Anda di halaman 1dari 7

Kisah Salman al-Farisi dalam Mencari Tuhan dan Kebenaran

Asal Usul Salman Al-Farisi


Salman adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena itulah beliau
disebut dengan al-Farisi. Dari sanalah beliau berasal, tepatnya di sebuah desa bernama Jayy, bagian
dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu beliau dikenal dengan nama aslinya Ruziyah.
Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu Abdillah, masyhur dengan julukan Salman al-
Khair atau Salman bin al-Islam. Ayah beliau adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang
sangat kepada Salman membuat sang Ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis
pingitan. Salman menjalani hari-harinya sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama Majusi.
Awal Mula Salman Al-Farisi Meninggalkan Agama Majusi
Ayah Salman memiliki sebuah ladang yang amat luas. Suatu ketika, dia tersibukkan oleh bangunan
miliknya dan menyuruh Salman pergi ke ladang. Di tengah perjalanan, Salman melewati sebuah
gereja Nasrani. Salman kemudian masuk dan mendapati orang-orang Nasrani yang sedang
beribadah. Rasa kagum meliputi hati Salman. Dari mereka Salman mengetahui bahwa Agama
Nasrani itu berasal dari Syam (Palestina dan Sekitarnya). Salman mengisahkan peristiwa itu dan
mengungkapkan kekagumannya kepada Ayahnya. Kekhawatiran menghinggapi diri sang Ayah.
Karenanya, ayah Salman kemudian membelenggu kedua kaki Salman dan menahannya di rumah.
Inilah Salman, sesuatu telah berkecamuk di dalam hatinya. Saatnya mencari kebenaran yang
selama ini terhalang dari dirinya. Meskipun rintangan pertama justru datang dari ayahnya sendiri.
Hari-hari telah berlalu, tersiar kabar kedatangan rombongan pedagang dari Syam. Kesempatan
yang dinanti-nanti. Ketika urusan mereka telah selesai dan hendak pulang ke
Syam, Salman melepaskan belenggu dari kedua kakinya dan berangkat bersama mereka ke Syam.
Salman dan Agama Nasrani
Sesampainya di Syam, Salman segera mencari tahu tentang orang yang paling utama di antara
pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang uskup yang ada di gereja. Salman
tinggal bersama uskup tersebut dan melayaninya di dalam gereja. Ternyata, uskup itu seorang yang
jelek perangainya. Dia memerintahkan orang-orang agar bersedekah, namun harta sedekah
tersebut disimpannya untuk dirinya sendiri. Tak lama uskup itu pun
mati. Salman memberitahukan perbuatan uskup tersebut kepada orang-orang Nasrani dan
menunjukkan kepada mereka simpanannya berupa tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan
perak. Mereka pun menyalib uskup tersebut dan tidak menguburkannya. Kemudian mereka
menjadikan orang lain sebagai pengganti. Dia adalah seorang yang tekun beribadah dan zuhud
terhadap dunia. Salman sangat mencintainya lebih dari siapapun sebelumnya. Salman tinggal
bersamanya hingga tiba saatnya uskup yang baik tersebut didatangi tanda-tanda kematian.

Inilah Salman, Salman mendatanginya dan meminta wasiat untuk dirinya, kepada siapa ia harus
pergi. Dia pun berpesan, “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mendapati seorang pun yang
berada di atas agama yang aku peluk. Orang-orang telah binasa. Mereka telah mengubah agama
Nasrani dan meninggalkan kebanyakan agama mereka, kecuali seseorang di Maushil (kota Mosul,
Irak). Dia adalah Fulan, ia berada di atas agama yang aku peluk, maka temuilah dia
!. Sepeninggalnya, Salman menemui orang yang disebutkan. Salman tinggal bersamanya dan
mendapatinya sebagai sebaik-baik orang di atas agama temannya. Sampai ketika tanda-tanda
kematian mendatanginya, Salman kembali meminta wasiat untuk dirinya. Senada dengan ucapan
temannya yang terdahulu, lelaki baik ini mewasiatkan kepada Salman untuk menemui seorang
lelaki di Nashibin (kota Nusaybin, Turki). Singkat cerita, Salman mengalami kisah sebagaimana
masa-masa di Maushil. Sampai dia mendapatkan petunjuk untuk menemui seorang di
Ammuriyyah (kota Amorium, Turki) yang berada di atas agama Nasrani. Salman pun menemui
lelaki tersebut dan tinggal bersamanya. Di sana Salman bekerja sampai mempunyai banyak sapi
dan kambing.

Sebagaimana sebelumnya, menjelang kematiannya, lelaki itu pun berpesan, “Wahai anakku, aku
tidak mengetahui ada seorang pun yang berada di atas agama kami yang aku memerintahkanmu
untuk mendatanginya. Tetapi telah dekat masa pengutusan seorang Nabi. Dia diutus dengan
agama Nabi Ibrahim yang muncul dari jazirah Arab, kemudian hijrah ke sebuah negeri di antara
dua tanah yang berbatu hitam, diantaranya ada pohon-pohon kurma (kota Madinah). Lelaki itu
lalu melanjutkan, “Pada orang itu ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi, dia memakan hadiah
dan tidak memakan sedekah. Diantara kedua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau mampu
untuk mendatangi Negeri tersebut, maka lakukanlah ! “Tak lama, lelaki itu pun meninggal.
Masuk Islamnya Salman Al-Farisi
Suatu hari di ‘Ammuriyyah, lewat sekumpulan pedagang dari suku Kalb. Salman meminta mereka
untuk membawanya ke jazirah Arab dengan membayarkan sapi-sapi dan kambing-kambing
milikya. Mereka pun setuju. Namun sesampainya di Wadil Qura, mereka justru
menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak. Tinggallah Salman bersama Yahudi
tersebut. Allah Maha Mengetahui kesungguhan hati Salman. Suatu ketika, anak paman si Yahudi
datang dan membeli Salman darinya. Kemudian dia membawa Salman ke Madinah. Salman bisa
mengetahuinya dengan ciri-ciri yang disebutkan sahabatnya. Sejak saat itu, Salman tinggal di
Madinah. Sementara itu, tiba masanya Allah mengutus Rasul-Nya. Salman tak mengetahui hal ini
sampai ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pada suatu hari, Salman berada di atas pohon
kurma, sementara tuannya sedang duduk. Datanglah anak paman tuannya menceritakan tentang
datangnya seorang dari Mekkah di Quba. Orang-orang mengira bahwa dia seorang Nabi.
Mendengar cerita tersebut Salman gemetar karenanya. Dia berusaha bertanya, namun justru
membuat marah tuannya hingga meninjunya dengan keras.

Tak putus harapan, Salman berusaha mencari tahu tentang jati diri orang yang dikira Nabi
tersebut. Berbekal cirri-ciri yang dia ketahui dari sahabatnya, Salman beberapa kali mendatangi
Rasulullah SAW. Kali pertama, Salman mendatangi beliau SAW dengan membawa sesuatu
sebagai sedekah. Ternyata beliau menyuruh para sahabat memakannya, sementara beliau sendiri
menahan diri darinya. Satu bukti bagi Salman. Kedatangan kedua, Salman kembali membawa
sesuatu. Kali ini dia menghadiahkannya kepada Rasulullah SAW. Beliau SAW lalu memakannya
dan memerintahkan para sahabat untuk makan. Inilah bukti yang kedua bagi Salman. Ketiga
kalinya, Salman mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau sedang mengiringi jenazah seorang
sahabat di pekuburan Baqi’. Beliau SAW mengenakan dua pakaian sejenis
jubah. Salman mengucapkan salam, kemudian berkeliling untuk mencari cap kenabian di bagian
punggung Rasul SAW. Beliau SAW menyadari hal ini, lalu melepaskan selendang dari punggung
beliau. Salman pun bisa melihat tanda kenabian itu. Inilah Salman, seketika itu dia tertelungkup di
hadapan Rasul SAW, lalu mencium beliau dan menangis. Salman akhirnya masuk Islam.
Kesungguhannya dalam mencari kebenaran, mengantarkannya kepada hidayah yang selama ini dia
cari.
Kehidupan Salman Al-Farisi dalam Islam
Hari-hari setelahnya, Salman masih tersibukkan dalam perbudakan, sehingga tidak mengikuti
perang Badar dan Perang Uhud. Dengan bantuan dari Rasulullah SAW, Salman berhasil
membebaskan diri dari perbudakan. Sejak saat itu, Salman tak pernah terluput dari mengikuti
peperangan bersama Rasul SAW, serta peperangan di masa Khulafa’ Rasyidin. Pada peristiwa
perang Khandaq tahun 5 H, Salman menyumbangkan ide yang cemerlang berupa pembuatan parit
besar sebagai strategi pertahanan kaum Muslimin. Dengan cara inilah kota Madinah selamat dari
upaya penyerangan pasukan gabungan Musyrikin Quraisy dan Yahudi saat itu. Sautu ketika
Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi ra. Mereka
menjalani kehidupan di dunia ini dengan kecintaan karena Allah. Hingga mereka berdua
terpisahkan karena menjalani tugas masing-masing. Abu Darda menjadi seorang Qadhi (hakim) di
Damaskus. Adapun Salman, beliau menjadi Gubernur di Madain, Irak . suatu hari Abu Darda
mengirim surat untuk Salman, yang isinya, “Marilah menuju bumi yang suci (Syam)”.
Maka Salman membalas surat tersebut, “Sesungguhnya bumi itu tidak bisa menyucikan diri
seseorang. Hanyalah amalan yang bisa menyucikan seorang hamba.
Akhir kehidupan Salman Al-Farisi
Sebagian ulama menyebutkan adanya ijima (kesepakatan ulama) bahwa umur beliau mencapai 250
tahun, adapun yang menyebutkan lebih dari itu telah terjadi silang pendapat (lihat Al Majmu’
Syarhul Muhadzdzab, Al Bidayah Wan Nihayah). Setelah melalui perjalanan panjangnya, beliau
wafat dan dimakamkan di Madain, Irak pada tahun 36 H. beliau telah meninggalkan banyak
pelajaran berharga bagi kaum Muslimin. Semoga Allah meridhainya.
AMMAR BIN YASIR
(kepatuhan dan ketangguhannya dalam memeluk Islam sebuah teladan yang harus diikuti)

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka membaiatnya di
bawah pohon…(Al-Fath : 18). Ayat ini menurut para mufasir berhubungan para sahabat Nabi yang
memberikan baiatnya kepada Rasulullah. Salah satu dari mereka itu bernama Ammar Bin Yasir.
Ia seorang putra dari Sumayyah yang dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam. Ammar
berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi. Kedua matanya hitam kebiru-biruan. Pundaknya
bidang dan rambutnya lebat.
Ammar bin Yasir adalah anak dari Sumayyah binti Khabbab dan Yasir bin Amir yang merupakan
salah satu dari orang yang terawal dalam memeluk agama Islam atau disebut dengan Assabiqunal
Awwalun. Keluarganya berasal dari Tihanah, suatu daerah di Yaman yang kemudian datang ke
Mekkah untuk mencari saudaranya yang hilang dan kemudian menetap di sana. setelah Ammar
bin Yasir dan keluarga memeluk Islam, kemudian mereka disiksa oleh Abu Jahal untuk
melepaskan Islam. Dalam siksaan itu orang tua Ammar bin Yasir tewas oleh kekejaman
kaum Quraisy. Sementara Ammar selamat setelah diperlihatkan mukjizat oleh Rasulullah yang
mengubah api menjadi dingin. Ia ikut dalam hijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian
hijrah ke Madinah.
Ia masuk Islam ketika berada di Ka`bah tidak sengaja mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang
dibacakan Muhammad SAW. Karena terasa berbeda dengan lantunan syair-syair Arab maka
Ammar menelusurinya. Maka larangan untuk tidak mendekati Muhammad SAW tidak
digubrisnya. Akhirnya Ammar pun sengaja datang ke Darul Arqam. Di depan rumah itu Ammar
kepergok Suhaib bin Sanan.
“Mau apa kau ke sini,” tanya Ammar mendahului. ”Aku mau menemui Muhammad dan ingin
mendengarkan ajaran-ajarannya,” jawab Suhaib singkat. “Aku pun begitu,” ungkap Ammar. Dan
setelah itu mereka masuk dan mendengarkan tausiyah Rasulullah hingga menjelang malam.
Besoknya Ammar datang lagi dan masuk Islam. Ia menghafal ayat-ayat Al-Quran yang
disampaikan Rasulullah SAW. Ia membacanya secara lunak. Hari berikutnya membaca secara
keras dan makin keras hingga terdengar ke luar rumah.
Ammar selain berjasa dalam membangun masjid pertama, Quba, juga ikut berjuang bersama Nabi
dalam perang Badr, Uhud, Khaibar, Khandak dan peperangan lainnya. Ammar bersama
orangtuanya, Sumayyah binti Kahiyyat dan Yasir pernah disiksa oleh Abu Jahal bin Hisyam di
tengah-tengah padang pasir, ramdha. Saat tahu tentang itu, Rasulullah datang dan berkata, “Hai
keluarga Yasir, sabarlah! kalian dijanjikan pahala surga.”
Bahkan mereka diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan agama Islam. Kedua orangtua
Ammar, Yasir dan Sumayah, tetap berpegang teguh memegang Islam dengan berani berujar di
hadapan para musyrikin, “kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya
lagi.” Mendengar itu para musyrikin marah dan akhirnya membunuh keduanya dengan tombak.
Atas tindakan itu, akhirnya Ammar tidak bisa apa-apa selain menuruti kaum musyrikin. Ia
dihadapan para pemuka musyrikin melontarkan cacian dan makiannya kepada Rasulullah dan
langsung menyatakan keluar dari agama Islam. Kejadian itu pun diketahui Nabi. Selang beberapa
hari setelah kejadian itu turunlah ayat kepada Nabi, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah
dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya
tetap beriman (dia tidak berdosa).” (QS An-Nahl :106). Berdasarkan ayat ini umat Islam pada
waktu itu diizinkan untuk melakukan taqiyah dalam rangka menjaga keselamatan. Inilah yang
dilakukan Ammar yang terpaksa mencaci maki Nabi dan menyatakan keluar dari Islam untuk
penyelamatan jiwanya. Dan tindakan taqiyah yang dilakukan Ammar tadi dibenarkan oleh
Nabi, “Kalau mereka kembali menyiksamu lagi, ucapkan cacianmu padaku; Allah akan
mengampunimu dikarenakan kamu terpaksa melakukannya.”
Ada hadis lain yang berkenaan dengan Ammar, yaitu dari Khalid bin Walid yang berkata bahwa
dirinya pernah bertengkar dengan Ammar. Lalu mengadukannya kepada Nabi. Saat itu Rasulullah
SAW langsung berkata, “Hai Khalid, siapa yang memaki-maki Ammar bin Yasir, Allah akan
memaki-maki dia. Barang siapa yang memusuhinya, Allah akan menjadi musuh dia. Barangsiapa
yang merendahkan Ammar, Allah pun akan merendahkan dia.” Inilah pujian yang menyatakan
kedudukan Ammar bin Yasir dihadapan Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian datanglah saat perang Shiffin yang mengerikan itu. Imam Ali menghadapi pekerjaan
penting ini sebagai tugas memadamkan pembangkangan dan pemberontakan. Dan Ammar ikut
bersamanya. Waktu itu usianya telah 93 tahun . Apa dalam usia 93 tahun ia masih pergi ke medan
juang …. ? Benar …,selama menurut keyakinannya peperangan itu menjadi tugas kewajibannya …. !
Bahkan ia melakukannya lebih semangat dan dahsyat dari yang dilakukan oleh orang-orang muda
berusia 30 tahun ….
Tokoh yang pendiam dan jarang bicara ini hampir saja tidak menggerakkan kedua bibirnya,
kecuali mengucapkan kata-kata mohon perlindungan berikut: “Aku berlindung kepada Allah dari
fitnah …. Aku berlindung kepada Allah dari fitnah ….”.
Tak lama setelah Rasulullah wafat, kata-kata ini merupakan doa yang tak putus lekang dari
bibirnya. Dan setiap hari berlalu setiap itu pula ia memperbanyak doa dan mohon
perlindungannya itu …, seolah-olah hatinya yang suci merasakan bahaya mengancam yang semakin
dekat dan menghampiri juga.
Dan tatkala bahaya itu tiba dan fitnah merajalela, Ibnu Sumayyah telah mengerti di mana ia harus
berdiri. Maka di hari perang Shiffin walaupun telah kita katakan usianya telah 93 tahun, ia bangkit
menghunus pedangnya, demi membela kebenaran yang menurut keimanannya harus
dipertahankan.
Pandangan terhadap pertempuran ini telah dimaklumkannya dalam kata-kata sebagai berikut:
“Hai umat manusia! Marilah kita berangkat menuju gerombolan yang mengaku-ngaku hendak
menuntut membela Utsman!
Demi Allah! Maksud mereka bukanlah hendak menuntutkan pembelaannya itu, tetapi sebenarnya
mereka telah merasakan manisnya dunia dan telah ketagihan terhadapnya, dan mereka
mengetahui bahwa kebenaran itu menjadi penghalang bagi pelampiasan nafsu serakah mereka.
Mereka bukan yang berlomba dan tidak termasuk barisan pendahulu memeluk Agama. Islam.
Argumentasi apa sehingga mereka merasa berhak untuk ditaati oleh Kaum Muslimin dan diangkat
sebagai pemimpin, dan tidak pula dijumpai dalam hati mereka perasaan takut kepada Allah, yang
akan mendorong mereka untuk mengikuti kebenaran …. !
Mereka telah menipu orang banyak dengan mengakui hendak menuntutkan bela kematian
Utsman, padahal tujuan mereka yang sesungguhnya ialah hendak menjadi raja dan penguasa
adikara… .!”
Kemudian diambilnya bendera dengan tangannya, lalu dikibarkannya tinggi-tinggi di atas kepala
sambil berseru: “Demi Dzat yang menguasai nyawaku …. ! Saya telah bertempur dengan
mengibarkan bendera ini bersama Rasulullah SAW, dan inilah aku siap berperang pula dengan
mengibarkannya sekarang ini ….. !
Demi nyawa saya berada dalam tangan-Nya ….!Seandainya mereka menggempur dan menyerbu
hingga berhasil mencapai kubu pertahanan kita, saya tahu pasti bahwa kita berada di pihak yang
haq, dan bahwa mereka di pihak yang bathil ….!” Orang-orang mengikuti ‘Ammar, mereka percaya
kebenaran ucapannya.
Berkatalah Abu Abdirrahman Sullami: “Kami ikut serta dengan Ali r.a. di pertempuran Shiffin,
maka saya lihat ‘Ammar bin Yasir r.a. setiap ia menyerbu ke sesuatu jurusan, atau turun ke sesuatu
lembah, para shahabat Rasulullah pun mengikutinya, tak ubahnya ia bagai panji-panji bagi mereka
….!” Dan mengenai, Ammar sendiri, sementara ia menerjang dan menyusup ke medan juang, ia
yakin akan menjadi salah seorang syuhadanya…. Ramalan Rasulullah SAW terang terpampang di
ruang matanya dengan huruf-huruf besar: “Ammar akan dibunuh oleh golongan pendurhaka …’:
Oleh sebab itu suaranya bergema di arena dengan senandung ini: “Hari ini daku akan berjumpa
dengan para kekasih tercinta …. Muhammad dan para shahabatnya …. !”
Kemudian bagai sebuah peluru dahsyat ia menyerbu ke arah Muawiyah dan orang-orang
sekelilingnya dari golongan Bani Umayyah, lalu melepaskan seruannya yang nyaring yang
menggetarkan: “Dulu kami hantam kalian di saat diturunkannya. Kini kami hantam lagi kalian
karena menyelewengkannya Tebasan maut menghentikan niat jahat Dan memisahkan kawanan
pengkhianat Atau al-Haq berjalan kembali pada relnya”
Maksudnya dengan syairnya itu, bahwa para shahabat yang terdahulu dan Ammar termasuk salah
seorang di antara mereka. Dulu telah memerangi golongan Bani Umayyah yang dikepalai oleh
Abu Sufyan ayah Muawiyah pemanggul panji-panji syirik dan pemimpin tentara musyrikin ….
Mereka perangi orang-orang itu karena secara terus terang Al-Quran menitahkannya disebabkan
mereka adalah orang-orang musyrik.
Dan sekarang di bawah pimpinan Muawiyah, walaupun mereka telah menganut Islam dan
meskipun Al-Quranul Karim tidak menitahkan secara tegas memerangi mereka, tetapi menurut
ijtihad Ammar dalam penyelidikannya mengenai kebenaran dan pengertiannya terhadap maksud
dan tujuan Al-Quran, meyakinkan dirinya akan kehausan memerangi mereka, sampai barang haq
yang ditumpas itu kembali kepada pemiliknya, serta api fitnah dan pemberontakan itu dapat
dipadamkan untuk selama-lamanya ….
Juga maksudnya, bahwa dulu mereka memerangi orang-orang Bani Umayyah karena mereka kafir
kepada Agama dan kafir kepada al-Quran …. Dan sekarang mereka menggempur orang-orang itu
karena mereka menyelewengkan agama dan menyimpang dari ajaran Al-Quranul Karim serta
mengacaukan ta’wil dan salah menafsirkannya, dan mencoba hendak menyesuaikan tujuan ayat-
ayatnya dengan kemauan dan keinginan mereka pribadi…. !
Maka tokoh tua yang berusia 93 tahun ini menerjuni akhir perjuangan hidupnya yang menonjol
dengan gagah berani. Dan sebelum ia berangkat ke Rafiqul A’la, ia tanamkan pendidikan terakhir
tentang keteguhan hati membela kebenaran, dan ditinggalkannya sebagai contoh teladan
perjuangannya yang besar dan mulia lagi berkesan dan mendalam ….
Orang-orang dari pihak Muawiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari Ammar, agar pedang
mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga ternyata bagi manusia bahwa merekalah
“golongan pendurhaka”. Tetapi keperwiraan Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan
tentara juga, menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah
Muawiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya, hingga setelah kesempatan itu
terbuka mereka laksanakanlah dan tewaslah Ammar di tangan tentara Muawiyah …… Berita
tewasnya Ammar segera tersebar dan ramalan Rasulullah SAW yang didengar oleh semua
shahabatnya sewaktu mereka sedang membina masjid di Madinah di masa yang telah jauh
sebelumnya, berpindah dari mulut ke mulut: “Aduhai Ibnu Sumayyah …,ia dibunuh oleh golongan
pendurhaka!” Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu …, yaitu
golongan yang membunuh Ammar …, yang tidak lain dari pihak Muawiyah …. !”
Mengenai Muawiyah, demi mendengar peristiwa yang telah terjadi ia segera keluar mendapatkan
orang banyak dan menyatakan kepada mereka bahwa ramalan itu benar adanya, dan Rasulullah
benar-benar telah meramalkan bahwa Ammar akan dibunuh oleh golongan pemberontak ….
Tetapi siapakah yang telah membunuhnya itu? Kepada orang-orang sekeliling diserukannya: “Yang
telah membunuh Ammar ialah orang-orang yang keluar bersama dari rumahnya dan membawanya
pergi berperang ….!” Maka tertipulah dengan ta’wil yang dicari-cari ini orang-orang yang
memendam maksud tertentu dalam hatinya, sementara pertempuran kembali berkobar sampai
saat yang telah ditentukan ….
Adapun Ammar, ia dipangku oleh Imam Ali ke tempat ia menshalatkannya bersama Kaum
Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya! Benar, dengan pakaian yang dilumuri oleh
darahnya yang bersih suci! Karena tidak satu pun dari sutera atau beludru dunia yang layak untuk
menjadi kain kafan bagi seorang syahid mulia, seorang suci utama dari tingkatan Ammar…. !
Dan Kaum Muslimin pun berdiri keheran-heranan di kuburnya …. ! Semenjak beberapa saat yang
lalu Ammar berdendang di depan mereka di atas arena perjuangan …,hatinya penuh dengan
kegembiraan, tak ubah bagai seorang perantau yang merindukan kampung halaman tiba-tiba
dibawa pulang, dan terucaplah dari mulutnya seruan: “Hari ini aku akan berjumpa dengan para
kekasih tercinta …. Dengan Muhammad SAW dan para shahabatnya….!”Apakah ia telah
mengetahui hari yang mereka janjikan akan bertemu dan waktu yang sangat ia tunggu-tunggu? Para
sahabat saling jumpa-menjumpai dan bertanya: “Apakah anda masih ingat waktu sore hari itu di
Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW. …,dan tiba-tiba wajahnya
berseri-seri lalu sabdanya: “Surga telah merindukan Ammar :
“Benar”, ujar yang lain. “dan waktu itu juga disebutnya nama-nama yang lain, di antaranya Ali,
Salman dan Bilal ….”.
Begitulah perjuangan seorang muslim di masa awal Islam. Meskipun penuh cobaan dari kaum
musyrikin, tetapi kepatuhan dan ketangguhannya dalam memeluk Islam betul-betul sebuah teladan
yang harus diikuti umat Islam.