Anda di halaman 1dari 22

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DIINDONESIA SAMPAI DENGAN

SAAT INI

Widya Sustipa
Prodi Tadris Matematika, Institut Agama Islam Negeri Kerinci
Email : widyha0703000@gmail.com

Abstrak

Pendidikan merupakan bagian yang inhern dalam kehidupan manusia. Dan,


manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Karena hal itulah,
maka pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital dalam kelangsungan
hidup manusia. Tak terkecuali pendidikan Islam, yang dalam sejarah
perjalanannya memiliki berbagai dinamika. Eksistensi pendidikan Islam
senyatanya telah membuat kita terperangah dengan berbagai dinamika dan
perubahan yang ada. Sejarah Pendidikan merupakan suatu proses belajar mengajar
yang membiasakan kepada warga masyarakat sedini mungkin untuk menggali,
memahami dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai yang
terpujikan dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan ciri
pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Islam sendiri adalah proses
bimbingan terhadap peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik
(insan kamil) Keberhasilan dan kemajuan pendidikan di masa kerajaan Islam di
Aceh, tidak terlepas dari pengaruh Sultan yang berkuasa dan peran para ulama
serta pujangga, baik dari luar maupun setempat, seperti peran Tokoh pendidikan
Hazah Fansuri, Syamsudin As-Sumatrani, dan Syaeh Nuruddin A-Raniri, yang
menghasilkan karya-karya besar sehingga menjadikan Aceh sebagai pusat
pengkajian Islam.

Kata kunci : Sejarah Islam, Pendidikan Islam diindonesia

1
Pendahuluan

Lahirnya agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW. pada abad ke-7 M.
adalah suatu hal yang sangat luar biasa yang pernah dialami oleh umat manusia.
Islam sebagai landasan spiritual dan social, memiliki struktur ajaran moral dan
program hidup praktis yang tidak terpisahkan, segala bagian-bagiannya
merupakan kesatuan yang terpadu secara harmonis, saling mengisi dan saling
menunjang. Sebagai suatu ajaran, Islam memberikan jaminan hubungan metafisik
antara manusia dengan Tuhan dan hubungan duniawi antara individu dengan
lingkungan masyarakatnya serta lingkungan alamnya.
Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam
pertumbuhan dan perkembangannya. Mulai dari Rasulullah SAW1. sendiri diikuti
para Shahabat, Tabi’in-tabi’in, para Tabi’it tabi’in dan ulama-ulama, Islam
disebarkan ke berbagai penjuru dunia. Hingga pertumbuhan dan perkembangan
agama Islam sampai ke Indonesia, dengan pengalaman naik turun, maju mundur,
dan berliku-liku. Penyebaran Islam di Indonesia melalui berbagai cara, dengan
cara berdagang, melakukan perkawinan, pendekatan seni dan budaya, terjun
dalam pemerintahan, dan tidak kalah penting adalah dari unsur pendidikan.
Peranan pendidikan dalam membina Islam sangat besar, dalam usaha
menciptakan kekuatan-kekuatan yang mendorong kearah pencapaian tujuan yang
dikehendaki. Kegiatan pendidikan Islam di Indonesia lahir dan tumbuh serta
berkembang dengan masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Kegiatan ini
merupakan pengetahuan dan pengalaman yang penting bagi kelangsungan
perkembangan Islam dan umat Islam, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Pendidikan Islam itu bahkan menjadi tolok ukur, bagaimana Islam dan
umatnya telah memainkan peranannya dalam berbagai aspek social, politik
maupun budaya. Oleh karena itu, untuk melacak sejarah pendidikan Islam di
Indonesia tidak mungkin lepas dari fase-fase yang dilaluinya. Dalam makalah ini,
penyusun hanya memasukkan tiga fase, yaitu: Pendidikan Islam di Indonesia
pada zaman kerajaan-kerajaan Islam, Pendidikan Islam di Indonesia pada zaman
penjajahan Belanda dan Pendidikan Islam di Indonesia pada zaman penjajahan
Jepang. Dari ketiga fase tersebut diharapkan bisa sedikit membantu dalam
melacak sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Bahan Dan Metode Penulisan


Metode penelitian dan pengumpulan data dalam jurnald ini di lakukan dengan
sistem dokumentatif, yaitu mengambil referensi bahan dari beberapa sumber.

1
Zuhairini mukhtarom, sejarah pendidikan islam ,(jakarta : bumi Aksara, 1997),hal.130

2
Hasil Dan Pembahasan
1. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab “Tarbiyah” dengan kata kerjanya “Robba” yang berarti
mengasuh, mendidik, memelihara. Menurut pendapat ahli, Ki Hajar
Dewantara pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak,
maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggitingginya. Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam
pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan
rohaninya.2
Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian
yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia
yang ideal. Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang
nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu
menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Agama Islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat
manusia mengenai berbagai aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya
duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah
mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan
pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan
terarah.
Jadi, Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan
kemampuan sseseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-
cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak
kepribadiannya, dengan kata lain pendidikan Islam adalah suatu sistem
kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh
hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek
kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi.
Adapun yang dimaksud dengan pendidikan Islam menurut para ahli yaitu:
a. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba : Pendidikan islam adalah
bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam
menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-
ukuran Islam.
b. Menurut Musthafa Al-Ghulayaini : Pendidikan Islam ialah
menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa
pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat,
2
Zakiah drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (jakarta : PT Aksara 2000),hal.25

3
sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam)
jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta
bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
Namun dari perbedaan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan adanya
titik persamaan yang secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut :
Pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa
kepada anak didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian
muslim. Sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 1-5
Artinya (1) Alif laam miim.(2)Kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan
padanya; petunjuk bagi rnereka yang bertaqwa,(3)(yaitu) mereka yang
beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebagian rezki, yang Kami anugerahkan kepada mereka,(4) Dan mereka yang
beriman kepada Kitab (al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-
kitab yang telah diturunkan sebelummu; serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-
nya, dan rnerekalah orang-orang yang beruntung.

2. Sejarah Masuknya Pendidikan Islam Ke Indonesia


Sejarah Pendidikan Islam dimulai sejak agama Islam masuk ke Indonesia
Agama islam datang ke Indonesia dibawa oleh pedagang-pedagang dari
Gujarat, disiarkan secara damai tanpa paksaan, kekerasan atau perang. Dalam
penyiaran islam pada tahun-tahun permulaan dilakukan oleh pemuka
masyarakat yang dikenal dengan sebutan para wali.Parawali inilah yang
berjasa mengembangkan agama islam, terutama di pulau Jawa yang dikenal
dengan sebutan wali songo. pendidikan islam yang oleh sebagian ahli sejarah
mengatakan bahwa awal mula masuknya di pulau Suamtera bagian utara di
daerah Aceh. Artinya, sejarah pendidikan Islam sama tuanya dengan
masuknya agama Islam keIndonesia. Hal ini disebabkan karena pemeluk
agama baru tersebut sudah tentu ingin mempelajari dan mengetahui lebih
dalam tentang ajaran-ajaran Islam. Ingin pandai sholat, berdoa dan membaca
al-Quran yang menyebabkan timbulnya proses belajar, meskipun dalam
pengertian yang amat sederhana.
Kegiatan pendidikan Islam tersebut merupakan pengalaman dan
pengetahuan yang penting bagi kelangsungan perkembangan Islam dan umat
Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas. Pendidikan Islam itu bahkan
menjadi tolak ukur, bagaimana Islam dan umatnya telah memainkan
perananya dalam berbagai aspek sosial, politik, budaya.Pada tahap awal
pendidikan islam dimulai dari kontak-kontak mubaligh (pendidik) dengan
peserta didiknya. Setelah komunitas muslim terbentuk di suatu daerah tersebut
tentu mereka membangun tempat peribadatan dalam hal ini disebut masjid.
Masjid merupakan lembaga pendidikan Islam yang pertama muncul

4
disamping tempat kediaman ulama dan mubaligh. Setelah itu muncullah
lembaga-lembaga pendidikan lainnya seperti pesantren, dayah, ataupun surau.
Nama-nama tersebut walaupun berbeda tetapi hakikatnya sama yakni sebagai
tempat menuntut ilmu pengetahuan keagamaan. Perbedaan nama itu adalah
dipengaruhi oleh perbedaan tempat.
Inti dari pendidikan pada masa awal tersebut adalah ilmu-ilmu keagamaan
yang dikonsentrasikan dengan membaca kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik
menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya ilmu keagamaan seseorang.3
Sejarah Pendidikan Islam dimulai sejak agama Islam masuk ke Indonesia
yang oleh sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa awal mula masuknya di
pulau Suamtera bagian utara di daerah Aceh. Artinya, sejarah pendidikan
Islam sama tuanya dengan masuknya agama Islam keIndonesia. Hal ini
disebabkan karena pemeluk agama baru tersebut sudah tentu ingin
mempelajari dan mengetahui lebih dalam tentang ajaran-ajaran Islam. Ingin
pandai sholat, berdoa dan membaca al-Quran yang menyebabkan timbulnya
proses belajar, meskipun dalam pengertian yang amat sederhana.
Dari sinilah mulai timbul pendidikan Islam, dimana pada mulanya mereka
belajar di rumah-rumah, langgar/surau, masjid kemudian berkembang menjadi
pondok pesantren. Setelah itu baru timbul sistem madrasah yang teratur
sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
Kendatipun pendidikan Islam dimulai sejak pertama Islam itu sendiri
menancapkan dirinya di kepulauan nusantara, namun secara pasti tidak dapat
diketahui bagaimana cara pendidikan pada masa permulaan Islam di
Indonesia, seperti tentang buku yang dipakai, pengelolanya dan sistemnya.
Yang dapat dipastikan hanyalah pendidikan Islam pada waktu itu telah ada,
tetapi dalam bentuk yang sangat sederhana.

2.1 Periode sejarah pendidikan indonesia dengan Pengembangan Melalui


Proses Adaptasi
Pada tahap awal pendidikan islam, pendidikan berlangsung secara
informal. Disinilah para Muballigh banyak berperan, yaitu dengan
memberikan contoh teladan dalam sikap hidup mereka sehari-hari. Para
Muballigh itu menunjukan akhlaqul karimah, sehingga masyarakat yang
menjadi tertarik untuk memeluk agama islam dan mencontoh perilaku
mereka.
Didalam sejarah islam, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, rumah-
rumah ibadah difungsikan sebagai tempat pendidikan. Dengan demikian,

3
Haidar putra daulay. Pendidikan Islam Dalam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Di Indonesia.
(jakarta : kencana 2004 ). Hal. 145-146

5
masjid berfungsi sebagai tempat pendidikan adalah merupakan suatu
keharusan di kalangan masyarakat muslim.
Adanya masjid tersebut dapat pula dipastikan bahwa mereka
menggunakannya untuk melaksanakan proses pendidikan islam, dan sejak
saat itu pula mulai berlangsungnya pendidikan non formal.
Selain itu, penyebaran Islam juga dilakukan melalui hubungan
perdagangan di luar Nusantara hal ini, karena para penyebar dakwah atau
mubaligh merupakan utusan dari pemerintahan Islam yang datang dari luar
Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para
mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun
menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli, hingga para
pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya,
karena umumnya pedagang dan ahli kerajaanlah yang pertama mengadopsi
agama baru tersebut4. Dan dengan demikian masyarkat atau rakyatnya
memeluk agama Islam seperti yang terjadi pada beberapa kerjaaan, yaitu
Kerajaan Samudra pasai, Perlak, Aceh Darussalam, dan Maluku, dan
beberapa kerajaan lainnya.
2.2 Periode sejarah pendidikan islam di indonesia pada zaman kerajaan
islam
1. Zaman Kerajaan Islam ke-1 di pasai
Kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Pasai, berdiri
pada abad ke-10 M. dengan rajanya yang pertama Al-Malik Ibrahim
bin Mahdum dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah. Ibnu
Batutah dari Maroko, mengelilingi dunia dan singgah di kerajaan Pasai
pada zaman Al-Malik Al-Zahir menerangkan sistem pendidikan yang
berlaku di zaman kerajaan Pasai, sebagai berikut:
a. Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah
fiqih mazhab Syafi’i.
b. Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis taklim
dan halaqah.
c. Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama.
d. Biaya pendidikan agama bersumber dari negara5.
2. Kerajaan Islam yang ke-2 aceh
Kerajaan islam yang kedua adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang
ke-6 bernama Sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin, adalah
seorang ulama yang mendirikan Perguruan Tinggi Islam. Lembaga
tersebut mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang
berbobot pengetahuan tinggi, seperti kitab Al-Um karangan Imam

4
http://id.wikipedia.org/wiki/sejarah_indonesia
5
Zuhairini. Sejarah pendidikan islam. (jakarta : Bumi Aksara,2000) hal.135-136

6
Syafi’i. Dari Pasai dan Perlak ini, dakwah Islam disebarkan ke negeri
Malaka, Sumatera Barat, dan Jawa Timur.
Kerajaan Aceh Darussalam yang diproklamasikan pada tanggal 12
Zulkaedah 916 H, menyatakan perang terhadap buta huruf dan buta
ilmu. Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan
sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan di luar negeri. Bidang
pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar mendapat
perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga Negara yang
bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, di antaranya:
a. Balai Seutia Hukama, lembaga ilmu pengetahuan, tempat
berkumpulnya para ulama, ahli piker dan cendekiawan untuk
membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
b. Balai Seutia Ulama, jawatan pendidikan yang mengurusi
masalah pendidikan.
c. Balai Jamaah Himpunan Ulama, tempat studi para ualam dan
sarjana dalam membahas persoalan-persoalan pendidikan.
Adapun jenjang pendidikannya adalah sebagai berikut:
a. Meunasah/Madrasah, berfungsi sebagai sekolah dasar, terdapat
di setiap kampung, materi yang diajarkan: menulis dan
membaca huruf Arab, ilmu agama, bahasa Jawi/Melayu,
akhlak, dan sejarah Islam.
b. Rangkang, masjid sebagai tempat berbagai aktifitas umat
termasuk pendidikan, setingkat dengan Madrasah Tsanawiyah,
ada di setiap mukim, materi yang diajarkan: bahasa Arab, ilmu
bumi, sejarah, berhitung (hisab), akhlak, fiqih, dan lain-lain.
c. Dayah, setingkat dengan Madrasah Aliyah, ada di setiap daerah
Ulebalang dan terkadang berpusat di masjid, materi yang
diajarkan: fiqih (hokum Islam), bahasa Arab, tauhid,
tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah/tata Negara, ilmu pasti, dan
faraid.
d. Dayah Teuku Cik, setingkat dengan perguruan tinggi atau
akademi, materinya: fiqih, tafsir, hadits, tauhid, tasawuf, ilmu
bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata Negara,
mantiq, ilmu falaq, dan filsafat.
Melihat lembaga dan jenjang di atas, jelaslah bahwa ilmu
pengetahuan dan pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam telah
mengalami perkembangan yang sangat pesat6.
3. Zaman Walisongo

6
Ibid.hal. 142

7
Peranan para Wali (Walisongo) dalam penyebaran agama Islam
sudah tidak diragukan lagi, sangat besar sekali. Dengan kerja keras dan
ketekunan serat keikhlasan beliau agama Islam mampu merebut hati
masyarakat. Beliau menyebarkan Islam di Jawa, dengan berdirinya
kerajaan para wali yaitu kerajaan Demak.
Metode pendidikan yang digunakan oleh para wali kebanyakan
menggunakan media pondok pesantren atau padepokan. Beliau-beliau
mengajarkan para santri dan masyarakat berbagai ilmu keagamaan.
Walisongo adalah orang-orang yang tingkat ketaqwaannya kepada
Allah sangat tinggi, pejuang dakwah dengan keahlian yang berbeda.
Ada yang ilmu tasawuf, ada seni budaya, juga ada yang bergerak di
dalam pemerintahan dan militer secara langsung. Semuanya diabdikan
untuk pendidikan dan dakwah Islam.
4. Zaman Kerajaan Islam di Maluku
Islam masuk Maluku melalui mubaligh dari Jawa sejak zaman
Sunan Giri dan mubaligh dari Malaka. Raja Maluku yang pertama
masuk Islam adalah Sultan Ternate, Marhum pada tahun 1465-1486
M., atas pengaruh Maulana Husain, saudagar dari Jawa. Raja Maluku
yang terkenal di bidang pendidikan dan dakwah Islam adalah Sultan
Zainul Abidin. Metode pendidikannya kurang jelas, yang jelas dakwah
Islam di Maluku menghadapi dua tantangan, yaitu datang dari orang-
orang yang menganut animisme dan orang Portugis yang
mengkristenkan penduduk Maluku.
5. Zaman Kerajaan Islam di Kalimantan
Islam mulai mantap setelah berdirinya kerajaan Islam di Bandar
Masih di bawah pimpinan Sultan Suriansyah pada tahun 1540 M. Pada
tahun 1710, di Kalimantan dia terkenal sebagai pendidik dan
mubaligh besar yang pengaruhnya meliputi seluruh Kalimantan
(Selatan, Timur dan Barat).
Sistem pendidikan di Kalimantan berupa pengajian kitab di
pesantren, sistemnya sama dengan system pengajian di pondok
pesanteran di Jawa, terutama cara-cara menerjemahkannya ke dalam
bahasa daerah.
6. Zaman Kerajaan Islam di Sulawesi
Seperti halnya poin-poin sebelumnya, system pendidikan di
Sulawesi juga pengajian kitab di pondok pesantren. Hal ini tidak lain
karena penyebar agama Islam di sana adalah para murid dari ulama-
ulama yang sebelumnya juga telah menyebarkan agama Islam melalui
pengajian dan pendidikan di pondok pesantren.

8
Kerajaan yang mula-mula berdasarkan Islam di Sulawesi adalah
kerajaan Kembar Gowa Tallo pada tahun 1605 M. Dalam dua tahun
seluruh rakyat telah memeluk Islam. Mubaligh Islam yang berjasa
adalah murid Sunan Giri, yaitu Abdul Qadir Khatib Tunggal yang
berasal dari Minangkabau.

2.3 Periode sejarah pendidikan islam diindonesia pada masa kedatangan


orang barat (penjajah)
Pada masa kolonial Belanda pendidikan Islam di sebut juga dengan
bumiputera, karena yang memasuki pendidikan islam seluruhnya orang
pribumi indonesia. Pendidikan islam pada masa penjajahan Belanda ada
tiga macam,yaitu:
a. Sistem pendidikan peralihan Hindu Islam
Sistem pendidikan peralihan Hindu Islam Sistem ini
merupakan sistem pendidikan yang masih menggabungkan antara
sistem pendidikan Hindu dengan Islam. Pada garis besarnya,
pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan dua sistem, Yakni:
sistem Keraton dan sistem Pertapa.
Sistem pendidikan keraton ini dilaksanakan dengan cara, guru
mendatangi murid-muridnya. yang menjadi murid-muridnya adalah
anak-anak para bangsawan dan kalangan keraton. Sebaliknya,
sistem pertapa, para murid mendatangi guru ke tempat
pertapaanya. adapun murid-muridnya tidak lagi terbatas pada
golongan bangsawan dan kalangan keraton, tetapi juga termasuk
rakyat jelata.
b. Sistem Pendidikan Surau
Surau merupakan istilah yang banyak digunakan di asia
tenggara, seperti Sumatera Selatan, Semenanjung Malaya, Patani
(Thailand). Namun yang paling banyak dipergunakan di
Minangkabau. Secara bahasa kata surau berarti “tempat” atau
“tempat penyembahan”. Menurut pengertian asalnya, surau adalah
bangunan kecil yang dibangun untuk menyambah arwah nenek
moyang. Beberapa ahli mengatakan bahwa surau berasal dari India
yang merupakan tempat yang digunakan sebagai pusat
pembelajaran dan pendidikan Hindu-Budha.
Seiring dengan kedatangan Islam di Minangkabau proses
pendidikan Islam dimulai oleh Syeikh Burhanudin sebagai
pembawa Islam dengan menyampaikan pengajarannya melalui
lembaga pendidikan surau. disurau ini anak laki-laki umumnya

9
tinggal, sehingga memudahkan Syeikh menyampaikan
pengajarannya.
Dalam lembaga pendidikan surau tidak mengenal birokrasi
formal, sebagaimana yang dijumpai pada lembaga pendidikan
modern. aturan yang ada didalamnya sangat dipengaruhi oleh
hubungan antar individu yang terlibat. Secara kasat mata dapat
dilihat dilembaga pendidikan surau tercipta kebebasan, jika murid
melanggar suatu aturan yang telah disepakati bersama, murid tidak
mendapatkan hukuman tapi sekedar nasihat. Lembaga surau lebih
merupakan suatu proses belajar untuk sosialisasi dan interaksi
kultural dari hanya sekedar mendapatkan ilmu pengetahuan saja.
jadi, nampak jelas fungsi learning societi disurau sangat menonjol.
Sistem pendikan di surau tidak mengenal jenjang atau tingkatan
kelas, murid dibedakan sesuai dengan tingkatan keilmuanya,
proses belajarnya tidak kaku sama muridnya (Urang Siak)
diberikan kebebasan untuk memilih belajar pada kelompok mana
yang ia kehendaki. dalam proses pembelajaran murid tidak
memakai meja ataupun papan tulis, yang ada hanya kitab kuning
merupakan sumber utamnya dalam pembelajaran. Metode utama
dalam proses pembalajaran di surau dengan memakai metode
ceramah, membaca dan menghafal. materi pembelajaran yang
diberikan Syeikh kepada urang siak dilaksanakan sambil duduk di
lantai dalam bentuk setengah lingkaran. Syeikh membacakan
materi pembelajaran, sementara murid menyimaknya dengan
mencatat beberapa catatan penting disisi kitab yang dibahasnya
atau dengan menggunakan buku khusus yang telah disiapkan oleh
murid. Sistem seperti ini terkenal dengan istilah halaqoh.7
c. Sistem Pendidikan Pesantren
Asal usul Pesantren Secara garis besarnya, dijumpai dua
macam pendapat yang mengutamakan tentang pandanganya
tentang asal usul pesantren, sebagai institusi pendidikan Islam.
Pertama pesantren adalah institusi pendidikan Islam, yang memang
berasal dari tradisi Islam. Mereka berkesimpulan, bahwa pesantren
lahir dari pola kehidupan tasawwuf, yang kemudian berkembang
diwilayah Islam, seperti Timur Tengah dan Afrika utara yang
dikenal dengan sebutan zawiyat. Kedua, pesantren merupakan
kelanjutan dari tradisi Hindu-Budha yang sudah mengalami proses
islamisasi. mereka melihat adanya hubungan antara perkataan
pesantren dengan kata Shastri dari bahasa sanskerta. Pesantern
7
Ramayulis. Sejarah pendidikan islam. (jakarta : kalam mulia 2011). Hal 353-256

10
adalah lembaag pendidikan tertua di indonesia. Pesantren sudah
menjadi milik umat Islam setelah melalui proses Islamisasi dalam
sejarah perkembangannya. KH Saifuddin Zuhri mengatakan bahwa
pesantren adalah pesantren. Disana diajarkan norma-norma yang
tidak mungkin dijumpai di tempat-tempat lain. Disana bukan
sekedar dipelajari berbagai ilmu, dan bukan pula sekedar
melakukan ibadah saja, tetapi disana diajarkan nilai-nilai yang
paling mutlak harus dimiliki seseorang dalam mengarungi
kehidupan.
1) Metode yang digunakan
a) Metode sorogan, atau layanan individual Yaitu bentuk
belajar mengajar dimana Kiyai hanya menghadapi
seorang santri yang masih dalam tingkatan dasar atau
sekelompok kecil santri yang masih dalam tingkatan
dasar. Tata caranya adalah seorang santri menyodorkan
sebuah kitab di hadapan kiyai, kemudian kiyai
membacakan beberapa bagian dari kitab itu, lalu santri
mengulangi bacaan sampai santri benar-benar membaca
dengan baik. bagi santri yang telah menguasai materi
lama, maka ia boleh menguasai meteri baru lagi.
b) Metode wetonan dan bandongan, atau layanan kolektif
Ialah metode mengajar Dengan sistem ceramah. Kiyai
membaaca kitab di hadapan kelompok santri tingkat
lanjutan dalam jumlah besar pada waktu tertentu seperti
sesudah shalat berjamaah Subuh atau Isya. di daerah
Jawa Barat metode ini lebih dikenal dengan istilah
Bendongan. Dalam metode ini Kiyai biasanya
membacakan, menerjemahkan, lalu menjelaskan
kalimat-kalimat yang sulit dari suatu kitab dan para
santri menyimak baacaan Kiyai sambil membuat
catatan penjelasan di penggir kitabnya. Di daerah Jawa
metode ini disebut (halaqoh) yakni murid mengelilingi
guru yang membahas kitab.
c) Metode Musyawarah Adalah belajar dalam bentuk
seminar (diskusi) untuk membahas setiap masalah yang
berhubungan dengan materi pembelajaran-pelajaran
santri ditingkat tinggi. metode ini menekankan
keaktifan pada pihak santri, yaitu santri harus aktif
mempelajari dan mengkaji sendiri buku yang telah

11
ditentukan kiyainya. Kiyai harus menyerahkan dan
memberi bimbingan seperlunya. 8
2) Kurikulum Pesantren
Menurut Karel A Steenbrink semenjak akhir abad ke-19
pengamatan terhadap kurikulum pesantren sudah dilakukan
misalnya oleh LWC Van Den Berg (1886) seorang pakar
pendidikan dari Belanda. berdasarkan wawancaranya dengan
para kiyai, dia mengkomplikasi suatu daftar kitab-kitab kuning
yang masa itu dipakai dipesantren-pesantren Jawa dan umunya
Madura. kitab-kitab tersebut sampai sekarang pada umumnya
masih dipakai sebagai buku pegangan dipesantren. Daftar
tersebut meliputikitab-kitab fikih, baik fikih secara umum
maupun fiikih ibadah, tata bahasa arab, ushuludin, tasawwuf
dan tafsir.
Dari hasil penelitian Van De Berg tersebut, karel A.
Steenbrink menyimpulkan antara lain kitab-kitab yang dipakai
dipesantren masa itu hampir semuanya berasal dari zaman
pertengahan dunia Islam. pendekatan terhadap al-Quran dan
tidak terjadi secara langsung melainkan hanya melalui seleksi
yang sudah dilakukan kitab-kitab lain khususnya kitab fikih.
Disamping itu, sekalipun yang masuk ke jawa adalah Islam
yang berbau sufi, namun kedudukan tasawuf menempati
kedudukan yang lemah sekali dalam daftar buku tersebut.
kesimpulan yang lebih utama adalah bahwa studi fikih dan tata
bahasa arab merupakan profil pesantren pada akhir abad ke-19
tersebut.
Pada umumnya pendidikan di pesantren mengutamakan
pelajaran fikih. Namun sekalipun mengutamakan pelajaran
fikih mata pelajaran lainya tidak di abaikan sama sekali. Dalm
hal ini mata pelajaran yang berhubungan dengan ilmu alat,
pembinaan iman, dan akhlak sangat diperlukan. pengajaran
bahasa arab adalah ilmu bantu untuk pemahaman kitab-kitab
agama. Pengajaran bahasa arab tersebut terdiri dari beberapa
cabang dan tingkatan sebagai dasar bagi santri untuk
melakukan pengajian kitab. dengan begitu, santri harus
memiliki pengetahuan bahasa arab terlebih dahulu sebelum
pengajian kitab yang sebenarnya dilaksanakan. Pengajian kitab
yang dimaksudkan itu adalah pengajian fikih dari tingkat dasar

8
Ibid hal.268

12
sampai tingkat tinggi. Kitab-kitab fikih tersebut ditulis dalam
bahasa arab.9

2.4 Periode sejarah pendidikan islam diindonesia pada masa penjajahan


jepang
Ramayulis Mengatakan bahwa, sikap penjajah jepang terhadap
pendidikan islam ternyata lebih lunak, sehingga ruang gerak pendidikan
lebih bebas ketimbang pada zaman pemerintahan kolonial belanda. Hal ini
memberikan kesempatan bagi pendidikan islam untuk berkembang.
a. Madrasah
Awal pendudukan jepang, madrasah berkembang dengan cepat
terutama dari segi kuantitas. Hal ini dapat dilihat terutama di
daerah Sumatra yang terkenal dengan madrasah awaliyahnya, yang
diilhami oleh majlis ulama tinggi.
b. Pendidikan agama di sekolah
Sekolah negeri diisi dengan pelajaran budi pekerti. Hal ini
memberi kesempatan pada guru agama islam untuk mengisinya
dengan ajaran agama, dan di dalam pendidikan agama tersebut juga
di masukan ajaran tentang jihad melawan penjajah.
c. Perguruan tinggi Islam
Pemerintah jepang mengizinkan berdirinya sekolah tinggi
Islam di jakarta yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim, KH.
Muzakkar, dan Bung Hatta.
Walaupun jepang berusaha mendekati umat islam dengan
memberikan kebebasan dalam beragama dan dalam mengembangkan
pendidikan namun para ulama tidak akan tunduk kepada pemerintahan
jepang, apabila mereka menggangu akidah umat hal ini kita dapat saksikan
bagaimana masa jepang ini perjuangan KH. Hasyim Asy’ari beserta
kalangan santri menentang kebijakan kufur jepang yang memerintahkan
untuk melakukan seikere (menghormati kaisar jepang yang dianggap
keturunan dewa matahari) . Akibat sikap tersebut beliau ditangkap dan
dipenjarakan oleh jepang selama 8 bulan.
Ramayulis juga menyimpulkan bahwa, meskipuin dunia
pendidikan secara umum terbengkalai, karena murid-muridnya sekolah
setiap hari hanya disuruh gerak badan, baris-berbaris, kerja bakti
(romusha), bernyayi dan sebagainya. Yang agak beruntung adalah
madrasah-madrasah yang ada di dalam lingkungan pondok pesantren

9
Ibid hal. 272-273

13
yang bebas dari pengwasan langsung pemerintah pendudukan jepang.
Pendidikan dalam pondok pesantren masih dapat berjalan secara wajar10.

2.5 Pendidikan Islam Pada Masa Kemerdekaan


Setelah merdeka, pendidikan islam mendapat kedudukan yang sangat
penting dalam sistem pendidikan nasional. Di Sumatra, Mahmud Yunus
sebagai pemeriksa agama pada kantor pengajaran mengusulkan kepada
kepala pengajaran agar pendidikan agama disekolah-sekolah pemerintah
ditetapkan dengan resmi dan guru-gurunya digaji seperti guru umum dan
usul pun diterima11. Selain itu pendidikan agama disekolah juga mendapat
tempat yang teratur, seksama, dan penuh perhatian. Untuk itu dibentuk
Departemen Agama pada tanggal 13 Desember 1946 yang bertugas
mengurusi penyelenggaraan pendidikan agama disekolah umum dan
madrasah serta pesantren-pesantren.
Pendidikan islam setahap demi setahap diajukan. Istilah pesantren
yang dulu hanya mengajar agama di surau dan menolak modernitas pada
zaman kolonial, sudah mulai ikut mendirikan madrasah dan sekolah
umum, sehingga pemuda islam diberi banyak pilihan. Upaya ini
merupakan usaha untuk menata diri ditengah-tengah realitas sosial modern
dan kompleks. Pesantren juga telah lebih berkembang dengan berdirinya
perguruan tinggi islam.
Sekolah agama, termasuk madrasah, ditetapkan sebagai model dan
sumber pendidikan Nasional yang berdasarkan Undang-undang 1945.
ekstensi pendidikan agama sebagai komponen pendidikan nasional
dituangkan dalam Undang-undang pokok pendidikan dan Pengajaran
Nomor 4 Tahun 1950, bahwa belajar disekolah-sekolah agama yang telah
mendapat pengakuan dari Menteri Agama dianggap telah memenuhi
kewajiban belajar12.
Pada tahun 1958 pemerintah terdorong untuk mendirikan Madrasah
Negeri dengan ketentuan kurikulum 30 % pelajaran agama dan 70 %
pelajaran umum. Sistem penyelenggaraannya sama dengan sekolah-
sekolah umum dengan perjenjangan sebagai berikut :
a. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) setingkat SD lama belajar
enam tahun.
b. Nadrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) setingkat SMP lama
belajar tiga tahun.

10
Zuhairi,Sejarah Pendidikan Islam,(jakarta :Bumi Aksara,2011), hal. 151
11
MuhammadYunus, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta : Hidakarya 1985), hal. 125
12
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam ,( Jakarta : Bumi Aksara.1995), hal.236

14
c. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) setingkat SMA lama belajar
tiga tahun.13
Pada masa awal kemerdekaan, pemerintah pemerintah dan bangsa
Indonesia mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran yang dualisti, yaitu:
a. sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah
umum yang sekuler, tak mengenal ajaran agama, yang
merupakan warisan dari pemerintah belanda.
b. Sistem pendidikan dan pengajaran islam yang tumbuh dan
berkembang di kalangan masyarakat sendiri, baik yang
bercorak isolatif-tradisional maupun yang bercorak sintesis
dengan berbagai variasi pola pendidikannya sebagaimana
uraian tersebut diatas.
Kedua sistem pendidikan tersebut sering dianggap saling bertentangan
serta tumbuh dan berkembang secara terpisah satu sama lain. Sistem
pendidikan dan pengajaran yang pertama pada mulanya hanya menjangkau
dan dinikmati oleh sebagian masyarakat, terutama kalangan atas saja.
Sedangkan yang kedua (sistem pendidikan dan pengajaran islam) tumbuh
dan berkembang di kalangan rakyat dan berurat berakar dalam
masyarakat14. Hal ini diakui oleh badan komite nasional Indonesia
pusat (BP-KNIP) dalam usul rekomendasinya yang disampaikan kepada
pemerintah, tentang pokok-pokok pendidikan dan pengajaran baru, pada
tanggal 29 Desember 194515.
Merdekanya bangsa Indonesia diharapkan bisa menggali segala
potensi yang ada, sehingga dapat digunakan dan dikembangkan untuk
tercapainya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Harapan
ini walaupun sudah lama dicanangkan, namun belum juga terwujud
sampai sekarang.
Keadaan lebih parah lagi dengan timbulnya gejala-gejala salah urus
(mis management)16. akibatnya pada bidang pendidikan fasilitasnya tidak
mampu untuk memenuhi kebutuhan. Lagi pula politik dan usaha-usaha
pendidikan tidak berhasil menjadikan sektor pendidikan sebagai faktor
penunjang bagi suatu pendidikan. Perkembangan selanjutnya pendidikan
hanya mengakibatkan benih-benih pengangguran. Lahirnya Orde Baru
(ORBA) memungkinkan pendobrakan salah urus itu dalam segala bidang
juga dalam pendidikan

13
Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam indonesia,(jakarta : PT. Rajagrafindo
persada.2005), hal. 128-129
14
Sugarda purbakawaca, pendidikan dalam alam indonesia mardeka,( jakarta : gunung
agung.1970), hal. 39
15
Muhaimin, wacana pengembanganpendidikan islam, (surabaya : pustaka pelajar.2003), hal.82
16
Djumhur, sejarah pendidikan ilmu, (bandung 1959), hal. 230

15
perkembangan masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat pada
khususnya sudah memasuki masyarakat informasi yang merupakan
kelanjutan dari masyarakat modern dengan ciri-cirinya yang bersifat
rasional,berorientasi kemasa depan, terbuka, menghargai waktu, kreatif,
mandiri dan inovatif.
Sedangkan masyarakat informasi di tinjau oleh penguasaan terhadap
teknologi informasi, mampu bersaing, serba ingin tahu, imajinatif, mampu
mengubah tantangan manjadi peluang dan menguasai berbagai metode
dalam memecahkan masalah.
Pada masyarakat informasi peranan media elektronika sangat
memegang peranan penting dan bahkan menentukan corak kehidupan.
Penggunaan teknologi elekronika seperti computer, faximile, internet, dan
lain-lain telah mengubah lingkungan informasi dari lingkungan yang
bercorak local dan nasional kepada lingkungan yang bersifat internasional,
mendunia dan global. Pada era informasi lewat komunikasi satelit dan
computer orang tidak hanya memasuki lingkunagan informasi dunia, tetapi
juga sanggup megelolahnya dan mengemukakannya secara lisan, tulisan
dan visual. Peranan media elektronika yang demikian besar akan
menggeser agen-agen sosialisasi manusia yang berlangsung secara
tradisional seperti yang dilakukan oleh orang tua, guru, pemerintah, dan
sebagainya. komputer dapat dijadikan teman bermain, orang tua yang
akrab, guru yang memberi nasehat juga sewaktu-waktu dapat memberikan
jawaban sesegara mungkin atas petanyaan eksistensisal yang mendasar17.
Kemajuan dalam bidang informasi tersebut pada akhirnya akan
berpengaruh pada kejiwaan dan keperibadian masyarakat. Pada era
informasi yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang berorintasi ke
masa depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan dan
mereka yang memiliki ciri-ciri sebagaimana yang dimiliki masyarakat
modern tersebut diatas. Dari keadaan ini, keberadaan masyarakat suatu
bangsa dengan bangsa lain menjadi satu baik dalam bidang sosial, budaya,
ekonomi dan lain sebagainya.
Itulah gambaran masa depan yang akan terjadi, dan umat manusia
pasti menghadapinya. Masa depan itu selanjutnya akan mpengaruhi dunia
pendidikan baik dalam dunia kelembagaan materi pendidikan guru metode
sarana prasarana dan lain sebagainya. hal ini pada gunanya menjadi
tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan.
Memasuki abad 21 atau melenium ketiga ini dunia pendidikan
dihadapkan kepada berbagai masalah yang sangat urgen yang apabila tidak
diatasi secara tepat, tidak mutahil dunia pendidikan akan ditinggal oleh
17
Abudin nata, manajemen pendidikan, ( jakarta: kencana.2003),hal.77

16
zaman. Kesadaran akan tampilnya dunia pendidikan dalam memecahkan
dan merespon berbagai tantangan baru yang timbul pada setiap zaman
adalah suatu hal yang logis bahkan suatu keharusan. Hal demikian dapat
dimengerti mengingat dunia pendidikan merupakan salah satu pranata
yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manuisia.
Kegagalan dunia pendidikan dalam menyipakan masa depan umat manusia
adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa.

2.6 pendidikan islam pada masa sekarang diindonesia


Pendidikan Islam adalah sebuah sarana untuk menyiapkan masyarakat
muslim yang benar-benar mengerti tentang Islam. Maka, seorang pendidik
mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya
kepada anak didik. Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan lainnya,
dalam Pendidikan Islam hanya berpusat pada nilai – nilai keislaman,
terbentuknya akhlak seseorang dan ketaatan kepada Allah.
Di Indonesia sendiri, mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama
Islam dan terbanyak di dunia. Tetapi banyaknya pemeluk agama Islam
tersebut tidak cukup memiliki kekuatan. Jumlah tersebut tidak di dukung
dengan adanya kualitas, kekompakan dan loyalitas antar umat Muslim.
Karena mereka masih berfokus dengan urusannya sendiri dan mereka juga
berkutat untuk memperkaya dirinya maupun anggotanya tanpa
memikirkan kesejahteraan umat Muslim lainnya. Bahkan ada juga umat
Muslim yang berani korupsi demi menambah kekayaannya.
Saat ini Pendidikan Islam sendiri berfungsi untuk landasan dan sarana
untuk membentuk moralitas umat Muslim di masa depan. Moralitas pada
masa depan sangatlah penting, agar tidak terjadi kekacauan yang nantinya
akan merusak martabat bangsa.
Seiring perjalanan sejarah, pendidikan Islam dari tahun ke tahun
semakin mengalami perkembangan. Apalagi setelah muncul dua
organisasi besar Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU). Kedua
organisasi ini bergerak dalam bidang dakwah melalui pendidikan, ada
yang dengan sistem klasik dan ada yang modern. Walaupun jalan yang
ditempuh oleh kedua organisasi ini dalam mengembangkan pendidikan
Islam berbeda, akan tetapi tetap tujuan utamanya sama, yaitu sama-sama
ingin menjadikan Islam tetap berkembang di Indonesia melalui cara-cara
yang menurut masing-masing biasa dilakukan.
Di zaman modern ( abad ke-19 sampai dengan sekarang ) hubungan
Islam dengan dunia Eropa dan Barat terjadi lagi. Pada zaman ini timbul
kesadaran dari umat Islam untuk membangun kembali kejayaannya dalam
bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan peradaban melalui berbagai

17
lembaga pendidikan, pengkajian, dan penelitian. Umat Islam mulai
mempelajari berbagai kemajuan yang dicapai oleh Eropa dan Barat,
dengan alasan bahwa apa yang dipelajari dari Eropa dan Barat itu
sesungguhnya mengambil kembali apa yang dahulu dimiliki umat Islam.
Modernitas sendiri berasal dari perkataan “modern” yang berarti segala
sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan masa kini. Lawan dari modern
adalah kuno, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan masa lampau.
Jadi modernitas adalah suatu pandangan dan sikap hidup dalam
menghadapi kehidupan masa kini.
Untuk mengikuti perkembangan itu, maka pendidikan Islam harus
diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern. Pendidikan
Islam perlu didesain untuk menjawab tantangan perubahan zaman
tersebut, baik pada sisi konsepnya, kurikulum, kualitas sumberdaya
insaninya, lembaga-lembaga dan organisasinya, serta mengkonstruksinya
agar dapat relevan dengan perubahan masyarakat .
Akan tetapi dalam menghadapi masalah tersebut, Pendidikan Islam
belum mampu menempatkan dirinya pada posisi yang strategis.
Dampaknya umat Islam sampai sekarang belum bisa berharap banyak
akan munculnya nuansa kreasi baru dan inovasi – inovasi ‘spektakuler’
yang dihasilkan dari lembaga pendidikan Islam.
Seorang Muslim yang memahami karakteristik kehidupan modern
diharapkan dapat melaksanakan ajaran agamanya tanpa dihantui rasa
cemas, takut, gusar, gelisah, atau perasaan bersalah sehingga tidak
memunculkan sikap fundamentalis eksklusif. Modernitas tidak perlu
dihindari karena pada dasarnya tidak bisa dipungkiri bahwa modernisasi
memiliki peluang sekaligus tantangan bagi kemajuan agama Islam.
Tantangan pendidikan Islam di zaman modern ini menurut Daniel Bell
saat ini keadaan dunia ditandai oleh lima kecenderungan yaitu :
a. Kecenderungan integrasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya
persaingan bebas dalam dunia pendidikan.
Karena menurut mereka, dunia pendidikan juga termasuk
diperdagangkan , maka dunia pendidikan saat ini juga dihadapkan pada
logika bisnis. Munculnya konsep pendidikan yang berbasis pada
sistem dan infrastruktur , manajemen berbasis mutu terpadu (Total
Quality Management / TQM) , Inter –preneur University dan lahirnya
Undang – Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) tidak lain, karena
menempatkan pendidikan sebagai komoditas yang diperdagangkan.
Penyelenggaraan pendidikan saat ini tidak hanya ditujukan untuk
mencerdaskan bangsa , memberdayakan manusia atau mencetak
manusia yang saleh, melainkan untuk menghasilkan manusia-manusia

18
yang Economic minded, dan penyelenggaraannya untuk mendapatkan
keuntungan material.
b. Kecenderungan fragmentasi politik yang menyebabkan terjadinya
peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat.
Kecenderungan ini terlihat dari adanya pengelolaan manajemen
pendidikan yang berbasis sekolah (school based management),
pemberian peluang kepada komite atau majelis sekolah / madrasah
untuk ikut dalam perumusan kebijakan dan program pendidikan,
pelayanan proses belajar mengajar yang lebih memberikan peluang
dan kebebasan kepada peserta didik, yaitu model belajar mengajar
yang partisipatif, aktif, inovatif, kreaatif, efektif dan menyenangkan.
c. Kecenderungan penggunaan teknologi canggih (sofisticated
technology) khususnya Teknologi Komunikasi dan Informasi
(TKI) seperti komputer.
Kehadiran TKI ini menyebabkan terjadinya tuntutan dari
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan cepat, transparan, tidak
dibatasi waktu dan tempat. Teknologi canggih ini juga telah masuk ke
dalam dunia pendidikan, seperti pelayanan administrasi pendidikan,
keuangan, proses belajar mengajar. Melalui TKI ini para peserta didik
atau mahasiswa dapat melakukan pendaftaran kuliah atau mengikuti
kegiatan belajar dari jarak jauh (distance-learning). Sementara itu ,
peran dan fungsi tenaga pendidik juga bergeser menjadi semaacam
fasilitator, katalisator, motivator, dan dinamisator. Peran pendidikan
saat ini tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan (agent og
knowledge). Keadaan ini pada gilirannya mengharuskan adanya model
pengelolaan pendidikan yang berbasis Teknologi Komunikasi dan
Informasi (TKI).
d. Kecenderungan interdependency (kesalingtergantungan),
yaitu suatu keadaan dimana seseorang baru dapat memenuhi
kebutuhannya apabila dibantu oleh orang lain. Ketergantungan ini juga
terjadi di dunia pendidikan, adanya badan akreditasi pendidikan baik
pada tingkat nasional maupun internasional, selain dimaksudkan untuk
meningkatkan mutu pendidikan, juga menunjukkan ketergantungan
lembaga pendidikan terhaadap pengakuan dari pihak eksternal.
Demikian pula munculnya tuntutan dari masyarakat agar peserta didik
memiliki ketrampilan dan pengalaman praktis, menyebabkan dunia
pendidikan membutuhkan atau tergantung pada peralatan praktikum
dan magang. Selanjutnya, kebutuhan lulusan pendidikan terhadap
lapangan pekerjaannya, menyebabkan ia bergantung kepada kalangan
pengguna lulusan.

19
e. Kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang
kebudayaan (new colonization in culture)
yang mengakibatkan terjadinya pola pikir (mindset) masyarakat
pengguna pendidikan, yaitu dari semula mereka belajar dalam rangka
meningkatkan kemampuan intelektual, moral, fisik dan psikisnya,
berubah menjadi belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan
penghasilan yang besar. Tidak hanya itu, kecenderungan penjajahan
baru dalam bidang kebudayaan juga telah menyebabkan munculnya
budaya pop atau budaya urban, yaitu budaya yang serba hedonistik,
materialistik, rasional, ingin serba cepat, praktis, pragmatis dan instan.
Kecenderungan budaya yang demikian itu menyebabkan ajaran agama
yang bersifat normatif dan menjanjikan masa depan yang baik
(diakhirat) kurang diminati. Mereka menuntut ajaran agama yang
sesuai dengan budaya urban. Dalam demikian , tidak mengherankan
jika mata pelajaran agama yang disajikan secara normatif dan
konvensional menjadi tidak menarik dan ketinggalan zaman. Keadaan
ini mengharuskan para guru atau ahli agama untuk melakukan
reformulasi, reaktualisasi, dan kontekstualisasi terhadap ajaran agama,
sehingga ajaran agama tersebut akan terasa efektif dan transformatif.

20
Penutup
Kesimpulan
Lahirnya agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW. pada abad ke-7 M.
adalah suatu hal yang sangat luar biasa yang pernah dialami oleh umat manusia.
Islam sebagai landasan spiritual dan social, memiliki struktur ajaran moral dan
program hidup praktis yang tidak terpisahkan, segala bagian-bagiannya
merupakan kesatuan yang terpadu secara harmonis, saling mengisi dan saling
menunjang. Sebagai suatu ajaran, Islam memberikan jaminan hubungan metafisik
antara manusia dengan Tuhan dan hubungan duniawi antara individu dengan
lingkungan masyarakatnya serta lingkungan alamnya.
Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan kemampuan
sseseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai
Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya, dengan kata lain
pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek
kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi
pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi.
Sejarah Masuknya Pendidikan Islam Ke Indonesia :
1. Periode pengembangan dengan melalui proses adaptasi
2. Periode pendidikan islam pada masa kerajaaa-kerajaan islam
3. Periode pendidikan islam pada masa kedatangan orang barat ( penjajahan )
4. Periode pendidikan pada masa penjajahan jepang
5. Periode pendidikan islam pada masa indonesia mardeka

21
Daftar Pustaka

drajat Zakiah, 2000, Ilmu Pendidikan Islam, jakarta : PT Aksara


daulay putra Haidar, 2004, Pendidikan Islam Dalam Dalam Sistem
PendidikanNasional Di Indonesia, jakarta : kencana
Ramayulis, 2011, Sejarah pendidikan islam. jakarta : kalam mulia
Zuhairi,2011,Sejarah Pendidikan Islam,jakarta :Bumi Aksara
Yunus Muhammad, 1985, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta
:Hidakarya
Sunanto Musyrifah,2005, Sejarah Peradaban Islam indonesia,jakarta : PT.
Rajagrafindo persada.
purbakawaca Sugarda, 1970, pendidikan dalam alam indonesia mardeka,
jakarta : gunung agung.
Muhaimin , 2003, wacana pengembanganpendidikan islam, surabaya :
pustaka Pelajar.
Djumhur,1959, sejarah pendidikan ilmu, bandung
Nata Abudin, 2003, manajemen pendidikan, jakarta: kencana.
http://id.wikipedia.org/wiki/sejarah_indonesia

22