Anda di halaman 1dari 7

MANAJEMEN MUTU

TUGAS 1
SUMMARY

Disusun oleh :
Rinaldi Dwi Yarto
04111640000028

DEPARTEMEN TEKNIK PERKAPALAN


FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
SEPTEMBER 2019
I. Pendahuluan
Dalam dunia bisnis, diperlukan strategi untuk menghasilkan barang dan jasa yang
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen internal dan eksternal. Kualitas merupakan hal
yang perlu digaris bawahi dan menjadi titik pencapaian dari serangkaian strategi bisnis. Kata
kualitas sering terdengar, namun kadang kurang memahami hakikat yang terkandung di dalamnya.
Secara konvensional, kualitas didefinisikan dengan penggambaran karakteristik langsung dari
suatu produk, seperti performansi, keandalan, kemudahan dalam penggunaan, estetika dan
sebagainya.

Dalam era globalisasi, secara strategik kualitas didefinisikan sebagai segala sesuatu yang
mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meeting the needs of customers).
Keunggulan suatu produk terukur melalui tingkat kepuasan pelanggan (costumer satisfication).
Dari definisi kualitas yang sudah dijelaskan, diketahui bahwa diperlukan manajemen agar dapat
terus meningkatkan kualitas secara berkelanjutan (continuous improvement). Sebagai contoh
Paham yang dikenal di Jepang dengan istilah Kaizen, ternyata mampu membuat Jepang
mengungguli Amerika dalam perekonomian. Industri mobil di Amerika Serikat seperti GM, Ford,
dan Chrysler berpuluh-puluh tahun menguasai pasar di negaranya.

Namun, pada saat ini, Jepanglah yang menguasai sebagian pangsa pasar mobil di Amerika.
Alasannya sederhana, Jepang membuat mobil yang diinginkan oleh customer, antara lain karena
irit bahan bakar dan murah harganya, meski marjin laba yang diperoleh lebih kecil dari mobil
produk industri Amerika Serikat. Terlebih dalam era globalisasi, dimana tidak ada batasan dalam
persaingan, membuat perusahaan harus mampu memberikan produk yang diinginkan oleh
masyarakat. Jika hal ini tidak dilakukan maka bukan tak mungkin sekuat dan sebesar apapun
sebuah perusahaan, akan tak mampu untuk survive.

II. Pengertian Manajemen Mutu/Kualitas


Menurut M. Fuad, manajemen adalah suatu proses yang melibatkan kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai sasaran
perusahaan melalui pemanfaatan factor produksi yang dimiliki. Selain itu, menurut Prof. Oey
Liang Lee, Guru Besar Manajemen UI manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengontrolan dari pada human and natural
resource untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dulu. Sedangkan mutu memiliki
banyak pengertian yaitu:

 Sesuatu yang yang dapat disempurnakan dan memiliki nilai yang bisa ditawarkan kepada
konsumen (Masaaki Imai).
 Kesesuaian dengan tujuan atau manfaatnya. (J.M.Juran)
 Kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery, reliability,
maintainability dan cost effectiveness.(Crosby)
 Mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Suatu produk
bermutu apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada konsumen (Feigenbaum)
 Mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia, proses dan
tugas serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

Sehingga manajemen mutu adalah gabungan semua fungsi manajemen, seluruh bagian dari
suatu perusahaan dan semua orang ke dalam filosofi holistik yang dibangun atas dasar konsep
kualitas, kerjasama, kinerja, dan kepuasan pelanggan. Definisi lain mengatakan bahwa manajemen
mutu merupakan sistem manajemen yang mengedepankan kualitas sebagai strategi bisnis dan
berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi.

III. Pentingnya Kualitas

Istilah kualitas sangat penting bagi suatu organisasi atau perusahaan. Ada beberapa alasan
perlunya kualitas bagi suatu organisasi. Russel dan Taylor (1996) mengidentifikasi enam peran
pentingnya kualitas, yaitu:
(1) meningkatkan reputasi perusahaan,
(2) menurunkan biaya,
(3) meningkatkan pangsa pasar,
(4) dampak internasional,
(5) adanya pertanggungjawaban produk,
(6) untuk penampilan produk, dan
(7) mewujudkan kualitas yang dirasakan penting, serta masih banyak lagi alasan-alasan
mengapa kualitas begitu penting bagi organisasi atau perusahaan.

IV. 4 Komponen Utama Manajemen Mutu


Manajemen mutu terdiri dari empat komponen utama, yang meliputi:

 Perencanaan Kualitas – Proses mengidentifikasi standar kualitas yang relevan dengan


proyek dan memutuskan bagaimana cara memenuhinya.
 Peningkatan Kualitas – Perubahan yang disengaja dari suatu proses untuk meningkatkan
kepercayaan atau keandalan hasil.
 Kontrol Kualitas – Upaya berkelanjutan untuk menegakkan integritas dan keandalan proses
dalam mencapai hasil.
 Jaminan Kualitas – Tindakan sistematis atau terencana yang diperlukan untuk menawarkan
keandalan yang memadai sehingga layanan atau produk tertentu akan memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan.
V. Tujuan dan Proses Manajemen Mutu
Tujuan dari manajemen mutu adalah untuk memastikan bahwa semua bagian dalam
organisasi bekerja bersama untuk meningkatkan proses, produk, layanan, dan budaya perusahaan
untuk mencapai keberhasilan jangka panjang yang berasal dari kepuasan pelanggan.

Pada proses manajemen mutu melibatkan kumpulan pedoman yang sudah dikembangkan
oleh tim untuk memastikan bahwa produk dan layanan yang dihasilkan memiliki standar yang
tepat atau sesuai dengan tujuan. Aktivitas pada proses manajemen mutu dimulai ketika organisasi
menetapkan target kualitas yang harus dipenuhi dan yang disepakati dengan pelanggan. Organisasi
kemudian mendefinisikan bagaimana target akan diukur. Kemudian mengambil tindakan yang
diperlukan untuk mengukur kualitas. Selanjutnya mengidentifikasi masalah kualitas yang muncul
dan memulai perbaikan. Langkah terakhir melibatkan pelaporan tingkat keseluruhan kualitas yang
dicapai. Proses ini memastikan bahwa kualitas dan desain produk serta layanan yang dihasilkan
oleh tim sesuai dengan harapan pelanggan.

Metode peningkatan kualitas terdiri dari tiga komponen yaitu peningkatan kualitas produk,
peningkatan kualitas proses, dan peningkatan kualitas berbasis orang. Jadi manajemen mutu
merupakan gabungan dari semua fungsi manajemen yang dibangun berdasarkan konsep kualitas
yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.

VI. Penjelasan mengenai Diagram keterkaitan


Diagram Keterkaitan atau disebut juga Interrelation diagram merupakan salah satu tool
analisis dapat megidentifikasi sebab dan akibat dari hubungan-hubungan antara berbagai aspek
dalam situasi yang kompleks. Dalam diagram keterkaitan terdapat banyak hal yang menjadi faktor
untuk menentukan kualitas bagi perusahaan manufaktur maupun jasa. Faktor- faktor tersebut
memberi pengaruh atau terkait akan hasil yang akan didapatkan dalam tujuan mendapatkan atau
meningkatkan kualitas. Mulai dari pengertian kualitas sendiri hingga rencana penerimaan sampel
(acceptance sampling). Dibawah ini saya akan menjelaskan secara singkat beberapa faktor yang
saya mengerti.

a. Pengertian Kualitas
Kualitas adalah keseluruhan, ciri atau karakteristik produk atau jasa dalam tujuannya untuk
memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan (costumer satisfication). Pelanggan yang
dimaksud di sini bukan pelanggan atau konsumen yang hanya datang sekali untuk mencoba
dan tidak pernah kembali lagi, melainkan mereka yang datang berulang- ulang membeli
dan membeli. Meskipun demikian, konsumen yang baru satu kali datang juga harus
dilayani sebaik-baiknya, karena kepuasan pertama inilah yang akan membuat pelanggan
datang dan datang lagi.

b. Konsep kualitas pada industri manufaktur dan jasa


Dalam penerapannya, konsep kualitas terdapat dalam dua perspektif yang berbeda baik
dari sisi produsen maupun konsumen. Sedangkan pada sisi produsen, karena terdapat
pembeda jenis produksi dalam perusahaan terdapat perbedaan konsep kualitas pada
industry manufactur dan jasa. Pada industry manufaktur, kualitas bukan hanya ditekankan
pada produk yang dihasilkan, akan tetapi pada kualitas proses produksi juga. Mulai dari
produk masih dalam proses produksi, sehingga bila diketahui ada cacat atau kesalahan
masih dapat diperbaiki. Beberapa dimensi untuk mengukur kualitas industry manufaktur
yaitu performance, conformance, durability, serviceability dan lain-lain. Sedangkan pada
industry jasa, pengukuran kualitas sulit sekali dilakukan. Salah satu yang menjadi ukuran
yaitu pelayanan. Akan tetapi, terdapat dimensi yang akan digunakan untuk mengukur
kualitas suatu industry jasa, diantaranya communication, credibility, reliability,
competence, access, courtesy dan lain-lain.

c. Biaya Kualitas dan nilai kualitas


Biaya Kualitas (Biaya Mutu) atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Quality Cost
adalah Biaya-biaya yang timbul dalam penanganan masalah Kualitas (Mutu), baik dalam
rangka meningkatkan Kualitas maupun biaya yang timbul akibat Kualitas yang buruk (Cost
of Poor Quality). Dengan kata lain, Biaya Kualitas (Quality Cost) adalah semua biaya yang
timbul dalam Manajemen Kualitas (Quality Management). Selanjutnya, apabila ditinjau
kembali Biaya kualitas, sebenarnya ada sisi lain yang belum atau jarang ditinjau, yaitu nilai
kualitas yang melekat pada produk atau jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Pelanggan
yang membayar produk atau jasa yang ditawarkan tentu mengharapkan akan mendapatkan
produk atau jasa yang kualitasnya sebanding dengan nilai yang telah mereka wujudkan
dalam membayar harga produk atau jasa tersebut. Nilai kualitas adalah indeks penilaian
pelanggan, yang merupakan harga yang dibayarkan pelanggan atas hasil atau manfaat yang
dirasakan karena kualitas produk atau proses sesuai dengan harapannya (Bester, 1999).
d. Hubungan Kualitas, Produktivitas, Efisiensi, dan Penggunaan
Sistem produksi bagi perusahaan manufaktur dan jasa dinilai dengan pengukuran
efektivitas dan atau kinerjanya. Pengukuran efektivitas meliputi kemudahan dalam
perawatan, kesiapan operasional, kertersediaan dan sebagainya. Sementara itu, pengukuran
kinerja meliputi produktivitas, efisiensi, penggunaan, dan kualitas (Al-Darrab, 2000).
Pengukuran umum produktivitas memang sangat erat dengan pengukuran efisiensi dan
penggunaan. Namun pengukuran terbaru dalarn produktivitas telah melibatkan kualitas
didalamnya.
e. Alat dan Teknik pengendalian kualitas
Ada banyak metode dan tools yang digunakan untuk melakukan pengendalian kualitas
(Quality Control) statistik namun yang terkenal adalah dengan menggunakan Seven tools
atau ada yang menyebutnya dengan seven magnificent tools yaitu menggunakan Tujuh
Tools Kualitas (The Seven Tools of Quality) sebagai berikut:
1. Diagram Pareto
2. Diagram Histogram
3. Lembar Pemeriksaan (Check Sheets)
4. Sebab & Akibat (Cause-and-Effect Diagram)
5. Diagram Pencar (Scatter Diagram)
6. Bagan Aliran (Flow Chart)
7. Bagan Kendali Proses (Process Control Chart)
f. Rencana penerimaan sample
Rencana penerimaan sampel adalah prosedur yang digunakan dalam mengambil keputusan
terhadap produk-produk yang dihasilkan perusahaan. Bukan merupakan alat pengendalian
kualitas, namun alat untuk memeriksa apakah produk yang dihasilkan tersebut telah
memenuhi spesifikasi. Acceptance sampling digunakan karena alasan:
 Dengan pengujian dapat merusak produk.
 Biaya inspeksi yang Mnggi.
 100 % inspeksi memerlukan waktu yang lama, dll.
Keunggulan dari penerimaan sample adalah sebagai berikut biaya lebih murah,
meminimalkan kerusakan, mengurangi kesalahan dalam inspeksi, dapat memotivasi
pemasok bila ada penolakan bahan baku. Sedangkan untuk kekurangannya adanya resiko
penerimaan produk, cacat atau penolakan produk baik, membutuhkan perencanaan dan
pendokumentasian prosedur pengambilan sampel, tidak adanya jaminan mengenai
sejumlah produk tertentu yang akan memenuhi spesifikasi, sedikitnya informasi mengenai
produk.
5 konsep program TQM yang efektif adalah sebagai berikut:
1. Perbaikan terus menerus, menggunakan model diantaranya:

a. PDCA (Plan Do Check Act) yaitu model dalam melakukan perbaikan terus menerus
dengan merencanakan, melakukan, memeriksa , dan melakukan tindakan.

b. Six Sigma atau Kaizen yaitu menjelaskan proses dari suatu perbaikan yang tidak pernah
berhenti dengan penetapan pada pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Konsep ini banyak
diterapkan di Amerika maupun Jepang.

c. Zero defect yaitu proses produk tanpa cacat yang juga digunakan untuk menjelaskan
usaha perbaikan yang terus menerus. Konsep ini banyak diterapkan di Amerika Serikat.
2. Pemberdayaan Karyawan
 memperluas pekerjaan karyawan sehingga tanggung jawab dan kewenangan tambahan
dipindahkan sedapat mungkin pada tingkat terendah dalam organisasi.
 Teknik yang digunakan termasuk:
a) Membangun jaringan komunikasi yang melibatkan karyawan.
b) Membentuk penyelia yang terbuka dan mendukung.
c) Memindahkan tanggung jawab dari manajer dan staf pada karyawan di bagian
operasi.
d) Membangun organisasi yang memiliki moral yang tinggi.
e) Menciptakan struktur organisasi formal sebagai tim dan lingkaran kualitas.
3. Benchmarking
Yaitu pemilihan standar kinerja yang mewakili kinerja terbaik sebuah proses atau aktifitas.
4. Just in Time (JIT). JIT berkaitan dengan 3 hal yaitu:
a. JIT memangkas biaya kualitas
b. JIT meningkatkan kualitas

c. Kualitas yang lebih baik berarti persediaan yang lebih sedikit, serta system JIT yang
lebih baik dan mudah digunakan.
5. Konsep Taguchi

Dalam konsep ini disediakan 3 hal yang bertujuan memperbaiki kualitas produk dan proses
yaitu:
a. Ketangguhan kualitas (quality robustness)
b. Fungsi kerugian kualitas (quality loss function -- QLF)
c. Kualitas berorientasi target (target-oriented quality)