Anda di halaman 1dari 12

1.

M4 FALSAFAH ORTHODONTI
a. Sejarah
Di Amerika Serikat, Dr. Weinberger membagi sejarah ortodonsia dalam 3 periode:
1. Periode awal (antara tahun 1839 – 1880), disebut periode Harris sampai dengan
Kingsley.
Pada periode ini perawatan maloklusi dilakukan secara coba-coba dan
didasarkan pada pengalaman saja, dan tidak dilakukan menurut suatu sistem
tertentu yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. 

2. Periode kedua (antara tahun 1880 – 1900), disebut periode Kingsley sampai dengan
Angle. 
Periode ini merupakan periode perkembangan ilmu ortodonsia sebagai
suatu pengetahuan. Norman William Kingsley merawat penderita palatoschisis
sampai mereka dapat berbicara dengan baik dan memperbaiki kecantikan dengan
protesa, memperkenalkan pemakaian biteplane (peninggi gigitan) dan occipital
anchorage (penjangkaran oksipital). Pada waktu itu ortodonsia merupakan bagian
dari protetik (prostodonsia). 

3. Periode akhir (antara tahun 1900 – sekarang), disebut periode Ortodonsia modern.

Dr. Edward H. Angle (1855 – 1930) pada tahun 1900 mendirikan sekolah Post
Graduate of Orthodontic yang pertama. Dengan adanya sekolah ini ilmu
ortodonsia berkembang dengan pesat. Angle menggo long-golongkan maloklusi
menjadi klas-klas yang sampai sekarang disebut sebagai Klasifikasi Angle, yang
terdiri dari Klas I (Netroklusi), Klas II (Distoklusi) dan Klas III (Mesioklusi).
Tahun 1907 Dr. EH Angle menulis buku Malocclusion of The Teeth. Angle juga
memperkenalkan alat Edgewise (Edgewise Appliance). Pada periode ini
dipentingkan tindakan pencegahan (Preventive Orthodontics). Pengetahuan
tentang pertumbuhan dan perkembangan sudah menjadi dasar yang kuat dari
ortodonsia.

b. tujuan
1. Mencegah terjadinya keadaan abnormal dari bentuk muka yang disebabkan

oleh kelainan rahang dan gigi.
Adanya cacat muka yang disebabkan oleh
kelainan rahang dan susunan gigi yang tidak teratur dapat menyebabkan bentuk
muka yang kurang harmonis dan faktor estetis kurang. Dengan demikian dapat
mengakibatkan pertumbuhan mental kurang sehat, seperti rasa rendah diri, rasa
malu dan tidak bebas mengemukakan pendapat. 

2. Mempertinggi fungsi pengunyahan yang betul.
Pengunyahan yang betul dan
efisien dapat dicapai setinggi mungkin jika susunan gigi-gigi itu baik, stabil dan
seimbang, begitu juga hubungan rahangnya. Pada gigi-gigi yang tidak teratur atau
pada lengkung gigi yang sempit dapat mengakibatkan gerakan lidah tidak bebas
sehingga terjadi penelanan yang salah, dan keadaan ini dapat menimbulkan
kelainan yang lebih lanjut. 

3. Mempertinggi daya tahan gigi terhadap terjadinya karies.
Gigi-gigi yang tidak
teratur akan menyebabkan sisa-sisa makanan mudah melekat pada permukaan
gigi dan self cleansing dari giginya menjadi tidak ada. Karena pengaruh
Lactobacillus, karbohidrat dalam sisa makanan akan diubah menjadi asam laktat
yang dapat melarutkan kalsium dari email dan dentin dan terjadilah karies gigi.
Dengan membetulkan letak gigi menjadi teratur berarti akan mempertinggi daya
tahan gigi terhadap karies. 

4. Menghindarkan perusakan gigi terhadap penyakit periodontal.
Gigi yang
posisinya tidak baik dan tidak teratur akan menyulitkan dalam menjaga
kebersihannya. Dengan demikian selain dapat terjadi karies pada gigi-giginya,
keadaan demikian juga dapat menimbulkan penyakit periodontal. Gigi yang tidak
teratur juga dapat menyebabkan terjadinya oklusi traumatik, sehingga dapat
memperparah penyakit periodontal yang terjadi. 

5. Mencegah perawatan ortodontik yang berat pada usia lebih lanjut. Pencegahan
terhadap timbulnya maloklusi akan lebih efektif dan bermanfaat daripada
perawatan terhadap maloklusi yang sudah terjadi. 

6. Mencegah dan menghilangkan cara pernafasan yang abnormal dari segi
perkembangan gigi.
Jika terdapat polip di dalam hidung atau adanya tonsil yang
membesar maka orang akan bernafas lewat mulutnya, sehingga mulut selalu
dalam keadaan terbuka. Dengan demikian otot-otot disekitar pipi ( m. masseter,
m. buccinator ) menjadi hipertonus. Keadaan ini akan menyebabkan hambatan
pertumbuhan rahang ke arah lateral, sehingga menyebabkan rahang atas menjadi
sempit dan diikuti gigi-gigi depan protrusif atau merongos. Perawatan ortodontik
pada gigi-gigi yang protrusif tadi harus disertai oleh pengambilan polip atau tonsil
yang membesar tadi. Dengan demikian perawatan yang dilakukan akan
memperbaiki pernafasan yang abnormal. 

7. Memperbaiki cara bicara yang salah. 
Orang yang mempunyai kebiasaan
meletakkan lidah di antara kedua lengkung giginya akan menimbulkan gigitan
terbuka. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan dalam proses artikulasinya
(proses pembentukan suara), sehingga akan mengakibatkan pengucapan kata atau
cara bicara yang salah. Dengan merawat maloklusinya, maka akan memperbaiki
cara bicaranya. 

8. Menghilangkan kebiasaan buruk yang dapat menimbulkan kelainan yang lebih
berat. 
Kebiasaan buruk seperti menggigit kuku, ibu jari, pensil atau lainnya,
menghisap bibir, mendorong lidah pada gigi-gigi depannya, menekan dagu dan
sebagainya dapat menimbulkan kalainan baru atau memperberat kelainan yang
sudah ada. Dengan melakukan perawatan ortodontik, maka kebiasaan buruk dapat
dihambat dan dihilangkan. 

9. Memperbaiki persendian temporomandibuler yang abnormal.
Adanya infeksi
pada persendian temporomandibuler sering mengakibatkan deviasi atau
penyimpangan mandibula. Demikian pula kebiasaan mengunyah satu sisi dapat
menimbulkan kelainan tersebut. Perawatan ortodontik yang tepat dapat
memperbaiki kelainan persendian tadi. 

10. Menimbulkan rasa percaya diri yang besar.
Dengan meningkatkan penampilan
akibat perawatan ortodontik, seorang akan memiliki rasa percaya diri yang besar.

c. Klasifikasi
Menurut waktu dan tingkatan maloklusinya, perawatan ortodontik dibagi
menjadi:
1. Ortodontik pencegahan (Preventive Orthodontics), yaitu segala
tindakan yang menghindarkan segala pengaruh yang dapat merubah
jalannya perkembangan yang normal agar tidak terjadi malposisi gigi
dan hubungan rahang yang abnormal. Tindakan-tindakan yang
diperlukan misalnya :
a. Pada waktu anak masih dalam kandungan, ibu harus mendapatkan
makanan yang cukup nilai gizinya untuk kepentingan pertumbuhan janin.
Ibu harus cukup mendapat kalsium, fosfor, fluor dan vitamin- vitamin A,
C dan D untuk mencukupi kebutuhan janin akan zat-zat tersebut.
b. Setelah bayi lahir, nutrisi anak juga harus dijaga agar pertumbuhan dan
perkembangan badannya normal, dan harus dijaga dari penyakit- penyakit
yang dapat mengganggu jalannya pertumbuhan. Penyakit rhinitis, rakhitis,
sifilis, TBC tulang atau avitaminosis dapat menimbulkan deformasi tulang
termasuk gigi-gigi dan jaringan pendukungnya. Gangguan pada kelenjar
endokrin misalnya glandula hipo fise, glandula tyroida, dapat
mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan mengakibatkan adanya
anomali pada gigi-giginya. Juga harus dijaga adanya luka pada saat
kelahiran. Kerusakan yang terjadi pada rahang akibat pemakaian tang-tang
obstetri dapat mengakibatkan anomali yang berat pada gigi-gigi.
c. Setelah anak mempunyai gigi, maka harus dijaga agar gigi ini tetap sehat
sampai pada saatnya akan digantikan oleh gigi permanen. Kebersihan
mulut harus dijaga, harus diajarkan cara-cara menggosok gigi yang benar,
tiga kali sehari setiap selesai makan dan menjelang tidur. Secara teratur si
anak diperiksakan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk melihat
keadaan gigi-giginya. Jika terdapat karies harus segera ditambal.
Dilakukan tindakan preventif agar gigi-giginya tidak mudah terserang
karies, misalnya topikal aplikasi NaF, mouth rinsing dan plak kontrol.
Fungsi pengunyahan harus dijaga agar tetap baik. Pada masa pergantian
gigi harus dijaga agar gigi desidui tidak dicabut atau hilang terlalu awal
(premature axtraction atau premature loss), ataupun terlambat dicabut
sehingga gigi permanen penggantinya telah tumbuh (terjadi persistensi
atau prolong retention gigi desidui). Jika gigi desidui harus dicabut jauh
sebelum waktu tanggalnya, harus dibuatkan space maintainer untuk
menjaga agar ruangan bekas gigi desidui tadi tidak menutup. Kebiasaan
menghisap ibu jari (thumb sucking), menggigit bibir (lips biting),
meletakkan lidah diantara gigi- giginya (tongue biting), mendorong lidah
pada gigi-gigi depannya (tongue thrusting), cara berbicara yang salah, cara
penelanan yang salah, adalah merupakan kebiasaan jelek yang apabila
dilakukan dalam waktu yang cukup lama dan dilakukan pada masa
pertumbuhan aktif, akan mengakibatkan timbulnya anomali pada gigi-
giginya. Oleh karena itu tindakan menghilangkan kebiasaan jelek sedini
mungkin merupakan suatu tindakan preventif terhadap timbulnya anomali.
Anak yang mempunyai tonsil yang membesar akan mengalami gangguan
dalam pernafasannya sehingga anak tersebut akan bernafas melalui
mulutnya. Kebiasaan ini juga akan menimbulkan kelainan pada lengkung
rahang dan giginya. Sikap tubuh yang salah, misalnya selalu
membungkuk, miring kanan atau kiri, juga merupakan kebiasaan jelek
yang dapat menimbulkan kelainan. Seorang dokter gigi harus mengetahui
seawal mungkin adanya penyimpangan dan faktor predisposisi suatu
kelainan. Kalau perlu dokter gigi segera mengirimkan pasien ke ahli
ortodonsi atau ahli lainnya untuk perawatan penyakit sistemik dengan
kelainan dentofasial atau adanya celah pada rahang atau bibirnya yang
membutuhkan perawatan lebih kompleks.
2. Ortodontik interseptif (Interceptive orthodontics).
Ortodontik
interseptif merupakan tindakan atau perawatan ortodontik pada
maloklusi yang mulai tampak dan sedang berkembang. Disini
maloklusi sudah terjadi sehingga perlu diambil tindakan perawatan
guna mencegah maloklusi yang ada tidak berkembang menjadi lebih
parah. Tindakan yang termasuk disini antara lain dengan
menghilangka n penyebab maloklusi yang terjadi agar tidak
berkembang dan dapat diarahkan agar menjadi normal. Contoh yang
paling baik dari ortodontik interseptif ini adalah program terencana
dari pencabutan beranting (serial extraction), yaitu pencabutan gigi
kaninus desidui dan premolar yang dilakukan pada keadaan dimana
gigi depan permanen tampak sedikit berjejal, sehingga dengan
pencabutan pada waktu yang tepat dan terencana maka dapat
memperbaiki gigi yang berjejal tadi. Tindakan interseptif lainnya
misalnya dengan memberikan space regainer untuk mendapatkan
kembali ruang yang menyempit akibat pencabutan atau hilangnya gigi
desidui yang terlalu awal. Juga tindakan pelebaran rahang atas secara
cepat ( RME = Rapid Maxillary Expansion) pada rahang atas yang
sangat sempit dimana sutura palatina masih renggang (belum terjadi
interdigitasi sutura). Perawatan pada otot (myotheraphy) misalnya
pada musculus orbicularis oris yang hipotonus juga termasuk tindakan
interseptif. Demikian juga pergeseran ke distal molar satu permanen
baik atas maupun bawah untuk mengatasi panjang lengkung yang
kurang. Tindakan perawatan interseptif ini dilakukan pada periode gigi
bercampur (mixed dentition).
3. Ortodontik korektif atau kuratif (Corrective atau curative
orthodontics). Ortodontik korektif merupakan tindakan perawatan
pada maloklusi yang sudah nyata terjadi. Gigi-gigi yang malposisi
digeser ke posisi normal, dengan kekuatan mekanis yang dihasilkan
oleh alat ortodontik. Gigi dapat bergeser karena sifat adaptive
response jaringan periodontal. Ortodontik kuratif atau korektif ini
dilakukan pada periode gigi permanen.

Menurut periode perawatan ortodontik dibagi dalam 2 periode:

1. Periode aktif, merupakan periode di mana dengan menggunakan tekanan mekanis


suatu alat ortodontik dilakukan pengaturan gigi-gigi yang malposisi, atau dengan
memanfaatkan tekanan fungsional otot-otot sekitar mulut dilakukan perawatan
untuk mengoreksi hubungan rahang bawah terhadap rahang atas. 
Contoh : Alat
aktif : plat aktif, plat ekspansi
Alat pasif : aktivator (suatu alat myofungsional).

2. Periode pasif, yaitu periode perawatan setelah periode aktif selesai, dengan tujuan
untuk mempertahankan kedudukan gigi-gigi yan telah dikoreksi agar tidak relaps
(kembali seperti kedudukan semula), dengan menggunakan Hawley retainer. 


Menurut cara pemakaian alat, perawatan ortodontik dibagi menjadi:

1. Perawatan dengan alat lepasan (removable appliances), yaitu alat yang dapat dipasang
dan dilepas oleh pasien sendiri, dengan maksud untuk mempermudah pembersihan alat.
Alat ini mempunyai keterbatasan kemampuan untuk perawatan, sehingga hanya dipakai
untuk kasus sederhana yang hanya melibatkan kelainan posisi giginya saja. Contoh : Plat
aktif, plat ekspansi, aktivator, bite raiser dsb.
2. Perawatan dengan alat cekat (fixed appliances), yaitu alat yang hanya dapat dipasang
dan dilepas oleh dokter yang merawat saja. Alat cekat ini mempunyai kemampuan
perawatan yang lebih kompleks.
Contoh : Teknik Begg, Edgewise, Twin Wire Arch,
Straightwire dsb.

d. definisi
Ortodonsia (Orthodontia, Bld., Orthodontic, Ingg.) berasal dari bahasa
yunani (Greek) yaitu orthos dan dons yang berarti orthos (baik, betul) dan
dons (gigi).
Jadi ortodonsia dapat diterjemahkan sebagai ilmu pengetahuan
yang bertujuan memperbaiki atau membetulkan letak gigi yang tidak teratur
atau tidak rata.
1. Menurut Dr. E.H. Angle (1900)
Ortodonsia adalah ilmu pengetahuan yang
bertujuan meratakan atau membetulkan kedudukan gigi-gigi.
2. Menurut Noyes (1911)
Ortodonsia adalah ilmu yang mempelajari hubungan
gigi-gigi terhadap perkembangan muka dan memperbaiki akibat pertumbuhan
yang tidak normal.
Disini telah menyangkut ilmu anatomi dan biologi. 

3. Menurut The British Society of Orthodontics (1922)
Ortodonsia adalah ilmu
yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan rahang, muka dan tubuh pada
umumnya yang dapat mempengaruhi kedudukan gigi. Juga mempelajari adanya
aksi dan reaksi dari pengaruh luar maupun pengaruh dalam terhadap
perkembangan, serta pencegahan dan perawatan terhadap perkembangan yang
mengalami gangguan atau hambatan dan pengaruh jelek. 

4. Menurut American Association of Orthodontist
Ortodonsia adalah ilmu yang
mempelajari pertumbuhan dan perkembangan gigi dan jaringan sekitarnya dari
janin sampai dewasa dengan tujuan mencegah dan memper-baiki keadaan gigi
yang letaknya tidak baik untuk mencapai hubungan fungsional serta anatomis
yang normal. 
Dengan memperhatikan definisi-definisi di atas, Dr. Angle dan
Noyes memandang tindakan kuratif lebih dipentingkan, sedangkan mulai tahun
1922 sampai sekarang lebih mengutamakan tidakan preventifnya, disamping tetap
menjalankan tindakan kuratif. 


2. M4 OKLUSI NORMAL (OKLUSI STATIK DAN OKLUSI DINAMIK)


a. Oklusi normal
Oklusi, yaitu hubungan antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah di mana terdapat
kontak sebesar-besarnya antara gigi-gigi tersebut. Oklusi normal ialah hubungan yang
harmonis antara gigi-gigi di rahang yang sama dan gigi-gigi di rahang yang berlainan di
mana gigi-gigi dalam kontak yang sebesar-besarnya. Dalam kata lain posisi gigi di
rahang atas dan bawah terletak pada posisi yang sejajar. Sehingga fungsi gigi sebagai
pengunyah maupun fungsi-fungsi pendukung lainnya dapat berfungsi dengan baik.
Oklusi normal merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan yang baik dari alat
pengunyah dan meliputi hal yang kompleks, antara lain :
 Kedudukan gigi rahang atas dan rahang bawah dalam posisi normal 

 Fungsi yang normal dari jaringan dan otot-otot pengunyah 

 Hubungan persendian yang normal 

Oklusi memiliki 2 aspek yaitu statis dan dinamis. Statis mengarah kepada bentuk,
susunan, dan artikulasi gigi geligi pada dan diantara lengkung gigi, dan hubungan antara
gigi geligi dengan jaringan penyangga. Sedangkan dinamis, mengarah kepada fungsi
sistem stomatognatik yang terdiri dari gigi geligi, jaringan penyangga, sendi
temporomandibula, sistem neuromuskular dan nutrisi.

Syarat Oklusi Normal :

1. Lengkung gigi rahang atas lebih besar dari rahang bawah (over jet)
2. Permukaan oklusal : lengkung gigi rahang atas lebih cembung dari rahang bawah.
3. Dalam satu lengkung, tiap gigi mempunyai kontak interproksimal yang baik.
4. Poros gigi sesuai dengan syarat fisikalis yang harus dipenuhi di dalam lengkung
barisan gigi.
5. Tiap rahang dalam lengkung rahang atas mempunyai kontak yang baik
6. Tiap gigi mempunyai bentuk anatomis dan fungsi yang baik dengan tiap gigi
rahang bawah.

7. Kontak oklusal dan hubungan antar tonjol semua gigi pada satu lengkung dengan
lengkung antagonisnya pada oklusi sentrik.
8. Kontak oklusal dan hubungan antar tonjol semua gigi pada bermacam- macam
gerak fungsi mandibula.


Angle merupakan orang pertama yang menjelaskan definisi oklusi normal. Oklusi normal
menurut Angle adalah ketika gigi molar rahang atas dan rahang bawah berada dalam
suatu hubungan di mana puncak cusp mesiobukal molar rahang atas berada pada groove
bukal molar rahang bawah, serta gigi tersusun rapi dan teratur mengikuti garis kurva
oklusi. Sedangkan oklusi normal menurut Houston et al. adalah oklusi ideal yang
mengalami penyimpangan yang masih dapat diterima dan tidak menimbulkan masalah
estetik dan fungsional.
Andrew menyebutkan enam kunci oklusi normal berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukannya terhadap 120 model studi pasien tanpa perawatan ortodonti dengan oklusi
normal. Bila satu atau beberapa ciri ini tidak tepat, hubungan oklusal dari gigi geligi
tidaklah normal. Keenam ciri-ciri oklusi normal tersebut adalah:
1. Hubungan yang tepat dari gigi molar pertama permanen pada bidang sagital. 

2. Angulasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang transversal. 

3. Inklinasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang sagital. 

4. Tidak adanya rotasi gigi-gigi individual. 

5. Kontak yang akurat dari gigi-gigi individual dalam masing-masing lengkung
gigi,tanpa diastema maupun berjejal. 

6. Bidang oklusal yang datar atau sedikit melengkung. 


b. overjet
Overjet adalah jarak horizontal antara gigi-gigi insisivus atas dan bawah
pada keadaan oklusi, yang diukur pada ujung incisal insisvus atas. Overjet
tergantung pada inklinasi dari gigi-gigi insisvus dan hubungan antero-
posterior dari lengkung gigi. Jika gigi rahang atas berada pada lingual gigi
insisivus rahang bawah, hubungan tersebut digambarkan sebagai underjet.
Ukuran Overjet normal berkisar 0 - 4,0 mm (Bishara,2001)
Penilaian skor overjet. Penilaian skor ini untuk semua gigi insisivus.
Penilaian dilakukan dengan menempatkan penggaris indeks PAR sejajar
dataran oklusal dan radial dengan lengkung gigi. Jika terdapat dua insisivus
yang crossbite dan memiliki overjet 4 mm, skornya adalah 3 (untuk crossbite)
ditambah 1 (untuk overjet 4 mm), sehingga total skornya adalah 4.

c. overbite
Overbite adalah jarak vertikal antara ujung gigi-gigi insisivus atas dan
bawah. Overbite dipengaruhi oleh derajat perkembangan vertikal dari segmen
dento-alveolar anterior. Idealnya, gigi-gigi insisivus bawah harus berkontak
dengan sepertiga permukaan palatal dari insisivus atas, pada keadaan oklusi,
namun bisa juga terjadi overbite yang berlebihan atau tidak ada kontak insisal.
Pada keadaan ini overbite disebut tidak sempurna jika insisivus bawah di atas
ketinggian edge insisal atas, atau gigitan terbuka anterior, jika insisivus bawah
lebih pendek dari edge insisal atas pada oklusi.Overbite pada gigi permanen
bervariasi antara 10 - 40% (Bishara et al, 2001)
Penilaian skor overbite. Penilaian skor ini untuk semua gigi insisivus
yang dinilai dari jarak tumpang tindih dalam arah vertikal gigi insisivus atas
terhadap panjang mahkota klinis gigi insisivus bawah dan dinilai berdasarkan
besarnya gigitan terbuka. Skor yang dicatat adalah nilai overbite yang terbesar
diantara gigi insisivus

d. freeway space
Freeway space atau jarak interoklusal adalah jarak antara permukaan
oklusal maksila dan mandibula ketika dalam keadaan istirahat berkisar antara
2-4 mm (Jahnson dkk., 2002). Freeway space sangat diperhatikan dalam
pembuatan gigi tiruan, karena memberi tempat bagi aksi otot mastikasi yang
berperan mengatur fungsi mastikasi dan dibuat agar meregang lebih panjang
atau lebih pendek dari normal selama pergerakan otot mastikasi, sehingga
pada prothesa yang digunakan telah menyediakan freeway space yang tepat
(Hartono dkk., 1992).
Menurut Tyson dan McCord (2002), jarak freeway space berkisar
antara 2-5 mm dan pada pasien lanjut usia lebih besar dari kisaran yang ada,
demikian juga dengan pasien atrofi mukosa residual ridge. Menurut Barnes
dan Angus (1995) freeway space pada lansia lebih besar (4-5 mm) daripada
pasien yang lebih muda.
Adalah : Jarak inter-oklusal ( interoclusal clearence ) pada saat mandibula
dalam posisi istirahat.
Cara Pengukuran :
1. Penderita didudukkan dalam posisi istirahat ( rest position ), kemudian ditarik
garis 
yang menghubungkan antara titik di ujung hidung dan ujung dagu (paling
anterior) 
dan dihitung berapa jaraknya. 

2. Penderita dalam keadaan oklusi sentris , kemudian ditarik garis yang

menghubungkan antara titik di ujung hidung dan ujung dagu (paling anterior)
dan 
dihitung berapa jaraknya. 

3. Nilai FWS = jarak pada saat posisi istirahat dikurangi jarak pada saat oklusi

sentris. 

Nilai normal menurut Houston (1989) = 2 - 3 mm.

Nilai FWS perlu diketahui dan dapat digunakan sebagai panduan untuk
melakukan atau pemberian peninggian gigit di-posterior sehubungan dengan
adanya gigitan terbalik anterior.

Apabila FWS ≥ tumpang gigit maka tidak perlu diberi peninggian gigit
posterior
Apabila FWS < tumpang gigit maka perlu diberi peninggian gigit posterior. 


3. M4 OKLUSI SENTRIK DAN RELASI SENTRIK


Oklusi sentrik
• posisi kontak gigi saat mandibula dalam keadaan sentrik, yaitu kedua kondilus
berada dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya.
• Sentris atau tidaknya posisi mandibula ini sangat ditentukan oleh kontak antara
gigi pada saat pertama berkontak.
• Dsbt juga Intercuspation Position (ICP), Bite of Convenience or Habitual Bite
• memungkinkan terjadinya kontak maksimum ketika gigi beroklusi.
• pada waktu siklus fungsi pengunyahan, perpindahan dari oklusi yang satu ke
oklusi yang lain (artikulasi) selalu diawali dan diakhiri dengan oklusi sentrik.
Untuk oklusi sentrik yang ideal, processus condylaris terletak pada posisi paling
belakan dalam fosa glenoid.
Relasi sentrik
• sinonim dari relasi retrusi.
• jaw relationsthip
• Mandibula terlihat terdorong ke belakang. posisi kondilus mandibula paling
superior, paling tengah dan paling atas terhadap fossa glenoida.
• Otot mastikasi dlm keadaan rileks
Merupakan hubungan mandibular terhadap maksila, yang menunjukkan
posisi mandibular terletak 1-2mm lebih kebelakang dari oklusi sentris
(mandibular terletak paling posterior dari maksila) atau kondil terletak paling
distal dari fossa glenoid, tetapi masih dimungkinkan adanya gerakan dalam arah
lateral. Pada keadaan kontak ini gigi geligi dalam keadaan intercuspal contact
position (ICP) atau dapat dikatakan bahwa ICP berada pada posisi CRP

4. M4 OKLUSI PADA ANAK


Fase Pre-Dental
Fase pre-dental berada pada usia 0-6 bulan. Lengkung rahang pada saat lahir disebut
dengan bantalan gusi (gum pads). Lengkung pada maksila berbentuk seperti tapal kuda
(horse-shoe shaped) dan mandibula berbentuk seperti huruf U (U shaped). Hubungan
rahang pada fase pre-dental tidak tetap. Leighton menyatakan bahwa terdapat banyak
kemungkinan pada hubungan bantalan gusi atas dan bawah sehingga tidak dapat
digunakan sebagai kriteria diagnostik dalam memprediksi oklusi pada periode gigi
desidui. Bantalan gusi maksila lebih lebar daripada bantalan gusi mandibula dan biasanya
hanya beroklusi di regio molar
Fase Gigi Desidui
Erupsi gigi desidui dimulai pada usia 6 bulan ketika insisivus desidui pada mandibula
erupsi. Erupsi gigi desidui seluruhnya selesai pada usia 2-3 tahun. Perkembangan oklusi
pada fase gigi desidui terdapat open dentition atau spaced dentition. Ada dua jenis
spacing, yaitu physiologic spacing (developmental / generalized) dan primate space.
Developmental space terjadi selama fase gigi desidui dengan tujuan pertumbuhan anterior
posterior pada rahang. Rata-rata developmental space pada maksila adalah 4 mm dan 3
mm pada mandibula. Primate space terjadi pada fase gigi desidui maksila dan mandibula.
Primate space disebut juga dengan simian space / anthropoid space karena terdapat pada
monyet dan digunakan pada early mesial shift mandibula. Primate space terdapat
diantara insisivus lateral desidui dan kaninus pada maksila sedangkan pada mandibula
terdapat diantara kaninus desidui dan molar pertama desidui
Fase Gigi Bercampur
Fase gigi bercampur terjadi pada usia 6-12 tahun dan merupakan fase dimana gigi desidui
dan gigi permanen sama-sama berada di rongga mulut. Fase gigi bercampur disebut juga
dengan fase transisi karena pada periode tersebut terjadi transisi dari fase gigi desidui ke
fase gigi permanen. Kebanyakan maloklusi berkembang pada fase ini. Fase gigi
bercampur terbagi atas tiga fase, yaitu fase transisi pertama, fase inter-transisi, dan fase
transisi kedua.
Fase Gigi Permanen
Fase gigi permanen dimulai pada usia sekitar 13 tahun dimana semua gigi permanen telah
erupsi kecuali molar ketiga. Ciri-ciri oklusi normal fase gigi permanen:
1. Dalam keadaan oklusi, gigi pada maksila terletak lebih ke labial / bukal daripada gigi
pada mandibula.
2. Angulasi pada fase gigi permanen adalah bukolingual dan mesiodistal.
3. Setiap gigi permanen kecuali insisivus sentralis mandibula dan molar kedua maksila
beroklusi dengan dua gigi antagonisnya.