Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN HIPERTENSI HEART DISEASE
DI RUANG JANTUNG RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 12 – 17 Agustus 2019

Oleh:
Sari, S.Kep
NIM. 1830913320021

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2019
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : Sari, S.Kep

NIM : 1830913320021

JUDUL LP : - Laporan Pendahuluan Hipertensi Heart Disease


- Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Hipertensi Heart
Disease di ruang Jantung RSUD Ulin Banjarmasin
- Resume Pasien di ruang Jantung RSUD Ulin Banjarmasin

Banjarmasin, 12 Agustus 2019

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Agianto, S.Kep.,Ns.,M.N.S.,PH.D M. Sandi Suwardi, S.Kep.,Ns.,M.Kes


NIP. 19820818 200812 1 003 NIP. 19750214 199402 1 001
HIPERTENSI HEART DISEASE (HHD)
PENGERTIAN PENYEBAB
Hipertensi Heart Disease (HHD) adalah istilah yang 1. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu
diterapkan untuk menyebutkan penyakit jantung idiopatik (faktor resik: keturunan, jenis kelamin,
secara keseluruhan, mulai dari left ventricle usia, ras, dan kebiasaan hidup).
hyperthrophy (LVH), aritmia jantung, penyakit 2. Hipertensi sekunder (karena penyakit lain:
jantung koroner, dan penyakit jantung kronis, yang
Gangguan ginjal, vaskular, kelainan endokrin,
disebabkan karena peningkatan tekanan darah,
saraf dan konsumsi, dan obat-obatan seperti
baik secara langsung maupun tidak langsung.
kontrasepsi oral, kortikosteroid.

TANDA DAN GEJALA


a. Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah yang tinggi, selain penentuan tekanan arteri oleh
dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. Tetapi dapat
ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah, dan edem pupil.
b. Gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

KARAKTERISTIK HHD PEMERIKSAAN PENUNJANG PENATALAKSANAAN


No Kategori Sistolik(mmHg) Diastolik(mmHg)
1. Optimal <120 <80
2. Normal 120 – 129 80 – 84 a. Riwayat dan pemeriksaan fisik 1. Pengaturan Diet
3. High Normal 130 – 139 85 – 89 secara menyeluruh a. Rendah garam
b. Pemeriksaan retina b. Diet tinggi potassium
4. Hipertensi
c. Pemeriksaan laboratorium untuk c. Diet kaya buah dan sayur
Grade 1 (ringan) 140 – 159 90 – 99
mengetahui kerusakan organ d. Diet rendah kolesterol
Grade 2 (sedang) 160 – 179 100 – 109
seperti ginjal dan jantung. sebagai pencegah
Grade 3 (berat) 180 – 209 100 – 119
d. EKG untuk mengetahui terjadinya jantung
Grade 4 (sangat berat) >210 >120 hipertropi ventrikel kiri koroner.
e. Pemeriksaan; renogram, e. Tidak mengkomsumsi
pielogram intravena arteriogram Alkohol.
renal, pemeriksaan fungsi. 2. Olahraga Teratur
f. Foto dada dan CT scan. 3. Penurunan berat badan
4. Farmakoterapi
Pathway

Genetik Respon neurologi terhadap


stress

Kurang terpaparnya
Stress lingkungan informasi

Kebiasaan hidup Insulin


Obesitas Kurang
meningkat
pengetahuan

Merokok, alkohol, Hipertensi primer


konsumsi garam
Ansietas
berlebihan

Elastisitas dinding aorta Hipertrofi ventrikel kiri


menurun, katub jantung
menebal dan kaku,
kemampuan memompa Terbatasnya aliran darah
Usia lanjut
darah menurun, hilangnya koroner
elastisitas pembuluh darah,
meningkatnya resistensi
pembuluh darah perifer. Iskemia miokard

Penurunan curah jantung


Saraf stroke, Hipertensi
ensephalitis, SGB sekunder

Ginjal: glomurulonefritis, Kurangnya suplai oksigen ke


Peningkatan vaskuler jaringan
piolenefritis, nekrosis
serebral
tubular akut, tumor

Kelemahan
Vaskular: arteroklerosis, Nyeri akut
hiperplasia, trombosis,
aneurisma, emboli
Suplai darah ke Intoleransi aktivitas
kolesterol, vaskulitis
otak menurun

Resiko ketidakefektifan
perfusi jaringan otak
Asuhan Keperawatan HHD

PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
2. Keluhan Utama (pada umumnya nyeri)
3. Riwayat Penyakit (Riwayat Penyakit sekarang, dahulu dan keluarga)
4. Pemeriksaan Fisik
5. Pemeriksaan diagnostik

Penurunan curah jantung b/d peningkatan afterload, Nyeri akut (sakit kepala) b/d peningkatan tekanan vaskuler serebral
vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
NOC :
NOC :  Comfort level.
 Cardiac pump effectiveness.  Pain control.
 Circulation status.  Pain level.
 Vital sign status.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x6 jam, masalah nyeri
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, masalah pasien teratasi dengan kriteria hasil :
penurunan curah jantung pasien teratasi dengan kriteria hasil : 1) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
1) Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,
respirasi). mencari bantuan).
2) Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan. 2) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
3) Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites. manajemen nyeri.
4) Tidak ada penurunan kesadaran. 3) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda
5) AGD dalam batas normal. nyeri).
6) Tidak ada distensi vena leher. 4) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
7) Warna kulit normal. 5) Tanda vital dalam rentang normal.
6) Tidak mengalami gangguan tidur.
NIC : NIC :
 Cardiac Care  Pain Management
1) Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, durasi). 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
2) Catat adanya distrimia jantung. karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
3) Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output. 2) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
4) Monitor status cardiovaskuler. 3) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
5) Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung. dukungan.
6) Monitor balance cairan. 4) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
7) Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia. ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
8) Atur periode latihan dan istirahat. 5) Kurangi faktor presipitasi nyeri.
6) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
 Vital Sign Monitoring 7) Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dalam, relaksasi,
1) Monitor TD, nadi, suhu, dan RR. distraksi, kompres hangat/ dingin.
2) Monitor vital sign saat pasien berbaring, duduk atau berdiri. 8) Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
3) Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan. 9) Tingkatkan istirahat.
4) Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama dan setelah aktivitas. 10) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama
5) Monitor jumlah, bunyi dan irama jantung. nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.
11) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali.

 Analgetic Management

1) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitasdan tingkat nyeri sebelum


mengobati pasien.
2) Cek obat meliputi jenis, dosis, dan frekuensi pemberian analgetik.
3) Tentukan jenis analgetik (Narkotik, Non-Narkotik) disamping tipe
dan tingkat nyeri.
4) Tentukan Analgetik yang tepat, cara pemberian dan dosisnya secara
tepat.
5) Monitor tanda-tanda vital sebelum dan setelah pemberian analgetik.
Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum, ketidakseimbangan Ansietas b/d kurang pengetahuan tentang penyakit.
antara suplai dan kebutuhan oksigen.
NOC :
NOC :  Anxiety self-control.
 Energy conservation.  Anxiety level.
 Activity tolerance.  Coping.
 Self care.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit, kecemasan
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, masalah pasien berkurang bahkan hilang dengan kriteria hasil :
intoleransi aktivitas pasien teratasi dengan kriteria hasil : 1) Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
1) Berpartisifasi dalam aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan 2) Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk
tekanan darah, nadi dan RR. mengontrol cemas.
2) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara 3) Vital sign dalam batas normal.
mandiri. 4) Poster tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. menunjukan berkurangnya kecemasan.
4) Level kelemahan.
5) Sirkulasi status baik.
6) Status respirasi : pertukaran gas dan ventilasi adekuat. NIC :
 Anxiety Reduction
NIC : 1) Lakukan pengkajian tingkat kecemasan.
 Activity Therapy 2) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur.
1) Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu 3) Dorong klien mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi.
dilakukan. 4) Dorong keluarga untuk selalu menemani klien.
2) Bantu klien untuk memilih posisi nyaman untuk istirahat atau 5) Dengarkan ungkapan klien dengan penuh perhatian.
tidur. 6) Gunakan pendektan terapeutik.
3) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.
4) Dorong klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan.  Relaxation Therapy
5) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase 1) Gambarkan manfaat relaksasi dan jenis relaksasi
akut sesuai indikasi. 2) Ciptakan lingkungan yang tenang dan tanpa distraksi
3) Antisipasi kebutuhan penggunaan relaksasi
 Energy Management 4) Dorong pengulangan teknik secara berkala
1) Ajarkan pada pasien dan orang terdekat tentang teknik 5) Dorong kontrol sendiri ketika relaksasi dilakukan
perawatan diri yang akan meminimakan konsumsi oksigen 6) Evaluasidan dokumentasikan respon terhadap terapi relaksasi
2) Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen
waktu untuk mencegah kelelahan
3) Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivitas, apabila nyeri
merupakan salah satu penyebab
4) Hindari menjadwalkan pelaksanaan aktivitas perawatan selama
periode istirahat
5) Bantu pasien untuk mengubah posisi secara berkala, jika perlu
6) Pantau tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah aktivitas
7) Rencanakan aktivitas bersama pasien secara terjadwal antar
istirahat dan latihan

Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak dengan faktor resiko hipertensi.

NOC :
 Circulation status.
 Tissue Prefusion : cerebral

Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, tidak ada tanda-tanda munculnya ketidakefektifan perfusi jaringan itak, dengan
kriteria hasil :
1) Mendemostrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan.
2) Tidak ada ortostatikhipertensi.
3) Komunikasi jelas.
4) Menunjukkan konsentrasi dan orientasi.
5) Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK.

NIC :
 Cerebral perfusion promotion
1) Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul.
2) Monitor adanya paratese.
3) Intruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lesi atau laserasi.
4) Gunakan sarung tangan untuk proteksi.
5) Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung.
6) Monitoring kemampuan BAB.
7) Kolaborasi pemberian analgetik.
DAFTAR PUSTAKA

Corwin E. J. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Price S. A., Wilson L. M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Reksoprodjo S. 2000. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara, Jakarta.
Smeltzer S. C., Bare G. B. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8
Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2015. NANDA International Nursing
Diagnoses: Definitions and Classification 2015-2017. Edisi kesepuluh.
Jakarta : EGC
Bulechek G.M., Howard K.B., Joanne M.D. (Eds.). 2013. Nursing Intervention
Classification (NIC), Edisi keenam. Indonesia : Elsevier Inc. Mocomedia
Moorhead Sue, Marion Johnson, Meridean L.M., et al. (Eds.). 2013. Nursing
Outcomes Classification (NOC), Edisi keenam. Indonesia : Elsevier Inc.
Mocomedia.