Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM I

KIMIA ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF


‟PEMBUATAN LARUTAN”
Disusun oleh :
Nama : Vitharina Sarijowan

NIM : 18101101008

Jurusan : Kimia

Kelompok : I (Satu)

Tanggal :

Acc :

Dosen/Asisten

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2019
PEMBUATAN LARUTAN

I. Tujuan
1.1 Membuat larutan dengan konsentrasi tertentu.
1.2 Menentukan konsentrasi suatu larutan contoh.

II. Dasar Teori


Larutan merupakan campuran homogen antara suatu zat yang berjumlah dua atau lebih.
Ada dua komponen zat dalam pembuatan larutan, yakni zat terlarut dan zat pelarut
(Simanjuntak, 2005).

Fasa larutan dapat berupa fasa gas, cair dan gas tergantung pada dua sifat komponen
larutan tersebut. Apabila fasa pembuatan larutan atau zat-zat pembentuknya sama. Zat yang
berbeda dalam jumlah terbanyak pada umumnya disebut pelarut (Underwood, 2002).

Larutan terbentuk melalui pencampuran dua zat tau lebih zat murni yang molekulnya
berinteraksi secara langsung dalam keadaan zat tercampur. Perubahan oleh gaya antar
molekul yang dialami oleh molekul dalam bergerak dari zat terlarut murni atau pelarut untuk
ke keadaan bercampur mempengaruhi baik dalam hal kemudahan pembentukan maupun
kestabilan suatu larutan (Oxtoby, 2001).

Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan (zat terlarut) yang disebut solute. Larutan
didefinisikan sebagai suatu campuran homogen. Larutan terdiri dari tiga wujud, yaitu gas,
padat dan cair (Darlina, 1998).

Larutan sebagai campuran dua zar tau lebih ini yang membentuk suatu fasa (homogen)
dan sifatnya dalam kimia setiap zat yang membentuk suatu larutan tidak berubah. Larutan
homogen adalah larutan yang jika dicampurkan dengan pelarut akan terlarut dan menyatu
menjadi satu larutan contohnya gula jika dilarutkan dalam air. Sedangkan larutan heterogen
merupakan larutan yang jika dicampurkan dengan air maka tidak akan menyatu, misalnya air
dan minyak (Triana, 2004).

Berdasarkan zat wujud terlarut dan zat pelarut maka larutan dapat dibagi dalam tujuh
macam dan dari tiga jenis wujud zat seharusnya terbentuk sejumlah sembilan macam zat
larutan. Tetapi zat yang berwujud padat dan cairan atau cair tidak membentuk dalam larutan
pelarut berwujud gas. Partikel yang berwujud dan cair dalam zat lain yang memiliki wujud
gas akan membentuk larutan dalam suatu pelarut heterogen. Selain itu masi hada beberapa
dari macam-macam penggolongan lain terhadap berbagai larutan (Strain, 2008).

Pelarut dan solute atau za terlarut. Biasanya komponen solven mengandung sejumlah
zat yang terbanyak. Dan komponen solute mengandung jumlah zat yang lebih sedikit.
Konsentrasi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan cepat atau lambatnya
suatu reaksi berlangsung. Konsentrasi dari larutan menyatakan banyaknya zat terlarut yang
terdapat dalam suatu pelarut atau larutan. Larutan yang mengandung sebagian besar solute
dan relatif terhadap pelarut, berarti larutan tersebut konsentrasinya tinggi atau pekat. Di antara
sifat larutan non elektrolit dan larutan elektrolit dalam suatu larutan (Aloysius, 2008).

Larutan adalah suatu campuran yang homogen yang campurannya berbeda, misalnya
sejumlah garam dalam sejumlah air yang diketahui dapat berbeda dari satu larutan ke larutan
lain. Dalam larutan ada dua komponen yaitu solven dan solute. Solven disebut juga pelarut,
dimana secara fisik tidak berubah karena larutan terbentuk. Biasanya air digunakan sebagai
solven. Selain air yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol, amoniak, benzena kloroform,
minyak dan asam asetat. Akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak disebut semua
komponen lainnya yang larut di dalam pelarut yang disebut solute (zat yang terlarut). Larutan
garam dalam air misalnya solven dan garam yang dapat larut dalam air. Jika ingin mengubah
menjadi jumlah relatif solute dan solven dalam suatu larutan dan digunakan istilah
konsentrasi. Suatu komponen larutan yang mengandung sejumlah solute dalam suatu solven
yang diketahui jumlahnya disebut larutan/zat terlarut (solute) yang pekat (Pudjaatmaka,
2000).

Suatu larutan padat adalah solute yang relatif konsentrasinya tinggi dan larutan encer
adalah yang konsentrasinya kecil. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu
temperatur, sifat zat, efek ion-ion sejenis, efek ion-ion berlainan, pH, hidrolisis dan lain-lain
(Benzie, 2008).

Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi.


Konsentrasi merupakan perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah pelarut yang dinyatakan
dalam satuan volume (berat, mol) dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan
hal ini muncul satuan-satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molalitas, molaritas, normalitas,
ppm serta ditambahkan dengan persen massa dan persen volume. Dalam kimia, pengenceran
diartikan pencampuran yang bersifat homogen antara zat terlarut dan pelarut di dalam larutan.
Zat yang jumlahnya lebih banyak dari pada zat-zat lain di dalam larutan solute, sedangkan zat
yang jumlahnya lebih banyak dari pada zat-zat tertentu disebut pelarut atau solven.
Pengenceran juga bisa dilakukan dengan cara mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)
dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu
zat atau larutan yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah kalor dilepas. Hal ini
terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan
dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat yang
dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air atau asam sulfat memercik (Ralph,
2009).

Jika dua zat yang berbeda dimasukkan dalam suatu wadah ada tiga kemungkinan, yaitu
bereaksi, bercampur dan tidak bercampur. Jika bereaksi maka akan menghasilkan zat yang
baru yang sifatnya berbeda dari zat semula. Dua zat dapat bercampur bila ada interaksi antara
partikelnya. Interaksi itu ditentukan oleh wujud dan sifatnya. Oleh sebab itu, campuran dalam
dapat dibagi atas gas-padat, gas-cair, cair-cair, cair-padat dan padat-padat. Jika dua atau lebih
zat yang tidak bereaksi dicampur, campuran yang terjadi ada tiga kemungkinan, yaitu
campuran kasar, koloid dan larutan sejati. Secara kemungkinan atau secara mekanisme dua
jenis campuran yang pertama bersifat heterogen dan dapat dipisahkan secara mekanisme.
Sedangkan larutan yang bersifat homogen tidak dapat dipisahkan secara mekanisme. Atas
dasar ini campuran larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua zata tau lebih.
Keadaan fisika larutan dapat berupa gas, cair atau padat perbandingan yang berubah-ubah
pada jarak yang halus (Atkins, 2002).

Menurut Scoetyland (2008), terdapat dua jenis reaksi dalam, yaitu :


a. Eksoterm merupakan proses yang melepaskan suatu panas dari sistem ke lingkungan.
Segingga suhu dari campuran reaksi akan naik dan suatu potencial zat-zat kimia yang
bersangkutan akan turun.
b. Endoterm merupakan proses menyerap panas/kalor dari lingkunga ke sistem. Segingga
suhu dari campuran reaksi akan turun dan suatu potencial zat-zat kimia yang
bersangkutan akan naik.

Untuk memperoleh larutan standar perlu dilakukan proses standarnisasi sebelum


melakukan dan menjakankan analsisa bagi suatu konsentrasi larutan yang diinginkan. Secara
umum, larutan standar yang akan distandarnisasi perlu dilakukan karena larutan standar
sekunder biasanya bersifat tidak stabil jika disimpan dalam jangka waktu yang panjang atau
lama, misalnya tidak di higroskopis sehingga konsentrasinya tidak mudah untuk berubah.
Larutan yang saling melarutkan adalah campuran dua larutan polar atau dua larutan non polar
yang membentuk larutan satu fasa homogen. Larutan yang tidak melarutkan adalah campuran
dari dua zat cair polar dan non polar yang membentuk dua fasa (Petruci, 1987).
Sifat larutan yaitu penurunan teknan uap (ΔP), kenaikan titik didih (ΔPb), penurunan
titik beku (ΔTf) dan tekanan osmotik (π) yang hanya bergantung pada jumlah partikel zat
terlarutnya dikelompokan bersama dan disebut sebagai sifat koligatif larutan. Sifat koligatif
larytan itu merupakan sifat larutan yang bergantung kepada jumlah partikel zat terlarut dan
bukan pada jenis zat terlarutnya (Zaylaymanel, 2002).

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang hanya bergantung pada jumlah partikel
zat terlarut dan bukan pada jenis zat terlarutnya. Sifat koligatif larutan dibedakan untuk
latutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Hal ini disebabkan oleh kemampuan elektrolit
untuk terionisasi dan untuk terdisosiasi membentuk ion-ion di dalam larutan yang
menyebabkan jumlah partikel zat terlarutnya menjadi besar (Raymond, 2005).

Kemolaran atau molaritas merupakan banyaknya jumlah mol zat yang terlarut dalam
tiap liter larutan. Atau konsentrasi suatu larutan yang mengukur banyaknya mol zat terlarut
dalam zat tiap liter larutan. Kemolaran atau molaritas yang sering disimbolkan dengan M.
molaritas dapat dirumuskan sebagai berikut M = mol per volume larutan. Suatu larutan
jumlah maksimum zat-zat terlarut. Berdasarkan zat wujud terlarut terdapat banyak jenis suatu
zat yang menyusun larutan yang dikenal dengan larutan biner (tersusun dari dua jenis zat),
larutan temor dan masih banyak lagi (Istrani, 2005).

Menurut Thomas (2003), sifat hantaran listrik dikenal dengan larutan elektrolit (larutan
yang dapat menghantarkan listrik) dan larutan non elektrolit (larutan yang tidak dapat
menghantarkan listrik). Ditinjau dari segi kemampuan suatu zat melarutkan ke dalam
sejumlah pelarut pada suhu tertentu dikenal sebagai :
a. Larutan jenuh;
b. Larutan tak jenuh;
c. Larutan lewat jenuh.

Menurut Albertsein (2009), molaritas (M) suatu konsentrasinya mengukur banyaknya


mol zat terlarut dalam suatu liter larutan. Dapat dituliskan dengan rumus :

n
M=
V
Ket. M = Molaritas
n = Mol
V = Volume larutan
Membentuk suatu larutan untuk suatu eksperimen dapat dilakukan dengan melarutkan
zat padat (kristal) atau dengan melakukan pengenceran bagi larutan konsentrasi tinggi
menjadi konsentrasi yang rendah (Surayin, 2010).

Pada pembuatan larutan itu sendiri merupakan suatu cara pembuatan dari bahan cair
atau padat dengan konsep atau dengan konsentrasi tertentu. Proses pencampuran zat terlarut
dan juga pelarut membentuk larutan yang disebut solvasi/solven untuk menyatakan
konsentrasi suatu larutan dapat dilakukan berbagai cara (Prophyphin, 2002).

Dalam dunia kimia larutan merupakan campuran yang homogen yang terdiri dari dua
zata tau lebih. Zat yang jumlahnya sedikir itu adalah solute atau zat terlarut dan zat yang
umumnya memiliki jumlah zat yang banyak adalah suatu pelarut. Proses pencampuran zat
terlarut dan zat pelarut membentuk larutan disebut dengan pelarut atau solven atau somasi.
Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang ada dalam cairan (Chang, 2007).
III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
 Botol Reagen
 Gelas Piala
 Gelas Ukur
 Kaca Arloji
 Labu Takar
 Neraca Analitik
 Spatula

3.2 Bahan
 Aquades
 Ba(OH)2 . 8H2O
 Bi5O(OH)9(NO3)4
 C6H5Na3O7 . 2 H2O
 CaCl2 .2 H2O
 H2SO4
 K2Cr2O7
 K2O7S2
 LiOH
 NaCl
 NaHCO3

IV. Prosedur Percobaan


1. Larutan dibuat dalam konsentrasi 0,1 M C6H5Na3O7 .2 H2O, Ba(OH)2 . 8 H2O,
CaCl2 . 2 H2O dan H2SO4. Masing-masing di dalam 300 mL aquades.
2. Larutan dibuat dalam konsentrasi 0,05 M NaCl dan K2Cr2O7. Masing-masing di
dalam 300 mL aquades.
3. Larutan dibuat dalam konsentrasi 1 M Bi5(OH)9(NO3)4 dan K2O7S2. Masing-
masing di dalam 300 mL aquades
4. Larutan dibuat dalam konsentrasi 2 M LiOH dan NaHCO3. Masing-masing di
dalam 300 mL aquades.
V. Hasil Pengamatan
1. Larutan dibuat dalam konsentrasi 0,1 M. Masing-masing di dalam 300 mL
aquades.
Dik : M = 0,1 M
V = 300 mL = 0,3 L
Dit : n ...?
Penyelesaian :
𝑛
M=𝑉 , n=M.V

n = 0,1 M x 0,3 L = 0,03 mol


 Ba(OH)2 . 8 H2O
(Ar Ba = 137, O = 16 , H = 1)
Mr Ba(OH)2 . 8 H2O = 137+32+2+16 = 315
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,03 mol x 325 𝑚𝑜𝑙

= 9,45 gr
 C6H5Na3O7 .2 H2O
(Ar C = 12, H = 1, Na = 23, O = 16)
Mr C6H5Na3O7 .2 H2O = 72+5+69+112+4+32 = 294
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,03 mol x 294 𝑚𝑜𝑙

= 8,82 gr
 CaCl2 .2 H2O
(Ar Ca = 40, Cl = 35 , O = 16, H = 1)
Mr CaCl2 .2 H2O = 40+70+4+32 = 146
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,03 mol x 146 𝑚𝑜𝑙

= 9,45 gr
 H2SO4
(Ar H = 1, S = 16, O = 16)
Mr H2SO4 = 2+16+64 = 98
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,03 mol x 98 𝑚𝑜𝑙

= 2,94 gr
2. Larutan dibuat dalam konsentrasi 0,05 M. Masing-masing di dalam 300 mL
aquades.
Dik : M = 0,05 M
V = 300 mL = 0,3 L
Dit : n ...?
Penyelesaian :
𝑛
M=𝑉 , n=M.V

n = 0,05 M x 0,3 L = 0,015 mol


 K2Cr2O7
(Ar K = 39, Cr = 52, O = 16)
Mr K2Cr2O7 = 78+104+112 = 294
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,015 mol x 325 𝑚𝑜𝑙

= 4,41 gr
 NaCl
(Ar Na = 23 ,Cl = 35)
Mr NaCl = 23+35 = 58
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,015 mol x 58 𝑚𝑜𝑙

= 0,87 gr

3. Larutan dibuat dalam konsentrasi 1 M. Masing-masing di dalam 300 mL aquades.


Dik : M=1M
V = 300 mL = 0,3 L
Dit : n ...?
Penyelesaian :
𝑛
M=𝑉 , n=MxV

n = 1 M x 0,3 L = 0,3 mol


 Bi5(OH)9(NO3)4
(Ar Bi = 209, O = 16, H = 1, N = 14 )
Mr NH4OH = 1045+160+9+56 = 1462
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,3 mol x 1462 𝑚𝑜𝑙

= 438,6 gr
 K2O7S2
(Ar K = 39, O = 16, S = 32)
Mr K2O7S2 = 78+112+64 = 254
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,3 mol x 254 𝑚𝑜𝑙

= 76,2 gr

4. Larutan dibuat dalam konsentrasi 2 M. Masing-masing di dalam 300 mL aquades .


Dik: M=1M
V = 300 mL = 0,3 L
Dit : n ...?
Penyelesaian :
𝑛
M=𝑉 , n=MxV

n = 2 M x 0,3 L = 0,6 mol


 LiOH
(Ar Li = 7, O = 16, H = 1)
Mr LiOH = 7+16+1 = 24
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,6 mol x 24 𝑚𝑜𝑙

= 14,4 gr
 NaHCO3
(Ar Na = 23, O = 16, H = 1, C = 16)
Mr NaHCO3= 23+1+12+48 = 84
Massa = mol x Mr
𝑔𝑟
= 0,6 mol x 84 𝑚𝑜𝑙

= 50,4 gr
VI. Pembahasan
Pada praktikum yang pertama ini praktikan belajar mengenai Pembuatan Larutan.
Dimana praktikan diajari cara-cara untuk membuat larutan.

Pada praktikum yang telah dilakukan ,pembuatan larutan dilakukan dengan berbagai
konsentrasi yaitu 0,1 M, 0,5 M, 1 M, 2 M. Dari setiap bahan yang akan dibuat menjadi
larutan, masing-masing berada di dalam 300 mL atau 0,3 L aquades. Bahan-bahan tersebut,
meliputi Ba(OH)2 . 8 H2O, Bi5O(OH)9(NO3)4, C6H5Na3O7 . 2 H2O, CaCl2 .2 H2O, H2SO4,
K2Cr2O7, K2O7S2, LiOH, NaCl serta NaHCO3.

Awalnya setiap larutan dihitung jumlah zat atau jumlah molekulnya, kemudian dihitung
massanya. Dari hasil perhitungan pertama meliputi jumlah zat, massa dan massa relatifnya,
maka praktikan mendapatkan data bahwa larutan pertama didapat jumlah zat sebanyak 0,03
mol, larutan kedua sebnayak 0,015 mol, larutan ketiga sebanyak 0,3 mol dan larutan keempat
sebanyak 0,6 mol. Dari hasil ini dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah zat berbanding lurus
dengan hasil kali konsentrasi dan volumenya, maka semakin besar konsentrasi dan volumenya
berarti semakin besar pula jumlah zatnya, begitupun sebaliknya.

Pada hasil perhitungan juga didapati massa dari masing-masing larutan. Larutan
pertama menghasilkan 2,94 gram, 4,38 gram, 8,82 gram dan 9,45 gram pada konsentrasi 0,1
M. Larutan kedua masing-masing menghasilkan 0,87 gram dan 4,41 gram pada konsentraso
0,05 M. larutan ketiga masing-masing 76,2 gram dan 438,6 gram pada konsentrasi 1 M. lalu
larutan keempat menghasilkan 14,4 gram dan 50,4 gram pada konsentrasi 2 M. dari hasil
perhitungan massa larutan ini praktikan dapat mengetahui massa larutan berbanding lurus
dengan jumlah zat yang dikalikan dengan massa relatifnya.

Dalam praktikum ini dibuktikan bahwa massa terbesar yaitu 438,6 gram dari
Bi5O(OH)9(NO3)4 dan massa yang terkecil yaitu massa NaCl sebesar 0,87 gram. Gimana hal
ini dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi dan jumlah massa atom relatif karena kedua hal
ini berpengaruh terhadap jumlah zat yang pastinya akan berpengaruh pada massa zat tersebut.

Pada konsentrasi 0,1 M Ba(OH)2 . 8 H2O memiliki jumlah massa terbesar, pada
konsentrasi 0,05 M ada K2Cr2O7, pada konsentrasi 1 M ada Bi5O(OH)9(NO3)4 dan pada
larutan keempat ada NaHCO3. Ini membuktikan bahwa Mr (Massa Relatif) juga turut
mengambil andil yang penting dalam proses pembuatan larutan.

Berdasarkan praktikum dan seluruh pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa massa
relatif atom, jumlah molekul, konsentrasi, volume larutan, massa larutan semuanya itu saling
berhubungan antar lain, seperti jika konsentrasi suatu larutan semakin besar maka akan
semakin besar pula mol serta massa yang diperlukan larutan.
VII. Penutup
7.1 Kesimpulan
 Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu harus ditentukan dahulu
massa dari zat terlarut, setelah itu zat terlarut dicampurkan dengan pelarut.
 Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan harus ditentukan jumlah molekul zat
dan volume larutan, setelah itu dihitung dengan rumus molaritas yaitu jumlah
molekul zat per volume larutan.

7.2 Saran
 Sebaiknya praktikan menjaga ketertiban praktikum berlangsung.
 Sebaiknya prosedur percobaan harus dilakukan dengan baik agar diperoleh hasil
praktikum yang akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Albertsein, Q. A. 2009. Kimia Kualitatif dan Kuntitatif edisis Kelima. Erlangga, Bandung.

Aloysius, Z. Y. 2008. Pembuatan Larutan Al2(SO4)3. Jurnal Kimia Fisika untuk para Medis
3(5) : 44-46.

Atkins, Y. P. 2002. Kimia Dasar Jilid III. Erlangga, Yogyakarta.

Benzie, S. Y. 2008. Laporan Analisis Kimia Kualitatif dan Kuantitatif. Jurnal Penentuan
Suatu Konsentrasi Larutan 5(6) : 50-53.

Chang, R. 2007. Kimia Dasar Jilid II. Erlangga, Yogyakarta.

Darlina. 1998. Pembuatan Larutan Standard dan Pereaksi Pemisah KIT RIA T3. Jurnal Kimia
1(2) : 78-79.

Istiani, Y. 2005. Kimia Dasar. Erlangga, Bandung.

Oxtoby, J. 2001. Kimia Analisis Kualitatif. Erlangga, Yogyakarta.

Petruci, R. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga, Bandung.

Prophyphin, Q. 2002. Pembuatan Larutan. Jakarta-Press, Bandung.

Pudjaatmaka, D. W. 2000. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi Keempat. Erlangga, Bandung.

Ralph, P. Y. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. Erlangga, Bandung.

Raymond, C. Y. 2005. Pelarutan Dan Pengenceran. Erlangga, Bandung.

Scoetyland, Z. 2008. Kimia Kualitatif Dan Kuantitatif Menentukan Konsentrasi Larutan.


Erlangga, Jambi.

Simanjuntak, H. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. Erlangga, Jambi.

Strain, K. 2008. Konsentrasi Larutan. Erlangga, Bandung.

Surayin, H. J. 2010. Kimia Analitik Jilid I. Erlangga, Bandung.

Thomas, J. 2003. Laporan Kimia Pembuatan Larutan. Jurnal Diktat Kimia Dasar I 7(9) : 55-
60.
Tim Penyusun. 2019. Kumpulan Praktikum Kimia Analisis Kualitatif dan Kuantitatif. Manado
: FMIPA UNSRAT.

Triana, E. Q. 2004. Pembuatan Dan Penentuan Konsentrasi Larutan. Jurnal Kimia Analisis
Dan Kuantitatif 2(4) : 22-23.

Underwood, A. L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga, Jambi.

Zaylaymanel. 2002. Kimia Dasar III. Erlangga, Bandung,


LAMPIRAN

Botol Reagen Sudip Aquades

Ba(OH)2 . 8H2O yang CaCl2 . 2H2O yang LiOH yang ditimbang


ditimbang ditimbang

Ba(OH)2 . 8H2O CaCl2 . 2H2O LiOH


Ba(OH)2 . 8H2O + aquades CaCl2 . 2H2O + aquades Pipet Tetes

Sikat Tabung