Anda di halaman 1dari 4

SURAT AL-MUJADALAH AYAT 11

1.1 Pembahasan Umum tentang Surat Al-Mujadalah Ayat 11


Surat al-mujadalah terdiri dari 22 ayat termasuk kedalam surat Madaniyah diturunkan
sesudah surat al-Munafikun. Surat ini dinamai “al-Mujadalah” (wanita yang mengajukan
gugatan). Karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang wanita. Dan dinamai juga
“al-Mujadalah” yang berarti pembantahan. 1
A. Munasabah Surat Al-Mujadalah Ayat 11
1. Hubungan dengan surat al-Hadiid (Sebelumnya)
Pada surat al-Hadid disebutkan beberapa Al-Asmaul Al-Husna. Diantaranya “al-
Bathin” dan “ Mengetahui Segala Sesuatu” sedang pada Surat al-Mujadalah disebutkan bahwa
Allah Swt mengetahui pembicaraan-pembicaraan yang dirahasiakan. Dan diakhir surat al-
Hadid disebutkan bahwa Allah Swt mempunyai karunia-Nya kepada wanita. Yaitu dengan
menghilangkan hal-hal yang merugikan pihak wanita pada hukum zhihar yang berlaku di
kalangan Bangsa Arab Jahiliyah pada zamanya. 2
2. Hubungan dengan surat al-Hasyr (Sesudahnya)
Pada akhir surat al-Mujadalah Allah Swt menyebutkan bahwa orang-orang yang
menentang Allah Swt dan Rasul-Nya akan mendapat kebinasaan. Sedang dalam surat al-Hasyr
Allah Swt menyebutkan bahwa orang-orang yang menentang Allah Swt dan Rasul-nya akan
mendapat azab yang sangat dahsyat.3
Menurut A. Soenarjo, pokok pokok isi surat al-Mujadalah adalah sebagai berikut:
a. Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bla ia menarik kembali
perkataanya, larangan menjadikan musuh Allah swt menjadi teman.
b. Menjadi adab sopan santun dalam suatu majlis pertemuan, adab sopan santun terhadap
Rasulullah Saw.

1.2 Tafsir Surat Al-Mujadalah Ayat 11


ُ‫ُش ُُزَواْ يَ ۡرفَعِ ٱ َُّهَّلل‬
ُ ‫ُش ُُزَواْ فَٱن‬
ُ ‫ٱُهَّللُ لَ ُك ۡم ََوإِذَا قِي َل ٱن‬
َّ ِ‫سِح‬ َ ‫س ُحواْ فِي ۡٱل َم َٰ َج ِل ِس فَ ۡٱف‬
َ ‫س ُحواْ يَ ۡف‬ َّ َ‫َٰيََٰٓأَيُّ َها ٱلَّذِينَ َءا َمنُ َٰٓواْ إِذَا قِي َل لَ ُك ۡم تَف‬
َّ ‫ٱلَّذِينَ َءا َمنُواْ ِمن ُك ۡم ََوٱلَّذِينَ أَُوتُواْ ۡٱل ِع ۡل َم دَ َر َٰ َج ٖۚت ََو‬
‫ير‬ٞ ‫ٱُهَّللُ ِب َما ت َعۡ َملُونَ َخ ِب‬
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan
apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
1
A. Soenarjo, dkk, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Thoha Putra, 1971), hlm 855.
2
Ibid., hlm. 907.
3
Ibid, hal. 913
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah
Ayat: 11).4

a. Mufradat QS. Al-Mujadalah Ayat 11 (Penjelasan Kata)


 ( ) lapangkanlah, dan hendaknya sebagian kamu melapangkan kepada sebagian
yang lain.
 ( ) Allah Swt melapangkan rahmat dan rezekinya untukmu.
 ( ) Bangkitlah untuk memberi kelapangan kepada orang-orang yang datang.
 ( ) Bangkitlah kamu dan jangan berlambat-lambat.
 ( ) Allah Swt meninggikan orang-orang yang beriman.
 ( ) dan Allah Swt meninggikan orang-orang yang berilmu diantara mereka
khususnya derajat-derajat dalam kemuliaan dan ketinggian kedudukan.5
b. Asbabun Nujul QS Al-Mujadalah ayat 11 .
Menurut Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari muqatil bahwa ayat ini turun pada hari
Jum’at. Disat pahlawan-pahlawan badar datang ketempat pertemuan yang penuh sesak. Orang-
orang tidak memberi tempat kepada yang baru datang itu. Sehingga terpaksa mereka berdiri.
Rasulullah Saw menyuruh berdiri kepada pribumi, dan tamu-tamu itu (pahlawan badar) disuruh
duduk ditempat mereka. Orang-orang yang disuruh pindah tempat itu merasa tersinggung
perasaanya. Dan juga ayat ini turun sebagai perintah kepada kaum mukmin untuk mentaati
perintah Rasulullah Saw dan memberikan kesempatan duduk kepada sesama mukmin. 6
c. Tafsir QS Al-Mujadalah ayat 11 dan isi kandungan ayat.
Dalam pembahasan ini, penulis akan mengemukakan beberapa pendapat ahli tafsir
(mufassir) sebagai berikut:
1. Menurut ibnu katsir
Allah Swt berfirman guna mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman dan
memerintahkan kepada mereka agar satu sama lain bersikap baik di majlis.
‫ٱُهَّللُ لَ ُك ۡم‬
َّ ِ‫سِح‬ َ ‫َٰ َٰٓيَأَيُّ َها ٱلَّذِينَ َءا َمنُ َٰٓواْ ِإذَا قِي َل لَ ُك ۡم تَفَ َّس ُحواْ فِي ۡٱل َم َٰ َج ِل ِس فَ ۡٱف‬
َ ‫س ُحواْ يَ ۡف‬
Karena siapa yang menanam kebaikan maka ia juga akan memperoleh kebaikan.
Karena ayat ini turun berkenaan dengan majelis-majelis zikir, yaitu apabila mereka
mempersempit tempat duduk di samping Rasulullah Saw, kemudian Allah Swt memerintahkan
kepada mereka untuk melapangkan tempat duduk satu sama lain.7

4
Al-Qur’an Terjemah hlm. 543
5
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, terjemahan Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: Thoha Putra, tt), hlm 22-23.
6
Qomarudin Shaleh, dkk, Asbabun Nuzul, (Bandung: Diponogoro, 1986), hlm. 502.
7
M. Nasib Ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm 629.
Telah dikukuhkan pula bahwa para sahabat Nabi tidak pernah berdiri untuk
menyambut kedatangan beliau, sebab mereka tahu bahwa beliau sangat tidak menyukai hal ini.
َّ ‫ٱُهَّللُ ٱلَّذِينَ َءا َمنُواْ ِمن ُك ۡم ََوٱلَّذِينَ أَُوتُواْ ۡٱل ِع ۡل َم دَ َر َٰ َج ٖۚت ََو‬
‫ير‬ٞ ‫ٱُهَّللُ بِ َما تَعۡ َملُونَ َخ ِب‬ َّ ِ‫ُش ُُزَواْ يَ ۡرفَع‬
ُ ‫ُش ُُزَواْ فَٱن‬
ُ ‫ََوإِذَا قِي َل ٱن‬
Allah Swt akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan, yaitu janganlah kamu mengira bila kamu memberikan kelapangan kepada saudaramu
yang datang atau bila kamu memberikan kelapangan kepada saudaramu yang datang atau bila
ia diperintahkan untuk keluar. Lalu dia keluar, akan mengurangi haknya. Bahkan itu merupakan
ketinggian dan perolehan martabat disisi Allah Swt. Sedang Allah Swt tidk akan menyia-
nyiakan hal itu. Bahkan dia akan memberikan balasan kepadanya di dunia dan di akhirat, karena
orang yang merendahkan diri akan mempopulerkan namanya. Dan Allah maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan, yaitu, maha mengetahui orang yang berhak untuk mendapatkan hal itu
dan orang yang tidak berhak untuk mendapatkanya.8
2. Dalam tafsir al-misbah
Ayat ini menerangkan tentang perintah untuk memberi kelapangan dalam segala hal
kepada orang lain. Ayat ini juga tidak menyebut secara tegas bahwa Allah Swt akan
meninggikan derajat orang yang berilmu. Tetapi menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-
derajat yang lebuh tinggi dari sekedar beriman, tidak disebutkan kata meninggikan itu sebagai
isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperanan besar dalam ketinggian
derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor di luar ilmu itu.9
Yang di maksud dengan ( ) yang diberi pengetahuan adalah
mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas
membagi kaum beriman jadi dua, yang pertama sekadar beriman dan beramal saleh. Yang
kedua beriman, beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kedua kelompok ini menjadi
lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan
pengajarannya kepada pihak lain baik secara lisan atau tulisan maupun keteladanan.10
Ilmu yang dimaksud oleh ayat di atas bukan hanya ilmu agama, tetapi ilmu apapun
yang bermanfaat. Dan dalam pandangan al-Qur’an ilmu tidak hanya ilmu agama, tetapi juga
yang menunjukan bahwa ilmu itu haruslah menghasilkan rasa takut dan kagum pada Allah Swt,

8
Ibid., hlm. 632.
9
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan Dan Kesersian Al-Qur’an, (Jakarta : Lentera Hati,
2002), hlm. 79.
10
Ibid.,
yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta
memanfaatkannya untuk kepentingan mahkluk.11

11
Ibid., hlm. 80