Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA Tn. S


DENGAN VERTIGO

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Keperawatan
Keluarga

Disusun oleh :

ASRI

PRISTIANINGRUM
P1337420515018

KRESNA 1

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG


PRODI D III KEPERAWATAN MAGELANG
2017

BAB I
PENDAHULUAN

I. TINJAUAN TEORITIS MEDIS


A. Pengertian
Vertigo adalah berasal dari bahasa Yunani, vertere yang artinya memutar.
Pengertian vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau
lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan
otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo mungkin bukan
hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau
sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik
(pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing.

Klasifikasi Vertigo
1. Vertigo paroksismal
Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung
beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu
ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita
sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi:
a. Yang disertai keluhan telinga
Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis
pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa
cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
b. Yang tanpa disertai keluhan telinga
Termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria
vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak
(Vertigo de L’enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
c. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi
Termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten,
Vertigo posisional paroksismal benigna.
2. Vertigo Kronis
Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin
Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi:
a. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb,
labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik,
tumor serebelopontin.
b. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom
pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis
multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan
kardiovaskuler, kelainan endokrin.
c. Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo
servikalis.
3. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur
mengurang, dibedakan menjadi :
a. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus,
labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada
auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.
b. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria
vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika,
sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior
posterior.

B. Etiologi
1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
a. Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
b. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media
purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma,
rudapaksa dengan perdarahan.
c. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan
vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan,
vertigo postural.
d. Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
e. Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria
serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
2. Penyakit Sistem Saraf Pusat
a. Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia,
hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan
insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik,
blok jantung.
b. Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
c. Trauma kepala/ labirin.
d. Tumor.
e. Migren.
f. Epilepsi
3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor
medulla adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi,
fobia.
5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
6. Intoksikasi.

C. Patofisiologi
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang
disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam
sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus
menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain
yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang
menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan
vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh
reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan
kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor
visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi
alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan
proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam
keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul
berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan
bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya
terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer
atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang
gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan
terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping
itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul
gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat
berdiri/ berjalan dan gejala lainnya.

D. Tanda dan Gejala


Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan
dengan reaksi dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu
makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah,
puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit,
mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. ENG
2. Audiometri dan BAEP
3. Psikiatrik
4. Laboratorium
5. Radiologik dan Imaging
6. EEG, EMG, dan EKG

F. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan tergantung pada penyebabnya. Obat untuk mengurangi
vertigo yang ringan adalah meklizin, dimenhidrinat, perfenazin dan
skopolamin. Skopolamin terutama berfungsi untuk mencegah motion
sickness, yang terdapat dalam bentuk plester kulit dengan lama kerja selama
beberapa hari. Semua obat diatas bisa menyebabkan ngantuk, terutama pada
usia lanjut. Skopolamin dalam bentuk plester kulit memiliki efek.

II. TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN


A. Data Dasar Pengkajian Pasien
1. Aktivitas / Istirahat
a. Letih, lemah, malaise
b. Keterbatasan gerak
c. Ketegangan mata, kesulitan membaca
d. Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.
e. Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas
(kerja) atau karena perubahan cuaca.
2. Sirkulasi
a. Riwayat hypertensi
b. Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
c. Pucat, wajah tampak kemerahan.
3. Integritas Ego
a. Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
b. Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan
depresi
c. Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
d. Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).
4. Makanan dan cairan
a. Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat,
bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak,
jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
b. Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
c. Penurunan berat badan
5. Neurosensoris
a. Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
b. Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
c. Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
d. Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras,
epitaksis.
e. Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
f. Perubahan pada pola bicara/pola pikir
g. Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
h. Penurunan refleks tendon dalam
i. Papiledema.
6. Nyeri/ kenyamanan
a. Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal
migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
b. Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
c. Fokus menyempit
d. Fokus pada diri sendiri
e. Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
f. Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
7. Keamanan
a. Riwayat alergi atau reaksi alergi
b. Demam (sakit kepala)
c. Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
d. Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
8. Interaksi social
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang
berhubungan dengan penyakit.
9. Penyuluhan / pembelajaran
a. Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
b. Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi
oral/hormone, menopause.

III. TINJAUAN TEORITIS TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA


Tahap-tahap kehidupan keluarga menurut Duvall adalah sebagai berikut:
1. Tahap pembentukan keluarga
a. Tahap ini dimulai dari pernikahan
b. Yang dianjurkan dengan membentuk rumah tangga
c. Membina hubungan intim
2. Tahap menjelang kelahiran anak
a. Melahirkan anak merupakan kebanggan keluarga
b. Persiapan menjadi orang tua
3. Tahap menghadapi bayi
a. Dalam hal keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih
sayang
b. Pada tahap ini,kehidupan bayi sangat tergantung kepada orang
tuanya
4. Tahap menghadapi anak prasekolah
a. Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal kehidupan sosialnya,
sudah mulai bergaul dengan teman sebayanya
b. Sangat rawan dalam masalah kesehatan
c. Dalam fase ini anak sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan
d. Tugas keluarga adalah mulai menanamkan norma-norma kehidupan,
norma-norma keluarga, norma-norma sosial budaya
5. Tahap menghadapi anak sekolah
a. Mendidik anak
b. Mengajari anak untuk mempersiapkan masa depannya
c. Membiasakan anak belajar
d. Mengontrol tugas-tugas anak sekolah
e. Meningkatkan pengetahuan umum anak
6. Tahap menghadapi anak remaja
a. Tahap ini adalah tahap yang paling rawan karena anak mencari
identitas diri dalam membentuk kepribadiannya
b. Suri teladan dari kedua orang tua sangat diperlukan
c. Saling pengertian perlu dipelihara dan dikembangkan
d. Tahap melepas anak ke masyarakat
e. Tahap ini memulai kehidupan berumah tangga
f. Memperluas keluarga inti
7. Tahap berdua kembali
a. Tinggallah suami istri berdua saja
b. Dalam tahap ini keluarga akan merasa sepi
c. Bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan
depresi dan stress
8. Tahap masa tua
a. Masa usia lanjut
b. Mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini

IV. TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


A. Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengertian
Keluarga terdiri dari beberapa orang (dua atau lebih) yang terlibat
dalam emosi (memandang satu sama lain sebagai kewajiban,perasaan
yang biasa berbagai kewajiban tertentu berjodoh dengan kasih sayang
satu sama lain dan hidup dekat dalam geografis (Friedman, 1986 : 8).
Bailon dan Maglaya (1989), mengemukakan bahwa : keluarga adalah
dua atau lebih dari dua undividu yang tergabung karena hubugan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu
rumah tangga berorientasi satu sama lain, dan didalamnya perannya
masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (dalam
Nasrul Effendy, 1998: 32). Departemen kesehatan Republik Indonesia
(1989), mengemukakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan
saling ketergantungan (dalam Nasrul Effendy, 1998: 32)
Dari beberapa definisi keluarga di atas maka dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa keluarga adalah:
a. Unit terkecil masyarakat
b. Terdiri atas dua orang atau lebih
c. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah
d. Hidup dalam satu rumah tangga
e. Berinteraksi diantara anggota keluarga
f. Di bawah asuhan seorang kepala rumah tangga
g. Setiap anggota keluarga mempunyaiperan masing-masing
h. Menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan
2. Tipe/Bentuk keluarga
Terdapat 6 tipe atau bentuk keluarga yaitu:
a. Keluarga inti (nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri atas
ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga besar (Extended family), adalah keluarga ini ditambah
dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara,
sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
c. Keluarga berantai (serial family) adalah keluarga yang terdiri atas
wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan
satu keluarga.
d. Keluarga duda/janda (Single Family), adalh keluarga yang terjadi
karena perceraian atau kematian.
e. Keluraga berkomposisi (Compesitive) adalh keluarga yang
perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga kabitas (Cahabitation) adalah dua orang menjadi satu
tanpa pernikahan tetapi membentuk keluarga.

3. Struktur keluarga
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam diantaranya adalah:
a. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ayah.
b. Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudar dalam
beberapa generasi, dimana hubungab itu disusun melalui jalur garis
ibu.
c. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami
d. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
isteri.
e. Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga
dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena
adanya hubungan suami atau isteri.
4. Ciri-ciri struktur keluarga
a. Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga
b. Keterbatasan
Setiap anggota keluarga memiliki kebebasan tetapi mereka juga
mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugas
masing-masing
c. Perbedaan dan kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-
masing.

5. Memegang kekuasaan dalam keluarga


Di dalam keluarga terdapat tiga macam sistem memegang kekuasaan
yaitu:
a. Patriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga
adalah pihak ayah.
b. Matriakal, yang dominan dang memegang kekuasaan dalam
keluarga adalah puhak ibu.
c. Equalitron, yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah ayah
dan ibu.

6. Fungsi keluarga
a. Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, yaitu:
1) Fungsi biologis
a) Untuk meneruskan keturunan
b) Memelihara dan membesarkan anak
c) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d) Memelihara dan merawat anggota keluarga

2) Fungsi psikologis
a) Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
c) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga

3) Fungsi sosialisasi
a) Membina sosialisasi pada anak
b) Membentuk norma –norma tingkah laku dengan tingkat
perkembangan anak
c) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga

4) Fungsi ekonomi
a) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga.
b) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga
untukmemenuhi kebutuhan keluarga.
c) Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimasa
yang akan datang misalnyapendidikan anak-anak jaminan
hari tua dan sebagainya.

5) Fungsi pendidikan
a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan,
keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan
bakat dan minat yang dimiliki
b) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat
perkembangannya.

b. Ahli lain membagi fungsi keluarga sebagai berikut:


1) Fungsi Pendidikan
a) Mendidik dan menyekolahkan anak
b) Mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila
kelak dewasa nanti
2) Fungsi Sosialisasi
a) Mempersiapkan anak menjadi anggota masayarakat yang
baik
b) Membentuk norma –norma tingkah laku
3) Fungsi Perlindungan
a) Melindungi anak dari tindaka-tindakan yang tidak baik
b) Anggota merasa aman
4) Fungsi Perasaan
a) Merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang
lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama
anggota keluarga
b) Saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan
keharmonisan dalam keluarga
5) Fungsi Religius
a) Memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga
yang lain dalam kehidupan beragama
b) Menanamkan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang
mengatur kehidupan ini dana ada dunia lain setelah dunia
ini.
6) Fungsi Ekonomi
a) Mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi
fungsi-fingsi yang lain
b) Kepala keluarga bekerja untuk memperoleh penghasilan
c) Mengatur penghasilan tersebut sedemikian rupa sehingga
dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga
7) Fungsi Rekreatif
a) Tidak harus selalu pergi ketempat rekreasi, tetapi yang
penting bagaimana menciptakan suasan ayang
menyenangkan dalam keluarga
b) Rekreasi dapat dilakukan di rumah dengan cara nonton
yelevisi bersama, bercerita tentang pengalaman masing-
masing
8) Fungsi Biologis
a) Memelihara keturunan sebagai generasi penerus
b) Memelihara dan membesarkan anak

c. Dari beberapa fungsi di atas, ada 3 fungsi pokok keluarga terhadap


anggota keluarganya yaitu:
1) Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman,
kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan
mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan
kebutuhan.
2) Asuh adalah memberikan kebutuhan pemeliharaan dan
perawatan anak agar selalu terpelihara, sehingga diharapkan
menjadi mereka anak-anak yang sehat,mental,sosial dan
spiritual.
3) Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, agar
menjadi manusia dewasa dalam mempersiakan masa depannya.
7. Proses Keperawatan Kesehatan Keluarga
Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan secara
sistematis untuk mengkaji dan menentukan masalah kesehatan
dankeperawatn keluarga, merencanakn asuhan keperawatn dan
melaksanakan intervensi keperawatan terhadap terhadap keluarga sesuai
dengan rencana yang telah disusun dan mengevaluasi mutu hasil asuhan
keperawatan yang telah dilaksanakan terhadap keluarga. Tahap-tahap
dalam proses keperawatan kesehatan keluarga meliputi :
a. Pengkajian
Pengkajian adalah tindakan yang digunakan oleh perawat untuk
mngukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai norma-norma
kesehatan keluarga maupun sosial. Pengkajian merupakan
penjajakan tahap satu. Dalam pengkajian dilakukan pengumpulan
data.
1) Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai macam
cara, diantaranya :
a) Wawancara; yang berkaitan dengan hal-hal yang perlu
diketahui, baik aspek fisik, mental, sosial, budaya,
ekonomi, kebiasaa lingkungan dan sebagaanya.
b) Pengamatan; pengamatan terhadap hal-hal yang tidak perlu
ditanyakan karena sudah dianggap cukup melalui
pengamatan saja, diantaranya yang berkaitan dengan
lingkungan fisik, misalnya ventilasi, penerangan,
kebersihan dan sebagainya.
c) Studi Dokumentasi; studi berkaitan dengan perkembangan
kesehatan anak,diantaranya melalui Kartu Menuju Sehat
(KMS).
d) Pemeriksaan Fisik; dilakukan tehadap anggota keluarga
yang mempunyai masalah kesehatan dan keperawatan,
berkaitan dengan keadaan fisik, misalnya kehamilan organ
tubuh dan tanda-tanda penyakit. Data yang dikumpulkan
meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Identitas keluarga
2. Riwayat kesehatan keluarga baik yang sedang dialami
maupun yang pernah dialami
3. Anggota keluarga
4. Jarak antara lokasi dengan fasilitas kesehatan
masyarakat yang ada
5. Keadaan keluarga, meliputi : biologis, psikologis,
social, cultural, spiritual dan lingkungan

2) Menentukan masalah
Dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan
keluarga ada 5 (lima) hal yang harus diperhatikan yaitu :
a) Menentukan tipologi kesehatan dan keperawatan keluarga
Dalam menentukan tipologi masalah kesehatan
keluarga ada tiga (3) kelompok masalah besar yaitu :
1. Ancaman kesehatan
a. Penyakit keturunan, seperti asma bronciale,
diabetes melitus
b. Keluarga/anggota keluarga menderita penyakit
menular, seperti YBC, GO dan hepatitis.
c. Jumlah anggota terlalu besar dan tidak sesuai
dengan kemampuan dan sumber daya keluarga,
seperti anak terlalu banyak sedangkan penghasilan
keluarag kecil
d. Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga misalnya
benda tajam diletakkan sembarangan, tangga
rumah terlalu curam
e. Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-
masing anggota keluarga
f. Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan setres
antara lain : hibungan keluarga yang kurang
harmonis, hubungan anak dan orang tua tegang,
orang tua yang tidak dewasa
g. Sanitasi lingkungan yang buruk di antaranya :
ventilasi dan penerangan rumah kurang baik,
kebisingan, polusi udara, sumber air minum yang
tidak memenuhi syarat, tempat pembuangan tinja
mencenari air minum
h. Imunisasi anak yang tidak lengkap
i. Kebiasaan-kebiasaan yang merugikan kesehatan,
seperti : minum-minuman keras, tidak memakai
alas kaki
j. Riwayat persalinan sulit
2. Kurang atau tidak sehat
Adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan
yang termasuk didalamnya adalah :
a. Keadaan sakit, apakah sesudah atau belum
diagnosis
b. Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan
anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan
normal.

3. Kurang atau tidak sehat


Adalah saat-saat yang banyak menuntut individu
atau keluarag dalam menyesuaikan diri termasuk juga
hal sumber daya keluarga. Yang termasuk dalam situasi
krisis adalah :
a. Perkawinan
b. Kehamilan
c. Persalinan
d. Masa nifas
e. Menjadi orang tua
f. Penambahan anggota keluarga, misalnya bayi baru
lahir
g. Abortus
h. Anak masuk sekolah dan anak remaja
i. Kehilangan pekerjaan
j. Kematian keluarga

b) Menentukan ketidakmampuan keluarga dalam


melaksanakan tugas-tugas kesehatan dan keperawatan
merupakan penjajakan tahap kedua. Ketidakmampuan
keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas kesehatn dan
keperawatan terdiri dari 5 hal, yaitu:
1. Ketidakmamapuan keluarag mengenal masalah
kesehatan keluarga disebabkan oleh :
a. Kurang pengetahuan/ketidaktahuan fakta
b. Rasa takut akibat masalah yang diketahui
2. Ketidakmampuan kelurga membuat keputusan dalam
melakukan tindakan yang yepat, sisebabkan oleh :
a. Tidak memahami sifat, berat dan luasnya masalah
b. Tidak sangguo memilih tindakan diantara beberapa
pilihan
c. Ketidakcocokkan pendapat dari anggota keluarga

3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarag


yang sakit, diseabakan oleh :
a. Tidak tahu cara perawatan
b. Tidak mengetahui tentang perkembanagn yang
dilakukan
c. Sikap negative terhadap yang sakit
d. Perilaku yang mementingkan diri sendiri

4. Ketidakmampuan keluarag memodifikasi atua


memelihara lingkungan rumah yang dapat
mempengaruhi kesehatan, disebabkan:
a. Sumber-sumber keluarag yang tidak cukup
b. Kurang dapat melihat keuntungan dan manfaat
pemeliharaan lingkungan runah
c. Ketidaktahuan tentang pentingnys sanitasi
lingkungan
d. Ketidaktahuan tentang usaha pencegahan penyakit

5. Ketidaktahuan keluarga menggunakan sumber atau


fasilitas pelayanan kesehatan, disebabkan oleh :
a. Tidak memehami keuntungan yang diperoleh
b. Kurang percaya terhadap petugas kesehatn dan
lembaga kesehatan
c. Menentukan criteria prioritas masalah

c) Dalam menyusun prioritas masalah kesehatan dan


keperawatan harus didasarakn kepada beberapa criteria,
sebabgai berikut:
1. Sifat masalah
a. Ancaman masalah
b. Keadaan sakit atau kurang sehat
c. Situasi kritis

2. Kemungkinan masalah dapat diubah


Adalah kemungkinan keberhasilan untuk
mengurangi masalah bila dilakukan intervensi
keperawatan dan kesehatan.
3. Potensi masalah untuk dicegah
Adalah sifat dan beratnya masalah yang akan
timbul dan dapat dicegah melalui tindakan keperawatan
4. Masalah yang menonjol
Adalah cara keluarga melihat dan memilai masalah
dalam hal beratnya dan mendesaknya untuk diatasi
melalui intervensi keperawatan dan kesehatan.
d) Menentukan skala prioritas
Untuk dapat menentukan prioritas kesehatan dan
keperawatan keluarga perlu disusun prioritas. (tabel 1)
Tabel 1
Skala prioritas masalah
No Kriteria Skor Bobot
1. Sifat masalah
Skala :
a. Ancaman 2 1
b. Tdak kurang sehat 3
c. Krisis 1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah
Skala :
a. mudah 2 2
b. sebagian 1
c. tidak mudah 0
3. Potensi masalah untuk dicegah
Skala :
a. tinggi 3 1
b. cukup 2
c. rendah 1
4. Menonjolkan masalah
Skala :
a. masalah berat harus ditangani 2 1
b. masalah yang tak perlu segara ditangani 1
c. masalah tidak dirasakan 0
Sumber : perawatan kesehatan masyarakat, nasrul effendi,
1998

e) Menentukan scoring
Untuk menentukan scoring ada beberapa langkah yang
harus dilakuakan yaitu :
1. Tentukan skor untuk setiap criteria
2. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan
dengan bobot
3. Jumlah skor untuk semua criteria
4. Skor tertinggi adalah 5, dan sama untuk seluruh bobot
a. Kurang pengetahuan/ketidaktahuan fakta
b. Rasa takut akibat masalah yang diketahui
Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan prioritas,
yaitu :
1. Sifat masalah; dalam menentukan masalah bobot yang
paling besar diberikan kepada keadaan sakit atau yang
mengancam kehidupan keluarga, yaitu keadaan sakit
atau pertumbuhan anak yang tidak sesuai dengan usia,
kemudian baru diberikan kapada hal-hal yang
mengancam kesehatan keluarga dan selanjutnya kepada
situasi krisis dalam keluarga dimana terjadi situasi
yang menuntut penyesuaian dalam keluarga.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah, factor-faktor yang
mempengaruhi masalah yang dapat diubah adalah :
a. Pengetahuan, teknologi dan tindakan-tindakan
untuk menangani masalah
b. Sumber daya keluarga, diantaranya keuangan,
tenaga, sran dan prasarana
c. Sumber daya perawatan, diantaranya adalah
pengetahuan keterampilan dan waktu
d. Sumber daya masyarakat, dapat dalam bentuk
fasilitas, organisasi seperti posyandu.
3. Potensi masalah untuk dicegah, hal-hal yang perlu
diperhatikann dalm melihat potensi masalah adalah :
a. Kepelikan atau kesulitan masalah, hal ini berkaitan
dengan beratnya atau masalah yang menunjukkan
kepada prognosa dan beratnya masalah.
b. Lamanya masalah, berhubungan dengan jangka
waktu terjadinya masalah. Lamanya masalah
berhiubungan erat dengan beratnya masalah yang
menimpa kelurga dan potensi masalh untuk
dicegah. Tindakan yang sudah dan sedang
dijalankan, adalah tindakan untuk mencegah dan
memperbaiki masalah dalam rangka meningkatkan
status kesehatan keluarga.

b. Perencanaan
Langkah selanjutnya setelah pengkajian dan perumusan masalah
adalah menyusun perencanaan perawatan dan kesehatan keluarga.
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang
ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan, dalam memecahkan
masalah kesehatan dari perencanaan, yaitu :
1) Masalah kesehatan
2) Masalah keperawatan
3) Sasaran
4) Tujuan
5) Kriteria
6) Standar
7) Intervensi
Ciri-ciri rencana perawatan keluarga, yaitu :
1) Rencana perawatan keluarga berhubungan dengan masa dating
2) Berkaitan denhgan masalah kesehatan dan keperawatan yang
diidentifikasi
3) Rencana perawatan merupakan cara untuk mencapai tujuan
4) Merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus-menerus

c. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap kel;uarga,
didasarkan kepada rencana asuhan keperawatan yang telah disusun.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan terhadap keluarga :
1) Sumber daya keluarga (keuangan)
2) Tingkat pendidikan keluarga
3) Adat istiadat yang berlaku
4) Respon dan penerimaan keluargasarana dan prasarana dalam
keluarga

d. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai
atau tidak.Evaluasi berkaitan dengan tujuan. Tolok ukur yang
dipergunakan dalam evaluasi adalah :
1) Kriteria keberhasilan
2) Standar keperawatan
3) Keadaan fisik, misalnya peningkatan BB anak
4) Pengetahuan dan perubahan, keluarga melaksanakan petunjuk-
petunjuk tentang perawatan dan kesehatan yang telah diberikan
oleh perawat.
5) Psikologi dan sikap, misalnya berkembangnya sikap positif
keluarga terhadap perawat dalam memberikan asuhan di rumah.
Alasan pentingnya evaluasi :
1) Menghentikan tindakan/kegiatan yang tidaak berguna
2) Untuk menambah ketepatgunaan tindakan keperawatan
3) Sebagai bukti hasil dari tindakan keperawatan
4) Untuk mengembangkan dan menyempurnakan praktik
keperawatan.
Metode yang digunakan untuk penilaian atau evaluasi, yaitu :
1) Observasi langsung, mengamati secara langsung perubahan yang terjadi
dalam keluarga
2) Wawancara, mewawancarai keluarga yang berkaitan dengan perubahan
sikap apakah telah menjalankan anjuran yang telah diberiakn oleh
perawat.
3) Memeriksa laporan. Dapat lihat dari rencana asuhan keperawatan yang di
buat dan tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana
4) Latihan stimulasi, latihan stimulasi berguna dalm menentukan
perkembangan kesanggupan melaksanakan asuhan keperawatan.

V. Diagnosa Keperawatan yang Muncul


1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan
syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri
yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur,
gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
a. Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
b. Tanda-tanda vital normal
c. Pasien tampak tenang dan rileks.
Intervensi
a. Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan
keperawatan.
b. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.
Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.
c. Atur posisi pasien senyaman mungkin
Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah
ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
d. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih
nyaman.
e. Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien
menjadi lebih nyaman.
2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi,
metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil :
a. Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif
b. Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang di miliki.
c. Mengkaji situasi saat ini yang akurat
d. Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang tepat.
Intervensi
a. Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum
Rasional : Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi
fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan
keperawatan.
b. Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala
perasaannya dan menjadi lebih tenang.
c. Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan
hasil yang diharapkan
Rasional : agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang
diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
d. Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari
kegiatan yang dapat diajarkan.
Rasional : membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.
3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi
dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya
mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan
proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
a. Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu
tindakan.
b. Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen
perawatan.
Intervensi
a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien
dan keluarga tentang penyakitnya.
b. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya
sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien
dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
c. Diskusikan penyebab individual dari sakit kepala bila diketahui.
Rasional : untuk mengurangi kecemasan klien serta menambah
pengetahuan klien tetang penyakitnya.
d. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah
diberikan.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta
menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
e. Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
Rasional : agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh
yang kurang baik.
f. Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang
dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan.
Rasional : dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat
mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti
berbaring, beristirahat pada saat serangan.

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M, et all. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). Jakarta: Elsevier
Herdman, T. Heather. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017
Edisi 10. Jakarta: EGC
Lumban Tobing. S.M, .2003. Vertigo Tujuh Keliling. Jakarta : FK UI
Moorhead, Sue, et all. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Jakarta: Elsevier
BAB II
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
1. Data Umum
Nama kepala keluarga : Tn. S
Umur : 53 tahun
Pendidikan : S1
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa
Alamat : Purworejo
No Nama Lengkap Jenis Hubungan Umur Status Pekerjaan
kelamin dg KK perkawina
n
1. Tn. S L Suami 54 tahun Kawin PNS
2. Ny. E P Istri 52 tahun Kawin IRT
3. Nn. A P Anak 20 tahun Belum Pelajar
kawin
4. An. Ar P Anak 11 tahun Belum Pelajar
kawin

2. Genogram
3. Tipe Keluarga
Keluarga Tn. S termasuk keluarga inti (nuclear family), karena
terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.
4. Suku/bangsa
Tn. S adalah suku Jawa dan Ny. E adalah suku Jawa, tidak ada
budaya atau istiadat yang dianut keluarga yang dapat merugikan
kesehatan keluarga.
5. Agama
Keluarga Tn. S beragama Islam, tidak ada nilai kepercayaan yang
merugikan kesehatan maupun pemahaman yang bertentangan dengan
kesehatan atau dapat mempengaruhi budaya.
6. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Penghasilan rata-rata ± Rp. 3.000.000,- per bulan yang didapat dari
hasil pekerjaan Tn. S sebagai PNS.
7. Aktifitas rekreasi keluarga
Rekreasi jarang dilakukan oleh keluarga. Keluarga menikmati hari
libur dengan bersantai bersama di rumah. Untuk kegiatan olahraga, Tn. S
dan Ny. E sering jalan-jalan pagi setelah sholat subuh.

B. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn. S mempunyai tiga orang anak, anak pertama Tn. S
berumur 25 tahun sudah berumah tangga dan punya seorang anak yang
berumur 1 tahun, sehingga Tn. S sudah memiliki cucu. Anak yang kedua
berumur 20 tahun dan anak yang ketiga berumur 11 tahun. Maka
keluarga Tn. S berada pada tahapan perkembangan keluarga menghadapi
anak remaja.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Mempersiapkan anak kedua dan ketiga untuk mandiri.
3. Riwayat keluarga inti
Dalam keluarga Tn. S tidak ada yang menderita hipertensi, DM, atau penyakit
jantung. Untuk penyakit yang selama ini dirasakan anggota keluarga hanya pusing,
demam, batuk pilek yang jarang terjadi. Untuk Tn. S sudah 3 hari teraksir
merasakan pusing seperti berputar-putar. Untuk mengatasi masalah kesehatan yang
ada dalam keluarga, keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan dari Puskesmas.
4. Riwayat keluarga sebelumnya
a. Riwayat hubungan keluarga
Tn. S berasal dari 6 bersaudara. Sedangkan Ny. E berasal dari 5
bersaudara yang semuanya sudah berkeluarga. Hubungan antar keluarga
terbina dengan baik, kalau ada waktu mereka saling menyempatkan diri untuk
saling mengunjungi.
b. Konflik antar keluarga pasangan
Konflik antar keluarga pasangan jarang terjadi, karena komunikasi
terjalin dengan baik.

C. Data Kesehatan Lingkungan


1. Perumahan
Keluarga Tn. S tinggal di rumah milik pribadi, bangunan
tembok dan lantai yang terbuat dari lantai keramik dan
beratapkan atap tanah liat. Rumah Tn. F berbentuk segi empat,
terdapat tiga buah kamar. Satu kamar untuk Tn. S dan Ny. E,
satu kamar untuk Nn. A dan satu kamar lagi untuk An. Ar.
Terdapat teras rumah dan halaman yang cukup luas, ruang tamu,
ruang keluarga (biasanya dipakai untuk menonton TV), dapur,
kamar mandi dan toilet. Penerangan rumah Tn. M menggunakan
listrik, ventilasi rumah juga cukup, yaitu dengan menyesuaikan
jumlah jendela, dan air yang digunakan untuk keperluan sehari-
hari menggunakan air dari sumur.
Denah rumah Tn. S

Keterangan:
1 : teras rumah 7 : ruang shola
2 : kamar anak 8 : kamar mandi
3 : ruang tamu 9 : sumur
4 : kamar anak 10 : dapur
5 : kamar utama 11 : garasi
6 : ruang tv

2. Sarana sanitasi lingkungan


Sumber air minum dan memasak menggunakan air dari sumur milik
tetangga, untuk mencuci piring, mengambil air sumur yang ada di
belakang rumah. Pembuangan limbah air dibuang di wastafel yang
menjurus ke bawah tanah, sedangkan air dan kotoran bekas BAB dan
BAK di buang ke septikteng. Kebiasaan membuang sampah diletakkan
di tempat sampah kemudian di buang di belakang rumah yang sudah
terdapat lubang yang tersedia untuk membuang sampah.
3. Sarana kesehatan
Jarak rumah Tn. S dengan fasilitas kesehatan cukup dekat, sekitar
1,5 kilometer dari rumah akan mendapati Puskesmas. Bila ada anggota
keluarga yang sakit, maka akan dibawa ke puskesmas, dan apabila
keadaan semakin memburuk maka akan di rujuk ke RSUD.
4. Karakteristik tetangga dan komunikasi
Karakteristik tetangga mayoritas berbudaya Jawa, lingkungan fisik
jarak antara rumah setempat cukup dekat.
5. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn. S pertama berumah tangga di Purworejo dan menetap
di sana.
6. Perkumpulan keluarga dan interaksi masyarakat
Ny. E aktif di berbagai kegiatan masyarakat seperti PKK, Dasa
Wisma, dan pengkajian di kampungnya. Tn. S aktif di berbagai kegiatan
seperti sholat berjamaah di masjid dan kerja bakti.
7. Sistem pendukung keluarga
Keluarga tanggap tentang kesehatan, jika ada anggota yang sakit
maka akan segera di bawa ke Puskesmas dan bila keadaan tidak
memungkinkan maka akan dirujuk untuk di periksakan ke RSUD.

D. Struktur Keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Komunikasi yang biasa digunakan adalah menggunakan bahasa
Jawa. Komunikasi keluarga sifatnya terbuka satu sama lain dan dua arah.
Sehingga apabila ada masalah akan cepat terselesaikan dengan adanya
partisipasi dari seluruh anggota keluarga.
2. Struktur kekuatan keluarga
Dalam keluarga dari pihak suami atau istri keduanya saling
menghargai dan mendukung. Anak-anak cukup patuh pada orang tua.
Pengambilan keputusan terletak pada kepala keluarga yaitu Tn. S.
3. Struktur peran
Tn. S sebagai kepala keluarga dan sebagai anggota masyarakat,
sedangkan Ny. E sebagai istri dan ibu rumah tangga yang mengurusi
keperluan suami dan anaknya. Sedang Nn. A sebagai mahasiswa di luar
kota, dan An. Ar sebagai anak siswa sekolah dasar yang aktif dalam
bermain dan senang bergaul dengan teman-teman yang berada di sekitar
rumahnya.
4. Nilai dan norma keluarga
Keluarga cukup taat dalam melaksanakan kewajiban agamanya yaiut
ibadah sholat lima waktu. Setiap anggota keluarga saling menghargai
satu sama lain.

E. Fungsi Keluarga
1. Fungsi afektif
Keluarga Tn. S tampak rukun dan damai, terdapat perasaan memiliki
dan dimiliki dalam keluarga dan adanya dukungan terhadap anggota
keluarga yang lainnya.
2. Fungsi sosialisasi
Hubungan dalam keluarga Tn. S tampak harmonis, hubungan
dengan tetangga juga harmonis dengan adanya tetangga yang sering
duduk di teras rumah Tn. S.
3. Fungsi perawatan kesehatan
a. Mengenal masalah kesehatan
Keluarga belum mengetahui mengenai fakta-fakta dari masalah
kesehatan yang sedang dialami keluarga, yaitu meliputi pengertian,
tanda dan gejala, faktor penyebab, terlihat keluarga tidak tau kalau
salah satu keluarga menderita Vertigo.
b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat
Keluarga Tn. S tidak mampu mengambil keputusan untuk
mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya, karena Tn. S merasa
takut untuk memeriksakan keadaannya ke dokter atau ke rumah
sakit.
c. Merawat anggota keluarga yang sakit
Keluarga Tn. S belum mengerti cara perawatan yang
berhubungan dengan penyakit Vertigo.
d. Memelihara lingkungan rumah yang sehat
Keluarga cukup mampu memodifikasi lingkungan yang dapat
meningkatkan gizi bagi keluarga.
e. Menggunakan fasilitas pelayana kesehatan
Bila ada anggota keluarga yang sakit, selalu dibawa berobat ke
puskesmas atau rumah sakit.
4. Fungsi reproduksi
Keluarga Tn. S mempunyai tiga orang anak perempuan dari istri
pertamanya. Sedangkan dengan istri kedua, klien tidak memiliki anak.
5. Fungsi ekonomi
Keluarga Tn. S mempunyai penghasilan yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

F. Stress dan Koping Keluarga


1. Stress jangka panjang dan pendek
Keluarga Tn. S biasanya bila mendapat masalah dapat diselesaikan
dalam waktu singkat, keluarga melakukannya dengan melakukan
kesenangan secara pribadi. Apabila masalah cukup berat, maka kluarga
Tn. S membicarakannya dengan kerabat terdekat.
2. Kemampuan keluarga merespon terhadap stressor
Apabila keluarga mendapatkan masalah, maka setiap anggota
keluarga selalu menganggap masalah itu adalah cobaan dari Allah SWT,
dan suatu saat pasti mendapat hikmahnya dari cobaan tersebut.
3. Strategi adaptasi menghadapi masalah
Tn. S selalu mencoba memecahkan masalah dengan cara
musyawarah atau membicarakaannya bersama-sama.
4. Harapan keluarga terhadap tenaga kesehatan
Tn. S dan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan, pada
khususnya dan membantu masyarakat pada umumnya tanpa
membedakan kaya, miskin serta lebih bersifat sosial.
5. Persepsi keluarga terhadap perawat
Selama ini keluarga menerima dengan baik terhadap petugas
kesehatan yang datang.
6. Harapan keluarga terhadap perawat berhubungan dengan masalah yang
dihadapi
Perawat dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang muncul
di keluarga Tn. S.

G. Pemeriksaan Fisik
Px. Fisik Tn. S Ny. E Nn. A An. Ar
TD 120/80 mmHg 120/75 mmHg 110/70 mmHg 110/80 mmHg
N 86 x/mnt 80 x/mnt 76 x/mnt 80 x/mnt
RR 20 x/mnt 22 x/mnt 20 x/mnt 23 x/mnt
BB 63 kg 58 kg 45 kg 39 kg
Kepala Mesocepal Mesocepal Mesocepal Mesocepal
Rambut Bersih Beruban, Bersih Bersih
bersih
Konjungtiva Tidak anemis Tidak anemis Tidak anemis Tidak anemis
Sklera Tidak ikterik Tidak ikterik Tidak ikterik Tidak ikterik
Hidung Bersih Bersih Bersih Bersih
Telinga Bersih Bersih Bersih Bersih
Mulut Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir
lembab lembab lembab lembab
Leher Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
pembesaran pembesaran pembesaran pembesaran
kelenjar kelenjar kelenjar kelenjar tyroid
tyroid tyroid tyroid
Paru-paru I: bentuk dada I: bentuk dada I: bentuk dada I: bentuk dada
simetris simetris simetris simetris
P: vocal P: vocal P: vocal P: vocal
fremitus kanan fremitus kanan fremitus kanan fremitus kanan
kiri teraba sama kiri teraba sama kiri teraba sama kiri teraba sama
P: sonor P: sonor P: sonor P: sonor
A: vesikuler, A: vesikuler, A: vesikuler, A: vesikuler,
Tidak ada suara Tidak ada suara Tidak ada suara Tidak ada suara
tambahan, tambahan, tambahan, tambahan,
Jantung I: ictus cordis I: ictus cordis I: ictus cordis I: ictus cordis
tidak tampak tidak tampak tidak tampak tidak tampak
P: IC teraba di P: IC teraba di P: IC teraba di P: IC teraba di
ICS 5 mid ICS 5 mid ICS 5 mid ICS 5 mid
clavicula clavicula clavicula clavicula
P: Pekak P: Pekak P: Pekak P: Pekak
A: tidak ada A: tidak ada A: tidak ada A: tidak ada
bunyi tambahan bunyi tambahan bunyi tambahan bunyi tambahan

Abdomen I: Simetris I: Simetris I: Simetris I: Simetris


A: bising usus A: bising usus A: bising usus A: bising usus
12 x/mnt 10 x/mnt 8x/mnt 10x/mnt
P: tidak ada P: tidak ada P: tidak ada P: tidak ada
nyeri tekan nyeri tekan nyeri tekan nyeri tekan
P: timpani P: timpani P: timpani P: timpani

Ekstremitas Tidak ada Terdapat Tidak ada Tidak ada


varises, tidak varises pada varises, tidak varises, tidak
ada edema betis kanan, ada edema ada edema
tidak ada
edema
Kulit Sawo matang Sawo matang Sawo matang Sawo matang
Turgor kulit Baik Baik Baik Baik
Keluhan Merasa - - -
pusing seperti
berputar-
putar, terjadi
saat
kelelahan.

H. Riwayat Kesehatan Anggota Keluarga


1. Riwayat kesehatan keluarga dahulu
Tidak ada riwayat dalam keluarga tentang penyakit DM, hipertensi, dan
jantung.
2. Riwayat kesehatan keluarga sekarang
Anggota keluarga saat ini sedang dalam keadaan sehat, kecuali Tn. S yang
mengeluh pusing seperti berputar-putar.

I. Aktifitas kehidupan sehari-hari anggota keluarga


1. Nutrisi
Keluarga Tn. S biasanya makan 3 kali sehari dengan makanan pokok nasi,
lauk-pauk, dan sayur mayur. Keluarga juga mengkonsumsi buah-buahan, seperti
pisang, sirsak dan jeruk.
Tn. S : makan sehari tiga kali habis 1 porsi
Ny. E : makan sehari tiga kali habis 1 porsi
Nn. A : makan sehari tiga kali habis 1 porsi
An. Ar : makan sehari tiga kali habis 1 porsi
2. Intake cairan
Tn. S : kebutuhan cairan kurang lebih 2000 cc per hari (air putih/teh)
Ny. E : kebutuhan cairan kurang lebih 2000 cc per hari (air putih/teh)
Nn. A : kebutuhan cairan kurang lebih 1500 cc per hari (air putih)
An. Ar : kebutuhan cairan kurang lebih 1300 cc per hari (air putih/susu)
3. Pola eliminasi
Anggota keluarga Tn. S terbiasa BAB sehari satu kali dan tidak mengalami
gangguan.
4. Mobilisasi
Tn. S bekerja di kantor salah satu SMP di Purworejo. Sedangkan Ny. E sehari-
harinya mengurus rumah, dan anak-anaknya pergi kuliah dan sekolah. Tidak ada
anggota keluarga yang mengalami gangguan dalam beraktifitas.
5. Personal hygiene
Tn. S membiasakan untuk mencuci tangan setelah melakukan suau kegiatan
dan saat sebelum makan. Kebiasaan keluarga mandi 2 kali sehari dan sikat gigi
rutin setiap kali mandi dan menjelang tidur.

J. Analisa Data
No Tanggal, jam Data Etiologi Problem
DS: Agen cidera Nyeri akut
1. Tn. S mengatakan biologis
merasa pusing yang
Ditandai
berputar-putar
dengan pusing
P : kelelahan, telat makan
yang tiba-tiba
Q: seperti berputar-putar
R: pusing di bagian seperti
temporal berputar-putar
S: 5 (dari 1-10)
T : sering terjadi saat
kelelahan
DO: ekspresi wajah
meringis

DS: Keluarga belum Kurang Defisiensi


mengetahui mengenai informasi pengetahuan
fakta-fakta dari masalah
kesehatan yang sedang
dialami keluarga, yaitu
meliputi pengertian,
tanda dan gejala, faktor
penyebab, terlihat
keluarga tidak tau kalau
salah satu keluarga
menderita Vertigo
DO: Ny. S masih bingug
mengenai sakit yang
diderita suaminya

Skoring Masalah
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis

Kriteria Skor Total Pembenaran


1. Sifat masalah: 3/3 x 1 1 Tn. S saat ini menderita vertigo yang
tidak/kurang muncul saat kelelahan dengan keluhan
sehat pusing hingga seperti berputar-putar
2. Kemungkinan 1/2 x 2 1 Yang bisa dilakukan untuk mengatasi
masalah dapat masalah Tn. S yaitu dengan
diubah: mengusahakan keluarga untuk memberi
sebagian perawatan pada Tn. S
3. Potensial 2/3 x 1 2/3 Potensial masalah dapat dicegah yaitu
dapat cukup, karena saat ini keluarga belum
dicegah: melakukan perawatan dirumah secara
cukup benar.
4. Menonjolnya 2/2 x 1 1 Keluarga menyadari mempunyai masalah
masalah: kesehatan yang harus segera ditangani
harus segera karena keluarga beranggapan bahwa
di tangani kesehatan itu sangatlah penting.
Total 3 2/3

2. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.


Kriteria Skor Total Pembenaran
1. Sifat masalah: 3/3x1 1 Kurang pengetahuan tentang penanganan
tidak/kurang vertigo
sehat
2. Kemungkinan ½x2 1 Melalui pendidikan atau penyuluhan
masalah dapat kesehatan terutama tentang vertigo
diubah:
sebagian
3. Potensial 3/3x1 1 Masalah dapat diubah dengan mudah
dapat kalau ditunjang kemampuan keluarga
dicegah: dalam merespon adanya masalah
tinggi
4. Menonjolnya ½x1 1/2 Keluarga menganggap penyakit vertigo ini
masalah: seperti biasa tidak mengganggu kegiatan
masalah ada sehari-hari
tetapi tidak
perlu segera
di tangani
Total 3 1/2

Masalah Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ditandai dengan
adanya pusing seperti berputar-putar yang terjadi saat Tn. S mengalami
kelelahan dan telat makan
2. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai
dengan pernyataan keluarga yang belum mengetahui tentang penyakit
vertigo.

K. Intervensi Keperawatan
No Kriteria hasil Intervensi
dx
1. Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam 1. Lakukan Lakukan
diharapkan nyeri pada pusing seperti pengkajian nyeri
berputar-putar klien dapat teratasi dengan secara komprehensif
kriteria hasil: yang meliputi lokasi,
1. Nyeri yang dilaporkan dari skala 4 (cukup karakteristik, onset /
berat) menjadi skala 5 (tidak ada) durasi, frekuensi,
2. Panjangnya episode nyeri dari skala 4 kualitas, intensitas
(cukup berat) menjadi skala 5 (tidak ada) atau beratnya nyeri
3. Tidak bisa istirahat dari skala 4 (cukup dan faktor pencetus
2. Kurangi atau
berat) menjadi skala 5 (tidak ada)
eliminasi faktor-
4. Ekspresi nyeri di wajah dari dari skala 4
faktor yang dapat
(cukup berat) menjadi skala 5 (tidak ada)
mencetuskan atau
meningkatkan nyeri
(misalnya, ketakutan,
kelelahan, keadaan
monoton dan kurang
pengetahuan)
3. Dukung
istirahat/tidur yang
adekuat untuk
membantu
penurunan nyeri.
4. Ajarkan penggunaan
metode non
farmakologi
2. Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam 1. Kaji tingkat
diharapkan defisiensi pengetahuan klien dan pengetahuan pasien
keluarga teratasi dengan kriteria hasil: terkait dengan proses
1. Faktor-faktor penyebab dan faktor yang penyakit yang
berkontribusi dari skala 3 (pengetahuan spesifik.
sedang) menjadi skala 5 (pengetahuan 2. Beri informasi
sangat banyak) kepada
2. Strategi untuk mengelola kenyamanan keluarga/orang yang
dari skala 3 (pengetahuan sedang) penting bagi pasien
menjadi skala 5 (pengetahuan sangat mengenai
banyak) perkembangan
3. Pentingnya istirahat yang cukup dari pasien, sesuai
skala 3 (pengetahuan sedang) menjadi kebutuhan.
skala 5 (pengetahuan sangat banyak) 3. Edukasi pasien
mengenai tindakan
untuk
mengontrol/memini
malkan gejala, sesuai
kebutuhan.

L. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Tanggal No Implementasi Hasil Evaluasi


dx
Sabtu, 1 1. Melakukan pengkajian nyeri S: klien mengatakan
15 Juli secara komprehensif yang merasa pusing seperti
2017 meliputi lokasi, karakteristik, berputar-putar.
onset / durasi, frekuensi, P : kelelahan, telat makan
kualitas, intensitas atau Q:seperti berputar-putar

beratnya nyeri dan faktor R: pusing di bagian


temporal
pencetus
2. Mengurangi atau mengliminasi S: 5 (dari 1-10)

faktor-faktor yang dapat T : sering terjadi saat


kelelahan
mencetuskan atau
meningkatkan nyeri (misalnya,
O: TD: 120/80 mmHg ,
ketakutan, kelelahan, keadaan
N: 86 x/mnt , RR: 20
monoton dan kurang
x/mnt,
pengetahuan)
3. Mendukung istirahat/tidur yang Klien seperti menahan

adekuat untuk membantu pusing, tangan klien

penurunan nyeri. memegangi kepala klien.


4. Mengajarkan penggunaan
metode non farmakologi A: Masalah nyeri akut
dengan nafas dalam. klien belum teratasi

P: lanjutkan intervensi
1. lakukan pengkajian
nyeri secara
komprehensif
2. kurangi atau
mengliminasi
faktor-faktor yang
dapat mencetuskan
nyeri
3. dukung
istirahat/tidur yang
adekuat
4. ajarkan penggunaan
metode non
farmakologi (nafas
dalam).
2 1. Mengkaji tingkat pengetahuan S: klien mengatakan
pasien terkait dengan proses tidak mengetahui kenapa
penyakit yang spesifik. bisa mengalami keluhan
2. Memberi informasi kepada seperti pusing berputar-
keluarga/orang yang penting putar.
bagi pasien mengenai Keluarga klien
perkembangan pasien, sesuai mengatakan bingung
kebutuhan. bagaimana mengatasi
3. Mengedukasi pasien mengenai saat klien mengalami
tindakan untuk pusing.
mengontrol/meminimalkan Keluarga mengatakan
gejala, sesuai kebutuhan. belum tau bagaimana
perawatan yang benar
untuk mengalami
masalah Tn. S

O: klien menunjukkan
wajah bingung, keluarga
berusaha untuk merawat
Tn. S dengan sebaik
mungkin.

A: masalah defisiensi
pengetahuan belum
teratasi.

P: lanjutkan intervensi
1. beri informasi
kepada keluarga
mengenai
perkembangan
pasien, sesuai
kebutuhan.
2. edukasi pasien
mengenai tindakan
untuk
mengontrol/memini
malkan gejala,
sesuai kebutuhan.
Minggu, 1 1. Melakukan pengkajian nyeri S: klien mengatakan
16 Juli secara komprehensif yang masih merasa pusing
2017 meliputi lokasi, karakteristik, seperti berputar-putar.
onset / durasi, frekuensi, Klien mengatakan sudah
kualitas, intensitas atau mempraktikkan untuk
beratnya nyeri dan faktor nafas dalam saat merasa
pencetus pusing
2. Mengurangi atau mengliminasi
Klien mengatakan
faktor-faktor yang dapat
pusing sedikit berkurang
mencetuskan atau
setelah dilakukan nafas
meningkatkan nyeri (misalnya,
dalam.
ketakutan, kelelahan, keadaan P : kelelahan, telat makan
monoton dan kurang Q:seperti berputar-putar
pengetahuan) R: pusing di bagian
3. Mendukung istirahat/tidur yang temporal
adekuat untuk membantu S: 4 (dari 1-10)
penurunan nyeri. T : sering terjadi saat
4. Mengajarkan penggunaan kelelahan
metode non farmakologi
O: TD: 120/70 mmHg ,
N: 82 x/mnt , RR: 22
x/mnt,
Klien seperti menahan
pusing.

A: Masalah nyeri akut


klien belum teratasi

P: lanjutkan intervensi
1. lakukan pengkajian
nyeri secara
komprehensif
2. kurangi atau
mengliminasi
faktor-faktor yang
dapat mencetuskan
nyeri
2 1. Mengkaji tingkat pengetahuan S: klien mengatakan
pasien terkait dengan proses sudah paham dengan
penyakit yang spesifik. penjelasan yang
2. Memberi informasi kepada diberikan oleh perawat.
keluarga/orang yang penting Keluarga mengatakan
bagi pasien mengenai akan merawat klien
perkembangan pasien, sesuai sesuai arahan yang
kebutuhan. diberikan perawat
3. Mengedukasi pasien mengenai
tindakan untuk O: klien dan keluarga
mengontrol/meminimalkan berusaha memahami
gejala, sesuai kebutuhan. materi yang
disampaikan perawat.
Keluarga dan klien
mampu menjawab
pertanyaan dari perawat
mengenai materi yang
diberikan.

A: masalah defisiensi
pengetahuan sudah
teratasi

P: hentikan intervensi.