Anda di halaman 1dari 35

Mengenal Batubara

Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang memiliki riwayat
pemanfaatan yang sangat panjang. Beberapa ahli sejarah yakin bahwa batubara
pertama kali digunakan secara komersial di Cina. Ada laporan yang menyatakan bahwa
suatu tambang di timur laut Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga
dan untuk mencetak uang logam sekitar tahun 1000 SM. Bahkan petunjuk paling awal
tentang batubara ternyata berasal dari filsuf dan ilmuwan Yunani yaitu Aristoteles, yang
menyebutkan adanya arang seperti batu. Abu batu bara yang ditemukan di reruntuhan
bangunan bangsa Romawi di Inggris juga menunjukkan bahwa batubara telah
digunakan oleh bangsa Romawi pada tahun 400 SM. Catatan sejarah dari Abad
Pertengahan memberikan bukti pertama penambangan batu bara di Eropa, bahkan
suatu perdagangan internasional batu bara laut dari lapisan batu bara yang tersingkap
di pantai Inggris dikumpulkan dan diekspor ke Belgia. Selama Revolusi Industri pada
abad 18 dan 19, kebutuhan akan batubara amat mendesak. Penemuan revolusional
mesin uap oleh James Watt, yang dipatenkan pada tahun 1769, sangat berperan dalam
pertumbuhan penggunaan batu bara. Oleh karena itu, riwayat penambangan dan
penggunaan batu bara tidak dapat dilepaskan dari sejarah Revolusi Industri, terutama
terkait dengan produksi besi dan baja, transportasi kereta api dan kapal uap. Namun
tingkat penggunaan batubara sebagai sumber energi primer mulai berkurang seiring
dengan semakin meningkatnya pemakaian minyak. Dan akhirnya, sejak tahun 1960
minyak menempati posisi paling atas sebagai sumber energi primer menggantikan
batubara. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa batubara akhirnya tidak berperan
sama sekali sebagai salah satu sumber energi primer. Krisis minyak pada tahun 1973
menyadarkan banyak pihak bahwa ketergantungan yang berlebihan pada salah satu
sumber energi primer, dalam hal ini minyak, akan menyulitkan upaya pemenuhan
pasokan energi yang kontinyu. Selain itu, labilnya kondisi keamanan di Timur Tengah
yang merupakan produsen minyak terbesar juga sangat berpengaruh pada fluktuasi
harga maupun stabilitas pasokan. Keadaan inilah yang kemudian mengembalikan
pamor batubara sebagai alternatif sumber energi primer, disamping faktor – faktor
berikut ini:

1. Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas. Diperkirakan terdapat lebih
dari 984 milyar ton cadangan batubara terbukti (proven coal reserves) di
seluruh dunia yang tersebar di lebih dari 70 negara. Dengan asumsi tingkat
produksi pada tahun 2004 yaitu sekitar 4.63 milyar ton per tahun untuk
produksi batubara keras (hard coal) dan 879 juta ton per tahun untuk batubara
muda (brown coal), maka cadangan batubara diperkirakan dapat bertahan
hingga 164 tahun. Sebaliknya, dengan tingkat produksi pada saat ini, minyak
diperkirakan akan habis dalam waktu 41 tahun, sedangkan gas adalah 67 tahun.
Disamping itu, sebaran cadangannya pun terbatas, dimana 68% cadangan
minyak dan 67% cadangan gas dunia terkonsentrasi di Timur Tengah dan Rusia.
2. Negara – negara maju dan negara – negara berkembang terkemuka memiliki
banyak cadangan batubara. Berdasarkan data dari BP Statistical Review of
Energy 2004, pada tahun 2003, 8 besar negara – negara dengan cadangan
batubara terbanyak adalah Amerika Serikat, Rusia, China, India, Australia,
Jerman, Afrika Selatan, dan Ukraina.
3. Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan
yang stabil.
4. Harga batubara yang murah dibandingkan dengan minyak dan gas.
5. Batubara aman untuk ditransportasikan dan disimpan.
6. Batubara dapat ditumpuk di sekitar tambang, pembangkit listrik, atau lokasi
sementara.
7. Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.
8. Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.
9. Pengaruh pemanfaatan batubara terhadap perubahan lingkungan sudah
dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih (clean
coal technology) dapat dikembangkan dan diaplikasikan.

Melihat pemaparan di atas, dapat dimengerti bahwa peranan batubara dalam


penyediaan kebutuhan energi sangatlah penting.

Pembentukan Batubara

Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan
purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia
yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam
kategori bahan bakar fosil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara
tadi disebut dengan pembatubaraan (coalification).

Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda – beda sesuai dengan jaman geologi dan
lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan
(sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan
geologi yang berlangsung kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang
jenisnya bermacam – macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda – beda
sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).

Gambar 1. Proses Terbentuknya Batubara

(Sumber: Kuri-n ni Riyou Sareru Sekitan, 2004)


Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon (Carboniferous
Period) – dikenal sebagai zaman batu bara pertama – yang berlangsung antara 360 juta
sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh
suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai ‘maturitas
organik’. Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat), yang
selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (lignite) atau disebut pula batu bara
coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara dengan jenis maturitas organik
rendah. Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama
jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan yang secara bertahap
menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu bara sub-
bituminus (sub-bituminous). Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga
batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk
bituminus (bituminous) atau antrasit (anthracite). Dalam kondisi yang tepat,
peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga
membentuk antrasit.

Tabel 1. Contoh Analisis Batubara (daf based)

(Sumber: Sekitan no Kiso Chishiki)

Data – data di atas apabila ditampilkan dalam bentuk grafik hasilnya adalah sebagai
berikut:
Gambar 2. Hubungan Tingkat Pembatubaraan – Kadar Unsur Utama

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa semakin tinggi tingkat pembatubaraan, maka
kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang.
Karena tingkat pembatubaraan secara umum dapat diasosiasikan dengan mutu atau
kualitas batubara, maka batubara dengan tingkat pembatubaraan rendah – disebut pula
batubara bermutu rendah – seperti lignite dan sub-bituminus biasanya lebih lembut
dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat
kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga kandungan
energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras
dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya
pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan
energinya juga semakin besar.

Pemanfaatan Batubara

Klasifikasi batubara berdasarkan tingkat pembatubaraan biasanya menjadi indikator


umum untuk menentukan tujuan pengggunaannya. Misalnya, batubara ketel uap atau
batubara termal (steam coal) banyak digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik,
pembakaran umum seperti pada industri bata atau genteng, dan industri semen,
sedangkan batubara metalurgi (metallurgical coal atau coking coal) digunakan untuk
keperluan industri besi dan baja serta industri kimia. Kedua jenis batubara tadi
termasuk dalam batubara bituminus. Adapun batubara antrasit digunakan untuk proses
sintering bijih mineral, proses pembuatan elektroda listrik, pembakaran batu gamping,
dan untuk pembuatan briket tanpa asap.
Gambar 3. Jenis – jenis Batubara dan Pemanfaatannya

(Sumber: The Coal Resource, 2004)

Kualitas Batubara

Dalam pemanfaatannya, batubara harus diketahui terlebih dulu kualitasnya. Hal ini
dimaksudkan agar spesifikasi mesin atau peralatan yang memanfaatkan batubara
sebagai bahan bakarnya sesuai dengan mutu batubara yang akan digunakan, sehingga
mesin – mesin tersebut dapat berfungsi optimal dan tahan lama. Secara umum,
parameter kualitas batubara yang lazim digunakan adalah kalori, kadar kelembaban,
kandungan zat terbang, kadar abu, kadar karbon, kadar sulfur, ukuran, dan tingkat
ketergerusan, disamping parameter lain seperti analisis unsur yang terdapat dalam abu
(SiO2, Al2O3, P2O5,Fe2O3, dll), analisis komposisi sulfur (pyritic sulfur, sulfate sulfur,
organic sulfur), dan titik leleh abu (ash fusion temperature).

Mengambil contoh pembangkit listrik tenaga uap batubara, pengaruh – pengaruh


parameter di atas terhadap peralatan pembangkitan listrik adalah sebagai berikut:

1. Kalori (Calorific Value atau CV, satuan cal/gr atau kcal/kg)


CV sangat berpengaruh terhadap pengoperasian pulveriser/mill, pipa batubara
dan windbox, serta burner. Semakin tinggi CV maka aliran batubara setiap jam-
nya semakin rendah sehingga kecepatan coal feeder harus disesuaikan. Untuk
batubara dengan kadar kelembaban dan tingkat ketergerusan yang sama, maka
dengan CV yang tinggi menyebabkan pulveriser akan beroperasi di bawah
kapasitas normalnya (menurut desain), atau dengan kata lain operating ratio-
nya menjadi lebih rendah.
Gambar 4. Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara

(Sumber: The Coal Resource, 2004)

2. Kadar kelembaban (Moisture, satuan %)


Hasil analisis untuk kelembaban terbagi menjadi free moisture (FM) dan
inherent moisture (IM). Adapun jumlah dari keduanya disebut dengan total
moisture (TM). Kadar kelembaban mempengaruhi jumlah pemakaian udara
primernya. Batubara berkadar kelembaban tinggi akan membutuhkan udara
primer lebih banyak untuk mengeringkan batubara tersebut pada suhu yang
ditetapkan oleh output pulveriser.
3. Zat terbang (Volatile Matter atau VM, satuan %)
Kandungan VM mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas api.
Penilaian tersebut didasarkan pada perbandingan antara kandungan karbon
(fixed carbon) dengan zat terbang, yang disebut dengan rasio bahan bakar (fuel
ratio). Fuel Ratio = Fixed Carbon / Volatile Matter Semakin tinggi nilai fuel ratio
maka jumlah karbon di dalam batubara yang tidak terbakar juga semakin
banyak. Kemudian bila perbandingan tersebut nilainya lebih dari 1.2, pengapian
akan kurang bagus sehingga mengakibatkan kecepatan pembakaran menurun.
4. Kadar abu (Ash content, satuan %)
Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang bakar dan
daerah konversi dalam bentuk abu terbang (fly ash) yang jumlahnya mencapai
80% , dan abu dasar sebanyak 20%. Semakin tinggi kadar abu, secara umum
akan mempengaruhi tingkat pengotoran (fouling), keausan, dan korosi peralatan
yang dilalui.
5. Kadar karbon (Fixed Carbon atau FC, satuan %)
Nilai kadar karbon diperoleh melalui pengurangan angka 100 dengan jumlah
kadar air (kelembaban), kadar abu, dan jumlah zat terbang. Nilai ini semakin
bertambah seiring dengan tingkat pembatubaraan. Kadar karbon dan jumlah zat
terbang digunakan sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar,
yaitu berupa nilai fuel ratio sebagaimana dijelaskan di atas.
6. Kadar sulfur (Sulfur content, satuan %)
Kandungan sulfur dalam batubara terbagi dalam pyritic sulfur, sulfate sulfur, dan
organic sulfur. Namun secara umum, penilaian kandungan sulfur dalam batubara
dinyatakan dalam Total Sulfur (TS). Kandungan sulfur berpengaruh terhadap
tingkat korosi sisi dingin yang terjadi pada elemen pemanas udara, terutama
apabila suhu kerja lebih rendah dari pada titik embun sulfur, disamping
berpengaruh terhadap efektivitas penangkapan abu pada peralatan electrostatic
precipitator.
7. Ukuran (Coal size)
Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus (pulverized coal atau
dust coal) dan butir kasar (lump coal). Butir paling halus untuk ukuran
maksimum 3mm, sedangkan butir paling kasar sampai dengan ukuran 50mm.
8. Tingkat ketergerusan (Hardgrove Grindability Index atau HGI)
Kinerja pulveriser atau mill dirancang pada nilai HGI tertentu. Untuk HGI lebih
rendah, kapasitasnya harus beroperasi lebih rendah dari nilai standarnya pula
untuk menghasilkan tingkat kehalusan (fineness) yang sama.
Persyaratan Produk Dalam Transaksi Batubara

Dalam perdagangan komoditas batubara, faktor terpenting yang mengikat transaksi


antara pembeli dan penjual adalah kualitas batubara, dimana spesifikasi yang
disyaratkan oleh pembeli yang harus dipenuhi oleh penjual selalu tertulis dalam
kontrak kesepakatan pembelian. Di bawah ini ditampilkan contoh persyaratan produk
yang tercantum di dalam kontrak pembelian batubara yang akan dikirimkan ke pembeli
tertentu.

Gambar 1. Spesifikasi Batubara di Kontrak Pembelian

Kolom paling kanan dari gambar 1 di atas adalah satuan dari kualitas – kualitas yang
akan dinilai, yang besarnya tidak ditentukan secara pasti di angka tertentu. Mengapa
demikian? Karena sebagaimana jamak dipahami, kualitas batubara tidaklah seragam di
dalam satu lapangan penggalian, bahkan di dalam lapisan yang sama sekalipun. Kondisi
ini tidak lain disebabkan oleh karakteristik yang khas dari proses pembentukan
batubara itu sendiri .

Oleh karena itu, penjual biasanya akan melakukan pencampuran batubara (blending)
dari beberapa lokasi atau lapisan yang memiliki kualitas berbeda – beda sehingga
didapat angka rata – rata yang dikehendaki. Meskipun demikian, kemungkinan
timbulnya fluktuasi kualitas dari batubara yang terkirim ke konsumen tetaplah ada,
baik berupa over spec maupun under spec. Sehingga untuk mengakomodasi hal ini,
maka biasanya terdapat klausul berupa bonus dan penalti di dalam kontrak yang
disepakati oleh kedua belah pihak. Berikut ini adalah salah satu contoh ketentuan
tersebut.
Gambar 2. Ketentuan Penalti dan Bonus

Kemudian kalau kita perhatikan, kecuali Hardgrove Grindability Index (HGI) dan
ukuran, seluruh parameter kualitas dinilai berdasarkan standar tertentu, misalnya AR
atau ADB. Basis penilaian ini begitu penting karena menyangkut penyamaan persepsi
antara pembeli dan penjual terhadap produk batubara yang akan diperdagangkan.

Basis Penilaian Kualitas

Untuk mempermudah penjelasan, di bawah ini ditampilkan hubungan antara basis


analisis dikaitkan dengan keberadaan parameter yang menjadi dasar perhitungannya.
Gambar 3. Basis Analisis Batubara

(Sumber: Idemitsu Kosan Co., Ltd)

Dari gambar di atas, terlihat ada 5 jenis basis untuk analisis batubara yang dapat
diterapkan, yaitu ARB, ADB, DB, DAF, dan DMMF.

1. ARB (As Received Basis)

Sebagaimana arti harfiahnya, obyek analisis ini adalah batubara yang diterima
oleh pembeli seperti apa adanya. Dengan demikian, analisis pada basis ini juga
mengikutsertakan air yang menempel pada batubara yang diakibatkan oleh
hujan, proses pencucian batubara (coal washing), atau penyemprotan (spraying)
ketika di stock pile maupun saat loading. Air yang menempel di batubara karena
adanya perlakuan eksternal ini dikenal sebagai Free Moisture (FM).

Yang dimaksud penerimaan oleh pembeli (as received) disini bukan selalu
berarti penerimaan batubara di stock pile pembeli, tapi disesuaikan dengan
kontrak pembelian. Untuk kontrak FOB (Free on Board) misalnya, maka
penilaian kualitas pada basis ARB adalah pada saat berpindahnya hak
kepemilikan batubara di kapal atau tongkang. Pada kondisi ini, terkadang ARB
juga disebut dengan as loaded basis.

2. ADB (Air Dried Basis)

Pada kondisi ini, Free Moisture (FM) tidak diikutkan dalam analisis batubara.
Secara teknisnya, uji dan analisis dilakukan dengan menggunakan sampel uji
yang telah dikeringkan pada udara terbuka, yaitu sampel ditebar tipis pada suhu
ruangan, sehingga terjadi kesetimbangan dengan lingkungan ruangan
laboratorium, sebelum akhirnya diuji dan dianalisis.

Nilai analisis pada basis ini sebenarnya mengalami beberapa fluktuasi sesuai
dengan kelembaban ruangan laboratorium, yang dipengaruhi oleh musim dan
faktor cuaca lainnya. Akan tetapi bila dilihat secara jangka panjang dalam waktu
satu tahun misalnya, maka kestabilan nilai tertentu akan didapat. Disamping itu,
basis uji & analisis ini sangat praktis karena perlakuan pra pengujian terhadap
sampel adalah pengeringan alami sesuai suhu ruangan sehingga tidaklah
mengherankan bila standar ADB ini banyak dipakai di seluruh dunia.

3. DB (Dried Basis)

Tampilan dry basis menunjukkan bahwa hasil uji dan analisis dengan
menggunakan sampel uji yang telah dikeringkan di udara terbuka seperti di atas,
lalu dikonversikan perhitungannya untuk memenuhi kondisi kering.

4. DAF (Dried Ash Free)

Dry & ash free basis merupakan suatu kondisi asumsi dimana batubara sama
sekali tidak mengandung air maupun abu. Adanya tampilan dry & ash free basis
menunjukkan bahwa hasil analisis dan uji terhadap sampel yang telah
dikeringkan di udara terbuka seperti di atas, lalu dikonversikan perhitungannya
sehingga memenuhi kondisi tanpa abu dan tanpa air.

5. DMMF (Dried Mineral Matter Free)

Basis DMMF dapat diartikan pula sebagai pure coal basis, yang berarti batubara
diasumsikan dalam keadaan murni dan tidak mengandung air, abu, serta zat
mineral lainnya.

Untuk konversi perhitungan ke basis ini, maka besarnya zat – zat mineral harus
diketahui terlebih dulu. Dalam hal ini, perhitungan yang paling banyak digunakan
adalah persamaan parr, seperti ditunjukkan di bawah ini.

MM = 1.08A + 0.55S ………. (1)

Dimana

MM: Mineral matters (%)

A: Ash (%)

S: Sulfur (%).

Akan tetapi persamaan ini tidak dapat diterapkan untuk perhitungan yang teliti dari
setiap jenis batubara.
Dalam transaksi komoditas batubara, persyaratan kualitas yang umumnya tercantum
dalam kontrak pembelian adalah hasil analisis proksimat, yaitu TM, IM, Ash, VM, FC,
kemudian ditambah dengan kalori serta sulfur. Karena basis DMMF tidak pernah
digunakan untuk uji dan analisis parameter – parameter tadi, maka konversi – konversi
nilai kualitas yang muncul di tulisan ini selanjutnya akan dibatasi hanya pada 4 basis
saja, yaitu ARB, ADB, DB, dan DAF.

Konversi Hasil Analisis Batubara

Berikut ini disajikan hasil analisis terhadap salah satu sampel batubara yang berasal
dari daerah Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Tabel 1. Data analisis batubara

Menggunakan data di atas, kita akan mencoba mengkonversinya ke dalam basis – basis
analisis yang lain berdasarkan perhitungan di bawah ini.

Tabel 2. Formula konversi analisis batubara

(Sumber: Coal Convertion Facts, WCI, 2004)

Berdasarkan perhitungan konversi di atas, maka hasilnya adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Konversi Hasil Analisis Batubara


*Angka berhuruf tebal adalah data asli.

Untuk kalori akan dibahas lebih lanjut di bawah ini, karena parameter ini sangat vital
dalam transaksi batubara.

Kallori Dalam Transaksi Batubara

Dalam kontrak pembelian batubara, persyaratan kalori oleh sebagian besar konsumen
Jepang selama ini adalah GCV (Gross Calorific Value) dalam basis ADB. Akan tetapi,
belakangan ini sebagiannya mulai berubah ke GCV dalam basis ARB. Dan sebenarnya di
Eropa Barat, kontrak berbasis ARB untuk GCV ini sudah menjadi mayoritas dalam
transaksi batubara saat ini. Bahkan dalam perkembangannya, beberapa konsumen juga
mulai beralih ke persyaratan kalori dalam NCV (Net Calorific Value) berbasis ARB.

Perbedaan antara basis ADB dan ARB sudah dijelaskan di atas. Adapun apa yang
dimaksud dengan GCV dan NCV akan diterangkan di bawah ini.

Pada saat pembakaran batubara di boiler, air yang menempel di batubara (dalam hal ini
TM) serta air yang terbentuk dari persenyawaan hidrogen yang terkandung di dalam
batubara dan oksigen, akan berubah menjadi uap air setelah melalui proses pemanasan
dan penguapan. Karena tidak memberi nilai tambah apa pun dalam konversi ke energi
yang dapat dimanfaatkan selain untuk menguapkan air dalam batubara saja, maka kalor
yang digunakan untuk proses tadi disebut kalor laten. Jika kalor laten ini diikutsertakan
dalam analisis, maka kalori dalam batubara yang bersangkutan disebut dengan GCV
atau HHV (Higher Heating Value). Dan jika faktor kalor laten ditiadakan, maka disebut
dengan NCV atau LHV (Lower Heating Value). Hubungan antara GCV dan NCV
ditunjukkan oleh persamaan (dalam standar JIS) di bawah ini:

NCV (kcal/kg) = GCV (kcal/kg) – 6 (9 H + W) ………. (2)

Dimana,

H = kadar hidrogen (%) … analisis ultimat.

W = kadar air (%) … analisis proksimat.

Basis analisis untuk kalori, hidrogen, dan kadar air harus sama.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tampilan besaran kalori dalam NCV
menunjukkan kalor atau energi panas efektif yang terkandung dalam batubara yang
digunakan untuk konversi energi yang bermanfaat. Kemudian dari persamaan di atas
terlihat pula bahwa bila kandungan hidrogen dan kadar air dalam batubara sedikit,
maka selisih NCV dan GCV tidaklah terlalu signifikan. Perbedaan yang besar antara
kedua tampilan tadi akan muncul pada batubara muda yang masih memiliki kadar air
dan hidrogen yang banyak.
Dari paparan di atas maka persyaratan kalori dalam transaksi batubara dapat dibagi
menjadi 3, yaitu:

1. GAD (Gross CV; ADB)


Untuk kondisi ini, tampilan kalori cenderung tidak menunjukkan besaran kalor
secara tepat yang akan digunakan dalam pemanfaatan batubara, karena Free
Moisture tidak termasuk di dalamnya.
2. GAR (Gross CV; ARB)
Karena analisis untuk kalori pada kondisi ini memasukkan faktor kadar air total,
maka kondisi ini menunjukkan batubara dalam keadaan siap digunakan. Akan
tetapi, tampilan kalori masih belum menunjukkan kalor yang efektif untuk
dimanfaatkan dalam konversi energi yang bermanfaat.
3. NAR (Net CV; ARB)
Kondisi inilah yang benar – benar menampilkan energi panas efektif dalam
pemanfaatan batubara.

Secara ringkasnya, transaksi komoditas batubara (uap) sebenarnya sama saja dengan
“membeli kalor (efektif)”. Sehingga dapat dipahami bahwa munculnya prasyarat NAR
merupakan sesuatu yang logis. Untuk mendapatkan nilai GCV dalam NAR ini, perlu
dilakukan perhitungan dengan rumus seperti di bawah:

NAR (kcal/kg) = GAR (kcal/kg) – 50.7H – 5.83TM ………. (3)

Beberapa hal yang perlu di perhatikan dari persamaan di atas adalah:

- NAR adalah NCV dalam ARB.


- GAR adalah GCV dalam ARB. Karena biasanya dalam ADB, maka harus dikonversi
ke ARB.
- H (kadar hidrogen) biasanya dalam DB atau DAF sehingga harus dikonversi ke
ARB.

Menggunakan formula dari tabel 2 dan persamaan (3) diatas, kita akan mencoba
mengkonversi GCV dari sampel batubara dalam tabel 1 ke NCV berbasis ARB. Karena
pada sampel tersebut tidak dilakukan analisis untuk unsur H (hidrogen), maka besaran
angka yang akan digunakan disesuaikan dengan tipikal nilai H untuk batubara di daerah
tersebut, dalam hal ini sekitar 5.4 (DAF).

Untuk konversi kalori dari GCV (ADB) ke GCV (ARB), maka berdasarkan tabel 3, nilai
GCV (ARB) = 5,514 kcal/kg.

Sedangkan perhitungan dari H (DAF) ke H (ARB), maka berdasarkan formula pada tabel
2, nilai H (ARB) = 4.18%.

Bila angka – angka tersebut dimasukkan ke persaman (3), maka NCV (ARB) = 5,191
kcal/kg.

Dengan demikian, maka:


Gross ADB (GAD) = 5,766 kcal/kg;

Gross ARB (GAR) = 5,514 kcal/kg;

Net ARB (NAR) = 5,191 kcal/kg.

Yang harus diperhatikan adalah bahwa meskipun terdapat 3 nilai yang berbeda untuk
kalori, tapi semuanya merujuk ke batubara yang sama. Adapun angka mana yang akan
digunakan dalam kontrak pembelian, tergantung dari kesepakatan pembeli dan penjual.
Contoh konkret dalam hal ini adalah sebagai berikut.

Bila indeks harga untuk batubara berkalori 6,000 kcal/kg (GCV; ADB) adalah $35.00/t
FOBT misalnya, maka harga batubara di kontrak pembelian dalam Gross ADB
berdasarkan calorie parity adalah 5,766/6,000 X $35.00/t = $33.64/t.

Berikutnya bila kesepakatan kontrak pembelian adalah dalam Net ARB. Bila index untuk
batubara berkalori 6,000 kcal/kg tadi dalam Net ARB adalah 5,500 kcal/kg, maka harga
batubara akan menjadi 5,191/5,500 X $35.00/t = $ 33.03/t. (Dalam hal ini, harga index
tidak tergantung dari basis analisis).
Mengenal CBM ( COAL BED METHANE )

Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak, karena
permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas. Meskipun batubara berupa
benda padat dan terlihat seperti batu yang keras, tapi di dalamnya banyak sekali
terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala mikron, sehingga batubara
ibarat sebuah spon. Kondisi inilah yang menyebabkan permukaan batubara menjadi
sedemikian luas sehingga mampu menyerap gas dalam jumlah yang besar. Jika tekanan
gas semakin tinggi, maka kemampuan batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin
besar. Gas yang terperangkap pada batubara sebagian besar terdiri dari gas metana,
sehingga secara umum gas ini disebut dengan Coal Bed Methane atau disingkat CBM.
Dalam klasifikasi energi, CBM termasuk unconventional energy (peringkat 3), bersama-
sama dengan tight sand gas, devonian shale gas, dan gas hydrate. High quality gas
(peringkat 1) dan low quality gas (peringkat 2) dianggap sebagai conventional gas. Di
dalam lapisan batubara banyak terdapat rekahan (cleat), yang terbentuk ketika
berlangsung proses pembatubaraan. Melalui rekahan itulah air dan gas mengalir di
dalam lapisan batubara. Adapun bagian pada batubara yang dikelilingi oleh rekahan itu
disebut dengan matriks (coal matrix), tempat dimana kebanyakan CBM menempel pada
pori-pori yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, lapisan batubara pada target
eksplorasi CBM selain berperan sebagai reservoir, juga berperan sebagai source rock.
Gambar Prinsip produksi CBM CBM bisa keluar (desorption) dari matriks melalui
rekahan, dengan merendahkan tekanan air pada target lapisan. Hubungan antara
kuantitas CBM yang tersimpan dalam matriks terhadap tekanan dinamakan kurva
Langmuir Isotherm (proses tersebut berada pada suhu yang konstan terhadap
perubahan tekanan). Untuk memperoleh CBM, sumur produksi dibuat melalui
pengeboran dari permukaan tanah sampai ke lapisan batubara target. Karena di dalam
tanah sendiri lapisan batubara mengalami tekanan yang tinggi, maka efek penurunan
tekanan akan timbul bila air tanah di sekitar lapisan batubara dipompa (dewatering) ke
atas. Hal ini akan menyebabkan gas metana terlepas dari lapisan batubara yang
memerangkapnya, dan selanjutnya akan mengalir ke permukaan tanah melalui sumur
produksi tadi. Selain gas, air dalam jumlah yang banyak juga akan keluar pada proses
produksi ini. Mengenai pembentukan CBM, maka berdasarkan riset geosains organik
dengan menggunakan isotop stabil karbon bernomor masa 13, dapat diketahui bahwa
terdapat 2 jenis pola pembentukan. Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk
ketika terjadi perubahan kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang berlangsung
di kedalaman tanah. Ini disebut dengan proses thermogenesis. Sedangkan untuk CBM
pada lapisan brown coal (lignit) yang terdapat di kedalaman kurang dari 200m, gas
metana terbentuk oleh aktivitas mikroorganisme yang berada di lingkungan anaerob.
Ini disebut dengan proses biogenesis. Baik yang terbentuk secara thermogenesis
maupun biogenesis, gas yang terperangkap dalam lapisan batubara disebut dengan
CBM. Gambar Pembentukan CBM Kuantitas CBM berkaitan erat dengan peringkat
batubara, yang makin bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile
bituminous, lalu berkurang hingga antrasit. Tentu saja kuantitas gas akan semakin
banyak jika lapisan batubaranya semakin tebal. Dari penelitian Steven dan Hadiyanto,
2005, (IAGI special publication) ada 11 cekungan batubara (coal basin) di Indonesia
yang memiliki CBM, dengan 4 besar urutan cadangan sebagai berikut: 1. Sumsel (183
Tcf), 2. Barito (101.6 Tcf), 3. Kutai (80.4 Tcf), 4. Sum-Tengah (52.5 Tcf). Dengan kata lain
sumber daya CBM di Sumsel sama dengan total (conventional) gas reserves di seluruh
Indonesia. Terkait potensi CBM ini, ada 2 hal yang menarik untuk diperhatikan:
Pertama, jika ada reservoir conventional gas (sandstone) dan reservoir CBM (coal) pada
kedalaman, tekanan, dan volume batuan yang sama, maka volume CBM bisa mencapai 3
– 6 kali lebih banyak dari conventional gas. Dengan kata lain, CBM menarik secara
kuantitas. Kedua, prinsip terkandungnya CBM adalah adsorption pada coal matrix,
sehingga dari segi eksplorasi faktor keberhasilannya tinggi, karena CBM bisa terdapat
pada antiklin maupun sinklin. Secara mudahnya dapat dikatakan bahwa ada batubara
ada CBM. Produksi CBM & Teknologi Pengeboran Pada metode produksi CBM secara
konvensional, produksi yang ekonomis hanya dapat dilakukan pada lapisan batubara
dengan permeabilitas yang baik. Tapi dengan kemajuan teknik pengontrolan arah pada
pengeboran, arah lubang bor dari permukaan dapat ditentukan dengan bebas, sehingga
pengeboran memanjang dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan. Seperti
ditunjukkan oleh gambar di bawah, produksi gas dapat ditingkatkan volumenya melalui
satu lubang bor dengan menggunakan teknik ini. Gambar Teknik produksi CBM Teknik
ini juga memungkinkan produksi gas secara ekonomis pada suatu lokasi yang selama ini
tidak dapat diusahakan, terkait permeabilitas lapisan batubaranya yang jelek. Sebagai
contoh adalah apa yang dilakukan di Australia dan beberapa negara lain, dimana
produksi gas yang efisien dilakukan dengan sistem produksi yang mengkombinasikan
sumur vertikal dan horizontal, seperti terlihat pada gambar di bawah. Gambar. Produksi
CBM dengan sumur kombinasi Lebih jauh lagi, telah muncul pula ide berupa sistem
produksi multilateral, yakni sistem produksi yang mengoptimalkan teknik pengontrolan
arah bor. Lateral yang dimaksud disini adalah sumur (lubang bor) yang digali arah
horizontal, sedangkan multilateral adalah sumur horizontal yang terbagi-bagi menjadi
banyak cabang. Pada produksi yang lokasi permukaannya terkendala oleh keterbatasan
instalasi fasilitas akibat berada di pegunungan misalnya, maka biaya produksi
memungkinkan untuk ditekan bila menggunakan metode ini. Secara praktikal, misalnya
dengan melakukan integrasi fasilitas permukaan. Catatan: Teknik pengontrolan arah
bor Teknik pengeboran yang menggunakan down hole motor (pada mekanisme ini,
hanya bit yang terpasang di ujung down hole motor saja yang berputar, melalui kerja
fluida bertekanan yang dikirim dari permukaan) dan bukan mesin bor rotary (pada
mekanisme ini, perputaran bit disebabkan oleh perputaran batang bor atau rod) yang
selama ini lazim digunakan, untuk melakukan pengeboran sumur horizontal dll dari
permukaan. Pada teknik ini, alat yang disebut MWD (Measurement While Drilling)
terpasang di bagian belakang down hole motor, berfungsi untuk memonitor arah lubang
bor dan melakukan koreksi arah sambil terus mengebor. Gambar Pengontrolan arah bor
ECBM (Enhanced Coal Bed Methane Recovery) adalah teknik untuk meningkatkan
keterambilan CBM. Pada teknik ini, gas injeksi yang umum digunakan adalah N dan CO2.
Disini, hasil yang diperoleh sangat berbeda tergantung dari gas injeksi mana yang
digunakan. Gambar di bawah ini menunjukkan produksi CBM dengan menggunakan gas
injeksi N dan CO2. Gambar ECBM dengan N dan CO2 Bila N yang digunakan, hasilnya
segera muncul sehingga volume produksi juga meningkat. Akan tetapi, karena N dapat
mencapai sumur produksi dengan cepat, maka volume produksi secara keseluruhan
justru menjadi berkurang. Ketika N diinjeksikan ke dalam rekahan (cleat), maka kadar
N di dalamnya akan meningkat. Dan karena konsentrasi N di dalam matriks adalah
rendah, maka N akan mengalir masuk ke matriks tersebut. Sebagian N yang masuk ke
dalam matriks akan menempel pada pori-pori. Oleh karena jumlah adsorpsi N lebih
sedikit bila dibandingkan dengan gas metana, maka matriks akan berada dalam kondisi
jenuh (saturated) dengan sedikit N saja. Gambar Tingkat adsorpsi gas Gambar.
Substitusi gas injeksi pada matriks batubara Namun tidak demikian dengan CO2. Gas ini
lebih mudah menempel bila dibandingkan dengan gas metana, sehingga CO2 akan
menghalau gas metana yang menempel pada pori-pori. CO2 kemudian segera saja
banyak menempel di tempat tersebut. Dengan demikian, di dalam matriks akan banyak
terdapat CO2 sehingga volume gas itu yang mengalir melalui cleat lebih sedikit bila
dibandingkan dengan N. Akibatnya, CO2 memerlukan waktu yang lebih lama untuk
mencapai sumur produksi. Selain itu, karena CO2 lebih banyak mensubstitusi gas
metana yang berada di dalam matriks, maka tingkat keterambilan (recovery) CBM juga
meningkat. 2. Calon Pembeli Sudah Ada ! Beberapa waktu yang lalu, Kami mencoba
menawarkan sample Batu bara yang kami ambil dari lokasi kecamatan Kisam Tinggi
Kabupaten OKU Selatan. Sampel tersebut Kami tawarkan ke PT. Semen Baturaja, yang
menurut fihak PT. Semen, batubara adalah merupakan bahan bakar pokok dalam proses
produksi semen. Sampel tersebut diteliti di laboraturium PT. Semen Baturaja dan fihak
PT. Berdasarkan hasil pengetesan tersebut PT. Semen Baturaja bersedia menerima
kontrak pengadaan batubara sebesar 3000 MTon perbulan dengan harga Rp. 360.000,-
sd. Rp 450.000,- yang dapat di negosiasikan sesuai dengan masing-masing kadar kalori
dan mineral ikutan dari batubara yang ada.. Melihat peluang ini, Kami membentuk tim
dan melakukan berbagai penelitian dan pengumpulan data sebagaimana yang kami
paparkan secara tertulis di profosal ini. Namun keterbatasan kapasitas produksi untuk
satu unit usaha penambangan rakyat memungkinkan besaran kontrak hanya 1000
Metrix Ton per bulan per satu unit usaha. 3. Izin Usaha Penambangan Dalam undang
Undang no 4 tahun 2009, tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Usaha
pertambangan dilakukan berdasarkan : a. IUP, Izin Usaha Penambangan b. IPR, Izin
Penambanan Rakyat, atau c. IUPK, Izin Usaha Penambangan Khusus IUP, IPR, atau IUPK
diberikan dalam WIUP untuk IUP, WPR untuk IPR, atau WIUPK untuk IUPK. WIUP
berada dalam WUP yang ditetapkan oleh Menteri. WPR ditetapkan oleh
bupati/walikota. WIUPK berada dalam WUPK yang ditetapkan oleh Menteri. WUP, WPR,
atau WUPK , berada dalam WP. 4. Wilayah Pertambangan Rakyat ( WPR )
Bupati/walikota menyusun rencana penetapan suatu wilayah di dalam WP menjadi
WPR berdasarkan peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud
dalam serta peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara. WPR harus memenuhi
kriteria: a. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau
diantara tepi dan tepi sungai; b. mempunyai cadangan primer logam atau batubara
dengan kedalaman maksimal 25 (dua puluh lima) meter; c. merupakan endapan teras,
dataran banjir, dan endapan sungai purba; d. luas maksimal WPR sebesar 25 (dua puluh
lima) hektare; e. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; f. merupakan
wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan sekurang-
kurangnya 15 (lima belas) tahun; g. tidak tumpang tindih dengan WUP dan WPN; dan h.
merupakan kawasan peruntukan pertambangan sesuai dengan rencana tata ruang.
Wilayah di dalam WP yang memenuhi kriteria ditetapkan menjadi WPR oleh
bupati/walikota setempat setelah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota. Koordinasi
untuk mendapatkan pertimbangan berkaitan dengan data dan informasi yang dimiliki
pemerintah provinsi yang bersangkutan. 5. Izin Pertambangan Rakyat ( IPR ) IPR
diberikan oleh bupati/walikota berdasarkan permohonan yang diajukan oleh penduduk
setempat, baik orang perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi.
IPR diberikan setelah ditetapkan WPR oleh bupati/walikota. Dalam 1 (satu) WPR dapat
diberikan 1 (satu) atau beberapa IPR. Setiap usaha pertambangan rakyat pada WPR
dapat dilaksanakan apabila telah mendapatkan IPR. Untuk mendapatkan IPR, pemohon
harus memenuhi: v persyaratan administratif; v persyaratan teknis; dan v persyaratan
finansial. Persyaratan administratif untuk: a. orang perseorangan, paling sedikit
meliputi: v surat permohonan; v kartu tanda penduduk; v komoditas tambang yang
dimohon; dan v surat keterangan dari kelurahan/desa setempat. b. kelompok
masyarakat, paling sedikit meliputi: v surat permohonan; v komoditas tambang yang
dimohon; dan v surat keterangan dari kelurahan/desa setempat. c. koperasi setempat,
paling sedikit meliputi: v surat permohonan; v nomor pokok wajib pajak; v akte
pendirian koperasi yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang; v komoditas
tambang yang dimohon; dan v surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
Persyaratan teknis berupa surat pernyataan yang memuat paling sedikit mengenai: a.
sumuran pada IPR paling dalam 25 (dua puluh lima) meter; b. menggunakan pompa
mekanik, penggelundungan atau permesinan dengan jumlah tenaga maksimal 25 (dua
puluh lima) horse power untuk 1 (satu) IPR; dan c. tidak menggunakan alat berat dan
bahan peledak. Persyaratan finansial berupa laporan keuangan 1 (satu) tahun terakhir
dan hanya dipersyaratkan bagi koperasi setempat 6. Ruang Lingkup Kegiatan
Pertambangan/tahapan penambangan. Kegiatan pertambangan pada umumnya
memiliki tahap-tahap kegiatan sebagai berikut: Eksplorasi Kegiatan eksplorasi tidak
termasuk kedalam kajian studi AMDAL karena merupakan rangkaian kegiatan survey
dan studi pendahuluan yang dilakukan sebelum berbagai kajian kelayakan dilakukan.
Yang termasuk sebagai kegiatan ini adalah pengamatan melalui udara, survey geofisika,
studi sedimen di aliran sungai dan studi geokimia yang lain, pembangunan jalan akses,
pembukaan lahan untuk lokasi test pengeboran, pembuatan landasan pengeboran dan
pembangunan anjunganpengeboran. Penyelidikan / survey seismik refraksi : -
Pemetaan geologi / litologi - Studi struktur basement dan puncak-puncak reef (gamping
terumbu) - Intrusi garam dome - Hidrogeologi, ketebalan aqifer - Analisa patahan - Studi
pondasi dalam Teknik Sipil berdasarkan elastisitas batuan (terutama untuk bangunan,
jembatan, bendungan) - Menunjang dalam perhitungan biaya geoteknik dan
pertambangan serta melengkapi informasi metode-metode geofisika lainnya
Penyelidikan / survey seismik refleksi : - Studi struktur-struktur geologi bawah
permukaan - Deteksi litologi dan batas-batas stratigrafi - Hidrokarbon, gas bumi
Penyelidikan / survey geolistrik : - Eksplorasi mineral, terutama mineral bijih dan
penyebarannya - Eksplorasi minyak dan gas bumi - Evaluasi cekungan sedimen -
Pemetaan bedrock untuk geoteknik - Pemetaan lapisan tanah penutup untuk konstruksi
dan pertambangan bawah tanah - Penyelidikan geohidrologi tentang salinitas dan
porositas - Eksplorasi geothermal Penyelidikan / survey logging : - Penyebaran lapisan
batuan secara lateral dan vertikal - Penentuan ketebalan lapisan aqifer - Menentukan
densitas batuan - Menentukan ketebalan lapisan batuan - Menentukan struktur geologi
dibawah permukaan (patahan/sesar) Pemetaan Geologi/Alterasi Pemetaan geologi
merupakan suatu kegiatan pendataan informasi-informasi geologi permukaan dan
menghasilkan suatu bentuk laporan berupa peta geologi yang dapat memberikan
gambaran mengenai penyebaran dan susunan batuan (lapisan batuan), serta memuat
informasi gejala-gejala struktur geologi yang mungkin mempengaruhi pola penyebaran
batuan pada daerah tersebut. Selain pemetaan informasi geologi, pada kegiatan ini juga
sekaligus memetakan tanda-tanda mineralisasi yang berupa alterasi mineral. contoh
peta geologi (formasi batuan) Tingkat ketelitian dan nilai dari suatu peta geologi sangat
tergantung pada informasi-informasi pengamatan lapangan dan skala pengerjaan peta.
Skala peta tersebut mewakili intensitas dan kerapatan data singkapan yang diperoleh
yang diperoleh. Tingkat ketelitian peta geologi ini juga dipengaruhi oleh tahapan
eksplorasi yang dilakukan. Pada tahap eksplorasi awal, skala peta 1 : 25.000 mungkin
sudah cukup memadai, namun pada tahap prospeksi s/d penemuan, skala peta geologi
sebaiknya 1 : 10.000 s/d 1 : 2.500. Pada tahapan eksplorasi awal, pengumpulan data
(informasi singkapan) dapat dilakukan dengan menggunakan palu dan kompas geologi,
serta penentuan posisi melalui orientasi lapangan atau dengan cara tali-kompas. Namun
dalam tahapan eksplorasi lanjut s/d detail, pengamatan singkapan dapat diperluas
dengan menggunakan metode-metode lain seperti uji sumur, uji parit, maupun bor
tangan atau auger, sedangkan penentuan posisi dilakukan dengan menggunakan alat
ukur permukaan seperti pemetaan dengan plane table atau denganteodolit. Singkapan
Informasi-informasi geologi permukaan tersebut pada umumnya diperoleh melalui
pengamatan (deskripsi) singkapan-singkapan batuan. Singkapan dapat didefinisikan
sebagai bagian dari tubuh batuan/urat/badan bijih yang tersingkap (muncul) di
permukaan akibat adanya erosi (pengikisan) lapisan tanah penutupnya. Contoh
singkapan Batubara Singkapan-singkapan tersebut dapat ditemukan (dicari) pada
bagian-bagian permukaan yang diperkirakan mempunyai tingkat erosi/pengikisan yang
tinggi, seperti : Pada puncak-puncak bukit, dimana pengikisan berlangsung intensif.
Pada aliran sungai, dimana arus sungai mengikis lapisan tanah penutup. Pada dinding
lembah, dimana tanah dapat dikikis oleh air limpasan. Pada bukaan-bukaan akibat
aktivitas manusia, seperti tebing jalan, sumur penduduk, atau pada parit-parit jalan,
tambang yang sudah ada. Pengamatan-pengamatan yang dapat dilakukan pada suatu
singkapan antara lain : Pengukuran jurus dan kemiringan (strike & dip) lapisan yang
tersingkap. Pengukuran dan pengamatan struktur-struktur geologi (minor atau major)
yang ada. Pemerian (deskripsi) singkapan, meliputi kenampakan megaskopis, sifat-sifat
fisik, tekstur, mineral-mineral utama/sedikit/aksesoris, fragmen-fragmen, serta
dimensi endapan. Lintasan (traverse) Dalam melakukan pemetaan geologi yang
sistematis, dibutuhkan lintasan-lintasan pengamatan yang dapat mencakup seluruh
daerah pemetaan. Perencanaan lintasan tersebut sebaiknya dilakukan setelah
gambaran umum seperti kondisi geologi regional dan geomorfologi daerah diketahui,
agar lintasan yang direncanakan tersebut efektif danrepresentatif. Pada prinsipnya,
lintasan-lintasan yang dibuat pada aliran-aliran sungai atau jalur-jalur kikisan yang
memotong arah umum perlapisan, dengan tujuan dapat memperoleh variasi litologi
(batuan). Kadang-kadang juga diperlukan lintasan-lintasan yang searah dengan jurus
umum perlapisan dengan tujuan dapat mengetahui kemenerusan lapisan. Secara umum
lintasan (traverse) pemetaan ada 2 (dua), yaitu lintasan terbuka dan lintasan tertutup.
Lintasan terbuka mempunyai titik awal dan titik akhir yang tidak sama, sedangkan
lintasan tertutup bersifat loop (titik awal dan titik akhir sama). Namun yang perlu
(penting) diperhatikan, informasi-informasi yang diperoleh dari lintasan-lintasan yang
dibuat dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan korelasi (interpretasi) batas
satuan-satuan litologi. Selain itu, ada juga metode pemetaan yang dikenal sebagai
lintasan kompas dan pengukuran penampang stratigrafi. Lintasan kompas (measured
section atau tali kompas) dilakukan dengan tujuan membuat penampang (topografi dan
litologi) di sepanjang lintasan. Sedangkan pengukuran penampang stratigrafi dilakukan
untuk mengetahui ketebalan, struktur perlapisan, variasi satuan litologi, atau
mineralisasi dengan detail (rinci). Umumnya pengukuran penampang stratigrafi
dilakukan pada salah satu lintasan kompas yang dianggap paling lengkap memuat
informasi litologi keseluruhan wilayah. Interpretasi dan informasi data Informasi-
informasi yang dapat dipelajari atau dihasilkan dari kegiatan pemetaan geologi/alterasi
antara lain : Posisi atau letak singkapan (batuan, urat, atau batubara). Penyebaran, arah,
dan bentuk permukaan dari endapan, bijih, atau batubara. Penyebaran dan pola alterasi
yang ada. Variasi, kedudukan, kontak, dan ketebalan satuan litologi (stratigrafi atau
formasi). Struktur geologi yang mempengaruhi kondisi geologi daerah. Informasi-
informasi pendukung lainnya seperti geomorfologi, kondisi geoteknik dan hidrologi.
Bangunan-bangunan, dll. Sedangkan dalam melakukan interpretasi tersebut, beberapa
kaidah dasar geologi perlu diperhatikan, antara lain : Efek fisiografis ; berhubungan
dengan topografi dan morfologi. Zona-zona mineralogis ; berhubungan dengan batas
zona endapan/bijih, zona pelapukan, dan zona (penyebaran) alterasi. Aspek stratigrafi
dan litologi ; berhubungan dengan perlapisan batuan, zona-zona intrusi, dan proses
sedimentasi. Aspek struktur ; berhubungan dengan ketidak selarasan, patahan, lipatan,
zona kekar, kelurusan-kelurusan, dll. Dari hasil pemetaan geologi/alterasi yang baik,
maka dapat memberikan manfaat antara lain : Daerah (zona) pembawa bijih (zona
endapan) dapat diketahui (diperkirakan). Dapat disusun model geologi endapan yang
bersangkutan. Pekerjaan eksplorasi yang berlebihan (di luar zona bijih/endapan) dapat
dihindarkan (efisiensi). Daerah-daerah yang belum dieksplorasi (dipelajari) dapat
diketahui dengan pasti. Ganbar dibawah inj menunjukkan hasil interpretasi pemetaan
geologi berupa peta dan penampang geologi dari data pengamatan singkapan di
lapangan. Metode Eksplorasi Langsung Berdasarkan pada sifat penyelidikan dan
pendekatan teknologi yang digunakan, maka kegiatan eksplorasi secara umum dapat
dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu eksplorasi tak langsung dan eksplorasi langsung.
Metode eksplorasi langsung mempunyai pengertian bahwa pengamatan dapat
dilakukan dengan kontak visual dan fisik dengan kondisi permukaan/bawah
permukaan, terhadap endapan yang dicari, serta dapat dilakukan deskripsi
megaskopis/mikroskopis, pengukuran, dan sampling terhadap objek yang dianalisis.
Begitu juga dengan interpretasi yang dilakukan, dapat berhubungan langsung dengan
fakta-fakta dari hasil pengamatan lapangan. Metode eksplorasi langsung ini dapat
dilakukan (diterapkan) pada sepanjang kegiatan eksplorasi (tahap awal s/d detail).
Beberapa metode (aspek) yang akan dipelajari sehubungan dengan Metode Eksplorasi
Langsung ini adalah : Pemetaan geologi/alterasi. Tracing float, paritan, dan sumur uji.
Sampling (pengambilan dan preparasi conto). Pemboran eksplorasi dan sampling
pemboran. Tracing Float, Paritan, dan Sumur Uji Beberapa metode (aspek) yang akan
dipelajari sehubungan dengan Metode Eksplorasi Langsung ini adalah : Pemetaan
geologi/alterasi. Tracing float, paritan, dan sumur uji. Sampling (pengambilan dan
preparasi conto). Pemboran eksplorasi dan sampling pemboran. Selain pemetaan
geologi melalui pengamatan (pendiskripsian) singkapan, penyusuran (pencarian) lokasi
endapan bijih dapat juga dilakukan dengan tracing float, paritan atau sumur uji. Secara
teoritis, dengan melakukan kombinasi kegiatan antara pemetaan geologi, tracing float,
paritan, dan sumur uji dengan mengumpulkan petunjuk-petunjuk ke arah bijih, maka
lokasi endapan dapat diketahui (ditemukan). Tracing float Float adalah fragmen-
fragmen atau pecahan-pecahan (potongan-potongan) dari badan bijih yang lapuk dan
tererosi. Akibat adanya gaya gravitasi dan aliran air, maka float ini ditransport ke
tempat-tempat yang lebih rendah (ke arah hilir). Pada umumnya, float ini banyak
terdapat pada aliran sungai-sungai. Tracing (penjejakan = perunutan) float ini pada
dasarnya merupakan kegiatan pengamatan pada pecahan-pecahan (potongan-
potongan) batuan seukuran kerakal s/d boulder yang terdapat pada sungai-sungai,
dengan asumsi bahwa jika terdapat pecahan-pecahan yang mengandung mineralisasi,
maka sumbernya adalah pada suatu tempat di bagian hulu dari sungai tersebut. Dengan
berjalan ke arah hulu, maka diharapkan dapat ditemukan asal dari pecahan (float)
tersebut. Intensitas, ukuran, dan bentuk butiran float yang mengandung mineralisasi
(termineralisasi) dapat digunakan sebagai indikator untuk menduga jarak float
terhadap sumbernya. Selain itu sifat dan karakteristik sungai seperti kuat arus, banjir,
atau limpasan juga dapat menjadi faktor pendukung. Selain dengan tracing float, dapat
juga dilakukan tracing dengan pendulangan (tracing with panning). Pada tracing float,
material yang menjadi panduan berukuran kasar (besar), sedangkan dengan
menggunakan dulang ditujukan untuk material-material yang berukuran halus (pasir
s/d kerikil). Secara konseptual tracing dengan pendulangan ini mirip dengan tracing
float. Sketsa konseptual pengerjaan metode tracing float dan tracing with panning
Informasi-informasi yang perlu diperhatikan adalah : Peta jaringan sungai. Titik-titik
(lokasi) pengambilan float. Titik-titik informasi dimana float termineralisasi/tidak
termineralisasi. Titik-titik informasi kuantitas dan kualitas float. Lokasi dimana float
mulai hilang. Pada lokasi dimana float mulai hilang, dapat diinterpretasikan bahwa zona
sumber float telah terlewati, sehingga konsentrasi penelitian selanjutnya dapat
dilakukan pada daerah dimana float tersebut mulai hilang. Secara teoritis, pada daerah
dimana float tersebut hilang dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan
uji paritan&ujisumuran. Trenching (pembuatan paritan) Trenching (pembuatan
paritan) merupakan salah satu cara dalam observasi singkapan atau dalam pencarian
sumber (badan) bijih/endapan. Pada pengamatan (observasi) singkapan, paritan uji
dilakukan dengan cara menggali tanah penutup dengan arah relatif tegak lurus bidang
perlapisan (terutama pada endapan berlapis). Informasi yang diperoleh antara lain ;
jurus bidang perlapisan, kemiringan lapisan, ketebalan lapisan, karakteristik perlapisan
(ada split atau sisipan), serta dapat sebagai lokasi sampling. Sedangkan pada pencarian
sumber (badan) bijih, parit uji dibuat berupa series dengan arah paritan relatif tegak
lurus terhadap jurus zona badan bijih, sehingga batas zona bijih tersebut dapat
diketahui (lihat Gambar). Informasi yang dapat diperoleh antara lain ; adanya zona
alterasi, zona mineralisasi, arah relatif (umum) jurus dan kemiringan, serta dapat
sebagai lokasi sampling. Dengan mengkorelasikan series paritan uji tersebut
diharapkan zona bijih/minerasisasi/badan endapan dapat diketahui. Pembuatan
trenching (paritan) ini dilakukan dengan kondisi umum sebagai berikut : Terbatas pada
overburden yang tipis, Kedalaman penggalian umumnya 2–2,5 m (dapat dengan tenaga
manusia atau dengan menggunakan eksavator/back hoe), Pada kondisi lereng (miring)
dapat dibuat mulai dari bagian yang rendah, sehingga dapat terjadi mekanisme self
drainage (pengeringan langsung). Test pit (sumur uji) Test pit (sumur uji) merupakan
salah satu cara dalam pencarian endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam
arah vertikal.. Sumur uji ini umum dilakukan pada eksplorasi endapan-endapan yang
berhubungan dengan pelapukan dan endapan-endapan berlapis. Pada endapan berlapis,
pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah
kemiringan, variasi litologi atap dan lantai, ketebalan lapisan, dan karakteristik variasi
endapan secara vertikal, serta dapat digunakan sebagai lokasi sampling (lihat Gambar).
Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai menembus keseluruhan lapisan
endapan yang dicari, misalnya batubara dan mineralisasi berupa urat (vein). Pada
endapan yang berhubungan dengan pelapukan (lateritik atau residual), pembuatan
sumur uji ditujukan untuk mendapatkan batas-batas zona lapisan (zona tanah, zona
residual, zona lateritik), ketebalan masing-masing zona, variasi vertikal masing-masing
zona, serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan bentuk endapan. Sumur
uji dibuat dengan besar lubang bukaan 3–5 m dengan kedalaman bervariasi sesuai
dengan tujuan pembuatan sumur uji. Pada endapan lateritik atau residual, kedalaman
sumur uji dapat mencapai 30 m . Sketsa pembuatan sumur uji Dalam pembuatan sumur
uji tersebut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : ketebalan horizon B (zona
laterit/residual), ketinggian muka airtanah, kemungkinan munculnya gas-gas
berbahaya (CO2, H2S), kekuatan dinding lubang, dan kekerasan batuan dasar.
Pembangunan infrastruktur jalan akses dan pembangkit energi Kegiatan pembangunan
infrastruktur meliputi pembuatan akses di dalam daerah tambang, pembangunan
fasilitas penunjang pertambangan, akomodasi tenaga kerja, pembangkit energi baik
untuk kegiatan konstruksi maupun kegiatan operasi dan pembangunan pelabuhan.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah pembangunan sistem pengangkutan di kawasan
tambang (misalnya : crusher, ban berjalan, rel kereta, kabel gantung, sistem perpipaan
untuk mengangkut tailing atau konsentrat bijih). Dampak lingkungan, sosial dan
kesehatan yang ditimbulkan oleh kegiatan ini dapat bersifat sangat penting dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : Letak dan lokasi tambang terhadap
akses infrastruktur dan sumber energi. Jumlah kegiatan konstruksi dan tenaga kerja
yang diperlukan serta tingkat migrasi pendatang. Letak kawasan konsensi terhadap
kawasan lindung dan habitat alamiah, sumber air bersih dan badan air, pemukiman
penduduk setempat dan tanah yang digunakan oleh masyarakat adat. Tingkat
kerawanan kesehatan penduduk setempat dan pekerja terhadap penyakit menular
seperti malaria, AIDS, schistosomiasis. Pembangunan Pemukiman Karyawan Dan Base
Camp Pekerja Kebutuhan tenaga kerja dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk kegiatan
pertambangan seringkali tidak dapat dipenuhi dari penduduk setempat. Tenaga kerja
trampil perlu didatangkan dari luar, dengan demikian diperlukan pembangunan
infrastruktur yang sangat besar. Jika jumlah sumberdaya alam dan komponen-
komponen lingkungan lainnya sangat terbatas sehingga tidak dapat memenuhi
kebutuhan pendatang, sumberdaya alam akan mengalami degradasi secara cepat.
Akibatnya akan terjadi konflik sosial karena persaingan pemanfaatan sumber daya
alam. Sebagai contoh, kegiatan pertambangan seringkali dikaitkan dengan kerusakan
hutan, kontaminasi dan penurunan penyediaan air bersih, musnahnya hewan liar dan
perdagangan hewan langka, serta penyebaran penyakit menular. Ekstraksi dan
Pembuangan Limbah Batuan Diperkirakan lebih dari 2/3 kegiatan ekstaksi bahan
mineral didunia dilakukan dengan pertambangan terbuka. Teknik tambang terbuka
biasanya dilakukan dengan open-pit mining, strip mining, dan quarrying, tergantung
pada bentuk geometris tambang dan bahan yang digali. Ekstrasi bahan mineral dengan
tambang terbuka sering menyebabkan terpotongnya puncak gunung dan menimbulkan
lubang yang besar. Salah satu teknik tambang terbuka adalah metode strip mining
(tambang bidang). Dengan menggunakan alat pengeruk, penggalian dilakukan pada
suatu bidang galian yang sempit untuk mengambil mineral. Setelah mineral diambil,
dibuat bidang galian baru di dekat lokasi galian yang lama. Batuan limbah yang
dihasilkan digunakan untuk menutup lubang yang dihasilkan oleh galian sebelumnya.
Teknik tambang seperti ini biasanya digunakan untuk menggali deposit batubara yang
tipis dan datar yang terletak didekat permukaan tanah. Teknik pertambangan quarrying
bertujuan untuk mengambil batuan ornamen, bahan bangunan seperti pasir, kerikil,
batu untuk urugan jalan, semen, beton dan batuan urugan jalan makadam. Untuk
pengambilan batuan ornamen diperlukan teknik khusus agar blok-blok batuan
ornamen yang diambil mempunyai ukuran, bentuk dan kualitas tertentu. Sedangkan
untuk pengambilan bahan bangunan tidak memerlukan teknik yang khusus. Teknik
yang digunakan serupa dengan teknik tambang terbuka. Tambang bawah tanah
digunakan jika zona mineralisasi terletak jauh di dalam tanah sehingga jika digunakan
teknik pertambangan terbuka jumlah batuan penutup yang harus dipindahkan sangat
besar. Produktifitas tambang tertutup 5 sampai 50 kali lebih rendah dibanding tambang
terbuka, karena ukuran alat yang digunakan lebih kecil dan akses ke dalam lubang
tambang lebih terbatas. Kegiatan ekstraksi meng-hasilkan limbah dan produk samping
dalam jumlah yang sangat banyak. Total limbah yang diproduksi dapat bervariasi antara
10 % sampai sekitar 99,99 % dari total bahan yang ditambang. Limbah utama yang
dihasilkan adalah batuan penutup dan limbah batuan. Batuan penutup (overburden)
dan limbah batuan adalah lapisan batuan yang tidak mengandung mineral, yang
menutupi atau berada diantara zona mineralisasi atau batuan yang mengandung
mineral dengan kadar rendah sehingga tidak ekonomis untuk diolah. Batuan penutup
umumnya terdiri dari tanah permukaan dan vegetasi sedangkan batuan limbah meliputi
batuan yang dipindahkan pada saat pembuatan terowongan, pembukaan dan
eksploitasi singkapan bijih serta batuan yang berada bersamaan dengan singkapan
bijih. Hal-hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian di dalam hal menentukan besar
dan pentingnya dampak lingkungan pada kegiatan ekstraksi dan pembuangan limbah
adalah: Luas dan kedalaman zona mineralisasi Jumlah batuan yang akan ditambang dan
yang akan dibuang yang akan menentukan lokasi dan desain penempatan limbah
batuan. Kemungkinan sifat racun limbah batuan Potensi terjadinya air asam tambang
Dampak terhadap kesehatan dan keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan
transportasi, penyimpanan dan penggunaan bahan peledak dan bahan kimia racun,
bahan radio aktif di kawasan penambangan dan gangguan pernapasan akibat pengaruh
debu. Sifat-sifat geoteknik batuan dan kemungkinan untuk penggunaannya untuk
konstruksi sipil (seperti untuk landscaping, dam tailing, atau lapisan lempung untuk
pelapis tempat pembuangan tailing). Pengelolaan (penampungan, pengendalian dan
pembuangan) lumpur (untuk pembuangan overburden yang berasal dari sistem
penambangan dredging dan placer). Kerusakan bentang lahan dan keruntuhan akibat
penambangan bawah tanah. Terlepasnya gas methan dari tambang batubara bawah
tanah. Tahap Operasi Produksi / penggalian batubara Tata Cara Penambangan Batubara
Pemanfaatan secara ekonomis potensi cadangan batubara disebut dengan
penambangan batubara, yang terbagi menjadi penambangan terbuka (surface mining
atau open cut mining) dan penambangan bawah tanah atau tambang dalam
(underground mining). Bila terdapat singkapan batubara (outcrop) di permukaan tanah
pada suatu lahan yang akan ditambang, maka metode penambangan yang akan
dilakukan, yaitu metode terbuka atau bawah tanah, ditetapkan berdasarkan
perhitungan tertentu yang disebut dengan nisbah pengupasan (Stripping Ratio, SR).
Nisbah ini merupakan indikator tingkat ekonomis suatu kegiatan penambangan. SR =
{(Biaya Tambang Dalam) – (Biaya Tambang Terbuka)} / Biaya Pengupasan Pada
perhitungan SR di atas, biaya tambang dalam adalah biaya per batubara bersih (clean
coal) dalam ton, sedangkan untuk biaya tambang terbuka adalah biaya per batubara
bersih dalam ton dan biaya relamasi, tapi tidak termasuk biaya pengupasan tanah
penutup (overburden). Sedangkan biaya pengupasan adalah biaya pengupasan tanah
penutup, dalam m3. Sebagai contoh, bila dari studi kelayakan (feasibility study)
ternyata diketahui bahwa biaya tambang dalam pada suatu lahan yang akan ditambang
adalah US$150, biaya tambang terbuka adalah US$50, dan biaya pengupasan adalah
US$10, maka nisbah pengupasan atau SR adalah 10. Dari gambar 1 di atas terlihat
bahwa sampai dengan posisi tertentu yang merupakan batas SR, penambangan terbuka
lebih menguntungkan untuk dilakukan. Sedangkan lewat batas tersebut, penambangan
akan lebih ekonomis bila dilakukan dengan menggunakan metode tambang dalam.
Tahapan Kegiatan penambangan Batubara Penampungan Tailing, Pengolahan dan
Pembuangan Pengelolaan tailing merupakan salah satu aspek kegiatan pertambangan
yang menimbulkan dampak lingkungan sangat penting. Tailing biasanya berbentuk
lumpur dengan komposisi 40-70% cairan. Penampungan tailing, pengolahan dan
pembuangannya memerlukan pertimbangan yang teliti terutama untuk kawasan yang
rawan gempa. Kegagalan desain dari sistem penampungan tailing akan menimbulkan
dampak yang sangat besar, dan dapat menjadi pusat perhatian media serta protes dari
berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pengendalian polusi dari pembuangan
tailing selama proses operasi harus memperhatikan pencegahan timbulnya rembesan,
pengolahan fraksi cair tailing, pencegahan erosi oleh angin, dan mencegah pengaruhnya
terhadap hewan-hewan liar. Isu-isu penting yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi
alternatif pembuangan tailing meliputi : Karakteristik geokimia area yang akan
digunakan sebagai tempat penimbunan tailing dan potensi migrasi lindian dari tailing.
Daerah rawan gempa atau bencana alam lainnya yang mempengaruhi keamanan lokasi
dan desain teknis . Konflik penggunaan lahan terhadap perlindungan ekologi
peninggalan budaya, pertanian serta kepentingan lain seperti perlindungan terhadap
ternak, binatang liar dan penduduk local. Karakteristik kimia pasir, lumpur, genangan
air dan kebutuhan untuk pengolahannya. Reklamasi setelah pasca tambang. Studi
AMDAL juga harus mengevaluasi resiko yang disebabkan oleh kegagalan penampungan
tailing dan pemrakarsa harus menyiapkan rencana tanggap darurat yang memadai.
Pihak yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan tanggap darurat ini harus dinyatakan
secara jelas. Faktor-faktor Pertimbangan di dalam Menilai Kesesuaian Penampungan
Tailing 1. Tuntutan Peraturan Tuntutan peraturan setempat yang mencakup seluruh
aspek dari areal penimbunan yang direncanakan dimasa depan harus disertakan
didalam penilaian suatu areal. Hal tersebut mencakup : v tuntutan baku mutu bagi
pelepasan air v nilai budaya dan sejarah dari suatu tempat termasuk nilainya bagi
penduduk pribumi v tuntutan akan rancangan khusus terhadap misalnya gempa bumi,
peluang-peluang terjadinya banjir v emisi debu dan polusi suara v rencana-rencana dari
berbagai pihak yang berwenang termasuk pengangkutan, pengembangan perkotaan,
sarana-sarana (penyaluran tenaga listrik, jaringan supali air, dsb v zonasi dari areal
penimbunan tailing dan daerah sekitarnya (kegiatan-kegiatan yang diijinkan pihak
berwenang), dan kemungkinan perubahan dari zonasi sekarang 2. Metereologi Berbagai
aspek neraca air dari operasi harus didasarkan pada pengertian yang mendalam
mengenai kondisi metereologi daerah setempat. Informasi yang harus dikumpulkan
termasuk : v data curah hujan (rata-rata setiap bulan untuk berbagai priode ulang 1:10,
1:20, 1:50, 1:100) v data intensitas/lama hujan v pengukuran evaporasi (panci
evaporasi klas A) v pengukuran kelembaban, suhu dan radiasi matahari v
kekuatan/arah angin pada berbagai waktu yang berbeda dalam setahun v pengetahuan
tentang kejadian masa lalu atau jarang terjadi (angin topan, banjir) 3. Topografi dan
Pemetaan Topografi dari bangunan jangka panjang dan daerah-daerah penyangga
sejauh sekitar 1 km dari batas-batas daerah yang akan menjadi areal penimbunan harus
diteliti. Informasi ini akan memungkinkan dilakukan penilaian akan potensi dampak-
dampak sosial dan lingkungan dari fasilitas yang diusulkan pada tahap-tahap yang
paling awal dari perencanaan. Informasi ini harus termasuk : v kontur-kontur
permukaan dengan interval 1 m v pola-pola drainase (aliran-aliran, mata air, danau.
Lahan basah) v batas-batas tanah v jaringan jalan dan pelayanan v tempat tinggal dan
bangunan lainnya v tempat-tempat budaya atau bersejarah v tata guna lahan saat ini
(RUTRW) 4. Fotografi Fotografi dapat menjadi suatu alat penting untuk membantu
penilaian estetika dan potensi dampak lingkungan dari areal penimbunanyang
diusulkan. Ini termasuk : v foto-foto udara dari kepemilikan lahan dan daerah
sekitarnya v foto-foto darat yang diambil dari berbagai sudut yang bermanfaat v foto-
foto sejarah 5. Air Permukaaan Tanah Seandainya areal penimbunan tailing yang
terpilih berada dekat sungai-sungai atau daerah-daerah yang sering mengalami banjir,
potensi dampak dari hujan lebat pada frekuensi rendah perlu dipertimbangkan.
Informasi yang dibutuhkan termasuk : v aliran-aliran pada batang-batang air alami
(data hidrografis seperti ciri-ciri limpasan air hujan) v catatan-catatan banjir dan
identifikasi dataran banjir yang mungkin v latar belakang baku mutu air v tataguna air
di hulu dan di hilir termasuk aliran-aliran lingkungan untuk memelihara habitat-habitat
bagi flora dan fauna v Air Bawah tanah v Suatu pengertian tentang hidrogeologi umum
dari suatu tempat dapat membantu penilaian potensi dampak dari penimbunan tailing
terhadap air bawah tanah. Informasi yang penting termasuk ; v hidrogeologi tempat
(kedalaman hingga air, arah aliran, kecepatan aliran) v keberadaan jalur-jalur aliran
yang dikehendaki v latar belakang baku mutu air v tata guna air di hulu dan di hilir v
zona pengeluaran air bawah tanah 7. Geoteknis Tampungan-tampungan tailing pada
awalnya lazim dibangun dari tanah setempat. Dalam hal ini ketersediaan dan
kesesuaian tanah harus dinilai dipermulaan proses pembangunan dan harus mencakup
: v kondisi fondasi (jenis-jenis tanah di berbagai kedalaman, distribusi ukuran partikel,
presentase partikel halus, Nilai Atterberg/plastisitas tanah, kekuatan tanah, ciri-ciri
permeabilitas, mineralogi) v ketersediaan bahan-bahan bangunan seperti tanah liat,
pasir, batu kerikil v adanya batu-batuan, struktur dari lapisan batu-batuan v data resiko
gempa 8. Geokimia Seandainya cairan tailing berhubungan dengan tanah alamiah,
sejumlah interaksi geokimia dapat terjadi. Melakukan analisis jangka panjang adalah
praktek yang baik karena akan membangun informasi yang membantu tercapainya
pengertian tentang interaksi-interaksi tersebut. 9. Sifat-sifat tailing Sifat-sifat tailing
perlu diketahui ketika merancang fasilitas-fasilitas baru, terutama yang berkaitan
dengan kemungkinan rembesan air bawah tanah dan pelepasan air. Termasuk
didalamnya : v kandungan mineral dan kimia partikel-patikel padat v kandungan logam
berat v kandungan radio-nuklida v gaya berat spesifik partikel –partikel padat v
perilaku pengendapan v hubungan antara permeabilitas dan berta jenis v plastisitas
tanah (nilai Atterberg) v prilaku konsolidasi v rheologi (aliran cairan yang mengandung
partikel-partikel tersuspensi/ciri-ciri kekentalan v ciri-ciri kekuatan tailing v kimiawi
air pori (air diantara pori-pori tanah) v sifat-sifat pencucian air tawar Air Asam Batuan
(AAB) adalah produk yang terbentuk akibat oksidasi mineral yangmengandung besi-
sufur, seperti: pyrite (FeS2) dan pyrrhotite (FeS) oleh oksidator yang berasal dari
atmosphere (misalnya; air, oksigen dan karbon dioksida) dengan bantuankatalis bakteri
Thiobacillus ferooxidans dan produk-produk lain yang terbentuk sebagaiakibat dari
reaksi oksidasi tersebut. Reaksi terbentuknya AAB dapat dinyatakan dengan persamaan
reaksi seperti tersebut dibawah. Dalam persamaan reaksi tersebut, bahan mineral yang
dioksidasi adalah pyrite(FeS2), namun reaksi yang sama juga berlaku untuk
pembentukan AAB dari oksidasipyrrhotite (FeS). Bakteri yang terlibat pada reaksi
biasanya berasal dari strain Thiobacillusferooxidans yang khas untuk setiap lokasi.
Mereka menggunakan sulfur sebagai sumberenergi dan memperoleh kebutuhan nutrisi
dari atmosphere (nitrogen, oksigen, karbondioksida dan air) dan mineral (sulfur dan
phospor). Meskipun bukan katalis dalampengertian yang sebenarnya, namun bakteri ini
berfungsi sebagai agen yangmempercepat terjadinya reaksi. Pada kondisi habitat yang
optimal, bakteri ini merupakanfaktor yang paling menentukan dalam pembentukan
AAB. Mereka juga mampuberadaptasi dengan melakukan mutasi jika terjadi perubahan
habitat yang ekstrim. Diduga tanpa kehadiran bakteri Thiobacillus ferooxidans reaksi
1,2 dan 5 merupakanreaksi yang dominan, sementara itu dengan adanya bakteri seperti
yang dinyatakandalam persamaan 5, reaksi yang terjadi merupakan kombinasi dari
reaksi 1 dan 3 atau 2, 3 dan 4 atau 1, 2, 3 dan 4. Seperti terlihat didalam persamaan
reaksi, selain diperlukan adanya pyrite, keberadaanoksigen dan air sangat menentukan
terbentuknya AAB. Dengan demikian pembentukanAAB dapat dicegah dengan
menghindari kontak pyrite dengan oksigen (misalnya: denganmenempatkan mineral di
bawah permukaan air) atau dengan mencegah kontak pyritedengan air (misalnya:
menempatkan mineral di daerah yang kering). Pembentukan AABjuga dapat dihindari
dengan mencegah pertumbuhan T. ferrooxidans denganmenggunakan bahan kimia.
Hasil akhir reaksi adalah asam sulfat dan ferric sulphate.Asam sulfat merupakan produk
antara yang penting. Pada awal oksidasi pyrite, pH turunsecara cepat dan kemudian
stabil kembali pada nilai antara 2.5 – 3.0. Nilai pH akhir. Pada umumnya ditentukan oleh
kebutuhan pH optimal bagi pertumbuhan strain bakteri yangterlibat di dalam reaksi.
Jika pyrite dan/ atau pyrrhotite adalah mineral sulfida yang terbuka terhadap
oksidasiatmosphere maka hasil reaksi seperti reaksi di atas. Tergantung pada
keberadaan air danoksigen, reaksi tidak selalu berlangsung sempurna seperti
dinyatakan oleh persamaan 1sampai 6, dalam hal demikian maka produk antara
merupakan senyawa kimia ataumineral tetap berada pada kondisi teroksidasi.
Decomisioning Dan Penutupan Tambang Setelah ditambang selama masa tertentu
cadangan bijih tambang akan menurun dan tambang harus ditutup karena tidak
ekonomis lagi. Karena tidak mempertimbangkan aspek lingkungan, banyak lokasi
tambang yang ditelantarkan dan tidak ada usaha untuk rehabilitasi. Pada prinsipnya
kawasan atau sumberdaya alam yang dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan harus
dikembalikan ke kondisi yang aman dan produktif melalui rehabilitasi. Kondisi akhir
rehabilitasi dapat diarahkan untuk mencapai kondisi seperti sebelum ditambang atau
kondisi lain yang telah disepakati. Namun demikian, uraian di atas tidak menyarankan
agar kegiatan rehabilitasi dilakukan setelah tambang selesai. Reklamasi seharusnya
merupakan kegiatan yang terus menerus dan berlanjut sepanjang umur pertambangan.
Tujuan jangka pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam (landscape) yang
stabil terhadap erosi. Selain itu rehabilitasi juga bertujuan untuk mengembalikan lokasi
tambang ke kondisi yang memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan produktif.
Bentuk lahan produktif yang akan dicapai menyesuaiakan dengan tataguna lahan pasca
tambang. Penentuan tataguna lahan pasca tambang sangat tergantung pada berbagai
faktor antara lain potensi ekologis lokasi tambang dan keinginan masyarakat serta
pemerintah. Bekas lokasi tambang yang telah direhabilitasi harus dipertahankan agar
tetap terintegrasi dengan ekosistem bentang alam sekitarnya. Teknik rehabilitasi
meliputi regarding, reconturing, dan penaman kembali permukaan tanah yang
tergradasi, penampungan dan pengelolaan racun dan air asam tambang dengan
menggunakan penghalang fisik maupun tumbuhan untuk mencegah erosi atau
terbentuknya AAT. Isu-isu yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan rencana
reklamasi meliputi : a. stabilitas jangka panjang, penampungan tailing, kestabilan lereng
dan permukaan timbunan b. keamanan tambang terbuka, longsoran, pengelolaan B3
dan bahaya radiasi c. karakteristik fisik kandungan bahan nutrient dan sifat beracun
tailing atau limbah batuan yang dapat berpengaruh terhadap kegiatan revegetasi d.
potensi terjadinya AAT dari bukaan tambang yang terlantar, pengelolaan tailing dan
timbunan limbah batuan (sebagai akibat oksidasi sulfida yang terdapat dalam bijih atau
limbah batuan) e. potensi timbulnya gas metan dan emisinya dari tambang batubara f.
biaya untuk rehabilitasi selama kegiatan pertambangan dan pasca tambang g. Aspek
sosial ekonomi selama tahap decomisioning juga perlu diperhatikan khususnya
eksistensi dan daya tahan ekonomi masyarakat setempat yang tergantung pada
kegiatan pertambangan. Disamping hilangnya pendapatan, kelanjutan penyediaan
fasilitas sosial seperti sarana air bersih, air limbah, listrik dan pelayanan kesehatan
menjadi tidak jelas. Fasilitas sosial ini biasanya disediakan langsung oleh industri
pertambangan. Dengan selesainya kegiatan pertambangan, perlu diperjelas institusi
yang akan mengelolan fasilitas sosial tersebut. Semua isu-isu di atas harus
dipertimbangkan dalam penentuan rencana penutupan tambang. 6. Peralatan
penambangan / Alat Berat Klasifikasi Fungsional Alat Berat Yang dimaksud dengan
klasifikasi fungsional alat adalah pembagian alat tersebut berdasarkan fungsi-fungsi
utama alat. Berdasarkan fungsinya alat berat dapat dibagi atas berikut ini. Alat Pengolah
Lahan. Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus
dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat
semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan
dozer. Untuk pengangkatan lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper.
Sedangkan untuk pembentukan permukaan supaya rata selain dozer dapat digunakan
juga motor grader. Gambar: Dozer alat penggali Jenis alat ini dikenal juga dengan istilah
excavator. Beberapa alat berat digunakan untuk menggali tanah dan batuan. Yang
termasuk didalam kategori ini adalah front shovel, backhoe, dragline, dan clamshell.
Gambar: backhoe Alat Pengangkut Material Crane termasuk di dalam kategori alat
pengangkut material karena alat ini dapat mengangkut material secara vertical dan
kemudian memindahkannya secara horizontal pada jarak jangkau yang relative kecil.
Untuk pengangkutan material lepas (loose material) dengan jarak tempuh yang relative
jauh, alat yang digunakan dapat berupa belt, truck dan wagon. Gambar: truck Alat
Pengolah lahan Konvensional Alat Pengolahan Lahan Konvensional seperti halnya yang
biasa digunakan dalam keseharian, diantaranya : Cangkul, linggis, belencong, sekop, dll
ANALISA ASPEK SOSIAL EKONOMI DAN KETERLIBATAN MASYARAKAT Teknik-teknik
yang dipakai untuk pengelolaan dan pengendalian dampak lingkungan oleh kegiatan
tailing telah berkembang dengan baik, namun untuk isu-isu yang berkaitan dengan
sosial ekonomi masih merupakan tantangan yang belum terselesaikan. Banyak
perusahaan pertambangan masih bergulat dengan isu-isu sosial seperti : Kompensasi
kehilangan lahan dan akses sumberdaya alam (seperti: lahan) dan juga potesi
kehilangan ekonomis dan gangguan terhadap kehidupan budaya. Pengelolaan dampak
yang berkaitan dengan operasi pertambangan seperti: masuknya pendatang baru yang
berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan pendapatan, komsumsi air bersih, dan
terjadinya persaingan yang disebabkan pemakaian air bersih dan sumberdaya alam lain
yang dipergunakan bersama. Tuntutan untuk melaksanakan program community
development pengembangan kesempatan kerja dan mekanisme untuk
mendistribusikan keuntungan sosial secara lebih luas diantara masyarakat lokal. 1.
Aspek Lingkungan Kegiatan pertambangan untuk mengambil bahan galian berharga
dari lapisan bumi telah berlangsung sejak lama. Selama kurun waktu 50 tahun, konsep
dasar pengolahan relatif tidak berubah, yang berubah adalah skala kegiatannya.
Mekanisasi peralatan pertambangan telah menyebabkan skala pertambangan semakin
membesar. Perkembangan teknologi pengolahan menyebabkan ekstraksi bijih kadar
rendah menjadi lebih ekonomis, sehingga semakin luas dan dalam lapisan bumi yang
harus di gali. Hal ini menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan
yang sangat besar dan bersifat penting. 2. Isu-Isu Lingkungan Akibat Kegiatan
Pertambangan Kegiatan pertambangan, selain menimbulkan dampak lingkungan,
ternyata menimbulkan dampak sosial yang komplek. Oleh sebab itu, AMDAL suatu
kegiatan pertambangan harus dapat menjawab dua tujuan pokok (World Bank, 1998):
Memastikan bahwa biaya lingkungan, sosial dan kesehatan dipertimbangkan dalam
menentukan kelayakan ekonomi dan penentuan alternatif kegiatan yang akan dipilih.
Memastikan bahwa pengendalian, pengelolaan, pemantauan serta langkah-langkah
perlindungan telah terintegrasi di dalam desain dan implementasi proyek serta rencana
penutupan tambang. United Nations Environment Programme (UNEP, 1999)
menggolongkan dampak-dampak yang timbul dari kegiatan pertambangan sebagai
berikut: Kerusakan habitat dan biodiversity pada lokasi pertambangan Perlindungan
ekosistem/habitat/biodiversity di sekitar lokasi pertambangan. Perubahan
landskap/gangguan visual/kehilangan penggunaan lahan Stabilisasi site dan
rehabilitasi Limbah tambang dan pembuangan tailing Kecelakaan/ terjadinya longsoran
fasilitas tailing Peralatan yang tidak digunakan , limbah padat, limbah rumah tangga
Emisi Udara Debu Perubahan Iklim Konsumsi Energi Pelumpuran dan perubahan aliran
sungai Buangan air limbah dan air asam taminasi Perubahan air tanah dan kontaminasi
Pengelolaan bahan kimia, keamanan, dan pemaparan bahan kimia di tempat kerja
Kebisingan Radiasi Keselamatan dan kesehatan kerja Toksisitas logam berat
Peninggalan budaya dan situs arkeologi Kesehatan masyarakat dan pemukiman sekitar
tambang 3. Asfek ekonomi Rencana Penambangan biji besi di kecamatan Muaradua
Kisam, Kabupaten OKU selatan ini, menghasilkan dampak ekonomi baik bagi
pemerintah Daerah Kabupaten, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Pusat,
sesuai dengan sistem pembagian pajak pertambangan yang di atur oleh UU no 4 tahun
2010. adapun besaran nilai rupiah dari rencana penambangan ini, mengahasilkan PAD
tambahan bagi Kabupaten OKU Selatan sebesar : Iuran wajib/bln 10 h X Rp 2500 =
250.000 Pajak Galian/bln 1000 MT X Rp.390.000 X 5 %= 19.500.000 Total PAD
pertahun = ( 19.500.000 + 250.000) X 12 = Rp. 237..000.000 Peningkatan Penghasilan
masyarakat setempat jelas akan bertambah dengan sendirinya seiring proses
pertambangan yang nilainya di sesuaikan dengan PERDES setempat dan peningkatan
penghasilan tersebut akan berdampak pada peningkatan nilai beli dimasyarakat yang
berdampak pada peningkatan penghasilan bagi masyarakat di luar lokasi penambangan.
ANALISA PERSONALIA 1. Spesifikasi Tenaga Personalia Usaha pertambangan rakyat ini
melibatkan tenaga kerja sebagai berikut KTT ( Kepala Teknik Tambang), jumlah 1
otrang, Pendidikan S1 teknik tambang / memiliki sertifikat kompetensi KTT ).
Berpengalaman minimal 3 tahun di pertambangan. Pengawas, berjumlah 2 orang yang
dibagi dalam 2 divisi yaitu divisi penggalian dan divisi tailling masing-masing 1 orang,
berpendidikan minimal STM berpengalaman minimal 5 tahun atau pendidikan diploma
berpengalaman 1 tahun, yang bertugas sebagai pengawas pelaksana kegiatan yang di
rencanakan oleh KTT. Staf administrasi, berjumlah 2 orang berpendidikan minimal D1
akutansi komputer, yang bertugas mengurus segala keperluan administrasi kantor,
lapangan maupun pemasaran. Operator, berjumlah 10 orang berpendidikan minimal
SLTA berpengalaman menjalankan mesin produksi minimal 1 tahun / pendidikan D3
tambang non pengalaman, bertugas sebagai kepala regu proses penggalian yang masing
– masing beranggotakan orang, melaksanaka kegiatan sesuai schedule dari KTT. Pekerja
Biasa, berjumlah 40 orang, pendidikan tidak di utamakan, asal mengerti tata kerja team
dan sehat jasmani rohani, bertugas sebagai pelaksana kegiatan dari KTT yang di kepalai
oleh operator yang terbagi dalam 10 group masing-masing beranggotakan 5 orang.
Satpam, berjumlah 2 orang, pendidikan minimal SLTA berpengalaman minimal 3 tahun
dan atau totoh pemuda setempat yang memiliki kdedibilitas dan di segani di
masyarakat setempat. Sopir, berjumlah 5 orang untuk 5 unit dumptruk, pendidikan
tidak di utamakan, berpengalaman minimal 1 tahun mengendarai truk dan sejenisnya,
serta memiliki sim B1Umum. Tabel spesifikasi Tenaga Kerja NO TENAGA PERSONALIA
JUMLAH TENAGA PENDIDIKAN MINIMUM PENGALAMAN MINIMUM 1 KTT 1 orang S1
tambang 3 tahun 2 Pengawas 2 orang STM/D3 5/1 tahun 3 Operator 10 orang SLTA/D3
3th/non peng. 4 Staf 2 orang D1 1 tahun 5 Satpam 2 orang SLTA 3 th 6 Pekerja biasa 40
orang SD - 7 Sopir 5 orang SD 3 th Jumlah tenaga 62 orang 2. PROFIL Pengurus (
Penggagas Usaha ) Biodata o Nama : ANDRALIKA, ST. o Tempat/ tgl lahir : Muaradua, 9
Desember 1978 o Agama : Islam o Pekerjaan : Wiraswasta o Kewarganegaraan :
Indonesia o Pendidikan : S1 Teknik Industri o Alamat : Jl. Wedana Pangku No. 10
Muaradua. OKU Selatan Tlp. 081373673873 Riwayat Pendidikan o Sekolah Dasar di SD
N no 4 Muaradua th 1984 – 1990, tamat. o Sekolah Lanjutan Pertama di SMP N
Muaradua, th 1990-1993, tamat. o Sekolah Lanjutan Atas di STM N Baturaja jur. Listrik
th 1993-1996, tamat. o Perguruan Tinggi di STTM Muhammadiyah Tangerang, th 1997-
2002, tamat Riwayat Pengalaman o Operator di anak perusahaan Astra motor
tangerang, tahun 1996 o Teknisi Listrik, Lyman ( Roman Royal keramik ), 1996-1998 o
Kepala teknik PT. APCU (anak perusahaan darma niaga produksi pupuk NPK ),
Tangerang, 1998-2000 o Wira Usaha Mandiri, 2000-sekarang Riwayat Organisasi o
Gerakan Pramuka Siaga SD N 4 Muaradua, tahun 1988-1990 o Gerakan Pramuka
Penegak ST N Baturaja, tahun 1993-1996 o Pendiri/Pembina Gerakan Pramuka Saka
Kencana, Muaradua, 1995 o Osis STM N Baturaja, 1995-1996 o Sekretaris Ikatan
Keluarga Kisam Jabotabek, 1997-2000 o Ketua Dewan Kehormatan Mahasiswa, STTM
Muhamaddiyah Tangerang, 1998 o Anggota BM Deklerasi Nasional Partai Amanat
Nasional di senayan, Agustus 1998 o KaBid. Pemberdayaan Buruh Partai Amanat
Nasional, DPD Tangrang, 1998-2003 o Sekretaris Umum Ikatan Pedagang Cikupa
Sepakat, 1998-2001 o Kabid. Cipta Karya & anggota sertifikasi asosiasi Gapensi OKU
Selatan, 2005-2006 o Korca. AKLI ( Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia ), Ranting OKU
Selatan Riwayat Keterampilan o Kursus bahasa Inggris di Texas colage Baturaja tahun
1994-1996 o Kursus Kompetensi Penggunaan Trafo distribusi listrik, Cibinong, 2003 o
Kursus Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Cibinong, 2003 o Kuliah Bisnis di
Enterpreneur University, pasar minggu jakarta, 2005 o Seminar Leadership, tanadi
santoso, jakarta, 2006 o Seminar what of maouth, tanadi santoso, jakarta 2007 STUDY
KELAYAKAN BISNIS ( SKB ) 1. Rekapitulasi Anggaran Biaya ( RAB ) dana Investasi
usaha Koperasi Penambangan rakyat Bahan tambang batubara NO URAIAN KEGIATAN
BIAYA 1 Pendirian Koperasi 7,700,000 2 Perizinan WIUPR 3,250,000 3 Perizinan IUPR
Ekplorasi 5,250,000 4 Ekplorasi ( Penyelidikan Umum ) 41,200,000 5 Perizinan IUPR
Operasi Produksi 5,250,000 6 Bangunan dan Kantor 20,000,000 7 Pembebasan Lahan
40,000,000 8 Pembukaan lahan 39,600,000 9 Pengupasan/pembuangan limbah
24,600,000 10 Pembuatan camp dan tailling 22,000,000 11 Peralatan 50,000,000 12
Operasional 83,175,000 13 Dana Cadangan 7,975,000 Total investasi 350,000,000 2.
Uraian RAB berdasarkan Tahapan kegiatan Pendirian Koperasi Untuk melegalkan usaha
tambang rakyat mineral biji besi ini, di pilih dalam bentuk badan hukum Koperasi.
adapun biaya yang dibutuhkan adalah sebagai berikut Akte pendirian Rp 500.000 Surat
Keterangan domisili usaha Rp. 50.000 NPWP Rp. 150.000 Izin Gangguan ( SITU ) Rp.
1.000.000 SIUP Rp. 500.000 SK Mentri Koperasi Rp. 2.500.000 Sertifikat Badan usaha
Rp. 3.000.000 Jumlah Rp. 7.700.000 Perizinan WIUPR Perizinan WIUPR adalah
Perizinan Wilayah Izin Usaha Penambangan Rakyat yang dikeluarkan Oleh Bupati
sebagai wakil menteri. Biaya sebagai berikut : Kelengkapan Dokumen Rp 250.000 Surat
Rekomendasi desa Rp 500.000 Surat Rekomendasi kecamatan Rp 500.000 Biaya
pengurusan / Penerbitan WIUPR Rp. 2.500.000 Jumlah Rp. 3.250.000 Perizinan IUPR
Ekplorasi Izin IUPR Ekplorasi adalah tahapan perizinan setelah mendapat wilayah izin
usaha pertambangan rakyat, izin tersebut diperuntukan melakukan kegiatan ekplorasi
dan penyelidikan umum untuk mengetahui titik koordinat, jumlah deposit , sifat
kimiawi dan pemetaan. Biaya yang dibutuhkan adalah : Kelengkapan dokumen Rp.
250.000 Pengurusan hingga penerbitan IUPR Ekplorasi Rp. 5.000.000 Jumlah Rp.
5.250.000 Ekplorasi Tahapan Ekplorasi adalah tahapan penyelidikan umum dengan
menggunakan peralatan standart penyelidikan pertambangan. Dalam hal ini Kita
menggunakan jasa konsultan dengan biaya sebagaiberikut : Bayar sewa Konsultan (
ekplorasi 10 H ) Rp. 30.000.000 Transfotasi akomodasi tim survey Rp. 8.000.000
Operasional 7 hari untuk 8 orang Rp. 3.200.000 Jumlah Rp. 41.200.000 Bangunan Dan
Kantor Sewa Bangunan Kantor 1 tahun pertama Rp. 5.000.000 Perlengkapan penunjang
kantor Rp. 15.000.000 Jumlah Rp 20.000.000 Perizinan IUPR Operasi Produksi
Perizinan IUPR Operasi produksi adalah izin untuk melakukan ekploitasi ( kegiatan
operasi penambangan resmi ) berdasarkan data yang didapat pada tahapan ekplorasi.
Biaya yang dibutuhkan adalah : Kelengkapan dokumen Rp. 250.000 Pengurusan hingga
penerbitan IUPR Produksi Rp. 5.000.000 Jumlah Rp. 5.250.000 Pembebasan Lahan
Tahapan pembebasan lahan adalah tahapan menghimpun surat kuasa melakukan
tambang di arel yang sudah diekplorasi, yang di tandatangani oleh pemilik lahan yang
diketahui oleh kepala desa setempat. Proses ini hanya memdapatkan kuasa melakukan
penambangan bukan membeli areal penambangan. Biaya yang dibutuhkan adalah :
Biaya ADM Rp. 1.000.000 x 10 H Rp.10.000.000 Konvensasi pemilik lahan Rp. 3.000.000
x 10 H Rp.30.000.000 Jumlah Rp.40.000.000 Pembukaan Lahan Lahan seluas 10 H yang
sudah dibebaskan kemudian di buka untuk membersihkan dari tumbuhan yang ada
kemudian pengaturan fisik lahan sesuai tahapan perencanaan pertambangan. Biaya
yang dibutuhkan adalah : Penebasan awal Rp. 500.000 x 10 H Rp. 5.000.000 Pembukaan
lahan Sewa dozzer Rp. 300.000 x 32 jam Rp. 9.600.000 Pembukaan akses Jalan 500 m
sewa dozzer 32 jam Rp. 9.600.000 Pembuatan gorong-gorong 1 unit Rp. 15.000.000
Jumlah Rp. 39.600.000 Pengupasan / Pembuangan Limbah Tahapan ini bermaksud
untuk membuang material penutup sediment mineral biji besi. Biaya yang dibutuhkan
adalah : Sewa Bechoe Rp 300.000 x 32 jam Rp. 9.600.000 Pembuatan tanggul Penahan
Rp.15.000.000 Jumlah Rp.24.600.000 Pembuatan Camp dan Tailling Pembuatan camp
pekerja hanya sebatas pembuatan posko keamanan, sedangkan pekerja tambang di
asumsikan dapat pulang selesai bekerja kerumah masing-masing karena jarak lokasi
tambang dengan pemukiman. Tailling adalah lokasi penampungan bahan hasil tambang
sebelum dikirim, lokasi tailing ini merupakan lokasi peletakan mesin pemisah logam
dan peralatan kerja tambang lainnya. Biaya yang dibutuhkan adalah : Pembuatan camp
ukuran 3 x 4 m Rp. 10.000.000 Dudukan dan bangunan mesin Rp. 6.000.000 Pembuatan
lokasi tailling Rp. 6.000.000 Jumlah Rp. 22.000.000 Peralatan Peralatan yang akan
digunakan dan harga pembeliannya adalah : Peralatan penggalian umum konvensional
100 set Rp. 6.000.000 Instalasi Listrik Rp. 5.000.000 Peralatan Kantor Rp. 10.000.000
Generator 1,5 PK Rp. 3.500.000 Pompa air 1,5 Pk 5 unit Rp. 17.500.000 Alat bantu
lainnya Rp. 8.000.000 Jumlah Rp. 50.000.000 Operasional Biaya operasional meliputi :
Sewa Dump truk 1 bln pertama 5 unit x Rp. 7.000.000 Rp. 35.000.000 BBM 5 unit x 26
hari x 40 liter x Rp 4500 Rp. 23.400.000 Uang Jalan 5 unit x 26 hari Rp. 70.000 Rp.
9.100.000 BBM genset 30 hari x 5 liter x Rp. 4500 Rp. 675.000 Operasional kantor 1 bln
Rp. 3.000.000 Operasional penambangan 1 bln Rp. 6.000.000 Cadangan operasional lain
tak terduga Rp. 6.000.000 Jumlah Rp. 83.175.000 Dana Cadangan Rp. 7.975.000 3.
Analisa Break Event Point ( BEP ) / Titik Impas ( Balik Modal ) Biaya Pemasukan Rp.
380.000.000 / bln Asumsi Penjualan 1000 MetrixTon / Bulan, dengan harga Rp.
310.000/ MetrixTon. Pemasukan Perbulan adalah : Rp. 310.000 x 1000 MT = Rp.
310.000.000,- Biaya Pengeluaran Rp. 241.750.000 / bln Bayar Gaji : v KTT 1 x 5.000.000
Rp. 5.000.000 v Pengawas 2 x 1.500.000 Rp. 3.000.000 v Staf 2 x 1.150.000 Rp.
2.300.000 v Satpam 2 x 1.350.000 Rp. 2.700.000 v Operator 10 x 1.150.000 Rp.
11.500.000 v Pekerja lapangan 40 x 850.000 Rp. 34.000.000 v Sopir 5 x 1.500.000 Rp.
7.500.000 Jumlah Rp. 66.000.000 Bayar Uang Makan : v KTT 1 x 26 x 15.000 Rp.
390.000 v Pengawas 2 x 26 x 15.000 Rp. 780.000 v Staf 2 x 26 x 15.000 Rp. 780.000 v
Satpam 2 x 26 x 15.000 Rp. 780.000 v Operator 10 x 26 x 15.000 Rp. 3.900.000 v
Pekerja lapangan 40 x 26 x 15.000 Rp. 15.600.000 v Sopir 5 x 26 x 40.000 Rp. 5.200.000
Jumlah Rp. 20.800.000 Operasional Angkutan : v Sewa Dump Truk 5 unit x
7.000.000/bln Rp. 35.000.000 v BBM Dump truk 26 x 40 x 4.500 Rp. 23.400.000 v Uang
jalan sopir 5 x 26 x 70.000 Rp. 9.100.000 Jumlah Rp. 67.500.000 Operasional kantor : v
ATK dll / bln Rp. 2.500.000 v Tagihan Rp. 500.000 v BBM Genset 5 x 30 h x 4.500 Rp.
675.000 Jumlah Rp. 3.675.000 Bayar iuran, fee, pajak , dll v Iuran tambang 10 H x 2.500
/ bln Rp 25.000 v Pajak Tambang 10 %/bln Rp. 31.000.000 v Fee lahan 10.000 x
1000MT Rp. 10.000.000 v Fee Desa 5.000 x 1000 MT Rp. 5.000.000 v Fee jalan 10.000 x
1000 MT Rp. 10.000.000 v Fee lain-lain 20.000 x 1000 MT Rp. 20.000.000 v Infak 2,5 %
/ bln Rp. 7.750.000 Jumlah Rp. 83.750.000 Break Event Point (BEP) BEP = total
investasi pemasukan bersih/bln = 350.000.000 122.351.250 Pemasukan kotor =
Pemasukan – pengeluaran 380.000.000 – 241.750.000 = 138.250.000 Pajak Ppn dan
Pph 11,5 % = 138.250.000 X 0,115 x100 = 15.898.750 Penghasilan bersih / bln =
penghasilan kotor – pajak = 138.250.000-15.898.750 = 122.351.250 = 2,86 bulan Atau
setara dengan 3 Bulan dihitung sejak start pengiriman barang ( minggu ke 17 pada
diagram barcarth ), atau sama dengan 7 bulan sejak pendirian koperasi. Analisa
Kegiatan Tahapan penambangan Diagram barcarth NK Minggu ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18 19 20 I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII Keterangan : NK : Nomor
Kegiatan I : Pendirian Koperasi II : Perizinan WIUPR ( Wilayah Izin Usaha
Pertambangan Rakyat ) III : Ekplorasi / Penyelidikan IV : Perizinan IUP Ekplorasi V :
Pembebasan Lahan VI : Perizinan IUP Operasi Produksi VII : Bangunan dan kantor VIII :
Pembukaan lahan IX : Pengupasan / Pembuangan Limbah X : Pembuatan Camp dan
Tailing XI : Proses ekploitasi / operasi produksi XI : Pengiriman material PENUTUP
Sebagai generasi yang turut mengamati perkembangan perekonomian kerakyatan,
Kami menilai, Ekploitasi sumber daya alam besar-besaran hanya menguntungkan satu
fihak pemegang izin saja, dan lebih ironisnya kebanyakan perusahaan pemegang izin itu
adalah perusahaan asing, pemerintah hanya mendapatkan sedikit bagian atas kontrak
karya ekploitasi sumber daya alam Kita itu, sedangkan rakyat hanya bisa menyaksikan
lahan peninggalan nenek moyang dan leluhur mereka yang tempat mereka
menggantungkan hidup dari hasil buminya, di keruk tampa ada kontribusi peningkatan
pendapatan bagi mereka. Mungkin UUD 1945 pasal 33 perlu di amandemen, karena jika
dulu Kita dijajah asing, kini rakyat kembali dijajah Undang – Undang dan penguasa
pelaksana Undang – Undang yang kebanyakan bukanlah anak bangsa yang terlahir dari
wilayah terekploitasi. Bayangkan jika terjadi pada Kita, Ibu/ Bapak dan/atau saudara-
saudara Kita, mereka hanya dapat tertegun melihat tanah mereka di keruk dan diberi
garis batas, hingga membatasi mereka menjadi tidak lagi bisa mengelola bahkan
menginjakkan kaki di lahan peninggalan orang tua mereka. Sumber daya alam di keruk
dan di angkut sebesar-besarnya ke negara yang selalu dipenuhi ambisi-ambisi baru
dalam peningkatan teknologi tiada batas yang berbahan dasar sumber daya mineral dan
migas. Jika Hal ini terus terjadi dan beriringan dengan peningkatan setiap tahunnya,
maka apa yang terjadi pada anak Kita yang masih kecil sekarang di 20 – 25 tahun
mendatang. Kritisasi Kami ini bermaksud untuk membuka fikiran Kita semua agar
bersama-sama rakyat ’sebenarnya’, berusaha mengeruk sumberdaya alam yang ramah
dan bermanfaat langsung bagi Kita, keluarga Kita dan Masyarakat di sekitar Kita yang
membutuhkan.