Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW


melalui Malaikat Jibril secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Al-Quran
merupakan penutup semua kitab yang diturunkan Allah dan diwahyukan kepada
penutup semua Nabi, Al-Qur’an berisi ilmu pengetahuan, hukum- hukum, kisah-
kisah, falsafah, akhlak, peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku dan tata cara
hidup manusia baik sebagai makhluk individual maupun sosial, serta menjadi
petunjuk bagi penghuni langit dan bumi. Kitab suci umat Islam ini diturunkan bukan
hanya untuk satu umat atau satu kurun waktu saja, tetapi untuk seluruh umat manusia
dan berlaku sepanjang masa. Allah mewahyukan Al-Qur’an kepada Nabi
Muhamadad SAW secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun, 2 bulan, 22 hari
dan terbagi Surat Makkiyah dan Madaniyyah yang terdiri dari 30 juz dan 114 surat.
Dari surat yang banyak ini terdapat kisah para Nabi yang sudah pasti kebenaranya.
Al-Qur’an adalah sarana komunikasi Allah kepada umat manusia sehingga setiap
kisah yang ada didalamnya. Di dalam Al-Qur’an, kisah mempunyai beberapa fungsi.
Pertama memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya
kedua agar dijadikan sebagai ‘ibrah (bahan pelajaran) guna memperkokoh iman
kepada Tuhan dan membimbing perbuatan kea arah yang benar. Dalam kajian sastra,
kisah adalah hasil lukisan seorang pengisah atas peristiwa-peristiwa yang dialami
tokoh nyata. Akan tetapi, lukisan tersebut disusun berdasarkan kaidah-kaidah sastra
atau nilai seni dan estetika, sehingga tidak keseluruhan peristiwa dilukiskan, hanya
dibidik pada hal-hal khusus yang memiliki kesan dan daya tarik tersendiri bagi para
pembaca atau pendengarannya. Dalam wacana kesusastraan tujuan kisah adalah
memberi pengrauh kejiwaan kepada orang yang mendengar atau membacanya.

1.2 Rumusan Masalah

Adapaun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini, antara lain:

1. Apa pengertian kisah dalam Al-qur’an?


2. Apa saja macam kisah dalam Al-qur’an?
3. Apa saja faedah kisah dalam Al-qur’an?
4. Bagaimana pengulangan kisah dalam Al-qur’an dan apa hikmanya?
5. Apakah kisah dalam Al-qur’an nyata bukan khayalan?

1
1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari disusunnya makalah ini antara lain:

1. Mengetahui pengertian kisah-kisah dalam Al-qur’an.


2. Mengetahui macam-macam kisah dalam Al-qur’an.
3. Mengetahui faedah kisah-kisah dalam Al-qur’an.
4. Mengetahui pengulangan kisah dalam Al-qu’an dan mengetahui hikmahnya.
5. Mengetahui kisah dalam Al-qur’an nyata bukan khayalan.

2
BAB II

ISI

2.1 Pengertian Kisah dalam Al-qur’an

Menurut bahasa kata Qashash jamak dari Qisah artiknya kisah, cerita,
berita atau keadaan. Sedangkan menurut istilah Qashashul Qur’an ialah kisah-
kisah dalam al-quran yang menceritakan ikhwal umat-umat dahulu dan Nabi-
nabi mereka seperti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa
kini dan masa yang akan datang. Di dalam Al-Qur’an, banyak diceritakan umat-
umat dahulu dan sejarah Nabi/para Rasul serta ihwal negara dan perilaku
bangsa-bangsa kaum dahulu.

Terkadang Al-Qur’an mencaritakan kejadian manusia pertama Nabi Adam


a.s. dan kehidupannya; menerangkan kenikmatan surga dan siksaan neraka di
akhirat, sebagaimana sering menjelaskan tugas dan nam-nama para malaikat dan
keadaan hari kiamat dan sebagainya.

Kisah itu didengarkan oleh bangsa Arab dan pakar-pakar sejarah dari
berbagai bangsa yang lain, dari para ahli kitab, orang-orang Yahudi dan Nasrani
serta orang kafir Quraisy. Bagi orang-orang kafir, cerita-cerita Al-Qur’an
itumenjadi bahan fitnahan dan tertawaan, sedang bagi orang-orang mukmin
menambah keimanan, seperti keterangan ayat 31 surah Al-Muddatstsir:

‫ار اِالَّ َملئِ َكةً َو َما َج َع ْلنَا ِعدَّت َ ُه ْم اِالَّ فِتْنَةً ِللَّ ِذيْنَ َكفَ ُر ْوا‬
ِ َّ‫حب الن‬
َ ‫ص‬ ْ َ ‫َو َما َج َع ْلنَآ ا‬
َ ‫ِل َي ْست َ ْي ِق ِن الَّ ِذيْنَ ا ُ ْوت ُ ْوا ْال ِك‬
‫تب َو َي ْزدَادَالَّ ِذ ْينَ ا َمنُ ْوآاِ ْي َمانًا‬
Artinya: “Dan tiada Kami jadikan penjaga-penjaga neraka itu, melainkan
terdiri dari malaikat. Dan tidak Kami jadikan bilangan mereka itu, melainkan
menjadi fitnah bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi kitab
menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah kuat
imannya.”

Tetapi orang-orang musyrik Quraisy mempermasalahkan kisah-kisah Al-


qur’an itu. Mereka menanyakan dari mana Muhammad mempunyai pengetahuan
sejarah yang begitu luas? Padahal dia hidup di lingkungan bangsa yang tidak
pandai menulis dan membaca. Apakah ada malaikat yang turun mengajari Nabi
Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul? Seolah-olah orang Quraisy
tidak mengenal beliau sebelum menjadi Nabi/Rasul selama 40 tahun lamanya.

Karena itu, sikap mereka dibenarkan dalam Al-qur’an ayat 69 Surah Al-
Mukminun:

َ‫س ْولَ ُه ْم لَهُ ُم ْن ِك ُر ْون‬


ُ ‫ا َ ْم لَ ْم َي ْع ِرفُ ْوا َر‬
3
Artinya: “atau apakah mereka tidak mengenal Rasul mereka, karena itu
lalu mereka mengingkarinya?”

Sebenarnya, orang-orang musyrik Quraisy tersebut sudah mengenal Nabi


sejak kecil. Mereka mengenal Muhammad sebagai orang yang mendapat julukan
al-amin (orang yang terpercaya). Apakah mengherankan kalau kemudian beliau
diajari Allah Dzat Yang Maha Mengetahui, sehingga dalam Al-qur’an banyak
kisah-kisah Nabi yang dahulu.

Allah SWT berfirman dalam ayat 16 surah Yunus:

ُ ‫علَ ْي ُك ْم ِبه فَقَ ْد َل ِبثْتُ ِف ْي ُك ْم‬


َ‫ع ُم ًرا ِم ْن قَ ْب ِله اَفَ ََل ت َ ْع ِقلُ ْون‬ ‫قُ ْل لَ ْوشَآ َء ه‬
َ ُ‫ّللاُ َما تَلَ ْو تُه‬
Artinya: “Katakanlah: Jika Allah menghendaki, niscaya tidak kubacakan
dia kepada kalian dan Allah juga tidak akan memberitahukannya kepada kalian.
Padahal aku telah tinggal kepada kalian beberapa lama sebelumnya. Apakah
kalian tidak memikirkannya.”

2.2 Macam-Macam Kisah dalam Al-qur’an

Kisah-kisah didalam Al-qur’an itu bermacam-macam, ada yang


menceritakan para Nabi dan umat-umat dahulu, dan ada yang mengisahkan
berbagai macam peristiwa dan keadaan, dari masa lampau, masa kini, ataupun
masa yang akan datang.

A. Ditinjau dari Segi Waktu


Ditinjau dari segi waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam
Al-qur’an, maka kisah-kisah dalam Al-qur’an itu ada tiga macam, sebagai
berikut:
a. Kisah hal-hal ghaib pada masa lalu (al-qashashul ghuyub al-
madhiyah)
Yaitu kisah yang menceritakan kejadian-kejadian ghaib yang
sudah tidak bisa ditangkap panca indera, yang terjadinya di masa
lampau. Contohnya seperti kisah-kisah Nabi Nuh, Nabi Musa, dan
kisah Maryam, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat 44
surah Ali Imran:

Artinya: “Yang demikian itu sebagian dari berita-berita ghaib


yang kami wahyukan kepada kamu (Wahai Muhammad), padahal
kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan
anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa diantara mereka
yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir disisi
mereka ketika mereka bersengketa.”

Dan seperti yang diterangkan dalam ayat 49 surah hud:

4
Artinya: “itu adalah diantara berita-berita penting tentang yang
ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak
pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum
ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudaha yang baik adalah
bagi orang yang bertakwa.”

b. Kisah hal-hal ghaib pada masa kini (al-qashashul ghuyub al-


hadhirah).
Yaitu kisah yang menerangkan hal-hal ghaib pada masa sekarang,
(meski sudah ada sejak dulu dan masih akan tetap ada sampai
masa yang akan datang) dan yang menyingkap rahasia orang-
orang munafik.
Contohnya seperti kisah yang menerangkan tentang Allah SWT
dengan segala sifat-sifat-Nya, para malaikat, jin, setan, dan siksaan
neraka, kenikmatan surga, dan sebagainya. Kisah-kisah tersebut
dari dahulu sudah ada, sekarang pun masih ada dan sampai masa
yang akan mendatang pun masih tetap ada. Misalnya, kisah dari
ayat 1 – 6 surah Al-Qari’ah:

Artinya: “Hari kiamat. Apakah kiamat itu? Taukah kamu hari


kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang
beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu-bulu yang
dihambur-hamburkan.”

Dan seperti dalam ayat 1 – 9 surah An-Nazi’at:


Artinya: “demi (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan
keras. Dan (malaikat-malaikat) mencabut (nyawa) dengan lemah
lembut. Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan
(dunia). (Sesungguhnya kamu kaan dibangkitkan) pada hari
tiupan pertama yang menggoncangkan alam. Diiringinya dengan
tiupan berikutnya. Hati manusia pada saat itu sangat takut.
Pandangan tunduk.”

contoh yang menerangkan kaum munafik, seperti dalam ayat 107


surah At-Taubah:

Artinya: “Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-


orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan
(pada oarang-orang mukmin) dan karena kekafiran(nya), dan
untuk memecah belah orang-orang yang telah memerangi Alla
dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah:
“Kami tidak menghendaki selain kebaikan. Dan Allah menjadi
saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam
sumpahnya).”

5
c. Kisah hal-hal ghaib pada masa yang akan datang (al-qashashul
ghuyub al-mustaqbilah)
Yaitu kisah-kisah yang menceritakan peristiwa-peristiwa akan
datang yang belum terjadi pada waktu turunnya Al-qur’an,
kemudian peristiwa tersebut betul-betul terjadi. Karena itu, pada
masa sekarang ini, berarti peristiwa yang dikisahkan itu telah
terjadi.
Contohnya seperti kemenangan bangsa Romawi atas Persia, yang
diternagkan ayat 1 – 4 surat A-Rum. Dan seperti mimpi Nabi
bahwa beliau akan mendapat masuk Masjidil Haram bersama para
sahabat, dalam keadaan sebagian mereka bercukur rambut dan
yang lain tidak. Pada waktu perjanjian Hudaibiyah, Nabi gagak
masuk Mekkah, sehingga diejek orang-orang Yahudi, Nasrani, dan
kaum Munafik, bahwa mimpi Nabi itu tidak terlaksana. Maka
turunlah ayat 27 surah Al-Fath:

Aritnya: “Dan sungguh Allah akan membuktikan kepada Rasul-


Nya tentang kebenaran mimpinya dengan benar, bahwa kalian
akan masuk Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman,
mencukur rambut dan mengguntingnya, sedang kalian tidak
merasa takut.”

Contohnya lain seperti jaminan Allah terhadap keselamatan Nabi


Muhammad SAW dari penganiayaan orang, meski banyak orang
yang mengancam akan membunuhnya. Hal ini seperti ditegaskan
dalam ayat 67 surah Al-Maidah:

Artinya: “wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan


kepadamu dari Tuhanm. Jika tidak kamu kerjakan, berarti kamu
tidak melaksanakan risalah-Nya. Allah akan menjaga kamu dari
(penganiayaan) manusia.”

B. Ditinjau dari Segi Materi


Jika ditinjau dari segi materi yang diceritakan, maka kisah Al-qur’an
itu terbagi menjadi tiga macam, sebagai berikut:
1) Kisah para Nabi, mukjizat mereka, fase-fase dakwah mereka, dan
penentang serta pengikut mereka. Contohnya:
 Kisah Nabi Adam (Q.S. Al-Baqarah 30-39. Al-A’raf 11 dan
lainnya)
 Kisah Nabi Nuh (Q.S. Hud 25-49)
 Kisah Nabi Hud (Q.S. Al-A’raf 65, 72, 50, 58)
 Kisah Nabi Idris (Q.S. Maryam 56-57, Al-Anbiya’ 85-86)

6
 Kisah Nabi Yunus (Q.S. Yunus 98, Al-An’am 86-87)
 Kisah Nabi Luth (Q.S. Hud 69-83)
 Kisah Nabi Salih (Q. S. Al-A’raf 85-93)
 Kisah Nabi Musa (Q. S. Al-Baqarah 49, 61, Al-A’raf 103-
107 dan lainnya)
 Kisah Nabi Harun (Q. S. An-Nisa’ 163)
 Kisah Nabi Daud (Q. S. Saba 10, Al-Anbiya’ 78)
 Kisah Nabi Sulaiman (Q. S. An-Naml 15, 44, Saba 12-14)
 Kisah Nabi Ayyub (Q. S. Al- An’am 34, Al-Anbiya’ 83-84)
 Kisah Nabi Ilyas (Q. S. Al-An’am 85)
 Kisah Nabi Ilyasa (Q.S. Shad 48)
 Kisah Nabi Ibrahim (Q. S Al-Baqarah 124, 132, Al-An’am
74-83)
 Kisah Nabi Ismail (Q. S. Al-An’am 86-87)
 Kisah Nabi Ishaq (Q. S. Al-Baqarah 133-136)
 Kisah Nabi Ya’qub (Q.S. Alb-Baqarah, 132-140)
 Kisah Nabi Yusuf (Q. S. Yusuf 3-102)
 Kisah Nabi Yahya (Q. S. Al-An’am 85)
 Kisah Nabi Zakariya (Q.S. Maryam 2-15)
 Kisah Nabi Isa (Q. S. Al-Maidah 110-120)
 Kisah Nabi Muhammad (Q. S. At-Takwir 22-24, Al-Furqan
4, Abasa 1-10, At-taubah 43-57, dan lainnya)
2) Kisah orang-orang yang belum tentu Nabi dan kelompok-
kelompok menusia tertentu. Contohnya:
 Kisah tentang Lukman (Q. S. Luqman 12-13)
 Kisah tentang Zulkarnain (Q. S. Al-Kahfi 83-98)
 Kisah tentang Ashabul Kahfi (Q. S. Al-Kahfi 9-26)
 Kisah tentang Thalut dan Jalut (Q. S. Al-Baqarah 246-251)
 Kisah tentang Maryam (Q. S. Maryam 16-35)
 Kisah tentang Yajuj Ma’fuz (Q. S. Al-Anbiya’ 95-97)
 Kisah tentang Bangsa Romawi (Q. S. Ar-Rum 2-4) dan
kisah-kisah lainnya.
3) Kisah peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian di zaman
Rasulullah SAW. Contohnya:
 Kisah tentang Ababil (Q. S. Al-Fiil 1-5)
 Kisah tentang hijrahnya Nabi SAW (Q. S. Muhammad 13)
 Kisah tentang perang Badar dan Uhud yang diuraikan
dalam Q. S Al-Imran.
 Kisah tentang perang Hunain dan At-Tabu’ dan lain
sebagainya.

7
2.3 Faedah Kisah-Kisah Al-qur’an

Adanya beberapa kisah dalam Al-qur’an membeawa banyak faedah, yang


penting diantaranya sebagai berikut:

a) Menjelaskan prisnsip dakwah kepada agama Allah dan keterangan


pokok-pokok syariat yang dibawa oleh masing-masing Nabi/Rasul.
Contohnya seperti keterangan ayat 25 surah Al-Anbiya:
ُ ‫س ْلنَا ِم ْن قَ ْب ِل َك ِم ْن َر‬
‫س ْو ِل ا َِّال نُ ْو ِح ْي اِلَ ْي ِه اَنَّهث آل اِلَهَ اِالَّ اَنَا فَا‬ َ ‫َو َما ا َ ْر‬
‫ْعبُد ُْو ِن‬
Artinya: “Dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu,
melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan
kecuali Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

b) Mantapkan hati Rasulullah dan umatnya serta memperkuat keyakinan


kaum mukmin terhadap kemenangan yang benar dan kehancuran yang
fatal. Contohnya seperti penjelasan ayat 120 surah Hud:
‫س ِل َمانُثَ ِبهتُ ِبه فُ َؤادَ َك َو َجا َء َك ِفى ه ِذ ِه‬
ُ ‫الرث‬‫ع َلي َْك ِم ْن ا َ ْن َبا ِء ه‬ َ ‫ص‬ ُّ ٌ‫َو ُك ُّل نَق‬
َ‫ظةُ َو ِذ ْك َرى ِل ْل ُمؤْ ِم ِنيْن‬
َ ‫ْال َح ُّق َو َم ْو ِع‬
Artinya: “Dan semua kisah Rasul-rasul yang Kami ceritakan
kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya dapat Kami teguhkan
hatimu, dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta
pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

c) Mengoreksi pwndapat para ahli kitab yang suka menyembunyikan


keterangan dan petunjuk-petunjuk kitab sucinya dan membantahnya
dengan argumentasi-argumentasi yang terdapat pada kitab-kitab
sucinya sebelum diubah dan diganti oleh mereka sendiri. Contohnya
seperti keterangan ayat 93 surah Ali Imran:

Artinya: “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil, melainkan


makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri
sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “Jika kamu mengatakan ada
makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat, maka bawalah
Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang benar.”

d) Lebih meresapkan pendengaran dan memantapkan keyakinan dalam


jiwa para pendengarnya, karena kisah-kisah itu merupakan salah satu
dari bentuk peradaban. Contohnya seperti penjelasan ayat 111 surah
Yusuf.

Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat


pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-qur’an itu

8
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala
sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

e) Untuk memperlihatkan kemukjizatan Al-qur’an dan kebenaran


Rasulullah didalam dakwah dan pemberitaannya mengenai umat-umat
yang dahulu ataupun keterangan-keterangan beliau yang lain.
Contohnya seperti keterangan ayat 27 surah Al-Fath.

f) Memperlihatkan para Nabi terdahulu dan kitab-kitab sucinya, serta


mengabadikan nama baik dan jasa-jasanya. Contohnya seperti
penjelasan ayat 111 surah Yusuf.

g) Menunjukkan kebenaran Al-qur’an dan kebenaran kisah-kisahnya,


karena segala yang dijelaskan Allah dalam Al-qur’an adalah benar. Hal
ini seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam ayat 13 surah Al-Kahfi.
ِ ‫علَي َْك َنبَأ َ ُه ْم ِب ْال َح ه‬
‫ق‬ ُّ ُ‫ن َْح ُن نَق‬
َ ‫ص‬
Artinya: “Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad)
dengan sebenarnya.”
Dan seperti penjelasan ayat 3 surah Al-Qashash.
ِ ‫سى َوفِ ْر َع ْونَ بِ ْل َح ه‬
َ‫ق ِلقَ ْو ِم يُؤْ ِمنُ ْون‬ َ ‫نَتْلُ ْوا‬
ِ َ‫علضي َْك ِم ْن َنب‬
َ ‫اء ُم ْو‬
Artinya: “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan
Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.”

h) Menanamkan pendidikan akhlaku karimah dan mempraktikannya,


karena keterangan kkisah-kisah yang baik itu dapat meresap dalam hati
nurani dengan mudah dan baik, serta mendidik untuk meneladani yang
baik dan menghindari yang jelek. Contohnya seperti keterangan ayat
111 surah Yunus.

2.4 Pengulangan Sebagian Kisah dan Hikmahnya


Di dalam kitab suci Alquran banyak kisah yang disebutkan berulang-
ulang, bahkan sampai beberapa puluh kali. Ada satu kisah yang disebutkan
sampai 126 kali, seperti kisah Nabi Musa a.s, kisah Nabi Adam disebutkan
dalam Al-Baqarah, Ali-Imran, Al- Maidah, dan lain-lain. Kisah Nabi Ismail,
disebutkan sampai 12 kali, Nabi Daud disebutkan sampai 16 kali, Nabi Ishaq
disebut 17 kali, Nabi Luth disebut 27 kali, Nabi Ibrahim disebut 99 kali, dan
Nabi Musa disebut 126 kali.
Hanya saja pengulangan kisah-kisah itu dalam bentuk kalimat yang
berbeda-beda, kadang-kadang secara singkat, sedang, atau panjang lebar.
Hikmah diulanganya sebagian kisah Alquran itu, sebagai berikut:
a. Menjelaskan ketinggian mutu sastra balaghah Alquran, terbukti bisa
mengungkapkan kisah sampai beberapa kali tetapi dalam ungkapan

9
yang berlainan sehingga tidak membosankan bahkan mengasyikan
penengarnya.
b. Memnuktikan ketinggian Mukjizat Alquran, yakni bisa menjelaskan
satu makna (sati kisah) dalam berbagai bentuk kalimat yang
bermacam-macam. Orang Arab tetap tidak mampu untuk
menandinginya dengan membuat satu surat saja yang seperti Alquran
itu.
c. Untuk lebih memperhatikan kepada pentingnya kisah-kisah Alquran
sehingga perlu disebutkan berulang-ulang sampai beberapa kali, agar
dapat lebih meresap dalam jiwa, dan leih terpatri dalam hati sanubari.
Sebab, cara pengulangan termasuk salah satu teknik memperkuat
peresapan dan salah satu bukti meningkatkan perhatian.
d. Menunjukkan perbedaan dari tiap-tiap kali pengulangan penyebutan
kisah Alquran itu, sehingga menunjukkan banyaknya tujuan
penyebutan kisah sebanyak pengulangannya. Sebab, penyebutan suatu
kisah yang pertama berbeda tujuannya dengan penyebutan yang
kedua, ketiga, dan seterusnya.

2.5 Kisah dalam Alquran Nyata Bukan Khayalan

Kisah dalam Alquran itu benar adanya, dalam arti bukan hasil rekayasa
atau imajinasi belaka yang saat ini sudah banyak ditemukan bukti-bukti yang
relevan dengan kejadian tersebut. Contohnya: kisah Nabi Musa dan pengikutnya
menyeberangi Laut Merah untuk menghindari kejaran dari Fir’aun dan
pasukannya. Atas izin Allah dan mukzijat yang diberikan Allah SWT kepada
Nabi Musa adalah kemampuan untuk membelah Laut Merah sehingga utusan
Allah itu bisa melintasinya bersama para pengikutnya, rombongan Nabi Musa
berhasil menyebrangi laut yang dalam itu dengan berjalan ditengah-tengah air
ombak yang terbuka. Kemudian, air laut kembali menutup dan Fir’aun bersama
pasukannya pun tenggelam ditelan Laut Merah. Kisah itu dengan jelas tertulis
dalam Alquran maupun Alkitab.

Setelah melalui riset komputer yang cukup lama, peneliti di Amerika


Serikat menyimpulkan kisah Laut Merah yang terbelah seakan memberi jalan
bagi Musa itu, bila dilihat dari sisi ilmiah, sangat mungkin terjadi. Angin timur
yang bertiup sepanjang malam bisa mendorong air laut seperti yang dikisahkan
dalam Alquran atau Alkitab.

Menurut simulasi komputer yang mempelajari bagaimana angin


mempengaruhi air, memperlihatkan bahwa angin mampu mendorong air kembali
pada satu titik sehingga seperti membentuk sungai yang membungkuk untuk
menyatu dengan laguna di pesisir. Demikian dilaporkan Pusat Riset Atmosfer
Nasional (NCAR) dan Universitas Colorado. ”Hasil simulasi sangat cocok

10
dengan kisah yang disampaikan dalam Exodus (Keluaran),” ujar Carl Drews dari
NCAR, yang memimpin studi ini.

”Terbelahnya air (laut) dapat dipahami melalui dinamika fluida. Angin


menggerakkan air dengan cara yang sesuai dengan hukum-hukum fisika,
menciptakan lorong bagi perjalanan yang aman dengan air pada kedua sisinya
dan itu memungkinan air untuk tiba-tiba menutup kembali.”

Drews dan rekan-rekannya mempelajari bagaimana badai topan di


Samudera Pasifik dapat menggerakkan dan mempengaruhi air samudra yang
dalam. Para peneliti itu juga menunjuk satu situs di selatan Laut Mediterania
sebagai tempat penyeberangan yang legendaris, dengan model tanah yang
memungkinkan terjadinya air laut membelah.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Kisah-kisah dalam Al-qur’an ialah kisah-kisah dalam al-quran yang


menceritakan ikhwal umat-umat dahulu dan Nabi-nabi mereka seperti
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa yang
akan datang.
2. Macam-macam kisah dalam Al-qur’an dapat ditinjau dari segi waktu dan
segi materi.
3. Banyak faedah yang dapat diambil dari kisah-kisah dalam Al-qur’an,
diantaranya, menjelaskan prisnsip dakwah kepada agama Allah dan
keterangan pokok-pokok syariat yang dibawa oleh masing-masing
Nabi/Rasul dan menanamkan pendidikan akhlaku karimah dan
mempraktikannya, karena keterangan kkisah-kisah yang baik itu dapat
meresap dalam hati nurani dengan mudah dan baik, serta mendidik untuk
meneladani yang baik dan menghindari yang jelek.
4. Hikamh pengulangan kisah dalam Al-qur’an anatara lain, membuktikan
ketinggian Mukjizat Alquran, yakni bisa menjelaskan satu makna (sati kisah)
dalam berbagai bentuk kalimat yang bermacam-macam dan untuk lebih
memperhatikan kepada pentingnya kisah-kisah Alquran sehingga perlu
disebutkan berulang-ulang sampai beberapa kali, agar dapat lebih meresap
dalam jiwa, dan leih terpatri dalam hati sanubari.
5. Kisah dalam Al-quran itu benar adanya, dalam arti bukan hasil rekayasa atau
imajinasi belaka yang saat ini sudah banyak ditemukan bukti-bukti yang
relevan dengan kejadian tersebut.

3.2 Saran

Adapun saran yang dapat kami berikan untuk penyusunan makalah dengan tema
ini selanjutnya, antara lain:

1. Sebaiknya penulis lebih memperdalam lagi materi yang berkaitan dengan


kisah dalam Al-qur’an itu nyata bukan khayalan, dengan mengumpulkan
bukti-bukti yang valid dan tidak mengait-ngaitkan suatu peristiwa yang
terjadi dengan kisah-kisah dalam Al-qur’an tanpa adanya bukti yang konkrit.
2. Penulis lebih banyak membaca literatur untuk mendukung penulisan
makalah berikutnya yang lebih baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Madyan, Shams Ahmad. 2008. Peta Pembelajaran Al-quran. Yogyakarta. Pustaka


Pelajar

Syadali, Ahmad dkk. 1997. Ulumul Quran II. Bandung. CV Pustaka Setia

13