Anda di halaman 1dari 20

SEDIAAN SIRUP BROMHEXINE

Kelompok 4A

Hidayatul Karimah 11171020000007

Ilmi Nurul Azkia 11171020000008

Feby Dita Aprilia 11171020000019

Nurul Aisyah 11171020000022

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

APRIL/2019

1
PENDAHULUAN

Bromhexine adalah mukolitik yang digunakan dalam pengobatan gangguan


pernapasan yang terkait dengan batuk berdahak. Bromhexine biasa diberikan secara
oral dalam dosis 8-16 mg hidroklorida tiga kali sehari. Bromhexine cepat diserap
dari saluran pencernaan; konsentrasi plasma puncak terjadi setelah sekitar 1 jam.
bromhexine memiliki efek samping antara lain, sakit kepala, pusing, berkeringat,
dan ruam pada kulit.
Sediaan bromhexien biasa dibuat dalam bentuk sediaan sirup atau eliksir.
Sirup adalah larutan dalam air dan gula atau pengganti gula yang kental, dengan
atau tanpa penambahan flavoring agent atau obat. Selain mudah dalam
penggunaannya, sirup juga mempunyai rasa yang manis dan aroma yang harum
serta warna yang menarik sehingga disukai oleh berbagai kalangan, terutama anak-
anak dan orang yang susah menelan obat dalam bentuk sediaan oral lainnya. Sirup
didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan
lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. Berdasarkan
fungsinya, sirup dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu medicated syrup (sirup
obat) dan flavored syrup (sirup korigen atau pembawa). Medicated syrup
merupakan sirup yang mengandung satu atau lebih bahan obat. sedangkan flavored
syrup biasanya tidak digunakan untuk tujuan medis, namun mengandung berbagai
bahan aromatis atau rasa yang enak dan digunakan sebagai larutan pembawa atau
pemberi rasa pada berbagai sediaan farmasi lainnya, misalnya sirupus simpleks.
Komponen sirup diantaranya adalah pemanis, pengawet antimikroba,
perasa, pengaroma, dan pewarna. Pemanis berfungsi untuk memperbaiki rasa dari
sediaan dan pengawet antimikroba digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam
penyimpanan agar dapat bertaha n lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba
atau jamur. Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau
bahan-bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup mempunyai rasa yang
enak. Karena sirup adalah sediaan cair, maka pemberi rasa harus mempunyai
kelarutan dalam air yang cukup. Kemudian pengaroma harus sesuai dengan rasa
sediaan sirup serta pemilihan warna biasanya dibuat konsisten dengan rasa.

2
I. TINJAUAN BAHAN AKTIF
a. Bromheksin HCl (FI V, hal.254)
Nama kimia N-(2-Amino-3,5-dibromobenzil)-N-
metilsikloheksanmin hidroklorida
Rumus kimia C14H20Br2N2.HCl
Struktur kimia

BM 412,6
Pemerian Sebuk hablur; putih atau hampir putih
Kelarutan Sangat sukar larut dalam air; sukar larut dalam
etanol dan dalam metilen klorida
Penyimpanan Terlindung cahaya
Kegunaan Zat aktif (mukolitik atau obat saluran pernafasan)
Kegunaan Bahan aktif (ekspektoran)
Stabilitas
Inkompatibilitas

b. Alasan pemilihan bahan aktif

Indikasi: Bromheksin adalah mukolitik yang digunakan obat dalam gangguan


pernapasan yang terkit batuk berdahak. Bromheksin biasanya diberikan
secara oral dalam dosis 8-16 hidroklorida 3 kali sehari. Hal ini juga telah
diberikan suntikan intravena dalam intramuscular atau lambat atau dihirup
sebaga solusi aerosol (Sweetman, 2009; 1552)

Mekanisme: derivate sikloheksil ini berkhasiat mukolitis dalam dosis tinggi.


Viskositas dahak dikurangi dengan jalan depolimerisasi serat-serat
mukopolisakaridanya. Bila digunakan per inhalasi sudah tampak setelah 20

3
menit sedangkan per oral baru setelah beberapa hari dengan berkurangnya
rangsangan batuk . (Tjay dan Rahardja, 2013: 664)

Farmakokinetik: Bromheksin HCL dengan cepat diserap dalam saluran


pencernaan. Konsentrasi plasma puncak tejadi setelah sekitar 1 jam.
Bromheksin megalami metabolism elintas pertama yang ekstensif dihati:
bioavailabilitas oral yang dinyatakan menjadi sekitar 20%. Hal ini
didistribusikan ke jaringan tubuh. Sekitar 85-90 % dari dosis diekskresikan
dalam urin terutama sebagai metabolit. Bromheksin memiliki paruh eliminasi
terminal dari 13-40 jam. Bromheksin melintasi penghalang darh tak dan
sejumlah kecil melewati plasenta. (Sweetman: 2009, 1552)

Efek Samping: efek samping gastrointestinal dapat terjadi kadang-kadng.


Efek lain dilaporkan merugikan antara lain sakit kepala, pusing, berkeringat
dan ruam apada kulit. Menghirup bromheksin kadang-kadang mengahsilkan
batuk atau bronkus plasme. Pada subjek rentan (Sweetman 2009, 1552).

II. PERHITUNGAN DOSIS

Menurut farmakologi dan terapi,dosis untuk bromheksin yaitu oral 4-8 mg, 3 kali
sehari.

- Dosis dewasa dan anak-anak > 10 tahun : 10 ml, 3 kali sehari


- Dosis anak 5-10 tahun : 5 ml, 3 kali sehari
- Dosis anak 2-5 tahun : 5 ml, 2 kali sehari

III. TINJAUAN BAHAN TAMBAHAN


A. Pemanis

A.1. Sorbitol (FI V, hal.1210; British Pharmacopeia I, hal.1331)

Nama kimia D-glusitol


Rumus kimia C6H14O6

4
Struktur kimia

BM 182,17
Titik Lebur 110-112 c
Pemerian Jernih, tidak berwarna, cairan seperti sirup, dapat
bercampur dengan air, gliserol 85%, dan dengan
propilen glikol; larut dalamm alkohol
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam
etanol, metanol, dan asam asetat
Inkompatibilitas Akan membentuk larutan seperti air ketika
dikombinasikan dengan ion logam dalam keadaan
asam,alkalin, direaksikan juga dengan besi oksida
akan hancur.
Fungsi Pemanis dan anti-caplocking

A.2. Gliserin (FI V, hal.507; HOPE, hal.301)


Rumus kimia C3H8O3
Struktur kimia

BM 92,09
Pemerian Cairan jernih seperti sirup; tidak berwarna; rasa
manis; hanya boleh berbau khas lemah;
higroskopis, netral terhadap lakmus.
Kelarutan Dapat bercampur dengan air dan etanol; tidak arut
dalam klroform, eter, minya lemak dan minyak
menguap

5
Stabilitas Gliserin murni tidak rentan terhadap oksidasi
oleh susasana dibawah kndisi penyimpanan
biasa, tetapi terurai pada pemanasan dengan
evolusi akrolein beracun. Dapat mengktistal jika
disimpan pada suhu rendah dan tidak meleleh
sampai dihangatkan 208 c
Inkompatibilitas Dapat meledak jika dicampur dengan oksidator
kuat.
Kegunaan Pelarut campur / kosolven

A.3. Sukrosa (FI V, 1995; HOPE Edisi 6)

Rumus molekul C12 H22O11


BM 342,30
Pka 12,62
Pemerian Hablur putih, atau tidak berwarna, masa hablur,
atau berbentuk kubus, tidak berbau, manis, dan
stabil diudara
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air, lebih muudah larut
dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol,
tidak larut dalam kloroform dan eter.
Stabilitas Kerentanan yang bagus pada suhu ruangan dan
kelembapan sedang, dapat menyerap 1% bau
yang dilepaskan
Inkompatibilitas Serbuk yang terkontaminasi dengan logam berat
dapat menjadi inkomaptibel dengan bahan
penolong seperti asam askorbat.

A.4. Sirupus simpleks (FI III, hal.567)

Rumus kimia C12H22O11


BM 342,30

6
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna
Kelarutan Dalam air (1:0,5) (1:0,2 pada suhu 100oc)
Stabilitas Baik pada suhu kamar dan kelembapan yang
rendah. Sukrosa encer dapat terdekomposisi
dengan keberadaan mikroba.
Inkompatibilitas Dapat terkontaminasi dengan adanya logam berat
yang akan berpengaruh terhadap zat aktif seperti
asam askorbat.

A.5. Na Sakarin

Pemerian Kristal putih, tidak berbau, rasa manis


Kelarutan Larut dalam amil asetat, etil asetat, 1 g terbagi
dalam 290 ml, 25 ml air mendidih
pH 2.0
Massa jenis 0,828 g/cm3

B. Pelarut
B.1 Gliserin (FI V, hal.507; HOPE, hal.301)
Rumus kimia C3H8O3
Struktur kimia

BM 92,09
Pemerian Cairan jernih seperti sirup; tidak berwarna; rasa
manis; hanya boleh berbau khas lemah;
higroskopis, netral terhadap lakmus.
Kelarutan Dapat bercampur dengan air dan etanol; tidak arut
dalam klroform, eter, minya lemak dan minyak
menguap
Stabilitas Gliserin murni tidak rentan terhadap oksidasi
oleh susasana dibawah kndisi penyimpanan

7
biasa, tetapi terurai pada pemanasan dengan
evolusi akrolein beracun. Dapat mengktistal jika
disimpan pada suhu rendah dan tidak meleleh
sampai dihangatkan 208 c
Inkompatibilitas Dapat meledak jika dicampur dengan oksidator
kuat.
Kegunaan Pelarut campur / kosolven

B.2. Propilen Glikol (HOPE, hal. 592)

Rumus molekul C3H8O2


Struktur kimia
BM 76,09
Pemerian Cairan bening tidak berwarna, kental, praktis
tidak berbau, dengan rasa manis, sedikit tajam
meyerupai gliserin
Kelarutan Larut dengan aseton, kloroform, etanol 95%,
gliserin dan air; larut dalam 1 bagian eter; tidak
larut dalam minyak ringan atau tetap, tetapi akan
melarutkan beberapa minyak esensial.
Stabilitas Higroskopis dan disimpan dalam wadah tertutup,
terlindungi dari cahay, ditempat dingin, keirng.
Suhu tinggiakan teroksidasi menjadi asam laktat
propional dehid.
Inkompatibilitas Dengan zat pengoksidasi seperti potasium
permanganat

B.3 Aquadest (FI III, hal.96)

Rumus molekul H2O

8
Struktur kimia

Pemerian Cairan bening tidak berwarna, tidak berbau,


tidak berasa.
Kelarutan Larut pada sebagian pelarut polar
Stabilitas Stabil pada semua bentuk fisiknya
Inkompatibilitas Air dapat bereaksi dengan semua obat-obatan
dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis
pada saat suhu ditinggikan
Kegunaan Pelarut

C. Pengawet
C.1 Natrium Benzoat (FI V, hal.905; HOPE, hal.662-663)
Rumus molekul C7H5NaO2
Struktur kimia

BM 144,11
Ph 8
Pemerian Granul atau serbuk halus putih; tidak berbau;
stabil diudara
Kelarutan Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol
Stabilitas Larutan dapat disterilkan dengan autoklaf
Inkompatibilitas Inkompatibel dengn garam besi, garam kalsium
logam berat
Kegunaan Pengawet

9
C.2 Asam Benzoat (FI III, hal 49)

Pemerian Hablur halus dan ringan, tidak berwarna, tidak


berbau
Kelarutan Larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam
lebih kurang 3 (95%) dalam 8 bagian kloroform
dan dlam 3 bagian eter.
Titik lebur 121- 124
BM 122,12

C.3 Metil Paraben (HOPE Edisi 6, hal.441)

Rumus molekul C8H8O3


BM 152,15
Pemerian Kristal tidak berwarna atau sebuk kristal putih.
Tidak berbau atau hampir tidak berbau dan rasa
sedikit terbakar.
Kelarutan Mudah larut dalam etanol,; agak sukar larut
dalam gliserin; praktis tidak larut dalam minyak
mineral; mudah larut dalam propilen glikol;
sukar dalam air, dan agak sukar dalam air panas.
Stabilitas pH 3-6 stabil (<10% penguraian). Larutan berarir
pada pH kamar atau diatas tnduk pada hidrolisis
cepat (10% atau setelah penyimpanan suhu
kamar).
Inkompatibilitas Surfaktan nonionik seperti polisorbat 80,
bentonit, mg trisilikat, tragakan, natrium alginat.

C.4 Propil Paraben (HOPE Edisi 6, hal.526; FI IV, hal.527)

Rumus molekul C10H12O3


BM 180,20

10
Pemerian Bubuk putih, kristal, tidak berbau, dan tidak
berasa
Kelarutan Pada suhu 20 c bebas larut dalam aseton; larut
dalam 1:1,1 etanol, bebas larut dalam eter, larut
dalam 1:250; pada suhu 15 c.
Stabilitas Kelarutan stabil pada ph 3-6 dalam air
Inkompatibilitas Senyawa surfaktan nonionik, seperti magnesium
trisilikat dan magnesium silikat.

C.5 Natrium Sitrat (HOPE Edisi 6; Dirjen POM; Rowe,2009)

Rumus molekul C6H5NO3O7


BM 294,10
Pemerian Tidak berbau, tidak berwarna, kristal
monosiklik, tau serbuk kristal putih, rasa asin
Kelarutan Mudah larut dalam air, sangat mudah alrut dalam
air panas, praktis tidak larut dalam etanol 95%
Stabilitas Sangat stabil, dapat disterilkan dengan autoklaf
Inkompatibilitas Komaptibel dengan basa pereduksi dan agen
pengoksidasi, kalium dan stromtium garam akan
menyebabkan presipitasi dari sitrat

D. Perasa
D.1 Perasa Strawberry / Strawberry Essence (Rowe, 2009)
Rumus kimia C16H19N3O4S
BM 349,40
Pemerian Dalam larutan memberi rasa dan bau seperti
strawberry dan nanas
Kelarutan Larut dalam 21 bagian etanol 95% dan dalam 80
bagian gliserin, dalam 53 bagian propanol, dalam
28 bagian propilen gliko, dalam 83 bagian air.

11
Bobot jenis 1,49 gram/cm3
Ph 5,3
Inkompatibilitas Konsentrasi larutan dalam wadah terbuat dari
logam mengandung stainless steel, dapat
mengurangi warna pada penimpanan.

D.2. Pasta Anggur

Pemerian Cairan berwarna ungu dan memiliki bau khas


anggur
Kelarutan Mudah larut dalam air
Fungsi Odoris

D.3 Orange Essence / Perasa Jeruk (Martindale)

Pemerian Terbuat dari kulit jeruk yang masih segar yang


diproses secara mekanik yang terkandung
kurang lebuh 90% lemon.
Kelarutan Mudah larut dalam alcohol 90%
Fungsi Flavoring agent

E. Pewarna

E.1 Pewarna Eritrosin (Martindale, hal.427)

Rumus kimia C20H6C4Na2O5.H2O


Struktur kimia

12
Pemerian Serbuk merah atau merah kecoklatan, tidak berbau,
higroskopis
E.2 Sunset Yellow (HOPE Edisi 6, hal.193-194)

Rumus molekul C16H10N2NO2O1S2


BM 452,37
Pemerian Serbuk kuning kemerahan, didalam larutan
memberikan warna orange terang
Kelarutan Suhu 20oc, larut dalam 1:38,5 aseton; larut dalam
1:333 dalam 1:5 air.
Inkompatibilitas Kompatibel dengan asam sitrat, larutan sukrosa,
dan larutan jenuh. Tidak cocok dengan asam
askorbat, gelatin, dan glukosa

E.3 Tartrazin (Martindale, hal.596)

BM 534,356
Rumus molekul C16H9N4Na3O9S2
Pemerian Serbuk kuning jingga
Kelarutan 1 gram dalam 6 ml air, memberikan larutan kuning
emas agak larut dalam etanol, tidak larut dalam
minyak nabati, tidak dipengaruhi oleh asam basa
dalam larutan netral.

E.4 Brilliant Blue (Martindale)

Rumus molekul C37H34N2Na2O9S3


Pemerian Serbuk berwarna ungu perunggu
Kelarutan Larut dalam gliserol, agak larut dalam alkohol
95%.

13
Bahan tambahan terpilih :
A. Pemanis : Sorbitol
Alasan pemilihan sorbitol: dibandingkan dengan sukrosa, penyerapan
sorbitol oleh tubuh, lebih lambat dibaningkan pemanis alternative bagi
penderita diabetes mellitus. Sorbitol diubah menjadi fruktosa ayang akan
dimetabolisme melalui jalur fruktosa 1-fosfat dan jalur tersebut tidak
membutuhkan insulin untuk metabolismnya (Suseno, et al., 2008: 3)
Sorbitol secara luas digunakan dalam sediaan sirup efektif untuk mencegah
kristalisasi disekitar tutup botol.
B. Pelarut : Gliserin
Alasan pemilihan gliserin: pelarut seperti gliserin dapat dicampurakn dengan
air, dan menurunkan tegangan antarmuka. Gliserin dalam sediaan oral dapat
digunakan sebagai pelarut, agen pemanis, pengawet, peningkat kekentalan.
(Encyclopedia of Pharmacetical Tecknology, hal.944). secara luas digunakan
sebagai eksipien dalam berbagai formulasi sediaan farmasi. Ketika digunakan
sebagai eksipien, gliserin biasanya tidak berasosiasi dengan efek samping
apapun, dan umunya disebut bahan nontoksik dan non iritan (HOPE, 2009).
Gliserin dapat juga diguankan sebagai pembsah karena berguna didalam
penggerusan zat yang larut air karena akan memudahkan menembus dan
membasahi partikel.
C. Pengawet : Natrium benzoate
Alasan pemilihan Natrium Benzoat: natrium benzoate diguankan sebagai
antimikroba dalam kosmetik, makanan, dan obat-obatan. Dengan konsentrasi
0,02% - 0,5% pada obat oral, 0,5 % pada parental, dan 0,1-0,5% pada
kosmetik. Natrium benzoate memiliki kelarutan yang lebih besar dibandig
asam benzoate. Larutan natrium bezoat dapat diberikan secara oral, intravena,
atau untuk menetukan fungsi hati. Natrium benzoate memiliki sifat
baktriostatik dan antijamur (Rowe, 2009,. 267)
D. Perasa dan pewarna : Strawberry essence
E. Pewarna: Eritrosin.

14
IV. SPESIFIKASI SEDIAAN
Parameter Spesifikasi yang diinginkan
Bentuk sediaan Sirup 100 ml
Kadar bahan aktif Bromhexine 4 mg/5ml
pH sediaan >4,3
Viskositas Cair, tidak kental
Warna Merah muda
Bau Strawberry
Bentuk Larutan

V. EVALUASI SEDIAAN

15
VI. FORMULA BAKU
Bromhexine hidrocholoride
Gliserin
Sodium benzoate
Flavor
Tartaric Acid
Sorbitol Solution 70% solution
Sodium Hydroxide 10%
Aqueous Solution
Water purified USP
(International Journal of Pharmaceutical Compounding, 2019)

VII. FORMULA TERPILIH


Nama Bahan Kegunaan Formulasi
Bromheksin HCl Zat aktif 4 mg/5ml
Sorbitol Pemanis dan Anti 20 %
caplocking
Gliserin Pelarut campur 5 %
(kosolven)
Natrium Benzoat Pengawet 0,02 %
Perasa strawberry Perasa/ Flavouring qs
agent
Eritrosin Pewarna merah qs
Aquadest Pelarut Ad 100 ml

VIII. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN


No. Bahan Untuk 100 ml Sirup Bromheksin
1. Bromheksin HCl 4/5 X 100 = 80 mg = 0,08 g
2. Sorbitol 20/100 X 100 = 20 g
3. Gliserin 5/100 X 100 = 5 g

16
4. Natrium benzoate 0,02/100 X 100 = 0,02 g
5. Perasa strawberry qs
6. Eritrosin qs
7. Aquadest 100-(0,08+20+5+0,02) = 74,9 ml

IX. BAGAN KERJA

Disiapkan alat dan bahan Botol dikalibrasi 100 ml

Ditambang aquades 20 ml
Ditimbang bromheksin, sorbitol,
dan gliserin ke campuran
dan natrium benzoate .
sebelumnya. Aduk hingga dimasukkan ke gelas beker dan
homogen
diaduk hingga homogen

Ditambah sisa Ditambahkan perisa strawberry


aquades. Aduk hingga dan pewarna secukupnya sampai
homogen warna dan aroma yang diinginkan

Sirup disaring bila


Diberi etiket
diperlukan dan dimasukkan
ke dalam wadah

X. KEMASAN, ETIKET, DAN BROSUR

17
1. Kemasan

2. Etiket

18
3. Brosur

BROMHEXINE
KOMPOSISI

5 ml sirup mengandung :

Bromhexsine hydrochloride 4 mg

CARA KERJA OBAT

Bromhexine adalah suatu sediian dengan bahan aktif bromhexin hypochloride yang merupakan
mukolitik dalam pengobatan gangguan pernafasan yang terkait dengan batuk berdahak.

Bromhexine bekerja dengan mengencerkan sekret pada saluran pernafasan dengan jalan
menghilangkan serat-serat mukoprotein dan mukopolisakarida yang terdapat pada sputum atau
dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan.

Studi klinis menunjukkan bahwa bromhexine memiliki efek sekretolik dan sekretomotor pada
daerah saluran bronkus, yang dapat mempermudah pengeluaran dahak dan batuk.

DOSIS DAN CARA PEMBERIAN

Anak-anak 5 – 10 tahun : 5 ml 3x sehari

INDIKASI

Bekerja sebagai sekretolitik (mukolitik) dan untuk meredakan batuk berdahak dan mempermudah
pengeluaran dahak.

KONTRAINDIKASI

Tidak boleh digunakan pada pasien yang diketahui hipersensitif pada bromhexine dan komponen
lain yang terdapat dalam formulasi ini.

INTERAKSI

Pemberian bersamaan dengan antibiotik (amoksisilin, sefuroksim, eritromisin, doksisiklin) akan


meningkatkan konsentrasi antibiotika.

PERINGATAN DAN PERHATIAN

Hindari penggunaan pada tiga bulan pertama masa kehamilan dan pada masa menyusui.

Hati-hati penggunaan pada penderita tukak lambung.

EFEK SAMPING

Sakit kepala, pusing, berkeringat, dan ruam pada kulit.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan


Republik Indonesia.

Ganiswara, S.G., 2000. Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. 800. Bagian
Farmakologi FKUI, Jakarta.

Loyd V. Allen., 2010. Bromhexine Hydrochloride 0,8-mg/mL Syrup. Edmond:

International Journal of Pharmaceutical Compounding.Inc

Rowe,R.C., dkk., 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition.


London: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association.

Sweetman , S, et al., 2009. Martindale 36 th. London: The Pharmaceutical Press.

Tjay, T.H., dan Rahardja, K., 2002. Obat-obat Penting, Edisi Kelima, 48, 702-703,
Penerbit PT. Elex Media Komputindo Kolempok Gramedia, Jakarta

20