Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebutuhan masyarakat tentang informasi keuangan yang andal menyebabkan


timbulnya profesi akuntan publik. Pofesi ini berkembang sejalan dengan perkembangan
kebutuhan masyarakat tentang jasa pihak yang kompeten dan dapat dipercaya untuk
menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh manajemen
kepada pihak luar perusahaan. Untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan
diperlukan pengetahuan yang disebut auditing. Pengetahuan auditing menjadikan orang
kompeten untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan, sehingga
memungkinkan orang yang terjun dalam profesi akuntan publik mampu menghasilakn
jasa yang menjadikan masyarakat keuangan dapat memperoleh informasi keuangan yang
andal. Informasi keuangan yang andal bagi masyaraakt keaungan dalam mengambil
keputusan pengalokasian sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien. Sehubungan
dengan uraian-uraian diatas, maka diperlukan perancangan program audit terhadap siklus
kegiatan perusahaan. Pengujian pengendalian ditujukan oleh akuntan publik untuk
menguji efektivitas pengendalian dengan kliennya. Pengujian pengendalian disesuaikan
dengan penggolongan siklus kegiatan perusahaan. Pada kesempatan kali ini, hal yang
akan dibahas ialah mengenai materi tentang audit terhadap siklus pengeluaran: pengujian
pengendalian.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah tujuan dari audit siklus pengeluaran?
2. Bagaimana pemahaman atas bisnis dan industri klien akan mempengaruhi
keputusan tentang materialitas dan risiko inheren?
3. Bagaimana aplikasibilitas dari aspek-apek pengendalian internal untuk
siklus pengeluaran?
4. Bagaimanakah pertimbangan yang berlaku untuk pengevaluasian aktivitas
pengendalian dalam transaksi pembelian?
5. Bagaimanakah pertimbangan yang berlaku untuk pengevaluasian aktivitas
pengendalian dalam transaksi pengeluaran kas?

[1]
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tujuan dari audit siklus pengeluaran.
2. Untuk mengetahui aplikasibilitas dari aspek-aspek pengendalian internal
untuk siklus pengeluaran.
3. Untuk mengetahui pertimbangan yang berlaku untuk pengevaluasian
aktivitas pengendalian dalam transaksi pembelian.
4. Untuk mengetahui pertimbangan yang berlaku untuk pengevaluasian
aktivitas pengendalian dalam transaksi pengeluaran kas

[2]
BAB II

PEMBAHASAN

A. SIFAT SIKLUS PENGELUARAN


Siklus pengeluaran terdiri dari aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan
akuisisi dan pembayaran barang serta jasa. Aktiva utama dari siklus
pengeluaran adalah (1) membeli barang dan jasa-transaksi pembelian, dan
(2) melakukan pembayaran-transaksi pengeluaran kas.
1. Tujuan Audit
Manajemen akan menetapkan asersi implisit atau eksplisit tentang
transaksi dan saldo siklus pengeluaran dalam laporan keuangan
perusahaan. Asersi-asersi ini dapat mendefinisikan tujuan audit
spesifik dari program audit yang terlihat pada tabel 1.1 dibawah.
Kebanyakan audit atas siklus pengeluaran mencakup tujuan-tujuan
utama tersebut, tetapi tidak dimaksudkan untuk membahas semua
situasi yang dihadapi klien.
Kategori Asersi Kelompok Transaksi Tujuan Audit Spesifik
atau Saldo
Eksistensi atau Transaksi Mencatat pembelian barang,
Keterjadian jasa, dan aktiva produktif yang
diterima selama periode berjalan
(EO1).
Mencatat transaksi pengeluaran
kass yang dilakukan selama
periode berjalan kepada pemasok
dan kreditor (EO2)
Saldo Mencatat hutang usaha yang
mencerminkan jumlah hutang
perusahaan per tanggal neraca
(EO3)
Kelengkapan Transaksi Semua pembelian (C1) dan

[3]
pengeluaran kas (C2) yang
dilakukan selama periode
berjalan telah dicatat.
Saldo Hutang Usaha meliputi semua
jumlah yang terutang kepada
pemasok barang dan jasa per
tanggal neraca (C3)
Hak dan Kewajiban Transaksi Perusahaan bertanggung jawab
atas hutang yang berasal dari
pencatatan transakasi pembelian
(R1)
Saldo Hutang usaha merupakan
kewajiban perusahaan per
tanggal neraca (R2)
Penilaian atau Transaksi Semua transaksi pembelian
Alokasi (VA1) dan pengeluaran kas
(VA2) telah dinilai dengan
menggunakan GAAP dan
dijurnal, diikhtisarkan, serta
diposting dengan benar.
Saldo Hutang usaha dinyatakan dalam
jumlah benar (VA3) .
Saldo beban yang berkaitan telah
sesuai GAAP (VA 4)
Penyajian dan Transaksi Rincian pembelian (PD1) dan
Pengungkapan pengeluaran kas (PD2)
mendukung penyajiannya dalam
laporan keuangan termasuk
klasifikasi dan
pengungkapannya yang

[4]
berkaitan.
Saldo Hutang usaha (PD3) dan beban
terkait (PD4) telah diidentifkasi
dengan benar dalam laporan
keuangan.
Pengungkapan yang memadai
yang telah dibuat berkaitan
dengan komitmen, kewajiban
kontijen, dan penjamin serta
hutang pihak yang mempunyai
hubungan yang istimewa (PD5)

2. Menggunakan Pemahaman tentang Bisnis dan Industri untuk


Mengembangkan strategi Audit
a. Pemahaman Tentang Bisnis dan Industri Klien
Pemahaman atas pemicu ekonomi dalam siklus pengeluaran
biasanya sangat penting untuk mengaudit perusahaan manufaktur,
pedagang besar, dan perusahaan eceran. Bagi beberapa perusahaan
yang bergerak dalam industri jasa, hutang usaha mungkin tidak
memiliki peran yang signifikan dan resiko terjadinya salah saji
yang material tidaklah besar.
Pemahaman tentang bisnis dan industri ini akan membantu auditor
dalam memahami resiko bisnis klien. Selain itu, pemahaman ini
juga akan membantu auditor dalam membuat pertimbangan tentang
:
 Materialitas siklus pengeluaran bagi pemakai laporan
keuangan
 Resiko inheren dalam siklus pengeluaran
 Pengendalian internal kunci dimana auditor berharap dapat
menentukan resiko pengendalian bisnis
 Pemberian jasa bernilai tambah

[5]
b. Materialitas
Siklus pengeluaran merupakan proses inti bagi banyak industri dan
mencerminkan jumlah seta volume transaksi dalam siklus ini
dimana resiko terjadinya salah saji yang material adalah tinggi.
Pengalokasian materialitas ke akun-akun yang dipengaruhi oleh
transaksi dalam siklus ini akan bervariasi sesuai dengan
pertimbangannya. Pentingnya siklus pengeluaran ini juga bisa
bervariasi menurut jenis usaha yang dijalankan. Satu industri dapat
memproses transaksi bernilai millyaran dollar selama suatu siklus
operasi, sementara yang lainnya mungkin lebih kecil.
Sistem akuntansi yang terkomputerisasi harus mampu memilah
pengeluaran menurut kelompok beban dan besarnya transaksi, serta
memudahkan perhitungan observasi, jumlah total dan rata –
ratanya.
c. Resiko Inheren
Dalam menilai resiko inherenuntuk aseri – asersi siklus pengeluara,
auditor harus mempertimbangkan faktor – faktor yang penting
yang bisa mempengaruhi asersi – asersi diseluruh laporan keuanga,
serta faktor – faktor yang hanya berkaitan dengan asersi spesifik
dalam siklus pengeluaran. Faktor-faktor penting yang dapat
memotivasi manajemen untuk menyalasajikan asersi-asersi siklus
pengeluaran meliputi:
 Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah beban agar dapat
membuat laporan yang memenuhi target profitabilitas atau
norma industri yang telah ditetapkan, yang dalam kenyataan
tidak tercapai akibat faktor-faktor ekonomi global, nasional,
atau regional yang mempengaruhi biaya operasi, dampak
perkembangan teknologi terhadap produktivitas perusahaan,
atau manajemen yang tidak baik.
 Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah hutang agar bisa
membuat laporan yang menunjukkan tingkat modal kerja yang

[6]
lebih tinggi pada saat perusahaan sedang mengalami masalah
likuiditas atau keraguan tentang kelangsungan usahanya.

Kedua faktor diatas cenderung menyebabkan tingginya risiko


kurang saji daripada lebih saji pengeluaran dan hutang.

Siklus pengeluaran cenderung menanggung resiko kecurangan


yang dilakukan karyawan melalui pengeluaran kas yang tidak
diotorisasi. Faktor – faktor lainnya yang dapat menimbulkan salah
saji dala asersi siklus pengeluaran mencangkup berikut ini :
 volume transaksi dalam siklus ini biasanya tinggi.
 Pembelian dan pengeluaran kas biasa dilakukan tanpa otorisasi
 Pembelian aktiva dapat diselewengkan
 Pembayaran atas faktur penjual mungkin dilakukan dua kali
 Masalah akuntansi yang tidak tepat mungkin terjadi berkaitan
dengan hal-hal seperti apakah biaya harus dibebankan atau
dikapitalisasi.
d. Resiko Prosedur Analitis
Pengujian analitis merupakan hal yang efektif dalam
mengidentifikasi akun-akun siklus pengeluaran yang mengandung
salah saji. Resiko prosedur analitis merupakan unsur siklus deteksi
bahwa prosedur analitis tersebut akan gagal mendeteksi kekeliruan
yang material.
Prosedur analitis yang hanya berfokus pada pembelian dan hutang
usaha akan memberikan informasi yang sangat dapat diandalkan.
Apabila perusahaan sedang berkembang, maka merupakan hal
yang biasa untuk memperkirakan pembelian, persediaan dan
hutang tumbuh pada tingkat yang konsisten.
3. Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Intern
a. Lingkungan pengendalian
Faktor lingkungan pengendalian seperti integritas dan nilai etis
menjadi sangat penting dalam siklus pengeluaran. Agen pembelian

[7]
mungkin mendapat tekanan dari penjual yang ingin, termasuk
menawarkan “ pembayaran kembali” melakukan transaksi bisnis
yang lebih besar dengan pemasok tersebut.
Pemahaman tentang bagaimana manajemen bertanggung jawab
atas penggunaan sumber daya perusahaan merupakan hal yang
berguna untu menentukan :
 Laporan yang digunakan manajemen untuk mengevaluasi
kinerja riview perusahaan
 Seberapa sering dan seberapa cepat laporan manajemen di
riview
 Keputusan yang didasarkan atas lapotan itu
 Kebijakan perusahaan untuk menindaklanjuti masalah yang
berasal dari laporan utama
b. Penilaian Resiko Manajemen
Penilaia resiko manajmen yang berkaitan dengan aktivitas siklus
pengeluaran meliputi pertimbangan atas hal – hal berikut :
 kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan arus kas
untuk transaksi pembelian
 kontijensi yang berkaitan dengan komitmen pembelian
 terus terjadinya pelengkapan yang penting dan stabilitas
pemasok yang penting
 pengaruh kenaikan biaya terhadap perusahaan
 atensi perusahaan terhadap resiko terjadinya pembayaran
berganda
 atensi perusahaan terhadap resiko kecurangan yang dilakukan
leh pegawai.
c. Informasi Dan Komunikasi ( Sistem Akuntansi)
Pemahaman atas sitem akuntansi memrlukan pengetahuan tenta ng
metode pemprosesan data dan dokumen serta catatan penting yang
digunakan dalam peprosesan transaksi siklus pengeluaran.
Informasi penting yang harus dipahami auditor meliputi :

[8]
 bagaimana pembelian, pembayaran, dan retur diawali
 bagaimana transaksi pembelian diperhitungkan ketika barang
dan jasa diterima atau barang dikembalikan
 catatan akuntansi, dokumen, akun, dan file komputer apa
yang digunakan dalam akuntansi untuk beerbagai tahapan
dari setiap siklus pembelian
 proses yang mengawali terjadinyapembayran atas barang dan
jasa
d. Pemantauan
Beberapa jenis aktiva pemantauan secara terus – menerus atau
periodik dalam komponen ini apat memberikan manajemen
informasi tentang keefektifan komponen pengendalian internal
lainnya dala mengurangi resiko salah saji yang berkaitan dengan
transaksi dan saldo siklus pengeluaran.
Aktivitas pemantauna yang mengharuskan auditor mendapatkan
pengetahuan, apabila berlaku, mencangkup : (1) umpan balik yang
terus menerus dari pesok perusahaan menyangkut setiap masalah
pembayaran atau masalah pengiriman dimasa depan, (2)
komunikasi auditor eksternal tentang kondis yang dapat dilaporkan
atau kelemahan yang material atas pengendalian internal yang
relevan, yang ditemukan selama audit sebelumya, dan (3) penilaian
periodik oleh auditor internal tentang kebiajakan serta prosedur
pengendalian yang berhubungan dengan siklus pengeluran.
e. Penilaian Awal atas Resiko Pengendalian
Berdasarkan infornasi dari pemahaman semata, penilaian awal
auditor atas pengendalian haruslah maksimum. Auditor dapat
melaksanakan beberapa pengujian pengendalian secara
berbarengan dengan prosedur untuk mendapatkan pemahaman
yang diperlukan.
Untuk asersi siklus pengeluaran dimana auditor tidak
merencanakan untuk menilai resiko pengendalian pada tingkat

[9]
yang rendah, auditor harus mempunyai pengetahuan yang
dibutuhkanguna mengidentifikasi jenis – jenis salah saji potensial
yang dapat teerjadi dan melangkah ke tahap perancangan pengujian
substantif.

B. AKTIVITAS PENGENDALIAN-TRANSAKSI PEMBELIAN


Aktivitas pengendalian dari suatu perusahaan yang relevan dengan
tujuan audit spesifik untuk transaksi pembelian, dengan mengidentifikasi
beberapa dokumen dan catatan penting yang digunakan dalam pemrosesan
transaksi pembelian secara kredit. Pembahasan tentang fungsi-fungsi ini
juga mencakup bagaimana prosedur pengendalian terjali sedemikian rupa
untuk mengurangi resiko salah saji dalam asersi-asersi laporan keuangan
yang dipengaruhi oleh transaksi pembelian. Diantara aktivitas
pengendalian yang dibahas adalah pemisahan tugas, pengedalian fisik,
pengendalian manajemen, dan pengendalian akuntansi komputer.
Pertimbangan akan diberikan kepada prosedur yang digunakan auditor
untuk memperoleh dan memdokumentasikan pemahaman atas
pengendalian internal, serta melakukan pengujian pengendalian yang
digunakan dalam membuat penilaian akhir atas resiko pengendalian untuk
transaksi pembelian.
1. Dokumen dan Catatan yang Umum
Sejumlah dokumen dan catatan unum yang tercakup dalam siklus
pengenluaran akan dibahas secara singkat berikut ini. Secara khusus,
sistem EDP dapat mengubah bentuk dokumen atau file transaksi.
Meskipun demikian, dokumen dan catatan berikut akan sering
dittemukan dalam sebagian besar sistem akuntansi:
a. Permintaan pembelian. Permintaan tertulis akan barang dan jasa
yang diajukan oleh orang atau departemen yang berwenang kepada
departemen pembelian.

[10]
b. Pesanan pembelian. Penawaran tertulis dari departemen pembelian
kepada penjual atau pemasok untuk membeli barang atau jasa
sebagaimana tertulis dalam pesanan tersebut.
c. Laporan penerimaan. Laporan yang dibuat atas penerimaan barang
yang menunjukkan jenis dan kuantitas barang yang diterima dari
pemasok.
d. Faktur penjual. Tagihan dari pemasok yang menyebutkan jenis
barang yang dikirim atau jasa yang diberikan, jumlah yang harus
dibayar, termin pembayaran, serta tanggal tagihan tersebut.
e. Voucher. Suatu formulir internal yang menyebutkan nama
pemasok, jumlah yang harus dibayar, dan tanggal pembayaran
untuk pembelian yang telah diterima. Formulir ini digunakan untuk
mengotorisasi pencatatan dan pembayaran kewajiban. Banyak
sistem pembelian memerlukan paket voucher yang lengkap
sebelum menyetujui pembayaran. Paket voucher ini biasanya berisi
salinan permintaan pembelian, pesanan pembelianan, laporan
penerimaan, faktur penjualan, dan voucher yang sesuai-semua
dokumentasi yang mendukung transaksi pembelian.
f. Laporan pengecualian. Laporan yang berisi transaksi-transaksi
yang diidentifikasi untuk diinvestigasi lebih lanjutdengan
pengendalian aplikasi komputer.
g. Ikhtisar voucher. Laporan yang berisi seluruh voucher yang
diproses dalam suatu batch atau selama sehari.
h. Register voucher. Catatan akuntasi formal yang mencatat
kewajiban yang telah mendapat persetujuan untuk dibayar.
i. File induk pemasok yang telah disetujui. File komputer yang berisi
informasi tentang penjual dan pemasok yang telah disetujuiuntuk
memberikan jasa dari serta melakukan pembayaran dkepadanya.
j. File pesanan pembelian terbuka. File komputer tentang pesanan
pembelian yang telah dikirim ke para pemasok tetapi barang atau
jasa belum diterima.

[11]
k. File penerimaan. File komputer yang berisi informasi tentang
kuantitas persediaan yang diterima dari pemasok.
l. File transaksi pembelian. File komputer yang berisi data mengenai
voucher yang telah disetujui atas pembelian yang telah diterima.
File ini digunakan untuk mencetak register voucher dan
memuktahirkan file utang usaha, persediaan serta buku besar.
m. File induk utang usaha. File komputer yang berisi data tentang
voucher yang belum dibayar yang telah disetujui. File ini dapat
disusun oleh pemasok. File ini harus ditambahkan ke saldo dalam
akun pengendali hutang usaha.
n. File suspensi atau penolakan. File komputer yang menahan
transaksi-transaksi yang belum diproses karena ditolak oleh
program aplikasi komputer.
2. Fungsi-Fungsi
Pemrosesan transaksi pembelian mencakup fungsi-fungsi pembelian
berikut:
a. Pengajuan pembelian.
Suatu transaksi diawali dengan proses pemberian persetujuan atas
transaksi yang akan dilakukan dengan pihak ketiga yang
independen. Banyak perusahaan memisahkan subfungsi- subfungsi
untuk transaksi dalam jumlah dolar tertentu. Penerimaan barang
dan jasa.
Pesanan pembelian yang sah merupakan otorisasi bagi departemen
penerimaan untuk menerima barang yang dikirim oleh pemasok.
Penerimaan barang dan jasa ini biasanya mebuktikan bahwa suatu
transaksi dan penetapan kewajiban telah terjadi. Personil
departemen penerimaan harus membandingkan barang yang
diterima dengan uraian yang tercantum dalam pesanan pembelian,
menhitung barang, dan memerikasa kemungkinan adanya barang
yang rusak. Penerimaan barang dan jasa atau pengiriman fisik
barang atau jasa, yang mencakup:

[12]
 Penerimaan barang
 Penyimpanan barang yang diterima untuk perusahaan.
 Pengenbalian barang ke pemasok.
i. Pembuatan laporan penerimaan
Laporan penerimaan bernomor urut harus dibuat untuk setiap
pesanan yang diterima, untuk mendokumentasikan bahwa
kewajiban telah ditetapkan. Laporan penerimaaan barang
merupakan dokumen penting dalm mendukung asersi
eksistensi atau kejadian untuk transaksi pembelian. Informasi
yang ada dalam laporan penerimaan akan diteruskan ke
bagian utang usaha melalui salinan laporan penerimaan atau
secara elektronis.
ii. Penyimpanan barang yang diterima sebagai persediaan
Pemisahan fungsi penyimapanan barang yang diterima
sebagai persediaan dari fungsi lainnya yang terlibat dalam
pembelian dapat mengurangi terjadinya resiko pembelian
yang tidak diotorisasi atau penyalahgunaan barang.
Perusahaan harus menyimpan barang di tempat yang aman
dengan akses yang terbatas dan diawasi secara memadai.

b. Pencatatan kewajiban.
Penerimaan barang dan jasa biasanya menetapkan suatu kewajiban
bag perusahaan untuk menyelesaikan transaksi. Akuntansi akrual
mensyaratkan penetapan kewajiban. Pengakuan formal oleh
perusahaan atas kewajiban hukum, yang meliputi:
 Pembuatan voucher pembayaran dan pencatatan kewajiban.
 Pertanggungjawaban atas transaksi yang telah dicatat

Pengendalian atas pencatatan aseri dan asersi/tujuan audit spesifik


yang berkaitan meliputi hal-hal berikut:

[13]
 Menetapkan kesesuaian antara rincian dalam voucher dengan
faktur penjual serta laporan penerimaan barang dan pesanan
pembelian yang bersangkutan.
 Membandingkan tanngal laporan penerimaan dengan tanggal
pencatatan voucher. Kedua tanggal itu harus berada pada
periode akuntansi yang sama.
 Melaksanakn pengecekan yang independen atas keakuratan
matematis dari setiap voucher dan faktur pemasok
pendukungnya.
 Menentukan bahwa semua voucher telah dibukukan dan
diikhtisarkan secara tepat dalam catatan akuntansi.

Sebagian besar pengendalian itu akan membandingkan


keakuratan pencatatan dengan data yang dimasukkan ketika
transaksi dimulai atau barang dan jasa diterima.

C. AKTIVITAS PENGENDALIAN-TRANSAKSI PENGELUARAN KAS


1. Dokumen dan Catatan yang Umum
Dokumen dan catatan penting yang digunakan dalam pemrosesan
transaksi pengeluaran kas meliputi hal-hal berikut:
a. Cek. Perintah resmi kepada bank untuk membayar sejumlah uang
yang ditunjukkan pada perintah tersebut kepada payee.
b. Ikhtisar cek. Laporan total cek yang diterbitkan dalam batch atau
selama hari bersangkutan.
c. File transaksi pengeluaran kas. Informasi tentang pengeluaran
dengan cek kepada pemasok dan pihak lainnya. File ini digunakan
untuk memposting ke file induk hutang usaha dan buku besar.
d. Jurnal pengeluaran kas atau register cek. Catatan akuntansi formal
mengenai cek yang diterbitkan kepada pemasok dan pihak lainnya.

[14]
2. Fungsi-Fungsi
Fungsi pengeluaran kas adalah memproses di mana perusahaan akan
memberikan pertimbangan atas penerimaan barang dan jasa. Fungsi
pengeluaran kasa biasanya meliputi pembayaran kewajiban secara
simultan dan pencatatan pengeluaran kas. Fungsi-fungsi aktivitas
pengendalian yang berlaku, dan asersi yang relevan/ tujuan audit
spesifik akan dijelaskan dalam bagian berikut. Contoh prosedur
pengendalian diikhtisarkan dalam gambar berikut:
Fungsi Salah saji yang Pengendalian komputer, Tujuan audit
potensial pengendalian manual (cetak atas saldo
miring) akun

Pengeluaran Cek mungkin Komputer memperhitungan C2  D


kas belum dicatat. serangkaian cek bernomor
urut.
Komputer membandingkan C2  P
total cek yang telah jatuh
tempo etapi belum dibayar.
Akses ke blangko cek dan cap C2  P
tandatangan harus diawasi
Cek mungkin tidak Komputer mencetak laporan C2  D
dicatata dengan cek yang telah jatuh tempoh
tepat tetapi belum dibayar.
Total run-to-run C2  D
membandingkan saldo awal
kas dikurangi pengeluaran
kas, dengan saldo akhir kas
serta saldo awal hutang usaha
dikurangi pengeluaran dengan
saldo akhir hutang usaha.
Cek mungkin Komputer membandingkan EO2D;

[15]
diterbitkan untuk informasi dalam cek dengan EO2D.
pembelian yang pesanan pembelian dan
tidak diotorisasi informasi penerimaan dan
otorisasi lainnya.
Komputer melakukan EO2P
pengujian yang terbatas atas
pengeluaran yang besar dan
cek harus ditandatangani
secara manual.
Voucher mungkin Komputer mempunyai sebuah EO2D
dibayar dua kali field yang mengidentfikasi
bahwa voucher telah dibayar
dan nomor voucher tidak
dapat digunakan lagi
Cek mungkin Komputer membandingkan VA2D
diterbitkan dengan jumlah cek dengan jumlah
jumlah yang salah voucher yang bersangkutan
Cek mungkin Pengendalian manual VA2P
diubah setelah mengharuskan bahwa
ditandatangani penandatanganan cek
mengirimkan cek
Rekonsiliasi bank secara VA2D
independen
Kekeliruan dapat Komputer membandingkan EO2D;
terjadi dalam informasi dalam ikhtisar cek VA2D;
pencatatan cek. dengan informasi dalam PD2 D
voucher yang bersangkutan

Rekonsiliasi bank secara EO2D;


independen. C2D;

[16]
VA2D;
PD2 D.
Pengendalian manajemen
Pengeluaran kas Tingkat manajemen yang EO2D;
mungkin dilakukan tepat memonitor kas secara VA2D;
untuk pembelian harian, termasuk jumlah cek
yang tidak yang ditulis setiap hari,
diotorisasi atau kewajaran jumlahnya, dan
dilakukan dengan jumlah yang didebetkan ke
jumlah yang salah. hutang usaha setiap hari.
Ket:
P = Pengendalian yang potensial untuk mencegah salah saji atau
penggunaan sumber daya yang tidak diotorisasi.
D = Pengendalian yang potensial untuk mencegah salah saji atau
penggunaan sumber daya yang tidak diotorisasi.

3. Sistem Ilustratif untuk Transaksi Pengeluaran kas


Setiap hari komputer menghasilkan laporan tentang voucher-voucher
yang jatuh tempo. Kontroler akan mereview laporan tersebut,
mengevaluasi posisi kas perusahaan, dan menentukan (dan memberi
catatan pada laporan) voucher-voucher mana yang harus dibayar.
Asisten dari kantor kontroler memasukkan voucher yang akan dibayar
dan program pengeluaran kas beserta setiap transaksi ke pengendalian
yang terprogram, dan membuat cek bernomor urut berdasarkan
informasi dalam file induk hutang usaha. Pengendalian aplikasi yang
terprogram akan membandngkan informasi tentang cek dengan
informasi dalam file hutang usaha dan mengecek apakah voucher
tersebut sudah pernah dibayar di waktu lalu.

[17]
4. Memperoleh Pemahaman dan Menilai Risiko Pengendalian
Seperti yang dibahas sebelumnya, auditor harus mendapatkan
pemahaman yang mencukupi tentang pengendalian intern untuk
merencanakan audit. Jika auditor merencanakan untuk menilai tingkat
risiko pengendalian yang rendah bagi asersi, maka ia mungkin akan
membutuhkan pemahaman atas prosedur pengendalian khusus yang
berkaitan dengan asersi tersebut. Auditor biasanya memperoleh
pemahaman mengenai lima aspek pengendalian intern yang berkaitan
dengan pengeluaran kas itu melalui pengalaman sebelumnya dengan
klien, observasi, tanya jawab dan menginspeksi dokumen.
Pengujian pengendalian merupakan cara untuk menilai keefektifan
pengendalian intern. Sifat dan luas pengujian pengendalian akan
bervariasi secara terbalik dengan penilaian tingkat risiko pengendalian
yang direncakan auditor. Penilaian tingkat risiko pengendalian yang
lebih rendah akan membutuhkan bukti yang lebih kompeten tentang
keefektifan operasi pengendalian intern. Bukti mengenai keefektifan
pengendalian intern dapat diperoleh ketka auditor memperoleh
pemahaman atau melalu pengujian pengendalian spesifik. Apabila
audtor berencana mengandalkan prosedur pengendalian terprogram
untuk mendukung penilaian risiko yang rendah, amaka ia biasanya
menguji keefektfan pengendalian unum, menguji pengendalian
terprogram dengan menggunakan CAATs, dan menguji keefektifan
prosedur tindak lanjut manual. Berdasarkan asimilasi bukti-bukti-bukti
yang diperoleh dari prosedur untuk pemahaman atas bagian yang
relevan dari kelima komponen pengendalian internal dan pengujian
pengendalian terkait, penilaian akhir atas risiko pengendalian dapat
dibuat dan didokumentasikan untuk setiap asersi signifikan yang
berkaitan dengan pengeluaran kas.

[18]
BAB III

KESIMPULAN

Siklus pengeluaran terdiri dari transaksi pemerolehan barang atau jasa.


Barang yang diperoleh perusahaan dapat berupa aktiva tetap dan surat berharga
yang akan digunakan untuk menghasilkan pendapatan dalam jangka waktu lebih
dari satu tahun atau sediaan dan surat berharga yang akan dikonsumsi atau
digunakan untuk menghasilkan pendapatan dalam jangka waktu satu tahun atau
kurang. Jasa yang diperoleh perusahaan juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu jasa
yang hanya menghasilkan manfaat satu tahun atau kurang (jasa personel, bunga,
asuransi, iklan) dan jasa yang menghasilkan manfaat lebih dari satu tahun (aktiva
tidak berwujud).
Auditor harus memahami struktur organisasi klien yang berkaitan dengan
aktivitas siklus pengeluaran ini, sebagai contoh : semua proses pembelian barang-
barang dibawah kendali direktur operasi, pencatatan dibawah kendali kontroler,
sedangkan proses pengeluaran kas dibawah kendali direktur keuangan, pengaturan
pembelian aktiva tetap (capital expendictures) dan kebijaksanaan investasi
strategis lainnya akan dipertimbangkan bagaimana pelaksanaanya. Untuk
memperoleh pemahaman terhadap bagan organisasi, auditor harus melakukan
wawancara (inquiry) kepada manajemen.

[19]
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/12341643/Makalah_Audit_Siklus_Pengeluaran
Diakses Tgl. 16 September 2019 Pukul 13.22 WITA

https://dokumen.tips/download/link/auditing-siklus-pengeluaran-55c1e72b4d9f8
Diakses pada Tgl. 16 September 2019 Pukul 13.40 WITA

[20]