Anda di halaman 1dari 8

KONSEP TERJADINYA SPESIASI ALOPATRIK

Oleh :
Nama : Siska Noviana Dewi
NIM : B1A017018
Rombongan : A1
Kelompok :6
Asisten : Nugroho Dwi Septianto

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Spesies merupakan unit dasar dalam taksonomi. Proses pembentukan spesies


baru dalam evolusi disebut dengan peristiwa spesiasi (Campbell et al, 2003). Proses
pembentukan spesies tidak hanya dilihat dari perbedaan fenotip yang muncul saja,
melainkan juga dianalisis dari proses pemisahan genetik dalam suatu populasi (Stearn &
Hoekstra, 2003). Menurut konsep spesies biologis, spesiasi adalah proses dimana sering
terjadi hambatan aliran gen yang diistilahkan isolasi reproduktif. Mekanisme spesiasi
umumnya dibagi menjadi dua kelas utama: ekologi dan mutasi-urutan, dan perbedaan
ini paling relevan pada awal proses spesiasi. Spesiasi ekologis menggambarkan suatu
proses di mana evolusi hasil isolasi reproduksi dari adaptasi ke lingkungan yang
berbeda atau ceruk. Seleksi alam berbeda (atau mengganggu) dalam alel yang
menguntungkan dalam satu alel lingkungan atau ceruk tidak di tempat lain. Sebaliknya,
di bawah spesiasi mutasi-urutan evolusi isolasi reproduksi pada akhirnya terkait dengan
kemungkinan terjadinya dan fiksasi alel yang berbeda dalam populasi yang berbeda.
Seleksi alam juga mungkin terlibat, meskipun dalam kasus-kasus seperti itu seleksi
tidak berbeda di antara keduanya (Rundle & Rowe, 2018).
Proses spesiasi umumnya tidak dapat berlangsung secara instan, tetapi secara
inheren kontinu dan dinamia. Analisis keragaman genetik, struktur populasi, dan
hibridisasi sangat penting untuk penyelidikan sejarah evolusi, spesiasi, dan batas spesies
(Payton et al., 2019). Seleksi seksual mungkin merupakan salah satu kekuatan yang
paling kuat mendorong isolasi reproduksi dalam proses spesiasi hewan. Efek konflik
pada spesiasi tergantung pada jenis kelamin yang unggul dalam menentukan hasil yaitu
jika preferensi perempuan mendominasi sistem perkawinan, spesiasi lebih mungkin,
tetapi jika kompetisi pria akan teratasi preferensi perempuan, maka spesiasi akan lebih
kecil kemungkinannya (Nie & Kaneshiro, 2016).
Spesiasi alopatrik adalah spesiasi yang disebabkan oleh isolasi geografis.
Beberapa kasus model pemisahan alopatrik didukung oleh beberapa penelitian, sehingga
berbagai bentuk yang berbeda secara genetik terpisah dari satu sama lain dan memiliki
kerabat yang lebih dekat ditempat yang berbeda. Populasi yang berbeda yang secara
geografis terisolasi mengembangkan kompatibel genetik, murni oleh pergeseran genetik
atau efek pendiri, dengan mengadaptasi kehabitat yang berbeda, oleh seleksi seksual,
atau dengan fiksasi mutasi yang tidak kompatibel melalui adaptasi terhadap habitat yang
sama. Fiksasi mutasi adalah model yang paling mudah untuk menjelaskan spesiasi,
terutama jika populasi terisolasi yang terkena lingkungan selektif yang berbeda (Yann et
al., 2011).
B. Tujuan

Tujuan praktikum acara Konsep Terjadinya Spesiasi Alopatrik antara lain :


1. Praktikan dapat memahami konsep spesiasi.
2. Praktikan dapat memahami konsep spesiasi pada ikan.
3. Praktikan dapat menggunakan software aplikasi komputer yang mendukung
penelitian tentang konsep terjadinya spesiasi.
II.
III. TINJAUAN PUSTAKA

Spesies adalah sekelompok individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda


dari kelompok lain. Karakteristik tersebut bisa dilihat dari fisiologi, morfologi atau
biokimia (Indrawan et al, 2007). Ahli taksonomi, ahli ekologi dan ahli biologi evolusi
menginterpretasikan spesies secara berbeda dan tentu saja dalam kerangka kebutuhan
mereka dan alat yang mereka gunakan untuk identifikasi. Konsep spesies berbeda dari
definisi spesies, yang merupakan cara spesies dijelaskan. Konsep spesies adalah
gagasan dan kerangka kerja teoretis yang menjelaskan apa yang bisa menjadi satuan.
Gagasan ini harus universal untuk merangkul semua makhluk hidup. Konsep ini
menjelaskan apa yang para ahli anggap sebagai spesies sebagai unit keanekaragaman
hayati, makna pola perulangan yang diamati di alam, dan mengapa keberadaan mereka
(Rosselló-Móra & Amann, 2015).
Penyebab awal sosialisasi adalah isolasi geografi yang merupakan contoh dari
keragaman genetik. Spesiasi pada organisme disebabkan karena faktor ekologi dan
biografi diikuti oleh isolasi reproduksi (Sahara et al., 2015). Pola variasi ras geografi
dan variasi ras ekologi dalam spesies sangat beragam. Pola populasi lokal biasanya
polimorfik, sebagai akibat dari aliran gen dan keseimbangan seleksi, transek geografis,
ekologis, dan ada pergeseran frekuensi varian polimorfik secara bertahap. Situasi ini
bisa menjadi penyebab dari spesiasi varietas atau spesies. Komponen lingkungan biotik
dari setiap organisme individu sangat penting dalam beberapa lingkungan, faktor fisik
yang dominan dalam menentukan karakteristik dari komunitas biotik, tetapi dalam
banyak ekosistem organisme itu sendiri dan cara mereka berinteraksi itu sama-sama
penting (Mulyaningsih et al., 2017).
Menurut Widodo (2003), model-model spesiasi pada tingkat populasi yaitu
spesiasi alopatrik, yang terjadi karena variasi geografi. Spesies yang beranekaragam
secara geografis dari seluruh karakter dapat menghalangi pertukaran gen antara spesies
simpatrik. Populasi yang terpisah secara geografis dapat terisolasi oleh perbedaan
perilaku dibandingkan dengan populasi yang berdekatan. Populasi yang terisolasi
mungkin tidak dapat melakukan interbreeding jika mereka bertemu, karena bentuknya
sangat menyimpang (divergent) dan kemudian masuk ke dalam simpatrik tetapi tidak
terjadi interbreeding. Spesiasi alopatrik merupakan mekanisme isolasi yang terjadi
gradual. Contoh: Burung Acaulhiza pusilla tersebar luas di benua Australia dan
mempunyai suatu populasi yang sedikit berbeda yaitu A. ewingi. Spesiasi Simpatrik
meliputi spesiasi gradual dan spontan. Sebagian besar model spesiasi simpatrik masih
dalam kontroversi, kecuali pada model spesiasi spontan dan spesiasi poliploidi yang
terjadi pada tanaman. Jika bastar antara dua spesies diploid membentuk tetraploid akan
dapat memperbesar isolasi reproduktif dari tetua yang diploid. Keturunan triploid akibat
backcross mempunyai proporsi aneuploidi yang tinggi, karena gamet membawa cacat
bawaan. Pembatasan interbreeding diantara bentuk diploid dan tetraploid dapat muncul,
tetapi tidak pada poliploidi. Spesiasi Parapatrik, spesiasi ini merupakan isolasi
reproduksi berkembang dalam beberapa gen flow diantara populasi-populasi. Populasi
tersebut terdapat suatu alel yang berdampak pada terjadinya isolasi reproduktif pada
populasi tersebut.Sehingga spesies-spesies dalam populasi tersebut tidak dapat
melakukan perkawinan (pertukaran gen), contohnya adalah perkawinan non-acak dapat
meningkatkan tingkat dimorfisme dalam populasi, di mana bentuk morfologi yang
bervariasi dari spesies yang sama ditampilkan. Hasil spesiasi parapatrik adalah satu atau
lebih sub-populasi yang berbeda (dikenal sebagai ‘spesies adik’), yang memiliki
tumpang tindih kecil yang terus menerus dalam rentang biogeografi mereka dan secara
genotip dimorfik. Spesiasi peripatrik adalah bentuk spesiasi alopatrik yang terjadi ketika
populasi yang telah menjadi terisolasi memiliki sangat sedikit individu. Melalui proses
ini, penduduk mengalami hambatan genetik. Melalui perkawinan berulang, frekuensi
ini, sekali jarang, gen meningkat dalam populasi kecil. Contohnya adalah adanya ‘efek
pendiri’. Seiring waktu, karakteristik yang ditentukan oleh gen menjadi tetap dalam
populasi, yang mengarah ke spesies terisolasi yang secara evolusi berbeda dari populasi
utama.
MEGA atau Molecular Evolutionary Genetics Analysis merupakan sebuah
software yang digunakan dalam melakukan identifikasi hubungan kekerabatan baik
hewan maupun tumbuhan, dalam proses nya aplikasi ini hanya dapat mengenal dan
membaca urutan basa DNA, sehingga menghasilkan kemungkinan yang lebih akurat
dalam percobaannya. Perbandingan analisis data sekuens molekul sangat penting untuk
merekonstruksi sejarah evolusi spesies dan menyimpulkan sifat dan tingkat kekuatan
selektif untuk membentuk evolusi gen dan spesies. MEGA adalah alat bioinformatika
kuat yang dirancang untuk membantu para peneliti mengidentifikasi pola utama
keanekaragaman dan kompleksitas kehidupan di bumi, dan mengungkap misteri evolusi
manusia, kesehatan, dan kode penyaki dalam genom. Edisi MEGA 7, dikembangkan
oleh profesor Temple University Sudhir Kumar, Glen Stecher, dan profesor Universitas
Metropolitan Tokyo Koichiro Tamura, mewakili yang paling canggih, kuat, dan versi
lanjutan, dirancang untuk memperpanjang penggunaannya untuk selamanya set data
analisis DNA yang lebih kompleks dan besar. Peningkatan MEGA telah dilakukan
secara signifikan, yang sebelumnya diperlukan untuk mempercepat waktu dan memori
data-renyah penggunaan dengan prosesor 64 bit, dan ruang memori yang jauh lebih
besar untuk menangani gigabytes data dan dengan MEGA7 sekarang orang dapat
menganalisis jumlah urutan yang lebih besar dan memungkinkan orang di seluruh
dunia, termasuk negara-negara berkembang, menggunakan fundamental teknologi yang
dibutuhkan untuk mengatasi perkembangan ini database urutan. MEGA memiliki salah
satu basis pengguna terbesar, dan telah diunduh lebih dari 1,1 juta kali di 184 negara.
Peningkatan terbaru hanya akan meningkatkannya penggunaan dalam komunitas ilmiah,
MEGA dikutip lebih banyak lebih dari 10.000 publikasi setiap tahun, menjadikannya
salah satu yang paling banyak mengutip alat bioinformatika dalam pengajaran dan
penelitian untuk mereka mengungkap rahasia yang kompleks, evolusi 4 miliar tahun
sejarah kehidupan di bumi (Caspermeyer, 2016).
Software NTSYS menurut Rohfl, 1998 merupakan program yang
dibuat untuk melakukan analisis kekerabatan. Program ini dapat
digunakan untuk melihat Hubungan kekerabatan antara beberapa
sampel spesies dengan melihat muncul-tidaknya suatu
parameter/faktor fisik pada masing-masing sampel. Data binomial
digunakan dalam biologi molekuler pada RAPD dan juga AFLP. Ada-
tidaknya pita dalam masing-masing parameter bisa dikategorikan
sebagai data binomial, dimulai dengan memasukkan data jumlah
sampel dan data faktor fisik ke dalam metode numerik, melakukan
analisis similaritas/dissimilaritas, lalu melakukan pengelompokan data
untuk membuat dendogram.
Sistem ini menggunakan empat konsep dasar, yaitu :
1. memasukkan dan menyimpan data pada ntedit.exe tables,
2. membuat similaritas/dissimilaritas interval data untuk membuat
matriks,
3. membuat analisis cluster (kelompok) dengan SAHN (Sequential
Agglomerative Hierarchycal Nested Cluster Analysis), dan
4. membuat dendogram.
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum acara Konsep Terjadinya Spesiasi


Alopatrik adalah baki preparat, pinset, jangka sorong, sterofoam, kertas milimeter,
jarum pentul, dan kamera.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum acara Konsep Terjadinya Spesiasi
Alopatrik adalah beberapa spesimen ikan baceman dari beberapa tempat.

B. Metode

Metode yang dilakukan pada praktikum acara Konsep Terjadinya Spesiasi


Alopatrik adalah:
1. Praktikan diberi beberapa data karakter dari beberapa spesies.
2. Data karakter antar spesies dibandingkan. Perbedaan dan persamaan karakter
dihitung.
3. Pohon filogenetik dibuat dari jumlah perbedaan morfologi preparat yang dihitung
sebelumnya.
4. Hubungan kekerabatan antar preparat dianalisis lebih lanjut menggunakan software.
5. Hasil yang diperoleh dimasukkan ke dalam laporan praktikum.
DAFTAR REFERENSI

Campbell N. A., Reece J. B., dan Mitchell, L. G., 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.

Caspermeyer, J., 2016. MEGA Evolutionary Software Re-Engineered to Handle Today’s


Big Data Demands. Molecular Biology and Evolution, 33(7), pp. 1881–1887.

Indrawan, M., Richard, B., Premack., Jatna, S., 2007. Biologi Konservasi. Edisi Revisi.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mulyaningsih, T., Marsono, D., Sumardi, S., Yamada, I., 2017. Keragaman Infraspesifik
Gaharu Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke di Pulau Lombok Bagian Barat.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 14(1), pp. 57-67.

Nie, H., & Kaneshiro, K., 2016. Sexual selection and incipient speciation in Hawaiian
Drosophila. Science bulletin, 61(2), pp. 125-131.

Payton, A. C., Naranjo, A. A., Judd, W., Gitzendanner, M., Soltis, P. S., Soltis, D. E.,
2019. Population genetics, speciation, and hybridization in Dicerandra
(Lamiaceae), a North American Coastal Plain endemic, and implications for
conservation. Conservation Genetics, pp. 1-13.

Rohlf, F. J., 1998. User Guide of NTSYSpc Numerical Taxonomy and Multivariate
Analysis System. New York: Department of Ecology and Evolution State
University of New York.

Rosselló-Móra, R., & Amann, R., 2015. Past and future species definitions for Bacteria
and Archaea. Systematic and Applied Microbiology, 38(4), pp. 209-216.

Rundle, H. D. & Rowe, L., 2018. The contribution of sexual selection to ecological and
mutation‐order speciation. Evolution, 72(11), pp. 2571-2575.

Sahara, A., Prastowo, J., Widayanti, R., Nurcahyo, W., 2015. Kekerabatan Genetik
Caplak Rhiphicephalus (Boophilus) microplus Asal Indonesia Berdasarkan
Sekuen Internal Transcribed Spacer-2. Jurnal Veteriner, 16(3), pp. 310-319.

Stearns, S. C. & Hoekstra, R. F., 2003. Evolution an Introduction. New York: Oxford
University Press.

Widodo. 2003. Evolusi. Malang: UMM Press.

Yann S. G., Helena J, & Roger S.T., 2012. Synergy between Allopatry and Ecology in
Population Differentiation and Speciation.Hindawi Publishing Corporation,
International Journal of Ecology, pp. 1-10.