Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN RANCANGAN AKTUALISASI

PESERTA PELATIHAN DASAR


CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL GOLONGAN III
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TAHUN 2018

Disusun Oleh :

Nama : Swito Gaius Agustinus Silalahi


NIP : 199407292018011002
Jabatan : Inspektur Ketenagalistrikan
Instansi : Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MENERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ESDM
PUSAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
APARATUR
2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN RANCANGAN AKTUALISASI


PESERTA PELATIHAN DASAR
CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL GOLONGAN III
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TAHUN 2018

Disusun Oleh :

Nama : Swito Gaius Agustinus Silalahi


NIP : 199407292018011002
Jabatan : Inspektur Ketenagalistrikan
Instansi : Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan

Laporan Pelaksanaan Aktualisasi ini


Telah diseminarkan pada tanggal 02 April 2018
Bertempat di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia

Peserta Diklat

(Swito Gaius Agustinus Silalahi)

DISETUJUI

Penguji Coach Mentor

Nama Ginanjar Indra Maulana, David Firnando Silalahi,


NIP S.T., M.B.A. S.T., M.Eng
NIP. 198001302005021001 NIP.198507272009121004
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas nikmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan
Rancangan Kegiatan Aktualisasi CPNS Golongan III ini. Laporan rancangan
kegiatan aktualisasi CPNS Golongan III ini disusun sebagai pedoman
pelaksanaan kegiatan oleh penulis selama masa off campus yang merupakan
bagian dari diklat Latsar CPNS Golongan III. Selain itu, Laporan rancangan
kegiatan aktualisasi CPNS Golongan III ini juga dijadikan sebagai salah satu
syarat kelulusan diklat Latsar CPNS Golongan III.
Selama penulisan laporan ini, penulis mendapat bantuan, bimbingan,
dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karenanya, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Keluarga tercinta yang selalu mendoakan dan memberi semangat;
2. Partner terbaik yang selalu mendoakan, memberikan semangat,
perhatian, dan membantu menginspirasi;
3. Bapak Ginanjar Indra Maulana selaku coach penulis yang telah
memberikan arahan dan bantuan dalam penyusunan laporan
rancangan kegiatan aktualisasi;
4. Bapak David Firnando Silalahi selaku mentor dan atasan penulis yang
telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan arahan
dalam penyusunan laporan rancangan kegiatan aktualisasi;
5. Bapak Syarifuddin Achmad selaku coach penulis yang telah
memberikan waktu, tenaga, masukan, dan arahan selama penyusunan
laporan rancangan kegiatan aktualisasi;
6. Rekan-rekan Diklat Latsar CPNS Golongan III;
7. Dan semua pihak lainnya yang telah membantu, yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu.

Penulis berharap Laporan rancangan kegiatan aktualisasi ini dapat


penulis gunakan sebagai pedoman selama kegiatan aktualisasi off campus
demi tercapainya tujuan kegiatan diklat Latsar ini. Penulis sadar bahwa
laporan ini masih memiliki banyak sekali kekurangan dan jauh dari kata

i
sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan Laporan rancangan kegiatan aktualisasi yang telah penulis
buat.
Terima kasih.

Bandung, 2 Maret 2018


Penulis,

Swito Gaius Agustinus Silalahi

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... i


DAFTAR ISI..................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL............................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2 Deskripsi Organisasi ......................................................................................... 2
1.3 Identifikasi Isu (Masalah) .................................................................................. 5
1.4 Perumusan dan Penetapan Isu (Masalah) .........................................................10
BAB II RENCANA PEMECAHAN MASALAH (AKTUALISASI ...................................................12
2.1 Gagasan (Inisiatif) Pemecahan Isu ....................................................................12
2.2 Rencana, Tahapan, dan Output Kegiatan ..........................................................12
2.3 Keterkaitan Kegiatan dengan Substansi Mata Pelatihan (Nilai-nilai Dasar PNS dan
Kedudukan serta Peran PNS dalam NKRI).....................................................................19
2.4 Identifikasi Dampak Pemecahan Isu (Individu, Unit kerja atau Organisasi) ..........22
2.5 Kontribusi Terhadap Visi dan Misi serta Tujuan Organisasi.................................22
2.6 Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai - Nilai Organisasi ......................................23
BAB III RENCANA PELAKSANAAN AKTUALISASI.................................................................25
3.1 Jadwal Kegiatan Aktualisasi..............................................................................25
3.2 Identifikasi Kendala dan Rencana Antisipasi ......................................................25
BAB IV PENUTUP............................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................28

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Isu/Masalah ............................. 8


Tabel 2. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Akar Permasalahan ...............11
Tabel 3. Rencana Kegiatan, Tahapan, dan Output Kegiatan ....................................13
Tabel 4. Jadwal Kegiatan Aktualisasi .........................................................................25

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan ..................... 4


Gambar 2. Metode Gap Analysis dalam menentukan Solusi Pemecahan Isu ......... 10

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keanekaragaman sumber daya alam yang dimiliki oleh Negara
Kesatuan Republik Indonesia menjadi salah satu modal penting untuk
dapat mewujudkan visi dan misi berbangsa dan bernegara sebagaimana
tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Keanekaragaman sumber daya alam yang
melimpah tersebut harus dapat dikelola dengan baik agar
pemanfaatannya digunakan seluruhnya demi kemajuan bangsa dan
negara. Pengelolaan tersebut memerlukan peranan sumber daya manusia
yang dapat bekerja dengan profesionalitas yang tinggi dan memiliki
karakter kepribadian yang unggul serta bertanggung jawab. Peranan
pengelolaan sumber daya alam tersebut dilakukan oleh pemerintah
melalui Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pegawai Negeri Sipil (PNS) berperan
sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas
umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan
kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi
politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (Pasal 22
UU ASN).
Untuk dapat menghasilkan sosok Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
profesional dan berkarakter unggul, maka perlu dilakukan pelatihan dasar
(latsar) bagi calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan III sesuai dengan
Peraturan Kepala LAN No.25/2017. Pelatihan dasar (latsar) tersebut
dilaksanakan melalui proses pendidikan dan pelatihan terintegrasi untuk
membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi
nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan
bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi
bidang (Pasal 63 UU ASN). Kegiatan pelatihan dasar (latsar) tersebut
dilakukan dengan inovatif agar calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) mampu
menginternalisasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dan
peranan PNS, serta membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi).
1
Kebiasaan tersebut diharapkan akan membentuk PNS yang profesional
dan berkarakter yang dapat melaksanakan fungsinya dengan baik
sehingga bermanfaat bagi bangsa dan Negara. Fungsi Pegawai Negeri
Sipil (PNS) adalah sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik,
dan perekat dan pemersatu bangsa. (Pasal 10 UU ASN)
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan merupakan salah satu unit kerja
di dalam Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang
bertugas untuk menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan
kebijakan di bidang pembinaan, pengusahaan, keteknikan, keselamatan
kerja, dan lingkungan di bidang ketenagalistrikan. Dalam melaksanakan
tugas tersebut, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan dibagi menjadi
beberapa Direktorat bidang, yakni Direktorat Pembinaan Program
Ketenagalistrikan, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan,
dan Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan. Ketiga direktorat
tersebut memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Tugas dan fungsi
tersebut akan dapat dicapai dan dilaksanakan dengan baik apabila
Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada di dalamnya mampu bekerja dengan
kompeten, efektif dan efisien, serta berinovatif sehingga dapat mengikuti
perkembangan zaman.
Calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) ditempatkan di Direktorat
Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, yakni Subdirektorat Harga
Tenaga Listrik, khususnya di Seksi kerja Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi.
Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan mentor, coach, dan
rekan kerja, ditemukan beberapa isu/permasalahan yang terjadi di seksi
kerja Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi. Isu/permasalahan tersebut adalah
penanganan pengaduan subsidi listrik belum optimal, sharing Knowledge
dengan personel kerja yang baru belum optimal, dan evaluasi terhadap
penjualan listrik PLN yang juga belum optimal.

1.2 Deskripsi Organisasi


Unit kerja penempatan peserta diklat adalah Direktorat Jenderal
Ketenagalistrikan.

2
Visi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan adalah “Terwujudnya sektor
ketenagalistrikan yang andal, aman, akrab lingkungan, kualitas tinggi,
efisien dan rasional untuk memperkokoh pembangunan nasional yang
berkelanjutan sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat.” Untuk memenuhi visi tersebut, maka Pemerintah
mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menyelenggarakan pembangunan sarana penyediaan dan
penyaluran tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik
daerah dan nasional;
2) Melaksanakan pengaturan usaha penyediaan dan usaha
penunjang tenaga listrik;
3) Melaksanakan pengaturan keselamatan ketenagalistrikan dan
lindungan lingkungan;
4) Memanfaatkan seoptimal mungkin sumber energi primer dan energi
terbarukan dengan memperhatikan keekonomiannya;
5) Mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan mempunyai tugas merumuskan


serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
Ketenagalistrikan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud,
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan menyelenggarakan fungsi sebagai
berikut :
1) Perumusan kebijakan di bidang ketenagalistrikan;
2) Pelaksanaan kebijakan di bidang ketenagalistrikan;
3) Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
ketenagalistrikan;
4) Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang
ketenagalistrikan;
5) Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan.

Susunan organisasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan adalah


sebagai berikut :
1) Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Andy Noorsaman S)

3
2) Sekretariat Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Agoes
Triboesono)
3) Direktorat Pembinaan Program Ketenagalistrikan (Jisman Hutajulu)
4) Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan (Hendra
Iswahyudi)
5) Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (Munir Ahmad)
Susunan organisasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.1.

SUSUNAN ORGANISASI DIRJEN KETENAGALISTRIKAN

Gambar 1 Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan

Saat ini, peserta diklat ditempatkan di Seksi Tarif Tenaga Listrik dan
Subsidi, Subdirektorat Harga Tenaga Listrik, Direktorat Pembinaan
Pengusahaan Ketenagalistrikan. Yang menjadi tugas seksi tarif tenaga
listrik dan subsidi adalah Melakukan penyiapan bahan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan
kriteria, serta bimbingan teknis dan evaluasi di bidang tarif tenaga listrik
dan subsidi listrik (Permen ESDM No. 13/2016 Pasal 316). Dalam
melaksanakan tugas tersebut, uraian kegiatan-kegiatan kerja yang
dilakukan seksi tarif tenaga listrik dan subsidi adalah :
1) Verifikasi dan penyiapan penetapan susut jaringan tenaga listrik
4
2) Monitoring dan evaluasi BPP tenaga listrik
3) Penyiapan dan monitoring tarif tenaga listrik dan subsidi listrik
4) Verifikasi penjualan dan tunggakan listrik
5) Sosialisasi kebijakan TTL dan subsidi

1.3 Identifikasi Isu (Masalah)


Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan mentor dan rekan
kerja, permasalahan-permasalahan terkini yang muncul di seksi tarif
tenaga listrik dan subsidi adalah sebagai berikut :
1. Penanganan pengaduan subsidi listrik belum optimal
Akar permasalahan munculnya isu tersebut adalah sebagai berikut:
 SOP dalam penanganan pengaduan subsidi listrik masih
terlalu rumit (kemensos, tnp2k, dan PLN)
 kurangnya koordinasi antara pihak-pihak terkait penanganan
pengaduan subsidi listrik (kemensos, tnp2k, dan PLN)
 SDM kurang kompeten
Isu tersebut harus segera diselesaikan agar tidak berdampak buruk
bagi individu, organisasi kerja, ataupun pihak lain yang terkait. Jika
tidak segera diselesaikan, dampak yang mungkin muncul adalah
sebagai berikut :
 tidak optimalnya cara kerja dan waktu kerja ASN (individu
dan unit kerja)
 Masyarakat merasa tidak dilayanai (publik)
 profesionalitas kerja ASN dan Organisasi menurun (individu
dan unit kerja)
 citra buruk terhadap Kementerian ESDM (Unit kerja)

2. Sharing Knowledge dengan personel kerja yang baru belum optimal


Akar permasalahan munculnya isu tersebut adalah sebagai berikut:
 belum ada alur kerja/SOP dalam hal transfer kompetensi
kepada personel kerja yang baru
 kurang kepedulian kepada personel kerja baru

5
 masih banyaknya pekerjaan lain yang harus dikerjakan oleh
personel kerja lama sehingga tidak cukup waktu untuk
membantu personel kerja baru.
Isu tersebut harus segera diselesaikan agar tidak berdampak buruk
bagi individu, organisasi kerja, ataupun pihak lain yang terkait. Jika
tidak segera diselesaikan, dampak yang mungkin muncul adalah
sebagai berikut:
 personel kerja baru sulit untuk menyesuaikan ritme kerja
dengan personel kerja lama (individu dan unit kerja)
 pemahaman tentang unit kerja tidak maksimal (individu)
 personel kerja baru merasa tidak diberdayakan dan tidak
dipedulikan sehingga dapat membuat hubungan dan situasi
kerja yang tidak kondusif yang akan menyebabkan
kurangnya profesionalitas sebagai ASN (individu dan unit
kerja)

3. Evaluasi terhadap penjualan listrik PLN belum optimal


Akar permasalahan munculnya isu tersebut adalah sebagai berikut:
 data hasil penjualan listrik PLN belum terkumpul dengan rapi
 proses evaluasi tidak dilakukan secara terjadwal, namun saat
data dibutuhkan saja
 belum ada PIC yang bertugas melakukan analisis rutin
 rumit dan butuh waktu cukup lama dalam mengevaluasi
banyaknya data penjualan listrik PLN
Isu tersebut harus segera diselesaikan agar tidak berdampak buruk
bagi individu, organisasi kerja, ataupun pihak lain yang terkait. Jika
tidak segera diselesaikan, dampak yang mungkin muncul adalah
sebagai berikut:
 kesulitan dalam melakukan evaluasi terhadap banyaknya
data penjualan listrik PLN (individu)
 efisiensi waktu kerja tidak optimal (individu)
 profesionalitas unit kerja menurun akibat tidak sigap dalam
penyediaan data (unit kerja)

6
 kesulitan dalam memperoleh data bagi Subdirektorat
maupun Direktorat lain (unit kerja)
 kesulitan memperoleh data untuk statistik nasional (pihak
lain, yakni Badan Pusat Statistik)
 kesulitan memperoleh data dalam penentuan kebijakan
strategis negara (Kementerian Keuangan)
 kesulitan memperoleh data dalam perencanaan produksi
peralatan listrik (Perusahaan Swasta)

Isu-isu / permasalahan-permasalahan yang terjadi di unit kerja tersebut


harus segera diselesaikan agar tidak merugikan semua pihak yang terkait
(stakeholder). Namun, penyelesaian isu tersebut tidak akan realistis jika
harus dilakukan secara bersamaan dengan waktu yang terbatas. Untuk
itu, perlu dilakukan analisis dalam menentukan prioritas isu/permalahan
yang harus segera diselesaikan. Untuk menentukan prioritas
isu/permasalahan tersebut, digunakanlah analisis USGR. Hasil analisis
USGR terhadap isu/permasalahan di unit kerja dapat dilihat pada Tabel 1.
Analisis USGR adalah salah satu cara menetapkan urutan prioritas
dengan metode teknik scoring. Proses metode USGR dilakukan dengan
memperhatikan urgensi masalah, keseriusan masalah yang dihadapi,
kemungkinan berkembangnya masalah tersebut, kemungkinan masalah
tersebut diselesaikan dengan kompetensi yang dimiliki oleh seorang
CPNS.
1. Urgency
Seberapa mendesak masalah tersebut harus diselesaikan
dikaitkan dengan waktu yang tersedia, artinya apabila masalah
tidak segera ditanggulangi akan semakin gawat.
2. Seriousness
Seberapa serius masalah tersebut perlu dibahas dikaitkan
dengan akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan
masalah yang dapat menimbulkan masalah-masalah baru jika
masalah tersebut tidak diselesaikan.

7
3. Growth
Seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut
menjadi berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu
akan makin memburuk kalau dibiarkan.
4. Rationality
Seberapa mungkin isu tersebut dapat diselesaikan dengan
mempertimbangkan kompetensi dan ilmu yang dimiliki.

Tabel 1. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Isu/Masalah

Penilaian
No. Isu Total Prioritas
U S G R
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1. Penanganan pengaduan
4 5 5 2 16 II
subsidi listrik belum optimal
2. Sharing Knowledge dengan
personel kerja yang baru 3 4 3 4 14 III
belum optimal
3. Evaluasi terhadap penjualan 4 4 5 5 18 I
listrik PLN belum optimal

Keterangan :
U = Urgency ; S = Seriousness ; G = Growth ; R = Rationality
1 = Sangat kecil ; 2 = Kecil ; 3 = Sedang ; 4 = Besar ; 5 = Sangat besar

Berdasarkan analisis USGR diatas, maka penulis memutuskan


isu/permasalahan yang akan diselesaikan pada masa aktualisasi
(habituasi) adalah mengenai “Evaluasi terhadap penjualan listrik PLN
belum optimal”. Jika dilihat dari aspek urgency, isu tersebut mendesak
untuk diselesaikan. Jika tidak diselesaikan, permasalahan akan semakin
menumpuk karena proses evaluasi penjualan listrik PLN harus dilakukan
setiap bulan. Jika dilihat dari aspek seriousness, isu tersebut serius dan
harus diselesaikan. Jika tidak diselesaikan, akan timbul masalah baru yang
dapat mengganggu efektivitas dan efisiensi kerja. Jika dilihat dari aspek
growth, isu tersebut akan semakin berkembang jika dibiarkan. Jika dilihat

8
dari aspek rationality, isu tersebut yang paling mungkin untuk diselesaikan
dilihat dari kompetensi yang dimiliki CPNS saat ini.
Kondisi saat ini mengenai Evaluasi terhadap penjualan listrik PLN yang
belum optimal adalah
 Data tersebar ke beberapa personel kerja
Data penjualan listrik PLN saat ini masih belum terkumpul menjadi satu
sehingga proses evaluasi terhadap penjualan listrik PLN akan lebih
sukar untuk dilakukan. Hal ini karena perlunya waktu untuk
mengumpulkan data-data tersebut terlebih dahulu sebelum dievaluasi
lebih lanjut.
 Evaluasi dilakukan saat data dibutuhkan
Kegiatan evaluasi terhadap penjualan listrik PLN dilakukan saat data
tersebut dibutuhkan saja dan belum ada jadwal evaluasi rutin yang
dibuat agar kegiatan evaluasi menjadi terkoordinir dengan baik.
 Penunjukan pelaksana evaluasi berdasarkan beban kerja terkini
Kegiatan evaluasi terhadap penjualan listrik PLN saat ini juga masih
belum memiliki koordinator. Atasan akan menunjuk pelaksana evaluasi
secara langsung berdasarkan beban kerja terkini yang dimiliki oleh
personel kerja.
 Evaluasi dilakukan secara manual
Kegiatan evaluasi terhadap penjualan listrik PLN saat ini masih
dilakukan secara manual. Pengerjaan evaluasi secara manual tersebut
akan menyulitkan peserta karena banyaknya data yang harus
dievaluasi. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk pengelolaan data
tersebut juga cukup lama.

9
Gambar 2. Metode Gap Analysis dalam menentukan Solusi Pemecahan
Isu

Gambar 2 menunjukan analisis isu/permasalahan menggunakan


analisis kesenjangan (gap analysis). Dapat dilihat kesenjangan yang terjadi
antara kondisi saat ini dengan kondisi yang diharapkan serta dampak
apabila masalah tidak diselesaikan. Setelah itu, ditentukan akar
permasalahan utama/prioritas dari kondisi saat ini dan akar permasalahan
tersebut akan dijadikan sebagai tolak ukur untuk menemukan solusi
pemecahan masalah.

1.4 Perumusan dan Penetapan Isu (Masalah)


Hasil analisis terhadap isu/permasalahan telah dilakukan.
Isu/permasalahan yang akan diangkat adalah evaluasi terhadap
penjualan listrik PLN belum optimal. Untuk menyelesaikan isu/masalah
tersebut, maka perlu dianalisis akar pemasalahan utama/prioritas yang
menjadi penyebab utama terjadinya isu. Akar permasalahan tersebut akan
dijadikan tolak ukur untuk menentukan solusi yang tepat untuk
menyelesaikan isu/permasalahan. Analisis terhadap akar permasalahan

10
tersebut dilakukan dengan metode analisis USGR seperti terlihat pada
Tabel 2.

Tabel 2. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Akar Permasalahan

Penilaian
No. Isu Total Prioritas
U S G R

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1. Data belum terkumpul 4 3 4 5 16 II

Proses evaluasi belum


2. 3 3 3 5 14 III
terjadwal

3. PIC belum ditetapkan 3 3 3 4 13 IV

Waktu lama dan rumit


4. 4 5 4 5 18 I
mengevaluasi banyak data

Keterangan :
U = Urgency ; S = Seriousness ; G = Growth ; R = Rationality
1 = Sangat kecil ; 2 = Kecil ; 3 = Sedang ; 4 = Besar ; 5 = Sangat besar

Berdasarkan analisis tersebut, maka akar permasalahan yang menjadi


prioritas dan akan diselesaikan adalah mengenai rumit dan waktu yang
lama dalam mengevaluasi banyak data penjualan listrik PLN.

11
BAB II
RENCANA PEMECAHAN MASALAH (AKTUALISASI)

2.1 Gagasan (Inisiatif) Pemecahan Isu


Hasil analisis terhadap isu/permasalahan telah dilakukan.
Isu/permasalahan yang akan diangkat adalah evaluasi terhadap
penjualan listrik PLN belum optimal. Kemudian isu/permasalahan
tersebut dianalisis lagi dengan metode analisis USGR dan gap analysis.
Akhirnya ditemukan akar permasalahan yang prioritas dan akan
diselesaikan adalah mengenai rumit dan waktu yang lama dalam
mengevaluasi banyak data penjualan listrik PLN. Untuk mengatasi akar
permasalahan tersebut, maka solusi berupa gagasan kreatif yang akan
dibuat adalah : “Pembuatan Tools Evaluasi Penjualan Listrik PLN”.

Adanya tools evaluasi penjualan listrik PLN tersebut diharapkan akan


meningkatkan kompetensi ASN dalam menyelesaikan permasalahan
kerja sehingga dihasilkan ASN yang profesional. Hal tersebut
menunjukkan manajemen ASN dapat terimplementasi dengan baik di unit
kerja. Selain itu, tools tersebut juga akan meningkatkan efektivitas dan
efisiensi waktu kerja ASN dan meningkatkan akurasi data yang akan
dihasilkan oleh ASN. Dengan meningkatnya efektivitas dan efisiensi waktu
kerja, serta akurasi data tersebut, maka pelayanan publik yang akan
diberikan menjadi maksimal, objektif, akurat, dan efisien demi
kemakmuran rakyat.

2.2 Rencana, Tahapan, dan Output Kegiatan


Untuk dapat mengimplementasikan solusi inovatif dengan baik, maka
perlu dilakukan perencanaan yang baik. Perencanaan, tahapan, dan
output kegiatan aktualisasi dapat dilihat pada tabel 2.2.

12
FORMULIR 1
FORMULIR RANCANGAN AKTUALISASI

Unit Kerja : Dirjen Ketenagalistrikan


Isu yang Diangkat : Evaluasi Terhadap Penjualan Listrik PLN Belum Optimal
Gagasan Pemecahan Isu : Pembuatan Tools Evaluasi Penjualan Listrik PLN

Tabel 3. Rencana Kegiatan, Tahapan, dan Output Kegiatan


No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output / Hasil Keterkaitan Substansi Mata Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai – Nilai
Kegiatan Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1. Koordinasi 1. Mengumpulkan 1. Masukan dan Pelaksanaan kegiatan Output kegiatan yang Dengan membuat tools
dengan masukan dari rekan kerja arahan kriteria tools berkaitan dengan nilai-nilai memiliki mutu tinggi, evaluasi, membuat
coach/mentor tentang kriteria tools dasar profesi PNS (ANEKA). berupa tools evaluasi laporan hasil evaluasi,
yang diharapkan 2. Kriteria akhir tools Dalam melaksanakan kegiatan penjualan listrik PLN, dan melakukan
dan rekan kerja
diawali dengan melakukan laporan hasil evaluasi sosialisasi tools yang
tentang rencana 2. Meminta arahan dari penjualan listrik PLN, diaktualisasikan
koordinasi dengan
pembuatan coach/mentor tentang dan sosialisasi berdasarkan Nilai-nilai
coach/mentor dan setiap
tools evaluasi kriteria tools yang selesai melaksanakan kegiatan penggunaan tools, akan Dasar Profesi PNS
penjualan listrik diharapkan akan dilaporkan dengan meningkatkan (ANEKA), nilai-nilai
PLN bertanggung jawab kompetensi kerja ASN, organisasi (Jujur
3. Menentukan kriteria (Akuntabilitas). efisiensi dan Profesional Melayani
akhir tools yang akan efektivitas waktu kerja Inovatif Berarti) akan
dibuat bersama ASN, serta kualitas diperkuat.
coach/mentor Dalam mengumpulkan dan akurasi evaluasi Jujur: Dengan
masukan dari rekan kerja, data yang dihasilkan berdiskusi dan
pemahaman akan ASN. Peningkatan melaporkan setiap
keanekaragaman bangsa kompetensi kerja serta kegiatan kepada
Indonesia didapatkan dengan efisiensi dan efektivitas coach/mentor sesuai
memahami perbedaan

13
latarbelakang suku dan agama waktu kerja diharapkan dengan fakta di
yang berbeda dari masing- dapat meningkatkan lapangan akan
masing rekan kerja kualitas kebijakan memperkuat nilai
(Nasionalisme). publik yang dihasilkan kejujuran. Selain itu,
di subdit harga dan pembuatan laporan
subsidi listrik. Kualitas hasil evaluasi yang
Ketika meminta arahan dari
coach/mentor dan saran dari dan akurasi evaluasi objektif berdasarkan
rekan kerja, dilakukan dengan data diharapkan mampu fakta dan data yang
membantu dalam tersedia juga akan
komunikasi yang baik dan sikap
perumusan kebijakan- memperkuat nilai
sopan serta mengutamakan
kebutuhan rekan kerja (Etika kebijakan strategis kejujuran.
lain yang bermanfaat Profesional: Dengan
Publik).
bagi kemakmuran pembuatan tools
rakyat. Semua output evaluasi akan
Pentingnya arahan dari kegiatan tersebut meningkatkan
coach/mentor dan saran dari mendukung pencapaian kompetensi dan
teman kerja yang lebih visi Dirjen efektivitas dan efisiensi
berpengalaman sebagai bentuk Ketenagalistrikan waktu kerja sehingga
aplikasi menjaga mutu hasil dalam mewujudkan dapat memberikan hasil
pekerjaan (Komitmen Mutu). sektor ketenagalistrikan kerja terbaik yang akan
yang aman, andal, memperkuat nilai
Transparansi informasi yang akrab lingkungan, profesionalitas.
dilakukan coach/mentor, rekan kualitas tinggi, efisien, Melayani: Dalam
kerja, dan peserta sebagai dan rasional yang pembuatan tools,
salah satu bentuk kontrol berkelanjutan sehingga memperhatikan
terhadap pekerjaan yang memberikan manfaat kebutuhan stakeholder
dilakukan (Anti Korupsi). yang sebesar-besarnya yang akan
bagi kemakmuran menggunakan tools
rakyat. adalah satu satu bentuk
2. Pengumpulan 1. Mengumpulkan data 1. Data penjualan Pelaksanaan kegiatan kegiatan yang akan
data hasil penjualan listrik yang listrik terbaru dan berkaitan dengan nilai-nilai memperkuat nilai
penjualan listrik terbaru dari PLN terdahulu dasar profesi PNS (ANEKA). melayani.
PLN Pengumpulan data penjualan Inovatif: Tools evaluasi
2. Mengumpulkan data listrik dari PLN yang dilakukan yang dibuat adalah
penjualan listrik yang secara mandiri dan salah satu ide kreatif
terdahulu dari rekan
bertanggung jawab yang dibuat untuk
kerja
(Akuntabilitas). mempermudah kerja.

14
Komunikasi yang baik saat Berarti: Tools evaluasi
meminta bantuan pihak lain dan laporan evaluasi
dalam mengumpulkan data yang telah dibuat
penjualan listrik (Etika Publik). tersebut akan
Cermat dalam melakukan didistribusikan dan
kegiatan pengumpulan data disosialisasikan kepada
penjualan listrik (Komitmen semua stakeholder
Mutu). sehingga akan
memperkuat nilai
Tidak melakukan manipulasi berarti.
terhadap data hasil penjualan
listrik (Anti Korupsi).
Pengumpulan data penjualan
listrik harus dilakukan dengan
berkoordinasi dan kolaborasi
yang baik dengan PLN sebagai
Badan Usaha Milik Negara
(BUMN). (Whole of
Government)

3. Pemahaman 1. Memahami data hasil 1. Bukti pemahaman Pelaksanaan kegiatan


data hasil penjualan listrik PLN data penjualan listrik berkaitan dengan nilai-nilai
penjualan listrik secara mandiri PLN dasar profesi PNS (ANEKA).
Dalam proses memahami data
PLN
2. Berdiskusi dengan 2. Format dan konten hasil penjualan listrik PLN,
coach/mentor untuk data yang relevan dilakukan diskus i dengan
dapat memahami data untuk pembuatan coach/mentor dan rekan kerja
hasil penjualan listrik tools yang lebih berpengalaman
PLN untuk memahami data dan
menentukan format dan konten
3. Berdiskusi dengan data agar hasil pekerjaan
rekan kerja untuk dapat dipercaya dan bermanfaat bagi
memahami data hasil semua pihak (Akuntabilitas).
penjualan listrik PLN
Dalam memahami data
4. Berdiskusi dengan penjualan PLN, Pemahaman
coach/mentor dalam bahwa Negara Indonesia terdiri
menentukan format dan dari berbagai Provinsi yang

15
konten data yang relevan memiliki keanekaragaman
untuk pembuatan tools budaya. (Nasionalisme)

Pemahaman data dilakukan


dengan diskusi bersama rekan
kerja dan coach/mentor dengan
dasar ingin menghasilkan hasil
kerja yang bermanfaat dan
memiliki kualitas terbaik. (etika
publik dan komitmen mutu)

Diskusi dilakukan terbuka dan


dapat dilihat coach/mentor
secara langsung. (Anti
Korupsi)

4. Perancangan 1. Mencari literatur 1. Literatur Pelaksanaan kegiatan


tools evaluasi mengenai tools evaluasi berkaitan dengan nilai-nilai
sejenis 2. Hasil Benchmark dasar profesi PNS (ANEKA).
penjualan listrik
Untuk menghasilkan output
PLN
2. Melakukan benchmark 3. Rancangan awal kerja yang jelas dan dapat
mengenai tools sejenis tools dipercaya semua pihak, maka
dengan direktorat atau dilakukan kajian literatur,
unit kerja lain 4. Rancangan akhir benchmark, dan diskusi dengan
tools coach/mentor. (Akuntabilitas)
3. Merancang tools
evaluasi secara mandiri Komunikasi dan konsultasi
dilakukan bersama dengan
4. Mendiskusikan hasil pihak lain dengan prinsip saling
rancangan tools dengan menghargai dan menghormati.
coach/mentor (Etika Publik)

5. Merevisi hasil Proses perancangan dilakukan


rancangan tools secara mandiri dan kemudian
didiskusikan dan direvisi
6. Finalisasi rancangan kembali untuk mendapatkan
tools dengan hasil yang maksimal.
coach/mentor (Komitmen Mutu)

16
Hasil kajian literatur dan
benchmark disampaikan
secara jelas dan terbuka, tanpa
adanya pengurangan informasi
kepada coach/mentor. (Anti
Korupsi)

5. Pembuatan dan 1. Membuat tools secara 1. Tools awal Pelaksanaan kegiatan


simulasi tools mandiri berkaitan dengan nilai-nilai
evaluasi hasil 2. Tools akhir dasar profesi PNS (ANEKA).
2. Mendiskusikan hasil Pembuatan tools dilakukan
penjualan listrik
pembuatan tools dengan 3. Simulasi tools sesuai rancangan yang telah
PLN coach/mentor dibuat dan dapat
dipertanggungjawabkan
3. Merevisi tools sesuai kemampuan tools tersebut
hasil diskusi dengan kepada coach/mentor dan
coach/mentor rekan kerja. (Akuntabilitas)

4. Simulasi akhir tools Revisi dilakukan sesuai


dengan coach/mentor perintah coach/mentor dan
dan rekan kerja dilakukan dengan sebaik
mungkin. (Etika Publik)

Tools yang diperoleh direvisi


berulang kali hingga didapatkan
tools akhir yang terbaik dan
berkualitas. (Komitmen Mutu)

Simulasi akhir tools dilakukan


terbuka dengan coach/mentor
dan rekan kerja. (Anti Korupsi)

6. Pembuatan 1. Mendiskusikan format 1. Format laporan Pelaksanaan kegiatan


Laporan tentang laporan dengan berkaitan dengan nilai-nilai
Hasil Evaluasi coach/mentor 2. Laporan awal dasar profesi PNS (ANEKA).
Diskusi dan konsultasi dengan
Penjualan
2. Membuat laporan 3. Laporan Akhir coach/mentor dilakukan dalam
Listrik PLN secara mandiri menentukan format laporan

17
3. Mendiskusikan yang akan dibuat.
laporan dengan (Akuntabilitas)
coach/mentor Konten laporan yang dibuat
memenuhi ekspektasi semua
4. Merevisi laporan pihak terkait. (Etika Publik)

5. Finalisasi laporan Laporan memiliki konten yang


bermanfaat dan dapat
digunakan untuk mengambil
kebijakan lain. (Komitmen
Mutu)

Laporan yang dibuat dapat


diakses secara terbuka oleh
stakeholder terkait. (Anti
Korupsi) (Pelayanan Publik)

7. Sosialisasi 1. Melakukan distribusi 1. Bukti kemampuan Pelaksanaan kegiatan


Tools Evaluasi Tools kepada rekan kerja penggunaan Tools berkaitan dengan nilai-nilai
Penjualan Evaluasi oleh rekan dasar profesi PNS (ANEKA).
2. Sosialisasi kerja Melakukan sosialisasi
Listrik PLN
Penggunaan Tools penggunaan tools kepada
kepada rekan Evaluasi kepada rekan rekan kerja agar hasil kerja
kerja kerja dapat bermanfaat.
(Akuntabilitas)

Sosialisasi penggunaan tools


dilakukan secara baik dan
benar. (Etika Publik)

Sosialisasi penggunaan tools


dilakukan agar semua rekan
kerja memiliki kompetensi yang
sama dalam penggunaan tools.
(Komitmen Mutu)

Distribusi dilakukan ke semua


rekan kerja tanpa adanya
diskriminasi. (Anti Korupsi)

18
2.3 Keterkaitan Kegiatan dengan Substansi Mata Pelatihan (Nilai-nilai
Dasar PNS dan Kedudukan serta Peran PNS dalam NKRI)
Setiap kegiatan yang dilaksanakan memiliki keterkaitan dengan nilai -nilai
substansi mata pelatihan yang relevan, yakni Manajemen ASN, Pelayanan
Publik, Whole of Government, Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, atau Anti Korupsi.
1) Koordinasi dengan coach/mentor dan rekan kerja tentang rencana
pembuatan tools evaluasi penjualan listrik PLN
 Dalam melaksanakan kegiatan diawali dengan melakukan koordinasi
dengan coach/mentor dan setiap selesai melaksanakan kegiatan akan
dilaporkan dengan bertanggung jawab. (Akuntabilitas)
 Dalam mengumpulkan masukan dari rekan kerja, pemahaman akan
keanekaragaman bangsa Indonesia didapatkan dengan memahami
perbedaan latarbelakang suku dan agama yang berbeda dari masing-
masing rekan kerja. (Nasionalisme)
 Ketika meminta arahan dari coach/mentor dan saran dari rekan kerja,
dilakukan dengan komunikasi yang baik dan sikap sopan serta
mengutamakan kebutuhan rekan kerja. (Etika Publik)
 Pentingnya arahan dari coach/mentor dan saran dari teman kerja yang
lebih berpengalaman sebagai bentuk aplikasi menjaga mutu hasil
pekerjaan. (Komitmen Mutu)
 Transparansi informasi yang dilakukan coach/mentor, rekan kerja, dan
peserta sebagai salah satu bentuk kontrol terhadap pekerjaan yang
dilakukan. (Anti Korupsi)

2) Pengumpulan data hasil penjualan listrik PLN


 Pengumpulan data penjualan listrik dari PLN yang dilakukan secara
mandiri dan bertanggung jawab. (Akuntabilitas)
 Komunikasi yang baik saat meminta bantuan pihak lain dalam
mengumpulkan data penjualan listrik. (Etika Publik)
 Cermat dalam melakukan kegiatan pengumpulan data penjualan listrik.
(Komitmen Mutu).

19
 Tidak melakukan manipulasi terhadap data hasil penjualan listrik. (Anti
Korupsi).
 Pengumpulan data penjualan listrik harus dilakukan dengan
berkoordinasi dan kolaborasi yang baik dengan PLN (Perusahaan
Listrik Negara) sebagai pihak lain. (Whole of Government)

3) Pemahaman data hasil penjualan listrik PLN


 Dalam proses memahami data hasil penjualan listrik PLN, dilakukan
diskusi dengan coach/mentor dan rekan kerja yang lebih
berpengalaman untuk memahami data dan menentukan format dan
konten data agar hasil pekerjaan dipercaya dan bermanfaat bagi semua
pihak. (Akuntabilitas).
 Dalam memahami data penjualan PLN, Pemahaman bahwa Negara
Indonesia terdiri dari berbagai Provinsi yang memiliki keanekaragaman
budaya. (Nasionalisme)
 Pemahaman data dilakukan dengan diskusi bersama rekan kerja dan
coach/mentor dengan dasar ingin menghasilkan hasil kerja yang
bermanfaat dan memiliki kualitas terbaik. (etika publik dan komitmen
mutu)
 Diskusi dilakukan terbuka dan dapat dilihat coach/mentor secara
langsung. (Anti Korupsi)

4) Perancangan tools evaluasi penjualan listrik PLN


 Untuk menghasilkan output kerja yang jelas dan dapat dipercaya
semua pihak, maka dilakukan kajian literatur, benchmark, dan diskusi
dengan coach/mentor. (Akuntabilitas)
 Komunikasi dan konsultasi dilakukan bersama dengan pihak lain
dengan prinsip saling menghargai dan menghormati. (Etika Publik)
 Proses perancangan dilakukan secara mandiri dan kemudian
didiskusikan dan direvisi kembali untuk mendapatkan hasil yang
maksimal. (Komitmen Mutu)

20
 Hasil kajian literatur dan benchmark disampaikan secara jelas dan
terbuka, tanpa adanya pengurangan informasi kepada coach/mentor.
(Anti Korupsi)
5) Pembuatan dan simulasi tools evaluasi hasil penjualan listrik PLN
 Pembuatan tools dilakukan sesuai rancangan yang telah dibuat dan
dapat dipertanggungjawabkan kemampuan tools tersebut kepada
coach/mentor dan rekan kerja. (Akuntabilitas)
 Revisi dilakukan sesuai perintah coach/mentor dan dilakukan dengan
sebaik mungkin. (Etika Publik)
 Tools yang diperoleh direvisi berulang kali hingga didapatkan tools
akhir yang terbaik dan berkualitas. (Komitmen Mutu)
 Simulasi akhir tools dilakukan terbuka dengan coach/mentor dan rekan
kerja. (Anti Korupsi)

6) Pembuatan Laporan tentang Hasil Evaluasi Penjualan Listrik PLN


 Diskusi dan konsultasi dengan coach/mentor dilakukan dalam
menentukan format laporan yang akan dibuat. (Akuntabilitas)
 Konten laporan yang dibuat memenuhi ekspektasi semua pihak terkait.
(Etika Publik)
 Laporan memiliki konten yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk
mengambil kebijakan lain. (Komitmen Mutu)
 Laporan yang dibuat dapat diakses secara terbuka oleh stakeholder
terkait. (Anti Korupsi) (Pelayanan Publik)

7) Sosialisasi Tools Evaluasi Penjualan Listrik PLN kepada rekan kerja


 Melakukan sosialisasi penggunaan tools kepada rekan kerja agar hasil
kerja dapat bermanfaat. (Akuntabilitas)
 Sosialisasi penggunaan tools dilakukan secara baik dan benar. (Etika
Publik)
 Sosialisasi penggunaan tools dilakukan agar semua rekan kerja
memiliki kompetensi yang sama dalam penggunaan tools. (Komitmen
Mutu)

21
 Distribusi dilakukan ke semua rekan kerja tanpa adanya diskriminasi.
(Anti Korupsi)

2.4 Identifikasi Dampak Pemecahan Isu (Individu, Unit kerja atau


Organisasi)
Kegiatan aktualisasi dengan gagasan pembuatan tools evaluasi penjualan
listrik PLN dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
 Dampak terhadap Individu
Dengan melaksanakan gagasan pada masa aktualisasi, maka penulis
akan mengalami peningkatan kompetensi dan pemahaman atas tugas-tugas
di seksi kerja. Selain itu, penulis juga akan belajar berhubungan dengan baik
ke banyak pihak, termasuk pimpinan dan rekan kerja. Efisiensi waktu kerja
penulis juga menjadi semakin optimal. Dengan demikian, sikap professional
dan karakter unggul akan dimiliki penulis
 Dampak terhadap unit kerja
Dengan melaksanakan gagasan pada masa aktualisasi, kualitas
pelayanan publik yang dihasilkan oleh unit kerja akan semakin baik sehingga
akan membuat citra yang baik dan kepercayaan yang tinggi dari pihak-pihak
terkait. Selain itu, peningkatan kompetensi personel yang ada di seksi kerja
juga akan meningkat dan kerja sama antar personel unit kerja juga dapat
ditingkatkan.
 Dampak terhadap Organisasi
Dengan melaksanakan gagasan pada masa aktualisasi, maka nilai-nilai
dasar PNS akan tumbuh di dalam diri penulis sehingga akan meningkatkan
kompetensi dan karakter yang unggul. Hal tersebut sebagai wujud penerapan
nilai-nilai organisasi dan modal dalam mewujudkan visi dan misi organisasi.

2.5 Kontribusi Terhadap Visi dan Misi serta Tujuan Organisasi


Visi Dirjen Ketenagalistrikan adalah mewujudkan sektor
ketenagalistrikan yang aman, andal, akrab lingkungan, kualitas tinggi, efisien,
dan rasional yang berkelanjutan sehingga memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya bagi kemakmuran rakyat.

22
Kegiatan aktualisasi ini akan menghasilkan output yang memiliki
kualitas tinggi, yakni tools evaluasi penjualan listrik PLN, laporan hasil evaluasi
penjualan listrik PLN, dan sosialisasi penggunaan tools. Diharapkan
kompetensi kerja ASN akan semakin meningkat, efisiensi dan efektivitas
waktu kerja ASN akan semakin optimal, serta kualitas dan akurasi evaluasi
data yang dihasilkan ASN akan semakin tinggi. Peningkatan kompetensi kerja
serta efisiensi dan efektivitas waktu kerja diharapkan dapat meningkatkan
kualitas kebijakan publik yang dihasilkan di Subdirektorat harga tenaga listrik.
Kualitas dan akurasi evaluasi data diharapkan juga mampu membantu dalam
perumusan kebijakan-kebijakan strategis lain yang bermanfaat bagi
kemakmuran rakyat. Semua output kegiatan tersebut mendukung dan
berkontribusi besar dalam pencapaian visi Dirjen Ketenagalistrikan.

2.6 Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai - Nilai Organisasi


Melalui kegiatan aktualisasi yang diaktualisasikan berdasarkan Nilai-
nilai Dasar Profesi PNS (ANEKA) dan output kegiatan aktualisasi, yakni tools
evaluasi, laporan hasil evaluasi, dan sosialisasi tools, nilai-nilai organisasi
Kementerian ESDM (Jujur Profesional Melayani Inovatif Berarti) akan semakin
diperkuat.
Jujur: Dengan berdiskusi dan melaporkan setiap kegiatan kepada
coach/mentor sesuai dengan fakta di lapangan akan memperkuat nilai
kejujuran. Selain itu, pembuatan laporan hasil evaluasi yang objektif
berdasarkan fakta dan data yang tersedia juga akan memperkuat nilai
kejujuran.
Profesional: Dengan pembuatan tools evaluasi akan meningkatkan
kompetensi dan efektivitas dan efisiensi waktu kerja sehingga dapat
memberikan hasil kerja terbaik yang akan memperkuat nilai profesionalitas.
Melayani: Dalam pembuatan tools, memperhatikan kebutuhan stakeholder
yang akan menggunakan tools adalah satu satu bentuk kegiatan yang akan
memperkuat nilai melayani.
Inovatif: Tools evaluasi yang dibuat adalah salah satu ide kreatif yang dibuat
untuk mempermudah kerja.

23
Berarti: Tools evaluasi dan laporan evaluasi yang telah dibuat tersebut akan
didistribusikan dan disosialisasikan kepada semua stakeholder sehingga akan
memperkuat nilai berarti.

24
BAB III
RENCANA PELAKSANAAN AKTUALISASI

3.1 Jadwal Kegiatan Aktualisasi


Kegiatan aktualisasi dilaksanakan selama kurang lebih tujuh belas minggu
waktu kerja. Untuk dapat menyelesaikan isu/permasalahan selama masa
aktualisasi, dibuat jadwal kegiatan aktualisasi pada tabel 4.

Tabel 4. Jadwal Kegiatan Aktualisasi

3.2 Identifikasi Kendala dan Rencana Antisipasi


Dalam melaksanakan kegiatan aktualisasi akan muncul berbagai kendala-
kendala yang mungkin akan menghambat tercapainya tujuan kegiatan. Maka
penting untuk mengidentifikasi kendala yang mungkin terjadi dan rencana
untuk mengantisipasinya. Beberapa kendala yang mungkin terjadi dan cara
mengantisipasinya antara lain:

1. Pengumpulan data hasil penjualan listrik PLN


Dalam mengumpulkan data hasil penjualan listrik PLN, kendala yang
mungkin dihadapi adalah kesibukan pihak-pihak terkait yang memiliki data
tentang hasil penjualan listrik PLN yang dibutuhkan. Untuk mengatasinya,
25
perlu dilakukan penanganan (follow up) yang dilakukan rutin kepada pihak
terkait sehingga tidak lupa untuk membantu dalam pengumpulan data. Selain
itu, pencarian data secara mandiri dan sebisa mungkin juga dapat dilakukan
sehingga mengurangi beban pihak terkait.

2. Merancang dan membuat tools evaluasi secara mandiri


Dalam proses perancangan dan pembuatan tools secara mandiri, kendala
yang mungkin dihadapi adalah kapabilitas (skill) yang dimiliki oleh peserta
latsar masih terbatas. Untuk itu, perlu untuk melakukan pengembangan
kemampuan secara pribadi ataupun belajar dari relasi yang memiliki
kemampuan yang sesuai untuk perancangan dan pembuatan tools.

3. Sosialisasi Penggunaan Tools Evaluasi kepada rekan kerja


Untuk kegiatan sosialisasi penggunaan tools, kendala yang mungkin
dihadapi adalah kesibukan rekan kerja ataupun kekurangpedulian rekan kerja.
Untuk itu, perlu dilakukan antisipasi dengan melakukan penyesuaian jadwal
yang tepat untuk sosialisasi penggunaan tools kepada setiap rekan kerja.

26
BAB IV
PENUTUP

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal rancangan kegiatan
aktualisasi ini. Ucapan terima yang sebesar-besarnya juga penulis sampaikan
kepada berbagai pihak yang ikut serta membantu dalam penyelesaian
rancangan kegiatan aktualisasi ini.
Penulis berharap kegiatan aktualisasi ini akan dapat meningkatkan
kompetensi dan menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik bagi penulis demi
terciptanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang profesional dan berkarakter
unggul. Selain itu, penulis juga berharap kegiatan ini dapat memberikan
manfaat dan kontribusi bagi organisasi penulis, yakni Seksi Tarif Tenaga
Listrik dan Subsidi secara khusus ataupun Subdirektorat Harga Tenaga Listrik
secara umum.
Akhir kata, penulis memohon bantuan dan dukungan dari semua pihak
terkait agar rancangan kegiatan ini tidak sia-sia, namun dapat dilaksanakan
dengan sebaik mungkin dan menghasilkan output yang maksimal.

27
DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi


Pegawai Negeri Sipil. Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan
Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Akuntabilitas. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Nasionalisme. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Etika Publik. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Komitmen Mutu. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Anti Korupsi. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III . Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Peraturan Kepala LAN No.25/2017

Undang-Undang ASN Pasal 10

Permen ESDM No. 13 Tahun 2016

28