Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat sehingga Saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebaik mungkin.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki masih
sangat kurang. Oleh kerena itu saya berharap kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Jayapura, 29 september 2019


Penulis

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 1


DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ 1
DAFTAR ISI........................................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 3
1. Latar Belakang. ........................................................................................................................... 3
2. Rumusan Masalah. ...................................................................................................................... 4
3. Tujuan Masalah. .......................................................................................................................... 4
BAB II..................................................................................................................................................... 5
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................................................... 5
BAB III PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 8
BAB IV ................................................................................................................................................. 10
PENUTUP ............................................................................................................................................ 10
1. Kesimpulan. .............................................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 11

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 2


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang.
Secara umum interaksi obat dapat digambarkan sebagai suatu interaksi antar suatu obat dan
unsur lain yang dapat mengubah kerja salah satu atau keduanya, atau menyebabkan efek samping tak
diduga. Pada prinsipnya innteraksi obat dapat menyebabkan dua hal penting. Yang pertama, interaksi
obat dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan khasiat obat. Yang kedua, interaksi obat dapat
menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan yang serius, karena meningkatnya efek samping dari
obat-obat tertentu. Resiko kesehatan dari interaksi obat sangat bervariasi,bisa haya sedikit
menurunkan khasiat obat namun bisa pula fatal.

Pengertian dari interaksi obat adalah situasi dimana suatu zat mempengaruhi aktivitas
obat,yaitu meningkatkan atau menurunkan efeknya atau menghasilkan efek baru yang tidak
diinginkan atau direncanakan. Interaksi dapat terjadi antar-obat atau antara obat dengan makanan serta
obat-obatan herbal. Interaksi obat tidak hanya terjadi antar obat. Namun juga dapat terjadi antar obat
dan makanan. Banyak orang yang menganggap remeh terhadap hal ini padahal hal ini sangat perlu
diperhatikan. Ada obat-obat tertentu yang jika berinteraksi dengan makanan tertentu akan
meningkatkan kerja obat namun ada juga jenis obat yang bereaksi dengan makanan tertentu dapat
menurunkan kerja obat dalam tubuh,bahkan dapat meningkatkan toksisitas bagi tubuh.

Ketika suatu makanan atau minuman mengubah efek suatu obat,perubahan tsb dianggap
sebagai interaksi obat-makanan , interaksi obat-makanan bisa terjadi. Tetapi tidak semua obat
dipengaruhi oleh makanan, dan beberapa obat hanya dipengaruhi oleh makanan-makanan tertentu.
Interaksi obat makanan dapat terjadi dengan obat-obat yang diresepkan, obat yang dibeli beba,produk
herbal dan suplemen. Meskipun beberapa interaksi mungkin berbahaya atau bahkan fatal pada kasus
yang langka,interaksi yang lain bisa bermanfaat dan umumnya tidak akan menyebabkan perubahan
yang berarti terhadap kesehatan tubuh.

Selain itu, besar kecilnya efek interaksi obat dengan makanan antara tiap orang dapat
berbeda, hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu seperti : Besarnya dosis obat
yang diminum, usia, kondisi tubuh dan kondisi kesehatan pasien, waktu konsumsi makan dan
waktu konsumsi obat. Untuk menghindari terjadinya interaksi obat dan makanan, bukan
berarti menghindari untuk mengkonsumsi obat atau makanan tersebut. Yang sebaiknya
dilakukan adalah pengaturan waktu antara obat dan makanan untuk dikonsumsi dalam waktu
yang berbeda. Dengan mempunyai informasi yang cukup mengenai obat yang digunakan

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 3


serta kapan waktu yang tepat untuk mengkonsumsinya, maka kita dapat menghindari
terjadinya interaksi antara obat dengan makanan.

2. Rumusan Masalah.
1. Bagaimana mekanisme interaksi obat dan makanan dalam tubuh ?
2. Apa efek yang timbul dari interaksi obat dan makanan ?
3. Apa yang dilakukan atau tindakan apa yang dilakukan agar bisa mengatasi interaksi dari
obat dengan makanan tersebut ?

3. Tujuan Masalah.
1. Mengetahui mekanisme interaksi obat dan makanan di dalam tubuh.
2. Untuk mengetahui efek yang timbul dari interaksi obat dan makanan.
3. Mengetahui tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi interaksi dari obat dan
makanan tersebut..

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 4


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan pada
awalnya atau diberikan bersamaan sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau lebih
berubah. Interaksi obat didefinisikan oleh Committee for Proprietary Medicine Product
(CPMP) sebagai suatu keadaan bilamana suatu obat dipengaruhi oleh penambahan obat lain
dan menimbulkan pengaruh klinis. Efek-efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi
efektifitas atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Tetapi interaksi bisa
saja terjadi antara obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan mikronutrien, dan
obat injeksi dengan kandungan infus.
Prevalensi interaksi obat secara keseluruhan adalah 50% hingga 60%. Obat-obatan
yang mempengaruhi farmakodinamika atau farmakokinetika menunjukkan prevalensi sekitar
5% hingga 9%. Sekitar 7% efek samping pemberian obat di rumah sakit disebabkan oleh
interaksi obat.
Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi respons tubuh terhadap pengobatan
terdapat faktor interaksi obat. Obat dapat berinteraksi dengan makanan, zat kimia yang masuk
dari lingkungan, atau dengan obat lain. Biasanya, pengaruh ini terlihat sebagai suatu efek
samping, tetapi terkadang pula terjadi perubahan yang menguntungkan. Obat yang
mempengaruhi disebut dengan precipitant drug, sedangkan obat yang dipengaruhi disebut
sebagai object drug.
Sedangkan object drug, biasanya merupakan obat yang mempunyai kurva dose
response yang curam. Obat-obat ini menimbulkan perubahan reaksi terapeutik yang besar
dengan perubahan dosis kecil. Kelainan yang ditimbulkan bisa memperbesar efek terapinya.
Juga bila dosis toksik suatu object drug, dekat dengan dosis terapinya, maka mudah
keracunan obat bila terjadi suatu interaksi.
Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas
dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi, terutama bila menyangkut obat
dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi rendah) seperti glikosida jantung,
antikoagulan dan obat-obat sitostatika.

Dengan kemajuan teknologi dan pengalaman pemakaian obat-obatan, maka interaksi


obat makin banyak diketahui. Secara farmakologis, obat yang bertindak sebagai precipitant
drug mempunyai sifat sebagai berikut :
a. Obat yang terikat banyak oleh protein plasma akan menggeser obat lain (object drug) dari
ikatan proteinnya. Contoh : aspirin, fenilbutazon dan golongan sulfa
b. Obat yang menghambat atau merangsang metabolisme obat lain. Contohnya :
 Perangsang metabolisme : fenitoin, karbamazepan, rifampisin, antipirin, dan
griseofulvin.
 Penghambat metabolisme : alopurinol, simetidin, siklosporin, luminal, ketokonazol,
eritromisin, klaritromisin, dan siprofloksasin.
c. Obat yang mempengaruhi renal clearance object drug. Contohnya : furosemid (diuretik)
dapat menghambat ekskresi gentamisin sehingga menimbulkan toksik.

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 5


Interaksi obat menurut jenis mekanisme kerja dibagi menjadi 2 yaitu interaksi
farmakodinamika dan interaksi farmakokinetika.

a. Interaksi farmakodinamika
Interaksi farmakodinamika hanya diharapkan jika zat berkhasiat yang saling mempengaruhi
bekerja sinergis atau antagonis pada suatu reseptor, pada suatu organ sasaran atau pada suatu
rangkaian pengaturan.
b. Interaksi farmakokinetika
Interaksi farmakokinetika dapat terjadi selama fasa farmakokinetika obat secara menyeluruh
juga pada absorpsi, distribusi, biotransformasi dan eliminasi.

 Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi obat.


Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap interaksi obat antara lain :
1. Faktor Usia
Distribusi obat-obatan yang larut dalam lipid (obat-obatan yang larut dalam lemak) mengalami
perubahan yang jelas, di mana wanita usia lanjut memiliki jaringan lemak 33% lebih banyak
dibandingkan wanita yang lebih muda, sehingga terjadi akumulasi obat. Usia juga mempengaruhi
metabolisme dan klirens obat akibat perubahan yang terjadi pada hati dan ginjal. Saat tubuh
semakin tua aliran darah melalui hati berkurang dan klirens beberapa obat dapat terhambat sekitar
30-40%. Selain itu enzim-enzim hati yang menjalankan metabolisme obat mudah melimpah
sehingga memperlambat metabolisme akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi obat-obatan
tertentu.
Berdasarkan WHO kelompok usia lanjut dibagi menjadi 3 golongan besar yaitu usia 60-
74 tahun (young old), 75-84 tahun (old old) dan > 85 tahun (oldest old). Perubahan fisiologis
yang terjadi pada orang usia lanjut adalah penurunan massa otot, cairan tubuha, laju filtrasi
glomerulus, aliran darah ke hati serta peningkatan lemak tubuh.

Tabel 1. Perubahan farmakokinetika pada orang usia lanjut

Faktor farmakokinetik Kemaknaan klinis


Motilitas Gastrointestinal Dapat mempengaruhi kecepatan, namun tidak
mempengaruhi tingkat, penyerapan obat
pH Lambung Perubahan tidak bermakna pada penyerapan
obat

Fungsi ginjal Penurunan eliminasi obat-obat yang


diekskresi melalui ginjal

Albumin dalam serum Penurunan pengikatan protein sehingga


meningkatkan fraksi obat bebas

Total air tubuh Penurunan volume distribusi obat-obatan


yang larut dalam air

Rasio lemak tubuh/massa tubuh Peningkatan volume distribusi obat-obatan


yang larut dalam lemak

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 6


2. Faktor Polifarmasi
Tujuan dari Polifarmasi ini tidak lain adalah untuk mencapai efek terapi yang optimum
mengurangi efek samping, menghambat timbulnya resistansi, mencegah kemungkinan adanya
efek toksik yang disebabkan oleh substansi zat aktif. Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat
sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan
dengan diagnosis yang diperkirakan. Banyak obat yang tidak ada hubungannya dengan penyakit
pasien diberikan pada pasien yang tentu saja merupakan pemborosan dan meningkatkan insiden
penyakit karena obat.
3. Faktor Penyakit
Diabetes, hipotensi atau hipertensi, tukak, glaucoma, pelebaran prostat, kontrol kandung kemih
yang buruk, dan insomnia adalah beberapa kondisi yang perlu diperhatikan karena penderita
penyakit seperti ini berpeluang lebih tinggi mengalami interaksi obat-penyakit.
4. Faktor Genetik
Karena faktor genetik sebagian orang memproses (metabolisme) obat secara lambat akibatnya
suatu obat bisa berakumulasi di dalam tubuh sehingga menyebabkan toksisitas

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 7


BAB III
PEMBAHASAN

Hubungan dan interaksi antara makanan, zat gizi yang terkandung dalam makanan, dan obat sangat
menarik perhatian masyarakat. Makanan dan zat gizi yang terkandung dalam makanan jika
dikonsumsi secara bersamaan dengan obat-obat tertentu dapat mempengaruhi bioavailabilitas,
farmakokinetika, farmakodinamika dan efek terapi suatu obat secara keseluruhan. Nutrien tertentu di
dalam saluran pencernaan dan/ atau di dalam sistem fisiologi tubuh seperti di dalam darah dapat
meningkatkan atau mengganggu kecepatan absorpsi dan metabolisme obat. Interaksi obat dengn
makanan bisa terjadi karena obat resep atau obat bebas dan obat bebas terbatas seperti antasida,
vitamin dan zat besi. Makanan yang mengandung zat-zat aktif yang berinteraksi dengan obat-obat
tertentu dapat menimbulkan efek buruk yang tidak diharapkan. Zat-zat gizi termasuk makanan,
minuman dan suplemen makanan bisa mengubah efek obat yang digunakan pasien.

Seperti halnya makanan obat-obatan yang diminum harus diserap melalui mukosa lambung atau
usus kecil. Akibatnya adanya makanan di dalam sistem pencernaan dapat menurunkan absorpsi
suatu obat. Biasanya interaksi semacam ini dapat dihindari dengan meminum obat satu jam atau
dua jam setelah makan. Serat makanan juga mempengaruhi absorpsi obat.
Karakteristik fisik dan kimia suatu obat adalah faktor yang sangat menentukan potensi
interaksinya dengan makanan. Obat yang berbeda di dalam kelompok obat yang sama atau
formulasi obat-obatan identik yang berbeda bisa menunjukkan karakteristik kimia yang berbeda
sehingga menghasilkan interaksi obat dengan makanan yang benar-benar berbeda.
Terjadinya interaksi makanan dengan obat tergantung pada ukuran dan komposisi makanan serta
waktu pemberian obat dalam kaitannya dengan makan. Misalnya bioavailabilitas obat-obatan
lipofilik biasanya meningkat dengan kandungan lemak yang tinggi atau karena peningkatan daya
larut obat (misalnya albendazol dan isotretinoin) atau perangsangan sekresi asam lambung
(misalnya griseofulvin dan halofantrin). Atau kandungan serat yang tinggi dapat menurunkan
bioavailabilitas obat-obatan tertentu (misalnya digoksin dan lovastatin) karena pengikatan
terhadap serat.

Bioavailabilitas dan efek sebagian besar obat saling berkaitan sehingga perubahan bioavailabilitas
merupakan suatu parameter efek interaksi obat dengan makanan yang sangat penting. Interaksi
farmakokinetik obat dengan makanan yang paling penting disebabkan oleh perubahan absorpsi
suatu obat karena reaksi kimia yang terjadi antara obat dengan makanan atau respons fisiologi
terhadap makanan ; perubahan keasaman lambung, sekresi asam empedu , atau motilitas saluran
percernaan. Interaksi makanan dengan obat yang hanya mempengaruhi tingkat absorpsi obat
sering terjadi secara klinis namun jarang signifikan. Namun untuk beberapa obat, ansorpsi cepat
yang menghasilkan konsentrasi tertinggi obat mungkin tidak dianjurkan karena terjadinya efek
negatif yang terkandung konsentrasi (misalnya kapsul misoprostol dan nifedipin).
Hubungan antara parameter farmakokinetik dengan efek farmakologi tidak selalu sederhana.
Umumnya perubahan-perubahan bioavailabilitas yang terkait makan hanya bisa digunakan
sebagai indikasi-indikasi obat dengan makanan. Relevan tergantung pada titik obat (misalnya anti
kuman, antihipertensi, obat penurun lipid atau anti koagulan).

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat interaksi antara makanan dan obat dimana dampak
interaksi makanan dengan obat tergantung pada sejumlah faktor seperti dosis obat, usia subjek,
ukuran dan kondisi kesehatan. Terlepas dari faktor-faktor ini, waktu konsumsi makanan dan obat
INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 8
juga memperlihatkan peran penting. Pencegahan interaksi obat bukan berarti menghindari obat
atau mekanan. Dalam kasus tetrasiklin dan produk susu, keduanya mesti dikonsumsi pada waktu
yang berbeda tidak harus menghilangkan salah satunya. Informasi yang memadai tentang obat-
obatan dan waktu minum obat bisa membantu mencegah masalah interaksi obat.

Tidak semua obat dipengaruhi makanan, namun banyak obat yang dapat dipengaruhi oleh
makanan dan waktu makan. Misalnya, minum obat bersamaan dengan waktu makanan dapat
mempengaruhi absorpsi obat. Makanan dapat memperlambat dan menurunkan absorpsi obat.
Itulah sebabnya obat-obatan ini mesti diminum saat perut dalam keadaan kosong. Disisi lain,
beberapa obat lebih mudah ditoleransi ketika diminum pada waktu makan.sebaiknya ditanyakan
ke dokter atau apoteker apakah obat bisa digunakan bersamaan dengan snack atau makanan
utama, atau apakah obat mesti digunakan ketika perut dalam keadaan kosong. Makanan dapat
mempengaruhi absorpsi obat didalam traktus gastrointestinalis dengan mengubah pH lambung,
sekresi, dan motilitas saluran pencernaan, serta waktu transit. Hal ini menyebabkan perubahan
kecepatan absorpsi atau tingkat absorpsi obat.

Tabel 2. Absorpsi obat yang meningkat karena adanya makanan

Obat Mekanisme Perhatian


Eritromisin Tidak diketahui Gunakan bersama
makanan
Griseofulvin Obat larut dalam lipid, Gunakan bersama
absorpsi lebih tinggi makanan dengan kadar
dengan makanan kaya lemak tinggi
lemak.
Karbamazepin Peningkatan produksi -
empedu,pelarutan dan
penyerapan lebih tinggi.
Hudralazin, Labetalol, dan Makanan dapat Minum saat makan
Metaprolol menurunkan ekstraksi dan dengan makanan yang
metabolisme pertama. kaya lemak.
Nitrofurantoin, Fenitoin, Perlambatan pengosongan Minum saat waktu makan
dan Propoksifen gastrik meningkatkan
pelarutan dan penyerapan.

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 9


BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan.
Interaksi obat dianggap penting karena dapat menguntungkan dan merugikan.
Salah satu dari interaksi obat adalah interaksi obat itu sendiri dengan makanan. Interaksi
antara obat dan makanan dapat terjadi ketika makanan yang kita makan mempengaruhi
obat yang sedang kita gunakan, sehingga mempengaruhi efek obat tersebut. Interaksi
anatara obat dan makanan dapat terjadi baik untuk obat dan makanan dapat terjadi baik
untuk resep dokter maupun obat yang dibeli bebas, seperti obat antasida, vitamin, dll.
Kadang-kadang apabila kita minum obat bersamaan dengan makanan, maka dapat
mempengaruhi efektivitas obat dibandingkan apabila diminum dalam keadaan perut
kosong, selain itu konsumsi secara bersamaan antara vitamin atau sumplemen herbal
dengan obat juga dapat menyebabkan terjadinya efeksamping. Contoh reaksi yang dapat
timbul apabila terjadi interaksi antara obat dan makanan, diantaranya : Makanan dapat
mempercepat atau memperlambat efek dari obat, beberapa obat tertentu dapat
menyebabkan vitamin dan mineral tidak bekerja secara tepat ditubuh, menyebabkan
hilangnya atau bertambahnya nafsu makan, obat dapat mempengaruhi nutrisi tubuh, Obat
herbal dapat berinteraki dengan obat modern.
Selain itu, besar kecilnya efek interaksi obat dengan makanan antara tiap orang
dapat berbeda, hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu seperti : Besarnya
dosis obat yang diminum, usia, kondisi tubuh dan kondisi kesehatan pasien, waktu
konsumsi makan dan waktu konsumsi obat. Untuk menghindari terjadinya interaksi obat
dan makanan, bukan berarti menghindari untuk mengkonsumsi obat atau makanan
tersebut. Yang sebaiknya dilakukan adalah pengaturan waktu antara obat dan makanan
untuk dikonsumsi dalam waktu yang berbeda. Dengan mempunyai informasi yang cukup
mengenai obat yang digunakan serta kapan waktu yang tepat untuk mengkonsumsinya,
maka kita dapat menghindari terjadinya interaksi antara obat dengan makanan..

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 10


DAFTAR PUSTAKA

1. https://www.slideshare.net/Easterrkey/farmakologi-interaksi-obat-dengan-makanan
2. https://www.academia.edu/37572686/MAKALAH_INTERAKSI_OBAT_INTERAKSI_OBA
T_PADA_PROSES_ABSORBSI_Dosen_PROGRAM_STUDI_FARMASI
3. https://docplayer.info/73069585-Interaksi-obat-dan-makanan.html

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN |Kumala Sari Jaban 11