Anda di halaman 1dari 60

BAB III

PELAKSANAAN RENCANA TINDAK LANJUT (RTL)

A. Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)


Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang
dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Pendekatan
saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang agar peserta didik secara
aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan
mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan
masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan
berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan
konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada
keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan
pendekatan saintifik adalah:
1) untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir
tingkat tinggi siswa.
2) untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah
secara sistematik.
3) terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu
merupakan suatu kebutuhan.
4) diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
5) untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam
menulis artikel ilmiah.
6) untuk mengembangkan karakter siswa.
Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran adalah
sebagai berikut: (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) pembelajaran
membentuk students self concept, (3) pembelajaran terhindar dari verbalisme, (4)
pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan
mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip, (5) pembelajaran mendorong
terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa, (6) pembelajaran

57
58

meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru, (7)


memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam
komunikasi, dan (8) adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip
yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.
Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam proses
pembelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya,
percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau
informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan,
dan mencipta. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut:
1). Mengamati (observasi)
Mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran
(meaningfull learning). Kegiatan mengamati memiliki keunggulan tertentu,
seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang,
dan mudah pelaksanaannya.
Contoh : Mengamati dalam mapel IPA, guru meminta siswa untuk mengamati
suatu fenomena. Sebagai contoh dalam mapel IPA guru meminta siswa untuk
mengamati sifat larutan yang diperoleh dari ekstrak buah belimbing atau tomat.
Fenomena yang diberikan dapat juga dalam bentuk video. Dalam mapel IPS
contohnya adalah fenomena yang diamati adalah gambar-gambar (foto-foto, slide)
tentang hutan yang gundul, hujan deras, orang membuang sampah sembarangan,
sungai meluap, banjir besar. slide, atau video klip seputar bencana banjir di suatu
tempat.
2. Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas
kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak,
dibaca atau dilihat. Contoh : Menanya dalam mapel IPA, siswa mengajukan
pertanyaan tentang suatu fenomena. Sebagai contoh siswa mempertanyakan
“Mengapa larutan ekstrak buah belimbing atau tomat memiliki rasa manis dan
asin”. Sebagai contoh di mapel IPS adalah “Apakah sebab dan akibat banjir bisa
terjadi di ruang dan waktu yang sama atau berbeda?”
59

3. Mengumpulkan Informasi
Kegiatan “mengumpulkan informasi” merupakan tindak lanjut dari
bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi
dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Contoh : Mengumpulkan informasi
Dalam mapel IPA, siswa mengumpulkan data atau guru memberikan data tentang
komponen-komponen yang terdapat dalam larutan ekstrak buah belimbing atau
buah tomat.
4. Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/Menalar
Kegiatan “mengasosiasi/ mengolah informasi/ menalar” dalam kegiatan
pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun
2013, adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari
hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati
dan kegiatan mengumpulkan informasi.
Contoh: Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/Menalar, siswa mengolah
informasi yang diberikan oleh guru. Analisis data dalam IPS, misalnya siswa
diajak untuk membaca buku siswa halaman 2-6 tentang konsep ruang, waktu,
konektivitas, dan interaksi sosial. Konsep-konsep ini dihubungkan dengan
informasi atau data awal, pertanyaan dan hipotesis, serta data yang terkumpul.
5. Mengomunikasikan
Pada langkah ini, siswa dapat menyampaikan hasil kerjanya secara lisan
maupun tertulis, misalnya melalui presentasi kelompok, diskusi, dan tanya jawab.
Contoh: Mengomunikasikan: Pada langkah ini, siswa dapat menyampaikan hasil
kerjanya secara lisan maupun tertulis, misalnya melalui presentasi kelompok,
diskusi, dan tanya jawab.
2. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Dalam pendekatan saintifik
tujuan utama kegiatan pendahuluan adalah memantapkan pemahaman siswa
terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan dengan materi
pelajaran baru yang akan dipelajari oleh siswa. Dalam kegiatan ini guru harus
mengupayakan agar siswa yang belum paham suatu konsep dapat memahami
60

konsep tersebut, sedangkan siswa yang mengalami kesalahan konsep, kesalahan


tersebut dapat dihilangkan. Pada kegiatan pendahuluan, disarankan guru
menunjukkan fenomena atau kejadian “aneh” atau “ganjil” (discrepant event)
yang dapat menggugah timbulnya pertanyaan pada diri siswa. Kegiatan inti
merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau dalam proses
penguasaan pengalaman belajar (learning experience) siswa. Kegiatan inti dalam
pembelajaran adalah suatu proses pembentukan pengalaman dan kemampuan
siswa secara terprogram yang dilaksanakan dalam durasi waktu tertentu. Kegiatan
inti dalam metode saintifik ditujukan untuk terkonstruksinya konsep, hukum atau
prinsip oleh siswa dengan bantuan dari guru melalui langkah-langkah kegiatan
yang diberikan di muka. Kegiatan penutup ditujukan untuk dua hal pokok.
Pertama, validasi terhadap konsep, hukum atau prinsip yang telah dikonstruk oleh
siswa. Kedua, pengayaan materi pelajaran yang dikuasai siswa. Untuk
pemahaman lebih lanjut tentang langkah-langkah pembelajaran di bawah ini
diberikan contoh penerapannya dalam pembelajaran.
Berdasarkan analisis situasi tersebut maka penulis selaku peserta diklat
calon kepala sekolah akan mengadakan pelatihan dalam bentuk workshop dengan
judul “Peningkatan Kemampuan Guru dalam Penyusunan RPP berbasis
pendekatan saintifik Melalui Workshop di SMPN 4 Kota Bima Tahun 2017”
Rencana Tindak Kepimpinan dilaksanakan dengan dua siklus dengan tahapan
siklus : (a) persiapan, (b) pelaksanaan, (c) monitoring dan evaluasi, (d) refleksi

1. Siklus 1
a. Persiapan
Tahap persiapan yang dilakukan calon kepala sekolah untuk kegiatan RTK
adalah :
1) Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah bahwa calon kepala sekolah
mempunyai program pengembangan kompetensi kepemimpinan untuk
meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP berbasis saintifik.
Bersama dengan kepala sekolah mengadakan koordinasi dengan wakasek
kurikulum untuk menyelaraskan program calon kepala sekolah dengan
program sekolah.
61

2) Membuat proposal kegiatan dan melakukan sosialisasi terhadap guru sebagai


calon peserta Workshop , dan menyusun kepanitian dari unsur guru dan tata
usaha.
3) Menghubungi nara sumber dari Innstruktur Nasional (IN) Kabupaten Bima.
4) Calon kepala sekolah menyusun buku panduan yang kemudian diserahkan
kepada panitia kegiatan untuk digandakan.
5) Calon kepala sekolah menyiapkan instrumen monitoring dan evaluasi
pelaksanaan program, instrumen Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah
(CKS), dan instrumen evaluasi untuk guru sasaran.
6) Bersama dengan wakasek kurikulum menyusun jadwal Workshop dan
berkoordinasi dengan wakasek sarana untuk penyiapan tempat dan peralatan-
peralatan lain yang dibutuhkan saat pelaksanaan Workshop seperti sound
system, LCD proyektor dan lain-lain.
7) Bersama panitia Workshop menyiapkan dan membagikan undangan untuk
nara sumber dan peserta.
8) Bersama panitia Workshop menyiapkan konsumsi
b. Pelaksanaan
Rencana tindak kepemimpinan yaitu “Peningkatan Kemampuan Guru
dalam Penyusunan RPP berbasis pendekatan saintifik Melalui Workshop di
SMPN 4 Kota Bima Tahun 2017” di sekolah dilaksanakan yang dihadiri oleh 8
orang peserta dan sebagai nara sumber dalam kegiatan tersebut adalah 1 orang
(instruktur nasional). Pelaksanaan diawali dengan pembukaan yang disampaikan
oleh Pengawas Pembina yang dilanjutkan oleh nara sumber dengan tema
“Penyusunan RPP berbasis pendekatan saintifik”.
Setelah selesai memberikan materi peserta langsung menyusun RPP
berbasis pendekatan saintifik . Karena keterbatasan waktu maka penyusunannya
dilanjutkan di rumah masing-masing dengan bantuan buku panduan yang sudah
dibagikan.

c. Monitoring dan Evaluasi


1. Monitoring Pelaksanaan Kegiatan RTK
62

Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana


Calon kepala sekolah telah berhasil melaksanakan kegiatan dalam bentuk
kegiatan Workshop. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan oleh peserta
dengan cara mengisi instrumen yang telah diberikan. Instrumen monitoring
pelaksanaan kegiatan meliputi persaiapan yang dilakukan, pelaksanaan, dan
monev dalam workshop itu sendiri. Adapun monitoring dan evaluasi yang
diberikan oleh peserta dapat dilihat Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh peserta

Berdasarkan tabel 3.1 menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan RTK


melalui workshop pada siklus 1 baru 2 orang peserta yang dinyatakan telah
mencapai ketuntasan dengan persentase ketuntasan 85% dan 87% atau baru 25%
yang mencapai ketuntasan. Sementara ada 6 orang peserta yang persentase
ketuntasannya masih dibawah indikator ketuntasan 85%. monitoring dan evaluasi
yang diberikan. Hasil monev tindakkepemimpinan oleh calon kepala sekolah pada
siklus 1 berdasarkan pengisian instrumen oleh peserta dapat dilihat diagram 3.1
sebagai berikut.
63

100

80

60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8

Grafik 3.1 Monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh peserta pada
Calon Kepala Sekolah Siklus 1

2. Monitoring dan Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah (CKS)

Evaluasi dilakukan untuk menilai kompetensi yang dimiliki calon kepala


sekolah sesuai dengan rencana tindak kepemimpinan yang meliputi kompetensi
kepribadian, kewirausahaan, sosial, kepemimpinan pembelajaran. Evaluasi
dilakukan oleh kepala sekolah dan oleh guru sasaran.
Untuk lebih jelasnya Analisis Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah
(CKS) dapat dilihat tabel 3.2 dan diagramnya dapat dilihat pada gambar 3.2
sebagai berikut. Untuk lebih jelasnya analisis peningkatan evaluasi calon kepala
sekolah pada pelaksanaan kegiatan dalam bentuk workshop siklus 1 dapat dilihat
tabel 3.2 berikut.
Tabel 3.2 Hasil Analisis Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah (CKS) Siklus 1
64

Berdasarkan hasil analisis tabel 3.2 menunjukan bahwa perolehan skor


rata-rata untuk Analisis Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah (CKS) siklus 1
adalah 84% termasuk kategori baik. Hasil evaluasi penilaian kompetensi calon
kepala sekolah dalam rencana tindak kepemimpinan menunjukan bahwa skor rata-
rata kompetensi kepribadian adalah 83%, skor kompetensi sosial adalah 84%, skor
rata-rata kompetensi kewirausahaan adalah 86%. Grafik 3.2 dapat memperjelas
penjelasan tersebut.

Kompetensi
Kepribadian :
86
85
84
83
82
81

Kompetensi
Kompetensi Sosial :
Kewirausahaan :

Grafik 3.2 Hasil evaluasi kepala sekolah dan guru tentang aspek kompetensi CKS
3. Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Workshop RPP Berbasis Saintifik
Workshop Calon Kepala Sekolah dalam rangka peningkatan kemampuan
guru dalam penyusunan RPP berbasis pendekatan saintifik diikuti oleh 8 orang
guru sebagai peserta. Calon kepala sekolah melakukan monitoring terhadap
pelaksanaan kegiatan workshop RPP berbasis saintifik pada siklus 1 sebagaimana
tabel 3.3.
65

Tabel 3.3 Hasil Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Workshop RPP Berbasis


Saintifik siklus 1

Berdasarkan data pada tabel 3.3 di atas monitoring pelaksanaan kegiatan


workshop RPP berbasis saintifik pada siklus 1 baru mencapai rata-rata 80% dari
indikator ketercapaian 85% yang ditentukan sebelumnya. Walaupun secara
ketuntasan perindividu sudah ada 5 orang guru/peserta yang sudah mencapai nilai
ketuntasan di atas 85%. Berdasarkan tabel di atas 3.2, maka hasil evaluasi
ketercapaian program pada guru sasaran dapat digambarkan dengan diagram pada
grafik 3.3 berikut:

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
1 2 3 4 5 6 7 8

Grafik 3.3 Hasil evaluasi ketercapaian program Workshop pada


Guru Sasaran siklus 1
66

d. Refleksi
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi siklus 1 pada kegiatan RTK melalui
workshop baru 25% yang mencapai ketuntasan artinya persentase ketuntasannya
masih dibawah indikator ketuntasan 85%. Sedangkan Analisis Evaluasi Tujuan
Calon Kepala Sekolah (CKS) siklus 1 adalah 84 termasuk kategori baik.
Hasil evaluasi penilaian kompetensi calon kepala sekolah dalam rencana
tindak kepemimpinan menunjukan bahwa skor rata-rata kompetensi kepribadian
adalah 83%, skor kompetensi sosial adalah 84%, skor rata-rata kompetensi
kewirausahaan adalah 86%.
Sementara monitoring pelaksanaan kegiatan workshop RPP berbasis
saintifik pada siklus 1 baru mencapai rata-rata 80% dari indikator ketercapaian
85% yang ditentukan sebelumnya. Walaupun secara ketuntasan perindividu
sudah ada 5 orang guru/peserta yang sudah mencapai nilai ketuntasan diatas 85%.
Berdasarkan uraian kerena belum mencapai ketuntasan sesuai dengan
indikator kinerja yang ditentukan yaitu 85% maka kegiatan RTK baik monitoring
dan evaluasi yang dilakukan instrumen evaluasi tujuan CKS dan monitoring
pelaksanaan kegiatan workshop oleh peserta, perlu dilanjutkan pada siklus 2.

2. Siklus 2
a. Persiapan
Tahap persiapan yang dilakukan calon kepala sekolah pada siklus kedua
adalah:
1) Berkoordinasi dengan wakasek sarana untuk penyiapan tempat yang akan
digunakan pendampingan, dan peralatan-peralatan lain yang dibutuhkan saat
pelaksanaan workshop seperti sound system, LCD proyektor dan lain-lain.
2) Bersama panitia Workshop menyiapkan dan membagikan undangan untuk
peserta kegiatan.
3) Bersama panitia Workshop menyiapkan konsumsi.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus 2 dalam rencana tindak kepemimpinan yaitu
“Peningkatan Kemampuan Guru dalam Penyusunan RPP berbasis pendekatan
67

saintifik Melalui Workshop di SMPN 4 Kota Bima Tahun 2017” di sekolah


dilaksanakan yang dihadiri oleh 8 orang peserta. Pelaksanaan diawali dengan
pengarahan yang disampaikan oleh kepala sekolah dan dalam pelaksanaanya di
bimbing lansung oleh CKS serta meminta bantuan kepada peserta yang sudah
bisa menyusun RPP berbasis pendekatan saintifik untuk membantu temannya
(tutor sebaya).
c. Monitoring dan Evaluasi
1. Monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh peserta
Sama dengan siklus 1 pada siklus 2 kepada peserta diminta untuk
mengisi lembar monitoring dan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan
pelaksanaan workshop yang dilaksanakan oleh calon kepala sekolah. Adapun
monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh peserta dapat dilihat Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh peserta

Hasil monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh peserta dapat dilihat
diagram 3.4 sebagai berikut.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil monev pada siklus 2
menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yaitu mencapai rata-rata 96%.
Hal ini tentu saja sudah mencapai indikator kinerja yang sudah ditentukan
sebelumnya yaitu 85%. Dengan kata lain bahwa menurut peserta, bahwa calon
kepala sekolah sudah sukses melaksanakan tindak kepemimpinan melalui
68

pelaksanaan workshop penyusunan RPP berbasis saintifik. Adapun indikator


keberhasil itu dilihat dari beberapa indikator yaitu: bagaimana calaon kepala
sekolah melakukan pesiapan workshop, melaksanakan, melakukan monev dan
melaksanakan refleksi terhadap tindak kepemimpinan yang dilaksanakan berupa
workshop. Untuk lebih jelasnya monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh
peserta pada Calon Kepala Sekolah untuk siklus 2 dapat dilihat pada diagram
sebagai berikut.
99

98

97

96

95

94

93

92
1 2 3 4 5 6 7 8

Grafik 3.4 Monitoring dan evaluasi yang diberikan oleh peserta pada
Pelaksanaan Kegiatan Workshop Siklus 2

2. Analisis Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah (CKS)

Evaluasi dilakukan untuk menilai kompetensi yang dimiliki calon kepala


sekolah sesuai dengan rencana tindak kepemimpinan yang meliputi kompetensi
kepribadian, kewirausahaan, sosial, kepemimpinan pembelajaran. Evaluasi
dilakukan oleh kepala sekolah dan oleh guru sasaran.
Untuk lebih jelasnya Analisis Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah
(CKS) dapat dilihat tabel 3.5 dan diagramnya dapat dilihat pada gambar 3.5
sebagai berikut. Untuk lebih jelasnya analisis Evaluasi tujuan calon kepala
sekolah (CKS) pada pelaksanaan kegiatan dalam bentuk workshop siklus 2 dapat
dilihat tabel 3.5 berikut.
69

Tabel 3.5 Hasil Analisis Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah (CKS) Siklus 2

Berdasarkan hasil analisis tabel 3.3 menunjukan bahwa perolehan skor


rata-rata untuk Analisis Evaluasi Tujuan Calon Kepala Sekolah (CKS) siklus 1
adalah 98 termasuk kategori amat baik. Hasil evaluasi penilaian kompetensi calon
kepala sekolah dalam rencana tindak kepemimpinan menunjukan bahwa skor rata-
rata kompetensi kepribadian adalah 99%, skor kompetensi sosial adalah 98%, skor
rata-rata kompetensi kewirausahaan adalah 98%. Grafik 3.5 dapat memperjelas
penjelasan tersebut.

Kompetensi
Kepribadian :
99
99
99
98
98
98

Kompetensi Kompetensi
Kewirausahaan : Sosial :

Grafik 3.5 Hasil evaluasi kepala sekolah tentang aspek kompetensi CKS
70

3. Evaluasi Ketercapaian Peserta Workshop RPP Berbasis Saintifik


Dalam melaksanakan workshop Calon Kepala Sekolah telah melakukan
kegitan berupa workshop dalam rangka peningkatan kemampuan guru dalam
penyusunan RPP berbasis pendekatan saintifik terhadap 8 orang guru sebagai
peserta pada SMPN 4 Kota Bima Tahun 2017. Evaluasi keberhasilan peserta
Workshop dalam menyusun RPP Berbasis Saintifik pada siklus 1 sebagaimana
tabel 3.6.
Tabel 3.6 Hasil evaluasi ketercapaian tujuan workshop siklus 2

Berdasarkan tabel di atas, maka hasil evaluasi ketercapaian program pada


guru sasaran pada siklus 2 dapat digambarkan dengan diagran sebagai mana grafik
3.6 berikut:
101
100
99
98
97
96
95
94
93
92
1 2 3 4 5 6 7 8
Grafik 3.6 Hasil evaluasi ketercapaian program Workshop pada
Guru Sasaran siklus 2
71

Berdasarkan data di atas dapat dijelaskan bahwa hasil evaluasi


ketercapaian program Workshop pada guru sasaran siklus 2 sudah menunjukkan
nilai rata-rata persentase 98 artinya peserta sudah menujukkan keberhasilan dalam
menyusun RPP berbasis saintifik. Beberapa indikator yang menjadi patokan
keberhasilan peserta dalam menyusun RPP adalah (1) kesesuaian SK, KD,
indikator dan alokasi, (2) tujuan pembelajaran, (3) pengembangan materi dan
bahan ajar, (4) metode pembelajaran, (5) langkah-langkah pembelajaran, (6)
sumber belajar dan (7) penilaian.

d. Refleksi
Berdasarkan analisis data pada siklus 2 baik pelaksanaan monitoring dan
evaluasi pada kegiatan RTK melalui workshop, hasil evaluasi penilaian
kompetensi calon kepala sekolah dalam rencana tindak kepemimpinan, dan
monitoring pelaksanaan kegiatan workshop RPP berbasis saintifik sudah
mencapai nilai ketuntasan di atas 85%, maka kegiatan RTK tidak perlu
dilanjutkan pada siklus berikutnya.

B. Supervisi Guru Junior


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010, tentang
penugasan guru sebagai kepala sekolah, menyatakan bahwa pendidikan dan
pelatihan calon kepala sekolah adalah suatu tahapan dalam proses penyiapan
calon kepala sekolah melalui pemberian pengalaman pembelajaran teori maupun
praktik tentang kompetensi kepala sekolah yang diakhiri dengan penilaian sesuai
standar nasional. Melakukan supervisi akademik pada kegiatan on the job
learning terhadap guru yunior merupakan implementasi pemberian pengalaman
pembelajaran praktik pengembangan kompetensi supervisi calon kepala sekolah.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah disebutkan bahwa salah
satu kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah adalah kompetensi supervisi
dengan subkompetensi sebagai berikut :
1. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan
profesional guru.
72

2. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan


pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
3. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka
peningkatan profesionalisme guru.
Kegiatan utama pendidikan di sekolah adalah pembelajaran, yang
bertujuan untuk mencapai hasil belajar semaksimal mungkin. Untuk mencapai
tujuan tersebut, maka perlu didukung oleh sejumlah komponen sekolah. Satu di
antara komponen yang memegang peranan penting adalah kepala sekolah dalam
konteks pembelajaran, kepala sekolah memiliki peranan sebagai calon kepala
sekolah. Karena itu, kepala sekolah harus memiliki kompetensi supervisi, peranan
calon kepala sekolah dilaksanakan untuk mensupervisi pekerjaan yang dilakukan
oleh guru.
Setiap kepala sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi
akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan
dimensi-dimensi substansi supervisi akademik. Sasaran supervisi akademik
adalah guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang terdiri dari materi
pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan
strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi
dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran. Namun, jika
supervisi dilakukan oleh kepala sekolah, maka hasilnya harus mampu
melaksanakan berbagai pengawasan untuk meningkatkan kinerja guru.
Pengawasan merupakan sarana kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah
terarah pada tujuan yang telah ditetapkan.
Supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah antara lain adalah : (a)
membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik
pembelajaran/ bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa, (b)
membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di
kelas, laboratorium, dan /atau di lapangan) untuk mengembangkan potensi siswa,
(c) membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan
menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran, dan (d) memotivasi
guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran.
73

Sasaran utama supervisi akademik adalah kemampuan guru dalam


merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan
layanan pembelajaran, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan,
memanfaatkan sumber belajar yang tersedia, dan mengembangkan interaksi
pembelajaran (strategi, metode, teknik) yang tepat.
Tujuan pelaksanaan supervisi akademik terhadap guru yunior bagi peserta
diklat calon kepala sekolah adalah : 1) Mengembangkan kompetensi supervisi
akademik, 2) Melatih kemampuan melaksanakan supervisi akademik, 3) Melatih
kemampuan mengidentifikasi permasalahan guru yunior dalam mengelola
pembelajaran kemudian melakukan tindak lanjut dalam rangka meningkatkan
mutu proses dan hasil pembelajarannya.
Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan supervisi akademik terhadap guru
yunior bagi peserta diklat calon kepala sekolah adalah: 1) Mampu
mengembangkan kompetensi supervisi akademik, 2) Mampu melaksanakan
supervisi akademik, 3) Mampu mengidentifikasi permasalahan guru yunior dalam
mengelola pembelajaran kemudian melakukan tindak lanjut dalam rangka
meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajarannya.
Guru yang dipilih untuk disupervisi adalah Ety Kusmiyati, S.Pd (guru IPA
kelas VIIC/guru yunior 1) dan Halida, S.Pd (guru IPS kelas IXD/guru yunior 2)
keduanya adalah sarjana pendidikan. Setelah melakukan konsultasi dengan kepala
sekolah akhirnya kepala sekolah merekomendasikan kedua guru tersebut untuk
dijadikan sasaran supervisi oleh calon kepala sekolah. Alasan kepala sekolah
merekomendasikan guru yunior 1 karena guru tersebut termasuk guru pemula,
yang menurutnya perlu terus dipantau agar menjadi guru yang profesional,
sementara guru yunior 2 menurut kepala sekolah juga perlu dipantau dan
didampingi karena guru tersebut sering meninggalkan tugas walaupun dengan
alasan yang dapat diterima. Guru yunior 2 ini selalu meminta ijin demi acara
sosial kemasyarakatan.
Teknik supervisi yang digunakan adalah teknik supervisi individual yaitu
melaksanakan supervisi perseorangan terhadap guru yunior. Calon kepala sekolah
74

hanya berhadapan dengan seorang guru. Pelaksanaan supervisi ini dilaksanakan


dengan cara calon kepala sekolah datang ke kelas untuk mengobservasi guru
yunior.
1. Siklus 1
a. Tahap perencanaan
Pada tahap ini calon kepala sekolah menyusun prograam supervisi untuk
guru yunior (terlampir) dan merencanakan waktu, sasaran, dan cara
mengobservasi selama kunjungan kelas untuk guru yunior. Kepada dua guru
yunior diadakan 2 kali supervisi dengan waktu yang sudah disepakati dan tertuang
dalam program supervisi yaitu pada hari Senin tanggal 23 Oktober, dan 30
Oktober 2017 untuk Ibu Ety Kusmiyati, S.Pd pada kelas VII-C untuk mata
pelajaran IPA, sedangan observasi guru yunior atas nama Halida, S.Pd untuk mata
pelajaran IPS juga dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 20 dan 27 Oktober 2017
pada kelas IX-D.
b. Tahap pelaksanaan
1) Pra-Observasi
Calon kepala sekolah menghubungi guru yunior yang akan diobservasi
dan menyiapkan sejumlah instrumen yang akan digunakan pada pelaksanaan
observasi di antaranya : (1) instrumen perencanaan kegiatan pembelajaran, (2)
instrumen observasi kelas, (3) daftar pertanyaan setelah observasi, dan (4) format
tindak lanjut hasil supervisi. Selanjutnya melakukan pertemuan dengan guru
yunior yang akan diobservasi. Data pra observasi untuk guru yunior 1 dan guru
yunior 2 dapat dilihat pada tabel 3.7 sebagai berikut.
Tabel 3.7. Analisis Instrumen Perencanaan Kegiatan Pembelajaran Siklus 1
Nomor
No Jumlah %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 43 98
2 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 42 95
Rerata Persentase 97

Pra observasi dilakukan juga untuk dilihat kesesuaian dan meminta


kesediaan guru yunior untuk diobservasi proses pembelajarannya. Pada
pertemuan awal ini calon kepala sekolah perlu memperhatikan beberapa hal
75

sebagai berikut (1) Menciptakan suasana akrab dengan guru, (2) Membahas
persiapan yang dibuat oleh guru (perangkat pembelajaran) dan membuat
kesepakatan mengenai aspek yang menjadi fokus pengamatan, dan (3)
Menyepakati instrumen observasi yang akan digunakan
Berdasarkan data pada tabel 3.7 di atas dapat dijelaskan lebih lanjut hasil
analisis untuk kegiatan pra observasi guru yunior 1 dan guru yunior 2 sebagai
berikut.
a) Pra observasi guru Yunior 1
Pra observasi pada guru yunior 1 dilakukan untuk melihat kelengkapan
perencanaan pembelajaran. Pada pertemuan pertama calon kepala sekolah
meminta perangkat pembelajaran dilaksanakan sebelum mengujungi kelas yaitu
pada tanggal 23 Oktober 2017. Berdasarkan data padatabel 3.8 pra observasi
untuk guru yunior 1 diperoleh jumlah skor 43 dengan rata-rata persentase 98%
dengan kriteria sangat baik.
b) Pra observasi guru Yunior 2
Sama dengan dilakukan pada guru yunior 1, pra observasi untuk guru
yunior 2 juga dilaksanakan untuk tujuan yang sama yang dilaksanakan pada 20
Oktober 2017. Berdasarkan data padatabel 3.8 pra observasi untuk guru yunior 2
diperoleh jumlah skor 42 dengan rata-rata persentase 95% dengan kriteria sangat
baik.
2) Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan oleh calaon kepala sekolah untuk
melakukan supervisi di kelas yang dikenal dengan observasi pelaksanaan
pembelajaran untuk kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Hasil
obsrvasi pelaksanaan pembelajaran kedua guru senior dapat dilihat pada tabel 3.8
berikut.
Tabel 3.8. Analisis Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 1
Nomor
No %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 84
2 4 4 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 81
Persentase rata-rata 82
76

Berdasarkan data pada tabel 3.8 di atas dapat dijelaskan lebih lanjut hasil
analisis untuk kegiatan observasi guru yunior 1 dan guru yunior 2 sebagai berikut.
a) Observasi guru yunior 1
Calon kepala sekolah melakukan observasi langsung ke kelas VII-C
tempat guru yunior 1 yang dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2017.
Berdasarkan data di atas hasil observasi pelaksanaan pembelajaran siklus 1
kegiatan pendahuluan memperoleh skor 4 (nilai sangat maksimal), dan pada
kegiatan inti, mendapat skor sangat maksimal (4) untuk 4 item dan 9 item
memperoleh skor 3 (maksimal), sementara kegiatan penutup kedua item
mendapat skor maksimal (3) dengan rata-rata persentase 84% (kriteria baik).
Pada kegiatan pendahuluan guru mengucapkan salam dan meminta ketua
kelas untuk berdoa, dilanjutkan dengan mengecek kehadiran siswa. Guru
memberikan apresiasi dan motivasi, dan memberi tahu kompetensi yang akan
dicapai (tujuan pembelajaran). Calon kepala sekolah melihat kembali silabus,
RPP, bahan ajar, alat peraga atau media dan penilaian yang akan digunakan.
Pengamatan berlangsung saat pelaksanaan pembelajaran mulai dari kegiatan
pendauluan, kegiatan inti sampai pada kegiatan penutup.
Sub topik yang disampaikan guru yunior 1 adalah Zat Padat, Zat Cair dan
Gas. Pada kegiatan pendahuluan guru memberi apresiasi dan motivasi dimana
guru mengingatkan siswa pada fenomena alam melalui demonstrasi dengan
meniup balon, kemudian guru mengajukan pertanyaan seperti : Apa yang terdapat
dalam balon karet? Guru menyampaikan tujuan dan manfaat mempelajari
klasifikasi benda.
Ketika masuk pada kegiatan ini guru menyampaikan informasi tentang
kegiatan yang akan dilakukan yaitu pengelompokan benda-benda berdasarkan
sifatnya, Membagi lembar kerja yang berisi table pengamatan, Membagi siswa
menjadi 5 kelompok, Peserta didik mengamati benda-benda tak hidup di sekitar
sekolah secara kelompok. Mengumpulkan benda-banda dan mengelompokan
berdasarkan sifatnya. Diskusi kelompok untuk mempelajari LKS dan
mengidentifikasi konsep yang harus diperoleh melalui observasi. Siswa mencatat
data yang diperoleh pada LKS yang tersedia, diskusi kelompok untuk mengolah
77

dan menganalisis data yang diperoleh guna menjawab pertanyaan-pertanyaan


pada LKS. Presentasi hasil percobaan.
Pada kegiatan penutup, guru mereview hasil kegiatan pembelajaran, serta
menyimpulkan tentang sifat-sifat zat padat, zat cair dan zat gas.Siswa menjawab
kuis tentang sifat-sifat zat. Guru memberikan tugas untuk membaca materi untuk
pertemuan selanjutnya, pembelajaran di selesaikan tidak tepat waktu.
b) Observasi guru yunior 2
Calon kepala sekolah melakukan observasi langsung ke kelas IX-D
tempat guru yunior 2 yang dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2017.
Berdasarkan data di atas hasil observasi pelaksanaan pembelajaran siklus 1
kegiatan pendahuluan semuanya memperoleh skor 4 (nilai sangat maksimal),
sedangkan pada kegiatan inti hanya 2 item memperoleh skor 4 (sangat maksimal)
dan 11 item mendapat skor 3 (maksimal) dengan rata-rata persentase 81%
(kriteria baik).
Calon kepala sekolah melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran pada
guru guru yunior 2 yang mengajar bidang studi IPS kelas IX-D dengan mengacu
pada RPP yang disusun guru. Calon kepala sekolah mengamati jalannya proses
pembelajaran berlangsung, dengan melihat administrasi yang telah dipersiapkan
oleh guru yunior dalam pelaksanaan observasi di antaranya : RPP, bahan ajar,
alat peraga atau media dan penilaian yang akan digunakan. Pengamatan
berlangsung saat pelaksanaan pembelajaran mulai dari kegiatan awal sampai pada
kegiatan penutup.
Materi yang disampaikan adalah perkembangan politik. Pada kegiatan
awal, ketua kelas menyiapkan teman-temannya untuk berdoa menurut agama dan
keyakinan masing-masing. Guru memberikan salam dan melakukan komunikasi
tentang kehadiran siswa. Guru memotivasi siswa dalam mengawali kegiatan
pembelajaran. Kemudian guru menyampaikan tujuan yang diharapkan pada
pembelajaran hari ini. Selanjutnya, pada kegiatan inti guru menjelaskan materi
pelajaran. Pada kegiatan inti di RPP dituliskan pendekatan saintifik, model
pembelajaran inkuiri dan dicovery learning (DL), metode yang digunakan tanya
jawab, diskusi, dan ceramah. Dalam pelaksanaannya guru mendominasi
78

berceramah. Penugasan yang diberikan pada siswa sudah dilakukan namun


sebagian siswa belum menyelesaikan tugas ketika waktu selesai. Pada bagian
penutup guru lupa meminta siswa memberikan kesimpulan pelajaran hari ini.
Guru kemudian menyimpulkan. Berikutnya guru memberikan tugas rumah (PR)
kepada siswa. Selanjutnya guru menutup pelajaran dan memberikan salam.
Pada saat pelaksanaan supervisi, guru belum melakukan penilaian
pengamatan/observasi baik sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Padahal dalam
RPP direncanakan penilaian pengamatan di pertemuan ini. Untuk memperoleh
bukti pelaksanaan pembelajaran tersebut calon kepala sekolah mendokumentasi-
kannya dalam bentuk foto.
3) Pasca-Observasi
Calon kepala sekolah memberikan masukan berdasarkan instrumen
pengamatan yang sifatnya melengkapi jika terdapat kekurangan dari hasil refleksi
diri guru yunior tersebut. Beberapa aktifitas yang dilakukan calon kepala sekolah
sebagai berikut: (1) Dilaksanakan segera setelah observasi, ditanyakan bagaimana
pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang baru berlangsung, (2)
menunjukkan data hasil observasi (instrumen dan catatan), namun guru diberi
kesempatan untuk membandingkan dengan “penilaian diri” yang dilakukan, (3)
Diskusi secara terbuka hasil observasi, terutama pada aspek yang telah disepakati.
Diusahakan guru menemukan sendiri kekuatan dan kekurangannya dan berusaha
memperbaikinya, (4) Penguatan terhadap penampilan guru / segala sesuatu yang
sudah baik, penulis hindari kesan menyalahkan dan menggurui, dan (5)
Menentukan jadwal supervisi berikutnya.
Setelah melakukan observasi mengajar guru yunior, setelah itu guru yunior
diajak untuk merefleksikan dirinya sendiri mendeskripsikan hal-hal yang telah
dilakukan guru dalam mengajar dan yang belum dilakukan oleh guru yunior.
Kegiatan refleksi atau pasca observasi ini dilakukan pada tanggal 23 Oktober
2017 untuk guru yunior 1 dan tanggal 20 Oktober 2017 untuk guru yunior 2.
Penjelasan untuk kegiatan pasca-observasi untuk kedua guru yunior dapat
dijelaskan sebagai berikut.
a) Pasca-Observasi guru yunior 1
79

Kepada guru yunior 1 diberikan daftar pertanyaan setelah observasi dan


beberapa komentar dan diskusi dapat dijelaskan sebagai beriktut.
Tabel 3. 9 Pertanyaan Setelah Observasi Siklus 1
No Pertanyaan Jawaban
1. Bagaimana pendapat Saya merasa masih banyak kekurangan.
Saudara setelah Siswa belum aktif belajar
menyajikan pelajaran ini?
2. Apakah proses Sebagian besar sudah, namun ada beberpa
pembelajaran sudah sesuai hal yang menurut saya belum sesuai dengan
dengan yang yang direncananakan
direncanakan?
3. Dapatkah Saudara Pada pendahuluan seperti saya sudah
menceritakan hal-hal yang melaksanakan sesuai dengan skenario,
dirasakan memuaskan seperti telah memberi apersepsi dan
dalam proses pembelajaran motivasi dan sudah memberitahu
tadi? kompetensi yang akan dicapai (tujuan
pembelajaran)
4. Bagaimana perkiraan Tujuan pembelajaran belum tercapai dengan
Saudara mengenai maksimal.
ketercapaian tujuan
pembelajaran?
5. Apa yang menjadi Masih ada siswa yang belum aktif, tidak
kesulitan siswa? memperhatikan, bicara sendiri.
6. Apa yang menjadi Kelengkapan alat peraga
kesulitan saudara?
7. Adakah alternatif lain Ada, yaitu dengan melengkapi alat peraga.
untuk mengatasi kesulitan
Saudara?
8. Marilah bersama-sama kita Saya masih belum maksimal menggunakan
identifikasi hal-hal yang alat bantu/media pembelajaran, ini mestinya
telah mantap dan hal-hal bisa juga diakses di internet. Teknik
bertanya juga masih kurang. Saya juga
yang perlu peningkatan,
masih belum maksimal melakukan
berdasarkan kegiatan yang eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi,
baru saja Saudara lakukan instrumen penilaian untuk mengetahui
dan pengamatan saya. pencapaian kompetensi (ketercapaian tujuan
pembelajaran) perlu dilaksanakan(instrumen
ada,tapi semuanya tidak sempat
dilaksanakan). Pembelajaran belum tepat
waktu, dan lupa memberikan tugas untuk
80

pertemuan berikutnya.
9. Dengan demikian, apa Inysa Allah akan saya perbaiki lagi dalam
yang akan Saudara KBM berikutnya
lakukan untuk pertemuan
berikutnya?
Kesan umum: Semoga KBM ini tidak hanya dalam
supervisi, tetapi dilanjutkan dalam KBM
sehari – hari
Saran: Beberapa item yang belum maksimal
sebaiknya menjadi refleksi untuk perbaikan
pada siklus 2.

a. Kekuatan proses pembelajaran antara lain:


1) guru menguasai materi pembelajaran.
b. Kelemahan proses pembelajaran antara lain:
1) siswa pasif/ kurang berani,
2) guru mendominasi pembelajaran.
c. Alternatif solusi perbaikan proses pembelajaran:
1) pertanyaan pembuka untuk eksplorasi kemampuan siswa perlu
diperbanyak,
2) beri kesempatan siswa untuk menanggapi pertanyaan/ jawaban teman,
guru berperan memberi klarifikasi dan penguatan,
3) penggunaan media pembelajaran (berbasis TIK)
b) Pasca-Observasi guru yunior 2
Kepada guru yunior 2 juga diberikan daftar pertanyaan setelah observasi
dan beberapa komentar dan diskusi dapat dijelaskan sebagai berikut.

Tabel 3.10 Pertanyaan Setelah Observasi Siklus 1


No Pertanyaan Jawaban
1. Bagaimana pendapat Saya merasa masih perlu diperbaiki lagi
Saudara setelah kegiatan pembelajaran yang saya
menyajikan pelajaran ini? laksanakan. Saya masih belum puas dengan
tampilan saya.
2. Apakah proses Sebagian sudah, saya masih merasakan
pembelajaran sudah sesuai kelemahan dalam menerapkan
81

dengan yang Metode/pendekatan pembelajaran. Tadi saya


direncanakan? belum optimal berperan sebagai fasilitator
dalam membantu mengatasi kesulitan peseta
didik. Termasuk belum mendorong peserta
didik untuk memanfaatkan teknologi
informasi (komputer, internet)
3. Dapatkah Saudara Saya puas pada bagian pendahuluan, selain
menceritakan hal-hal yang memulai dengan doa, mengecek kehadiran
dirasakan memuaskan siswa, saya sudah memberi apersepsi dan
dalam proses pembelajaran motivasi,dan memberitahu kompetensi yang
tadi? akan dicapai (tujuan pembelajaran).
4. Bagaimana perkiraan Tujuan pembelajaran belum tercapai dengan
Saudara mengenai maksimal. Saya rasa siswa merasa kesulitan
ketercapaian tujuan memahami perkembangan Politik Masa
pembelajaran? Demokrasi Liberal dan permasalahan serta
upaya penyelesaian masalah pada masa
demokrasi liberal.
5. Apa yang menjadi Masih ada siswa yang belum aktif, saat
kesulitan siswa? diskusi tidak aktif, sehingga masih banyak
belum menyelesaikan tugas.
6. Apa yang menjadi Saya masih kesulitan menerapkan model
kesulitan saudara? pembelajaran discovery learning yang saya
cantumkan dalam RPP.
7. Adakah alternatif lain Saya berusaha agar pembelajaran berpusat
untuk mengatasi kesulitan pada siswa, guru sebaiknya hanya
Saudara? mengarahkan.
8. Marilah bersama-sama kita Seperti yang saya sampaikan tadi saya
identifikasi hal-hal yang kesulitan menerapkan metode/pendekatan
telah mantap dan hal-hal yang variatif walaupun saya sudah
yang perlu peningkatan, mencantumkan model inkuiri dan
berdasarkan kegiatan yang discovery learning. Namun saya sudah Guru
baru saja Saudara lakukan berperan sebagai menggunakan metode
dan pengamatan saya. tanya jawab, diskusi dan ceramah.
Pembelajaran belum tepat waktu.
9. Dengan demikian, apa Inysa Aloh akan saya perbaiki lagi supaya
yang akan Saudara tujuan pembelajaran bisa optimal.
lakukan untuk pertemuan
berikutnya?
Kesan umum: Sudah menunjukkan kamampuan guru
dalam kompetensi profesionaldan
82

paedagogik walaupun perlu terus


ditingkatkan.

Saran: Pada siklus 2 harus lebih baik lagi, untuk itu


perlu perbaikan dan revisi item-item yang
belum optimal di siklus 1.

c. Tahap tindak lanjut


Hasil refleksi dijadikan dasar untuk perbaikan proses pembelajaran
berikutnya. Guru yunior mengisi refleksi secara tertulis baik kelebihan dan
kekurangan pada saat pembelajaran mulai dari awal hingga akhir sehingga dapat
dijadikan bukti pendampingan tindak lanjut untuk materi pembelajaran yang
berbeda. Beberapa item yang belum maksimalsebaiknya menjadi refleksi untuk
perbaikan pada siklus 2.
d. Hasil
Hasil pelaksanaan supervisi guru yunior 1 (Ety Kusmiyati, S.Pd.) untuk
mata pelajaran IPA kelas VII-C diperoleh nilai : (a) perencanaan kegiatan
pembelajaran 98% (amat baik), (b) Observasi pelaksanaan pembelajaran 84%
(baik).
Sedangkan hasil pelaksanaan supervisi guru yunior 2 (Halida, S.Pd) untuk
mata pelajaran IPS kelas IX-D diperoleh nilai : (a) perencanaan kegiatan
pembelajaran 95% (amat baik), (b) Observasi pelaksanaan pembelajaran 81%
(baik).
Nilai tersebut mengindikasikan kemampuan guru melaksanakan
pembelajaran termasuk ke dalam kategori kemampuan baik.

Tabel 3.11. Analisis Perencanaan Kegiatan Pembelajaran dan Perencanaan


Kegiatan Pembelajaran Siklus 1
Persentase Siklus 1
No Nama Perencanaan Kegiatan Observasi Pelaksanaan
Pembelajaran Pembelajaran
1 Ety Kusmiyati, S.Pd 98 84
2 Halida, S.Pd 95 81
Jumlah 193 165
Rata-rata 97 83
83

2. Siklus 2
a. Tahap perencanaan
Tahap perencanaan siklus kedua diawali dengan mendiskusikan jadwal
untuk supervisi berikutnya kepada guru yunior 1 dan 2. Kesepakatan untuk guru
yunior 1 diadakan pada tanggal 30 Oktober 2017, dan guru yunior 2 dilaksanakan
pada tanggal 27 Oktober 2017.
b. Tahap pelaksanaan
1) Pra-Observasi
Calon kepala sekolah menghubungi guru yunior yang akan diobservasi
dan menyiapkan sejumlah instrumen yang akan digunakan pada pelaksanaan
observasi di antaranya : (1) instrumen perencanaan kegiatan pembelajaran, (2)
instrumen observasi kelas, (3) daftar pertanyaan setelah observasi, dan (4) format
tindak lanjut hasil supervisi. Selanjutnya melakukan pertemuan dengan guru
yunior yang akan diobservasi. Data pra observasi untuk guru yunior 1 dan guru
yunior 2 dapat dilihat pada tabel 3.12 sebagai berikut.
Tabel 3.12. Analisis Instrumen Perencanaan Kegiatan Pembelajaran Siklus 2
Nomor
No Jumlah %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44 100
2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 43 98
Rerata persentase 99

Berdasarkan data di atas kedua guru yunior tersebut sudah menunjukkan


peningkatan yang cukup signifikan dilihat dari analisis terhadap perencanaan
kegiatan pembelajaran. Keduanya menujukkan predikat sangat baik dan rerata
ketercapaian 99%.
c) Pra observasi guru Yunior 1
Pra observasi pada guru yunior 1 dilakukan untuk melihat kelengkapan
perencanaan pembelajaran. Pada pertemuan pertama calon kepala sekolah
meminta perangkat pembelajaran dilaksanakan sebelum mengujungi kelas pada
tanggal 30 Oktober 2017. Berdasarkan data pada tabel 3.8 pra observasi untuk
84

guru yunior 1 diperoleh jumlah skor 44 dengan rata-rata persentase 100% dengan
kriteria sangat baik.
d) Pra observasi guru Yunior 2
Sama dengan dilakukan pada guru yunior 1, para observasi untuk guru
yunior 2 juga dilaksanakan untuk tujuan yang sama yang dilaksanakan pada 27
Oktober 2017. Berdasarkan data pada tabel 3.8 pra observasi untuk guru yunior 2
diperoleh jumlah skor 43 dengan rata-rata persentase 98% dengan kriteria sangat
baik.
2) Observasi
Berdasarkan data pada tabel 3.13 di atas dapat dijelaskan lebih lanjut hasil
analisis untuk kegiatan observasi guru yunior 1 dan guru yunior 2 sebagai berikut.
Tabel 3.13 Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 2
Nomor
No %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Jml
1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 66 97
2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 65 96
Rerata Presentase - 97

c) Observasi guru yunior 1


Calon kepala sekolah melakukan observasi langsung ke kelas VII-C
tempat guru yunior 1 yang dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2017.
Berdasarkan data di atas hasil observasi pelaksanaan pembelajaran siklus 1
kegiatan pendahuluan memperoleh skor 4 (nilai sangat maksimal), dan pada
kegiatan inti, mendapat skor sangat maksimal (4) untuk 12 item, memperoleh
skor 3 (maksimal) pada 2 item saja dengan rata-rata persentase 97% (kriteria
amat baik).
Pada kegiatan pendahuluan guru mengucapkan salam dan meminta ketua
kelas untuk berdoa, dilanjutkan dengan mengecek kehadiran siswa. Guru
memberikan apresiasi dan motivasi, dan memberi tahu kompetensi yang akan
dicapai (tujuan pembelajaran). Calon kepala sekolah melihat kembali RPP, bahan
ajar, alat peraga atau media dan penilaian yang akan digunakan. Pengamatan
85

berlangsung saat pelaksanaan pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan,


kegiatan inti sampai pada kegiatan penutup.
Sub topik yang disampaikan guru yunior 1 adalah Larutan asam, basa, dan
garam. Pada kegiatan pendahuluan guru memberi apresiasi dan motivasi dimana
guru memperlihatkan beberapa contoh larutan asam,basa dan garam, guru
mengajukan pertanyaan : bahan-bahan apa saja yang tergolong asam,basa dan
garam. Guru menanyakan topik yang sudah dipelajari tentang zat berdasarkan
wujudnya/sifat-sifat zat kepada peserta didik.
Ketika masuk pada kegiatan ini guru menyampaikan informasi tentang
kegiatan yang akan dilakukan (eksperimen larutan asam, basa dan garam). Guru
membagi siswa menjadi 5 kelompok dan membagikan LKS tiap kelompok.
Siswa melakukan diskusi kelompok untuk mengkaji LKS yang akan digunakan
sebagai acuan dalam eksperimen. Melakukan eksperimen sifat asam,basa dan
garam dengan indikator kertas lakmus. Siswa mengamati dan mencatat data hasil
eksperimen pada LKS, guru bersama siswa membuat indikator alami, dilanjutkan
dengan melakukan eksperimen sifat asam, basa dan garam dengan indikator
alami. Siswa mengamati dan mencatat data hasil eksperimen pada LKS.
Menjawab pertanyaan pada LKS. Diskusi sifat asam, basa dan garam berdasarkan
hasil pengamatan. Namun siswa tidak melakukan presentasi hasil pengamatan
dan guru bersama siswa membuat kesimpulan tentang sifat asam, basa dan
garam.
Pada kegiatan penutup, siswa dan guru mereview hasil kegiatan
pembelajaran dan membuat kesimpulan secara bersama-sama. Guru memberikan
beberapa pertanyaan sebagai bahan evaluasi, selanjutnya guru memberikan tugas
rumah (PR) tapi instruksinya kurang jelas dan kesanya terburu-buru hal ini
disebabkan karena jam belajar sudah berakhir.
d) Observasi guru yunior 2
Calon kepala sekolah melakukan observasi langsung ke kelas IX-D
tempat guru yunior 2 yang dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2017.
Berdasarkan data di atas hasil observasi pelaksanaan pembelajaran siklus 1
kegiatan pendahuluan semuanya memperoleh skor 4 (nilai sangat maksimal),
86

sedangkan pada kegiatan inti hanya 3 item memperoleh skor 3 (maksimal) dan
selebihnya mendapat skor 4 (sangat maksimal) dengan rata-rata persentase 96%
(kriteria amat baik).
Calon kepala sekolah melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran pada
guru guru yunior 2 yang mengajar bidang studi IPS kelas IX-D dengan mengacu
pada RPP yang disusun guru. Calon kepala sekolah mengamati jalannya proses
pembelajaran berlangsung, dengan melihat administrasi yang telah dipersiapkan
oleh guru yunior dalam pelaksanaan observasi di antaranya: RPP, bahan ajar, alat
peraga atau media dan penilaian yang akan digunakan. Pengamatan berlangsung
saat pelaksanaan pembelajaran mulai dari kegiatan awal sampai pada kegiatan
penutup.
Materi yang disampaikan adalah perkembangan budaya. Sama seperti
siklus 1 ketua kelas menyiapkan teman-temannya untuk berdoa menurut agama
dan keyakinan masing-masing. Guru memberikan salam dan melakukan
komunikasi tentang kehadiran siswa. Guru memotivasi siswa dalam mengawali
kegiatan pembelajaran. Guru motivasi siswa dengan diminta untuk saling
menceritakan budaya masyarakat di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Siswa
dapat menemukan perbedaan budaya masyarakat untuk menuju kompetensi yang
akan dicapai.
Selanjutnya, pada kegiatan inti Siswa dibagi dalam 5 kelompok. Setiap
kelompok mengkaji materi pelajaran tentang perkembangan budaya di Indonesia,
kemudian siswa mencatat materi yang essensial. Setiap kelompok menyampaikan
catatan esensial, dan setiap kelompok memberikan tanggapan dan penilaian.
Tanya jawab tentang hal-hal yang kurang dipahami oleh masing-masing.
Pada saat pelaksanaan supervisi, guru belum melakukan penilaian
pengamatan/observasi baik sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Padahal dalam
RPP direncanakan penilaian pengamatan di pertemuan ini. Dilanjutkan dengn
refleksi. Siswa mampu menumbuhkan sikap dan perilaku terhadap kepekaan
permasalahan sosial di masyarakat. Untuk memperoleh bukti pelaksanaan
pembelajaran tersebut calon kepala sekolah mendokumentasi-kannya dalam
bentuk foto.
87

Pada kegiatan penutup, siswa dan guru mereview hasil kegiatan


pembelajaran dan membuat kesimpulan secara bersama-sama. guru selanjutnya
memberikan tugas rumah (PR) agar membaca materi untuk pertemuan
berikutnya.
4) Pasca-Observasi
Setelah melakukan observasi mengajar guru yunior, setelah itu guru yunior
diajak untuk merefleksikan dirinya sendiri mendeskripsikan hal-hal yang telah
dilakukan guru dalam mengajar dan yang belum dilakukan oleh guru yunior.
Kegiatan refleksi atau pasca observasi ini dilakukan pada tanggal 30 Oktober
2017 untuk guru yunior 1 dan tanggal 27 Oktober 2017 untuk guru yunior 2.
Penjelasan untuk kegiatan pasca-observasi untuk kedua guru yunior dapat
dijelaskan sebagai berikut.
c) Pasca-Observasi guru yunior 1
Kepada guru yunior 1 diberikan daftar pertanyaan setelah observasi dan
beberapa komentar dan diskusi dapat dijelaskan sebagai beriktut.
Tabel 3.14 Pertanyaan Setelah Observasi Siklus 2
No Pertanyaan Jawaban
1. Bagaimana pendapat Alhamdulillah KBM kedua ini siswa sangat
Saudara setelah antusias dan semua aktif belajar.
menyajikan pelajaran ini?
2. Apakah proses Sudah berjalan sesuai dengan yang yang
pembelajaran sudah sesuai diharapkan. Tapi tadi saya hampir lupa
dengan yang memberikan tugas PR kepada siswa,
direncanakan? walaupun setelah itu saya berikan juga.
Setelah menutup kegiatan saya sempat
mengingat untukmemberikan PR.
3. Dapatkah Saudara Hampir semua kegiatan dari
menceritakan hal-hal yang endahuluan,kegiatan inti dan penutup sudah
dirasakan memuaskan saya usahakan tampil optimal, buktinya
dalam proses pembelajaran siswa aktif berdisksui dan bertanya.
tadi?
4. Bagaimana perkiraan Tujuan pembelajaran sudah tercapai, ketika
Saudara mengenai siswa ditanyakan kesimpulan mereka
ketercapaian tujuan tentang sifat asam, basa dan garam 85% siswa
dapat menjawab.
pembelajaran?
88

5. Apa yang menjadi Siswa rupanya kesulitan mengkomuniksi


kesulitan siswa? hasil eksperimennya kepaa teman lain. Jadi
kemampuan berkomunikasi perlu
ditingkatkan pada siswa.
6. Apa yang menjadi Pada siklus 2 ini hampir tidak ada, kecuali
kesulitan saudara? mencari sumber lain dalam internet, karena
sedikit siswa yang memiliki laptop.
7. Adakah alternatif lain Siswa disuruh untuk mencari sumber lain
untuk mengatasi kesulitan tentang materi sifat asam,basa dan garam
Saudara? dalam internet di rumahnya.
8. Marilah bersama-sama kita Teknik bertanya masih saya tingkatkan,
identifikasi hal-hal yang karena saya tidak sabar memanfaatkan
telah mantap dan hal-hal waktu tunggu, karena waktu 2 x 40 menit
masih kurang untuk materi ini, karena
yang perlu peningkatan,
bayak waktu untuk melakukan eksperimen.
berdasarkan kegiatan yang Waktu kurng dan saya hamir lupa
baru saja Saudara lakukan memberikan tugas untuk pertemuan
dan pengamatan saya. berikutnya.
9. Dengan demikian, apa Inysaalloh saya akan memenej waktu
yang akan Saudara dengan maksimal.
lakukan untuk pertemuan
berikutnya?
Kesan umum: KBM berjalan sesuai RPP walaupun masih
perlu ditingkatkan.

Saran: Perlu terus meningkatkan kompetensi dan


terus refleksi untuk perbaikan pembelajaran.

d) Pasca-Observasi guru yunior 2


Kepada guru yunior 2 juga diberikan daftar pertanyaan setelah observasi
dan beberapa komentar dan diskusi dapat dijelaskan sebagai beriktut.
Tabel 3. 15 Pertanyaan Setelah Observasi Siklus 2
No Pertanyaan Jawaban
1. Bagaimana pendapat Hemat saya, saya sudah melaksanakan KBM
Saudara setelah sesuai RPP, siswa sebagian besar aktif.
menyajikan pelajaran ini?
2. Apakah proses Saya kira sudah, kelemahan saya pada siklus
pembelajaran sudah sesuai 1 dalam menerapkan metode/pendekatan
dengan yang pembelajaran sudah saya pelajari dan
direncanakan? diskusi dengan teman sejawat. Termasuk
89

mendorong peserta didik untuk


memanfaatkan teknologi informasi
(komputer, internet)
3. Dapatkah Saudara Terutama kegiatan pendahuluan, sudah saya
menceritakan hal-hal yang jalani sesuai RPP. Kegiatan inti sudah saya
dirasakan memuaskan laksanakan, demikian juga penutup.
dalam proses pembelajaran Pada KBM 2 saya juga sudah menggunakan
tadi? LCD, yang pada siklus 1 belum.
4. Bagaimana perkiraan Tujuan pembelajaran menurut saya sudah
Saudara mengenai tercapai, indikatornya lebih dari separoh
ketercapaian tujuan siswa bisa mendeskripsikan potensi lokasi
pembelajaran? secara astronomis, geografis dan geologis.
5. Apa yang menjadi Pada siklus 2 ini hampir tidak ada kesulitan
kesulitan siswa? pada siswa, hanya karena kurang waktu ada
3 orang yang belummengerjakan tugas.
6. Apa yang menjadi Saya masih kesulitan menerapkan model-
kesulitan saudara? model pembelajaran inovatif saya
tercantumkan dalam RPP.
7. Adakah alternatif lain Sebagai guru saya akan meningkatkan
untuk mengatasi kesulitan kompetensi profesional dan pedagogis.
Saudara?
8. Marilah bersama-sama kita Masih ada dua yang perlu saya perlu
identifikasi hal-hal yang tingkatkan yaitu tentang penggunaan
telah mantap dan hal-hal metode/pendekatan variatif. Penggunaan alat
yang perlu peningkatan, bantu/media pembelajaran (alat peraga, peta,
berdasarkan kegiatan yang OHP, kaset & tape recorder, komputer &
baru saja Saudara lakukan LCD, CD interaktif, dsb) perlu menjadi
dan pengamatan saya. perhatian saya.
9. Dengan demikian, apa Saya akan mengoptimalkan kegiatan
yang akan Saudara pembelajaran mulai dari pendahuluan,
lakukan untuk pertemuan kegiatan inti dan penutup.
berikutnya?
Kesan umum: Guru sudah berusaha tampil maksimal
dalam KBM, semoga dapat diterapkan
dalam kegiatan keseharian guru.
Saran: Kegiatan KBM yang sudah baik perlu
dipertahankan dan diperbaiki terus menerus.

3) Tahap tindak lanjut


90

Tahap tindak lanjut hasil supervisi pada 2 guru yunior dapat dijelaskan
sebagai berikut: Guru yunior 1 untuk mata pelajaran IPA kelas VII berkaitan
dengan perencanaan kegiatan pembelajaran pada siklus 1 98% meningkat
menjadi 100% pada siklus 2, guru yunior 2 dari 95% pada siklus 1 menjadi 98
pada siklus 2. Sedangkan dari segi pelaksanaan pembelajaran guru yunior 1 84%
meningkat menjadi 97%, untuk guru yunior 2 dari 81% meningkat menjadi 96%
Berdasarkan hasil tersebut maka kedua guru yunior perlu mempertahankan dan
terus meningkatkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
4) Hasil
Hasil pelaksanaan supervisi guru yunior yang telah dilaksanakan pada
siklus 1 terhadap guru yunior Ety Kusmiyati, S.Pd, dan Hilida, S.Pd diperoleh
nilai : (a) perencanaan pembelajaran pada siklus 1 98%, dan 95% (b) Observasi
pelaksanaan pembelajaran adalah 84% untuk Ibu Ety Kusmiyati, S.Pd, dan Ibu
Hilida, S.Pd., dengan persentase 81%. Hasil pelaksanaan supervisi guru yunior
yang telah dilaksanakan pada siklus 2 terhadap guru yunior Ety Kusmiyati, S.Pd,
dan Ibu Hilida, S.Pd diperoleh nilai : (a) perencanaan pembelajaran pada siklus 2
100%, dan 98% (b) Observasi pelaksanaan pembelajaran adalah 97% untuk Ibu
Ety Kusmiyati, S.Pd, dan Ibu Hilida, S.Pd., dengan persentase 96%. Nilai
tersebut mengindikasikan kemampuan guru melaksanakan pembelajaran termasuk
ke dalam kategori kemampuan sangat baik artinya dapat digunakan untuk
contoh bagi guru lain.
Dari pengamatan pada siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior atas nama
Ety Kusmiyati, S.Pd, dan Ibu Hilida, S.Pd terlihat adanya peningkatan perolehan
skor nilai dari siklus 1 ke siklus 2 sebagaimana tabel berikut.
91

Tabel 3.16 Perbandingan Hasil Perencanaan pembelajaran dan Observasi


Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 1 dan 2

Perencanaan Observasi pelaksanaan


No Nama pembelajaran pembelajaran
Siklus 1 Siklus 2 Siklus 1 Siklus 2
1 Ety Kusmiyati, S.Pd 98 100 84 97
2 Halida, S.Pd 95 98 81 96
Jumlah 193 198 165 193
Rata-rata 97 99 83 97

C. Pengembangan Perangkat Pembelajaran


1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan hal penting yang harus
dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan proses pembelajaran. Perangkat
pembelajaran meliputi : RPP, bahan ajar, dan perangkat penilaian.
Calon kepala sekolah juga adalah seorang guru karenanya dalam
menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru, calon kepala sekolah juga
dituntut untuk menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
Bahkan karena calon kepala sekolah adalah calon pemimpin yang sedang dilatih,
ia harus lebih memahami dan memberikan contoh kepada rekan guru lainnya
dalam menyusun perangkat pembelajaran.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun
2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran
tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus
untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai
Kompetensi Dasar (KD).
RPP yang dikembangkan secara rinci mengacu pada silabus, buku teks
pelajaran, dan buku panduan guru. Setiap guru pada satuan pendidikan
berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis sebagai langkah awal
dari proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat
berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan efisien
dalam rangka mengembangkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi. RPP disusun
92

berdasarkan serangkaian KD yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau


lebih.
Penyusunan RPP ini dilakukan pada setiap awal semester atau
awal tahun pelajaran, namun perlu diperbaharui sebelum pembelajaran
dilaksanakan. Pengembangan RPP dapat dilakukan secara mandiri atau secara
berkelompok melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di
sekolah/madrasah. Sebaiknya hal ini dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi
oleh kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah/
madrasah.
Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara berkelompok melalui
MGMP antar sekolah atau antar wilayah dikoordinasikan dan disupervisi oleh
pengawas atau Dinas Pendidikan setempat.
Panduan penyusunan RPP kurikulum 2013 revisi tahun 2017 ini dalam hal
isi Komponen RPP merujuk pada Permendikbud No. 22 Tahun 2016, terdiri atas:
1. identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
2. identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
3. kelas/semester;
4. materi pokok;
5. alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan
beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia
dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
6. tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan
kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan;
7. kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
8. materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
ketercapaian kompetensi;
9. metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar siswa mencapai KD yang disesuaikan
dengan karakteristik siswa dan KD yang akan dicapai;
93

10. media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk


menyampaikan materi pelajaran;
11. sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar,
atau sumber belajar lain yang relevan;
12. langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti,
dan penutup; dan
13. penilaian hasil pembelajaran.
Dalam laporan On the Job Learning (OJL) ini calon kepala sekolah juga
menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampu yaitu : Obyek IPA dan
Pengamatannya. Sub Topik : Penyelidikan IPA, Pengukuran sebagai bagian dari
pengamatan , Besaran Pokok dan Besaran Turunan. Sebagai langkah awal dalam
menyusun RPP adalah penulisan data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester,
alokasi waktu. RPP yang disusun tentu saja berbasis saintifik sesuai dengan tema
yang diangkat oleh calon kepala sekolah dalam Rencana Tindak Kepemimpinan
(RTK).
Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai
berikut: (a) berpusat pada siswa, (b) melibatkan keterampilan proses sains dalam
mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip, (c) melibatkan proses-proses kognitif
yang potensial dalam merangsang perkembangan intelektual, khususnya
keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa,dan (d) dapat mengembangkan karakter
siswa.
Tujuan pembelajaran dengan metode saintifik didasarkan pada keunggulan
pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan metode saintifik
adalah:
a. untuk meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir
tingkat tinggi siswa.
b. untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah
secara sistematik.
c. terciptanya kondisi pembelajaran yang menyebabkan siswa merasa bahwa
belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
d. diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
94

e. untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam


menulis karya ilmiah.
f. untuk mengembangkan karakter siswa.
Beberapa prinsip pembelajaran dengan metode saintifik, yaitu: (a)
pembelajaran berpusat pada siswa, (b) pembelajaran membentuk students self
concept, (c) pembelajaran terhindar dari verbalisme, (d) pembelajaran memberikan
kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum,
dan prinsip, (e) pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan
berpikir siswa, (f) pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi
mengajar guru, (g) memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih
kemampuan dalam komunikasi, (h) adanya proses validasi terhadap konsep,
hukum, dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.
Secara umum langkah-langkah pembelajaran dengan metode saintifik
adalah: (a) melakukan pengamatan atas suatu fenomena, (b) mengajukan
pertanyaan atau merumuskan masalah berkaitan dengan fenomenon yang diamati,
(c) menalar untuk merumuskan hipotesis atau jawaban sementara, (d) merancang
cara dan langkah untuk mengumpulkan data atau informasi, (e) mengumpulkan
data atau informasi dengan berbagai teknik, (f) menganalisis data atau informasi,
(g) menarik kesimpulan, (h) mengomunikasikan hasil yang telah diperoleh, dan (i)
memvalidasi kesimpulan yang telah ditarik, jika kesimpulan belum benar (untuk
menghindari terjadinya kesalahan konsep).
Hasil yang diperoleh dari pembelajaran dengan metode saintifik berupa
konsep, hukum atau prinsip yang dikonstruk/dibentuk oleh siswa dengan bantuan
guru. Perlu dipahami bahwa dalam kondisi tertentu, data yang diperlukan untuk
menguji hipotesis tidak mungkin diperoleh secara langsung oleh siswa melalui
percobaan yang mereka lakukan atau kalau dilakukan memerlukan waktu yang
terlalu lama.
Sebagai contoh adalah materi pelajaran yang berkaitan dengan konsep
kelarutan zat dalam pelarut tertentu. Dalam hal ini guru dapat memberikan data
yang dibutuhkan untuk kemudian dianalisis oleh siswa.
95

Dalam mengonstruk konsep, hukum atau prinsip, langkah-langkah yang


diberikan di atas tidak harus dilaksanakan semua. Sebagai contoh dalam
menggolongkan sifat asam, basa atau netral suatu larutan, langkah-langkah yang
perlu dilakukan adalah merancang percobaan, mengumpulkan data, dan
menyimpulkan. Contoh yang lain, dalam menemukan pengaruh temperatur
terhadap energi kinetik molekul, proses-proses kognitif yang perlu dilakukan
adalah merancang percobaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan.
Kegiatan pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan
bertujuan untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang
memungkinkan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebagai
contoh ketika memulai pembelajaran, guru menyapa anak dengan nada
bersemangat dan gembira (mengucapkan salam), mengecek kehadiran para siswa
dan menanyakan ketidak hadiran siswa apabila ada yang tidak hadir.
Dalam metode saintifik tujuan utama kegiatan pendahuluan adalah
memantapkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai
yang berkaitan dengan materi pelajaran baru yang akan dipelajari oleh siswa.
Dalam kegiatan ini guru harus mengupayakan agar siswa yang belum paham suatu
konsep dapat memahami konsep tersebut, sedangkan siswa yang mengalami
kesalahan konsep, kesalahan tersebut dapat dihilangkan. Pada kegiatan
pendahuluan, disarankan guru menunjukkan fenomena atau kejadian “aneh” atau
“ganjil” (discrepant event) yang dapat menggugah timbulnya pertanyaan pada diri
siswa.
Kegiatan inti merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau
dalam proses penguasaan pengalaman belajar (learning experience) siswa.
Kegiatan inti dalam pembelajaran adalah suatu proses pembentukan pengalaman
dan kemampuan siswa secara terprogram yang dilaksanakan dalam durasi waktu
tertentu. Kegiatan inti dalam metode saintifik ditujukan untuk terkonstruksinya
konsep, hukum atau prinsip oleh siswa dengan bantuan dari guru melalaui
langkah-langkah kegiatan yang diberikan di muka.
96

Kegiatan penutup ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama, validasi


terhadap konsep, hukum atau prinsip yang telah dikonstruk oleh siswa. Kedua,
pengayaan materi pelajaran yang dikuasai siswa. Validasi dapat dilakukan dengan
mengindentifikasi kebenaran konsep, hukum atau prinsip yang telah dikonstruk
oleh siswa. Dalam hal ini seringkali guru meminta siswa untuk mengungkapkan
konsep, hukum atau prinsip yang telah mereka konstruk. Dari sini dapat diketahui
ada atau tidaknya kesalahan konsep. Bila terjadi kesalahan konsep maka guru
dapat segera mengkoreksi kesalahan konsep tersebut.
Pengayaan dapat dilakukan dengan memberikan tugas kepada siswa untuk
membaca buku-buku pelajaran atau sumber informasi lainnya untuk
memantapkan pemahaman materi yang telah dibelajarkan atau memahami materi
lain yang berkaitan. Guru juga dapat meminta siswa untuk mengakses sumber-
sumber dari internet baik yang berupa animasi atau video berkaitan dengan materi
yang telah dibelajarkan. Dalam hal ini seyogyanya guru memberikan situs-situs
internet yang berkaitan dengan materi pelajaran yang telah dibelajarkan.
Pengayaan dapat juga dilakukan dengan meminta siswa melakukan percobaan
yang berkaitan dengan materi yang telah dibelajarkan yang aman untuk dikerjakan
di rumah oleh siswa.
2. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan yang dimaksud berupa
tertulis maupun tidak tertulis.
Jenis-jenis bahan ajar dapat dibedakan atas beberapa kriteria
pengelompokan. Menurut Koesnandar (2008), jenis bahan ajar berdasarkan
subjeknya terdiri dari dua jenis, yaitu : (a) Bahan ajar yang sengaja dirancang
untuk belajar seperti buku, LKS. (b) Bahan ajar yang dirancang dapat
dimanfaatkan untuk belajar menyatakan bahwa jika ditinjau dari fungsinya maka
bahan ajar yang dirancang terdiri atas 3 kelompok, yaitu: bahan ajar persentasi,
bahan referensi, dan bahan belajar mandiri.
Pengembangan bahan ajar harus didasarkan pada analisis kebutuhan siswa
terdapat beberapa alasan mengapa perlu pengembangan bahan ajar, yaitu :
97

a) Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang


dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum.
b) Krakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuiakan
dengan krakteristik siswa sebagai sasaran.
c) Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah
atau kesulitan dalam belajar.
Berkaitan dengan salah satu tugas On the Job Learning (OJL) yaitu
menyusun bahan ajar, maka calon kepala sekolah juga mencoba menyusun bahan
ajar. Seperti yang diuraikan di atas tentang pengertian bahan ajar dan dasar
pengembangan bahan ajar, diantaranya adalah ketersediaan bahan sesuai tuntutan
kurikulum, artinya bahan ajar yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum,
karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuiakan
dengan karakteristik siswa sebagai sasaran. Maka pengembangan bahan ajar yang
dilakukan guru akan sangat bermanfaat.
3. Instrumen Penilaian
Penilaian memang peranan yang penting dalam pembelajaran. Penilaian
berfungsi untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran. Kurikulum
2013 memberlakukan sistem autentik dalam penilaiannya, artinya penilaian
pembelajaran yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dalam RPP instrumen penilaian ada dibagian paling akhir, untuk
keperluan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah juga melakukan
penyusunan instrumen penilaian.

D. Pengkajian Aspek Manajerial


Berdasarkan Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 seorang kepala sekolah
dituntut memiliki kemampuan standar. Kemampuan tersebut diantaranya
kompetensi manajerial. Empat keterampilan manajerial kepala sekolah akan
dibahas secara detail berikut ini.
Pertama, keterampilan melakukan perencanaan. Kepala sekolah harus
mampu melakukan proses perencanaan, baik perencanaan jangka pendek,
menengah, maupun perencanaan jangka panjang. Perencanaan jangka pendek
adalah perencanaan yang dibuat untuk kepentingan jangka pendek, misalnya
98

untuk satu bulan hingga satu tahun pelajaran. Perencanaan jangka menengah
adalah perencanaan untuk pekerjaan yang memerlukan waktu 1 - 4 tahun,
sedangkan perencanaan jangka panjang meliputi perencanaan sekitar 5 – 10 tahun.
Proses perencanaan menjadi salah satu keterampilan yang penting mengingat
perencanaan yang baik merupakan setengah dari kesuksesan suatu pekerjaan.
Prinsip perencanaan yang baik, akan selalu mengacu pada pertanyaan: “Apa,
siapa, kapan, di mana, dan bagaimana sesuatu dilakukan”. Detail perencanaan
inilah yang akan menjadi kunci kesuksesan pekerjaan.
Kedua, keterampilan melakukan pengorganisasian. Lembaga pendidikan
mempunyai sumber daya yang cukup besar mulai sumber daya manusia yang
terdiri dari guru, karyawan, dan siswa, sumber daya keuangan, hingga fisik mulai
dari gedung serta sarana dan prasarana yang dimiliki. Salah satu masalah yang
sering melanda lembaga pendidikan adalah keterbatasan sumber daya. Kepala
sekolah harus mampu menggunakan dan memanfaatkan sumber daya yang
tersedia dengan sebaik-baiknya. Walaupun terbatas, namun sumber daya yang
dimiliki adalah modal awal dalam melakukan pekerjaan. Karena itulah seni
mengelola sumber daya menjadi keterampilan manajerial yang tidak bisa
ditinggalkan.
Ketiga, kemampuan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan perencanaan
yang telah ditetapkan. Tahapan ini mengisyaratkan kepala sekolah membangun
prosedur operasional lembaga pendidikan, memberi contoh bagaimana bekerja,
membangun motivasi dan kerjasama, serta selalu melakukan koordinasi dengan
berbagai elemen pendidikan. Tidak ada gunanya perencanaan yang baik jika
dalam implementasinya tidak dilakukan secara sungguh-sungguh dan profesional.
Keempat, kepala sekolah harus mampu melakukan tugas-tugas
pengawasan dan pengendalian. Pengawasan (supervisi) ini meliputi supervisi
manajemen dan supervisi dalam bidang pengajaran. Supervisi manajemen artinya
melakukan manajemen dalam bidang pengembangan keterampilan dan
kompetensi administrasi dan kelembagaan, sementara supervisi pengajaran adalah
melakukan pengawasan dan kendali terhadap tugas-tugas serta kemamapuan
tenaga pendidik sebagai guru. Karenanya kepala sekolah juga harus mempunyai
99

kompetensi dan keterampilan profesional sebagai guru, sehingga ia mampu


memberikan supervisi yang baik kepada bawahannya.
Berdasarkan pemahaman di atas calon kepala sekolah menuangkan kajian
manajemen di sekolah sendiri (SMPN 4 Kota Bima) dan sekolah magang 2
(SMPN 8 Kota Bima). Dalam mengkaji 9 aspek manajerial, sebagai langkah
persiapan calon kepala sekolah menyiapkan beberapa dokumen, 1) Bahan ajar
berupa modul yang calon kepala sekolah peroleh pada kegiatan In-Service 1. 2)
Untuk mencari kondisi ideal digunakan atau berpedoman pada
Permendiknas/Permendikbud sesuai dengan aspek kajian manajerial. 3) Kemudian
calon kepala sekolah menyusun instrumen kajian 9 aspek manajerial yang akan
dijadikan panduan mencari informasi dari pemegang jabatan di sekolah, dan 4)
Jika informasi dirasa masih kurang calon kepala sekolah melakukan wawancara
dengan para pemegang jabatan tersebut.
1. Rencana Kerja Sekolah
Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan
pendidikan menyatakan bahwa sekolah harus membuat rencana kerja sekolah
(RKS) yang terdiri dari rencana kerja jangka menengah (RKJM) dan rencana kerja
tahunan (RKT). RKJM menggambarkan tujuan sekolah yang akan dicapai dalam
kurun waktu empat tahun yang berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai
dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan, sedangkan
RKT dicapai dalam waktu satu tahunan.
a. SMPN 4 Kota Bima
Berdasakan hasil observasi calon kepala sekolah dan pengisian angket
yang telah disebar kepada pemegang jabatan di sekolah dapat digambarkan bahwa
dalam SMPN 4 Kota Bima telah menyusun EDS dilaksanakan oleh Tim
Pengembang Sekolah (TPS). Sekolah menyusun EDS dilaksanakan setiap setahun
sekali. Sekolah menjadikan hasil EDS dijadikan dasar dalam penyusunan
RPS/RKS dan RAPBS/RKAS. Sekolah memiliki RKJM dan RKS yang disusun
oleh tim penyusun RKJM/RKS. Dalam menyusun RKJM dan RKS sekolah
mengutamakan program-program prioritas.
100

RKJM dan RKS yang disetujui rapat dewan pendidik setelah


memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah dan disahkan berlakunya oleh
Dinas Pendidikan Kota Bima. RKS disosialisasikan kepada warga sekolah,
masyarakat dan pemangku kepentingan. RKS sekolah yang disusun memuat
kegiatan-kegiatan : kesiswaan, kurikulum dan kegiatan pembelajaran, PTK serta
pengembangannya, sarana dan prasarana, keuangan dan pembiayaan, budaya dan
lingkungan sekolah, peran serta masyarakat dan kemitraan, rencana kerja lain
yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu, RKS dibuat
bersama secara partisipatif antara pihak sekolah dengan komite, RKS digunakan
sebagai acuan kegiatan sekolah. Pelaksanaan kegiatan sekolah yang tidak sesuai
dengan RKS tidak dimusyawarahkan melalui rapat dewan guru dan stakeholder.
Sekolah melakukan evaluasi dan pelaporan minimal sekali dalam setahun.
b. SMPN 8 Kota Bima
Penyusunan RKS di SMPN 8 Kota Bima, berdasarkan hasil wawancara
dengan kepala sekolah dan wakasek kurikulum dapat digambarkan sebagai
berikut. Penyusunan RKS diawali dengan melaksanakan evaluasi diri sekolah
(EDS) tetap dilaksanakan. Setelah itu dibentuk tim perumus RKS, hasil kerjanya
dikomunikasikan dalam rapat terbatas atara kepala sekolah dan wakasek. Apabila
draf sudah disetujui maka dikomunikasikan dalam rapat pleno seluruh warga
sekolah dan dimintai masukan. Apabila sudah disetujui oleh seluruh warga maka
RKS dapat disahkan oleh komite dan Dinas pendidikan.
Kedua sekolah yaitu SMPN 4 Kota Bima dan SMPN 8 Kota Bima dalam
penyusunan RKS masih belum sesuai dengan kondisi ideal yang dituntut SNP,
dan hanya mengacu pada petunjuk teknis dana BOS. Hal ini karena pembiayaan
SMPN 4 Kota Bima dan SMPN 8 Kota Bima hanya berasal dari dana BOS.
Untuk sosialisasi RKS ke seluruh warga maka sebaiknya RKS dapat
dipublikasikan ditempel di papan pengumuman atau di tempat strategis. Hal ini
belum dilakukan oleh kedua sekolah tersebut.
2. Pengelolaan Kurikulum
a. Sekolah Magang 1
101

SMPN 4 Kota Bima memiliki Kurikulum sekolah disusun oleh tim


pengembang kurikulum (TPK) sekolah dan disetujui dalam rapat dewan guru serta
diketahui oleh Komite Sekolah. Disahkan pemberlakuannya oleh Kepala Dinas
Pendidikan Kota Bima. SMPN 4 Kota Bima memiliki visi yang berisi gambaran
masa depan yang diinginkan sekolah. Memiliki misi yang menggambarkan
aksi/tindakan sekolah untuk mencapai visi sekolah. Terdapat tujuan sekolah yang
menggambarkan tahapan/langkah untuk mencapai visi dan misi sekolah. terdapat
struktur kurikulum yang disusun berdasarkan kebutuhan sekolah (visi, misi,
tujuan) yang disusun berdasarkan Standar Isi. Tidak melebihi 38 jam pelajaran
perminggu memiliki muatan lokal yang sesuai dengan karakter dan potensi
daerah, yang terintegrasi pada mata pelajaran Prakarya dan Seni Budaya.
Membina kegiatan pengembangan diri siswa sesuai dengan karakteristik, potensi,
minat dan bakat serta kondisi sekolah. Memuat identitas: Nama sekolah, mata
pelajaran, kelas/semester, SK, dan alokasi waktu. Komponen silabus memuat KD,
materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi,
penilaian, alokasi waktu, sumber belajar, nilai karakter. Silabus dikembangkan
oleh satuan pendidikan berdasarkan SI, SKL, dan Panduan penyusunan KTSP.
Pengembangan silabus dilakukan oleh guru secara mandiri atau bekelompok
dalam MGMP. Pengembangan silabus disusun di bawah supervisi Dinas
kabupaten, dan disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali
pertemuan atau lebih. Komponen RPP: identitas matapelajaran, SK, KD, indikator
pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode
pembelajaran, kegiatan pembejaran (penduhuluan, inti, penutup), penilaian hasil
belajar dan sumber belajar, identitas memuat nama satuan pendidikan, kelas,
semester, mata pelajaran, jumlah pertemuan.
102

b. Sekolah Magang 2
Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan menggunakan
panduan yang disusun BSNP. Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan
karakteristik daerah, kebutuhan sosial masyarakat, kondisi budaya, usia peserta
didik, dan kebutuhan pembelajaran. Kurikulum telah menunjukan adanya alokasi
waktu, rencana program remedial, dan pengayaan bagi siswa. Sekolah
menyediakan layanan bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan
pengembangan pribadi peserta didik. Sekolah menyediakan kegiatan ekstra
kurikuler untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.
Ada Dokumen I dan II Kurikulum SMPN 8 Kota Bima. Ada SK Tim
Pengembang Kurikulum Sekolah. Kurikulum Sekolah kami disusun sesuai
Panduan BSNP yaitu : Jumlah Jam Pelajaran per minggu seharusnya 38 jam.
Perlu ada berita acara dan daftar hadir saat penyusunan dan pengembangan
kurikulum. Sekolah perlu memverifikasi Kurikulum/KTSP kepada pihak relevan.
Kurikulum telah menunjukan adanya alokasi waktu, rencana program remedial,
dan pengayaan bagi siswa. Pelaksanaan Remedial dan Pengayaan disediakan
untuk setiap guru pada semester.
Alokasi waktu 38 jam pelajaran per minggu, 1 jam pelajaran 40 menit
Sekolah perlu pengaturan kegiatan remedial dan pengayaan disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing guru.
Penyelenggaraan berdasarkan kebutuhan peserta didik (jenis kelamin,
minat, bakat, dan usia peserta didik). Sekolah mempunyai kegiatan Ekstra
Kurikuler : Olah Raga Prestasi, Tarian, Paduan suara, Olimpiade, KIR.
Disusunnya Muatan Lokal sebagai bentuk penyesuaian dengan karakteristik
daerah, kebutuhan sosial, kondisi budaya dan kebutuhan pembelajaran. Sekolah
perlu pendalaman materi dan pengembangan Muatan lokal secara berkala dan
terus menerus.
3. Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
a. Sekolah Magang 1
Sekolah memiliki program perencanaan yang berkaitan dengan pendidik
dan tenaga kependidikan walaupun belum seideal yang diharapkan. Sekolah
103

memiliki tenaga pendidik sebanyak 65 orang dengan kualifikasi akademik 62


orang S1, 1orang S2 dan 2 orang D2. 28 orang guru sudah bersertifikat pendidik
sisanya 37 orang belum bersertifikat. 36 orang adalah PNS sementara 29 orang
adalah non PNS. Berdasarkan analisis kebutuhan guru jumlah guru di SMPN 4
Kota Bima sudah memadai. Bahkan pada mata pelajaran IPA kelebihan 1 orang
guru. Jumlah tenaga kependidikan 11 orang, berijazah S1 sebanyak 5 orang orang
dan 7 orang lulusan SMA. Kepala sekolah tidak memiliki sertifikat calon kepala
sekolah/sebagai kepala sekolah dari lembaga yang resmi. Memiliki SK sebagai
guru SMP, dan memiliki sertifikat pendidik, dengan kualifikasi akademik
minimum S1/ D IV. Kepala sekolah berkualifikasi pendidikan dari perguruan
tinggi terakreditasi. Sarjana pendidikan (S-1) bahasa Indonesia.
Kepala Administrasi memilki kualifikasi pendidikan SMA dan tidak
memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga yang ditetapkan
pemerintah. Memiliki SK pengangkatan sebagai kepala administrasi. Terdapat
pelaksana urusan administrasi kepegawaian, keuangan, sarpras, humas, persuratan
dan pengarsipan, kesiswaan, kurikulum. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi
akademik minimal SMA. Kualifikasi akademik kepala perpustakaan S1 jalur
pendidik. Memiliki masa kerja 9 tahun jalur guru. Belum memiliki sertifikat
pengelola perpustakaan dari lembaga yang ditetapkan pemerintah (sedanng
mengikuti diklat kepala perpustakaan). Sesuai latar belakang pendidikan
(berijasah/ bersertifikat). Kualifikasi akademik SMA untuk mengelola
perpustakaan. Memiliki uraian tugas dan tata kerja. Melaksanakan administrasi
PTK.
Evaluasi direncanakan secara komperhensif pada setiap akhir semester
mengacu pada Permendiknas 24 Tahun 2008. Evaluasi meliputi kesesuaian
penugasan dengan keahlian, keseimbangan beban kerja, dan kinerja tenaga
administrasi dalam pelaksanaan tugas. Evaluasi kinerja memperhatikan
pencapaian prestasi kerja dan perubahan-perubahan yang dihasilkan. Dilakukan
berdasarkan kebutuhan institusi, kelompok maupun individu PTK. Tidak terdapat
tata tertib untuk PTK yang petunjuk, larangan dan sanksi bagi PTK yang
melanggar tata tertib. Terdapat kode etik yang memuat norma tentang : hubungan
104

sesama PTK, PTK dengan semua warga sekolah, dan PTK dengan masyarakat,
Sistem yang dapat memberikan penghargaan bagi yang mematuhi dan sanksi bagi
yang melanggar. Kepala sekolah melaporkan hasil evaluasi kepada komite
sekolah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan sekurang-kurangnya setiap
akhir semester. Guru melaporkan hasil evaluasi dan penilaian sekurang-kurangnya
setiap akhir semester yang ditujukan kepada kepala sekolah/madrasah dan orang
tua/wali peserta didik.Tenaga Administrasi Sekolah melaporkan pelaksanaan
teknis dari tugas masing-masing sekurang-kurangnya setiap akhir semester yang
ditujukan kepada kepala sekolah.
b. Sekolah Magang 2
SMPN 8 Kota Bima Memiliki 58 tenaga pendidik berjenis kelamin laki 16
orang, perempuan 46 orang. Tenaga pendidik 3 orang berkualifikasi S2, 54 orang
berkualifikasi S1, 1 orang berkualifikasi D2 dan 1 orang berkualifikasi SMA. Dari
58 orang tenaga pendidik berstatus sebagai PNS 32 dan tenaga honor 26 orang.
SMP magang 2 memiliki 14 orang tenaga kependidikan dengan perincian 4
berstatus PNS dan 10 Non PNS. Berdasarkan analisis kebutuhan guru, kelebihan
pada mata pelajaran Bahasa Inggris (3), IPA (1), IPS (1) dan kekurangan guru
pada mata pelajaran bahasa indonessia (1), matematika (1), PJOK (2), Prakarya
(1), Seni budaya (3), PKN (1), BK (1)
4. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah
a. Sekolah magang 1
Hasil kajian calon kepala sekolah tentang pengelolaan sarana dan
prasarana sekolah, baik di SMPN 4 Kota Bima, maupun di SMPN 8 Kota Bima
pada dasarnya sarana dan prasarana dilaksanakan sesuai kebutuhan sekolah.
Kondisi ideal berdasarkan acuan Permendiknas No. 24 Tahun 2007 tentang
sarana dan prasarana memenuhi kajian: a) Persyaratan perencanaan, b) Prosedur
perencanaan sarpras, c) Perencanaan pengadaan barang bergerak, d) Perencanaan
pengadaan barang tidak bergerak.
Jumlah ruang kelas ada 17 ruang, namun ruang ketrampilan 3 ruang
digunakan juga untuk ruang kelas, disamping itu 1 ruang laboratorium dijadikan
ruang kelas sehingga total ruang kelas digunakan sebanyak 21 ruang kelas.
105

Sekolah memiliki 1 ruang perpustakaan dengan luas 9 x 12, 1 ruang laboratorium


IPA berukuran 9 x 12 dan 3 ruang keterampilan dengan luas 20 x 10M2.
b. Sekolah Magang 2
Luas lahan 22,197 M2, dengan luas bangunan 1914M2, dengan daya listrik
4400 Watt. Ruang perpustakaan 1 ruangan dengan luas 84M2, memiliki buku teks
pelajaran 3250 eksemplar, buku panduan pendidik 10 buku, buku pengayaan 840
dan buku referensi 20 eksemplar. SMPN 8 Kota Bima memiliki 1 laboratorium
IPA dengan luas bangunan 105M2 dengan lebar bangunan 7 m2. Dilengkapi
dengan pasangan meja dan kursi untuk peserta didik masing-masing 32, dan
lemari alat 2 buah. Dilengkapi juga dengan meja persiapan, meja demonstrasi
masing-masing 1.
Terdapat1 ruang pimpinan dengan luas bangunan 21M2, dengan lebar
3m2. Dilengkapi dengan perabot diantaranya, kursi pimpinan, meja pimpinan
kursi dan meja tamu, lemari, papan statistik, simbol kenegaraan, tempat sampah,
mesin ketik/komputer, filing kabinet, brankas, jam dinding.
SMP magang 2 dilengkapi dengan ruang guruyang luas bangunannya
84M2 dan dilengkapi dengan Kursi kerja dan Meja kerja masing-masing 30 buah,
Lemari, Papan pengumuman, tempat sampah,tempat cucui tangan dan jam
dinding. Terdapat ruang tata usaha dengan luas bangunan 49M2. Memiliki
Mushalla dengan luas 80M2. Ruang konseling dengan luas 21m2. Dilengkapi
dengan perabot antara lain Meja kerja, Kursi kerja, Kursi tamu, Lemari, Papan
kegiatan, Instrumen konseling, Buku sumber, Media pengembangan kepribadian
dan jam dinding. SMPN 8 Kota Bima juga memiliki Ruang UKS,OSIS. Jamban
atau WC 18 yang terdiri dari WC peserta didik perempuan dan laki masing-
masing 15 dan 3 WC guru.
Kondisi saat ini perencanaan dilaksanakan berdasarkan program kerja
tahunan dan RKS. Kesenjangan terjadi sejak pemerintah Kota Bima
memberlakukan program pendidikan gratis di Kota Bima sehingga tidak ada
bantuan dari pihak orang tua untuk pemenuhan kebutuhan praktek siswa.
Sementara itu pemerintah Kota tidak mengalokasikan dana untuk menanggulangi
kebutuhan sekolah tersebut. Sehingga alternatif pemecahannya kebutuhan sarpras
106

dipenuhi yang prioritas saja, dan yang tidak bertentangan dengan petunjuk teknis
penggunaan dana BOS.
Hal terpenting yaitu usaha kepala sekolah dalam mengadakan sarpras dan
merawat sarpras sehingga menjadi milik bersama warga sekolah. Dengan
demikian nilai penting bagi calon kepala sekolah adalah tentang bentuk upaya
kepala sekolah dalam mengadakan sarpras dan merawat sarpras bagi warga
sekolah.
5. Pengelolaan Peserta Didik
a. Sekolah Magang 1
Hasil kajian calon kepala sekolah tentang pengelolaan pendidik dan tenaga
kependidikan di SMPN 4 Kota Bima. Pada SMPN 4 Kota Bima terdapat
perencanaan penerimaan peserta didik dengan mempertimbangkan daya tampung
sekolah. Dalam penerimaan peserta didik sekolah memperhatikan: Pembentukan
panitia PPDB, Rapat kerja dan pembagian tugas, Proses pendaftaran, Proses
Seleksi, Proses penentuan calon terpilih, Proses daftar ulang. Penerimaan peserta
didik sekolah dilakukan: secara obyektif, transparan, dan akuntabel sebagaimana
tertuang dalam aturan sekolah; tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender,
agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi bagi penerima subsidi dari
Pemerintahdan/ atau Pemerintah Kota, sesuai dengan daya tampung sekolah.
Melakukan orientasi peserta didik yang bersifat akademik dan pengenalan
lingkungan tanpa kekerasan dengan pengawasan guru. Sekolah melakukan
administrasi peserta didik yang meliputi: Buku penerimaan peserta didik baru,
Buku klaper, Buku induk siswa, Buku mutasi siswa, Buku absensi siswa,dan
Buku alumni.
Terdapat kriteria yang jelas terhadap kenaikan kelas dan kelulusan peserta
didik Terdapat tata tertib untuk siswa yang petunjuk, larangan dan sanksi bagi
siswa yang melanggar tata tertib, tidak terdapat kode etik yang memuat norma
tentang : Hubungan sesama peserta didik, peserta didik dengan semua warga
sekolah, dan peserta didik dengan masyarakat, Sistem yang dapat memberikan
penghargaan bagi yang mematuhi dan sanksi bagi yang melanggar. Sekolah
mengatur organisasi peserta didik yang meliputi OSIS, sekolah mengatur layanan
107

bimbingan dan konseling peserta didik. Sekolah melaksanakan kegiatan ekstra


dan kokurikuler untuk peserta didik. Sekolah melakukan evaluasi
berkesinambungan terhadap pengelolaan peserta didik. Sekolah melakukan
pelaporan secara berkala terhadap pengelolaan peserta didik kepada instansi
terkait.
Sekolah melakukan Pembinaan dan pengembangan peserta didik berupa:
Pengembangan bakat, minat, kreatifitas, dan kemampuan, Penyiapan perangkat
pemantau bakat, minat, kreatifitas, dan kemampuan peserta didik,
Menyelenggarakan penuangan wahana kreatifitas, mewadahi/menyalurkan bakat,
minat, dan kreatifitas siswa, Melaksanakan pemantauan kemampuan siswa, dan
pembinaan prestasi unggulan.
b. Sekolah Magang 2
Hasil kajian calon kepala sekolah tentang pengelolaan pendidik dan tenaga
kependidikan di SMPN 8 Kota Bima. Sekolah memiliki perencanaan penerimaan
peserta didik dengan mempertimbangkan daya tampung sekolah. Dalam
penerimaan peserta didik sekolah memperhatikan: Pembentukan panitia PPDB,
rapat kerja dan pembagian tugas, proses pendaftaran, proses seleksi, proses
penentuan calon terpilih, proses daftar ulang. Penerimaan peserta didik sekolah
dilakukan: secara obyektif, transparan, dan akuntabel sebagaimana tertuang dalam
aturan sekolah; tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis,
status sosial, kemampuan ekonomi bagi penerima subsidi dari Pemerintahdan/
atau Pemerintah Kota, sesuai dengan daya tampung sekolah. Melakukan orientasi
peserta didik yang bersifat akademik dan pengenalan lingkungan tanpa kekerasan
dengan pengawasan guru. Sekolah melakukan administrasi peserta didik yang
meliputi: Buku penerimaan peserta didik baru, Buku klaper, Buku induk siswa,
Buku mutasi siswa, Buku absensi siswa,dan Buku alumni.
Sama seperti SMP Magang 1 SMP Magang 2 telah menentukan kriteria
yang jelas terhadap kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik . Sekolah memiliki
tata tertib untuk siswa yang petunjuk, larangan dan sanksi bagi siswa yang
melanggar tata tertib, tidak terdapat kode etik yang memuat norma tentang :
Hubungan sesama peserta didik, peserta didik dengan semua warga sekolah, dan
108

peserta didik dengan masyarakat, Sistem yang dapat memberikan penghargaan


bagi yang mematuhi dan sanksi bagi yang melanggar. Sekolah mengatur
organisasi peserta didik yang meliputi OSIS, sekolah mengatur layanan
bimbingan dan konseling peserta didik. Sekolah melaksanakan kegiatan ekstra
dan kokurikuler untuk peserta didik. Sekolah melakukan evaluasi
berkesinambungan terhadap pengelolaan peserta didik. Sekolah melakukan
pelaporan secara berkala terhadap pengelolaan peserta didik kepada instansi
terkait.
Sekolah melakukan pembinaan dan pengembangan peserta didik berupa:
Pengembangan bakat, minat, kreatifitas, dan kemampuan, Penyiapan perangkat
pemantau bakat, minat, kreatifitas, dan kemampuan peserta didik,
Menyelenggarakan penuangan wahana kreatifitas, Mewadahi/menyalurkan bakat,
minat, dan kreatifitas siswa, Melaksanakan pemantauan kemampuan siswa, dan
pembinaan prestasi unggulan.
6. Pengelolaan Keuangan Sekolah
a. Sekolah Magang 1
Manajemen keuangan sekolah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas
mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan,
pengawasan, dan pertanggungjawaban keuangan sekolah. Mengkaji pengelolaan
keuangan sekolah tempat magang pada kegiatan OJL bertujuan untuk melatih
calon kepala sekolah dalam mengidentifikasi sumber-sumber keuangan sekolah,
menentukan alokasi pembiayaan sekolah dengan baik, dan memahami mekanisme
pertanggungjawaban keuangan sekolah. Setelah melakukan wawancara dengan
kepala sekolah dan bendahara sekolah dapat digambarkan pengelolaan keuangan
di dua seolah sebagai berikut. Sumber keuangan yang berasal dari pemerintah
berupa yang rutin yaitu BOS. Pada dasarnya pengelolaan keuangan sudah sesuai
dengan standar pengelolaan, hal ini terbukti dalam peneyelesaian pelaporan secara
berkala baik ke komite maupun ke Dinas Pendidikan tidak bermasalah.
Kesenjangan terjadi pada transparansi yang masih kurang ini terlihat dari tidak
tersedianya papan informasi penggunaan dana BOS.
109

Sekolah magang 1 tidak memiliki sumber keuangan selain dari dana BOS,
Sekolah melaporkan perubahan data siswa setiap triwulan kepada tim BOS kota.
Dana BOS masuk kesekolah lewat rekening sekolah. Setiap pengeluaran uang
harus didukung dengan bukti kwitansi yang sah. Uraian pembayaran harus jelas
dan terinci sesuai dengan peruntukannya. Setiap bukti pembayaran harus disetujui
kepala sekolah dan lunas dibayar oleh bendahara. Setiap pembelian barang harus
dilapor ke Dinas Pendidikan Kota Bima. Memiliki buku kas umum yang meliputi
semua transaksi eksternal yaitu yang berhubungan dengan pihak ketiga. Memiliki
buku kas pembantu untuk menulis transaksi tunai dan ditandatangani oleh
bendahara dan kepala sekolah. Memiliki buku pembantu bank untuk mencatat
transaksi melalui bank dan ditandatangani oleh bendahara dan kepala sekolah
memiliki buku pembantu pajak untuk mencatat semua transaksi yang harus
dipungut pajak. Sekolah memili ki buku bank. Sekolah mengumumkan besar dana
yang diterima dan dikelola oleh sekolah dan rencana penggunaan dana dipapan
pengumuman sekolah. Sekolah mengumumkan penggunaan dana di papan
pengumuman.
Laporan kegiatan dan pertanggung-jawaban selama satu tahun anggaran
disampaikan kepada dinas pendidikan Kota Bima. Sekolah menyusun laporan
disusun berdasarkan buku kas umum dari sumber dana yang dikelola oleh
sekolah pada periode yang sama. Sekolah melaporkan per triwulan dan
ditandatangani oleh bendahara, kepala sekolah dan komite sekolah.
b. Sekolah Magang 2
Manajemen keuangan sekolah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas
mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan,
pengawasan, dan pertanggungjawaban keuangan sekolah. Mengkaji pengelolaan
keuangan sekolah tempat magang pada kegiatan OJL bertujuan untuk melatih
calon kepala sekolah dalam mengidentifikasi sumber-sumber keuangan sekolah,
menentukan alokasi pembiayaan sekolah dengan baik, dan memahami mekanisme
pertanggungjawaban keuangan sekolah. Setelah melakukan wawancara dengan
kepala sekolah dan bendahara sekolah dapat digambarkan pengelolaan keuangan
di dua seolah sebagai berikut. Sumber keuangan yang berasal dari pemerintah
110

berupa yang rutin yaitu BOS. Pada dasarnya pengelolaan keuangan sudah sesuai
dengan standar pengelolaan, hal ini terbukti dalam peneyelesaian pelaporan secara
berkala baik ke komite maupun ke Dinas Pendidikan tidak bermasalah.
Kesenjangan terjadi pada transparansi yang masih kurang ini terlihat dari tidak
tersedianya papan informasi dana BOS, baik penerimaan maupun
penggunaannnya.
Sekolah magang 2 memiliki sumber dana lain selain dana BOS yaitu dari
hasil sewa Kantin dan sewa lahan sawah produktif . Penghasilan dari jasa
produksi dikonsentrasikan untuk pembangunan Mushala. Sekolah melaporkan
perubahan data siswa setiap triwulan kepada tim BOS kota. Dana BOS masuk
kesekolah lewat rekening sekolah. Setiap pengeluaran uang harus didukung
dengan bukti kwitansi yang sah. Uraian pembayaran harus jelas dan terinci sesuai
dengan peruntukannya. Setiap bukti pembayaran harus disetujui kepala sekolah
dan lunas dibayar oleh bendahara. Setiap pembelian barang harus dilapor ke
Dinas Pendidikan Kota Bima. Memiliki buku kas umum yang meliputi semua
transaksi eksternal yaitu yang berhubungan dengan pihak ketiga. Memiliki buku
kas pembantu untuk menulis transaksi tunai dan ditandatangani oleh bendahara
dan kepala sekolah. Memiliki buku pembantu bank untuk mencatat transaksi
melalui bank dan ditandatangani oleh bendahara dan kepala sekolahMemiliki
buku pembantu pajak untuk mencatat semua transaksi yang harus dipungut pajak.
Sekolah memili kibuku bank. Sekolah tidak mengumumkan besar dana yang
diterima dan dikelola oleh sekolah dan rencana penggunaan dana dipapan
pengumuman sekolah.
Laporan kegiatan dan pertanggung-jawaban selama satu tahun anggaran
disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kota Bima. Sekolah menyusun laporan
disusun berdasarkan buku kas umum dari semua sumber dana yang dikelola oleh
sekolah pada periode yang sama. Sekolah melaporkan per triwulan dan
ditandatangani oleh bendahara, kepala sekolah dan komite sekolah.
7. Pengelolaan Ketatausahaan Sekolah (TAS)
a. Sekolah Magang 1
111

Setelah mempelajari bahan pembelajaran pembinaan tenaga administrasi


sekolah, permendiknas nomor 24 tahun 2008 tentang tenaga administrasi sekolah
yang dimiliki dimensi kompetensi, yaitu: (1) kompetensi kepribadian, (2)
kompetensi sosial, (3) kompetensi teknis administrasi sekolah, dan (4) kompetensi
manajerial ketatausahaan sekolah.
Sekolah memiliki Kepala Administrasi. Selain itu sekolah memiliki
Pelaksana urusan : administrasi kepegawaian, administrasi keuangan, administrasi
sarana dan prasarana, administrasi urusan hubungan sekolah dengan masyarakat,
administrasi persuratan dan pengarsipan, administrasi kesiswaan, dan administrasi
kurikulum. memiliki petugas layanan khusus untuk penjaga sekolah, tenaga
kebersihan. Kepala Administrasi memilki kualifikasi pendidikan SMA. Kepala
administarisi tidak memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga
yang ditetapkan pemerintah. Sekolah memiliki kepala administrasi dengan masa
kerja 31 tahun. Kepala administrasi memiliki SK pengangkatan sebagai kepala
administrasi. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi akademik 6 orang SMA, dan
5 orang kualifikasi S1. Petugas layanan khusus memiliki kualifikasi pendidikan
minimal SMA. Kepala Tenaga Administrasi memiliki kompetensi kepribadian,
sosial, teknis, dan manajerial. Tenaga administrasi memiliki uraian tugas dan tata
kerja yang jelas. Kepala sekolah melakukan pembinaan secara intensif dan
berkesinambungan berkaitan dengan pengembangan kompetensi dan kinerja
Tenaga Administrasi Sekolah. Sekolah memiliki program pengembangan Tenaga
Administrasi Sekolah yang meliputi pengembangan kompetensi dan kinerja
pengembangan Tenaga Administrasi Sekolah. Evaluasi direncanakan secara
komperhensif pada setiap akhir semester mengacu pada Permendiknas 24 Tahun
2008. Evaluasi meliputi kesesuaian penugasan dengan keahlian, keseimbangan
beban kerja, dan kinerja tenaga administrasi dalam pelaksanaan tugas, Evaluasi
kinerja memperhatikan pencapaian prestasi kerja dan perubahan-perubahan yang
dihasilkan, Tenaga Administrasi Sekolah melaporkan pelaksanaan teknis dari
tugas masing-masing sekurang-kurangnya setiap akhir semester yang ditujukan
kepada sekolah. Kepala sekolah melaporkan hasil evaluasi kepada komite sekolah
112

dan pihak-pihak lain yang berkepentingan sekurang-kurangnya setiap akhir


semester.
Kemudian mengkaji pembinaan TAS tempat magang, penulis mendapat
pengetahuan tentang kompetensi TAS yang harus dibina oleh kepala sekolah.
Penulis juga memperoleh pengetahuan tentang model-model pembinaan TAS.
Kesenjangan terjadi di SMPN 4 Kota Bima, belum adanya pembagian
tugas yang sesuai dengan kompetensi masing-masing TAS, dan banyak pekerjaan
yang dibebankan kepada tenaga honorer. Jumlah tenaga adminstrasi sudah
memenuhi kebutuhan.
b. Sekolah Magang 2
Calon Kepala sekolah mengkaji pembinaan TAS tempat magang, penulis
mendapat pengetahuan tentang kompetensi TAS yang harus dibina oleh kepala
sekolah. Penulis juga memperoleh pengetahuan tentang model-model pembinaan
TAS.
Sekolah memiliki Kepala Administrasi. Selain itu sekolah memiliki
Pelaksana urusan : administrasi kepegawaian, administrasi keuangan, administrasi
sarana dan prasarana, administrasi urusan hubungan sekolah dengan masyarakat,
administrasi persuratan dan pengarsipan, administrasi kesiswaan, dan administrasi
kurikulum. memiliki petugas layanan khusus untuk penjaga sekolah, tenaga
kebersihan. Kepala Administrasi memilki kualifikasi pendidikan SMA. Kepala
administarisi tidak memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga
yang ditetapkan pemerintah. Sekolah memiliki kepala administrasi dengan masa
kerja 36 tahun. Kepala administrasi memiliki SK pengangkatan sebagai kepala
administrasi. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi akademik SMA. Petugas
layanan khusus memiliki kualifikasi pendidikan SMA.
Kesenjangan terjadi di SMPN 8 Kota Bima, belum adanya pembagian
tugas yang sesuai dengan kompetensi masing-masing TAS, dan banyak pekerjaan
yang dibebankan kepada tenaga honorer. Jumlah tenaga adminstrasi sudah
memenuhi kebutuhan.
113

8. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran


a. Sekolah Magang 1
Setelah mempelajari bahan pembelajaran TIK dalam pembelajaran
kemudian mengkaji pemanfaatn TIK dalam pembelajaran sekolah tempat magang,
berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007. Sekolah memiliki Televisi,
Infocus, Koran/Majalah, Komputer/Laptop, dan Internet. Sudah memiliki Wifi
namun sekolah belum memiliki website. Sekolah tidak memiliki ruang komputer,
dan tidak memiliki ruang multimedia. Belum semua guru dapat mengoperasikan
peralatan TIK yang berhubungan dengan tugas mengajanya. Sekolah belum
melakukan pembelajaran dengan mengikuti acara radio/ Televisi Edukasi (TVE) /
stasiun lain (mis: national geograpik) dijadikan sumber belajar di kelas /
Perpustakaan. Sekolah sudah memanfaatkan Komputer digunakan: penyusunan
bahan ajar dan mengolah hasil belajar dan data base.
b. Sekolah Magang 2
Hasil kajian calon kepala sekolah tentang pengelolaan sarana dan
prasarana sekolah di SMPN 8 Kota Bima pada dasarnya pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran, administrasi, dan sarana komunikasi sudah dilakukan walaupun
dalam implementasinya masih harus disempurnakan. Sekolah memiliki ruang
komputer dan ruang multi media. Sebagian besar pendidik mampu menggunakan
komputer/laptop untuk kegiatan pembelajaran, administrasi, dan sarana
komunikasi. Sekolah memiliki website dan aktif, guru juga sebagian besar dapat
menggunakan laptop dan LCD dalam pembelajaran.
9. Monitoring dan Evaluasi
a. Sekolah Magang 1
Setelah mempelajari bahan pembelajaran monitoring dan evaluasi program
sekolah kemudian mengkaji monitoring dan evaluasi sekolah tempat magang,
berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi manajerial mencapai
terget kompetensi “Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan
program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak
lanjutnya”.
114

Sekolah magang 1 sudah melaksanakan monev dalam hal Penerimaan


Peserta Didik Baru (PPDB), monev untuk ulangan semester.
b. Sekolah Magang 2
Setelah mempelajari bahan pembelajaran monitoring dan evaluasi
program sekolah kemudian mengkaji monitoring dan evaluasi sekolah tempat
magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi manajerial
mencapai terget kompetensi “Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan
pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat, serta
merencanakan tindak lanjutnya”.
Sekolah magang 2 sudah melaksanakan monev dalam hal Penerimaan
Peserta Didik Baru (PPDB).

E. Peningkatan AKPK di Sekolah Magang 2 (SMPN 8 Kota Bima )


1. Persiapan
Tujuan dilakukannya AKPK bagi calon kepala sekolah adalah untuk
mengidentifikasi bagian-bagian kompetensi yang dikuasai oleh calon kepala
sekolah (merupakan kekuatan) yang ditunjukan melalui pengetahuan dan
pengalamanya. Selain itu, juga untuk mengidentifikasi bagian-bagian kompetensi
yang belum dikuasai oleh calon kepala sekolah (sebagai kelemahan) dan
memerlukan pendalaman pengetahuan serta pengalaman. Sehingga akan menjadi
bahan pengembangan lebih lanjut dalam diklat calon kepala sekolah.
AKPK akan memberikan gambaran kondisi awal kompetensi calon kepala
sekolah. Berdasarkan hasil penilaian Analisis Kebutuhan Pengembangan
Keprofesian (AKPK) sebagai peserta diklat calon kepala sekolah memperlihatkan
hasil sebagai berikut.

Tabel 3.17 Nilai AKPK Calon Kepala Sekolah


Kompetensi Kode Jumlah
Kepribadian 1 100
Kompetensi manajerial 2 98,21
Kewirausahaan 3 95
115

Supervisi 4 100
Sosial 5 95

Berdasarkan perolehan AKPK tersebut, terdapat kelemahan pada dimensi


kewirausahaan khususnya aspek meningkatkan pengalaman dalam menyusun
rencana pengelolaan kegiatan produksi dan jasa di sekolah dengan baik.

2. Pelaksanaan
a. Kewirausahaan
Sebagaimana yang penulis tuangkan pada Analisis Kebutuhan
Pengembangan Keprofesian (AKPK), penulis merasa masih kurang dalam
kompetensi kewirausahaan, khususnya aspek meningkatkan pengalaman dalam
menyusun rencana pengelolaan kegiatan produksi dan jasa di sekolah dengan
baik.
Tindakan kepala sekolah menjadi contoh dalam kecermatan memper-
hitungkan risiko sehingga dapat mengarahkan guru, TAS, dan peserta didik dalam
semangat kewirausahaan sekolah (teladan). Kepala SMPN 8 Kota Bima memiliki
analisis kebutuhan dalam kewirausahaan yang dapat dijadikan oleh calon kepala
sekolah sebagai referensi dalam menyusun rencana pengelolaan kegiatan produksi
dan jasa di sekolah. Apa yang dilaksanakan di sekolah magang 2 ini menjadi
bahan pembelajaran bagi calon kepala sekolah dalam rangka memperkuat AKPK
kewirausahaan yang lemah.
Adapun kompetensi kewirausahaan, dalam hal ini menyusun rencana
pengelolaan kegiatan produksi dan jasa di sekolah, sekolah agang 2 telah
mengintegrasikannya dalam mata pelajaran, khususnya mulok. Dalam struktur
kurikulum KTSP SMP Negeri 8 Kota Bima, Pendidikan Berbasis Keunggulan
Lokal (PBKL) yang berkaitan dengan kewirausahaan nampak dalam :
1. Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kewirausahaan (Terintegrasi dalam Mata
Pelajaran Prakarya)
2. Seni Tari Tradisional (Terintegrasi dalam Mata Pelajaran Seni Budaya)
116

Mata pelajaran ini memberikan peluang kepada peserta didik untuk


mengembangkan kemampuannya, khususnya keterampilan dasar (life skill)
sebagai bekal dalam kehidupan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan,
minimal untuk dirinya sendiri.
Hasil dari wawancara dengan kepala sekolah magang 2, calon kepala
sekolah memperoleh berbagai pengalaman bagaimana sekolah melakukan
kegiatan produksi dan jasa dalam memanfaatkan kantin sekolah yang merupakan
tempat satu-satunya untuk kegiatan berbelanja bagi siswa dan guru, walaupun
masih belum representatif dan akan terus dikembangkan menjadi lebih kondusif
dan menjadikan tempat yang nyaman bagi warga sekolah untuk berbelanja,
bahkan menurut kepala sekolah akan dipikirkan untuk mendesain dan diperluas
dengan bentuk lesehan. Kepala sekolah menguraikan pengalamannya dalam
mengelola produksi dan jasa dengan sistem penagihan sewa kantin dari sistem
harian menjadi bulanan. Selain itu disiapkan tenaga pengotrol makanan agar
memenuhi syarat sebagai kantin yang bersih, sehat dan bergizi. Kepala sekolah
(SMPN 8 Kota Bima) juga memiliki kiat agar usaha produksi dan jasa berjalan
sesuai rencana, serta dapat berjalan lancar. Kepala sekolah magang 2
merencanakan lokasi kantin harus bersih sehingga siswa merasa nyaman
berbelaja. Selain itu makanan yang disajikan dan tersedia di kantin sekolah
dipastikan bersih, sehat, bergizi, juga harganya terjangkau oleh anak-anak.
Menurut Kepala sekolah magang 2 agar jasa produksi berupa kantin
sekolah berjalan lancar tata kelola perlu dilakukan secara transparan,akuntabel,
efektif dan efisien. Menyiapkan barang jualan sesuai dengan keinginan siswa
agar siswa tetap berbelanja di kantin sekolah untuk meningkatkan pemasukan
pedagang kantin. Sekolah juga memiliki jasa produksi lain seperti sebidang tanah
sawah produktif yang dusewakan. Hasil sewa kantin dan sewa lahan sawah
sepenuhnya diarahkan untuk pembangunan musholla . Kaitan dengan tanah sawah
yang dimiliki sekolah ini, kepala SMPN 8 Kota Bima merasa perlu membentuk
panitia pelelangan yang diharapkan tidak akan memainkan harga tanah agar tetap
diminati pelanggan. Pembentukan tim ini menambah kepercayaan warga sekolah
terhadap penggunaan uang hasil pelelangan.

Anda mungkin juga menyukai