Anda di halaman 1dari 6

A.

Latar Belakang Masalah

Tennis Elbow adalah suatu istilah yang ditujukan pada pemain tennis yang
mengalami cedera berupa rasa sakit di daerah lateral elbow setelah bermain
tennis. Sebenarnya Tennis Elbow identik dengan epycondylus lateralis yakni rasa
nyeri tersebut timbul karena partial rupture atau micro rupture yang bersifat akut
atau kronik dari otot ekstensor carpi radialais brevis aklibat trauma atau berbagai
pekerjaan atau kegiatan yang melibatkan tangan atau pergelangan tangan secara
berlebihan (Flatt,2008).

Tennis Elbow adalah suatu kasus yang terjadi dengan gejala nyeri dan
sakit pada daerah epycondylus lateralis yag biasanya terjadi karena aktifitas yang
terus menerus atau over use. Tennis elbow terdiri dari 4 tipe yaitu tipe I cedra
pada otot ekstensorcarpiradialis longus (1%), tipe II cedra pada otot ekstensor
carpiradialis brevis tenno periosteal (90%), tipe III cedra pada otot ekstensor
carpiradialis brevis tenno muskular junctian (1%), tipe IV cedera pada otot
ekstensor carpiradialis brevis muscle belly (8%). Dari keempat tipe tersebut
tennis elbow tipe II merupakan tipe yang paling umum di temukan dengan
jumlah temuan 90% ( Fedorcyzk ,2006). Diperkirakan Tennis Elbow 5% disandang
oleh pemain tennis, sedangkan 95% lainnya diderita oleh berbagai profesi seperti
ibu rumah tangga, teknisi, montir, tukang emas dan lain lain (Michael,2008).

Faktor penyebab Tennis Elbow ada bermacam-macam yang diantaranya


adanya pembenanan secara tiba-tiba serta terlalu berat pada otot dan tendon
ekstensor. Predisposisi adanya sistem sirkulasi otot dan sendi pada saat itu atau otot
belum siap dan adanya kondisi umum yang menurun serta kondisi secara lokal
lemah, latihan yang tidak teratur dan tidak cukup(Strwart 2006).

Adapun gejala-gejala yang timbul pada Tennis Elbow adalah pada kondisi
akut akan terjadi nyeri yang sangat pada otot dan tendon sehingga timbul
gangguan fungsi pada siku dan ada bengkak pada area cidera. Pada keadaan
yang disebabkan penguluran yang berlebihan dari tendon tetapi tidak ada ruptur
dengan tahanan secara isometrik akan terasa nyeri tetapi tidak ada penurunan
kekuatan otot (Strwart,2006).

Pada penanganan Tennis Elbow harus ditanggulangi seoptimal mungkin,


dengan lebih dulu mengetahui atau memahami keluhan-keluhan yang
ditimbulkan. Tennis Elbow dapat menimbulkan gangguan fisik seperti nyeri,
kelemahan dan disabilitas(Flatt, 2008).

Fisioterapi dapat menanggulangi kasus tersebut dengan memberikan terapi


dengan menggunakan Inframerah, Ultrasound dan Terapi latihan.Inframerah
memiliki efek-efek fisiologis antara lain meningkatkan proses metabolisme,
meningkatkan suplai darah,mengurangi atau menghilangkan nyeri, menghilangkan
sisa-sisa hasil metabolisme Ultrasound memiliki efek biologis yaitu memperbaiki
sirkulasi darah, rileksasi otot, meningkatkan permeabilitas jaringan dan
mengurangi nyeri. Dan Terapi Latihan dapat menambah lingkup gerak sendi,
meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan aktifitas fungsional, efek dari
terapi latihan yaitu memperlancar sirkulasi darah, memelihara kekuatan otot dan
meningkatkan aktifitas fungsional.
A. Pergertian Tennis Elbow
Tennis elbow merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada gejala nyeri
dan sakit pada posisi luar siku, tepatnya pada epikondilus lateralis humeri (lihat
gambar 3). Biasanya terjadi karena pukulan top spin back hand yang berlangsung
terus-menerus (jadi bersifat overuse). Pada dasarnya, tennis elbow merupakan cedera
yang bersifat overuse disebabkan karena kontraksi otot yang berhubungan dengan
sendi siku dan terjadi berulang-ulang. Saat digunakan untuk memukul bola. Stress
pada siku ini tidak boleh diacuhkan begitu saja, karena beberapa gaya yang bekerja
ketika bola berbenturan dengan raket secara otomatis akan mengenai pergelangan
tangan dan siku. Jika benturan ini berlangsung terus menerus, dapat mengakibatkan
terjadinya tennis elbow (Core, 2006:1).

B. Epidemiologi
Insiden kelainan ini pada populasi umum antara 1-3%. Epikondilitis lateral
lebih sering terjadi pada usia lebih dari 35 tahun, paling banyak ditemukan pada usia
40-50 tahun. Meskipun disebut tennis elbow, 95% kasus dilaporkan terjadi pada
bukan pemain tenis.Kelainan ini lebih sering pada pekerjaan yang membutuhkan
aktivitas repetitif ekstremitas atas seperti penggunaan komputer; meng- angkat barang
berat; pronasi dan supinasi lengan yang kurang tepat; dan vibrasi ber- ulang.Pada
atlet, kelainan ini kebanyakan dihubungkan dengan olahraga yang menggunakan
raket, namun dapat terjadi pada pemain golf, baseball, dan perenang.Pada tenis,
insiden sebesar 30-40%, lebih sering pada pemain tenis laki-laki, walaupun pada
populasi umum dilaporkan tidak ada perbedaan insiden laki-laki dan perempuan.

C. Etiologi
Tennis elbow merupakan penyebab keluhan nyeri di siku yang sangat umum
ditemukan. Umur rata-rata penderita antara 36-65 tahun, dan risiko kejadian antara
laki-laki dan wanita hampir sama. Sekitar 75% terjadi pada lengan yang dominan
(lengan yang aktif digunakan untuk aktifirtas). Semua orang dapat menderita Tennis
Elbow, namun pada atlet yang menggunakan alat (raket, golf, anggar, dll) mempunyai
risiko yang lebih besar. Epikondilitis lateral sering terjadi pada pemain tennis,
sehingga seringkali disebut juga sebagai tennis elbow, terutama pada pemain tenis
yang menggunakan pukulan backhand dengan teknik yang salah. Kurang lebih 1/3
pemain tenis pernah mengalami Tennis Elbow di sepanjang karier mereka.

D. Patofisiologi
Selain akibat cedera stres repetitif, tennis elbow juga dapat terjadi karena
trauma langsung. Kondisi ini sering ditemukan pada para pemain tenis, terutama pada
mereka yang tidak profesional, dan belum memiliki teknik bermain tenis yang baik.
Epikondilitis lateral terjadi karena kontraksi repetitif pada otot-otot extensor
lengan bawah, terutama pada origo Epicondylus Carpi Radial Brevis, yang
mengakibatkan robekan mikro lalu degenerasi tendon, perbaikan yang imatur, hingga
menimbulkan tendinosis.
E. Penatalaksanaan Fisioterapi
a. UltraSound
Pasien diposisikan senyaman mungkin, rileks, dan tanpa adanya rasa sakit
yaitu posisi dengan duduk kemudian tangan supinasi disuport oleh bantal. Dan tangan
yang akan diterapi harus terbebas dari pakaian dan segala asesoris. Intensitas 1,5
2
watt/cm , lamanya terapi 5 menit. Frekuensi yang digunakan yaitu 3 MHz dengan
arus continue. Alat diatur sedemikian rupa sehingga tangkai mesin dapat menjangkau
tangan yang akan diterapi.kemudian area yang akan diterapi diberikan coupling
medium kemudian tranduser ditrempelkan lalu mesin dihidupkan lalu tranduser
digerakan circumduksi ( memutar ) pelan-pelan dan irama yang teratur di epicondylus
lateral hingga 2 cm ke arah tendon ekstensor carpi radialis dengan arah tegak lurus
dengan area terapi.

b. Massage
Posisi pasien tidur terlentang atau duduk dengan keadaan rileks, bebaskan
lengan dari pakaian dan accesoris, agar tidak mengganggu proses terapi. Terapis
mulai melakukan friction, tidak menggunakan baby oil karna akan licin. Terapis
melakukan dengan kedua jari yaitu jari telunjuk dan jari tengah, jari tengah menekan
jari telunjuk agar tekanan lebih dalam. Gerakan menyilang pada tendo periosteal otot
ekstensor carpi radialis brevis tepatnya di epicondylus lateral humeri. Dosis itensitas:
tekanan yang dalam (deep pressure) 20 kali friction dalam 2 kali repetisi dan durasi
selama 7 menit.

Anda mungkin juga menyukai