Anda di halaman 1dari 16

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Genetika dengan judul praktikum “Medium


Pemeliharaan lalat Buah (Drosophila melanogaster)” yang disusun oleh:
nama : Friska Novia Upriana
NIM : 1714041016
kelas : Pendidikan Biologi A
kelompok : I (Satu)
Setelah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten/ Koordinator maka dinyatakan
diterima.

Makassar, September 2019

KoordinatorAsisten Asisten

Muh.Habil Ahmad Muh.Habil Ahmad


NIM : 1614142011 NIM : 1614142011

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Hartati, S.Si, M.Si, Ph.D.


NIP :19740405 2000 03 2 004
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……………………………………………………………………..1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………….2
B. Tujuan Praktikum………………………………………………………….3
C. Manfaat Praktikum………………………………………………………...3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Lalat Buah (Drosophila melanogaster)……………………………...……4
B. Medium Lalat Buah……………………………………………………….5
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Medium Lalat Buah……….6
BAB III METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat………………………………………………………...8
B. Alat dan Bahan…………………………………………………………….8
C. Prosedur Kerja……………………………………………………………..9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan………………………………………………………...11
B. Pembahasan………………………………………………………………11
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………....14
B. Saran……………………………………………………………………...14
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………...15

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banyak penemuan yang diperoleh dari lalat buah. Misalnya, penelitian
yang dilakukan pada tahun 1916 dengan menggunakan Drosophila menyimpulkan
bahwa kromosom merupakan basis fisik pewarisan dan struktur yang mengandung
gen. Ahli genetika ingin menemukan gen-gen yang masuk dalam proses biologis
dan mencari tahu apa yang dilakukan gen-gen tersebut. Setelah sekian lama, gen
peregulasi utama yang menyusun tubuh hewan selama masa perkembangan embrio
ditemukan dalam Drosophila (Campbell dkk, 2016).
Pemeliharaan stok Drosophila melanogaster dapat digunakan bermacam-
macam medium. Tujuh jenis medium kultur berbeda digunakan pada pusat
penelitian ini dan tiap medium memiliki kelebihan dana memelihara lalat buah.
Orang pertama yang melakukan penelitian genetika dengan menggunakan
Drosophila melanogaster sebagai objek dari penelitinnya ialah Thomas Hunt
Morgan. Spesies ini merupakan serangga pemakan jamur yang sering didapatkan
pada buah buahan yang sudah tidak utuh lagi. Spesies Drosophila melanogaster ini
merupakan serangga yang pada ummnya tidak berbahaya (Hartati dan Ferry, 2017).
Lalat buah merupakan hewan percobaan yang sering digunakan dalam
praktikum genetika. Lalat buah memiliki beberapa keunggulan yaitu mudah
dipelihara, tidak membutuhkan kondisi yang steril, siklus hidup dari lalat buha
relatif singkat, dan mempunyai banyak mutan serta dapat menghasilkan banyak
keturunan. Lalat buah termasuk dalam ordo dipteral yang mengalami
metamorphosis sempurna (holometabola) dengan empat stadium perkembangan
yakni telur-larva-pupa-imago. Telurnya diletakkan oleh lalat buah betina dewasa
dalam jaringan buah.
Maka dari itu untuk mengetahui siklus hidup Drosophila melanogaster,
dibutuhkan medium yang cocok agar dapat mengamati setiap fase
perkembangannya. Maka dari itu praktikum kali ini, kami akan mempelajari cara
menyiapakan wadah medium dan cara pembuatan medium yang baik dan benar

2
untuk Drosophila melanogaster dengan menggunakan komposisi bahan tertentu
yang telah ditetapkan.

B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui cara menyiapkan wadah medium pemeliharaan lalat buah
(Drosophila melanogaster)
2. Mengetahui cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila
melanogaster)

C. Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa bisa menyiapkan wadah medium pemeliharaan lalat buah
(Drosophila melanogaster
2. Mahasiswa bisa membuat medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila
melanogaster)

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Lalat Buah (Drosophila melanogaster)


Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat yang biasa ditemukan di buah-
buahan busuk ataupun nasi busuk. Drosophila juga diklasifikasikan ke dalam sub
ordo Cyclophorpha (pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar III/
kulit sementara) dan termasuk ke dalam seri Acaliptrata yaitu imago menetas
dengan keluar dari bagian anterior pupa. Drosophila melanogaster telah digunakan
secara bertahun-tahun dalam kajian genetika dan perilaku hewan.Drosophila
melanogaster juga menjadi salah satu model organisme yang sering dimanfaatkan
untuk mempelajari fungsi gen, pengembangan dan mekanisme penyakit
(Rahmawati dkk, 2016).
Drosophila memiliki ciri morfologi yang berbeda antara jantan dan betinanya
(Borror, et all, 1996). Pada jantan Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila
dibandingkan dengan yang betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan
memiliki sisir kelamin. Sedangkan pada betina ukuran relatif lebih besar, memiliki
6 ruas pada bagian abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin. Drosophila
melanogaster merupakan hewan yang bersayap, dan berukuran kecil. Maka dari
itu pengamatan morfologi hewan ini bisa dengan menggunakan alat Bantu seperti
lup dan mikroskop (Suparman dkk, 2018).
Alasan penggunaan Drosophila melanogaster karena mudah untuk diperoleh
sehingga tidak menghambat penelitian, mempunyai ukuran kecil dan mudah
dikembangbiakkan di laboratorium, mempunyai siklus hidup yang pendek yaitu
berkisar antara 7 sampai dengan 10 hari bergantung pada kondisi lingkungan
termasuk suhu sekitar sehingga dalam waktu satu tahun dapat diperoleh lebih dari
25 generasi, memiliki banyak variasi sifat yang diturunkan, mempunyai tanda-tanda
kelamin sekunder yang mudah dibedakan, hanya mempunyai delapan kromosom
saja (3 pasang kromosom autosom dan 1 pasang kromosom seks) sehingga
memudahkan dalam pengontrolan, serta karena embrio berkembang di luar tubuh

4
induknya yang merupakan suatu aset untuk studi perkembangan dan juga mudah
dipelihara pada medium kultur yang sederhana (Rahmawati dkk, 2016).
Pada Drosophila melanogaster ditemukan 4 pasang kromosom. Pada jantan
dan betina umumnya adalah sama, tetapi ada sedikit perbedaan yaitu pada salah
satu kromosom jantan terdapat lengkungan seperti mata pancing. Sementara itu
terkait dengan umur seksual betina untuk kawin pada Drosophila melanogaster
diperoleh informasi yang bervariasi. Ada beberapa pendapat yang menyebutkan
umur berapa Drosophila melanogaster betina mencapai kedewasaan seksual
(Suparman dkk, 2018).

B. Medium Lalat Buah


Medium kultur merupakan suatu bahan yang menjadi lingkungan perkulturan.
Drosophila melanogaster yang terdiri atas campuran nutrient. Umumnya media
mengandung air, sumber energi, nitrogen, sulfur, fosfat, oksigen, hidrogen serta
unsur-unsur kelumit (trace mineral), contohnya seperti medium pepaya. Pepaya
digunakan sebagai medium karena pepaya mempunyai kandungan gizi sangat baik,
antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan
lain. Pepaya kaya mineral seperti kalium, karbohidrat, lemak, protein, fosfor, besi
dan kalori (Rahmawati dkk, 2016).
Interaksi gen yang terjadi melalui pengendalian terhadap reaksi-reaksi
biokimia yang menyusun suatu lintasan metabolisme adalah gambaran bagaimana
faktor genetik menentukan ekspresi sifat makhluk hidup. Keadaan genetik
merupakan faktor yang tidak diragukan lagi berperan dalam menentukan ekspresi
sifat makhluk hidup. Namun demikian, ekspresi sifat makhluk hidup tidak hanya
ditentukan oleh faktor genetik berupa gen (Brown dkk, 2018).
Untuk memelihara Drosophila melanogaster dapat digunakan bermacam-
macam medium. Ada banyak resep dalam persiapan media culture untuk
D.melanogaster dan laboratorium berbeda atau pusat penelitian memiliki media
kultur yang mereka formulasikan sendiri untuk lalat buah mereka. Medium yang
pertama kali digunakan yaitu antara pisang ambon dengan tape ketela pohon,

5
medium ini dipakai sekitar 15 tahun. Dan pada tahun 1984 mulai digunakan
beberapa medium dan resep baru (Hartati dan Ferry, 2017).
Lalat buah, Drosophila melanogaster (D. melanogaster), adalah model
organisme yang dipelajari karena umurnya yang pendek, laju reproduksi tinggi, dan
ketersediaan beragam genotipe. Hampir 75% gen yang terkait dengan penyakit
neurologis manusia ditemukan di D. melanogaster. Hewan transgenik yang
mengekspresikan protein manusia dapat digunakan dalam model penyakit
neurodegeneratif (Brown dkk, 2018).

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Medium Lalat Buah


Lalat buah dapat terbang dengan rentang jangkauan yang terbatas sehingga
barier laut seperti yang terdapat antara Pulau Ternate dan Tidore mengisolasi secara
geografis pertemuan kedua populasi Drosophila melanogaster dari masing-masing
pulau. Pada penelitan lalat buah jenis lain, yakni Drosophila pseudoobscura (Dood,
2007) menunjukan bahwa isolasi reproduksi merupakan dampak dari adapatasi
divergen. Keturunan dari masing-masing populasi berkembang dan bereproduksi
secara sendiri-sendiri sehingga perkawinan diantaranya akan semakin berkurang
(Suparman dkk, 2018).
Zat mutagenik sekarang telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan
penelitian, sering sekali dimanfaatkan untuk menimbulkan mutasi pada suatu objek
penelitian, selain mutasi zat mutagenik diyakini dapat menimbulkan pengaruh lain
pada objek penelitian, salah satu zat mutagenik yang dapat digunakan adalah
tembakau, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh
tembakau terhadap jumlah turunan Drosophila melanogaster dengan perlakuan
pemberian tembakau dalam media kultur untuk mempengaruhi jumlah turunan
Drosophila melanogaster dan diharapkan dapat mengembangkan pemahaman
mahasiswa tentang pengaruh tembakau terhadap jumlah turunan Drosophila
melanogaster (Rahmawati dkk, 2016).
Berbagai macam bakteri dari Proteobacteria, Firmicutes, dan Bacteroidetes
filum, antara lain, telah dilaporkan dari Drosophila. Sebaliknya, jamur ditandai
dengan di Drosophila, dengan sebagian besar studi yang berfokus pada taksonomi,

6
ekologi ragi di Indonesia. Ini adalah kesimpulan yang mengganggu karena D.
melanogaster memiliki distribusi dan kunjungan ke seluruh dunia berbagai macam
makanan manusia. Oleh karena itu, lalat buah memiliki telah dianggap sebagai
hama umum dalam industri makanan. Pada awal abad ke-21, Drosophila telah
ditetapkan sebagai sistem model untuk studi kekebalan setelah analisis genomnya
mengungkapkan kecanggihan yang tidak terduga dan kesamaan dengan sistem
kekebalan bawaan mamalia. Penggunaan Drosophila untuk studi virulensi dan
interaksi patogen membutuhkan pengetahuan yang lebih dalam simbion mikroba
dan distribusi internal dan eksternal mereka (Ramirez-Camejo dkk, 2017).

7
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari / Tanggal : Rabu, 11 September 2019
Waktu : Pukul 09.00 WITA sampai 10.00 WITA
Tempat : Lab Biologi lt. 2 UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Botol kultur 6 buah
b. Kertas serbet 6 buah
c. Plastik pembungkus 6 buah
d. Karet gelang 6 buah
e. Gelas beaker 1 buah
f. Panci 2 buah
g. Blender 1 buah
h. Baskom 1 buah
i. Pisau 1 buah
j. Kompor 1 buah
k. Spatula (pengaduk) 1 buah
2. Bahan
a. Pisang ambon 600 gram
b. Gula merah / gula jawa 150 gram
c. Agar-agar (swallow) 7 gram
d. Nipagin 7 ml
e. Sorbic acid 5 ml
f. Ragi / pernifan secukupnya
g. Aquades secukupnya
h. Alkohol secukupnya

8
C. Prosedur Kerja
1. Penyiapan wadah kultur

Cuci bersih botol


Siapkan botol kultur dan Potonglah sumbatan
dengan sabun.
busa sebagai penutupnya gabus sesuai ukuran
mulut botol

Masukkan botol medium Bungkus mulut botol kultur


kedalam panci untuk di dengan plastik lalu ikat
sterilisasi, lalu keluarkan dengan karet
setelah 15 menit.

2. Pembuatan Medium Kultur

Tambahkan adonan
Campurkan gula merah pisang kedalam air gula
dengan aquades lalu Pisang diblander hingga yang mendidih masak
dimasak hingga mendidih lumat sekitar 15 menit

9
Aduk secara perlahan Menambahakan agar-agar
hingga mendidih swallow Menambahkan sorbic
acid kedalam adonan

Meletakan kertas serbet


Menuang adonan kedalam
kedalam medium yang sudah
botol kultur sekitar 40 ml/40
memadat
gram

Taburkan sedikit ragi pada Tutup media biakan dengan


medium yang sudah memadat plastic yang sudah disemprot
alcohol 20%

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Gambar medium biakan keterangan

1. Pelastik penutup
2. Karet gelang
1 3. Kertas serbet
4. Ragi
2 5. Media kultur
2

3
2
4
25

B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat kita ketahui bahwa
medium lalat buah yang digunakan harus disterilkan terlebih dahulu agar medium
yang akan digunakan terbebas dari bakteri. Dalam pembuatan medium
pemeliharaan lalat buah pertama, kita harus mensterilkan semua alat alat yang akan
digunakan. Lalu , larutkan gula merah dengan aquades lalu masak hingga mendidih,
Setelah itu menghaluskan pisang menggunakan blender. Lalu campurkan pisang
yang telah dihaluskan beserta agar-agar kedalam larutan gula merah tesebut lalu
aduklah hingga mendidih. . Setelah mendidih, campurkan adonan dengan solbac
acid lalu aduk hingga merata. Setelah itu tuangkanlah adonan kedalam medium
sebanyak 40ml. Kemudian letakkan kertas saring di atas adonan, dan taburkan ragi
secukupnya, lalu tutuplah kembali medium tersebut dengan penutup plastik yang
telah disterilkan kembali dengan alkohol. Lalu medium siap digunakan.

11
Medium lalat buah yang dibuat pada unit 1 terbuat dari campuran beberapa
bahan yang berbeda-beda fungsinya, antara lain:1). Pisang ambon yang akan
mengundang datangnya lalat buah tersebut, karena pisang ambon memiliki aroma
yang sangat kuat untuk mengundang Drosophila melanogaster. 2). Gula merah
befungsi sebagai pemberi rasa manis terhadap medium, dan juga akan dibutuhkan
oleh Drosophila betina untuk menghasilkan telur. 3). Ragi digunakan untuk
memberi nutrisi pada lalat buah dan anti jamur. 4). Nipagin berfungsi untuk
mencegah timbulnya jamur pada medium. 5). Sorbic acid berfungsi sebagai
pengawet adonan pada medium. 6). Agar agar digunakan untuk memadatkan
adonan yang akan dimasukkan dalam botol kultur. 7). Kertas saring digunakan
sebagai tempat menempelnya telur Drosophila melanogaster. 8). Aquades
digunakan untuk melarutkan adonan. 9). Alkohol digunakan untuk mensterilkan
alat alat yang akan digunakan dari bakteri bakteri yang ada.
Sedangkan alat-alat yang digunakan memiliki fungsi sebagai berikut: 1).
Botol kultur/botol selai sebagai tempat menyimpan medium yang telah dibuat. 2).
Sumbat spons sebagai penutup botol sehingga lalat buah yang telah ditangkap tidak
keluar karena pori-pori pada sumbat spons yang kecil. 3). Blender sebagai alat
untuk menghancurkan pisang hingga halus. 4). Gelas ukur sebagai takaran aquades.
5). Panci sebagai tempat memasak medium. 6). Pengaduk sebagai pengaduk
adonan. 7). Kompor gas untuk memasak/memanaskan adonan. 8). Timbangan
untuk menimbang komposisi bahan.
Lalat buah biasa dijumpai pada medium pisang, papaya, tomat, nassi basi dan
tempat sampah disekitar rumah. Lalat buah mendatangi buah-buahan yang ranum
disebabkan karena adanya zat fermentasi yang memiliki aroma kuat sehingga
mereka tertarik dan datang pada buah-buahan tersebut. Lalat buah menyukai buah
yang masak karena mengandung zat-zat yang dibutuhkan. Selain itu, makanan akan
mempengaruhi jumlah telur lalat betina dan perkembangan larvanya. Larva dan
imago lalat buah makan subtansi kaya karbohidrat yang mengalami fermentasi.
Karbohidrat memegang peranan penting dalam pertumbuhan Drosophila
karena karbohidrat merupakan komponen utama dalam buah-buahan dan
merupakan zat gizi utama penghasil energiZat yang diperlukan dalam pertumbuhan

12
adalah protein, sedangkan dalam buah kandungan protein sangat rendah dengan
demikian Drosophila mengubah karbohidrat ke protein untuk pertumbuhannya.

13
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Wadah medium pemeliharaan lalat buah harus disterilkan terlebih dahulu
agar tidak ada bakteri yang tumbuh.
2. Pembuatan medium lalat buah dimulai dari mensterilkan alat kemudian
mengolah bahan yang digunakan yakni pisang ambon, gula merah, agar-agar, ragi
dan aquades. Gula merah dicairkan lalu dicampur dengan pisang halus agar-agar,
setelah itu medium dimasukkan dalam botol kultur dan medium siap digunakan.

B. Saran
1. Adapun saran untuk praktikan agar sebelum masuk kedalam laboratorium
setidaknya tangan harus dalam keadaan steril (disemprotkan alkohol) dan juga
memakai masker agar terhindar dari larutan larutan yang berbahaya jika dihirup
oleh manusia.
2. Saran untuk asisten agar kedepannya lebih membimbing lagi praktikannya
selama praktikum.
3. Saran untuk laboran agar memperbaiki dan menambah fasilitas
laboratorium agar terciptanya suasana yang nyaman dan kondusif.

14
DAFTAR PUSTAKA

Brown, C.J., Thomas, K., Jonathan, C.T., David, E.C. 2018. Proteome changes in
the aging Drosophila melanogaster head. International Journal of Mass
Spectrom. 425 (1):2.

Campbell, Reece dan Mitchell. 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta :
Erlangga.

Hartati., dan Ferry, I. 2017. Modul Genetika Berbasis Pendekatan Saintifik.


Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Rahmawati, L., Jamaluddinsyah., dan Eriawati. 2016. Pengaruh Tembakau Dalam


Medium Kultur Terhadap Jumlah Turunan Lalat Buah (Drosophila
melanogaster). Prosiding Seminar Nasional Biotik. 9(7) : 252.

Ramadani, S.D., Aloysius, D.C., Siti, Z. 2016. Pemanfaatan Drosophila


melanogaster Sebagai Organisme Model Untuk Mempelajari Pengaruh
Faktor Lingkungan Terhadap Ekspresi Sifat Makhluk Hidup Pada
Perkuliahan Genetika. Jurnal Pendidikan Teori, Penelitian, dan
Pengembangan. 1(5): 806.

Ramirez-Camejo, L.A., Genesis, M.M., Paul, B. 2017. Differential Microbial


Diversity in Drosophila melanogaster: Are Fruit Flies Potential Vectors of
Opportunistic Pathogens?. International Journal of Microbiology. 3 (1): 1.

Suparman., Chumidach, R., Jainab, S. 2018. Indeks Isolasi Sexual Antara Lalat
Buah (Drosophila Melanogaster (Meigen)) Dari Moya, Pulau Ternate Dan
Gurabunga, Pulau Tidore. Jurnal Ilmiah MIPA. 3 (1): 41-42.

15