Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunianya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan panulisan makalah ini
yang berjudul “Hak Asasi Manusia (HAM)”.
Selawat beriringkan salam juga tidak lupa kami sampaikan kepada Nabi kita Muhammad
SAW, karena dengan berkat kegigihan dan kesabaran beliaulah kita dapat menuntut ilmu
pengetahuan seperti sekarang ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, baik dari cara penulisan
maupun isi yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun sehingga kami dapat berkarya dengan lebih baik di masa yang
akan datang.
Akhirnya dengan satu harapan dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kami khususnya dan bagi rekan-rekan pembaca umumnya.
Amiin Yarabbal ‘alamin.

Kendari, April 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................... . 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. . 2
C. Tujuan penulisan................................................................................ . 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Hak asasi manusia............................................................. 2
B. Sejarah perkembangan HAM di Indonesia........................................ 3
C. Macam-macam HAM........................................................................ 7
D. Pelaksanaan Ham dalam Islam.......................................................... 9

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan........................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 12
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam
penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan
interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus
diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama
dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi
dari pada era sebelum reformasi.
Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak manusia itu
dilahirkan.Hak asasi dapat dirumuskan sebagai hak yang melekat dengan kodrat kita sebagai
manusia yang bila tidak ada hak tersebut, mustahil kita dapat hidup sebagai manusia.Hak ini
dimiliki oleh manusia semata – mata karena ia manusia, bukan karena pemberian masyarakat
atau pemberian negara. Maka hak asasi manusia itu tidak tergantung dari pengakuan manusia
lain, masyarakat lain, atau Negara lain. Hak asasi diperoleh manusia dari Penciptanya, yaitu
Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan hak yang tidak dapat diabaikan.
Sebagai manusia, ia makhluk Tuhan yang mempunyai martabat yang tinggi. Hak asasi
manusia ada dan melekat pada setiap manusia. Oleh karena itu, bersifat universal, artinya berlaku
di mana saja dan untuk siapa saja dan tidak dapat diambil oleh siapapun. Hak ini dibutuhkan
manusia selain untuk melindungi diri dan martabat kemanusiaanya juga digunakan sebagai
landasan moral dalam bergaul atau berhubungan dengan sesama manusia.
Pada setiap hak melekat kewajiban. Karena itu,selain ada hak asasi manusia, ada juga
kewajiban asasi manusia, yaitu kewajiban yang harus dilaksanakan demi terlaksana atau
tegaknya hak asasi manusia (HAM). Dalam menggunakan Hak Asasi Manusia, kita wajib untuk
memperhatikan, menghormati, dan menghargai hak asasi yang juga dimiliki oleh orang lain.
Kesadaran akan hak asasi manusia, harga diri, harkat dan martabat kemanusiaannya,
diawali sejak manusia ada di muka bumi. Hal itu disebabkan oleh hak-hak kemanusiaan yang
sudah ada sejak manusia itu dilahirkan dan merupakan hak kodrati yang melekat pada diri
manusia. Sejarah mencatat berbagai peristiwa besar di dunia ini sebagai suatu usaha untuk
menegakkan hak asasi manusia.

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan pengertian hak asasi manusia
2. Menjelaskan sejarah perkembangan HAM di Indonesia
3. Menjelaskan macam-macam HAM
4. Bagaimana upaya pemerintah dalam penegakan HAM?
5. Apa saja praserta masyarakat dalam penegakan HAM?
6. Apa saja macam-macam perlindungan terhadap korban pelanggaran HAM?
7. Apa penyebab terjadinya pelanggaran HAM?
8. Contoh-contoh pelanggaran HAM

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan kami dalam menyusun makalah ini adalah disamping untuk memenuhi
tugas dalam perkuliahan juga agar kami khususnya dan semua mahasiswa pada umumnya
mampu memahami Hak asasi manusia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hak Asasi Manusia


Menurut Teaching Human Rights yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB), hak asasi manusia (HAM) adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang
tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Hak hidup, misalnya, adalah klaim
untuk memperoleh dan melakukan segala sesuatu yang dapat membuat seseorang tetap hidup.
Tanpa hak tersebut eksistensinya sebagai manusia akan hilang.
Senada dengan pengertian HAM di atas adalah pernyataan awal hak asasi manusia yang
dikemukakan oleh John Locke. Menurut John Locke, hak asasi manusia adalah hak-hak yang
diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai sesuatu yang bersifat kodrati.
Karena sifatnya yang demikian, maka tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini yang dapat
mencabut hak asasi setiap manusia.HAM adalah hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir
sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa; bukan pemberian manusia atau lembaga kekuasaan.
Hak asasi manusia ini tertuang dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia. Menurut UU ini, hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan dan merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hokum, pemerintah dan setiap orang
demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Berikut ini pengertian HAM
menurut beberapa ahli:
1. Prof. Dr Dardji darmodiharjo, sh, HAM adalah hak-hak dasar / pokok yang dibawa manusia
sejak lahir sebagaianugrahtuhan yang maha esa.
2. Laboratorium pancasila IKIP Malang. HAM adalah hak yang melekat pada martabat
manusia sebagai insan ciptaan TuhanYang Maha Esa.
3. Prof. Mr. Kuntjono Purbo Pranoto. HAM adalah hak yang dimiliki manusia menurut
kodratnya yang tidakdipisahkan hakikatnya.
4. Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching Human Rights,
United Nations sebagaimanadikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa HAM adalah hak-
hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanyamanusia mustahil dapat hidup sebagai
manusia.
5. John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan
Yang Maha Pencipta sebagaihak yang kodrati. (Mansyur Effendi, 1994).

B. Sejarah Perkembangan HAM di Indonesia


1. Periode sebelum kemerdekaan
Pemikiran HAM dalam periode sebelum kemerdekaan dapat dijumpai dalam sejarah
kemunculan organisasi pergerakan nasional, seperti Boedi Oetomo (1908), Serikat Islam (1911),
Indische Partij (1912), Partai Komunis Indonesia (1920), Perhimpunan Indonesia (1925), dan
Partai Nasional Indonesia (1927). Lahirnya organisasi pergerakan nasional itu tidak bisa
dilepaskan dari sejarah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penguasa colonial, penjajahan,
dan pemerasan hak-hak masyarakat terjajah. Puncak perdebatan HAM dilontarkan oleh para
tokoh pergerakan nasional seperti, Soekarno, Agus Salim, Mohammad Natsir, Mohammad
Yamin, K.H. Mas Mansyur, K.H. Wachid Hasyim, Mr. Maramis, terjadi dalam siding-sidang
BPUPKI. Dalam sidang BPUPKI tersebut para tokoh nasional berdebat dan berunding
merumuskan dasar-dasar ketatanegaraan dan kelengkapan Negara yang menjamin hak dan
kewajiban Negara dan warga Negara dalam Negara yang hendak diproklamirkan.
Dalam sejarah pemikiran HAM di Indonesia, Boedi Oetomo mewakili organisasi
pergerakan nasional mula-mula yang menyuarakan kesadaran berserikat dan mengeluarkan
pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan pada pemerintah colonial maupun lewat tulisan di
surat kabar. Inti dari perjuangan Boedi Oetomo adalah perjuangan akan kebebasan berserikat dan
mengeluarkan pendapat melalui organisasi massa dan konsep perwakilan rakyat.
Diskursus HAM terjadi pula dikalangan tokoh pergerakan Serikat Islam seperti
Tjokro Aminoto, H. Samanhudi, Agus Salim.Mereka menyuarakan pentingnya usaha-usaha
untuk memperoleh kehidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial yang
dilakukan pemerintah colonial.Berbeda dengan pemikiran HAM di kalangan tokoh nasionalis
sekuler, para tokoh SI mendasari perjuangan pergerakannya pada prinsip-prinsip HAM dalam
ajaran Islam.
2. Periode setelah kemerdekaan
a. Periode 1945-1950
Sepanjang periode ini, wacana HAM bisa dicirikan pada:
Bidang sipil dan politik:
a) UUD 1945 (Pembukaan, pasal 26-30, penjelasan pasal 24 dan 25)
b) Maklumat Pemerintah 1 November 1945
c) Maklumat Pemerintah 3 November 1945
d) Maklumat pemerintah 14 November 1945
e) KRIS, khususnya bab V, pasal 7-33
f) KUHP pasal 99
Bidang ekonomi, social, dan budaya:
a) UUD 1945 (Pasal 27, 31, 33, 34, penjelasan pasal 31-32)
b) KRIS pasal 36-40
b. Periode 1950-1959
Menurut catatan Bagir Manan, masa gemilang sejarah HAM Indonesia pada masa
ini tercermin pada lima indicator HAM:
a) Munculnya partai-partai politik dengan beragam ideology
b) Adanya kebebasan pers
c) Pelaksanaan pemilihan umum secara aman, bebas, dan demokratis
d) Control parlemen atas eksekutif
e) Perdebatan HAM secara bebas dan demokratis
c. Periode 1959-1966
Periode ini merupakan masa berakhirnya Demokrasi Liberal, digantikan oleh system
demokrasi terpimpin yang terpusat pada kekuasaan Presiden Soekarno.Melalui system demokrasi
terpimpin kekuasaan terpusat di tangan presiden.Presiden tidak dapat dikontrol oleh parlemen,
sebaliknya parlemen dikendalikan oleh presiden.Kekuasaan presiden bersifat absolut, bahkan
dinobatkan sebagai Presiden RI seumur hidup.Akibat langsung dari model pemerintahan yang
sngat individual ini adalah pemasungan hak-hak asasi warga Negara.Semua pandangan politik
masyarakat diarahkan harus sejalan dengan kebijakan pemerintah yang otoriter. Dalam dunia
seni misalnya, atas nama revolusi pemerintahan Presiden Soekarno menjadi lembaga kebudayaan
rakyat yang berafilasi kepada PKI sebagai satu-satunya lembaga seni yang diakui. Sebaliknya
lembaga selain Lekra dianggap anti pemerintah atau kontra-revolusi.
d. Periode 1966-1998
Diantara butir penolakan pemerintah Orde Baru terhadap konsep universal HAM adalah:
a) HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya
bangsa yang tercermin dalam pancasila
b) Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam
rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal HAM
c) Isu HAM sering kali digunakan oleh Negara-negara barat untuk memojokkan Negara yang
sedang berkembang seperti Indonesia.
e. Periode pasca orde baru
Kesungguhan pemerintahan B.J. Habibie dalam perbaikan pelaksanaan HAM
ditunjukkandengan pencanangan program HAM yang dikenal dengan istilah Rencana Aksi
Nasional HAM, pada Agustus 1998. Agenda HAM ini bersandarkan pada empat pilar, yaitu:
1) Persiapan pengesahan perangkat Internasional di bidang HAM
2) Dimensi informasi dan pendidikan bidang HAM
3) Penentuan skala prioritas pelaksanaan HAM
4) Pelaksanaan isi perangkat Internasional di bidang HAM yang telah diratifikasi melalui
perundang-undangan nasional.
Komitmen pemerintah terhadap penegakan HAM juga ditunjukkan dengan
pengesahan UU tentang HAM, pembentukan Kantor Menteri Negara Urusan HAM yang
kemudian digabung dengan Departemen Hukum dan Perundang-undanganmenjadi Departemen
Kehakiman dan HAM, penambahan pasal-pasal khusus tentang HAM dalam Amandemen UUD
1945, penerbitan inpres tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional,
pengesahan UU tentang pengadilan HAM. Pada tahun 2001, Indonesia juga menandatangani dua
protocol hak anak, yakni protocol yang terkait dengan larangan perdagangan, prostitusi,dan
pornografi anak. Menyusul kemudian, pada tahun yang sama pemerintah membuat beberapa
pengesahan UU di antaranya tentang perlindungan anak, pengesahan tentang penghapusan
kekerasan dalam rumah tangga, dan penerbitan keppres tentang Rencana Aksi Nasional (RAN)
HAM Indonesia tahun 2004-2009.
Perkembangan pemikira HAM dibagi dalam 4 generasi, yaitu:
1. Generasi pertama berpendapat bahwa pemikiran HAM hanya berpusat pada bidang hukum
dan politik. Fokuspemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik
disebabkan oleh dampak dan situasi perang duniaII, totaliterisme dan adanya keinginan
Negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan sesuatu tertib hukumyang baru.
2. Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak
sosial, ekonomi, politik danbudaya. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukan
perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasimanusia. Pada masa generasi kedua,
hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangandengan hak
sosial-budaya, hak ekonomi dan hak politik.
3. Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Generasi ketiga menjanjikan
adanya kesatuan antarahak ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum dalam suatu
keranjang yang disebut dengan hak-hak melaksanakanpembangunan. Dalam pelaksanaannya
hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangandimana terjadi
penekanan terhadap hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas
utama,sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban, karena
banyak hak-hak rakyat lainnyayang dilanggar.
4. Generasi keempat yang mengkritik peranan negara yang sangat dominant dalam proses
pembangunan yangterfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak
negative seperti diabaikannya aspek kesejahteraanrakyat. Selain itu program pembangunan
yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhanmelainkan
memenuhi kebutuhan sekelompok elit. Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh
Negara-negara dikawasan Asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi
manusia yang disebut Declaration of the basic Duties of Asia People and Government.

Perkembangan pemikiran HAM dunia bermula dari:


1. Magna ChartaPada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di
kawasan Eropa dimulai denganlahirnya magna Charta yang antara lain memuat pandangan
bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaanabsolute (raja yang menciptakan hukum, tetapi
ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya), menjadidibatasi kekuasaannya dan
mulai dapat diminta pertanggung jawabannya dimuka hukum(MansyurEffendi,1994).
2. The American declarationPerkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The
American Declaration of Independence yanglahir dari paham Rousseau dan Montesquuieu.
Mulailah dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak didalam perut ibunya, sehingga
tidaklah logis bila sesudah lahir ia harus dibelenggu.
3. The French declarationSelanjutnya, pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration
(Deklarasi Perancis), dimana ketentuan tentanghak lebih dirinci lagi sebagaimana dimuat
dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidak boleh adapenangkapan tanpa alasan
yang sah. Dalam kaitan itu berlaku prinsip presumption of innocent, artinya orang-orang
yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidak bersalah, sampai
ada keputusanpengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah.
4. The four freedomAda empat hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak
kebebasan memeluk agama danberibadah sesuai dengan ajaran agama yang diperlukannya,
hak kebebasan dari kemiskinan dalam Pengertiansetiap bangsa berusaha mencapai tingkat
kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya, hakkebebasan dari ketakutan, yang
meliputi usaha, pengurangan persenjataan, sehingga tidak satupun bangsaberada dalam
posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap Negara lain ( Mansyur
Effendi,1994).

C. Macam-macam HAM
1. Berdasarkan Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998
HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati, universal dan
abadi sebagai anugerah Tuhan YME, meliputi hak untuk hidup, hak berkeluarga, hak
mengembangkan diri, hak keadilan, hak kemerdekaan, hak berkomunikasi, hak keamanan, dan
hak kesejahteraan yang oleh karena itu tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh siapapun
Macam-macam HAM yang tercantum dalam TAP MPR di atas :
a. Hak untuk hidup
b. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
c. Hak keadilan
d. Hak kemerdekaan
e. Hak atas kebebasan informasi
f. Hak kemananan
g. Hak kesejahteraan
h. Kewajiban
i. Perlindungan dan pemajuan

2. Berdasarkan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM :


HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia
sebagai makhluk Tuhan YME dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung
tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia
HAM menurut UU No. 39/1999 di atas meliputi :
a. Hak untuk hidup
b. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
c. Hak mengembangkan diri
d. Hak keadilan
e. Hak kemerdekaan (kebebasan pribadi)
f. Hak rasa aman
g. Hak kesejahteraan
h. Hak turut serta dalam pemerintahan
i. Hak wanita dan anak

3. Berdasarkan UUD 1945 (amandemen) dicantumkan HAM ini pada Pasal 28A s.d28J
a. Pasal 28A : mempertahankan hidup dan keturunan
b. Pasal 28B : membentuk keluarga, keturunan dan perlindungan anak dari kekerasan dan
diskriminasi
c. Pasal 28C : mengembangkan dan memajukan diri, serta mendapat pendidikan dan manfaat
dari Iptek
d. Pasal 28D : pengakuan yang sama di hadapan hukum, hak untuk bekerja dan kesempatan
yang sama dalam pemerintahan
e. Pasal 28E : kebebasan beragama, meyakini kepercayaan, memilih kewarganegaraan,
memilih tempat tinggal, kebebasan berserikat, berkumpul dan berpendapat
f. f. Pasal 28F : berkomunikasi dan memperoleh informasi
g. Pasal 28G : perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda,
serta bebas dari penyiksaan
h. Pasal 28H : hidup sejahtera lahir dan batin, memperoleh layanan kesehatan
i. i. Pasal 28I : tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut dan bebas dari
perlakuan diskriminatif
j. j. Pasal 28J : berkewajiban menghargai hak orang dan pihak lain serta tunduk kepada
pembatasan UU
Kegiatan-kegiatan pokok penegakan hukum dan HAM meliputi hal-hal berikut:
1. Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dari 2004-2009
sebagai gerakan nasional
2. Peningkatan efektifitas dan penguatan lembaga / institusi hukum yang fungsi dan tugasnya
menegakkan hak asasi manusia
3. Peningkatan upaya penghormatan persamaan terhadap setiap warga Negara ..
4. Peningkatan koordinasi dan kerja sama yang menjamin efektifitas penegakan hukum dan
HAM.
5. Pengembangan system manajemen kelembagaan hukum yang transparan.
6. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka mewujudkan proses
hukum yang lebih sederhana, cepat, dan tepat serta dengan biaya yang terjangkau oleh
semua lapisan masyarakat.

D. Upayah Pemerintah Dalam Penegakan HAM

Hak asasi manusia tidak lagi dipandang sekadar sebagai perwujudan faham
individualisme dan liberalisme. Hak asasi manusia lebih dipahami secara humanistis sebagai
hak-hak yang inheren dengan harkat dan martabat kemanusiaan, apapun latar belakang ras, etnik,
agama, warna kulit, jenis kelamin dan pekerjaannya. Dewasa ini pula banyak kalangan yang
berasumsi negatif terhadap pemerintah dalam menegakkan HAM. Sangat perlu diketahui bahwa
pemerintah Indonesia sudah sangat serius dalam menegakkan HAM. Hal ini dapat kita lihat dari
upaya pemerintah sebagai berikut;
a) Indonesia menyambut baik kerja sama internasional dalam upaya menegakkan HAM di
seluruh dunia atau di setiap negara dan Indonesia sangat merespons terhadap pelanggaran
HAM internasional hal ini dapat dibuktikan dengan kecaman Presiden atas beberapa agresi
militer di beberapa daerah akhir-akhir ini contoh; Irak, Afghanistan, dan baru-baru ini
Indonesia juga memaksa PBB untuk bertindak tegas kepada Israel yang telah menginvasi
Palestina dan menimbulkan banyak korban sipil, wanita dan anak-anak.
b) Komitmen Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan penegakan HAM, antara lain telah
ditunjukkan dalam prioritas pembangunan Nasional tahun 2000-2004 (Propenas) dengan
pembentukan kelembagaan yang berkaitan dengan HAM. Dalam hal kelembagaan telah
dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dengan kepres nomor 50 tahun 1993, serta
pembentukan Komisi Anti Kekerasan terhadap perempuan
c) Pengeluaran Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia , Undang-
undang nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM, serta masih banyak UU yang lain
yang belum tersebutkan menyangkut penegakan hak asasi manusia.
Menjadi titik berat adalah hal-hal yang tercantum dalam UU nomor 39 tahun 1999
tentang hak asasi manusia adalah sebagai berikut;
1. Hak untuk hidup.
2. Hak berkeluarga.
3. Hak memperoleh keadilan.
4. Hak atas kebebasan pribadi.
5. Hak kebebasan pribadi
6. Hak atas rasa aman.
7. Hak atas kesejahteraan.
8. Hak turut serta dalam pemerintahan.
9. Hak wanita
10. Hak anak
Hal-hal tersebut sebagai bukti konkret bahwa Indonesia tidak main-main dalam
penegakan HAM
E. Peranserta Masyarakat Dalam Penegakan HAM
Peran serta masyarakat dalam penegakan HAM telah diatur dalam UU No. 39 Tahun
1999 tentang HAM antara lain yaitu :
1. Pihak yang berhak berpatisipasi dalam penegakan HAM adalah:
a. Individu e. LSM
b. Kelompok f. Perguruan Tinggi
c. Organisasi politik g. Lembaga Studi

2. Peran serta dalam penegakan HAM yang dapat dilakukan adalah


a) Menyampaikan laporan atas terjadinya pelanggaran HAM kepada Komnas HAM atau
lembaga lain yang berwenang dalam rangka perlindungan dan pemajuan HAM
b) Memajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang berkaitan dengan HAM
kepada Komnas HAM dan atau lembaga lainnya
c) Secara sendiri-sendiri maupun bekerja bersama-sama dengan Komnas HAM dapat
melakukan penelitian , pendidikan dan penyebarluasan informasi megenai HAM
3. Wujud peran serta masyarakat dalam penegakan HAM antara lain:
a) Wujud partisipasi warga Negara dalam penegakan HAM dalam hubungan dengan
pemerintah, antara lain:
- Mendirikan LSM atau NGO (Non Government Organazation)
- Mengajukan laporan atau pengaduan, baik lisan atau tertulis kepada Komnas
HAM untuk meminta perlindungannya dengan syarat telah memiliki alasan dan bukti
yang kuat bahwa hak asasinya telah dilanggar.
- Menyampaikan pendapat dimuka umum atas terjadinya suatu kasus pelanggaran
HAM sesuai dengan UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan
Pendapat di Muka Umum.
- Menyampaikan kritik atau saran kepada pemerintah, tentang pelaksanaan HAM
- Melakukan penelitian dan menyampaikan hasil penelitian atas suatu
kasus pelanggaran HAM secara professional dan proporsional, dan lain-lain.
b) Wujud partisipasi warga Negara dalam penegakan HAM dalam hubungan dengan
sesama warga Negara dalam pergaulan hidup sehari-hari, antara lain:
1) Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban sesama manusia
2) Mengembangkan sikap saling menghormati dan mencintai sesama
3) Bersikap tenggang rasa terhadap orang lain
4) Tidak semena-mena terhadap orang lain
5) Bersikap adil terhadap sesama manusia
6) Berani membela kebenaran dan keadilan

F. Macam-Macam Perlindungan Terhadap Korban Pelanggaran HAM


Setiap korban dan saksi dalam pelanggaran HAM yang berat mendapatkan hak
perlindungan dari aparat dan aparat keamanan . Ada dua macam perlindungan yang diberikannya
yaitu:
a) Perlindungan fisik
b) Perlindungan mental dari ancaman , gangguan, teror dan kekerasan dari pihak manapun.

Setiap korban pelaggaran HAM yang berat dan atau ahli warisnya dapat memperoleh
kompensasi, restitusi dan rehabilitasi.

1) Kompensasi adalah imbala yang dierikan oleh Negara karena tidak mampu memberikan
ganti rugi yang sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya.
2) Restitusi adalah ganti rugi yang diberikan pada korban atau keluarganya oleh pelaku atau
pihak ketiga. Restitusi dapat berupa :
a) Pengembalian harta milik
b) Pembayaran ganti kerugian untuk kehilangan atau penderitaan
c) Pengganti biaya untuk tindakan tertentu
3) Rehabilitasi adalah pemulihan pada kedudukan semula, misal nama baik, jabatan,
kehormatan dan hak-hak lainnya
G. Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM
Masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak asasi manusia antara paham
yang memandang HAM bersifat universal (universalisme) dan paham yang memandang setiap
bangsa memiliki paham HAM tersendiri berbeda dengan bangsa yang lain terutama dalam
pelaksanaannya (partikularisme);
- Adanya pandangan HAM bersifat individulistik yang akan mengancam kepentingan umum
(dikhotomi antara individualisme dan kolektivisme);
- Kurang berfungsinya lembaga – lembaga penegak hukum (polisi, jaksa dan pengadilan);
dan
- Pemahaman belum merata tentang HAM baik dikalangan sipil maupun militer.

H. Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM


1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan
yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.
2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata
kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap
mahasiswa.
3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para
pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan
sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.
4. Para pedagang tradisioanal yang berdagang di pinggir jalan merupakan pelanggaran
HAM ringan terhadap pengguna jalan sehingga para pengguna jalan tidak bisa
menikmati arus kendaraan yang tertib dan lancar.
5. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan
tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga
seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hak asasi manusia ini tertuang dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia. Menurut UU ini, hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan dan merupakan anugerah-Nya yang
wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hokum, pemerintah dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Perkembangan pemikira HAM dibagi dalam 4 generasi, yaitu:
6. Berpendapat bahwa pemikiran HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik.
7. Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak
sosial, ekonomi, politik danbudaya.
8. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antarahak ekonomi, sosial, budaya, politik
dan hukum dalam suatu keranjang yang disebut dengan hak-hak melaksanakan
pembangunan.
9. Generasi keempat yang mengkritik peranan negara yang sangat dominant dalam proses
pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak
negative seperti diabaikannya aspek kesejahteraanrakyat.
Berdasarkan Tap MPR No. XVII/MPR/1998, HAM meliputi hak untuk hidup, hak
berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak keadilan, hak kemerdekaan, hak berkomunikasi, hak
keamanan, dan hak kesejahteraan yang oleh karena itu tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh
siapapun.

Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-undangan RI,
dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau
suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM,
pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara peradilan HAM
sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.
DAFTAR PUSTAKA

Djarot, Eros & Haas, Robert. 1998. Hak-Hak Asasi Manusia dan Manusia (Human rightsand
The Media). Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Prof. Dr. H. Zainudin Ali, M.A. 2006. Sosiologi Hukum. Jakrta : Sinar Grafika.
Kaelan. 2004. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.
Sadjiman, Djunaedi. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Daerah :Tanpa Nama Penerbit.
Sumarsono, dkk. 2006. Pendidikan kewarganegaraan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
MAKALAH

HAK ASASI MANUSIA

Disusun Oleh :
Melani Permata Kasih B1C1 18 196
Tuty Hajriati B1C1 18 197
Nida B1C1 18 198
Ali Fatah B1C1 18 200
Eva Sri Wulandari B1C1 18 201
Ilda Wahyuningsih B1C1 18 204
Inang Verlani B1C1 18 207
Astri Aprilia B1C1 18 208

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019