Anda di halaman 1dari 12

E.

DASAR TEORI

a) Titrasi

Titrasi merupakan suatu proses analisis dimana suatu volume larutan


standar ditambahkan ke dalam larutan dengan tujuan mengetahui komponen yang
tidak dikenal. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui
secara pasti. Berdasarkan kemurniannya larutan standar dibedakan menjadi larutan
standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan standar primer adalah larutan
standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu
dengan kemurnian tinggi (konsentrasi diketahui dari massa - volume larutan).
Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan
menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian relatif rendah
sehingga konsentrasi diketahui dari hasil standardisasi (Day Underwood, 1999).

Standardisasi larutan merupakan proses saat konsentrasi larutan standar


sekunder ditentukan dengan tepat dengan cara mentitrasi dengan larutan standar
primer (John Kenkel, 2003). Titran atau titer adalah larutan yang digunakan untuk
mentitrasi (biasanya sudah diketahui secara pasti konsentrasinya). Dalam proses
titrasi suatu zat berfungsi sebagai titran dan yang lain sebagai titrat. Titrat adalah
larutan yang dititrasi untuk diketahui konsentrasi komponen tertentu. Titik ekivalen
adalah titik yg menyatakan banyaknya titran secara kimia setara dengan banyaknya
analit. Analit adalah spesies (atom, unsur, ion, gugus, molekul) yang dianalisis atau
ditentukan konsentrasinya atau strukturnya.

Titik akhir titrasi adalah titik pada saat titrasi diakhiri atau dihentikan.
Dalam titrasi biasanya diambil sejumlah alikuot tertentu yaitu bagian dari
keseluruhan larutan yang dititrasi kemudian dilakukan proses pengenceran (W.
Haryadi, 1990). Pengenceran adalah proses penambahan pelarut yang tidak diikuti
terjadinya reaksi kimia sehingga berlaku hukum kekekalan mol.

Kesalahan titrasi merupakan kesalahan yang terjadi bila titik akhir titrasi
tidak tepat sama dgn titik ekivalen (≤ 0,1%), disebabkan ada kelebihan titran,
indikator bereaksi dengan analit, atau indikator bereaksi dengan titran, diatasi
dengan titrasi larutan blanko. Larutan blanko larutan yang terdiri atas semua
pereaksi kecuali analit. Untuk dapat mengetahui titik ekivalen secara eksperimen
biasanya dibuat suatu bentuk kurva titrasi yaitu berupa kurva yang menyatakan
hubungan antara –log [H+] atau –log [X-] atau –log [Ag+] atau E (volt) terhadap
suatu volume (W. Haryadi, 1990).

b) Prinsip Dasar Titrasi

Reaksi penetralan dalam analisis titrimetri lebih dikenal sebagai reaksi asam
basa. Reaksi ini menghasilkan larutan yang pH-nya lebih netral. Secara umum
metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia sebagai berikut :

aA + tT  Produk

Dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T. untuk


menghasilkan produk yang sifat pH-nya netral. Dalam reaksi tersebut salah satu
larutan (larutan standar) konsentrasi dan pH-nya telah diketahui. Saat ekuivalen mol
titran sama dengan mol analitnya begitu pula mol ekuivalennya juga berlaku sama.

n titran = n analit

n eq titran = n eq analit

Dengan demikian secara stoikiometri dapat ditentukan konsentrasi larutan


ke dua. (Anonim, 2009).

Dalam analisis titrimetri, sebuah reaksi harus memenuhi beberapa


persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan, diantaranya:

1. Reaksi itu sebaiknya diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu dan


tidak adanya reaksi sampingan
2. Reaksi itu sebaiknya diproses sampai benar-benar selesai pada titik
ekivalensi. Dengan kata lain konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah
amat besar besar. Maka dari itu dapat terjadi perubahan yang besar dalam
konsentrasi analit (atau titran) pada titik ekivalensi.
3. Diharapkan tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik
ekivalen tercapai. Dan diharapkan pula beberapa indikator atau metode
instrumental agar analis dapat menghentikan penambahan titran
4. Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat
dilakukan hanya beberapa menit. (Anonim, 2009).

Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai
contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa,
titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi
kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan
lain sebagainya (Day, dkk, 1986).

Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran


ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang
dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator baik titrat maupun titran
biasanya berupa larutan. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi
dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut
dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik
ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar
kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting
agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik
ekivalen maka pH-nya 7 (netral).

Proses penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap, disebut


titrasi. Titik dimana reaksi itu tepat lengkap, disebut titik ekivalen (setara) atau titik
akhir teoritis. Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian
kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut.
Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita
bisa menghitung kadar titran. Lengkapnya titrasi, harus terdeteksi oleh suatu
perubahan, yang tak dapat disalah lihat oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan
standar (biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret) itu sendiri, atau lebih lazim
lagi, oleh penambahan suatu reagensia pembantu yang dikenal sebagai indikator
(Anonim, 2009).
c) Titrasi Asam Basa

Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan


dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan yang akan
ditentukan kadarnya disebut sebagai analit dan biasanya diletakkan didalam
erlenmeyer, sedangkan larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut
sebagai larutan sintesis atau titran dan diletakkan didalam buret.

Asidimetri dan alkalimetri adalah termasuk reaksi netralisasi yakni


reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang
berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat
juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima
proton (basa).

Untuk dapat dilakukan analisis volumetrik harus dipenuhi syarat- syarat


sebagai berikut :

a. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat. Kebanyakan reaksi ion


memenuhi syarat ini.
b. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan
reaksi. Bahan yang diselidiki bereaksi sempurna dengan senyawa baku
dengan perbandingan kesetaraan stoikiometris.
c. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekivalen tercapai,
baik secara kimia atau fisika.
d. Harus ada indikator jika syarat 3 tidak dipenuhi. Indikator juga dapat
diamati dengan pengukuran daya hantar listrik (titrasi potensiometri/
konduktometri).

d) Prinsip Dasar Titrasi Asam Basa

Titrasi asam basa melibatkan reaksi antara asam dengan basa, sehingga
akan terjadi perubahan pH larutan yang dititrasi. Secara percobaan,
perubahan pH dapat diikuti dengan mengukur pH larutan yang dititrasi
dengan elektrode pH meter.

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai analit ataupun
titran.Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa
atau sebaliknya. Titran ditambahkan tetes demi tetes sampai mencapai
keadaan ekivalen (artinya secara stoikiometri titran dan analit tepat habis
bereaksi) yang biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator, keadaan ini
disebut sebagai “titik ekivalen” yaitu titik dimana konsentrasi
asam sama dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah basa yang
ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan [H+] = [OH-].
Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat
perubahan warna indikator disebut “titik akhir titrasi”. Titik akhir titrasi ini
mendekati titik ekivalen, tapi biasanya titik akhir titrasi melewati titik
ekivalen.Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering disebut juga sebagai titik
ekivalen. Pada saat titik ekivalen, maka proses titrasi dihentikan, kemudian
dicatat volume titran yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut.

Titrasi asam basa adalah titrasi yang bertujuan menentukan kadar larutan
asam atau kadar larutan basa. Asam (yang sering diwakili dengan rumus umum
HA) secara umum merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan
menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7.

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun
titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.

Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan


ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi).
Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.

Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita
mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa
menghitung kadar titrant.

e) Larutan

Larutan adalah suatu campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat
dalam komposisi yang bervariasi (Petrucci. 1985). Zat yang jumlahnya lebih sedikit
di dalam larutan disebut (zat) terlarut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak
daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut. Sebagai contoh, jika sejumlah
gula dilarutkan dalam air dan diaduk dengan baik, maka campuran tersebut pada
dasarnya akan seragam (sama) di semua bagian (Styarini, L. W. 20012).

Sifat-sifat suatu larutan sangat dipengaruhi oleh susunan komposisinya.


Untuk menyatakan komposisi larutan tersebut maka digunakan istilah konsentrasi
larutan yang menunjukkan perbandingan jumlah zat terlarut terhadap pelarut
(Khikmah, N. 2015). Untuk jumlah terlarut yang berbeda pada setiap larutan, maka
dibutuhkan energi panas yang berbeda pula, yang nantinya akan mempengaruhi
titik didih larutan tersebut. Titik didih suatu larutan merupakan suhu larutan pada
saat tekanan uap jenuh larutan itu sama dengan tekanan udara luar (tekanan yang
diberikan pada permukaan cairan) (Wolke, 2003)

f) Konsentrasi Larutan

Konsentrasi larutan berupa larutan yang merupakan campuran homogen,


komposisinya dapat berbeda. Misalnya dua buah larutan garam yang pelarutnya
sama-sama satu liter, sedangkan jumlah garam terlarut berbeda. Dari dua larutan
tersebut orang lain tidak bisa mengetahui secara langsung berapa garam yang
terkandung didalamnya. Sebagai informasi mengenai jumlah realtif solute dan
sovent dalam larutan digunakan istilah konsentrasi larutan Konsentrasi larutan
adalah jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut. Konsentrasi
larutan merupakan suatu label larutan, agar larutan tersebut bisa memberikan
gambaran atau informasi tentang perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah
pelarutnya. Konsentrasi larutan yang sering dipergunakan dilaboratorium
diantaranya adalah molaritas (M), Normalitas (N), Fraksi Mol (X), molalitas (m)
dan ppm.
Konsentrasi larutan adalah komposisi yang menunjukkan dengan jelas
perbandingan jumlah zat terlarut terhadap pelarut. Kelarutan dapat kecil atau besar
sekali, dan jika jumlah zat terlarut melewati titik jenuh, zat itu akan keluar
(mengendap di bawah larutan). Dalam kondisi tertentu suatu larutan dapat
mengandung lebih banyak zat terlarut dari pada dalam keadaan jenuh (Adha, S. D.
2015).
g) Larutan NaOH

Natrium Hidroksida atau NaOH, atau terkadang disebut soda api merupakan
senyawa kimia dengan alkali tinggi. Sifat-sifat kimia membuatnya ideal untuk
digunakan dalam berbagai aplikasi yang berbeda.
Natrium hidroksida, juga dikenal sebagai soda kaustik adalah senyawa
anorganik dengan rumus kimia NaOH. Ini adalah padatan putih, dan merupakan
dasar logam kaustik yang sangat kaustik dan garam alkali. Ini tersedia dalam pelet,
serpih, butiran, dan sebagai solusi yang disiapkan 6 pada sejumlah konsentrasi yang
berbeda. Natrium hidroksida padat diperoleh dari larutan ini dengan cara
penguapan air.
Natrium hidroksida adalah bahan dasar populer yang digunakan di industri.
Sekitar 56% Natrium hidroksida yang dihasilkan digunakan oleh industri, 25% di
antaranya digunakan oleh industri kertas. Natrium hidroksida juga digunakan dalam
pembuatan garam Natrium dan deterjen, regulasi pH, dan sintesis organik. Ini
digunakan dalam proses produksi aluminium Bayer, secara massal Natrium
hidroksida paling sering ditangani sebagai larutan berair. karena lebih murah dan
mudah ditangani (Kurt dan Bittner, 2005)

h) Larutan Asam Oksalat

Pada tahun 1776, asam oksalat pertama kali disintestis oleh Scheele dengan
mengoksidasi gula dan asam nitrat. Pada tahun 1784 telah di buktikan bahwa asam
oksalat dapat dihasilkan dari garam yang terdapat pada jenis tanaman sorrel. Pada
tahun 1892, Gay Lussac menemukan bahwa asam oksalat dapat dihasilkan dengan
meleburkan serbuk gergaji dalam larutan alkali. Pada tahun 1856, Dale
memproduksi asam oksalat dari serbuk gergaji, dan proses ini berkembang dengan
bahan baku lain seperti : sekap padi, tongkol jagung, alang- alang, sabut kelapa
sawit, ampas tebu, kenaf, dan bahan atau tanaman yang mengandung selulosa (Kirk
R.E, Othmer D.F,1945).

Asam oksalat merupakan turunan asam karboksilat. Asam oksalat


mengandung dua gugus karboksil. Gugus karboksil ini terletak pada ujung rantai
lurus karbon. Asam okslat mempunyai rumus molekul C2H2O4 (Kirk R.E, Othmer
D.F,1945). Asam oksalat merupakan turunan asam dikarboksilat yang kuat dan
banyak terdapat di tanaman dan sayuran. Asam oksalat dihasilkan dalam tubuh
dengan metabolisme asam glioksilat atau asam askorbat. Asam oksalat tidak
dimetabolisme tetapi diekskresikan dalam urin . asam ini dapat digunakan sebagai
reagen analitis dan sebagai reduktor (OSHA, 2003).

Asam karbosilat paling sederhana ini biasanya digambarkan dengan rumus


HOOC-COOH. Merupakan asam organic yang relative kuat 10.000 kali leih kuat
dari pada asam asetat. Dianionnya dikenal sebagai okslaat juga agen pereduktor.

i) Larutan HCL

Larutan asam klorida (HCl) adalah cairan kimia yang sangat korosif, berbau
menyengat dan sangat iritatif dan beracun, larutan HCl termasuk bahan kimia
berbahaya atau B3. Asam klorida merupakan larutan gas hidrogen klorida (HCl)
dalam air. Warnanya bervariasi dari tidak berwarna hingga kuning muda.
Perbedaan warna ini tergantung pada kemurniannya.

Uap larutan asam yang sangat pekat dapat menyebabkan iritasi pada mata,
sedangkan kontak secara langsung dapat menyebabkan luka pada mata dan bisa
mengakibatkan kebutaan. Jika kontak dengan kulit akan menyebabkan terbakar.
Bahaya terhadap kesehatan tergantung pada konsentrasi larutannya, < 5% bersifat
iritan lemah, 5 – 10% bersifat iritan kuat, , > 10 % bersifat korosif .

j) Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandugan kimia yang terlarut supaya


terpisah dari bahan yang tidak dapat dengan pelarut cair. Simplisia yang diekstrak
mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut
dalam cairan penyari. Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan
mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani
menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hamper semua pelarut
diuapkan dan massa yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga menuhi baku
yang telah ditetapkan (Anonim, 2000).

Aira penyari dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang optimal
untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau aktif, dengan demikian senywa
tersebut dapat terpisahkan dari bahan dan dari senyawa kandungan lainnya. Ekstrak
yang diperoleh hanya mengadung sebagian besar senyawa yang diinginkan. Dalam
hal ekstrak total, maka cairan pelarut dipilih yang melarutkan hampir semua
metabolit sekunder yang terkandung (Anonim, 2000)

k) Kurkumin

Kurkumin merupakan senyawa kandungan utama tanaman kunyit yang


banyak tumbuh di Indonesia dan digunakan sebagai kosmetika, pewarna makanan,
bumbu, dan pengebatan tradisional (Oetari, 1995). Kurkumin murni sangat sulit
diperoleh langsung dari rimpang kunyit karena seringkali tercampur dengan dua
turunannya yaitu desmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin (Donatus,
1994).

Kurkumin merupakan pigmen yang larut dalam larutan yang bersifat lipofil,
seperti etanol dan metanol, serta larut dalam asam asetat glasial, tetapi praktis tidak
larut dalam air dan eter (Windholz, 1981). Aseton juga dapat digunakan sebagai
pelarut dalam proses pabrikasi. Kurkumin stabil dalam suasana asam, tetapi tidak
stabil dalam suasana basa dan kondisi terang (Stancovic, 2004). Dalam suasana pH
netral atau basa, kurkumin dapat terdegradasi menjadi asam firulat (asam 4-
hidroksi-3-metoksinamit) dan furolimetan (4-hidroksi-3-metoksinamoil-metana).
Pada range pH 1-7, larutan berwarna kuning sedangkan pada pH > 7,5 terjadi
perubahan warna menjadi warna merah (Stancovic, 2004).

l) Trayek pH

Menurut teori Bronsted-Lowry, suatu protolit dapat berperan sebagai


indicator asam-basa tanpa memperhatikan muatannya. Karena itu indikator asam-
basa bias berupa senyawa netral, bermuatan positif atau negative. Ada pula
indikator yang mempunyai hanya satu warna saja. Ada beberapa perbedaan
mendasar antara trayek pHiwarna indikator dua warna dengan indikator satu warna.
Untuk indikator dua warna, trayek pHnya tidak dipengaruhi oleh kepekatan
indikator itu sendiri, kecuali mata lebih peka terhadapo perubahan warna jika warna
itu kurang kuat. Sebaliknya, dengan indikator satu warna, penampakan wara
tergantung bukan hanya pada pHitetapi juga pada kepekatan indikator itu.
Misalnya, fenolftalein adalah indikator satu warna dengan trayek pHnya pada
pHi8,0-9,6. Bentuk asamnya tak berwarna dan bentuk biasanya berwarna merah
lembayung. Basa seperti pHnya lebih besar dari trayek indikator atau trayek
perubahan warna yang bersangkutan.

Jadi, diluar trayek pH, indikator hanya menampaknna warna asam atau
warna basa tanpa tergantung dari pHssebenarnya. Dengan perkataan lain kita dapat
menentukan pH suatu bahan berdasar warna indikator asal nilainya terletak dalam
trayek pH indikator yang dipakai (Harjadi, W, 1986).

j) Indikator Universal

Indikator universal akan memberikan warna tertentu jika diteteskan atau


dicelupkan kedalam larutan asam atau basa. Warna yang terbentuk kemudian
dicocokkan dengan warna standar yang sudah diketahui nilai pH nya. Nilai pH
dapat ditentukan dengan indikator pH (indikator universal), yang memperlihatkan
warna macam – macam untuk setiap nilai pH, sehingga bisa menentukan nilai pH
suatu cairan berdasarkan warna – warna tersebut (Surahman, 2018).

Indikator universal adalah suatu indikator asam basa yang dapat berubah
warnanya bila berada pada larutan yang memiliki derajat keasaman berbeda.
Indikator universal terbuat dari berbagai macam indikator asam basa yang memiliki
warna trayek pH berbeda-beda dengan perbandingan tertentu. Contoh indikator
universal yang sering digunakan yaitu:
a. Kertas indikator universal, adalah kertas yang digunakan untuk
menunjukkan tingkat keasaman dan kebasaan zat. Cara menggunakan kertas
indikator universal adalah dengan cara mencelupkan kertas indikator universal pada
larutan yang akan dianalisis, setelah itu mencocokkan kertas indikator tadi dengan
warna standar yang tertera pada kemasan indikator.
b. Larutan indikator universal, adalah campuran beberapa larutan indikator
yang memiliki perubahan warna berbeda. Warna-warna ini berasal dari metil
jingga, trayek pH antara 3-4 dengan perubahan warna merah-kuning, metil merah,
trayek pH 4-6 dengan perubahan warna merah-kuning, brom timol biru trayek pH
6-7,6 dengan perubahan warna kuning-biru dan penolptalein trayek pH 8-10 dengan
berubahan tak berwarna-merah.
m) Karakteristik Alat

Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang


memiliki garis ukur dan sumbat keran pada bagian bawahnya. Alat ini digunakan
untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan
presisi, seperti pada eksperimen titrasi. Buret sangatlah akurat, buret kelas A
memiliki akurasi sampai dengan ± 0,05 𝑐𝑚3 .
Sebuah buret digunakan untuk memberikan larutan tepat-terukur, volume
variabel. Buret digunakan terutama untuk titrasi, untuk memberikan salah satu
reaktan sampai titik akhir reaksi (titik ekivalen) tercapai. Oleh karena itu, presisi
buret yang tinggi, kehati-hatian pengukuran volume dengan buret sangatlah penting
untuk menghindari galat sistematik. Ketika membaca buret, mata harus tegak lurus
dengan permukaan cairan untuk menghindari galat paralaks. Bahkan ketebalan
garis ukur juga mempengaruhi pembacaan. Bagian bawah meniskus cairan harus
menyentuh bagian atas garis. Kaidah yang umumnya digunakan adalah dengan
menambahkan 0,02 ml jika bagian bawah meniskus menyentuh bagian bawah garis
ukur. Oleh karena itu, presisinya yang tinggi, satu tetes cairan yang menggantung
pada ujung buret harus ditransfer ke labu penerima, biasanya dengan menyentuh
tetasan itu ke sisi labu dan membilasnya ke dalam larutan dengan pelarut. Untuk
mengisi buret, menutup stopcock (keran) dibagian bawah dan menggunakan corong
untuk menghindari terjadinya tumpahan. Mungkin perlu untuk mengangkat corong
sedikit, untuk memungkinkan larutan penitar untuk mengalir bebas. Mengisi buret
menggunakan pipet transfer sekali pakai. Pipet ini bekerja lebih baik daripada
corong terutama untuk buret berkapasitas kecil (10 burets ml). Pastikan pipet
transfer kering kemudian dibilas dengan titran, sehingga konsentrasi larutan tidak
akan berubah. Sebelum titrasi, perlu diperhatikan kondisi buret dengan larutan
titran dan memeriksa bahwa buret mengalir bebas. Untuk kondisi buret, bilas
sehingga semua permukaan yang ada dilapisi dengan larutan, lalu tiriskan.
Pembilasan dua atau tiga kali akan memastikan bahwa konsentrasi titran tidak
diubah oleh setetes air yang tertinggal. Periksa ujung buret dari adanya gelembung
udara. Untuk menghilangkan sebuah gelembung udara, dengan cara memukul sisi
ujung buret sementara larutan mengalir. Jika terdapat gelembung udara yang hadir
selama titrasi, maka dalam pembacaan volume yang ada mungkin dalam kesalahan
dan akan mempengarahi keakuratan data yang diperoleh. Bilas ujung buret dengan
air dari botol mencuci (labu semprot) dan mengeringkan hati-hati. Setelah beberapa
menit memeriksa larutan pada ujung untuk melihat kebocoran buret. Ujung mulut
buret harus bersih dan kering sebelum membaca volume awal. Ketika buret diisi
dengan larutan, tanpa gelembung udara atau kebocoran, maka sebelum membaca
volume awal (biasanya menginpitkan ke titik 0,00 ml skala). Pastikan bahwa
dinding bagian dalam buret dalam kondisi kering. Dapat menggunakan bantuan
kertas saring untuk mengeringkan bagian dalam buret. Hal ini bertujuan untuk
menghindari penambahan volume larutan setelah diimpitkan. Pembacaan buret
kartu dengan persegi panjang hitam dapat membantu untuk mengambil membaca
lebih akurat. Pastikan pandangan mata pada tingkat meniskus, bukan atas atau di
bawah. Membaca dari sudut ataupun bukan lurus, menghasilkan kesalahan
paralaks. Memberikan larutan untuk labu titrasi dengan memutar stopcock (kran)
tersebut. Larutan penitar harus disampaikan dengan cepat sampai beberapa ml dari
titik akhir. Titik akhir harus didekati perlahan-lahan, dengan penambahan tetes
demi tetes. Gunakan labu semprot untuk membilas atau mencuci ujung buret dari
larutan. Titik akhir (ekivalen) dapat menunjukkan bagaimana untuk memberikan
setetes sebagian larutan, ketika mendekati titik akhir.