Anda di halaman 1dari 5

Peran Pemuda Millenial dalam Meningkatkan Nasionalisme dan

Kemandirian

Oleh
Gusranda Rachman (171910101082)
Mata Kuliah Pendidikan Pancasila Kelas 35
Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Jember

Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini adalah
memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda.
Hal ini disebabkan banyaknya pengaruh budaya asing yang banyak masuk di negara
kita, akibatnya banyak generasi muda yang melupakan budaya sendiri karena
menganggap bahwa budaya asing merupakan budaya yang lebih modern dibanding
budaya bangsa sendiri. Hal ini berakibat nilai-nilai luhur bangsa banyak diabaikan
hampir terjadi disebagian besar generasi muda. Sejak dahulu dan sekarang ini serta
masa yang akan datang peranan pemuda atau generasi muda sebagai pilar,
penggerak dan pengawal jalannya pembangunan nasional sangat diharapkan.
Berbagai permasalahan yang timbul akibat rasa nasionalisme dan kebangsaan yang
memudar banyak terjadi belakangan ini, banyak generasi muda atau pemuda yang
mengalami disorientasi, dislokasi dan terlibat pada suatu kepentingan yang hanya
mementingkan diri pribadi atau sekelompok tertentu dengan mengatas namakan
rakyat sebagai alasan dalam kegiatanya. Bangsa yang tergerus rasa
nasionalismenya, akan menjadi bangsa yang rapuh. Semangatnya untuk
berkontribusi terhadap negeri pun perlahan tergerus hingga akhirnya lenyap. Kita
bisa belajar dari runtuhnya berbagai bangsa di dunia akibat hilangnya semangat
persatuan dan rasa mencintai tanah airnya. Disinilah urgensi nasionalisme untuk
mengokohkan persatuan. Anthony D. Smith (2013).

Nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa, kata bangsa
memiliki arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan
sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang, atau
tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal-usul yang sama dan sifat khas yang sama
atau bersamaan; dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan
bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan yang biasanya menempati wilayah
tertentu di muka bumi. Beberapa makna kata bangsa diatas menunjukkan arti bahwa
bangsa adalah kesatuan yang timbul dari kesamaan keturunan, budaya,
pemerintahan, dan tempat. Pengertian ini berkaitan dengan arti kata suku yang
dalam kamus yang sama diartikan sebagai golongan orang-orang (keluarga) yang
seturunan; golongan bangsa sebagai bagian dari bangsa yang besar. Beberapa suku
atau ras dapat menjadi pembentuk sebuah bangsa dengan syarat ada kehendak untuk
bersatu yang diwujudkan dalam pembentukan pemerintahan yang ditaati bersama.

Kemandirian (self reliance) adalah kemampuan untuk mengelola semua


yang dimiliki, tahu bagaimana mengelola waktu, berjalan dan berpikir secara
mandiri disertai dengan kemampuan mengambil resiko dan memecahkan masalah.
Individu yang mandiri tidak membutuhkan petunjuk yang detail dan terus menerus
tentang bagaimana mencapai produk akhir, ia bisa bersandar pada diri sendiri.
Kemandirian berkenaan dengan tugas dan keterampilan bagaimana mengerjakan
sesuatu mencapai sesuatu dan bagaimana mengelola sesuatu (Parker, 2005:226)

Generasi Millennial adalah terminologi generasi yang saat ini banyak


diperbincangkan oleh banyak kalangan di dunia diberbagai bidang, apa dan siapa
gerangan generasi millennial itu?. Millennials (juga dikenal sebagai Generasi
Millenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi
X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980
an sampai 2000 an sebagai generasi millennial. Jadi bisa dikatakan generasi
millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34
tahun. Dibanding generasi sebelum, generasi millennial memang unik, hasil riset
yang dirilis oleh Pew Researh Center misalnya secara gamblang menjelaskan
keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang
mencolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal
penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan generasi millennial tidak
bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah
menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini. Di era ini segala sesuatu bergerak
dengan cepat, dunia menjadi tanpa batas, informasi dapat diperoleh dimana saja dan
dari siapa saja. Generasi masa kini harus berusaha dan mampu menjadi bijak
terutama dalam penggunaan media sosial. Media sosial ini mirip dengan politik,
tergantung bagaimana kita menggunakannya. Kita bisa berguna dan bertambah
pintar apabila menggunakan media sosial dengan benar, tapi kita juga bisa menjadi
penyebar hoax dan menjadi bodoh apabila kita menggunakan media sosial dengan
tidak benar. Dengan segala kecanggihan teknologi, tingkat persaingan juga semakin
tinggi. Kualitas dan kinerja manusia juga dituntut menjadi semakin tinggi. Generasi
masa kini harus mampu beradaptasi dengan cepat, belajar dan menjadi lebih baik
dengan cepat serta melakukan navigasi yang lincah dan tepat untuk dapat
memecahkan setiap masalah. Apabila tidak, dalam beberapa tahun ke depan
mungkin posisi kita sudah digantikan oleh robot atau program komputer.

Di era generasi milenial, media sosial sangat berpengaruh terhadap


kehidupan sehari-hari. Lalu apakah media sosial juga bisa berpengaruh pada
kehidupan bangsa dan negara? Menurut psikolog Ayoe Sutomo, melalui media
sosial, saat ini pemuda tidak hanya menggunakan sosial media sebagai wadah
bersosialisasi, melainkan juga sebagai wadah untuk menggalakkan nilai-nilai
kenegaraan. "Kalau kita melihat banyak pemuda yang secara aktif menyuarakan
mereka peduli terhadap nasionalisme. Hal ini bisa dilihat di sosial media," ucap
Ayoe. Dia mencontohkan, salah satu hal yang dilakukan pemuda untuk
meningkatkan nasionalisme melalui sosial media adalah dengan melakukan
kampanye mengenai nasionalisme. "Salah satu kampanye yang digalakkan
seperti hashtag 'Kita beda tapi kita kerja bareng'. Menurut saya itu
juga hashtag yang baik dan akan lebih bagus kalau diimplementasikan," ucap dia.
Ayoe juga mengimbau kampanye di media sosial harus dilakukan dengan langkah
nyata dengan melakukan gerakan kreatif, misalnya dengan mengajak anak muda di
seluruh Indonesia agar bisa lebih bersatu dan menghasilkan output lebih postif. Di
mata Ayoe, rasa nasionalisme di era milenial sudah cukup baik. Dia menilai sudah
banyak pemuda yang peduli terhadap kemajuan bangsa. "Kalaupun masih ada
beberapa lain yang masih berpikiran sempit tapi saya melihat sudah cukup banyak
anak muda yang secara sadar dan aktif menjunjung tinggi nasionalisme terlihat dari
apa yang berkembang di media sosial," pungkasnya. Sebagai salah satu contoh
yaitu kalau kita lihat semangat pecinta sepak bola di Gelora Bung Karno setiap
timnas bertanding malah menunjukkan antusias yang sangat besar. Juga ketika kita
lihat respon pemuda millenial di social media ketika simbol-simbol kita dilecehkan
negara tetangga, mereka sangat aktif dan gigih membela martabat bangsa dan
negaranya.

Contoh konkrit yang pernah penulis lakukan untuk meningkatkan


nasionalisme yaitu melalui pemanfaatan teknologi informasi, media online, ruang
sosial media, gadget, dan beragam teknologi lainnya untuk menyebarkan postingan,
artikel, vidio, ataupun berita, mengenai nasionalisme karena itu semua sangat
berperan penting untuk menyebarkan rasa nasionalisme dan membangkitkan
semangat pemuda millenial terhadap nasionalisme dan contoh kemandirian yang
dilakukan yaitu berwirausaha custom case handphone secara online melalui
platform social media seperti whatsApp, instagram, facebook, dll, agar biaya hidup
di Jember tidak selalu bergantung pada orang tua.

Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena


generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara. Generasi muda
harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya,
memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu
memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga
perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change,
moral force and sosial kontrol sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi
masyarakat. Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan
agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Peran aktif pemuda
sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuhkembangkan aspek etik dan
moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan,
memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental-spiritual, dan meningkatkan
kesadaran hukum. Sebagai kontrol sosial diwujudkan dengan memperkuat
wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggungjawab, hak, dan
kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan
dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam perumusan kebijakan
publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan memberikan
kemudahan akses informasi. Sebagai agen perubahan diwujudkan dengan
mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi,
kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni,
dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan,
serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda. Dalam proses pembangunan bangsa,
pemuda merupakan kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan sebagai
perwujudan dari fungsi, peran, karakteristik, dan kedudukannya yang strategis
dalam pembangunan nasional. Untuk itu, tanggung jawab dan peran strategis
pemuda di segala dimensi pembangunan perlu ditingkatkan dalam kerangka hukum
nasional sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam Pancasila dan amanat
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan berasaskan
Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, kebangsaan, kebhinekaan, demokratis,
keadilan, partisipatif, kebersamaan, kesetaraan, dan kemandirian.

Diharapkan bangsa indonesia yang akan datang dapat terbangun dan


berkembang, terjaga dan terlindungi dari berbagai ancaman dari bangsa lain,
sehingga diperlukan generasi muda yang memiliki jiwa kepemimpinan,
pengetahuan yang luas, keterampilan membina bangsa indonesia, serta harus
memiliki sikap nasionalisme yang tinggi bagi negaranya sendiri. Sikap
nasionalisme dapat dibangun dari sejak dini agar tertanam dengan matang pada
individu penerus bangsa.