Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

CLOSE FRAKTUR NECK FEMUR


DI RUANG BOUGENVILE RSUD NGUDI WALUYO WLINGI

Oleh :

AYU FATMASARI
NIM. 1501460026

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D4 KEPERAWATAN MALANG
2019
LAPORAN PENDAHULUAN CLOSE FRAKTUR NECK FEMUR
1. Pengertian Fraktur atau patah tulang
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar
tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap
(Price, 2006).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000).
Fraktur femur adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang femur
(Mansjoer, 2000). Sedangkan menurut Sjamsuhidajat & Jong (2005) fraktur femur
adalah fraktur pada tulang femur yang disebabkan oleh benturan atau trauma
langsung maupun tidak langsung. Fraktur femur juga didefinisikan sebagai hilangnya
kontinuitas tukang paha, kondisi fraktur femur secara klinis bisa berupa fraktur
femur terbuka yang disertai adanya kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan
saraf dan pembuluh darah) dan fraktur femur tertutup yang dapat disebabkan oleh
trauma langsung pada paha.
Fraktur collumatau neck(leher)femur adalah tempat yang paling sering terkena
fraktur pada usia lanjut. Ada beberapa variasi insiden terhadap ras.Fraktur collum
femur lebih banyak pada populasi kulit putih di Eropa dan Amerika Utara. Insiden
meningkat seiring dengan bertambahnyausia. Sebagian besar pasien adalah wanita
berusia tujuh puluh dandelapan puluhan (Solomon,2001; Egol,2002).
Gambar: 2.1 Jenis Fraktur

2. Klasifikasi Fraktur
Penampilan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis,
dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :
a. Berdasarkan sifat fraktur.
1) Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih
utuh) tanpa komplikasi.
2) Fraktur terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur terbuka
digradasi menjadi:
a) Grade 1 : luka atau laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi
fragmen minimal
b) Grade 2 : luka atau laserasi > 2 cm, kontosio otot dan sekitarnya,
dislokasi fragmen jelas.
c) Grade 3 : luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.

b. Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur


1) Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2) Fraktur inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
seperti :
a) Hair Line Fraktur ( patah retak rambut )
b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya
c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma
1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasinya.
3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang di
sebabkan trauma rotasi.
4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5) Fraktur Avulsi: fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi
otot pada insersinya pada tulang.
d. Berdasarkan jumlah garis patah
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser) : garis patah lengkap tetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh
2) Fraktur Displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen tulang yang
juga di sebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping)
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh)
f. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang
g. Fraktur Patologis: fraktur yang di akibatkan karena proses patologis
tulang.
h. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya
2) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan
3) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
dalam dan pembengkakan
4) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman sindroma kompartement.

3. Tujuan Pengobatan Fraktur


a. Reposisi dengan maksud mengembalikan fragmen-fragmen ke posisi
anatomi.
b. Imobilisasi atau fiksasi dengan tujuan mempertahankan posisi fragmen-
fragmen tulang tersebut setelah direposisi sampai terjadi union.
c. Penyambungan fraktur (union)
d. Mengembalikan fungsi (rehabilitasi)

4. Prinsip Dasar Penanganan Fraktur


a. Revive : yaitu penilaian cepat untuk mencegah kematian, apabila pernafasan
ada hambatan perlu dilakukan therapi ABC (Airway, Breathing,
Circulation) agar pernafasan lancar.
b. Review : yaitu berupa pemeriksaan fisik yang meliputi: look feel, novemert
dan pemeriksaan fisik ini dilengkapi dengan foto rontgen untuk memastikan
adanya fraktur.
c. Repair : yaitu tindakan pembedahan berupa tindakan operatif dan
konservatif. Tindakan operatif meliputi: orif, Oref, sedangkan tindakan
konservatif berupa pemasangan gips dan traksi.
d. Refer : yaitu berupa pemindahan pasien ke tempat lain, yang dilakukan
dengan hati-hari, sehingga tidak memperparah luka yang diderita.
e. Rehabilitation : yaitu memperbaiki fungsi secara optimal untuk bisa
produktif.

5. Proses Penyembuhan Tulang


Tahap-tahap proses penyembuhan tulang.
a. Tahap 1: Tahap Peradangan (Imfamation)
Tulang patah baik terbuka atau tertutup akan menimbulkan perdarahan
sekecil apapun itu dan membuat jaringan disekitarnya meradang yang
ditandai dengan bengkak, memerah dan teraba hangat serta tentunya terasa
sakit. Tahap ini dimulai pada hari ketika patah tulang terjadi dan
berlangsung sekitar 2 sampai 3 minggu.
b. Tahap II: Pembentukan kalus (Soft Callus)
Antara 2 sampai 3 setelah cedera, rasa sakit danpembenkakan akan
mulai hilang. Pada tahap penyembuhan patah tulang ini, akan terbentuk
kallus yang halus di kedua ujung tulang yang patah sebagai cikal bakal yang
menjembatani penyembuhan tulang namun kallus ini belum dapat terlihat
melalui foto ronsen. Tahap ini biasanya berlangsung hingga 4 sampai 8
minggu setelah cedera.
c. Tahap III: Pembentukan kallus keras (Hard Callus)
Antara 4 sampai 8 minggu, tulang baru mulai menjembatani fraktur
(soft Callus berubah menjadi Hard Callus) dan dapat dilihat pada x-ray atau
ronsen. Dengan waktu 8 sampai 12 minggu setelah cedera, tulang baru telah
mengisi fraktur.
d. Tahap IV: Remodelling Tulang
Dimulai sekitar 8 sampai 12 minggu setelah cedera, sisi fraktur
mengalami remodeling (memperbaiki atau merombak diri) memperbaiki
setiap cacat yang mungkin tetap sebagai akibat dari cedera. Ini tahap akhir
penyembuhan patah tulang yang dapat bertahan hingga beberapa tahun.
PATHWAY
PEMBEDAHAN Insisi/ perlukaan

(Apendicitis)

proses pembedahan Terputusnya kontinuitas/ kerusakan jaringan


saraf dan pembuluh darah

kurang pengetahuan
Port dientere kuman

cemas
Pajanan Lingkungan, alat,
tehnik aseptik
Pajanan alat/instrumen, yang tidak tepat
alat-alat elektro
surgical
Resiko infeksi

Resiko cidera
ANASTESI

GA spinal

Depresi SSP penurunn fungsi


Otot/rangka

Penurunan fungsi
sal. Pernapasan Imobilitas ekstremitas
bawah

resti aspirasi
intoleransi aktivitas

bersihan jalan napas


inefektif

6. Penatalaksanaan
a. Terapi Konservatif
1. Proteksi saja
Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragmen yang minimal atau
dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan cacat di kemudian hari.
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur
dengan kedudukan yang baik.
3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips.
Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti, fragmen
distal dikembalikan ke kedudukan semula terhadap fragmen proksimal dan
dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips.
4. Traksi.
Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di dalam gips.
Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi dapat untuk
reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips
estela tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai kulit (traksi hamilton
russel/traksi bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5
kguntuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai
sebagai traksi definitif, dilamana tidak maka diteruskan dengan
immobilisasi gips. Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal
berupa balanced traction.
b. Terapi Operatif
1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna/ ORIF (open Reductin and Internal
Fixation)
Fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang
panjang, bisa juga berupa plat dengan sekrup di permukaan tulang.
Keuntungan orif adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan bila dipasang
fiksasi interna yang kokoh, sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips
dan segera bisa dilakukan immobilisasi, kerugiannya adalah reposisi
secara operatif inimengundang resiko infeksi tulang. Indikasi ORIF
adalah:
a) Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi.
b) Fraktur yang tidak bisa direposisi tetapi sulit dipertahankan.
c) Fraktur yang dapat direposisi tetapisulit dipertahankan.
d) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik
dengan operasi misalnya fraktur femur.
2. Excisional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan pada fraktur kolum femur.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Konsep Keperawatan Perioperatif


1. Pengertian
Perawatan perioperatif adalah periode sebelum, selama dan sesudah operasi
berlangsung. Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman
pembedahan pasien.
Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan
pasien. ( Keperawatan medikal-bedah : 1997 )

2. Klasifikasi Keperawatan Perioperatif


Perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup 3 fase pengalaman
pembedahan (Arif Muttaqin, Kumalasari, 2009), yaitu:

3. Fase Pre Operatif


Fase pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif yang
dimulai sejak keputusan operasi diambil hingga sampai ke meja pembedahan, tanpa
memandang riwayat atau klasifikasi pembedahan.

Pengkajian Pre Operatif


Pengkajian pasien pada fase perioperatif secara umum dilakukan untuk
menggali permasalahan pada pasien, sehingga perawat dapat melakukan intervensi
sesuai dengan kebutuhan pasien.
Pengkajian pre operatif meliputi:
1). Pengkajian Umum
- Identitas pasien.
- Jenis pekerjaan.
- Persiapan umum (inform consent, formulir checklist).
2). Riwayat Kesehatan
- Riwayat alergi.
- Kebiasaan merokok, alkohol, narkoba.
- Pengkajian nyeri.(PQRST).
3). Pengkajian Psikososiospiritual
- Kecemasan pra operatif.
- Perasaan.
- Konsep diri, citra diri.
- Sumber koping.
- Kepercayaan spiritual.
- Pengetahuan, persepsi, dan pemahaman.
4). Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum dan tanda- tanda vital.
- Pengkajian tingkat kesadaran.
5). Pengkajian Diagnostik
- Pemeriksaan darah lengkap.
- Analisis elektrolit serum, koagulasi, kreatinin serum, dan urinalisis.
- Pemeriksaan skrining tambahan apabila usia di atas 40 tahun, atau
pasien yang mempunyai riwayat penyakit jantung, maka diperlukan
pemeriksaan foto dada, EKG atau pemeriksaan yang lainnya sesuai
dengan kebutuhan diagnosis pra bedah.

Diagnosa dan Intervensi


Pre Operasi :
DX 1. : Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
prosedur tindakan operasi.
Tujuan : Pasien tidak cemas, pasien mengerti tentang prosedur operasi.
Kriteria hasil :
- pasien mengatakan paham dengan penjelasan petugas
- Pasien mengerti serta mau berbicara dan mengungkapkan perasaannya
dengan petugas
- Pasien tampak tenang
Intervensi :
1. Jelaskan tentang prosedur operasi secara singkat dan mudah dimengerti.
2. Berikan dukungan nyata pada emosional klien dengan rasa simpati dan
empati.
3. Anjurkan klien untuk tenang dan rileks dengan nafas panjang.

DX 2 : Resiko injuri berhubungan dengan perpindahan pasien dibrancart


ke meja operasi.
Tujuan : Tidak terjadi injuri saat perpindahan pasien.
Kriteria hasil :
- Pasien tidak merasa nyeri sewaktu dipindah ke meja operasi
- Pasien tidak jatuh dari brankart saat perpindahan
- Tidak ada tanda-tanda luka
Intervensi:
Bantu pasien untuk berpindah dari brancart ke meja operasi atau angkat
pasien dari brancart ke meja operasi dengan bantuan 4 orang dengan
menggunakan pat slide.

Fase Intra Operatif


Fase Intra operatif dimulai dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau ruang
bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Lingkup aktifitas
keperawatan, memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan
pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga
keselamatan pasien.
Perawat yang bekerja di ruang bedah harus telah mengambil program
Proregristation Education Courses in Anasthetic and Operating Teather Nursing .
Dalam pembedahan perawat disebut scrubbed nurse yang bertindak sebagai asisten
ahli bedah. Perawat bertanggung jawab akan pemeliharaan sterilitas daerah
pembedahan dan instrumen serta menjamin ketersediaan peralatan ahli bedah untuk
terlaksananya pembedahan yang direncanakan.

Pengkajian Intra Operatif


Pengkajian keperawatan yang dilakukan selama tahap intra operatif meliputi 4
hal, yaitu:
1) Safety manajemen
Merupakan suatu bentuk jaminan keamanan bagi pasien selama prosedur
pembedahan.
2) Pengaturan posisi pasien
Bertujuan untuk memberikan kenyamanan pada pasien dan mempermudah
jalannya pembedahan.
3) Monitoring fisiologis
a) Melakukan balance cairan (intake output).
b) Memantau kondisi cardio pulmunal (fungsi pernapasan, pulse, TD, saturasi
oksigen, perdarahan).
4) Monitoring psikologis (bila pasien dalam keadaan sadar)
a) Memberi dukungan emosional kepada pasien.
b) Mengkaji status emosional pasien dan mengkomunikasikannya kepada tim
bedah bila terjadi adanya suatu perubahan yang tidak diharapkan.
Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan anggota tidak steril:
1) Anggota steril:
a) Ahli bedah utama (operator).
b) Asisten ahli bedah.
c) Scrub nurse (perawat instrumen).
2) Anggota tim yang tidak steril:
a) Ahli atau penata anesthesi.
b) Perawat sirkulasi.
c) Anggota lain (tehnisi yang mengoperasikan alat- alat pemantau yang
rumit).
Dalam pelaksanaan operasi ada beberapa prinsip tindakan keperawatan yang
harus dilakukan yaitu:
1) Persiapan psikologis pasien
2) Pengaturan posisi
a) Posisi yang diberikan oleh perawat akan mempengaruhi rasa nyaman
pasien dan keadaan psikologis pasien.
b) Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien
adalah letak bagian tubuh yang akan dioperasi, umur dan ukuran tubuh
pasien, tipe anesthesi yang digunakan, kemungkinan rasa sakit yang
dirasakan pasien.
c) Prinsip dalam pengaturan posisi pasien adalah atur posisi senyaman
mungkin bagi pasien, sedapat mungkin jaga privacy,amankan pasien di
atas meja operasi dengan sabuk pengaman, saraf, otot dan tulang
dilindungi dari terjadinya kerusakan, jaga pernapasan dan sirkulasi
vaskular tetap adekuat, hindari tekanan pada dada/ bagian tubuh tertentu,
untuk posisi litotomy naikkan dan turunkan kedua ekstremitas bawah
secara bersamaan untuk menjaga lutut supaya tidak terjadi dislikasi.
3) Pengkajian psikososial
a) Membersihkan dan menyiapkan kulit.
b) Penutupan daerah steril.
c) Mempertahankan surgical asepsis.
d) Menjaga suhu tubuh pasien.
e) Penutupan luka pembedahan.
f) Perawatan drainage.
g) Pemindahan pasien ke ruang pemulihan.
4) Pengkajian fisik
a) Tanda – tanda vital
b) Transfusi.
c) Cairan.
d) Pengeluaran urine (normal 1cc/kg BB/jam

Diagnosa Dan Intervensi


Intra Operasi :
DX 1 : Resiko kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan luka
akibat insisi.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan sirkulasi.
Kriteria hasil :
- Diharapkan keseimbangan cairan dan elektrolit tetap stabil antara
pemasukan dan pengeluaran.
- TTV dalam batas normal
- Tidak ada penambahan jumlah kassa
Intervensi :
1. Rawat perdarahan dengan baik untuk meminimalkan bleeding dengan
membantu operator menekan perdarahan dengan kassa dan coutter.
2. Melaporkan jumlah kassa basah darah yang telah digunakan kepada tim
anestesi
3. Kolaborasi dengan tim anastesi untuk memonitor urine meliputi warna
hemates sesuai indikasi
4. Kolaborasi dengan tim anastesi untuk observasi tanda-tanda vital
5. Kolaborasi dengan tim anastesi untuk mempertahankan pencatatan
komulatif, jumlah, tipe pemasukan dan pengeluaran cairan
DX 2 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi luka operasi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil :
- Diharapkan tanda- tanda infeksi tidak ada.
- Area Operasi dan Peralatan tetap dalam keadaan steril
Intervensi :
1. Kaji lokasi dan luas luka
2. Jaga tingkat kesterilan alat yang digunakan untuk operasi
3. Lakukan teknik handling instrument dengan benar
4. Setelah penutupan luka operasi selesai, lakukan pembersihan luka operasi
dengan kasa basah Ns 0,9% , keringkan dengan kasa kering tutup sufratul
dan kasa kering steril kemudian fiksasi dengan hepavix,
Fase Post Operatif
Keperawatan post operatif adalah periode akhir dari keperawatan perioperatif.
Selama periode ini proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan kondisi pasien
pada keadaan equlibrium fisiologis pasien, menghilangkan nyeri dan pencegahan
komplikasi. Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu pasien kembali
pada fungsi optimalnya dengan cepat, aman dan nyaman.
Upaya yang dapat dilakukan diarahkan untuk mengantisipasi dan mencegah
masalah yang kemungkinan mucul pada tahap ini. Pengkajian dan penanganan yang
cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi yang memperlama
perawatan di rumah sakit atau membahayakan diri pasien. Memperhatikan hal ini,
asuhan keperawatan postoperatif sama pentingnya dengan prosedur pembedahan itu
sendiri.
1. Faktor yang Berpengaruh Post operatif
a. Mempertahankan jalan nafas
Dengan mengatur posisi, memasang suction dan pemasangan mayo/gudel.
b. Mempertahankan ventilasi / oksigenasi
Ventilasi dan oksigenasi dapat dipertahankan dengan pemberian bantuan
nafas melalui ventilaot mekanik atau nasal kanul.
c. Mempertahankan sirkulasi darah
Mempertahankan sirkulasi darah dapat dilakukan dengan pemberian
caiaran plasma ekspander.
d. Observasi keadaan umum, observasi vomitus dan drainase
Keadaan umum dari pasien harus diobservasi untuk mengetahui keadaan
pasien, seperti kesadaran dan sebagainya. Vomitus atau muntahan
mungkin saja terjadi akibat penagaruh anastesi sehingga perlu dipantau
kondisi vomitusnya. Selain itu drainase sangat penting untuk dilakukan
obeservasi terkait dengan kondisi perdarahan yang dialami pasien.
e. Balance cairan
Harus diperhatikan untuk mengetahui input dan output caiaran klien.
Cairan harus balance untuk mencegah komplikasi lanjutan, seperti
dehidrasi akibat perdarahan atau justru kelebihan cairan yang justru
menjadi beban bagi jantung dan juga mungkin terkait dengan fungsi
eleminasi pasien.
f. Mempertahankan kenyamanan dan mencegah resiko injury
Pasien post anastesi biasanya akan mengalami kecemasan, disorientasi dan
beresiko besar untuk jatuh. Tempatkan pasien pada tempat tidur yang
nyaman dan pasang side railnya. Nyeri biasanya sangat dirasakan pasien,
diperlukan intervensi keperawatan yang tepat juga kolaborasi dengan medi
terkait dengan agen pemblok nyerinya.
2. Tindakan Post operatif
Ketika pasien sudah selasai dalam tahap intraoperatif, setelah itu pasien di
pindahkan keruang perawatan, maka hal – hal yang harus perawat lakukan,
yaitu:
a. Monitor tanda – tanda vital dan keadaan umum pasien, drainage,
tube/selang, dan komplikasi.
Begitu pasien tiba di bangsal langsung monitor kondisinya. Pemerikasaan
ini merupakan pemmeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal setelah
postoperatif.
b. Manajemen Luka
Amati kondisi luka operasi dan jahitannya, pastikan luka tidak mengalami
perdarahan abnormal. Observasi discharge untuk mencegah komplikasi
lebih lanjut. Manajemen luka meliputi perawatan luka sampai dengan
pengangkatan jahitan.
c. Mobilisasi dini
Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM, nafas dalam dan juga
batuk efektif yang penting untuk mengaktifkan kembali fungsi
neuromuskuler dan mengeluarkan sekret dan lendir.
d. Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien
kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang
diperlukan untuk memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala.
a. Discharge Planning
Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien
dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan
sehubungan dengan kondis/penyakitnya post operasi.
Ada 2 macam discharge planning :
 Untuk perawat : berisi point-point discahrge planing yang diberikan
kepada klien (sebagai dokumentasi)
 Untuk pasien : dengan bahasa yang bisa dimengerti pasien dan lebih
detail.
Diagnosa dan Intervensi
Post Operasi :
DX 1 : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek
anasthesi.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan pernafasan.
Kriteria hasil :
- Secret tidak menumpuk di jalan nafas dan tidak ditemukan tanda
cyanosis.
- Tidak ada tanda-tanda cyanosis
- Pola nafas teratur
Intervensi :
1. Kaji pola nafas klien.
2. Kaji perubahan tanda vital secara drastis.
3. Kaji adanya cyanosis.
4. Bantu bersihkan secret di jalan nafas.
5. Ciptakan lingkungan yang nyaman.

DX 2 :Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya


jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cidera pada
jaringan.
Tujuan : Nyeri dapat berkurang sampai dengan hilang.
Kriteria hasil :
- Klien tampak tenang.
- Skala nyeri tidak bertambah
- TTV dalam batas normal
Intervensi :
1. Kaji rasa nyeri yang dialami pasien
2. Lakukan pendekatan pada keluarga dan klien.
3. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri.
4. Jelaskan pada klien penyebab nyeri.
5. Observasi tanda-tanda vital.
6. Kolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian analgesik komulatif,
jumlah dan tipe pemasukan cairan.
7. Monitor status mental
8. Ajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Egol, K dkk. Femoral Neck Fractures; Handbook of Fractures, 3rdEd. Lippincott


Williams & Wilkins, 2002. Hal: 319-28.
Mansjoer, A.2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II.Media
Aesculapius:Jakarta

Price, Sylvina. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jilid 2.


Edisi 4. EGC:Jakarta.

Sjamsuhidajat & Wim De Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta EGC.
Solomon, L dkk. Fractures of the Femoral Neck; Apley’s System of Orthopaedic and
Fractures, 8thEd. Arnold, 2001. Hal: 847-52.2.

Anda mungkin juga menyukai