Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN TUBERCULOSIS PARU


DI RUANG CAMAR RSD IDAMAN BANJARBARU

Tanggal 1 Juli – 6 Juli 2019

Oleh:
Riska Atminanta, S.Kep
NIM. 1830913320028

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : Riska Atminanta, S.Kep

NIM : 1830913320028

JUDUL LP : - Laporan Pendahuluan TB Paru


- Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan TB Paru di
Ruang Camar RSD Idaman Banjarbaru
- Resume Pasien Di Ruang Camar RSD Idaman Banjarbaru

Banjarbaru, 1 Juli 2019

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Rismia Agustina, Ns., M.Kep Agus Setiawan, S.Kep, Ns


NIP. 19840812 201404 2 001 NIP. 19740817 199303 1 031
Tuberculosis Millier

Pengertian Penyebab

TB Millier merupakan kelainan patologis berupa


granuloma atau lesi berukuran 1-5 mm yang 1. Penyebab dari penyakit ini adalah penyebaran
disebabkan karena penyebaran Myobacterium bakteri Mycobacterium tuberculosis ke organ
tuberculosis secara hematogen dan limfogen di ekstra paru seperti hati dan limfa.
organ paru, hati, dan limfa.
2. Sumber infeksi adalah penderita TB paru yang
membatukkan dahaknya yang ditemukan BTA
Pemeriksaan Penunjang
positif.

1. Pemeriksaan dahak : dilakukan dengan


mengumpulkan SPS 3 spesimen dahak yang Tanda Dan Gejala
dikumpulkan dalam 2 hari kunjungan
2. Pemeriksaan bakteriologis : ditemukan bakteri 1. Gejala Respiratori
(Mycobacterium Tuberculosis) a. Batuk
3. Pemeriksaan Radiologis : Foto thoraks b. Batuk Darah
menunjukkan lesi akibat infeksi c. Sesak Nafas
4. Pemeriksaan PAP (peroksidase anti d. Nyeri dada
peroksidase) 2. Gejala Sistemik
a. Demam
Klasifikasi b. Berat badan menurun
c. Anoreksia
1. Berdasarkan Lokasi d. Lemas
Intra Paru dan Ekstra Paru
2. Berdasarkan Hasil BTA Pengobatan
a. BTA (+)
1) Sekurangnya 2 dari 3 pemeriksaan
1. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment
menunjukkan hasil (+)
Shortcourse)
2) Atau 1 kali hasil (+) disertai gambaran
2. Obat anti tuberkulosis (OAT):
radiologi yang menunjukkan TB aktif
a. Isoniazid (INH)
3) Atau 1 kali hasil (+) setelah 3
b. Rifampisin (R)
pemeriksaan dahak SPS dan tidak ada
c. Pirazinamid (Z)
perbaikan setelah pemberian antibiotik
d. Streptomisin (S)
non OAT
e. Etambutol (E)
b. BTA (-)
Hasil pemeriksaan sputum 3 kali (-)
3. Berdasarkan Tipe Pasien
a. Kasus baru
Belum pernah meminum OAT sebelumnya
b. Kasus kambuh
Pasien yang sebelumnya pernah
mendapatkan OAT telah selesai pengobatan
dan diakatan sembuh. Namun, didapatkan
BTA (+) kembali.
c. Kasus Putus Obat
Pasien yang putus obat >2 bulan.
d. Kasus gagal
Pasien dengan BTA (+), tetap (+) pada akhir
bulan kelima atau akhir pengobatan OAT.
Pathway TB Millier

Invasi bakteri tuberkulosis via inhalasi

Infeksi Primer

Sembuh dengan fokus Ghon

Infeksi pasca primer Bakteri Dorman


(reaktivasi)

Bakteri muncul kembali beberapa tahun kemudian

Reaksi Inflamasi Ansietas

Peningkatan Penurunan jaringan efektif Reaksi sistemik


produksi sekret paru, kerusakan membran
alveolar
Demam
Batuk Produktif
Batuk darah Sesak napas, penggunaan
Sesak nafas otot bantu napas Hipertermi

Ketidakefektifan Ketidakefektifan
Bersihan Jalan Pola Napas
Napas
Asuhan Keperawatan Pasien
TB Millier
Pengkajian Diagnosa Keperawatan
1. Identitas 1. Ansietas
2. Keluhan Utama 2. Hipertermi
3. Riwayat Penyakit 3. Ketidakefektifan Bersihan
4. Pemeriksaan laboratorium Jalan Nafas
5. Pemeriksaan Fisik 4. Ketidakefektifan Pola Nafas
6. Pemeriksaan Radiologi

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Ketidakefektifan Pola Napas

NOC: NOC:
Status Pernapasan: Kepatenan Jalan Napas Status Pernapasan: Ventilasi
Kriteria Hasil: Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x60 menit jalan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x60
nafas pasien menjadi lebih paten dengan kriteria hasil klien akan: menit pola nafas klien lebih efektif dengan kriteria
1. Mampu mengeluarkan sekret berlebih (mendemonstrasikan batuk hasil:
efektif) 1. RR dalam batas normal
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (tidak ada suara napas
abnormal) NIC:
Terapi Oksigen
NIC: 1. Bersihkan mulut, hidung dan trakea dari sekret.
Monitor Pernapasan 2. Pertahankan patensi jalan napas
1. Monitor tanda-tanda vital (suhu, RR, nadi) 3. Berikan terapi oksigen
2. Monitor respirasi dan oksigenasi 4. Monitor aliran oksigen
3. Auskultasi bunyi napas
4. Anjurka pasien untuk memberikan minuman hangat Pengaturan Posisi
5. Kolaborasi dalam pemberian terapi nebulizer sesuai indikasi 1. Posisikan untuk mengurangi dyspnea
6. Berikan oksigen 2. Monitor status oksigenasi sebelum dan setelah
7. Lakukan penghisapan (suction) sesuai indikasi perubahan posisi

Manajemen Jalan Napas Manajemen Obat


1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi 1. Tentukan obat apa yang diperlukan, dan kelola
2. Ajarkan cara batuk efektif menurut resep
3. Auskultasi suara napas, identifikasi adanya suara napas tambahan 2. Monitor mengenai efek terapeutik obat
4. Keluarkan sekret dengan meminta batuk efektif atau dengan 3. Monitor efek samping obat
suction
5. Berikan bronkodilator jika diperlukan
NOC DAN NIC

Hipertermi Ansietas

NOC: NOC:
Termoregulasi Kontrol Diri: Kecemasan
Kriteria Hasil: Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
hipertermi teratasi dengan kriteria hasil: ansietas klien teratasi dengan kriteria hasil:
1. TTV dalam batas normal 1. Mencari informasi untuk mengurangi ansietas
2. Menggunakan koping efektif
NIC: 3. Mengontrol respon ansietas
Pengaturan Demam
1. Monitor tekanan darah, nadi, dan respirasi NIC:
2. Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipertermia Pengurangan Kecemasan
3. Anjurkan intake cairan dan nutrisi yang adekuat 1. Lakukan pendekatan dengan tenang
4. Anjurkan pasien bagaiamana mencegah demam 2. Jelaskan semua prosedur, diagnosis, pengobatan, dan
prognosis
Perawatan Demam 3. Bantu klien mengidentifikasi situasi yang menyebabkan
1. Monitor suhu dan warna kulit cemas
2. Monitor kehilangan cairan 4. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi
3. Berikan antipiretik jika diperlukan 5. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku klien
4. Monitor intake dan output 6. Berada disisi klien untuk meningkatkan rasa aman dan
5. Berikan cairan IV mengurangi ketakutan
6. Berikan kompres dengan handuk 7. Dorong keluarga untuk mendampingi klien dengan cara yang
tepat
Manajemen Cairan 8. Dengarkan klien
1. Jaga intake yang akurat dan catat output pasien 9. Dorong verbalisasi perasaan, perspsi dan ketakutan
2. Monitor status hidrasi (mis, membrane mukosa 10. Berikan aktivitas pengganti yang bertujuan untuk
mengurangi tekanan
lembab, denyut nadi adekuat)
3. Berikan cairan dengan tepat Peningkatan Koping
4. Tingkatkan asupan oral (mis, memberikan sedotan, 1. Puji pemahaman klien tentang proses penyakit
menawarkan cairan diantara waktu makan) 2. Pahami perspektif klien terhadap situasi yang menyebabkan
5. Tawarkan minuman ringan dan buah-buahan segar/jus stress
buah 3. Dukung klien mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan
yang dimiliki
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

2. Doctherman McCloskey Joanne, Bulecheck .N Gloria. 2008. Nursing interventions


Classification (NIC). United states of America : Mosby.

3. Herdman. T.H. NANDA International Nursing Diagnosis: Definitions and Classification


2018 – 2020. Jakarta : EGC.

4. Moorhead Sue , Jonson Marion , L.Mass dkk. 2008 Nursing Outcomes Classification
(NOC). United states of America : Mosby .

5. Price & Wilson. 2006. Patofisiologi KonsepKlinis Proses Penyakit. Volume 2. Edisi 6.
Jakarta: EGC.

6. Price, S. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta : EGC.

7. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, et al. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III.
Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing.

8. Somantri Irman. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan


Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.