Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

DI RSJP SOEROJO MAGELANG

Nama : Maza Malika

Nim : N520184046

Progam Studi : Profesi Ners

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

TAHUN 2018/2019
1. Pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan
kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu
keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri.
Defisit keperawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa merupakan
defisit perawatan diri yang terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga
kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun (Keliat, 2011).
Menurut Fitria (2009) defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada
seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau
melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti makan, mandi,
berpakaian, dan toileting.

2. Penyebab
Faktor predisposisi dan faktor presipitasi
Penyebab kurang perawatan diri adalah:
a. Faktor predisposisi
1) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu.
2) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
3) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan
diri.
4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.
Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang
dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan
perawatan diri.
Menurut Depkes (2010), faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:
a) Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli
dengan kebersihan dirinya.
b) Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c) Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat
gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes
mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e) Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
f) Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
g) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan
perlu bantuan untuk melakukannya.
3. Manifestasi Klinik
a. Makan
Mengalami ketidakmampuan :
1) Menelan makan
2) Mempersiapkan makan
3) Menangani perkakas
4) Mengunyah makan
5) Menggunakan alat makan, dll
b. Mandi/hygiene
Mengalami ketidakmampuan :
1) Membersihkan badan
2) Mendapatkan alat mandi
3) Mengeringkan tubuh
4) Mendapatkan air
5) Masuk dan keluar kamar mandi
c. Berpakaian/berhias
Mengalami ketidakmampuan :
1) Mengenakan pakaian
2) Bersisir
3) Mengancingkan baju
4) Memakai celana
5) Memakai bedak
d. BAB/BAK (toileting)
Mengalami ketidakmampuan :
1) Mendapatkan jamban dan kamar mandi
2) Duduk atau bangkit dari jamban
3) Membersihkan diri setelah BAB/BAK
4) Menyiram toilet dan kamar mandi

4. Akibat
Akibat dari defisit perawatan diri adalah Gangguan Pemeliharaan Kesehatan.
Gangguan pemelihaaan kesehatan ini bentuknya bisa bermacam-macam, bisa
terjadinya infeksi kulit (scabies, panu, kurap) dan juga gangguan yang lain seperti
gastritis kronis (karena kegagalan dalam makan), penyebaran penyakit orofecal (
karena hiegene bab/bak sembarangan) dan lain-lain.

5. Penatalaksanaan
a. Psikofarmaka
1) Haloperidol (HLP)
2) Trihexyphenidiyl (THP)
3) Chlorpromazine (CPZ)
( Afnuhazi, 2015 )
b. Psikoterapi
1) Terapi perilaku
Terapi perilaku adalah penerapan secara sistematis teknik yang
diambil dari prinsip belajar (pengkondisian dan teori belajar sosial) untuk
membantu orang-orang melakukan tingkah laku yang adaptif (Wilson, 1982:
Yustinus, 2008). Pada umumnya terapi perilaku ditunjukkan untuk dua hal
yaitu pertama mengurangi atau menghilangkan perilaku yang berlebihan
(mengamuk, agresif, dll). Kedua memunculkan perilaku yang masih kurang
yaitu belum bisa bicara, kontak mata yang kurang, kurang mampu
bersosialisasi, dll.
2) Token ekonomi
Token ekonomi adalah bentuk dari reinforsment positif yang
digunakan baik secara individu maupun kelompok pasien di ruangan
psikiatri atau pasien anak-anak (Stuart & Laraia, 2010).
Sistem token ekonomi berdasarkan prinsip reinforsmen secara umum.
Asumsi yang mendasari token ekonomi adalah dimana kunci harapan utama
dalam terapi kesehatan jiwa adalah menginginkan klien dapat berperilaku
atau berperan sesuai dengan harapan sosial atau keadaan sosial
6. Pohon Masalah
Effect Isolasi Sosial: menarik diri

Core Problem Defisit Perawatan Diri: mandi, berdandan

Causa Harga Diri Rendah Kronis

7. Asuhan Keperawatan
a. Data Yang Harus Dikaji
Ds :
- Pasien merasa lemah
- Malas untuk beraktifitas
- Merasa tidak berdaya
Ds :
- Rambut kotor, acak – acakan
- Badan dan pakaian kotor sekaligus mengeluarkan bau yang tidak sedap
- Mulut dan gigi bau
b. Masalah Keperawatan yang Muncul
- Defisit perawatan diri
- Resiko integritas kulit
- Isolasi sosial : menarik diri
c. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri
d. Fokus Intervensi
Tujuan Umum : Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk
memperhatikan kebersihan diri
Intervensi :
1) Strategi Pelaksanaan pada pasien
a) Strategi Pelaksanaan 1 (SP1)
- Bina hubungan saling percaya
- Menjelaskan pentingnya kebersihan diri.
- Menjelaskan cara menjaga kebersihan diri.
- Menbantu klien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri.
- Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
b) Strategi Pelaksanaan 2 (SP2)
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
- Menjelaskan cara berdandan.
- Tindakan melatih klien berdandan/berhias : klien laki-laki harus
dibedakan dengan wanita. Untuk klien laki-laki latihan meliputi:
Berpakaian, menyisir rambut, bercukur. Untuk klien wanita latihan
meliputi: Berpakaian, menyisir rambut, berhias.
- Membantu klien mempraktekkan cara berdandan.
- Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
c) Strategi Pelaksanaan 3 (SP3)
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
- Menjelaskan cara makan yang baik.
- Membantu klien mempraktekkan cara makan yang baik.
- Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan.
d) Strategi Pelaksanaan 4 (SP4)
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
- Menjelaskan cara eliminasi yang baik.
- Membantu klien mempraktekkan cara eliminasi yang baik dan
memasukkan dalam jadwal.
- Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
2) Strategi Pelaksanaan pada keluarga
a) Strategi Pelaksanaan 1 (SP1)
- Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
klien.
- Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala defisit perawatan diri dan
jenis defisit perawatan diri yang dialami klien beserta proses
terjadinya.
- Menjelaskan cara-cara merawat klien defisit perawatan diri.
b) Strategi Pelaksanaan 2 (SP2)
- Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan defisit
perawatan diri.
- Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada klien
defisit perawatan diri.
c) Strategi Pelaksanaan 3 (SP3)
- Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk
minum obat.
- Menjelaskan follow up dan rujukan.
Daftar pustaka

Depkes. 2010. Standar Pedoman Perawatan jiwa


Keliat, B.A. 2011. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Kusumawati, F. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Nurjanah, Intansari S.Kep. 2009. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa.


Yogyakarta : MomediaPerry
Potter. 2009 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta :EGC