Anda di halaman 1dari 5

Nama : Fatimah

NIM : P07131218055

Prodi : D-IV GIZI

“Pola Hidangan Makan sebagai Produk Budaya”

Budaya merupakan hasil pengungkapan diri manusia ke dalam materi sejauh


diterima dan dimiliki oleh suatu masyarakat dan menjadi warisannya (Veeger, 1992).
Berbicara tentang konsep makanan, maka makanan dapat berasal dari laut, tanaman yang
tumbuh di pertanian, yang dijual di pasar tradisional maupun supermarket. Makanan
tidaklah semata-mata sebagai produk organik hidup dengan kualitas biokimia, tetapi
makanan dapat dilihat sebagai gejala budaya.

Gejala budaya terhadap makanan dibentuk karena berbagai pandangan hidup


masyarakatnya. Suatu kelompok masyarakat melalui pemuka ataupun mitos-mitos (yang
beredar di masyarakat) akan mengijinkan warganya memakan makanan yang boleh
disantap dan makanan yang tidak boleh disantap. “Ijin” tersebut menjadi semacam
pengesahan atau legitimasi yang muncul dalam berbagai peraturan yang sifatnya
normatif. Masyarakat akan patuh terhadap hal itu.

Munculnya pandangan tentang makanan yang boleh dan tidak boleh disantap
menimbulkan kategori “bukan makanan” bagi makanan yang tidak boleh disantap. Hal itu
juga memunculkan pandangan yang membedakan antara nutrimen (nutriment) dengan
makanan (food). Nutrimen adalah konsep biokimia yaitu zat yang mampu untuk
memelihara dan menjaga kesehatan organisme yang memakannya. Sedang makanan
(food) adalah konsep budaya, suatu pernyataan yang berada pada masyarakat tentang
makanan yang dianggap boleh dimakan dan yang dianggap tidak boleh dimakan dan itu
bukan sebagai makanan (Foster & Anderson, 1986).

Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya yang terbentang


dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang etnis, suku dan tata kehidupan sosial
yang berbeda satu dengan yang lain. Hal ini telah memberikan suatu formulasi struktur
sosial masyarakat yang turut mempengaruhi menu makanan maupun pola makan. Banyak
sekali penemuan para ahli sosialog dan ahli gizi menyatakan bahwa faktor budaya sangat
berperan terhadap proses terjadinya kebiasaan makan dan bentuk makanan itu sendiri,
sehingga tidak jarang menimbulkan berbagai masalah gizi apabila faktor makanan itu
tidak diperhatikan secara baik oleh kita yang mengkonsumsinya.
Kecendrungan yang muncul dari suatu budaya terhadap makanan sangat
tergantung dari potensi alamnya atau faktor pertanian yang dominan. Sebagai contoh :
bahwa orang Jawa makanan pokoknya akan berbeda dengan orang Timor atau pendek
kata bahwa setiap suku-etnis yang ada pasti mempunyai makanan pokoknya tersediri.
Keragaman dan keunikan budaya yang dimiliki oleh suatu entitas masyarakat tertentu
merupakan wujud dari gagasan, rasa, tindakan dan karya sangat menjiwai aktivitas
keseharian baik itu dalam tatanan sosial, teknis maupun ekonomi telah turut membentuk
karakter fisik makanan (menu,pola dan bahan dasar).

Pengaruh budaya terhadap pangan atau makanan sangat tergantung kepada sistim
sosial kemasyarakatan dan merupakan hak asasi yang paling dasar, maka
pangan/makanan harus berada di dalam kendali kebudayaan itu sendiri.

Beberapa pengaruh budaya terhadap pangan/makanan adalah :

a. Adanya bermacam jenis menu makanan dari setiap komunitas – etnis masyarakat
dalam mengolah suatu jenis hidangan makanan karena perbedaan bahan
dasar/adonan dalam proses pembuatan; contoh : orang Jawa ada jenis menu
makanan berasal dari kedele, orang Timor jenis menu makanan lebih banyak
berasal dari jagung dan orang Ambon jenis menu makanan berasal dari sagu.
b. Adanya perbedaan pola makan/konsumsi/makanan pokok dari setiap suku-etnis ;
Contoh : orang Timor pola makan lebih kepada jagung, orang Jawa pola makan
lebih kepada beras.
c. Adanya perbedaan cita - rasa, aroma, warna dan bentuk fisik makanan dari setiap
suku-etnis; Contoh : makanan orang Padang cita - rasanya pedis, orang Jawa
makananya manis dan orang Timor makanannya selalu yang asin.
d. Adanya bermacam jenis nama dari makanan tersebut atau makanan khas berbeda
untuk setiap daerah; Contoh : Soto Makasar berasal dari daerah Makasar-
Sulawesi Selatan, Jagung ”Bose” dari daerah Timor-Nusa Tenggara Timur.
A. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan

Pola makanyang terbentuk gambaran sama dengan kebiasaan makan seseorang.


Secara umum faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola makan adalah faktor
ekonomi, sosial budaya, agama, pendidikan, dan lingkungan (Sulistyoningsih, 2011).

a. Faktor ekonomi
Variabel ekonomi mencukup dalam peningkatan peluang untuk daya beli pangan
dengan kuantitas dan kualitas dalam pendapatan menurunan daya beli pangan secara
kualitas maupun kuantitas masyarakat.

Pendapatan yang tinggidapat mencakup kurangnya daya beli denganh kurangnya


pola makan masysrakat sehingga pemilihan suatu bahan makanan lebih di dasarkan dalam
pertimbangan selera dibandingkan aspek gizi. Kecenderungan untuk mengkonsumsi
makanan impor.(Sulistyoningsih, 2011).

b. Faktor Sosial Budaya

Pantangan dalam mengkonsumsi jenis makanan dapat dipengaruhi oleh faktor


budaya sosial dalam kepercayaan budaya adat daerah yang menjadi kebiasaan atau adat.
Kebudayaan di suatu masyarakat memiliki cara mengkonsumsi pola makan dengan cara
sendiri.

Dalam budaya mempunyai suatu cara bentuk macam pola makan


seperti:dimakan, bagaimana pengolahanya, persiapan dan penyajian, (Sulistyoningsih,
2011).

c. Agama

Dalam agama pola makan ialah suatu cara makan dengan diawali berdoa sebelum makan
dengan diawali makan mengunakantangan kanan (Depkes RI, 2008).

d. Pendidikan

Dalam pendidikan pola makan iala salah satu pengetahuan, yang dipelajari
dengan berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan dan penentuan kebutuhan gizi
(Sulistyoningsih, 2011).

e. Lingkungan

Dalam lingkungan pola makan ialah berpengaruh terhadap pembentuk perilaku


makan berupa lingkungan keluarga melalui adanya promosi, media elektroni, dan media
cetak. (Sulistyoningsih, 2011).

f. Kebiasaan makan
Kebiasaan makan ialah suatu cara seseorang yang mempunyai keterbiasaan
makan dalam jumlah tiga kali makandengan frekuensi dan jenis makanan yang dimakan.
(Depkes,2009).

Menurut Willy (2011) mengatakan bahwa suatu penduduk mempunyai kebiasaan


makan dalam tiga kali sehari adalah kebiasaan makan dalam setiap waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Foster & Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan. Jakarta : UI-Press

Sulistyoningsih. 2011. Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta : Graha Ilmu