Anda di halaman 1dari 20

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PERTAMEDIKA
(STIKes PERTAMEDIKA)
Nurul Setiyowati /21118156 /2019
Program Profesi/Ners S1 Keperawatan

LAPORAN PENDAHULUAN

ATRESIA ANI

A. KONSEP PENYAKIT

1. Definisi
Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang
atau saluran anus.
Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus
imperforate meliputi anus, rectum atau keduanya (Betz, dkk. 2008).
Atresia ani adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau anus tidak
sempurna, termasuk didalamnya agenesis ani, agenesis rektum dan atresia
rektum (Faradilla, 2009).
Menurut Ladd dan Gross (2006) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:

a. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus


b. Membran anus yang menetap
c. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada
bermacam-macam jarak dari peritoneum
d. Lubang anus yang terpisah dengan ujung
Atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai
lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan
kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan
mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada
pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum.

2. Klasifikasi
Melbourne membagi berdasarkan garis pubocoxigeus dan garis yang
melewati ischii kelainan disebut :

a. Tinggi (supralevator) → rektum berakhir di atas M.Levator ani


(m.puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit
perineum >1 cm. Letak upralevator biasanya disertai dengan fistel
ke saluran kencing atau saluran genital.
b. Intermediate → rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak
menembusnya.
c. Rendah → rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak
antara kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm. Pada wanita 90%
dengan fistula ke vagina/perineum. Pada laki-laki umumnya letak
tinggi, bila ada fistula ke traktus urinarius.

3. Etiologi
Penyebab atresia ani belum diketahui secara pasti tetap ini merupakan
penyakit anomaly kongenital. Akan tetapi atresia juga dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain:
a. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga
bayi lahir tanpa lubang dubur.
b. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu/3 bulan.
c. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik
didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang
terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

4. Patofisiologi

Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada


kehidupan embr ional. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan
adanya fistula. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi
cairan, muntah dengan segala akibatnya.
Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan
diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperkloremia, sebaliknya feses
mengalir kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada
keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ
sekitarnya. Pada perempuan, 90% dengan fistula ke vagina (rektovagina)
atau perineum (rektovestibuler).
Pada laki - laki umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostat
(rektovesika) bila kelainan merupakan letak tinggi, pada letak rendah
fistula menuju ke uretra (rektouretralis) (Faradilla, 2009).
5. Pathway
6. Manifestasi Klinis
Menurut Ngastiyah gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani atau
anus .imperforata terjadi dalam waktu 24-48 jam. Gejala itu dapat berupa:

a. Perut kembung.
b. Muntah.
c. Tidak bisa buang air besar
d. Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat
dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan.
e. Tidak dapat atau mengalami kesulitan mengeluarkan mekonium
(mengeluarkan tinja yang menyerupai pita).
f. Perut membuncit.

Tanda dan gejala Menurut Betz, dkk. 2008 :


a. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
b. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.
c. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah
letaknya.
d. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak
ada fistula).
e. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
f. Pada pemeriksaan rectal touché terdapat adanya membran anal.
g. Perut kembung.

7. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain:

a. Asidosis hiperkloremia.
b. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan.
c. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).
d. Komplikasi jangka panjang yaitu eversi mukosa anal, stenosis (akibat
konstriksi jaringan perut dianastomosis).
e. Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
f. Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi).
g. Prolaps mukosa anorektal.
h. Fistula (karena ketegangan abdomen, diare, pembedahan dan infeksi).

8. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik


yang umum dilakukan pada gangguan ini. Pemeriksaan fisik rectum
kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan
selang atau jari.
b. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel
epitel mekonium.
c. Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice) dapat
menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu
pada mekonium yang mencegah udara sampai keujung kantong rectal.
d. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal
kantong. Ultrasound terhadap abdomen Digunakan untuk melihat
fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari
adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.
e. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan
jarum tersebut sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak
keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm Derek tersebut dianggap
defek tingkat tinggi.
f. Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan
Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di
daerah tersebut.Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada
bagian baru lahir dan gambaran ini harus dipikirkan kemungkinan
atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus impoefartus.
Udara berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid, kolon/rectum. Dibuat foto
anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah
dan kaki diatas pada anus benda bang radio-opak, sehingga pada foto
daerah antara benda radio-opak dengan dengan bayangan udara
tertinggi dapat diukur.
g. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
h. Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi
oleh karena massa tumor.
i. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
j. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
k. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan
selang atau jari.
l. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang
berhubungan dengan traktus urinarius.

9. Penatalaksanaan

a. Pembedahan
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan
keparahan kelainan. Semakin tinggi gangguan, semakin rumit
prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi
beberapa lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus
permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada
bayi berusia 12 bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan
dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan
pada otot-otot untuk berkembang.
Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan
dan bertambah baik status nutrisnya. Gangguan ringan diatas dengan
menarik kantong rectal melalui afingter sampai lubang pada kulit anal
fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa hanya memerlukan
tindakan pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi
degan hemostratau skapel.
b. Pengobatan
1) Aksisi membran anal (membuat anus buatan)
2) Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah
3 bulan dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen)
c. Keperawatan
Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada
anaknya dan keadaan tersebut dapat diperbaiki dengan jalan operasi.
Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya dibuatkan
anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2,
selain itu perlu diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga
kebersihan untuk mencegah infeksi serta memperhatikan kesehatan
bayi. (Staf Pengajar FKUI. 205).

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Biodata klien.
b. Riwayat keperawatan.
1) Riwayat keperawatan/ kesehatan sekarang.
2) Riwayat kesehatan masa lalu.
c. Riwayat psikologis.
Koping keluarga dalam menghadapi masalah.
d. Riwayat tumbuh kembang anak.
1) BB lahir abnormal.
2) Kemampuan motorik halus, motorik kasar, kognitif dan
tumbuh kembang pernah mengalami trauma saat sakit.
3) Sakit kehamilan mengalami infeksi intrapartal.
4) Sakit kehamilan tidak keluar mekonium.
e. Riwayat sosial.
f. Pemeriksaan fisik.
g. Pemeriksaan penunjang
Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan
penunjang sebagai berikut:
1) Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2) Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan
untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rektum dari
sfingternya.
3) Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam
sistem pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti
obstruksi oleh karena massa tumor.
4) CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5) Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
6) Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rektal dapat dilakukan colok dubur dengan
menggunakan selang atau jari.
7) Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang
berhubungan dengan traktus urinarius.

2. Diagnosa
Diagnosa preoperasi:
a. Konstipasi berhubungan dengan aganglion.
b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat, muntah.
c. Cemas orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
penyakit dan prosedur perawatan.

Diagnosa postoperasi:
a. Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan/ insisi luka.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terdapat stoma
sekunder dari kolostomi.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme
sekunder terhadap luka kolostomi.
d. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan kolostomi.
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.
C. Rencana Intervensi
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
NOC NIC
1. Ansientas 1. anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan
Definisi : perasaan tidak 2. anxiety level kecemasan)

nyaman atau kekawatiran 3. coping 1. Idetifikasi tingkat kecemasan


2. Jelaskan semua prosedur dan
yang sama disertai respon tujuan dan kriteria hasil
aoa yang dirasakan selama
autonomy (sumber sering Tujuan : setelah dilakukan
prosedur
kali tidak spesifik atau tidak tindakan keperawatan selama 3x
3. Dorong keluarga untuk
diketahui oleh individu) 24 jam diharapkan cemas
menemani anak
berkurang dengan
perasaan takut yang 4. Bantu pasien untuk mengenal
1. klien mampu
disebabkan oleh antisipasi situasi yang menimbulkan
mengidentifikasi dan
terhadap bahaya. Hal ini kecemasan
mengungkapkan gejala
merupakan isyarat
cemas
kewaspadaan yang
2. mengindentifikasi,
memperingatkan individu
mengungkapkan dan
akan adanya bahaya dan
menunjukkan teknik
kemampuan individu untuk
untuk mengontrol
bertindak mengahadapi
cemas
ancaman
3. vital sign dalam batas
Batasan karakteristik
normal
1. Perilaku
4. postur tubuh, ekspresi
a. Penurunan
wajah, bahasa tubuh dan
produktivitas
tingkatan aktivitas
b. Gerakan yang
menunjukkan
irevelen
berkurangnya
c. Gelisah
kecemasan
d. Melihat sepintas
e. Insomnia
f. Kontak mata yang
buruk
g. Mengekspresikan
kekawatiran karena
perubahan dalam
peristiwa hidup
h. Agitasi
i. Mengintai
j. Tampak waspada
2. Affektif
a. Gelisah, distres
b. Kesedihan yang
mendalam
c. Ketakutan
d. Perasaan tidak
adekuat
e. Berfokus pada diri
sendiri
f. Peningkatan
kewaspadaan
g. Iritabilitas
h. Duduk, senang
berlebihan
i. Rasa nyeri
meningkatkan
ketidakberdayaan
3. Fisiologis
a. Wajah tegang,
tremor tangan
b. Peningkatan
ketegangan
c. Gemetar, tremor
d. Suara bergerak
4. Simpatik
a. Anoreksia
b. Eksitasi
kardiovaskuler
c. Diare, mulut kering
d. Wajah merah
e. Peningkatan tekanan
darah
Faktor yang berhubungan
1. Perubahan dalam (status
ekonomi, lingkungan,
status kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran,
status peran)
2. Pemajaman toksin
3. Terkait keluarga
4. Herediter
Konstipasi NOC NIC
2. Definisi: 1. Bowl Elimination Manajemen konstipasi
Penurunan dari frekuensi 2. Hidration 1. Identifikasi faktor-faktor yang

normal defekasi diikuti oleh Tujuan Kriterial hasil : menyebabkan konstipasi


2. Monitor tanda-tanda ruptur
kesulitan atau pengeluaran Tujuan : setelah dilakukan
bowel/peritonitis
tinja tidak komplit dan/atau tindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan gangguan 3. Jelaskan penyebab dan
tinja keras, kering.
konstipasi teratasi dengan rasionalisasi tindakan pada pasien
Batasan Karakteristik:
kriteria hasil : 4. Konsultasikan dengan dokter
Batasan karakteristik tentang peningkatan dan
1. Pola BAB dalam batas
a. Perubahan pola BAB penurunan bising usus
normal
b. Terdapat darah segar 5. Kolaburasi jika ada tanda dan
2. Feses lunak
pada tinja gejala konstipasi yang menetap
3. Cairan dan serat adekuat
c. Adanya tinja yang lembut
4. Aktivitas adekuat
seperti pasta di rektum
d. Distensi abdomen 5. Hidrasi adekuat 6. Jelaskan pada pasien manfaat diet
e. Tinja yang gelap, hitam, (cairan dan serat) terhadap

atau seperti ter eliminasi


7. Jelaskan pada klien konsekuensi
f. Peningkatan tekanan
menggunakan laxative dalam
abdomen
waktu yang lama
g. Perkusi abdomen dullness
8. Kolaburasi dengan ahli gizi diet
h. Nyeri saat defekasi
tinggi serat dan cairan
i. Penurunan volume tinja 9. Dorong peningkatan aktivitas yang
j. Tegang saat defekasi optimal
k. Frekuensi BAB menurun 10. Sediakan privacy dan keamanan
l. Tinja yang kering, keras, selama BAB
dan berbentuk
m. Teraba massa pada
rektum
n. Perasaan rektal penuh
atau bertekanan
o. Nyeri abdomen
p. Tidak mampu
mengeluarkan tinja
q. Anoreksia
r. Perubahan dalam bunyi
perut
Faktor yang
berhubungan:
a. Fungsi:kelemahan otot
abdominal, Aktivitas fisik
tidak mencukupi
b. Perilaku defekasi tidak
teratur
c. Perubahan lingkungan
d. Toileting tidak adekuat:
posisi defekasi, privasi
e. Psikologis: depresi, stress
emosi, gangguan mental
f. Farmakologi: antasid,
antikolinergis,
antikonvulsan, antidepresan,
kalsium karbonat,diuretik,
besi, overdosis laksatif,
NSAID, opiat, sedatif.
g. Mekanis:
ketidakseimbangan
elektrolit, hemoroid,
gangguan neurologis,
obesitas, obstruksi pasca
bedah, abses rektum, tumor
h. Fisiologis: perubahan
pola makan dan jenis
makanan, penurunan
motilitas gastrointestnal,
dehidrasi, intake serat dan
cairan kurang, perilaku
makan yang buruk
3. Resiko Infeksi NOC NIC
Definisi: 1. Status Imun Kontrol Infeksi
Kenaikan resiko karena 2. Kontrol Infeksi 1. Batasi jumlah
diserang oleh organisme Tujuan dan Kriteria Hasil: pengunjung/pembezuk.
penyakit. Setelah dilakukan tindakan 2. Gunakan sabun anti mikroba
Batasan Karakteristik: keperawatan selama 2x24 untuk mencuci tangan dengan
ü Penyakit kronik jam klien mampu untuk: benar.
a. Mendapatkan kekebalan Menunjukan status imun, 3. Cuci tangan sebelum dan
yang tidak adekuat dengan indikator : sesudah melakukan perawatan
b. Pertahanan utama yang 1. Tidak adanya infeksi pada pasien.
tidak adekuat (e.g., berulang, tidak adanya 4. Gunakan sarung tangan yang
kerusakan kulit, jaringan tumor,Reaksi tes kulit bersih.
yang luka, pengurangan cocok dengan 5. Jaga lingkungan agar tetap
dalam tindakan, pembukaan, Kadar zat steril selama insersi di tempat
perubahan pada sekresi terlarut pada antibody tidur.
PH, mengubah gerak dalam batas normal 6. Tutup/jaga kerahasiaan system
peristaltic) 2. Menunjukan kontrol infeksi, ketika melakukan pemeriksaan
c. Pertahanan kedua yang dengan indikator : invasive hemodynamic.
tidak adekuat 1. Mendeskripsikan mode 7. Ganti peripheral IV dan
(pengurangan transmisi, balutan berdasarkan petunju
hemoglobin, leucopenia, mendeskripsikan factor- CDC.
respon yang menekan faktor yang menyertai 8. Pastikan keadaan steril saat
sesuatu yang transmisi, mendeskripsi- menangani IV.
menyebabkan radang kan tanda-tanda dan 9. Tingkatkan pemasukkan nutrisi
d. Pertambahan gejala, Mendeskripsikan yang tepat.
pembukaan lingkungan aktivitas-aktivitas 10. Tingkatkan pemasukan cairan
pada pathogen Agen meningkatkan daya tahan yang tepat.
farmasi (ex: zat yang terhadap infeksi. 11. Lakukan terapi antibiotic
menghambat reaksi yang tepat.
imun
Health Education
12. Ajarkan mencuci tangan
untuk memperbaiki kesehatan
pribadi.
13. Ajarkan teknik mencuci
tangan yang benar.
14. Ajarkan pasien dan keluarga
tentang tanda-tanda dan gejala
infeksi dan kapan harus
melaporkannya pada tim
kesehatan.
15. Ajarkan pasien untuk
memakan antibiotic sesuai
resep.
DAFTAR PUSTAKA

Betz, C. L. & Linda A. S. 2008. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisike-3.


Jakarta : EGC.

Carpenito, L. J. 2010 . Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta :


EGC.

Wong, Donna L. 2009. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri


Kurnianianingsih (ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/23480/Chapter%20II.pdf;s
equence=3 diakses pada senin 17 September 2018 pukul 06.00 WIB.