Anda di halaman 1dari 11

APLIKASI KONSEP RADIASI BENDA HITAM, EFEK FOTOLISTRIK,

X-RAY, DAN SIFAT GELOMBANG DARI PARTIKEL DALAM


BERBAGAI BIDANG
Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisika Modern yang diampu oleh
dosen

Dr. Parlindungan Sinaga, M.Si.

Oleh :
Devi Saidulloh (1406386)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016
A. Radiasi Benda Hitam
Teori kuantum diawali oleh fenomena radiasi benda hitam. Istilah “benda
hitam” pertama kali diperkenalkan oleh Gustav Robert Kirchhoff (1824-1887)
pada tahun 1862. Dalam Fisika, benda hitam (blackbody) adalah sebutan untuk
benda yang mampu menyerap kalor radiasi (radiasi termal) dengan baik.
Radiasi termal yang diserap akan dipancarkan kembali oleh benda hitam dalam
bentuk radiasi gelombang elektromagnetik, sama seperti gelombang radio
ataupun gelombang cahaya. Untuk zat padat dan cair, radiasi gelombangnya
berupa spektrum kontinu, dan untuk gas berupa spektrum garis. Meskipun
demikian, sebenarnya secara teori dalam Fisika klasik, benda hitam
memancarkan setiap panjang gelombang energi yang mungkin agar energi dari
benda tersebut dapat diukur. Temperatur benda hitam itu sendiri berpengaruh
terhadap jumlah dan jenis radiasi elektromagnetik yang dipancarkannya.
Meskipun namanya benda hitam, objek tersebut tidak harus selalu
berwarna hitam. Sebuah benda hitam dapat mempunyai cahayanya sendiri
sehingga warnanya bisa lebih terang, walaupun benda itu menyerap semua
cahaya yang datang padanya. Sedangkan temperatur dari benda hitam itu sendiri
berpengaruh terhadap jumlah dan jenis radiasi elektromagnetik yang
dipancarkannya.
Penerapan radiasi benda hitam adalah sebagai berikut.
a. Gejala Pemanasan Global (Efek Rumah Kaca)

Salah satu penyebab dari pemanasan global adalah peningkatan gas


rumah kaca (greenhouse effect). Efek rumah kaca telah meningkatkan suhu
bumi rata-rata 10 s.d. 50 Celcius. Analogi sederhana untuk menggambarkan
efek rumah kaca adalah ketika kita memarkir mobil di tempat parkir
terbuka pada siang hari. Ketika kita kembali ke mobil di sore hari, biasanya
suhu di dalam mobil lebih panas di bandingkan suhu di luar. Karena
sebagian energi panas dari matahari telah diserap oleh kursi, dashboard dan
karpet mobil. Ketika benda-benda tersebut melepaskan energi panas
tersebut, tidak semuanya dapat keluar melalui jendela tetapi sebagian di
pantulkan kembali. Penyebabnya adalah perbedaan panjang gelombang
sinar matahari yang memasuki mobil dan energi panas yang dilepaskan
kembali oleh kursi. Sehingga jumlah energi yang masuk lebih banyak
dibandingkan energi yang dapat keluar. Akibatnya kenaikan bertahap pada
suhu di dalam mobil. Seandainya tidak ada atmosfer, energi sinar matahari
yang sampai ke bumi akan mampu memanaskan bumi hingga mencapai
suhu 8000C di daerah khatulistiwa.

b. Mengukur Suhu Matahari

Pada temperatur yang cukup tinggi, secara alamiah di dalam


bintang-bintang akan terjadi reaksi fusi, yakni inti-inti ringan akan
bergabung membentuk inti yang lebih berat. Melalui serangkaian tahapan
reaksi fusi, inti-inti atom hidrogen bergabung membentuk inti helium.
Proses penggabungan itu digunakan untuk membangkitkan energi di dalam
bintang-bintang tersebut. Energi yang dihasilkan oleh matahari atau
bintang tersebut terdiri atas berbagai bentuk radiasi gelombang
elektromagnetik yang dapat diketahui melalui frekuensi atau panjang
gelombangnya. Semua gelombang elektromagnetik yang dipancarkan akan
merambat dalam ruang angkasa dengan kecepatan sama, yakni dengan
kecepatan spektrum cahaya. Dengan meneliti spektrum sebuah bintang,
seorang astronom akan dapat mengetahui suhu bintang. Tidak mendekat ke
matahari atau bintang dengan berpedoman pada spektrum radiasi benda
hitam.

c. Termos

Lapisan perak mengkilap mencegah perpindahan kalor secara radiasi.


Lapisan tersebut memantulkan radiasi kembali ke dalam termos. Dinding
gelas, sebagai konduktor jelek, tidak dapat memindahkan kalor. Ruang
vakum antara dua dinding mencegah perpindahan kalor, baik secara
konveksi maupun konduksi. Sumbat dibuat dari bahan isolator. Hal ini
dilakukan dengan maksud untuk mencegah agar konveksi dengan udara luar
terjadi.
d. Panel surya

Panel surya adalah suatu perangkat yang digunakan untuk menyerap


radiasi dari matahari. Panel surya terdiri dari wadah logam berongga yang
di cat hitam dengan panel depan terbuat dari kaca. Kalor radiasi dari
matahari diserap oleh permukaan hitam dan dihantarkan secara konduksi
melalui logam. Bagian dalam panel dijaga tetap hangat oleh efek rumah
kaca, kemudian sirkulasi air melalui wadah logam akan membawa kalor
menjauh untuk dimanfaatkan pada sistem pamanas air domestik dan untuk
memanasi kolam renang.
B. Efek Fotolistrik
Efek fotolistrik merupakan suatu fenomena terlepasnya elektron dari
permukaan logam ketika logam tersebut dikenai cahaya. Elektron yang
dipancarkan ini disebut dengan elektron foton (fotoelektron). Dalam studi
eksperimental terhadap efek fotolistrik, kita dapat megukur laju dan energi
kinetik elektron yang terpancar bergantung pada intensitas dan panjang
gelombang cahaya. Percobaan efek fotolistik dilakukan dalam ruang hampa.
Hal ini dimaksudkan agar elektron tidak kehilangan energinya ketika
bertumbukan dengan molekul-molekul udara.
Apabila cahaya datang pada permukaan logam katoda K yang bersih,
elektron akan dipancarkan. Jika elektron menumbuk anoda A, terdapat arus
dalam rangkaian luarnya. Jumlah elektron yang dipancarkan yang dapat
mencapai elektroda dapat ditingkatkan atau diturunkan dengan membuat
anoda positif atau negatif terhadap katodanya. Apabila V positif, elektron
ditarik ke anoda. Apabila V negatif, elektron ditolak dari anoda. Hanya
elektron dengan energi kinetik ½ mv2 yang lebih besar dari eV yang dapat
mencapai anoda. Ketika tegangan terus diperbesar maka pembacaan arus
pada galvanometer akan menurun ke nol. Tegangan ini dinamakan sebagai
Potensial V0 disebut potensial penghenti. Hal ini disebabkan karena elektron
yang berenergi tinggi tidak dapat melewati potensial penghenti sehingga
potensial ini dihubungkan dengan energi kinetik maksimum.
Salah satu penerapan efek fotolistrik dalam kehidupan adalah dalam
dunia hiburan. Dengan bantuan peralatan elektronika saat itu, suara dubbing
film direkam dalam bentuk sinyal optik di sepanjang pinggiran keping film.
Pada saat film diputar, sinyal ini dibaca kembali melalui proses efek
fotolistrik dan sinyal listriknya diperkuat dengan menggunakan amplifier
tabung sehingga menghasilkan film bersuara.

Gambar: Dubbing-Film
Aplikasi lain adalah pada tabung foto-pengganda (photomultiplier
tube). Dengan menggunakan tabung ini, hampir semua spektrum radiasi
elektromagnetik dapat diamati. Tabung ini memiliki efisiensi yang sangat
tinggi, bahkan ia sanggup mendeteksi foton tunggal sekalipun. Dengan
menggunakan tabung ini, kelompok peneliti Superkamiokande di Jepang
berhasil menyelidiki massa neutrino yang akhirnya dianugrahi hadiah Nobel
pada tahun 2002. Di samping itu, efek fotolistrik eksternal juga dapat
dimanfaatkan untuk tujuan spektroskopi melalui peralatan yang bernama
photoelectron spectroscopy (PES).

Gambar: Photomultiplier Tube


Contoh lain adalah penerapannya dalam foto-diode atau foto-
transistor yang bermanfaat sebagai sensor cahaya berkecepatan tinggi.
Bahkan, dalam komunikasi serat optik transmisi sebesar 40 Gigabite
perdetik yang setara dengan pulsa cahaya sepanjang 10 pikodetik (10-11
detik) masih dapat dibaca oleh sebuah foto-diode. Foto-transistor yang
sangat kita kenal manfaatnya dapat mengubah energi matahari menjadi
energi listrik melalui efek fotolistrik internal. Sebuah semikonduktor yang
disinari dengan cahaya tampak akan memisahkan elektron dan hole.
Kelebihan elektron di satu sisi yang disertai dengan kelebihan hole di sisi
lain akan menimbulkan beda potensial yang jika dialirkan menuju beban
akan menghasilkan arus listrik.

Gambar: Diode Laser Photo


Selain itu, efek fotolistrik juga digunakan dalam produk-produk
elektronik yang dilengkapi dengan kamera CCD (charge coupled device).
Sebut saja kamera pada ponsel, kamera digital dengan resolusi hingga 12
megapiksel, atau pemindai kode-batang (barcode) yang dipakai diseluruh
supermarket, kesemuanya memanfaatkan efek fotolistrik internal dalam
mengubah citra yang dikehendaki menjadi data-data elektronik yang
selanjutnya dapat diproses oleh komputer.
C. Sinar X
Sinar X merupakan suatu bentuk radiasi elektromagnetik yang memiliki
panjang gelombang berkisar antara 0,01 hingga 10 nanometer dan memiliki
frekuensi antara 1016 hingga 1021 Hz. Panjang gelombang sinar ini lebih
pendek daripada sinar UV dan lebih lama daripada sinar gamma. Sinar X
ditemukan oleh seorang ilmuwan yang berasal dari jerman yang bernama
Wilhelm Conrad Rontgent pada tahun 1895.
Berdasarkan hasil penelitian Wilhelm Conrad Rontgent pada tahun 1895,
menyatakan bahwa sina X memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Sinar-X dipancarkan dari tempat yang paling kuat tersinari oleh sinar
katoda.
2. Intensitas cahaya yang dihasilkan pelat fotoluminesensi, berbanding
terbalik dengan kuadrat jarak antara titik terjadinya sinar-X dengan pelat
fotoluminesensi. Meskipun pelat dijauhkan sekitar 2 m, cahaya masih dapat
terdeteksi.
3. Sinar-X dapat menembus buku 1000 halaman tetapi hampir seluruhnya
terserap oleh timbal setebal 1,5 mm.
4. Pelat fotografi sensitif terhadap sinar-X.
5. Ketika tangan terpapari sinar-X di atas pelat fotografi, maka akan tergambar
foto tulang tersebut pada pelat fotografi.Skema peralatan ditampilkan pada
Gambar.

Sinar X memberikan kontribusi penting pada berbagai bidang, seperti


:
1. Bidang Kesehatan
Seperti semua jenis tes kesehatan, X-ray sebaiknya hanya dilakukan untuk
membantu dalam diagnosis medis seseorang, agar tidak menimbulkan
resiko yang justru membahayakan bagi kesehatan.
Beberapa manfaat Sinar X dalam dunia kesehatan, antara lain :
a. Sinar-X digunakan sebagai alat untuk menyelidiki penyebab dan gejala
pada penyakit pasien / mendiagnosa suatu penyakit.
b. Dapat membantu mengkonfirmasi ada atau tidaknya suatu penyakit atau
cedera pada seorang pasien.
c. Sebagai radioterapi untuk membunuh sel-sel tumor dan kanker.
d. Mensterilkan peralatan medis
2. Bidang Perindustrian
Sinar X juga dapat digunakan untuk menunjang kegiatan-kegiatan industri,
seperti :
a. Membantu untuk melacak kerusakan-kerusakan seperti retak dan aus
dalam komponen mesin-mesin industri yang mungkin tidak terdeteksi.
b. Sebagai alat mesin mikroskopis
c. Memperbaiki retakan / kerusakan pada mesin-mesin industri
d. Menghilangkan bakteri berbahaya dari produk kalengan makanan laut
dan produk lainnya.
e. Untuk memantau kualitas produk yang dihasilkan oleh sebuah industri.

3. Bidang Keamanan/Security
Sinar X digunakan untuk membantu mendeteksi ada atau tidaknya
sebuah ancaman bahaya di suatu tempat. Misalnya di Bandara, sinar X dapat
membantu melihat ada atau tidaknya barang-barang berbahaya bawaan
calon penumpang pesawat.
4. Bidang Riset Alamiah dan Ilmu Pendidikan
Sinar X dapat digunakan untuk mempelajari struktur yang terdapat pada
sebuah senyawa / benda.
6. Bidang Pertanian
Dalam bidang pertanian, sinar X digunakan untuk menciptakan bibit
unggul yang berkualitas. Selain itu juga dapat digunakan untuk membantu
pemupukan. Manfaat sinar utraviolet dalam bidang pertanian sebagai salah
satu bahan proses pembuahan di padukan dengan sinar x akan membantu
mendapatkan hasil produksi yang lebih baik.

D. Sifat Gelombang dari Partikel


Efek fotolistrik dan hamburan Compton menunjukkan bahwa cahaya
(yang sebelumnya dikenal sebagai gelombang) juga dapat memiliki sifat
partikel. De Broglie mengusulkan hal kebalikannya, bahwa partikel juga dapat
memiliki sifat gelombang. Dari hubungan energi dan momentum relativistik
diperoleh hubungan antara panjang gelombang dan momentum foton λ = h/p.
Menurut de Broglie persamaan tersebut juga berlaku bagi partikel. Aplikasi dari
konsep ini antara lain pada mikroskop elektron (scanning electron microscope).
Scanning Electron Microscope (SEM) adalah sebuah mikroskop elektron
yang didesain untuk mengamati permukaan objek solid secara langsung. SEM
memiliki perbesaran 10 – 3.000.000 kali, depth of field 4 – 0.4 mm dan resolusi
sebesar 1 – 10 nm.
Kombinasi dari perbesaran yang tinggi, depth of field yang besar, resolusi
yang baik, kemampuan untuk mengetahui komposisi dan informasi kristalografi
membuat SEM banyak digunakan untuk keperluan penelitian dan industri
(Prasetyo, 2011). Anonymous (2012) menambahkan, SEM memfokuskan sinar
elektron (electron beam) di permukaan obyek dan mengambil gambarnya
dengan mendeteksi elektron yang muncul dari permukaan obyek.
SEM bekerja berdasarkan prinsip scan sinar elektron pada permukaan
sampel, yang selanjutnya informasi yang didapatkan diubah menjadi gambar.
Imajinasi mudahnya gambar yang didapat mirip sebagaimana gambar pada
televisi.
Teknik SEM pada hakekatnya merupakan pemeriksaan dan analisis
permukaan. Data atau tampilan yang diperoleh adalah data dari permukaan atau
dari lapisan yang tebalnya sekitar 20 µm dari permukaan. Gambar permukaan
yang diperoleh merupakan gambar topografi dengan segala tonjolan dan
lekukan permukaan. Gambar topogorafi diperoleh dari penangkapan
pengolahan elektron sekunder yang dipancarkan oleh spesimen. Kata kunci dari
prinsip kerja SEM adalah scanning yang berarti bahwa berkas elektron
“menyapu” permukaan spesimen, titik demi titik dengan sapuan membentuk
garis demi garis, mirip seperti gerakan mata yang membaca.
Sinyal elektron sekunder yang dihasilkannyapun adalah dari titik pada
permukaan, yang selanjutnya ditangkap oleh SE detector dan kemudian diolah
dan ditampilkan pada layar CRT (TV). Scanning coil yang mengarahkan berkas
elektron bekerja secara sinkron dengan pengarah berkas elektron pada tabung
layar TV, sehingga didapatkan gambar permukaan spesimen pada layar TV.
Referensi

Aldi. (2013). Radiasi Benda Hitam. [online]. Tersedia : http://rumus-fisika.net [10


Juli 2016].
Anonim. (2012). Kegunaan X-ray. [online]. Tersedia : http://kompasiana.com [ 10
Juli 2016].
Anonim. (2013). Sifat Gelombang dari Partikel. [online]. Tersedia :
http://fisikazone.com [10 Juli 2016].
Hadi, A. (2014). Mekanisme Mikroskop Elektron. [online]. Tersedia :
http://softilmu.com [10 Juli 2016].
Krane, K. (1992). Fisika Modern. Jakarta: Universitas Indonesia.