Anda di halaman 1dari 23

PERINATOLOGI

PERINATOLOGI

Ilmu yang mempelajari kesehatan janin dalam kandungan dan


kesehatan bayi baru lahir. Ilmu perinatologi merupakan bagian dari ilmu
kedokteran reproduksi.

Tujuan ilmu kedokteran reproduksi


"Intact survival" : keselamatan yang utuh. Jadi proses reproduksi bukan
hanya terdiri dari proses pembuahan, kehamilan, kelahiran dan hidup
saja, tetapi juga usaha untuk menjamin tumbuh kembang yang
seutuhnya.
DASAR PERKEMBANGAN ILMU PERINATOLOGI

1. angka kematian perinatal / neonatal yang tinggi


2. angka retardasi mental yang terjadi sejak proses kehamilan /
kelahiran tinggi.
3. data survei epidemiologi
4. penelitian kesehatan reproduksi, fisiologi janin dan neonatus
5. kelangsungan hidup bayi BBLR (bayi berat lahir rendah) dan
prematur.
6. keluarga berencana
Daftar Istilah dan Definisi

Masa kehamilan / masa gestasi


Masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran, dihitung
dari hari pertama haid terakhir (menstrual age of pregnancy).
Kehamilan cukup bulan (term / aterm) : masa gestasi 37-42 minggu (259
- 294 hari) lengkap.
Kehamilan kurang bulan (preterm) : masa gestasi kurang dari 37 minggu
(259 hari).
Kehamilan lewat waktu (postterm) : masa gestasi lebih dari 42 minggu
(294 hari).
Bayi cukup bulan (term infant) : bayi dengan usia gestasi 37 - 42
minggu.
Bayi kurang bulan (preterm infant) : bayi dengan usia gestasi kurang
dari 37 minggu.

Masa perinatal
Masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan 4 minggu (28 hari)
sesudah kelahiran. Ukuran statistik : masa sejak kehamilan 28 minggu
sampai dengan 28 hari sesudah lahir (batasan lama). Sekarang menjadi
masa sejak kehamilan 22 minggu, karena viabilitas dan harapan hidup
janin yang makin besar pada usia kehamilan yang lebih muda (menurut
ICD-10 WHO). Ukuran biologis : masa sejak terjadinya konsepsi sampai
satu bulan sesudah lahir, dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

Masa neonatal
Masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran.

Neonatus
Bayi berumur 0 (baru lahir) sampai dengan usia 1 bulan sesudah lahir.
Neonatus dini : usia 0 - 7 hari
Neonatus lanjut : usia 7 - 28 hari.

Berat badan lahir (birthweight)


Berat badan neonatus pada saat kelahiran, ditimbang dalam waktu satu
jam sesudah lahir.
Bayi berat lahir cukup : bayi dengan berat lahir > 2500 g.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) / Low birthweight infant : bayi dengan
berat badan lahir kurang dari 1500 - 2500 g.
Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) / Very low birthweight infant :
bayi dengan berat badan lahir 1000 - 1500 g.
Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR) / Extremely very low
birthweight infant : bayi lahir hidup dengan berat badan lahir kurang dari
1000 g.
Abortus : bayi lahir dengan berat badan kurang dari 500 g, dan / atau
usia gestasi kurang dari 20 minggu. Angka harapan hidup amat sangat
kecil, kurang dari 1%.

Lahir hidup (live birth)


Pengeluaran lengkap suatu hasil konsepsi (bayi), tanpa memandang
masa kehamilannya, di mana, setelah terpisah dari ibunya, bayi tersebut
menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti gerakan napas, pulsasi
jantung, pulsasi tali pusat, atau pergerakan otot, tanpa membedakan
keadaan tali pusat sudah dipotong atau belum ataupun masih terhubung
dengan plasenta.

Kematian janin
Kematian sebelum terjadinya pengeluaran yang lengkap hasil konsepsi
dari ibunya, tanpa memandang masa kehamilan. Kematian ditandai
dengan tidak adanya usaha pernapasan atau tanda-tanda kehidupan
yang lain seperti pulsasi jantung, pulsasi tali pusat atau pergerakan otot-
otot.

Lahir mati (stillbirth)


Kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati, yang telah mencapai
umur kehamilan 28 minggu atau berat lahir sekurang-kurangnya 1000 g.

Kematian perinatal
Kematian pada masa kehamilan 28 minggu sampai dengan 7 hari
sesudah lahir. Angka kematian perinatal (perinatal mortality rate) :
jumlah kematian perinatal dikali 1000 lalu dibagi dengan jumlah bayi
lahir hidup dan lahir mati. Kematian neonatal dini (early neonatal death)
Kematian bayi pada 7 hari pertama sesudah lahir. (jika kurang dari satu
hari, gunakan hitungan yang sesuai - jam atau menit). Kematian
neonatal lanjut (late neonatal death) Kematian bayi pada hari ke 7 - 28
sesudah lahir.
ADAPTASI NEONATAL

Pengertian : proses penyesuaian fungsional neonatus dari kehidupan di


dalam uterus ke kehidupan di luar uterus. Kemampuan adaptasi
fisiologis ini disebut juga homeostasis. Bila terdapat gangguan adaptasi :

bayi akan sakit. Homeostasis

1. kemampuan mempertahankan fungsi-fungsi vital


2. bersifat dinamis
3. dipengaruhi tahap tumbuh kembang, termasuk masa pertumbuhan
dan perkembangan intrauterin.
Pada bayi kurang bulan, terdapat berbagai gangguan mekanisme
adaptasi.

Adaptasi segera : fungsi-fungsi vital (sirkulasi, respirasi, susunan saraf


pusat, pencernaan dan metabolisme).

Homeostasis neonatus ditentukan oleh keseimbangan antara maturitas


dan status gizi.

Kemampuan homeostasis pada neonatus berdasarkan usia kehamilan :


1. cukup bulan : memadai
2. kurang bulan : tergantung masa gestasi. Matriks otak belum
sempurna, mudah terjadi perdarahan intrakranial. Angka kejadian
sindrom gawat napas neonatus dan hiperbilirubinemia tinggi.
3. lewat waktu : terjadi hambatan pertumbuhan janin intrauterin akibat
penurunan fungsi plasenta, terjadi hipoksia janin.

Masa neonatus lebih tepat jika dipandang sebagai masa


adaptasi dari kehidupan intrauterin menuju kehidupan
ekstrauterin dari berbagai sistem.
EVALUASI NEONATUS
1. menilai tahap pertumbuhan dan perkembangan janin, kesesuaian
usia kehamilan 2. menilai adaptasi neonatal (skor Apgar, refleks) 3.
menilai fisik neonatal secara sistematik (ada/tidak kelainan
morfologi/fisiologi) 4. memberi identifikasi : jenis kelamin, berat badan,
panjang badan 5. menentukan penanganan yang diperlukanKlasifikasi
neonatus menurut masa gestasi
1. kurang bulan (preterm infant) : kurang 259 hari (37 minggu)

2. cukup bulan (term infant) : 259 sampai 294 hari (37-42 minggu)
3. lebih bulan (postterm infant) : lebih dari 294 hari (42 minggu) atau
lebih.
Klasifikasi neonatus menurut berat lahir
1. berat lahir rendah : kurang dari 2500 g
2. berat lahir cukup : antara 2500 sampai 4000 g
3. berat lahir lebih : lebih dari 4000 g

Klasifikasi menurut berat lahir terhadap masa gestasi


dideskripsikan masa gestasi dan ukuran berat lahir yang sesuai untuk
masa kehamilannya :
1. neonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB)
2. sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan (SMK/KMK/BMK)

A. Pengertian Noenatal
Dalam Kamus Kesehatan, Neonatal berarti baru lahir. Seorang bayi yang baru
lahir sering disebut sebagai Neonatus dalam istilah medis. Masa neonatal adalah
masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran. Neonatus
adalah bayi berumur 0 (baru lahir) sampai dengan usia 1 bulan sesudah lahir.
Neonatus dini adalah bayi berusia 0-7 hari. Neonatus lanjut adalah bayi berusia 7-28
hari.
Bayi baru lahir digolongkan menjadi 2, yaitu :
1) Bayi baru lahir normal
Adalah bayi baru lahir dengan berat badan antara 2500 gram sampai dengan 4000
gram dengan lama kehamilan antara 37 minggu sampai 42 minggu.
2) Bayi baru lahir dengan resiko tinggi
a. Bayi yang berat badan lahir kurang dari 2500 gram.
b. Bayi yang berat badan lahir lebih dari 4000 gram.
c. Bayi yang dilahirkan kurang dari kehamilan kurang dari 37 minggu dan lebih dari 42
minggu.
d. Bayi yang nilai apgarnya kurang dari 7.
e. Bayi yang lahir dengan infeksi intra partum, trauma kelahiran atau kehamilan
kongenital.
Menurut kamus kedokteran Dorland (2003), djelaskan bahwa neonatal adalah
jabang bayi baru lahir hingga berumur empat minggu.menurut Jumiarni (1995)
neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus
menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterine ke kehidupan ekstrauterin.

Berdasarkan artikel media online neonatus adalah masa kehidupan pertama di


luar rahim sampai dengan usia 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar
dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim, pada masa ini terjadi
pematangan organ hampir pada semua sistem dan masa perubahan yang paling
besar terjadi selama jam ke 24 - 72 pertama dimana transisi ini hampir meliputi
semua sistem organ tapi yang terpenting bagi anestesi adalah system pernafasan
sirkulasi, ginjal dan hepar. Oleh karena itu sangatlah diperlukan penataan dan
persiapan yang matang untuk melakukan suatu tindakan anestesi terhadap
neonatus(http://ayeepnlie.blogspot.com, 2009).

B. Periode Neonatal
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1999)Periode neonatal
meliputi jangka waktu sejak bayi baru lahir sampaiumur 28 hari yang terbagi menjadi
2 periode, antara lain:

a. Perode Neonatal Dini yang meliputi jangka waktu 0 - 7 hari setelahlahir


b. Periode lanjutan merupakan periode neonatal yang meliputi jangkawaktu 8 - 28 hari
setelah lahir.

Masa bayi neonatal menurut kamus yang baku merupakan permulaan atau
periode agar keberadaan sebagai individu dan bukan sebagai parasit didalam tubuh
ibu. Kamus juga merumuskan bayi sebagai seorang anak dalam kehidupannya yang
pertama.Menurut istilah medis, bayi adalah seorang anak yang muda usianya
(ttp://tafany.wordpress.com, 2007).
Periode neonatal atau neonatus adalah bulan pertama kehidupan. Selama
periode neonatal bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang amat
menakjubkan. Pada saat kelahiran, banyak perubahan dramatik yang terjadi di
dalam tubuh bayi karena berubahdari ketergantungan menjadi tidak tergantung pada
ibu. Dari sudut pandangan ibu, proses kelahiran merupakan pengalaman traumatik.
Bayi terus berenang dalam uterus selama 9 bulan, janin mendapat kehangatan,
perlindungan, bebas dari rasa sakit dan hampir tidakmengalami ketegangan.
Kemudian persalinan dimulai dan janindidorong, dan meluncur melalui jalan lahir
yang sempit (http://ayurai.wordpress.com, 2009).
Masa bayi neonatal merupakan periode yang berbahaya, baik secara fisik
maupun psikologi. Secara fisik periode ini berbahaya, karena sulitnya mengadakan
penyesuaian diri secara radikal yang terpenting pada lingkungan yang sangat baru
dan sangat berbeda. Secara psikologi, masa bayi merupakan saat terbentuknya
sikap dari orang-orang yang berarti bagi bayi (http://tafany.wordpress.com,2007).
C. Pertumbuhan dan perkembangan usia neonatal
Menurut buku Asuhan Keperawatan Perinatal oleh Jumiarni (1995) dikatakan
bahwa pertumbuhan dan perkembangan neonatal meliputi:

a. Sistem Pernafasan
Selama dalam uterus janin mendapat okisgen dan pertukarangas melalui
placenta, setelah bayi lahir pertukaran gas terjadi padaparu-paru (setelah tali pusat
dipotong). Rangsangan untuk gerakanpernafasan pertama ialah akibat adanya,
sebagai berikut:
1. Tekanan mekanis pada toraks sewaktu melalui jalan lahir.
2. Penurunan tekanan oksigen dan kenaikan tekanan karbondioksida kemoreseptor
pada sinus karotis (stimulus kimiawi).
3. Rangsangan dingin didaerah muka dapat merangsangpermulaan gerakan
pernafasan (stimulus sensorik).
4. Refleks deflasi Hering Breur.
Pernafasan pertama pada neonatal terjadi normal dalam waktu 30 detik setelah
kelahiran, tekanan rongga dada pada saat melalui jalan lahir pervagina
mengakibatkan cairan paru-paru (pada bayi normal jumlahnya 80-100ml) kehilangan
1/3 dari jumlah cairan tersebut sehingga cairan yang hilang ini diganti dengan
udara.Frekueunsi pernafasan dihitung dengan melihat gerakan nafas atauperut.
Pernafasan neonatal normal berkisar antara 30-60 xpermenit.

Berdasarkan artikel media online kategori sistem pernafasan pada neonatal ialah
apabila tali pusar diputus bayi mulai harus bernapas sendiri, menghisap dan
menelan. Sekarang bayi harus memperoleh makanan dengan jalan menghisap dan
menelan, tidaklagi memperolehnya melalui tali pusar. Refleksi-refleksi ini belum
berkembang sempurna pada waktu lahir dan bayi seringkali tidakcukup memperoleh
makanan yang diperlukan sehingga berat badanya menurun bayi
(http://tafany.wordpress.com, 2007).

b. Jantung dan Sistem Sirkulasi


Berkembangnya paru-paru mengakibatkan tekanan O2 meningkat dan tekanan
CO2 menurun, hali ini mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh darah paru
sehingga aliran darah arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arteriosa
menutup, dengan menciutnya arteri dan vena umbilical kemudian tali pusat dipotong
aliran darah dari placenta melaui venacava inferior dan foramen ovale ke atrium kiri
terhenti. Sirkulasi janin sekarang berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup diluar
badanibu.
Frekuensi denyut jantung dapat dihitung dengan cara meraba arteri temporalis
atau karotis, dapat juga secara langsung didengarkan di daerah jantung dengan
menggunakan stetoskop binokuler. Frekuesnsi denyut jantung neonatal normal
berkisar antara 120 - 140 kali/menit.

c. Saluran Pencernaan
Bila dibandingkan dengan ukuran tubuh, saluran pencernaan pada neonatal
relative lebih berat dan lebih panjang dibandingkandengan orang dewasa, pada
masa neonatal saluran pencernaanmengeluarkan tinja pertama biasanya dalam dua
puluh empat jampertama berupa mekonium (zat berwarna hitam kehijauan).
Dengana danya pemberian susu, mekonium mulai digantikan oleh tinja transisional
pada hari ketiga dan keempat yang berwarna coklat kehijauan.
Frekuensi pengeluaran tinja pada neonatal nampaknya sangaterat hubungannya
dengan frekuensi pemberian makan/minum. Enzim dalam saluran pencernaan
biasanya sudah terdapat pada neonatal kecuali amylase pancreas,aktifitas lipase
telah ditemukan pada janin tujuh sampai delapan bulan.
d. Hepar
Hepar janin pada kehamilan empat bulan mempunyai peranan penting dalam
metabolisme hidrat arang, dan glikogen mulai disimpan didalam hepar, setelah bayi
lahir simpanan glikogen cepat terpakai, vitamin A dan D sudah disimpan di dalam
hepar.
Fungsi hepar janin dalam kandungan dan segera setelah lahir masih dalam
keadaan immature (belum matang), hali ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan
hepar untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari peredaran darah.
Enzim hepar belum aktif benar pada neonatal, misalnya enzim UDPG: (Uridin
Disofat Glukoronid Transferase) dan enzim G6PD (Glukosa 6 Fosfat
Dehidrogenase) yang berfungsi dalam sintesis bilirubin, sering kurang sehingga
neonatal memperlihatkan gejala ikterus fisologis.
e. Keseimbangan Air dan Fungsi Ginjal
Glomerulus diginjal dibentuk pada janin umur 8 minggu, jumlah pada kehamilan
28 minggu diperkirakan 350.000 dan pada akhir kehamilan diperkirakan 820.000.
Ginjal janin mulai berfungsi pada usia kehamilan 3 bulan.
Tubuh neonatal mengandung relative lebih banyak air dan kadar natrium relative
lebih besar dari pada kalium. Pada neonatal fungsi ginjal belum sempurna, hal ini
karena, antara lain:
1. Jumlah nefron matur belum sebanyak orang dewasa
2. Tidak seimbang antara luas permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal.
3. Aliran darah ginjal (renal blood flow) pada neonatal relative kurang.
Hingga bayi berumur tiga hari ginjalnya belum dipengaruhi oleh pemberian air
minum, sesudah lima hari barulah ginjalnya mulai memproses air yang didapatkan
setelah lahir.
f. Metabolisme
Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula darah. Untuk
menambah energy pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil
metabolisme asam lemak sehingga kadar gula darah mencapai 120 mg/100 ml.
Apabila oleh sesuatu hal misalnya bayi dan ibu yang menderita DM atau BBLR
perubahan glukosa mejadi glikogen akan meningkat atau terjadi gangguan pada
metabolisme asam lemak yang tidakdapat memenuhi kebutuhan neonatal maka
kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemi.
g. Kulit
Kulit neonatal yang cukup bulan biasanya halus, lembut dan padat dengan
sedikit pengelupasan, terutama pada telapak tangan, kaki dan selangkangan. Kulit
biasanya dilapisi dengan zat lemak berwarna kekuningan terutama di daerah-daerah
lipatan dan bahu yang disebut vernik kaseosa.
h. Kelenjar endokrin
Selama dalam uterus, janin mendapatkan hormone dari ibunya. Pada kehamilan
sepuluh minggu kortikotropin telah ditemukan dalam hipofisis janin, hormone ini
diperlukan untuk mempertahankan glandula supra renalis janin.
Pada neonatal kadang-kadang hormone yang didapatkan dari ibu masih
berfungsi, pengaruhnya dapat dilihat misalnya pembesaran kelenjar air susu pada
bayi laki-laki ataupun perempuan, kadang-kadang adanya pengeluaran darah dari
vagina yang menyerupai haid pada bayi perempuan.
Kelenjar adrenal pada waktu lahir relative lebih besar biladibandingkan dengan
orang dewasa. Kelenjar tiroid sudah sempurna terbentuk sewaktu lahir dan sudah
mulai berfungsi sejak beberpa bulan sebelum lahir.
i. Imunologi
Pada sistem imunologi terdapat beberapa jenis immunoglobulin (suatu protein
yang mengandung zat antibody) diantaranya IgG (Imunoglobulin gamma G). Pada
neonatal hanya terdapat immunoglobulin gamma G, dibentuk dalam bulan kedua
setelahbayi dilahirkan, Immunoglobulin gamma G pada janin berasal dariibunya
melalui plasenta.
j. Suhu Tubuh
Suhu tubuh neonatal berkisar antara 36,5 C – 37 C. Pengukuran suhu tubuh
dapat dilakukan pada aksilla stau padarectal. Hasil pengukuran per aksilla biasanya
lebih rendah dari pada hasil pengukuran per rektal. Ini disebabkan daerah aksilla
lebih terbuka dan mudah dipengaruhi suhu lingkungan dibanding daerah rectal.
Suhu tubuh perifernya sangat mudah terpengaruh oleh suhu lingkungan karena
pada neonatal, pusat pengaturan panas belum sempurna.
k. Reflek atau rangsangan spontan
Beberapa reflek primitif yang terdapat pada neonatal antara lain:
1. Refleks Moro dengan perlakuan bila diberi rangsangan yangmengejutkan atau
spontan akan terjadi reflek lengan dan tanganterbuka serta kemudian diakhiri
dengan adduksi lengan.
2. Refleks menggenggam dengan perlakuan bila telapak tangan dirangsang akan
membei reaksi seperti menggenggam.
3. Refleks berjalan (Stepping) dengan perlakuan apabila bayi diangkat tegak dan
kakinya ditekankan pada satu bidang datar,maka bayi akan melakukan gerakan
melangkah seolah-olahberjalan.
4. Refleks menghisap apabila diberi rangsangan pada ujung mulut kepala akan
menoleh kearah rangsangan, bibir dibawah danlidah akan bergerak kearah
rangsangan serta bila dimasukkansesuatu kedalam mulutnya akan membuat
menghisap.

l. Pola-pola perilaku selama masa neonatal


Pola – pola perilaku selama masa neonatal antara lain:
1. Tiarap dengan perlakuan tiarap dalam sikap refleksi, memutar kepala dari sisi,
kepala melengkung pada suspensi ventral.
2. Terlentang dengan perlakuan biasanya fleksi dan sedikit kaku.
3. Visual dengan perlakuan dapat memfiksasi muka atau cahayapada garis
penglihatan, gerakan mata bonek (Doll’s eye) padapemutaran tubuh.
4. Refleks dengan perlakuan respon moro aktif, refleks melangkahdan pemutaran
tubuh.
5. Sosial dengan perlakuan penglihatan memilih pada muka manusia.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Ruang Lingkup neonatal:


1. Bayi baru lahir normal
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran.
Ciri – Ciri Bayi Baru Lahir:
a. Berat badan 2500 - 4000 gram
b. Panjang badan 48 - 52 cm
c. Lingkar dada 30 - 38 cm
d. Lingkar kepala 33 - 35 cm
e. Frekuensi jantung 120 - 160 kali/menit
f. Pernafasan ± - 60 40 kali/menit
g. Kulit kemerah - merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup
h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
i. Kuku agak panjang dan lemas
j. Genitalia;
Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora, dan laki – laki testis sudah
turun, skrotum sudah ada.
k. Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
l. Reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik
m. Reflek graps atau menggenggan sudah baik
n. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna
hitam kecoklatan

2. Bayi baru lahir bermasalah


a. Bercak mongol
b. Hemangioma
c. Ikterik
d. Muntah dan gomoh
e. Oral trush
f. Diaper rash
g. Seborrhea
h. Bisulan
i. Milliariasis
j. Diare
k. Obstipasi
l. Infeksi

3. Kelainan bawaan pada bayi baru lahir


a. Labioskiziz dan labiopalatoskiz
b. Atresia esophagus
c. Atresia anus
d. Hirschprung
e. Obstruksi biliaris
f. Omfalokel
g. Hernia diafragmatika
h. duodeni
i. Meningokel.ensefalokel
j. Hidrosefalus
k. Fimosis
l. Hipospadia

4. Trauma pada bayi baru lahir


a. Caput suksedaneum
b. Cephal Hematoma
c. Trauma pada fleksus brachialis
d. Fraktur klavikula dan fraktur humerus

5. Neonatus beresiko tinggi


a. BBLR
b. Asfiksia neonatorum
c. Sindroma gangguan pernapasan
d. Kejang
e. Hypotermi
f. Hipertermi
g. Hypoglikemi
h. Tetanus neonatorum

B. Masalah Seputar Perinatal


1) Anoksia / hipoksia
Penyebab terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah brain injury.
Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya anoksia. Hal ini terdapat pada
keadaan presentasi bayi abnormal, disproporsi sefalo– servik, partus lama,
plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan intrumen tertentu dan lahir
dengan seksio Caesar. (Anonim, 2002)
2) Perdarahan otak akibat trauma lahir
Perdarahan dan anoksi dapat terjadi bersama–sama, sehingga sukar
membedakannya, misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak, mengganggu
pusat pernafasan dan peredaran darah, sehingga terjadi anoksia. Perdarahan
dapat terjadi di ruang subaraknoid akan menyebabkan penyumbatan CSS
sehingga men yebabkan hidrosefalus. Perdarahan di ruang subdural dapat
menekan korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spastis. (Anonim, 2002)

3) Prematuritas
4) Berat badan lahir rendah
5) Postmaturitas
6) Primipara
7) Antenatal care

8) Hiperbilirubinemia
Bentuk CP yang sering terjadi adalah athetosis, hal ini disebabkan karena
frekuensi yang tinggi pada anak–anak yang lahir dengan mengalami
hiperbilirubinemia tanpa mendapatkan terapi yang diperlukan untuk
mencegah peningkatan konsentrasi unconjugated bilirubin. Gejala–gejala
kernikterus yang terdapat pada bayi yang mengalami jaundice biasanya tampak
setelah hari kedua dan ketiga kelahiran. Anak menjadi lesu dan tidak dapat
menyusu dengan baik. Kadangkala juga terjadi demam dan tangisan menjadi
lemah. Sulit mendapatkan Reflek Moro dan tendon pada mereka, dan gerakan otot
secara umum menjadi berkurang. Setelah beberapa minggu, tonus meningkat dan
anak tampak mengekstensikan punggung dengan opisthotonus dan ikut dengan
ekstensi ektremitas. (Swaiman, 1998).

9) Status gizi ibu saat hamil


10) Bayi kembar (Soetjiningsih, 1995)

11) Ikterus
Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang
kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal, misalnya pada kelainan
inkompatibilitas golongan darah. (Soetjiningsih, 1995)

12) Meningitis purulenta


Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya
akan mengakibatkan gejala sisa berupa CP. (Soetjiningsih, 1995)

13) Kelahiran sungsang

14) Partus lama


Partus lama yaitu persalinan kala I lebih dari 12 jam dan kala II lebih dari 1 jam.
Pada primigravida biasanya kala I sekitar 13 jam dan kala II sekitar 1,5 jam.
Sedangkan pada multigravida, kala I : 7 jam dan kala II : 1/5 jam. Persalinan
yang sukar dan lama meningkatkan risiko terjadinya cedera mekanik dan
hipoksia janin. (Wiknjosastro, 2002)

15) Partus dengan induksi / alat


16) Polyhidramnion (Boosara, 2004)
17) Perdarahan pada trimester ketiga

C. Intervensi
Menurut JNPK-KR/POGI, APN, (2007) asuhan segera, aman dan bersih untuk
bayi baru lahir ialah:
1. Pencegahan Infeksi
 Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi.
 Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
 Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting,
penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau
steril.
 Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,
sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur,
termometer, stetoskop.

2. Melakukan penilaian
 Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan.
 Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas.
Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap – megap atau lemah maka segera
lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.

3. Pencegahan Kehilangan Panas


Mekanisme kehilangan panas
 Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri
karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
 Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan
permukaan yang dingin, co/ meja, tempat tidur, timbangan yang temperaturnya lebih
rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas
benda – benda tersebut
 Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin,
co/ ruangan yang dingin, adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udara
melalui ventilasi, atau pendingin ruangan.
 Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda – benda
yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena benda –
benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan
secara langsung).

Mencegah kehilangan panas


Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut:
a. Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil
untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat.
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau
kain yang baru (hanngat, bersih, dan kering).
c. Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan
cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah
kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu (1)
jam pertama kelahiran.
e. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum
melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut
bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat
berpakaian/diselimuti dikurangi dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya
dimandikan sedikitnya enam (^) jam setelah lahir.

Praktik memandikan bayi yang dianjurkan adalah :


 Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika
bayi mengalami asfiksia atau hipotermi).
 Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila antara
36,5º C – 37º C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5º C, selimuti kembali
tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya di
tempat tidur atau lakukan persentuhan kuli ibu – bayi dan selimuti keduanya. Tunda
memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit)
satu (1) jam.
 Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan.
 Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada tiupan
angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan
siapkan beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti
tubuh bayi setelah dimandikan.
 Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat.
 Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.
 Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti
tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.
 Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik.
 Ibu dan bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
f. Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
g. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan
ibunya, untuk menjaga bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera
memberikan ASI.

4. Membebaskan Jalan Nafas nafas


Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis spontan segera
setelah lahir, apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan
jalan nafas dengan cara sebagai berikut:
 Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
 Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus
dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke
belakang.
 Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan jari tangan yang
dibungkus kassa steril.
 Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain
kering dan kasar.
 Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung
oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat.
 Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung.
 Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score).
 Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus
diperhatikan.
5. Merawat Tali Pusat
 Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau jepitkan klem
plastik tali pusat pada puntung tali pusat.
 Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klonin
0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
 Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi
 Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain bersih dan
kering.
 Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang
disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat (disinfeksi tingkat tinggi atau
steril). Lakukan simpul kunci atau jepitankan secara mantap klem tali pusat tertentu.
 Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat
dan dilakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi
yang berlawanan.
 Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klonin 0,5%
 Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering, pastikan bahwa bagian kepala
bayi tertutup dengan baik.(Dep. Kes. RI, 2002).

6. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi


Pada waktu lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya, dan
membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir
harus di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan
tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus
dicatat (Prawiroharjo, 2002).
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai dan
dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi
yang mengalami kehilangan panas (hipotermi) beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau
meninggal, jika bayi dalam keadaan basah atau tidak diselimuti mungkin akan
mengalami hipoterdak, meskipun berada dalam ruangan yang relatif hangat. Bayi
prematur atau berat lahir rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.
Pencegah terjadinya kehilangan panas yaitu dengan :
 Keringkan bayi secara seksama
 Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat
 Tutup bagian kepala bayi
 Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya
 Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian
 Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat. (Dep. Kes. RI, 2002).

7. Pencegahan Infeksi
 Memberikan vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi
baru lahir normal atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1 mg / hari selama
3 hari, dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg
IM.
 Memberikan obat tetes atau salep mata
Untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual)
perlu diberikan obat mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata
eritromisin 0.5 % atau tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5
jam setelah bayi lahir.
Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan setelah
bayi selesai dengan perawatan tali pusat. Yang lazim dipakai adalah larutan perak
nitrat atau neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah lahir.
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, pastikan untuk melakukan
tindakan pencegahan infeksi berikut ini:
 Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
 Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
 Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah
didinfeksi tingkat tinggi atau steril, jika menggunakan bola karet penghisap, pakai
yang bersih dan baru.
 Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk
bayi telah dalam keadaan bersih.
 Pastikan bahwa timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda
lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi
dan cuci setiap setelah digunakan). (Dep.kes.RI, 2002).

8. Identifikasi Bayi
 Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu di pasang segera pasca
persalinan. Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada bayi setiap bayi baru
lahir dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
 Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat penerimaan
pasien, di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi
 Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah
melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas.
 Pada alat atau gelang identifikasi harus tercantum nama (bayi, nyonya), tanggal
lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu.
 Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal
lahir, nomor identifikasi. (Saifudin, 2002)

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam Kamus Kesehatan, Neonatal berarti baru lahir. Seorang bayi yang baru
lahir sering disebut sebagai Neonatus dalam istilah medis. Masa neonatal adalah
masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran.
Ruang Lingkup neonatal meliputi: Bayi baru lahir normal, Bayi baru lahir
bermasalah, Kelainan bawaan pada bayi baru lahir, Trauma pada bayi baru lahir,
Neonatus beresiko tinggi.
Masalah Seputar Perinatal: Anoksia / hipoksia, Perdarahan otak akibat trauma
lahir, Prematuritas, Berat badan lahir rendah, Postmaturitas, Primipara, Antenatal
care, Hiperbilirubinemia, Status gizi ibu saat hamil, Bayi kembar (Soetjiningsih,
1995), Ikterus, Meningitis purulenta, Kelahiran sungsang, Partus lama, Partus
dengan induksi / alat, Polyhidramnion (Boosara, 2004), dan Perdarahan pada
trimester ketiga.
Penanganan Segera Bayi Baru Lahir meliputi Pencegahan Infeksi, Melakukan
penilaian, Pencegahan Kehilangan Panas, Membebaskan Jalan Nafas nafas,
Merawat tali pusat, Mempertahankan suhu tubuh bayi, Pencegahan infeksi,
Identifikasi bayi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Cerebral Palsy dalam Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Editor :
Rusepno Hasan dan Husein Alatas. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia Cetakan Kesepuluh (2002). Jakarta :
Infomedika. Hal : 884-88.

Jumiarni, Dra. 1995. Asuhan Keperawatan Perinatal. Jakarta : EGC


Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan: Jakarta
Saifuddin, AB. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Meterial dan Neonatal.
Jakarta : YBP-SP.
Fadhilah Siti. 2009. http://bidandhila.blogspot.com/. Diakses: 23 Mei 2012.
Soetjiningsih, dr. DSAK. 1995. Tumbuh Kembang Anak / oleh Soetjiningsih ; Editor
IG.N. Gde Ranuh. Jakarta : ECG, 223 – 35.

Wiknjosastro Hanifa. 2002. Ilmu Kebidanan. Editor Abdul Bari Syaifuddin, Trijatmo
Rachimdani. Edisi ke-3, Cetakan ke-6. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, 193 – 201.

Winkjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T, Syok Hemoragika dan Syok Septik. Dalam:
Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi 3. Jakarta: YBP-SP. 2002.

-------. 2011. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. http://arny-midwife.blogspot.com.


Diakses: 23 Mei 2012
-------. 2011. Makalah Bayi Baru Lahir. http://kti-akbid.blogspot.com. Diakses: 23 Mei 2012
-------. 2011. Category Bayi. http://asuhankebidanan.net. Diakses: 23 Mei 2012.
-------. 2010. Bayi Baru Lahir Normal. http://makalah-arsipku.blogspot.com. Diakses: 23
Mei 2012.
-------. 2012. Pengertian Neonatal-Neonatus. http://kampung-jawa.blogspot.com. Diakses:
23 Mei 2012.
-------. 2009. Neonatus dengan BBLR. http://ayurai.wordpress.com. Diakses: 23 Mei 2012
http://ayumarthasari.blogspot.com/ 2010