Anda di halaman 1dari 24

1. Pengertian Zakat Infaq dan Shadaqah.

a. Zakat.
Dalam pengertian bahasa, kata zakat (dalam bahasa Arab zakâh, dari kata kerja zakâ)
berarti ‘penyucian’ atau ‘pengembangan’. Dari pengertian ini, harta seseorang yang telah
dikeluarkan zakatnya menjadi bersih, karena tidak ada lagi “kotoran” yang sebenarnya bukan
miliknya. Jiwa orang yang mengeluarkannya pun menjadi bersih. Dari pengertian ini pula, harta
yang dikeluarkan zakatnya pada hakikatnya tidak berkurang, justru akan tumbuh berkembang.
Belum pernah ada cerita orang menjadi miskin gara-gara mengeluarkan zakat.
Dalam pengertian istilah agama, zakat adalah “mengeluarkan kadar tertentu dari harta benda
yang sifatnya wajib dan setelah memenuhi syarat-syarat tertentu”. Kadar tertentu, misalnya,
2,5% (untuk zakat mal/zakat harta, zakat emas, zakat perak), 20% (untuk zakat barang temuan),
5% atau 10% (untuk zakat pertanian, tergantung tingkat kesulitan pengairannya), dan lain-lain.
Sedangkan syarat tertentu adalah, misalnya, telah mencapai batas minimum (disebut nisab), dan
telah dimiliki satu tahun, dan sebagainya. Sekali lagi, zakat sifatnya wajib.
b. Infaq.
Infaq (bahasa Arabnya: infâq), maknanya lebih umum. Infak berarti ‘membelanjakan harta,
uang, ataupun bentuk kekayaan yang lain, yang bersifat wajib maupun yang bukan wajib’.
c. Shadaqah.
Shadaqah, dari segi bahasa berasal dari akar kata kerja shadaqa atau yang berarti
‘kesungguhan’ dan ‘kebenaran’. Al-Qur’an menggunakan kata ini dalam konteks pengeluaran
harta benda secara ikhlas. Sedekah sifatnya tidak wajib, melainkan sunnah, sangat dianjurkan.
Tetapi, meski demikian, kata sedekah juga terkadang digunakan oleh al-Qur’an untuk makna
pengeluaran harta yang wajib. mengambil zakat harta dari mereka yang memenuhi syarat-syarat.
Demikian juga surah at-Taubah ayat 60 yang berbicara tentang mereka yang berhak menerima
zakat dengan menggunakan kata (shadaqah) sedekah dalam arti zakat wajib.

2. Manfaat Zakat Infaq dan Shadaqah.


1. Sarana Pembersih Jiwa.
Sebagaimana arti bahsa dari zakat adalah suci, maka seseorang yang berzakat, pada
hakekatnya merupakan bukti terhadap duninya dari upyanya untuk mensucikan
diri;mensucikan diri dari sifat kikir, tamak dan dari kecintaan yang sangat terhadap
dunianya , juga mensucikan hartanya dari hak-hak orang lain (QS.:103,70:24-25)
2. Realisasi Kepedulian Sosial.
Salah satu alasan esensial dalam Islam yang ditekankan untuk ditegakkan adalah
hidupnya suasana ?takaful dan tadhomun ? (rasa sepenanggungan) dan hal tersebut
akan bisa direalisasian dengan ZIS. Jika sholat berfungsi Pembina ke khusu’an
terhadap Allah, maka ZIS berfungsi sebagai Pembina kelembutan hati seseorang
terhadap sesame (QS.9:71)
3. Sarana Untuk Meraih Pertolongan Sosial.
Allah SWT hanya akan memberikan pertolongan kepada hambaNya, manakala
hambanya Nya mematuhi ajranNya.Dan diantara ajaran Allah yang harus ditaati
adalah menunaikan ZIS 4.
4. Ungkapan Rasa Syukur Kepada Allah.
Menunaikan ZIS merupkan ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada
5. Salah Satu Aksiomatika Dalam Islam.
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang diketahui oleh setiap muslim, sebagaimana
mereka mengetahui sholat dan rukun-rukun Islam lainnya.
3. Hikmah Zakat Infaq dan Shadaqah.
zakat merupakan ibadah yang memiliki nilai dimensi ganda, trasendental dan horizontal.
Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan ummat manusia, terutama Islam.
Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan Allah SWT maupun hubungan
sosial kemasyarakatan di antara manusia, antara lain.
Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah dengan
materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka
akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT
Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang disekitarnya
berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada
uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan
keseimbanagn dalam distribusi harta (social distribution), dan keseimbangan tanggung jawab
individu dalam masyarakat Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang
berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat,
dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful Ijti’ma (tanggung
jawab bersama)
Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, emurnikan jiwa (menumbuhkan
akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil
(kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari
tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.
Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau
pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan
rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan
bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai
penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.
Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan
yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang
tentram, aman lahir bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan
hidupnya kembali bahaya komunisme 9atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan
menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi
kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji
Allah SWT, akan terciptalah sebuah masyarakat yang baldatun thoyibun wa Rabbun Ghafur.
Zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) merupakan bagian dari kedermawanan (filantropi)
dalam konteks masyarakat Muslim. Zakat merupakan kewajiban bagian dari setiap muslim yang
mampu serta menjadi unsure dari Rukun Islam, sedangkan Infaq dan Shodaqoh merupakan
wujud kecintaan hamba terhadap nikmat dari Allah SWT yang telah diberikan kepadanya
sehingga seorang hamba rela menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan agama baik
dalam rangka membantu sesama maupun perjuangan dakwah Islamiyah.

Zakat diwajibkan pada tahun ke-9 Hijriah, sementara shodaqoh fitrah pada tahun ke-2
Hijriah. Akan tetapi ahli hadis memandang zakat telah diwajibkan sebelum tahun ke-9 Hijriah
ketika Maulana Abdul Hasan berkata zakat diwajibkan setelah hijrah dan dalam kurun waktu
lima tahun setelahnya. Sebelum diwajibkan, zakat bersifat sukarela dan belum ada peraturan
khusus atau ketentuan hukum. Peraturan mengenai pengeluaran zakat di atas muncul pada tahun
ke-9 Hijriah ketika dasar islam telah kokoh, wilayah Negara berekspansi dengan cepat dan orang
berbondong-bondong masuk Islam. Peraturan yang disusun meliputi sistem pengumpulan zakat,
barang-barang yang dikenai zakat, batas-batas zakat dan tingkat persentase zakat untuk barang
yang berbeda-beda. Para pengumpul zakat bukanlah pekerjaan yang memerlukan waktu dan para
pegawainya tidak diberikan gaji resmi, tetapi mereka mendapatkan bayaran dari dana zakat.
Sampai akhirnya pada jaman Rasulullah, zakat menjadi pendapatan utama bagi Negara
(Sudarsono, 2003: 235).

Di Indonesia, pengelolaan dana ZIS telah diatur Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Zakat. UU ini mengatur tentang Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) yang
boleh beroperasi di Indonesia. OPZ yang disebutkan dalam UU tersebut adalah Badan Amil
Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZ merupakan lembaga pengumpul dan
pendayagunaan dana zakat yang dibentuk oleh pemerintah dari tingkat pusat sampai dengan
tingkat daerah sedangkan LAZ merupakan OPZ yang dibentuk atas swadaya masyarakat.

Dalam perkembangannya LAZ lebih maju dan dinamis dibandingkan BAZ bahkan bentuk LAZ
bisa dikembangkan dalam berbagai kelompok masyarakat seperti takmir masjid, yayasan
pengelola dana ZIS, maupun Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang ada di setiap perusahaan yang
berusaha mengorganisir pengumpulan dana ZIS dari direksi maupun karyawan.

Perkembangan BAZ dan LAZ di Indonesia perlu diikuti dengan proses akuntabilitas publikyang
baik dan transparan dengan mengedepankan motivasi melaksanakan amanah umat. Pemerintah
telah mengatur tentang proses pelaporan bagi BAZ dan LAZ dengan Keputusan Menteri Agama
RI Nomor 373 Tahun tentang pelaksanaan UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
Pasal 31 yang isinya:

Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) memberikan laporan tahunan
pelaksanaan tugasnya kepada peerintah sesuai dengan tingkatannya selambat-lambatnya 3
(tiga) bulan setelah akhir tahun.

Bahkan dalam salah satu syarat pendirian LAZ yang tertuang pada Pasal 22 SK Menteri Agama
RI tersebut disebutkan bahwa untuk mendapatkan ijin dari pemerintah, maka laporan keuangan
LAZ untuk 2 tahun terakhir harus sudah diaudit oleh Akuntan Publik. Selanjutnya, laporan
keuangan LAZ tingkat pusat maupun propinsi harus bersedia diaudit oleh Akuntan Publik dan
disurvey sewaktu-waktu oleh Tim dari Departemen Agama.

Dalam proses pelaporan keuangan BAZ dan LAZ selama ini sampai dengan SK Menteri Agama
tersebut dikeluarkan, OPZ belum memiliki standar akuntansi keuangan sehingga terjadi
perbedaan penyusunan laporan keuangan antara satu lembaga dengan lembaga yang lain. OPZ
yang cukup inovatif kemudian menggunakan PSAK Nomor 45 tentang Pelaporan Keuangan
Organisasi Nirlaba. Namun demikian, penggunaan PSAK tersebut tidaklah mampu sepenuhnya
mengatasi permasalahan standar akuntansi keuangan untuk OPZ. Sampai akhirnya pada Tahun
2005, Forum Zakat berupaya untuk menyusun Pedoman Akuntansi bagi Organisasi Pengelola
Zakat (PA-OPZ).

Belum lagi sempat disosialisasikan dan diterapkan secara luas, FOZ telah mengadakan kerja
sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia untuk menyusun PSAK Zakat pada tahun 2007.
Akhirnya pada tahun 2008, IAI telah menyelesaikan ED PSAK Nomor 109 tentang Akuntansi
Zakat yang resmi diberlakukan untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas
pengelola zakat per 1 januari 2009.

I. KONSEP PENGELOLAAN ZAKAT

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya
syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah
memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan
puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah, sekaligus
merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan
perkembangan umat manusia.
Macam-macam zakat:
1. Zakat Nafs (jiwa), juga disebut zakat fitrah
2. Zakat Maal (harta)
Menurut bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali-sekali oleh manusia
untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya. Menurut syar’a harta adalah segala sesuatu
yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim).
Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi dua syarat, yaitu:
1. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai
2. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil
pertanian, uang, emas, perak, dan lain sebagainya.
Penyaluran Dana Zakat
Golongan orang yang berhak menerima zakat disebut mustahiq. Hal ini secara rinci
dijelaskan dalam surat At Taubah: 60 sebagai berikut:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, Para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak-
budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.”

Seorang akuntan OPZ perlu mengetahui pengalokasian dana zakat dengan tujuan agar proses
pencatatan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah. Khususnya alokasi dana untuk amil,
karena asnaf ini merupakan hak bagi para pengelola zakat, maka alokasi dananya perlu
memperhatikan proporsi yang diperbolehkan bagi amil. Katakanlah sesuai dengan ketentuan
syariah, hak amil mencapai 1/8 bagian (12,5%) dari asnaf yang lain. Namun demikian, alokasi
sebesar itu perlu dibarengi dengan kinerja penyaluran yang sebanding dengan hak yang diterima
amil. Peningkatan kinerja amil dalam menyalurkan dana zakat sesuai dengan ketentuan syariah
akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap OPZ.

Delapan golongan penerima zakat tidak harus sama persis dalam menerima bagian. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penyaluran dan pendayagunaan dana zakat
antara lain:

Pertama: amil zakat perlu memprioritaskan penyaluran dan pendayagunaan dana zakat di sekitar
domisili OPZ sehingga lebih focus dan muzakki bisa turut serta maupun mengawasi pelaksanaan
penyaluran dana zakat.
Kedua: amil zakat perlu mengidentifikasi kondisi lingkungan dan permasalahan social di sekitar
domisili OPZ, sehingga amil mampu merumuskan skala prioritas golongan penerima zakat mana
yang paling memebutuhkan.

Ketiga: amil zakat perlu mendahulukan kebutuhan konsumtif mustahiq dibandingkan sector
produktif. Artinya, dengan kecenderungan beberapa amil zakat yang menyalurkan dana zakat
pada sector produktif, maka tidak sepenuhnya harus disalurkan dalam bentuk pendayagunaan
produktf selama sector konsumtif belum dipenuhi dengan cukup baik. Salah satu alas an yang
menguatkan adalah bahwa dana zakat merupakan hak mustahiq dalam rangka memenuhi
kebutuhan konsumsinya sehingga penyaluran dalam bentuk pemberdayaan mustahiq dengan
usaha produktif hanya bisa dilakukan dengan persetujuan dan sesuai dengan kemampuan
mustahiq.

II. KONSEP PENGELOLAAN INFAQ DAN SHODAQOH

Istilah Infaq dan Shodaqoh sering digunakan secara bersamaan dalam beberapa pembahasan,
seperti pembahasan mengenai pengelolaan dana Zakat, Infaq, dan Shodaqoh (ZIS) sehingga
muncul istilah Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh (BAZIS) maupun Lembaga Amil Zakat,
Infaq, dan Shodaqoh (LAZIS). Padahal istilah amil hanya digunakan dalam konsep pengelolaan
dana zakat. Namun demikian, praktik pengelolaan dana ZIS sudah begitu popular di Indonesia
sehingga seolah-olah dana ZIS tidak ada bedanya satu dengan yang lain.

Pada bagian sebelumnya telah dibahas tentang konsep dasar zakat dan pengelolaannya,
selanjutnya pada bagian ini akan dibahas tentang Infaq dan Shodaqoh. Infaq merupakan harta
(materi) yang disunnahkan untuk dikeluarkan dengan jumlah dan waktu yang tidak ditentukan.
Penyalurannya tidak ditentukan penerimanya. Sedangkan shodaqoh adalah harta non materiil
yang disunnahkan untuk dikerjakan, contoh: senyum, menyingkirkan batu/paku ditengah jalan,
dan lain sebagainya. Pengertian Infaq sebenarnya sama dengan pengertian shodaqoh, termasuk
juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infaq berkaitan dengan materi,
shodaqoh memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat non materi. Secara akuntansi,
infaq masih mungkin untuk dihitung sedangkan shodaqoh tidak mudah melakukan kalkulasi
secara tepat karena merupakan pemberian harta non materiil.
Pengelolaan Dana Infaq dan Shodaqoh

Dalam pengelolaannya, dana Infaq khususnya, OPZIS (Organisasi Pengelola Dana Zakat, Infaq,
dan Shodaqoh) memisahkannya dengan dana zakat dengan tujuan untuk memisahkan sumber
dan penggunaan dananya sehingga amanah dari masyarakat bisa disampaikan sesuai dengan
ketentuan syariah. Laporan keuangan yang disusun untuk memberikan informasi pengelolaan
dana infaq paling tidak memberikan informasi tentang dari mana sumber dana infaq diperoleh
dan kemana penyaluran dana infaq tersebut dilakukan.

Dalam praktiknya, jika OPZIS menerima shodaqoh dalam bentuk barang, maka OPZIS perlu
melakukan penilaian terhadap harga riil barang yang diberikan sepanjang bisa diketahui secara
pasti sehingga barang tersebut kemudian dikuantifikasi dengan nilai nominal yang dicantumkan
dalam laporan keuangan. Tidak jarang, dana infaq suatu ketika digunakan untuk menanggung
kegiatan operasional OPZIS dikarenakan dana amil zakat yang terbatas, padahal dalam kondisi
tertentu diperlukan dana operasional untuk menyelenggarakan aktivitas tertentu berkaitan dengan
kegiatan penghimpunan maupun penyaluran dana ZIS. Dalam konteks ini, penggunaan dana
infaq untuk kepentingan operasional diperbolehkan sepanjang tidak bertentangan dengan
ketentuan syariah.

Dalam proses pencatatannya, pengelolaan dana infaq dan shodaqoh menggunakan sistem
akuntansi dana seperti halnya dana zakat. Laporan keuangan yang disajikan antara lain memuat:
Pertama, sumber dana infaq dan shodaqoh baik materiil maupun non materiil. Untuk shodaqoh
non materiil seperti ada seseorang yang memberikan shodaqoh berupa emas 1 gram, maka perlu
dilakukan dikuantifikasi dengan merujuk pada harga pasaran emas pada saat diberikannya
shodaqoh tersebut. Penekanan jenis dana infaq diketahui dari niat atau tujuan donaturnya
sehingga pengelola dana ZIS perlu menanyakan kepada donator tentang tujuan diberikan dana
tersebut, bahkan tidak jarang donator mengikrarkan bahwa dana infaq yang diberikan
dialokasikan untuk tujuan khusus (muqayyadah) misalnya infaq untuk fakir miskin atau untuk
pendidikan anak yatim. Tentunya pengelola ZIS perlu merinci sumber secara detail sehingga
public juga mengetahui tentang sumber dana yang diperoleh oleh OPZIS. Kadang-kadang
pengelola dana ZIS juga menerima dana dari donator yang tidak bersedia menyebutkan
identitasnya, hal ini tentunya perlu dihargai sebagai bentuk upaya menghindari adanya riya (suka
memamerkan kebaikan kepada orang lain). Namun demikian, sebaiknya pengelola dana ZIS
semaksimal mungkin mengupayakan adanya konfirmasi tentang identitas donatur. Paling tidak
identitas tersebut hanya digunakan untuk pengendalian internal dan tidak untuk dipublikasikan.
Hal ini merupakan upaya yang dilakukan pengelola ZIS untuk meningkatkan akuntabilitas
lembaga.

Kedua, laporan penyaluran dana infaq dan shodaqoh menyajikan informasi pemanfaatan dan
pendayagunaan dana infaq dan shodaqoh. Karena sifatnya yang lebih fleksibel dibandingkan
dana zakat, maka penggunaan dana infaq bisa difokuskan untuk kepentingan-kepentingan yang
bukan menjadi bagian dari pendayagunaan dana zakat seperti pemanfaatan untuk pendidikan
guru-guru TPA yang punya komitmen untuk mengembangkan lembaga pendidikan. Pada saat
yang sama, dana zakat lebih diprioritaskan bagi fakir miskin sehingga pemanfaatan dana infaq
bisa dibuat lebih inovatif. Contoh lain, pemanfaatan dana infaq untuk investasi sektor produktif
untuk kepentingan pengembangan kelembagaan dengan dikombinasikan dengan wakaf
produktif. Namun demikian, pengelola dana infaq perlu memprioritaskan donatur dengan akad
muqayyadah (amanah untuk menyalurkan pada sektor yang ditunjuk oleh donatur). Ketiga,
laporan kondisi saldo dana infaq dengan kesimpulan akhir surplus atau defisit. Informasi ini
memberikan gambaran tentang efektifitas dan efisiensi pengelola dana infaq dan shodaqoh dalam
penghimpunan dan penyaluran dana infaq dan shodaqoh.

III. AKUNTANSI ZAKAT DAN INFAK/SEDEKAH (ZIS)


Ikatan Akuntan Indonesia telah menyusun Exposure Draft (ED) PSAK 109 tentang
Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah sebagai bagian dari penyempurnaan transaksi pengelolaan
zakat dan infak/sedekah pada Lembaga Keuangan Syariah. Secara umum, semua LKS baik
komersial maupun nirlaba memiliki transaksi pengelolaan dana zakat dan infak/sedekah baik dari
individu di dalam entitas maupun dari luar entitas yang diamanahkan kepada LKS.Secara
khusus, LKS yang memiliki kompetensi untuk mengelola dana ZIS adalah Organisasi Pengelola
Zakat yang berbentuk Badan Amil Zakat (BAZ), Lembaga Amil Zakat (LAZ), maupun Unit
Pengumpul Zakat.

Pada Rancangan ED PSAK 109 yang pernah disusun oleh IAI sebagai satu tahap yang dilalui
menuju penyusunan PSAK terdapat usulan bahwa ruang lingkup pemberlakuan PSAK tentang
Zakat dan Infak/Sedekah adalah entitas pembayar zakat, entitas pengelola (amil),dan entitas
penerima zakat. Dalam terdapat masalah manakala entitas pembayar zakat diusulkan sebagai
salah satu bagian yang mengikuti PSAK ini karena hakikatnya perusahaan (entitas) tidak wajib
membayar zakat. Subyek yang memiliki kewajiban membayar zakat hanyalah individu saja
sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak untuk mengeluarkan fatwa yang intinya
perusahaan wajib mengeluarkan zakat seperti yang pernah diusulkan IAI. Akhirnya ED PSAK
109 tentang Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah saja atau dengan kata lain hanya untuk
Organisasi Pengelola Zakat saja sedangkan entitas pembayar dan entitas penerima diharapkan
mengacu pada PSAK 101 tentang Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Syariah.

ED PSAK 109 dikeluarkan oleh IAI pada tanggal 26 Februari 2008 dan disosialisasikan ke
public untuk mendapatkan tanggapan dan masukan demi perbaikan PSAK tersebut. Pada bagian
ini akan diuraikan ED PSAK 109 yang kemudian disimulasikan sehingga diharapkan akan
diperoleh gambaran implementasi dan dampak pemberlakuan PSAK ini terhadap penyajian dan
pengungkapannya.

ED PSAK 109 tentang Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah, bahwa dana-dana yang dikelola oleh
OPZIS adalah dana zakat, infak/sedekah, dana non halal, dan dana amil menurut ED PSAK ini
keempat jenis dana tersebut perlu dilakukan pencatatan secara spesifik dan tersendiri menurut
sumber penghimpunan dan peruntukannya. Berikut gambaran ED PSAK Zakat dan
Infak/Sedekah yang dikeluarkan oleh IAI:

1. Ruang Lingkup

PSAK ini berlaku untuk amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah. Amil
yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah, yang selanjutnya disebut “amil”,
merupakan organisasi pengelola zakat yang pembentukannya dimaksudkan untuk
mengumpulkan dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah.

PSAK ini tidak berlaku untuk entitas syariah yang menerima dan menyalurkan zakat dan
infak/sedekah, tetapi bukan kegiatan utamanya. Entitas tersebut mengacu ke PSAK 101:
Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

1. Definisi-definisi khusus
 Amil adalah entitas pengelola zakat yang pembentukannya dan atau pengukuhannya diatur
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dan
menyalurkan zakat, infak/sedekah.
 Dana Amil adalah bagian amil atas dana zakat dan infak/sedekah serta dana lain yang oleh
pemberi diperuntukkan bagi amil. Dana amil digunakan untuk pengelolaan amil.
 Dana infak/sedekah adalah bagian nonamil atas penerimaan infak/sedekah.
 Dana zakat adalah bagian nonamil atas penerimaan zakat
 Infak/sedekah adalah harta yang diberikan secara sukarela oleh pemiliknya, baik yang
peruntukannya dibatasi (ditentukan) maupun tidak dibatasi.
 Mustahiq adalah orang atau entitas yang berhak menerima zakat
 Muzakki adalah individu muslim yang secara syariah wajib membayar (menunaikan) zakat.
 Nisab adalah batas minimum harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.
 Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh muzakki sesuai dengan ketentuan syariah
untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq).
1. Karakteristik

Zakat merupakan kewajiban syariah yang harus diserahkan oleh muzakki kepada mustahiq baik
melalui amil maupun secara langsung. Ketentuan zakat mengatur mengenai persyaratan nisab,
haul (baik yang periodik maupun yang tidak diperiodik), tariff zakat (qadar), dan peruntukannya.

Infak/sedekah merupakan donasi sukarela, baik ditentukan maupun tidak ditentukan


peruntukannya oleh pemberi infak/sedekah.

Zakat dan infak/sedekah yang diterima oleh amil harus dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah dan tata kelola yang baik.

1. Pengakuan dan Pengukuran Zakat


2. Pengakuan Awal

Penerimaan zakat diakui pada saat kas atau aset lainnya diterima. Sedangkan zakat yang diterima
dari muzakki diakui sebagai penambah dana zakat:

1. Jika dalam bentuk kas maka sebesar jumlah yang diterima


2. Jika dalam bentuk nonkas maka sebesar nilai wajar asset nonkas tersebut.

Penentuan nilai wajar asset nonkas yang diterima menggunakan harga pasar. Jika harga pasar
tidak tersedia, maka dapat menggunakan metode penentuan nilai wajar lainnya sesuai yang
diatur dalam PSAK yang relevan.

Zakat yang diterima diakui sebagai dana amil untuk bagian amil dan dana zakat untuk bagian
nonamil.

Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk masing-masing mustahiq ditentukan oleh amil
sesuai dengan prinsip syariah dan kebijakan amil.

Jika muzakki menentukan mustahiq yang harus menerima penyaluran zakat melalui amil maka
asset zakat yang diterima seluruhnya diakui sebagai dana zakat. Jika atas jasa tersebut amil
mendapatkan ujrah/fee maka diakui sebagai penambah dana amil.

1. Pengukuran Setelah Pengakuan Awal


Jika terjadi penurunan nilai aset zakat nonkas, jumlah kerugian yang ditanggung harus
diperlakukan sebagai pengurang dana zakat atau pengurang dana amil tergantung dari sebab
terjadinya kerugian tersebut.

Penurunan nilai asset zakat diakui sebagai:

1. Pengurang dana zakat, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian amil
2. Kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil.

1. Penyaluran Zakat

Zakat yang disalurkan kepada mustahiq diakui sebagai pengurang dana zakat sebesar:

1. Jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas


2. Jumlah tercatat, jika dalam bentuk aset nonkas
3. Pengakuan dan Pengukuran Infak/Sedekah
4. Pengakuan Awal

Infak/sedekah yang diterima diakui sebagai dana infak/sedekah terikat atau tidak terikat sesuai
dengan tujuan pemberi infak/sedekah sebesar:

1. Jumlah yang diterima, jika dalam bentuk kas


2. Nilai wajar, jika dalam bentuk nonkas

Penentuan nilai wajar aset nonkas yang diterima menggunakan harga pasar untuk aset nonkas
tersebut. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat menggunakan metode penentuan nilai wajar
lainnya sesuai yang diatur dalam PSAK yang relevan.

Infak/sedekah yang diterima diakui sebagai dana amil bagian amil dan dana infak/sedekah untuk
bagian penerima infak/sedekah.

Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk para penerima infak/sedekah ditentukan oleh
amil sesuai dengan prinsip syariah dan kebijakan amil.

1. Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

Infak/sedekah yang dapat berupa kas atau asset nonkas. Aset nonkas dapat berupa aset lancar
atau tidak lancar.
Aset tidak lancar yang diterima oleh amil dan diamanahkan untuk dikelola dinilai sebesar nilai
wajar saat penerimaannya dan diakui sebagai aset tidak lancar infak/sedekah. Penyusutan dari
aset tersebut diperlakukan sebagai pengurang dana infak/sedekah terikat apabila penggunaan
atau pengelolaan aset tersebut sudah ditentukan oleh pemberi.

Amil dapat pula menerima aset nonkas yang dimaksudkan oleh pemberi untuk segera disalurkan.
Aset seperti ini diakui sebagai aset lancar. Aset ini dapat berupa bahan habis pakai, seperti bahan
makanan, atau aset yang memiliki umur ekonomi panjang, seperti mobil ambulance.

Aset nonkas lancar dinilai sebesar nilai perolehan sedangkan aset nonkas tidak lancar dinilai
sebesar nilai wajar sesuai dengan PSAK yang relevan. Penurunan nilai aset infak/sedekah tidak
lancar diakui sebagai:

1. Pengurang dana infak/sedekah, jika terjadi bukan disebabkan oleh kelalaian amil.
2. Kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil.

Dalam hal amil menerima infak/sedekah dalam bentuk aset (nonkas) tidak lancar yang dikelola
oleh amil, maka aset tersebut harus dinilai sesuai dengan PSAK yang relevan.

Dana infak/sedekah sebelum disalurkan dapat dikelola dalam jangka waktu sementara untuk
mendapatkan hasil yang optimal. Hasil dana pengelolaan diakui sebagai penambah dana
infak/sedekah.

1. Penyaluran Infak/Sedekah

Penyaluran dana infak/sedekah diakui sebagai pengurang dana infak/sedekah sebesar:

1. Jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas


2. Nilai tercatat aset yang diserahkan, jika dalam bentuk aset nonkas.

Penyaluran infak/sedekah kepada amil lain merupakan penyaluran yang mengurangi dana
infak/sedekah sepanjang amil tidak akan menerima kembali aset infak/sedekah yang disalurkan
tersebut.

Penyaluran infak/sedekah kepada penerima akhir dalam skema dana bergulir dicatat sebagai
piutang infak/sedekah bergulir dan tidak mengurangi dana infak/sedekah.

1. Pengakuan dan Pengukuran Dana Non Halal


Penerimaan dana nonhalal adalah semua penerimaan dari kegiatan yang tidak sesuai dengan
prinsip syariah, antara lain penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank konvensional.
Penerimaan dana nonhalal pada umumnya terjadi dalam kondisi darurat atau kondisi yang tidak
diinginkan oleh entitas syariah karena secara prinsip dilarang.

Penerimaan dana nonhalal diakui sebagai dana nonhalal, yang terpisah dari dana zakat, dana
infak/sedekah dan dana amil. Aset nonhalal disalurkan sesuai dengan syariah.

1. Penyajian dan Pengungkapan Zakat dan Infak/Sedekah

Amil menyajikan dana zakat, dana infak/sedekah, dana amil, dan dana nonhalal secara terpisah
dalam (laporan posisi keuangan).

Zakat
Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi zakat, tetapi tidak
pada:
1. Kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan skala prioritas penyaluran, dan penerima.
2. Kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas penerimaan zakat, seperti
persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan.
3. Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan zakat berupa aset nonkas.
4. Rincian jumlah penyaluran dana zakat yang mencakup jumlah beban pengelolaan dan
jumlah dana yang diterima langsung mustahiq; dan
5. Hubugan istimewa antara amil dan mustahiq yang meliputi:
6. Sifat hubungan istimewa
7. Jumlah dan jenis aset yang disalurkan
8. Presentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran selama periode
Infak / Sedekah
Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi infak/sedekah, tetapi
terbatas pada:
a) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan unfak/sedekah
berupa aset nonkas;
b) Kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas penerimaan
infak/sedekah, seperti presentase pembagian, alasan, konsistensi kebijakan;
c) Kebijakan penyaluran infak/sedekah, seperti penentuan skala prioritas
penyaluran, dan penerima;
d) Keberadaan dana infak/sedekah yang tidak langsung disalurkan tetapi dikelola
terlebih dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah dan presentase dari
seluruh penerimaan infak/sedekah selama periode pelaporan serta alasannya;
e) Hasil yang diperoleh dari pengelolaan yang dimaksud di huruf (d) diungkapkan
secara terpisah;
f) Penggunaan dana infak /sedekah menjadi asset kelolaan yang diperuntukkan
bagi yang berhak, jika ada, jumlah dan presentase terhadap seluruh penggunaan
dana infak/sedekah selama periode pelaporan serta alasannya;
g) Rincian jumlah penyaluran dana infak/sedekah yang mencakup jumlah beban
pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung oleh penerima
infak/sedekah;
h) Rincian dana infak/sedekah berdasarkan pembentukannya, terikat dan tidak
terikat; dan hubungan istimewa antara amil dengan penerima infak/sedekah
yang meliputi:
(i) Sifat hubungan istimewa;
(ii) Jumlah dan jenis aset yang disalurkan; dan
(iii) Presentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran
selama periode.

Selama membuat pengungkapan tersebut diatas, amil mengungkapkan hal-hal berikut:

a) Keberadaan dana nonhalal, jika ada, diungkapkan mengenai kebijakan atas penerimaan
dan penyaluran dana, alasan dan jumlahnya; dan
b) Kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana infak/sedekah.

h. Komponen Laporan Keuangan

komponen laporan keuangan yang lengkap dari amil terdiri dari:

1) Neraca (laporan posisi keuangan);

2) Laporan perubahan dana

3) Laporan perubahan aset kelolaan;

4) Laporan arus kas; dan

5) Catatan atas laporan keuangan.


i. Evaluasi terhadap ED PSAK 109

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai bahan evaluasi dalam ED PSAK Zakat dan
Infak/Sedekah adalah sebagai berikut:

1) ED PSAK Zakat DAN infak/Sedekah telah sejalan dengan UU Nomor 38 Tahun 1999
tentang pengelolaan Zakat, Infaq, dan shodaqoh(OPZIS) saja sehingga pengaturannya lebih
focus dan jelas.

2) Bagian dana Amil belum diatur secara lengkap penghimpunan dan penyalurannya. ED
PSAK ini hanya menjelaskan secara garis besar sumber dana amil yaitu dari bagian dana zakat
dan infak/sedekah yang diambil sesuai dengan ketentuan syariah dan kewajiban amil. Bagian
perlu direvisi dengan menambahkan peran Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang melekat pada
setiap LKS sebagai salah satu karakternya. Pertimnbangan DPS dalam penetapan bagian amil
yang diambilkan dari dana zakat I infaq/sedekah meerupakan sesuatu yang penting untuk
dilakukan sebagai salah satu cara memastikan bahwa amil tidak secara sepihak menentukan
bagian yang diambilkan dana zakat dan infaq/sedekah.

3) ED PSAK ini belum mengkomodasi kemungkinan dana-dana lain yang dikelola oleh
OPZIS seperti yang selama ini dilakukan oleh beberapa LAZ Tingkat Nasional seperti DD
Republika, PKPU, Rumah Zakat Indonesia, dan Yayasan Dompet Sosial Al Fala (YDSF) yaitu
semacam dana kemanusiaan, dana pendidikan, maupun jenis dana lain yang memang
diprogramkan oleh masing-masing lembaga. Walaupun secara syariah dana-dana tersebut bisa
dikategorikan sebagai dana Zakat atau Infaq, namun perlu dipertimbangkan adanya akomodasi
praktik tersebut sehingga pengakuan dan pengukuran akuntansinya lebih jelas.

4) ED SPAK ini belum mengakomodasi kemungkinan kemungkinan adanya transfer antar


dana misalnya sebagiandana zakat ditransfer ke dana infaq/sedekah karena kondisi tertentu yang
dikategorikan darurat atau hanya untuk sementarawaktu yang kemudian akan segera
dikembalikan. Sebaiknya ED PSAK ini secara tegas mengatur tentang diperbolehkannya atau
tidak proses transfer antar dana tersebut sehingga jelas atatus praktik yang selama ini masih
dijalankan oleh beberapa OPZ dalam kondisi darurat.

5) Komponen laporan keuangan sebaiknya dilakukan pemisahan untuk masing-masing jenis


dana misalnya neraca dana zakat, neraca dana infak/sedekah, laporan perubahan dana
infaq/sedekah, laporan perubahan dana infaq/sedekah, dan seterusnya walaupun pada akhirnya
dilakukan penggabungan laporan keuangan.
j. Ilustrasi penerapan ED PSAK 109

ilustrasi berikut ini akan menggunakan asumsi penerapan ED PSAK 109 tentang Akuntansi
Zakat dan Infak/Sedekah dikeluarkan dan substansinya berbeda dengan EDnya, maka ilusrasi
berikut perlu dipahami sesuai dengan PSAK yang berlaku.

Sebagai ilustrasi adalah Takmir Masjid Al Ikhlas berencana membuat Lembaga Amil Zakat
(LAZ) yang akan diberi nama LAZ amanah Ummar. LAZ ini efektif beropersi tanggal 1 Juni
2008. Beberapa informasi yang diperoleh dan kegiatan LAZ Amanah Ummat adalah:

 Lembaga tersebut pengambil kebijakan bahwa dana pengolalaan diambil dari:


o 12,5% dari penerimaan dana Zakat
o 10% dari penerimaan dana Infak/Sedekah
o Transfer ke dana pengelola dilakukan setiap akhir bulan.
o Lembaga juga mempunyai kebijakan untuk membedakan rekening Bank untuk setiap
jenis dana yang dimiliki. Bagi hasil bank Syariah dianggap sebagai pendapatan dana
yang bersangkutan, bunga bank diakui sebagian penerimaan dana nonhalal.
o Bagian akuntansi menyusutkan Aktiva Tetap dengan metode garis lurus, dengan
ketentuan sebagai berikut:
 Computer 20% per tahun
 Kendaraan 25% per tahun

Berikut merupakan transaksi yang terjadi selama bulan Juni 2008 sebagai berikut

No Tgl Keterangan
1 1 Diterima pinjaman dari Tuan Ali sebesar Rp 10.000.000,- untuk modal kerja
awal lembaga
2 1 Diterima dari PT Karya dana zakat sebesar Rp 80.000.000,- dari infak Rp
50.000.000,-
3 2 Membayar sewa kantor selama setahun sebesar Rp 2.400.000,-
4 3 Membeli alat-alat tulis untuk keperluan lembaga sebesar Rp 1.000.000,-
5 5 Menyalurkan dana zakat kepada fakir 8 orang @ Rp 150.000
6 6 Menyalurkan dana zakat kepada orang yang kekurangan biaya perjalanan si
Fulan sebesar Rp 500.000,-
7 8 Menyalurkan dana zakat kepada seorang muallaf sebesar Rp 400.000,-
8 10 Lembaga membuka dua rekening di Bank Syariah IQTISADUNA dg no 01.01
untuk dana zakat dan no 01.02 untuk dana zakat. Masing-masing disetor Rp
5.000.000,-
9 11 Lembaga membuka rekening bank konvensioanal untuk lalu lintas jasa
keuangan dan disetor dana sejumlah Rp 1.000.000
10 12 Menyalurkan zakat sebesar sebesar Rp 10.000.000,- untuk pendidikan didaerah
terpencil dan terbelakanag
11 12 Diterima dari Ibu Rosi zakat dalam bentuk emas sebesar 80 gram. Harga pasar
emas tsb Rp 250.00,-
12 13 Dilakukan penyaluran dalam santunan pendidikan kepada Saudara Abid sebesar
Rp 5.000.000,- yang diambil dari dana infaq
13 15 Menyalurkan dana zakat kepada seorang yang terbelit hutang karena memenuhi
kebutuhan pangannya sebesar Rp 750.000,-
14 17 Disalurka dana infaq sebesar Rp 5.000.000 untuk pembelian keramik bagi
renovasi Masjid Al Ikhlas
15 19 Disalurkan dana infaq sebesar Rp 2.500.000,- untuk pengadaan buku-buku
cerita anak muslim bagi pengembangan TPA
16 21 Diperoleh undian dari bank konvensional sebesar Rp 5.000.000,- dan
pembayaran bunga bank sebesar Rp 50.000,-
17 24 Memberikan bantuan material untuk renovasi wc umum melalui mahasiswa
KKN senilai Rp 3.000.000,- yang terdiri dari semen, pasir dan batu
18 30 Membayar biaya telepon dan listrik masing-masing Rp 200.000,- dan Rp
100.000,-
19 30 Mmembayar gaji 3 orang amil@ Rp 750.000,-
20 30 Mencatat transfer dana zakat dan infaq ke dana pengelola
21 30 Mengembalikan pinjaman kepada Tuan Ali sebesar Rp 10.000.000,-
22 30 Mengakui biaya sewa kantor untuk bulan juni 2008

Berdasarkan transaksi tersebut jurnal-jurnal yang dibuat oleh LAZ Amanah Ummat adalah
sebagai berikut:

1. Jurnal untuk mencatat pinjaman dari Tuan Ali sebesar Rp 10.000.000,- yang diakui sebagai
kewajiban jangka pendek yang menjadi tanggungan amil.
(Dr) kas Amil Rp 10.000.000,-
(Cr) Hutang Jangka Rp10.000.000,-
Pendek (Amil)
1. Jurnal penerimaan dana zakat sebesar Rp 80.000.000,- dan dana infak Rp 50.000.000,-
dibuat dalam rekening penerimaan dana untuk masing-masing jenis.
(Dr) kas Zakat Rp 80.000.000,-
(Cr) Penerimaan Dana Zakat Rp80.000.000,-
(Dr) kas Infak Rp 50.000.000,-
(Cr) Penerimaan Dana Infaq Rp50.000.000,-
1. Jurnal pembayaran sewa kantor dimuka untuk 1 tahun kedepan sebesar Rp 2.400.00,-
(Dr) Sewa Dibayar Dimuka Rp 2.400.000,-
(Cr) kas Rp 2.400.000,-
1. Jurnal pembelian alat-alat tulis untuk keperluan lembaga sebesar Rp 1.000.000,-
(Dr) Suplies (Alat Tulis Kantor) Rp 1.000.000,-
(Cr) kas Rp 1.000.000,-
1. Jurnal penyaluran dana zakat kepada fakir sebesar 8 orang @ Rp 150.000,- sehingga total
seluruhnya adalah Rp 1.200.000
(Dr) Penyaluran Fakir Miskin Rp 1.200.000,-
(Cr) kas Zakat Rp 1.200.000,-
1. Jurnal penyaluran dana zakat kepada orang yang keeurangan biaya perjalanan (ibnu sabil)
sebesar Rp 500.000,-
(Dr) Penyaluran Ibnu Sabil Rp 500.000,-
(Cr) kas Zakat Rp 500.000,-
1. Jurnal penyaluran dana zakat kepada orang muallaf sebesar Rp 400.000,-
(Dr) Penyaluran Muallaf Rp 400.000,-
(Cr) kas Zakat Rp 400.000,-
1. Jurnal pembukuan dua rekening di Bank Syariah IQTISADUNA dg no 01.01 untuk dana
zakat dan no 01.02 untuk dana infaq yang masing-masing disetor Rp 5.000.000
(Dr) Rek IQTISADUNA 01.01 Rp 5.000.000,-
(Cr) kas Zakat Rp 5.000.000,-
(Dr) Rek IQTISADUNA Rp 5.000.000,-
(Cr) kas Zakat Rp 5.000.000,-
1. Jurnal pembukuan rekening bank konvesional yang disetor dana zakat sejumlah Rp
1.000.000
(Dr) Rek Bank Konvesional Rp 1.000.000,-
(Cr) kas Zakat Rp 1.000.000,-
1. Jurnal penyaluran zakat sebesar Rp 10.000.000,- untuk pendidikan Dai
(Dr) Penyaluran Sabilillah Rp 10.000.000,-
(Cr) kas Zakat Rp10.000.000,-
1. Jurnal penerimaan dana zakat dalam bentuk emas sebesar 80 gram dengan nilai Rp
20.000.000,- (80 x Rp 250.000,-)
(Dr) Kas Zakat Rp 20.000.000,-
(Cr) Penerimaan Dana Zakat Rp80.000.000,-
1. Jurnal penyaluran santunan pendidikan sebesar Rp 5.000.000,- yang diambil dari dana Infaq
(Dr) Penyaluran untuk pendidikan Rp 400.000,-
(Cr) Kas Infaq Rp 400.000,-
1. Jurnal penyaluran dana zakat kepada seorang yang terbit hutang karena memenuhi
kebutuhan pangannya sebesar Rp 750.000,-
(Dr) Penyaluran Sabilillah Rp 750.000,-
(Cr) Kas Zakat Rp 750.000,-
1. Jurnal penyaluran dana infaq sebesar Rp 5.000.000 untuk inovasi Masjid Al Ikhlas
(Dr) Penyaluran UntUK Pembangunan Rp 5.000.000,-
(Cr) Kas Infaq Rp 5.000.000,-
1. Jurnal penyaluran dana infaq sebesar Rp 2.500.000,- untuk pengadaan buku-buku crita anak
muslim bagi pengembangan TPA
(Dr) Penyaluran Untuk pendidikan Rp 2.500.000,-
(Cr) Kas Infaq Rp 2.500.000,-
1. Jurnal untuk pencatatan undian dari bank konvensional sebesar Rp 5.000.000,- dan
pembayaran bunga bank sebesar Rp 50.000,- yang dikategorikan sebagai dana non halal
(Dr) Rek Bank Konvensional Rp 5.050.000,-
(Cr) Penerimaan Dana Non Halal Rp 5.050.000,-
1. Jurnal pemberian bantuan material untuk renovasi WC umum melalui mahasiswa KKN
senilai Rp 3.000.000,- yang terdiri dari semen, pasir, dan batu dengan menggunakan dana
non halal
(Dr) Penyaluran Dana Non Halal Rp 3000.000,-
(Cr) Rek Bank Konvensional Rp 3.000.000,-
1. Jurnal pembayaran biaya telpon dan listrik masing-masing Rp 200.000,- dan Rp 100.000
(Dr) Beban Listrik Dan Telpon Rp 300.000,-
(Cr) Kas Amil Rp 3.00.000,-
1. Jurnal pembayaran gaji 3 orang amil @ Rp 750.000,- sehingga totalnya Rp 2.250.000,-
(Dr) Beban Gaji Amil Rp 2.250.000,-
(Cr) Kas Amil Rp 2.250.000,-
1. Jurnal untuk mencatat transfer dana zakat dan dana infaq ke dana pengelola
(Dr) Penyaluran Dana Zakat – Amil Rp 12.500.000,-
(Cr) Kas Zakat Rp12.500.000,-
Catatan: penerimaan kas amil dari zakat 12.5% x Rp 100.000.000,- yaitu Rp 12.500.000

(Dr) Penyaluran Dana Zakat – Amil Rp 12.500.000,-


(Cr) Kas Infaq Rp12.500.000,-

Catatan : penerimaan kas amil dari infaq 10% x Rp 50.000.000 yaitu Rp 5.000.000

(Dr) Kas Amil Rp 1.5700.000,-


(Cr) Penerimaan Dana Amil – Dana Rp12.500.000,-
Zakat
(Cr) Penerimaan Dana Amil – Dana Rp 5.000.000.-
Infaq

Catatan: pencatatan pengakuan penerimaan dana amil dari dana zakat dan dana infaq perlu
dirinci sehingga jelas sumber dan alokasi penggunaannya.

1. Jurnal untuk mencatat pengembalian pinjaman kepada Tuan Ali Sebesar Rp 10.000.000,-
dengan dana amil.
(Dr) Hutang Jangka Pendek (Amil) Rp 10.000.000,-
(Cr) Kas Infaq Rp10.000.000,-
1. Jurnal untuk mengakui biaya sewa kantor untuk bulan Juni 2008
(Dr) Beban Sewa Kantor Rp 200.000,-
(Cr) Sewa Dibayar Dimuka Rp 200.000,-

Berdasarkan hasil penjurnalan transaksi-transaksi tersebut, maka buku besar yang dibuat oleh
LAZ Amanah Ummat adalah sebagai berikut:

1. Kas Dana Zakat


Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
1 Juni 08 Penerimaan PT karya 80.000.000 80.000.000
3 Juni 08 Penyaluran Fakir Miskin 1.200.000 78.800.000
6 Juni 08 Penyaluran Ibnu Sabil 500.000 78.300.000
8 Juni 08 Penyaluran Muallaf 400.000 77.900.000
10 Juni 08 Setoran ke BS 5.000.000 72.900.000
IQTISADUNA
11 Juni 08 Setoran ke Bank Konven 1.000.000 71.900.000
12 Juni 08 Penyaluran Sabilillah 10.000.000 61.900.000
12 Juni 08 Penerimaan dari Ibu Rosi 20.000.000 81.900.000
15 Juni 08 Penyaluran Gharim 750.000 81.150.000
30 Juni 08 Penyaluran Dana Hak 12.500.000 68.650.000
Amil
1. Kas Dana Infak
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
1 Juni 08 Penerimaan PT karya 50.000.000 50.000.000
10 Juni 08 Setoran infaq ke Bank 5.000.000 45.000.000
Syariah IQTISADUNA
13 Juni 08 Penyaluran Pendidikan 5.000.000 40.000.000
17 Juni 08 Penyaluran 5.000.000 35.000.000
Pembangunan
19 Juni 08 Penyaluran Pendidikan 2.500.000 32.500.000
30 Juni 08 Penyaluran Dana Hak 5.000.000 27.500.000
Amil
1. Kas Dana Amil
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
1 Juni 08 Pinjaman Tuan Ali 10.000.000 10.000.000
2 Juni 08 Bayar Dimuka Sewa Kantor 2.400.000 7.600.000
3 Juni 08 Beli Alat Tulis Kantor 1.000.000 6.600.000
(ATK)
30 Juni 08 Beban Listrik dan Telpon 300.000 6.300.000
30 Juni 08 Beban Gaji Amil Juni 08 2.250.000 4.050.000
30 Juni 08 Penerimaan Hak Amil 21.550.000
30 Juni 08 Pengembalian Hutang Tn. 1.000.000 11.550.000
Ali
1. Bank Syariah IQTISADUNA – Zakat (01.01)
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
10 Juni 08 Setoran Zakat Dari Kas 5.000.000 5.000.000
1. Bank Syariah IQTASADUNA – Infaq (01.02)
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
10 Juni 08 Setoran Infaq Dari Kas 5.000.000 5.000.000
1. Bank Konvensional
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
11 Juni 08 Setoran Zakat Dari Kas 1.000.000 1.000.000
21 Juni 08 Undian dan Bunga 5.050.000 6.050.000
24 Juni 08 Penyaluran 3.000.000 3.050.000
Pembangunan Fasilitas
Umum (Via KKN)
1. Sewa Dibayar Dimuka
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
2 Juni 08 Sewa Kantor 2.400.000 2.400.000
30 Juni 08 Pengakuan Sewa Bln 200.000 2.200.000
Juni
1. Supplies
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
3 Juni 08 Beli Alat Tulis Kantor 1.000.000 1.000.000
(ATK)
1. Hutang Jangka Panjang
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
1 Juni 08 Pinjaman Tuan Ali 10.000.000 10.000.000
30 Juni 08 Pengembalian 10.000.000 0
hutang Tn.Ali
1. Penerimaan Dana Zakat
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
1 Juni 08 Penerimaan PT. Karya 80.000.000 10.000.000
12 Juni 08 Penerimaan dari Ibu Rosi 20.000.000 100.000.000
1. Penerimaan Dana Infaq
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
1 Juni 08 Penerimaan PT Karya 50.000.000 50.000.000
1. Penerimaan Dana Amil
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
30 Juni 08 Penerimaan hak amil dari 12.500.000 12.500.000
dana zakat
30 Juni 08 Penerimaan hak amil dari 5.000.000 17.500.000
dana infaq
1. Penerimaan Dana Non Halal
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
30 Juni 08 Undian dan Bunga 5.050.000 5.050.000
1. Penyaluran Dana Zakat – Fakir Miskin
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
3 Juni 08 Penyaluran Fakir Miskin 1.200.000 1.200.000
1. Penyaluran Dana Zakat – Amil
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
30 Juni 08 Penyaluran Dana Hak 12.500.000 12.500.000
Amil
1. Penyaluran Dana Zakat – Gharim
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
15 Juni 08 Penyaluran Gharim 750.000 750.000
1. Penyaluran Dana Zakat – Sabilillah
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
12 Juni Penyaluran 10.000.000 10.000.000
08 Sabilillah
1. Penyaluran Dana Zakat – Ibnu Sabil
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
6 Juni 08 Penyaluran Ibnu Sabil 5.00.000 5.00.000
1. Penyaluran Dana Zakat – Muallaf
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
8 Juni 08 Penyaluran Muallaf 4.00.000 4.00.000
1. Penyaluran Dana Infak – Pembangunan
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
17 Juni 08 Penyaluran Pembanguna 5.000.000 5.000.000
1. Penyaluran Dana Infak – Pendidikan
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
13 Juni 08 Santunan Pendidikan 5.000.000 5.000.000
Abid
19 Juni 08 Penyaluran Pendidikan 2.500.000 7.500.000
1. Penyaluran Dana Infak – Ke Amil
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
30 Juni 08 Penyaluran Dana Hak 5.000.000 5.000.000
Amil
Penyaluran Dana Non Halal
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
24 Juni Penyaluran 3.000.000 3.000.000
08 Pembangunan Fasilitas
Umum (Via KKN)
1. Beban Amil – Listrik dan Telpon
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
30 Juni Beban Listrik dan Telpon 300.000 300.000
08
1. Beban Gaji Amil
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
30 Juni Beban Gaji Amil Juni 08 2.250.000 2.250.000
08
1. Beban Sewa Kantor
Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo
30 Juni Pengakuan Sewa Bln Juni 2.00.000 2.00.000
08