Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

PENJAMINAN MUTU LABORATORIUM MIKOLOGI

DISUSUN OLEH :
Annisa Yuli Andini ( PO.71.34.0.17.0 )
Cantika Zanhetta ( PO.71.34.0.17.0 )
Elita Martiana ( PO.71.34.0.17.0 )
Riska Kurniawati ( PO.71.34.0.17.072)
Shintania Berlian ( PO.71.34.0.17.0 )

Dosen Pembimbing :
Herry Hermansyah, AMAK, SKM, M.Kes

Tingkat 2 Regular B

DIII TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK


POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2018-2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT. berkat bimbingan


serta petunjuk-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun sehubungan dengan tugas mata kuliah mikologi dengan
Bapak Herry Hermansyah, AMAK, SKM, M.Kes selaku dosen pengampu.
Makalah ini membahas mengenai penjaminan mutu laboratorium mikologi.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat membantu. Penulis berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Palembang, Juni 2019


DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Mutu adalah tingkat kesempurnaan dan penampilan sesuatu yang sedang


diamati, sifat yang dimiliki oleh suatu program, kepatuhan terhadap standar yang
telah ditetapkan, serta sifat wujud dari mutu barang atau jasa yang dihasilkan,
yang didalamnya terkandung sekaligus pengertian akan adanya rasa aman atau
terpenuhinya para pengguna barang atau jasa yang dihasilkan tersebut
(Azwar,1994). Menurut Suardi (2003), mutu berarti pemecahan masalah untuk
mencapai perbaikan yang berkesinambungan. Sedangkan menurut Wijono
(2000), mutu adalah kepatuhan terhadap standar dan keinginan pelanggan
sehingga memenuhi kepuasan pelanggan. Perlu disadari bahwa semakin tinggi
tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, tuntutan akan pelayanan
kesehatan yang bermutu semakin meningkat. Oleh karena itu pelayanan rumah
sakit yang bermutu, baik di bidang diagnostik maupun pengobatan semakin
dibutuhkan.
Mutu sering digambarkan sebagai sesuatu yang hebat dan superior. Produk
atau pelayanan yang bermutu dianggap sebagaisesuatu yang baik, cepat, dapat
diandalkan dan mahal. Stamatis (1996) mengatakan bermutu tidak memerlukan
biaya mahal tetapi mutu yangrendah akan menyebabkan biaya mahal. Pada
pelayanan laboratorium, mutu hasil pemeriksaan laboratorium yang rendah akan
mengakibatkan penambahan biaya yang dikeluarkan oleh pihak laboratorium
untuk kegiatan pengerjaan ulang dan menimbulkan kerugian di pihak pengguna
jasa dalam membantu menegakkan diagnosis penyakit.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana penjaminan mutu pada laboratorium?
2. Bagaimana cara pemeriksaan mikologi?
3. Media apa saja yang digunakan dalam laboratorium mikologi
berdasarkan mutu laboratorium?

C. TUJUAN
1) Untuk memonitor proses yg berhubungan dengan hasil tes serta dapat
mendeteksi adanya error yang bersumber dari alat, keadaan lingkungan
atau operator
2) Dapat menjamin mutu pemeriksaan dengan biaya minimal
3) Memaksimalkan kualitas
4) Memudahkan interpretasi hasil kontrol
5) Mempercepat pengerjaan sampel pasien dengan proses analisa yang lebih
efisien

D. MANFAAT
1. Meningkatkan kualitas laboratorium, meningkatkan moral dalam
kehidupan karyawan laboratorium.
2. Merupakan suatu metode pengawasan (kontrol) yang efektif.
3. Untuk mendapatkan pembuktian apabila terdapat hasil yang
meragukan dari (konsumen) pasien laboratorium.
4. Penghematan biaya pasien karena berkurangnya kesalahan hasil.
5. Bagi laboratorium dapat meningkatkan kualitas dan mutu
laboratorium.
6. Bagi petugas laboratorium dapat memperbaiki kesalahan bagi dalam
pemeriksaan maupun pengujian alat.
7. Bagi pasien laboratorium mendapatkan pelayanan maksimal.
BAB II

PEMBAHASAN

Laboratorium mikologi merupakan standar Biosafety Level 2 atau BSL-2 , yaitu


laboratorium untuk menguji degan agen penyakit cukup potensial membahayakan
petugas laboratorium dan lingkungannya. Sebagai contoh Blastomyces
dermatitidis, Coccidiodides neoformans , Epidermophyton sp, Histoplasma ,
capsulatum , dll.

BSL-2 mencakup pemeriksaan dengan agen yang terkait dengan penyakit


manusia, dengan kata lain , organisme pathogen atau infeksi yang menimbulkan
bahaya sedang. Seperti yang diketahui , pemeriksaan di laboratorium mikologi
memiliki resiko dimana petugas laboratorium dapat terpapar atau terinfeksi oleh
fungi patogen yang diperiksa. Oleh karena itu , dengan potensi yang sedang untuk
menyebabkan penyakit kepada petugas laboratorium maka laboratorium mikologi
menggunakan standar Biosafety Level 2 (BSL-2).

Persyaratan rancang bangun BSL-2 hasrus memiliki:

a. Pintu dapat menutup sendiri


b. Bak cuci tangan stainless steel
c. Ral pakaian pelindung
d. Ruang kerja mudah dibersihkan
e. Ruang kedap air dan anti slip
f. Perabotan yang kokoh
g. Jendela dilengkapi dengan saringan serangga dan debu
h. Dilengkapi biological safety cabinet
i. Harus cukup penerangan atau cahaya dalam laboratorium
j. Lokasi laboratorium harus terpisah dari tempat/rumah penduduk
k. System pengawasan ventilasi dimana aliran udara hanya masuk ke dalam
laboratorium tanpa ada sirkulasi udara untuk keluar dari laboratorium
l. Dilengkapi alat pelindung mata dan obat cuci mata untuk petugas
m. Membatasi lalu lintas orang
n. Dilengkapi pakaian pelindung untuk pekerja
o. Dilengkapi tanda biohazard
p. Menggunakan cat khusus
q. Langit – langit tidak boleh ada sudut
r. Ada log penggunaan
s. Kalibrasi alat

2) Kesehatan Keselamatan Kerja

Laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi para pekerjanya


tidak terkecuali untuk laboratorium medik. Aman terhadap setiap kemungkinan
kecelakaan fatal maupun sakit atau gangguan kesehatan. Hanya dalam
laboratorium yang aman , bebas dari rasa khawatir akan kecelakaan , keracunan
dan paparan mikroorganisme , seseorang dapat bekerja dengan aman , produktif ,
dan efesien keadaan aman dalam laboratorium , dapat diciptakan apabila ada
kemauan dari setiap pekerja atau kelompok pekerja untuk menjaga dan
melindungi diri. Diperlukan kesadaran bahwa kecelakaan dapat berakibat pada
dirinya sendiri maupun orang lain serta lingkungannya. Ini adalah tanggung jawab
moral dalam keselamatan kerja , yang memegang peranan penting dalam
pencegahan kecelakaan. Selain itu , disiplin setiap individuterhadap peraturan
juga memberikan andil besar dalam keselamatan kerja. Kedua faktor pentig
tersebut bergantung pada faktor manusianya , yang ternyata merupakan sumber
terbesar kecelakaan didalam laboratorium.

3) personalia

Organisasi laboratorium adalah susunan personalia yang mengelola


labaoratorium tersebut. Organisasi tersebut ditanggung jawabi oleh kepala
laboratorium. Para asisten juga harus bertanggung jawab dibawah kepala
laboratorium. Personalia harus sudah lulus tes profesi dan bersertifikat.

Quality Control
Quality Control (QC) adalah salah satu komponen dalam proses kontrol
dan merupakan elemen utama dari sistem manajemen mutu.
Memonitor proses yg berhubungan dengan hasil tes serta dapat
mendeteksi adanya error yang bersumber dari alat, keadaan lingkungan atau
operator. Memberikan keyakinan bagi laboratorium bahwa hasil yg dikeluarkan
adalah akurat & reliabel. Laboratorium harus menyusun program QC.
Quality control meliputi :
1. QC reagen : verifikasi reagen
2. QC instrumen : pengecekan fungsi instrumen, prosedur pemeliharaan instrumen

Proses Quality Control


1. QC harian :
QC Internal
|
Sampel pasien -- Analisis -- Hasil pasien
| |
QC Eksternal. Diagnosa/treatment
2. QC periodik :
Harus lebih diperhatikan (3 bulan, 6 bulan, dst)

Program Quality Control Yang Baik


1. Memantau kinerja pemeriksaan (metode, reagen, instrumen, alat lab,
SDM) tolok ukur = akurasi dan presisi.
2. Mengidentifikasi masalah pemeriksaan
3. Menilai keandalan hasil pemeriksaan
Prosedur QC yang tepat dan penerapannya yang benar meliputi :
1. Perhitungan yang tepat untuk mendapatkan nilai x (mean) dan standar
deviasi (SD)
2. Membuat batas kontrol yang tepat
3. Menggunakan aturan kontrol yang tepat sehingga dapat mendeteksi setiap
sinyal-sinyal "out of control" yang mewakili masalah yang sesungguhnya
4. Kebutuhan terhadap frekuensi pengukuran bahan kontrol dengan hasil
yang tepat

Jenis QC Di Laboratorium
1. Control limit : digunakan untuk menilai suatu prosedur pemeriksaan in
control atau out control. Batasan kontrol dihitung dari nilai rata-rata dan
standar deviasi dari hasil pengukuran kontrol. Perhatikan data sebelumnya
untuk mengetahui akurasi
2. Control chart : metode grafik untuk menampilkan hasl kontrol dan
mengevaluasi apakah suatu prosedur pemeriksaan in control atau out
control
3. Control rule : suatu ukuran/standar untuk memberikan keputusan terhadap
perjalanan suatu pemeriksaan apakah in control atau out control

Implementasi
Memilih bahan kontrol :
a) Homogen & Stabilitas lama .
b) Kemasannya ( volum & jumlah ) disesuaikan kebutuhan.
c) Matrix mirip dengan spesimen manusia.
d) Konsentrasinya signifikan secara klinik misalnya normal & tinggi atau
normal & rendah.
e) Pergantian lot number lama

Persiapan & penyimpanan bahan kontrol


a) Ikuti instruksi dari pabrik / vendor.
b) Gunakan pipet terkalibrasi ( pipet gondok ) untuk rekonstitusi bahan kontrol.
c) Setelah direkonstitusi, aliquot lalu simpan di feezer dalam kemasan kecil
sesuai kebutuhan.
d) Jika hendak digunakan , keluarkan 1 aliquot dr feezer
e) Jangan beku ulang bahan kontrol.
f) Monitor & maintenance suhu feezer untuk menghindari terjadinya degradasi
zat bahan kontrol.

Guidelines
- CLIA 88 , CLSI
a. Minimum 2 level dalam 24 jam
b. Frekuensi tiap 8 jam
- Tergantung jumlah tes :
< 50 tes/ hari ----- 1 level / 1 kali per hari
50- 100 tes/hari ----- 2 level / 1 kali per hari
> 100 tes / hari ----- 2 level / 2 kali per hari
c. jika statistik IQC tidak cukup , dpt menggunakan spesimen pasien

Kapan Menjalankan QC
a) Setiap hari sebelum sampel pasien
b) Menggunakan alat, reagen & metode baru
c) Tergantung kestabilan reagen
d) Setelah melakukan preventive maintenance
e) Setelah pergantian suku cadang
f) Ada masalah dalam aplikasi klinik dari hasil pasien
g) Tindakan koreksi terhadap “error”
h) Pelatihan & kompetensi terhadap operator.

Menetapkan Nilai Range Kontrol


a) Siapkan bahan kontrol yg sudah dipilih ( low, normal, high)
b) Jalankan setiap kontrol sebanyak minimal 20 kali selama 20 - 30 hari.
c) Lihat hasil kontrol “in control “ dlm range yg sudah ditetapkan oleh pabrik
d) Kumpulkan minimal 20 data , lalu hitung rerata & SD

Nilai Range Kontrol


1. Sebelum menghitung nilai range kontrol :
a. Jika ada 1 atau 2 data dengan nilai terlalu tinggi atau rendah, data tersebut
harus dikeluarkan dalam perhitungan nilai rang ---- “outliers”
b. Jika ada > 2 data outliers in 20 data
Identifikasi & tangani masalahnya
Ulang pengumpulan data kontrol.
2. Pelaksanaan QC range harus meliputi semua operator yg melaksanakan
pemeriksaan spesimen
3. Bahan kontrol diperlakukan sama seperti spesimen pasien.

Sistem Monitoring Hasil Kontrol


Interpretasi hasil QC harian :
Ada 3 kemungkinan :
1. In control
a. Control value is within in limit control
b. Control value in warning limit
2. In control but regarded as out of statistical
10 , 7 T , trend, shift
3. Out of kontrol
Control value out of control limit

Sistematik Error
a) Pergantian reagen / kalibrator
b) Maintenance alat
c) Salah nilai kalibrator
d) Persiapan reagen tidak benar
e) Deteriorasi reagen/kontrol/kalibrator
f) Penyimpanan reagen & kalibrator tidak sesuai
g) Perubahan suhu inkubator
h) Perubahan prosedur
i) Volum reagen atau spesimen tidak sesuai
j) Mempengaruhi akurasi (bias, trend , shift )
k) Rules 2-2S, 4-1s(3-1s), 10-x (12-x), 7-T

Random error
a) Ada gelembung dalam reagen
b) Kontaminasi pada reagen
c) Pencampuran reagen tidak adequat
d) Tidak stabil suhu atau inkubator
e) Tidak stabil sumber listrik
f) Variasi operator dlm pipeting
g) Mempengaruhi presisi
Rules : 1-3s, R-4s
Deviasi positif atau negatif dari mean (x)
Penyimpangan QC harian umumnya terjadi pada keadaan sbb :
1. Perubahan no.lot/batch reagen dan kalibrator/standar
2. Setelah melakukan perawatan besar pada alat

Dokumentasi
1. Data QC & grafik
2. Data error, tipe error beserta penyebabnya
3. Problem solving & tindakan korektif
4. Data alat, reagensia, kalibrasi
5. Preventif maintenance & troubleshooting

a) Program QC berperan dalam menilai akurasi & realibility hasil lab.


b) Laboratorium harus membuat program QC untuk monitor hasil lab.
c) Ada kebijakan & prosedur pelaksaaan QC yg harus diikuti semua staf
d) Training semua staf secara terus menerus terhadap prosedur yang
berhubungan dengan mutu.
e) Tanggung Jawab QC dibawah seorang manajer mutu yg memonitor &
review semua data
f) Untuk monitoring proses QC , digunakan analisa secara statistik,
menggunakan grafik L-J
g) Jika kontrol out of range , maka segera lakukan tindakan korektif &
trouble shooting, sebelum mengeluarkan hasil pasien
h) Semua data yang berhubungan dengan QC harus didokumentasikan secara
lengkap & mudah untuk diakses

Prosedur Pemeriksaan Laboratorium Mikologi

1. Fase Pra-Analitik
Fase ini merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari pemeriksaan
secara utuh. Pada fase ini komunikasi yang baik antara klinisi dan ahli
sangat penting.

A.Isi Lembaran Permintaan

1) Data lengkap pasien


2) Data dokter yang mengirim
3) Jenis specimen
4) Diagnosis klinis dan riwayat pasien yang relevan
5) Jenis pemeriksaan yang dikehendaki
6) Data lain yang relevan
7) Antibiotika yang diberikan

B. Pencantuman Label Spesimen

1) Label dan tinta harus terbuat dari bahan yang tidak mudah larut air
2) Label harus melekat erat pada wadah
3) Harus dicocokan dengan lembaran permintaan
4) Perhatikan kelayakan bahan pemeriksaan

C.Pedoman Cara Pengambilan Spesimen , Transportasi Sesuai dengan Spesimen


dan Penyimpanan

a. Pengambilan specimen

1. Spesimen harus berasal dari daerah infeksi yang benar dan menghindari
adanya kontaminasi

2. waktu pengumpulan specimen harus tepat

3.Jumlah yang diambil harus memadai agar dapat diperoleh pertumbuhan


yang maksimal

4.Menggunakan alat pengambilan sampel , container , media


kultur/transport yang sesuai

5.Dilabel dengan benar.

b. Persiapan sampel
1. Darah dan sumsum tulang

Darah dari pasien septisemik dapat mengandung jamur patogen maupun


oportunis. Kultur darah dapat digunakan untuk menentukan keberadaan infeksi
jamur dalam darah. Sistem kultur yang telah tersedia untuk pemeriksaan sel- sel
ragi diantaranya adalah BACTEC dan ESP. Sistem sentrifugasi lisis juga dapat
digunakan terutama pada daerah yang sering ditemukan adanya jamur dimorfik
dalam darah.

2.Saluran Pernafasan

Infeksi jamur merupakan salah satu penyebab infeksi terbanyak pada


saluran pernapasan. Sekresi saluran berupa sputum , sputum induksi , bronchial
washing dan aspirat trakea merupakan jenis-jenis sampel yang diperiksa dari
saluran pernapasan.

3.Urin

Sampel urine harus segera diperiksa setelah pengambilan sampel. Sampel


urin yang telah lebih dari 24 jam tidak dapat digunakan untuk bahan kultur.
Pemeriksaan langsung dapat dilakukan untuk menemukan sel ragi maupun hifa.
Preparasi untuk kultur dilakukan dengan teknik sentrifugasi.

4.Luka dan Jaringan

Cairan pada luka dapat diperiksa untuk menemukan granula , jika tidak
terdapat granula sampel dapat langsung ditanam pada permukaan agar. Jaringan
yang akan diperiksa terlebih dahulu diproses dengan Stomacher yang berfungi
mengeluarkan sitoplasma sel –sel pada jaringan dalam media cair. Suspense
media cair selanjutnya dijadikan bahan pemeriksaan. Sebanyak 0.1 ml suspense
dapat dikultur pada permukaan media dan diinkubasi pada suhu 30˚C selama 21
hari.

c.Persiapan Media

1.Sabaroud Dextrosa Agar (SDA)


Kegunaan : untuk budidaya jamur nonpatogenik dan patogenik khususnya
dermatophyte.

Pembuatan :

 Menimbang berat media dengan timbangan analitik , untuk 1 liter air


digunakan 65 gram media SDA
 Media dimasukkan pada labu erlenmeyer dan tambah air 1 liter
 Dipanaskan diatas kompor listrik
 Dan ditutup dengan kapas sumbat dan melapisi dengan aluminium foil
 Mensterilkan media dengan autoklaf tekanan 1 atm suhu 121˚C selama 15-
20 menit
 Memanaskan kembali lalu tuangkan pada cawan petri

2.Brain Heart Infusion Agar (BHI)

Kegunaan : khusus untuk isolasi jamur Histoplasma capsulatum

Pembuatan :

 Larutkan 37 gram media dalam 1 liter air


 Panaskan dan aduk sampain larut
 Autoclave tekanan tekanan 1 atm suhu 121˚C selama 15-20 menit

3.Potato Dextrosa Agar (PDA)

Kegunaan : untuk meningkatkan produksi pigmen dan spora dari berbagai jamur

Pembuatan:

 Mengupas kentang , memotong-motong seukuran dadu dan mencucinya


 Menimbang sebanyak 200 gram , dextrose 10 gram , agar 15 gram , dan
aquadest 1 liter
 Masukkan dalam erlebnmeyer dan didihkan pada penangas
 Setelah mendidih , mengangkat dan menyaring ekstrak dengan kertas
saring dan corong lalu masukkan di dalam Erlenmeyer.
 Dan ditutup dengan kapas sumbat
 Mensterilkan media dengan autoklaf tekanan 1 atm suhu 121˚C selama 15-
20 menit
 Memanaskan kembali lalu tuangkan pada cawan petri.

4. Bird Seed Agar

Kegunaan : media padat yang digunakan untuk isolasi dan diferensial


Cryptococcus neoformans

Pembuatan :

 Campurkan biji grinded guizotia abyssinica dengan 1000 l air suling


 Rebus selama 30 menit , melewati kertas saring dan sesuaikan volume
hingga 1000 ml
 Tambahkan sisa bahan untuk filtrate dan larutkan
 Mensterilkan media dengan autoklaf tekanan 1 atm suhu 121˚C selama 15-
20 menit
 Dinginkan hingga 48˚C dan tambahkan 0,5 ml penicillin G dan 0,5 ml
gentamisin ke setiap 500 ml agar benih burung
 Campurkan dengan lembut dan tuangkan ke dalam cawan petri

5.Bromocresol purple milk solids agar

Kegunaan : untuk isolasi spesies Trichophyton sp

Pembuatan:

 Campurkan air suling 1000 ml , susu bubuk skim 80 g , bromcresol (atau


bromocresol) ungu (larutan 1,6% dalam alkohol) 2 ml
 Larutkan dalam 2 liter dan autoklaf tekanan 1 atm suhu 121˚C selama 15-
20 menit
 Campurkan glukosa 40 g air suling sebanyak 200 ml
 Larutkan dan autoklaf tekanan 1 atm suhu 121˚C selama 15-20 menit
 Campurkan bacto agar 30 g , air suling 800 ml
 Rendam selama 15 menit dalam labu 3 liter , autoklaf tekanan 1 atm suhu
121˚C selama 15-20 menit
 Campurkan campuran A dan B ke bagian campuran C , sesuaikan pH
akhir menjadi 6,6.

6. Creatinine dextrose bromothymol blue thymine (CDBT) media

Kegunaan :

Untuk diferensiasi C.Neoformans dan C.Gattii (Kwon-Chung et al.1982).

Pembuatan :

 Solusi A : Glycine Univar 10g, KH2PO4 1g, MgSO4 ig, Tiamin HCL 1g,
L-Canavanine sulfat 30mg, Air suling 100mL
 Larutankan bahan dalam gelas kecil dan sesuaikan pH hingga 5,6
 Filter sterilkan larutan menggunakan filter 0,22 µm
 Simpan dalam kulkas
 Solusi B (Aqueous Bromothymol Blue) : Bromothymol Biru 0,4 g, 0,001N
NaOH 64 mL, Air suling 36mL
 Larutkan Bromothymol Blue di dalam NaOH
 Tambahkan ke air
 Untuk menyiapkan medium (1L untuk piring)
 Air sulin 880mL, Larutan B 20mL, Bacto agar (BD 214010) 20g
 Autoklaf ke 121C selama 15 menit, dinginkan hingga 48ºC
 Untuk piring tambahkan 100 mL larutan yang difilter A dan campurkan

7. Cornmeal Agar

Kegunaan :

Untuk produksi chlamydospore oleh Candida Albicans dan untuk


pemeliharaan kultur stok jamur.

Pembuatan :

 Sebanyak 12,5 g bubuk CMA dan 3,8g agar ditambahi aquades hingga
volume mencapai 1000mL
 Campuran tersebut kemudian dipanaskan hingga mendidih dan larut
sempurna
 Medium dipanaskan ke sejumlah tabung reaksi masing-masing sebanyak
3mL
 Medium kemudian disterilkan menggunakan autoklaf dengan suhu 121ºC
dan tekanan 2 atm selama 15 menit

8. Malt Extract Agar

Kegunaan :

Untuk pengamatan fenotifik

Pembuatan :

 Sebanyak 20g agar dan 50g Malt extract agar dimasukkan kedalam
labu erlenmayer dan ditambahi aquades hingga 1.000mL
 Larutan dipanaskan dengan penangas air hingga mendidih dan
semua bahan larut sempurna. Medium disterilkan menggunakan
autoklaf dengan suku 115ºC dan tekanan 2 atm selama 15 menit
 Medium yang sudah disterilkan ditambahi dengan antibiotik
tetrasiklin pada saat suhu medium ±45ºC kemudian dituang ke
cawan petri masing-masing sebanyak 15-20mL

9. Cornmeal glucose sucrose agar

Kegunaan :

Untuk merangsang sporulasi dibeberapa zygomycetes, terutama


Sakseneaea dan Apophysomyces.

Pembuatan :

 Campurkan bahan : agar-agar jagung (BD) 17g, Dextrose (Glukosa) 2 g.


Uskrosa 3g. Exstrak ragi (Difco) 1g, air suling 1000mL ke dalam 100mL
H2O, rebus air yang tersisa
 Tambahkan air mendidih ke dalam campuran dan didihkan
 Dispense for slopes
 Autoklaf selama 10 menit pada 121ºc angkat dan miringkan
10. Modified dixons agar

Kegunaan :

Untuk isolasi dan penanaman utama Malassezia furfur

Pembuatan :

 Rendam bahan-bahan extrak malt (Oxoid L39) 9 g, bacto tryptone 1,5 g,


Ox-bile Desccated (Oxoid L50) 5g, tween 40 2,5mL , Asam oleat 0,5g,
Gliserol 0,5 mL, Bacto agar (BD) 3 g, Air suling 250mL selama 15 menit
dalam air
 Didihkan air yang tersisa, tambahkan kebahan lainnya. Didihkan sekali
lagi
 Dispanse for slopes
 Autoklaf pada 121ºC selama 10 menit dan kemudian miringkan

11. Czapek Dox Agar

Kegunaan :

Untuk isolasi utama dermatofir, terutama trychophyton spp. Media


sporulasi ini sangat berguna untuk meningkatkan perkembangan struktur
mikroskopis yang relevan yang dihasilkan oeh berbagai dermatofit.

Pembuatan :

 Menimbang bahan 45,4g kemudian direbus dengan air 1000mL setelah itu
diaduk sampai larut dan mendidih
 Saring dengan kertas saring agar terbebass dari kotoran
 Kemudian autoklaf lalu masukkan pada erlenmayer tertutup dengan kapas
dan tutup dengan kertas alumunium

12. 1% Peptone agar

Kegunaan :

Untuk budidaya dan diferensiasi jamur

Pembuatan :
 Rendam agar dan pepton dalam jumlah sedikit air
 Rebus air yang tersisa, tambahkan ini kebahan perendaman dan didihkan
lagi
 Dispense for slopes
 Autoklaf selama 10menit pada 121ºC kemudian miring pada rak

13. Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) + Cyclohheximide (0,05%)

Kegunaan :

Untuk isolasi utama dan budidaya dermatofita

Pembuatan :

 Rendam semua bahan, kemudian Gentamisin dalam 100mL air


 Rebus air yang tersisa, tambahkan ke bahan perendaman dan biarkan
mendidih agar larut, aduk dengan baik untuk mencegah dari hangus
 Tambahkan gentamicin, campur dengan baik
 Dispense for slope jika diperlukan
 Autoklaf di suhu 121ºC selama 10 menit. Hapus dan miringkan atau
tuangkan piring sesuai kebutuhan

14. Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) 5% NaCl

Kegunaan :

Untuk budidaya dan diferensiasi dermatofit terutama T.rubrum dari


T.Mentagrophytes

Penggunaan :

 Rendam bahan disekitar 100mL air


 Membawa sisa air hingga mendidih, tambahkan ke bahan perendaman
 Dispense dor slopes
 Autoklaf di 121ºC selama 10 menit, lalu miringkan rak

2. Fase Intra-Analitik (Analitik)


Fase Intra-Analitik diawali dengan memutuskan penerimaan atau
penolakan sampel, pengambilan, pengolahan, pemeriksaan sampel, kultur
(biakan)

a. Pengambilan sampel
1. Kuku
o Disiapkan pisau scalpel dan gunting kuku steril
o Dibersihkan kuku dengan kapas beralkohol dibiarkan kering
o Sementara kuku mengering, disipakan media yang digunakan
o Ditulis no.lab, nama pasien dan tanggal pengambilan sampel
o Digunakan cawan petri steril untuk menampung potongan dan
kerokan kuku
o Dipotong kuku dengan gunting kuku. Diusahakan potongan
kuku agak besar untuk direndam dalam KOH Parker Blue 20%
o Sisa potongan kuku dikerok dengan pisau scalpel untuk
ditanam dalam media yang sudah disiapkan
2. Kulit
o Disiapkan pisau scalpel steril
o Dibersihkan kulit yang akan dikerok dengan kapas beralkohol,
dibiarkan mengering
o Sementara kulit mengering, disiapkan media yang akan
digunakan
o Ditulis no.lab, nama pasien dan tanggal pengambilan sampel
o Dikerok bagian kulit yang terinfeksi
o Kerokan yang sudah terkumpul sehingga ditabur (ditanam)
dalam media yang sudah disiapkan, sebagian dibuat preparat
KOH
3. Rambut
o Cara pengambilan sampel dari kepala sama dengan
pengambilan sampel kulit. Hanya ditambah dengan akar
rambut, karena biasanya terdapat spora pada akar rambut
(endotriks ataupun eksotriks)
b. Pengolahan sampel
Dalam pengolahan sampel pasien, hanya sampel kuku yang harus diolah.
Cala pengolahan :
o Sampel kuku dikerik
o Sampel kuku yang agak besar direndam dalam larutan KOH
Parker Blue 20% (2-3 tetes) dan disimpan selama 1 malam
dalam suhu/temperatur ruangan

c. Pemeriksaan sampel
1. Kuku
o Disiapkan objek glass diberi no.lab dipinggitannya
o Diambil 1-2 ose sampel kuku yang telah direndam dalam KOH
Parker Blue 20% dan oleskan diatas objek glass. Diusahakan
agar mendapat kuku yang berbentuk seperti bubur
o Ditutup dengan cover glass. Ditekan sedikit agar didapat
preparat yang cukup tipis
o Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa okuler
10x dan lensa objektif 10x atau dengan lensa objektif 40x

2. Kulit
o Disiapkan objek glass diberi no.lab dipinggirannya
o Kerokan kulit dikumpulkan dibagian tengah objek glass
o Diteteskan 1 tetes larutan KOH Parker Blue 20%
dipinggirannya
o Dengan menggunakan cover glass, dicampurkan kerokan kulit
dengan larutan tadi dengan ditutup cover glass tadi
o Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa okuler
10x dan lensa objektif 10x atau dengan lensa objektif 40x

3. Rambut
o Disiapkan objek glass diberi no.lab dipinggirannya
o Rambut dan kerokan kulit kepala dikumpulkan dibagian tengah
objek glass
o Diteteskan 1 tetes larutan KOH Parker 20% di pinggirnya
o Dengan menggunakan cover glass, dicampurkan rambut dan
kerokan kulit dengan larutan tadi dengan ditutup dengan cover
glass tadi
o Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa okuler
10x dan lensa objektif 10x atau dengan lensa objektif 40x

Kultur

1. Kuku
 Sampel kuku yang telah dikerik masing-masing kedalam plate
SBRC agar dan fermatophyte test medium (DTM)
 Dibungkus plate yang telah berisi isolat dari sampel kuku dengan
menggunakan kertas Non Woven Blue
 Disimpan pada suhu/temperatur ruangan (25ºC - 30ºC) selama 1
bulan. Diamati perkembangan tiap 1 minggu

2. Kulit
 Sampel kerokan kulit masing-masing dimasukkan kedalam plate
SBRC agar dan dermatophyte test mediiom (DTM)
 Dibungkus plate yang telah berisi isolat dari sampel kuku dengan
menggunakan kertas NON Woven Blue
 Disimpan pada suhu/temperatur ruangan (25ºC - 30ºC) selama 1
bulan. Diamati perkembangan tiap 1 minggu

3. Rambut
 Sampel rambut dan kerokan kulit masing-masing kedalam plate
SBRC agar dan fermatophyte test medium (DTM)
 Dibungkus plate yang telah berisi isolat dari sampel kuku dengan
menggunakan kertas Non Woven Blue
 Disimpan pada suhu/temperatur ruangan (25ºC - 30ºC) selama 1
bulan. Diamati perkembangan tiap 1 minggu

Subkultur

1. Disiapkan media SBRD agar / rice medium (jamur tertentu) diberi no.lab
dan tanggal
2. Pada safety cabinet, diambil sedikit koloni tersangka dan tanam pada
media SBRD agar / rice medium yang tadi sudah disiapkan
3. Diinkubasi pada suhu 35ºC - 37ºC

Slide Culture

Kegunaan :

Untuk melihat morfologi mikroskopis dungi yang terdiri dari bentuk hifa,
spongarium, konidia, dll.

Prosedur :

1. Disiapkan cawan petri steril, batang Z/N, objek glass dan cover glass
bersih dan steril, 1x1 cm media SBRD agar dan koloni jamur golongan
Moulds
2. Disimpan batang Z/N kedalam cawan petri ditaruh objek glass diatasnya
3. Ditaruh media SBRD agar ukuran 1x1 cm diatas objek glas tersebut
4. Dengan jarum tusuk, diambil sedikit jamur (diambil sampai keakarnya),
lalu oles rata pinggir-pinggir media SBRD agar tadi
5. Media yang sudah diolesi tadi ditutup dengan cover glass
6. Diberi air atau aquadest steril didasar cawan tersebut agar tidak kering
saan diinkubasi\
7. Disimpan disuhu ruangan selama 2-3 hari
8. Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa okuler 10x dan
lensa objektif 10x atau dengan lensa objektif 40x

Hair perforation test

Kegunaan :
Untuk membantu membedakan antara jamur golongan dermatofita, seperti
Trycophyton mentagrophytes dan spesies lainnya

Prosedur :

Dilakukan dengan menempatkan organisme ke dalam cawan petri berisi air,


extrak ragi dan rambut. Laboratorium mikologi Mayo Clinic telah
mengidentifikasi lima dermatopita umum : Micrsoporum gypseum, Microsporum
canis, Trychophyton rubrum, Trychophyton mentagrophytes dan Trychophyton
tonsurans

Tap Water Agar

Kegunaan :

Untuk membantu membedakan antara jamur golongan dermatofita, seperti


Trycophyton mentagrophytes dan spesies lainnya

Prosedur :

Test ini dilakukan dengan menempatkan organsme ke dalam cawan petri berisi
air, ekstrak ragi dan rambut.

Rice Grain Slopes

Kegunaan :

Untuk pencacahan, budidaya dan pengamatan sporulasi beberapa jamur

Prosedur :

Campurkan 20g dalam 1000mL air suling. Panaskan hingga mendidih untuk
melarutkan media sebelumnya. Sterilkan dengan autoklaf dengan suhu 121ºC
selama 15 menit. Tempatkan sesuai yang diinginkan

D. Teknik pewarnaan dan pemeriksaan mikroskopis

1) KOH with calcofluor putih


Kegunaan : mengikat dinding sel kerbohidrat kompleks dan menyebabkan
jamur berwarna biru putih terang, sel manusia tidak memperlihatkan
fluoresensi.
Prosedur : spesimen ditempatkan diatas objek glass dalam teteasan 10%-
20% KOH dengan atau tanpa calcofluor white yang merupakan pewarna
dinding sel fungi nonspesifik yang dilihat dengan mikroskop fluoresen.
Spesimen ditutup dengan deck glass segera diperiksa dan diulangi lagi
setelah 20menit.

2) KOH with Chlorazol hitam


Kegunaan : preparat yang tidak dilakukan pengecatan dapat juga diberi
pengecatan dengan Chlorazol Black E untuk pembuatan preparat
permanen
Prosedur :
a. Spesimen dimasukkan ke dalam larutan KOH 10% selama 24 jam atau
dipanaskan hingga jernih
b. Cuci dengan aquades lalu dimasukkan kedalam larutan ethanol 70%
selama 24jam
c. Masukkan kedalam larutan 1% cholrazol black yang dilarutkan dalam
ethanol 70% selama 10-20menit
d. Dehidrasi melalui alkohol (ethanol) 85 %, 95% dan alkohol absolut
e. Dijernihkan dengan xylol dan creosot
f. Spesimen ditaruh diatas gelas benda dan diberi canada balsem. Lalu
tutup dengan gelas penutup dan diberi etiket.

3) Tinta india
Kegunaan : digunakan pada sediaan basah untuk sedimen CSS
memperjelas kapsul Cryptococcus neofarmans

4) Lactophenol cotton blue (LCB)


Kegunaan : untuk mewarnai kapang dan hasilnya warna biru
Prosedur :
a. Larutan cotton blue pad distilled water, biarkan semalam untuk
memisahkan pewarna yang tak larut
b. Tambahkan phenol crystal ke lactic acid dalam beaker glass, aduk
dengan magnetic stirrer sampai larut
c. Tambahkan glycerol
d. Saring larutan dan distilled water dan tambahkan pada larutan kedua
(phenol lactic acid dan glycerol) aduk dan simpan pada suhu ruang

5) Pemeriksaan langsung
Kegunaan : untuk melihat apakah adanya infeksi jamur perlu dibuat
preparat langsung dari kulit, kuku dan rambut
Prosedur :
a. Bahan-bahan kerokan kulit diambil dengan cara mengerok bagian kulit
yang mengalam lesi yang sebelumnya sudah dibersihkan alkohol 70%
b. Dikerok dengan scalpel dan ditampung dalam lempeng steril
c. Sediaan ditetesi larutan KOH yang diberi tinta parker biru hitam
d. Dipanaskan di api kecil jangan sampai menguap dan tutup
e. Amati pada mikroskop

6) Teknik Cellotape Flag


Kegunaan : untuk pemasangan cepat jamur bersporasi karena membuat
lebih banyak struktur reproduksi utuh
Prosedur :
a. Menggunakan selotape lebar 2 cm dan tongkat aplikator kayu (stik
oranye) membuat bendera selotape kecil (2x2cm)
b. Dengan menggunakan teknik steril, tekan dengan lembut sisi lengket
bendera ke permukaan budaya
c. Hapus dan gunakan setets alkohol 95% ke bendera, ini bertindak
sebagai agen pembahasan dan juga melarutkan perekat lem yang
menahan bendera ke tongkat aplikator
d. Tempatkan bendera ke setetes kecil kapas biru lactophenol pada sllide
kaca bersih, lepaskan tongkat aplikator dan buang, tambahkan setetes
noda, tutup dengan penutup kaca, tekan dengan lembut dan bersihkan
noda berlebih.
E. Uji Sensitivitas Antifungi

Tujuan : Untuk uji kepekaan antimikroba adalah untuk memberikan data


in vitro mengenai ketepatan dan kemampuan antimikroba
sehingga mendapat jaminan pengobatan optimal

Metode : Difusi disk

Bahan : - jamur Candida albicans

- Media saboroud Dextrose Broth


- Fluconazole
- Nistatin

Cara kerja :

1. Sampel uji fluconazole dan nistatin dibuat seanyak 6 variasi konsentrasi


2. Dibuat dengan konsentrasi 2048 mikogram/ml lalu diencerkan sebanyak 2
kalinya smapai memperoleh 6 variasi
3. Sampel uji nistatin dengan cara pengenceran sampel candistin 100x
kemudian dari sampel tersebut dibuat larutan stok konsentrasi 600
mikogram/ml sebanyak 6 variasi

Analisis data : dengan secara deskriptid mengkategorikan nilai rata-rata


diameter zona hambat sampel uji

F. Kriteria Penolakan

 Label yang tidak sesuai atau tanpa label


 Waktu pengambilan dan penerimaan di labroatorium melebihi
ketentuan
 Tempat penampungan yang tidak sesuai dan tidak steril
 Kontaminasi benda asing yang jelas

G. Identifikasi
a) Ciri makroskopik yang terlihat pada biakan seperti koloni, permukaan
pigmen dan buih
b) Ciri mikroskopik dengan melihat dibawah mikroskop cahata sediaan
ang telah dicat dengan LPCB untuk melihat spora, hifa dan bentuknya

H. Interpretasi Hasil

a) Pembacaan karakteristik jamur dengan memperhatikan beberapa ciri khas


dari gambaran makroskopis dan mikroskopis, sebagai berikut :
 Makroskopis : permukaan, koloni, pigmen, buih
 Mikroskopis : spora, hida dan bentuknya
b) Pembacaan hasil uji kepekaan jamur
Pembacaan hasil diukur dengan melihat kekeruhan yang dibandingkan
dengan kontrol positif untuk melihat kadar hambat minimal

3.Fase Pasca-Analitik

Fase ini terutama terdiri dari pelaporan individual dan epidemilog. Sangat
disarankan laporan disampaikan dalam bentuk tercetak agar mudah terbaca dan
menghindari kesalahan baca dengan mencantumkan nama ahli mikrobiologi,
alamat dan nomor telepon yang mudah dihubungi. Sedapat mungkin nama
mikroba ditulis hingga spesiesnya.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Didalam suatu laboratorium perlu dilakukan penjaminan mutu
termasuk quality control baik untuk petugas laboratorium maupun
terhadap alat dan didalamnya. Quality control yang dilakukan diantaranya
ialah dengan melakukan pemantapan mutu internal dan eksternal,
assessment atau penilaian dan audit. Semuanya dilakukan agar
laboratorium sesuai dengan standar mutu yang sudah berlaku dan kecil
kemungkinan terjadinya kesalahan. Dengan melakukan quality control
hasil akhir yang didapatkan oleh sebuah laboratorium yaitu akreditasi atau
pengakuan yang diberikan oleh badan yang berwenang, karena
laboratorium sudah sesuai dengan standar akreditasi yang ditentukan.

B. SARAN
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.
Semoga dengan adanya materi dalam makalah ini bisa menunjang
pembelajaran dan diskusi dalam kelas. Penyusunan makalah
mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kelancaran dalam
penyusunan makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/document/397946487/11-Jaminan-Mutu-Px-Mikologi

https://www.academia.edu/36376139/MAKALAH_MANAJEMEN_LABOR
ATORIUM_QUALITY_CONTROL
https://id.scribd.com/document/367678216/Jaminan-Mutu-Pemeriksaan-
Virologi-FIX-FINAL

http://sulaiman-analis.blogspot.com/2013/11/jaminan-mutu-laboratorium-
mikrobiologi_21.html?m=1

Anda mungkin juga menyukai