Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS KEBUTUHAN PENGATURAN BILLING RATE OLEH MENTERI

KEUANGAN

Yuliardi Muliawan
Email: giuliardi@gmail.com

Intisari

Saat ini pengaturan mengenai penyusunan RAB untuk jasa konsultansi telah tersedia
baik yang dibuat oleh pemerintah maupun oleh asosiasi jasa profesi terkait. Namun demikian
terdapat temuan BPK terhadap instansi pemerintah daerah dimana dalam penyusunan
anggaran untuk satuan biaya billing rate mengacu pada SEB Kepala BAPPENAS dan Menteri
Keuangan nomor 1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000 tanggal 17 Maret 2000 tentang
Petunjuk penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk jasa konsultansi (Biaya Langsung
Personil (Remuneration) dan Biaya Langsung Non Personil (Direct Reimbursable Cost)).
Menurut rekomendasi pada auditnya, BPK menyarankan agar Billing rate diatur oleh Menkeu
melalui PMK Standar Biaya. Selanjutnya, melalui penelitian ini berusaha menjawab secara
filosofis dan yuridis melalui telaah literature mengenai perlu atau tidaknya billing rate diatur
oleh Menkeu melalui PMK Standar Biaya. Kemudian hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
menjadi bahan pertimbangan bagi pembuatan kebijakan terkait billing rate.

Kata kunci: billing rate, temuan BPK, standar biaya, efisien, efektif

1. PENDAHULUAN allocative effiency adalah dalam bentuk


standar biaya dimana standar biaya
1.1 Latar Belakang
tersebut digunakan untuk menghindari
Sebagai amanat dari Undang- terjadinya overallocating maupun
undang Keuangan nomor 17 tahun 2003, overspending. Terkait hal tersebut,
Kementerian Keuangan adalah sebagai pemerintah sampai dengan saat ini telah
Chief Financial Officer (CFO) yang memiliki mengeluarkan banyak produk kebijakan
peran penting dalam pengelolaan terkait standar biaya. Kebijakan berupa
keuangan negara yang antara lain adalah pengaturan standar biaya selain untuk
mewujudkan penganggaran yang efektif mencapai efisiensi alokasi juga dalam
dan efisien. Dalam reformasi pengelolaan implementasinya dapat memberikan
keuangan negara merujuk pada konsep kemudahan/kelancaran dalam
public management expenditure yang di perencanaan anggaran. Lebih lanjut,
dalamnya terkandung konsep efisiensi pengaturan standar biaya telah ditetapkan
alokasi anggaran (allocative effiency) dan dengan aturan standar biaya yang bersifat
efisiensi pelaksanaan (operational regelling yang diharapkan berlaku lebih
effiency). lama.
Kemudian, dalam kerangka Pada prinsipnya standar biaya baik
pengalokasian anggaran, salah satu alat SBM maupun SBK ditetapkan oleh Menteri
yang digunakan pada pelaksanaan keuangan dengan Peraturan Menteri

96
Keuangan (PMK). Namun demikian, terkait Namun demikian, belum adanya
SBM sebagaimana diatur pasal 8 PMK 71 pengaturan berupa standar biaya terkait
tahun 2013, dalam hal satuan harga belum jasa konsultan oleh pemerintah dapat
terdapat dalam standar biaya yang menimbulkan masalah. Lebih lanjut, telah
ditetapkan oleh Menteri Keuangan terjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan
Kementerian/Lembaga dapat (BPK) terhadap penggunaan billing rate
menggunakan satuan biaya masukan terkait jasa konsultansi oleh pemerintah
lainnya yaitu harga pasar dan satuan harga daerah Jawa Barat yang mengacu pada
yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan Surat Edaran Bersama Kepala BAPPENAS
lembaga/instansi teknis yang berwenang. dan Menteri Keuangan nomor
Satuan biaya masukan lainnya tersebut 1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000
adalah selain satuan biaya yang tanggal 17 Maret 2000 tentang Petunjuk
menambah penghasilan dan/atau fasilitas penyusunan Rencana Anggaran Biaya
bagi pejabat negara, pegawai negeri, dan (RAB) untuk jasa konsultansi (Biaya
non pegawai negeri yang dipekerjakan Langsung Personil (Remuneration) dan
dalam rangka melaksanakan tugas rutin Biaya Langsung Non Personil (Direct
kementerian negara/lembaga. Reimbursable Cost)). BPK mengharuskan
Pada prakteknya tidak semua pengaturan billing rate agar diatur dan
satuan biaya telah ditetapkan oleh ditetapkan oleh Kementerian Keuangan
pemerintah menjadi standar biaya, salah (ditetapkan dalam PMK standar biaya).
satu diantaranya adalah satuan biaya Hal tersebut terjadi oleh karena
terkait jasa konsultan (billing rate). Lebih masih terdapat pendapat sebagian auditor
lanjut, satuan biaya untuk billing rate saat agar billing rate harus diatur oleh
ini belum diatur/ditetapkan oleh pemerintah dan diharapkan agar standar
pemerintah dan masih mengacu pada biaya yang diajukan dalam biaya APBN
pengaturan lain dan/atau harga pasar. tidak didrive oleh pasar. Disisi lain seiring
Contoh dari pengaturan terkait billing rate dengan penerapan penganggaran berbasis
yang ada saat ini antara lain adalah kinerja terdapat norma let the manager
pengaturan yang dibuat oleh Menteri manage yang bermakna memberi
Pekerjaan Umum untuk jasa konsultansi kebebasan manajer/COO untuk mengelola
dalam penyelenggaraan jasa konstruksi, anggarannya. Terhadap kondisi yang ada
peraturan yang dibuat oleh kepala daerah maka diperlukan adanya kejelasan tentang
yang menetapkan standar biaya jasa pengaturan satuan/standar biaya jasa
konsultansi, standar biaya konsultansi konsultansi yang akan coba dibahas pada
yang dibuat oleh Inkindo, dan lain tulisan ini.
sebagainya. Beragamnya standar
pengaturan terkait jasa konsultansi 1.2 Pertanyaan Penelitian
tersebut dikarenakan tidak ada peraturan Berdasarkan kondisi pengaturan
pemerintah yang secara tegas mengatur billing rate yang ada saat ini, sebagaimana
baik dalam hal tarif, formulasi, dan lainnya. diuraikan sebelumnya, muncul beberapa
pertanyaan sebagai berikut:

97
1. Bagaimanakah pengaturan billing rate 1. Undang – Undang (UU) nomor 17
menurut aspek konsepsi? tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
2. Bagaimanakah pengaturan billing rate Dalam UU nomor 17 ini diatur tentang
menurut aspek regulasi? pengelolaan keuangan negara. Pada
3. Bagaimanakah pengaturan billing rate pasal 3 disebutkan bahwa keuangan
menurut aspek implementasi? negara dikelola secara tertib, taat pada
4. Berdasarkan ketiga aspek tersebut peraturan perundang-undangan,
(regulasi, konsepsi, implementasi), efisien, ekonomis, efektif, transparan,
apakah pengaturan satuan biaya billing dan bertanggung jawab dengan
rate harus diatur/ditetapkan menjadi memperhatikan rasa keadilan dan
standar biaya oleh Menteri Keuangan? kepatutan. Sedangkan pada pasal 6
diatur bahwa Presiden sebagai Kepala
1.3 Tujuan Penulisan Pemerintahan adalah pemegang
Dengan melakukan kajian terhadap kekuasaan pengelolaan keuangan
pengaturan standar biaya terkait billing negara yang sebagiannya dikuasakan
rate, tujuan yang ingin dicapai dalam kepada Menteri Keuangan dalam hal
penulisan ini adalah untuk mengetahui pengelolaan fiskal;
apakah pengaturan standar biaya terkait 2. Peraturan Pemerintah nomor 90 tahun
billing rate harus diatur/ditetapkan oleh 2010 tentang Penyusunan Rencana
Menteri Keuangan dalam bentuk standar Kerja Dan Anggaran Kementerian
biaya atau tidak. Negara/Lembaga (RKA-K/L). Pada pasal
3 diatur bahwa Menteri Keuangan
1.4 Manfaat Penulisan selaku pengelola fiskal menyusun
rancangan APBN. Pada pasal 5 diatur
Manfaat penulisan ini adalah dapat
bahwa penyususnan RKA-K/L harus
memberikan kepastian tentang
menggunakan pendekatan Kerangka
pengaturan terkait billing rate dan/atau
Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM),
barang/jasa lainnya yang sejenis apakah
penganggaran terpadu, dan
harus diatur/ditetapkan oleh Menteri
Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK).
Keuangan atau tidak. Lebih lanjut,
Kemudian, dalam penyusunannya
diharapkan melalui tulisan ini dapat
menggunakan instrumen indikator
memberikan jaminan bahwa dimasa
kinerja, standar biaya, dan evaluasi
mendatang tidak lagi terjadi temuan
kinerja yang dalam hal standar biaya
terkait standar billing rate.
diatur dengan Peraturan Menteri
2. TINJAUAN PUSTAKA Keuangan setelah berkoordinasi
dengan Kementerian / Lembaga.
2.1 Dasar hukum
Adapun di bagian penjelasan yang
Dasar hukum yang digunakan dan dimaksud dengan standar biaya adalah
menjadi pertimbangan dalam kajian ini satuan biaya yang ditetapkan baik
antara lain adalah sebagai berikut: berupa standar biaya masukan
maupun standar biaya keluaran

98
sebagai acuan perhitungan wajar. Selanjutnya, penyusunan HPS
kebutuhan anggaran dalam RKA-K/L. dikalkulasikan secara keahlian
Sedangkan fungsi standar biaya adalah berdasarkan data yang dapat
sebagai instrumen dalam menilai dipertanggung jawabkan meliputi:
kelayakan anggaran terhadap sasaran a. Harga pasar setempat yaitu harga
kinerja yang direncanakan; barang/jasa dilokasi barang/jasa
3. Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun diproduksi/diserahkan/
2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan dilaksanakan, menjelang
Anggaran Pendapatan Dan Belanja dilaksanakannya Pengadaan
Negara. Pada ketentuan penutup Barang/Jasa;
(pasal 181) mengatur bahwa dengan b. Informasi biaya satuan yang
berlakunya PP nomor 45 tahun 2013 dipublikasikan secara resmi oleh
maka Keputusan Presiden Nomor 42 Badan Pusat Statistik (BPS);
Tahun 2002 tentang Pedoman c. Informasi biaya satuan yang
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dipublikasikan secara resmi oleh
dan Belanja Negara (Lembaran Negara asosiasi terkait dan sumber data
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor lain yang dapat
73, Tambahan Lembaran Negara dipertanggungjawabkan;
Republik Indonesia Nomor 4212) d. Daftar biaya/tarif Barang/Jasa
sebagaimana telah beberapa kali yang dikeluarkan oleh
diubah terakhir dengan Peraturan pabrikan/distributor tunggal;
Presiden Nomor 53 Tahun 2010 e. Biaya Kontrak sebelumnya atau
tentang Perubahan Kedua atas yang sedang berjalan dengan
Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun mempertimbangkan faktor
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan perubahan biaya;
Anggaran Pendapatan dan Belanja f. Inflasi tahun sebelumnya, suku
Negara, dicabut dan dinyatakan tidak bunga berjalan dan/atau kurs
berlaku tengah Bank Indonesia;
4. Peraturan Presiden nomor 70 tahun g. Hasil perbandingan dengan
2012 tentang Perubahan Kedua atas Kontrak sejenis, baik yang
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun dilakukan dengan instansi lain
2010 tentang Pengadaan Barang dan maupun pihak lain;
Jasa. Pada pasal 66 diatur mengenai h. Perkiraan perhitungan biaya yang
Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang dilakukan oleh konsultan
digunakan sebagai alat untuk menilai perencana (engineer’s estimate);
kewajaran penawaran termasuk i. Norma indeks; dan/atau
rinciannya, sebagai dasar untuk j. Informasi lain yang dapat
menetapkan batas tertinggi dipertanggungjawabkan;
penawaran yang sah, dan disusun 5. Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
dengan memperhitungkan keuntungan nomor 71/PMK.02/2013 tentang
dan biaya overhead yang dianggap Pedoman Standar Biaya, Standar

99
Struktur Biaya, dan Indeksasi dalam terbuka, dan bertanggung jawab sesuai
Penyusunan Rencana Kerja dan dengan aturan pokok yang telah
Anggaran Kementerian ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar
Negara/Lembaga. Pada pasal 8 diatur 1945.
bahwa Pengguna Anggaran (PA)/Kuasa Dalam bukunya Adam Smith
Pengguna Anggaran (KPA) dalam menyatakan bahwa dalam perekonomian
menyusun RKA-K/L menggunakan segala sesuatunya akan berjalan sendiri-
Standar Biaya Masukan (SBM). sendiri dan akan menyesuaikan diri
PA/KPA dapat menggunakan satuan menuju ke keseimbangan menurut harga
biaya masukan lainnya yang antara lain pasar. Lebih lanjut, dinyatakan pula bahwa
didasarkan pada harga pasar, dan di dalam sebuah sistem perekonomian
satuan harga yang ditetapkan oleh terdapat gaya tarik-menarik yang seolah-
menteri/pimpinan lembaga/instansi olah dikendalikan oleh sebuah kekuatan
teknis yang berwenang namun yang tidak terlihat (the invisible hand)
dikecualikan terhadap satuan biaya sehingga intervensi pemerintah tidak lagi
yang menambah penghasilan dan/atau diperlukan (Smith, 1776). Namun seiring
fasilitas bagi pejabat negara, pegawai dengan globalisasi dimana dengan semakin
negeri, dan non pegawai negeri yang majunya teknologi dan komunikasi, serta
dipekerjakan dalam rangka semakin terbukanya perekonomian antar
melaksanakan tugas rutin kementerian negara sehingga banyak hal yang saling
negara/lembaga. bersinggungan dan saling terkait. Hal
tersebut menyebabkan peran pemerintah
2.2 Konsep Intervensi Negara dalam semakin dibutuhkan dalam mengatur
Ekonomi jalannya sistem perekonomian dan juga
Tujuan bernegara sebagaimana karena prinsip pasar bebas (free market)
diatur dalam pembukaan Undang-Undang dirasa tidak cukup mampu untuk
Dasar 1945 yang antara lain adalah menjawab semua persoalan kesejahteraan
menciptakan / mewujudkan kesejahtraan (ekonomi dan sosial). Campur
rakyat. Dengan kata lain penyelenggaraan tangan/intervensi pemerintah
pemerintahan yang baik (good (government intervention) yang dimaksud
governance) adalah sebuah kondisi adalah bisa dalam bentuk kebijakan publik
pemerintahan yang mampu menciptakan berupa regulasi, deregulasi, insentif,
pemenuhan kesejahteraan yang dapat penyediaan infrastruktur, dan
dicapai melalui pertumbuhan ekonomi Informasi/pedoman. Lebih lanjut, dalam
yang berkelanjutan dan stabil. Dalam sebuah sistem perekonomian pemerintah
tataran pemerintah (Kementerian memiliki peran penting dalam hal alokasi,
Keuangan) sebagai CFO, a good distribusi, dan stabilisasi.
governance memiliki pengertian bahwa Intervensi pemerintah dalam
pengelolaan keuangan negara untuk ekonomi dapat diartikan sebagai
mencapai tujuan bernegara perspektif kebijakan ekonomi pemerintah
diselenggarakan secara profesional, (yang menguntungkan menurut

100
pandangan pemerintah) terhadap proses dalam menjalankan sesuatu (dengan tidak
pasar dalam rangka memperbaiki membuang waktu, tenaga, biaya) atau bisa
kegagalan pasar (market failure) serta juga berarti ketepatgunaan. Hal tersebut
meningkatkan kesejahteraan. Lebih lanjut, mengandung pengertian bahwa efisiensi
intervensi pemerintah dalam ekonomi adalah penggunaan sumber daya minimal
adalah tindakan yang diambil oleh (menggunakan sumber daya secara bijak
pemerintah dalam ekonomi pasar guna dan hemat sehingga tidak ada sumber daya
mempengaruhi perekonomian antara lain yang terbuang) untuk menghasilkan
melalui peraturan/kebijakan terkait moral output dengan volume yang diharapkan.
hazard, kontrak serta penyediaan barang Konsep efisiensi dalam literatur
publik (public goods) (Karagianis, 2001). ekonomi biasanya mengacu pada sebuah
Dalam hal ini pemerintah memiliki peranan konsep yang disebut dengan efisiensi
dalam mengatur, memperbaiki atau pareto (pareto efficiency) atau pareto
mengarahkan aktifitas ekonomi dari optimal (Stiglitz, 2000) keadaan dimana
pemerintah maupun sektor swasta melalui sumberdaya dialokasikan dengan cara
kebijakan publik yang bersifat mengikat yang paling efisien. Penerapan efisiensi
dan meng-intervensi. juga dilakukan oleh pemerintah didalam
Dalam dalam sistem ekonomi pengelolaan keuangannya. Dalam
Intervensi pemerintah umum dilakukan reformasi pengelolaan keuangan negara,
dalam bentuk penetapan target pajak, pemerintah merujuk pada konsep public
subsidi langsung untuk sasaran tertentu, management expenditure yang di
penetapan batas harga tertinggi, kuota dalamnya terkandung konsep efisiensi
produksi, tarif, dan lain sebagainya. Selain alokasi (allocative effiency) dan efisiensi
itu, bentuk lain dari intervensi pemerintah operasional (operational effiency).
dalam ekonomi adalah dengan Efisiensi alokasi adalah keadaan
membentuk sebuah lembaga/institusi ekonomi dimana produksi merupakan
sebagai bentuk pelaksanaan/tidndak lanjut representasi dari keinginan/kebutuhan
dari sebuah kebijakan. Sebagai contohnya, konsumen; kemampuan dan kesediaan
antara lain, adalah pembentukan Komisi unit ekonomi untuk beroperasi pada
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tingkat nilai produk marginal sama dengan
sebagai lembaga yang melaksanakan biaya marginal (Markovits, 2008). Terkait
kebijakan pemerintah dalam hal hal tersebut, di dalam pengelolaan
pengawasan terhadap perjanjian maupun keuangan negara efisiensi alokasi ada
kegiatan usaha yang dapat mengakibatkan dalam bentuk efisiensi anggaran dimana
terjadinya praktek monopoli dan atau pengalokasian sumber daya dilakukan
persaingan usaha tidak sehat. dengan seminimal mungkin untuk
menghasilkan keluaran (output) yang
2.3 Konsep Efisiensi sama. Pada tataran pengalokasian
Kata efisiensi adalah istilah yang anggaran efisiensi alokasi dicapai melalui
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mekanisme standar biaya (SBM dan SBK).
(KBBI) mengacu pada ketepatan cara

101
Efisiensi pelaksanaan dapat biaya dalam perencanaan penganggaran.
diterjemahkan sebagai rasio antara input Sebagaimana diatur dalam kebijakan
guna menjalankan operasional bisnis pengaturan terkait standar biaya, standar
(business operation) dengan hasil keluaran biaya terdiri dari Standar Biaya Masukan
(output) yang dihasilkan dari bisnis (SBM) maupun Standar Biaya Keluaran
tersebut. Implementasi efisiensi (SBK). Lebih lanjut, sebagaimana dijelaskan
pelaksanaan di dalam pengelolaan pada pasal 1 PMK nomor 71 tahun 2013
keuangan negara dilakukan melalui bahwa SBM adalah satuan biaya (tarif)
pengaturan terkait pengadaan barang dan yang ditetapkan untuk menyusun biaya
jasa yang pada prinsipnya adalah untuk komponen keluaran (output), sedangkan
mendapatkan barang/jasa yang SBK adalah besaran biaya yang ditetapkan
berkualitas dengan harga yang paling untuk menghasilkan keluaran (output)/sub
ekonomis. keluaran (sub output). Dengan kata lain
SBK pada prinsipnya adalah standar biaya
2.4 Standar Biaya bagi suatu kelompok kegiatan sejenis yang
Dalam pengelolaan keuangan digunakan dalam menghasilkan keluaran
negara, efisiensi dapat dicapai antara lain (output)/sub keluaran (sub output.)
adalah dengan menggunakan instrumen Dalam hal SBM yang berlaku bagi
standar biaya. Adapun yang dimaksud satu Kementerian/Lembaga tertentu,
dengan standar biaya itu sendiri adalah satuan biaya dapat
biaya setinggi-tingginya atau batas paling distandarkan/ditetapkan dengan PMK
tinggi dari suatu barang dan jasa baik setelah adanya usulan dari
secara mandiri maupun gabungan yang Kementerian/Lembaga atau pejabat yang
diperlukan untuk memperoleh keluaran berwenang atas nama Menteri/Pimpinan
tertentu dalam rangka penyusunan Lembaga. Sedangkan untuk SBM yang
anggaran berbasis kinerja (PMK nomor berlaku bagi seluruh/beberapa
84/PMK.02/2005, PMK nomor Kementerian/Lembaga, satuan biaya dapat
96/PMK.02/2006, PMK 81/PMK.02/2007). distandarkan setelah terlebih dahulu
Sedangkan PMK lainnya disebutkan bahwa melakukan koordinasi dengan
standar biaya adalah satuan biaya yang Kementerian/Lembaga. Penetapan SBM
ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku sendiri oleh Kementerian Keuangan (Ditjen
pengelola fiskal (chief financial officer) baik Anggaran) adalah dengan berdasarkan
berupa standar biaya masukan maupun metode/formula perhitungan yang bisa
standar biaya keluaran, sebagai acuan dipertanggungjawabkan secara akademis
perhitungan kebutuhan anggaran dalam dengan mempertimbangkan berbagai
penyusunan RKA-K/L (PMK nomor aspek.
84/PMK.02/2011, PMK nomor Lebih lanjut, SBM sebagaimana
37/PMK.02/2012). diatur dalam PMK SBM pada satu sisi
Sebagai salah satu bentuk merupakan batas tertinggi suatu harga
implementasi dari penganggaran yang (yang tidak boleh dilewati) seperti
efisien adalah dengan menerapkan standar homorarium, uang harian, dan tarif lainnya

102
yang terdapat pada lampiran I PMK SBM. kuantitatif. Metode penelitian kualitatif
Adapun sisi lainnya, SBM adalah estimasi sifatnya deskriptif analitik dimana metode
harga tertinggi (bisa dilewati) seperti biaya ini bertujuan mendeskripsikan atau
tiket pesawat untuk perjalanan dinas baik memberi gambaran terhadap suatu obyek
dalam maupun luar negeri dan tariff penelitian yang diteliti melalui sampel atau
lainnya sebagaimana terdapat pada data yang telah terkumpul dan membuat
lampiran II PMK SBM. kesimpulan yang berlaku umum (Sugiyono
2009).
2.5 Billing Rate Pada metode ini data yang
Billing rate adalah salah satu diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil
metode pembayaran kepada konsultan wawancara, analisis dokumen, disusun
yang lazim digunakan di berbagai negara. peneliti dan dituangkan tidak dalam
Menurut Keputusan Dewan Pengurus bentuk angka-angka. Peneliti melakukan
Nasional Ikatan Nasional Konsultan analisis data dengan memperkaya
Indonesia Nomor: 39/TAP.DPN/IX/2014 informasi, mencari hubungan,
tentang Pedoman Standar Minimal Tahun membandingkan, menemukan pola atas
2014 Biaya Langsung Personil dasar data asli yang tidak ditransformasi
(Remuneratton/Billing rate) dan Biaya kedalam bentuk angka.
Langsung Non Personil (Direct Cost) untuk Hasil analisis data adalah berupa
Penyusunan Rencana Anggaran Biaya pemaparan mengenai situasi yang diteliti
(RAB) dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang kemudian disajikan dalam bentuk
Kegiatan Jasa Konsultansi, billing rate itu uraian naratif. Hakikat pemaparan data
diartikan sebagai biaya langsung personel. pada umumnya adalah untuk menjawab
Lebih lanjut, pada prinsipnya billing rate itu pertanyaan-pertanyaan terkait mengapa
sendiri merupakan imbalan riil yang dan bagaimana suatu fenomena itu terjadi
diterima oleh seorang tenaga ahli yang sehingga penting untuk memahami dan
biasa disebut Take Home Pay (THP) yang menguasai bidang ilmu yang diteliti yang
dikalikan dengan suatu faktor yang kemudian bisa memberikan justifikasi
dihitung berdasarkan overhead mengenai konsep dan makna yang
perusahaan konsultan yang bersangkutan. terkandung dalam data.

3. METODOLOGI PENELITIAN 3.2 Obyek Penelitian

3.1 Metode Kualitatif Pada dasarnya obyek penelitian


merupakan apa/sesuatu yang hendak
Penelitian kualitatif merupakan diselidiki dalam kegiatan penelitian.
penelitian yang digunakan untuk Adapula yang mendefinisikan obyek
menyelidiki, menemukan, penelitian sebagai pokok persoalan yang
menggambarkan, dan menjelaskan hendak diteliti untuk mendapatkan data
kualitas atau keistimewaan dari pengaruh secara lebih terarah. Lebih lanjut, adapun
social yang tidak dapat dijelaskan, diukur yang menjadi objek pada penulisan ini
atau digambarkan melalui pendekatan adalah kebijakan pengaturan billing rate.

103
3.3 Jenis Data posisi, status, dan pengaturannya di dalam
peraturan-peratuan yang ada dan berlaku
Data merupakan catatan atau
saat kajian ini dibuat.
kumpulan fakta yang berupa hasil
3. Implementasi
pengamatan empiris pada variable
Pada bagian ini akan dikaji tentang
penelitian. Lebih lanjut, data kualitatif
hal-hal terkait penerapan standarisasi
adalah data yang bukan berupa angka
billing rate.
melainkan berupa kata, kalimat,
pernyataan, dan dokumen. Pada tulisan ini 4. PEMBAHASAN
yang digunakan adalah berupa secondary
data, dimana data tersebut berupa 4.1 Aspek Konsepsi
peraturan-peraturan terkait kebijakan Reformasi pengelolaan keuangan
pengaturan billing rate dan juga beberapa negara merujuk pada konsep public
referensi terkait. expenditure management, yang mengenal
konsep allocative efficiency dan
3.4 Pengolahan Data
operational efficiency. Pelaksanaan
Sejatinya analisis data pada allocative efficiency adalah melalui
penelitian kualitatif mulai dilakukan saat penerapan standar biaya masukan dan
pengumpulan data, dengan cara memilah keluaran, namun lebih ditekankan pada
mana data yang penting dan akan standar biaya keluaran (output),
digunakan atau sebaliknya. Ukuran penting operational effiency diterapkan melalui
dan tidaknya data mengacu pada pengaturan pada pengadaan barang dan
kontribusinya dalam menjawab fokus jasa. Dalam hal Standar Biaya Masukan
penelitian. Kemudian dari data tersebut (SBM) sebagaimana diatur dalam PMK
akan dianalisa untuk menghasilkan sebuah tentang SBM adalah merupakan satuan
informasi. Adapun, tingkat bermaknanya harga, tarif, dan indeks yang ditetapkan
data atau informasi dalam menjawab fokus untuk menghasilkan biaya komponen
penelitian sangat ditentukan oleh keluaran dalam penyusunan RKA-K/L.
pengertian mendalam, kreativitas, Terkait billing rate, pada
kepekaan, dan pengalaman dari peneliti. kenyataannya ada beragam jenis jasa
Dalam kajian ini pengolahan data konsultansi/profesi, namun secara umum
dilakukan dengan mengkaji permasalahan bisa dibagi menjadi dua jenis yaitu yang
terkait standarisasi billing rate dari tiga bersifat umum dan yang bersifat
aspek yaitu: khusus/spesifik. Pertama, terhadap jasa
1. Aspek konsepsi konsultansi yang bersifat umum,
Pada bagian ini akan dikaji tentang tarif/satuan biaya langsung personel
konsep/rancangan dari standarisasi billing (billing tare) masih dimungkinkan untuk
rate. diatur oleh pemerintah dengan
2. Aspek Regulasi berkoordinasi dengan instansi yang terkait.
Pada bagian ini standarisasi billing Informasi terkait biaya langsung personel
rate akan dikaji tentang hal-hal terkait jasa profesi yang bersifat umum relatif

104
banyak tersedia sehingga mudah untuk pemerintah, hal tersebut dilakukan dalam
melakukan benchmark dalam rangka rangka memberikan kemudahan (sebagai
mencari harga yang paling ekonomis. panduan) bagi K/L dalam pengalokasian
Contoh pengaturan standar biaya/tarif anggarannya. Namun demikian, dalam
billing rate adalah sebagaimana dilakukan penetapan satuan biaya terkait billing rate
oleh Kementerian Pekerjaan Umum yang dalam PMK standar biaya harus bisa
mengatur jasa konsultan/profesi untuk memberikan jaminan bahwa harga yang
jenis pekerjaan konstruksi (Permen PU ditetapkan adalah sudah tepat dan bisa
nomor 07/PRT/M/2011, Permen PU nomor dipertanggungjawabkan. Selain mengatur
14/PRT/M/2013, SE Menteri PU nomor dalam hal harga satuan, pemerintah juga
03/SE/M/2013). dapat mengatur billing rate dalam bentuk
Kedua, untuk jenis jasa formulasi maupun struktur biaya (proposi
konsultan/profesi yang bersifat spesifik, antara biaya langsung personel dengan
billing rate dapat diatur oleh pemerintah total biaya proyek). Namun demikian,
bukan berupa satuan harga/tarif namun perlu dikaji lebih dalam apakah perlu
dalam bentuk formulasi/struktur biayanya, dilakukan klasifikasi terkait besaran proyek
seperti misalnya proporsi bagi biaya yang sangat bervariasi. Lebih lanjut, perlu
langsung personel adalah maksimal 40 dikaji sejauh mana pemerintah
persen dari biaya proyek. Terhadap jenis bisa/mampu mengatur tentang
profesi yang sangat spesifik dan tidak satuan/standar biaya terkait billing rate.
banyak asosiasi yang mewadahi berakibat Dengan kata lain, dalam tataran
ketersedian data harga bagi jenis profesi penganggaran, pengaturan billing rate
tersebut sangat minim. Hal tersebut oleh pemerintah jangan sampai
mengakibatkan pemerintah sulit untuk menimbulkan under budget maupun over
membuat standar biayanya, sehingga yang budget.
paling mungkin dilakukan adalah dengan Selain diatur oleh pemerintah
mengatur pada sisi struktur satuan biaya langsung personel (billing
biaya/komposisi biaya langsung personel rate) juga dapat diserahkan/mengikuti
terhadap biaya proyek. Contoh pengaturan harga yang berlaku di pasar atau mengikuti
terkait billing rate yang tidak berupa tarif yang ditetapkan oleh asosiasi jasa
tarif/harga satuan adalah sebagaimana profesi yang terkait (khususnya pada jenis
pada SEB Kepala BAPPENAS dan Menteri jasa profesi yang spesifik). Namun
Keuangan (SEB Kepala BAPPENAS dan demikian muncul kekhawatiran jika satuan
Menteri Keuangan nomor harga diserahkan kepada harga pasar akan
1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000 menimbulkan monopoli dan juga kartel
tanggal 17 Maret 2000). dimana para produsen suatu barang/jasa
Terkait pembahasan tersebut di tertentu bersepakat untuk menerapkan
atas, penggunaan satuan biaya pada satuan harga tertentu yang lebih tinggi dari
prinsipnya adalah sebagai taksiran biaya harga sesungguhnya. Kekhawatiran akan
tertinggi dan bersifat fleksibel. Dalam hal terjadinya monopoli tersebut adalah
satuan biaya diatur/ditetapkan oleh terlebih pada jenis jasa profesi yang

105
spesifik. Oleh karena tidak banyak tersedia hal ini dirasakan sudah mampu diatasi
informasi terkait biaya langsung personel dengan adanya KPPU dan LKPP. Lebih
sehingga pemerintah tidak bisa lanjut, dalam hal standar biaya billing rate
membandingkan dalam rangka diserahkan kepada harga pasar, hal ini
mengetahui berapa harga yang sudah sesuai dengan semangat reformasi
sesungguhnya dan berapa harga yang pengelolaan keuangan negara
pantas (ekonomis). (penganggaran berbasis kinerja) dimana
Namun demikian, dalam tataran Kementerian Keuangan (dalam hal ini
pelaksanaan, sebagai respon terhadap Ditjen Anggaran) kedepannya tidak lagi
masalah monopoli pemerintah telah membahas penganggaran sampai level
melakukan upaya dengan membentuk detil (unit cost).
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Berdasarkan hasil kajian aspek
(KPPU). Lebih lanjut, dalam hal efisiensi, konsepsi bisa disimpulkan bahwa efisiensi
pada tataran pelaksanaan dilakukan penganggaran bisa dicapai melalui
dengan pembuatan aturan dalam penerapan SBM dan SBK. Khusus SBM
pengadaan barang dan jasa yang efisiensi dicapai dengan mencari harga
dilengkapi dengan pembentukan Lembaga yang paling ekonomis/murah untuk
Kebijakan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). menghasilkan output yang sama baik
Dengan menerapkan peraturan pengadaan kualitas dan kuantitasnya. Salah satu
barang dan jasa diharapkan agar nantinya satuan biaya adalah biaya langsung
dapat memperoleh barang/jasa dengan personel (billing rate). Pengaturan standar
kualitas terbaik dan harga yang paling biaya terkait billing rate dapat diatur oleh
ekonomis. pemerintah baik berupa tarif bagi jasa
Lebih lanjut, jika pemerintah konsultan yang bersifat umum, dan
melepas billing rate mengikuti harga yang formulasi/struktur biaya bagi jasa
berlaku di pasar dapat dikatakan konsultansi yang bersifat spesifik. Hal
pemerintah telah melakukan hal yang positif dari diaturnya standar biaya billing
benar karena prinsipnya billing rate itu rate oleh pemerintah adalah kemudahan
digunakan untuk tenaga ahli/profesional bagi K/L dalam mengalokasikan
yang realitasnya adalah sangat beragam anggarannya.
dan antar masing-masing profesi berbeda Selain itu, dalam mengalokasikan
tarifnya. Pada masing-masing profesi anggarannya pemerintah dapat
tersebut umumnya telah memiliki memastikan keteraturan dan juga akan
asosiasinya sendiri serta harga mendapatkan harga yang paling
satuan/tarifnya telah terbentuk oleh pasar sesuai/ekonomis. Namun demikian
secara alamiah. Berdasarkan hal tersebut pengaturan tersebut tidak berarti harus
maka apabila bisa pengaturan billing rate ditetapkan menjadi standar biaya melalui
harus ditetapkan oleh Menteri Keuangan PMK. Hal ini didasari pada pertimbangan
(karena amanat peraturan) maka dirasa adanya kebijakan yang dirasa mampu
tidak efektif. Dalam hal menjaga efisiensi “mengawal” dalam hal pengaturan billing
dan juga mencegah/mengatasi monopoli, rate mengikuti harga pasar seperti

106
dibentuknya instansi/lembaga yang berlaku dipasaran atau yang ditetapkan
menjamin efisiensi belanja. Selain itu, oleh menteri/pimpinan lembaga/instansi
adanya asosiasi yang mengatur satuan teknis yang berwenang. Dari kedua
harga bagi masing-masing jasa profesi peraturan tersebut didapati bahwa satuan
serta harga pasar yang telah terbentuk biaya yang belum distandarkan/ditetapkan
secara alamiah. Lebih lanjut, dirasa kurang menjadi standar biaya melalui PMK,
efektif jika pengaturan standar biaya namun demikian apabila satuan biaya
terkait billing rate harus ditetapkan oleh tersebut belum menjadi standar biaya
Menteri keuangan dalam PMK standar yang ditetapkan dengan PMK maka satuan
biaya. biaya tersebut tetap bisa digunakan. Lebih
lanjut, satuan biaya yang dimaksud adalah
4.2 Aspek Regulasi satuan biaya yang berlaku di pasaran atau
Berdasarkan pasal 5 ayat (3) PP satuan biaya dan/atau yang dikeluarkan
nomor 90 tahun 2010 tentang Penyusunan oleh lembaga/asosiasi tertentu.
Rencana Kerja Dan Anggaran Kementerian Pengatuan standar biaya untuk
Negara/Lembaga (RKA-K/L) disebutkan penyedia barang yang disediakan oleh
bahwa dalam menyusun RKA-K/L yang swasta pada hakekatnya merupakan
bersifat terpadu dan berbasis kinerja, K/L standar biaya untuk memenuhi satuan
menggunakan instrumen indikator kinerja, biaya keperluan pelaksanaan tugas rutin
standar biaya, dan evaluasi kinerja, serta Kementerian/Lembaga. SEB Kepala
pada pasal 9 ayat (4) disebutkan bahwa BAPPENAS dan Menteri Keuangan nomor
Menteri/Pimpinan Lembaga menyusun 1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000
RKA-K/L berdasarkan, salah satunya, tanggal 17 Maret 2000 merupakan aturan
standar biaya. Hal ini berarti bahwa dalam tentang teknik perhitungan penyusunan
mencapai efisiensi penggunaan instrumen RAB untuk jasa konsultasi yang meliputi
standar biaya adalah sangat penting, jika biaya langsung personel dan biaya
tidak bisa dibilang sebuah keharusan, langsung non personel. Biaya personel
untuk dilakukan dalam penyusunan RKA- tersebut dihitung berdasarkan harga pasar
K/L. yang berlaku dan wajar serta didasarkan
Kemudian, pada pasal 5 ayat (5) PP pada dokumen yang dapat
nomor 90 tahun 2010 juga disebutkan dipertanggungjawabkan yaitu melalui
bahwa untuk ketentuan standar biaya daftar gaji yang telah diperiksa (dalam
diatur dengan Peraturan Menteri penyusunan HPS).
Keuangan setelah berkoordinasi dengan Penetapan harga satuan dalam
Kementerian/Lembaga. Adapun dalam hal penyusunan HPS telah dilakukan
terkait standar biaya masukan, terhadap pengaturan dalam ketentuan pengadaan
satuan biaya belum terdapat dalam barang dan jasa yang mengatur bahwa
peraturan terkait standar biaya (PMK penyusunan HPS dikalkulasikan secara
standar biaya), maka sesuai pasal 8 PMK 71 keahlian berdasarkan data yang dapat
tahun 2013 masih dibuka ruang untuk dipertanggungjawabkan. Data-data
menggunakan harga satuan (tarif) yang tersebut meliputi: harga pasar setempat,

107
Informasi biaya satuan dari BPS, informasi standar biaya, Ditjen Perbendaharaan
biaya satuan yang dipublikasikan secara pada tataran aturan pelaksanaan
resmi oleh asosiasi terkait, daftar biaya anggaran, LKPP dengan aturan pengadaan,
yang dikeluarkan pabrikan, biaya kontrak dan K/L melalui penguatan akuntabilitas.
sebelumnya, inflasi tahun sebelumnya, Hal tersebut berarti bahwa dalam hal
hasil perbandingan dengan kontrak pengalokasian anggaran yang efisien,
sebelumnya, perkiraan perhitungan biaya, Kementerian/Lembaga tidak semata hanya
norma indeks, dan informasi lain. tergantung pada penggunaan standar
Sesungguhnya terdapat peraturan biaya yang telah ditetapkan oleh Menteri
yang menyatakan bahwa pengaturan Keuangan (PMK Standar Biaya). Dengan
terkait billing rate harus ditetapkan oleh kata lain bahwa dalam penghitungan biaya
Menteri Keuangan yaitu Keppres nomor 42 dalam penyusunan Harga Perkiraan Sendiri
tahun 2002. Pada sebagaimana diatur (HPS) dapat menggunakan acuan lainnya.
pada pasal 14 Keppres tersebut diatur Acuan lain sebagaimana dimaksud antara
bahwa standardisasi harga satuan umum, lain adalah SEB Kepala BAPPENAS dan
satuan biaya langsung personil dan non Menteri Keuangan, Peraturan Menteri PU,
personil untuk kegiatan jasa konsultasi dan satuan biaya yang dikeluarkan oleh
diatur/ditetapkan secara berkala oleh asosiasi jasa profesi yang bersangkutan.
Menteri Keuangan. Namun demikian, Pada tataran implementasi, pengaturan
dengan diberlakukan PP nomor 45 tahun lain (selain PMK) tersebut tetap diikat oleh
2013 maka Keppres 42 tahun 2002 norma lainnya, seperti dalam hal
dinyatakan tidak berlaku lagi. pengadaan barang dan jasa penentuan
Berdasarkan kajian tersebut di atas HPS harus berpedoman pada aturan yang
maka secara aspek regulasi pengaturan berlaku seperti data yang digunakan dalam
standar biaya terkait billing rate tidak ada penghitungan harus bisa
peraturan yang secara tegas mengarahkan dipertanggungjawabkan.
bahwa untuk satuan biaya billing rate Terkait Pengaturan billing rate oleh
harus diatur/ ditetapkan oleh pemerintah pemerintah, pemerintah telah
dan sebaliknya. Pada satu sisi, jika satuan mengeluarkan beberapa peraturan yang
biaya billing rate diatur/ditetapkan mengatur tentang billing rate. Salah satu
pemerintah, hal ini secara hukum tidak pengaturannya adalah pada tahun 1998
berntentangan dengan peraturan diterbitkan SEB Kepala BAPPENAS dan
perundang-undangan yang ada. Menteri Keuangan nomor
604/D.VI/02/1998 dan SE-35/A/21/0298.
4.3 Aspek Implementasi Pada SEB tersebut mengatur tentang
Setelah reformasi pengelolaan billing rate termasuk tarif/besarannya.
keuangan, hal terkait efisiensi tidak semata Kemudian, angka-angka yang terdapat
menjadi ruang lingkup kewenangan pada SEB tersebut digunakan sebagai dasar
Kementerian Keuangan namun telah negosiasi harga/tarif dan panitia
menyebar ke unit/instansi lainnya yaitu pengadaan cenderung tidak berani keluar
Ditjen Anggaran dengan penerapan dari angka yang ada dan demikian pula

108
dengan auditor yang melihat angka-angka pemerintah) tidak berkembang dan tidak
tersebut adalah batas tertinggi yang tidak menarik.
bisa dilampaui. Kondisi yang lebih Sebagai bentuk perbaikan,
memprihatinkan terjadi pada tenaga kemudian dikeluarkan SEB Kepala
ahli/konsultan lokal, selain dihargai lebih BAPPENAS dan Menteri Keuangan nomor
rendah dari tenaga ahli asing, upah riil 604/D.VI/02/1998 dan SE-35/A/21/0298
yang diterima lebih kecil dari yang diajukan digantikan dengan SEB Kepala BAPPENAS
(Inkindo Minta Billing rate Disetarakan dan Menteri Keuangan nomor
Dengan Konsultan Asing). Hal tersebut 1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000.
menimbulkan dampak yang kurang baik. Dalam SEB yang baru tersebut tersebut
Pertama, pengguna seringkali berisi pedoman penyusunan rencana
menghadapi persoalan karena angka- anggaran biaya jasa konsultansi yang di
angka tersebut tidak mencerminkan harga dalamnya tidak mencerminkan angka-
pasar sesungguhnya untuk suatu keahlian. angka sebagai pagu namun hanya
Kemudian, adanya pandangan bahwa berbentuk formulasi yang digunakan untuk
harga yang tercantum dalam SEB Kepala menghitung besaran biaya langsung
BAPPENAS dan Menteri Keuangan adalah personal dan biaya langsung non personal.
angka yang tidak boleh dilampaui maka Namun demikian, berdasarkan informasi
yang terjadi kemudian adalah pengguna yang didapat dari K/L pengguna didapati
dengan berbagai cara mengakali angka bahwa besaran biaya personel (billing rate)
yang ada. Praktek tersebut jelas tidak pada SEB yang baru (nomor
sehat. Kedua, dari sisi penyedia, oleh 1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000) juga
karena billing rate diperlakukan sebagai masih dirasakan terlalu kecil. Hal tersebut
pagu yang tidak dapat dilampaui maka menyebabkan K/L sulit untuk
penyedia juga tidak dapat memberikan mendapatkan jasa konsultan dengan
proposal yang baik. Penyedia jasa kualitas yang terbaik.
kemudian menggunakan dan memberikan Adapun dalam hal pengaturan
tenaga ahli yang mau dibayar di bawah satuan biaya diatur/ditetapkan oleh
harga pasar, atau mengajukan proposal Menteri Keuangan melalui PMK
yang dalam perjalanannya diganti dengan (dimasukan ke dalam standar biaya), hal-
tenaga ahli yang lebih rendah hal sebagaimana dibahas di atas patut
kualifikasinya. Dari kedua uraian tersebut, untuk dipertimbangkan. Jika pengaturan
baik pengguna maupun penyedia jasa billing rate akan diiatur/ditetapkan dalam
konsultan terbelenggu oleh angka billing PMK maka pengaturan tersebut dalam
rate yang terdapat dalam SEB tersebut bentuk apa? Apakah dalam bentuk tarif
sehingga menyebabkan hasil pekerjaan sebagaimana pengaturan oleh
tidak optimal. Lebih lanjut, billing rate Kementerian PU untuk biaya jasa
dalam SEB yang diperlakukan sebagai pagu konsultan pada proyek konstruksi, dan SEB
tertinggi menjadi salah satu penyebab Kepala BAPPENAS dan Menteri Keuangan
dunia jasa konsultansi nasional (proyek nomor 604/D.VI/02/1998 dan SE-
35/A/21/0298? Atau apakah berupa

109
formulasi seperti pada SEB Kepala pada satuan biaya lainnya seperti harga
BAPPENAS dan Menteri Keuangan nomor pasar. Kemudian, dalam hal satuan biaya
1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000? billing rate tidak diatur oleh pemerintah
Selain itu, berdasarkan formulasi dan sebaliknya dilepaskan pada harga yang
penghitungan biaya personel, selain gaji berlaku di pasar, pada satu sisi adalah lebih
pokok juga terdapat komponen lainnya efektif. Pemerintah tidak perlu lagi
yaitu gaji dasar, beban biaya sosisal, beban mengatur satuan biaya billing rate karena
biaya umum, tunjangan penugasan, dan telah terbentuk secara alamiah. Harga
keuntungan. Terhadap hal tersebut maka akan terbentuk dengan sendirinya oleh
dibutuhkan kajian lebih lanjut mengenai adanya persaingan antar jasa profesi yang
kewenangan Kementerian Keuangan untuk sejenis. Selain itu, adanya asosiasi yang
mengatur komponen apa saja yang perlu menaungi jasa profesi yang secara teknis
dimasukan kedalam penghitungan biaya lebih mengetahui secara detil mengenai
personil dan berapa besar proporsinya. teknis dan juga besaran harga pokok jasa
Terakhir, apakah pemerintah memiliki profesi yang dinaunginya.
kewenangan untuk menetapkan Pada sisi lainnya, dengan
keuntungan bagi sebuah perusahaan? menyerahkan satuan biaya billing rate
Berdasarkan hal tersebut, dalam mengacu kepada harga pasar, ada
hal pengaturan terkait billing rate akan kekhawatiran/potensi adanya moral
diatur dan ditetapkan Menteri Keuangan, hazard seperti adanya monopoli dan kartel
perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yang efeknya sama buruknya dengan atau
secara masak terhadap segala mungkin lebih buruk jika satuan biaya
implikasi/resiko dari pengaturan tersebut harus diatur oleh pemerintah. Jika dalam
dan bagaimana mitigasinya. Seperti hal satuan biaya harus diatur oleh
contohnya apabila pemerintah tidak pemerintah, efek buruk yang (paling)
mempunyai kewenangan mengatur mungkin timbul adalah terjadinya under
keuntungan namun pemerintah ikut budget karena tarif yang ditetapkan terlalu
mengatur dalam bentuk standar biaya rendah maka jika satuan biaya billing rate
billing rate, bagaimana resiko hukumnya? mengacu pada harga pasar efek yang
Kemudian, dalam hal standar biaya yang terjadi adalah satuan biaya billing rate
ditetapkan oleh Menteri Keuangan lebih menjadi terlalu besar. Hal tersebut terjadi
kecil dari biaya langsung personel bisa disebabkan tidak ada mekanisme
sesungguhnya sebuah jasa konsultan, apa kontrol pada jenis jasa profesi
yang akan terjadi pada pelaksanaan tertentu/spesifik, adanya monopoli, serta
anggaran dan juga pada perkembangan adanya kartel. Terkait hal tersebut, efek
jasa konsultan di Indonesia? lanjutan yang ditimbulkan adalah
Pada sisi lain, mengacu pada terjadinya over budget. Namun demikian,
peraturan perundangan yang berlaku saat terhadap satuan biaya billing rate yang
ini, dalam hal belum diatur dalam PMK terlalu tinggi masih, pada tataran
standar biaya maka satuan biaya terkait pelaksanaa anggaran masih bisa diatasi
billing rate dimungkinkan untuk mengacu dengan pengaturan pengadaan barang dan

110
jasa sehingga masih dimungkinkan untuk 5. PENUTUP
memperoleh satuan biaya yang paling
5.1 Kesimpulan
efisien.
Berdasarkan kajian implementasi Berdasarkan tiga aspek kajian yang
yang dilakukan, kesimpulan yang dapat dilakukan maka dapat disimpulkan hal-hal
diambil adalah pada prinsipnya saat ini sebagai berikut:
tidak ada peraturan perundang-undangan 1. Berdasarkan Kajian Konsepsi dapat
yang tidak yang secara tegas mengarahkan disimpulkan bahwa pengaturan
bahwa satuan biaya billing rate harus standar biaya terkait billing rate dapat
diatur/ditetapkan oleh pemerintah dan diatur/ditetapkan oleh pemerintah.
sebaliknya. Pemerintah dalam hal ini Hal tersebut dilakukan pemerintah
Menteri Keuangan dapat menetapkan dalam rangka menentukan satuan
satuan biaya billing rate menjadi standar biaya yang paling efisien. Namun
biaya dengan mempertimbangkan dalam hal satuan biaya standar
berbagai efek yang mungkin ditimbulkan ditetapkan menjadi standar biaya oleh
antara lain satuan biaya yang ditetapkan Menteri Keuangan, perlu untuk
pemerintah terlalu rendah dan tidak sesuai dilakukan kajian lebih lanjut. Hal
dengan harga pokok sesungguhnya sebuah tersebut perlu mempertimbangkan
jasa profesi. Namun demikian, pemerintah banyak hal, antara lain pengalaman
masih dimungkinkan untuk mengatur pengaturan terkait billing rate pada
tentang billing rate dalam bentuk lain SEB Kepala BAPPENAS dan Menteri
selain pengaturan berupa standar biaya Keuangan nomor 604/D.VI/02/1998
seperti pengaturan dalam struktur biaya dan SE-35/A/21/0298 dan diperbaiki
(komposisi biaya langsung personel dengan SEB Kepala BAPPENAS dan
terhadap total biaya) sebuah proyek. Pada Menteri Keuangan nomor
sisi lain, akan lebih mudah jika dalam 1203/D.II/03/2000 dan SE-38/A/2000.
penyusunan RKA-K/L satuan biaya billing Pada pengaturan tersebut satuan
rate mengacu pada harga pasar. Hal biaya langsung personel yang
tersebut dengan mempertimbangkan ditetapkan besarannya tidak sesuai
beberapa hal antara lain proses (terlalu kecil) dengan biaya personel
pembentukan harga oleh pasar serta yang seharusnya. Namun demikian,
terdapatnya asosiasi jasa profesi yang secara konsepsi tetap dimungkinkan
mengetahui secara detil segala hal terkait bagi pemerintah untuk mengatur
jasa profesi termasuk besaran biaya pokok walaupun tidak dalam bentuk standar
sesungguhnya bagi sebuah jasa profesi. biaya seperti pengaturan dalam hal
struktur biaya (proporsi biaya
langsung personel terhadap biaya
proyek). Oleh karena itu berdasarkan
hal tersebut dan juga mengingat harga
yang ada dipasar telah terbentuk
secara alamiah, satuan biaya billing

111
rate dirasakan lebih efektif jika Menteri Keuangan menetapkan
mengacu pada harga pasar dan tidak standardisasi harga satuan termasuk
perlu ditetapkan Menteri Keuangan didalamnya billing rate dengan PMK.
menjadi standar biaya. Lebih lanjut, Namun demikian, dalam hal harga
hal tersebut dirasakan telah sesuai satuan tidak diatur dalam standar
dengan reformasi pengelolaan biaya maka bisa menggunakan harga
keuangan negara dimana yang berlaku di pasar. Oleh karena itu
penganggaran berbasis kinerja tidak berdasarkan kajian regulasi yang
lagi berfokus pada level detil (unit dilakukan, secara yuridis pengaturan
cost). Selain itu, dalam standar biaya terkait billing rate tidak
implementasinya hal terkait billing diharuskan untuk ditetapkan oleh
rate didukung juga oleh kebijakan lain Menteri Keuangan sehingga pegaturan
seperti pengaturan terkait pengadaan yang ada saat ini membolehkan untuk
barang dan jasa, serta pembentukan mengacu pada harga pasar dan harga
lembaga/instansi yang dapat yang dibuat oleh lembaga/instansi
memberikan jaminan akan terkait masih tetap berlaku;
tercapainya efisiensi baik didalam 3. Berdasarkan Kajian Implementasi
perencanaan maupun pelaksanaan dapat disimpulkan bahwa penerapan
anggaran serta mencegah terjadinya standar biaya terkait billing rate,
monopoli dengan mempertimbangkan berbagai
2. Berdasarkan Kajian Regulasi tidak hal, dirasa tidak perlu
ditemukan peraturan yang secara diatur/ditetapkan oleh pemerintah.
mengatur/mengarahkan bahwa billing terkait hal tersebut, hal-hal yang
rate harus diatur/ditetapkan oleh menjadi pertimbangkan antara lain
pemerintah seperti pengaturan satuan adalah efektifitas, ketersediaaan
biaya biling rate harus ditetapkan oleh kebijakan dalam rangka menjamin
Menteri Keuangan sebagai standar efisiensi, serta efek yang ditimbulkan
biaya. Dan sebaliknya, berdasarkan jika billing rate diatur oleh
peraturan perundang-undangan yang pemerintah. Hal tersebut berarti
ada tidak satupun yang melarang satuan biaya billing rate tidak perlu
menggunakan biaya satuan billing rate ditetapkan menjadi standar biaya oleh
menggunakan harga yang berlaku di Menteri Keuangan. Namun demikian
pasar. Dengan kata lain, pemerintah tidak menutup peluang bagi
dapat mengatur billing rate baik dalam pemerintah untuk mengatur billing
bentuk pengaturan standar biaya rate dengan terlebih dahulu dilakukan
maupun bentuk pengaturan lainnya. kajian yang matang.
Hal tersebut sebagaimana terdapat 4. Berdasarkan hasil kajian dari ketiga
pengaturan terkait billing rate yaitu PP aspek tersebut di atas dengan
90 nomor 2010,dan PMK nomor 71 mempertimbangkan berbagai faktor
tahun 2013. Pada peraturan- maka untuk satuan biaya billing rate
peraturan tersebut diatur bahwa

112
tidak perlu ditetapkan oleh Menteri Stiglitz, Joseph E. 2000. Capital market
Keuangan. liberalization, economic growth, and
instability. World development,
5.2 Rekomendasi 28(6), 1075-1086.
Inkindo Minta Billing rate Disetarakan
Berdasarkan hasil kajian (konsepsi, Dengan Konsultan Asing, Pusat
implementasi, dan regulasi) yang dilakukan Komunikasi Publik
maka dapat direkomendasikan untuk <http://www.pu.go.id/main/view_p
pengaturan satuan biaya billing rate tidak df/4423>.
perlu diatur/ditetapkan oleh Menteri DOKUMEN
Keuangan dalam pengaturan standar biaya
(PMK Standar Biaya Masukan), dan sesuai Undang – Undang (UU) nomor 17 tahun
2003 tentang Keuangan Negara;
pasal 8 PMK nomor 71 tahun 2013 terkait
UU nomor 1 tahun 2004 tentang
penggunaan satuan biaya masukan tidak
Perbendaharaan Negara;
diatur dalam standar biaya maka dapat Peraturan Pemerintah (PP) nomor 90
mengacu kepada harga pasar. tahun 2010 tentang Penyusunan
Namun demikian, hal ini bukan Rencana Kerja Dan Anggaran
berarti pengaturan billing rate oleh Kementerian Negara / Lembaga;
pemerintah tidak dapat dilakukan. Peraturan Presiden (Perpres) nomor 70
tahun 2012 tentang Perubahan
Pengaturan billing rate oleh pemerintah
Kedua atas Peraturan Presiden
baik berupa satuan biaya maupun lainnya Nomor 54 Tahun 2010 tentang
(struktur biaya) dapat dilakukan dengan Pengadaan Barang dan Jasa;
menggunakan metode penghitungan yang Keputusan Presiden (Keppres) nomor 42
benar, data yang komplit, kajian yang tahun 2002 tentang Pedoman
lengkap dan mendalam, serta melibatkan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
para stakeholder. dan Belanja Negara;
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor
71/PMK.02/2013 tentang Pedoman
Standar Biaya, Standar Struktur
DAFTAR PUSTAKA Biaya, dan Indeksasi dalam
Penyusunan Rencana Kerja dan
Smith, Adam 1776. The wealth of nation. Anggaran Kementerian Negara /
Smith the wealth of nation 1776 Lembaga;
Karagianis, Nikolaos 2001. Key economic PMK nomor 84/PMK.02/2005 tentang
and politico-institutional elements of Standar Biaya Tahun Anggaran 2006;
modern interventionism. Social and PMK nomor 96/PMK.02/2006 tentang
Economic Studies, 17-47 Standar Biaya Tahun Anggaran 2007;
Markovits, Richard S. 2008. Truth or PMK nomor 81/PMK.02/2007 tentang
economics: on definition, prediction, Standar Biaya Tahun Anggaran 2008;
and relevance of economic PMK nomor 100/PMK.02/2010 tentang
efficiency. Yale University Press. Standar Biaya Tahun Anggaran 2011;
Sugiyono 2009. Memahami Penelitian PMK nomor 84/PMK.02/2011 tentang
Kualitatif: Dilengkapi Contoh Standar Biaya Tahun Anggaran 2012;
Proposal dan Laporan Penelitian PMK nomor 37/PMK.02/2012 tentang
Standar Biaya Tahun Anggaran 2013;

113
Permen PU nomor 07/PRT/M/2011 nomor 1203/D.II/03/2000 dan SE-
tentang Standar Dan Pedoman 38/A/2000 tanggal 17 Maret 2000
Pengadaan Pekerjaan Konstruksi Dan tentang Petunjuk penyusunan
Jasa Konsultansi; Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk
Permen PU nomor 14/PRT/M/2013 jasa konsultansi (Biaya Langsung
tentang Perubahan Peraturan Personil (Remuneration) dan Biaya
Menteri Pekerjaan Umum Nomor Langsung Non Personil (Direct
07/PRT/M/2011 Tentang Standar Reimbursable Cost));
Dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan Keputusan Dewan Pengurus Nasional
Konstruksi Dan Jasa Konsultansi; Ikatan Nasional Konsultan Indonesia
Surat Edaran Bersama (SEB) Kepala Nomor: 39/TAP.DPN/IX/2
BAPPENAS dan Menteri Keuangan

114