Anda di halaman 1dari 34

PEMERINTAH KOTA LANGSA

DINAS KESEHATAN KOTA LANGSA


UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA
Jln. H. Agussalim No. 10 Telp./Fax. 0641-21912 Langsa
e-mail : pkmlangkot2004@gmail.com

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA


NOMOR : 3274/SK-PL/V/2018
TENTANG
PELAYANAN LABORATORIUM
UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA

KEPALA UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA,

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan


Laboratorium UPTD Puskesmas Langsa Kota, maka
diperlukan penyelenggaraan pelayanan laboratorium
yang bermutu tinggi;
b. bahwa agar pelayanan laboratorium dapat terlaksana
dengan baik, perlu adanya kebijakan Kepala UPTD
Puskesmas Langsa Kota sebagain landasan bagi
penyelenggaraan pelayanan Laboratorium;
c. bahwa untuk maksud tersebut butir (a) dan (b), maka
perlu ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala UPTD
Puskesmas Langsa Kota.
Memperhatikan : 1. Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2001 tentang
Pembentukan Kota Langsa;
2. Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh;
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan;
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik;
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5587);
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 128/Menkes/SK/2004 Tentang Kebijakan Dasar
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas);
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas);
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1674/MENKES/SK/XII/2005/ tentang Pedoman
Jejaring Pelayanan Laboratorium;peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 150/MENKES/PER/X/2010 tentang
Jenis Penyakit tertentu yang Dapat Menimbulkan
Wabah dan Upaya Penanggulangannya;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
657/MENKES/PER/VIII/2009 tentang Pengiriman
Penggunaan Spesimen Klinik, Materi Biologik dan
Muatan Informasinya;
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 37 tahun 2012
tentang Penyelenggaraan Laboaratorium Puskesmas;
11. Peraturan Walikota Nomor 21 Tahun 2009 tentang
Susunan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana
Teknis Dinas (UPTD) pada Dinas Kesehatan Kota
Langsa.
12. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 37 tahun 2012
tentang penyelenggaraan laboratorium puskesmas

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
KESATU : Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Langsa Kota tentang
Kebijakan Pelayanan Laboratorium UPTD Puskesmas Langsa
Kota sebagaimana terlampir.
KEDUA : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkannya
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Di tetapkan di Langsa
Pada Tanggal 07 Mei 2018
KEPALA UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA

MUHAMMAD YUSUF AKBAR


LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA UPTD
PUSKESMAS LANGSA KOTA
NOMOR : 3274/SK-PL/V/2018
TENTANG : PELAYANAN
LABORATORIUM UPTD
PUSKESMAS LANGSA
KOTA

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Puskesmas adalah tingat pelayanan pertama yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Puskesmas Langsa Kota adalah salah satu dari Dinas Kesehatan Kota Langsa
dengan wilayah kerja yang mencakup 10 desa yang ada di Kecamatan Langsa
Kota.

Unit Pelayanan Medis di Puskesmas Langsa Kota dilengkapi dengan


Laboratorium Klinik yang dilengkapi dengan Alat yang canggih. Guna
menunjang keakuratan hasil maka Laboratorium rutin melakukan
perawatan alat. Hal ini tentunya akan menjamin hasil pemeriksaan yang
akurat dan terpercaya guna menjamin tepatnya diagnosa penyakit. Tidak
ketinggalan Laboratorium Puskesmas Langsa Kota melakukan Pemantapan
Mutu External (PME) dan Pemantapan Mutu Internal (PMI).

Dalam melaksanakan pelayanan Laboratorium di Puskesmas, supaya


dapat berjalan dengan baik dan dapat memenuhi kebutuhan pasien maka
Puskesmas Langsa Kota menyusun Pedoman Pelayanan Laboratorium
Puskesmas Langsa Kota.

B. TUJUAN
1. TUJUAN UMUM
Terlaksananya pelayanan Laboratorium yang bermutu di Puskesmas
Langsa Kota.

2. TUJUAN KHUSUS
Sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam melaksanakan
pelayanan berdasarkan hasil Pemeriksaan Laboratorium yang akurat
di Puskesmas Langsa Kota.
C. SASARAN
Pedoman ini disusun untuk digunakan bagi para pihak terkait, yaitu :
Tenaga Pelaksana di Puskesmas Langsa Kota.

D. RUANG LINGKUP PELAYANAN


Pelayanan poli umum di Puskesmas Langsa Kota secara garis besar
meliputi empat kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat promotif, prefentif,
kuratif dan rehabilitative. Untuk menunjang hal tersebut maka Pelayanan
Laboratorium sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosa penyakit.

E. BATASAN OPERASIONAL
Laboratorium puskesmas Langsa Kota beroprasi setiap hari kerja mulai
pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB, untuk hari senin hingga kamis
dan untuk hari jumat hingga pukul 11.30 WIB.
Jenis – jenis pemeriksaan Laboratorium Di UPTD Puskesmas Langsa
Kota :
1. Pemeriksaan Haematologi
- Haemoglobin
- Hitung Eritrosit
- Hitung Leucosit
- Hitung Trombosit
- Hematokrit
- Golongan Darah A / B / O
2. Kimia Darah
- Glucosa Puasa
- Glucosa 2 Jam PP
- Glucosa Sewaktu
- Cholesterol Asam Urat
3. Serologi
- HIV
4. Preparat Mikrobiologi
- Preparat BTA ( SPS )
F. LANDASAN HUKUM
1. UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN;
2. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75
TAHUN 2015 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT (
PUSKESMAS );
3. PERATURAN MENTRI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37
TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN LABORATORIUM PUSAT
KESEHATAN MASYARAKAT;
4. PERATURAN PEMERINTAH NO 85 TAHUN 1999 TENTANG
PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN;
5. KEPUTUSAN KEPALA BAPEDAL NO 03 TAHUN 1998 TENTANG
PROGRAM KEMITRAAN DALAM PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA
DAN BERACUN;
6. PEDOMAN PRAKTEK LABORATORIUM YANG BENAR, DEPKES RI
TAHUN 2004;
7. PEDOMAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
LABORATORIUM KESEHATAN, DEPKES RI TAHUN 2003;
8. BUKU WORKSHOP PLEBOTOMI BAGI PETUGAS
LABORATORIUM DI PUSKESMAS, DINKES PROPINSI TAHUN
2009;
9. BUKU MANUAL ALAT POCH-100I SYSMEX;
10. PETUNJUK PRAKTIKUM LABORATORIUM, GANDHASOEBRATA TAHUN
1984
11. PETUNJUK PEMERIKSAAN LABORATORIUM PUSKESMAS, DEPKES RI
TAHUN 1991;
12. MODUL PELATIHAN PROGRAM P2 KUSTA, SUBDIREKTORAT KUSTA
DAN FRAMBUSIA;
13. PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS, DEPKES
RI TAHUN 2005;
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Untuk dapat melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan
pelayanan Laboratorium di Puskesmas, dibutuhkan sumber daya manusia
yang mencukupi baik jumlah maupun mutunya. Pola ketenagaan minimal
harus dimiliki oleh Puskesmas. Adapun tenaga di laboratorium Puskesmas
Langsa Kota sebagai berikut :

NO JENIS TENAGA KUALIFIKASI JUMLAH


Penanggung jawab Dokter 1
Tenaga Teknis Analis Kesehatan (DIII) 2
Tenaga non Teknis Minimal SMU/Sederajat 0
Ketentuan lainnya:

1. Penambahan tenaga pelaksana tergantung dari beban kerja


laboratorium.
2. Penanggung jawab Laboratorium Puskesmas adalah
dokter Puskesmas/kepala Puskesmas.
3. Tenaga teknis dianjurkan jangan merangkap tugas lain.
4. Setiap petugas laboratorium harus mempunyai uraian tugas yang
tertulis dan diketahui oleh kepala Puskesmas.

Penanggung jawab Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan


tanggung jawab :

1. Menyusun rencana kerja dan kebijakan teknis laboratorium;

2. Bertanggung jawab terhadap mutu laboratorium, validasi hasil


pemeriksaan laboratorium, mengatasi masalah yang timbul dalam
pelayanan laboratorium;

3. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi kegiatan


laboratorium;
4. Merencanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu.

Untuk pembagian kerja masing masing petugas berdasarkan TUPOKSI


yang sesuai kompetensinya.
1. Penanggung jawab Laboratorium di Puskesmas mempunyai tugas:
a. Menyusun program kerja untuk menunjang keakuratan hasil
dalam hal ini PME, PMI, perawatan alat, Kalibrasi Alat,
Pemenuhan reagent, dll
b. Memonitor setiap pelaksanaan program kerja.
c. Bertanggung jawab terhadap hasil Laboratorium.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Tenaga Medis di Laboratorium bertugas di Ruang Laboratorium dan
ditempat pelayanan lain bila ditugaskan oleh Kepala Puskesmas.
Tenaga teknis Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan
tanggung jawab:
1. Melaksanakan kegiatan teknis operasional laboratorium sesuai
kompetensi dan kewenangan berdasarkan pedoman pelayanan
dan standar prosedur operasional;
2. Melaksanakan kegiatan mutu laboratorium;
3. Melaksanakan kegiatan pencatatan dan pelaporan;
4. Melaksanakan kegiatan kesehatan dan keselamatan
kerja laboratorium;
5. Melakukan konsultasi dengan penanggung jawab laboratorium
atau tenaga kesehatan lain;
6. Menyiapkan bahan rujukan spesimen.

Tenaga non teknis Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan


tanggung jawab:
1. Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan alat dan bahan;
2. Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan pasien;
3. Membantu administrasi.

Dalam rangka penyiapan dan pengembangan ketrampilan tenaga Medis


maka Puskesmas menyelenggarakan aktivitas sebagai berikut:
a. Setiap tenaga medis dan paramedis mempunyai kesempatan yang
sama untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya.
b. Tenaga medis harus memberi masukan pada pimpinannya dalam
menyusun program pengembangan staf.
c. Staf baru mengikuti orientasi untuk mengetahui tugas, fungsi
wewenang dan tanggung jawabnya.
d. Melakukan analisa kebutuhan peningkatan ketrampilan dan
pengetahuan bagi tenaga medis dan para medis.
e. Tenaga medis dan para medis difasilitasi untuk mengikuti program
yang diadakan oleh organisasi profesi dan institusi pengembangan
pendidikan berkelanjutan.
f. Memberikan kesempatan bagi institusi lain untuk melakukan praktik,
magang dan penelitian tentang pelayanan kesehatan di puskesmas.

C. JADWAL KEGIATAN
Pelayanan laboratorium di UPTD Pusesmas Langsa Kota di buka pada
saat hari kerja saja, dari hari SENIN sampai JUM’AT.

JAM PELAYANAN

SENIN – KAMIS pagi : 08.00 – 12.00 WIB


Siang : 14.00 – 16.00 wib

JUM’AT pagi : 08.00 – 11.30 WIB


Siang : 14.00 – 16.00 wib
BAB III
STANDAR FASILITAS

Sarana adalah suatu tempat, fasilitas dan peralatan yang langsung


terkait dengan Pelayanan klinis. Sedangkan prasarana adalah tempat,
fasilitas dan peralatan yang Secara tidak langsung mendukung pelayanan
kesehatan. Dalam upaya mendukung Pelayanan klinik puskesmas
diperlukan sarana dan prasarana yang memadai.
A. DENAH RUANG LABORATORIUM

wastafel

Kamar mandi

Meja Alat

Kulkas reagent
Lemari
Meja Sampling
peralatan

K.
Pasien

Meja
Petugas
Pintu masuk

KETERANGAN :
a. Ruangan kering dan tidak lembab
b. Memiliki ventilasi yang cukup
c. Memiliki cahaya yang cukup
d. Lantai terbuat dari keramik
e. Dinding dicat warna cerah
f. Ruang berAC
B. STANDAR FASILITAS
1. PERLENGKAPAN
a. Meja pemeriksaan
b. Kursi Pasien
c. Wastafel
d. Tempat sampah 2 dibawah meja pemeriksaan
e. Kulkas Reagent
f. Almari

2. PERALATAN
NO JENIS ALAT JUMLAH
1 Setirilisator 1
2 Hematology Analizer 1
3 Meja Pasien 1
4 Fotometer -
5 Mikroskop 2
6 Centrifuge 1
7 Hematokrit Centrifuge -
8 Rotator -
9 Bed Pasien -
10 Komputer -
11. Rak Tabung 1
12 Rak Westergren 1
13 Tabung Westergren 2
14. Tabung Reaksi 1
15 Kaki 3 -
16 Bak Pengecatan 1
17 Bunsen 1
18 Pipet tetes 1
19 Klinipet -
20 Hemositometer 1 set
21 Obyek Glass 5
22 Cover Glass 5
23 Urine Analizer 1
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. LINGKUP KEGIATAN
Upaya Pelayanan Kesehatan Umum di Indonesia dilaksanakan baik oleh
pemerintah maupun swasta. Upaya pelayanan kesehatan umum yang
dilaksanakan oleh pemerintah selama ini mengacu pada pendekatan level of
care (kebijakan WHO) yaitu tindakan Promotif, Preventif, Kuratif dan
Rehabilitatif yang merumuskan pelayanan kesehatan berjenjang untuk
memberikan pelayanan yang menyeluruh dikaitkan dengan sumber daya
yang ada.

B. METODE
ALUR KEGIATAN PEMERIKSAAN

Loket 1. Poliklinik
Pasien 2. Poli KIA/KB
pendaftaran
3. Poli Gigi
4. UGD
5. Rawat Inap

Kembali Ke Pemeriksaan
Poli Labor
Pengirim

Keterangan :
1. Pasien datang dari pendaftaran ( loket ) diterima oleh petugas
poliklinik, Poli Gigi, Poli KIA/KB, Rawat Inap, UGD.
2. Petugas poli mengirim pasien beserta blangko rujukan
Laboratorium
3. Petugas Laboratorium Mengerjakan Pemeriksaan Lab sesuai
Blangko Rujukan Laboratorium.
4. Pasien datang lagi ke Lab untuk mengambil hasil Lab.
5. Pasien kembali lagi ke Poli Pengirim untuk mendapatkan
tindakan selanjutnya.
C. LANGKAH KEGIATAN
1) KEMAMPUAN PELAYANAN
Kemampuan pelayanan Laboratorium Puskesmas Langsa Kota
melakukan pemeriksaan meliputi :
a. Sampling darah.
b. Pemeriksaan Darah Lengkap meliputi Hemoglobin, Leukosit,
Trombosit, Erytrosit, Hematokrit;
c. Pemeriksaan Urine Lengkap;
d. Pemeriksaan Kehamilan;
e. Pemeriksaan Faeces Lengkap;
f. Pemeriksaan BTA Kusta;
g. Pemeriksaan HIV;
h. Pemeriksaan Widal;
i. Pemeriksaan Malaria;
j. Pemeriksaan HBsAg;
k. Pemeriksaan Sputum BTA;
l. Pemeriksaan Kimia Klinik ( Gula Darah, Cholesterol, Asam Urat);
m. Pemeriksaan Golongan Darah;

PERMINTAAN, PEMERIKSAAN PELAYANAN LABORATORIUM


1. Pasien datang ke Puskesmas, keluarga pasien mendaftar di bagian
pendaftaran (loket) sesuai dengan kebutuhan / unit pelayanan yang
dituju.
2. Dokter /paramedis melakukan pemeriksaan kepada pasien. Apabila
pasien memerlukan pemeriksaan laboratorium, dokter/paramedis
menjelaskan kepada pasien bahwa diperlukan pemeriksaan
laboratorium.
3. Bila pasien setuju dilakukan pemeriksaan laboratorium, maka
paramedic menelepon ke instalasi laboratorium untuk pemberitahuan
bahwa ada pasien yang membutuhkan pemeriksaan.
4. Dokter membuat surat pengantar untuk pasien yang memerlukan
pemeriksaan laboratorium.
5. Petugas laboratorium datang ke unit pelayanan melihat surat
pengantar pemeriksaan dari dokter, kemudian melakukan
pengambilan specimen.
6. Petugas laboratorium membawa spesimen yang sudah diambil ke
laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan.
7. Apabila hasil pemeriksaan laboratorium sudah selesai, petugas
laboratorium mengantarkan hasil pemeriksaan ke unit pelayanan.

PENERIMAAN SPESIMEN
1. Setelah dilakukan pengambilan spesimen oleh petugas laboratorium,
hasil specimen dibawa ke laboratorium.
2. Spesimen diterima oleh analis yang bertugas
3. Analis melakukan pemeriksaan terhadap specimen tersebut.

PENGAMBILAN SPESIMEN
A. Pengambilan darah Vena
1. Petugas lab melakukan desinfeksi daerah vena mediana cubiti dengan
kapas alkohol 70 %
2. Petugas lab membiarkan menjadi kering kembali
3. Petugas lab memasang ikatan pembendung diatas fossa cubiti
4. Petugas lab meminta pasien untuk mengepal dan membuka tanganya
beberapa kali agar vena jelas terlihat
5. Petugas lab menusuk diatas vena dengan jarum dengan tangan kanan
sampai menembus lumen vena
6. Petugas lab melepaskan ikatan pembendung
7. Petugas lab mengambil spesimen darah sesuai yang dibutuhkan
8. Petugas lab menaruh kapas diatas jarum
9. Petugas lab mencabut jarum perlahan-lahan
10. Petugas lab meminta pasien untuk menekan bekas tusukan dengan
kapas kering
11. Petugas lab mengalirkan darah dari syringe kedalam tabung yang telah
diisi anti beku darah (EDTA) lewat dinding tabung agar eritrosit tidak
pecah
12. Petugas lab membuang spuit yang habis dipakai ke safety box
13. Petugas lab membuang bungkus spuit ke tempat biasa

B. Pengambilan darah kapiler


1. Petugas lab menyiapkan autoclik yang telah diisi blood lancet yang
baru
2. Petugas lab membersihkan ujung jari atau anak daun telinga
dengan kapas alkohol 70%
3. Petugas lab membiarkan menjadi kering kembali
4. Petugas lab memegang bagian yang akan ditusuk supaya tidak
bergerak
5. Petugas lab menekan sedikit agar rasa nyeri berkurang
6. Petugas lab menusuk dengan cepat memakai autoclik pada jari
tengah dengan arah tegak lurus
7. Petugas lab apabila memakai anak daun telinga tusukan dilakukan
dipinggir bukan disisinya. Tusukan harus cukup dalam.
8. Petugas lab membuang tetesan darah pertama keluar dengan
memakai kapas kering,tetesan darah berikutnya dipakai untuk
pemeriksaan.
9. Petugas lab menekan bekas tusukan dengan kapas kering
10. Petugas lab melepaskan blood lancet dari autoclik
11. Petugas lab membuang blood lancet ke safety Box

C. Pengambilan Sampel Urine


1. Petugas lab melabeli tempat urin
2. Petugas lab memberikan tempat urin kepada pasien
3. Petugas lab memberikan penjelasan pada pasien
4. Petugas lab meninta pada pasien untuk mengambil urin yang
pancar tengah (urin keluar pertama dibuang yang tengah tengah
ditampung dan yang terakhi dibuang )
5. Petugas lab mempersilahkan pasien ke kamar mandi
6. Petugas lab menerima sampel urin

D. Pengambilan sampel feses


1. Petugas lab memberi label identitas pasien ketempat feses
2. Petugas lab memberikan tempat feces kepada pasien
3. Petugas lab memberikan penjelasan kepada Pasien untuk buang air
kecil terlebih dahulu karena feses tidak boleh tercampur urin
4. Petugas lab menginstruksikan kepada pasien untuk buang air besar
langsung ke dalam pot feses (kira 2,5 gr)
5. Petugas lab menginstruksikan kepada pasien untuk menututp pot
dengan rapat
6. Petugas lab menerima sampel feses
E. Pengambilan Sampel sputum
1. Petugas lab memberikan label identitas pasien ke pot sputum
2. Petugas lab memberikan penjelasan pada pasien bagaiman cara
membatukkan sputum yang baik
3. Petugas lab menginstruksikan kepada pasien untuk kumur-kumur
lebih dahulu, tarik nafas 2 - 3 kali, tahan beberapa detik, kemudian
batukan kuat-kuat.
4. Petugas lab menginstruksikan kepada pasien untuk menaruh pot
sputum dekat bibir dan masukan sputum kedalamnya
5. Petugas lab memberikan gambaran bahwa sputum yang baik adalah
yang kental dan jumlahnya cukup 2-3 ml
6. Petugas lab menginstruksikan kepada pasien untuk menutup
wadah sputum dengan rapat Petugas lab menerima sampel dahak

PENYIMPANAN SPESIMEN
1. Petugas lab menyimpan spesimen jika pemeriksaan ditunda atau
dikirim ke laboratorium lain
2. Petugas lab memperhatikan jenis pemeriksaan yang akan diperiksa
3. Petugas lab menyiapkan wadah untuk penyimpanan spesimen
4. Petugas lab menyimpan spesimen yang menggunakan spesimen
plasma atau serum, maka plasma atau serum dipisahkan dulu baru
disimpan
5. Petugas lab memberi bahan pengawet pada spesimen yang diperlukan
misalnya urin atau feces
6. Petugas lab melabeli spesimen nama & tanggal penyimpanan
7. Petugas menyimpan spesimen untuk pemeriksaan klinik 1 minggu
dalam refrigerator
8. Petugas lab menyimpan spesimen untuk pemeriksaan Imunologi 1
minggu dalam refrigerator
9. Petugas lab menyimpan spesimen untuk pemeriksaan Hematologi 2
hari pada suhu kamar
10. Petugas lab menyimpan formulir permintaan lab ditempat tersendiri
Laboratorium Puskesmas diselenggarakan berdasarkan kondisi dan
permasalahan kesehatan masyarakat setempat dengan tetap berprinsip
pada pelayanan secara holistic, komprehensif, dan terpadu dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Setiap
Laboratorium Puskesmas harus diselenggarakan secara baik dengan
memenuhi criteria ketenagaan, sarana, prasarana, perlengkapan dan
peralatan, kegiatan pemeriksaan, kesehatan dan keselamatan kerja, dan
mutu. ( Peratutan Menteri Kesehatan RI Nomor 37 Tahun 2012)
Laboratorium mempunyai peran sebagai penunjang dalam
menegakkan diagnose yang ingin ditegakkan oleh dokter dalam merawat
pasiennya. Selain itu, laboratorium mempunyai peran seperti uji
penyaringsecara laboratories sehat tidaknya seseorang misalnya medical
chek up. Juga berperan sebagai follow up atau pemantauhasil pengobatan.
Serta prognosis suatu penyakit . Sehubungan dengan hal tersebut,
pemeriksaan laboratorium hendaknya dilakukan sesuai dengan standart
pelayanan laboratorium sehingga menghasilkan pemeriksaan yang akurat.
( Workshop Plebotomi Bagi Petugas Lab di Puskesmas, Dinkes Propinsi
Tahun 2009)
Untuk melakukan pemeriksaan laboratorium diperlukan reagent,
standart, bahan control, air, media. Dasar pemilihan bahan laboratorium
pada umumnya harus mempertimbangkan kebutuhan, produksi pabrik
yang telah dikenal, deskripsi lengkap dari bahan atau produk, mempunyai
masa kadaluarsa yang panjang, volume, mudah diperoleh di pasaran,
kelancaran dan kesinambungan pengadaan, pelayanan purna jual. (
Pedoman Praktek Laboratorium Yang Benar, Depkes RI Tahun 2004)
Untuk mendapatkan sampel darah pasien dilakukan dengan cara
pengambilan darah vena dan kapiler. Lokasi vena yang digunakan untuk
tempat penusukan adalah 3 vena utama di lengan yaitu vena cevalika, vena
mediana cubiti, dan vena mediana basilica. Pada umumnya vena mediana
cubiti merupakan pilihan karena terfiksasi baik dan tidak bergerak saat
ditusuk.
Sebelum melakukan pemeriksaan petugas harus menggunakan APD.
APD bertujuan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari
resiko pejanan darah, semua jenis cairan, kulit yang tidak utuh. APD ada
beberapa jenis yaitu sarung tangan, masker, kacamata, penutup kepala,
jas laboratorium, sepatu pelindung. Tidak semua alat pelindung diri
dipakai tergantung tindakan dan kegiatan yang dikerjakan. Pada plebotomi
cukup menggunakan sarung tangan jas laboratorium.
Limbah plebotomi dipilah-pilah ketempat sampah medis (kapas bekas
pakai dan jarum suntik) dan nonmedis pembungkus jarum suntik. Tempat
sampah harus diberi kantong plastic tertutup, dibedakan sampah infeksius
dan non infeksius. Sampah pada kantong diberi label lalu dibakar. (
Workshop Plebotomi Bagi Petugas Lab di Puskesmas, Dinkes Propinsi
Tahun 2009)
Bahwa sebagai upaya pemerintah untuk mencegah dan
menanggulangi pencemaran lingkungan adalah dengan meningkatnya
penataan terhadap ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan
di bidang lingkungan hidup. Dalam rangka penataan terhadap peraturan
perundang-undangan tersebut dapat dilakukan dengan upaya kemitraan
dengan badan usaha penghasil limbah bahan berbahaya dan beracun.
Limbah adalah bahan sisa suatu kegiatan dan atau proses produksi.
Limbah bahan berbahaya dan beracun disingkat B3 adalah setiap
limbah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena
sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat merusak dan atau mencemarkan
lingkungan hidup dan atau membahayakan keselamatan manusia.
Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan
limbah B3 termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. ( Keputusan
Kepala Bapedal No 03 Tahun 1998)
Kegiatan laboratorium kesehatan mempunyai resiko baik yang berasal
dari factor fisik, biologi, kimia, ergonomic, dan psikososial dengan akibat
dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan petugas laboratorium serta
lingkungannya. Untuk itu perlu dilakukan manajemen K3 yang meliputi
identifikasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, melaksanakan
upaya perbaikan. ( Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Laboratorium Kesehatan, Depkes RI Tahun 2003)
Pemantapan mutu laboratorium kesehatan adalah semua kegiatan
yang ditujukan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil
pemeriksaan laboratorium. Pemantapan mutu ada 2 macam yaitu
Pemantapan Mutu Internal dan Pemantapan Mutu Ekternal. Pemantapan
Mutu Internal meliputi persiapan pasien, pengambilan dan pengolahan
spesimen, kalibrasi alat.
Pemantapan Mutu Eksternal adalah kegiatan yang diselenggarakan
secara periodic oleh pihak lain diluar laboratorium yang bersangkutan
untuk memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam
bidang pemeriksaan tertentu. ( Pedoman Laboratorium Yang Benar, Depkes
RI Tahun 2004.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di Puskesmas Langsa Kota
meliputi:
a. Darah lengkap
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan hemoglobin, leukosit,
trombosit, erytrosit, hematokrit, hitung jenis. Ada beberapa cara
pemeriksaan darah lengkap yaitu cara manual dan cara
menggunakan alat auto analyzer. Alat ini menggunakan sampel
darah segar dengan langkah-langkah sebagai berikut. Langkah
pertama menekan tombol WB dilanjutkan dengan menekan
tombol sampel ID. Kemudian menekan tombol enter memasang
tempat sampel, menhomogenkan sampel kemudian sampel
ditaruh di tempat sampel, tutup tempat sampel lalu tekan tombol
RUN ( Buku Manual alat Medonic)
b. Pemeriksaan urin
Jenis urine yang diperlukan ada 2 yaitu urin sewaktu dan urin pagi.
Urine sewaktu adalah urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak
ditentukan sedangkan urin pagi adalah urin yang dikeluarkan
pertama-tama pada pagi hari setelah bangun tidur. Pemeriksaan
urin dapat digunakan untuk pemeriksaan test kehamilan dan
pemeriksaan urin rutin.
Tempat urin harus bermulut lebar tertutup, bersih, kering, dan
diberi label.Volume urin yang ditampung kurang lebih 20 ml.
Pemeriksaan urin meliputi makroskopis dan mikroskopis.
Pemeriksaan makroskopis meliputi warna, kejernihan, berat jenis,
bilirubin, reduksi, protein, keton, urobilinogen. Sedangkan
pemeriksaan mikroskopis berupa pemeriksaan sediment urine
dimana pemeriksaan ini dilakukan dengan melakukan centrifuge
terhadap urin kemudian sediment diperiksa di bawah mikroskop. (
Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas, Departemen
Kesehatan RI Tahun 1991)
c. Pemeriksaan faeces
Pemeriksaan faeces ini bertujuan untuk mengetahui adanya cacing,
telur cacing, parasit, dan lain-lain. Faeces untuk pemeriksaan
sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Untuk pemeriksaanbiasa
dipakai faeces sewaktu, jarang diperlukan faeces 24 jam untuk
pemeriksaa. Wadah harus bermulut lebar bersih dan tidak mudah
pecah. Jika memeriksa faeces pilihlah bagian yang kemungkinan
besar menemui adanya kelainan , umpamanya bagian yang
bercampur dengan lender ataupun darah. Pemeriksaan faeces
meliputi pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis. Makroskopis
meliputi warna, bau, konsistensi, lender, darah. Sedangkan
pemeriksaan mikroskopis menggunakan larutan PZ lalu diamati di
bawah mikroskop.( Petunjuk Praktikum Laboratorium,
Gandhasoebrata Tahun 1984)
d. Pemeriksaan BTA Kusta
Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae yang terutama
menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan
syaraf pusat. Kusta mempunyai masa inkubasi 2-5 tahun, akan
tetapi dapat juga bertahun-tahun. Secara teoritis penularan ini
dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lam dengan
penderita.( Modul Pelatihan Program P2 Kusta, Subdirektorat Kusta
dan Frambusia)
Cara pengambilan sediaan yaitu bagian yang akan diambil
dibersihkan dengan kapas alcohol 70%. Bagian tersebut dijepit
dengan dua jari lalu disayat sepanjang 0,5 cm dan sedalam 2 mm.
Lalu cairan yang keluar dibuat apusan lalu dicat dengan cat Ziehl
Nielsen. Setelah kering diamati di bawah mikroskop. ( Modul
Pelatihan Skean Smear UPT RS. Kusta Kediri).
e. Pemeriksaan HIV
Penyakit HIV di Indonesia semakin lama jumlah penderitanya
semakin meningkat. Untuk itu perlu dilakukan penjaringan di
tingkat Puskesmas seperti para penderita TB dan ibu hamil. Adapun
pemeriksaan HIV menggunakan sampel serum dengan cara
diteteskan pada rapid test sebanyak 10 ul. Kemudian ditambah 4
tetes reagent lalu ditunggu 10-20 menit untuk membaca hasilnya (
Lembar prosedur pada box kemasan reagent)
f. Pemeriksaan BTA Paru
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Sebagian TBC menyerang
paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh yang lain. Cara
penularan TBC adalah melalui percikan atau droplet. Cara
pemeriksaan BTA ini adalah dengan membuat hapusan dahak
dengan ukuran 2x3 cm. Kemudian hapusan ini dicat dengan reagent
Ziehl Nielsen lalu diamati di bawah mikroskop. ( Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI Tahun 2005)
g. Widal
Pemeriksaan widal adalah pemeriksaan laboratorium untuk
mendeteksi adanya penyakit typus. Pemeriksaan ini dilakukan jika
pasien sudah mengalami panas 3-4 hari. Sampel dari pemeriksaan
ini adalah serum atau plasma. Serum diteteskan sebanyak 4 tetes di
tempat terpisah di atas kaca obyek. Kepada masing-masing tetesan
serum ditambah reagent typho O, typhi H, paratyphi A, paratyphi B.
Dilakukan pencampuran lalu digoyangkan dan diamati adanya
aglutinasi di bawah mikroskop.( Petunjuk Praktikum Laboratorium,
Gandhasoebrata Tahun 1984)
h. Pemeriksaan kimia klinik( Gula Darah, Asam Urat, Cholesterol)
Pemeriksaan kimia klinik dilakukan dengan alat stik dengan
menggunakan darah segar. Darah diteteskan pada stik yang telah
disiapkan pada alat. Setelah itu ditunggu beberapa menit kemudian
hasil akan muncul pada layar alat.
i. Malaria
Pemeriksaan malaria adalah pemeriksaan laboratorium untuk
mendeteksi adanya parasit penyebab malaria dalam sediaan darah
tepi. Parasit malaria ada 4 macam yaitu plasmodium falciparum,
plasmodium malariae, plasmodium vivax, plasmodium ovale. Lokasi
pengambilan darah pada orang dewasa adalah pada ujung jari
tengah atau ujung jari manis, seangkan pada orang dewasa dan anak
kecil adalah pada bagian tumit atau ibu jari kaki. Setelah dilakukan
penusukan maka darah diteteskan pada kaca obyek setelah itu
dibuat hapusan. Kemudian setelah kering dilakukan pengecatan
dengan pewarna wright giemsa. Setelah kering diamati di bawah
mikroskop. ( Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas,
Depkes RI Tahun 1991).
j. Golongan Darah
Penetapan golongan darah adalah menentukan jenis aglutinogen
yang ada dalam sel, disamping itu juga dikenal jenis agglutinin yang
ada dalam serum. Darah diteteskan sebanyak 4 tetes pada kaca
obyek di tempat yang berbeda. Kemudian ke masing-masing tetesan
darah ditetesi dengan antisera a, B, AB, dan Anti D. Selanjutnya
dicampur dan digoyang dan diamati adanya aglutinas. ( Petunjuk
Praktikum Laboratorium, Gandhasoebrata Tahun 1984)
Hasil pemeriksaan laboratorium kritis harus disampaikan segera
kepada tenaga kesehatan yang meminta dalam batas waktu paling
lambat satu jam setelah hasil diperoleh dengan acuan sebagai berikut:
a. Untuk pemeriksaan Hematologi nilai kritis:
NAMA TEST KURANG DARI LEBIH DARI
*KIMIA KLINIK*
Gula Darah
1. Sewaktu < 45 mg/dl >170 mg/dl
2. Asam urat < 3 mg/dl >7,0 mg/dl
3. Cholesterol <100 mg/dl >200 mg/dl
*HEMATOLOGI*
4. Hemoglobin < 12 g/dl > 20 g/dl
5. Leukosit < 11.000 /ul > 11.000 /ul
6. Trombosit Dewasa < 150.000/ul
7. Trombosit Anak < 150.000/ul
8. Erytrosit > 60
9. Hematokrit < 20 VOL% VOL%

Lama nya pemeriksaan laboratorium telah di tentukan denga cara


perhitungan per pasien dan rapat kolaborasi dengan tiap poli.( Waktu
penyerahan Hasil Pemeriksaan )

Jenis Waktu Penyampaian


Keterangan
Pemeriksaan Hasil
DL (darah lengkap) 30 menit  Waktu yang dicantumkan
BTA sputum 2 jam sudah siap untuk

Cholesterol 10 menit kerja(sampel sudah


tersedia)
Asam urat 10 menit
 Rata-rata waktu
Urine lengkap 30 menit
pemeriksaan setiap pasien
Widal 30 menit
± 1 jam
Golongan darah 10 menit
 Khusus untuk
Hemoglobin 10 menit pemeriksaan Cyto waktu
Gula darah 10 menit pemeriksaannya adalah
HIV 1 jam maksimal 30 menit
HbsAg 30 menit
Malaria 1 jam
Test kehamilan 10 menit

Saat memberikan hasil pemeriksaan ke pada pasien harus di sertai


dengan nilai normal pemeriksaan.
Nama Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
DL (darah lengkap)
Hemoglobin 12 – 16 gr%
4.500 – 12.000/ul
Leukosit darah
150.000 – 450.000/ul
Trombosit darah
Erytrosit 4 – 5,5 juta/ul darah
Hematokrit 37 – 45
Cholesterol < 200 mg/dl
Asam urat 4 – 7 mg/dl
Gula darah < 150 mg/dl
gula darah puasa <110 mg/dl
gula darah 2jpp <125 mg/dl
Widal Negative (-)
HbsAg Negatife (-)
HIV Non reaktif
Nilai normal tersebut di dapat dari startkit tiap reagen dan juga dari
rapat kolaborasi tiap poli.

Waktu Penyerahan Hasil Pemeriksaan Urgen / Cito


Puskesmas Langsa Kota menetapkan waktu penyerahan hasil
pemeriksaan laboratorium yang bersifat urgen atau cito sebagai berikut
:
NO PEMERIKSAAN WAKTU PENYAMPAIAN L (DIHITUNG DARI
DITERIMA SAMPEL)
1 Kimia Darah Segera setelah hasil selesai, didahulukan dari
pasien yang tidak urgen (cito), maksimal 30
menit
2 Hematologi Segera setelah hasil selesai, didahulukan dari
pasien yang tidak urgen ( cito) , maksimal 30
menit
3 Urinalisa Segera setelah hasil selesai, didahulukan dari
pasien yang tidak urgen (CITO), maksimal 30
menit
4 Malaria Segera setelah hasil selesai ,didahulukan dari
pasien yang tidak urgen (cito) , maksimal 10
menit.
5 BTA Segera setelah hasil selesai , didahulukan dari
pasien yang tidak urgen (cito), maksimal 120
menit
6 Faeces Segera setelah hasil selesai, didahulukan dari
pasien yang tidak urgen, maksimal 15 menit

Jenis Pemeriksaan Beresiko Tinggi


Puskesmas Langsa Kota menetapkan jenis pemeriksaan yang
mempunyai risiko tinggi sebagai berikut :

No Jenis Pemeriksaan Nama Reagen Jenis APD yang di


gunakan
1 Pemeriksaan BTA Cuci tangan
Jas Laboratorium
Masker
Sarung tangan
Alas kaki tertutup

2 Pemeriksaan Cuci tangan


HIV/AIDS
Jas Laboratorium
Masker
Sarung tangan
Alas kaki tertutup

Bahwa semua pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dipuskesmas


Langsa Kota yang berasal dari spesimen meliputi darah,urin ,dahak,
faeses harus diperlakukan sebagai bahan infeksius yang beresiko
tinggi terhadap penularan penyakit dan petugas menggunakan alat
pelindung diri (jas laboratorium,masker,sarung tangan ).
3) PENCATATAN DAN PELAPORAN
1. PENCATATAN
Pencatatan selain untuk pemantauan data juga untuk evaluasi.
Macam-macam pencatatan antara lain :
a. Buku Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
b. Lembar Copy hasil pemeriksaan.
c. Blangko Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
2. PELAPORAN
Pelaporan yang harus disampaikan secara berkala ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota berupa laporan bulanan yang merupakan
hasil rekapitulasi pencatan harian. Laporan triwulan, semesteran dan
tahunan sesuai ketentuan yang berlaku Pelaporan untuk penyakit
tertentu menggunakan formulir baku yang sudah ditentukan oleh
program.
BAB V
LOGISTIK
Kebutuhan logistik untuk pelaksanaan pelayanan Laboratorium
Puskesmas Langsa Kota direncanakan dalam POA, permintaan reagent dan
bahan habis pakai dan lokmin bulanan. Pengadaan logistik berasal dari
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Untuk yang pengadaan yang lewat DKK, Puskesmas setiap tahun
membuat pengajuan logistik yang dibutuhkan. Kemudian Puskesmas tinggal
menunggu logistik datang dari DKK.
Daftar logistik Laboratorium di Puskesmas Langsa Kota.
NO NAMA
1. Stik Gula
2. Stik Asam Urat
3. Stik Cholesterol
4. Reagent Cholesterol
5. Reagent Alat Hematology
Analizer
6. Reagent Golongan Darah
7. Reagent Widal
8. Reagent ZN
9. Rapid Test HIV
10. Rapid Test HbsAg
11. Blood Lancet
12. Spuit Injeksi
13. Kartu Golongan Darah
14. Objek Glass
15. Cover Glass

Penyediaan Logistik
Ketersediaan reagen dilihat dan dipantau setiap 1 bulan sekali.
Penyediaan logistik di Puskesmas Langsa Kota dilakukan di Dinas
Kesehatan Kota Langsa berdasarkan usulan permintaan dari
Puskesmas sacara periodik dengan melihat keadaan buffer stock
masing-masing reagen maupun barang medis habis pakai.. Logistik
yang diperlukan dalam pelayanan pemeriksaan laboratorium di
Puskesmas Langsa Kota terdiri dari :
1. Reagen
Reagen yang diperlukan terdiri dari reagen essensial dan non
essensial. Penyediaan reagen diperhitungkan berdasarkan pada
kebutuhan tiap bulan dengan menetapkan buffer stock sebagai batas
minimal ketersediaan reagen. Perhitungan buffer stock reagen di
Puskesmas langsa Kota dengan ketentuan 10 % dari jumlah
kebutuhan bulanan masing-masing reagen

2. Bahan Medis Habis Pakai


Bahan medis habis pakai yang diperlukan dalam pelayanan
laboratorium adalah sebagai berikut :
 Kapas Alkohol
 Spuit 3 ml
 Tabung EDTA
 Deck glass
 Kaca Obyek
 Spiritus
 Pipet Kapiler

Pelabelan Reagen
Untuk mencegah kesalahan dalam pengambilan reagen pemeriksaan
laboratorium, Puskesmas Langsa Kota melakukan pelabelan reagen
yang ada. Isi Label reagen paling sedikit memuat hal-hal sebagai
berikut :
1. Nama Reagen
2. Tanggal penerimaan reagen
3. Tanggal kedaluwarsa
Penyimpanan
Penyimpanan reagen dilakukan dengan cara :
1. Memisahkan antara reagen kering dan basah.
2. Memisahkan dengan bahan atau barang berbahaya.
3. Menempatkan reagen di lemari pendingin sesuai ketentuan reagen
tersebut.
4. Menempatkan urutan pertama berdasarkan tanggal kedaluwarsa
paling dekat.
Distribusi / Penggunaan
Distribusi atau penggunaan reagen di Puskesmas Langsa Kota
menggunakan prinsip-prinsip :
1. FIFO (First In First Out), yaitu reagen yang pertama diterima, yang
pertama digunakan.
2. FEFO (First Expired Date First Out), yaitu reagen yang lebih cepat
ED maka yang pertama digunakan.
Penanganan reagen kedaluwarsa
Penanganan reagen kedaluwarsa di Puskesmas Langsa Kota dilakukan
dengan cara :
1. Memisahkan reagen kedaluwarsa pada tempat tertentu
2. Melaporkan kepada Kepala Puskesmas
3. Melaporkan sekaligus menyerahkan reagen kedaluwarsa kepada
Kepala Dinas Kesehatan dengan berita acara penyerahan (BAP)

Pemantauan Mutu Eksternal ( PME ) /Eksternal Quality Control


Pemantapan Mutu Eksternal adalah kegiatan yang di selenggarakan
secara periodik oleh pihak lain di luar labortaorium yang bersangkutan
untuk memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam
bidang pemeriksaan tertentu. Penyelenggaraan kegiatan pemantauan
mutu eksternal di laksanakan oleh pihak pemerintah , swasta, atau
internasional
Pemantapan mutu eksternal untuk berbagai bidang pemeriksaan
diselenggarakan pada berbagai tingkatan , yaitu:
1. Tingkat nasional/ tingkat pusat : Kementerian Kesehatan
2. Tingkat regional : BBLK
3. Tingkat Propinsi / wilayah : BBLK / BLK

Audit Internal
Audit internal adalah kegiatan pemantauan kegiatan pelayanan
laboratorium yang dilakukan oleh auditor internal berkait dengan
input, proses, output maupun outcome. Pelaksanaan audit internal
dilakukan secara berkala dan dilaporkan kepada Kepala Puskesmas.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Tujuan dari ditetapkannya sasaran keselamatan pasien adalah untuk


mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti
bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan
bukti serta solusi dari konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan
ini.
Untuk meningkatkan keselamatan pasien perlu dilakukan pengukuran
terhadap sasaran-sasaran keselamatan pasien. Indikator pengukuran sasaran
keselamatan pasien seperti pada tabel berikut ini:

INDIKATOR SASARAN KESELAMATAN


NO PASIEN TARGET
1. Tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien 100%
2. Peningkatan komunikasi efektif 100%
Tidak terjadinya kesalahan prosedur tindakan
3. 100%
medis dan keperawatan
4. Pengurangan terjadinya risiko infeksi di Puskesmas ≥75%

1. Tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien.


Identifikasi pasien yang tepat meliputi tiga detail wajib, yaitu: nama, umur,
nomor rekam medis pasien. Kegiatan identifikasi pasien dilakukan pada saat
pemberian obat, pengambilan spesimen atau pemberian tindakan
2. Peningkatan komunikasi efektif.
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang
dipahami oleh resipien/penerima akan mengurangi kesalahan, dan
menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara
elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami
kesalahan adalah perintah diberikan secara lisan dan yang diberikan
melalui telpon. Komunikasi lain yang mudah terjadi kesalahan adalah
pelaporan kembali hasil pemeriksaan klinis, seperti laboratorium klinis
menelpon unit pelayanan untuk melaporkan hasil pemeriksaan segera/ cito.
3. Tidak terjadi kesalahan prosedur tindakan medis dan keperawatan.
Dalam melaksanakan tindakan medis dan keperawatan, petugas harus
selalu melaksanakannya sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Identifikasi
pasien yang akan mendapatkan tindakan medis dan keperawatan perlu
dilakukan sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pemberian prosedur.
4. Pengurangan terjadinya risiko infeksi di puskesmas
Agar tidak terjadi risiko infeksi, maka semua petugas Puskesmas Langsa
Kota wajib menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan 7
langkah dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Tujuh langkah cuci
tangan pakai sabun (CTPS) harus dilaksanakan pada lima keadaan, yaitu:
a. Sebelum kontak dengan pasien
b. Setelah kontak dengan pasien
c. Sebelum tindakan aseptik
d. Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien
e. Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Untuk keamanan dan kenyamanan bagi petugas paramedic dan petugas


medis dalam memberikan pelayanan kesehatan, terutama untuk mencegah
tertularnya penyakit dimana di puskesmas banyak kasus – kasus penyakit
menular misal; TBC, Kusta, hepatitis, HIV AIDS dan penyakit yang disebabkan
virus lainya. maka petugas dalam melaksanakan pelayanan diwajibkan
memperhatikaan keamanan diri dengan pemakaian Alat Perlindungan Diri (APD)
yaitu menggunakan masker, sarung tangan, jas kerja laboratorium, kacamata
pelindung. Dan selalu melakukan cuci tangan sebelum dan setelah melaksanakan
kegiatan atau pelayanan.

PEMAKAIAN ALAT PERLINDUNGAN DIRI (APD)


Tindakan
Tindakan
JENIS Pemeriksaan SCalling tanpa
Perlakuan
Perlakuan
Sanitasi tangan Ya Ya ya ya
Sarung tangan Ya Ya ya ya
Jas Laboratorium Ya Ya Ya ya
Masker Ya Ya ya ya
pelindung resiko

Sterilisasi Alat:
Mencuci alat dengan sabun yg mengandung anti septic
Penyemprotan/ oles alcohol pada alat yg akan digunak
Sterilisator listrik setiap selesai pelayanan, dan alat2 dari stainless/
metal yg sudah di sterilisasi dibiarkan di dalam sterilisator sampai
besoknya, sehingga pemakaian alat alat sudah siap dipergunakan
esoknya.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan di Laboratorium


perlu diperhatikan keselamatan pasien dengan melakukan identifikasi resiko
terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan.
Upaya pencegahan resiko terhadap pasien harus dilakukan untuk tiap-tiap
kegiatan yang akan dilaksanakan.
Pengendalian mutu pelayanan klinis merupakan kegiatan untuk mencegah
terjadinya masalah terkait pelayanan pengobatan atau mencegah terjadinya
kesalahan pengobatan / medikasi (medication error), yang bertujuan untuk
keselamatan pasien.
Unsur-unsur yang mempengaruhi mutu pelayanan sebagai berikut:
a. Unsur masukan (input), yaitu sumber daya manusia, sarana dan
prasarana, ketersediaan dana, dan Standar Operasional Prosedur.
b. Unsur proses, yaitu tindakan yang dilakukan, komunikasi, dan kerja
sama.
c. Unsur lingkungan, yaitu kebijakan, organisasi, manajemen, budaya,
respon dan tingkat pendidikan masyarakat.

Pengendalian mutu pelayanan klinis terintegrasi dengan program


pengendalian mutu pelayanan klinis Puskesmas yang dilaksanakan secara
berkesinambungan.
Kegiatan pengendalian mutu pelayanan klinis meliputi:
a. Perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan
evaluasi untuk peningkatan mutu standar.
b. Pelaksanaan, yaitu:
1. Monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana
kerja(membandingkan antara capaian dengan rencana kerja)
2. Memberikan umpan balik terhadap hasil capaian.
c. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi yaitu:
1. Melakukan perbaikan kualitas pelayanan standar
2. Meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan.

Monitoring merupakan kegiatan pemantauan selama proses berlangsung


untuk memastikan bahwa aktifitas berlangsung sesuai dengan yang
direncanakan. Monitoring dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis yang
melakukan proses. Aktifitas monitoring perlu direncanakan untuk
mengoptimalkan hasil pemantauan.
Contoh ; monitoring pelayanan pasien, monitoring kinerja tenaga kesehatan.
Sedangkan untuk menilai hasil atau capaian pelaksanaan pelayanan klinis,
dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan terhadap data yang dikumpulkan yang
diperleh melalui metode berdasarkan waktu, cara dan teknik pengambilan data.

Berdasarkan waktu pengambilan data, terdiri atas:


a. Retrospektif
Pengambilan data dilakukan setelah pelayanan
dilaksanakan. Contoh : survey kepuasan pelanggan,
laporan mutasi barang.
b. Prospektif
Pengambilan data dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan pelayanan.
Contoh : waktu pelayanan kesehatan di Puskesmas, sesuai dengan
kebutuhan.
Berdasarkan cara pengambilan data, terdiri atas:
a. Langsung (data primer);
Data diperoleh secara langsung dari sumber informasi oleh
pengambil data. Contoh: survey kepuasan pelanggan terhadap
kualitas pelayanan kilnis
b. Tidak langsung (data sekunder);
Data diperoleh dari sumber informasi yang tidak
langsung Contoh: catatan riwayat penyakit yang
lalu
Cara pengambilan data :
a. Survei
Survei yaitu pengumpulan data dengan menggunakan
kuesioner. Contoh : survey kepuasan pelanggan.
b. Observasi
Observasi yaitu pengamatan langsung aktifitas atau proses dengan
menggunakan ceklist atau perekaman.
Pelaksanaan evaluasi terdiri atas :
a. Audit
Audit merupakan usaha untuk menyempurnakan kualitas pelayanan
dengan pengukuran kinerja bagi yang memberikan pelayanan dengan
menentukan kinerja yang berkaitan dengan standar yang dikehendaki dan
dengan menyempurnakan kinerja tersebut. Oleh karena itu, audit
merupakan alat untuk menilai, mengevaluasi, menyempurnakan
pelayanan klinis secara sistematis. Terdapat 2 macam audit, yaitu:
1. Audit Klinis
Audit Klinis yaitu analisis kritis sistematis terhadap pelayanan klinis,
meliputi prosedur yang digunakan untuk pelayanan, penggunaan
sumber daya, hasil yang didapat dan kualitas hidup pasien. Audit klinis
dikaitkan dengan pengobatan berbasis bukti.
2. Audit Profesional
Audit Profesional yaitu analisis kritis pelayanan klinis oleh seluruh
tenaga medis dan paramedis terkait dengan pencapaian sasaran yang
disepakati, penggunaan sumber daya dan hasil yang diperoleh.
Contoh : audit pelaksanaan system manajemen mutu.
b. Review (pengkajian)
Review (pengkajian) yaitu tinjauan atau kajian terhadap pelaksanaan
pelayanan klinis tanpa dibandingkan dengan standar. Contoh : kajian
penggunaan antibiotika.
BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Laboratorium Puskesmas Langsa Kota ini digunakan


sebagai acuan pelaksanaan pelayanan Laboratorium di Puskesmas Langsa Kota.
Untuk keberhasilan pelaksanaan Pedoman Pelayanan Laboratorium Puskesmas
Langsa Kota diperlukan komitmen dan kerja sama semua pihak.
Hal tersebut akan menjadikan Pelayanan Laboratorium di Puskesmas Langsa
Kota semakin optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh pasien dan
masyarakat.

Ditetapkan Langsa
Pada Tanggal : 07 Mei 2018
KEPALA UPTD PUSKESMAS LANGSA
KOTA

MUHAMMAD YUSUF AKBAR