Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA

PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN


DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSRESI URIN KUMULATIF

A. TUJUAN
Agar mahasiswa mampu menghitung parameter farmakokinetika obat setelah
pemberian dosis tunggal melalui oral, berdasarkan data eksresi urin kumulatif.

B. DASAR TEORI
Farmakokinetika adalah ilmu yang mempelajari secara khusus perubahan jumlah obat
dalam tubuh sebagai fungsi. Dengan kata lain, dalam pokok bahasan farmakokinetika
dilakukan kajian-kajian terhadap fenomena absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat secara
kuantitatif. Oleh karena itu, dalam penelitian-penelitian farmakokinetika dikembangkan
berbagai macam model-model matematika untuk menjelaskan proses perjalanan obat di dalam
tubuh (Astuti, 2018).
Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses dan kebanyakan prosesnya
sangat rumit. Umumnya ini didasari oleh suatu rangkaian reaksi, yang dibagi dalam 3 fase:
fase farmasetik, fase farmakokinetik dan fase farmakodinamik. Farmakokinetik mempunyai
tujuan utama yaitu untuk mengukur absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat pada
hewan atau manusia.
Parameter farmakokinetika diperlukan untuk menginterpretasi perubahanperubahan
disposisi obat di dalam tubuh seperti yang terwujud dalam perubahan nilai parameter.
Parameter farmakokinetika terdiri dari parameter primer, sekunder, dan turunan. Parameter
primer terdiri dari ka, Vd, dan ClT, yang dipengaruhi oleh perubahan salah satu atau lebih
variabel fisiologis. Parameter sekunder meliputi k, t1/2, dan Tmaks dimana parameter-
parameter tersebut dipengaruhi oleh perubahan parameter primer yang dikarenakan adanya
perubahan suatu variabel fisiologis, sedangkan parameter turunan nilainya tidak hanya
bergantung pada parameter primer tapi juga dipengaruhi oleh dosis dan kecepatan pemberian
obat, contohnya adalah AUC0-~, AUMC, Cpmaks, dan MRT.

1. Tetapan laju eliminasi (K)


Laju eliminasi suatu obat merupakan suatu ukuran yang berguna untuk
menggambarkan eliminasi obat dari dalam tubuh. Laju eliminasi dipengaruhi oleh klirens
dan volume distribusi (Hakim, 2011). Laju eliminasi secara langsung mempengaruhi
besarnya waktu paruh eliminasi (t1/2 eliminasi). Semakin besar nilai K maka semakin
singkat waktu paruh eliminasi, semakin kecil nilai K maka semakin lama waktu paruh
eliminasi. Semakin besar klirens, maka nilai K juga makin besar, sehingga eliminasi obat
dari dalam tubuh semakin cepat. Nilai K dapat ditentukan jika nilai klirens diketahui
ataupun dapat diketahui secara langsung dari nilai B regresi linier log Cp (kadar obat dalam
plasma) vs t (waktu) pada titik-titik eliminasi obat atau yang dianggap mewakili titik-titik
eliminasi suatu obat.
2. Waktu paruh eliminasi (t1/2)
Waktu paruh eliminasi menunjukkan lamanya waktu yang diperlukan oleh sejumlah
obat atau konsentrasi obat untuk dapat tereliminasi menjadi setengahnya (berkurang
menjadi setengahnya). Nilai waktu paruh eliminasi sangat tergantung kepada laju eliminasi
obat, klirens total dan volume distribusi.
3. Klirens total (Clt)
Klirens obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa mempermasalahkan
mekanisme prosesnya. Eliminasi obat terdiri dari proses metabolisme dan ekskresi. Klirens
dapat didefinisikan sebagai volume bersihan suatu obat dari tubuh per satuan waktu
(mL/menit atau L/jam) (Shargel, 2005). Nilai klirens dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor fisiologi, seperti fungsi organ dalam mengeliminasi obat dan kecepatan alir darah
menuju organ eliminasi obat (Hakim, 2011).
Urin sebagai produk metabolisme memiliki kandungan berbagai zat yang sudah tidak
digunakan lagi oleh tubuh. Zat tersebut diantaranya adalah nitrogen, urea, dan amonia.
Kandungan urin menjadi indikasi berbagai fungsi faal dalam tubuh yang berkaitan dengan
metabolisme dan ekskresi, diantaranya adalah kondisi ginjal, liver, dan pankreas.
Keberadaan zat yang masih berguna bagi tubuh dalam urin menandakan ada kesalahan
fungsi ginjal dalam bekerja sebagai filter. Salah satu zat yang masih berguna bagi tubuh
yang sering terdapat dalam urin adalah protein (Dwi, 2017).
Sistem urin adalah suatu sistem saluran dalam tubuh manusia, meliputi ginjal dan
saluran keluarnya yang berfungsi untuk membersihkan tubuh dari zat-zat yang tidak
diperlukan. Sebanyak 1 cc urin dihasilkan oleh kedua ginjal kiri dan kanan setiap menitnya
dan dalam 2 jam dihasilkan sekitar 120 cc urin yang akan mengisi kandung kemih. Saat
kandung kemih sudah terisi urin sebanyak itu mulai terjadi rangsangan pada kandung
kemih sehingga yang bersangkutan dapat merasakannya. Keinginan mengeluarkan mulai
muncul, tetapi biasanya masih bisa ditahan jika volumenya masih berkisar dibawah 150
cc. (Sheerwood, 2011)
Komposisi urin terdiri dari 95% air dan mengandung zat terlarut. Di dalam
urin terkandung bermacam – macam zat, antara lain (1) zat sisa pembongkaran protein
seperti urea, asam ureat, dan amoniak, (2) zat warna empedu yang memberikan warna
kuning pada urin, (3) garam, terutama NaCl, dan (4) zat – zat yang berlebihan
dikomsumsi, misalnya vitamin C, dan obat – obatan serta juga kelebihan zat yang yang
diproduksi sendiri oleh tubuh misalnya hormone. (Ethel, 2003)
Urin merupakan larutan kompleks yang terdiri dari sebagian besar air ( 96%) air dan
sebagian kecil zat terlarut ( 4%) yang dihasilkan oleh ginjal, disimpan sementara dalam
kandung kemih dan dibuang melalui proses mikturisi. (Rustiani, 2011).
Semua obat yang mengalami absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi berjalan
melewati membran. Disposisi dari obat ditentukan oleh mekanisme obat terhadap
membran dan sifat fisikokimia dari molekul dapat mempengaruhi pemindahan obat ke
jaringan. Pergerakan obat dan availability obat tergantung pada ukuran dan bentuk
molekul, derajat ionisasi, kelarutan relative lipid dari bentuk ionik dan nonionik dan yang
mengikat protein serum dan jaringan. (Brunton, 2006)

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Labu takar
b. Pipet volume
c. Spektrofotometer
d. Cuvet
e. Sentrifuge
f. Scapel dan silet
g. Stopwatch
2. Bahan
a. Vitamin C 500 mg
b. Aquadest

D. PROSEDUR KERJA

Jika serapan
terbaca terlalu
Tetapkan manusia besar, maka
uji lakukan
Dikumpulkan Dicatat volume pengenceran
cuplikan urin urin pada setiap terhadap urin
pada sederetan interval waktu yang masih
2 hari sebelum interval waktu
praktikum pengambilan tersedia, jangan
yang telah cuplikan terhadap urin
Manusia uji diberi ditentukan
obat yang telah
direaksikan
1 minggu sebelum Diperhatikan Diambil 10 mL
praktikum tidak sistem water dan
Disimpulkan
boleh minum obat loading dimasukkan ke
hasil dan
sejenis atau obat dalam flakon
laporan
lain yang dapat
mengganggu Minum obat
penetapan kadar vitamin C 500
vitamin C Disimpan Parameter
mg dalam lemari es farmakokinetik

Dikosongkan
kandung kemih Diambil urin Dimasukkan
dengan sempurna Ditetapkan
secukupnya kadar vitamin C data kadar
sebelum minum untuk blangko vitamin C
obat tidak berubah
dalam urin dalam urin ke
dalam tabel
E. HASIL PERCOBAAN
1. Data Kuva Baku
Konsentrasi (µg/mL) Absorbansi

10 0,106

20 0,326

30 0,576

40 0,798

50 0,993

2. Data Sampel Urin Vitamin C 500 mg


t (jam) Absorbansi Volume urin (mL)

0,25 0,239 80

2,5 0,257 85

3,25 0,286 75

4,75 0,156 68

5,5 0,342 75

6,8 0,126 95

F. PERHITUNGAN
1. Kurva Baku

Konsentrasi (µg/mL) Absorbansi

10 0,106
Regresi 15 0,,326 linier

20 0,576 a = -0,114

25 0,798 b = 0,022

30 0,993 r = 0,994

y = a + bx

y = -0,114+ 0,022x

a. x = Cp (µg/ml)
 y1 = a + b (x1)  y4 = a + b (x4)
0,239 = -0,114+ 0,022 (x1) 0,156 = -0,114+ 0,022 (x1)

0,239 + 0,144 0,156 + 0,144


x1 = x1 =
0,022 0,022

= 16,045 = 12,273

 y2 = a + b (x2)  y5 = a + b (x5)
0,257 = -0,114+ 0,022 (x1) 0,342 =-0,114+ 0,022 (x1)

0,257 + 0,144 0,342 + 0,144


x1 = x1 =
0,022 0,022

= 16,864 = 20,727

 y3 = a + b (x3)  y6 = a + b (x6)
0,286 = -0,114+ 0,022 (x1) 0,126 =-0,114+ 0,022 (x1)

x1 =
0,286 + 0,144 0,126 + 0,144
0,022 x1 =
0,022
= 18,182
= 10,909

=====

b. Perhitungan Du
Du = Cp x VL
 Du1= 16,045 x 80 = 1283,6
 Du2 = 16,864 x 85 = 1433,44
 Du3 = 18,182 x 75 = 1363,65
 Du4 = 12,273 x 68 = 834,564
 Du5 = 20,727 x 75 = 1554,525
 Du6 = 10,909 x 95 = 1036,355

c. Perhitungan Dukum
Dukum = Du sebelum + Du saat itu
 Dukum1 = 0 + 1283,6 = 1283,6
 Dukum2 = 1283,6 + 1433,44 = 2717,04
 Dukum3 = 2717,04 + 1363,65 = 4080,69
 Dukum4 = 4080,69 + 834,564 = 4915, 254
 Dukum5 = 4915,254 + 1554,525 = 6469,779
 Dukum6 = 6469,779+ 1036,355 = 7506,134

d. Perhitungan Du˜ Dukum


Du˜ Dukum = Du˜ - Dukum
 Du˜ Dukum1 = 7056,134 – 1283,6 = 6222,534
 Du˜ Dukum2 = 7056,134 – 2717,04 = 4789,094
 Du˜ Dukum3 = 7056,134 - 4080,69 = 3425,444
 Du˜ Dukum4 = 7056,134 - 4915,254 = 2590,118
 Du˜ Dukum5 = 7056,134 – 6469,779 = 1036,355
 Du˜ Dukum6 = 7056,134 – 7056,134 = 0

e. Perhitungan log Du˜ Dukum


Log 6222,534 = 3,794 Log 2590,118 = 3,413
Log 4789,094 = 3,680 Log 1036,355 = 3,016
Log 3425,444 = 3,535 Log 0 =-
f. Perhitungan Δt
Δt = t2 – t1
Δt1 = 0,25 – 0 = 0,25 Δt4 = 4,75 - 3,25 = 1,5
Δt2 = 2,5 - 0,25 = 2,25 Δt5 = 5,5 - 4,75 = 0,75
Δt3 = 3,25 - 2,5 = 0.75 Δt6 = 6,8 - 5,5 = 1,3

g. Perhitungan t*
𝑡1+𝑡2
t* = 𝟐
0+0,25 3,25+4,75
t*1 = 2
= 0,125 t*4 = 2
=4
0,25+2,5 4,75+5,5
t*2 = = 1,375 t*5 = = 5,125
2 2
2,5+3,25 5,5+6.8
t*3 = = 2,85 t*6 = = 6,15
2 2

h. Perhitungan Du / Dt
𝐷𝑢
Du/Dt = Δt
1283,6 834,564
Du/Dt1 = = 5134,4 Du/Dt4 = = 556,376
0,25 1,5
1433,44 1554,525
Du/Dt2 = = 637,084 Du/Dt5 = = 2072,7
2,25 0,75
1363,65 7506,134
Du/Dt3 = = 1818,186 Du/Dt6 = = 797,1
0,75 1,3

i. Perhitungan log Du / Dt
Log 5134,4 = 3, 710 Log 556,376 = 3, 745
Log 637,084 = 2, 804 Log 2072,7 = 3,316
Log 1818,186 = 3, 259 Log 797,196 = 2,901

2. Data Sampel Urin Vitamin C 500 mg


Vol.urin Cp Dukum
t (jam) Absorbansi Du (µg)
(mL) (µg/mL)
0,25 0,239 80 16,045 1283,6 1293,6
2,5 0,257 85 16,864 1433,44 2717,04

3,25 0,286 75 18,182 1463,65 4080,69

4,75 0,156 68 12,273 834,564 4915,254

5,5 0,342 75 20,727 1554,525 6469,779

6,8 0,126 95 10,909 1036,355 7506,134

log Du~ - log Du/dt


Du~ - Dukum Δt t* Du/dt
Dukum

6222,534 3,794 0,25 0,125 5134,4 3,710

4789,094 3,680 2,25 1,375 637,084 2,804

3425,444 3,535 0,75 2,875 1818,186 3,259

2590,88 3,413 1,5 4 556,376 3,745

1036,355 3,016 0,75 5,125 2072,7 3,316

0 0 1,3 6,15 797,196 2,902

a. Metode ARE (LR → t vs log Du~ - Dukum)

t (jam) log Du~ - Dukum Regresi linier

0,25 3,794 a = 3,814

3,25 3,535 b = -0,085

4,75 3,413 r = -0,999

Perhitungan K Perhitungan t1/2


K = -2,303 x b 0,693
t1/2 =
K
K = -2,303 x (-0,085) 0,693
t1/2 =
0,196
K = 0,196 /jam
t1/2 = 3,535 jam

Perhitungan Ke
Du~
Ke = xK
Do
6516,284
Ke = x 0,196
500000
Ke = 0,013 x 0,196
Ke = 2,554 x 10-3/jam

b. Metode Ekskresi Renal (LR → t* vs log Du/dt)

t* log Du/dt Regresi linier

0,125 3,710 a = 3,697

2,875 3,259 b = -0,133

6,15 2,902 r = -0,993

Perhitungan K Perhitungan t1/2


0,693
K = -2,303 x b t1/2 =
K
0,693
K = -2,303 x (-0,133) t1/2 = = 2,26 jam
0,306

K = 0,306 /jam
Perhitungan Ke Perhitungan Du~

Ke x DBo = antilog a Ke x Do
Du~ =
K
Ke x 500000 = antilog 3,697
Ke x 500000 = 4977,37 9,95 x 10-3 x 500000
Du~ =
4977,37 0,306
Ke =
500000 Du~ = 16258,170 µg
Ke = 9,95 x 10-3/jam Du~ = 16,258 mg

G. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, bertujuan untuk menghitung parameter farmakokinetik obat
setelah pemberian dosis tunggal melalui oral berdasarkan data ekskresi urin kumulatif.
Penetapan parameter farmakokinetika suatu obat ini berguna untuk mengkaji kinetika
absorpsi, distribusi dan eliminasinya dalam badan (Shargel et al,2005). Hasil kajian ini
diantaranya memiliki arti penting dalam penetapan aturan dosis. Parameter farmakokinetika
yang tepat dapat digunakan untuk mengkaji kinetika absorbsi suatu obat diantaranya adalah
tetapan kecepatan absorpsi (Ka), luas daerah dibawah kurva (AUC), dan fraksi obat yang
diabsorpsi (Fa). Sedangkan untuk kinetika distribusi adalah (Vd dan Vdss), dan untuk kinetika
eliminasi adalah klirens total (Clt), tetapan kecepatan eliminasi (Kel), dan waktu paro eliminasi
(T1/2).
Parameter farmakokinetik pada praktikum ini, ditentukan dari pengukuran kadar obat
dengan menggunakan cuplikan urin. Sampel urin umumnya digunakan jika kadar obat dalam
darah terlalu kecil untuk dapat dideteksi. Selain itu sampel urin juga digunakan apabila
eleminasi obat dalam bentuk utuh melalui ginjal cukup besar yaitu lebih dari 40%. Salah satu
keuntungan sampel urin jika digunakan dalam analisis adalah mudah dilakukan karena
pengambilan sampelnya lebih mudah daripada pengambilan sampel darah. Selain itu, jumlah
sampel yang didapatkan banyak, lama dan selang waktu penampungan urin sesuai dengan
karakteristik obat yang akan diuji, dan umumnya tidak mengandung lipid dan protein sehingga
mudah untuk diekstraksi menggunakan pelarut organik. Jenis senyawa yang umum terdapat
dalam urin larut air, sedangkan sebagian besar obat larut lemak, sehingga dapat diekstrasi
dengan pelarut yang sesuai (BPOM, 2005).
Namun, ada beberapa kekurangan dari penggunaan cuplikan urin, antara lain sulit
diperoleh pengosongan kandung kencing secara sempurna karena ada kemungkinan
terjadinya dekomposisi obat selama penyimpanan, kemungkinan terjadi hidrolisis konjugat
metabolik yang tidak stabil di dalam urin. Sehingga mempengaruhi jumlah total obat dalam
bentuk tak berubah yang diekskresikan lewat urin dalam waktu tak terhingga. Dengan itu,
akan mempengaruhi validitas hasil perhitungan parameter farmakokinetiknya.
Sampel obat yang akan diketahui parameter kinetika-nya dalam praktikum kali ini
yaitu Vitamin C 500 mg. Vitamin C merupakan jenis vitamin larut air. Vitamin ini berfungsi
untuk pembentukan kolagen, karnitin, dan neurotransmitter. Selain itu vitamin ini juga
bermanfaat dalam peningkatan sistem imun. Vitamin C mudah diabsorbsi melalui saluran
cerna. Ekskresinya melalui urine dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika
kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4 mg%. Waktu paruh vitamin C dalam
tubuh yang dosis pemberiannya 500 mg yaitu selama kurang dari 2 jam.
Dalam penentuan parameter farmakokinetika menggunakan data urin ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, antara lain water loading, pengosongan kandung kencing secara
sempurna, pencatatan volume urin yang diekskresikan tiap interval waktu pengambilan,
penyimpanan cuplikan urin menggunakan toluene 0,5-1 ml, dan pengumpulan urin yang
dilakukan hingga seluruh obat tak berubah praktis telah diekskesikan seluruhnya dalam urin
(7-10 x t ½). Water loading merupakan pengkondisian agar subyek uji tidak mengalami
dehidrasi. Pengosongan kandung kemih secara sempurna biasanya dilakukan dengan
penggunaan kateter sehingga air secara difusi pasif akan mengalir keluar sendiri. Penggunaan
toluen dimaksudkan agar urin tetap awet, tidak rusak, atau tidak berubah kadarnya jika akan
diuji beberapa hari kemudian. Pengumpulan dilakukan hingga seluruh obat tak berubah
diekskresikan yaitu untuk mengetahui kadar obat dalam tubuh telah benar-benar diekskresikan
seluruhnya, sehingga tak ada lagi kadar obat vitamin C dalam tubuh.
Sebelum kegiatan praktikum, subyek uji seminggu sebelumnya juga dikondisikan agar
tidak minum obat lain yang sejenis dengan Vitamin C, agar tidak mengganggu penetapan
kadar Vitamin C. Sebelum minum obat,subyek uji dikosongkan kantong kemihnya melalui
pengeluaran urin yang kemudian urin dipakai sebagai blanko. Blangko merupakan urin yang
tidak berisi analit/kadar obat yang diuji. Blangko berfungsi untuk kalibrasi sebagai larutan
pembanding dalam analisis fotometri. Analisis fotometri yang digunakan dalam praktikum
kali ini menggunakan spektrofotometer dengan menggunakan panjang gelombang
maksimum. Prinsip kerja spektrofotometer yaitu berdasarkan penyerapan cahaya atau energi
radiasi oleh suatu larutan. Jumlah cahaya atau energi radiasi yang diserap memungkinkan
pengukuran jumlah zat penyerap dalam larutan secara kuantitatif (Triyati, 1985). Panjang
gelombang yang digunakan yaitu panjang gelombang maksimum agar mengetahui serapan
cahaya maksimum oleh senyawa yang akan dianalisis.
Dari data yang diperoleh, dapat dilihat bahwa sampel urin diambil sebanyak 6 kali dari
konsumsi pertama vitamin C. Pengambilan dilakukan saat jam ke 0,25; 2,5; 3,25; 4,75; 5,5
dan 6,8. Dari jumlah volume urin pada waktu tersebut, dilakukan pengukuran absorbansinya
dan didapat absorbansi 0,239; 0,257; 0,286; 0,156; 0,342 dan 0,126. Dari data waktu dan
absorbansi diperoleh persamaan regresi linier y= (-0,114) + 0,022x dengan nilai r=0,994 yang
berarti garis pada kurva regresi linier membentuk garis lurus karena mendekati 1. Setelah
didapat persamaan regresi linier, dihitung Cp, Du, Du kumulatif, Du~Du kumulatif, log Du~Du
kumulatif, ∆T, T*, Du/dt, log Du/dt.
Setelah mendapatkan data-data diatas, dilakukan perhitungan T1/2 (waktu paruh) dan
Ke (kecepatan ekskresi) dari vitamin C 500 mg dengan metode sigma-minus atau ARE
(Amount of Drug Remaining to be Excreted) dan metode Ekskresi Renal. Kedua metode
tersebut menggunakan perhitungan dengan menghitung regresi linier terlebih dahulu. Metode
ARE menggunakan perhitungan regresi linier antara T (jam) dan log Du~Du kumulatif
sedangkan metode Ekskresi Renal menggunakan perhitungan regresi linier dengan data T*
dan 6,15) dan log Du/dt.
Pada metode ARE digunakan data T (jam) 0,25; 3,25 dan 4,75 dan untuk log Du~Du
kumulatifnya menggunakan 3,794; 3,535 dan 3,413 sehingga diperoleh hasil regresi liniernya
dengan a= 3,814, b= -0,085, dan r=-0,999. Hasil tersebut digunakan untuk menggambar garis
ARE pada kertas semilog, a merupakan intercept (perpotongan) di titik 3,814, b merupakan
slope (kemiringan) dimana kemiringan garis sedikit menurun (-0,085), dan r menunjukkan
apakah garis membentuk garis lurus atau tidak. Garis lurus ditunjukkan apabila hasil r
mendekati 1/-1 dan hasil r pada regresi data tersebut -0,999 (mendekati -1).
Sebelum menghitung Ke dan T1/2 diperlukan data k. K didapatkan dari slope (b),
dimana b mengikuti orde pertama (b= -k/2,303). Pada umumnya laju ekskresi obat melalui
ginjal bersama urin mengikuti orde pertama. Sehingga harga k yang didapat pada perhitungan
metode ARE yaitu 0,196/jam, dengan waktu paruh (T1/2) = 3,536 jam dan kecepatan ekskresi
(Ke) = 2,554 x 10-3/jam.
Sedangkan pada metode Ekskresi Renal menggunakan perhitungan regresi linier
dengan data T* (0,125; 2,875 dan 6,15) dan log Du/dt (3,710; 3,259 dan 2,902). Hasil regresi
linier yang diperoleh yaitu a= 3,697, b= -0,133, dan r = -0,993. Hasil tersebut digunakan untuk
menggambar garis pada kertas semilog, a merupakan intercept (perpotongan) di titik 3,697, b
merupakan slope (kemiringan) dimana kemiringan garis sedikit menurun (-0,133), dan r
menunjukkan apakah garis membentuk garis lurus atau tidak. Garis lurus ditunjukkan apabila
hasil r mendekati 1/-1 dan hasil r pada regresi data tersebut -0,993 (mendekati -1). Harga k
didapatkan dari slope (b) dimana b mengikuti orde pertama (b= -k/2,303). Sehingga harga k
yang didapat pada perhitungan metode Ekskresi Renal yaitu 0,306/jam, dengan waktu paruh
(T1/2) = 2,26 jam dan kecepatan ekskresi (Ke) = 9,95x 10-3/jam.
Perbedaan metode ARE dan metode Ekskresi Renal sebagai berikut :
METODE EKSKRESI RENAL METODE ARE

Tidak perlu Du~ Perlu Du~

Kehilangan sampel tidak berubah Kehilangan sampel berpengaruh pada Du~

Penting dalam pengosongan kandung kemih Pengosongan kandung kemih tidak berpengaruh

Bisa untuk orde 0 Tidak bisa untuk orde 0

Bisa untuk menghitung Ke (tetapan kecepatan Tidak bisa menghitung Ke


ekskresi) dari titik potong kurva

Asam Askorbat (vitamin C) memiliki waktu paruh kurang dari 2 jam, sedangkan hasil dari
praktikum menunjukkan bahwa waktu paruh dari Vitamin C berdasarkan data urin dengan metode
ARE yakni 3,536 jam, sedangkan untuk metode Ekskresi Renal yakni 2,26 jam. kedua metode
tersebut hasilnya hampir mendekati. Menurut Shargel dan Yu (2005) faktor-faktor tertentu dapat
mempersulit untuk mendapatkan data ekskresi urin yang sahih. Beberapa faktor tersebut adalah:
1. Suatu fraksi yang bermakna dari obat tidak berubah harus diekskresi dalam urin.
2. Teknik penetapan kadar harus spesifik untuk obat tidak berubah, dan harus tidak dipengaruhi
oleh metabolit-metabolit obat yang mempunyai struktur kimia yang serupa.
3. Diperlukan pengambilan cuplikan yang sering untuk mendapatkan gambaran kurva yang baik.
4. Cuplikan hendaknya dikumpulkan secara berkala sampai hampir semua obat diekskresi. Suatu
grafik dari kumulatif obat yang diekskresi vs waktu akan menghasilkan kurva yang mendekati
“asimtot” pada waktu yang tak berhingga. Dalam praktek diperlukan kurang lebih 7 t1/2
eliminasi untuk mengeliminasi 99% obat.
5. Perbedaan pH urin dan volume dapat menyebabkan perbedaan laju ekskresi urin yang
bermakna.

H. KESIMPULAN
1. Penentuan parameter farmakokinetika Vitamin C 500 mg pada sampel urin dilakukan
dengan metode sigma-minus atau ARE (Amount of Drug Remaining to be Excreted)
dan metode Ekskresi Renal.
2. Untuk metode ARE, didapatkan tetapan laju eliminasi (K) = 0,196/jam, dengan waktu
paruh (T1/2) = 3,536 jam dan kecepatan ekskresi (Ke) = 2,554 x 10-3/jam.
3. Sedangkan untuk metode Ekskresi Renal didapatkan tetapan laju eliminasi (K) =
0,306/jam, waktu paruh (T1/2) = 2,26 jam dan kecepatan ekskresi (Ke) = 9,95x 10 -
3
/jam.
4. Hasil perhitungan waktu paruh Vitamin C yang diperoleh pada metode ARE dan
metode Ekskresi Renal hampir mendekati dengan waktu paruh vitamin C pada literatur.
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, SD. 2017. " Kadar Protein Urin Menggunakan Uji Asam Asetat pada Mahasiswa
Pendidikan Biologi Semester VI FKIP UMS 2017” Vol 14 Nomor 1 Hal. 36-38.

BPOM. 2005. Pedoman Uji Bioekivalensi. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Brunton, Laurence L.2006. “Goodman And Gilman's The Pharmacological Basis Of Therapeutics,
11/e”. Mcg Graw-Hill : New York.

Ethel, S. 2003. “Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula”. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Hakim L. (2011), Farmakokinetik. Yogyakarta: Bursa Ilm

Natario, Dion. 2018.” Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) 2018; 4 (1): 26
– 35

Rustiani, E., Rokhmah, NN., Fatmi, M., 2011. “Penuntun Praktikum Farmakokinetik”. Universitas
Pakuan:Jakarta

Shargel, L., Pong, S.W., Yu, A.B.C., 2004, Applied Biopharmaceutics &
Pharmacokinetics, Fifth Edition, McGraw Hill’s, New York

Sherwood Lauralee, “Fisiologi manusia, Edisi 6”. 2011. Buku kedokteran : Jakarta

Anda mungkin juga menyukai