Anda di halaman 1dari 75

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Prolaps organ panggul (POP) merupakan salah satu jenis disfungsi

dasar panggul yang sudah umum diketahui. POP sebenarnya dapat disamakan

dengan suatu hernia, dimana terjadi penurunan dari organ panggul atau organ

genetalia akibat kurang berfungsinya sistem penyokong organ tersebut.

Turunnya organ panggul ini dikarenakan berbagai interaksi antara lain faktor

tulang panggul, jaringan ikat penyokong organ panggul, serta otot-otot dasar

panggul (Kim et al, 2007).

Kondisi ini meningkat seiring dengan peningkatan usia. Studi yang

dilakukan pada beberapa pusat kesehatan yang melibatkan 1.006 perempuan

usia 18-83 tahun, menunjukkan bahwa hanya 24 % perempuan yang tidak

mengalami prolaps. Studi lain juga menemukan bahwa angka kejadian

prolaps berkisar antara 43-76% pada pencatatan yang dilakukan di beberapa

rumah sakit (Nguyen et al, 2000).

Untuk di Indonesia sendiri belum ada studi prevalen untuk mengetahui

prevalensi dari prolaps organ panggul. POP ini tentu saja sangat

mempengaruhi kualitas hidup seseorang seiring bertambahnya usia harapan

hidup. Berbagai dampak dapat timbul antara lain dampak sosial dan dampak

ekonomi. Dampak sosial yaitu kehilangan pekerjaan, bahkan ada yang

diceraikan oleh suaminya. Sedangkan dampak ekonominya adalah


2

pengeluaran biaya untuk mengurangi keluhan dan meningkatkan kualitas

hidup.Hampir 73% dari pasien POP akan berlanjut ke inkontinensia urine dan

31% inkontinensia alvi. Dengan keluhan yang dialami tidak jarang

perempuan memilih tindakan pembedahan demi mengurangi keluhan

tersebut. Ini merupakan tantangan mengingat manajemen pembedahan

seringkali memberikan hasil yang kurang optimal dimana tingkat

kegagalannya telah diperkirakan mencapai 30%. Hal ini menunjukkan bahwa

tidaklah mudah memperbaiki POP. Penelitian atau literatur mengenai

hubungan POP dengan kerusakan dari otot dan jaringan ikat penyokong

banyak tersedia. Studi mengenai faktor risiko yang dihubungkan dengan

kerusakan otot dan jaringan ikat penyokong sehingga menimbulkan prolaps

juga sudah dipelajari. Berbanding terbalik dengan hal tersebut, hubungan

antara POP dengan tulang panggul masih sangat terbatas (Nguyen et al.,

2000). Tulang panggul dalam hal bentuk serta ukurannya diduga memegang

peranan penting dalam hubungannya dengan kejadian POP. Sebagaimana

diketahui bahwa panggul memiliki empat bentuk, yaitu ginekoid, android,

anthropoid, dan platipeloid, yang mana bentuk ginekoidlah yang paling

menguntungkan untuk persalinan melalui vagina. Sebuah studi yang

dilakukan menyebutkan bahwa hampir 50% perempuan kulit putih dan 80%

perempuan suku Cina memiliki panggul ginekoid. Setelah diteliti didapatkan

pula kejadian POP yang berbeda pada kedua kelompok perempuan tersebut

dimana perempuan suku Cina mengalami kejadian POP yang lebih kecil

dibandingkan perempuan kulit putih lainnya. Para ahli akhirnya berfikir


3

mungkin saja perbedaan dimensi panggul secara spesifik berpengaruh

terhadap POP. Dari sinilah awal mula pemikiran bahwa bentuk dan ukuran

panggul juga terlibat dalam kejadian POP. Namun hal ini masih menjadi

perdebatan karena setelah diteliti lebih lanjut didapatkan hasil yang beraneka

ragam (Sze et al, 1999).

Masalah psiko-sosial yang mereka hadapi diantaranya adalah stres, isolasi

emosional, ditinggalkan oleh suami atau perceraian, ejekan dan rasa malu,

risiko kekerasan dan diskriminasi serta ketidakmampuan untuk bekerja

karena mobilitas terbatas. Meskipun prolapsus uteri jarang menyebabkan

mortalitas atau morbiditas berat, tetapi dapat mempengaruhi aktivitas

sehari-hari dan kualitas hidup wanita.

Wanita dengan segala usia dapat mengalami prolapsus uteri, namun

prolapsus lebih sering terjadi pada wanita dengan usia lebih tua. Seiring

dengan meningkatnya usia harapan hidup, khususnya wanita di Indonesia

yang mencapai usia 74,88 tahun pada tahun 2014 maka jumlah wanita

usia lanjut akan meningkat sehingga dikhawatirkan kasus prolapsus uteri

juga akan semakin bertambah. Untuk alasan tersebut, maka diperlukan

upaya-upaya untuk mencegah terjadinya prolapsus uteri dan untuk

meminimalisir dampak yang terjadi akibat prolapsus uteri. Salah satu

upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memprediksi atau deteksi

dini faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya prolapsus

uteri.Penulis ingin mengetahui, melakukan tindakan pencegahan dalam hal

pemilihan cara persalinan sehingga kejadian POP dapat diturunkan. Studi ini
4

menggunakan teknik x-ray untuk mengukur ukuran panggul, dimana x-ray

mudah dilakukan, biaya lebih murah dengan hasil yang akurat mendekati ct-

scan. Dengan alat ini, dilakukan pengukuran pada panggul khususnya pintu

atas panggul atau diameter antero-posterior (DAP), diameter transversal

(DTR), pintu tengah panggul atau diameter interspinosum (DIS), pintu bawah

panggul atau diameter intertuberum (DTB) dalam hubungannya dengan

kejadian POP.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah pada

pembahasan karya ilmiah ini adalah: “Bagaimana penerapan Asuhan

Keperawatan Perioperatif dan Penatalaksanaan Anestesi Regional pada Ny.E

yang akan menjalani operasi Histerektomi atas indikasi Prolapsus Uteri di

Instalasi Bedah Sentral RSU dr.Soekardjo Tasikmalaya”.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Memperoleh gambaran dari pengalaman nyata dalam pelaksanaan asuhan

keperawatan perioperatif pada klien dengan prolapsus uteri.

2. Tujuan Khusus

a. Memperoleh pengalaman nyata dalam pengkajian “Asuhan

Keperawatan Perioperatif dan penatalaksanaan anestesi regional pada

Ny. E yang akan menjalani operasi histerektomi atas indikasi

prolapsus uteri di Instalasi Bedah Sentral RSU dr. Soekardjo

Tasikmalaya”.
5

b. Memperoleh pengalaman nyata dalam perumusan diagnosa “Asuhan

Keperawatan Perioperatif dan penatalaksanaan anestesi regional pada

Ny. E yang akan menjalani operasi histerektomi atas indikasi

prolapsus uteri di Instalasi Bedah Sentral RSU dr. Soekardjo

Tasikmalaya”.

c. Memperoleh pengalaman nyata dalam menetapkan perencanaan

“Asuhan Keperawatan Perioperatif dan penatalaksanaan anestesi

regional pada Ny. E yang akan menjalani operasi histerektomi atas

indikasi prolapsus uteri di Instalasi Bedah Sentral RSU dr. Soekardjo

Tasikmalaya”.

d. Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan evaluasi “Asuhan

Keperawatan Perioperatif dan penatalaksanaan anestesi regional pada

Ny. E yang akan menjalani operasi histerektomi atas indikasi

prolapsus uteri di Instalasi Bedah Sentral RSU dr. Soekardjo

Tasikmalaya”.

D. Metode Penulisan

Dalam penulisan laporan ini, penulis menggunakan metode:

1. Deskriptif

a. Studi kasus, yang meliputi observasi, partisipasi dengan cara

melakukan pengamatan secara langsung dan tidak langsung kepada

klien dengan cara wawancara dengan keluarga, melihat catatan medis,

melihat catatan keperawatan dan informasi dari rekan satu profesi

maupun dari tim lain.


6

b. Studi dokumentasi yaitu menggunakan format pengkajian untuk

melakukan pemeriksaan.

c. Studi literatur yaitu dengan membaca dan mempelajari buku

kepustakaan yang berkaitan dengan prolapsus uteri untuk

mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan isi laporan

ini.

E. Ruang Lingkup

Pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan perioperatif dan

penatalaksanaan anestesi dilakukan pada tanggal 10 Maret 2017 di ruang

Instalasi Bedah Sentral RSU dr.Soekardjo Tasikmalaya.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi Prolapsus Uteri
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena

kelemahan otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya.


7

Atau turunnya uterus melalui dasar panggul atau hiatus

genitalis (Wiknjosastro, 2008).


Prinsip terjadinya prolaps uteri adalah terjadinya defek pada dasar pelvik

yang disebabkan oleh proses melahirkan akibat regangan dan robekan

fasia endopelvik, muskulus levator serta perineal body. Neuropati perineal

dan parsial pudenda juga terlibat dalam proses persalinan. Sehingga,

wanita multipara sangat rentan terhadap faktor resiko terjadi nya prolaps

uteri (Prawirohardjo, 2005).


2. Anatomi dan Fisiologi Uterus
a. Pengertian Uterus (rahim)

http://www.worldpress/anatomi.uterus.com
Gambar 2.1 Anatomi uterus
Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir, terletak di

dalam pelvis (panggul), antara rektum di belakang dan kandung

kencing di depan. Berfungsi sebagai tempat calon bayi dibesarkan.

Bentuknya seperti buah alpukat dengan berat normal 30-50 gram.

Pada saat tidak hamil, besar rahim kurang lebih sebesar telur ayam

kampung.
Diding rahim terdiri dari 3 lapisan:
1) Peritoneum
Yang meliputi dinding uterus bagian luar, dan merupakan

penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan

urat saraf. Bagian ini meliputi tuba dan mencapai dinding

abdomen (perut).
8

2) Myometrium
Merupakan lapisan yang paling tebal, terdiri dari otot polos yang

disusun sedemikian rupa hingga dapat mendorong isinya keluar

saat proses persalinan. Diantara serabut-serabut otot terdapat

pembuluh darah, pembuluh limfe dan urat syaraf.


3) Endometrium
Merupakan lapisan terdalam dari uterus yang akan menebal untuk

mempersiapkan jika terjadi pembuahan. Tebalnya sususnannya

dan faalnya berubah secara siklis karena dipengaruhi hormon-

hormon ovarium. Dalam kehamilan endometrium berubah menjadi

decidua.
b. Fungsi uterus
Fungsi uterus yaitu untuk menahan ovum yang telah di buahi selama

perkembangan. Sebutir ovum, sesudah keluar dari ovarium, diantarkan

melalui tuba uterina ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi

di dalam tuba uterina). Endometrium disiapkan untuk penerimaan

ovum yang telah dibuahi itu dan ovum itu sekarang tertanam di

dalamnya. Sewaktu hamil, yang secara normal berlangsung selama

kira-kira 40 minggu, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis,

tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis masuk ke dalam

rongga abdomen pada masa pertumbuhan fetus.


Pada waktu saatnya tiba dan mulas tanda melahirkan mulai, uterus

berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi dan plasenta keluar

kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang dikenal

sebagai involusi (Pearce, 2009).

3. Etiologi
9

Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan

penyulit, merupakan penyebab prolapsus genitalis, dan memperburuk

prolaps yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan pada janin pada

pembukaan belum lengkap, prasat crede yang berlebihan untuk

mengeluarkan plasenta, dan sebagainya. Jadi, tidaklah mengherankan bila

prolapsus genitalis terjadi segera sesudah partus atau dalam masa nifas.

Asites dan tumor-tumor di daerah pelvis pada nullipara, faktor

penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan

penunjang uterus.

Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.

Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap,

laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penataksanaan pengeluaran

plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada

menopause, hormon esterogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar

panggul menjadi atrofi dan melemah (Wiknjosastro, 2008).

4. Klasifikasi prolapsus uteri

Mengenai istilah dan klasifikasi prolapus uteri terdapat perbedaan

pendapat antara ahli ginekologi. Friedman dan Little (1961)

mengemukakan beberapa macam klasifikasi yang dikenal yaitu:

a. Prolapsus uteri tingkat I, dimana servik uteri turun sampai introitus

vaginae; proplasus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar

dari introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus keluar

dari vagina, prolapsus ini juga dinamakan prosidensia uteri.


10

b. Prolapsus uteri tingakat I, serviks masih berada didalam vagina;

prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus, sedang pada

prosidensia uteri, uterus seluruhnya keluar dari vagina.

c. Prolapsus uteri tingkat I, serviks mencapai introitus vaginae; prolapsus

uteri tingkat II, uterus keluar dari introitus kurang dari ½ bagian ;

prlapsus uteri tingkat III, uterus keluar dari introitus lebih besar dari ½

bagian.

d. Prolapsus uteri tingkat I, serviks mendekati prosessus spinosus;

prolapsus uteri tingkat II, serviks terdapat antara prosessus spinosus

dan introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat III; serviks keluar dari

introitus.

e. Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi D, ditambah dengan prolapsus

uteri tingkat IV (prosidensia uteri).

Dianjurkan klasifikasi berikut:

Desensus uteri, uterus turun, tetapi serviks masih didalam vagina.

Prolapsus uteri tingkat I, uterus turun dengan serviks uteri turun paling

rendah sampai introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat II, uterus

untuk sebagian keluar dari vagina; prolapsus uteri tingkat III, atau

prosidensia uteri, uterus keluar seluruhnya dari vagina, disertai dengan

inversio vagina.

5. Patofisiologi

Sebagaimana telah diterangkan prolapsus uteri terdapat dalam beberapa

tingkat, dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis. Terutama
11

akibat persalinan, khususnya persalinan per vaginam yang susah, dan

terdapatnya kelemahan-kelemahan ligamen-ligamen yang tergolong dalam

fasia endopelvik, dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul. Juga dalam

keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan

memudahkan penurunan uterus, terutama apabila tonus otot-otot

mengurang seperti pada penderita dalam menopause.

Serviks uteri terletak diluar vagina, akan tergeser oleh pakaian wanita

tersebut, dan lambat laun menimbulkan ulkus, yang dinamakan ulkus

dekubitus. Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya

trauma obstetrik, ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga

menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang

dinamakan sistokel. Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja, dapat

menjadi besar karena persalinan berikutnya, yang kurang lancar, atau yang

diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel. Urethrokel

harus dibedakan dari divertikulum uretra. Pada divertikulum keadaan

uretra dan kandung kencing normal, hanya dibelakang uretra ada lubang,

yang membuat kantong antara uretra dan vagina (Wiknjosastro, 2005).

Kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetrik

atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rektum kedepan dan

menyebabkan dinding belakang vagina menonjol ke lumen vagina yang

dinamakan rektokel. Enterokel adalah hernia dari kavum dauglasi. Dinding

vagina atas bagian belakang turun dan menonjol kedepan. Kantong hernia

ini dapat berisi usus atau omentum.


12

6. Pathway Prolapsus Uteri

Persalinan pervagina Kelemahan ligament


fasia endopelviks, otot-
otot dan fasia dasar
panggul

Tonus otot Tekanan intra


Prolapsus kurang / abdomen
uteri menurun meningkat

Benjolan Ruptur pembuluh Tindakan Indikasi


pada vagina darah operasi Op

Menekan Pendarahan Kerusakan Kurang


ujung saraf jaringan pengetahuan
nyeri
Anemia
Porte de
entre Resiko Op
Nyeri
Resti kekurangan
volume cairan
Resti
Ansietas
infeksi

Suplai O2 Energi
Metabolisme
menurun menurun
menurun
13

Kelemahan

Intoleransi
aktivitas

Bagan 2.1 Pathway prolapsus uteri

7. Manifestasi Klinik

Gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadang kala penderita

yang satu dengan prolaps yang cukup berat tidak mempunyai keluhan

apapun, sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai

banyak keluhan.

Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:

a. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di

genitalia eksterna

b. Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika

penderita berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang.

c. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:

1) Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari,

kemudian bila lebih berat juga pada malam hari;

2) Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan

seluruhnya;
14

3) Stress incontinence, yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk

mengejan. Kadang- kadang dapat terjadi retensio uriena pada

sistokel yang besar sekali.

d. Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:

1) Obstipasi karena faeses berkumpul dalam rongga rektokel;

2) Baru dapat defeksi, setelah diadakan tekanan pada rektokel dari

vagina.

e. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:

1) Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu

berjalan dan bekerja. Gesekan porio uteri oleh celana menimbulkan

lecet sampai luka dan dekubitus pada porsio uteri;

2) Leukorea karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks, dan

karena infeksi serta luka pada porsio uteri.

f. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan

rasa penuh di vagina.

8. Penatalaksanaan

Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.

Cara ini dilakukan pada prolapsus uteri ringan tanpa keluhan, atau

penderita masih ingin mendapatkan anak lagi, atau penderita menolak

untuk dioperasi, atau kondisinya tidak mengizinkan untuk dioperasi.

a. Latihan-latihan otot dasar panggul


15

Latihan ini sangat berguna pada prolapsus uteri ringan, terutama yang

terjadi pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya

untuk menguatkan otot-otot dasar panggul dan otot-otot yang

mempengaruhi miksi. Latihan ini dilakukan selama beberapa bulan.

b. Stimulasi otot-otot dengan alat listrik

Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan dengan alat

listrik, elektrodenya dapat dipasang dalam pessarium yang dimasukkan

ke dalam vagina.

c. Pengobatan dengan pessarium

Pengobatan dengan pessarium sebenarnya hanya bersifat paliatif,

yakni menahan uterus ditempatnya selama dipakai. Oleh karena itu,

jika pessarium diangkat, timbul prolapsus lagi. Prinsip pemakaian

pessarium ialah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan pada dinding

vagina bagian atas, sehingga bagian dari vagina tersebut beserta uterus

tidak dapat turun dan melewati vagina bagian bawah. Pessarium yang

paling baik untuk prolapsus genitalia adalah pessarium cincin, terbuat

dari plastik. Jika dasar panggul terlalu lemah dapat digunkan

pessarium Napier.

Pessarium ini terdiri atas suatu gagang (steam) dengan ujung atas

suatu mangkok (cup) dengan beberapa lubang, dan ujung bawah 4 tali.

Mangkok ditempatkan dibawah serviks dengan tali-tali dihubungkan

dengan sabuk pinggang untuk memberi sokongan kepada pessarium.


16

Pessarium dapat dipakai selama beberapa tahun, asal saja penderita

diawasi secara teratur. Periksa ulang sebaiknya dilakukan 2-3 bulan

sekali. Vagina diperiksa dengan inspekulo untuk menentukan ada

tidaknya perlukaan, pessarium dibersihkan dan kemudian dipasang

kembali. Kontraindikasi terhadap pemasangan pessarium adalah

adanya radang pelvis akut atau sub akut, dan karsinoma.

d. Pengobatan Operatif

Prolapsus uteri biasanya disertai prolapsus vagina. Maka, jika

dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri, prolapsus vagina perlu

ditangani pula. Ada kemungkinan terdapat prolapsus vagina yang

membutuhkan pembedahan, padahal tidak ada prolapsus uteri, atau

prolapsus uteri yang ada belum perlu dioperasi. Indikasi untuk

melakukan operasi pada prolapsus vagina ialah adanya keluhan dan

tergantung beberapa faktor, seperti umur penderita, keinginan

mendapat anak atau mempertahankan uterus dan tingkat prolapsus.

e. Macam- macam operasi:

1) Ventrofiksasi

Pada wanita yang masih tergolong masih muda dan masih

menginginkan anak, dilakukan operasi untuk membuat uterus

ventrofiksasi dengan cara memendekkan ligamentum rotundum

atau mengikatkan ligamentum rotundum ke dinding perut atau

dengan cara operasi purandare.

2) Operasi Manchester
17

Dilakukan amputasi serviks uteri dan penjahitan ligamentum

kardinale yang telah dipotong, di muka serviks, dilakukan pula

kolporafia anterior dan kolpoperineoplastik. Amputasi serviks

dilakukan untuk memperpendek serviks yang memanjang

(elongation kolli). Tindakan ini dapat menyebabkan infertilitas,

abortus, partus prematurus, dan distosia servikalis pada

persalinan. Bagian yang penting dari operasi Manchester ialah

penjahitan ligamentum kardinale di depan serviks karena dengan

tindakan ini ligamentum kardinale diperpendek, sehingga uterus

akan terletak dalam posisi anteversifleksi dan turunnya uterus

dapat dicegah.

3) Histerektomi vaginal

Operasi ini tepat untuk dilakukan pada prolapsus uteri dalam

tingkat lanjut, dan pada wanita yang telah menopause. Setalah

uterus diangkat, puncak vagina digantungkan pada ligamentum

rotundum kanan kiri, atas pada ligamentum infundibulo

pelvikum, kemudian operasi akan dilanjutkan dengan kolporafi

anterior dan kolpoperineorafi untuk mencegah prolaps vagina di

kemudian hari.

4) Kolpokleisis (operasi Neugebauer-Le Fort)

Pada waktu obat-obat serta pemberian anestesi dan perawatan

pra/pasca operasi belum baik untk wanita tua yang seksual tidak

aktif lagi dapat dilakukan operasi sedarhana dengan menjahitkan


18

dinding vagina depan dengan dinding belakang, sehingga lumen

vagina tertutup dan uterus terletak diatas vagina. Akan tetapi,

operasi ini tidak memperbaiki sistokel dan rektokelnya sehingga

dapat menimbulkan inkontinensia urine. Obstipasi serta keluhan

prolaps lainnya juga tidak hilang.

9. Komplikasi

Komplikasi yang dapat menyertai prolapsus uteri ialah:

a. Keratinisasi mukosa vagina dan porsio uteri

Prosidensia uteri disertai degan keluarnya dinding vagina (inversio);

karena itu mukosa vagina dan serivks uteri menjadi tebal serta

berkerut, dan berwarna keputih-putihan.

b. Dekubitus

Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser dengan

paha dan pakaian dalam, hal itu dapat menyebabkan luka dan radang,

dan lambat laun timbul ulkus dekubitus. Dalam keadaan demikian,

perlu dipikirkan kemungkinan karsinoma, lebih-lebih pada penderita

berusia lanjut. Pemeriksaan sitologi/biopsi perlu dilakukan untuk

mendapat kepastian akan adanya karsinoma.

c. Hipertrofi serviks dan elangasio kolli


19

Jika serviks uteri turun dalam vagina sedangkan jaringan penahan dan

penyokong uterus masih kuat, maka karena tarikan ke bawah di

bagian uterus yang turun serta pembendungan pembuluh darah,

serviks uteri mengalami hipertrofi dan menjadi panjang dengan

periksa lihat dan periksa raba. Pada elangasio kolli serviks uteri pada

periksa raba lebih panjang dari biasa.

d. Gangguan miksi dan stress incontinence

Pada sistokel berat, miksi kadang-kadang terhalang, sehingga kandung

kencing tidak dapat dikosongkan sepenuhnya. Turunnya uterus bisa

juga menyempitkan ureter, sehingga bisa menyebabkan hidroureter

dan hidronefrosis. Adanya sistokel dapat pula mengubah bentuk sudut

antara kandung kencing dan uretra yang dapat menimbulkan stress

incontinence.

e. Infeksi jalan kencing

Adanya retensi air kencing mudah menimbulkan infeksi. Sistitis yang

terjadi dapat meluas ke atas dan dapat menyebabkan pielitis dan

pielonefritis. Akhirnya, hal itu dapat menyebabkan gagal ginjal.

f. Kemandulan

Karena serviks uteri turun sampai dekat pada introitus vaginae atau

sama sekali keluar dari vagina, tidak mudah terjadi kehamilan.

g. Kesulitan pada waktu partus


20

Jika wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka pada waktu persalinan

dapat timbul kesulitan di kala pembukaan, sehingga kemajuan

persalinan terhalang.

h. Hemoroid

Feses yang terkumpul dalam rektokel memudahkan adanya obstipasi

dan timbul hemoroid.

i. Inkarserasi usus halus

Usus halus yang masuk ke dalam enterokel dapat terjepit dengan

kemungkinan tidak dapat direposisi lagi. Dalam hal ini perlu

dilakukan laparotomi untuk membebaskan usus yang terjepit

itu (Wiknjosastro, 2008).

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian data
a. Biodata
Prolapsus uteri lebih sering ditemukan pada wanita yang telah

melahirkan, wanita tua dan wanita yang bekerja berat

(Wiknjosastro, 2007).
b. Keluhan utama
Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.

Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup

berat tidak mempunyai keluhan apapun, sebaliknya penderita lain

dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Keluhan-

keluhan yang hampir sering dijumpai menurut (Wiknjosastro,

2007). Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau

menonjol, rasa sakit di pinggul dan pinggang, biasanya jika

penderita berbaring, keluhan menghilang dan menjadi kurang


21

c. Riwayat kebidanan
1) Haid
Awal menstruasi (menarche) pada usia 11 tahun atau lebih

muda. Siklus haid tidak teratur, nyeri haid luar biasa, nyeri

panggul setelah haid atau senggama (Wiknjosastro, 2010 : 346).

2) Riwayat kehamilan
Faktor resiko yang menyebabkan prolaps uteri jumlah kelahiran

spontan yang banyak, berat badan berlebih, riwayat operasi pada

area tersebut, batuk dalam jangka waktu lama saat hamil.


3) Riwayat persalinan
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus

dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan

memperburuk prolaps yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah

tarikan janin pada pembukaan belum lengkap. Bila prolapsus

uteri dijumpai pada nulipara, faktor penyebabnya adalah

kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus

(Wiknjosastro, 2007).
Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan

menopouse. Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum

pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pad kala II,

penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot dasar

panggul yang tidak baik. Pada menopouse, hormon estrogen

telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi atrofi

dan melemah (Wiknjosastro, 2007).


22

d. Pola kebiasaan sehari-hari


1) Eliminasi
a) Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:
(1) Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang

hari, kemudian lebih berat pada malam hari


(2) Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat

dikosongkan seluruhnya
(3) Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing

jika batuk dan mengejan. Kadang-kadang dapat terjadi

retensio urine pada sistokel yang besar sekali,


b) Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi
1) Obstipasi karena feses berkumpul dalam rongga

rektokel
2) Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada

rektokel vagina
2) Aktivitas dan istirahat
Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita saat

berjalan dan beraktivitas. Gesekan portio uteri oleh celana dapat

menimbulkan lecet hingga dekubitus pada porsio.

e. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum lemah

2) Tanda-tanda vital

TD: 110/70-130/90 mmHg

N: 60-90x/mnt

S: 36,5-37,5OC

RR: 16-24x/mnt

3) Wajah
23

Tampak pucat pertanda adanya anemia, keluar keringat dingin

bila terjadi syok. Bila perdarahan konjungtiva tampak anemis.

Pada klien yang disertai rasa nyeri klien tampak meringis

(Manuaba, 1998 : 410).

4) Mulut

Mukosa bibir dan mulut tampak pucat, bau kelon pada mulut

jika terjadi shock hipovolemik hebat.

5) Dada dan payudara

Gerakan nafas cepat karena adanya usaha untuk memenuhi

kebutuhan O2 akibat kadar O2 dalam darah yang tinggi,

keadaan jantung tidak abnormal.

6) Abdomen

Adanya benjolan pada perut bagian bawah (Sastrawinata,

1981:158). Teraba adanya massa pada perut bagian bawah

konsisten keras/kenyal, tidak teratur, gerakan, tidak sakit, tetapi

kadang-kadang ditemui nyeri (Sastrawinata, 1981 : 160).

Pada pemeriksaan bimanual akan teraba benjolan pada perut,

bagian bawah, terletak di garis tengah maupun agak kesamping

dan sering kali teraba benjolan-benjolan dan kadang-kadang

terasa sakit (Wiknjosastro, 2006 : 344). Pada pemeriksaan

sondage didapatkan cavum uteri besar dan rata (Sastrawinata,

1981 : 161).

7) Genetalia
24

Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke puncak vagina dan

pada kasus yang sangat berat dapat terjadi protrusi melalui

orifisium vagina dan berada di luar vagina.

8) Anus

Akan timbul haemoroid, luka dan varices pecah karena keadaan

obstipasi akibat penekanan mioma pada rectum.

9) Ekstremitas

Oedem pada tungkai bawah oleh karena adanya tekanan pada

vena cava inferior (Sastrawinata, 1981 : 159).

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan eliminasi urine

Tujuan: setelah dilakukan tindakan kerepawatan diharapkan nyeri

berkurang

Kriteria hasil:

1) Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap

2) Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya

Intervensi:

Intervensi Rasional
1. Observasi tanda-tanda vital 1. Untuk mengetahui

2. Observasi keluhan nyeri, keadaan umum

lokasi, jenis dan intensitas 2. Untuk mengetahui nyeri


25

nyeri dan sebagai rencana

3. Jelaskan penyebab rasa sakit tindak lanjut

dan cara menguranginya 3. Agar klien dapat

4. Beri posisi senyaan mungkin mengentrol nyerinya

5. Ajarkan tehnik-tehnik 4. Untuk memperlancar

relaksasi nafas dalam sirkulasi tubuh dan

6. Berikan obat analgetik sesuai mengurangi nyeri

dengan instruksi dokter 5. Untuk mengurangi nyeri

7. Ciptakan lingkungan yang 6. Untuk mengurangi sensasi

tenang rasa nyeri

7. Agar klien dapat

beristirahat dan

mengurangi rasa nyeri


Tabel 2.1 Intervensi diagnosa nyeri

b. Cemas berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan cemas

berkurang

Kriteria hasil:

1) Klien tidak cemas

2) Klien tampak tenang

Intervensi

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat kecemasan 1. Untuk mengetahui skala
26

pasien kecemasan klien

2. Jelaskan prosedur persiapan 2. Agar cemas klien berkurang

operasi seperti 3. Agar klien tidak merasa

pengambilan darah, waktu cemas

puasa, jam operasi 4. agar klien tidak bertanya-

3. Jelaskan pada pasien tanya dan cemas tentang

tentang apa yang akan kondisinya saat ini

dilakukan di kamar operasi

dengan terlebih dahulu

dilakukan pembiusan

4. Jelaskan tentang keadaan

pasien setelah operasi


Table 2.2 Intervensi diagnosa cemas

c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan puasa

operasi

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien

tidak terjadi kekurangan cairan

Kriteria hasi:

1) Turgor kulit klien elastis

2) Bibir lembab

Intervensi
27

Intervensi Rasional
1. Observasi tanda-tanda vital 1. Untuk mengetahui keadaan

umum klien

2. Lakukan pemasanang infus 2. Untuk memenuhi kebutuhan

cairan pengganti puasa

3. Untuk mencegah terjadinya

3. Berikan cairan kristaloid kekurangan cairan dan

sesuai dengan kebutuhan mencegah terjadinya syok

hipovolemik
Tabel 2.3 Intervensi diagnosa resti kekurangan volume cairan

3. Implementasi

Setelah menyusun perencanaan, tindakan, langkah selanjutnya adalah

implementasi atau pelaksanaan tindakan. Di dalam tahap ini perlu

mendapatkan perhatian di dalam tahap implementasi (Depkes, 1995 :

11) adalah:

a. Intervensi yang dilakukan harus berdasarkan prosedur tetap yang

lazim dilakukan.

b. Pengamatan yang telah dilakukan secara cermat dan tepat sesuai

dengan kriteria dan evaluasi yang telah ditetapkan.

c. Pengendalian kepada klien/pasien sehingga secara berangsur-

angsur mencapai kondisi yang diharapkan

4. Evaluasi

Perawat melakukan evaluasi sesuai yang telah ditetapkan di dalam

rencana. Semakin dekat hasil tindakan yang dilakukan dengan asuhan


28

yang telah ditetapkan di dalam kriteria, maka tindakan akan mendekati

keberhasilan yang diharapkan evaluasi dengan pendekatan SOAP

menurut Depkes (1994 : 7-10) yaitu:

S Data subyektif :

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien

melalui anamnesa.
O Data obyektif :

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik, hasil

laboratorium dan tes diagnosa lain yang dirumuskan dalam data focus

untuk mendukung assessment.


A Assesment :

Menggambarkan interpretasi data subyektif dan obyektif dalam suatu

identifikasi;

Diagnosa/masalah

Antisipasi diagnosa lain/masalah potensial


P Planning :

Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan evaluasi

berdasarkan assessment.

Table 2.4 Evaluasi sumatif

C. Konsep Anestesi Secara Umum


1. Pengertian Anestesi Umum
Anestesi umum (general anesthesia) disebut pula dengan nama narkose

umum (NU). Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara

sentral serta hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi yang


29

sempurna menghasilkan ketidaksadaran, analgesik, relaxsasi otot tanpa

menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien.


2. Pengertian Anestesi Regional
Anestesi regional adalah anestesi lokal dengan menyuntikan obat

anestesi disekitar syaraf sehingga area yang di syarafi teranestesi.

Anestesi regional dibagi menjadi epidural, spinal dan kombinasi spinal

epidural, spinal anestesi adalah suntikan obat anestesi kedalam ruang

subarachnoid dan ekstradural epidural di lakukan suntikan kedalam

ekstradural ( Brunner & suddarth, 2002 ).


3. Macam-Macam Anestesi Regional
a. Anestesi Spinal
Anestesi spinal adalah salah satu metode anestesi yang diinduksi

dengan menyuntikkan sejumlah kecil obat anestesi lokal ke dalam

cairan cerebro-spinal (CSF). Anestesi spinal/subarachnoid disebut

juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal.

Anestesi spinal dihasilkan bila kita menyuntikkan obat analgesik

lokal ke dalam ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2-L3

atau L3-L4 atau L4-L5.


Spinal anestesi atau Subarachnoid Blok (SAB) adalah salah satu

teknik anestesi regional yang dilakukan dengan cara menyuntikkan

obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid untuk

mendapatkan analgesi setinggi dermatom tertentu dan relaksasi otot

rangka (Gwinnutt, 2011).


b. Anestesi Epidural
Anestesi epidural adalah suatu metode anestesi lokal kedalam ruang

epidural. Blok saraf terjadi pada akar nervus spinalis dan melintasi
30

ruang epidural. Efek anestesi yang dihasilkan lebih lambat dari

anestesi spinal dan terbentuk secara segmental.


c. Anestesi Kaudal
Anestesi kaudal adalah suatu metode anestesi lokal yang dimasukan

ke dalam kanal ekor, sebagian kanal tulang belakang. Anestesi

kaudal digunakan untuk memberikan anestesi dan analgesia di

bawah pusar.

4. Anatomi Tulang Punggung

a. Tulang punggung (columna vertebralis). Terdiri dari:

1) 7 vertebra servikal

2) 12 vertebra thorakal

3) 5 vertebra lumbal

4) 5 vertebra sacral ( menyatu pada dewasa )

5) 4 vertebra kogsigeal ( menyatu pada dewasa )

b. Medula spinalis diperadarahi oleh spinalis anterior dan

spinalis posteror

Tulang belakang biasanya bentuk-bentuk ganda C, yang cembung

anterior di daerah leher dan lumbal. Unsur ligamen memberikan

dukungan struktural dan bersama-sama dengan otot pendukung

membantu menjaga bentuk yang unik. Secara ventral, corpus

vertebra dan disk intervertebralis terhubung dan didukung oleh

ligamen longitudinal anterior dan posterior. Dorsal, ligamentum

flavum, ligamen interspinous, dan ligamentum supraspinata

memberikan tambahan stabilitas. Dengan menggunakan teknik


31

median, jarum melewati ketiga dorsal ligamen dan melalui ruang

oval antara tulang lamina dan proses spinosus vertebra yang

berdekatan (Morgan et.al 2006) .Untuk mencapai cairan cerebro

spinal, maka jarum suntik akan menembus: kulit, subkutis, ligament

supraspinosum, ligament interspinosum, ligament flavum, ruang

epidural, durameter, ruang subarachnoid (Morgan et.al 2006).

5. Indikasi Spinal Anestesi (Yuswana, 2005)

a. Operasi ektrimitas bawah, meliputi jaringan lemak, pembuluh darah

dan tulang

b. Operasi daerah perineum termasuk anal, rectum bawah dan

dindingnya atau pembedahan saluran kemih

c. Operasi abdomen bagian bawah dan dindingnya atau operasi

peritoneal

d. Operasi obstetrik vaginal deliveri dan section caesaria.

6. Kontra indikasi Spinal Anestesi (Latief, 2001)

a. Absolut

1) Pasien menolak

2) Infeksi tempat suntikan

3) Hipovolemik berat, syok

4) Gangguan pembekuan darah, mendapat terapi antikoagulan

5) Tekanan intracranial yang meninggi\

6) Hipotensi, blok simpatik menghilangkan mekanisme

kompensasi
32

7) Fasilitas resusitasi minimal atau tidak memadai

8) Relatif (latief, 2001)

9) Infeksi sistemik (sepsis atau bakterimia)

10) Kelainan neurologis

11) Kelainan psikis

12) Pembedahan dengan waktu lama

13) Penyakit jantung

14) Nyeri punggung

15) Anak-anak karena kurang kooperatif dan takut rasa baal

7. Persiapan Spinal Anestesi

Pada dasarnya persiapan anestesi spinal seperti persiapan anestesi

umum, daerah sekitar tusukan diteliti apakah akan menimbulkan

kesulitan, misalnya kelainan anatomis tulang punggung atau

pasien gemuk sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus.

( Latief, 2001).

Selain itu perlu di perhatikan hal-hal dibawah ini:

a. Izin dari pasien (Informed consent)

b. Pemeriksaan fisik

Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung.

c. Pemeriksaan Laboratorium anjuran HB, HT, PT (Protombin

Time) dan PTT (Partial Thromboplastine Time)

d. Obat-obat Lokal Anesthesi


33

Salah satu faktor yang mempengaruhi spinal anestesi blok adalah

barisitas (Barik Grafity) yaitu rasio densitas obat spinal anestesi

yang dibandingkan dengan densitas cairan spinal pada suhu

370C. Barisitas penting diketahui karena menentukan penyebaran

obat anestesi lokal dan ketinggian blok karena grafitasi bumi akan

menyebabkan cairan hiperbarik akan cendrung ke bawah. Densitas

dapat diartikan sebagai berat dalam gram dari 1 ml cairan (gr/ml)

pada suhu tertentu. Densitas berbanding terbalik dengan suhu

(Gwinnutt, 2011).

8. Obat Anestesi Regional

a. Obat-obat lokal anestesi berdasarkan barisitas dan densitas dapat di

golongkan menjadi tiga golongan yaitu:

1) Hiperbarik

Merupakan sediaan obat lokal anestesi dengan berat jenis obat

lebih besar dari pada berat jenis cairan serebrospinal, sehingga

dapat terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gaya

gravitasi. Agar obat anestesi lokal benar–benar hiperbarik pada

semua pasien maka baritas paling rendah harus 1,0015 gr/ml

pada suhu 37C. Contoh: Bupivakain 0,5% (Gwinnutt, 2011).

2) Hipobarik

Merupakan sediaan obat lokal anestesi dengan berat jenis obat

lebih rendah dari berat jenis cairan serebrospinal. Densitas

cairan serebrospinal pada suhu 370 C adalah 1,003 gr/ml. Perlu


34

diketahui variasi normal cairan serebrospinal sehingga obat

yang sedikit hipobarik belum tentu menjadi hipobarik bagi

pasien yang lainnya. contoh: tetrakain, dibukain. (Gwinnutt,

2011).

3) Isobarik

Secara definisi obat anestesi lokal dikatakan isobarik bila

densitasnya sama dengan densitas cairan serebrospinalis pada

suhu 370C. Tetapi karena terdapat variasi densitas cairan

serebrospinal, maka obat akan menjadi isobarik untuk

semua pasien jika densitasnya berada pada rentang standar

deviasi 0,999-1,001 gr/ml. contoh: levobupikain 0,5% (Viscomi

2004).

b. Obat-obat anestesi lokal/regional

Obat anestetik lokal yang digunakan adalah prokain, tetrakain,

lidokain, atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik local

mempengaruhi aliran obat dan perluasan daerah yang teranestesi.

Pada anestesi spinal, jika berat jenis obat lebih besar dari berat jenis

cairan serebrospinal (Hiperbarik), akan terjadi perpindahan obat ke

dasar akibat gaya gravitasi. Jika lebih kecil (Hipobarik), obat akan

berpindah dari area peenyuntikan ke atas. Bila sama (Isobarik), obat

akan berada di tingkat yang sama di tempat penyuntikan. Pada suhu

37˚ C. Cairan serebrospinal memiliki berat jenis 1,003-1,008.


35

Obat Berat jenis


Prokain
1,5% dalam 1,0052
1,0203
akuades.
2,5% dalam

D5W.
Lidocain
2%. 1,0066
5% dalam 1,0333

dextrose 7,5%.
Tetracain
0,5% dalam 1,0203

D5W.
Bupivacain
0,5% dalam 1,0278

dextrose 8,25. 1,0058


0,5% dalam

akuades.
CSS. 1,003-1,008
Table 2.5 Obat-obat anestesi lokal

c. Obat Anestesi Lokal yang sering digunakan

Anestetik Berat jenis Sifat Dosis

lokal
Lidocain
a. 2% plain. 1.006 Isobarik 20-100 mg
36

(2-5 ml).
b. 5% dalam 1.033 Hiperbarik 20-50 mg

dextrose (1-2 ml).

7,5%.
Bupivacain
a. 0,5% 1.005 Isobarik 5-20 mg

dalam air. 1.027 Hiperbarik (1-4 ml).


b. 0,5%
5-15 mg
dalam
(1-3 ml).
dextrose

8,25%.
Tabel 2.6 Obat-obat anestesi lokal yang sering digunakan

d. Keuntungan dan kerugian spinal anestesi

Keuntungan penggunaan anestesi regional adalah murah, sederhana,

dan penggunaan alat minim, non eksplosif karena tidak

menggunakan obat-obatan yang mudah terbakar, pasien sadar saat

pembedahan, reaksi stres pada daerah pembedahan kurang bahkan

tidak ada, perdarahan relatif sedikit, setelah pembedahan pasien

lebih segar atau tenang dibandingkan anestesi umum. Kerugian dari

penggunaan teknik ini adalah waktu yang dibutuhkan untuk induksi

dan waktu pemulihan lebih lama, adanya resiko kurang efektif

block saraf sehingga pasien mungkin membutuhkan suntikan ulang

atau anestesi umum, selalu ada kemungkinan komplikasi neurologi

dan sirkulasi sehingga menimbulkan ketidakstabilan hemodinamik,

dan pasien mendengar berbagai bunyi kegiatan operasi dalam

ruangan operasi (Morgan et.al 2006).


37

e. Komplikasi spinal anestesi

Komplikasi anestesi spinal adalah hipotensi, hipoksia, kesulitan

bicara, batuk kering yang persisten, mual muntah, nyeri kepala

setelah operasi, retansi urine dan kerusakan saraf permanen (Bunner

dan Suddart, 2002 ; Kristanto 1999).

Komplikasi pasca anestesi:

Komplikasi anestesi adalah penyulit yang terjadi pada periode

perioperatif dapat dicetuskan oleh tindakan anestesi sendiri dan atau

kondisi pasien. Penyulit dapat ditimbulkan belakangan setelah

pembedahan. Komplikasi anestesi dapat berakibat dengan kematian

atau cacat menetap jika todak terdeteksi dan ditolong segera dengan

tepat. Kompliaksi kadang-kadang datangnya tidak diduga

kendatipun anestesi sudah dilaksanakan dengan baik. Keberhasilan

dalam mengatasi komplikasi anestesi tergantung dari deteksi gejala

dini dan kecepatan dilakukan tindakan koreksi untuk mencegah

keadaan yang lebih buruk (Thalib, 1999).

9. Persiapan alat anestesi spinal ( Latief, 2001)

a. Peralatan monitor

1) Monitor

2) Tensi meter

3) Nadi, oksimetri denyut (pulse oximeter)

4) EKG

b. Peralatan anestesi regional


38

1) Jarum spinal (Spinocan)

2) Handscoon

3) Spuit 3 cc

4) Kassa steril

5) Betadine + alkohol

6) Obat anestesi lokal

7) Duck bolong

c. Prosedur spinal anestesi

Anestesi spinal dan epidural dapat dilakukan jika peralatan monitor

yang sesuai dan pada tempat dimana peralatan untuk manajemen

jalan nafas dan resusitasi telah tersedia. Sebelum memosisikan

pasien, seluruh peralatan untuk blok spinal harus siap untuk

digunakan, sebagai contoh, anestesi lokal telah dicampur dan siap

digunakan, jarum dalam keadaan terbka, cairan preloading sudah

disiapkan. Persiapan alat akan meminimalisir waktu yang

dibutuhkan untuk anestesi blok dan kemudian meningkatkan

kenyamanan pasien (Bernards, 2006).

Adapun prosedur dari anestesi spinal adalah sebagai berikut

(Morgan, 2006):

1) Inspeksi dan palpasi daerah lumbal yang akan ditusuk

(dilakukan ketika kita visite pre-operatif), sebab bila ada

infeksi atau terdapat tanda kemungkinan adanya kesulitan


39

dalam penusukan, maka pasien tidak perlu dipersiapkan untuk

spinal anestesi.

2) Posisi pasien:

a) Posisi Lateral. Pada umumnya kepala diberi bantal setebal

7,5-10cm, lutut dan paha fleksi mendekati perut, kepala ke

arah dada.

b) Posisi duduk. Dengan posisi ini lebih mudah melihat

columna vertebralis, tetapi pada pasien-pasien yang telah

mendapat premedikasi mungkin akan pusing dan

diperlukan seorang asisten untuk memegang pasien supaya

tidak jatuh. Posisi ini digunakan terutama bila

diinginkan sadle block.

c) Posisi Prone. Jarang dilakukan, hanya digunakan bila

dokter bedah menginginkan posisi Jack Knife atau prone.

d) Kulit dipersiapkan dengan larutan antiseptik seperti

betadine, alkohol, kemudian kulit ditutupi dengan “doek”

bolong steril.

3) Cara penusukan

Pakailah jarum yang kecil (no. 25, 27 atau 29). Makin besar

nomor jarum, semakin kecil diameter jarum tersebut, sehingga

untuk mengurangi komplikasi sakit kepala (PDPH =

post duran punctureheadache), dianjurkan dipakai jarum kecil.

Penarikan stylet dari jarum spinal akan menyebabkan


40

keluarnya likuor bila ujung jarum ada di ruangan

subarachnoid. Bila likuor keruh, likuor harus diperiksa dan

spinal analgesi dibatalkan. Bila keluar darah, tarik jarum

beberapa mili meter sampai yang keluar adalah likuor yang

jernih. Bila masih merah, masukkan lagi stylet-nya, lalu

ditunggu 1 menit, bila jernih, masukkan obat anestesi lokal,

tetapi bila masih merah, pindahkan tempat tusukan. Darah

yang mewarnai likuor harus dikeluarkan sebelum menyuntik

obat anestesi lokal karena dapat menimbulkan reaksi benda

asing (Meningismus).

4) Teknik Spinal Anestesi

a) Teknik Median (metode midline)

Tulang belakang dipalpasi dan posisi tubuh pasien diatur

agar tegak lurus dengan lantai. Ini untuk memastikan

jarumnya dimasukkan secara paralel dengan lantai dan

akan tetap pada posisi garis tengah walaupun penusukan

lebih dalam (Gambar 3). Processus spinosus vertebrae di

lokasi yang akan digunakan dipalpasi, dan akan menjadi

tempat memasukkan jarum. Setelah mempersiapkan dan

menganestesi kulit seperti di atas, jarum dimasukkan ke

garis tengah. Mengingat bahwa arah processus vertebra

mengarah ke bawah, maka setelah jarum masuk langsung

diarahkan perlahan ke arah cephalad. Jaringan sub kutan


41

akan memberikan sedikit tahanan terhadap jarum. Setelah

dimasukkan lebih dalam, jarum akan memasuki ligamen

supraspinal dan interspinal, yang akan terasa meningkat

kepadatan jaringannya. Jarum juga terasa lebih kuat

tertanam. Jika terasa jarum memnyentuh tulang, berarti

jarum mengenai bagian bawah processus spinosus. Kontak

dengan tulang pada tusukan yang lebih dalam

menunjukkan bahwa jarum pada posisi garis tengah dan

menyentuh processus spinosus atas atau berada di posisi

lateral dari garis tengah dan mengenai lamina. Dalam kasus

seperti ini jarum harus diarahkan kembali. Saat jarum

menembus ligamentum flavum, akan terasa tahanan yang

meningkat. Pada titik inilah prosedur anestesi spinal dan

epidural dibedakan. Pada anestesi epidural, hilangnya

tahanan tiba-tiba menandakan jarum menembus

ligamentum flavum dan memasuki ruang epidural. Untuk

anestesi spinal, jarum dimasukkan lagi hingga menembus

membran dura-subarachnoid dan ditandai dengan adanya

aliran LCS. (Morganet.al 2006)

b) Teknik Paramedian

Penusukan kulit untuk teknik paramedian dilakukan 2 cm

lateral ke prosesus spinosus superior dari tingkat yang

ditentukan. Karena teknik lateral ini sebagian besar


42

menembus ligamen interspinous dan otot paraspinous,

jarum akan menghadapi perlawanan kecil pada awalnya

dan mungkin tidak tampak berada di jaringan kuat. Jarum

diarahkan dan lanjutan pada 10-25 ° sudut ke arah garis

tengah. Identifikasi ligamentum flavum dan masuk ke

dalam ruang epidural sering kali lebih halus dibanding

dengan teknik median. Jika tulang dijumpai pada

kedalaman yang dangkal dengan teknik paramedian, jarum

kemungkinan bersentuhan dengan bagian medial lamina

yang lebih rendah dan harus diarahkan terutama ke atas

dan sedikit lebih lateral. Di sisi lain, jika tulang yang

ditemukanlebih dalam, jarum biasanya kontak dengan

bagian lateral lamina yang lebih rendah dan harus

diarahkan hanya sedikit ke atas, lebih ke arah garis tengah

(Morgan et.al 2006).

10. Persiapan Pasien

a. Anamnesis

Anamnesis merupakan tindakan awal yaitu tanya jawab antara

pasien dan keluarga dengan dokter spesialis anestesi atau perawat

anestesi. Pada tahap anamnesis hal-hal yang perlu ditanyakan adalah:

1) Riwayat kesehatan pasien


43

Untuk menentukan jenis tindakan anestesi dan obat-obat

anestesi yang akan diberikan kepada pasien ketika dilakukan

operasi serta dapat menentukan ASA.

2) Riwayat penyakit penyerta


Berkaitan dengan penggunaan obat anestesi dan resiko intra

operasi. Untuk kasus tibia salah satu penyebabnya adalah

diabetes melitus , sehingga perlu diketahui sebelum dilakukan

tindakan anestesi.
3) Riwayat alergi, mual muntah, nyeri otot, sesak nafas
4) Riwayat tentang apakah pasien pernah mengalami anestesi atau

tindakan operasi sebelumnya


5) Kebiasaan merokok
Sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelum operasi untuk eliminasi

nikotin yang mempengaruhi sistem kardio sirkulasi dan dapat

meningkatkan saliva pada jalan nafas.Sedangkan dihentikan 1-2

minggu untuk mengurangi produksi sputum.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan pada tulang belakang apabila ada kelainan seperti

lordosis, kifosis, dll. Pemeriksaan pada punggung bila ada jejas dan

infeksi tempat suntikan, memiliki penyakit jantung, dan nyeri

punggung. Riwayat alergi obat anestesi lokal.

c. Pemeriksaan Laboratorium

Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan

dugaan penyakit yang walaupun pada pasien sehat untuk bedah

minor, misalnya pemeriksaan darah kecil (Hb, leukosit, masa


44

perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien

diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto toraks.

d. Klasifikasi Status Fisik

Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai status fisik pasien

yang akab dilakukan tindakan anestesi mengikuti standar yang

berasal dari the american society of anesthesiologists (ASA).

ASA I : Pasien normal sehat.

ASA II : Pasien dengan kelainan sistemik ringan dan tidak

gangguan fungsional.
ASA III : Pasien dengan kelainan sistemik sedang-berat
dengan beberapa gangguan fungsi.
ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang
mengancam hidup dan inkapasitansi

fungsional.
ASA V : Pasien yang tidak diharapkan hidup dalam 24 jam
dengan atau tanpa tindakan operasi.
ASA VI : Pasien mati batang otak.
E : Prosedur emergency, status fisik diikuti dengan E,
contoh ASA IIE.

e. Persiapan puasa

Pada pasien dewasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam, bayi 3-4 jam

makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi

anestesia. Minuman bening, air putih, teh manis sampai 3 jam

sebelum induksi dan keperluan minum obat air putih dalam jumlah

terbatas boleh 1 jam sebelum induksi. Persiapan puasa ini bertujuan

untuk mengurangi regurgitasi isi lambung, kotoran selama anestesi.

f. Premedikasi
45

Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi

anesthesia dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan, dan

bangun dari anestesi diantaranya:

1) Meredakan kecemasan dan ketakutan.


2) Memperlancar induksi anesthesia.
3) Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus.
4) Meminimalkan jumlah obat anestetik.
5) Mengurangi mual-muntah pasca bedah.
6) Menciptakan amnesia.
7) Mengurangi isi cairan lambung.
8) Mengurangi reflex yang membahayakan.
Pada pasien yang akan dilakukan operasi histerektomi sebelum

operasi biasanya mengalami kecemasan berhubungan dengan

tindakan operasi yang akan dilakukan. Untuk itu pemberian

premedikasi menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi kecemasan

dengan diazepam peroral 10-20 mg sebelum induksi anestesi dan

untuk mengurangi mual muntah pasca bedah diberikan ondansentron

2-4 mg intravena.
11. Dasar Terapi Cairan dan Tranfusi
a. Definisi Cairan Tubuh
Air (H2O) merupakan komponen utama yang paling banyak

terdapat di dalam tubuh manusia. Sekitar 60 % dari total berat

badan orang dewasa terdiri dari air. Namun bergantung kepada

kandungan lemak dan otot yang terdapat di dalam tubuh, nilai

persentase ini dapat bervariasi antara 50-70% dari total berat badan

dewasa. Oleh karena itu maka tubuh yang terlatih dan terbiasa

berolahraga seperti tubuh seorang atlet biasanya akan mengandung

lebih banyak air jika di bandingkan tubuh nonatlet. (Harijanto,

Eddy. 2009).
46

Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel

bermuatan listrik yang di sebut ion jika berada dalam larutan.

Cairan dan elektrolit intravena (IV) dan di distribusi ke saluran

bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya

distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam

saluran bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling

bergantung satu dengan yang lainnya, jika salah satu tergantung

maka akan berpengaruh pada yang lainnya.


Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu:
1) Cairan intraseluler (CIS) = 40% dari BB total
Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang

dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraseluler, sama

kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70kg). Sebaliknya,

hanya ½ dari cairan tubuh bayi adalah cairan intraseluler.


2) Cairan ekstraseluler (CES) = 20% dari BB total
Adalah cairan di luar sel. Ukuran relative dari CES menurun

dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira ½ dari

cairan tbuh terkandung didalam CES. Setelah 1 tahun, volume

relative dari CES menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume

total. Ini hamper sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria

dewasa (70kg).

Cairan Intraseluller
40 %

Cairan Tubuh
60 % Membran Sel

Cairan Intertisial Plasma Darah


Cairan Ekstraseluller
15% 20 % 5%
47

Bagan 2.2 Cairan didalam tubuh

b. Fungsi Cairan Tubuh

Dalam proses metabolism yang tejadi didalam tubuh, air

mempunyai 2 fungsi utama yaitu sebagai pembawa zat-zat nutrisi

seperti karbohidrat, vitamin dan mineral serta juga akan berfungsi

sebagai pembawa oksigen ke dalam sel-sel tubuh. Selain itu, air di

dalam tubuh juga akan berfungsi untuk mengeluarkan produk

samping hasil metabolism seperti karbon dioksida (CO2) dan juga

senyawa nitra. Selain berperan dalam proses metabolism, air yang

terdapat di dalam tubuh juga akan memiliki berbagai fungsi penting

antara lain sebagai pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata,

mulut dan hidung, pelumas dalam cairan sendi O2 Sports Science

Brief tubuh, katalisator reaksi biologic sel, pelindung organ dan

jaringan tubuh serta juga akan membantu dalam menjaga tekanan

darah dan konsentrasi zat terlarut. Selain itu agar fungsi-fungsi

tubuh dapat berjalan dengan normal, air di dalam tubuh juga akan

berfungsi sebagai pengatur panas untuk menjaga agar suhu tubuh

tetap berada pada kondisi ideal yaitu ± 37o C.

c. Sistem Tubuh yang Berperan


48

Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh di atur

oleh ginjal, kulit, paru, dan gastrointestinal.

1) Ginjal

Ginjal adalah organ yang memiliki peran cukup besar dalam

mengatur kebutuhan cairan dan elektrolit. Fungsi ginjal, yaitu

sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah,

pengatur keseimbangan asam-basa darah. Proses pegaturan

kebutuhan keseimbangan air ini di awali oleh kemampuan

bagian ginjal, seperti glomerulus dalam menyaring cairan. Rata

rata setiap satu liter darah menggandung 500cc plasma yang

mengalir melalui glomerulus, 16% di saring keluar, cairan yang

tersaring kemudian mengalir melalui tubuli renalis yang sel-sel

nya menyerap semua bahan yang di butuhkan. Jumlah urine

yang di produksi ginjal dapat di pengaruhi oleh ADH dan

aldosteron dengan rata-rata 0,5-1ml/kg/bb/jam.

2) Kulit

Bagian penting pengaturan cairan yang terkait proses

pengaturan panas. Proses ini di atur oleh pusat pengaturan

panas yang di syarafi oleh vasomotorik dengan kemampuan

mengendalikan arterior kutan dengan cara vasodilatasi dan

vasokontriksi proses pelepasan dengan cara proses penguapan.


49

Jumlah keringet yang keluar tegantung pada banyaknya darah

yang mengalir melalui pembuluh darah dalam kulit ataupun

dengan cara konduksi (pengalihan panas ke benda yang di

sentuh) dan konveksi (pengaliran udara panas ke permukaan

yang lebih dingin) keringet merupkan sekresi aktif dari kelenjer

di bawah pengendalian safar simpatis.

3) Paru-paru

Berperan dalam mengeluarkan cairan dengan menghasilkan

insensible water loss 400ml/hari. Proses pengeluaran cairan

terkait dengan respon akibat perubahan upaya kemampuan

bernafas.

4) Gastrointerstinal
Organ saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan

cairan melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Dalam

kondisi normal, cairan yang hilang dalam sistem ini sekitar

100-200ml/hari.
Pengaturan keseimbangan cairan dapat menilai sistim endokrin

seperti system hormonal, aldosteron, prostaglandin,

glukokortikoid dan makanisme rasa haus.


5) Anti Diuretik Hormone
Hormone ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsobsi air

sehingga dapat mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh.

Hormon ini dibenetuk oleh hipotalamus di hipofisis posterior,

yang mensekresi AHD dengan meningkatkan osmolarisis dan

menurunkan cairain ekstrasel.


a) Aldosteron
50

b) Prostaglandin
c) Glukokortikoid
d) Mekanisme rasa haus
d. Cara Perpindahan Cairan Tubuh
1) Difusi
Merupakan bercampurnya molekul molekul dalam cairan, gas

atau zat padat secara bebas dan acak. Proses difusi dapat terjadi

bila dua zat becampur dalam sel membram. Dalam tubuh proses

difusi air,elektrolit,dan zat zat lain terjdi melalui membram

kapiler yang permaible.kecepatan proses difusi

bervariasi,tergantung pada factor ukuran molekul akan lebih

berpindah dari lautan dengan kosentrasi tinggi ke larutan

dengan komsentrasi rendah.


2) Osmosis
Proses perpindahan zat larutan lain melalui membrane

semiparalel biasanya terjadi dari larutan dengan kosentrasi yang

kurang pekat, ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat.

Solute adalah zat pelarut, sedangkan solven adalah larutanya.

Proses osmosis penting dalam mengatur keseimbangan cairan

ektrasel dan intrasel. Pada proses osmosis dapat terjadi

pemindahan dari larutan dengan kepekatan rendah ke larutan

yang kepekatan lebih tinggi melalui membran semipermiable,

sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah volumenya akan

berkurang, sedang larutan yang lebih tinggi akan bertambah

volumenya.
3) Tranpor Aktif
Transpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan

berosmosis. Proses ini terutama penting untuk mempertahankan


51

natrium dalam cairan intra dan ekstrasel.Proses pengaturan

cairan dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu tekanan cairan

dan membran.
4) Tekanan Cairan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan.

Proses osmotik juga menggunakan tekanan osmotik, yang

merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik larutan

melalui membrane.Bila dua larutan dengan perbedaan

konsentrasi dan larutan yang mempunyai konsentrasi lebih

pekat molekulnya tidak dapat bergabung maka larutan tersebut

disebut koloid, sedangkan larutan yang mempunyai kepekatan

yang sama dan dapat bergabung disebut kristaloid.


5) Membran Semipermeabel
Merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak

bergabung. Terdapat di dinding kapiler pembuluh darah, yang

terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak

berpindah ke jaringan lain.

e. Pengaturan Cairan Volume Tubuh

Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan

antara jumlah cairan yang masuk dan jumlah cairan yang keluar.

1) Asupan Cairan

Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang

dewasa adalah ± 2500 cc/hari. Pengaturan mekanisme

keseimbangan cairan ini menggunakan haus.

2) Pengeluaran cairan
52

Pengeluaran cairan sebagai dalam menyeimbangkan asupan

cairan orang dewasa dalam kondisi normal adalah

2300cc/hari.jumlah air yang hanya keluar dari ekskresi

ginjal,sebanyak 1500/hari.
Hasil-hasil pengeluaran cairan adalah:

a) Urine
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan ureter mengalirkan

urine ke bladder. Dalam bladder, urine ditampung sampai

batasan tertentu yang kemudian di keluarkan melalui uretra.

Cairan dalam ginjal disaring pada glomerulus dan dalam

tubulus distal untuk kemudian diserap kembali ke dalam

aliran darah.
b) Keringat
Terbentuk bila menjdi panas akibat pengaruhh suhu yang

panas.keringet bnyak mengandung garam, urea, asam laktat

dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat yang kluar akan

mempengaruhi kadar natrium dalam plasma.


c) Feses
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk

padat. Jika cairan yang keluar melalui feses jumlahnya

berlebih, maka dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas.

Jumlah rata-rata pengeluaran cairan melalui feses adalah

100ml/hari.
f. Masalah Kebutuhan Cairan
1) Hipovolume / Dehidrasi
Kekurangan cairan ekstrasel terjadi karena penurunan asupan

cairan dan kelebihan pengeluaran cairan. Ada tiga macam

kekurangan volume cairan eksternal:


53

a) Dehidrasi Isotonic
Terjadi jika tubuh kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit

secara seimbang.
b) Dehidrasi Hypertonic
Terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak air dari pada

elektrolit.
c) Dehidrasi Hipotonik
Terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit dari

pada air.

Macam-macam dehidrasi berdasarkan derajatnya:

a) Dehidrasi Berat

(1) Pengeluaran cairan sebanyak 4-6 lt

(2) Serum natrium mencapai 159-166 mEq/lt

(3) Hipotensi

(4) Turgor kulit buruk

(5) Oliguria

(6) Nada dan pernafasan meningkat

(7) Kehilangan cairan >10% BB

b) Dehidrasi Sedang
(1) Kehilangan cairan antara 5-10 BB
(2) Serum natrium antara 152-158 mEq/lt\Mata cekung
c) Dehidrasi Ringan
Kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1.5-2 lt.
2) Hipervolume atau overdehidrasi
Pada kelebihan ekstrasel gejala yang sering di timbulkan adalah

edema perifer,asites,kelopak mata bengkak,suara nafas ronci

basah,penambahan BB secara tidak normal/sangat cepat,nilai

hematokrit pada umumnya normal,akan tetapi dapat menurun

bila kelebihan cairan bersifat akut.


54

g. Masalah Kebutuhan Elektrolit


Berikut ini adalah beberapa masalah kebutuhan elektrolit menurut

Harijanto, Eddy 2009 yaitu:


1) Hiponatremi
Merupakan suatu keadaan berkurangnya kadar natrium dalam

darah/plasma yang di tandai dengan ada nya kadar natrium

dalam plasma sebanyak <135mEq/lt.


2) Hipernatremia
Merupakan suatu kondisi keadaan di mana kadar natrium dalam

plasma tinggi, ditandai dengan adanya mukosa kering,

oligari/anusia, turgor kulit buruk dan permukaan kulit bengkak,

kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, suhu tubuh naik,

serta kadar natrium dalam plasma darah lebih dari 145mEq/lt.


3) Hipokalemia
Merupakan suatu kondsi keadaan kekurangan kadar kalium

dalam darah,yang terjadi sangat cepat. sering terjadi pada

pasien yang mengalami diare berkepanjangan yang turunannya

kadar kalsium plasma hingga kurang dari 3,5 mEq/lt.


4) Hiperkalemia
Merupakan suatu kondsi dimana kadar kalsium dalam darah

tinggi yang sering terjadi pada pasien dengan luka bakar,

penyakit ginjal, yang di sertai dengan kadar kalsium dalam

plasma mencapai lebih dari 5 mEq/lt.


5) Hipokalsemia
Merupakan suatu kondsi kekurangan kadar kalsium dalam

plasma darah yang di tandai dnegan adanya kram otot,dankram

perut ,kejang bingung,dan kadar kalsium dalam plasma kurang

dari 4,3 mEq/lt.


6) Hipokalsemia
55

Merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah

di tandai nyeri pada tulang,relaksasai otot,batu ginjal dan kadar

kalsium dalam plasma menjadi lebih dari 4,3 mEq/lt.


h. Klasifikasi Pendarahan
Standart americant college of surgeos advanced trauma life

support ATLS membuat klasifikasi pendarahan berdasarkan

presentase volume kehilangan darah sebagai berikut :

Class I Class II Class III Class IV


Blood Loss (mL) Up to 750 750-1500 1500-2000 >2000
Blood Loss (% Blood
Up to 15 % 15 - 30 % 30- 40 % >40 %
Volume)
Pulse Rate <100 >100 >120 >140
Pulse Preasure
Normal Normal Decreased Decreased
(mmHg)
Respiratory Rate 14-20 20-30 30-40 >35
Urine Output (mL/hr) >30 20-30 5-15 Negligible
CNS / Mental Status Slightly Mindly Anxious Confused

anxious anxious confused lethargic


Fluid Replacement Crystaloid , Crystalloid,
Crystalloid
Crystalloid Koloid and Koloid and
and koloid
Blood Blood
Tabel 2.7 Klasifikasi pendarahan

12. Penatalaksanaan Terapi Cairan Perioperatif


a. Kebutuhan Cairan Maintenance
(Rumus = 4-2-1)
4 X 10 kg BB pertama
2 X 10 kg BB berikutnya
1 X sisa Kg BB

b. Pengganti puasa

Rumus = jam puasa X maintenance = ...................ml


56

c. Insensible Water Lose

(Stres operasi = Ringan: 2 - 4, Sedang : 4 - 6, Berat : 6 - 8 ml)

Rumus= stres ops X BB (kg) pasien

d. Estimasi Blood Volume

Estimated blood Volume (EBV)

Ketetapan : Dewasa : P= 65, L= 70-75

Anak : 80

Bayi : 85

Neonatus : 95

Rumus = Ketetapan EBV X Kg Bb

e. Estimated Blood Lose (EBL X 10 %, 15 %, 20 %)

Ringan = EBV X 10 % , ganti dengan kristaloid

Sedang = EBV X 15 %, ganti dengan koloid dan kristaloid

Berat = EBV X 20% , wajib ganti darah

f. Kebutuhan Cairan Post Operasi

Rumus cairan post op = (24 jam - (puasa + lama operasi) x

manintenence

Kebutuhan tetesan cairan post op

R=

N + : pemberian natrium pada hari pertama pasca bedah dalam

jumlah yang lebih rendah dari kebutuhan pemeliharaan, cukup


57

beralasan karena walaupun pengaruh hormonal menyebabkan

terjadinya retensi natrium, tetapi retensi air lebih banyak terjadi.

Pasca bedah lebih sering dijumpai keadaan hiponatremia, yang

akan kembali normal dengan hanya membatasi pemberian (intake)

cairan saja.
1) Kalium : sebaiknya diberikan pada hari kedua pasca bedah
2) Glukosa : diberikan 100 gr/hari
3) Cairan yang diberikan : pada orang dewasa
Hari I : dekstrose 5-10% dalam 0,18% NaCl
Hari II : dekstrose 5-10% dalam 0,18% NaCl+K+1 meq/kg
BB/h

13. Penatalaksaaan Tranfusi Darah

a. Intra Operatif

Hb normal pada :

Laki-laki : 14-16 g%

Wanita : 12-14 g%

Ht normal pada:

Laki-laki : 42-50 g%

Wanita : 40-48 g%

Estimated Blood Volume:

Laki-Laki dewasa: 70-75

Wanita dewasa : 65

Anak : 80

Bayi : 85

Neonatus : 90
58

Respon tubuh terhadap pendarahan bergantung kepada volume,

kecepatan dan lama pendarahan. Pada orang dewasa sehat

pendarahan 10% jumlah volume darah tidak menyebabkan

perubahan tanda-tanda fisiknya. Pada orang dewasa dalam

pembedahan kehilangan darah dibawah 20% atau Ht masih di atas

30% diganti dengan cairan kristaloid yang komposisinya sama

dengan darah, yaitu dengan Ringer Laktat sebanyak 3-4 mL untuk 1

mL perdarahan. Pada bayi oleh karena jarak keamanan lebih kecil

hendaknya diganti pada pendarahan 10%. Namun demikian

penentuan kapan darah diberikan dan berapa jumlahnya seringkali

sulit. Pengukuran jumlah perdarahan pada pembedahan seringkali

tidak tepat. Cara sederhana yang dapat dipertimbangkan ialah

mengukur jumlah darah dalam suction dan menimbang darah pada

kain kassa. Yang sulit diperkirakan ialah pendarahan pada kain

penutup pasien dan baju ahli bedah serta asistennya. Oleh karena itu

kurang perkiraan 25% selalu mungkin terjadi.

b. Post Operatif
Setelah pembedahan setidaknya dinilai berapa jumlah pendarahan

selama pembedahan dan kira-kira jumlah darah yang dapat hilang

lagi karena rembesan. Perhatikan lagi Hb pre op dan post op serta

keadaan kardiovaskuler pasien. Pada pasien post operatif tampak

lebih baik keadaannya bila kadar Hb kembali normal. Selain itu luka

bedah lebih cepat sembuh. Namun demikian transfusi selalu


59

mengandung resiko dan kelebihan tranfusi dapat terjadi bila salah

mengira jumlah pendarahan.


c. Cara Pemberian Transfusi Darah
Sebagai aturan umum darah ACD/CPD hendaknya diberikan dalam

waktu 21 hari, selain itu unit darah telah hangat lebih dari 10°C.

Darah tersebut tidak dikembalikan ke bank darah. Menghangatkan

darah dengan air panas hendaknya pada suhu 37-39°C, karena bila

lebih dari 40°C eritrosit akan rusak. Larutan yang diberikan sebelum

dan sesudah transfusi darah ialah NaCl 0,9%, karena merupakan

larutan yang isotonis. Eritrosit konsentrat dapat diberikan dengan

penusukan kembali dengan cairan kristaloid atau koloid. Larutan

yang mengandung ion kalsium menyebabkan pembekuan.


Pada 100 mL pertama pemberian darah hendaknya diteliti dengan

hati-hati dan diberikan perlahan-lahan untuk kemungkinan deteksi

dini reaksi transfusi. Pemberian darah dingin dengan yang cepat

meninggikan kekerapan henti jantung dibandingkan darah hangat.


d. Jenis-jenis Cairan
1) Cairan Kristaloid
Merupakan larutan dengan air (aqueous) yang terdiri dari

molekul-molekul kecil yang dapat menembus membran kapiler

dengan mudah. Biasanya volume pemberian lebih besar, onset

lebih cepat, durasinya singkat, efek samping lebih sedikit dan

harga lebih murah.


Yang termasuk cairan kristaloid antara lain salin (salin 0,9%,

ringer laktat, ringer asetat), glukosa (D5%, D10%, D20%), serta

sodium bikarbonat. Masing-masing jenis memiliki kegunaan

tersendiri, dimana salin biasa digunakan untuk memenuhi


60

kebutuhan cairan tubuh sehari-hari dan saat kegawat daruratan,

sedangkan glukosa biasa digunakan pada penanganan kasus

hipoglikemia, serta sodium bikarbonat yang merupakan terapi

pilihan pada kasus asidosis metabolik dan alkalinisasi urin.


Mekanisme secara umum larutan kristaloid menembus membran

kapiler dari kompartemen intravaskuler ke kompartemen

interstisial, kemudian didistribusikan ke semua kompartemen

ekstra vaskuler. Hanya 25% dari jumlah pemberian awal yang

tetap berada intravaskuler, sehingga penggunaannya

membutuhkan volume 3-4 kali dari volume plasma yang hilang.

Bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah cairan

kedalam pembuluh darah dengan segera dan efektif untuk pasien

yang membutuhkan cairan segera.


Cairan kristaloid bersifat mudah keluar dari intravaskuler,

terutama pada kasus dimana terjadi peningkatan resistensi

kapiler seperti pada sepsis. Pada kondisi tersebut, penting untuk

dipikirkan penggantian cairan yang memiliki molekul lebih

besar, yaitu jenis koloid.


a) Normal Saline
Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154.
Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml.
Indikasi:
(1) Resusitasi
Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium pembuluh darah

bocor, diikuti oleh keluarnya molekul protein besar ke

kompartemen interstisial, diikuti air dan elektrolit yang

bergerak ke intertisial karena gradien osmosis. Plasma


61

expander berguna untuk mengganti cairan dan elektrolit

yang hilang pada intravaskuler.


(2) Diare
Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam

jumlah banyak, cairan NaCl digunakan untuk mengganti

cairan yang hilang tersebut.


(3) Luka Bakar
Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik, dimana

terjadi kehilangan protein plasma atau cairan

ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh

yang terbakar. Untuk mempertahankan cairan dan

elektrolit dapat digunakan cairan NaCl, ringer laktat,

atau dekstrosa.
(4) Gagal Ginjal Akut
Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan

ginjal menjaga homeostasis tubuh. Keadaan ini juga

meningkatkan metabolit nitrogen yaitu ureum dan

kreatinin serta gangguan keseimbangan cairan dan

elektrolit. Pemberian normal saline dan glukosa menjaga

cairan ekstra seluler dan elektrolit.


Kontraindikasi : hipertonik uterus, hiponatremia, retensi

cairan. Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF,

insufisiensi renal, hipertensi, edema perifer dan edema

paru.
Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan

volume besar (biasanya paru-paru), penggunaan dalam

jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium.


b) Ringer Laktat (RL)
62

Komposisi (mmol/100ml): Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3,

Cl = 109-110, Basa = 28-30 mEq/l.


Kemasan: 500, 1000 ml.
Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer

Laktat adalah komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang

sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler.

Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan

menentukan tekanan osmotik. Klorida merupakan anion

utama di plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting

di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot.

Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan

kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok hipovolemik

termasuk syok perdarahan.


Indikasi: mengembalikan keseimbangan elektrolit pada

keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. Ringer laktat

menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia

dan asidosis metabolik, karena akan menyebabkan

penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme

anaerob.
Kontraindikasi: hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel

hati, asidosis laktat.


Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume

yang besar, biasanya paru-paru.


Peringatan dan Perhatian: ”Not for use in the treatment of

lactic acidosis”. Hati-hati pemberian pada penderita edema


63

perifer pulmoner, heart failure/impaired renal function dan

pre-eklamsia.
c) Dekstrosa
Komposisi: glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l

(20%).
Kemasan : 100, 250, 500 ml.
Indikasi: sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta

untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi.

Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang

(kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml).


Kontraindikasi: Hiperglikemia.
Adverse Reaction: Injeksi glukosa hipertonik dengan pH

rendah dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah dan

tromboflebitis.
d) Ringer Asetat (RA)
Larutan ini merupakan salah satu cairan kristaloid yang

cukup banyak diteliti. Larutan RA berbeda dari RL (Ringer

Laktat) dimana laktat terutama dimetabolisme di hati,

sementara asetat dimetabolisme terutama di otot. Sebagai

cairan kristaloid isotonik yang memiliki komposisi elektrolit

mirip dengan plasma, RA dan RL efektif sebagai terapi

resusitasi pasien dengan dehidrasi berat dan syok, terlebih

pada kondisi yang disertai asidosis. Metabolisme asetat juga

didapatkan lebih cepat 3-4 kali dibanding laktat. Dengan

profil seperti ini, RA memiliki manfaat-manfaat tambahan

pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat masif yang

terjadi pada diare.


64

Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah

seharusnya diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi

hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Hal ini

dikarenakan adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat

membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam

hati menjadi bikarbonat.


Ringer Asetat telah tersedia luas di berbagai negara. Cairan

ini terutama diindikasikan sebagai pengganti kehilangan

cairan akut (resusitasi), misalnya pada diare, DBD, luka

bakar/syok hemoragik; pengganti cairan selama prosedur

operasi; loading cairan saat induksi anestesi regional;

priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal; dan

juga diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi

dehidrasi.
Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi

anastesi, misalnya ditunjukkan oleh studi Ewaldsson dan

Hahn (2001) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA

secara cepat (dalam waktu 2 menit) setelah induksi anestesi

umum dan spinal terhadap parameter-parameter volume

kinetik. Studi ini memperlihatkan pemberian RA dapat

mencegah hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia

sentral, yang umum terjadi setelah anestesi umum/spinal.


Untuk kasus obstetrik, Onizuka dkk (1999) mencoba

membandingkan efek pemberian infus cepat RL dengan RA

terhadap metabolisme maternal dan fetal, serta


65

keseimbangan asam basa pada 20 pasien yang menjalani

kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio

sesarea. Studi ini memperlihatkan pemberian RA lebih baik

dibanding RL untuk ke-3 parameter di atas, karena dapat

memperbaiki asidosis laktat neonatus (kondisi yang umum

terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami

eklampsia atau pre-eklampsia).


Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada

stroke iskemik/hemoragik akut, sehingga umumnya para

dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan

hipotonik karena kekhawatiran terhadap edema otak.

Namun, Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan

pemberian RA tidak mendorong terjadinya pembengkakan

sel, karena itu dapat diberikan pada stroke akut, terutama

bila ada dugaan terjadinya edema otak.


Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan

suhu tubuh lebih baik dibanding RL secara signifikan pada

menit ke 5, 50, 55, dan 65, tanpa menimbulkan perbedaan

yang signifikan pada parameter-parameter hemodinamik

(denyut jantung dan tekanan darah sistolik-diastolik).


66

Komposisi Beberapa Cairan Kristaloid

Tabel 2.8 Komposisi cairan kristaloid


67

Cairan Tonusitas Na Cl K Ca Glukosa Laktat Asetat

(mmol/l) (mmol/l) (mmol/l) (mmol/l) (mg/dl) (mmol/l) (mmol/l)


NaCl 0,9 308 154 154

% (isotonus)
½ Saline 154 77 77

(hipotonus)
Dextrose 253 5000

5% (hipotonus)
D5NS 561 154 154 5000

(hipertonus
D5 ¼NS 330 38,5 38,5 5000

(isotonus)
2/3 D & Hipertonus 51 51 3333

1/3 S
Ringer 273 130 109 4 3 28

Laktat (isotonus)
D5 RL 273 130 109 4 3 50 28

(isotonus)
Ringer 273,4 130 109 4 3 28

Asetat (isotonus)

2) Cairan Koloid
Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang

sulit menembus membran kapiler, digunakan untuk mengganti

cairan intravaskuler. Umumnya pemberian lebih kecil, onsetnya

lambat, durasinya lebih panjang, efek samping lebih banyak, dan

lebih mahal.
Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma

sehingga cenderung tidak keluar dari membran kapiler dan tetap

berada dalam pembuluh darah, bersifat hipertonik dan dapat


68

menarik cairan dari pembuluh darah. Oleh karena itu

penggunaannya membutuhkan volume yang sama dengan

jumlah volume plasma yang hilang. Digunakan untuk menjaga

dan meningkatkan tekanan osmose plasma.


a) Albumin
Komposisi: Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis

adalah protein 69-kDa yang dimurnikan dari plasma manusia

(cotoh: albumin 5%).


Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan

karena : volume yang dibutuhkan lebih kecil, efek

koagulopati lebih rendah, resiko akumulasi di dalam

jaringan pada penggunaan jangka lama yang lebih kecil

dibandingkan starches dan resiko terjadinya anafilaksis lebih

kecil.
Indikasi: Pengganti volume plasma atau protein pada

keadaan syok hipovolemia, hipoalbuminemia, atau

hipoproteinemia, operasi, trauma, cardiopulmonary bypass,

hiperbilirubinemia, gagal ginjal akut, pancretitis,

mediasinitis, selulitis luas dan luka bakar.


Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory

Distress Syndrome). Pasien dengan hipoproteinemia dan

ARDS diterapi dengan albumin dan furosemid yang dapat

memberikan efek diuresis yang signifikan serta penurunan

berat badan secara bersamaan.


Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan

malnutrisi, kebakaran, operasi besar, infeksi (sepsis syok),


69

berbagai macam kondisi inflamasi, dan ekskresi renal

berlebih.
Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang

merupakan komplikasi dari sirosis. Sirosis memacu

terjadinya asites/penumpukan cairan yang merupakan media

pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Terapi antibiotik adalah

pilihan utama, sedangkan penggunaan albumin pada terapi

tersebut dapat mengurangi resiko renal impairment dan

kematian. Adanya bakteri dalam darah dapat menyebabkan

terjadinya multi organ dysfunction syndrome (MODS), yaitu

sindroma kerusakan organ-organ tubuh yang timbul akibat

infeksi langsung dari bakteri.


Kontraindikasi: gagal jantung, anemia berat.
Produk: Plasbumin 20, Plasbumin 25.
b) HES (Hydroxyetyl Starches)
Komposisi: Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa,

yaitu amilosa dan amilopektin.


Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma

dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah, sehingga

dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler.


Kontraindikasi: Cardiopulmonary bypass, dapat

meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi, hal ini

terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat

(>20 ml/kg). Sepsis, karena dapat meningkatkan resiko acute

renal failure (ARF). Penggunaan HES pada sepsis masih

terdapat perdebatan.
70

Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus

sepsis, dimana suatu penelitian menyatakan bahwa HES

dapat digunakan pada pasien sepsis karena:


(1) Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan

kristaloid, disamping itu HES tetap bisa digunakan untuk

menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan

permeabilitas.
(2) Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa

HES dan albumin menunjukkan manifestasi edema paru

yang lebih kecil dibandingkan kristaloid.


(3) Dengan menjaga COP, dapat mencegah komplikasi lebih

lanjut seperti asidosis refraktori.


(4) HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang

sangat menguntungkan pada kondisi sepsis yaitu

menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi

molekuler.

Sementara itu pada penelitian yang lain, disimpulkan HES

tidak boleh digunakan pada sepsis karena:

(1) Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan

kristaloid maupun koloid (HES), yang manifestasinya

menyebabkan kerusakan alveoli.

(2) HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic

dibandingkan dengan gelatin pada pasien sepsis dengan

hipovolemia.
71

(3) HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan

gangguan koagulasi, ARF, pruritus, dan liver failure. Hal

ini terutama terjadi pada pasien dengan kondisi iskemik

reperfusi (contoh: transplantasi ginjal).

(4) Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi

dibandingkan dengan gelatin pada pasien dengan sepsis.

Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan

retikulo endotelial jika digunakan dalam jangka waktu yang

lama, sehingga dapat menimbulkan pruritus. Contoh :

HAES steril, Expafusin.


c) Dextran
Komposisi: dextran tersusun dari polimer glukosa hasil

sintesis dari bakteri Leuconostoc mesenteroides, yang

ditumbuhkan pada media sukrosa.


Indikasi:
(1) Penambah volume plasma pada kondisi trauma, syok

sepsis, iskemia miokard, iskemia cerebral, dan penyakit

vaskuler perifer.
(2) Mempunyai efek anti trombus, mekanismenya adalah

dengan menurunkan viskositas darah, dan menghambat

agregasi platelet. Pada suatu penelitian dikemukakan

bahwa dextran-40 mempunyai efek anti trombus paling

poten jika dibandingkan dengan gelatin dan HES.


Kontraidikasi: pasien dengan tanda-tanda kerusakan

hemostatik (trombositopenia, hipofibrinogenemia), tanda-


72

tanda gagal jantung, gangguan ginjal dengan oliguria atau

anuria yang parah.


Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok

anafilaksis, dextran juga sering dilaporkan dapat

menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-

molekul dextran pada tubulus renal. Pada dosis tinggi,

dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan.

Contoh : hibiron, isotic tearin, tears naturale II, plasmafusin.


d) Gelatin
Komposisi: Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine.
Indikasi: Penambah volume plasma dan mempunyai efek

antikoagulan, Pada sebuah penelitian invitro dengan

tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin memiliki efek

antikoagulan, namun lebih kecil dibandingkan HES.


Kontraindikasi: haemacel tersusun atas sejumlah besar

kalsium, sehingga harus dihindari pada keadaan

hiperkalsemia.
Adverse reaction: dapat menyebabkan reaksi anafilaksis.

Pada penelitian dengan 20.000 pasien, dilaporkan bahwa

gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila

dibandingkan dengan starches. Contoh : haemacel,

gelofusine.
3) Cairan Khusus
Contoh dalam kelompok ini seperti cairan mannitol.

e. Macam-macam darah
1. Whole blood
73

Whole blood (darah lengkap) biasanya disediakan hanya untuk

transfusi pada perdarahan masif. Whole blood biasa diberikan

untuk perdarahan akut, shock hipovolemik serta bedah mayor

dengan perdarahan > 1500 ml. Whole blood akan meningkatkan

kapasitas pengangkutan oksigen dan peningkatan volume darah.

Transfusi satu unit whole blood akan meningkatkan hemoglobin

1 g/dl
2. Packed Red Blood Cell (PRBC)
PRBC mengandung hemoglobin yang sama dengan whole

blood, bedanya adalah pada jumlah plasma, dimana PRBC lebih

sedikit mengandung plasma. Hal ini menyebabkan kadar

hematokrit PRBC lebih tinggi dibanding dengan whole blood,

yaitu 70% dibandingkan 40%. PRBC biasa diberikan pada

pasien dengan perdarahan lambat, pasien anemia atau pada

kelainan jantung. Saat hendak digunakan, PRBC perlu

dihangatkan terlebih dahulu hingga sama dengan suhu tubuh

(37ºC). bila tidak dihangatkan, akan menyulitkan terjadinya

perpindahan oksigen dari darah ke organ tubuh.


3. Plasma Beku Segar (Fresh Frozen Plasma)
Fresh frozen plasma (FFP) mengandung semua protein plasma

(faktor pembekuan), terutama faktor V dan VII. FFP biasa

diberikan setelah transfusi darah masif, setelah terapi warfarin

dan koagulopati pada penyakit hati. Setiap unit FFP biasanya

dapat menaikan masing-masing kadar faktor pembekuan sebesar

2-3% pada orang dewasa. Sama dengan PRBC, saat hendak


74

diberikan pada pasien perlu dihangatkan terlebih dahulu sesuai

suhu tubuh.
4. Trombosit
Transfusi trombosit diindikasikan pada pasien dengan

trombositopenia berat (<20.000 sel/mm3) disertai gejala klinis

perdarahan. Akan tetapi, bila tidak dijumpai gejala klinis

perdarahan, transfusi trombosit tidak diperlukan. Satu unit

trombosit dapat meningkatkan 7000-10.000 trombosit/mm3

setelah 1 jam transfusi pada pasien dengan berat badan 70 kg.

banyak faktor yang berperan dalam keberhasilan transfusi

trombosit diantaranya splenomegali, sensitisasi sebelumnya,

demam, dan perdarahan aktif.


5. Kriopresipitat
Kriopresipitat mengandung faktor VIII dan fibrinogen dalam

jumlah banyak. Kriopresipitat diindikasikan pada pasien dengan

penyakit hemofilia (kekurangan faktor VIII) dan juga pada

pasien dengan defisiensi fibrinogen.

f. Bahaya Terapi Transfusi


1) Reaksi transfusi hemolitik:
a) Infeksi
b) Panas
c) Emboli udara
d) Darah hemolisis
e) Reaksi alergi/ anafilatik
2) Penyulit Transfusi Masif
Transfusi masif ialah pemberian darah 1,5 kali volume darah

lengkap. Beberapa masalah yang di hadapi ialah, antara lain

penurunan suhu tubuh dan perubahan biokimia. Bila suhu tubuh


75

turun sampai 27,5°C disritmia yang fatal dapat terjadi. Oleh

karena itu bila 2-3 unit darah atau lebih diberikan dalam waktu

singkat, hendaknya darah dihangatkan dahulu. Perubahan

biokimia yang terjadi ialah gangguan asam basa dan elektrolit

sitrat akan mengikat Ca, sehinnga Ca plasma menurun.

Perubahan Ca plasma dapat menyebabkan henti jantung. Oleh

karena itu kecepatan maksimum pemberian darah ialah 1 L

dalam 10 menit.