Anda di halaman 1dari 28

ANALISA TINDAKAN

RUANG PERAWATAN LONTARA 2 BAWAH DEPAN

DI RS WAHIDIN SUDIROHUSODO
TAHUN 2019

Nama Mahasiswa : Naimah Hargianti Abdurahman

Nim : R014191001

CI LAHAN CI INSTITUSI

[ ] [Ns. Moch. Syafar S, MANP]

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019

1|Page
PERAWATAN KATETER URIN
(29 Juli 2019)

A. Tindakan
Tindakan yang dikerjakan adalah perawatan kateter urin pada Ny.
M dengan diagnosa medis Carsinoma Buli-buli yang berumur 56 tahun.
B. Justifikasi terhadap tindakan
Tindakan ini dilakukan untuk mencegah resiko terjadinya infeksi,
mempetahankan kepatenan kateter dan mencegah terjadinya aliran balik
atau refluks.
C. Teori singkat tindakan
Perawatan kateter merupakan tindakan rutin yang dilakukan pada pasien
yang terpasang kateter indwelding dan membutuhkan perawatan khusus.
Beberapa institusi merekomendasikan untuk memberikan perawatan kateter
3 kali sehari dan setelah defekasi guna meminimalkan ketidaknyamanan dan
infeksi. Tujuan dari perawatan kateter adalah mencegah infeksi,
mempertahankan kepatenan kateter dan mencegah terjadinya refluks urin
(Potter & Perry, 2010)
SOP Perawatan kateter urin
Persiapan alat :
1. Set perlengkapan perawatan kateter yang terdiri dari :
o Sarung tangan bersih
o Bola kapas
o Kain lap pembersih dan handuk
o Air hangat dan sabun
o Salep antibiotic (sesuai kebijakan institusi)
2. Selimut
3. Bantalan penyerap tahan air

2|Page
Langkah-langkah perawatan kateter :
1. Periksa adanya rasa tidak nyaman atau inkontinesia fekal
2. Jelaskan prosedur kepada pasien
3. Jaga privacy pasien dengan menutup pintu atau tirai tempat tidur
4. Mencuci tangan
5. Posisikan pasien berbarin supinasi untuk pasien wanita
6. Letakan bantalan tahan air dibawah area gluteal pasien
7. Tutup tubuh pasien dengan selimut sehingga hanya area perineum
yang terpajan
8. Gunakan sarung tangan
9. Lepaskan alat perekat (plester) untuk membebaskan selang kateter
10. Dengan tangan dominan buka libia untuk memajankan meatus uretra
dan lokasi insersi kateter, pertahankan posisi tangan selama prosedur
dilakukan
11. Periksa meatus uretra dan jaringa sekitarnya untuk melihat adanya
inflamasi, pembengkakan, dan sekret. Perhatikan juumlah, warna,
baud an konsistensi secret. Tanyakan pasien adanya rasa tidak nyaman
atau merasakan sensasi terbakar.
12. Bersihkan jaringan perineum menggunakan kain bersih, sabun dan air.
13. Bersihkan area sekitar meatus uretra dan libia minora. Bersihkan dari
arah pubis menuju anus. Gunakan sisi kain bersih untuk setiap sisi
yang berbeda. Kemudian bersihkan selang katerer dari area insersi
kearah distal sejauh 10 cm, terakhir bersihkan area anus. Keringkan
dengan sempurna
14. Periksa kembali meatus uretra untuk melihat sekret
15. Fiksasi kateter secara longgar menggunakan plester ke paha disisi
tempat kantong drainase akan digantung. Pastikan bahwa selang tidak
terlekuk, terpelintir, terjepit dipintu pagar yang terkunci atau
tersumbat.
16. Ambil bantalan penyerap air
17. Pasien diatur ke posisinya seperti semula/ posisi yang nyaman.

3|Page
18. Membersihkan dan merapikan alat.
19. Lepaskan sarung tangan
20. Mengevaluasi respon klien
21. Merencanakan tindak lanjut dan melakukan kontrak yang akan dating.
22. Melakukan dokumentasi tindakan hasil.

Hasil yang tidak diharapkan :


1. Secret pada uretra
2. Terlepasnya kateter secara tidak sengaja
Pendokumentasian :
1. Catat dan laporkan adanya secret beserta karakteristiknya, kondisi
jaringan perineum, dan rasa tidak nyaman yang dikeluhkan pasien.
2. Segera melaporkan jika dicuragai adanya infeksi
D. Hasil tindakan
Hasil dari tindakan yaitu terawatnya kateter urin indwelling, dengan
tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan kepatenan
kateter dan mencegah terjadinya refluks. Hal-hal yang harus diperhatikan
saat melakukan tindakan perawatan kateter adalah menghindari
memasukkan selang kateter lebih jauh ke dalam kandung kemih secara tidak
sengaja karena dapat meningkatkan resiko masuknya bakteri.

Persiapan alat :
1. Kasa steril
2. Cairan NaCl 0,9%
3. Sarung tangan non steril
4. Plester
5. Gunting
6. Plastik sampah
7. Meja trolly
Pelaksanaan :
1. Mengecek program terapi medis
2. Menyapa pasien dan melakukan validasi dan mengecek identitas pasien

4|Page
3. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan.
4. Mempersiapkan alat
5. Memastikan privacy pasien dengan menutup sampiran.
6. Mengatur posisi pasien (Supinasi/Terlentang).
7. Memakai sarung tangan
8. Melepaskan plester pada fiksasi luar selang kateter
9. Melakukan tindakan perawatan membersihkan daerah vulva dengan
tangan kiri membuka labia dan membersihkan pintu masuk ke meatus
urinarius sampai bersih dengan tangan kanan menggunakan kasa steril
yang telah diberi cairan NaCl 0,9%, bersihkan dari permukaan terdalam
keluar. Kemudian dikeringkan menggunakan kasa steril kering dan kasa
yang kotor dibuang ke plastic sampah.
10. Membersihkan selang kateter denga cara tangan kiri mengfiksasi kateter,
tangan kanan melakukan pada selang kateter kearah distal 10cm dari
pangkal kateter menggunakan kasa yang sudah diberi cairan NaCl 0,9%
dan keringkan dengan kasa steril. Kasa kotor dibuang ke plastic sampah.
11. Fiksasi luar selang katerer dengan plester ke bagian paha ke sisi kantong
urin bag. Setelah selesai pasien diatur posisinya seperti semula.
12. Membersihkan dan merapikan alat. Mengevaluasi respon klien,
merencanakan tindak lanjut, melakukan kontrak yang akan datang dan
melakukan dokumentasi tindakan hasil.
E. Analisa tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan perawatan kateter urin pada Ny. M pada
umumnya sudah hampir sesuai teori. Namun ada beberapa hal terdapat pada
tindakan yang tidak dilakukan sesuai SPO yaitu :
1. Persiapan alat yang masih kurang seperti : tidak menggunakan alas dan
sarung tangan yang digunakan telah dipakai pada pasien sebelumnya.
Hal ini tidak sesuai dengan tujuan dan prinsip perawatan kateter urin
yaitu untuk mencegah terjadinya risiko infek. Kondisi ini dapat
mengakibatkan terjadinya infeksi nosocomial.

5|Page
2. Pada pendokumentasian tidak ditulis secara lengkap bagaimana area
pemasangan kateter dan respon klien. Hal ini terjadi karena pada saat
melakukan perawatan kateter urin perawat lupa menanyakan respon
klien. Pendokumentasian yang kurang lengkap dapat mempengaruhi
tindak lanjut selanjutnya terhadap pasien, misalnya lupa mengoverkan
kondisi pasien kepada petugas shift berikutnya sehingga mereka tidak
mengetahui kondisi pasien.
F. Hambatan
Hambatan yang terjadi pada perawatan kateter urin Ny.M adalah
keterbatasan alat.
G. Kesimpulan dan Saran
Perawatan kateter sangat penting untuk dilakukan pada pasien yang
terpasang kateter urin. Dalam melakukan perawatan kateter perlu
memperhatikan prinsip kerjanya, jangan sampai tindakan perawatan
kateter urin dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosocomial.
Pendokumentasian perlu dilakukan dengan baik karena dapat
mempengaruhi tindakan selanjutnya yang akan diberikan pada pasien.
Perawat perlu memperhatikan teknik aseptic dan bekerja sesuai SPO agar
tindakan yang diberikan dapat meminimalisir terjadinya infeksi. Sebelum
melakukan tindakan sebaiknya perawat perlu mengecek kembali peralatan
yang akan digunakan dan menyampaikan keterbatasan peraltan yang tidak
tersedia kepada pimpinan unit.

Referensi

Keperawatan, F. (2018). Buku Praktek Profesi Keperawatan Dasar


UNHAS. Makassar: Univesritas Hasanuddin.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). fundamentals Of Nursing (7 ed.).


Indonesia: Salemba Medika.
Rahman, A., & Khodijah. (2012). Buku panduan Praktek Laboratorium.
Yogyakarta: Deepublish

6|Page
PENGAMBILAN DARAH VENA
(30 Juli 2019)

A. Tindakan
Tindakan yang dikerjakan adalah pengambilan darah vena pada Tn.
M.G dengan diagnosa medis Tumor ginjal kanan yang berumur 56 tahun.
B. Justifikasi terhadap tindakan
Tindakan ini dilakukan untuk pengambilan specimen tes laboratorium
(mengecek ureum dan creatinin).
C. Teori singkat tindakan
Pengambilan darah vena merupakan cara pengambilan darah dengan
menusuk area pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Lokasi
pengambilan darah vena antara lain yaitu : vena basilica, vena sefalika, vena
median cubiti, vena radialis dan vena saphenous.
Tujuan tindakan yaitu :
1. Mendapatkan sampel darah vena yang baik dan memenuhi syarat untuk
melakukan pemeriksaan.
2. Mendapatkan sampel darah vena tanpa antikoagulan yang memenuhi
syarat untuk pemeriksaan kimia klinik dan imunologik
3. Menganalisa kandungan komponen darah seperti sel darah merah, leukosit
dan trombosit.
Indikasinya adalah pemeriksaan laboratorium.
Kontraindikasi antara lain :
1. .Jika terdapat tanda-tanda infeksi, infiltrasi atau thrombosis pada tempat
penusukan.
2. Pasien dengan mastektomi yang mengalami gangguan pada tangannya.
3. Fistula arteriovenus
4. Lengan yang mengalami gangguan atau kelumpuhan
5. Lengan dengan gangguan sirkulasi ataupun neurologis.

7|Page
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
1. Pembendungan yang terlalu lama akan mempengaruhi hasil pemeriksaan
karena akan terjadi hemokonsentrasi.
2. Pengisapan darah ang terlalu dalam akan menyebabkan darah membeku
dalam spuit, segera pisahkan darah ke dalam tabung sesuai jenis
pemeriksaan.
3. Terbentuk hematoma pada tempat penusukan.
4. Terjadi perdarahan pada tempat penusukan
Prinsip Tindakan :
1. Pertahankan sterilitas
2. Penting untuk mempertahankan integritas kulit dan jaringan
3. Memilih pembuluh darah

SOP Pengambilan darah vena (Rahman & Khodijah, 2012)


Persiapan alat :

1. Sarung tangan
2. Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
3. Kapas alcohol dalam kom
4. Tourniquet
5. Perlak pengalas
6. Kasa steril
7. Plester
8. Bengkok
9. Botol/tabung sampel/slidel/ Object glass
10. Label untuk identitas
11. Formulir permintaan jenis tes
12. Plastic/container untuk membawa specimen ke laboratorium

Langkah-langkah perawatan kateter :


1. Persiapan alat dan bahan yang diperlukan, cuci tangan.
2. Identifikasi klien dan jelaskan tujuan dan prosedur yang akan
dilaksanakan.

8|Page
3. Atur klien dalam posisi yang nyaman
4. Bebaskan lengan klien dari baju atau kemeja jika area penusukan bagian
lengan.
5. Pilih dan kaji kondisi vena.
6. Letakkan alas di bawah aea penusukan, pakai sarung tangan.
7. Pasang tourniquet 7-10 cm diatas vena yang akan diambil. Anjurkan klien
membuka dan menutup tangannya atau tepuk-tepuk vena tersebut.
8. Lokasi penusukan di desinfeksi dengan kapas alcohol 70% dengan cara
berputar dari dalam keluar.
9. Spuit disiapkan dengan memeriksa jarum dan penutupnya.
10. Buka jarum pegang dengan tangan dominan, tusukkan jarum dengan sudut
15-45º dan bevel ke atas. Pertahankan teknik steril.
11. Bila jarum sudah masuk ke vena, tarik jarum sampai darah mengisi spuit
sesuai kebutuhan. Bila menggunakan vacutainer, pegang plastic adapter
tekan tabung vakum dan biarkan darah masuk sampai sesuai kebutuhan.
12. Tourniquet dilepas, kemudian cabut jarum dari vena secara perlahan dan
gunakan kasa atau kapas alcohol untuk menekan tempat penusukan.
13. Setelah itu, bila darah telah berhenti keluar berikan plester.
14. Tempatkan darah pada tabung yang sesuai jika dibutuhkan dan beri label
pada tabung.

Dokumentasi :

Nama pasien, tanggal dan waktu pengambilan darah, jenis tes yang
diperlukan, keadaan/respon area pengambilan darah setelah prosedur
dilakukan., hasil yang didapatkan ( volume darah), daerah vena yang ditusuk,
tanda tangan dan nama jelas perawat yang melakukan tindakan.

D. Hasil Tindakan
Persiapan alat
1. Sarung tangan
2. Tourniquet

9|Page
3. kapas alcohol
4. Spoit disposable 5 cc
5. Botol sampel
6. Label untuk identitas
7. Formulir permintaan jenis tes
Pelaksanaan tindakan
1. Mengecek program terapi medic
2. Menyapa pasien, melakukan validasi dan mengecek identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan.
4. Mencuci tangan dan mempersiapkan alat
5. Memasang sarung tangan
6. Mencari vena yang akan ditusuk (vena cubit median) pada lengan
tangan kanan,
7. Pasang tourniquet 7-10 cm diatas vena yang akan ditusuk dan minta
pasien untuk mengepalkan tangan.
8. Lakukan tindakan antiseptic secara sirkular dan biarkan sampai kering.
9. Menyiapkan spoit 5 cc, memegang kulit dengan tangan yang tidak
dominan dan melakukan penusukan dengan sudut 45º dengan
memberitahu pasien saat akan menusukan jarum.
10. Merendahkan spoit dan melihat adanya aliran darah yang masuk dan
melepaskan tourniquet.
11. Menarik darah 5cc, kemudian lepaskan jarum dari vena perlahan -
lahan dan menutup kembali spuit, lalu menekan area penusukan
dengan kapas alcohol.
12. Mengisi sampel darah kedalam tabung specimen yang sudah diberi
label.
13. mengobservasi area penusukan bila sudah tidak ada darah lagi angkat
kapas alcohol dan beri plester. Lepaskan sarung tangan.
14. Mengevaluasi respon klien danmerapikan alat serta melakukan
dokumentasi tindakan hasil.

10 | P a g e
E. ANALISA TINDAKAN
Dalam pelaksanaan tindakan pengambilan darah vena terdapat beberapa hal
yang harus diperhatikan. Langkah pertama dimulai dengan mengecek program
terapi medik sampai mendokumentasikan tindakan. Pada saat melakukan
tindakan ini sudah sesuai teori. Namun ada beberapa tindakan yang tidak
dilakukan oleh saya yaitu :
1. Tidak memasangan alas karena memang tidak tersedia
2. Sampel darah yang diantar ke laboratorium tidak menggunakan
plastic/container tetapi menggunakan kertas blangko lab yang telah
dimodifikasi lipatannya untuk mengisi tabung sampel.
3. Tindakan yang telah dilakukan yang didokumentasikannya hanya jenis
tindakan, waktu dan nama serta paraf petugas saja. Sedangkan
keadaan/respon area pengambilan darah setelah prosedur dilakukan, hasil
yang didapatkan ( volume darah) dan daerah vena yang ditusuk tidak
dicatat.
F. Hambatan
Hambatan pada tindakan yaitu pasien Tn. M.G awalnya menolak untuk
dilakukan pengambilan darah vena dengan alasan sudah banyak darahnya
yang keluar saat muntah diruang radiologi. Namun setelah dijelaskan tentang
tujuan pengambilan darah akhirnya pasien bersedia untuk dilakukan
pengambilan. Ketidak sediaan alat seperti pengalas dan plastic container untuk
menyimpan sampel darah yang akan diantar ke laboratorium Sampel darah
yang diantar ke laboratorium menggunakan kertas blangko lab yang telah
dimodifikasi lipatannya untuk mengisi tabung sampel.

G. Kesimpulan dan Saran


Pengambilan darah vena merupakan salah satu tindakan invasif yang sering
dilakukan pada pasien yang sedang dirawat diruang lontara urologi Dalam
melakukan pengambilan darah perlu memperhatikan prinsip dan tekhnik
kerjanya, agar pasien tidak ditusuk berulang kali. Penting pula bagi perawat
untuk menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan agar pasien tidak
menolak tindakan yang akan diterimanya. Diharapkan perawata dapat pula

11 | P a g e
melakukan pendokumentasian sesuai SPO. Sebelum melakukan tindakan
sebaiknya perawat perlu mengecek kembali peralatan yang akan digunakan
dan menyampaikan keterbatasan peraltan yang tidak tersedia kepada pimpinan
unit.

Referensi

Keperawatan, F. (2018). Buku Praktek Profesi Keperawatan Dasar UNHAS.


Makassar: Univesritas Hasanuddin.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). fundamentals Of Nursing (7 ed.).


Indonesia: Salemba Medika.
Rahman, A., & Khodijah. (2012). Buku panduan Praktek Laboratorium.
Yogyakarta: Deepublish

12 | P a g e
PEMASANGAN IV CATHETER (INFUS)
(03 Agustus 2019)

A. Tindakan
Tindakan yang dikerjakan adalah pemasangan infus pada Tn R dengan
diagnosa medis adenocarsinoma recti yang berumur 56 tahun.

B. Justifikasi terhadap tindakan


Tindakan ini dilakukan guna mempertahankan cairan dan elektrolit klien
dan sebagai jalur masuk pemberian obat-obat kedalam tubuh klien.

C. Teori singkat tindakan


Pemasangan infus intravena (intravenous fluids infusion) adalah
tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit, obat
intravena dan nutrisi parenteral ke dalam tubuh melalui intravena. Tindakan
ini merupakan metode efektif dan efisien dalam memberikan suplai cairan ke
dalam kompartemen intravaskuler. Terapi intravena dilakukan berdasarkan
instruksi dokter dan perawat bertanggung jawab dalam pemeliharaan terapi
yang dilakukan. Beberapa faktor pemilihan pemasangan terapi intravena
didasarkan pada tujuan dan lamanya terapi, diagnosa pasien, usia, riwayat
kesehatan dan kondisi vena pasien. Perawat harus mengidentifikasi larutan
yang benar, peralatan dan prosedur yang dibutuhkan serta mengatur dan
mempertahankan system apabila telah diprogramkan.

SOP Pemasangan infus (Jacob, Rekha, & Tarachnand, 2014) :


Persiapan alat :

1. Cairan IV yang dibutuhkan


2. Set infus
3. Standart infus
4. Abocath sesuai ukuran vena dan jenis cairan yang akan diberi
5. Kapas alcohol

13 | P a g e
6. Tourniquet
7. Kasa steril
8. Povidone iodine
9. Kain alas atau perlak
13. Plester
14. Gunting
15. Bengkok

Langkah-langkah pemasangan infuse:


1. Mencuci tangan
2. Memberitahu tindakan yang akan dilakukan
3. Mengisi selang infuse
4. Membuka plastik infus set dengan benar
5. Tetap melindungi ujung selang steril
6. Menggantungkan infus set dengan cairan infus dengan posisi cairan infus
mengarah keatas
7. Menggantung cairan infus di standar cairan infuse
8. Mengisi cairan infus set dengan cara menekan (tapi jangan sampai
terendam)
9. Mengisi selang infus dengan cairan yang benar
10. Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan kesterilan
11. Cek adanya udara dalam selang
12. Pakai sarung tangan bila perlu
13. Memilih vena yang tepat dan benar menggunakan penlight
14. Memasang tourniquet
15. Desinfeksi vena dengan alcohol dari atas kebawah dengan sekali hapus
16. Buka abocath dan mengecek apakah ada kerusakan atau tidak
17. Menusukan abocath pada vena yang telah dipilih
18. Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu
dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit

14 | P a g e
19. Memberikan plester pada ujung abocath tapi tidak menyentuh area
penusukan untuk fiksasi
20. Memberi plester dengar benar dan mempertahankan keamanan abocath
agar tidak tercabut
21. Mengatur cairan tetesan infus sesuai kebutuhan pasien
D. Hasil tindakan
Persiapan alat :

1. Cairan IV ringer laktat


2. Set infus
3. Standart infus
4. Abocath no 20
5. Kapas alcohol
6. Tourniquet
7. Kasa steril
16. Plester
17. Gunting
18. Bengkok

Langkah-langkah pemasangan infuse:


1. Mengecek program terapi medic
2. Menyapa pasien dan melakukan validasi identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan.
4. Mencuci tangan dan mempersiapkan alat
5. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
6. Dekatkan alat didekat pasien
7. Sambungkan cairan infus ringer laktat ke infus set dan keluarhan udara
lalu gantung di tiang infus
8. Pasang pengalas dibawah tempat yang akan ditusuk
9. Pasang tourniquet ±10 cm diatas tempat penusukan dan kencangkan
10. Pakai sarung tangan
11. Tentukan vena yang akan ditusuk dan beri disinfeksi

15 | P a g e
12. Lakukan penusukan pada daerah yang sudah di desinfeksi dengan sudut
30o
13. Lepas tourniquet apabila berhasil
14. Hubungkan jarum intravena dengan infus set, buka klem dan alirkan
cairan
15. Fiksasi jarum intravena dan desinfeksi daerah tusukan dan tutup dengan
kasa steril dan plester
16. Atur tetesan infus ringer laktat 20 tetes/menit
17. Merapikan pasien, alat dan melepas sarung tangan
18. Melakukan evaluasi tindakan dan respon klien
19. Mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan (nama pasien, waktu
dan tanggal pelaksanaan, jenis cairan dan tetesan infus, petugas yang
melakukan tindakan).
E. Analisa tindakan
Pemasangan infus antara yang dilakukan di rumah sakit dengan teori
secara umum telah sesuai. Ada beberapa alat yang tidak tersedia sesuai teori
seperti ferlak dan povidone iodine, karena memang tidak tersedia diruangan.
Untuk prosedur tindakan telah sesuai antar teori dengan pelaksanaan.
Pemasangan infus merupakan prosedur invasif yang sering dilakukan di
rumah sakit sehingga perlu memperhatikan prinsip-prinsipnya saat
melakukan tindakan agar resiko terjadinya infeksi tidak terjadi.
F. Hambatan
Selama tindakan pemasangan infus dilakukan, tidak ada kendala yang
dapat menghambat proses tindakan dari peralatannya sudah sesuai dan
pasien sangat kooperatif.
G. Kesimpulan dan saran
Pemasangan infus adalah hal dasar yang perlu dilakukan pada
pasien yang mengalami sakit untuk memenuhi kebutuhan cairan dan
elektrolit klien serta akses pemberian obat intra vena. Tindakan
pemasangan infus yang dilakukan di rumah sakit pada Tn. R sesuai
dengan teori, baik komunikasi terapeutik, peralatan yang digunakan,

16 | P a g e
maupun prosedur yang dilakukan sehingga untuk ke depannya diharapkan
prosedur tersebut tetap dipertahankan. Perawat juga perlu memerhatikan
teknik aseptik agar mengurangi risiko terjadinya phlebitis akibat
pemasangan infus dan menyediakan pengalas atau perlak.

Referensi

Keperawatan, F. (2018). Buku Praktek Profesi Keperawatan Dasar UNHAS.


Makassar: Univesritas Hasanuddin.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). fundamentals Of Nursing (7 ed.).


Indonesia: Salemba Medika.
Rahman, A., & Khodijah. (2012). Buku panduan Praktek Laboratorium.
Yogyakarta: Deepublish

17 | P a g e
PEMBERIAN OKSIGEN NASAL CANUL

(06 Agustus 2019)

A. Tindakan
Tindakan yang dikerjakan adalah pemberian oksigen nasal canul pada
Tn. T dengan diagnosa medis rupture uretra pars bulbosa usia 60 tahun.
B. Justifikasi terhadap tindakan
Tindakan ini dilakukan untuk untuk mencegah dan mengatasi
hipoksia.
C. Teori singkat tindakan
Nasal kanul memberikan oksigen dengan konsentrasi rendah yaitu 24-
45% dan kecepatan aliran 2-6 liter/menit. Prinsip kerja pemberian oksigen
dengan kanul yaitu menentukan kebutuhan terapi oksigen dan pastikan
program untuk terapi, bantu klien untuk ke posisi semi fowler (posisi ini
memungkinkan pengembangan dada yang lebih mudah sehingga
mempermudah pernapsan. Jelaskan kepada klien/keluarga tujuan pemberian.
Cuci tangan dan berikan privasi jika perlu. Siapkan perlengkapan dan berikan
oksigen dengan kecepatan yang telah diprogramkan (pastikan oksigen
mengalir bebas melalui selang & atur oksigen sesuai terapi program). Pasang
kanula diwajah klien, dengan cabang outlet dipaskan ke hidung. Jika kanula
tidak bisa diam ditempatnya, plester kanula kepipi. Kaji lubang hidung klien
untuk melihat adanya enskrutasi dan iritasi. Mengkaji adanya secret pada jalan
napas penting untuk dilakukan pada pasien, untuk mencegegah
obstruksi/untuk memperlancar jalan napas pada saat oksigen dimasukkan.
SOP pemasangan koksigen nasal kanul :
Persiapan alat :
1. Nasal kanul
2. Selang oksigen
3. Humifier
4. Cairan steril

18 | P a g e
5. Sumber oksigen dengan flow meter
6. Plester
Pelaksanaan :
1. Mengecek program terapi medic
2. Menyapa pasien dan melakukan validasi identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan tindakan dan langkah-langkah yang akan dilakukan.
4. Mencuci tangan dan mempersiapkan alat.
5. Mengkaji adanya tanda hipoksia dan secret pada jalan napas
6. Menentukan kebutuhan oksigen pasien sesuai dengan program medis
7. Memberikan oksigen sesuai dengan kecepatan aliran pada program medis
8. Pastikan selang berfungsi dengan baik, tidak tertekuk, ada gelembung
udara pada humidifier dan terasa oksigen keluar dari kanul.
9. Letakkan ujung kanul pada lubang hidung pasien dan mengatur pita selang
plastic ke kepala atau dibawah dagu sampai kanul terasa pas dan nyaman.
10. Beri plester pada kanul di kedua sisi wajah
11. Cek kanul dan jumlah kecepatan aliran oksigen setiap 8 jam
12. Mempertahankan level air pada botol humidifier setiap waktu
13. Kaji mukosa hidung dari adanya iritasi.
14. Cuci tangan
15. Kaji respon pasien dan kontrak waktu yang akan dating
16. Mendokumentasikan tindakan dan respon pasien
D. Hasil Tindakan
Persiapan alat :
1. Nasal kanul
2. Selang oksigen
3. Humifier
4. Cairan akuadest
5. Sumber oksigen dengan flow meter
6. Plester
Pelaksanaan :
20. Mengecek program terapi medic

19 | P a g e
21. Menyapa pasien dan melakukan validasi identitas pasien.
22. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan.
23. Mencuci tangan dan mempersiapkan alat.
24. Mengkaji adanya tanda hipoksia dan secret pada jalan napas pasien
tampak sesak napas dengan respiratory rate 30x/mnt
25. Kebutuhan oksigen pasien sesuai dengan program medis 5 liter/menit
26. Memberikan oksigen sesuai dengan kecepatan aliran pada program medis
dan memastikan selang berfungsi dengan baik, tidak tertekuk, ada
gelembung udara pada humidifier dan terasa oksigen keluar dari kanul
27. meletakkan ujung kanul pada lubang hidung pasien dan mengatur pita
selang plastic dibawah dagu sampai kanul terasa pas dan nyaman.
28. Pasien menolak diberi plester pada kedua sisi kanul karena merasa kurang
nyaman
29. Kaji mukosa hidung dari adanya iritasi.
30. Cuci tangan
31. Mengkaji respon pasien dan kontrak waktu yang akan dating
32. Mendokumentasikan tindakan dan respon pasien
E. Analisa Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan pemberian oksigen nasal kanul terdapat beberapa
hal yang harus diperhatikan. Langkah pertama dimulai dengan mengecek
program terapi medik sampai mendokumentasikan tindakan. Dalam tindakan
ini. Pemasangan oksigen kanul nasal antara yang dilakukan di rumah sakit
dengan teori secara umum telah sesuai. Alat-alat yang digunakan lengkap,
prosedur telah sesuai, dan prinsip-prinsip dalam pemasangan infus juga
diperhatikan. Kekurangan dalam tindakan ini adalah perawat tidak mengkaji
adanya secret atau iritasi pada lubang hidung pasien. Mengkaji adanya secret
pada jalan napas penting untuk dilakukan pada pasien, untuk mencegegah
obstruksi/untuk memperlancar jalan napas pada saat oksigen dimasukkan.
Apabila terdapat secret pada lubang hidung maka bersihkan lubang hidung
dengan tissue atau kasa, jika produksi secret berlebihan maka sedot
menggunakan suction terlebih dahulu.

20 | P a g e
F. Hambatan
Hambatan pada tindakan yaitu pasien menolak diberi plester pada kedua sisi
selang kanul karena meras kurang nyaman. Namun perawat telah memastikan
dengar mengatur pita selang plastic dibawah dagu sampai kanul pas dan tidak
mudah bergeser bila pasien bergerak.
G. Kesimpulan Dan Saran

Pemberian oksigenasi sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah


hipoksia. Pemasangan oksigen nasal kanul harus sesuai program medis dan
perlu dipantau aliran oksigennya per 8 jam. Dalam pemberian oksigen nasal
kanul perawat perlu mengecek adanya secret dalam hidung pasien agar aliran
oksigen baik dan memastikan kondisi selang oksigen tidak tertekuk, ada
gelembung udara pada humidifier dan ada aliran udara yang dirasakan
sebelum dilakukan pemasangan pada hidung pasien. Diharapkan kepada
perawat untuk bekerja sesuai standar dan memperhatikan prinsip-prinsip
pemasangan oksigen nasal kanul.

Referensi

Keperawatan, F. (2018). Buku Praktek Profesi Keperawatan Dasar UNHAS.


Makassar: Univesritas Hasanuddin.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). fundamentals Of Nursing (7 ed.).


Indonesia: Salemba Medika.
Rahman, A., & Khodijah. (2012). Buku panduan Praktek Laboratorium.
Yogyakarta: Deepublish

21 | P a g e
PENYADAPAN EKG
(07 Agustus 2019)

A. Tindakan
Tindakan yang dikerjakan adalah Penyadapan EKG pada Tn. F
dengan diagnose medis Batu Pyelum Dextra usia 32 tahun.
B. Justifikasi terhadap tindakan
Tindakan ini dilakukan untuk untuk mengetahui gambaran listrik
jantung dan prosedur pro op pyelolitotomy
C. Teori singkat tindakan
Elektrokardiagrafi adalah ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan
potensial atau perubahan voltage yang terdapat dalam jantung.
Elektrokardiogram adalah grafik yang merekam perubahan potensial listrik
jantung. Pemasangan elektrode, ekstrimitas atas dan bawah :
Tangan :
Merah (RA) Lengan kanan
Kuning (LA) Lengan kiri
Kaki :
Hijau (LF)Tungkai kiri (left foot)
Hitam (RF) Tungkai kanan (sebagai "ground/penghubung")
Pemasangan sandapan unipolar dada :
V1 : intercostal 4 pada garis sternal kanan (merah)
V2 : intercostal 4 pada garis sternal kiri (kuning)
V3 : terletak di antara V2 dan V4 (hijau)
V4 : intercostal 5 mid clavikula kiri (coklat)
V5 : sejajar V4 garis aksila anterior (hitam)
V6 : sejajar V4 dan V5 mid aksila (ungu)

22 | P a g e
SOP Perawatan kateter urin
Persiapan alat :
1. EKG
2. Elektroda ekstremitas
3. Elektroda isap
4. Kawat penghubung klien dan kawat penghubung tanah
5. Kapas alcohol
6. Jelly elektrolit

Dokumentasi :

1. Nama dan umur klien


2. Waktu pemeriksaan
3. Keadaan/respon pasien setelah prosedur dilakukan

Pelaksanaan :

1. Mengecek program terapi medic


2. Mengucapkan salam terapeutik dan melakukan evaluasi/validasi
3. Mengecek identitas pasien.
4. Lakukan kontrak (waktu, tempat, topic)
5. Menjelaskan tujuan langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan.
6. Mencuci tangan dan mempersiapkan alat.
7. Membersihkan permukaan kulit di kedua pergelangan tangan dan kaki
dengan kapas dan alcohol.

23 | P a g e
8. Memberi jelly EKG secukupnya di area keempat elektroda ekstremitas dan
pasang elektroda tersebut di tempat yang telah dibersihkan.
9. Menghubungkan kabel penghubung dengan elektroda sebagai berikut :
o Kabel merah dengan elektroda dipergelangan tangan kanan
o Kabel kuning dengan elektroda di pergelangan tangan kiri
o Kabel hijau dengan elektroda di pergelangan kaki kiri
o Kabel hitam dengan elektroda di pergelangan kaki kanan
10. Membersihkan permukaan kulit didada klien yang akan dipasang elektroda
dengan kapas alcohol.
11. Memberi keenam elektroda jelly EKG secukupnya dan pasang. elektroda
tersebut di tempat yang telah dibersihkan dan dihubungkan dengan kabel :
C1: ruang interkostal IV garis sternal kanan, C2: ruang interkostal IV garis
sternal kiri, C3: pertengahan garis lurus yang menghubungkan C2 dan C4,
C4: ruang interkostal V kiri di garis midklavikula, C5: titik potong garis
aksila kiri dengan garis mendatar C4, C6: titik potong garis aksila kiri
dengan garis mendatar dari C5 dan C6 Catatan: C2 dan C4 adalah titik-
titik yang digunakan untuk mendengarkan bunyi jantung I dan II.
12. Nyalakan power on/off alat EKG, hubungkan dengan mesin EKG.
13. Gunakan mesin EKG sesuai petunjuk pada mesin EKG. Setelah hasilnya
keluar maka tuliskan identitas klien di pojok kiri atas: nama, usia, jenis
kelamin, tanggal dan jam pemeriksaan.
14. Merapikan alat dan bersihkan dada dan pergelangan ekstremitas klien dan
sisa-sisa jelly dengan tissue.
15. Membantu klien ke posisis semula yang nyaman.
16. Mencuci tangan dan mengevaluasi respon klien
17. Merencanakan tindak lanjut dan kontrak yang akan dating
18. Melakukan dokumentasi tindakan hasil.

24 | P a g e
D. Hasil Tindakan
Persiapan Alat
1. EKG
2. Elektroda ekstremitas
3. Elektroda isap
4. Kawat penghubung klien dan kawat penghubung tanah
5. Kassa
6. Alat tulis (pulpen)
7. Jelly EKG
Pelaksanaan tindakan
1. Mengecek program terapi medic
2. Menyapa pasien dan melakukan validasi identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan.
4. Mencuci tangan dan mempersiapkan alat.
5. Memastikan pasien tidak menggunakan aksesoris atau barang logam.
6. Memberi permukaan kulit di kedua pergelangan tangan dan kaki dengan
kapas dan alcohol.
7. Memberi jelly EKG secukupnya pada area keempat elektroda ekstremitas
dan pasang elektroda ektermitas.
8. Menghubungkan kabel penghubung klien dengan elektroda sebagai berikut
: Kabel merah dengan elektroda dipergelangan tangan kanan, kabel kuning
dengan elektroda di pergelangan tangan kiri, kabel hijau dengan elektroda
di pergelangan kaki kiri dan kabel hitam dengan elektroda di pergelangan
kaki kanan.
9. Memberi keenam elektroda jelly EKG secukupnya dan pasang elektroda
tersebut di tempat yang telah diberi jelly dan dihubungkan dengan kabel :
C1: ruang interkostal IV garis sternal kanan, C2: ruang interkostal IV garis
sternal kiri, C3: pertengahan garis lurus yang menghubungkan C2 dan C4,
C4: ruang interkostal V kiri di garis midklavikula, C5: titik potong garis
aksila kiri dengan garis mendatar C4, C6: titik potong garis aksila kiri
dengan garis mendatar dari C5 dan C6.

25 | P a g e
10. Menguhubung kabel alat EKG kepanel listrik dan menyalakan power
on/off alat EKG.
11. Mencetak tombol print untuk mencetak hasil EKG pasien. Setelah hasilnya
keluar maka tuliskan identitas klien di pojok kiri atas: nama, TTL, no RM,
tanggal dan jam pemeriksaan.
12. Merapikan alat dan bersihkan dada dan pergelangan ekstremitas klien dan
sisa-sisa jelly dengan kasa.
13. Membantu klien ke posisi semula yang nyaman.
14. Mencuci tangan dan mengevaluasi respon klien
15. Melakukan dokumentasi tindakan hasil.
E. Analisa Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan penyadapan EKG ada beberapa hal yang harus
diperhatikan. Langkah pertama dimulai dengan mengecek program terapi
medik sampai mendokumentasikan tindakan. Namun dalam pelaksanaanya
terdapat kesenjangan antara SPO dengan pelaksanaannya seperti :
1. Tidak adanya persiapan alat seperti alat tulis, tissue atau kasa pada SPO,
sedangkan penting menyiapkanya untuk membersihkan sisa jelly yang
menempel pada tubuh pasien dan menulis identitas pasien pada lembar
kertas EKG sebelum meninggalkan pasien agar tidak terjadi kekeliruan
atau risiko tertukar dengan hasil EKG pasien lainnya. Pada SPO juga tidak
ada pengecekan barang/aksesoris yang mengandung logam pada pasien
sebelum dilakukan penyadapan EKG, seharusnya perlu karena dapat
mempengaruhi hasil gambaran EKG pasien.
2. Prosedur yang tidak dilakukan sesuai standar pada saat pelaksanaan yaitu
tidak membersihkan area ekstermitas dan dada yang akan dipasang
elektroda dengan kapas alcohol, tetapi langsung diberi jelly EKG. Hal ini
disebabkan karena perawat tidak menyiapkannya.
F. Hambatan
Hambatan pada tindakan yaitu pasien Tn. F yaitu petugas belum menyiapkan
alat sesuai SPO sehingga lupa membersihkan area yang akan dilakukan
pemasangan elektroda.

26 | P a g e
G. Kesimpulan dan Saran
Penyadapan EKG merupakan tindakan merekam grafik perubahan potensial
listrik jantung. Diruang urologi penyadapan EKG sering dilakukan pada
pasien sebagi salah satu tindakan persiapan operasi. Sangat penting
memperhatikan peletakan elektroda pada lokasinya agar grafik yang
ditampilkan sesuai. Perawat diharapkan lebih

Referensi

Keperawatan, F. (2018). Buku Praktek Profesi Keperawatan Dasar UNHAS.


Makassar: Univesritas Hasanuddin.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). fundamentals Of Nursing (7 ed.).


Indonesia: Salemba Medika.
Rahman, A., & Khodijah. (2012). Buku panduan Praktek Laboratorium.
Yogyakarta: Deepublish

27 | P a g e
PEMBERIAN MAKANAN MELALUI NGT

(Agustus 2019)

28 | P a g e