Anda di halaman 1dari 60

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Instalasi Gawat Darurat ( IGD ) merupakan salah satu unit pelayanan

di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal ketika pasien menderita

sakit atau cedera sehingga dapat mengancam kelangsungan hidupnya. IGD

berfungsi untuk menerima, menstabilkan dan mengatur pasien yang

membutuhkan penanganan kegawatdaruratan segera, baik dalam kondisi

sehari - hari maupun terjadi bencana.

pelayanan pasien gawat darurat memerlukan pelayanan segera, yaitu

cepat, tepat dan cermat untuk mencegah kematian dan kecacatan (

Permenkes RI, 2018 ).

Pelayanan gawat darurat mempunyai beberapa pembagian dan

penanganan kriteria pasien dalam kondisi kegawatdaruratan di IGD. Pada

pelayanan gawat darurat memiliki sistem triage, yaitu prioritas 1 ATS 1 dan

ATS 2 merah ( Emergency ) merupakan pasien dengan kondisi gawat

darurat yang mengancam nyawa atau fungsi vital dan membutuhkan

penanganan segera. Prioritas 2 ATS 3 dan ATS 4 kuning ( Urgent )

merupakan pasien dalam kondisi darurat yang perlu evaluasi secara

menyeluruh dan di tangani oleh dokter untuk stabilisasi, diagnosa dan

terapi. Prioritas 3 ATS 5 hijau ( Non Emergency ) merupakan pasein dalam

kondisi tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan ( Permenkes RI, 2018

).
Menurut hasil penelitian World Health Organization ( WHO ) Tahun

2011kunjungan pasien di IGD terus bertambah tiap tahunnya, peningkatan

terjadi sekitar 30% diseluruh IGD rumah sakit di dunia ( Bashkin et al,

2015 ). Data kunjungan pasien masuk ke IGD di Indonesia adalah 4.402.205

pasien ( 13,3 % ) dari total seluruh kunjungan di rumah sakit umum (

Menteri Kesehatan RI, 2014 ). Data kunjungan pasien disetiap rumah sakit

Provinsi NTT tiap tahun kian bertambah yaitu sebesar 3.323.855 kunjungan

pasien ( DINKES, 2015 ).

Penanganan pasien yang dilakukan tanpa memilah pasien

berdasarkan tingkat kegawatan atau triage dan berdasarkan urutan

kedatangan pasien akan mengakibatkan penundaan penanganan pada pasien

gawat darurat dan kritis sehingga berpotensi membahayakan pasien, bahkan

bisa membuat pasien yang kritis mengalami kecacatan dan meninggal (

Aloyce, et al., 2014 ). ketepatan perawat dalam melakukan triage sangat

berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pertolongan pada saat pasien

yang mengalami kegawatdaruratan selain itu, ketepatan perawat dalam

melaksanakan triage juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain

pengetahuan perawat tentang triage, motivasi kerja dan beban kerja.

Beberapa Negara Asia Tenggara termasuk Indonesia ditemukan

bahwa perawat yang bekerja di IGD menjalani peningkatan beban kerja dan

masih mengalami kekurangan jumlah perawat. Hal yang sama juga

dikemukakan oleh Martianti ( 2015 ), bahwa faktor yang memepengaruhi

ketepatan penilaian triage adalah beban kerja. Beban kerja merupakan

keadaan dimana seorang perawat dihadapkan pada tugas yang harus


diselesaikan pada waktu tertentu ( Nurhafinah, 2015 ). Dalam hal ini

perawat yang dibebani dengan tugas-tugas non keperawatan dapat

meningkatkan beban kerja sehingga, berdampak pada penurunan kualitas

pelayanan keperawatan dan tindakan pertolongan pertama pada pasien

gawat darurat ( WHO, 2011 ).

Beban kerja perawat yang berlebihan memberikan efek kepada

pasien sehingga pasien tidak merasa puas karena kurangnya perhatian dari

perawat seperti, kesan perawat kurang ramah, sikap perawat yang sangat

sensitif atau mudah emosi ketika ditanya oleh pasien atau keluarganya (

Chusnawiyah, 2015 ). Faktor yang mempengaruhi beban kerja perawat

adalah kondisi pasien yang selalu berubah, jumlah pasien yang melebihi

sumber daya perawat, jumlah rata-rata jam perawatan yang dibutuhkan

untuk memberikan pelayanan langsung pada pasien melebihi kemampuan

perawat itu sendiri, keinginan untuk berprestasi kerja, tuntutan pekerjaan

tinggi, serta dokumentasi asuhan keperawatan. Perawat dengan beban kerja

berlebihan dapat berdampak pada penurunan motivasi kerja perawat dalam

melakukan ketepatan penilaian triage terhadap pasien.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 29

April 2019 di IGD RSUD Prof dr. W. Z. Johannes Kupang bahwa jumlah

kunjungan pasien di IGD pada bulan Januari-Desember tahun 2018

didapatkan data sebanyak 21.566 pasien dan jumlah bed yang berada di

ruangan IGD sebanyak 16 bed. Jumlah keseluruhan perawat yang bekerja di

ruangan IGD sebanyak 30 orang yang terdiri dari perawat IGD berjumlah

30 orang dan perawat triage berjumlah 4 orang. Pelaksanaan triage di


ruangan IGD menggunakan sistem Australian Triage Scale ( ATS ),

wawancara dan observasi lanjutan serta pemeriksaan vital signs. Namun

dalam pelaksanaan triage di IGD perawat yang bertugas di ruangan triage

hanya 1 orang yaitu, pada shift pagi. Hal ini dikarenakan kurangnya jumlah

perawat triage di ruangan sehingga perawat yang bekerja di ruangan IGD

mengalami peningkatan beban kerja selain itu, hasil wawancara dengan

perawat triage bahwa adanya kesalahan dalam menentukan triage seperti

pada saat perawat melakukan penilaian awal pada pasien P1 merah (

Emergency ) dengan kondisi gawat darurat pindahkan ke P2 Kuning (

Urgent ) dengan kondisi pasien gawat tidak darurat sehingga akan

mempengaruhi ketepatan penilaian triage terhadap pasien yang masuk ke

ruangan IGD. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul “Hubungan beban kerja perawat dengan ketepatan penilaian

triage” di IGD RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka peneliti

merumuskan masalah sebagai berikut Hubungan Beban Kerja Perawat

Dengan Ketepatan Penilaian Triage di IGD RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes

Kupang.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui Hubungan Beban Kerja Perawat dengan

Ketepatan Penilaian triage di IGD RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.


1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui beban kerja perawat triage di IGD RSUD Prof. dr.

W. Z. Johannes Kupang.

b. Untuk mengetahui Ketepatan Pelaksanaan triage di IGD RSUD Prof.

dr. W. Z. Johannes Kupang.

c. Untuk mengetahui hubungan beban kerja perawat dalam ketepatan

penilaian triage di IGD RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat teoritis

Diharapkan dapat menjadi salah satu teori pengembangan ketepatan

penilaian triage.

1.4.2 Manfaat praktis

a. Manfaat bagi perawat

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan dan

bahan pertimbangan para perawat dalam meningkatkan pelayanan

untuk ketepatan penilaian triage kepada pasien sehingga dapat

mengurangi kecacatan dan kematian pada pasien gawat darurat.

b. Manfaat bagi tempat penelitian

Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan dan pengelolaan

pasien gawat darurat melalui penilaian triage yang tepat IGD RSUD

Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.


c. Manfaat bagi peneliti

Diharapakan sebagai bentuk aplikasi ilmu yang diperoleh

peneliti selama perkuliahan, menambah cakrawala berfikir, dan

menambah wawasan di bidang ilmu.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Triage

2.1.1 Pengertian Triage

Triage adalah proses khusus memilah pasien berdasarkan beratnya

cedera atau penyakit untuk menentukan jenis penanganan atau intervensi

kegawatdaruratan ( Permenkes RI, 2018 ). Salah satu pelayanan yang

dilakukan oleh perawat di instalasi gawat darurat adalah triage. Dalam

triage perawat dan dokter mempunyai batasan waktu untuk mengkaji

keadaan dan memberikan intervensi secepatnya yaitu 10 menit. Triage

bertujuan untuk untuk membagikan pasien dalam beberapa kelompok

berdasarkan beratnya cedera yang diprioritaskan ada tidaknya gangguan

Airway, breathing, dan circulation mempertimbangkan sarana, sumber

daya manusia dan probabilitas hidup penderita ( Aryono, 2016 s).

2.1.2 Klasifikasi Triage

Pasien yang datang ke IGD akan dilakukan triage tindakan dimana

pasien digolongkan berdasarkan prioritas kegawatannya. Pasien yang

datang dan mengalami kondisi gawat darurat dikatakan P1 ATS 1 dan

ATS 2 ( merah ), kondisi gawat darurat ialah dimana keadaan yang

mengancam nyawa pasien sehingga pasien membutuhkan tindakan

pertolongan segera, kondisi gawat darurat pasien disebabkan adanya

gangguan Airway, breathing, dan cicurlation jika tidak segera memberikan

tindakan maka pasien akan mengalami kecacatan dan kematian. kondisi


gawat tidak darurat dikatakan P2 ATS 3 dan ATS 4 ( kuning ), pasien yang

memiliki penyakit mengancam nyawa, namun keadaannya tidak

memerlukan tindakan gawat darurat dikategorikan diprioritas P2

penanganan bisa dilakukan dengan tindakan resusitasi dan selanjutnya

tindakan dapat diteruskan dengan memeberikan rekomendasi ke dokter

spesialis sesuai penyakitnya. kondisi tidak gawat tidak darurat dikatakan

P3 ATS 5 ( Hijau ), klasifikasi triage ini adalah yang paling ringan diantara

triage lainnya pasien yang masuk ke kategori P3 tidak memerlukan

tindakan gawat darurat penyakit P3 adalah penyakit ringan ( Kartikawati,

2014 ).

Penanganan pasien yang dilakukan tanpa memilah pasien

berdasarkan tingkat kegawatan atau triage dan berdasarkan urutan

kedatangan pasien akan mengakibatkan penundaan penanganan pada

pasien gawat darurat dan kritis sehingga berpotensi membahayakan pasien,

bahkan bisa membuat pasien yang kritis mengalami kecacatan dan

meninggal ( Aloyce, et al., 2014 ).

Keselamatan pada saat ini menjadi perhatian penting dalam

pelayanan kesehatan diberbagai rumah sakit salah satu upaya untuk

meningkatkan pelayanan kesehatan dengan cara menerapkan standar

keselamatan pasien dengan melaksanakan sistem triage yang dilakukan di

IGD ialah metode triage yang biasa digunakan adalah Australian triage

scale ( ATS ). Metode ini berprinsip pada sederhana dan kecepatan yang

dapat dilakukan oleh tenaga medis. ATS digunakan untuk penolong

pertama pada pasien dengan lama waktu penggolongan 30 detik atau


kurang berdasarkan tiga pemeriksaan seperti respirasi, perfusi ( mengecek

nadi radialis ) dan status mental ( Kartikawati, 2014 ).

2.1.3 Ruang Lingkup Triage

a. Ruang Skrining

Ruangan skrining merupakan ruangan yang melakukan

pemilahan kepada pasien yang datang dengan membawa rujukan atau

hasil laboraturium kemudian setelah melakukan pemeriksaan pasien

diarahkan ke ruangan lainnya sesuai dengan status kegawatdaruratan

pasien.

b. Mengidentifikasikan kebutuhan pasien sesuai kondisi seperti: Pasien

yang tidak bisa berjalan sehingga membutuhkan beberapa alat bantu

yaitu, tempat tidur dan kursi roda.

c. Melakukan pemilahan sesuai prioritas berdasarkan tingkat

kegawatdaruratan pasien.

1. P1 Merah ( Emergency ) adalah pasien gawat darurat yang sedang

dalam gangguan ABC yang mengakibatkan kematian sehingga

pasien membutuhkan pertolongan segera, waktu yang dibutuhkan

untuk melakukan tindakan terhadap pasien ialah 0-5 menit.

2. P2 Kuning ( Urgent ) adalah pasien gawat tidak darurat yang akan

mengakibatkan gangguan ABC dalam beberapa menit atau jam,

waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan terhadap pasien

ialah 5 - 10 menit.
3. P3 Hijau ( Non Emergency ) adalah pasien yang tidak mengalami

kegawatan dan kedaruratan waktu dalam melakukan tindakan

terhadap pasien ialah 30 menit.

2.1.4 Alur Pelaksanaan Triage

1. Pasien datang ke IGD

2. Melakukan pemilihan atau seleksi berdasarkan kegawatdaruratannya

oleh tim triage ( dokter atau perawat )

3. Bila jumlah pasien > 20 orang maka triage dilakukan di halaman

samping IGD

4. Lakukan tindakan sesuai prioritas :

a. P1 ( Merah ) : ATS 1 & ATS 2

- Mengalami gagal jantung paru diarahkan ke ruang resustasi.

- Tidak mengalami gagal jantung paru diarahkan ke ruang tindakan

b. P2 ( Kuning ) : ATS 3 & ATS 4

- Kasus bedah ke ruang tindakan

- Bukan kasus bedah ke ruang observasi

c. P3 ( Hijau ) : ATS 5

- Pada jam kerja diarahkan ke poliklinik

- Di luar jam kerja dilayani seperlunya setelah kasus-kasus gawat

darurat terlayani

5. Persilahkan keluarga atau pengantar mengurus administrasi

a. Pendaftran

b. Billing

6. Ucapan terima kasih dan semoga lekas sembuh.


2.1.5 Penilaian Triage

Penilaian triage adalah proses menilai pasien berdasarkan beratnya

cedera dan menentukan jenis perawatan kegawatdaruratan ( Musliha, 2010

). Penilaian triage dilakukan secara singkat dan cepat ( selintas ) untuk

menentukan kategori kegawatdaruratan pasien oleh tenaga kesehatan

dengan cara :

1) Menilai tanda vital dan kondisi umum Pasien

2) Menilai kebutuhan medis

3) Menilai kemungkinan bertahan hidup

4) Menilai bantuan yang memungkinkan

5) Memprioritaskan penanganan definitif

6) Mengkategorikan status pasien menurut kegawatdaruratannya, apakah

masuk ke dalam kategori merah, kuning, hijau atau hitam berdasarkan

prioritas atau penyebab ancaman hidup. Tindakan ini berdasarkan

prioritas ABCDE ( Airway, Breathing, Circulation, Disability,

Environment ). Kategori merah merupakan prioritas pertama ( Pasien

cedera berat mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila

ditolong segera ). Kategori kuning merupakan prioritas kedua ( Pasien

memerlukan tindakan definitif, tidak ada ancaman jiwa segera ).

Kategori hijau merupakan prioritas ketiga ( Pasien degan cedera

minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari

pertolongan ), Kategori hitam merupakan pasien meninggal atau cedera

fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.


2.2 Konsep Beban Kerja Perawat

2.2.1 Pengertian Beban Kerja Perawat

Beban kerja perawat merupakan keadaan dimana seseorang

dihadapkan pada tugas yang harus diselesaikan pada waktu tertentu.

Berdasarkan jurnal penelitian yang dilakukan oleh Nurhafinah ( 2015 ).

Beban kerja perawat yang berlebihan akan menimbulkan kelelahan fisik

atau mental dan reaksi emosional seperti sakit kepala dan mudah marah

Mastini ( 2013 ).

2.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja Perawat

Menurut Tarwaka, ( 2015 ) bahwa beban kerja dipengaruhi oleh

beberapa Faktor yang kompleks, baik faktor internal maupun faktor

eksternal.

a. Beban kerja karena faktor eksternal

1. Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal dari

luar tubuh pekerja atau yang disebut dengan stressor, yaitu meliputi

tugas yang bersifat fisik tata ruangan tempat kerja, alat dan sarana

kerja kondisi atau medan kerja. Beban kerja dapat mempengaruhi

pelimpahan tugas dan wewenang sehingga terjadi lama waktu

kerjadan waktu istirahat.

2. Organisasi kerja seperti lamanya waktu kerja fisik, waktu isterahat,

kerja bergilir, waktu kerja malam, model struktur organisasi,

pelimpahan tugas dan wewenang.

3. Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan kimiawi

lingkungan kerja biologis dan lingkungan psikologis.


b. Beban kerja karena faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam

tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja

eksternal. Reaksi tubuh tersebut dikenal sebagai strain berat ringannya

strain dapat dinilai baik secara objek maupun subjektif. Faktor internal

meliputi faktor somatis ( jenis kelamin, presepsi, kepercayaan,

keinginan, dan kepuasaan ), ( Tarwaka, 2015 ). Faktor - faktor lainnya

yang dapat mempengaruhi beban kerja ialah kondisi pasien yang selalu

berubah, jumlah rata - rata jam perawatan yang dibutuhkan untuk

memberikan pelayanan langsung pada pasien melebihi kemampuan

perawat itu sendiri, keinginan untuk berprestasi kerja, tuntutan

pekerjaan yang tinggi, serta dokumentasi asuhan keperawatan.

c. Sumber daya manusia ( Perawat )

Perawat yang bekerja di unit pelayanan kegawatdaruratan

adalah perawat yang memiliki kompentesi kegawatdaruratan yang

diperoleh melalui pelatihan kegawatdaruratan standar sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan ( Permenkes, 2018 ).

Ketersediaan sumber daya manusia kesehatan sangat mempengaruhi

keberhasilan pembangunan kesehatan. Pengadaan sumber daya manusia

kesehatan bertujuan untuk menetapkan jumlah dan jenis tenaga

kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan apabila, sumber daya manusia

yang tidak direncanakan dengan baik maka akan terjadi kekurangan

tenaga kesehatan sehingga dapat mempengaruhi pelayanan serta

kenyamanan pasien dan dapat mengakibatkan beban kerja yang

meningkat.
d. Motivasi kerja

Motivasi kerja adalah suatu kondisi yang dapat, mempengaruhi,

menggerakkan, membangkitkan, dan memelihara perilaku seseorang

yang akan melaksanakan pekerjaan yang mencapai tujuan ( Kurniadi,

2013 ). Ada beberapa tujuan motivasi kerja didalam organisasi adalah

sebagai berikut:

a. Motivasi bertujuan meningkatkan moral dan kepuasan kerja

karyawan.

Motivasi bawahan ( perawat ) dipengaruhi oleh dorongan,

dukungan, perhatian dan apresiasi yang diberikan oleh menejer

keperawatan. Hal ini akan dapat meningkatkan moral bawahan

sehingga motivasi kerja yang terbangun pun terjadi baik. Seseorang

yang melakukan pekerjaan dengan motivasi kerja yang tinggi akan

meningkatkan kinerja perawat, sehingga setiap tugas akan

dilaksanakan secara baik. Kemudian sebaliknya sesorang yang

melakukan pekerjaan dengan motivasi yang rendah tidak akan dapat

melakukan tugasnya semaksimal kemampuan dan kesanggupannya (

Rosa, 2015 ).

b. Motivasi bertujuan meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Motivasi harus senantiasa dibangun dan ditingkatkan, dalam

rangka meningkatkan motivasi kerja tersebut seorang harus diberi

dukungan serta apresiasi atau hasil kerjanya. Kinerja seorang perawat

dipengaruhi oleh tingginya motivasi kerja yang ia miliki. Semakin


tinggi motivasi yang dimiliki maka semakin tinggi pula kinerjanya,

sehingga produktivitas perawat pun meningkat.

c. Motivasi bertujuan untuk mempertahankan kestabilan karyawan.

Kestabilan perawat dalam menjaga produktivitas dan turn

over perawat sangat dipengaruhi oleh motivasi yang dimiliki. Turn

over yang tinggi dengan produktivitas yang rendah merupakan salah

satu bukti bahwa motivasi kerja yang dimiliki oleh orang-orang

didalam organisasi tersebut rendah. Hal ini berlaku pula dalam

organisasi pelayanan keperawatan.

d. Motivasi bertujuan meningkatkan kedisiplinan karyawan.

Perawat yang memiliki motivasi kerja tinggi dalam

melakukan pekerjaannya cenderung memiliki keinginan untuk selalu

tepat waktu dalam bekerja disertai rasa tanggung jawab yang tinggi

pula dalam melakukan pekerjaan tersebut. Dengan demikian secara

tidak langsung akan terbangun kedisiplinan perawat tersebut.

e. Motivasi bertujuan menciptakan suasana dan hubungan kerja yang

baik.

Motivasi tinggi membangunrasa tanggung jawab yang tinggi

pada diri setiap personel perawat, sehingga masing-masing perawat

akan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Hal ini tentu

akan berdampak pada suasana dan hubungan kerja dengan perawat

lainnya, tidak akan saling terjadi iri ataupun lempar tanggung jawab

atas pekerjaan karena masing-masing sadar akan tanggung

jawabnya.
f. Motivasi bertujuan meningkatkan loyalitas, kreativitas, dan partisipasi

karyawan.

Motivasi yang tinggi akan meningkatkan loyalitas, kreativitas,

serta partisipasi perawat dalam melakukan pekerjaan ( Bakri, 2017 ).

e. Jam perawatan atau atau waktu perawatan adalah waktu rata-rata yang

dibutuhkan oleh seorang perawat untuk melakukan kegiatan

keperawatan. Baik kegiatan keperawatan langsung, dan kegiatan

keperawatan tidak langsung maupun kegiatan pendidikan kesehatan.

Waktu yang dibutuhkan oleh perawat untuk melayani pasien disetiap

ruangan perawatan berbeda-beda, tergantung kondisi dari pasien

tersebut ( Estari, 2013 ).


2.3 Kerangka teori

1. Pengetian triage
Konsep triage 2. Klasifikasi triage
3. Alur pelaksanaan triage
4. Pengertian penilaian triage

1. Pengertian beban kerja perawat


Konsep beban 2. Faktor-faktor yang
kerja perawat mempengaruhi beban kerja
perawat
3. Sumber daya manusia

Gambar. 2.3 Kerangka Teori

Sumber: ( Khairina, dkk. 2018 );( Aryono,2016 );( Mastini, 2013 ).


BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Penilaian triage

1. P1 Merah ATS 1& Baik


Beban kerja perawat
ATS 2

2. P2 Kuning ATS 3 Cukup


& ATS 4
Pengetahuan triage
3. P3 Hijau ATS 5
Kurang
Motivasi kerja

Gambar 3.1Kerangka Konsep

Sumber: ( Martianti, 2015 ); ( Nurhanifah, 2015 ).

Keterangan

: Diteliti

: Tidak diteliti

3.2 Hipotesis Penelitian

Ada hubungan antara beban kerja perawat dengan ketepatan penilaian

triage di IGD RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.


3.3 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan

metode studi korelasi merupakan penelitian atau penelahan hubungan antara

dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek. Hal ini dilakukan

untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala yang lain, atau

variabel satu dengan variabel yang lain ( Notoadmojo, 2018 ).

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional adalah

suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara factor - faktor

dengan efek, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data

sekaligus pada suatu saat ( Notoadmojo, 2018 ).

3.4 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah batasan yang di berikan agar variabel

dapat di ukur dengan mengunakan instrument atau alat ukur ( Noatmodjo,

2018 ). Variabel, definisi operasional, parameter, alat ukur, hasil ukur dan

skala variabel di jelaskan sebagai berikut :


Tabel 1.1Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat ukur Hasil Ukur Skala


penelitian Operasional Parameter
1 Beban Beban Kerja 1. Faktor Kuesioner Nilai tertinggi Ordinal
kerja Perawat internal jika skor > 80 %
perawat merupakan
keadaan dimna 2. Faktor Nilai Sedang
perawat eksternal jika skor 31- 88
dituntut untuk %
menyelesaikan
tugasnya Nilai terendah
diwaktu jika skor < 30 %
tertentu.
( Skala Likert ).

2 ketepatan Ketepatan SOP Observasi Ya = 1 Ordinal


penilaian penilaian penilaian Tidak = 0
triage triage adalah triage
seorang Dengan kriteria:
perawat Baik
mampu 76 – 100 %
melakukan
penilaian awal Cukup 56 – 75
pada pasien %
dengan berat
dan ringannya Kurang < 56 %
cedera
sehingga (Gutman, 2010).
mampu
memberikan
ketepatan
penilaian
triage yang
benar dan tepat

3.5 Populasi dan sampel

3.5.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang akan diteliti.

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan jumlah perawat yang

bekerja diruangan IGD RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang sebanyak

39 perawat ( Notoadmodjo, 2018 ).


3.5.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang

ditelitidan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmodjo, 2018 ).

Sampel dalam penelitian ini adalah jumlah perawat yang bekerja di

ruangan sebanyak 30 perawat yang bekerja di ruangan IGD RSUD Prof.

dr. W. Z. Johannes Kupang.

3.5.3 Teknik sampling

Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan

teknik purposive sampling dengan pengambilan sampel secara purposive

didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti

sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui

sebelumnya ( Notoadmojo, 2012 ).

a. Kriteria Inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu

populasi target dan terjangkau yang akan diteliti Adapun kriteria

inklusi adalah sebagai berikut :

1. Bersedia menjadi responden

2. Bekerja di IGD

3. Masa kerja lebih dari 1 tahun

3.6 Tempat dan waktu penelitian

3.6.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukandi Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W.

Z. Johannes Kupang.

3.6.2 Waktu Penelitianini dilaksanakan Pada bulan Juli 2019.


3.7 Instrumen penelitian

Instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data dalam

penelitian adalah kuisioner untuk mengukur Hubungan beban kerja perawat

dengan ketepatan penilaian triage kuisioner berbentuk tertutup dan terpadu

merupakan kuisioner yang telah disediakan jawabannya dan responden atau

subjek peneliti hanya diminta memilih alternatif responden atau jawaban yang

sesuai dengan keadaan dirinya yang dipandu oleh peneliti.

Tabel1.2 Kisi-kisi instrumen penelitian

Jumlah
No Variabel Aspek yang diteliti No. item soal
soal
1 Beban kerja 1. Faktor internal 42 1,2,3,4,5,6,7,8,9, 10,
perawat 11,12,13,14,15, 16,
2. Faktor 17, 18, 19, 20, 21, 22,
eksternal 23, 24, 25, 26, 27. 28,
29, 30, 31, 32, 33, 34,
35, 36, 37, 38, 39, 40,
41, 42.

2 Ketepatan SOP penilaian 9 1,2,3,4,5,6,7,8,9.


penilaian triage
triage

3.8 Etika Penelitian

Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat

penting dalam penelitian, mengingat keperawatan berhubungan langsung

dengan manusia, maka segi etika harus diperhatikan ( Hidayat, 2009 )

masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Lembar persetujuan ( informend consent )

Informend consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti

dengan responden peneliti dengan memberikan lembar persetujuan agar

responden mengerti maksud tujuan penelitian dan mengetahui dampaknya


peneliti harus menghormati hak responden yang tidak menyetujui atau

tidak bersedia.

2. Tanpa nama ( anonymity )

Anonymity merupakan jaminan dalam menggunakan subjek

penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama

responden pada lembar alat ukur atau kuisioner dan hanya menuliskan

kode atau inisial pada lembar pengumpulan data atau hasil peneliti yang

disajikan.

3. Kerahasian ( confidentially )

Confidentially Merupakan jaminan kerahasian dari hasil peneliti

seluruh informasi yang telah dikumpulkan akan dijamin kerahasiaannya

dan tidak akan disebarluaskan oleh peneliti.

3.9 Prosedur penelitian

Proses-proses dalam pengumpulan data pada peneliti melalui beberapa

tahap yaitu :

1. Menyelesaikan kelengkapan administrasi seperti surat ijin peneliti dari

ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maranatha Kupang.

2. Memberikan lembar persetujuan untuk di tandatangani oleh calon

responden apabila setuju menjadi objek peneliti.

3. Memberikan penjelasan kepada responden tentng cara pengisian

kuesioner.

4. Memberikan kesempatan kepada responden untuk bertanya kepada peneliti

apabila ada yang tidak jelas dengan kuesioner.

5. Beri waktu kepada responden untuk mengisi koesioner.


6. Responden menyerahkan kembali kuisioner yang telah diisi kepada

peneliti untuk di periksa.

3.10 Analisis Data

3.10.1 Analisis Bivariat

Yaitu analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkolerasi yang bertujuan untuk mengetahui apakah

ada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen yang

diteliti ( Notoatmodjo, 2012 ). Jika angka korelasi makin mendekati 1

maka korelasi antara dua variabel makin kuat dan terdapat hubungan,

sedangkan jika angka korelasi makin mendekati 0 maka korelasi antara

dua variabel makin lemah. Analisis data dilakukan terhadap dua

variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi dengan

menggunakan bantuan program Komputer SPSS dan program Excel,

peneliti menggunakan uji Korelasi Spearman Rho dikarenakan skala

data ordinal-ordinal. Rumus yang digunakan adalah :

1. Rumus uji korelasi spearman adalah

6 ∑𝑑 2
𝑟𝑠 = 1 −
𝑛(𝑛2 − 1)

Keterangan :

rs = nilai korelasi Spearman Rank

d2 = Selisih setiap pasangan rank

n = jumlah pasangan rank untuk Sperman (5<n<30)

Rumus tersebut digunakan untuk mengetahui, mengukur tingkat atau

eratnya antara variabel bebas dengan variabel terikat. Untuk melihat hasil

kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan 0,05


sehingga apabila hasil perhitungan statistik menunjukkan nilai ρ < 0,05

maka dikatakan antara kedua variabel secara statistik terdapat hubungan

yang bermakna. Sedangkan apabila nilai ρ > 0,05 maka secara statistik

kedua variabel tersebut terdapat hubungan yang tidak bermakna.


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang

merupakan rumah sakit milik pemerintah propinsi NTT, dan berdasarkan

SK Menkes No.94/Menkes /Sk/95 tentang RSUD Prof. Dr. W .Z. Johannes

Kupang sebagai rumah sakit tipe B Non pendidikan serta berdasarkan SK

Gubernur No. 79/1996 tentang pelaksanaan peraturan daerah provinsi

tingkat 1 NTT. RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang, dipandang

sebagai rumah sakit tertua dan terlengkap dari segi fasilitas dan aspek

pelayanannya di provinsi NTT.

Beralamat di Jln. Dr. Moch Hatta No. 19 kupang - NTT. Rumah

sakit ini dipandang sangat strategis di jantung kota kupang dan juga adalah

ibu kota provinsi NTT. Berdiri diatas areal tanah seluas 5 hektar lebih, dan

batas wilayah sebelah timur RSUD Prof dr. W. Z. Johannes Kupang

berbatasan dengan SMP N 1 Kupang, sebelah barat berbatasan dengan

rumah sakit Tentara Wirasakti Kupang, sebelah Utara berbatasan dengan

kantor cabang Bank Mandiri Kupang dan sebelah Selatan berbatasan

dengan SD N Bonopoi Kupang.

RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang merupakan salah satu

rumah sakit rujukan yang dapat menerima rujukan dari rumah sakit lain

dan puskesmas terpadu di wilayah propinsi NTT.


Kemudian untuk Sarana dan fasilitas penunjang pelayanan

kesehatan di RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang berupa gedung dan

fasilitas penunjang yang ada sudah cukup memadai. Di mana terdapat

fasilitas rawat jalan dan fasilitas untuk rawat inap, IGD, kamar operasi (

bedah sentral ), ruang endoskopi, klinik VCT, klinik tumbuh kembang,

klinik TB DOTS, klinik edukasi diabetes militus, pemeriksaan pelayanan

kesehatan ( medikalo cheek up ), pelayanan PKT, pelayanan kemoterapi,

dan pelayanan echokardiografi.

Untuk pelayanan rawat jalan, RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes

Kupang memiliki 13 poliklinik yakni: poliklinik interna, poliklinik anak,

poliklinik kulit dan kelamin, poliklinik mata, poliklinik syaraf, poliklinik

THT, poliklinik gigi dan mulut, poliklinik bedah, poliklinik kebidanan dan

kandungan, poliklinik jiwa, poliklinik psikologi, poliklinik medical check

up, poliklinik jantung dan 1 unit hemodialisa. Sementara untuk rawat inap

fasilitas kelas utama atau paviliun, kelas I, II, III kelas perawatan bedah,

kelas bersalin dan kamar perawatan intensif ( ICU, HCU, NICU, PICU ).

Adapun kegiatan penunjang medis yang dilakukan di rumah sakit

ini yakni pelayanan laboratorium, rehabilitasi medic, radiodiagnostik, CT-

scan, USG 3 dimensi dan 4 dimensi, mammografi. Sedangkan kegiatan

penunjang non medis meliputi pelayanan konsultasi gizi, pelayanan

kefarmasian, pelayanan laundry, pelayanan pemulasaran jenazah, dan

pelayanan P3 rumah sakit.


Penelitian ini dilakukan di RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang

khususnya di Instalasi Gawat Darurat yang berlokasi di lantai I di gedung

IGD yang melayani pasien dengan membutuhkan pelayanan segera. Di

IGD memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 16 tempat tidur, yang

terdiri dari ruangan triage 2 tempat tidur, ruangan resusitasi dengan 2

tempat tidur, ruangan tindakan bedah dengan 2 tempat tidur, ruangan

isolasi dengan 2 tempat tidur, dan ruangan observasi dengan 8 tempat

tidur. Di samping itu juga terdapat ruang kerja dokter dan perawat yang di

gabung dengan ruangan administrasi. Jumlah petugas yang bekerja di IGD

berjumlah 67 staf yang terdiri dari 39 orang perawat, 1 orang peagawai

administrasi, 5 orang pekarya, 4 orang satpam, 6 orang petugas loket, dan

disamping itu ditambah dengan 12 dokter yang terbagi dalam 3 shift.

4.1.2 Data Umum

A. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di IGD

Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z. Johannes

Kupang pada Bulan Juli 2019

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase ( % )


1 Laki – laki 17 43
2 Perempuan 13 57

Total 30 100
Sumber: Data Primer, 2019

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa dari 30 responden

sebagian besar perawat berjenis kelamin laki - laki sebanyak 17 perawat (


43 % ) sedangkan sebagian kecil perawat berjenis kelamin perempuan

sebanyak 13 perawat ( 57 % ).

B. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Umur di IGD Rumah

Sakit Umum Daerah Prof. dr W. Z. Johannes Kupang pada

Bulan Juli 2019.

No Umur Frekuensi Persentase ( % )


1 ≤ 25 tahun 0 0

2 26 - 30 tahun 9 30,0
3 31 - 35 tahun 12 40,0
4 36 - 40 tahun 4 13,3
5 ≥ 40 tahun 5 16,7
Total 30 100
Sumber: Data Primer, 2019

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa dari 30 responden dalam

penelitian ini ditemukan sebagian besar perawat berumur 31 - 35 tahun

sebanyak 12 perawat ( 40,0 % ), Dan sebagian kecil perawat berumur 36

- 40 tahun sebanyak 4 perawat ( 13,3 % ).


C. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan

Terakhir di IGD Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z.

Johannes Kupang pada Bulan Juli 2019.

No Pendidikan Terakhir Frekuensi Persentase ( % )


1 SPK 0 0
2 D3 Keperawatan 21 70,0
3 S1 keperawatan/Ners 9 30,0
4 S2 Keperawatan 0 0
Total 30 100
Sumber: Data Primer, 2019

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan bahwa dari 30 responden

diketahui bahwa sebagian besar perawat berpendidikan D3 keperawatan

sebanyak 21 responden ( 70,0 % ), dan sebagian kecil perawat

berpendidikan S1 keperawatan/Ners sebanyak 9 responden ( 30,0 % ).

D. Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja di

IGD Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z. Johannes

Kupang pada Bulan Juli 2019.

No Masa Kerja Frekuensi Persentase ( % )


1 1 - 3 tahun 0 0
2 4 - 6 tahun 5 16,7
3 7 - 9 tahun 6 20,0
4 ≥ 10 tahun 19 63,3
Total 30 100
Sumber: Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan bahwa dari 30 responden,

sebagian besar masa kerja perawat adalah ≥ 10 tahun tahun berjumlah 19

perawat ( 63,3 % ), dan sebagian kecil masa kerja perawat adalah 4 - 6

tahun berjumlah 5 perawat ( 16,7 % ).

E. Distribusi Responden Berdasarkan Keterampilan Klinis

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Keterampilan

Klinis di IGD Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z.

Johannes Kupang pada Bulan Juli 2019.

No Keterampilan Klinis Frekuensi Persentase ( % )


1 tidak pernah 5 16.7
2 BLS 4 13,3
3 BT & CLS 18 60,0
4 ACLS 3 10,0
Total 30 100
Sumber: Data Primer, 2019

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa dari 30 responden

sebagian besar perawat berketerampilan Klinis BT & CLS berjumlah 18

perawat ( 60,0 % ), dan sebagian kecil perawat berketerampilan klinis

ACLS berjumlah 3 perawat ( 10,0 % ).


4.1.3 Data Khusus

A. Distribusi Responden Berdasarkan Beban Kerja Perawat

Tabel 4.6 Distribusi Responden Beban Kerja Perawat di IGD

Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang

pada Bulan Juli 2019.

No Beban Kerja Frekuensi Persentase ( % )


Perawat
1 Tertinggi 9 30,0
2 Sedang 13 43,3
3 Terendah 8 26,7
Total 30 100
Sumber: Data Primer, 2019

Berdasarkan tabel 4.6 Menunjukan bahwa dari 30 responden

sebagian besar perawat beban kerja sedang berjumlah 13 perawat (

43,3 % ) dan sebagian kecil perawat beban kerja terendah berjumlah

8 perawat ( 26,7 % ).

A. Distribusi Responden Ketepatan Penilaian Triage

Tabel 4.7 Distribusi Responden Pelaksanaan Triage di IGD Rumah

Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang pada

Bulan Juli 2019.

No Ketepatan Frekuensi Persentase


Penilaian Triage (% )
1 Baik 7 23, 3

2 Cukup 16 53,3

3 Kurang 7 23,3

Total 30 100
Sumber: Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.7 menunjukan bahwa dari 30 responden

sebagian besar ketepatan penilaian triage cukup berjumlah 16 perawat (

53,3 % ) dan sebagian kecil ketepatan penilaian triage baik berjumlah 7

perawat ( 23,3 % ).

B. Korelasi Variabel Independeen dan Dependen

Perhitungan koefisian korelasi yang digunakan dalam penelitian ini ialah

korelasi spearman rank yang digunakan pada statistik non parametris. Cara

satatistik ini digunakan karena hasil uji persayaratan analisis menunjukan

variabel tidak berdistribusi normal adapun tabel kofesien korelasi yang

digunakan peneliti sebagai kriteria penilaian tingkat hubungan variabel,

adalah sebagai berikut :

Tabel 4.8 interpertasi koefisien korelasi

Koefisien Korelasi Tingkat Hubungan

0,80 - 1,00 Sangat kuat

0,60 - 0,799 Kuat

0,40 - 0,599 Cukup kuat

0,20 - 0,399 Rendah

0,00 - 0,199 Sangat rendah

Sumber : Sugiyono, 2009.

D. Hubungan Beban Kerja Perawat Dengan Ketepatan Penilaian Triage

Di Ruangan IGD

Tabel 4.9 Hubungan Beban Kerja Perawat Dengan Ketepatan

Penilaian Triage Di Ruangan IGD Rumah Sakit Umum Daerah

Prof. dr. W. Z. Kupang pada Bulan Juli 2019.


Correlations
Beban Kerja Ketepatan
Perawat Penilaian
Triage
Correlation 1.000 .516**
Beban Kerja Coefficient
Perawat Sig. ( 2 – tailed ) . .004
N 30 30
Spearman's rho
Correlation .516** 1.000
Ketepatan Coefficient
Penilaian Triage Sig. ( 2 – tailed ) .004 .
N 30 30
**. Correlation is significant at the 0.01 level ( 2 – tailed ).
Sumber: Data Primer, 2019

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa angka signifikan korelasi sebesar

0,004 yang artinya HO ditolak atau ada hubungan beban kerja perawat dengan

ketepatan penilaian triage di ruangan instalasi gawat darurat RSUD Prof. dr. W.

Z. Johannes Kupang.

Hasil perhitungan dengan spearman rank menunjukan correlation

Coefficient sebesar 0,516. Berdasarkan kriteria penafsiran koefisien korelasi yang

tertera pada tabel 4.7 angka tersebut berada pada kategori cukup kuat yakni

kisaran 0,40 - 0,599.


4.2 Pembahasan

4.2.1 Analisa Univariat

a) Beban Kerja Perawat

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 30 responden sebagian

besar beban kerja perawat sedang berjumlah 13 perawat ( 43,3 % ) dan

sebagian kecil beban kerja perawat tertinggi berjumlah 9 perawat ( 30,0 % ).

Hal tersebut dikarenakan beban kerja perawat dipengaruhi oleh beberapa

faktor diantaranya usia dan masa kerja menurut Syahrizal, Karim, dan Nauli (

2015 ) menyebutkan bahwa usia dewasa awal merupakan tingkat usia

produktif dalam bekerja sehingga dapat melakukan berbagai tindakan

keperawatan. Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang ( Notoatmodjo, 2014 ), daya ingat seseorang salah satunya di

pengaruhi usia bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada

pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur tertentu

atau menjelang usia lanjut, kemampuan untuk mengingat suatu pengetahuan

akan berkurang ( Martanti, dkk. 2015 ).

Beban kerja perawat merupakan keadaan dimana seseorang

dihadapkan pada tugas yang harus diselesaikan pada waktu tertentu.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurhafinah ( 2015 ),

mengemukakan bahwa beban kerja perawat yang berlebihan akan

menimbulkan kelelahan fisik atau mental dan reaksi emosional seperti sakit

kepala dan mudah marah. Beban kerja perawat adalah menghitung aktifitas

kerja perawat dan ketergantungan klien, pada pelayanan keperawatan (

Nursalam, 2014 ).
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Haryanti, dkk. 2013,

dengan judul “Hubungan beban kerja perawat dengan perilaku caring perawat

menurut presepsi klien di IGD RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta”

mengatakan bahwa hampir 50 % beban kerja perawat tinggi dimana tugas

perawat menerima dan mengantar pasien baru ke ruangan, melakukan

pemasangan keteter intravena, melakukan heating pada luka, melakukan ganti

balut luka, serta melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan gawat

darurat dan lain - lain. Kemudian perawat juga melakukan tindakan non

keperawatan seperti melakukan membersihkan instrumen medis yang telah

dipakai, membersihkan ruangan dan membereskan sampah sisa tindakan

keperawatan. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan data dengan sejumlah

perawat 3 - 4 orang dengan jumlah total perawat 20 orang yang sudah

termasuk dengan kepala ruangan pelayanan di IGD di RSU PKU

Muhamadiyah tidak hanya melayani pasien dengan kegawatan tetapi juga

melayani pasien poli (pasien non kegawatan), serta melayani adanya pasien

rujukan dari beberapa rumah sakit lainnya Akibat dari pelayanan tersebut

membuat beban kerja perawat di IGD RSU PKU Muhamadiyah Yogyakarta

sangat tinggi.

Menurut penelitian Dadashzadeh, et all. ( 2013 ) menjelaskan bahwa

salah satu faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan triage adalah rasio

jumlah perawat dan pasien. Yang dimaksud tidak berimbangnya antara

ketersediaan sumber daya manusia dengan jumlah kunjungan pasien yang

banyak akan berpotensi pada penundaan penanganan pasien sehingga

berdampak fatal bahkan meninggal.


Sejalan dengan fakta yang ada dilapangan berdasarkan penelitian yang

dilakukan pada 30 responden sebagian besar beban kerja perawat sedang

berjumlah 13 perawat ( 43,3 % ) dan sebagian kecil beban kerja perawat

tertinggi berjumlah 9 perawat ( 30,0 % ). Kemudian perawat yang bertugas di

ruangan triage hanya 1 orang perawat saja dishift pagi namun, pada shift sore

dan shift malam tidak ada perawat yang bertugas di ruangan triage, kemudian

didapatkan juga bahwa tidak seimbangnya antara jumlah perawat dengan

jumlah kunjungan pasien sehingga terjadi beban kerja pada perawat hal ini

akan berpengaruh terhadap kualitas ketepatan penilaian triage pada pasien

tersebut.

Menurut Sunaryo 2014 menyatakan bahwa masa kerja yang lama akan

cenderung membuat sesorang merasa lebih betah dalam suatu organisasi, hal

ini disebabkan karena telah beradaptasi dengan lingkungannya yang cukup

lama sehingga seseorang akan merasa nyaman dengan pekerjaannya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh ( Juliana, dkk. 2018

) dengan judul “Gambaran pengetahuan perawat dalam melakukan bantuan

hidup dasar ( BHD ) di ruangan intensive care unit ( ICU ) RSUD dr. Pirngadi

medan” didapatkan hasil pengumpulan data terhadap 27 responden perawat

di ruangan ICU RSUD dr. Pirngadi medan tahun 2017 didapatkan bahwa

masa kerja perawat paling banyak yaitu > 10 tahun sebanyak 17 orang (

63,0% ) sedangkan masa kerja perawat < 5 tahun sebanyak 5 orang ( 18,5 %

), dan masa kerja 5 - 10 tahun ada sebanyak 5 orang ( 18,5% ).


Lama kerja perawat akan mempengaruhi kinerja seorang perawat itu

sendiri pengalaman akan memberikan wawasan dan keterampilan baru bagi

perawat dalam memecahkan suatu kasus yang baru.

Sejalan dengan fakta yang ada dilapangan berdasarkan penelitian yang

dilakukan pada 30 responden sebagian besar masa kerja perawat adalah ≥ 10

tahun tahun berjumlah 19 perawat ( 63,3 % ), dan sebagian kecil masa kerja

perawat adalah 4 - 6 tahun berjumlah 5 perawat ( 16,7 % ).


b) Ketepatan Penilaian Triage

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 30 responden sebagian besar

perawat yang melakukan ketepatan penilaian triage cukup berjumlah 16

perawat ( 53,3 % ) dan sebagian kecil perawat yang melakukan ketepatan

penilaian triage baik berjumlah 7 perawat ( 23,3 % ). Hal tersebut

dikarenakan ketepatan penilaian triage dipengaruhi oleh tingkat pendidikan,

dan keterampilan klinis.

Ketepatan penilaian triage merupakan cara pemilahan pasien gawat

darurat berdasarkan skala prioritas yang didasarkan kepada kebutuhan terapi

setiap pasien didasarkan pada penilaian kondisi ABC ( Airway, Breathing,

Circulation ) dimana penilaian tersebut akan menggambarkan derajat

keparahan kondisi pasien tersebut ( Gustia & Manurung, 2018 ).

Menurut hasil penelitian ( Sitorus, 2014 ) mengemukakan bahwa

pendidikan keperawatan harus dikembangkan pada pendidikan yang tinggi

dapat menghasilkan lulusan yang memiliki sikap pengetahuan, dan

keterampilan profesional agar dapat melaksanakan peran dan fungsinya

sebagai perawat professional.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh ( Fitriyanti dan Suryati,

2016 ) dengan judul “Hubungan ketepatan triage dengan respon time

perawat di IGD rumah sakit tipe C” hasil penelitian didapatkan bahwa dari

karakteristik tingkat pendidikan, hasil penelitian menunjukan bahwa dari total

36 responden ( 100 % ) dengan tingkat pendidikan D3 keperawatan

merupakan yang terbanyak yakni 26 orang ( 72,2 % ), kemudian dengan

tingkat pendidikan S1 Ners sebanyak 9 orang ( 25 % ), dan 1 orang dengan


tingkat pendidikan D4 keperawatan ( 2,8 % ). Pendidikan yang tinggi dapat

meningkatkan keterampilan perawat, juga semakin tinggi pendidikan

seseorang maka semakin kritis, logis, dan sistematis cara berpikirnya, serta

semakin tinggi kualitas kerjanya.

Menurut fakta yang didapatkan dilapangan bahwa dari 30 responden

sebagian besar perawat yang berpendidikan D3 berjumlah 21 perawat ( 70,0

% ), dan sebagian kecil perawat berpendidikan S1 keperawatan /Ners

berjumlah 9 perawat ( 30,0 % ), berdasarkan hasil penelitan ( Gustia M dan

Melva M, 2018 ) dengan judul “Hubungan ketepatan penilaian triase dengan

tingkat keberhasilan penanganan pasien cedera kepala di IGD HKPB balige

kabupaten toba samosir” mengemukakan bahwa hasil analisa data

menunjukan penilaian triage perawat terhadap pasien cedera kepala terlihat

bahwa mayoritas perawat berhasil melakukan penilaian triage sebanyak 14

orang perawat ( 82,36 % ), berdasarkan hasil tersebut berarti bahwa perawat

IGD bisa melakukan penilaian triage dengan baik.

Sejalan dengan fakta yang ada dilapangan hasil penelitian didapatkan

bahwa jumlah dari 30 responden sebagian besar perawat yang melakukan

ketepatan penilaian triage cukup berjumlah 16 perawat ( 53,3 % ) dan

sebagian kecil perawat yang melakukan ketepatan penilaian triage baik

berjumlah 7 perawat ( 23,3 % ) kemudian dari hasil observasi didapatkan

bahwa sebagian perawat pada saat melakukan penilaian awal pada pasien,

perawat sering melakukan pengisian pada lembar penilaian triage tidak

secara lengkap, hal ini akan sangat mempengaruhi pada saat melakukan

ketepatan penilaian triage terhadap pasien.


Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan dari 30 responden

sebagian besar perawat berketerampilan Klinis BT & CLS berjumlah 18

perawat ( 60,0 % ), dan sebagian kecil perawat berketerampilan klinis

ACLS berjumlah 3 perawat ( 10,0 % ). Dan yang tidak memiliki

keterampilan klinis berjumlah 5 perawat ( 16,7 % ).

Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh ( Juliana, dkk. 2018

). Mengemukakan bahwa dari hasil penelitian pengumpulan data terhadap

27 responden perawat di ruangan ICU RSUD Dr. Pirngadi medan

didapatkan bahwa jenis pelatihan yang paling banyak diikuti oleh perawat

yaitu pelatihan PPGD sebanyak 9 orang ( 33,3 % ) dan yang mengikuti

pelatihan ICU sebanyak 7 orang ( 25,9 % ), pelatihan BHD/BLS sebanyak 6

orang ( 22,2 % ) dan lain-lain sebanyak 5 orang ( 18,5 % ). Dan tidak ada

responden yang mengikuti pelatihan pelatihan BTCLS.

Sejalan dengan fakta yang ada dilapangan Berdasarkan dari hasil

penelitian yang dilakukan dari 30 responden sebagian besar perawat

berketerampilan Klinis BT & CLS berjumlah 18 perawat ( 60,0 % ), dan

sebagian kecil perawat berketerampilan klinis ACLS berjumlah 3 perawat (

10,0 % ). Dan yang tidak memiliki keterampilan klinis berjumlah 5 perawat

( 16,7 % ).
4.2.2 Analisa Bivariat

Hubungan Beban Kerja Perawat Dengan Ketepatan Penilaian Triage

Di Ruangan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah

Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 30 responden diatas

terlihat bahwa angka signifikan korelasi sebesar ρ = 0.004 yang artinya HO

ditolak atau ada hubungan beban kerja perawat dengan ketepatan penilaian

triage di ruangan instalasi gawat darurat RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes

Kupang. Hasil perhitungan dengan spearman rank menunjukan correlation

Coefficient sebesar 0,516. Berdasarkan kriteria penafsiran koefisien korelasi

yang tertera pada tabel 4.7 angka tersebut berada pada kategori cukup kuat

yakni kisaran 0,40 - 0,599. Hal tersebut dikarenakan beban kerja perawat

mempengaruhi ketepatan penilaian triage.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Haryanti, dkk. 2013,

dengan judul hubungan beban kerja perawat dengan perilaku caring perawat

menurut presepsi klien di IGD RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta

mengatakan bahwa hampir 50 % beban kerja perawat tinggi dimana tugas

perawat menerima dan mengantar pasien baru ke ruangan, melakukan

pemasangan keteter intravena, melakukan heating pada luka, melakukan

ganti balut luka, serta melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan

gawat darurat dan lain - lain. Kemudian perawat juga melakukan tindakan

non keperawatan seperti melakukan membersihkan instrumen medis yang

telah dipakai, membersihkan ruangan dan membereskan sampah sisa

tindakan keperawatan. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan data


dengan sejumlah perawat 3 - 4 orang dengan jumlah total perawat 20 orang

yang sudah termasuk dengan kepala ruangan pelayanan di IGD di RSU

PKU Muhamadiyah tidak hanya melayani pasien dengan kegawatan tetapi

juga melayani pasien poli ( pasien non kegawatan ), serta melayani adanya

pasien rujukan dari beberapa rumah sakit lainnya Akibat dari pelayanan

tersebut membuat beban kerja perawat di IGD RSU PKU Muhamadiyah

Yogyakarta sangat tinggi.

Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktivitas yang

dilakakukan oleh seorang perawat selama bertugas di suatu pelayanan

keperawatan, fenomena yang terjadi terkaiat dengan beban kerja di beberapa

Negara adalah kebanyakan perawat bekerja tidak sesuai dengan standar

praktek keperawatan, akibatnya perawat tidak mempunyai waktu yang cukup

untuk melakukan praktek keperawatan yang komprehensif bagi pasien faktor

yang mempengaruhi beban kerja adalah jumlah pasien yang masuk tiap unit,

waktu yang dibutuhkan untuk memberikan tindakan keperawatan, jenis

tindakan keperawatan yang dilakukan ( Africia, 2017 ).

Sesuai dengan fakta yang ada dilapangan penelitian yang dilakukan

terhadap 30 responden, diperolah data bahwa 30 responden sebagian besar

beban kerja perawat sedang berjumlah 13 perawat ( 43,3 % ) dan sebagian

kecil beban kerja perawat tertinggi berjumlah 9 perawat ( 30,0 % ). Sejalan

dengan fakta yang Didapatkan bahwa tidak seimbangnya antara jumlah

perawat dengan jumlah kunjungan pasien sehingga terjadi beban kerja pada

perawat hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas ketepatan penilaian triage

pada pasien tersebut.


4.3 Implikasi Keperawatan

Hasil penelitian ini memberikan masukan mengenai hubungan beban

kerja perawat dengan ketepatan penilaian triage diruangan IGD RSUD Prof.

dr. W. Z. Johannes Kupang. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari

penelitian ini antara lain :

1. Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini dijadikan sebagai dasar perawat IGD dalam

melakukan ketepatan penilaian triage. Berdasarkan penelitian diperoleh

data bahwa ada hubungan beban kerja perawat dengan ketepatan penilaian

triage diruangan IGD RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang. pelatihan

perawat di IGD diharapkan dapat meningkatkan kompetensi perawat dan

kualitas dalam melakukan ketepatan penilaian triage.

2. Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini dapat menambahkan keilmuan dibidang keperawatan

gawat darurat melalui penegembangan kompetensi perawat dalam

melakukan ketepatan penilaian triage.

3. Penelitian Keperawatan

Penelitian ini dapat dijadikan dasar penelitian selanjutnya dengan

berfokus dengan hubungan lainnya yang diduga berhubungan dengan

ketepatan penilaian triage.


4.4 Keterbatasan Penelitan

1. Instrumen pelaksanaan penelitian menggunakan lembar kuesioner dan

lembar observasi sehingga peneliti harus menunggu sampai waktu dinas

selesai.

2. Pengisian kuesioner oleh perawat dibatasi dengan kedatangan pasien.


BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Beban kerja perawat

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di IGD RSUD Prof. dr. W. Z.

Johannes Kupang dapat disimpulkan bahwa beban kerja perawat ( sedang )

sebesar 43,3 % dan beban kerja perawat ( tertinggi sebesar ) 30,0 %.

5.1.2 Ketepatan penilaian triage

Berdasarkan penelitian yang dilakukan IGD RSUD Prof. dr. W. Z.

Johannes Kupang perawat yang melakukan ketepatan penilaian triage (

cukup ) sebesar 53,3 % dan perawat yang melakukan ketepatan penilaian

triage ( baik) sebesar ( 23,3% ), berdasarkan hasil perhitungan diperoleh

dinilai ρ = 0.004 dimana nilai ρ < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Dan Hasil ini memiliki hubungan yang signifikan antara beban kerja

perawat dengan ketepatan penilaian triage di ruangan IGD RSUD Prof.

Dr. W. Z. Johannes Kupang.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi pihak rumah sakit

Diharapkan Rumah Sakit dapat mengevaluasi beban kerja perawat

serta mengoptimalkan kinerja perawat pelaksana dalam memberikan

pelayanan ketepatan penilaian triage kepada pasien.


5.2.2 Bagi Pemerintah Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur

a. Diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya perawat dengan

program pelatihan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh

institusi

b. Diharapkan dapat memperbaiki sistem kerja perawat yang ada sehingga

perawat lebih banyak waktu untuk melaksanakan peran dan fungsinya

secara mandiri.

5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Dengan adanya penelitian ini diharapkan peneliti lain mampu

mengadakan dan mengembangkan penelitian lanjutan tentang hubungan

beban kerja perawat dengan ketepatan penilaian triage diinstalasi gawat

darura t RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.


DAFTAR PUSTAKA

Africia, F. (2017). Hubungan Beban Kerja Per awat Dengan Kinerja Perawat di
Bangsal Instalasi Rawat Inap RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Jurnal
Keperawatan. 1 (1), 43-50.

Buku: Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat RSUD Prof. dr. W. Z.


Johannes Kupang (2017).

Barahama, F. K., Katuk, M., Oroh, M. W. 2019. Hubungan Beban Kerja Dengan
Kepuasan Kerja Perawat di Ruangan Perawatan Dewasa RSU GMIM
Pancaran Kasih Manado. Jurnal Keperawatan.

Bakri. H. M. 2017. Manajemen Keperawatan, Konsep dan Aplikasi Praktik


Keperawatan Profesional. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Deviantony, F., Ahsan, Setyoadi. (2017). Analisis Faktor Yang Berhubungan


Dengan Waktu Tunggu Pasien Setelah Keputusan Rawat Inap Diputusakan
DI Zona Kuning Instalasi Gawat Darurat.RSUD dr. Iskak TulungAgung
Malang, Nursline Journal.

Dede (2014). Jurnal Gambaran Pengetahuan Dan Pelaksanaan Bantuan Hidup


Dasar Perawat Gawat Darurat Di Instalasi gawat darurat (IGD) RSUD.
Labuang Beji Makasar.

Fitriyanti, L., Suryati, S. (2016). Hubungan Karakteristik Perawat Dengan


Motivasi Kerja Dalam Pelaksanaan Terapi Aktifitas Kelompok Di Rumah
Sakit Khusus Daerah Duren Sawit Jakarta Timur. Jurnal Artikel Ilmu
Kesehatan Vol. 8. No. 1 Fakultas Kesehatan MH Thamrin.

Gusti, M., M, Manurung. (2018). Hubungan Ketepatan Triase Dengan Tingkat


Keberhasilan Penanganan Pasien Cedera Kepala Di IGD RSU HKBP
Balige Kabupaten Toba Samosir. Jurnal Jumantik. 3 (2), 98-114.

Gita Tri, Puspitasari. (2012). Hubungan Beban Kerja Fisik Dan Kerja Dengan
Haryoto

Ida Mardalena. 2014. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: PT.


Pustaka Baru.

Juliana, S. Salsalina, B. Sembering. (2018). Gambaran Pengetahuan Perawat


Dalam Melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Di Ruangan Intensive Care Unit
(ICU) RSUD DR. Pirngadi Medan. Jurnal Online Keperawatan Indonesia. 1 (2),
17-22.
Kundiman, V., Kumat, L., Kiling, M. (2019). Hubungan Overcrowded Dengan
Ketepatan Pelaksanaan Triage Di Instalasi Gawat Darurat RSU GMIM
Pancaran Kasih Manado, Jurnal Keperawatan.

Martanti, R., Nofianto, M., Prasojo, J. A. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan


Dengan Keterampilan Petugas Dalam Pelaksanaan Triage di Instalasi Gawat
Darurat RSUD Wates.

Notoadmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Notoadmodjo, S. (2014). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta:


Rineka Cipta.

Nursalam. 2013. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan, Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Nurhanifah, D. (2015). Hubungan Karakteristik, Beban Kerja Dan Supervisi


Dengan Motivasi Perawat Dalam Melakukan Triage Di IGD RSUD Ulin
Banjarmasin: STIKES Muhamadyah Bnjarmasin.

Nursalam, (2014). Manajemen Keperawatan: Aplikasi Dalam Praktek


Keperawatan Profesional. (Edisi 4). Jakarta: Salemba Medika.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 47 Tahun 2018 Tentang


Pelayanan Kegawatdaruratan.

Paruntu, B. R. L., Rattu, A. J. M.., Tilaar, C. R. (2015). Perencanaan Kebutuhan


Sumber Daya Manusia Di Puskesmas Kabupaten Minahasa. Artikel
penelitian (JKMU).

Raditya, N., Agustina, Martha, A, D., & Machelia, N. S. (2018).Pengetahuan Dan


Presepsi Perawat Tentang Triage Di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit
Umum Daerah.

Said, S., Mappanganro, A. (2018).Hubungan Beban Kerja Perawat Dengan


Respon Time Pada Penanganan Pasien Di Instalasi Gawat Darurat Rumah
Sakit IBNU Sina Makasar. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Muslim Indonesia, Journal of Islamik Nursing.

Tuwo, P.G.,Rumampuk, J. F., Katuk, M, E., (2019). Hubungan Ketepatan Triase


Dengan Response Time Perawat Di Instalasi Gawat Darurat.Rumah Sakit
Tipe C, Manado. Jurnal Keperawatan.

Tusnia, Priyanti ., Satus, S. (2017). Hubungan Beban Kerja Dengan Perilaku


Caring Perawat Menurut Presepsi Klien Di Instalasi Gawat Darurat RSUD
Jombang.
Widia Irawati, (2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan pelaksanaan
triage di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Soedirman Kabumen. Stikes
Muhamadiyah Gombong.
MANUSKRIP

HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN

KETEPATAN PENILAIAN TRIAGE DI RUANGAN

INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Keperawatan

OLEH

JEWI OTRIANI BRIA


NIM: 113202715

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MARANATHA
KUPANG
2019
MANUSKRIP

HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN

KETEPATAN PENILAIAN TRIAGE DI RUANGAN

INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG

Address Correspondence to : Jewi Otriani Bria

Mahasiswa S1 Keperawatan, STIKes Maranatha Kupang

Telp: +6282144825288

Email : jewibria22@gmail.com

ABSTRAK

Beban kerja perawat merupakan keadaan dimana seseorang dihadapkan pada


tugas yang harus diselesaiakan pada waktu tertentu, beban kerja yang berlebihan
akan menimbulkan kelelahan fisik atau mental dan reaksi emosional seperti sakit
kepala dan mudah marah. Triage adalah proses khusus memilah pasien
berdasarkan beratnya cedera atau penyakit dan untuk menentukan jenis
penanganan kegawatdaruratan. Tujuan untuk mengetahui hubungan beban kerja
perawat dengan ketepatan penilaian triage. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode studi korelasi (corelation study). Dalam penelitian ini
menggunakan pendekatan cross sectional, Cara pengambilan sampel dalam
penelitian ini dilakukan dengan teknik proposive sampling dengan didasarkan
pada suatu pertimbangan tertentu dimana jumlah sampel sama dengan populasi
yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan cirri atau sifat-sifat populasi yang
sudah diketahui sebelumnya. Sampel dalam penelitian ini berjumalah 30
responden. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan yang bermakna antara
hubungan beban kerja perawat dengan ketepatan penilaian triage di ruangan IGD
RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang, berdasarkan hasil uji Spearman Rank
perhitungan diperoleh dinilai ρ = 0.004 dimana nilai ρ < 0.05 maka Ho ditolak
dan Ha diterima. Hasil ini memiliki hubungan yang signifikan antara beban kerja
perawat dengan ketepatan penilaian triage di ruangan IGD RSUD Prof. dr. W. Z.
Johannes Kupang. Kesimpulan terdapat hubungan beban kerja perawat yang
signifikan terhadap ketepatan penilaian triage di ruangan IGD RSUD Prof. dr. W.
Z. Johannes Kupang.

Kata Kunci : Beban kerja perawat, ketepatan penilaian triage

52
PENDAHULUAN (13,3 %) dari total seluruh kunjungan
Instalasi Gawat Darurat ( IGD ) di rumah sakit umum (Menteri
merupakan salah satu unit pelayanan Kesehatan RI, 2014). Data
di rumah sakit yang menyediakan kunjungan pasien disetiap rumah
penanganan awal ketika pasien sakit Provinsi NTT tiap tahun kian
menderita sakit atau cedera sehingga bertambah yaitu sebesar 3.323.855
dapat mengancam kelangsungan kunjungan pasien ( DINKES, 2015 ).
hidupnya. IGD berfungsi untuk Penanganan pasien yang
menerima, menstabilkan dan dilakukan tanpa memilah pasien
mengatur pasien yang membutuhkan berdasarkan tingkat kegawatan atau
penanganan kegawatdaruratan triage dan berdasarkan urutan
segera, baik dalam kondisi sehari- kedatangan pasien akan
hari maupun terjadi bencana. mengakibatkan penundaan
Pelayanan pasien gawat darurat penanganan pada pasien gawat
memerlukan pelayanan segera, yaitu darurat dan kritis sehingga berpotensi
cepat, tepat dan cermat untuk membahayakan pasien, bahkan bisa
mencegah kematian dan kecacatan ( membuat pasien yang kritis
Permenkes RI, 2018 ). mengalami kecacatan dan meninggal
Pelayanan gawat darurat ( Aloyce, et al., 2014 ).
mempunyai beberapa pembagian dan ketepatan perawat dalam
penanganan kriteria pasien dalam melakukan triage sangat
kondisi kegawatdaruratan di IGD. berpengaruh terhadap tingkat
Pada pelayanan gawat darurat keberhasilan pertolongan pada saat
memiliki sistem triage, yaitu pasien yang mengalami
prioritas 1 ATS 1 dan ATS 2 merah ( kegawatdaruratan selaian itu,
Emergency ) merupakan pasien ketepatan perawat dalam
dengan kondisi gawat darurat yang melaksanakan triage juga
mengancam nyawa atau fungsi vital dipengaruhi oleh beberapa faktor
dan membutuhkan penanganan antara lain pengetahuan perawat
segera. Prioritas 2 ATS 3 & ATS 4 tentang triage, motivasi kerja dan
kuning ( Urgent ) merupakan pasien beban kerja.
dalam kondisi darurat yang perlu Beberapa Negara Asia
evaluasi secara menyeluruh dan di Tenggara termasuk Indonesia
tangani oleh dokter untuk stabilisasi, ditemukan bahwa perawat yang
diagnosa dan terapi. Prioritas 3 ATS bekerja di IGD menjalani
5 hijau ( Non Emergency ) peningkatan beban kerja dan masih
merupakan pasein dalam kondisi mengalami kekurangan jumlah
tidak mengalami kegawatan dan perawat. Hal yang sama juga
kedaruratan ( Permenkes RI, 2018 ). dikemukakan oleh Martianti (2015),
Menurut hasil penelitian World bahwa faktor yang memepengaruhi
Health Organization ( WHO ) Tahun ketepatan penilaian triage adalah
2011 kunjungan pasien di IGD terus beban kerja. Beban kerja merupakan
bertambah tiap tahunnya, keadaan dimana seorang perawat
peningkatan terjadi sekitar 30% dihadapkan pada tugas yang harus
diseluruh IGD rumah sakit di dunia diselesaikan pada waktu tertentu (
(Bashkin et al, 2015). Data Nurhafinah, 2015 ). Dalam hal ini
kunjungan pasien masuk ke IGD di perawat yang dibebani dengan tugas
Indonesia adalah 4.402.205 pasien - tugas non keperawatan dapat
meningkatkan beban kerja sehingga, pemeriksaan vital signs. Namun
berdampak pada penurunan kualitas dalam pelaksanaan triage di IGD
pelayanan keperawatan dan tindakan perawat yang bertugas di ruangan
pertolongan pertama pada pasien triage hanya 1 orang yaitu, pada shift
gawat darurat ( WHO, 2011 ). pagi. Hal ini dikarenakan kurangnya
Beban kerja perawat yang jumlah perawat triage di ruangan
berlebihan memberikan efek kepada sehingga perawat yang bekerja di
pasien sehingga pasien tidak merasa ruangan IGD mengalami
puas karena kurangnya perhatian dari peningkatan beban kerja selain itu,
perawat seperti, kesan perawat hasil wawancara dengan perawat
kurang ramah, sikap perawat yang triage bahwa adanya kesalahan
sangat sensitif atau mudah emosi dalam menentukan triage seperti
ketika ditanya oleh pasien atau pada saat perawat melakukan
keluarganya ( Chusnawiyah, 2015 ). penilaian awal pada pasien P1 merah
Faktor yang mempengaruhi beban ( Emergency ) dengan kondisi gawat
kerja perawat adalah kondisi pasien darurat pindahkan ke P2 Kuning (
yang selalu berubah, jumlah pasien Urgent ) dengan kondisi pasien
yang melebihi sumber daya perawat, gawat tidak darurat sehingga akan
jumlah rata-rata jam perawatan yang mempengaruhi ketepatan penilaian
dibutuhkan untuk memberikan triage terhadap pasien yang masuk
pelayanan langsung pada pasien ke ruangan IGD. Oleh karena itu
melebihi kemampuan perawat itu peneliti tertarik untuk melakukan
sendiri, keinginan untuk berprestasi penelitian dengan judul “Hubungan
kerja, tuntutan pekerjaan tinggi,serta beban kerja perawat dengan
dokumentasi asuhan keperawatan. ketepatan penilaian triage” di IGD
Perawat dengan beban kerja RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes
berlebihan dapat berdampak pada Kupang.
penurunan motivasi kerja perawat
dalam melakukan ketepatan METODE
penilaian triage terhadap pasien.
Berdasarkan studi Jenis penelitian yang digunakan
pendahuluan yang dilakukan pada adalah penelitian kuantitatif dengan
tanggal 29 April 2019 di IGD RSUD metode studi korelasi dengan
Prof dr. W. Z. Johannes Kupang menggunakan pendekatan cross
bahwa jumlah kunjungan pasien di sectional, Cara pengambilan sampel
IGD pada bulan Januari-Desember dalam penelitian ini dilakukan
tahun 2018 didapatkan data sebanyak dengan teknik proposive sampling
21.566 pasien dan jumlah bed yang dengan pengambilan sampel secara
berada di ruangan IGD sebanyak 16 purposive didasarkan pada suatu
bed. Jumlah keseluruhan perawat pertimbangan tertentu yang dibuat
yang bekerja di ruangan IGD oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri
sebanyak 30 orang yang terdiri dari atau sifat-sifat populasi yang sudah
perawat IGD berjumlah 30 orang dan diketahui sebelumnya.
perawat triage berjumlah 4 orang. Sampel dalam penelitian ini
Pelaksanaan triage di ruangan IGD berjumalah 30 responden.
menggunakan sistem Australian
Triage Scale ( ATS ), wawancara
dan observasi lanjutan serta
Hasil Penelitian perawat Terendah 8 26,7
1. Data Umum Ketepatan Baik 7 23,3
Berdasarkan penelitian yang penilaian
telah dilakukan diperoleh hasil triage Cukup 16 53,3
sebagi berikut Kurang 7 23,3
Tabel 1. Data Umum Responden
Karateristik N % Berdasarkan tabel diatas dapat
Jenis Laki-laki 17 43 diketahui bahwa dari 30 responden
kelami sebagian besar yang melakukan
n Perempuan 13 57
ketepatan penilaian triage cukup
Umur 26-30 tahun 9 30,0 berjumlah 16 perawat ( 53,3% ), dan
31-35 tahun 12 40,0 sebagian kecil yang melakukan
ketepatan penilaian triage baik
Pendidi D3 21 70,0 berjumlah 7 perawat ( 23,3 % ).
kan keperawata 2. Hubungan Beban Kerja
terakhi n Perawat Dengan Ketepatan
r S1 9 30,0 Penilaian Triage
Keperawata Tabel 3. Hasil Bivariat
n/Ners Variabel Variabel P R
Masa ≥ 10 tahun 19 63,3 independen dependen
kerja Beban Ketepatan 0,004 0,516
4-6 tahun 5 16,7 kerja penilaian
perawat triage
Ketera BT & CLS 18 60,0
mpilan Berdasarkan tabel diatas
kerja ACLS 3 10,0 terlihat bahwa angka signifikan
korelasi sebesar 0,004 yang artinya
HO ditolak atau ada hubungan
Berdasarkan tabel diatas dapat pengetahuan perawat dengan
diketahui bahwa dari 30 responden pelaksanaan triage di ruangan
sebagian besar berjenis kelamin laki- instalasi gawat darurat RSUD Prof.
laki 17 perawat ( 43 % ), hampir dr. W. Z. Johannes Kupang.
setengah berusia antara 31-35 tahun Hasil perhitungan dengan
yakni 12 tahun ( 40,0 % ), sebagian spearman rank menunjukan
besar responden berpendidikan D3 correlation Coefficient sebesar
Keperawatan yakni 21 perawat ( 70, 0,516. Berdasarkan kriteria
0 % ), hampir setengah responden penafsiran koefisien korelasi yang
memiliki masa kerja ≥ 10 tahun tertera pada tabel 4.7 angka tersebut
berjumlah 19 perawat ( 63,3 % ), dan berada pada kategori cukup kuat
hampir setengah responden memiliki yakni kisaran 0,40 - 0,599.
keterampilan klinis BT & CLS yakni
18 perawat ( 60,3 % ). PEMBAHASAN
1. Beban kerja perawat
Tabel 2. Hasil Analisis Univariat Berdasarkan penelitian yang
Variabel N % dilakukan pada 30 responden
Beban Tertinggi 9 30,0 sebagian besar beban kerja perawat
kerja sedang berjumlah 13 perawat ( 43,3
Sedang 13 43,3 % ) dan sebagian kecil beban kerja
perawat tertinggi berjumlah 9 ke ruangan, melakukan pemasangan
perawat ( 30,0 % ). Hal tersebut keteter intravena, melakukan heating
dikarenakan beban kerja perawat pada luka, melakukan ganti balut
dipengaruhi oleh beberapa faktor luka, serta melakukan
diantaranya usia menurut Syahrizal, pendokumentasian asuhan
Karim, dan Nauli ( 2015 ) keperawatan gawat darurat dan lain-
menyebutkan bahwa usia dewasa lain. Kemudian perawat juga
awal merupakan tingkat usia melakukan tindakan non
produktif dalam bekerja sehingga keperawatan seperti melakukan
dapat melakukan berbagai tindakan membersihkan instrumen medis yang
keperawatan. Usia mempengaruhi telah dipakai, membersihkan ruangan
terhadap daya tangkap dan pola pikir dan membereskan sampah sisa
seseorang ( Notoatmodjo, 2014 ), tindakan keperawatan. Berdasarkan
daya ingat seseorang salah satunya di hasil wawancara didapatkan data
pengaruhi usia bertambahnya umur dengan sejumlah perawat 3 - 4 orang
sesorang dapat berpengaruh pada dengan jumlah total perawat 20
pertambahan pengetahuan yang orang yang sudah termasuk dengan
diperolehnya, akan tetapi pada umur kepala ruangan pelayanan di IGD di
tertentu atau menjelang usia lanjut, RSU PKU Muhamadiyah tidak
kemampuan untuk mengingat suatu hanya melayani pasien dengan
pengetahuan akan berkurang ( kegawatan tetapi juga melayani
Martanti, dkk. 2015 ). pasien poli (pasien non kegawatan),
Beban kerja perawat merupakan serta melayani adanya pasien rujukan
keadaan dimana seseorang dari beberapa rumah sakit lainnya
dihadapkan pada tugas yang harus Akibat dari pelayanan tersebut
diselesaikan pada waktu tertentu. membuat beban kerja perawat di
Berdasarkan hasil penelitian yang IGD RSU PKU Muhamadiyah
dilakukan oleh Nurhafinah ( 2015 ), Yogyakarta sangat tinggi.
mengemukakan bahwa Beban kerja Menurut penelitian
perawat yang berlebihan akan Dadashzadeh, et all. ( 2013 )
menimbulkan kelelahan fisik atau menjelaskan bahwa salah satu faktor
mental dan reaksi emosional seperti yang berhubungan dengan
sakit kepala dan mudah marah. pelaksanaan triage adalah rasio
Beban kerja perawat adalah jumlah perawat dan pasien. Yang
menghitung aktifitas kerja perawat dimaksud Tidak berimbangnya
dan ketergantungan klien, pada antara ketersediaan sumber daya
pelayanan keperawatan ( Nursalam, manusia dengan jumlah kunjungan
2014 ). pasien yang banyak akan berpotensi
Sesuai dengan penelitian yang pada penundaan penanganan pasien
dilakukan oleh Haryanti, dkk. 2013, sehingga berdampak fatal bahkan
dengan judul “Hubungan beban kerja mematikan bagi pasien dengan
perawat dengan perilaku caring kondisi emergency ( Evie, dkk. 2016
perawat menurut presepsi klien di ).
IGD RS PKU Muhamadiyah Sejalan dengan fakta yang ada
Yogyakarta” mengatakan bahwa dilapangan Berdasarkan penelitian
hampir 50 % beban kerja perawat yang dilakukan pada 30 responden
tinggi dimana tugas perawat sebagian besar beban kerja perawat
menerima dan mengantar pasien baru sedang berjumlah 13 perawat (
43,3 % ) dan sebagian kecil beban cukup berjumlah 16 perawat ( 53,3
kerja perawat tertinggi berjumlah 9 % ) dan sebagian kecil perawat yang
perawat ( 30,0 % ). Berdasarkan melakukan ketepatan penilaian triage
hasil observasi yang dilakukan, baik berjumlah 7 perawat ( 23,3 % ).
perawat yang bertugas di ruangan Hal tersebut dikarenakan ketepatan
triage hanya 1 orang perawat saja penilaian triage dipengaruhi oleh
dishift pagi namun, pada shift sore tingkat pendidikan, dan keterampilan
dan shift malam tidak ada perawat klinis.
yang bertugas di ruangan triage, Sesuai dengan penelitian yang
kemudian didapatkan juga bahwa dilakukan oleh ( Fitriyanti dan
tidak seimbangnya antara jumlah Suryati, 2016 ) dengan judul
perawat dengan jumlah kunjungan “Hubungan ketepatan triage dengan
pasien sehingga terjadi Beban kerja respon time perawat di IGD rumah
pada perawat hal ini akan sakit tipe C” hasil penelitian
berpengaruh terhadap kualitas didapatkan bahwa dari karakteristik
ketepatan penilaian triage pada tingkat pendidikan, hasil penelitian
pasien tersebut. Pendidikan yang menunjukan bahwa dari total 36
cukup akan tetapi belum tentu responden ( 100 % ) dengan tingkat
pengetahuannya terhadap pendidikan D3 keperawatan
Pelaksanaan Triage baik. merupakan yang terbanyak yakni 26
Penelitian ini juga didukung orang ( 72,2 % ), kemudian dengan
oleh penelitian sebelumnya yang tingkat pendidikan S1 Ners sebanyak
berjudul Hasil Hubungan Ketepatan 9 orang ( 25 % ), dan 1 orang dengan
Triagee Dengan Response Time tingkat pendidikan D4 keperawatan (
Perawat Di Instalasi Gawat Darurat 2,8 % ). Pendidikan yang tinggi
Rumah Sakit Tipe C Tahun 2019 dapat meningkatkan keterampilan
menunjukan dari total 36 responden ( perawat, juga semakin tinggi
100 % ) dengan tingkat pendidikan pendidikan seseorang maka semakin
D3 Keperawatan merupakan yang kritis, logis, dan sistematis cara
terbanyak yakni 26 orang ( 72,2 % ) berpikirnya, serta semakin tinggi
kemudian dengan tingkat pendidikan kualitas kerjanya.
S1 Ners sebanyak 9 orang ( 25 % ) 3. Hubungan Beban Kerja
dan 1 orang dengan tingkat Perawat Dengan Ketepatan
pendidikan D4 Keperawatan. Penilaian Triage Di Ruangan
pendidikan yang tinggi dapat Instalasi Gawat Darurat
meningkatkan keterampilan perawat, RSUD Prof. dr. W. Z.
juga semakin tinggi pendidikan Johannes Kupang
seseorang maka semakin kritis, logis Berdasarkan penelitian yang
dan sistematis cara berpikirnya, serta dilakukan pada 30 responden diatas
semakin tinggi kualitas kerjanya ( terlihat bahwa angka signifikan
Fitrianty & Suryati 2016 ). korelasi sebesar ρ = 0.004 yang
artinya HO ditolak atau ada
2. Ketepatan Penilaian Triage hubungan beban kerja perawat
dengan ketepatan penilaian triage di
Berdasarkan hasil penelitian ruangan instalasi gawat darurat
yang dilakukan pada 30 responden RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes
sebagian besar perawat yang Kupang. Hasil perhitungan dengan
melakukan ketepatan penilaian triage spearman rank menunjukan
correlation Coefficient sebesar 5.2.2 Bagi Pemerintah Dinas
0,516. Berdasarkan kriteria Kesehatan Provinsi Nusa
penafsiran koefisien korelasi yang Tenggara Timur
tertera pada tabel 4.7 angka tersebut
berada pada kategori cukup kuat a. Diharapkan dapat meningkatkan
yakni kisaran 0,40 - 0,599. Hal kualitas sumber daya perawat dengan
tersebut dikarenakan beban kerja program pelatihan sesuai dengan
perawat mempengaruhi ketepatan kompetensi yang dibutuhkan oleh
penilaian triage. institusi
b. Diharapkan dapat memperbaiki
KESIMPULAN sistem kerja perawat yang ada
sehingga perawat lebih banyak
a). Beban kerja perawat waktu untuk melaksanakan peran dan
Berdasarkan penelitian yang fungsinya secara mandiri.
dilakukan di IGD RSUD Prof. dr. W.
Z. Johannes Kupang dapat 5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
disimpulkan bahwa beban kerja
perawat (sedang) sebesar 43,3 % dan Dengan adanya penelitian ini
beban kerja perawat (tertinggi diharapkan peneliti lain mampu
sebesar) 30,0 %. mengadakan dan mengembangkan
b). Ketepatan penilaian triage penelitian lanjutan tentang hubungan
Berdasarkan penelitian yang beban kerja perawat dengan
dilakukan IGD RSUD Prof. dr. W. Z. ketepatan penilaian triage diinstalasi
Johannes Kupang perawat yang gawat darura t RSUD Prof. dr. W. Z.
melakukan ketepatan penilaian triage Johannes Kupang.
(cukup) sebesar 53,3 % dan perawat
yang melakukan ketepatan penilaian DAFTAR PUSTAKA
triage (baik) sebesar ( 23,3 % ),
berdasarkan hasil perhitungan Buku: Pedoman Pelayanan Instalasi
diperoleh dinilai ρ = 0.004 dimana Gawat Darurat RSUD Prof. dr. W. Z.
nilai ρ < 0.05 maka Ho ditolak dan Johannes Kupang (2017).
Ha diterima. Dan Hasil ini memiliki
hubungan yang signifikan antara Barahama, F. K., Katuk, M., Oroh,
beban kerja perawat dengan M. W. 2019. Hubungan Beban Kerja
ketepatan penilaian triage di ruangan Dengan Kepuasan Kerja Perawat di
IGD RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Ruangan Perawatan Dewasa RSU
Kupang. GMIM Pancaran Kasih Manado.
Jurnal Keperawatan.
SARAN
Bakri. H. M. 2017. Manajemen
5.2.1 Bagi pihak rumah sakit Keperawatan, Konsep dan Aplikasi
Praktik Keperawatan Profesional.
Diharapkan Rumah Sakit dapat Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
mengevaluasi beban kerja perawat
serta mengoptimalkan kinerja Deviantony, F., Ahsan, Setyoadi.
perawat pelaksana dalam (2017). Analisis Faktor Yang
memberikan pelayanan ketepatan Berhubungan Dengan Waktu Tunggu
penilaian triage kepada pasien. Pasien Setelah Keputusan Rawat
Inap Diputusakan DI Zona Kuning di Instalasi Gawat Darurat RSUD
Instalasi Gawat Darurat.RSUD dr. Wates.
Iskak Tulung Agung Malang,
Nursline Journal. Notoadmodjo, S. (2018). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Fitriyanti, L., Suryati, S. (2016). Rineka Cipta
Hubungan Karakteristik Perawat
Dengan Motivasi Kerja Dalam Notoadmodjo, S. (2014). Promosi
Pelaksanaan Terapi Aktifitas kesehatan dan perilaku kesehatan.
Kelompok Di Rumah Sakit Khusus Jakarta: Rineka Cipta.
Daerah Duren Sawit Jakarta Timur.
Jurnal Artikel Ilmu Kesehatan Vol. Nursalam. 2013. Konsep dan
8. No. 1 Fakultas Kesehatan MH Penerapan Metodologi Penelitian
Thamrin. Ilmu Keperawatan, Pedoman Skripsi,
Tesis dan Instrumen Penelitian
Gusti, M., M, Manurung. (2018). Keperawatan. Jakarta: Salemba
Hubungan Ketepatan Triase Dengan Medika.
Tingkat Keberhasilan Penanganan
Pasien Cedera Kepala Di IGD RSU Nurhanifah, D. (2015). Hubungan
HKBP Balige Kabupaten Toba Karakteristik, Beban Kerja Dan
Samosir. Jurnal Jumantik. 3 (2), 98- Supervisi Dengan Motivasi Perawat
114. Dalam Melakukan Triage Di IGD
RSUD Ulin Banjarmasin: STIKES
Gita Tri, Puspitasari. (2012). Muhamadyah Bnjarmasin.
Hubungan Beban Kerja Fisik Dan
Kerja Dengan Haryoto Nursalam, (2014). Manajemen
Keperawatan: Aplikasi Dalam
Juliana, S. Salsalina, B. Sembering. Praktek Keperawatan Profesional.
(2018). Gambaran Pengetahuan (Edisi 4). Jakarta: Salemba Medika.
Perawat Dalam Melakukan Bantuan
Hidup Dasar (BHD) Di Ruangan Peraturan Menteri Kesehatan
Intensive Care Unit (ICU) RSUD Republik Indonesia No. 47 Tahun
DR. Pirngadi Medan. Jurnal Online 2018 Tentang Pelayanan
Keperawatan Indonesia. 1 (2), 17- Kegawatdaruratan.
22.
Paruntu, B. R. L., Rattu, A. J. M..,
Kundiman, V., Kumat, L., Kiling, M. Tilaar, C. R. (2015). Perencanaan
(2019). Hubungan Overcrowded Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Dengan Ketepatan Pelaksanaan Di Puskesmas Kabupaten Minahasa.
Triage Di Instalasi Gawat Darurat Artikel penelitian (JKMU).
RSU GMIM Pancaran Kasih
Manado, Jurnal Keperawatan. Raditya, N., Agustina, Martha, A, D.,
& Machelia, N. S.
Martanti, R., Nofianto, M., Prasojo, (2018).Pengetahuan Dan Presepsi
J. A. (2015). Hubungan Tingkat Perawat Tentang Triage Di Unit
Pengetahuan Dengan Keterampilan Gawat Darurat Rumah Sakit Umum
Petugas Dalam Pelaksanaan Triage Daerah.
Said, S., Mappanganro, A.
(2018).Hubungan Beban Kerja
Perawat Dengan Respon Time Pada
Penanganan Pasien Di Instalasi
Gawat Darurat Rumah Sakit IBNU
Sina Makasar. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Muslim
Indonesia, Journal of Islamik
Nursing.

Tuwo, P.G.,Rumampuk, J. F., Katuk,


M, E., (2019). Hubungan
Ketepatan Triase Dengan Response
Time Perawat Di Instalasi Gawat
Darurat.Rumah Sakit Tipe C,
Manado. Jurnal Keperawatan.