Anda di halaman 1dari 11

Gambaran Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Di Lapangan Merdeka

Dengan Menggunakan Metode Step Wise WHO

Fifi maysarah bancin;Maysarah sinaga;Tya Mailina;Septia Suhadi

Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara

Abstrak

Penyakit menular menjadi penyebab utama kematian di dunia proporsi kematian akibat PTM dan
faktor risiko PTM semakin meningkat di dindonesia. Pengendalian PTM sangat diperlukan untuk
menmcegah PTM. Salah satu langkah dasar pengendalian ialah dengan melakukan skrining
kesehatan, yakni pemeriksaan kadar kolestrol dan tekanan darah. Menurut riset kesehatan dasar
(Riskesdas) tahun 2007 dan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001,
terjadi peningkatan angka kematian akibat PTM dan diperkirakan akan terus meningkat. Menurut
profil PTM World Health Organization (WHO) tahun 2011, di Indonesia pada tahun 2008
terdapat 582.300 laki-laki dan 481.700 perempuan meninggal karena PTM. Penelitian ini adalah
metode penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini
adalah semua pengunjung Lapangan Merdeka yang melakukan pengecekan kesehatan pada hari
minggu yang diadakan oleh BNN. Kriteria pengambilan sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:pengunjung yang bersedia menjadi responden dan berusia 25-64 tahun.

Kata kunci :PTM dan Pengendalian.

1.Pendahuluan

Penyakit tidak menular (PTM), dikenal sebagai penyakit dengan kondisi medis yang
kronis, dan tidak ditularkan dari orang ke orang. Penyakit-penyakit tersebut mungkin akibat dari
faktor genetik atau gaya hidup.1 Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kematian akibat
penyakit tidak menular (PTM) diperkirakan akan terus meningkat diseluruh dunia. Proporsi
kematian yang disebabkan oleh PTM di Indonesia meningkat secara signifikan dari 41,7% pada
tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. 2

Faktor risiko yang umumnya dapat dicegah seperti penggunaan tembakau, konsumsi
alkohol tinggi, kenaikan tekanan darah, gaya hidup tidak sehat, dan obesitas. Faktor risiko
tersebut berkontribusi terhadap peningkatan risiko PTM seperti penyakit jantung koroner,
diabetes, dan kanker.Faktor yang bermacam-macam memengaruhi terjadinya hipertensi, baik
dari faktor genetik, faktor sosioekonomik seperti globalisasi, persebaran populasi atau kepadatan
penduduk, usia, pendapatan, pendidikan dan tempat tinggal, serta faktor perilaku yang tidak
sehat seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung garam, lemak atau makanan
berkolesterol tinggi, sedikit beraktifitas, mengkonsumsi alkohol dan merokok.3

Tekanan darah tinggi adalah salah satu bentuk penyakit tidak menular yang dapat
menyebabkan kematian dan komplikasi terutama berhubungan dengan sistem kardiovaskuler.
Pada awal fase hipertensi jarang menyebabkan gejala sehingga jarang sekali terdiagnosis,
akibatnya orang dengan hipertensi datang ke pelayanan kesehatan dengan keadaan tekanan darah
yang tidak terkontrol dan biasanya hipertensi sudah dibarengi dengan komplikasi, oleh karena itu
hipertensi juga disebut sebagai “silent killer” karena gejalanya yang tidak terdeteksi pada awal
fase. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2013, terdapat 17 juta orang meninggal pertahun
dan satu-pertiganya atau 9,4 juta orang merupakan komplikasi penyakit hipertensi. 4

2.Metode

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif
dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah semua pengunjung
Lapangan Merdeka yang melakukan pengecekan kesehatan pada hari minggu yang diadakan
oleh BNN. Kriteria pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:pengunjung
yang bersedia menjadi responden dan berusia 25-64 tahun.

Pada penelitian ini, teknik sampling yang digunakan adalah Non random sampling yaitu
Quota Sampling.Jumlah responden yang ingin diteliti sebesar 20 responden.Pengumpulan data
pada penelitian ini dilakukan pada 2 tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan
penelitian. Data yang diperoleh dari jawaban responden akan dianalisis secara kuantitatif dengan
menggunakan Epi info software. Semua variabel karakteristik demografi, perilaku merokok,
tekanan darah dan obesitas, kadar glukosa darah dianalisis secara univariat dan bivariate

3.Hasil

Responden dalam penelitian ini sebanyak 20orang di Lapangan merdeka dengan rincian
17 berdomisili di kota medan sedangkan 2 responden dari daerah pesisir di kota medan dan 1
responden berasal dari desa di daerah sumatera utara yang sedang berkunjung ke kota medan dan
menghadiri acara pengecekan kesehatan di lapangan Merdeka pada Minggu pagi.Sebagian besar
responden berada pada kelompok 45-60 tahun yaitu sebanyak 70 % sedangkan sisanya sebanyak
30 % berada pada kisaran usia 29-44 tahun.Berpendapatan di atas umr sebesar 40 % dan
bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang yang digolongkan ke dalam kategori tidak
digaji menurut WHO.

Series 1

11 9

Laki laki wanita

Gambar 1 Karakteristik jenis kelamin responden


7
6
5
4
3
2
1
0
SD SMP SMA S1

Gambar 2 Karakteristik Tingkat pendidikan responden

Tabel 1.Karakteristik Usia dan pendapatan Responden

Variabel N Mininal Maksimal Mean Sd


Pendapatan 20 1.000.000 8.000.000 1.400.000 8.000.000,7
Usia 20 29 60 32 76

4.Pembahasan

A. Perilaku Merokok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase perokok pada laki laki di lapangan
Merdeka Sebesar 55 %.Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengunjung Lapangan
merdeka adalah perokok aktif pada saat penelitian dilakukan. Hasil penelitian Nawi et al
menunjukkan bahwa perokok laki-laki di Indonesia adalah sebesar 53,9 %. Begitu juga hasil
penelitian yang dilakukan oleh Asturiningtyas (2010) . Tingkat sosial ekonomi dan tingkat
pendidikan yang rendah dimungkinkan menjadi faktor penyebab tingginya presentase perokok
di Lapangan merdeka.Sesuai dengan penelitian Rajabizadeh Rajabizadeh et al (2011) dan Bobak
et al (2000).5

Distribusi responden berdasarkan status merokok di lapangan merdeka pada minggu


Variable N % Min Max Mean Sd
Konsumsi
rokok
Iya 11 55 - - - -
Tidak 9 45 - - - -
Lama - - - -
merokok
0 tahun 1 5 - - - -
5 tahun 10 50 - - - -
Di masa lalu
pernah
merokok
Iya
Tidak 9 45 - - - -
Jumlah rokok
0 batang
5 batang 11 55

B. Body Mass Index

Body Mass Index (BMI) dihitung melalui pembagian berat badan responden (kg) dengan
kuadrat dari tinggi badan responden (m2). BMI dikategorikan menjadi empat, yaitu
underweight, normal, overweight, dan obese. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden
yang mengalami obesitas sebanyak 20%.Angka yang ditemukan pada responden penelitian ini
berasal dari responden yang yang cenderung berusia lanjut.

Usia responden tersebut berkisar 48-58 tahun dan juga pada responden dengan status
ekonomi tinggi .Sesuai dengan dengan penelitian yang dilakukan oleh Almatsier (2004) yang
menyatakan,di Indonesia masalah kesehatan yang diakibat oleh gizi lebih ini mulai muncul pada
awal tahun 1990.peningkatan pendapatan masyarakat pada keompok social ekonomi tinggi
,terutama di perkotaan ,menyebabkan adanya perubahan pola makan dan pola aktifitas yang
mendukung terjadinya peningkatan jumlah penderita kegemukan dan obesitas. Penelitian di
Denpasar juga menunjukkan setengah sampel mengalami permasalahan dalam status gizi, yaitu
lansia mengalami status gizi lebih sebesar 14,64%; status gizi normal 43,9%; dan status gizi
kurang 41,46% .6

Variabel N % Min Max Mean Sd


Tinggi badan

145- 149 3 15 145 149 194,7 246,35


150-154 5 25 150 154 180,8 144,4
155-159 2 10 155 159 234,5 276,25
160-164 5 25 160 164 192,8 260,4
165-169 5 25 165 169 198,8 268,4
Berat badan
50-57 7 35 50 57 58,14 86,07
58-65 5 25 58 65 71 100,5

66-73 4 20 66 73 84,25 115,125


74-82 1 5 74 82 156 160
83-90 3 15 83 90 113 146,5

C. Status Tekanan Darah

Status tekanan darah dilihat dari tekanan darah sistolik dan diastolik. Tekanan darah
dianggap meningkat jika nilai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik
≥90 mmHg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang tidak dalam pengobatan
darah tinggi terdapat yang mengalami 30 % hipertensi. Jika dilihat dari keseluruhan responden
terdapat 8 yang mengalami hipertensi. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian
sebelumnya Terdapat pula beberapa teori yang menjelaskan hubungan merokok dengan
hipertensi (Abtahi et al, 2011). 7

Pengaruh rokok sehingga dapat menyebabkan hipertensi dipengaruhi oleh kandungan


atau zat yang terkandung di dalam rokok antara lain nikotin dan karbon monoksida (Primatesta et
al, 2001). Merokok menyebabkan aktivasi simpatetik, stres oksidatif, dan efek vasopresor akut
yang meningkatkan marker inflamasi yang berhubungan dengan hipertensi. Mekanisme rokok
sehingga menimbulkan hipertensi terutama dilihat dari konsumsi rokok dalam waktu yang lama
(Ehsan,2011). Tasikmadu.Pada penelitian hubungan merokok dengan hipertensi digunakan uji
lambda.Penelitian lain yang dilakukan oleh Thankappan et al di India dan Nawi et al di Indonesia
menggunakan metode yang sama (stepwise approach), prevalensi hipertensi adalah 32,7% dan
22,4%. 8

Tekanan N % Min Max Mean SD


Darah
Sistolik 12 60 115 140 126,7 203,35
115
− 140 𝑚𝑚𝐻𝑔
141 6 40 141 200 166 283
− 200 𝑚𝑚𝐻𝑔
Diastolik 12 60 78 90 85,5 94,25
78
− 90 𝑚𝑚𝐻𝑔
90 6 40 90 115 104,4 167,2
− 115 𝑚𝑚𝐻𝑔

D. Status Gula Darah


Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi
dapat dikontrol yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia karena defisiensi insulin atau
ketidakadekuatan penggunaan insulin. Hiperglikemia disebabakan oleh kurangnya insulin atau
oleh faktor yang mengahambat sekresi insulin. Sementara gambaran laboratorium dari pasien
penderita diabetes adalah gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dl, gula darah puasa lebih dari
126 mg/dl, atau glukosa plasma lebih dari 200 mg/dl setelah pembebanan glukosa 75 gram.9

Variabel N % Min Max mean Sd


Kolestrol 14 70 83 115 91,2 160,6
83
− 115 𝑚𝑔
/𝑑𝑙
116 1 5 116 148 264 280
− 148 𝑚𝑔
/𝑑
149-181 2 10 149 181 239,5 300,8
mg/dl
182-214 4 20 182 214 235,5 331,75
mg/dl
Trigliserida 14 70 90 149 98 198
90 − 149
≥ 150 6 30 150 200 183,3 291,65
− 200 𝑚𝑔
/𝑑𝑙
3 15 40 60 60 90
HDL
Kolestrol
40 − 60
mg/dl

61 17 85 61 80 65,7 112,85
− 80 𝑚𝑔
/𝑑𝑙

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevelensi pengunjung Lapangan Merdeka yang


mengalami diabetes adalah sebesar 15 %.Searah dengan penelitian yang dilakukan oleh
Mihardja et al (2013) pada penduduk perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi
diabetes di Indonesia pada penduduk kota adalah sebesar 4,6 %. Penelitian lain yang diakukan
oleh Delavari et al di Iran dengan metode yang sama (stepwise approach) menunjukkan bahwa
prevalensi diabetes adalah sebesar 15,7% (Iran).

Tingginya prevalensi pengunjung Lapangan Merdeka dapat disebabkan oleh faktor usia,
perilaku merokok, status overweight dan obesitas, dan status hipertensi. Sebagaimana penelitian
yang dilakukan oleh Jelantik dan Haryati (2013) yang melibatkan 100 orang di Puskesmas
Mataram menunjukkan bahwa responden yang berusia lebih dari 40 tahun 90 % menderita
diabetes tipe 2 ( p =0,000), responden yang mengalami obesitas 72 % diantaranya menderita
diabetes tipe 2 (p = 0,000), dan responden yang mengalami hipertensi 88 % diantaranya
menderita diabetes tipe 2 (p=0,000). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara umur, status obesitas, status hipertensi terhadap kejadian diabetes tipe 2.10

5.Kesimpulan

Sebagian besar responden berada pada kelompok usia 45-60 tahun (70 %).Menempuh
pendidikann tertinggi S1 sebanyak 25 %,berpendapatan diatas UMR sebesar 40 %.Sebagian
besar responden adalah perokok (55%) yang semuanya berjenis kelamin Laki-laki.Respoden
yang mengalami kegemukan sebesar 20 %.Secara keseluruhan responden yang mengalami
hipertensi sebesar 40 %,dan yang mengalami diabetes sebesar 15 %.

Daftar Pustaka

1. Bradshaw D, Steyn K. Levitt N, Nojilana B. Non communicable disease- A race against


time. 2011 available from http://www.mrc.ac.za/policybrie fs/raceagainst.pdf
2. WHO.Global status report on noncommunicable diseases 2010, Geneva, World Health
Organization 2011
3. . Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.Rencana Program Nasional Pencegahan dan
Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Tahun 2010 – 2014.
4. Nawi Ng, Stenlund H, Bonita R, Hakimi M, Wall S, Weinehall S. Preventable Risk
Factors for Noncommunicable Disease in Rural Indonesia : Prevalence Study using
WHO Step
5. Kementerian Kesehatan RI. 2010. Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi
Petugas Kesehatan. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Komunitas
6. Kementerian Kesehatan RI. (2012). Penyakit tidak Menular. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan. Semester II, 2012 ISSN 2088-270X.
7. Jelantik IGMG, Haryati E. Hubungan Faktor Risiko Umur, Jenis Kelamin, Kegemukan,
dan Hipertensi dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas
Mataram. 2014, 8 (1).
8. Delavari A, Forouzanfar MH, Alikhani S, Sharifian A, Kelishadi R. First Nationwide
Study of The Prevalence of The Metabolic Syndrome and Optimal Cutoff Points of Waist
Circumference in The Middle East : The National survey of Risk Factors for
Noncommunicable Disease of Iran.
9. Mihardja L, Soetrisno U, Soegondo S. Prevalence and clinical profil of diabetes mellitus
in productive aged urban Indonesians. 2013
10. Nawi Ng, Stenlund H, Bonita R, Hakimi M, Wall S, Weinehall S. Preventable Risk
Factors for Noncommunicable Disease in Rural Indonesia : Prevalence Study using
WHO Steps Approach. Bulletin of World Health Organization. 2006 ;85 :305-313.
11. Rajabizadeh G, Reamezani MA, Roohafza H, Pourdamghan N, Khosravi A, Rabiei K, et
al. Association Between Cigarette Smoking and Socio-Demographics, LifeStyle and
mental Health Factors In a Sampled Iranian Population.2011
12. Bobak, M., Jarvis, M.J., Skodova, Z., & Marmot, M. Smoke intake among smokers is
higher in lower socioeconomic groups. Tobacco
13. Thankappan KR, Mathur P. Shah B. Sarma PS, Srinivas G, Mini G.K et al. Risk factor
profile for chronic noncommunicable disease : Result of a community-based study in
Kerala, India. Indian J Med Res.2010