Anda di halaman 1dari 8

1.

pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib


kaum buruh dan orang miskin. Undang-undang tersebut, antara lain sebagai
berikut:
1. Tahun 1832 dikeluarkan Reform Bill atau Undang-Undang
Pembaharuan Pemilihan. Menurut undang-undang ini, kaum buruh
mendapatkan hak-hak perwakilan di dalam parlemen.
2. Tahun 1833 dikeluarkan Factory Act atau Undang-Undang Pabrik.
Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan jaminan sosial. Di
samping itu, undang-undang juga berisi larangan pengunaan tenaga kerja
anak-anak dan wanita di daerah tambang di bawah tanah.
3. Tahun 1834 dikeluarkan Poor Law Act atau Undang-Undang Fakir
Miskin. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat penampungan dan perawatan
para fakir miskin sehingga tidak berkeliaran.
4. Makin kuatnya sifat individualisme dan menipisnya rasa solidaritas.
Dengan adanya Revolusi Industri sifat individualitas makin kuat karena
terpengaruh oleh sistem ekonomi industri yang serba uang. Sebaliknya, makin
menipisnya rasa solidaritas dan kekeluargaan.

2.
1. Revolusi Industri 1.0

Revolusi Industri yang pertama terjadi pada abad ke-18 ditandai dengan penemuan
mesin uap yang digunakan untuk proses produksi barang.
2. Revolusi Industri 2.0
Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Revolusi industri ini
ditandai dengan penemuan tenaga listrik. Tenaga otot yang saat itu sudah
tergantikan oleh mesin uap, perlahan mulai tergantikan lagi oleh tenaga listrik.
Walaupun begitu, masih ada kendala yang menghambat proses produksi di pabrik,
yaitu masalah transportasi.
3. Revolusi Industri 3.0
Setelah revolusi industri yang ketiga, manusia tidak lagi memegang
peranan penting. Setelah revolusi ini, abad industri pelan-pelan berakhir dan abad
informasi dimulai.
Revolusi ketiga ini dipicu oleh mesin yang dapat bergerak dan berpikir
secara otomatis, yaitu komputer dan robot.
4. Revolusi Industri 4.0
Industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi
otomatisasi dengan teknologi siber. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek
dalam strategi teknologi canggih Pemerintah Jerman yang mengutamakan
komputerisasi pabrik.
Pada industri 4.0, teknologi manufaktur sudah masuk pada tren
otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem siber-
fisik, internet of things (IoT), cloud computing, dan cognitive computing.
5. Revolusi Industri 5.0
Melalui Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan
mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan serta the Internet of
Things akan menjadi suatu kearifan baru, yang akan didedikasikan untuk
meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi
kemanusiaan. Transformasi ini akan membantu manusia untuk menjalani
kehidupan yang lebih bermakna.
Secara sederhana, Society 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep
masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis
teknologi (technology based).

3
Renaissance muncul karena berbagai faktor antara lain adalah gerakan
cultural, pada awalnya merupakan pembaharuan di bidang kejiwaan kemasyarakatan,
di kegerejaan di Italia pada abad pertengahan abad XIV, berakar pada cita-cita
keksatrian abad pertengahan yang menginginkan kemewahan, kemegahan,
keperkasaan dan kemasyhuran, mereka mensitesakan gagasan Kristiani dengan
pemikiran klasik (Yunani-Romawi).
4
Reformasi Gereja Protestan adalah gerakan besar di Eropa Barat pada abad XVI
(tahun 1517). Reformasi ini dipelopori biarawan dari ordo Agustinian, yaitu Martin
Luther. Tujuannya adalah mereformasi kepercayaan, doktrin, dan praktik-praktik
dalam Geraja Katolik Roma.
Gerakan itu ditandai dengan peristiwa pemakuan (penempelan) 95 dalil
Marin Luther di depan pintu atau tembok Gereja Wittenberg di Jerman.
Pada bulan Juni 1520, Paus Leo X melalui surat ketetapan (bulla) berjudul
Exsurge Domine (Bangkitlah, ya Tuhan) berharap agar Martin Luther mencabut
apa yang disebutnya sebagai ke-41 kesalahan Gereja, sebagian dari ke-95
dalilnya, dan lain-lainnya dari tulisan-tulisan dan ucapan-ucapan yang
dianggap berasal dari Luther. Atas Bulla tersebut, Kaisar Charles V memanggil
Luther ke Sidang Umum Kekaisaran Jerman di Worms (Diet of Worms),
Jerman, Untuk mempertanggung jawabkan dalil-dalil yang dianggap paus,
Girolamo Aleandro. Di Worms pada tanggal 18 April 1521, Luther
mempertahankan dalil-dalilnya dan menutupi pembelaanya.
Luther meninggalkan Worms dengan selamat pada tanggal 26 April 1521 atas
bantuan Pangeran Frederick III, Penguasa Saxon(vassal atau negara bawahan
Kekaisaran Romawi Suci).
Luther meninggalkan Worms dengan selamat pada tanggal 26 April 1521 atas
bantuan Pangeran Frederick III, Penguasa Saxon(vassal atau negara bawahan
Kekaisaran Romawi Suci).

Gagasan-gagasan Martin Luther dalam waktu singkat menyebar dan diterima


di banyak wilayah di Jerman hingga ke luar perbatasannya, di antaranya
Denmark, negara-negara Skandinavia dan wilayah Semenanjung Baltik

5
Merkantilisme memicu era penjelajahan samudra dan imperialisme dengan
tujuan menguasai koloni-koloni atau wilayah-wilayah yang akan menjadi
sumber bahan baku dan pasar potensial. Pada waktu itu, rempah-rempah
merupakan komoditas yang sangat laku di pasaran Eropa.
Ringkasnya, merkantilisme secara langsung ataupun tidak langsung ikut berperan
melahirkan penjajahan di dunia, termasuk Nusantara.
Hal yang menyebabkan perkembangan ekonomi merkantilisme ini antara lain :

a. Adanya banyak penemuan dan penaklukan wilayah –wilayah geografi baru


oleh negara –negara Eropa.

b. Adanya sumber arus modal baru, baik dari wilayah geografi baru maupun
ke wilayah geografi baru tersebut.
c. Kebangkitan para raja dan saudagar yang mendorong nasionalisme.

d. Perkembangan perdagangan lokal, menuju ke perdagangan baru keluar


negeri dengan tujuan untuk mendapat keuntungan lebih besar.
e. Menurunnya kekuasaan lama gereja dan golongan ningrat.
Ilustrasinya :

7.
Dampak Langsung Reformasi Gereja
a. Lahirnya protestanisme

Resistensi atau perlawanan yang kuat terhadap Gereja Katolik Roma


kemudian mendorong para pengikut. Luther mendirikan sendiri, terlepas
dari Gereja Katolik Roma. Itulah protestanisme.
b. Menguatnya negara dan pemerintah seluler
Menurut Luther, paus harus mengakui kekuasaan para pangeran atau
penguasa Sekuler menurut prinsip-prinsip kenegaraan berdasarkan
nasionalisme.
c. Lahirnya Gereja Anglika (Anglikanisme)

Berawal darai kekesalannya terhadap Gereja Katolik Roma karena tidak


ersedia membatalkan pernikahannya, Henry VIII kemudian memutuskan
hubungan dengan Roma dan mendirikan Gereja sendiri, Gereja Anglikan,
dengan dirinya sendiri sebagai kepalanya
d. Reformasi dan demokrasi

Gagasan ini lain dari Reformasi Protestan adalah kebebasan individu


dankesetaraan. Kebebasan individu dapat dilihat dari penolakan Luther
atas otoritas Paus termasuk atas kekuasaan sekuler.
e. Reformasi, Perang Tiga Puluh Tahun, dan kebebasan beragam

Reformasi juga membawa akibat yang tidak diharapkan Kaum Katolik


dan Protestan berperang satu sama lain, dalam apa yang disebut Perang
Tiga Puluh Tahun (1618-1648). Perang tersebut terutama terjadi di Jerman
dan Inggris. Meskipun demikian, perang ini terjadi tidak hanya karena
masalah keagamaan, tetapi juga karena persaingan antara Dinasti
Habsburg dan Dinasti Valois di Perancis. Perang ini diakhiri Perjanjian
Perdamainan Westphalia pada tahun 1648.

8.

Akibat Terjadinya Revolusi Industri


Seperti halnya revolusi yang lain, Revolusi Industri juga membawa akibat yang lebih
luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, baik di negeri Inggris sendiri maupun di negara-
negara lain.
Akibat di bidang ekonomi :
1. Barang melimpah dan harga murah
Revolusi Industri telah menimbulkan peningkatan usaha industri dan pabrik secara
besar-besaran melalui proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu singkat dapat
menghasilkan barang-barang yang melimpah. Produksi barang menjadi berlipat ganda
sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Akibat pembuatan barang
menjadi cepat, mudah, serta dalam jumlah yang banyak sehingga harga menjadi lebih murah.
2. Perusahaan kecil gulung tikar
Dengan penggunaan mesin-mesin maka biaya produksi menjadi relatif kecil
sehingga harga barang-barang pun relatif lebih murah. Hal ini membawa akibat perusahaan
tradisional terancam dan gulung tikar karena tidak mampu bersaing.
3. Perdagangan makin berkembang
Berkat peralatan komunikasi yang modern, cepat dan murah, produksi lokal berubah
menjadi produksi internasional. Pelayaran dan perdagangan internasional makin berkembang
pesat.
4. Transportasi semakin lancar
Adanya penemuan di berbagai sarana dan prasarana transportasi yang makin
sempurna dan lancar. Dengan demikian, dinamika kehidupan masyarakat makin meningkat.
Akibat di bidang sosial :
1. Berkembangnya urbanisasi
Berkembangnya industrialisasi telah memunculkan kota-kota dan pusat-pusat
keramaian yang baru. Karena kota dengan kegiatan industrinya menjanjikan kehidupan yang
lebih layak maka banyak petani desa pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini
mengakibatkan terabaikannya usaha kegiatan pertanian.
2. Upah buruh rendah
Akibat makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga
kerja makin melimpah. Sementara itu, pabrik-pabrik banyak yang menggunakan tenaga
mesin. Dengan demikian, upah tenaga kerja menjadi murah. Selain itu, jaminan sosial pun
berkurang sehingga kehidupan mereka menjadi susah. Bahkan para pengusaha banyak
memilih tenaga buruh wanita dan anak-anak yang upahnya lebih murah.
3. Munculnya golongan pengusaha dan golongan buruh
Di dalam kegiatan industrialisasi dikenal adanya kelompok pekerja (buruh) dan
kelompok pengusaha (majikan) yang memiliki industri atau pabrik. Dengan demikian, dalam
masyarakat timbul golongan baru, yakni golongan pengusaha (kaum kapitalis) yang hidup
penuh kemewahan dan golongan buruh yang hidup dalam kemiskinan.
4. Adanya kesenjangan antara majikan dan buruh
Dengan munculnya golongan pengusaha yang hidup mewah di satu pihak,
sementara terdapat golongan buruh yang hidup menderita di pihak lain, maka hal itu
menimbulkan kesenjangan antara pengusaha dan buruh. Kondisi seperti itu sering
menimbulkan ketegangan-ketegangan yang diikuti dengan pemogokan kerja untuk menuntut
perbaikan nasib. Hal ini menimbulkan kebencian terhadap sistem ekonomi kapitalis, sehingga
kaum buruh condong kepada paham sosialis.
5. Munculnya revolusi sosial
Pada tahun 1820-an terjadi huru hara yang ditimbulkan oleh penduduk kota yang
miskin dengan didukung oleh kaum buruh. Gerakan sosial ini menuntut adanya perbaikan
nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin
perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin. Undang-undang tersebut, antara lain sebagai
berikut:

Tahun 1832 dikeluarkan (Reform Bill atau Undang-Undang


Pembaharuan Pemilihan. Menurut undang-undang ini, kaum buruh
mendapatkan hak-hak perwakilan di dalam parlemen.
Tahun 1833 dikeluarkan (Factory Act atau Undang-Undang Pabrik.
Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan jaminan sosial. Di
samping itu, undang-undang juga berisi larangan pengunaan tenaga kerja
anak-anak dan wanita di daerah tambang di bawah tanah.

Tahun 1834 dikeluarkan Poor Law Act atau Undang-Undang Fakir


Miskin. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat penampungan dan perawatan
para fakir miskin sehingga tidak berkeliaran.

Makin kuatnya sifat individualisme dan menipisnya rasa solidaritas.


Dengan adanya Revolusi Industri sifat individualitas makin kuat karena
terpengaruh oleh sistem ekonomi industri yang serba uang. Sebaliknya, makin
menipisnya rasa solidaritas dan kekeluargaan.
Akibat di bidang politik :
1. Munculnya gerakan sosialis
Kaum buruh yang diperlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha mulai bergerak
menyusun kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka kemudian membentuk
organisasi yang lazim disebut gerakan sosialis. Gerakan sosialis dimotivasi oleh pemikiran
(Thomas Marus yang menulis buku Otopia. Tokoh yang paling populer di dalam pemikiran
dan penggerak paham sosialis adalah Karl Marx dengan bukunya Das Kapital.
2. Munculnya partai politik
Dalam upaya memperjuangkan nasibnya maka kaum buruh terus menggalang
persatuan. Apalagi dengan makin kuatnya kedudukan kaum buruh di parlemen mendorong
dibentuknya suatu wadah perjuangan politik, yakni Partai Buruh. Partai ini berhaluan sosialis.
Di pihak pengusaha menggabungkan diri ke dalam Partai Liberal.
3. Munculnya imperialisme modern
Kaum pengusaha/kapitalis umumnya mempunyai pengaruh yang kuat dalam
pemerintahan untuk melakukan imperialisme demi kelangsungan industrialisasinya. Dengan
demikian, lahirlah imperialisme modern, yaitu perluasan daerah-daerah sebagai tempat
pemasaran hasil industri, mencari bahan mentah, penanaman modal yang surplus, dan
tempat mendapatkan tenaga buruh yang murah. Dalam hal ini, Inggris yang menjadi
pelopornya.

Revolusi Industri yang terjadi di Eropa dan Inggris khususnya membawa dampak di
bidang sosial, ekonomi, dan politik. Di bidang sosial munculnya golongan buruh yang hidup
menderita dan berusaha berjuang untuk memperbaiki nasib. Gerakan kaum buruh inilah yang
kemudian melahirkan gerakan sosialis yang menjadi lawan dari kapitalis. Bahkan kaum buruh
akhirnya bersatu dalam suatu wadah organisasi, yakni Partai Buruh. Di bidang ekonomi,
perdagangan makin berkembang. Perdagangan lokal berubah menjadi perdagangan regional
dan internasional. Sebaliknya, di bidang politik, Revolusi Industri melahirkan imperialisme
modern.
Perubahan di bidang politik :
Sejak VOC dibubarkan pada tahun 1799, Indonesia diserahkan kembali kepada
pemerintahan Kerajaan Belanda. Pindahnya kekuasaan pemerintahan dari VOC ke tangan
pemerintah Belanda tidak berarti dengan sendirinya membawa perbaikan. Kemerosotan
moral di kalangan para penguasa dan penderitaan penduduk jajahan tidak berubah. Usaha
perbaikan bagi penduduk tanah jajahan tidak dapat dilaksanakan karena Negeri Belanda
sendiri terseret dalam perang dengan negara-negara besar tetangganya. Hal ini terjadi karena
Negeri Belanda pada waktu itu diperintah oleh pemerintah boneka dari Kerajaan Prancis di
bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. Dalam situasi yang demikian, Inggris dapat
memperluas daerah kekuasaannya dengan merebut jajahan Belanda, yaitu Indonesia.

10.
Bonivacius VIII versus Philip IV

Dalam rangka mengonsolidasi kekuasaan serta memperkuat monarki atau


negara Perancis, Raja Philip IV (1268-1314) berniat memusatkan seluruh kekuasaan
ke tangannya sendiri. Ia menegaskan tidak ada kekuasaan lain, termasuk paus yang
berhak campur tangan dalam urusan monarki Perancis. Di bawah pemerintahannya
juga, untuk pertama kalinya dalam sejarah Eropa, seorang raa mewajibkan Klerus
untuk membayar pajak kepada negara padahal pajak berlawanan dengan tradisi yang
berlangsung selama berabad-abad ketika gereja dibebaskan dari kewajiban tersebut.
Hal ini memic konflik antara dirinya dengan Paus Bonifasius VIII (1235-1303). Pada
tahun 1296, Paus Bonifasius VIII mengeluarkan bulla (surat keputusan) yang bernama
Clereicis laicos. Isinya melarang semua raja memungut pajak kepada kaum klerus
tanpa persetujuan paus. Philip IV membalas dengan melarang Gereja dan negara
mengirim derma apa pun ke Roma, pusat kekuasaan paus. Terancam krisis
keuangan, Bonifasius VIII mengucilkan Philip Iv seraya mengatakan, “Tuhan telah
menetapkan paus sebagai pemimpin raja-raja dan bangsa-bangsa.”

Perjalanan sejarah gereja selanjutnya semakin memperlihatkan bahwa


serangan terhadap gereja tidak saja karena menguatnya peran negara sebagai
sebuah nation atau bangsa tetapi lebih mendasar dari itu. Munculnya kesadaran akan
pentingnya kebahagiaan di dunia secara tidak langsung menggugat kredibilitas
(ajaran) gereja. Akan tetapi, alih-alih memperbarui diri, Gereja malah lebih sibuk
menumpuk kekayaan duniawi.
John Wycliffe dan Jan Hus

Antara pertengahan abad XIV dan menjelang awal abad XV, muncul dua teolog
terkemuka di Eropa yang melakukan kritik dan kecaman terbuka terhadap Gereja,
yaitu John Wycliffe (1324-1384) dari Inggris dan Jan Hus (1369-1415) dari Bohemia
(Republik Ceko). Wycliffe mempertanyakan hak Gereja atas kuasa duniawi dan
kekayaan Gereja. Gereja seharusnya tidak memiliki harta duniawi . Gereja harus
miskin dan sederhana seperti Gereja di awl-awal kekristenan.Wycliffe juga
mempertanyakan penjualan surat-surat pengampunan dosa dan jabatan-jabatan di
gereja serta penyembahan kepada relikui yang dianggapnya sebagai bentuk tahayul.

Meski demikian, gerakan-gerakan tersebut belum berhasil membawa


guncangan yang besar dalam Gereja. Baru pada tahun 1517, ketika teolog Jerman
Martin Luther, Gereja mengalami guncangan yang besar.