Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sumber ajaran Islam adalah segala sesuatu yang melahirkan atau
menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat yang
apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata (Sudarsono,
1992:1). Dengan demikian sumber ajaran islam ialah segala sesuatu yang
dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat islam.
Ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam. Agama Islam
bersumber dari Al-Quran yang memuat wahyu Allah dan al-Hadis yang memuat
Sunnah Rasulullah. Komponen utama agama Islam atau unsur utama ajaran
agama Islam (akidah, syari’ah dan akhlak) dikembangkan dengan rakyu atau akal
pikiran manusia yang memenuhi syarat runtuk mengembangkannya.
Mempelajari agama Islam merupakan fardhu ’ain , yakni kewajiban
pribadi setiap muslim dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam terutama yang
dikembangkan oleh akal pikiran manusia, diwajibkan kepada masyarakat atau
kelompok masyarakat.
Allah telah menetapkan sumber ajaran Islam yang wajib diikuti oleh
setiap muslim. Ketetapan Allah itu terdapat dalam Surat An-Nisa (4) ayat 59 yang
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, taatilah (kehendak) Allah, taatilah
(kehendak) Rasul-Nya, dan (kehendak) ulil amri di antara kamu ...”. Menurut ayat
tersebut setiap mukmin wajib mengikuti kehendak Allah, kehendak Rasul dan
kehendak ’penguasa’ atau ulil amri (kalangan) mereka sendiri. Kehendak Allah
kini terekam dalam Al-Quran, kehendak Rasul terhimpun sekarang dalam al
Hadis, kehendak ’penguasa’ (ulil amri) termaktum dalam kitab-kitab hasil karya
orang yang memenuhi syarat karena mempunyai ”kekuasaan” berupa ilmu
pengetahuan.
Pada umumnya para ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum
islam adalah Alquran dan hadist. Dalam sabdanya Rasulullah SAW bersabda, “
Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat
selamanya, selama kalian berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan

1
sunnahku.” Dan disamping itu pula para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai
salah satu dasar hukum islam, setelah Alquran dan hadist.
Berijtihad adalah berusaha sungguh-sungguh dengan memperguna kan
seluruh kemampuan akal pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia yang
memenuhi syarat untuk mengkaji dan memahami wahyu dan sunnah serta
mengalirkan ajaran, termasuka ajaran mengenai hukum (fikih) Islam dari
keduanya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kedudukan Hadis berdasarkan Dalil al-Quran, Dalil Hadis,
dan Ijma’?
2. Bagaimana Fungsi Hadis Terhadap al-Quran?
3. Bagaimana Mengethaui Ingkar al-Sunnah?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui kedudukan hadis berdasarkan dalil al-Quran, dalil hadis, dan
ijma’.
2. Mengetahui fungsi hadis terhadap al-Quran.
3. Mengetahui ingkar al-Sunnah

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kedudukan dan Kehujjahan Hadist


Seluruh umat islam sepakat bahwa hadits merupakan salah satu sumber
ajaran agama islam. Keharusan mengikuti hadits bagi umat islam (baik berupa
perintah atau larangannya) sama halnya dengan kewajiban mengikuti Al-qur’an.
Hal ini terjadi karena hadits merupakan mubayyin ( penjelas ) terhadap Al-qur’an,
karena itu siapapun tidak akan bisa memahami Al-qur’an tanpa dengan
memahami dan menguasai hadits. Begitu pula halnya menggunakan hadits tanpa
Al-qur’an, karena Al-qur’an merupakan dasar hukum pertama yang
didalamnyaberisi garis besar syariat. Dengan demikian antara hadits dengan al-
qur’an mempunyai kaitan yang sangat erat, untuk memahami dan
mengamalkannya tidak dapat dipisahkan atau berjalan dengan sendiri-sendiri.
Untuk mengetahui sejauh mana hubungan hadits sebagai sumber ajaran islam,
dapat dilihat beberapa dalil naqli yaitu yang bersumber dari Al-qur’an dan hadits,
dan dalil aqli yang menggunakan rasional, seperti dalil berikut ini.1

2.1.1 Dalil Al-qur’an


Banyak ayat Al-qur’an yang menerangkan tentang kewajiban seseorang
untuk tetap teguh, serta beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Iman kepda rasul
merupakan satu keharusan dan sekaligus kebutuhan setiap individu. Dengan
demikian allah akan memperkokoh dan memperbaiki keadaan mereka, hal ini
sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali imran ayat 17 yang berbunyi:
‫الصابرين والصادقين والقانتين والمنفقين والمستغفرين باألسحار‬
“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan
hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.”
Dan dijelaskan dalam surat al-nisa’ ayat 136 yang berbunyi:

1
Fachturrahman, ikhtishar Mustalahul Hadits, Bandung: al-Ma’arif, 1987.

3
‫يا أيها الذين آمنوا آمنوا باهلل ورسوله والكتاب الذي نزل على رسوله والكتاب الذي أنزل من قبل‬
‫ومن يكفر باهلل ومالئكته وكتبه ورسله واليوم اآلخر فقد ضل ضالال بعيدا‬
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah
turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-
Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”
Selain allah memerintahkan umat islam agar percaya kepada Rasul Saw,
juga menyerukan agar mentaati segala bentuk perundang-undangan dan peraturan
yang dibawahnya, baik berupa perintah ataupun larangan. Tuntutan taat dan patuh
kepada Rasul saw ini sama halnya tuntutan taat dan patuh kepada allah swt.
Banyak al-qur’an yang menerangkan hal tersebut. Seperti firman allah dalam surat
ali imron ayat 32 sebagai berikut :
‫قل أطيعوا هللا والرسول فإن تولوا فإن هللا ال يحب الكافرين‬
Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".
Dalam surat al-Hasyr ayat 7 Allah juga berfirman:
‫ما أفاء هللا على رسوله من أهل القرى فلله وللرسول ولذي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل‬
‫كي ال يكون دولة بين األغنياء منكم وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا هللا إن هللا‬
‫شديد العقاب‬
“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang
berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul,
anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan,
supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara
kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
Dari beberapa ayat Al-qur’an diatas dapat ditarik suatu pemahaman,
bahwa ketaatan kepada Rasul Saw adalah mutlak, sebagaimana ketaatan kepada
Allah. Begitu pula halnya dengan ancaman atau peringatan bagi yang durhaka.
Ancaman Allah Swt sering disejajarkan dengan ancaman karena durhaka kepada
rasul-Nya. Selain itu terdapat banyak ayat yang memerintahkan mentaati Rasul-

4
Nya secara khusus dan terpisah. Karena pada dasarnya ketaatan kepada Rasulnya
sama halnya taat kepada Allah swt. Pada surat al-nisa ayat 80 disebutkan bahwa
manifestasi dari ketaatan kepada Allah adalah dengan mentaati Rasul-Nya, seperti
firman-Nya:

‫من يطع الرسول فقد أطاع هللا ومن تولى فما أرسلناك عليهم حفيظا‬
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan
barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu
untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.

Ungkapan pada ayat diatas menunjukkan betapa pentingnya kedudukan


hadits sebagai sumber ajaran islam yang dimanifestasikan dalam bentuk aqwal
atau ucapan, af’al atau prilaku, dan taqrir Rasul saw.

2.2.2 Dalil hadits Rasul SAW


Selain berdasarkan ayat-ayat diatas , kedudukan Hadits juga dapat dilihat
dari Hadits-hadits rasul sendiri. Banyak hadits yang menggambarkan hal ini dan
menunjukkan perlunya ketaatan kepada perintahnya. Dalam salah satu pesannya
berkenaan dengan menjadikan hadits sebagai pedoman hidup disamping al-
qur’an. Rasul bersabda:

ُ ‫سنَّـةَ َر‬
.‫س ْولـــِ ِه‬ َ َ‫ ِكـت‬:‫ـه َما‬
ُ ‫اب هللاِ َو‬ ِ ِ‫سكْـت ُ ْم ب‬ َ َ ‫ ت‬:َ‫س ْو َل هللاِ ص قَال‬
َّ ‫ـركْتُ فِـ ْي ُك ْم اَمـْ َريـْ ِن لَ ْن ت َ ِضلُّ ْـوا َما تَـ َم‬ ُ ‫ا َنَّ َر‬
‫مالك‬

“Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan


pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu
berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”.
[HR. Malik]

5
Dalam salah satu Taqrir Rasul juga memberikan petunjuk kepada umat
islam, bahwa dalam menghadapi berbagai persoalan hukum dan kemasyarakatan,
kedua sumber ajaran yakni al-Qur’an dan hadits merupakan sumber asasi.2

2.2.3 Kesepakatan ulama ( ijma’)


Umat islam kecuali mereka para peyimpang dan pembuat kebohongan,
telah sepakat menjadikan hadits sebagai salah satu dasar hukum dalam beramal.
Penerimaan terhadap hadits sama halnya dengan Al-qur’an karena keduanya
sama-sama dijadikan sebagai sumber hukum islam. Kesepakatan umat dalam
mempercayai, menerima, dan mengamalkan segala peraturan yang ada di hadits
berlaku sepanjang masa. Banyak diantara mereka yang tidak hanya memahami
dan mengamalkan isi kandungannya, akan tetapi mereka menghafal, mentadwin,
dan meyebarluaskan dengan segala upaya kepada generasi selanjutnya. Diantara
para sahabat misalnya, banyak peristiwa yang menggunakan hadits senagai
hukum islam, antara lain perhadikan beberapa kejadian dibawah ini.3

Pertama, ketika Abu bakar dibaiat menjadi seorang khalifah, ia berkata,


“Saya tidak meninggalkan sedikitpun sesuatu yang telah diamalkan oleh
rasulullah, sesungguhnya saya takut tersesat apabila meninggalkan perintahnya.”
Kedua, ketika umar berada didepan hajar aswad, ia berkata, “ saya tahu bahwa
anda adalah batu, seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu, saya
tidak akan menciummu. Ketiga, pernah ditanyakan kepada Abdullah ibn Umar
tentang ketentuan shalat safar dalam al-Qur’an . Ibn Umar menjawab, “ Allah
telah mengutus nabi Muhammad saw kepada kita, dan kita tidak mengetahui
sesuatu. Maka sesungguhnya kami berbuat sebagaimana Rasulullah saw berbuat.
Keempat, dinarasikan Said ibn al-Musayyab bahwa Utsman ibn Affan berkata, “
Saya duduk sebagaimana duduknya Rasulullah, saya makan sebagaimana
makannya rasulullah, dan saya shalat sebagaimana shalatnya Rasulullah saw”.4

2
Ibid
3
Zainuddin.2011
4
Ibid

6
Sikap para sahabat tersebut kemudian diwariskan ke generasi selanjutnya
secara bersikenambungan. Berkaitan dengan ini para tabi’in menyampaikan pesan
dan saran-sarannya kepada umat dan murid yang dibinanya, seperti berikut ini.5
1. al-A’masy berkata, “Kalian harus mengikuti al sunnah dan
mengajarkannya kepada anak-anak.
2. Kedua, Waki’ berkata, “ Kalian harus mengikuti para imam mujtahid dan
ulama muhaddits, karena mereka yang menulis apa yang dimilikinya dan
apa yang seharusnya mereka kerjakan, berbeda halnya dengan ahli al-
ahwa’ dan ahli ra’yi.
3. Ketiga, mujtahid berkata terhadap muridnya, “ kalian jangan menuliskan
kata-kataku, akan tetapi tulislah hadits Rasulullah saw. Keempat, Abu
Hanifah berkata,” jauhilah pendapat tentang agama Allah swt. Kalian
harus berpegang pada al-sunnah, barangsiapa menyimpang darinya
niscaya dia tersesat.

Apa yang sudah kami kemukakan diatas hanyalah contoh sebagian kecil
pandangan atau sikap ulama tentang hadits, yang menggambarkan betapa
perhatian dan pandangannya sangat tinggi terhadap hadits sebagai sumber ajaran
agama islam selain kitab suci al-Qur’an.

2.2.4 Sesuai dengan petunjuk akal


Kerasulan nabi Muhammad Saw telah diakui dan dibenarkan oleh umat
islam. Dengan demikian manifestasi dan pengakuan serta keimanan itu
mengharuskan semua umatnya mentaati dan mengamalkan segala peraturan
beliau, baik yang beliau ciptakan atas bimbingan wahyu maupun hasil ijtihadnya
sendiri. Nabi dalam mengemban misinya itu terkadang hanya menyampaikan apa
yang diterima dari Allah swt. Menurut petunjuk akal Nabi Muhammad adalah
Rasul Tuhan yang telah diakui dan dibenarkan umat islam. Dalam menyampaikan
tugas agama Nabi menyampaikan peraturan yang isi dan redaksinya dari Allah
swt, tapi terkadang beliau juga menggunakan hasil ijtihadnya sendiri. Hasil ijtihad
ini berlaku sampai ada nas yang menasakhnya. Oleh karena itu hasil ijtihad beliau

5
Abn. Al-Wahab Khallaf, Ilm Ushul al-Fiqh (Kuwait: Dar al-Qalam, 1978)

7
bisa ditempatkan sebagai sumber hukum. Itu sebabnya dalam kasus tertentu Allah
memerintahkan kita untuk mengikuti ulilamri. Sekiranya ulil amri mendapatkan
legitimasi untuk diikuti, dan fungsi hadist berikut nanti dapat mempertajam
hujjiyah hadits sebagai sumber hukum islam.6
Dapat disimpulkan bahwa hadits merupakan bagian wahyu, oleh karena itu
dapat dijadikan sumber hukum islam. Kalangan ulama berdebat tentang apakah
cara merujuk kepada Al-qur’an dan hadits dilakukan secara berperingkat, yaitu
mencari argumentasi dari Al-qur’an terlebih dahulu kemudian, sehingga apabila
dirasa sudah cukup maka tidak perlu lagi dicari dalam hadits. Madzhab yang
kedua adalah dengan cara merujuk kepada Al-qur’an dan hadits secara bersamaan,
yakni menjadikan kehujjahan hadits identik dengan kehujjahan Al-qur’an,
sehingga Al-qur’an dan hadits harus difahami secara komprehensif.7

6
Fachturrahman, ikhtishar Mustalahul Hadits, Bandung: al-Ma’arif, 1987
7
Ibid.

8
2.1 Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an
Al qur’an dan hadits sebagai sumber hukum dan ajaran dalam islam
tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Al qur’an sebagai
sumber hukum yang utama dan hanya memuat dasar-dasar yang bersifat
umum bagi syari’at islam, tanpa perincian secara detail, kecuali yang sesuai
dengan pokok-pokok yang bersifat umum itu, yang tidak pernah berubah
karena adanya perubahan zaman dan tidak pula berkembang karena
keragaman pengetahuan dan lingkungan. Al qur’an akan tetap kekal dan
kebatilan tidak akan pernah masuk didalamnya. Ia akan tetap menjadi
penuntun bagi kebaikan masyarakat, meski bagaimanapun keadaan ligkungan
dan tradisinya. Di sisi lain, di dalamnya kita juga dapat menemukan ajaran-
ajaran baik yang terkait dengan akidah, ibadah, syari’at, adab, sejarah umat
terdahulu, etika umum dan akhlak.
Karena keadaan Al qur’an yang demikian itu, maka hadits sebagai
sumber hukum yang kedua setelah Al qur’an, tampil sebagai penjelas (bayan)
terhadap ayat-ayat Al qur’an yang bersifat global, menafsirkan yang masih
mubham, menjelaskan yang masih mujmal, membatasi yang masih mutlak
(muqayyad), menghususkan yang umum (‘amm), dan menjelaskan hukum-
hukum serta tujuan-tujuannya, demikian juga membawa hukum-hukum yang
secara eksplisit tidak dijelaskan oleh Al qur’an. Hal ini sejalan denga firman
Allah :8

ِ ‫َوأ َ ْن َز ْلنَا ِإ َل ْيكَ ال ِذك َْر ِلت ُ َب ِينَ ِلل َّن‬


َ‫اس َمانُّ َز َل ِإلَي ِْه ْم َولَ َع َّل ُه ْم َيتَفَك َُّر ْون‬
“……. Dan Kami turunkan kepadamu Al qur’an agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka berpikir.” (Q.S. al Nahl/16:44).
2.2.1 Bayan al-Taqrir
Bayan al-taqrir disebut juga bayan al-ta’kid dan bayan al-itsbat.
Maksud bayan ini yaitu menetapkan dan memperkuat apa yang telah
diterangkan didalam Al-qur’an. Fungsi hadits dalam hal ini hanya untuk

8
Mohammad Gufran dan rahmawati, Ulumul Hadits: Praktis dan Mudah (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2013), hal.13

9
memperkokoh isi kandungan al-Qur’an. Seperti contoh keharusan
berwudhu sebelum shalat seperti yang diterangkan oleh surat al-Maidah
ayat 6 yang berbunyi:9

ِ ‫سلُواْ ُو ُجو َه ُك ْم َوأ َ ْي ِديَ ُك ْم ِإلَى ا ْل َم َرا ِف‬


‫ق‬ ِ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُواْ ِإذَا قُ ْمت ُ ْم ِإلَى الصَّال ِة فا ْغ‬
‫سفَ ٍر‬ َ ‫ين َو ِإن كُنت ُ ْم ُجنُبا ً َفا َّطه َُّرواْ َو ِإن كُنت ُم َّم ْرضَى أ َ ْو‬
َ ‫علَى‬ ِ ‫س ُك ْم َوأ َ ْر ُجلَ ُك ْم ِإلَى ا ْل َك ْع َب‬
ِ ‫س ُحواْ ِب ُرؤُو‬
َ ‫ام‬
ْ ‫َو‬
ْ‫س ُحوا‬َ ‫ام‬ ْ ‫ص ِعيدا ً َطيِبا ً َف‬ َ ْ‫ساء فَلَ ْم ت َ ِجدُواْ َماء فَتَيَ َّم ُموا‬ ْ ‫أ َ ْو جَاء أ َ َح ٌد َّمنكُم ِمنَ ا ْلغَائِ ِط أ َ ْو الَ َم‬
َ ِ‫ست ُ ُم الن‬
َ ُ‫علَ ْيكُم ِم ْن ح ََرجٍ َولَـ ِكن يُ ِري ُد ِليُ َطه ََّر ُك ْم َو ِليُتِ َّم نِ ْع َمتَه‬
‫علَ ْي ُك ْم‬ َ ‫بِ ُو ُجو ِه ُك ْم َوأ َ ْيدِيكُم ِم ْنهُ َما يُ ِري ُد ّللاُ ِليَجْ عَ َل‬
ْ َ‫لَعَلَّ ُك ْم ت‬
﴾٦﴿ َ‫شك ُُرون‬
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,
maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika
kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan
atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan,
lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang
baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah
tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu
dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.
Ayat diatas di taqrir oleh hadits yang dikeluarkan al-Bukhari dan
Abu Hurairah yang berbunyi, “Rasul saw bersabda, “Tidak diterima shalat
seseorang yang berhadats sampai ia berwudhlu”. (HR. Bukhari).
2.2.2 Bayan al-tafsir
Bayan al-tafsir adalah fungsi hadits yang memberikan rincian dan
tafsiran terhadap ayat-ayat al-qur’an yang masih bersifat global (mujmal),
memberikan persyaratan atau batasan (taqyid) ayat-ayat al-qur’an yang
bersifat mutlak, dan mengkhususkan (takhshish) ayat al-qur’an yang masih
bersifat umum.10

9
al suyuthi, tadrib al rowi. op. cit., hlm 187
10
M. Alawi Al Maliki, Ilmu Ushul Hadits ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), h. 10.

10
a. Merinci ayat-ayat yang mujmal
Ayat yang mujmal artinya ayat yang ringkas atau singkat dan
mengandung banyak makna yang perlu dijelaskan. Dalam al-Qur’an
banyak sekali ayat-ayat mujmal yang memerlukan perincian. Sebagai
contoh adalah ayat-ayat tentang perintah Allah untuk mengerjakan
shalat,puasa, zakat, jual beli, nikah, qishash, dan hudud. Diantara
contoh perincian tersebut dapat dilihat pada hadits yang berbunyi,
“Shalatlah sebagaimana kalian melihat saya shalat”
Perintah mengikuti shalatnya sebagaimana dalam hadits
tersebut, Rasul kemudian memberi contoh shalat yang sempurna,
bahkan nabi melengkapi dengan kegiatan lain yang harus dilakukan
sebelum dan sesudah shalat. Dengan demikian hadits tersebut
menjelaskan tentang bagaimana seharusnya shalat itu dilakukan,
sebagai perincian dari Allah dalam surat al-Baqarah ayat 43 yang
berbunyi:
ْ ‫الزكَاةَ َو‬
َّ ‫ار َكعُواْ َم َع‬
﴾٤٣﴿ َ‫الرا ِك ِعين‬ َّ ‫َوأَقِي ُمواْ ال‬
َّ ْ‫صالَةَ َوآت ُوا‬
Artinya :
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta
orang-orang yang rukuk”.(Al-Baqarah : 43)
Oleh karena itulah, Rasulullah SAW melalui hadisnya
menafsirkan dan menjelaskan seperti disebutkan dalam hadits :
‫صلوا كما رايتمونى اصلى‬
Artinya:
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat“ ( HR
Ahmad dan Bukhari dari Malik bin Al Huwairits).
b. Mentaqyid ayat-ayat yang muthlaq
Kata muthlaq artinya kata yang menunjuk pada hakikat kata itu
sendiri apa adanya, dengan tanpa memandang kepada jumlah maupun
sifatnya. Mentaqyid yang muthlaq artinya membatasi ayat-ayat yang
mutlaq dengan sifat keadaan, atau syarat-syarat tertentu. Sedangkan
contoh hadits yang membatasi (taqyid) ayat-ayat al Qur’an yang
bersifat mutlak adalah seperti Sabda Rasullullah:

11
‫أتي رسول هللا صلى هللا عليه و سلم بسارق فقطع يده من مفصل الكف‬
Artinya:
”Rasullullah didatangi seseorang dengan membawa pencuri, maka
beliau memotong tangan pencuri dari pergelangan tangan”.Hadits ini
mentaqyid ayat al-Qur’an surat al-Maidah ayat 38 yang berbunyi:

َ ‫س ِارقَةُ َفا ْق َطعُواْ أ َ ْي ِد َي ُه َما ج ََزاء ِب َما َك‬


ٌ ‫س َبا نَكَاالً ِمنَ ّللاِ َوّللاُ ع َِز‬
﴾٣٨﴿ ‫يز َح ِكي ٌم‬ َّ ‫ق َوال‬
ُ ‫س ِار‬
َّ ‫َوال‬
Artinya :
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah
tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan
dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”.

2.2.3 Bayan al-Tasyri’


Kata al-tasyri’ artinya pembuatan mewujudkan, atau menetapkan
aturan dan hukum. Maka yang dimaksud bayan al-tasyri’ adalah
penjelasan hadits yang berupa mewujudkan, mengadakan atau menetapkan
suatu hukum, aturan-aturan syara’ yang tidak didapati nashnya dalam al-
Qur’an.11
Banyak hadits Rasul yang termasuk kedalam kelompok ini,
diantaranya yaitu hukum tentang ukuran zakat dan hukum tentang hak
waris bagi seorang anak. Bayan ini oleh sebagian ulama disebut juga
dengan bayan za’id ‘ala al-Kitab al- Karim (tambahan terhadap nash al-
Qur’an). Disebut tambahan karena sebenarnya didalam Al-Qur’an
ketentuan-ketentuan pokok sudah ada, sehingga datangnya haditshadits itu
hanya sebagai tambahanterhadap ketentuan pokok tersebut. Hal ini dapat
dilihat, misalnya mengenai hadits tentang ketentuan diyat.12
Dalam al-Qur’an masalah ini sudah ditemukan ketentuan
pokoknya, yaitu pada sura al-Nisa’ ayat 92 yang berbunyi.

11
Abbas mutawalli hammadah, op.cit., hlm 161.

12
Ibid, hlm. 162

12
ٌ‫ير َرقَبَ ٍة ُّمؤْ ِمنَ ٍة َو ِديَة‬
ُ ‫َو َما كَانَ ِل ُمؤْ ِم ٍن أَن يَ ْقت ُ َل ُمؤْ ِمنا ً إِالَّ َخ َطئا ً َو َمن قَت َ َل ُمؤْ ِمنا ً َخ َطئا ً فَتَحْ ِر‬
‫ير َرقَبَ ٍة ُّمؤْ ِمنَ ٍة َوإِن‬ ُ ‫عد ٍُو لَّ ُك ْم َوه َُو ْمؤْ ِمنٌ فَتَحْ ِر‬
َ ‫ص َّدقُواْ فَ ِإن كَانَ ِمن قَ ْو ٍم‬ َّ َ‫سلَّ َمةٌ إِلَى أ َ ْه ِل ِه إِالَّ أَن ي‬
َ ‫ُّم‬
ُ ‫سلَّ َمةٌ إِلَى أ َ ْه ِل ِه َوتَحْ ِر‬
‫ير َر َقبَ ٍة ُّمؤْ ِمنَةً فَ َمن لَّ ْم يَ ِج ْد فَ ِصيَا ُم‬ َ ‫ق فَ ِديَةٌ ُّم‬
ٌ ‫كَانَ ِمن قَ ْو ٍم بَ ْينَ ُك ْم َوبَ ْينَ ُه ْم ِميثَا‬
﴾٩٢﴿ ً ‫ع ِليما ً َح ِكيما‬ َ ُ‫شه َْري ِْن ُمتَتَا ِبعَي ِْن ت َ ْوبَةً ِمنَ ّللاِ َوكَانَ ّللا‬ َ
Artinya:
“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang
lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh
seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang
hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh)
bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia
mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya
yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada
perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si
pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si
terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa
yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa
dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan adalah Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Hadits Rasul yang termasuk bayan tasyri’ ini wajib diamalkan
seperti kewajiban mengamalkan bayan yang lainnya. Ketiga bayan telah
disepakati oleh sebagian besar ulama meskipun untuk bayan ketiga masih
dipersoalkan. Untuk bayan al-naskh terjadi perbedaan pendapat. Ada yang
mengakui bayan ini dan adapula yang menolaknya. Yang menerima antara
lain yaitu jumhur ulama mutakallim, baik Mu’tazilah, Asy’ariah,
malikiyah, hanafiyah, Ibn Hazm dan Dzahiriah, sedangkan yang menolak
antara lain al_syafi’i dan mayoritas ulama pengikutnya, serta mayoritas
ulama Dzahiriah’.
2.2.4 Bayan al-Nasakh
Kata an-nasakh dari segi bahasa memiliki bermacam-macam arti,
yaitu al-itbat (membatalkan) atau al-ijalah (menghilangkan), atau taqyir
(mengubah). Para ulama mengartikan bayan an-nasakh ini melalui

13
pendekatan bahasa, sehingga di antara mereka terjadi perbedaan pendapat
dalam mentaqrifkannya. Hal ini pun terjadi pada kalangan ulama
muta’akhirin dengan ulama mutaqaddimin. Menurut ulama
mutaqqaddimin, yang disebut bayan an-nasakh ialah adanya dalil syara’
(yang dapat menghapus ketentuan yang telah ada), karena datangnya
kemudian.1314 Dalam hal bayan nasakh ini terdapat silang pendapat
diantara para ulama. Ada yang berpendapat boleh dan ada yang
berpendapat tidak boleh. Mazhab Hanapi termasuk kelompok yang
membolehkan nasakh sunnah terhadap hukum ayat.15 Sedangkan ulama
ushul berpendapat bahwa hukum dalam al Qur’an dapat dihapus oleh
hukum dalam hadits dan sebaliknya.16 Adapun Imam syafi’i berpendapat
bahwa al Qur’an tidak dapat dihapus oleh hadits.17
Kelompok pertama, memperbolehkan menasakh Al-qur’an dengan
segala hadits, meskipun dengan hadits Ahad. Pendapat ini dikemukakan
oleh para mutaqaddimin, dan Ibn Hazm serta sebagian para pengikut
zahiriah. Kelompok kedua memperbolehkan menasakh dengan syarat
bahwa hadits tersebut harus mutawatir. Pendapat ini dikimukeken oleh
mu’tazilah. Kelompok ketiga, ulama memperbolehkan menasakh dengan
hadits masyhur, tanpa harus dengan mutawatir. Pendapat ini dikemukakan
oleh Hanafiah.
Kewajiban melakukan wasiat kepada kaum kerabat dekat seperti
yang dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 180 yang berbunyi:

‫كتب عليكم إذا حضر أحدكم الموت إن ترك خيرا الوصية للوالدين واألقربين بالمعروف حقا على‬
﴾١٨٠﴿ ‫المتقين‬
Artinya :

13
Ibnu Al Qoyyim al jauziyah, I’lam al muwaqi’in, jilid dua, (mesir : mathba’ah al sya’adah, 1955), hlm 289.
14
Ibid.
15
Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis Pengantar Studi Hadis Praktis (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 17
16
Muhaimin. dkk., Studi Islam dalam Rangka Dimensi dan Pendekatan, (Jakarta: Kencana, 2012), h.141.

14
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat
untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah)
kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”.
Ayat diatas dinasakh hukumnya oleh hadits yang menjelaskan
bahwa kepada ahli waris tidak boleh dilakukan wasiat. Secara garis besar,
fungsi utama hadits Nabi saw terhadap al-Qur’an ada tiga yaitu:18 
1. Menetapkan dan menguatkan hukum yang ada dalam al-Qur’an.
Dengan demikian sebuah hukum dapat memiliki dua sumber
hukum sekaligus, yaitu Al-qur’an dan Hadits. Misalnya kewajiban
shalat, puasa, dan zakat.
2. Memperinci dan menjelaskan hukum-hukum dalam al-Qur;an yang
masih global, membatasi yang mutlaq dan mentakhsis keumuman
ayat al-Qur’an. Sebagai contoh yaitu Al-qur’an memerintahkan
untuk menunaikan zakat, maka hadits menjelaskan berapa bagian
dari harta yang harus dikeluarkan atau dizakatkan.
3. Membuat atau menetapkan hukum yang tidak ditetapkan dalam al-
Qur’an. Misalnya larangan memakan binatang buas yang bertaring
atau yang berkuku, larangan memakai pakaian sutra, cincin, dan
emas bagi laki-laki dan lain sebagainya.
Dengan memperhatikan dalil-dalil kehujjahan hadits serta fungsi
hadits terhadap Al-qur’an, maka tidak ada alasan unutk menolak Islam.
Beberapa dalil diatas baik yang bersifat naqli, maupun aqli telah cukup
merepresentasikan keberadaan hadits sebagai sumber hukum ajaran agama
islam.

18
DR. Nawir Yuslem, MA.Ulumul hadist Hal 68-71

15
2.3 Ingkar al-Sunnah
2.3.1 Pengertian Ingkar al-Sunnah
1. Arti Menurut Bahasa
Kata “ingkar sunnah” searti dengan inkar al-sunnah, rafdl al-
sunnah, radd al-sunnah, radd al-akhbar, dan lain-lain yang mempunyai
pengingkaran sunnah. Dalam Bahasa Indonesia, kata (ingkar) mempunyai
beberapa arti antara lain; menyangkal, tidak membenarkan, tidak mengakui,
dan mungkir.19 Dalam Bahasa Arab kata inkar berasal dari akar kata: ‫" أ َ ْنك ََر‬
" ‫ يُ ْن ِك ُر أِ ْنك ًَرا‬dan mempunyai beberapa arti antara lain:
a. Tidak mengakui dan tidak menerima di lisan dan di hati.
b. Bodoh atau tidak mengetahui sesuatu (antonim kata “al-irfan” =
mengetahui) dan menolak apa yang tidak tergambarkan dalam hati.
c. Menolak lisan yang ditumbuhkan dari hati. Seperti firman Allah SWT:
‫يَ ْع ِرفُ ْونَ نِ ْع َمتَ هللا ث ُ َّم يُ ْن ِك ُر ْونَها َ َوأ َ ْكث َ ُر ُه ُم ا ْل َك ِف ُر ْو ِن‬
Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mengingkarinya dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir (QS. An-Nahl/16:83)

Al-‘Asykariy membedakan antara makna “al-inkar” dan “al-juhd”. Kata


“al-inkar” terhadap sesuatu yang tersembunyi dan tidak disertai pengetahuan,
sedang al-juhd terhadap sesuatu yang tampak dan disertai dengan
pengetahuan.20 Dengan demikian, bisa jadi pengingkaran sunnah sebagai
hujjah dikalangan orang yang tidak banyak mengetahui tentang ulumul hadis.
Dar beberapa kata “inkar” tersebut dapat disimpulkan bahwa ingkar
secara etimologis diartikan menolak, tidak mengakui, dan tidak menerinma
sesuatu, baik lahir dan batin atau lisan dan hati yang dilatarbelakangi oleh
faktor ketidaktahuannya atau faktor lain, misalnya karena gengsi,

19
W. J. S. Poerwadarminta (Poerwadarminta), Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN
Balai Pustaka, 1984), Cet. Ke-7, hlm.382.
20
Abi Hilal al-Asykariy (al-Asykariy), al-Lum’ah min al-Faruq, (Surabaya: al-Saqafiyah, t.th.),
hlm. 2.

16
kesombongan, dan keyakinan. Sedang kata “sunnah” secara mendetail telah
dijelaskan pada uraian diatas, dimaksudkan disini sinonim hadis sebagaimana
yang dikehendaki oleh mayoritas ulama hadis.
Jika kata “ingkar” digabungkan (di-idlafah-kan) pada kata “munkar”
(sesuatu yang dibenci syarak), Ibn Qayyim al-Jawziyah (w.751 H)
menjelaskan tindakan orang yang ingkar munkar ada empat tipe tingkatan
sebagai berikut:
1. Menghilangkan dan menggantikan dengan antonimnya.
2. Menguranginya, sekalipun secara substansif masih tetap.
3. Menggantikan dengan sesamanya.
4. Menggantikan dengan yang lebih jelek.
Dua tingkatan yang pertama dari empat tipe tingkatan tersebut memang
disyariatkan dalam Islam. Sedang nomor 3 perlu diteliti dan nomor 4
diharamkan. Berbeda dengan ingkar sunnah, jika yang terjadi pertama dan
keempat yaitu menggantikan sunnah dengan bid’ah akan lebih rusak. Jika
yang terjadi kedua dan ketiga, masih perlu penelitian, sunnah mana yang akan
dikurangi dan adakah pengganti sunnah yang memiliki kredibelitas yang
sama. Empat macam tipe diatas menjadi bahan pertimbangan para ulama baik
ahli hadis atau fiqh, dalam menentukan alasan meninggalkan sebagian sunnah
diterima atau tidak.
Pengingkaran terhadap sunnah berarti selalu bersebrangan, tidak
mengikuti, dan tidak mematuhi sunnah dalam beragama, sama dengan
oposisinya yaitu “bid’ah”. Seseorang yang selalu berperilaku sesuai sunnah
Nabi SAW disebut “penganut sunnah” dan seseorang yang selalu menyalahi
dan melawannya disebut “penganut bid’ah”.
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa ingkar sunnah dalam
arti etimologi sinonim bid’ah yang mempunyai arti bereaksi atau membuat
sesuatu yang baru (modern) dan menolak atau tidak mengakui tradisi
sebelumnya (sunnah) tidak menerima dan tidak mengikuti contoh-contoh
sunnah Nabi dan sunnah umumnya umat Islam sebelumnya.

2. Arti Ingkar Sunnah Menurut Istilah

17
Cukup banyak diantara pakar hadis yang berbicara tenang ingkar
sunnah, tetapi tidak ditemukan banyak yang mengemukakan definisi ingkar
sunnah secara etimologis dan secara eksplisit. Penulis hanya menemukan
definisi ingkar sunnah di beberapa referensi berbahasa Indonesia yang
sifatnya masih sangat sederhana pembahasannya yaitu sebagai berikut:
a. Paham yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadis
atau sunnah sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah al-
Quran.21
b. Suatu pendapat yang timbul dari sebagian kaum muslimin yang
menolak as-Sunnah (al-Sunnah) sebagai dasar dan sumber
hukum.22
c. Orang-orang yang menolak sunnah (hadis) Rasulullah SAW
sebagai hujjah dari sumber kedua ajaran Islam yang wajib ditaati
dan diamalkan.23
d. Golongan inkarsunnah juga menamakan dirinya sebagai
golongan Qur’ani, sebab mereka hanya memakai al-Qur’an
sebagai sumber ajaran dan tidak memercayai hadis Nabi
Muhammad SAW. Alasannya, adalah bahwa tugas Rasul hanya
menyampaikan bukan memberi perincian.24
Beberapa definisi itu kiranya belum menjawab persoalan yang
terjadi di tengah-tengah masyarakat modern, karena sesungguhnya tidak
mungkin orang Islam yang beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-
Nya, dan para Rasul mengingkari kehujjahan sunnah dan menolak hukum-
hukum yang dihasilkan daripadanya. Kehujjahan sunnah merupakan
keharusan beragama, ijmak para ulama,25 tabligh al-risalah (penyampaian
misi kerasulan), dan penjelasan al-Quran. Ia adalah cahaya pintu al-Quran
yang memancar daripadanya. Barangsiapa yang memisahkan sunnah
daripadanya sama halnya memisahkan al-Quran dari Nabi-Nya.

21
Tim Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, hlm, 428-429.
22
Husnan, Gerakan Inkar as-Sunnah dan Jawabannya, hlm. 5
23
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, ensiklopedi Islam, Jilid 2, hlm. 225.
24
Tim Penyusun Pustaka Azet, Leksikon Islam, hl. 221.
25
Al-Khudlriy, Ushul Fikih, hlm. 239.

18
Definisi ingkar sunnah yang dimaksud dalam makalah ini sesuai
dengan yang dipahami penulis melalui bacaan pustaka yang ditulis oleh para
ulama modern adalah suatu paham yang timbul pada sebagian minoritas umat
Islam yang menolak dasar hukum Islam dari sunnah shahih baik sunnah
praktis maupun yang secara formal dikodifikasikan para ulama, baik secara
totalitas mutawatir dan ahad atau sebagian saja, tanpa ada alasan yang dapat
diterima oleh para ulama.
Dalam definisi tersebut ada tujuh poin yang perlu mendapat
penjelasan sebagai kriteria pengingkar sunnah, sebagai berikut:
1. Suatu paham
Ingkar sunnah adalah suatu paham atau pendapat perorangan
atau paham sekelompok orang. Istilah ingkar sunnah, bukan
nama sebuah aliran atau sekte dalam Islam tetapi lebih cenderung
kepada sifat, sikap, pekerjaan dan paham individu maupun
sekelompok orang yang menolak kehujahan sunnah. Paham ini
kemungkinan terdapat dalam berbagai sekte tersebut.
2. Sebagian Minoritas Umat Islam
Paham penolakan sunnah mungkin terjadi dikalangan umat Islam
sekalipun sangat minim karena kekurangan informasi tentang
pentingnya sunnah dalam agama atau sebab-sebab faktor lain.
3. Penolakan Sunnah sebagai Dasar Hukum Islam
Maksudnya, ada kemungkinan paham ini menerima dan
mengakui sunnah selain sebagai sumber hukum Islam, misalnya
sebagai fakta sejarah, budaya, dan tradisi. Memang pada
umumnya mereka menganggap sunnah sebagai sejarah atau
tradisi saja. Bagi mereka tidak ada keharusan memperlakukan
sunnah sebagai hujjah dalam beragama dan tidak ada kewajiban
mengamalkannya. Sunnah boleh diamalkan dan boleh tidak
diamaklan.
4. Sunnah Praktis dan Formalistik
Sunnah yang diingkari adalah sunnah yang shahih baik sunnah
praktis yakni pengamalan al-Quran (sunnah ‘amaliyah) maupun

19
sunnah formalistis, yakni sunnah yang dikodifikasikan para
ulama dalam berbagai buku induk hadis melalui perbuatan,
perkataan, dan persetujuan Nabi SAW. Bisa jadi secara
substansial mereka menerima sunnah praktis tetapi menolak
sunnah formlistis atau menolak keduanya.
5. Penolakan Sunnah Secara Total atau Sebagian Saja.
Paham ingkar sunnah bisa jadi menolak keseluruhan sunnah baik
sunnah mutawatirah26 dan ahad27 atau menolak yang ahad saja
dan atau sebagian daripadanya.
6. Penolakan secara Terang-terangan atau Tidak.
Para ulama membagi ingkar sunnah menjadi dua macam, yaitu
pertama, adakalanya dengan ungkapan yang tegas (sharih)
bahwa hanya al-Quran yang dijadikan hujjah dalam Islam dan
menolak kehujahan sunnah. Kedua, kelompok yang ingin
merobohkan paradigma sunnah dengan cara mencerca para
periwayatnya secara diplomatis. Jadi, pengertian ingkar sunnah
sudah memasukkan dua kelompok ini.
7. Tidak Ada Dasar Alasan yang Diterima.
Maksudnya, jika seseorang menolak sebagian sunnah dengan
alasan yang tidak dapat diterima oleh syara’ atau akal sehat.
Misalnya, seorang mujtahid yang menemukan dalil yang lebih
kuat dari pada hadis yang ia dapatkan, atau hadis itu tidak sampai
kepadanya, atau karena kedla’ifannya, atau karena ada tujuan
syar’i yang lain, maka digolongkan ingkar sunnah.
Dengan definisi tersebut menjadi jelas maksud ngkar sunnah karena
ia telah mengakumulasi mana yang harus masuk dan mana yang harus keluar
dari definisi tersebut (jami’ dan mani’). Definisi ini memudahkan bagi

26
Arti mutawatir dari segi bahasa “berturut-turut” (al-tatabu’). Menurut istilah adalah sesuatu
yang diriwayatkan oleh banyak orang dari sesamanya diseluruh tingkatan periwayatan (thabaqat)
sampai akhir sanad, banyaknya menurut logika dan tradisi mustahil mereka sepakat bohong.
Sebagian ulama memprsyaratkan berita yang diriwayatkan masalah indriwi (mahsus).
27
Ahad jamak dari ahad artinya berita diriwayatkan oleh seorang atau sampai tiga orang lebih
yang tidak mencapai mutawatir. Berita ahad memberi faedah zhanniy al-wurud atau zhanniy al-
tsubut dan ‘ilmu nazhari, artinya tidak mutlak (relatif) kebenaran berita, perlu pemikiran, dan
penelitian lebih lanjut.

20
penulis dalam membuat standarisasi dan klasifikasi siapa sebenarnya yang
dimaksud ingkar sunnah dalam tataran tingkat ringan atau berat, keseluruhan
atau sebagian, atau dalam tataran berpikir rasional atau sebagai mujtahid.
Sebagian kelompok ingkar sunnah menamakan dirinya sebagai kelompok al-
Quran atau al-Quraniyun seperti yang terjadi di India. Ada lagi kelompok
Qurani atau al-Quran suci seperti yang terjadi di Indonesia untuk
menunjukkan bahwa mereka kelompok yang paling islami.

2.3.2 Sejarah Perkembangan Ingkar al-Sunnah


1. Timbulnya Ingkar Sunnah Awal
Sejarah perkembangan umat Islam terbagi menjadi tiga, yaitu masa
klasik: 650-1250 M, masa pertengahan: 1250-1800 M, dan masa modern:
1800-sekarang.28 Adapun sejarah perkembangan ingkar sunnah hanya terjadi
dua masa, yaitu masa klasik dan masa modern. Menurut M. Musthafa al-
A’zhamiy, sejarah ingkar sunnah klasik terjadi pada masa al-Syafii (w. 204
H) abad ke-2 H/7 M kemudian hilang dari peredarannya selama kurang lebih
11 abad.29 Kemudian pada abad modern, ingkar sunnah timbul kembali di
India dan Mesir dari abad ke-19 M/13 H hingga sekarang.
Ingkar sunnah klasik terjadi pada masa Imam al-Syafii (w. 204 H)
yang menolak kehujahan sunnah atau menolak sunnah sebagai sumber hukum
Islam baik mutawatir atau ahad. Imam al-Syafii yang dikenal sebagai Nashir
al-Sunnah (pembela sunnah) pernah didatangi oleh seseorang yang disebut
sebagai ahli tentang mazhab teman-temannya yang menolak kehujahan
seluruh sunnah, untuk berdiskusi dan berdebat secara panjang lebar dengan
berbagai argumentasi yang diajukan.30
Diantara argumentasi yang dikemukakan secara ringkas dapat
disimpulkan sebagai berikut:

28
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, hlm. 56-88, Ibid., pembaruan dalam
Islam..., hlm. 13-14, dan Ibid., Islam Rasional..., hlm.182-183.
29
Al-A’zhamiy, Dirasat fi al-Hadits al-Nabawiy..., Juz 1, hlm. 26.
30
Lihat: Al-Syafii, al-Umm,hlm. 250-255.

21
a. Al-Quran turun sebagai penerang atas segala sesuatu, bukan
yang diterangkan. Jadi, al_quran tidak perlu keterangan dari
sunnah.
b. Al-Quran bersifat qth’iy (pasti absolut kebenarannya) sedang
sunnah bersifat zhanniy (bersifat relatif kebenarannya), maka
jika terjadi kontradiksi antar-keduanya, sunnah tidak dapat
berdiri sendiri sebagai prosuk hukum baru.
c. Jika sunnah diantara fungsinya sebagai penguat (ta’kid)
terhadap hukum dalam al-Quran, maka yang diikuti adalah al-
quran bukan sunnah.
d. Jika sunnah memberikan perincian (tafshily) terhadap globalitas
hukum yang dikandung al-Quran, maka tidak mungkin terjadi
al-Quran yang bersifat qath’iy dan yang menjadi kafir
pengingkarnya sekalipun satu huruf daripadanya, diterangkan
dengan sunah yang bersifat zhanniy dan tidak kafir
pengingkarnya.
e. Sunnah mutawatirah tidak dapat memberikan arti kepastian
(qath’iy), karena prosesnya melalui ahad. Boleh jadi,
didalamnya terdapat kebohongan.
Semua argumentasi yang dikemukakan orang tersebut dapat
ditangkis oleh al-Syafii dengan jawaban yang argumentatif, ilmiah dan
rasional, sehingga akhirnya ia mengakui dan menerima sunnah Nabi sebagai
hujah. Menurut penelitian Muhammad al-Khudlariy Beik bahwa seseorang
yang mengajak berdebat dengan al-Syafii, bahwa ia datang dari Bashrah.
Sementara Bashrah pada saat itu menjadi basis pusat teologi Muktazilah dan
munculnya para tokoh Muktazilah yang dikenal sebagai oposisi ahl hadis.31
Demikian oposisi al-Syafii yang secara argumentatif berdebat
dengan al-Sayfii. Namun segala argumentasinya dapat dipatahkan oleh al-
Syafii. Akhirnya ia bertekuk lutut dan mengakui kehujahan sunnah.
Penolakan sunnah bagi oposisi ini juga merupakan pendapat perorangan
bukan pendapat kolektif, sekalipun ia mengaku dari sekte tertentu.

31
Al-Khudlriy Beik, Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, hlm. 186.

22
Disamping kelompok yang menolak seluruh sunnah sebagaimana
disebutkan sebelumnya, juga terdapat suatu kelompok yang hanya meneruma
sunnah mutawatir saja dan menolak sunnah ahad, akan tetapi semua
argumentasinya dapat diatasi oleh al-Syafii.32
Secara garis besar, Abu Zahrah berkesimpulan bahwa ada tiga
kelompok pengingkar sunnah yang berhadapan dengan al-Syafii, sebagai
berikut:
a. Menolak sunnah secara keselutuhan, golongan ini hanya
mengaku al-Quran saja yang dapat dijadikan hujah.
b. Tidak menerima sunnah kecuali yang semakna dengan al-Quran.
c. Hanya menerina sunnah mutawatir saja dan menolak selain
mutawatir yakni ahad.33
Kelompok pertama dan kedua sangat berbahaya, karena merobohkan
paradigma sunnah secara keseluruhan. Mereka tidak memahami makna
perintah shalat, zakat, haji, dan lain-lain yang diterangkan dalam al-Quran
secara global kemudian diperinci penjelasannya oleh sunnah, kecuali
dipahami sekadar makna lughawi belaka. Maka yang wajib baginya adalah
minimalisasi nama shalat, zakat, dan haji. Seandainya mereka melaksanakan
shalat dua rakaat dalam sehari tidak ada kewajiban dalam al-Quran, maka
gugurlah semua shalat, zakat, dan haji.34 Demikian juga kelompok ketiga,
semuanya ingin merobohkan Islam dengan menolak penjelas al-quran yakni
sunnah dan memisahkan antara penjelas dan yang dijelaskan. Dengan
demikian, mereka akan sangat mudah mendistorsi dan mempermainkan
makna al-Quran.35
Kesimpulannya, ingkar sunnah klasik diawali akibat konflik internal
umat Islam yang dikobarkan oleh sebagian kaum Zindik yang berkedok pada
sekte dalam Islam, kemudian diikuti oleh para pendukungnya, dengan cara
saling mencaci para sahabat dan melemparkan hadis palsu. Penolakan sunnah

32
Al-Syafii, al-Umm, hlm.292 dan al-Syafii, al-Risalah, hlm.369-387.
33
Ibid. bagi Imam al-Syafii Sunnah mutawatir disebut Khabar ‘ammah dan Sunnah selain
mutawatir (ahad) disebut Khabar khash. Lihat: Abu Zahrah: Tarikh al-Mazahib ...,m hlm.449450
dan Abu Zahrah, al-Syafii Hayatuh..., hlm. 193.
34
Ibid., Tarikh al-Madzhab..., hlm.450.
35
Ibid., hlm. 451.

23
secara keseluruhan bukan karakteristik umat Islam. Semua umat Islam
menerima kehujahan sunnah. Namun mereka berbeda dalam memberikan
kriteria persyaratan kualitas sunnah. Ingkar sunnah klasik hanya terdapat di
Bashrah Irak karena ketidak tahuannya tentang kedudukan sunnah dalam
syariat Islam, tetapi setelah diberikan penjelasan akhirnya menerima
kehujahannya.
Secara umum, dari tinjauan sejarah masa klasik dapat dikatakan
semua umat Islam mengakui kehujahan sunnah sebagai dasar hukum Islam.
Jika disana tampak diantara mereka ada yang mempertentangkan, bukan
berarti meninggalkannya sama sekali, akan tetapi ada beberapa kemungkinan
sebagai berikut:
a. Masing-masing memiliki persyaratan tertentu sunnah yang dapat
diterima, seperti yang terjadi pada sekte-sekte dalam Islam awal.
Sekte Syi’ah memiliki persayratan tertentu yang tidak sama
dengan sekte lain.
b. Karena ketidaktahuannya, atau karena sunnah tidak sampai
kepadanya, dan/atau karena adanya dalil lain yang lebih kuat.
Secara khusus, jika ada beberapa orang yang menolak sunnah tanpa
alasan yang dapat diterima sebagaimana dijelaskan sebelumnya, merupakan
pendapat pribadi, bukan pendapat kelompok atau sekte tertentu dalam Islam.
Namun pada umumnya mereka masih mengakui sunnah secara substansial
baik sunnah praktis atau teoretis yang berupa qaliyah dan fi’liyah.

2. Ingkar Sunnah Modern


a. Ingkar Sunnah India
Dalam sejarah tercata, ada dua gerakan penghancur Islam di India
pada abad ke-19 M ini, yakni al-Qdiyanah dan al-Quraniyah. Al-Qdinayah
adalah kelompok Mirza Ghulam Ahmad al-Qadhiyaniy (w. 1908 M) yang
mengaku menjadi Nabi dan Rasul yang kemudian disebut dengan gerakan
Ahmadiyah. Adapun al-Quraniyah, al-Quraniyun atau ingkar sunnah

24
dipimpin pendirinya Ghulam Nabi yang dikenal Abdullah Jakralevi (w. 1918
M) mengingkari seluruh sunnah.36
Diduga ada dua orang yang membidani lahirnya gerakan al-
Quraniyun di India pada akhir abad ke-19 yaitu Muhibb al-Haq Adzim Abadi
di Bihar India Timur dan Abd. Allah Jarkalevi (w.1918 M) di Lahore. Namun
amaliah yang pertama lahirnya tidak berbeda dengan mayoritas umat Islam,
sehingga tidak menggerakkan suasana. Tetapi intinya ia istinbat hukum Islam
hanya dari al-Wuran tidak mau merujuk kepada sunnah. Berbeda dengan
pemikiran dan amaliah orang kedua secara terang-terangan kontra dengan
mayoritas umat Islam terutama dalam melaksanakan rukn Islam kedua yakni
shalat. Disamping mendirikan kelompok baru yang diberi nama Ahl al-Dzikr
wa al-Qur’an.37
Para tokoh ingkar sunnah India ialah Sayyid Ahmad Khan
(w.1897 M), Ciragh Ali (w. 1898 M), Maulevi Abdillah Jakralevi (w. 1918
M), Ahmad al-Din Amratserri (w. 1933 M), Aslam Cirachburri (w. 1955 M),
Ghulam ahmad Parwez, dan Abd. Al-Khaliq Malwadah.38
Sebab utama pada awal timbulnya ingkar sunnah modern ini ialah
akibat pengaruh kolonialisme yang semakin dahsyat sejak awal abad 19 M di
dunia Islam, terutama di India setelah terjadinya pemberontakan melawan
kolonial Inggris 1857 M. Berbagai usaha yang dilakukan kolonial untuk
pendangkalan ilmu agama dan umum, penyimpangan akidah melalui
pimpinan umat Islam, dan tergiurnya mereka terhadap teori-teori Barat untuk
memberikan interpretasi hakikat Islam.39 Disamping ada usaha dari pihak
umat Islam menyatukan berbagai mazhab hukum Islam, al-Sayfii, Hanbali,
Hanafi dan Maliki kedalam satu bendera yaitu Isalm, akan tetapi pengetahuan
keislaman mereka kurang mendalam. Bagi mereka perpecahan umat Islam
dikarenakan banyaknya mazhab dalam Islam. Untuk menyatukan mereka
hendaknya kembali kepada Islam dengan berpedoman kepada al-Quran saja
yang disebut dengan al-Quraniyun.

36
Najsy, al-Qur’aniyin wa Syubuhatuhum ..., hlm. 19.
37
Ibid,. hlm. 20-21.
38
Najsy, al-Qur’aniyun wa Syubuhatuhum..., hlm. 57 dan 63.
39
Ibid, hlm, 21-24.

25
Ingkar sunnah awal dalam sejarah terjadi pada masa Imam al-
Syafii. Namun akhirnya ia menerimanya setelah mendapat penjelasan dari
beliau, kemudian timbul kembali pada masa modern (abad ke-20) di India.
Ingkar sunnah awal lebih disebabkan karena ketidaktahuannya, kemudian
mengetahui atas ketidaktahuannya itu. Adapun ingkar sunnah modern lebih
disebabkan adanya tekanan kolonial dan pengaruh orientalis.
b. Ingkar Sunnah di Mesir
Gejala timbulnya ingkar sunnah awal di Mesir modern beriringan
dengan perkemabngan modernisasi yang dipelopori oleh para reformis seperti
Syekh Muhammad ‘Abduh (w. 1905 M), dan murid-muridnya yang
membawa pengaruh besar bagi perkembangan dunia Islam khususnya di
Mesir dalam perkembangan kebebasan berpikir dan berijtihad setelah
mengalami stagnasi sekian lama.40 Namun diantara pengikut mereka ada yang
berlebihan dalam memahami isu dibukanya kembali kebebasan ijtihad
tersebut, sehingga menyimpang dari prinsip dasar ijtihad dan persyaratannya
sebagaimana yang digariskan oleh Syekh Muhammad ‘Abduh, padahal beliau
sendiri tidak mengingkarinya.41
Isu ingkar sunnah awal di Mesir modern dikemukakan oleh Tawfiq
Shidqiy (w. 1920 M) dalam artikel kontroversinya “al-Islam Huw al-Quran
Wahdah” pada majalah al-Manar pimpinan Muhammad Rasyid Ridha.
Artikel ini mengundang reaksi keras para ulama dan kritikus, baik dalam dan
luar negeri Mesir, sehingga ia harus melayani jawaban selama kurang lebih
tahun yang memenuhi halaman majalah ini.
Pemikiran Tawfiq Shidqiy tersebut, diikuti oleh para penggemarnya
yang bermunculankemudian dengan mengatasnamakan reformasi agama dan
sunnah. Pengingkar sunnah di Mesir bermunculan dengan pemikirannya yang
mengguncangkan masyarakat yang mayoritas Sunni itu.

40
Ijtihad mengalami stagnasi pada masa kemunduran (1250-1800 M). Pendapat yang ditimbulkan
di zaman desintegrasi (1000-1250 M), bahwa ijtihad telah tertutup diterima secara umum pada
masa ini. Antara mazhab empat terdapat suasana damai dan di madrasah diajarkan mazhab empat
ini. Perhatian pada ilmu pengethauan sedikit sekali. Harun Nasution (Nasution), Islam Ditinjau
dari Berbagai Aspek, (Jakarta: UI-Press, 1985), Cet. Ke-5, hlm. 83 dan Nasution, Pembaruan
dalam..., hlm. 68.
41
Menurut Muhammad ‘Abduh, hadis mutawatir seperti al-Quran harus diterima tanpa ada
keraguan, sedang hadis ahad perlu penelitian lebih lanjut.

26
Para pengamat perkembangna pemikiran di Mesir khususnya dari
kalanga ulama al-Azhar selalu merespon fenomena apemikiran dari para
penulis modern yang dianggap menyimpang terutama yang mengingkari
kehujjahan sunnah. Penilaian itu didasarkan pada bukti-bukti tulisan yang
merupakan buah pemikiran mereka, baik yang disebar luaskan secara umum
seperti koran, majalah, dan buku yang diterbitkan atau yang dirahasiakan
khusus untuk kelompok tertentu.
Bagi lawan-lawan Islam, terutama dari kalangan kolonial Barat
sangat berkepentingan dengan Mesir agar menghentikan peran penting
tersebut. Maka, harus dijaga kutuhan dan persatuan umat, orisinalitas
informasi keislaman, dan kemurniah akidah. Dari Mesir inilah nanti
pemikiran modern sunnah akan menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk
di ndonesia, karena sangat mudah diperoleh tersebarnya informasi baik secara
langsung melalui mahasiswa yang belajar disana maupun melalui buku-buku
yang terbit dari sana.

2.3.3 Argumentasi Ingkar al-Sunnah


Memang cukup banyak argumen yang telah dikemukakan oleh
mereka yang berpaham inkar as-sunnah, baik oleh mereka yang hidup pada
zaman al-Syafi’i maupun yang hidup pada zaman sesudahnya. Dari berbagai
argumen yang banyak jumlahnya itu, ada yang berupa argumen-argumen
naqli (ayat Al-Qur’an dan hadis) dan ada yang berupa argumen-argumen non-
naqli. Dalam uraian ini, pengelompokan kepada dua macam argumen tersebut
digunakan.42
1. Argumen- argumen Naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen naqli tidak hanya berupa
ayat-ayat Al-Qur’an saja, tetapi juga berupa sunnah atau hadis Nabi. Memang
agak ironis juga bahwa mereka yang berpaham inkar as-sunnah ternyata telah
mengajukan sunnah sebagai argumen membela paham mereka.
2. Argumen-argumen Non-Naqli

42
Ibid., Tarikh al-Madzhab..., hlm.450.

27
Yang dimaksud dengan argumen-argumen non-naqli adalah
argumen-argumen yang tidak berupa ayat Al-Qur’an dan atau hadis-hadis.
Walaupun sebagian dari argumen-argumen itu ada yang menyinggung sisi
tertentu dari ayat Al-Qur’an ataupun hadis Nabi, namun karena yang
dibahasnya bukanlah ayat ataupun matan hadisnya secara khusus, maka
argumen-argumen tersebut dimasukkan dalam argumen-argumen non-naqli
juga.
Ternyata argumen yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi para
pengingkar sunnah memiliki banyak kelemahan, misalnya :
1) Pada umumnya pemahaman ayat tersebut diselewengkan maksudnya
sesuai dengan kepentingan mereka. Surat an-Nahl ayat 89 yang
merupakan salah satu landasan bagi kelompok ingkar sunnah untuk
maenolak sunnah secara keseluruhan. Menurut al-Syafii ayat tersebut
menjelaskan adanya kewajiban tertentu yang sifatnya global, seperti
dalam kewajiban shalat, dalam hal ini fungsi hadits adalah menerangkan
secara tehnis tata cara pelaksanaannya. Dengan demikian surat an-Nahl
sama sekali tidak menolak hadits sebagai salah satu sumber ajaran.
Bahkan ayat tersebut menekankan pentingnya hadits.43
2) Surat Yunus ayat 36 yang dijadikan sebagai dalil mereka menolak hadits
ahad sebagai hujjah dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
istilah zhanni adalah tentang keyakinan yang menyekutukan Tuhan.
Keyakinan itu berdasarkan khayalan belaka dan tidak dapat dibuktikan
kebenarannya secara ilmiah. Keyakinan yang dinyatakan sebagai zhanni
pada ayat tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dan tidak da
kesamaannya dengan tingkat kebenaran hasil penelitian kualitas hadits.
Keshahihan hadits ahad bukan didasarkan pada khayalan melainkan
didasarkan pada metodologi yang dapat dipertanggung jawabkan. 44

2.3.4 Bantahan Terhadap Ingkar al-Sunnah

43
Ibid, hlm. 453
44
Ibid, hlm.453

28
Abd Allah bin Mas’ud berpendapat bahwa orang yang menghindari
sunnah tidak termasuk orang beriman bahkan dia orang kafir. Hal ini sesuai
dengan hadits Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, sebagai
berikut:
“Jika kamu bersembahyang di rumah-rumah kamu dan kamu
tinggalkan masjid-masjid kamu, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu,
dan berarti kamu kufur.” (H.R. Abu Dawud :91).
Allah SWT telah menetapkan untuk mentaati Rasul, dan tidak ada
alasan dari siapa pun untuk menentang perintah yang diketahui bearsal dari
Rasul. Allah telah membuat semua manusia (beriman) merasa butuh
kepadanya dalam segala persoalan agama dan memberikan bukti bahwa
sunnah menjelaskan setiap makna dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan
Allah dalam kitabnya. Sunnah Rasul mempunyai tugas yang amat besar,
yakni untuk memberikan pemahaman tentang Kitabullah, baik dari segi ayat
maupun hukumnya. Orang yang ingin mempedalam pemahaman Al-Quran, ia
harus mengetahui hal-hal yang ada dalam sunnah , baik dalam maknanya,
penafsiran bentuknya, maupun dalam pelaksanaan hukum-hukumnya. Contoh
yang paling baik dalam hal ini adalah masalah ibadah shalat. Tegasnya setiap
bagian Sunnah Rasul SAW berfungsi menerangkan semua petunjuk maupun
perintah yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran. Siapa saja yang bersedia
menerima apa yang ditetapkan Al-Quran dengan sendirinya harus pula
menerima petunjuk-petunjuk Rasul dalam Sunnahnya.45
Allah sendiri telah memerintahkan untuk selalu taat dan setia
kepada keputusan Rasul. Barang siapa tunduk kepada Rasul berarti tunduk
kepada Allah, karena Allah jugalah yang menyuruh untuk tunduk kepadaNya.
Menerima perintah Allah dan Rasul sama nilainya, keduanya berpangkal
kepada sumber yang sama (yaitu Allah SWT). Dengan demikian, jelaslah
bahwa menolak atau mengingkari sunnah sama saja dengan menolak
ketentuan-ketentuan Al-Quran, karena Al-Quran sendiri yang memerintahkan
untuk menerima dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.46

45
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, hlm. 89
46
Ibid, hlm.89

29
30
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1. Seluruh umat Islam sepakat bahwa hadist merupakan salah satu sumber
ajaran agama Islam.
2. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan hadist sebagai sumber ajaran
Islam, dapat dilihat beberapa dalil naqli yaitu bersumber dari Al-quran
dan hadist, dan dalil aqli yang menggunakan rasional.
3. Fungsi hadist sebagai penjelas Al-qur’an itu bermacam-macam. Malik ibn
Abbas menyebutkan lima macam fungsi, yaitu bayan al-taqrir, bayan al-
tafsir, bayan at-tafshil, dan bayan al-basth, serta bayan al-tasyri. Al-
Syaf’'i menyebutkan lima fungsi yaitu bayan al-tafshil, bayan al-
takhshish, bayan al-ta’yin, bayan al-tasyri’, dan bayan al-nasakh. Dalam
al-Risalah Sayfi’i menambahkan dengan bayan al-isyarah. Ahmad ibn
Hambal menyebutkan empat fungsi yaitu, bayan al-ta’kid, bayan al-
tafsir, bayan al-tasyri’ dan bayan a-takhsis.
4. Ingkar al-sunnah mempunyai beberapa arti antara lain; menyangkal, tidak
membenarkan, tidak mengakui dan ingkar.

3.2 Saran
Demikianlah makalah ini kami susun, penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
kritik serta saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini
bermanfaat untuk kita semua. Amin.

31
32
LAMPIRAN

Pertanyaan:

1. Bayan an-nakh
Dalil syara’ itu dari siapa ? jika dalil tersebut dari Rosululloh diganti apa
tidak menyalahi aturan ? lalu kenapa sudah ada tafsir Al-Quran jika sudah
ada Hadist ?
Jawab :
a. Dalil syara’ bisa dari Allah berupa al-quran , hadist dari Rosulullah
SAW ijma’ sahabat, Qiyas. Jika menganut pada hal tersebut dalil
syara’ yang berupa Al-quran dan Hadist tidak bias dirusak sedangkan
ijma; sahabat dan qiyas mungkin bisa dirubah dengan kesepakatan
ulama’ pada saat ini .
b. Karena tafsir Al-quranmerupakan ilmu pengetahuan untuk memahami
dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-quran dan isinya.
Berfungsi sebagai Mubayyin (pemateri penjelasan), menjelaskan
tentang arti dan kandungan Al-quran. Khusunya menyangkut ayat-ayat
yang tidak dipahami dan sama artinya.
2. Bayan at-tafsir
Maksud kata “apa adanya” mentaqyid yang mutlak itu bagaimana ?
Jawab :
Maksud kata apa adanya sendiri itu seperti tanpa memandang jumlah dan
sifatnya jadi, menambahkan dan tidak mengurangi makna dari kata
menjelaskan, menerangakan atau menguraikan makna dalam Al-quran
yang masih umum misalnya ayat di dalam Al-quran tentang perintah
sholat tetapi didalam hadist tersebut dijelaskan cara sholat itu sendiri,
misalnya cara ruku’ , sujud , ta’biratul ikhram . adapun juga pemisalan
lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri maka kedua tangan
tersebut dipotong jadi makna hadist itu tidak perduli dia dari kalangan atas
atau bawah jika dia salah maka dia akan dihukum.

33
3. Jelaskan kembali mengenai Ijma’
Jawab:
Umat islam kecuali mereka para peyimpang dan pembuat kebohongan,
telah sepakat menjadikan hadits sebagai salah satu dasar hukum dalam
beramal. Penerimaan terhadap hadits sama halnya dengan Al-qur’an
karena keduanya sama-sama dijadikan sebagai sumber hukum islam.
Kesepakatan umat dalam mempercayai, menerima, dan mengamalkan
segala peraturan yang ada di hadits berlaku sepanjang masa. Banyak
diantara mereka yang tidak hanya memahami dan mengamalkan isi
kandungannya, akan tetapi mereka menghafal, mentadwin, dan
meyebarluaskan dengan segala upaya kepada generasi selanjutnya.
4. Sebagai ahli sunnah, argumen apa yang harus disampaikan kepada ingkar
sunnah?
Jawab:
Allah sendiri telah memerintahkan untuk selalu taat dan setia kepada
keputusan Rasul. Barang siapa tunduk kepada Rasul berarti tunduk kepada
Allah, karena Allah jugalah yang menyuruh untuk tunduk kepadaNya.
Menerima perintah Allah dan Rasul sama nilainya, keduanya berpangkal
kepada sumber yang sama (yaitu Allah SWT). Dengan demikian, jelaslah
bahwa menolak atau mengingkari sunnah sama saja dengan menolak
ketentuan-ketentuan Al-Quran, karena Al-Quran sendiri yang
memerintahkan untuk menerima dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

34
DAFTAR PUSTAKA

Fatchurrahman. 1987. Ikhtishar Mustalahul Hadist. Bandung: al-Ma’arif

Khallaf, Abn. Al-Wahab. 1978. Ilm Ushul al-Fiqh. Kuwait: Dar al-Qalam

Purwadinata, W. J. S. 1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai


Pustaka

Yusuf Al-Qardhawi. 2007. Pengantar Studi Hadist. Bandung: Pustaka Setia

Zainuddin, DKK. Studi Hadits. Surabaya. IAIN Sunan Ampel Press, 2011.

35