut sebagai
sehingga ditemukan helai daun, dormin karena hormone in dapat
tangkai daun, dan batang yang terpilin menyebabkan dormansibiji atau
dan berubah bentuk akibat peristiwa tunas. ABA disintesa diduga pada
epinasti (Salisbury dan Ross, 1995). karetenoid kloroplast karena
Sitokinin berasal dari kata cyto hubngannya erat sekali. ABA
= sel, kinesis = pembelahan sel. ditransport/translokasikan melalui
Adapun bentuk-bentuk sitokinin alami, xylem dan floem. Pada proses
yaitu zeatin yang diekstrak dari pembukaan dan penutupan stomata
jagung. Sitokinin sintesis antara lain ABA juga berperan penting pada saat
Benzil Adenin (BA) Benzil Amino perubaahan turgor dari sel pengiring
Purine (BAP) dan Kinetin 2-iP juga pada stomata. Celah akan memebuka
termasuk kelompok sitokinin bila sel pengiring menjadi turgid dan
(Bidwell,1979). Sitokinin merupakan aka membuka bila turgor hilang/
ZPT yang mendorong pembelahan berkurang. Pada tanaman
(sitokinesis). Beberapa macam meningkatnya ABA akan
menyebabkanturgid dari sel pengiring terselamatkan dari kehilangan air
(Bidwell, 1979). lebih banyak melalui proses
Selain perannya pada transpirasi (Nani, 2001).
dormansi, ABA berperan juga sebagai Adapun tujuan dari praktikum
“stress plant growth hormon” yang ini yaitu untuk melihat pengaruh 2,4-D
membantu tanaman tersebut dalam perkecambahan dan
menghadapi kondisi yang tidak pertumbuhan akar, melihat bahwa
menguntungkan, misalnya pada saat sitokinin merupakan zat pengatur
tumbuhan mengalami dehidrasi, ABA tumbuh yang berperan dalam
diakumulasikan di daun dan perlambatan proses senescence, dan
menyebabkan stomata menutup. Hal melihat pengaruh giberelin terhadap
ini walaupun mengurangi laju perkecambahan biji.
fotosintesis, tumbuhan akan

METODE PRAKTIKUM Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu


Waktu dan Tempat Pengetahuan Alam, Universitas
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Andalas, Padang.
Selasa, 13 November 2018 di
Laboratorium Pendidikan IV, Jurusan Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum akar primer sehingga dapat diketahui
ini diantaranya kertas saring, 6 buah pengaruh dari pemakaian 2,4-D dalam
cawan petri, 5 petridisk dan cork pertumbuhan akar.
borer. Bahan yang digunakan antara B. Sitokinin dan Senescence
lain Cucumis sativus, Phaseolus pada daun tanaman
radiatus, dan Cinamomum burmanii. Dipersiapkan potongan daun tanaman
dengan ukuran proporsional meng-
Cara Kerja
gunakan cork borer masing-masing 10
A. Uji Biologis 2,4-D pada
potongan daun untuk 4 perlakuan
pertumbuhan akar
percobaan. Larutan dipersiapkan
Diletakkan selembar kertas saring
untuk perlakuan yang terdiri dari
pada setiap cawan petri dari 6 cawan
aquadest dan larutan kinetin (0,001;
petri, dari larutan baku 2,4-D dibuat
0,01; 0,1; 1,0 mg/L) masing-masing
masing-masing 10 ml larutan-larutan
10 ml dalam petridisk. Ditempatkan
2,4-D dengan konsentrasi sebagai
pada masing-masing larutan potongan
berikut 0.0, 0.001, 0.01, 0.1, 1.0 dan
daun kemudian tutup petri agar tidak
10 mg/L. setiap petri ditandai dengan
terjadi interaksi dengan lingkungan.
angka 1 sampai 6. Dituangkan 10 ml
Diamati apa yang terjadi pada warna
larutan 2,4-D ke dalam masing-
daun tersebut selama satu minggu
masing cawan. Diletakkan 10 biji
perendaman baik control atau pada
mentimun dalam masing-masing
perlakuan dengan kinetin.
cawan petri. Disimpan ditempat gelap
C. Peranan Giberelin Dalam
selama 5 hari. Pada akhir percobaan
Perkecambahan Biji
diukur panjang akar primer setiap
Tumbuhan
kecambah. Dihitung panjang rata-rata
Diambil 40 biji tanaman yang
pada masing-masing perlakuan.
seragam, ditempatkan pada petri yang
Kemudian dibuat grafik yang
telah dilapisi dengan kertas saring
memperlihatkan hubungan antara
untuk masing-masing perlakuan
konsentrasi 2,4-D dengan panjang
sebanyak 10 biji, disimpan ditempat sama jika terjadi kekeringan, dicatat
gelap dan dilakukan pemeriksaaan waktu yang diperlukan oleh masing-
terhadap biji setiap hari apakah telah masing biji berkecambah sesuai
terlihat adanya biji yang dengan per-lakuan dan bandingkan
berkecambah. Kemudian dilakukan hasilnya diantara masing-masing
penyiraman dengan larutan yang perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Uji Biologis 2,4-D Pada Pertumbuhan Akar
Panjang Akar (cm) Rata-rata
Konsentrasi
1 2 3 4 5
0 1,4 1,3 2,1 1,5 1,7 1,6
0,001 1,2 1,2 0,9 0,6 0,8 0,94
0,01 1,7 1,3 1,4 1,3 1,4 1,42
0,1 1 0,9 0,8 0,9 0,7 0,86
1 0,7 1 0,7 0,8 0,9 0,82
0 0,8 0,8 0,7 0,6 0,6 0,7

Berdasarkan praktikum yang mengalami kerusakan oleh cahaya


telah dilaksanakan, pertumbuhan maupun pemanasan pada waktu
Panjang akar dengan pemberian 2,4- sterilisasi. Penambahan 2,4-D dalam
D memiliki rata-rata yang berbeda di media akan merangsang pembelahan
setiap konsentrasi. Panjang akar dan pembesaran sel pada eksplan
tertinggi yaitu pada konsentrasi 0,01. sehingga dapat memacu
Sedangkan Panjang akar terpendek pembentukan dan pertumbuhan kalus
yaitu pada konsentrasi 0. Hal ini serta meningkatkan senyawa kimia
sesuai dengan Darmawan (1983) alami flavonoid.
yang menyatakan bahwa Jika Wetherell (1982) menyebutkan
konsentrasi auksin terlalu tinggi, bahwa peran auksin adalah
pemanjangan akar dan batang akan merangsang pembelahan dan
terhambat. Karena hal itu, auksin perbesaran sel yang terdapat pada
konsentrasi tinggi dapat digunakan pucuk tanaman dan menyebabkan
sebagai herbisida. pertumbuhan pucuk-pucuk baru.
Menurut Syahid dan Hernani Penambahan auksin dalam jumlah
(2001), zat pengatur tumbuh auksin yang lebih besar, atau penambahan
yang sering ditambahkan dalam auksin yang lebih stabil, seperti asam
media kultur adalah asam 2,4-D cenderung menyebabkan
2,4diklorofenoksiasetat (2,4-D). terjadinya pertumbuhan kalus dari
Menurut Hendaryono dan Wijayani eksplan dan menghambat regenerasi
(1994), zat pengatur tumbuh ini pucuk tanaman.
bersifat stabil karena tidak mudah

b. Sitokinin dan Senescence pada daun tanaman


Konsentrasi Pengamatan Tiap Hari
Tepi Tepi Tepi Tepi Tepi
Tidak Tidak
0 daun daun daun daun daun
menguning menguning
coklat coklat coklat coklat coklat
Tepi Tepi Tepi Tepi Tepi
Tidak Tidak
0,001 daun daun daun daun daun
menguning menguning
coklat coklat coklat coklat coklat
Tepi Tepi Tepi Tepi Tepi
Tidak Tidak
0,01 daun daun daun daun daun
menguning menguning
coklat coklat coklat coklat coklat
Tepi Tepi Tepi Tepi Tepi
Tidak Tidak
0,1 daun daun daun daun daun
menguning menguning
coklat coklat coklat coklat coklat
Tepi Tepi Tepi Tepi Tepi
Tidak Tidak
1 daun daun daun daun daun
menguning menguning
coklat coklat coklat coklat coklat
Berdasarkan praktikum yang telah lama dibandingkan yang tidak
dilaksanakan didapatkan pada setiap direndam. Kemungkinan sitokinin juga
konsentrasi daun mengalami memperlambat penuaan kondisi daun
perubahan warna. Pada setiap pada tumbuhan utuh yang masih
konsentrasi daun mengalami hidup.
pencoklatan dibagian tepi-tepi daun. Sitokinin berfungsi untuk
Hal ini sesuai dengan Jinus (2012) memacu pembelahan sel dalam
yang menyatakan bahwa Sitokinin jaringan meristematik, merangsang
dapat menghambat penuaan diferensiasi sel-sel yang dihasilkan
beberapa organ tumbuhan, dalam meristem, mendorong
kemungkinan dengan menghambat pertumbuhan tunas samping,
perombakan protein dan dengan dominasi apikal dan perluasan daun
merangsang sintesis RNA dan protein (Mahadi, 2011). Selain itu sitokinin
dan dengan memobilisasi zat – zat juga berfungsi dalam pembentukan
makanan dari jaringan disekitarnya. organ dan menunda penuaan daun
Jika daun dipotong dari suatu larutan pada berbagai jenis tanaman
dan direndam dalam larutan sitokinin, (Rakhmawati, 2014).
daun tersebut akan tetap hijau lebih

c. Peranan Giberelin Dalam Perkecambahan Biji Tumbuhan


Umur Kecambah Tinggi Kecambah Presentase
Konsentrasi
Hari ke- (Akhir Pengamatan) Kecambah
0 Ke-1 (2), ke-2 (3) 2,5 cm; 2,5 cm 40%
0,001 Ke-1 (2), ke-2 (3) 6 cm 20%
0,01 Ke-1 (5), ke-2 (5) 5,5 cm 20%
0,1 Ke-1 (2), Ke-2 (5) 14 cm; 9 cm 40%
1 Ke-1 (4), Ke-2 (1) 6 cm; 4 cm; 3,5 cm 60%
Berdasarkan praktikum yang kecambah, semakin tinggi pula
telah dilaksanakan, didapatkan presentasinya. Presentase kecambah
presentase kecambah berbeda di tertinggi pada konsentrasi 1 yaitu
setiap konsentrasi GA3 yang sebesar 60% sedangan presetase
dibserikan. Semakin tinggi konsentrasi
kecambah tertinggi pada konsentrasi Menurut Hopkins (1999),
0,001 dan 0,01 sebesar 20%. giberelin sangat berperan dalam
Hal ini sesuai dengan perkecambahan biji dan memobilisasi
Djamhari (2010) yang menyatakan cadangan makanan yang terdapat
bahwa seharusnya bahwa semakin dalam endosperm selama
tinggi konsentrasi giberalin yang pertumbuhan awal embrio. Beck and
diberikan maka semakin banyak biji Ziegler (dalam Sultana dkk. 2000)
mengemukakan bahwa mobilisasi
yang berkecambah. Giberelin
tersebut diatur oleh beberapa enzim
merupakan suatu hormon tumbuhan
hidrolisis, terutama enzim α-amilase
yang mempunyai peranan fisiologis
yang jumlahnya cukup melimpah.
dalam mendorong perpanjangan ruas Fungsi dari enzim ini memecah
perkecambahan perbuangan dan karbohidrat menjadi mono- dan
menghambat dalam pertumbuhan oligosakarida. Giberelin pula yang
pembentukan akar serta menunda mengontrol perkecambahan biji
pemasakan buah. Giberelin tidak akan berbagai jenis tumbuhan di alam dan
aktif jika dikonjugasi dengan senyawa dapat menggantikan peran cahaya
lain seperti glukosa. Dengan distribusi dan suhu dalam meningkatkan
ke tanaman tingkat tinggi dan perkecambahan (Copeland &
tanaman tingkat rendah. McDonald, 1995).

KESIMPULAN DAN SARAN presetase kecambah tertinggi


Kesimpulan pada konsentrasi 0,001 dan
1. Panjang akar tertinggi yaitu 0,01 sebesar 20%.
pada konsentrasi 0,01. Saran
Sedangkan Panjang akar Diharapkan kepada praktikan untuk
terpendek yaitu pada lebih serius dalam menjalani
konsentrasi 1 praktikum agar tujuan dari praktikum
2. Daun mengalami pencoklatan ini dapat terlaksana dengan baik dan
dibagian tepi-tepi daun. praktikan dapat mengetahui dan
3. Presentase kecambah tertinggi memahami prosedur kerja sehingga
pada konsentrasi 1 yaitu dapat membuat jurnal dengan baik
sebesar 60% sedangan dan benar.

DAFTAR PUSTAKA dan Teknologi Indonesia. Vol.


Bidwell, R. G. S. 1979. Plant 12: 66-70.
Physiology Second Edition. Hendaryono, D.P dan A. Wijayani.
Mac Million Publishing. New 1994. Teknik Kultur Jaringan.
York. Yogyakarta: Kanisius.
Copeland LO dan McDonald MB, Hopkins WG, 1999. Introduction to
1995. Seed Science and Plant Physiology. John Wiley &
Technology. 3rd ed, Chapman Sons, Inc., New York: 512.
& Hall, New York: 95. Jinus. 2012. Pengaruh Zat Pengatur
Djamhari, S. 2010. Memecah Tumbuh Terhadap
Domansi Rimpang dengan Pertumbuhan Akar Stek
Aplikasi Auksin. Jurnal Sains Tanaman. Jurnal Sains dan
Matematika. Vo. 20 (2): 35-40.
Kimball, J. W. 2000. Biologi. Erlangga. Fakultas Pertanian Universitas
Jakarta. Pembangunan
Mahadi, I. 2011. Pematahan Dormansi Nasional“Veteran”JawaTimur,S
Biji Kenerak (Goniothalamus urabaya
umbrosusu) Menggunakan Salisbury, J.W. dan Ross. 1995.
hormon 2,4-D dan BAP Secara Fisiologi Tumbuhan Jilid III.
Mikropropagasi. Sagu. Maret ITB. Bandung
2011. Vol.10No.1:20-23. Shahab dan Khan. 2009. Indole Aceti
Nani, S. 2001. Pengaruh Giberelin, Acid Production and
Auksin Terhadap Pembungaan Enchanced Plant Growth
dan Hasil Biji Mentimun. Jurnal Promotion By Indigenous.
Hortikultura. Vol.11 (1):1-8. African Journal of Agricultural.
Pasetriyani. 2007. Pengaruh Macam Vol. 4(2):1312-1316.
Media Tanam dan Zat Syahid, S.F. dan Hernani. 2001.
Pengatur Tumbuh Terhadap Pengaruh zat pengatur tumbuh
Pertumbuhan Tanaman. Jurnal terhadap pembentukan dan
Agroscience. Vol. 7(3): 41-47. pertumbuhan serta kandungan
Prawiranata, W. 1989. Dasar- dasar sinensetin dalam kalus pada
Fisiologi Tumbuhan. tanaman kumis kucing
Departemen Botani Fakultas (Orthosiphon aristatus). Jurnal
Pertanian IPB.Bogor. Littri 4: 99-103.
Rakhmawati, D. A. 2014. Kajian Wetherell, D. F. (Penerjemah:
Sitokinin (CPPU) Terhadap Koensumardiyah). 1982.
Pertumbuha dan Pengantar Propagasi
Perkembangan Dua Sumber Tanaman Secara in Vitro. New
Bibit Bulbil Tanaman Poran Jersey: Avery Plublishing
(Amorphophallus Group Inc.
onchophyllus). Skripsi

Anda mungkin juga menyukai