Anda di halaman 1dari 11

FERMENTASI PADAT AMPAS TAHU ( OKARA ) DENGAN RAGI

RHIZOPUS ORYZAE UNTUK INDENTIFIKASI ENZIM GLUKOAMILASE

I. Tujuan
Mempelajari proses fermentasi padat untuk produksi enzim glukoamilase

II. PerincianKerja
1. Pembuatan media PDA
2. Pembuatan inoculum
3. Fermentasi ampas tahu
4. Pengujian aktifitas enzim

III. Alat dan Bahan


a. Alat yangdigunakan
1. Erlenmeyer 250 ml 13. Autoklaf
2. Gelas kimia 100 ml 14. Incubator
3. Gelas kimia 500 ml 15. Sentrifugasi
4. Pengaduk kaca 16. Hot plate
5. Tabung reaksi 17. Bulp
6. Sumbat tabung 18. Sumbat Erlenmeyer
7. Saringan 19. Jarum ose
8. Pompa vakum 20. Labu semprot
9. Corong burnert 21. Gelas ukur 100 ml
10. Erlenmeyer vakum 22. Spatula
11. Kertas PH 23. Pipet ukur 5 ml dan 25 ml
12. Kertas saring whatman
b. Bahan yang dibutuhkan
1. Kentang 13. Padatan DNS

2. Glukosa 14. Larutan NaOH 2 M

3. Bakto agar 15. Padatan Ka-Na tartrat

4. Aquadest 16. K2HPO4 0,2 M

5. Ragi Rhyzopus oryzae 17. NaOH 0,2 N

6. Pepton 18. HCl 0,,5 M

7. (NH4)SO4
8. KCl
9. MgSO4.7H2O
10. Pati sagu
11. Ampas tahu
12. Air

IV. Dasar Teori

Kedelai merupakan bahan pangan yang termasuk dalam jenis


tanaman penghasil lemak yang digunakan sebagai bahan baku
pembuatan kecap, tahu, tempe, dan susu kedelai. Dalam pembuatan tahu
maupun susu kedelai dihasilkan hasil samping yang berupa ampas
sehingga sering disebut ampas tahu atau okara. Tempe gembus ialah
makanan hasil fermentasi dari ampas tahu sebagai substrat dengan jamur
tempe sebagai mikroorganismenya.
Fermentasi adalah proses terjadinya penguraian senyawa-senyawa
organic untuk menghasilkan energi serta terjadi pengubahan substrat
menjadi produk baru oleh mikroba (Madigan, 2011). Fermentasi berasal
dari Bahasa latin ferfere yang artinya mendidihkan. Produk fermentasi
berupa biomassa sel, enzim, metabolit primer maupun sekunder atau
produk transformasi (biokonversi).

Faktor-faktorygperludiperhatikanyaitu :
1. Ketersediaan sumber karbon dan nitrogen
2. pH
3. Kelembapan, suhu
4. Tahap pertumbuhan dan ada tidaknya competitor

Okara , ampas kedelai , atau ampas tahu adalah bubur yang terdiri
dari bagian-bagian tak terpisahkan dari kedelai yang tersisa setelah
kedelai yang dihaluskan disaring dalam produksi susu kedelai dan tahu .
Biasanya berwarna putih atau kekuningan. Itu adalah bagian dari masakan
tradisional Jepang, Korea , dan Cina . Sejak abad ke-20, telah digunakan
dalam masakan vegetarian di negara-negara Barat. Ini disebut dòuzhā atau
dòufuzhā dalam bahasa Cina, okara dalam bahasa Jepang ,
dan biji atau kongbiji dalam bahasa Korea .

Okara adalah yang tertua dari tiga jenis dasar serat kedelai. Dua
lainnya adalah dedak kedelai (lambung kedelai halus) dan kotiledon / serat
isolat (serat yang tersisa setelah membuat protein kedelai terisolasi, juga
disebut "isolat protein kedelai").
Okara yang dikemas dengan kuatter diri dari 3,5 hingga 4,0%
protein, kelembaban76 hingga 80% dan 20 hingga 24% padatan. Ketika
bebas dari kelembaban, okara berpasir itu mengandung 8 hingga 15%
lemak, 12 hingga 14,5% serat kasar dan 24% protein, dan mengandung
17% protein dari kedelai sumber. Ini juga mengandung kalium, kalsium,
niasin .:Sebagian besar isoflavon kedelai dibiarkan dalam okara, serta
vitamin B dan faktor nutrisi yang larut dalam lemak, yang meliputi lesitin
kedelai , asam linoleat , asam lino lenat, pito sterol ,ferol , dan vitamin D.

Okara mengandung beberapa faktor anti nutritional : inhibitor


trypsin (kebanyakan dihancurkan dengan cara memasak), saponin,
dan aglutinin kedelai , yang tidak mudah dicerna. Fermentasi (oleh spesies
bakteri yang tepat) dari okara kondusif untuk pencernaan dan
penyerapan nutrisi okara, dan selanjutnya meningkatkan nilai gizi. Ini
dapat menghilangkan bau kacang, meningkatkan jumlah serat yang dapat
dimakan, asam amino bebas, gula, asam lemak, vitamin B12, vitamin B2,
dan flavoprotein .

V. ProsedurKerja
A. Membuat media PDA
1. Menimbag 20 g kentang, 2 g glukosa, dan 2 g bakto agar
2. Menambahkan 100 ml aquadest kemudian masak hingga mendidih
3. Menyaring campuran tersebut dan memasukkannya ke dalam
tabung reaksi dengan tinggi sekitar 3 cm
4. Mensterilkan media pada autoklaf suhu 121 ˚C selama 15 menit
5. Menyimpan media steril pada meja dengan cara memiringkan
tabungnya
6. Menambahkan 0,5 g ragi kemudian melarutkannya dengan 50 ml
aquadest yang telah disterilkan
7. Memindahkan suspense ragi dengan menggunakan ose ke dalam
media PDA miring
8. Menginkubasi media PDA selama 4 hari

B. Membuat Inokulum
1. Menimbang 0.09 pepton; 0,04 (NH4)2SO4 ; 0.01 KCl ; 0.01
MgSO4 .7H2O ; dan pati0,025 g kemudian memasukkannya ke
dalam gelas kimia 500 ml
2. Melarutkan campuran tersebut dengan 100 ml aquadest
3. Memipet 20 ml inoculum kedalam Erlenmeyer dan menutupnya
dengan sumbat kapas dan aluminium foil
4. Mensterilkan inokulum pada autoklaf suhu 121 ˚C selama 15
menit
5. Memasukkan 1 ml aquadest steril ke dalam agar miring PDA yang
telah ditumbuhi ragi
6. Mengerok ragi dan memasukkannya ke inoculum aktif
7. Menginkubasi inoculum selama 24- 48 jam

C. Memfermentasi ampas tahu


1. Mencuci media ampas tahu dengan air bersih
2. Memerasnya sampai kadar airnya berkurang
3. Memasukkan 100 g ampas tahu basah ke dalam masing-masing
Erlenmeyer
4. Mensterilkan ampas tahupada autoklaf suhu 121 ˚C selama 15
menit
5. Menambahkan 2 ml inoculum aktif ke dalam media ampas tahu
steril ( untuk control tidak menambahkan inokulum )
6. Memfermentasi selama 3-4 hari
7. Menambahkan aquadest steril ke dalam ampas tahu hasil
fermentasi
8. Menyaringa ampas tahu menggunakan kertas saring whatman
dengan pompa vakum
9. Mengambil filtratnya (enzim kasar glukoamilase) dan
disentrifugasi dingin pada 4000 rpm

D. Menguji aktivitas enzim


1. Membuat larutan patilarut 1 % dalam buffer fosfat pH 5,0
2. Membuat pereaksi DNS
3. Memipet 1 ml supernatant (enzim glukoamilase) dan
memasukkannya ke dalam tabung reaksi
4. Menambahkan 1 ml patilarut 1 % lalu menginkubasi pada
suhu55˚Cselama 5 menit
5. Memipet 1 ml supernatant control kedalam tabun reaksi dan
memanaskannya di dalam air mendidih
6. Menambahkan 1 ml patilarut 1 %
7. Setelah dingin, menambahkan pereaksi DNS dan membandingkan
warna reaksi antara sampel dan control

VI. Data Pengamatan


 Beratkentang : 20,0413 gram
 Beratglukosa : 2,0099 gram
 Beratbakto agar : 2,0007 gram
 Beratragi : 0,5007 gram
 Beratampastahu :100,2334 gram
 Beratpepton : 0,0906 gram
 Berat (NH4)2SO4 : 0,0404 gram
 BeratKCl : 0,0114 gram
 Berat MgSO4`7H2O : 0,0105 gram
 Beratpatisagu : 0,0250 gram

VII. Pembahasan
Pada praktikum ini, percobaan yang dilakukan adalah fermentasi pada
tampas tahu ( okara ) dengan menggunakan ragi Rhyzopus oryzae untuk
identifikasi enzim glukoamilase. Fermentasi adalah proses terjadinya
penguraian senyawa-senyawa organic menghasilkan energi serta terjadi
pengubahan substrat menjadi produkbaru oleh mikroba. Okara adalah limbah
padat dari pengolahan susu kedelai atau tahu yang mengandung kadar protein
tinggi yang berpotensi untuk meningkatkan kandungan gizi suatu produk pangan.
Pada percobaan yang dilakukan ,pertama-tama dilakukan pembuatan media
PDA dari ekstrak kentang sebagai bahan utamanya yang ditambahkan bakto
agar dan glukosa. Tujuan penambahan bakto agar yaitu untuk memadatkan
media sementara tujuan penambahan glukosa sebagai asupan nutrisi untuk
mikroba. Adapun sumber bakteri yang digunakanya itu ragi tempe yang
menghasilkan bakteri Rhizopus Oryzae. Kemudian ragi tersebut di goreskan
pada media yang telah dibuat lalu diinkubasi selama 4 hari.
Selanjutnya dilakukan pembuatan inoculum, pada proses ini dilakukan
pemindahan bakteri ke dalam Erlenmeyer yang berisi inoculum aktif lalu
diinkubasi selama 24 – 48 jam. Setelah itu, dilakukan proses fermentasi pada
ampas tahu ( okara ) dengan cara menambahkan inoculum aktiif tersebut ke
dalam Erlenmeyer yang berisi okara lalu inkubasi selama 3 – 4 hari.
Pada percobaan ini diperoleh hasil bahwa seteleh okara tersebut diinkubasi
selama 3 – 4 hari, terbentuk serabut – serabut putih keabu – abuan pada okara.
Hal ini menandakan bahwa proses fermentasi berjalan lancar dan ternyata ampas
tahu masih dapat di gunakan kembali sebagai bahan makanan fermentasi sama
seperti tempe.
Selain itu, pada percobaan ini dilakukan juga pengujian enzim glukoamilase
dalam okara hasil fermentasi dan membandingkan dengan okara yang dibuat
sebagai control ( blanko ). Dan diperoleh hasil bahwa okara hasil fermentasi
mengandung enzim glukoamilase. Adapun peranan enzim glukoamilase sangat
penting keberadaannya dan tingkat keberhasilan fermentasi sangat tergantung
dari aktivitas glukoamilase.

VIII. Kesimpulan
Pada praktikum ini diperoleh kesimpulan bahwa okara ( ampas tahu )
juga masih dapat diolah dengan cara fermentasi menggunkan ragi tempe.

IX. Daftar Pustaka


Buku penuntun praktikum labaratorium bioproses , jurusan Teknik kimia,
Politeknik Negeri Ujung Pandang.

X. Lampiran
 Gambar media PDA
 Gambar inoculum

 Gambar okara sebelum fermentasi


Sampel

Control
 Gambar okara setelah fermentasi

Sampel

Control
 Gambar pengujian enzim glukoamilase

a. Control b. sampel