Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “Perubahan makna, fonem, morfem, kata dan frasa” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran
agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah yang menjadi tugas pendidikan agama dengan judul
“Perubahan makna, fonem, morfem, kata dan frasa”. Disamping itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu kamu selama pembuatan makalan ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanlah makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami mengharapkan kritik
dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya dapat kami perbaiki. Karena kami sadar, makalah yang kami buat ini masih
banyak terdapat kekurangannya.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Bahasa berkembang terus sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa.


Telah diketahui bahwa pemakaian bahasa diwujudkan di dalam bentuk kata-kata atau kalimat.
Manusia lah yang menggunakan kata dan kalimat itu dan manusia pula yang menambah kosa
kata yang sesuai dengan kebutuhannya.

Karena pemikiran manusia berkembang, maka pemakaian kata dan kalimat


berkembang pula. Perkembangan tersebut dapat berwujud penambahan atau pengurangan
(fonem dan morfem). Pengurangan yang dimaksud disini, bukan saja pengurangan dengan
kualitas kata, makna, maka berarti ia telah memasuki wilayah kajian makna.

Telah dikemukakan bahwa bahasa berkembang sesuai dengan pemikiran pemakai


bahasa. Karena manusia menggunakan kata-kata dan kalimat dan sejalan dengan itu kata dan
kalimat berubah terus, maka dengan sendirinya maknanya pun berubah. Perubahan terjadi
karena manusia sebagai pemakai bahasa menginginkannya. Pembicara membutuhkan kata,
manusia membutuhkan kalimat untuk berkomunikasi. Ia membutuhkan kata baru. Kadang-
kadang karena belum ditemukan kata baru yang mendukung pemikirannya, maka pembicara
mengubah bentuk kata yang telah ada. Yang penting, yakin apa yang dipikirkan, apa yang
dirasakan, dan apa yang diinginkan tertampung dalam perubahan bahasa.ini memaksa kita
untuk membicarakan perubahan makna.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :

1. Apa hakikat dari perubahan makna?

2. Apa yang dimaksud dengan fonem, morfem, kata dan frasa?

3. Apa saja macam-macam dan jenis fonem, morfem, kata dan frasa?

C. Tujuan
1. Untuk menambah wawasan tentang perubahan makna, fonem, morfem, kata dan frasa.
2. Agar bisa membedakan antara fonem, morfem, kata dan frasa.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis fonem, morfem, kata dan frasa.

D. Manfaat
Makalah ini dibuat guna memberikan informasi kepada kita semua untuk
dapat memahami ilmu semantik tentang aspek perubahan makna, fonem, morfem,
kata dan frasa. Selain itu, juga sebagai salah satu literatur untuk mampu terdepan
dalam pengembangan bahasa indonesia sesuai ejaan yang disempurnakan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERUBAHAN MAKNA

Manusia adalah makhluk yang dinamis. Bahasa sebagai salah satu alat komunikasi
manusia juga pasti bersifat dinamis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Kridalaksana
(Chaer, 2007:53) yang mengatakan bahwa bahasa itu dinamis karena bahasa memiliki
keterikatan dan keterkaitan dengan manusia, serta dalam kehidupannyadi dalam masyarakat
kegiatan manusia selalu berubah sehingga bahasa juga ikut berubah. Jika bahasa bersifat
dinamis, maka bahasa akan mengalami proses perubahan seiring dengan perubahan-
perubahan yang terjadi pada manusia sebagai pemakai bahasa.Perubahan-perubahan bahasa
tersebut tidak terjadi dalam waktu yang singka t(sinkronis) tetapi dalam waktu yang panjang
(diakronis). Salah satu bentuk perubahan dalam bahasa adalah perubahan pada makna bahasanya.
Perubahan makna adalah proses perubahan yang terjadi pada makna sebuah kata karena dipengaruhi
oleh berbagai faktor dalam kurun waktu yang lama. Sebagai contoh dulu kata ‘ Bibi’ hanya
digunakan untuk memanggil/menyebut adik perempuan dari ayah atau ibu kita, tetapi saat ini
kata ‘ Bibi’ digunakan untuk memanggil pembantu rumah tangga atau perempuan yang bekerja
sebagai penjual. Perubahan makna-makna pada suatu bahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor,
baik faktor di luar bahasa maupun dari bahasa itu sendiri. Berdasarkan faktor-faktoryang
memengaruhinya, bentuk/jenis perubahan makna juga beragam. Berikutpenjelasannya
secara rinci.

B. FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN MAKNA

Dalam kurun waktu yang lama, manusia mengalami kehidupan yang dinamis.Begitu
juga dengan bahasa yang mengalami proses dinamisme tersebut. Dalam waktuyang lama, dinamisme tersebut
merubah makna kata yang digunakan manusia sebagaialat komunikasi. Perubahan makna sebuah
bahasa disebabkan oleh banyak faktor.Adapun faktor-faktor yang menyebabkan perubahan
bahasa adalah sebagai berikut.

1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah salah satu faktor luar bahasa
yang memengaruhi perubahan makna sebuah bahasa. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi pada masyarakat pemakai bahasa, makasebuah kata yang tadinya memiliki
konsep makna yang sederhana akan mengalami perubahan makna sehingga menjadi lebih
sempit atau lebih kompleks. Sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan, perubahan
makna terjadi karena adanya pandangan baru atau teori baru dalam suatu bidang ilmu.
Misalnya, kata ‘tangga’ yang berarti “ alat untuk memanjat atau naik ” akan
tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan,maknanya berubah menjadi
“peringkat atau urutan” Contohnya: Penyanyi pendatang baru itu memuncaki tangga lagu minggu
ini. Perubahan makna karena perkembangan teknologi dapat kita lihat pada
kata‘ Menabung (nyelengi)’. Dulu ‘menabung (nyelengi) adalah menyimpan uang (koin)
dalam kaleng yang terdapat lubang kecil. Akan tetapi saat ini menabung tidak hanyaberupa
uang dan dapat dilakukan di bank tidak lagi disimpan di kaleng disebut ‘menabung/
nyelengi’
.

2. Perkembangan Sosial dan Budaya

Perkembangan dan perubahan kehidupan sosial dan kebudayaan dalam sebuah


masyarakat mengubah makna dari sebuah kata. Misalnya kata ‘kakak’ adalah panggilan untuk
saudara kandung ‘laki-laki’ berubah menjadi panggilan untuk semua orang (baik laki-laki
atau perempuan) yang kita anggap sebaya atau untuk tujuan kesopanan/mengakrabkan diri.
Contoh: seorang pramuniaga memanggil pelanggannya yang muda dengan sebutan kakak.

3. Perbedaan Bidang Pemakaian

Pada bidang-bidang kegiatan atau keilmuan tertentu, terdapat kata-kata yang khusus
digunakan untuk menyatakan sebuah konsep tertentu. Kosakata tersebut hanya dikenal dan
digunakan dengan makna tertentu dalam bidang tersebut. Kata-kata pada bidang tertentu
tersebut juga digunakan sehari-hari sebagai kata dalam bidang tersebut dan di bidang
laing lain sebagai kata umum. Berdasarkan bidang pemakaiannya, sebuah kosakata memiliki
makna baru atau makna tambahan di samping makna aslinya. Makna asli yang dimaksud adalah
makna yang berlaku dalam bidangnya. Contohnya: kata ‘kebut ’ dalam bidang otomotif berarti
mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kata tersebut juga digunakan dalam bidang
lain, seperti bidang telekomunikasi, kata ‘kebut’ berarti kelancaran (kecepatan) akses dalam
internet.Penggunaan kata-kata bidang tertentu pada bidang bidang lain bersifat metaforis atau
perbandingan.

4.Adanya Proses Asosiasi

Akibat adanya proses asosiasi, perubahan makna berkaitan dengan hal atau peristiwa lain yang
berkenaan dengan kata tersebut. Makna barumuncul karena memiliki asosiasi (tautan) dengan
makna lama. Menurut Chaer (2009:135), asosiasi memiliki banyak jenis, diantaranya asosiasi
yang berkenaan dengan tempat, waktu, dan wadah. Contoh:
1.Asosiasi berkenaan dengan tempat: Banyak caleg gagal yang menghuni Ernaldi
Bahar. Tempat yang dimaksud adalah rumah sakit jiwa Ernal di Bahar.

2. Asosiasi berkenaan dengan waktu: Peringatan 2 Mei, banyak buruh dan karyawan turun ke
jalan untuk melakukan unjuk rasa. Waktu yang dimaksud adalah tanggal 2 Mei sebagai hari
buruh sedunia.

3. Asosiasi berkenaan dengan wadah: Anak itu makan porsi ‘kobokan’. Wadah yangdimaksud
adalah ‘kobokan’ yaitu mangkuk kecil yang biasa digunakan untuk cuci tangan.

4. Asosiasi berkenaan dengan warna: Habis gajian, uangmu merah semua.Merah yang dimaksud
adalah uang dengan nominal Rp 100.000, 00 yang berwarna merah.

5. Asosiasi berkenaan dengan benda : Aku tidak bisa membeli baju itu, karena uangku tinggal
golok semua. Benda golok yang dimaksud adalah gambar pada uang pecahan Rp 1000, 00-.
5. Adanya Pertukaran Tanggapan Indra

Manusia memiliki lima indra yang memiliki fungsi masing-masing. Kulit


untukmerasakan sentuhan; mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk
mencium serta lidah untuk merasakan rasa pahit, manis, asin, dll. Akan tetapi, dalam
penggunaan bahasa dengan tujuan tertentu banyak dilakukan pertukaran tanggapan indra yang
disebut sinestesia.
Sinestesia berarti tampak sama (menyerupai).Misal: Telingaku geli mendengar rayuan
manismu. Pada contoh tersebut terjadi pertukaran indra pendengaran (telinga) dengan indra
perasa (kulit) dan indra perasa
(lidah) pada kata ‘geli’ dan‘manis’
.
6. Perbedaan Nilai dan Norma

Akibat perubahan pandangan hidup dan ukuran norma kehidupan dalam masyarakat,
akan muncul makna baru pada sebuah kata yang memiliki nilai dan rasa.Ada dua jenis
perubahan makna berdasarkan perbedaan nilai dan norma, yaitu:
a) makna baru dengan nilai dan rasa yang tinggi (amelioratif).
b) makna baru dengan nilaidan rasa yang rendah (peyoratif).
Misalnya pada kata berikut.
PENGERTIAN FONEM, MORFEM, KATA DAN FRASA

1. FONEM

Fonem adalah bunyi terkecil yang dapat membedakan arti, sedangkan huruf adalah
lambang bunyi atau lambang fonem. Fonem tidak sama dengan huruf. Fonem adalah bunyi
dari huruf, dan huruf adalah lambang dari bunyi. Jadi fonem sama dengan bunyi (untuk
didengar), sedangkan huruf adalah lambang (untuk dilihat).
Jumlah huruf hanya 26, tetapi jumlah fonem bahasa Indonesia lebih dari 26 karena
beberapa huruf ternyata mempunyai lebih dari satu lafal bunyi.

Fonem untuk huruf e, o, dan k lebih dari satu (bervariasi).

Contoh variasi fonem huruf e : - sate


- pedas
- enak
Contoh variasi fonem huruf o : - sekolah, organisasi sosial
- beo, Solo
Contoh variasi fonem huruf k : - Pak Hadi
- tiga pak sehari

2. MORFEM

Morfem adalah satuan bentuk terkecil yang dapat membedakan makna dan atau
mempunyai makna. Sebagai kesatuan pembeda arti, semua contoh wujud morfem tersebut
merupakan bentuk terkecil yang tidak dapat dipecah lagi menjadi kesatuan bentuk yang lebih
kecil.

Menurut bentuk dan maknanya, morfem dibedakan atas dua macam.


1) Morfem bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus
dihubungkan dengan morfem yang lain. Semua kata dasar tergolong sebagai morfem
bebas.
2) Morfem terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. Makna
morfem terikat baru jelas setelah morfem itu dihubungkan dengan morfem yang lain.
Meliputi imbuhan dan partikel.

Contoh: morfem ,an, di, me, ter, dan lah, jika digabungkan dengan kata makan, dapat
membentuk: makanan, dimakan, memakan, termakan, makanlah yang mempunyai makna
baru yang berbeda dengan kata makan.

3. Kata
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai
makna. Kata-kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem; atau gabungan
huruf dengan morfem, baru kita akui sebagai kata bila bentuk itu mempunyai makna.

Pembagian kata :
1. Kata Kerja (Verba)
2. Kata Sifat (Adjektiva)
3. Kata Keterangan (Adverbia)
4. Rumpun Kata Benda, yang beranggotakan

(i) Nomina (Kata Benda/Kata Nama)


(ii) Prononima (Kata Ganti)
(iii) Numeralia (Kata Bilangan)
Rumpun Kata Tugas, yang beranggotakan
(i) Preposisi (Kata Depan)
(ii) Konjungtor/Konjungsi (Kata Sambung/Hubung)
(iii) Interjeksi (Kata Seru)
(iv) Artikel (Kata Sandang)
(v) Partikel

4. Frasa

Frasa adalah kelompok kata yang tidak mengandung predikat dan belum membentuk
klausa atau kalimat. Frasa tidak mengandung predikat, karena kelompok kata yang
mengandung predikat akan membentuk klausa, bahkan kalimat. Contoh:

Klausa Frasa
(kelompok kata berpredikat) (kelompok kata tanpa predikat)

Belajar bahasa Indonesia Bahasa Indonesia


Menghilang di balik awan Di balik awan putih bersih
Membawa sejumlah persoalan Sejumlah persoalan yang pelik
Meminum air mineral Air mineral dari pegunungan
Memakai baju batik Baju batik baru beli
Datang berkunjung ke sini Ke sini
Diratakan dengan buldoser Dengan buldoser

Frasa tidak sama dengan idiom walaupun keduanya merupakan gabungan kata.
Idiom adalah dua kata atau lebih yang membentuk makna baru dan makna itu sudah bergeser
jauh dari makna leksikal kata asal.

Idiom = (A + B = C) gulung tikar = bangkrut


makan hati = menderita batin
tipis kuping = tak tahan sindiran
Frasa = (A + B = AB) salah hitung = salah dalam menghitung
jumpa pers = berjumpa dengan pers (wartawan)
siap tempur = siap untuk bertempur
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Telah dikemukakan bahwa bahasa berkembang sesuai dengan pemikiran pemakai


bahasa. Karena manusia menggunakan kata-kata dan kalimat dan sejalan dengan itu kata dan
kalimat berubah terus, maka dengan sendirinya maknanya pun berubah. Perubahan terjadi
karena manusia sebagai pemakai bahasa menginginkannya bisa dengan menggunakan kata
tambahan seperti fonem, morfem kata serta frasa. Pembicara membutuhkan kata, manusia
membutuhkan kalimat untuk berkomunikasi. Ia membutuhkan kata baru. Kadang-kadang
karena belum ditemukan kata baru yang mendukung pemikirannya, maka pembicara
mengubah bentuk kata yang telah ada. Yang penting, yakin apa yang dipikirkan, apa yang
dirasakan, dan apa yang diinginkan tertampung dalam perubahan bahasa ini memaksa kita
untuk membicarakan perubahan makna.

DAFTAR PUSTAKA