Anda di halaman 1dari 12

REHABILITASI REMAJA PECANDU NAPZA DI INSTALASI

WISMA SIRIH SUNGAI BANGKONG


PONTIANAK

Khairul, Yohanes B, Parijo


Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP UNTAN
Email : khairulpensos@yahoo.co.id

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rehabilitasi remaja pecandu


NAPZA di Instalasi Wisma Sirih Sungai Bangkong Pontianak. Pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan studi
dokumentasi, sedangkan alat pengumpulan data adalah panduan observasi,
panduan wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis
kegiatan rehabiltiasi remaja pecandu NAPZA di Wisma Sirih terdiri dari
bimbingan fisik, bimbingan mental dan sosial yang berlandaskan pada metode
terapi komunitas (Therapeutic Community).

Kata kunci : NAPZA, rehabilitasi, remaja, wisma sirih.

Abstract: This study aims to know the rehabilitation of teenagers drug addicts in
the Installation Wisma Sirih Pontianak. The approach used is descriptive
qualitative approach. Data collection techniques used were observation,
interview, and documentation, while the data collection tool is a guide to
observation, interview, and documentation. The results showed that the types of
drug rehabilitation in the teenagers addicts of Wisma Sirih guidance consists of
physical, mental and social guidance that is based on the method of therapeutic
community (Therapeutic Community).

Keywords: drugs, rehabilitation, teenagers, Wisma Sirih.

P enyalahgunaan NAPZA saat ini telah merambah keseluruh status dan lapisan
masyarakat, dari masyarakat kelas bawah sampai masyarakat kelas atas (kaya,
miskin), elit politik serta artis sekalipun dapat terjerumus ke dalam tindak pidana
penyalahgunaan NAPZA.
Penyebaran penyalahgunaan NAPZA di Indonesia menyebar di seluruh
pelosok tanah air, tidak terkecuali di Kalimantan Barat. Ironisnya, sebagian
korban penyalahgunaan NAPZA masih berusia remaja dan masih berstatus
sebagai pelajar. Bahkan, Jumlah pelajar atau remaja yang terlibat, diperkirakan
lebih besar dari jumlah yang diungkap polisi. Berdasarkan prediksi di harian
kompas pada tahun 2012, Pengguna Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif
(NAPZA) yang berusia 12-21 tahun ditaksir sekitar 14.000 orang dari
jumlah remaja di Indonesia sekitar 70 juta orang. Dari data kasus tersebut,
tentunya sangat memprihatinkan karena, bahaya penyalahgunaan NAPZA tidak
hanya berdampak terhadap kesehatan fisik dan mental pecandunya saja tetapi juga
akan sangat berdampak besar pada tatanan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat
dan berbangsa (Partodiharjo, 2009: 31-34).
Keterlibatan remaja ke dalam tindak pidana penyalahgunaan NAPZA
tentunya menjadi pertanda buruk bagi eksistensi bangsa di masa depan. Remaja
yang diharapkan bisa menjadi tumpuan bangsa, sejak dini sudah akrab dengan
dunia NAPZA, tidak mengherankan jika berbagai analisis memperkirakan bahwa
lost generation atau akan adanya generasi yang hilang di Indonesia akibat
NAPZA akan benar-benar terjadi di masa mendatang (Abu Al-Ghifari, 2002: 9).
Kebanyakan zat dalam NAPZA sebenarnya untuk pengobatan dan
penelitian, tetapi karena berbagai sebab yang berasal dari faktor intern dan faktor
extern, maka NAPZA kemudian disalahgunakan. Efeknya bagi pengguna pada
umumnya bersifat penenang (depresan), perangsang (stimulant) dan pemicu
khayalan (halusinogen). Masalahnya ialah sifat adiksi atau ketergantungan yang
ditimbulkan baik adiksi fisik maupun adiksi psikis dan emosional. Maksudnya
adalah badan merasa tidak nyaman kalau tidak memakainya. Pikiran kusut, kacau
dan tidak berdaya terhadap tekanan. Perasaan tidak terkendali oleh keinginan dan
kerinduan yang terus menerus mendesak untuk menggunakannya
(ketagihan/sakaw) maka hidup seseorang akan porak poranda baik secara fisik,
mental, emosional, sosial, dan spiritual. Selain sifat adiksi, NAPZA juga
mempunyai dua sifat jahat lainnya yaitu habitual dan toleran (Undang-Undang
Psikotropika Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya, 2011: 273-275).
Oleh karena efek buruk penyalagunaan NAPZA yang telah diuraikan di
atas, tentunya upaya secara rehabilitasi menjadi sangat penting diselenggarakan,
sebab korban penyalahgunaan NAPZA jika dilihat dari aspek kesehatan mereka
sesungguhnya orang-orang yang menderita sakit, dimana seorang yang mengalami
ketergantungan NAPZA akan memiliki gejala-gejala negatif baik dari segi fisik,
psikologik (emosional) maupun dari segi perilaku (Razak dan Sayuti, 2009: 26).
Menanggapi peningkatan jumlah pecandu dan meningkatnya
permasalahan penyalahgunaan dari tahun ke tahun khususnya di kota Pontianak
dan di Kalimantan Barat pada umumnya, serta mengingat pentingnya upaya
rehabilitasi bagi pecandu NAPZA maka sangat diperlukan wadah pengobatan atau
pusat rehabilitasi yang menyediakan pelayanan pemulihan bagi pecandu NAPZA.
Namun di Kalimantan Barat ketersediaanya masih sangat minim dan hanya ada
satu di Kota Pontianak yaitu Instalasi Rehabilitasi Wisma Sirih yang masih
bernaung di bawah Rumah Sakit Khusus Provinsi Kalimantan Barat Sungai
Bangkong Pontianak.
Keberadaannya yang sudah cukup lama yakni sudah ada selama 10
tahun, dan didukung dengan visi yang jelas, menjadikan Wisma Sirih satu-satunya
pusat rehabilitasi NAPZA yang unggul di Kota Pontianak. Dalam visinya tertulis
bahwa Wisma Sirih ingin menjadi unggulan dalam bidang pelayanan terpadu
terapi dan rehabilitasi, pendidikan dan pelatihan ketergantungan Narkoba/NAPZA
yang berbasis rumah sakit secara professional. Di tinjau dari sisi lain, keberadaan
Wisma Sirih bagaikan sekolah khusus yang diperuntukkan bagi pecandu NAPZA,
sebab Wisma Sirih menyediakan solusi dalam bentuk kegiatan-kegiatan
rehabilitasi, untuk merubah perilaku individu dari yang tidak baik menjadi baik,
dari yang negatif menjadi positif, dari yang tidak produktif menjadi produktif, dan
tentunya dari yang sakit (candu) menjadi pulih (clean). Kemudian yang terpenting
dari visi tersebut adalah Wisma Sirih bertujuan untuk menyelamatkan generasi
muda Kalimantan Barat terbebas dari belenggu NAPZA dan pada umumnya
menyelamatkan generasi muda Indonesia dari efek buruk NAPZA.
Berdasarakan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
420/MENKES/SK/III/2010 tentang pelayanan terapi dan rehabilitasi
komprehensif pada gangguna penggunaan NAPZA (dalam http://www.
rsstroke.com/ files/ peraturan /BUK/ Regulasi Napza/ Kepmen-kes_No 420. pdf
diakses pada 30 Mei 2013), jenis metode rehabilitasi terdiri dari 1) Therapeutic
Community, 2) Model medik, 3) Model Minnesota, 4) Model eklektik, 5) Model
Multi Disiplin, 6) Model Tradisional.
Berdasarkan uraian diatas, melalui penelitian ini peneliti merasa tertarik
untuk mendeskripsikan atau melukiskan dan mempelajari secara mendalam
tentang rehabilitasi di Wisma, yang meliputi apa saja jenis kegiatan, bagaimana
prosesnya, apa saja kendalanya, serta bagaimana hasil rehabilitasi remaja pecandu
NAPZA di Instalasi Wisma Sirih Sungai Bangkong Pontianak.

METODE

Menurut Sugiyono (2011: 2), “Metode penelitian pada dasarnya


merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan
tertentu.” Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, maka
dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah Rehabilitasi Remaja Pecandu
NAPZA di Instalasi Wisma Sirih Sungai Bangkong Pontianak, sedangkan subjek
dalam penelitian ini yaitu pimpinan, dokter, perawat, psikolog, dan konselor di
Instalasi Rehabilitasi Wisma Sirih sebagai informan yang memiliki otoritas,
memahami dan menguasai objek yang akan diteliti. Kemudian wawancara dua
orang tua residen, yang terdiri dari satu orang tua yang anaknya akan
menyelesaikan program primery selama tiga bulan dan satu orang tua lainnya
adalah residen yang melanjutkan program lanjutan (aftercare) di Wisma Sirih.
Kedua orang tua ini peneliti jadikan subjek untuk mengetahui keberhasilan
Rehabilitasi remaja pecandu di Wisma Sirih, serta informan dari residen Wisma
Sirih sebagai pemberi informasi tambahan.
Teknik pengumpulan data adalah metode yang digunakan peneliti untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.
Maka dari itu peneliti akan melakukan 4 teknik dalam pengumpulan data yaitu
melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi. Kemudian
analisis data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut: (1)
Reduksi Data (Data Reduction); Reduksi data dalam penelitian ini terutama
menyangkut proses pemilihan, penyederhanaan, klasifikasi data kasar dari hasil
penggunaan teknik dan alat pengumpulan data. Reduksi akan dilakukan sejak
penelitian dimulai dan sampai selesai penelitian (2) Penyajian Data (Display
Data); Penyajian data yaitu penyusunan sekumpulan informasi menjadi suatu
pernyataan. Data kualitatif disajikan dalam bentuk teks, yang pada umumnya
terpencar, terpisah menurut sumber dan informasi itu diperoleh. Selanjutnya
diklasifikasi menurut isu dan kebutuhan analisis. Tentunya dalam penelitian ini
berkenaan dengan rehabilitasi remaja pecandu NAPZA, (3) Kesimpulan
(Conclution); Kesimpulan ditarik berdasarkan reduksi dan penyajian data yang
telah dilakukan pada tahap sebelumnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Wisma Sirih merupakan instalasi rehabilitasi NAPZA yang berbasis
rumah sakit, tepatnya berada di bawah naungan Rumah Sakit Khusus Provinsi
Kalimantan Barat. Dalam proses pemulihan pecandu NAPZA, wisma sirih
menggunakan metode Therapeutic Community sebagai metode utama yang
bertujuan merubah perilaku dan meningkatan kematangan emosional pecandu
NAPZA. Ada tiga tahapan program TC yaitu dua tahapan dalam perawatan
residensial (premery dan re-entry) serta satu tahap perawatan lanjutan. Tahapan
primery umumnya hanya sampai tiga bulan proses rehab, re-entry fase tiga bulan
kedua (6 bulan) sedangkan aftercare adalah fase lanjutan (pemberdayaan).
Dalam program tidak diperkenankan berlaku kasar secara fisik atau
apapun perilaku yang bertujuan menghina atau merendahkan baik staf atau antar
sesama residen. Konselor atau staf berhak mengarahkan residen dan residen harus
mengikuti petunjuk atau peraturan tersebut. Ada empat aturan utama yang apabila
dilanggar tidak ada peringatan pertama, residen dapat dikeluarkan seketika dari
program bila terbukti melanggar salah satu dari empat peraturan utama tersebut.
Keampat peraturan utama (cardinal rules) tersebut ialah sebagai berikut: (1)Tidak
mengkonsumsi NAPZA di Wisma Sirih atau tempat perawatan atau tidak
melakukkan percobaan membawa dan membuat NAPZA dalam Wisma Sirih (No
Drugs). (2) Tidak ada kekerasan fisik atau ancaman terhadap kekerasan fisik (No
Violence). (3) Tidak ada aktivitas seks baik antar sesama residen, maupun antar
residen dengan staf (No Sex). (4) Tidak bermain judi dalam bentuk dan cara
apapun (No Gambling).
Program TC yang dijalankan di Wisma Sirih diharapkan dapat membantu
pecandu ataupun korban NAPZA untuk menjadi lebih kuat secara mental dan
lebih bisa bersikap positif, dengan catatan sasaran dan tujuan yang inginkan
tersebut hanya akan terwujud bila residen mengikuti program dengan baik dan
berkomitmen penuh untuk pulih.
Program rehabilitasi di Wisma Sirih terbuka untuk umum, batasan usia
juga tidak menghalangi pecandu berobat di Wisma Sirih sehingga Wisma Sirih
selalu didatangi pecandu yang ingin menjalani proses rehabilitasi. Pada tahun
2013 ini dari Bulan januari sampai Juni tercatat 15 orang residen, 8 diantaranya
masih berusia remaja (M 17 tahun, R 16 tahun, Rw 17 tahun, Z 19 tahun, N 21
tahun, Rk 17 tahun, Ns 16 Tahun dan Nv 16 tahun). Semua residen berjenis
kelamin laki-laki dan sebagian besar residen berasal dari Kota Pontianak.
Dibawah ini akan penulis sajikan data residen berusia remaja tahun 2013, yaitu
sebagai berikut:
Tabel 1 Data Residen Remaja Tahun 2013
Jenis
NAPZA
Inisial Usia Pendidikan Asal Daerah Ket
yang
digunakan
17 SMA Pontianak Shabu Primery
Mk
16 SMA Pontianak Shabu Primery
R
17 SMA Pontianak shabu Primery
Rw
19 SMP Pontianak Shabu Aftercare
Z
21 SMA Pontianak shabu Primery
N
17 SMP Kubu Raya Shabu Primery
Rk
16 SMP Kubu Raya Shabu primery
Ns
16 SMA Pontianak Shabu Primery
Nv
Sumber data: database residen Wisma Sirih tahun 2013.

Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat dijelaskan bahwa rentang usia pecandu


remaja yang menjadi residen Wisma Sirih berkisar antara 17 tahun sampai 21
tahun, tiga residen sedang menjalani pendidikan di bangku SMP dan 5 orang di
bangku SMA, 6 orang berasal dari Pontianak dan 2 orang berasal dari Kubu Raya,
semua residen mengkonsumsi shabu, 7 orang merupakan residen primery, dan 1
orang di fase aftercare.
Hasil observasi untuk mengetahui jenis kegiatan rehabilitasi yang
dilaksanakan di Wisma Sirih, peneliti melaksanakannya pada minggu pertama
dari hari senin sampai minggu tanggal 13 Mei sampai 19 Mei 2013, mulai pukul
05.00-21.00 WIB, yaitu sebagai berikut:
Tabel 2 Hasil Observasi pada Aspek Kegiatan Rehabilitasi Remaja
di Wisma Sirih.
Ketersedi
N Jenis Nama
Indikator aan Keterangan
o Kegiatan kegiatan
Y T
1 Bimbingan a. Medis ƴ Visit ke Dilaksanakan setiap hari selasa
fisik dokter dan kamis pukul 09.30-10.30
WIB. (periksa kesehatan)
b. Gizi ƴ Breakfast, Sarapan pagi, makan siang dan
Lunch, makan malam teratur sesuai
Dinner, jadwal kamudian di tambah
Snack dengan makanan tambahan
seperti susu, bubur kacang
pada saat kegiatan free and
easy (santai).
c. Olahraga ƴ Recreation Olaharaga rekreasi
sports, dilaksanakan setiap sore pukul
Senam 15.30-17.00 WIB. Senam
dilaksanakan setiap hari jumat
pukul 07.00-07.40 WIB
(aerobik)
2 Bimbingan a. Spiritual ƴ Religious Kelas Agama dilaksanakan
mental dan class pada hari kamis Pukul 19.30-
sosial 20.00 WIB.
b. Budi ƴ Seminar Kegiatan sesi seminar tentang
pekerti session kesehatan oleh perawat pada
hari selasa pukul 10.30-11.30
WIB. Kegiatan sesi seminar
tentang bimbingan program
adiksi oleh konselor setiap hari
rabu pukul 13.00-14.00 WIB.
c. Moti ƴ Terapi Dilaksanakan pada hari senin
vasi Psikologi pukul 10-30-11.30 WIB.
(psikolog
is)
3. Bimbingan ƴ Ada program khusus untuk
orang tua orang tua resdien. Namun,
dan keluarga karena fokus penelitian
mengenai rehabilitasi residen,
maka program ini tidak
peneliti amati.

4 Bimbingan ƴ Program tersedia pada fase


keterampilan aftercare. Karena sebagian
besar residen berada dalam
fase primery, maka peneliti
tidak mengamati program
aftercare secara rinci.
Tabel bersambung
TABEL 2, sambungan
5 Reintegrasi ƴ Dalam program TC disebut
pula reentry, yaitu fase 3 bulan
kedua. Karena semua residen
berada dalam fase primery,
maka program reentry belum
terselenggara.
6 Bimbingan ƴ Program aftercare dilanjutkan
lanjut setelah residen menjalani fase
primery dan reentry
7 Terminasi ƴ Ada, apabila residen sudah
dinyatakan pulih.
8 Lainnya a. Tang- ƴ Wake up Sudah harus bangun tidur pada
sesuai gung call pagi hari pukul 05.00-05.10
metode yang jawab WIB.
digunakan.
On the Aba-aba bersiap untuk
floor menjalankan aktivitas
rehabilitasi.
Chores Kegiatan menyapu dan
pagi mengepel lantai.
Prepare Kegiatan menyiapkan diri
Personality (mandi) dan membereskan
and room kamar sesudah bangun pagi,
dan prepare personality saat
sore hari.
Function Kegiatan membereskan tugas
masing-masing residen yang
telah di bagi, contohnya
mencuci pakaian, menyiapkan
sarapan, mencuci piring,
membereskan wisma.
Close Kegiatan memeriksa semua
house pintu dan fasilitas wisma
sebelum tidur malam (curfew)
Running Kegiatan membereskan
house fasilitas wisma pada malam
hari dan hanya dilaksanakan
pada hari selasa dan rabu.
Prepare Adalah kegiatan memasak
dan yang dilakukan semua residen
memasak pada akhir pekan, yaitu sabtu
dan minggu pukul 09.00-11.30
WIB.
b. Eva Morning Kegiatan review (ulasan)
luasi meeting mengenai aktivitas kemarin
yang dilaksanakan rutin dari
hari senin sampai kamis pukul
08.30-09.30 WIB
Tabel bersambung
TABEL 2, sambungan
Evening Kegiatan yang membahas
meeting struktur organisasi residen dan
group pemberian tugas dan tanggung
jawab residen.
Room run Kegiatan pemeriksaan
facility kebersihan dan kerapian kamar
residen oleh chief (kepala
rumah).
Running all Kegiatan pemeriksaan -
facility kebersihan dan kerapian-
fasilitas yang ada di wisma -
oleh chief.
c. Bim- Wrap up Kegiatan sharing mengenai
bingan malam aktivitas keseharian yang telah
kelom- dilakukan pada hari rabu
pok malam dan kamis malam.
Weekend Kegiatan sharing mengenai
wrap kondisi residen selama
sepekan berada di wisma.
Group Kegiatan sharing mengenai
isu-isu pribadi diantara sesama
residen, khususnya jika ada
yang melakukan kesalahan.
d. Bim- Static Kegiatan sharing masalah
bingan group pribadi secara intim antara satu
individu residen dengan konselor yang
mendampingi.
e. Relak Free and Kegiatan santai sebelum
sasi easy memulai kegiatan yang lain.
Tuesday Kegiatan santai pada selasa
night malam.
activity
Saturday Kegiatan santai pada malam
night minggu.
activity
Nonton Kegiatan khusus nonton
DVD bersama pada setiap hari sabtu
siang.
Siesta dan Tidur siang dan tidur malam
curfew
Sleep back Kegiatan tidur kembali, pada
akhir pekan khususnya setelah
melaksanakan sholat subuh.

Sumber data: Hasil olahan peneliti sendiri, tahun 2013.

Ket: Y= Ya
T= Tidak
Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 13 Mei 2013 sampai 26 Mei
2013, mulai pukul 05.00-21.00 WIB, dengan cara melakukkan dua kali
pengamatan yaitu pada minggu pertama dan minggu kedua dan melalui
wawancara mendalam kepada subjek penelitian yaitu, Kepala Wisma Sirih,
Dokter, Psikolog, Perawat, Konselor, dan Orang Tua residen. Berdasarkan hasil
wawancara dan hasil observasi maka dapat diperoleh pembahasan sebagai sebagai
berikut:
Dari data hasil observasi dan wawancara, diperoleh informasi bahwa
jenis kegiatan rehabilitasi yang diterapkan pada residen remaja adalah terdiri dari
beberapa kegiatan, yaitu: (1) Medis, adalah kegiatan pemeriksaan kesehatan fisik
dan psikologis pada semua residen, kegiatan medis ditanggani oleh dokter pada
kegiatan visit ke dokter, dan asuhan keperawatan yang ditanggani oleh perawat.
(2) Gizi, maksudnya adalah pemenuhan gizi untuk residen, yaitu dengan makan
tiga kali sehari dan ditambah dengan makanan tambahan, seperti bubur kacang,
dan susu. (3) Olahraga, yaitu kegiatan olahraga yang dilakukan residen terdiri dari
kegiatan senam rutin setiap hari jumat, dan kegiatan recreation sport di setiap sore
hari. (4) Spiritual, yaitu kegiatan yang memberi wawasan tentang nilai-nilai
keagamaan, khususnya agama Islam karena mayoritas residen remaja beragama
Islam. Kegiatan spiritual ini dijadwalkan pada kamis malam selepas sholat isya
dan diberi nama religious class. Selain religious class, praktik sholat lima waktu
menjadi agenda wajib bagi setiap residen yang beragama Islam. Bagi residen yang
beragama non muslim seperti Kristen dan Khonghucu ada kegiatan pembinaan
spiritual juga, namun karena residen yang beragama non-muslim berjumlah
sedikit, maka kegiatan religious class untuk sementara ditiadakan. (5) Budi
pekerti, yaitu kegiatan memberikan wawasan mengenai nilai-nilai dan norma-
norma yang berlaku di masyarakat melalui kegiatan seminar session. (6) Motivasi
(psikologis), kegiatan ini merupakan bimbingan yang dilakukan oleh psikolog,
melalui kegiatan terapi psikologi sebagai wadah bagi residen untuk
mengendalikan emosional dengan baik, meningkatkan motivasi dan kepercayaan
diri residen melalui bimbingan psikologis dan konseling. (7) Tanggungjawab,
yaitu melatih kemampuan tanggung jawab sekaligus melatih kedisiplinan residen
melalui tugas-tugas keseharian yang harus mereka kerjakan yang terdiri dari
Prepare Personality and room, function, Close house, Running house, Prepare
dan memasak. (8) Evaluasi, adalah kegiatan untuk memberikan penilaian dan
masukan dari aktivitas yang telah dilakukan oleh semua residen. Ada empat
kegiatan evaluasi yaitu Morning meeting, Evening meeting group, Room run
facility, Running all facility. (9) Bimbingan kelompok, adalah wadah sharing
mengenai masalah yang ada di Wisma, di bahas secara mendalam untuk mencari
solusi yang baik. Ada tiga kegiatan yaitu; Wrap up malam, Weekend wrap up,
Group. (10) Bimbingan individu, kegiatan ini adalah sharing secara mendalam
dan bersifat tertutup antara residen dengan konselor yang menjadi
pembimbingnya, kegiatan ini dinamakan static group. (11) Relaksasi, yaitu
kegiatan keseharian yang santai atau kegiatan istirahat residen setelah atau
sebelumnya melakukkan kegiatan lainnya. Kegiatan ini terdiri dari Free and easy,
Tuesday night activity, Saturday night activity, Nonton DVD, Siesta dan curfew,
Sleep back.
Kegiatan-kegiatan tersebut, tergolong baik karena sudah memuat
kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan Standar dan Pelayanan Rehabilitasi
NAPZA yang telah ditetapkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) (dalam,
http///bnn.go.id, diakses pada 10 Mei 2013), namun ada beberapa muatan kegiatan
yang masih belum diterapkan kepada residen remaja seperti program reentry
maupun aftercare. Hal ini dikarenakan Wisma Sirih menggunakan metode
Therapeutic Community dimana kegiatan-kegiatan yang diberikan kepada residen
bertahap dari satu fase ke fase selanjutnya, yaitu fase primery, selama tiga bulan
pertama, reentry, fase tiga bulan kedua dan aftercare yaitu fase lanjutan dengan
program pembinaan dan pemberdayaan. Karena residen remaja sebagian besar
berada di fase primery maka dari itu fokus kegiatan residen remaja di Wisma
terdiri dari kegiatan yang menjaga kondisi fisik dan emosional (psikologikal), dan
pembentukan perilaku dengan kegiatan-kegiatan yang melatih nilai-nilai spiritual
dan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat pada umumnya.
Kemudian, berdasarkan hasil wawancara pada konselor, metode
Therapeutic Community yang diterapkan di Wisma Sirih memiliki empat budaya
(four structure) yang dijadikan sasaran perubahan yang diharapkan dari semua
residen, yaitu: (1) Pembentukan Perilaku (Manajemen Behavior Shaping);
Perubahan perilaku yang diarahkan pada peningkatan kemampuan unutk
mengelola kehidupannya sehingga terbentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-
nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bentuk aplikasinya adalah
residen harus mentaati semua peraturan yang ada di wisma terutam aturan utama
(cardinal rules). (2) Emosional dan Psikologikal Perubahan perilaku yang
diarahkan pada peningkatan kemampuan penyesuaian diri secara emosional dan
psikologis, seperti murung, tertutup, cepat marah, perasaan bersalah dan lain-lain
ke arah perilaku positif. Penerapannya pada saat psikologi terapi yang diberikan
oleh psikolog, kemudian konselor juga berperan dalam pembentukan emosional
dengan cara sharing atau curhat tentang masalah pribadi pada kegiatan static
group. (3) Intelektual dan Spiritual; Budaya ini bertujuan merubah cara pola pikir
residen yang dulunya serba instan, mendapatkan segala sesuatu dengan cepat
tanpa menghiraukan proses yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat. Sedangkan spiritualnya memberikan pencerahan dan wawasan dari
nilai-nilai keagamaan. Aplikasinya yaitu pada kegiatan seminar session dan
religious class. (4) Keterampilan dan Pertahanan Diri; Perubahan perilaku
diarahkan pada peningkatan kemampuan dan keterampilan residen yang dapat
diterapkan untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari dan tugas-tugas
kehidupannya (life skills). Seperti function, prepare personality and room, chores
dan kegiatan keseharian lainnya.
Kemudian, jika dianalisis dari pendapat Hawari (2000: 132, dalam
http://repository. usu.ac.id/ bitstream /123456789 /16141/3 / Chapter %20II. pdf,
diakses pada 25 Mei 2013), “program rehabilitasi lamanya tergantung dari metode
dan program dari lembaga yang bersangkutan dan setidaknya menyangkut
kegiatan medik, psikiatrik, psikososial dan psikoreligious”. Maka, jenis kegiatan
rehabilitasi yang diterapkan di Wisma Sirih tergolong baik karena sudah memuat
kegiatan medis melalui visit ke dokter, psikologis melalui terapi psikologis, sosial
melalui kegiatan keseharian dan tanggung jawab, dan religious melalui kegiatan
praktik ibadah dan religious class.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah peneliti lakukan,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa rehabilitasi remaja pecandu NAPZA di
Instalasi Wisma Sirih terlaksana dengan baik karena muatan kegiatan sesuai
dengan standar yang ditetapkan oleh Badan Narkotika Nasional. Jenis kegiatan
rehabilitasi yang diterapkan pada remaja di Wisma Sirih terdiri dari bimbingan
fisik, bimbingan mental dan sosial yang berlandaskan pada metode terapi
komunitas (Therapeutic Community) dimana kegiatannya memiliki sasaran
pembentukan perilaku, pembentukan psikologis, melatih intelektual dan spiritual
serta melatih vokasional dan pertahanan diri.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh serta pembahasan tentang
hasil tersebut, maka penulis menyampaikan saran yaitu: jenis kegiatan yang
diterapkan di Wisma Sirih sudah berjalan baik, namun alangkah baiknya apabila
ada penambahan kegiatan spiritual pada saat waktu maghrib dan isya untuk
residen muslim maupun non muslim, hal ini perlu dilakukkan dalam rangka
menyeimbangkan pemulihan secara fisik dan psikologis ataupun secara jasmaniah
dan rohaniah setiap harinya agar proses pemulihan lebih sempurna

DAFTAR RUJUKAN
Abu Al-Ghifari (2002). Generasi Narkoba. Bandung: Mujahid Press. (Online).
(http://trosokerajinan.blogspot.com/2012/03/karya-ilmiah-narkoba.html,
diakses 19 Februari 2013).

Abdul Rozak, Wahdi Sayuti. (2009). Remaja dan Bahaya Narkoba (cetakan ke-
2). Jakarta: Prenada Media Group.

Hawari, Dadang. (2000). Terapi detoksifikasi dan rehabilitasi (pesantren


mutakhir system terpadu) “naza” (narkotika, alkohol dan zat adiktif
lain). Jakarta: Universitas Indonesia. (online). (dalam http://repository.
usu.ac.id/ bitstream /123456789 /16141/3 / Chapter %20II. pdf, diakses
pada 25 Mei 2013)

Subagyo Partodiharjo. (2009). Kenali Narkoba dan Musuhi


Penyalahgunaannya. Jakarta: Erlangga.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. (cetakan
ke-12). Bandung: Alfabeta.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


420/MENKES/SK/III/2010 tentang pelayanan terapi dan rehabilitasi
komprehensif pada gangguna penggunaan NAPZA. (online) (dalam
http://www.rsstroke.com/files/peraturan/BUK/RegulasiNapza/Kepmen-
kes_No420.pdf diakses pada 5 Mei 2013).
. (2011). Undang-undang Psikotropika, Narkotika, dan Zat
Adiktif Lainnya. Bandung: Fokusmedia.