Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN

Sistem persamaan ditemukan hampir di semua cabang ilmu pengetahuan. Dalam


bidang ilmu ukur sistem persamaan diperlukan untuk mencari titik potong beberapa garis
yang sebidang, di bidang ekonomi atau model regresi statistik sering ditemukan sistem
persamaan dengan banyaknya persamaan sama dengan banyaknya peubah dalam hal
memperoleh jawaban tunggal bagi peubah (variabel).
Dalam bab ini, akan dibahas sistem persamaan linear bukan hanya yang mampunyai
penyelesaian tunggal tetapi juga yang mempunyai penyelesaian tak hingga banyaknya,
serta yang tidak mempunyai penyelesaian.

TIK : Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan dapat


menyelesaikan sistem persamaan dan pertidaksamaan

1.1. Persamaan
Jika ditinjau dari penampilan peubahnya, persamaan dapat dibedakan menjadi
persamaan linear dan persamaan tidak linear. Jika ditinjau dari banyak peubahnya,
persamaan linear terbagi atas persamaan dengan satu peubah, dua peubah, atau lebih dari
dua peubah. Apabila ditinjau dari banyak persamaannya, dapat dibedakan atas persamaan
linear biasa yang hanya terdiri atas satu persamaan, dan sistem persamaan linear yang
terdiri atas lebih dari satu persamaan.
Persamaan non linear terbagi atas persamaan polinomial dengan satu peubah, dua
peubah, atau lebih dari dua peubah, dan persamaan pecah rasional yang pembilang dan
penyebutnya berupa polinomial.

 Persamaan Linear
Persamaan linear dengan n peubah adalah persamaan dengan bentuk :
a1 x1  a 2 x2  a3 x3 ... a n xn  b
dengan a1 , a 2 , a3 , ..., a n dan b adalah bilangan- bilangan real dan x1 , x2 , x3 , ..., xn adalah
peubah.
Secara khusus, persamaan linear dengan satu peubah mempunyai bentuk
ax + b = 0, a  0
Jika semesta pembicaraannya adalah R (himpunan bilangan real), maka selesaian
persamaan di atas dapat diperoleh dengan menambahkan lawan b, yaitu –b pada kedua
1
ruasnya, kemudian kedua ruas pada hasilnya dikalikan dengan kebalikan a, yaitu .
a
Secara matematik proses penyelesaian tersebut dapat ditulis sebagai :

1
1 1
(ax + b – b) = (0 – b)
a a
1 1
(ax) = ( – b),
a a
b
x=  .
a

Contoh :
1. Carilah selesaian persamaan 2x + 8 = 10.
Penyelesaian :
2x + 8 = 10
2x = 10 – 8
2x = 2
x = 1.
2. Tentukan banyaknya alkohol yang terdapat dalam 60 ml larutan alkohol berkadar 20%.
Penyelesaian : Banyaknya alkohol yang terdapat dalam 60 ml larutan alkohol berkadar
20
20% adalah .60 ml  12 ml.
100
 Persamaan Kuadrat
Bentuk umum persamaan kuadrat adalah : ax2 + bx + c = 0 , a  0
Bilangan real t disebut akar dari persamaan kuadrat ax2 + bx + c = 0, jika memenuhi
at2 + bt + c = 0. Untuk mendapatkan akar persamaan kuadrat dapat dilakukan dengan
tiga cara, yaitu: pemfaktoran, melengkapkan kuadrat, dan rumus abc.

Contoh :
1. Carilah akar dari persamaan kuadrat x2 + 4x – 5 = 0.
Penyelesaian :
Cara pemfaktoran :
x2 – 4x – 5 = 0
(x+ 5)(x - 1) = 0
Diperoleh x1 = -5 atau x2 = 1.
Cara melengkapkan kuadrat :
x2 + 4x – 5 = 0
x2 + 4x + 2 2 – 22 – 5 = 0
(x +2)2 – 9 = 0
(x +2)2 = 9
x+2=3
x = -2  3
Diperoleh x1 = -2 + 3 = -1 atau x2 = -2 – 3 = -5

2
Dengan Rumus abc:
 b  b 2  4ac
x12 
2a
x2 + 4x – 5 = 0
a = 1, b = 4, dan c = -5
 4  4 2  4.1.( 5 ) 46
x12 = = = -2  3
2.1 2
Diperoleh x1 = -2 + 3 = -1 atau x2 = -2 – 3 = -5.
2. Diketahui tetapan kesetimbangan untuk reaksi: PCl5(g) PCl3(g) + Cl2(g) adalah 0,08.
Hitunglah jumlah mol PCl3 dan Cl2 yang terbentuk, jika ke dalam ruang yang
volumenya 5,0 liter dimasukkan 0,5 mol PCl5.
Penyelesaian :
Misalkan jumlah PCl5 yang terurai membentuk PCl3 dan Cl2 adalah x mol, maka
koefisien reaksi PCl 3
PCl3 yang terbentuk = .mol PCl 5 yang terurai
koefisien reaksi PCl 5

1
= .x mol
1
= x mol
koefisien reaksi Cl 2
Cl2 yang terbentuk = .mol PCl 5 yang terurai
koefisien reaksi PCl 5
1
= .x mol
1
= x mol
PCl5 yang tersisa = PCl5 awal - PCl5 yang teruarai
= (0,5 – x) mol
mol PCl 3 x
[PCl3] = = mol/liter
volume ruang 5
mol Cl 2 x
[Cl2] = = mol/liter
volume ruang 5
mol PCl 5 0,5  x
[PCl5] = = mol/liter
volume ruang 5
[PCl 3 ][Cl 2 ]
K =
[PCl 5 ]
x x
.
x2
0,80 = 5 5 =
0 ,5  x 5( 0 ,5  x )
5
x2 = 4(0,5 – x) = 2 – 4x
x2 + 4x – 2 = 0

3
2
 b  b 2  4ac  4  4  4.1.( 2 )  4  24
x12   = = –2  6
2a 2.1 2
2 6
Jadi jumlah PCl3 dan Cl2 yang terbentuk adalah mol.
5
 Persamaan Derajat Tinggi
Pembicaraan persamaan polinomial dengan derajat lebih dari dua, dibatasi hanya
pada derajat tiga, dengan penekanan pada dua rumus:
x3 – a 3 = (x – a)(x2 + ax + a 2) dan x3 + a3 = (x + a)(x2 - ax + a2)
Untuk pemfaktoran persamaan derajat tinggi dapat digunakan metode Horner.
Contoh :
Carilah bentuk pemfaktoran dari x3 – 8 dan 8x3 – 27
Penyelesaian :
x3 – 8 = x3 – (2)3 = (x – 2)(x2 + 2x +4)
8x3 – 27 = (2x)3 – (3)3 = (2x – 3)(4x2 + 6x +9)

Soal Latihan
1. Tentukan volume dan kadar alkohol yang diperoleh dari penambahan 50 ml air
kedalam 150 ml alkohol berkadar 30%
2. Seorang mahasiswa diminta untuk mencampurkan 75 ml air ke dalam 25 ml larutan
alkohol berkadar 20%. Tentukan kadar alkohol yang dihasilkan oleh mahasiswa
tersebut.
3. Tentukan banyaknya air yang harus ditambahkan pada 50 ml larutan alkohol berkadar
25%, agar menjadi larutan alkohol berkadar 15% dan tentukan pula volume larutan
alkohol berkadar 15% yang dihasilkan.
4. Seorang mahasiswa diminta untuk membuat 100 ml larutan alkohol berkadar 15%.
Jika larutan alkohol yang dimiliki adalah larutan alkohol berkadar 40%, maka tentukan
banyaknya alkohol berkadar 40% yang harus digunakan, sehingga hanya diperoleh
larutan alkohol yang dibutuhkan saja.
5. Carilah bentuk pemfaktoran dari polinomial di bawah ini !
a. x3 – 27 d. 27x3 – 1
1
b. x3 + 125 e. 27x3 +
8
1 3 1
c. 27x3 – 81 f. x +
8 27
6. Tentukan nilai x yang memenuhi
a. x3 + 4x2 + x – 6 = 0
b. -x3 + 13x – 12 = 0
c. x3 + 2x2 - 7x + 4 = 0
d. x3 - 3x2 - 2x + 2 = 0
e. x3 + 3x2 - 15x + 106 = 0

4
1.2. Sistem Persamaan Linear
Bentuk umum sistem persamaan linear adalah :
a11 x1  a12 x2  a13 x3 ... a1n xn  b1
a 21 x1  a 22 x2  a 23 x3 ... a 2n x n  b2
a31 x1  a32 x 2  a33 x3 ... a3n xn  b3
...........................................................
a m1 x1  a m 2 x2  a m3 x3 ... a mn x n  bm
Sistem persamaan di atas terdiri dari m persamaan dan n peubah, dan dapat dinyatakan
dalam bentuk perkalian matriks sebagai
 a11 a12 a13 . . . a1n   x1   b1 
a a 22 a 23 . . . a 2 n   x 2  b2 
 21    
 a 31 a 32 a 33 . . . a 3n   x3   b3 
    
 . . . . . . .   .  = . .
 . . . . . . . . .
    
 . . . . . . . . .
a a m2 a m3 . . . a mn   x n  bm 
 m1
 a11 a12 a13 . . . a1n   x1   b1 
a a 22 a23 . . . a2 n   x  b 
 21   2  2
 a 31 a 32 a33 . . . a 3n   x3  b3 
     
Jika Amxn =  . . . . . . .  , Xnx1 =  .  , dan Bmx1 =  .  , maka sistem
 . . . . . . .  . .
     
 . . . . . . .  . .
a am2 a m3 . . . amn    b 
 m1  xn   m
persamaan linear di atas dapat dituliskan sebagai AX = B.
Jika B merupakan matriks nol, maka sistem persamaan linearnya disebut sistem persamaan
linear homogen. Sedangkan jika B bukan matriks nol, maka sistem persamaan linearnya
disebut sistem persamaan linear non homogen. Matriks Y disebut penyelesaian dari sistem
persamaan linear AX = B, jika AY = B bernilai benar.

Contoh :
a. Tentukan apakah x = 1, y = -1, dan z = 1 merupakan penyelesaian dari sistem
persamaan linear
x + 2y + 2z = 1, 2x – y + 3z = 6, 3x –2y + z = 6
 1
b. Tentukan apakah Y =  1  merupakan penyelesaian dari sistem persamaan linear
 1 

5
2 3 2  3 
 3 1 3  X =   1 .
   
  1 2  1   2 

Penyelesaian :
a. Jika x = 1, y = -1, dan z = 1 ke sistem persamaan linear, maka diperoleh
x + 2y + 2z = 1 + 2(-1) + 2.1 = 1
2x – y + 3z = 2.1 – (-1) + 3.1 = 6
3x –2y + z = 3.1 – 2(-1) + 1 = 6
Jadi x = 1, y = -1, dan z = 1 merupakan penyelesaian dari sistem persamaan linear
x + 2y + 2z = 1, 2x – y + 3z = 6, 3x –2y + z = 6.
  1 2 3 2  3
b. Jika Y =  1  disubstitusikan ke sistem persamaan linear  3 1 3  X =   1 ,
 
 1   1 2  1   2

maka diperoleh
2 3 2  1  3   3 
 3 1 3   1  =  1    1  .
       
 1 2  1  1   2    2 

Dengan demikian Y bukan penyelesaian dari sistem persamaan linear


2 3 2  3
 3 1 3  X =   1
   
 1 2  1   2

Soal Latihan
1. Tentukan apakah nilai peubah/variabel yang diberikan merupakan penyelesaian dari
sistem persamaan linear (SPL) yang diberikan.
a. x = 1, y = -2, z = -1, SPL : x + 2y + 2z = 1, 2x – y + 3z = 6, dan 3x –2y + z = 6
b. x = 1, y = -1, z = -1, SPL : x + 2y + 2z = -3, x – y + 3z = -1, dan 3x –2y - z = 3
c. x = 2, y = -1, z = 2, SPL : x + y + 2z = 7, 3x – 2y - 3z = 2, dan x –2y + z = 6
d. SPL : x + y + z = 2, x +2y + 3z = -5, dan 2x + 3y + 4z = -3,
i. x = -7, y = -5, z = 0
ii. x = -6, y = -5, z = -1
iii. x = -4, y = -9, z = 1
2. Tentukan apakah matriks di bawah ini merupakan penyelesaian dari SPL yang
diberikan.
1 2 3 2 7
  3 1 3  X = 5
a. Y = 1 , SPL :    
1  1 2  1 0

6
  2  2 3 2   13 
b. Y =  1  , SPL :  3 1 1  X =
 
  4
 
 3   1 2  1   3

  1  2 1 2   3
c. Y =  1  , SPL :  1 1 1  X =
 
  4
 
  3  1 2  1  4 

 2 1 2   3
d. SPL :  1  1 1  X =
   4
 
 3  2  1   1 

4 7 1 
i. Y =  7  ii. Y = 11 iii. Y =  3 
 1  0    2

Penyelesaian Sistem Persamaan Linear (SPL)


Di SMU telah diajarkan metode substitusi, eliminasi, metode invers matriks, dan
metode Cramer untuk menyelesaian sistem persamaan linear, khususnya sistem persamaan
linear dengan dua atau tiga persamaan dan dua atau tiga peubah. Dalam bagian ini
diberikan metode lain, yaitu metode Gauss-Jordan. Pada metode Gauss-Jordan, alat bantu
yang digunakan adalah matriks baris eselon tereduksi dan operasi baris elementer.
Matriks Baris Eselon Tereduksi
Matriks A (sebarang) disebut matriks baris eselon tereduksi, jika memenuhi :
1. Jika ada baris yang elemennya ada yang tidak nol, maka elemen pertama yang tak nol
adalah 1 dan disebut utama 1
2. Utama 1 pada baris yang lebih bawah ada di sebelah kanan utama 1 baris sebelumnya
3. Elemen di atas dan di bawah utama 1 adalah nol
4. Jika ada baris yang semua elemennya nol, maka baris tersebut berada pada baris paling
bawah.
Contoh :
0 1 1 0 0 1
0 0 0 1 0 1 
 merupakan matriks baris eselon tereduksi, sedangkan
0 0 0 0 1 0
 
0 0 0 0 0 0

0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 
 dan  bukan matriks baris eselon tereduksi
0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
   
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

(mengapa?).

7
Suatu matriks A dapat diubah ke bentuk matriks baris eselon tereduksi dengan
menggunakan operasi baris elementer. Terdapat tiga jenis operasi baris elementer, yaitu :
1. menukarkan dua baris
2. mengalikan baris tertentu dengan konstanta tak nol
3. menambah satu baris dengan kelipatan baris yang lain
Jika matriks B diperoleh dari matriks A dengan operasi baris elementer, maka B disebut
ekivalen baris dengan A.

Penyelesaian SPL dengan Metode Gauss-Jordan


Jika SPL : AX = B akan diselesaikan dengan metode Gauss-Jordan, maka terlebih
 
dahulu dibuat matriks A B kemudian dengan serangkaian operasi baris elementer

 
elementer dibuat matriks yang ekivalen dengan matriks A B dengan matriks di sebelah
kiri tanda partisi memuat matriks identitas dengan orde terbesar.

Contoh
Tentukan penyelesaian SPL di bawah ini :
a. x + 2y – z = 2, 2x – 3y + z = -1, dan –x + 5y + z = 12
b. x + y – 3z = 1 dan x – y – 2z = -1.
c. x – y = 4, x + y = 2, 2x – y = 7, dan 2x – 3y = 9
Penyelesaian :
a. SPL : x + 2y – z = 2, 2x – 3y + z = -1, dan –x + 5y + z = 12 dapat dituliskan sebagai :
AX = B, dengan
1 2  1 x  2
A=  2  3 1  , X =  y  , dan B =
   - 1 .
 
 1 5 1   z  12

1 2 1 2  b2  2 b1 1
b3  b1
2 1 2 
b2  b3
1 2  1 2 
A  B =  2  3 1  1
  0  7 3  5  0 0 3 9 
 
 1 5 1 12  0 7 0 14  0 7 0 14
b2 / 3b3 / 7 12  1 2 1 2 0 5  b  2b 1 0 0 1 
b2 / 3b3 / 7 b b
 0 1 0 2 1 3 0 1 0 2  1  2 0 1 0 2 .
     
0 0 1 3 0 0 1 3  0 0 1 3

Dari hasil operasi di atas diperoleh x = 1, y = 2 dan z = 3.

b. SPL : x + y – 3z = 1 dan x – y – 2z = -1 dapat dituliskan sebagai AX = B, dengan


x 
1 1  3  y  , dan B = 1 
A=  ,X=   - 1 .
1  1  2  z   

1  3 1  b2 b1 1 1  3 1  2b1 b2 2 0  5 0 


A B = 11  1  2  1
    0  2 1  2 
 0  2 1  2  

8
b1 / 2
 b2 / 2
1 0  5 / 2 0
  .
0 1  1 / 2 1
Dari hasil operasi di atas diperoleh :
5 5
x– z = 0 atau x = z dan y – ½ z = 1 atau y = ½ z + 1.
2 2
5
Oleh karena itu penyelesaian SPL di atas adalah z = t, x = t, dan y = ½ t + 1.
2
SPL : x – y = 4, x + y = 2, 2x – y = 7, dan 2x – 3y = 9 dapat dituliskan sebagi AX=B,
dengan
1  1  4
1 1   2
 x
A=  , X =
 y , dan B =  .
 2  1   7 
   
 2  3 9 
1  1 4 b2  b1
b3  2 b1
1  1 4  b1 b3 1 0 3 1 0 3
1 1 2  b4  2 b1 0 2  2 bb24 2b3b3 0 b2 b3
0 0  b2 b3 0
 1  1
A B =        .
2 1 7 0 1  1  0 1  1 0 0 0
       
2  3 9 0  1 1  0 0 0 0 0 0
Dari hasil operasi di atas diperoleh x = 3 dan y = -1.

1.3. Persamaan Eksponensial dan Logaritma


Bentuk umum persamaan eksponensial adalah:
ax = b dengan a > 0 dan a  1,
sedangkan bentuk umum persamaan logaritma adalah:
a
log x = b, dengan a> 0 dan a  1 dan x > 0.
Jika a = e, maka log x ditulis sebagai ln x, sedangkan jika a = 10, maka alog x ditulis
e

sebagai log x.
Sifat-sifat persamaan eksponensial dan logaritma adalah sebagai berikut:

Persamaan eksponensial: Persamaan logaritma:


1. ax ay = ax + y 1. alog xy = alog x + alog y
ax an m a
2. y
= ax – y 2. log x m  log x
a n
x
3. (ax)y = axy 3. a log  a log x  a log y
y
x
ax a
4. x
  4. alog x xlog y = alog y
b b
x b
y log x
5. ax  a y 5. a log x  b
log a

9
Contoh:
Tentukan nilai x yang memenuhi persamaan:
1. 2 x+2 = 8
2. 2log x = 8
Penyelesaian:
1. Karena 2x+2 = 8 = 23, maka x + 2 = 3, sehingga x = 1
2. Karena 2log x = 8 = 2log 28, maka x = 28 = 256.

Soal Latihan
Dengan menggunakan metode Gauss-Jordan, tentukan penyelesaian dari SPL di bawah ini.
1. 2x – y + 3z = 13, x + y + 2z = 5, dan 3x + 5y + 2z = -1
2. x – 2y + z = 7, 2x + 2y + 3z = 11, dan 4x - 2y + 9z = 37
3. 2p + q + r + s = 1, 3p - 2q + r - s = 3, p + 2q + 3r - 2s = -6, dan p + 3q + 2r + 2s = -2
4. p + q + r + s = 3, p - 2q + 3r + 5s = 14, 2p + 3q + 3r - s = 4, dan 3p - 2q + 6r - 5s = 12
5. x + 2y + z = 6, dan -2x + y - 3z = -2
6. p + q + r - s = 1, 2p - q + 2r + s = 2, dan 3p + q + 2r + 4s = 3
7. 2x – 3y + z = 12, 4x + 2y + 3z = 21, 3x – 2y + z = 13, dan x - y + 2z = 12
8. p + q + r + s = 5, p - q - r + s = 5, p - q + r - s = 3, p + q - r - s = -5, dan
p - q - r - s = -1
9. Seorang mahasiswa mempunyai 100 ml larutan alkohol berkadar 60% dan 200 ml
alkohol berkadar 20%. Dari kedua larutan alkohol tersebut ditambahkan larutan
alkohol berapa liter dan berkadar berapa agar memperoleh 400 ml alkohol berkadar
30%, 20%, dan 10%.
10. Seorang mahasiswa mempunyai 80 ml larutan alkohol berkadar 40% dan 60 ml
alkohol berkadar 20%. Tentukan komposisi campuran kedua larutan alkohol tersebut
agar diperoleh 100 ml alkohol berkadar 25%.
11. Diketahui sebuah perusahan memproduksi tiga jenis obat, misalkan obat I, II, dan III.
Untuk memproduksi obat-obat tersebut digunakan bahan baku A, B, dan C. Untuk
memproduksi obat I dibutuhkan 3 unit bahan baku A, 2 unit bahan baku B, dan 1 unit
bahan baku C. Untuk memproduksi obat II dibutuhkan 5 unit bahan baku A, 1 unit
bahan baku B, dan 3 unit bahan baku C. Untuk memproduksi obat III dibutuhkan 2 unit
bahan baku A, 3 unit bahan baku B, dan 5 unit bahan baku C. Jika suatu hari
perusahaan tersebut menghabiskan bahan baku A, B, dan C berturut-turut adalah 16000
unit, 8500 unit, dan 14500 unit, maka buatlah sistem persamaan linear yang
berhubungan dengan permasalahan di atas dan carilah banyaknya obat yang dapat
diproduksi pada hari tersebut.
12. Untuk menghindari resiko tabungan, Andi mendepositokan uangnya sejumlah
Rp35.000.000,- sebagian di bank A, sebagian di bank B, dan sebagian di bank C,
dengan bunga bank A, B, dan C berturut-turut sebesar 16%, 17% dan 18% per tahun.

10
Diketahui bahwa Andi setiap tahunnya menerima bunga deposito dari ketiga bank di
atas sebesar Rp5.960.000,-dan dua kali besar tabungan Andi di bank C, Rp4.000.000,-
lebih banyak dibandingkan dengan jumlah tabungan Andi di bank A dan B. Carilah
besar tabungan Ali pada masing-masing bank.
13. Perusahaan Bintang Merah barang A dan B menggunakan 3 jenis faktor produksi, yaitu
bahan baku, modal, dan tenaga kerja. Untuk setiap unit barang A digunakan 200 unit
bahan baku dan 500 unit modal, sedangkan untuk setiap unit barang B digunakan 100
unit bahan baku dan 300 unit modal. Faktor tenaga kerja yang diperlukan untuk
memproduksi barang A dan B berturut-turut adalah 400 unit dan 300 unit. Jika biaya
produksi untuk setiap unit barang A dan B berturut-turut adalah Rp19.000,- dan
Rp12.000,-, maka tentukan harga yang mungkin untuk masing-masing faktor produksi.
14. Seorang ahli diet menyiapkan bahan yang terdiri atas 3 jenis makanan A, B, dan C.
Setiap ons makanan jenis A mengandung 2 unit protein, 3 unit lemak, dan 4 unit
karbohidrat. Setiap ons makanan jenis B mengandung 3 unit protein, 2 unit lemak, dan
1 unit karbohidrat. Setiap ons makanan jenis C mengandung 3 unit protein, 3 unit
lemak, dan 2 unit karbohidrat. Tentukan berapa ons setiap jenis makanan yang harus
digunakan, jika makanan yang akan dibuat harus mengandung 25 unit protein, 24 unit
lemak, dan 21 unit karbohidrat.
15. Sebuah perusahaaan memproduksi dua jenis belerang, yaitu yang berkualitas rendah
dan yang berkualitas tinggi. Setiap ton belerang kualitas rendah diproses selama 5
menit di tempat pencampuran dan 5 menit di tempat penyaringan, sedangkan setiap ton
belerang kualitas tinggi diproses selama 4 menit di tempat pencampuran dan 2 menit di
tempat penyaringan. Jika dalam satu periode produksi tempat pencampuran hanya
dapat digunakan selama 3 jam dan tempat penyaringan hanya dapat digunakan selama
dua jam, maka tentukan banyaknya masing-masing belerang yang dapat diproduksi
dalam satu periode.
16. Sebuah pabrik membuat tiga jenis produk kimia, yaitu jenis A, B, dan C. Setiap
produk dihasilkan melalui pemrosesan dua mesin, yaitu mesin X dan Y. Setiap ton
produk A diproses dalam mesin X selama 2 jam dan 2 jam dalam mesin Y. Setiap ton
produk B diproses dalam mesin X selama 3 jam dan 2 jam dalam mesin Y. Setiap ton
produk C diproses dalam mesin X selama 4 jam dan 3 jam dalam mesin Y. Jika mesin
X dan Y setiap minggunya masing-masing dapat digunakan selama 80 jam dan 60 jam,
maka tentukan banyaknya masing-masing jenis produk kimia yang dapat dibuat.
17. Tentukan nilai x yang memenuhi :
1
a. 2 x  6 
2 2 x 5
b. 6x = 2(72x+1)
c. log (x2 – 4x + 7) = 1
d. 8x = 2(82x+1)

11
e. e3x = 2
f. ex – 4e-x = 3
g. 2log(x+3) = 5

1.4. Pertidaksamaan
Pada dasarnya untuk menyelesaikan suatu pertidaksamaan dilakukan dengan langkah-
langkah berikut:
a. ubahlah bentuk pertidaksamaan menjadi bentuk persamaan
b. cari selesaian persamaan pada langkah a
c. cari tanda dari nilai-nilainya
d. tentukan himpunan penyelesaian berdasarkan langkah c.
Untuk pertidaksamaan eksponensial dan pertidaksamaan logaritma ada beberapa hal
yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Untuk a > 1 berlaku:
jika alog x < alog y, maka x < y
jika a x < a y, maka x < y
2. Untuk 0 < a < 1 berlaku:
jika alog x < alog y, maka x > y
jika a x < ay, maka x > y

Contoh:
Carilah selesaian pertidaksamaan:
1. x2 – 3x – 4  0
2. 2 x > 8
3. (½)x > 4
4. ½log(2x2) > –1

Penyelesaian:
1. x2 – 3x – 4  0
x2 – 3x – 4 = 0
(x + 1)(x – 4) = 0
x = –1 atau x = 4
+++++++++ --------- ++++++++++

–1 4
Selesaiannya adalah –1  x  4
2. Karena 2x > 8 = 23 dan a = 2 > 1, maka x > 3
Jadi selesaiannya adalah x > 3
3. Karena (½)x > 4 = (½)-2 dan a = ½ < 1, maka x < -2

12
Jadi selesaiannya adalah x < -2
½
4. log (2x2) > –1.
Syarat : 2x2 > 0, sehingga x  0.
Karena ½log (2x2) > –1 = ½log (½)-1 dan a = ½ < 1, maka 2x2 < (½)-1 = 2 atau x2 – 1 <
0 atau –1<x<1. Karena x  0, maka selesaiannya adalah –1 < x < 0 atau 0 < x < 1.

Soal Latihan
Tentukan nilai x yang memenuhi :
1 x 3  27
1. 2 x  6  9. 0
2 2 x 5 x2  9
2. 6 x > 2(7 2x+1) 10. ( 1  2 log x ) log x  1

3. ( ½)x  2(½)2x+1 11. 4 x 3  4 8 x 5


½
4. log (x2 – 4x + 7)  1 12. 5 x 1  51 x  11
5. 35 x 1  27 x 3 13. 2 5 x  2 x  1  0
1 1
6. 9 3 x  2  2 x 5
14. ( ) x 1  3 2 3 x _ 1
81 4
x x 1 x  2
7. log( 3x  1 )  2 15.   2
x 1 1 x
2 2
8. 5 x 1  51 x  11 16. 1000 x 3 x  4
 10 x  2 x 3

13