Anda di halaman 1dari 36

ANALYZING INVESTING ACTIVITIES

(Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisa Keuangan
dan Pasar Modal)
Dosen Pengampu : Ismawati Haribowo, SE.,M.Si

Disusun oleh Kelompok 11 :


Febri Anggraini 11170820000040
Zaenal Mustaqim 11170820000055
Rizal Umami Ahmada 11170820000076

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2019 M/1440 H
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas bakat rahmatnya, taufik dan hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca mengenai investasi.

Harapan kami semoga makalah ini membantu, menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik lagi. Oleh karena itu saya berharap kepada
para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Tangerang, 28 Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI

COVER .......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................................................iv
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................iv
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................................v
BAB II PEMBAHASAN
A. Current Asset .................................................................................................1-6
B. Cash Management .................................................................................................6-8
C. Receivable .................................................................................................8-9
D. InventoryMethod .............................................................................................10-14
E. Long-TermAsset .............................................................................................15-16
F. Plant Assets .............................................................................................16-20
G. Intangible Asset .............................................................................................21-23
H. Financial Statement .............................................................................................23-30
I. Kesimpulan dan saran .................................................................................................31
J. Kasus .............................................................................................32-33
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Current Asset (aset lancar) adalah sumber daya yang dapat segera dikonversikan
menjadi kas dalam siklus operasi perusahaan. Contoh aset lancar adalah kas, setara kas,
piutang, persediaan, biaya dibayar dimuka.
Receivable (piutang) adalah jumlah yang terutang kepada perusahaan yang timbul
dari penjualan produk atau jasa, atau dari kemajuan (meminjamkan uang) ke perusahaan
lain. Piutang merujuk ke jumlah yang terutang kepada perusahaan yang timbul dari
penjualan produk dan jasa. Catatan piutang mengacu formal tertulis janj-janji hutang
jatuh tempo.
Inventories (persediaan) adalah barang yang dimilki untuk dijual sebagai bagian dari
operasi bisnis normal perusahaan. Dengan pengecualian dari layanan tertentu, inventories
sangat penting dan aset penting perusahaan.
Property, Plant, and Equipment (or plant assets) adalah aset berwujud tidak lancar
yang digunakan dalam proses manufaktur, merchandising, atau service untuk
menghasilkan pendapatan dan arus kas untuk lebih dari satu periode. Dengan demikian,
aset-aset ini telah memperkirakan masa manfaat lebih dari satu periode.

Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan current asset?
b. Apa saja karakteristik dari aktiva lancar?
c. Apa yang dimaksud dengan cash management?
d. Apa saja ciri-ciri dari piutang?
e. Metode apa saja yang terdapat dalam inventories?
f. Apa yang dimaksud dengan long-term asset?
g. Apa dampak yang ditimbulkan dari kapitalisasi terhadap laporan keuangan dan rasio?
h. Apa saja yang menyebabkan depreciation dalam PPE?
i. Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap tak berwujud?
j. Apa saja komponen-komponen dalam laporan keuangan?
k. Apa saja karakteristik dari laporan keuangan?
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dari makalah ini adalah :
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan current asset
b. Mengetahui apa saja karakteristik dari aktiva lancar
c. Mengetahui apa yang dimaksud dengan cash management
d. Mengetahui apa saja ciri-ciri dari piutang
e. Mengetahui metode yang digunakan dalam perhitungan inventories
f. Mengetahui apa yang dimaksud dengan long-term asset
g. Mengetahui dampak apa saja yang ditimbulkan kapitalisasi terhadap laporan
keuangan dan rasio
h. Mengetahui apa saja yang menyebabkan depreciation dalam PPE
i. Mengetahui apa saja komponen-komponen dalam laporan keuangan
j. Mengetahui apa saja karakteristik dari laporan keuangan
BAB II

PEMBAHASAN

A. CURRENT ASSET
Adalah aset yang diharapkan dapat terealisasi dan memberikan manfaat dalam jangka
pendek, yaitu sekitar satu tahun. Aset lancar ini berupa investasi jangka pendek, kas, piutang,
persediaan,

Karakteristik Aktiva Lancar


Berdasarkan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), aset lancar memiliki
kriteria kriteria sebagai berikut:
1. Entitas usaha mengharapkan untuk menggunakan atau mengeluarkan (menjual) aktiva
dalam kurun siklus normal kurang dari satu tahun buku.
Contoh piutang usaha yang jatuh tempo pembayarannya kurang dari satu tahun buku.
Contoh yang lain lagi adalah meja kursi, adalah aset lancar bagi perusahaan mebel, karena
merupakan persediaan yang akan dijual tetapi jika dimiliki bukan perusahaan mebel misal
perusahaan manufaktur meja kursi akan dicatat sebagai aset tetap (peralatan) karena
perusahaan tersebut tidak memiliki tujuan untuk menjual meja kursi, hanya digunakan
sebagai peraltan untuk mendukung operasi perusahaan.
2. Entitas usaha mempunyai aktiva yang ditujukan untuk diperdagangkan.
3. Entitas usaha akan merealisasikan aktiva dalam rentang waktu periode satu tahun buku (12
bulan) setelah laporan.
Misalnya piutang karyawan dimana perusahaan akan menerima pembayarannya dalam tempo
satu tahun buku setelah periode pelaporan.
Berdasarkan kriteria tersebut, berikut contoh yang termasuk dalam aktiva lancar terdiri dari :
1. Cash

Adalah sebuah investasi yang dapat bersifat sangat liquid, memiliki jangka pendek, dan
dapat dengan cepat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko atas
perubahan nilai yang signifikan.
Karakteristik Kas
Untuk membedakan kas dengan aset lain, Anda dapat melihatnya dengan memahami
karakteristik atau ciri-ciri kas. Berikut ini karakteristik kas yang harus Anda ketahui:
A. Aset perusahaan yang paling liquid.
B. Merupakan standar pertukaran yang paling umum.
C. Dapat menjadi basis perhitungan dan pengukuran.

Pembagian Kas
Adapun pembagian tersebut bertujuan untuk mempermudah pengawasan dan proses
pemeriksaaan yang berhubungan dengan distribusi dari aliran kas.Sehingga pengguna laporan
keuangan yang masih awam dengan akuntansi dapat lebih mudah untuk memahaminya. Di
dalam perusahaan, kas dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Petty cash (kas kecil)
Kas kecil adalah kas berupa uang yang disediakan oleh perusahaan untuk membayar
pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil dan tidak ekonomis jika
dibayarkan dengan menggunakan cek.
2) Kas di bank
Kas di bank adalah uang perusahaan yang berada di rekening suatu bank. Biasanya
digunakan untuk pengeluaran yang jumlahnya relatif besar dan tidak mungkin
diberikan secara langsung dalam transaksi karena jumlah nya yang besar dan rawan
dari segi keamanannya. Kas di bank ini selalu berhubungan dengan rekening koran
dari bank untuk perusahaan.
Pelaporan Cash
Meskipun pelaporan kas dapat langsung dilakukan, tetapi terdapat masalah juga dalam
pelaporan kas. Adapun masalah yang berhubungan dengan pelaporan kas ini dibagi menjadi 3
bagian, yakni:
a) Cash equivalents
Cash equivalents atau biasa disebut setara kas adalah kelompok aset perusahaan yang
memiliki maturity kurang dari tiga bulan. Setara kas ini akan sangat bermanfaat saat
digunakan pada kondisi ekonomi yang sedang susah, tidak stabil. Adapun contoh dari
setara kas ini adalah surat utang negara (SUN) dan treasury bill.
b) Restricted Cash
Restricted cash merupakan kas yang sengaja disisihkan untuk kewajiban di masa
depan yang jumlahnya signifikan. Berikut ilustrasi contoh untuk memperjelas
pemahaman
c) Bank Overdrafts
Bank overdrafts adalah suatu kejadian di mana perusahaan mengeluarkan cek yang
nilainya lebih besar dari saldonya di bank. Sebagai contoh Perusahaan Maju Sejahtera
mengeluarkan cek sebesar 120 juta, padahal saldo rekening Maju Sejahtera di bank
hanya sebesar 100 juta. Maka 20 juta yang ada masuk ke utang jangka pendek.

2. Account receivable
Adalah Hak atau tagihan perusahaan kepada pihak lainnya yang nantinya akan
dimintakan pembayarannya jika sudah waktunya.
Piutang Dagang (Account Receivable) timbul karena perusahaan melakukan penjualan
barang-barang dagangan atau barang lain atau jasa secara kredit.
Piutang Dagang (Account Receivable) biasanya tidak dinyatakan dalam suatu
perjanjian khusus sebagaimana tagihan lainnya. Dengan demikian pelunasan Piutang Dagang
(Account Receivable) kurang terjamin, juga sukar untuk dipindahkan atau diperjualbelikan.
Piutang Dagang (Account Receivable) yang diharapkan tertagih dalam jangka waktu
satu tahun atau siklus usaha normal diklasifikasikan sebagai aktiva lancar, akan tetapi
kadang-kadang seluruh Piutang Dagang (Account Receivable) diklasifikasikan sebagai aktiva
lancar tanpa memandang jangka waktu tertagihnya. Dalam kasus demikian jumlah Piutang
Dagang (Account Receivable) yang jangka waktu penagihannya lebih dari satu tahun atau
siklus usaha normal, harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
3. Inventory

Adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud
untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu, atau persediaan barang-barang yang masih
dalam pengerjaan atau proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang menunggu
penggunaannya dalam suatu proses produksi.
Jenis Jenis persediaan
Jenis-jenis persediaan jika ditinjau dari segi fisiknya terbagi menjadi beberapa jenis yaitu:
1) Raw Material (Persediaan bahan mentah)
Persediaan bahan mentah adalah persediaan bahan yang masih belum memuat
elemen-elemen biaya didalam bahan tersebut. misal pada pabrik furniture maka bahan
mentahnya masih kayu gelondongan, belum ada penanganan lebih lanjut yang dapat
diposting menjadi biaya perusahaan
2) Walk In Proces Material ( Persediaan dalam proses)
Persediaan dalam proses atau biasa disebut persediaan setengah jadi merupakan
persediaan yang merupakan keluaran dari tiap-tiap proses, namun masih belum
sempurna dan masih harus dilakukan pengolahan lagi
3) Finish Good Material (Persediaan barang jadi)
Persediaan barang jadi adalah barang yang sudah tidak memerlukan pengolahan lagi.
Tinggal di pasarkan dan siap dijual, yang berarti bahan semua unsur biaya produksi
sudah melekat di barang tersebut.

Sistem Pencatatan Persediaan


Sistem pencatatan persediaan terbagi menjadi 2 yaitu:
1) Sistem pencatatan periodik

Sistem pencatatan periodik lebih mudah bagi perusahaan yang memiliki sistem yang
belum terpadu. Sistem ini sangat sederhana bagi perusahaan kecil yang memiliki SDM
terbatas dalam hal ketelitian. Karena sistem ini hanya mewajibkan akunting mencatat
penjualan yang sama dengan bukti transaksi. Jadi setelah transaksi penjualan dan pembelian
sudah dilaksanakan pada akhir bulan akunting wajib untuk opname persediaan yang masih di
gudang untuk mengetahui sisa persediaan setelah adanya transaksi jual beli selama satu
periode pencatatan.
Prosedur yang harus dilakukan oleh akuntan pertama yaitu mencatat persediaan yang
ada di gudang sebelum sistem berjalan. Saat ada transaksi jual beli akuntan dapat memosting
transaksi tersebut dan mendebit akun pembelian jika pembelian terjadi. Namun jika penjualan
terjadi maka akuntan mengkredit akun pembelian. Setelah akhir periode pencatatan akuntan
wajib opname ulang persediaan yang dimiliki perusahaan. Hal ini dilakukan untuk
menghitung harga pokok penjualan yang nantinya untuk menghitung laba-rugi perusahaan
selama satu periode pencatatan. Setelah beberapa data terpenuhi dapat di masukkan tabel
dengan cara sebagai berikut:
HPP=Stok Awal + pembelian – penjualan – Stok akhir
Nantinya akuntan memiliki 2 data, yaitu harga pokok penjualan yang nantinya dilaporkan
dalam laba-rugi dan laporan stok barang yang ada di gudang.
2) Sistem pencatatan perpetual

Sistem pencatatan perpetual merupakan sistem pencatatan yang di catat langsung saat
transaksi tersebut berlangsung, semua akun langsung dapat diketahui pada saat transaksi
berlangsung. Maka dari itu akuntan harus menjurnal akun Harga Pokok dalam posting
transaksi pembelian atau pun penjualan. Sistem pencatatan ini lebih rumit dibanding sistem
pencatatan periodik, karena akuntan wajib memasukkan jurnal harga pokok ini berarti
akuntan harus memiliki data harga pokok. maka dari itu perusahaan retail sangat jarang
memilih pencatatan persediaan dengan sistem perpetual.
Perbandingan metode penentuan biaya persediaan dan pengaruhnya terhadap laporan
keuangan
Sebetulnya metode penentuan biaya terbagi menjadi 3 kali ini dosen akuntansi akan
membandingkan ketiga metode tersebut. Metode yang terbagi menjadi FIFO (First In First
Out), LIFO (Last In First Out), dan rata-rata ini memiliki pengaruh dari segi harga pokok
penjualan untuk periode berjalan, laba kotor dan mungkin juga laba bersih pada periode
tersebut dan juga persediaan akhir. Berikut efek dari masing-masing metode.
1) Metode FIFO
Metode FIFO akan menghasilkan harga pokok yang lebih rendah karena
menggunakan harga beli lama, hal ini dapat berefek pada laba perusahaan yang akan
naik. Begitu juga dengan persediaan akhir yang sejalan dengan naiknya laba
perusahaan.
2) Metode LIFO
berkebalikan dengan metode FIFO yang akan menghasilkan harga pokok yang lebih
tinggi karena menggunakan harga pembelian terbaru. Hal ini berujung pada laba
perusahaan yang akan turun dan akun persediaan yang tersaji dalam laporan neraca
juga akan turun.
3) Metode rata-rata ( Avarage method)
merupakan titik tengah dari naik turunnya harga maka dari itu etode rata-rata akan
mendapatkan titik tengah dari harga pokok, laba perusahaan dan persedaan akhir.
Juga untuk diketahui ketiga analogi yang saya sebutkan diatas adalah efek
menggunakan ketiga metode alam situasi harga naik dari waktu ke waktu.

4. Prepaid Expenses

Biaya-biaya yang belum merupakan kewajiban perusahaan untuk membayarnya pada


periode yang bersangkutan, tapi perusahaan sudah membayarnya terlebih dahulu. Karena
jumlah yang dibayarkan tersebut belum merupakan beban perusahaan untuk periode yang
bersangkutan, maka jumlah yang telah dibayarkan tersebut merupakan uang muka dan
termasuk dalam Aktiva Lancar (Current Assets).
Pengakuan Atas Biaya Dibayar Dimuka adalah sebagai berikut :
Atas pengeluaran/biaya dibayar dimuka yang merupakan beban untuk periode-periode
berikutnya tidak boleh diakui sebagai beban periode saat ini, tetapi harus
diamortisasi/dibebankan sesuai dengan masa manfaat atas biaya dibayar dimuka tersebut.
Jenis-Jenis Biaya Dibayar Dimuka antara lain :
1) Biaya Sewa Dibayar Dimuka (Prepaid Rent) yaitu :
2) Biaya Asuransi Dibayar Dimuka (Prepaid Insurance).
3) Biaya Gaji Dibayar Dimuka (Prepaid Salaries).
4) Biaya Bunga Dibayar Dimuka (Prepaid Interest).
5) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dibayar Dimuka

5. Sort-term Investment

Investasi jangka pendek adalah investasi yang dapat segera dicairkan atau didanai dari
kelebihan dana yang sifatnya sementara yang dimiliki oleh perusahaan yang dimaksudkan
untuk dimiliki selama dua belas tahun atau kurang
Tujuan Investasi Jangka Pendek
Tujuan dari investasi jangka pendek adalah sebagai berikut:
1) Menjadikan bermanfaat kelebihan cash flow sementara waktu
2) Memperoleh tambahan dana

Jenis-Jenis Investasi Jangka Pendek


Ada beberapa jenis investasi jangka pendek, tetapi yang kami berikan berikut adalah
beberapa jenis investasi jangka pendek yang sering kali digunakan, antara lain:
1) Akun Tabungan Bank

Tabungan bank adalah jenis investasi jangka pendek yang sangat simpel dan mudah
mencairkannya, namun kemudahan mencairkan, tabungan menawarkan dengan hasil yang
rendah atau kecil. Lebih banyak akun tabungan ini tidak mengikuti inflasi sehingga tabungan
tidak dapat digunakan untuk menyimpan uang dalam jangka waktu yang lama.
2) Sertifikat Deposito

Sertifikat deposito adalah investasi jangka pendek yang sering digunakan. Ketika
kalian menginvestasikan uang dalam bentuk sertifikat deposito, kalian menyetujui untuk
tidak mengambil/menarik dalam jangka waktu tertentu dengan keuntungan atau imbalan yang
lebih tinggi. Rentang waktu sertifikat deposito antara 3 bulan hingag paling lama sekitar 5
tahun. Seringkali sertifikat deposito ini diasuransikan jadi investasi, ini adalah investasi
jangka pendek yang aman dan imbalannya wajar.
3) Reksadana Pasar Uang

Sama dengan investasi akun tabungan, reksadana pasar uang juga mudah cair, tetapi
menawarkan keuntungan yang lebih besar. Kekurangan pasar uang adalah tidak berasuransi
sehingga investasi reksadana ini mempunyai risiko yang tinggi.
4) Surat Utang Jangka Pendek Dan Obligasi

Investasi jangka pendek ini memberikan syarat yang fleksibel dari satu bulan sampai
dengan satu tahun. Surat utang jangka pendek dirancang untuk jenis tabungan jangka pendek
dan memberikan keuntungan yang sangat rendah sedangkan obligasi memberikan
fleksibilitas lebih tetapi belum tentu aman.

B. CASH MANAGEMENT
Manajemen kas mengacu pada bidang keuangan yang luas yang melibatkan
pengumpulan, penanganan, dan penggunaan uang tunai. Ini melibatkan penilaian likuiditas
pasar, arus kas, dan investasi.
Dalam perbankan, manajemen kas, atau manajemen keuangan, adalah istilah
pemasaran untuk layanan tertentu yang terkait dengan arus kas yang ditawarkan terutama
kepada pelanggan bisnis yang lebih besar. Ini dapat digunakan untuk menggambarkan semua
rekening bank (seperti rekening giro) yang disediakan untuk bisnis dengan ukuran tertentu,
tetapi lebih sering digunakan untuk menggambarkan layanan spesifik seperti konsentrasi
uang tunai, akuntansi saldo nol, dan fasilitas rumah kliring. Terkadang, pelanggan perbankan
swasta diberikan layanan cash management.
Instrumen keuangan yang terlibat dalam manajemen kas termasuk dana pasar uang,
surat berharga, dan sertifikat deposito.
Berikut ini adalah daftar layanan yang umumnya ditawarkan oleh bank dan digunakan oleh
bisnis dan perusahaan yang lebih besar :
1. Account reconciliation

Menimbang buku cek bisa menjadi proses yang sulit untuk bisnis yang sangat besar,
karena menerbitkan begitu banyak cek, sehingga diperlukan banyak pemantauan manusia
untuk memahami cek mana yang belum dikosongkan dan oleh karena itu berapa saldo
sebenarnya perusahaan. Untuk mengatasinya, bank telah mengembangkan sistem yang
memungkinkan perusahaan untuk mengunggah daftar semua cek yang mereka terbitkan
setiap hari, sehingga pada akhir bulan laporan bank tidak hanya akan menunjukkan cek mana
yang telah dihapus, tetapi juga yang belum. Baru-baru ini, bank telah menggunakan sistem ini
untuk mencegah cek agar tidak dicairkan secara curang jika tidak ada dalam daftar, suatu
proses yang dikenal sebagai pembayaran positif.
2. Advanced web services

Sebagian besar bank memiliki sistem berbasis Internet yang lebih canggih daripada
yang tersedia bagi konsumen. Ini memungkinkan manajer untuk membuat dan mengotorisasi
kredensial masuk internal khusus, yang memungkinkan karyawan mengirim kabel dan
mengakses fitur manajemen kas lainnya yang biasanya tidak ditemukan di situs web
konsumen.
3. Armored car services/cash collection (Layanan mobil lapis baja / pengumpulan uang
tunai)

Pengecer besar yang mengumpulkan banyak uang mungkin meminta bank mengambil
uang tunai ini melalui perusahaan mobil lapis baja, alih-alih meminta karyawannya untuk
menyetor uang tunai.
4. Clearing house (Kliring rumah)

Biasanya ditawarkan oleh divisi manajemen kas sebuah bank. Lembaga kliring adalah
sistem elektronik yang digunakan untuk mentransfer dana antar bank. Perusahaan
menggunakan ini untuk membayar orang lain, terutama karyawan (beginilah cara kerja
setoran langsung). Perusahaan tertentu juga menggunakannya untuk mengumpulkan dana
dari pelanggan (biasanya ini adalah cara kerja rencana pembayaran otomatis). Sistem ini
dikritik oleh beberapa kelompok advokasi konsumen, karena di bawah sistem ini bank
berasumsi bahwa perusahaan yang memulai debit benar sampai dibuktikan sebaliknya.
5. Balance reporting (Pelaporan saldo)

Klien korporat yang secara aktif mengelola saldo kas mereka biasanya berlangganan
pelaporan akun dan informasi transaksi berbasis web yang aman di bank utama mereka.
Kompilasi kegiatan perbankan yang canggih ini dapat mencakup saldo dalam mata uang
asing, serta yang ada di bank lain. Mereka termasuk informasi tentang posisi tunai serta 'float'
(mis., Cek dalam proses pengumpulan). Akhirnya, mereka menawarkan perincian spesifik
transaksi pada semua bentuk aktivitas pembayaran, termasuk setoran, cek, transfer masuk dan
keluar, ACH (debet dan kredit clearinghouse otomatis), investasi, dll.
6. Cash concentration services (Layanan konsentrasi uang tunai)

Pengecer rantai besar atau nasional sering berada di daerah di mana bank utama
mereka tidak memiliki cabang. Karena itu, mereka membuka rekening bank di berbagai bank
lokal di daerah tersebut. Untuk mencegah agar dana dalam rekening ini tidak menganggur
dan tidak menghasilkan bunga yang cukup, banyak dari perusahaan ini memiliki perjanjian
yang ditetapkan dengan bank utama mereka, di mana bank utama mereka menggunakan
lembaga kliring otomatis untuk secara elektronik "menarik" uang dari bank-bank ini menjadi
satu. rekening bank yang mengandung bunga. Lihat juga: Konsentrasi uang tunai
7. Controlled disbursement (Pencairan terkendali)
Ini adalah produk lain yang ditawarkan oleh bank di bawah Layanan Manajemen
Tunai. Bank memberikan laporan harian, biasanya di awal hari, yang menyediakan jumlah
pengeluaran yang akan dibebankan ke rekening pelanggan. Pengetahuan awal tentang
kebutuhan dana harian ini memungkinkan pelanggan untuk menginvestasikan kelebihannya
dalam peluang investasi harian, biasanya investasi pasar uang. Ini berbeda dari pencairan
yang tertunda, di mana pembayaran dikeluarkan melalui cabang terpencil bank dan pelanggan
dapat menunda pembayaran karena meningkatnya waktu mengambang.

C. RECEIVABLE
Piutang merupakan salah satu unsur dari aktiva lancar dalam neraca perusahaan yang
timbul akibat adanya penjualan barang, jasa atau pemberian kredit terhadap debitur yang
pembayaran pada umumnya diberikan dalam tempo 30 hari sampai dengan 90 hari. Dalam
arti luas, piutang merupakan tuntutan terhadap pihak lain yang berupa uang, barang atau jasa
yang dijual secara kredit. Piutang dalam akuntansi lebih sempit pengertiannya yaitu untuk
menunjukkan tuntutan pada pihak luar perusahaan yang diharapkan akan diselesaikan dengan
penerimaan sejumlah uang tunai.

Pada umumnya piutang timbul akibat dari transaksi penjualan barang dan jasa
perusahaan, di mana pembayaran oleh pihak yang bersangkutan baru akan dilakukan setelah
tanggal transaksi jual beli. Mengingat piutang merupakan harta perusahaan yang sangat
penting, maka harus dilakukan prosedur yang wajar dan cara-cara yang memuaskan dengan
para debitur sehingga perlu disusun suatu prosedur yang baik demi kemajuan perusahaan.

Ciri-Ciri Piutang

1) Adanya Nilai Jatuh Tempo


Nilai jatuh tempo yaitu istilah yang menjelaskan penjumlahan dari nilai transaksi
utama lalu ditambah dengan nilai bunga yang dibebankan untuk dibayarkan pada
tanggal jatuh tempo. Seorang pembeli yang melakukan transaksi dengan cara kredit
bukan hanya membayar sejumlah nilai barang yang telah dibeli, tetapi juga bunganya
karena dia meminta waktu untuk membayar barang tersebut dengan tempo.

2) Adanya Tanggal Jatuh Tempo


Ciri piutang yang kedua adalah adanya tanggal jatuh tempo. Tanggal jatuh tempo
dapat diketahui dari lamanya atau umur piutang. Umumnya, penjual menggunakan
dua jenis pengukuran umur, yaitu bulan dan hari. Jika berumur bulanan, maka tanggal
jatuh temponya sama dengan tanggal pembeli melakukan transaksi kredit tersebut,
hanya saja berbeda bulan. Apabila berumur harian, maka wajib dilakukan perhitungan
untuk menentukan kapan tanggal jatuh temponya secara pasti.

3) Adanya Bunga yang Berlaku


Piutang dapat terjadi dikarenakan pembeli memutuskan melakukan transaksi secara
kredit dan hal ini menimbulkan bunga. Bunga dalam hal ini dibayar sebagai bentuk
konsekuensi pembeli yang meminta waktu pembayaran tertentu dan sebagai
keuntungan bagi penjual karena sudah bersabar dalam menunggu pelunasan kredit
tersebut. Untuk besaran bunga dalam hal ini sesuai kebijakan dari penjual dalam
menentukan tingkat bunga yang dipakai.
Jenis Piutang
Piutang terdiri atas beberapa jenis, yaitu :

1) Piutang Usaha (Account Receivable)


Piutang usaha adalah suatu jumlah pembelian kredit dari pelanggan. Piutang timbul
sebagai akibat dari penjualan barang atau jasa. Piutang ini biasanya diperkirakan akan
tertagih dalam waktu 30-60 hari. Secara umum, jenis piutang ini merupakan piutang
terbesar yang dimiliki perusahaan.

2) Wesel Tagih (Notes Receivable)


Wesel Tagih adalah surat formal yang diterbitkan sebagai bentuk pengukuran utang.
Wesel tagih biasanya memiliki waktu tagih antara 60-90 hari atau lebih lama serta
mewajibkan pihak yang berutang untuk membayar bunga. Wesel tagih dan piutang
usaha yang disebabkan karena transaksi penjualan biasa disebut dengan piutang
dagang (trade account).

3) Piutang Lain-Lain (Other Receivable)


Piutang lain-lain mencakup selain piutang dagang. Contohnya piutang bunga, piutang
gaji, uang muka karyawan, dan restitusi pajak. Secara umum bukan berasal dari
kegiatan operasional perusahaan. Oleh karena itu, piutang jenis ini diklasifikasikan
dan dilaporkan pada bagian yang secara terpisah di neraca.

D. INVENTORIES
INVENTORY ACCOUNTING AND VALUATION
Inventories (persediaan) adalah barang yang dimilki untuk dijual sebagai bagian dari
operasi bisnis normal perusahaan. Dengan pengecualian dari layanan tertentu, inventories
sangat penting dan aset penting perusahaan.
Persamaan inventory berguna dalam memahami arus persediaan. Untuk perusahaan
dagang :
Beginning Inventories + Net Purchases – Cost Of Goods Sold = Ending Inventories
Persamaan ini menyoroti aliran biaya dalam perusahaan. Hal ini dapat diungkapkan
atau seperti yang ditunjukkan pada gambar di sebelah kanan.
Cost of Goods Available for Sale
(_ Beginning inventories _
Cost of inventories acquired during the
period)

Ending Inventories Cost of Goods Sold


(balance sheet) (income statement)

Inventory Cost Flow


Untuk menggambarkan asumsi aliran biaya yang tersedia, asumsikan bahwa yang berikut
mencerminkan catatan persediaan perusahaan :
Inventory on January 1, Year 2 40 units @ $500 each $20,000
Inventories purchased during the year 60 units @ $600 each 36,000
Cost of goods available for sale 100 units $56,000
Sekarang, asumsikan bahwa 30 unit terjual selama tahun ini $800 masing-masing untuk total
pendapatan penjualan sebesar $24.000. GAAP memungkinkan perusahaan tiga pilihan dalam
menentukan biaya mana yang cocok terhadap penjualan :
First-In, First-Out : Metode ini mengasumsikan bahwa unit pertama yang dibeli adalah unit
pertama yang terjual. Dalam hal ini, unit-unit ini adalah unit yang ada di awal periode.
Dibawah FIFO, laba kotor perusahaan adalah sebagai berikut :
Sales $24,000
COGS (30 @ $500 each) 15,000
Gross profit $ 9,000
Also, because $15,000
juga, karena $15.000 dari biaya persediaan telah dihapus, sisa persediaan biaya yang harus
dilaporkan di neraca pada akhir periode adalah $41.000
Last-in, First-out : Dibawah asumsi penetapan biaya persediaan LIFO,unit terakhir yang
dibeli adalahyang pertama untuk dijual. Oleh karena itu, laba kotor dihitung sebagai :
Sales $24,000
COGS (30 @ $600 each) 18,000
Gross profit $ 6,000
And because $18,000
Dan karena $18.000 dari persediaan telah dihapus dari neraca dan tercermin dalam COGS,
$38.000 tetap di neraca untuk dilaporkan sebagai persediaan.
Average-Cost : Metode ini mengasumsikan bahwa unit dijual tanpa memperhatikan urutan
pembelian dan menghitung COGS dan persediaan akhir sebagai rata-rata tertimbang
sederhana sebagai berikut :
Sales $24,000
COGS (30 @ $560 each) 16,800
Gross profit $ 7,200
COGS dihitung sebagai rata-rata tertimbang dari total biaya barang yang tersedia untuk
penjualan dibagi dengan jumlah unit yang tersedia untuk dijual ( $56.000 / 100 = 560 ). Unit
akhir yang dilaporkan dalam neraca adalah $39.200 (70 unit / $560 per unit).

Analyzing Inventories
Inventory Costing Effects On Profitability
Untuk meringkas, hasil keuangan menggunakan masing-masing dari tiga metode alternatif
adalah :
Beginning Inventory Purchases Ending Inventory Cost Of Goods
Sold

FIFO…………$20.000 $36.000 $41.000 $15.000


LIFO…………..20.000 36.000 38.000 18.000
Average Cost….20.000 36.000 39.200 16.800

Laporan laba rugi dengan tiga metode, adalah sebagai berikut :

Sales Cost Of Goods Sold Gross Profit

FIFO………..$24.000 $15.000 $9.000


LIFO…………24.000 18.000 6.000
Average Cost...24.000 16.800 7.200

Seperti yang ditampilkan oleh contoh-contoh yang disajikan disini, laba kotor daat
dipengaruhi oleh perusahaan pilihan metode penetapan biaya persediaan. Dalam periode
kenaikan harga, FIFO menghasilkan lebih tinggi laba kotor dari LIFO karena persediaan
berbiaya lebih rendah dicocokkan dengan pendapatan penjualan dengan harga pasar saat ini.
Ini kadang-kadang disebut sebagai laba hantu FIFO karena laba kotor sebenarnya adalah
jumlah dari dua komponen laba ekonomi dan sebuah pemegang keuntungan. Laba ekonomi
sama dengan jumlah unit yang dijual dikalikan dengan perbedaan antara harga jual dan biaya
penggantian persediaan (diperkirakan dengan biaya persediaan yang paling baru dibeli)
Economic profit = 30 units x ($800 – $600) = $6.000
Keuntungan memegang adalah kenaikan biaya penggantian sejak persediaan diperoleh dan
sama dengan jumlah unit yang dijual dan dikalikan dengan selisih antara biaya penggantian
sewa saat ini dan biaya perolehan awal :
Holding gain = 30 units x ($600 - $500) = $3.000
Dari $9.000 dalam laba kotor yang dilaporkan, $3.000 berkaitan dengan keuntungan inflasi
yang direalisasikan oleh perusahaan pada persediaan yang dibeli beberapa waktu lalu dengan
harga lebih rendah dari harga saat ini.

Inventory Costing Effect On The Balance Sheet


Dalam periode kenaikan harga, dan dengan asumsi bahwa perusahaan belum dilikuidasi
sebelumnya lapisan persediaan yang lebih tua, LIFO melaporkan persediaan akhir dengan
harga yang bisa jauh lebih rendah dari biaya penggantian.
Akibatnya, neraca untuk perusahaan LIFO tidak secara akurat direpresentasikan investasi saat
ini yang dimiliki perusahaan dalam investasinya.

Inventory Costing Effect On Cash Flow


Peningkatan laba kotor di bawah FIFO juga menghasilkan pendapatan sebelum pajak
lebih tinggi dan, akibatnya, kewajiban pajak lebih tinggi. Dalam periode kenaikan harga,
perusahaan bisa terjebak dalam arus uang tunai karena mereka membayar pajak yang lebih
tinggi dan harus mengganti persediaan yang terjual denga biaya penggantian lebih tinggi dari
biaya pembelian asli.
Other Issues In Inventory Valuation
Efek likuidasi LIFO dapat dilihat pada catatan kaki inventaris baru-baru ini laporan
tahunan Stride Rite Corporation. Perusahaan menunjukkan bahwa pengurangan dalam jumlah
ventory menghasilkan penjualan produk yang dilakukan pada biaya tahun sebelumnya
berbeda dengan biaya saat ini. Sebagai akibat dari pengurangan inventaris ini, laba bersih
meningkat sebesar $47 juta dam $141 juta pada tahun berjalan dan tahun sebelumnya, dan
menurun sebesar $120 juta dua tahun sebelumnya, sebagai akibat dari pengurangan jumlah
persediaan. Analisis perlu menyadari efek pada profitabilitas likuidasi LIFO ini.
Analytical Restatement Of LIFO To FIFO.
Umumnya, ketika harga naik, pendapatan LIFO lebih kecil dari pendapatan FIFO.
Namun, efek bersih penyajian kembali pada tahun tertentu tergantung pada efek gabungan
dari perubahan tersebut dalam persediaan awal dan akhir, dan faktor-faktor lain termasuk
likuidasi LIFO lapisan.
The following three adjustments are necessary
(1) Inventories = Reported LIFO inventory _ LIFO reserve
(2) Increase deferred tax payable by: (LIFO reserve X Tax rate)
(3) Retained earnings = Reported retained earnings + [LIFO reserve X (1 - Tax rate)]
Analytical Restatement Of FIFO To LIFO.
Penyesuaian dari FIFO ke LIFO, sayangnya, melibatkan asumsi penting dan karena
itu, mungkin rentan terhadap kesalahan. Ingatlah bahwa keuntungan FIFO termasuk holding
pada persediaan awal. Sangat membantu untuk menganggap keuntungan ini sebagai
persediaan awal (BIFIFO) dikalikan dengan inflasi tingkat untuk jalur persediaan tertentu yang
dilakukan perusahaan. Kita sebut nilai ini r. kemudian, keuntungan FIFO saat ini termasuk
holding sama dengan BI X r.. ini berarti biaya barang yang dijual (FIFO) dikecilkan oleh
BIFIFO X r. oleh karena itu, untuk menghitung biaya LIFO sebesar barang terjual (COGS LIFO),
cukup tambahkan BIFIFO X r ke COGSFIFO :
COGSLIFO = COGSFIFO + (BIFIFO X r )
r= Change in LIFO reserve
FIFO inventories from previous year-end

Inventory Costing for Manufacturing Companies


and the Effect of Production Increases
Biaya persediaan untuk pembuatan terdiri dari tiga komponen :
1. Bahan baku – biaya bahan baku dasar yang digunakan untukmemproduksi produk.
2. Tenaga kerja – biaya tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk mengubah produk
menjadi kondisi mirip.
3. Overhead – biaya tidak langsung yang dikeluarkan dalam proses pembuatan, seperti
penyusutan peralatan pabrik, upah pengawasan, dan utilitas.
Perusahaan dapat memperkirakan dua komponen, pertama dengan cukup akurat dari
spesifikasi desain dan studi waktu dan gerak pada jalur perakitan.

Lower of Cost or Market


Prinsip penilaian persediaan yang diterima secara umum adalah untuk menilai
dibawah biaya (harga) pasar. Ungkapan sederhana ini menutupi kerumitan dan variasi
alternatif yang menjadi sasarannya. Ini secara signifikan dapat mempengaruhi pendapatan
periodik dan nilai persediaan. Aturan pasar berbiaya rendah atau pasar menyiratkan bahwa
jika persediaan menurun nialinya dibawah biayanya dengan alasan apapun, termasuk
keusangan, kerusakan, dan perubahan harga inventory ditulis untuk mencerminkan kerugian
ini. Penghapusan ini dibebankan secara efektif terhadap pendapatan dalam periode kerugian
terjadi. Karena menulis dari biaya ke pasar dilarang (kecuali untuk pemulihan kerugian
hingga biaya awal), persediaan dinilai secara konservatif.
Pasar didefinisikan sebagai biaya penggantian saat ini melalui pembelian atau
pembuatan ulang. Namun, nilai pasar tidak boleh lebih tinggi dari nilai realisasi bersih atau
kurang dari nilai realisasi bersih dikurangi dengan margin laba normal.
Biaya didefinisikan sebagai biaya perolehan persediaan. Ini dihitung dengan
menggunakan salah satu metode penetapan biaya persediaan yang diterima misalnya, FIFO,
LIFO, atau AVERAGE. Analisis inventories harus mempertimbangkan dampak dari aturan
pasar atau biaya yang rendah. Ketika harga naik, aturan ini cenderung meremehkan
persediaan terlepas dari metode biaya yang digunakan. Ini menekan rasio saat ini.
Diprakteknya perusahaan-perusahaan tertentu secara sukarela mengungkapkan biaya
persediaan saat ini, biasanya dalam sebuah catatan.

E. INTRODUCTION TO
LONG - TERM ASSETS
Aset jangka panjang adalah sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan
pendapatan operasional (atau mengurangi biaya operasi) selama lebih dari satu periode. Jenis
aset ini jangka panjang yang paling umum adalah aset tetap berwujud (tangible fixed assets)
seperti properti pabrik, dan peralatan. Aset jangka panjang juga termasuk aset tidak berwujud
(intangible assets) seperti paten, merek dagang, hak cipta, dan itikad baik. Bagian ini
membahas masalah konseptual sesuai dengan aset jangka panjang. Kemudian secara terpisah
membahas masalah akuntansi dan analisis berkaitan dengan aset berwujud dan sumber daya
alam, aset tak berwujud, dan tidak tercatat aktiva.

Accounting for Long-Term Assets


Bagian ini menjelaskan konsep aset jangka panjang dan proses permodalan, alokasi, dan
penurunan nilai.

Capitalization, Allocation, and Impairment


Capitalization adalah proses menunda biaya itu dikeluarkan pada periode saat ini,
tetapi yang manfaatnya diperkirakan akan mencapai satu atau lebih banyak periode
mendatang. Kapitalisasi ini adalah yang membuat akun aset.
Allocation adalah proses mengeluarkan biaya (aset) yang ditangguhkan secara
berkala untuk satu atau lebih yang diharapkan dimasa depan (masa manfaat). Proses alokasi
ini disebut depresiasi untuk aset berwujud, amortisasi aset tidak berwujud, dan penyusutan
sumber daya alam. Tiga faktor dalam menentukan jumlah alokasi biaya : masa manfaat, nilai
sisa, dan metode alokasi. Masing-masing metode tersebut membutuhkan estimasi perkiraan
yang melibatkan kebijaksanaan manajerial. Analisis harus mempertimbangkan dampak
estimasi ini terhadap laporan keuangan, terutama ketika estimasi perubahan.
Impairment adalah proses menuliskan nilai buku aset ketika arus kas yang
diharapkan tidak cukup lama untuk memulihkan sisa biaya yang dilaporkan dineraca. Dari
perspektif analisis dua distorsi timbul dari penurunan nilai aset :
1. Bias konservatif mendistorsi penilaian aset jangka panjang karena aset ditulis tetapi
tidak ditulis.
2. Efek sementara yang besar dari mengakui penurunan nilai aset mendistorsi laba
bersih.
Perhatikan bahwa penurunan nilai aset dicatat ketika ekspektasi manajer atas kas masa depan
mengalir dari aset yang jatuh dibawah nilai tercatat. Hal ini menghasilkan penghapusan
langsung dalam keinginan untuk mencocokkan alokasi biaya masa depan dengan manfaat
masa depan lebih yang lebih baik.
Capitalizing versus Expensing:
Financial Statement and Ratio Effects
Kapitalisasi adalah bagian penting dari akuntansi. Kapitalisasi mempengaruhi kedua
laporan keuangan dan rasio mereka. Ini juga berkontribusi pada superioritas pendapatan atas
arus kas sebagai ukuran kinerja keuangan. Bagian ini membahas membahas efek kapitalisasi
(dan alokasi selanjutnya) versus pengeluaran langsung untuk pengukuran pendapatan dan
perhitungan rasio.

Effects of Capitalization on Income


Kapitalisasi memiliki dua efek pada pendapatan. Pertama, itu menunda pengakuan
biaya dalam laporan laba rugi. Ini berarti kapitalisasi menghasilkan pendapatan yang lebih
tinggi dalam akuisisi periode tetapi pendapatan lebih rendah pada periode berikutnya
dibandingkan dengan pengeluaran biaya. Kedua, kapitalisasi menghasilkan seri pendapatan
yang lebih lancar.

Effects of Capitalization for Return on Investment


Kapitalisasi mengurangi volatilitas dalam ukuran pendapatan dan juga, rasio
pengembalian investasi. Ini mempengaruhi pembilang (pendapatan) dan penyebut (basis
investasi) dari pengembalian rasio investasi.

Effects of Capitalization on Solvency Ratios


Pengeluaran langsung biaya aset, rasio solvabilitas, seperti utang terhadap ekuitas,
mencerminkan lebih buruk pada perusahaan dari pada yang dijamin. Ini terjadi karena
pengeluaran biaya langsung mengecilkan ekuitas untuk perusahaan dengan aset produktif.

Effects of Capitalization on Operating Cash Flows


Ketika biaya aset segera dibebankan, mereka dilaporkan sebagai arus kas keluar
operasi. Sebaliknya, ketika biaya aset dikapitalisasi, mereka dilaporkan sebagai kas investasi
arus keluar. Ini berarti bahwa pengeluaran segera atas biaya aset keduanya melebih-lebihkan
operasi arus kas keluar dan mengecilkan investasi arus kas keluar pada tahun akuisis sebagai
perbandingan dengan kapitalisasi biaya.

F. PLANT ASSETS AND NATURAL


RESOURCES
Property, Plant, and Equipment (or plant assets) adalah aset berwujud tidak lancar
yang digunakan dalam proses manufaktur, merchandising, atau service untuk menghasilkan
pendapatan dan arus kas untuk lebih dari satu periode. Dengan demikian, aset-aset ini telah
memperkirakan masa manfaat lebih dari satu periode.

Valuing Plant Assets and Natural Resources


Bagian ini menjelaskan penilaian aset dari plant asset dan natural resources
Valuing Property, Plant, and Equipment
Prinsip biaya historis diterapkan ketika menilai properti, pabrik, dan peralatan.
Penilaian biaya historis menyiratkan suatu perusahaan pada awalnya mencatat suatu aset pada
saat pembelian biaya. Biaya ini mencakup segala pengeluaran yang diperlukan untuk
membawa aset ke kondisi dan lokasi yang dapat digunakan atau diperbaiki seperti
pengiriman, pemasangan, pajak, dan pengaturan. Semua biaya akuisisi dan persiapan
dikapitalisasi dalam saldo akun aset. Pembenaran untuk penggunaan biaya historis terutama
berkaitan dengan objektivitasnya.

Valuing Natural Resources


Natural Resources atau disebut wasting asset, adalah hak untuk mengektraksi atau
mengkonsumsi sumber daya alam. Contohnya adalah hak beli mineral, kayu, gas alam, dan
persediaan. Perusahaan melaporkan sumber daya alam dengan biaya historis plus biaya
penemuan, eksplorasi, dan pengembangan. Juga, sering kali ada biaya yang substansial
setelah pelepasan sumber daya alam yang dikapitalisasi pada neraca, dan dibebankan hanya
ketika sumber daya nanti dihapus, dikonsumsi, atau dijual. Perusahaan biasanya
mengalokasikan biaya sumber daya alam atas total unit yang tersedia. Proses alokasi ini
disebut penipisan (depletion) dan dibahas dalam bab 6.

Depreciation
Prinsip dasar penentuan pendapatan adalah pendapatan yang diuntungkan dari
penggunaan aset jangka panjang harus menanggung bagian biaya yang proporsional.
Depreciation adalah alokasi dari biaya pabrik dan peralatan (tanah ditidak disusutkan)
selama masa manfaatnya. Meskipun ditambahkan kembali dalam laporan arus kas sebagai
non-cash, depresiasi tidak menyediakan dana untuk penggantian aset. Ini adalah kesalah
pahaman umum. Pendanaan untuk pengeluaran modal dicapai melalui operasi arus kas dan
pembiayaan kegiatan.

Rate of Depreciation
Tingkat penyusutan tergantung pada dua faktor : masa manfaat, dan metode alokasi.
Useful Life. Masa manfaat aset sangat bervariasi. Asumsi tentang berguna umur aset
didasarkan pada kondisi ekonomi, studi teknik, pengalaman, dan informasi tentang properti
fisik dan produktif aset. Kerusakan fisik adalah faktor penting yang membatasi masa manfaat,
dan hampir semua aset tunduk padanya. Frekuensi dan kualitas pemeliharaan bergantung
pada penurunan fisik. Pemeliharaan bisa memperpanjang masa manfaat tetapi tidak bisa
memperpanjangnya tanpa batas.
Allocation Method. Setelah masa manfaat aset ditentukan, depresiasi biaya berkala
tergantung pada metode alokasi. Penyusutan sangat bervariasi tergantung pada metode yang
dipilih. Kami mempertimbangkan dua metode yang paling umum : straight-line dan
accerelated.

 Straight-line. Metode penyusutan garis lurus mengalokasikan biaya suatu aset


untuk masa manfaatnya berdasarkan biaya periodik yang sama. Tampilan 4.2
mengilustrasikan penyusutan aset yang menelan biaya $110.000, dengan masa
manfaat 10 tahun dan nilai sisa $10.000 (nilai sisa adalah jumlah aset yang diharapkan
akan dijual pada akhirnya dari masa manfaatnya). Setiap 10 tahun dibebankan dengan
sepersepuluh dari biaya aset lebih murah , nilai sisa dihitung sebagai ($110.000 -
$10.000)/ 10 tahun.

Straight-Line Depreciation Exhibit 4.2


End of Year Depreciation Accumulated Depreciation Asset Book Value
1 $10.000 $10.000 $110.000
2 10.000 20.000 100.000
. . . .
. . . .
. . . .
9 10.000 90.000 20.000
10 10.000 100.000 10.000
Dasar pemikiran untuk penyusutan garis lurus adalah asumsi bahwa kemunduran fisik
terjadi secara seragam dari waktu kewaktu. Asumsi ini kemungkinan lebih valid untuk

struktur tetap seperti bangunan dari pada mesin yang pemanfaatannya merupakan faktor yang
lebih penting.
 Accelerated. Metode penyusutan yang dipercepat mengalokasikan biaya suatu aset
kepada masa manfaatnya menurun. Penggunaan metode ini didorong oleh mereka
penerimaan dalam kode pendapatan internal. Dukungan konseptual untuk metode
percepatan adalah pandangan bahwa penurunan biaya penyusutan dari waktu
kewaktu mengkompensasi untuk (1) meningkatnya biaya perbaikan dan
pemeliharaan, (2) penurunan pendapatan dan pengoperasian efisiensi, dan (3)
ketidakpastian pendapatan yang lebih tinggi pada tahun-tahun berikutnya dari aset
berusia (karena keusangan).
 Special. Metode penyusutan khusus ditemukan di industri tertentu seperti baja dan
mesin berat. Metode yang paling umum ini menghubungkan biaya penyusutan untuk
aktivitas atau intensitas penggunaan aset. Misalnya, jika sebuah mesin memiliki
manfaat 10.000 jam berjalan, biaya penyusutan bervariasi dengan jam waktu berjalan
dari pada periode waktu. Penting ketika menggunakan metode aktivitas (disebut juga
unit metode produksi) bahwa estimasi masa manfaat ditinjau secara berkala untuk
tetap valid dalam kondisi yang berubah.

Depletion
Depletion. Adalah alokasi biaya sumber daya alam berdasarkan tingkat ekstraksi atau
produksi. Perbedaan antara depresiasi dan deplesi adalah bahwa depresiasi biasanya
merupakan alokasi biaya aset produktif dari waktu ke waktu, sementara deplesi adalah
alokasi biaya berdasarkan unit eksploitasi sumber daya alam seperti batu bara, minyak,
mineral, atau kayu. Deplesi tergantung pada produksi, lebih banyak hasil produksi lebih
banyak biaya penipisan. Sebagai ilustrasi, jika deposit biji seharga $5 juta dan
diperkirakan mengandung $10 juta ton yang dapat dipulihkan, tingkat penipisan per ton
biji yang ditimbang adalah $0.50. Produksi dan penjualan 100.000 ton menghasilkan
biaya penyusutan $50.000 dan saldo bersih dalam akun aset pada akhir tahun sebesar
$4,95 juta. Analisis kami harus menyadari bahwa, seperti depresiasi, deplesi, dapat
menghasilkan komplikasi seperti keandalan, atau kekurangan karenanya, estimasi
sumber daya yang dapat dipulihkan. Perusahaan harus meninjau secara berkala perkiraan
ini untuk memastikan itu mencerminkan semua informasi.
.
Impairment
Plant assets dan natural resources biasanya disusutkan selama masa manfaatnya.
Penghargaan didasarkan pada prinsip alokasi. Artinya, biaya aset berumur panjang
adalah dialokasikan ke berbagai periode ketika digunakan. Tujuan depresiasi adalah
penentuan pendapatan, metode itu adalah untuk mencocokkan biaya aset berumur
panjang dengan pendapatann yang dihasilkan dari penggunaannya. Penting untuk dicatat
bahwa depresiasi tidak penilaian latihan. Dengan kata lain, nilai tercatat aset yang
disusutkan (yaitu, biaya aset dikurangi penyusutan awal) tidak dirancang untuk
mencerminkan nilai saat ini dari aset tersebut.

Analyzing Plant Assets and Natural Resources


Penilaian plant asset dan natural resources menekankan objektifitas biaya historis.
Sayangnya, biaya historis tidak terlalu relevan dalam menilai penggantian atau dalam
menentukkan kebutuhan masa depan untuk aset operasi. Juga, mereka tidak sebanding di
berbagai laporan perusahaan yang berbeda dan tidak sebanding di berbagai laporan
perusahaan yang berbeda dan tidak terlalu berguna dalam mengukur biaya pembuangan
akibat pembuangan atau dalam menilai penggunaan dana alternatif. Selanjutnya, pada
saat mengubah tingkat harga, mereka mewakili kumpulan pengeluaran yang
mencerminkan perbedaan daya beli.

Analyzing Depreciation and Depletion


Sebagian besar perusahaan menggunakan aset produktif jangka panjang dalam
kegiatan operasi mereka dan, dalam hal ini kasus, penyusutan biasanya merupakan biaya
besar. Manajer membuat keputusan yang melibatkan dasar yang tidak dapat ditentukan,
masa manfaat, dan metode alokasi. Keputusan ini dapat menghasilkan secara substansial
biaya penyusutan berbeda.
Tantangan lain untuk analisis ini muncul dari perbedaan dalam metode alokasi yang
digunakan untuk pelaporan keuangan dan untuk tujuan pajak. Tiga kemungkinan umum
adalah :
1. Penggunaan straight-line untuk tujuan pelaporan keuangan dan pajak.
2. Penggunaan straight-line untuk pelaporan keuangan dan metode percepatan pajak.
Efek pajak yang menguntungkan yang dihasilkan dari depresiasi pajak yang lebih
tinggi diimbangi secara finansial laporan dengan alokasi pajak antar periode yang
dibahas dalam bab 6. Pajak yang menguntungkan efeknya berasal dari menunda
pembayaran pajak, menghasilkan penggunaan dana yang bebas biaya.
3. Penggunaan metode yang dipercepat untuk pelaporan keuangan dan pajak.
Menghasilkan depresiasi yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal, yang dapat
diperpanjang selama bertahun-tahun dengan sebuah perusahaan yang berkembang.
Pengungkapan tentang dampak dari berbagai kemungkinan ini tidak selalu memadai.
Pengungkapan yang memadai mencakup informasi tentang biaya penyusutan
berdasarkan alternatif alokasi.
Menganalisis penyusutan membutuhkan evaluasi kecukupannya. Untuk tujuan ini
gunakan langkah-langkah seperti rasio penyusutan terhadap total aset atau rasio
penyusutan terhadap faktor terkait ukuran lainnya. Selain itu, ada beberapa langkah yang
berkaitan dengan aset pabrik usia yang berguna dalam membandingkan kebijakan
penyusutan dari waktu kewaktu dan di seluruh perusahaan, termasuk yang berikut ini :
Average total life span _ Gross plant and equipment assets/Current year depreciation
expense.
Average age _ Accumulated depreciation/Current year depreciation expense.
Average remaining life _ Net plant and equipment assets/Current year depreciation expense.
Langkah-langkah ini memberikan perkiraan yang masuk akal bagi perusahaan yang
menggunakan depresiasi garis lurus tetapi kurang bermanfaat bagi perusahaan yang
menggunakan metode dipercepat. Ukuran lain sering berguna dalam analisis adalah :
Average total life span _ Average age _ Average remaining life
Masing-masing langkah ini dapat membantu menilai kebijakan dan keputusan
depresiasi perusahaan dari waktu kewaktu.

Analyzing Impairments
Tiga analisis yang timbul karena penurunan nilai adalah :
1. Mengevaluasi keseseuaian jumlah penurunan nilai
2. Mengevaluasi kesesuaian waktu pelaksanaan penurunan nilai, dan
3. Menganalisis pengaruh penurunan nilai terhadap pendapatan.

G. Intangible Asset
Intangible asset merupakan aktiva tetap yang secara fisik tidak dapat dilihat
bentuknya, akan tetapi memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan.

Contoh Aktiva Tetap Tak Berwujud (Intangible Asset)

Berikut adalah contoh-contoh Aktiva Tetap Tak Berwujud yang lumrah kita temui
dalam dunia usaha :

a. Hak Sewa (Lease Hold)

Adalah hak yang diperoleh atas suatu sewa aktiva tertentu (sewa tempat usaha, sewa
gedung, sewa mesin) yang biasanya menggunakan kurun waktu tertentu, disahkan oleh
pejabat pembuat akte (notaris). Hak sewa dinyatakan sebagai aktiva tetap (tak berwujud)
karena dua alasan :

(-) Hak sewa memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan, atau dengan kata lain, atas
sumber daya (dana) yang dikeluarkan diharapkan hak sewa akan memberikan manfaat
kembali (berpotensi menghasilkan kas atau manfaat) di masa yang akan datang.

(-) Manfaat yang akan diterima oleh perusahaan atas kepemilikan hak sewa, akan dinikmati
oleh perusahaan untuk periode waktu lebih dari satu tahun buku.

b. Organization Cost.

Adalah pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang terjadi sehubungan dengan set-up


perusahaan sebelum beroperasi, contohnya : pembayaran kepada notaris. Pengeluaran ini
diakui sebagai perolehan aktiva tak berwujud, karena atas pengeluaran tersebut perusahaan
akan memperoleh manfaat yang lebih dari satu tahun buku juga, yaitu selama perusahaan
masih beroperasi.

c. Perijinan (Permit & Licences)


Perijinan adalah hak perusahaan yang diperoleh dari pihak pemerintah baik daerah
maupun pusat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu terkait dengan bidang usahanya. Ijin-
ijin perusahaan tentu ada jangka waktunya, dan jika masa berlakunya telah habis maka ijin
tersebut harus diperpanjang atau diperbaharui. Namun demikian ijin usaha atau aktivitas
tertentu atas terkait dengan usaha biasanya memiliki jangka waktu 3 sampai 30 tahun, yang
artinya lebih dari satu tahun buku. Untuk itu Ijin diakui sebagai aktiva tetap tak berwujud.

d. Hak Patent
Hak Patent adalah hak yang diperoleh atas suatu penemuan tertentu. Dimana atas
penemuan tersebut, penemu akan memperoleh manfaat tertentu untuk kurun waktu tertentu
dan dapat diperpanjang. Penemuan tersebut bisa berupa suatu produk, atau rekayasa, atau
formula, atau system, atau cara tertentu.

e. Merk Dagang (Trade Mark)


Merk Dagang (Trade Mark) yang biasa disingkat TM, adalah hak yang diperoleh atas
suatu merk komersial tertentu. Hak ini bisa berupa logo, tulisan, bentuk, symbol, atau
kombinasinya, yang mewakili suatu organisasi/perusahaan tertentu.

f. Hak Penggandaan (Copyright)


Copyright adalah hak yang berikan atas suatu penulisan, baik itu berupa karya ilmiah,
puisi, novel, maupun lyric lagu, notasi lagu/irama tertentu, script atau scenario film tertentu.
Copyright meliputi hak untuk memperbanyak dan mengedarkannya.

g. Franchise
Adalah hak yang diperoleh untuk melakukan suatu usaha tertentu, atau memasarkan
produknya, sekaligus mengikuti pola usaha, cara pengelolaan, penggunaan logo maupun
penggunaan alat usaha tertentu yang aslinya dimiliki oleh perusahaan yang memberikan hak
franchise.

h. Goodwill
Adalah kelebihana-kelebihan, keistimewaan tertentu yang dimiliki oleh perusahaan,
yang oleh karenanya menjadi dinilai lebih oleh pihak lain. Kelebihan/keisitimewaan tersebut
bisa karena perusahaan memiliki reputasi manajemen yang sangat bagus, menghasilkan suatu
produk unggul yang sulit dicari pesaingnya, letaknya strategis, dan lain-lain.
Catatan penting : Goodwill hanya diakui (dibuatkan perkiraan) jika terjadi suatu
transaksi, yang mana dalam transaksi tersebut perusahaan dinilai lebih oleh pihak lain.
Transaksi yang dimaksudkan bisa berupa : penjualan perusaahaan, bergabung/berhentinya
sekutu (anggota persero) baru, merger atau akuisisi.

Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap Tak Berwujud


Pada dasarnya permasalahan akuntansi atas aktiva tetap tak berwujud (intangible
asset) sama saja dengan aktiva tetap berwujud, yaitu :

1. Perolehan (Acquisition Cost)

Sama halnya dengan Tangible Asset, Perolehan atas Intangible Asset juga dicatat sebesar
nilai faktur ditambah dengan pengeluaran-pengeluaran yang menyertainya.

2. Pengeluaran-Pengeluaran setelah perolehan (Expenditures)

Jika terjadi pengeluaran-pengeluaran setelah perolehan, maka konsep kapitalisasi maupun


pembebanannya sama saja dengan tangible asset (aktiva tetap berwujud).

3. Amortisasi (Amortization)
Amortisasi adalah pengalokasian harga perolehan ke beban usaha (biaya), yang pada aktiva
tetap dikenal dengan depresiasi (penyusutan). Penghitungan maupun pencatatan atas
amortisasi sama saja dengan cara penghitungan maupun pencatatan atas penyusutan aktiva
tetap berwujud.

Hal penting yang perlu diketahui :


(-). Amortisasi kebanyakan merupakan biaya usaha dan jarang digolongkan ke dalam harga
pokok produksi, kecuali merk dagang yang memang digolongkan ke dalam kelompok harga
pokok penjualan.

(-). Amortisasi lebih baik jika dihitung menggunakan metode garis lurus saja, karena pada
dasarnya intangible asset tidak dipengaruhi, bahkan tidak ada hubungannya dengan output
produk yang dihasilkan oleh perusahaan
4. Pelaporan (disclosure)
Intangible asset dilaporkan hanya nilai bersihnya (net value) setelah dikurangi akumulasi
amortisasinya. Akumulasi amortisasi tidak pernah dimnculkan di dalam neraca.

H. Financial Statement

Ada beberapa pengertian laporan keuangan yang telah dikemukakan oleh beberapa orang
antara lain:

Menurut Siegel yang dialihbahasakan oleh Kurdi (1999), menjelaskan bahwa:

“Laporan keuangan yang diperlukan adalah neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan
posisi keuangan. Ketiganya dapat digabungkan dengan laporan pelengkap untuk melukiskan
status keuangan atau kinerja organisasi.”
Menurut Bambang Riyanto (2001):

“Laporan keuangan adalah ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, di mana
neraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, utang, dan modal sendiri pada suatu saat
tertentu, dan laporan laba-rugi (Income Statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai
selama suatu periode tertentu, yang biasanya meliputi periode satu tahun”.

Menurut Munawir (2002) pengertian laporan keuangan adalah :

“Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan
sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan
dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut”.

Menurut IAI (2002):

“Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. laporan keuangan
yang lengkap meliputi neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan, catatan
dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan
keuangan.”

Komponen-komponen Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang lengkap dapat dilihat dalam Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan(PSAK) No. 1 (2002) yang terdiri dari komponen-komponen berikut ini:

1. Neraca,
2. Laporan laba rugi,
3. Laporan perubahan ekuitas,
4. Laporan arus kas, dan
5. Catatan atas laporan keuangan.

Komponen-komponen dari laporan keuangan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Neraca

Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur


posisi keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Neraca umumnya mencakup
pos-pos berikut:

 Aktiva berwujud,
 Aktiva tidak berwujud,
 Aktiva keuangan,
 Investasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas,
 Persediaan,
 Piutang usaha dan piutang lainnya,
 Kas dan setara kas,
 Hutang usaha dan hutang lainnya,
 Kewajiban yang diestimasi,
 Kewajiban berbunga jangka panjang,
 Hak minoritas, dan
 Modal saham dan pos ekuitas lainnya

Pos, judul dan sub-jumlah lainnya disajikan dalam laporan laba rugi apabila diwajibkan oleh
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau apabila penyajian tersebut diperlukan untuk
menyajikan kinerja keuangan secara wajar.

2. Laporan laba rugi

Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai
unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyaji secara wajar selama suatu periode
tertentu. Laporan keuangan laba rugi umumnya mencakup pos-pos berikut:

 Pendapatan,
 Rugi laba perusahaan,
 Beban pinjaman,
 Bagian dari rugi atau laba perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlukan menggunakan
metode ekuitas,
 Beban pajak,
 Rugi atau laba dari aktivitas normal perusahaan,
 Pos luar biasa,
 Hak minoritas,
 Rugi atau laba bersih untuk periode berjalan.

Pos, judul dan sub-jumlah lainnya disajikan dalam laporan laba rugi apabila
diwajibkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau apabila penyajian tersebut
diperlukan untuk menyajikan kinerja keuangan perusahaan secara wajar.

3. Laporan perubahan ekuitas

Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan
keuangan, yang menunjukkan:

 Rugi atau laba bersih periode yang bersangkutan.


 Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang
berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas.
 Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan
mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait.
 Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik.
 Saldo akumulasi rugi dan laba pada awal dan akhir periode serta perubahannya.
 Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan
pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.

4. Laporan arus kas

Laporan arus kas merupakan laporan keuangan dasar yang berisi mengenai aliran kas
masuk dan keluar perusahaan. Laporan kas ini merupakan pengganti dari laporan perubahan
posisi keuangan yang menyajikan informasi mengenai sumber dan penggunaan dana
perusahaan, dimana pengertian dana dapat didefinisikan sebagai modal kerja (aktiva lancar
dikurangi pasiva lancar), ataupun dapat didefinisikan sebagai kas.

Perusahaan harus menyusun laporan arus kas sesuai dengan persyaratan dalam
pernyataan ini dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tak terpisah
(integral) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan.

5. Catatan atas laporan keuangan

Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam
neraca laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan

informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan
keuangan mengungkapkan:

 Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih
dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting.
 Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi,
laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas.
 Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam
rangka penyajian secara wajar.

Karakteristik Laporan Keuangan

Pengertian karakter kualitatif laporan keuangan adalah ciri khas informasi laporan
keuangan yang berguan bagi pemakai laporan. Untuk menghasilkan informasi laporan yang
berkualitas, para pemakai laporan diharuskan memahami karakteristik kualitatif laporan
keuangan. Apa saja karakteristik tersebut?
Berikut ini 4 karakteristik kualitatif laporan keuangan:
1. Relevan
Untuk bisa dikatakan relevan, laporan keuangan harus memiliki informasi yang dapat
mempengaruhi pemakai untuk membantu mereka mengevaluasi aktivitas masa lalu atau masa
kini dan bisa memprediksi masa yang akan datang serta menegaskan hasil dari evaluasi masa
lalu.
Syarat-syarat informasi laporan keuangan yang relevan:
 Mempunyai manfaat umpan balik, laporan keuangan memungkinkan pengguna untuk
mengoreksi kebijakan mereka di masa lalu.
 Mempunyai manfaat prediktif, laporan keuangan bisa membantu pemakai untuk
meramalkan masa yang akan datang berdasarkan data di masa lalu.
 Tepat waktu, informasi disajikan secara tepat waktu sehingga berpengaruh dan
berguna dalam pengambilan keputusan.
 Lengkap, informasi keuangan harus disajikan selengkap mungkin mencakup semua
hal yang bisa mempengaruhi pengambilan keputusan.

2. Andal
Tidak hanya relevan, informasi laporan keuangan juga harus bebas dari engertian
yang menyesatkan dan kesalahan material. Juga menyajikan data secara jujur dan bisa
diverifikasi.
karakteristik informasi yang andal :
 Penyajian jujur, informasi disajikan secara jujur baik transaksi atau kejadian lainnya.
 Dapat diverifikasi, laporan keuangan harus bisa diuji dan jika pengujian dilakukan
oleh pihak berbeda maka hasilnya tak jauh berbeda.
 Netralis, artinya laporan keuangan tidak memihak pihak-pihak tertentu.

3. Dapat dibandingkan
Pemakai harus bisa membandingkan laporan keuangan entitas antar waktu/periode
untuk meneliti kecenderungan posisi dan kinerja keuangan serta perubahannya secara relatif.
Perbandingan dapat dilakukan secara internal maupun ekternal. Secara internal bisa
dilakukan jika suatu entitas memakai kebijakan akuntansi yang sama tiap tahunnya.
Supaya informasi yang diberikan bisa dibandingkan, maka penyajian laporan
keuangan minimal harus dilakukan dua periode atau dua tahun anggaran.
4. Dapat dipahami
Pelaporan keuangan harus bisa dipahami dan diinterpresentasikan oleh penerima.
Oleh karena itu, semua informasi-informasi harus disajikan sejelas mungkin. Tidak hanya
jelas, dalam pennyajiannya juga harus menggunakan format/bentuk dan istilah yang
dimengerti oleh penerima.

LAPORAN KEUANGAN RASIO KEUANGAN


Laporan keuangan adalah salah satu sumber informasi serta media penting yang
digunakan oleh para pengelola perusahaan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
Laporan keuangan perusahaan lazim diterbitkan secara periodik, bisa tahunan, semesteran,
triwulan, bulanan bahkan bisa harian. Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari
proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data
keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan
data atau aktivitas perusahaan tersebut (Munawir 1995:2). Menurut pendapat para ahli
lainnya diantaranya:
Menurut Hanafi (2003:69), laporan keuangan adalah informasi yang dapat dipakai
untuk pengambilan keputusan, mulai dari investor atau calon investor sampai dengan
manajemen perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan akan memberikan informasi mengenai
profitabilitas, risiko, timing aliran kas, yang kesemuanya akan mempengaruhi harapan pihak-
pihak yang berkepentingan.
Menurut Munawir (1995: 5), laporan keuangan adalah laporan yang terdiri dari neraca
dan perhitungan laba-rugi serta laporan keuangan dan modal dari suatu perusahaan pada
tanggal tertentu, sedangkan pehitungan laporan laba-rugi memperlihatkan hasil-hasil yang
telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama tertentu, dan laporan perubahan
modal menunjukan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyeb abkan
perubahan modal perusahaan.
Ridwan dan Inge (2003:68) mendefinisikan bahwa laporan keuangan adalah suatu
laporan yang mengambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat
komunikasi antar data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan data-data atau aktivitas tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah:
Hasil dari proses akuntansi yang penting dan dapat digunakan untuk membuat
keputusan-keputusan ekonomi bagi pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan.
Potret perusahaan, yaitu dapat menggambarkan kinerja keuangan maupun kinerja
manajemen perusahaan, apakah dalam kondisi yang baik atau tidak.
Ringkasan dari suatu proses transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama periode
yang bersangkutan.

Tujuan Laporan Keuangan


Adapun tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan adalah sebagai berikut :
 Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki
perusahaan pada saat ini.
 Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki
perusahaan pada saat ini.
 Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada
suatu periode tertentu.
 Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan
perusahaan dalam suatu periode tertentu.
 Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva,
pasiva, dan modal perusahaan.
 Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.
 Memberikan informasi tentang catatancatatan atas laporan keuangan.

Informasi keuangan lainnya (Silvi dan Siti, 2012:2)


Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2002:4), tujuan
laporan keuangan adalah sebagai berikut :
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama
sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua
informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena
secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak
diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen
(stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban
manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi keputusan ini
mungkin mencakup misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka
dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

Manfaat Laporan Keuangan


Pemakai laporan keuangan menjadi sasaran manfaat laporan keuangan yang meliputi
investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberian pinjaman, pemasok dan
kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga - lembaganya, dan masyarakat.
Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang berbeda.
Beberapa manfaat laporan keuangan bagi pihak-pihak tersebut diuraikan berikut ini.

1. Investor
Penanaman modal resiko dan penagihan mereka berkepentingan dengan resiko yang
melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka
membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau
menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang
memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar deviden.

2. Karyawan
Karyawan dan kelompok - kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi
mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang
memungkinkan mereka menilai kemampuan perusahaan dalam memeberi jasa, manfaat
pensiun, dan kesempatan kerja.

3. Pemberi pinjaman
Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka
untuk memutuskan apakah pinjaman tersebut serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh
tempo.

4. Pemasok dan kreditor usaha lainnya


Manfaat laporan keuangan bagi pemasok dan kreditor usaha lainnya yang tertarik
dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang
terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan
dalam tenggang waktu yang lebih pendek dari pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai
pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
5. Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup
perusahaan, terutama kalo mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan atau
tergantung perusahaan.

6. Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di kekuasaan berkepentingan dengan
alokasi sumber daya dan kerena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga
membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak
dan sebagai dasar menyusun statistik pendaptan nasional dan pendapatan lainya.

7. Masyarakat
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya,
perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk
jumlah orang yang dipekerjakan danperlindungan terhadap penanaman modal domestic.
Manfaat laporan keuangan dalam hal ini dapat membantu masyarakat dengan menyediakan
informasi kecendrungan dan perkembangan terakhir kemakmuran serta rangkaian aktivitas.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Aset merupakan sumber daya yang dikuasai oleh suatu perusahaan dengan
tujuan menghasilkan laba. Aset dapat digolongkan ke dalam dua kelompok,
yaitu aset lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar merupakan sumber daya atau
klaim atau klaim atas sumber daya yang dapat langsung diubah menjadi kas
sepanjang siklus operasi perusahaan, golongan utama aset lancar mencakup kas,
setara kas, efek, piutang, derivatif, persediaan, dan beban diterima di muka.
Aset jangka panjang (long-lived asset), disebut juga aset tetap atau aset tak
lancar merupakan sumberdaya atau klaim atas sumber daya yang diharapkan
dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama periode melebihi periode
kini. Aset jangka panjang utama mencakup properti, pabrik, peralatan, aset tak
berwujud, investasi, dan beban-beban yang ditangguhkan.
SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan
berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka
dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah
dalam kesimpulan di atas.
REVIEW JURNAL

PERIHAL YANG
JAWABAN
DIIDENTIFIKASI

Quality investing and the


Judul
cross-section of country returns

Penulis Adam Zaremba

Jurnal Jurnal Emerald Insight

Volume dan Halaman Vol.33 No.3 Hal.281-301

Tahun 2016

Sumber Jurnal https://doi.org/10.1108/SEF-06-2014-0119

Reviewer Kelompok 11(Febri, Zaenal, Rizal)

Tanggal Review 28 Maret 2019

Teori Dalam membuat penulisan jurnal tersebut, menggunakan teori


“Theoretical basis of quality investing” sebagai landasan dalam
mengembangkan penelitian. Damodaran (2004) mengeluarkan
Hipotesis bahwa kualitas perusahaan pasar saham dapat dipahami
dalam beberapa cara. Investor dapat mempertimbangkan account
credit, tata kelola perusahaan, masalah etika atau kekuatan umum
finansial.

Metode Penelitian Dalam pembuatannya penulisan ini menggunanakan metode


CAPM, Capital Asset Pricing Model (CAPM) adalah ukuran yang
menggambarkan hubungan antara risiko sistematis keamanan atau
portofolio dan pengembalian yang diharapkan.Rumus CAPM
adalah tingkat pengembalian bebas risiko yang ditambahkan beta
sekuritas atau portofolio dikalikan dengan pengembalian pasar
yang diharapkan dikurangi dengan tingkat pengembalian tanpa
risiko.
Hasil Hasil Penelitian yang disajikan menurut para ahli Rasio
Profitabilitas berguna untuk tujuan menjelaskan tingkat
pengembalian Negara dapat di jelaskan dengan Rasio Profitabilitas
dan Hutang. jika semakin menguntungkan dan semakin tidak
berhutang dalam pasar saham maka semakin baik kinerjanya.
Karena dalam laba kotor akan menghasilkan pengembalian
abnormal superior. Karena tingkat hutang pasar saham suatu
negara negatif berkorelasi dengan pengembalian masa depan
bedasarkan cross-section. Dengan kata lain, semakin rendah
tingkat rata-rata hutang di pasar saham, semakin tinggi
pengembalian di masa depan.

Anda mungkin juga menyukai