Anda di halaman 1dari 15

PERTUMBUHAN LAPISAN BATAS ( BOUNDARY LAYER )

PADA PIPA
Khunanda Oqbah P¹*, M Arkan Arsyad I¹, Tengku Muhammad Irfan¹, Fatur Rosix 1
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pertamina
*Corresponding author: nandaboters59@gmail.com

ABSTRAK

Lapisan batas adalah daerah aliran yang tipis dekat dengan permukaan dimana aliran tersebut
diperlambat oleh antara permukaan dengan aliran, dinyatakan dengan tegangan geser ( shear stress ).
Pada percobaan kali ini lapisan batas mengalami transisi menjadi turbulen cukup dekat dengan area
masuk pipa. Pertumbuhan lapisan batas ini dapat diamati pada profil kecepatan sepanjang pipa. Kita
dapat memahami fenomena pertumbuhan lapisan batas ( boundary layer ) pada pipa. Pada praktikum
kali ini kita juga mendapatkan

Kata Kunci : Aliran,Tegangan Geser,Turbulen,Kecepatan,Lapisan Batas

ABSTRACT

The boundary layer is a thin flow area close to the surface where the flow is slowed between
the surface and the flow, expressed as shear stress. In this experiment the boundary layer underwent a
transition to turbulent quite close to the pipe inlet area. The growth of this boundary layer can be
observed in the velocity profile along the pipe. We can understand the phenomenon of the growth of the
boundary layer in the pipe. In this practicum we also get

Keywords : Flow,Shear Stress,Turbulent,Velocity,Boundary Layer


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada praktikum kali ini kita akan melakukan percobaan yaitu
memahami sebuah proses pertumbuhan lapisan batas ( boundary layer ) pada
pipa. Lapisan batas adalah suatu lapisan yang terbentuk disekitar pemampang
yang dilalui fluida tertentu. Karena mengalami hambatan yang disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu gesekan dan efek viskos
Lapisan batas mengalami transisi menjadi turbulen sehingga menjadi
dekat dengan area masuk pipa.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana kondisi profil aliran yang terbentuk pada tiap posisi ? dan Pada
posisi berapa aliran yang suda fully developed ?
2. Jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi kecepatan pembentukan lapisan
batas pada pipa !

1.3 Tujuan Praktikum


1. Mengidentifikasi sebuah proses pertumbuhan lapisan batas pada pipa

1.4 Teori Dasar


Lapisan batas adalah daerah aliran yang tipis di dekat permukana dimana
aliran diperlambat oleh pengaruh gesekan antara permukaan dengan
aliran.Pengaruh gesekan, dinyatakan oleh tegangan geser ( shear stress ), tersebut
disebabkan adanya velocity gradient yang sangat besar. Sedangkan velocity
gradient muncul akibat adanya kondisi tidak slip dimana kecepan fluida tepat
diatas permukaan adalah nol.
Ketika fluida mengalir dinding diam, tegangan geser ( shear stress ) antara
fluida dan dinging membentuk lapisan batas baik untuk aliran laminar maupun
turbulen dengan karakteristik yang berbeda. Pada percobaan ini, lapisan batas
mengalami transisi menjadi turbulen cukup dekat dengan area masuk pipa.
Pertumbuhan lapisan batas ini dapat ditunjukan melalui pengamatan profil
kecepatan sepanjang pipa.

Gambar 1.1 Profil Kecepatan Aliran Pada Pipa


Jika profil kecepatan beberapa jarak yang berbeda sepanjang pipa
dibandingkan, laju pertumbuhan lapisan batas sepanjang pipa dapat
ditentukan.Lapisan batas yang sepenuhnya sudah terbentuk sampai area tengah
aliran, maka aliran tersebut bisa dikatakan ( fully developed flow).
Kecepatan yang berada dalam pipa dapat ditentukan menggunakan
tabung pitot. Tabung pitot untuk mengukur tekanan dinamik dari udara yang
bergerak pada pipa dan membandingkan dengan tekanan static pada titik yang
sama.
Persamaan Bernoulli yang digunakan untuk tabung pitot yaitu untuk
mendapatkan kecepatan berdasarkan tekanan yang terjadi

2∆𝑝
𝑣=√
𝜌

Rumus 1.1 Persamaan Bernoulli


Dimana :

p = Perbedaan tekanan tabung pitot dengan tekanan pada dinding dengan


menggunakan barometer

 = Massa jenis udara ( kg/m3 )


v = Kecepatan pada pipa (m/s)

Perhitungan perbedaan tekanan dan head,persamaan tekanan


hidrostatik :
𝑝 = 𝜌𝑔ℎ

Rumus 1.2 Tekanan Hidrostatik

Perbedaan tekanan pada dua level yang berbeda pada manometer


tabung 1 dan 2 :

∆𝑝 = 𝜌𝑔∆ℎ

Rumus 1.3 Perbedaan Tekanan Antara Tabung 1 dan 2


Dimana :

 = Massa jenis udara ( kg/m3 )


g = Gravitasi ( m/s2 )
h = Perbedaan ketinggian pada manometer

Jika ketinggian fluida pada manometer vertical adalah x1 dan x2 , maka:

∆𝑝 = 𝜌𝑔(𝑥1 − 𝑥2 )

Rumus 1.4 Ketinggian fluida pada manometer vertical

Tabung manometer dapat dimiringkan untuk meningkatkan sensitivitas


pembacaan. Jika tabung manometer dimiringkan pada susut  terhadap garis
vertical, maka tinggi perbedaan manometer diberikan oleh
∆ℎ = (𝑥1 − 𝑥2 ) cos 𝜃

Rumus 1.5 Perbedaan tinggi bila tabung manometer dimiringkan pada susut 

ATAU
∆𝑝 = 𝜌𝑔(𝑥1 − 𝑥2 ) 𝑐𝑜𝑠𝜃

Rumus 1.6 Perbedaan tinggi bila tabung manometer dimiringkan pada susut 
BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum modul 1 adalah
air flow studies, thermometer, dam manometer.
2.2 Cara Kerja
Langkah pertama, kompressor dinyalakan terlebih dahulu agar
udara dapat masuk kedalam pipa, lalu ada lima buah titik tabung pitot
pada pipa, yang masing masing berada pada 54 mm, 294 mm, 774 mm,
1574 mm, dan 2534 mm diukur dari inlet pipa. Nozzle inlet standar (
besar ) dipastikan terpasang dan pelat orifice dipastika tidak
terpasang.Setelah itu tabung pitot dipasang pada posisi 1 ( paling dekat
dengan inlet pipa ) dan selang disambungkan dari outlet tabung pitot ke
manometer.Lalu selang outlet tekanan dinding disambungkan pada
menometer disebelah tabung manometer sebelumnya.Ujung inlet
tabung pitor diposisikan pada bagian tengan pipa, dan kipas dinyalakan
dengan katup throttle tertutup.Katup throttle dibuka secara perlahan
untuk menghindari tinggi air tidak melebihi batas atas.Pengukuran
dilakukan pada posisi inlet tabung yang berbeda. Skala posisi
ketinggian tabung pitot dicatat.Posisi pitot dinaikan seinggi 5 mm
hingga ketinggian pitot sudah mendekati dinding pipa, dan langkah –
langkah sebelumnya dilakukan kembali. Setelah itu temperature dan
tekanan udara luar direkam.
BAB III

HASIL DAN PENGAMATAN

3.1 Hasil Pengamatan

Dari percobaan yang sudah dilakukan,didapatkan data sebagai berikut :

1. Data Hasil Pengamatan Pada Posisi A

Tabel 3.1 Analisis Data Posisi A

Pembacaan Manometer

Titik Kecepatan
No Titik h (mm) P
Pitot (mm) udara (m)
Pembacaan
(mm)

1 0 92 82 10 11,37516736 76,601504

2 5 92 78 14 13,45927953 107,2421056

3 10 92 80 12 12,46087152 91,9218048

4 15 92 86 6 8,811166748 45,9609024

5 20 94 86 8 10,17425899 61,2812032

6 25 94 84 10 11,37516736 76,601504

7 30 94 80 14 13,45927953 107,2421056

8 35 94 78 16 14,38857505 122,5624064
2. Data Hasil Pengamatan Pada Posisi B

Tabel 3.2 Analisis Data Posisi B

Pembacaan Manometer

Titik Kecepatan
No Titik h (mm) P
Pitot (mm) udara (m)
Pembacaan
(mm)

1 0 126 76 50 25,43564747 383,00752

2 5 126 78 48 24,92174303 367,6872192

3 10 126 78 48 24,92174303 367,6872192

4 15 124 76 48 24,92174303 367,6872192

5 20 124 76 48 24,92174303 367,6872192

6 25 124 76 48 24,92174303 367,6872192

7 30 124 80 44 23,86075235 337,0466176

8 35 124 82 42 23,31215598 321,7263168


3. Data Hasil Pengamatan Pada Posisi C

Tabel 3.3 Analisis Data Posisi C

Pembacaan Manometer

Titik h Kecepatan
No Titik Pitot P
(mm) udara (m)
Pembacaan (mm)
(mm)

1 0 128 76 52 1,010165 0,61226

2 5 138 78 60 1,08509907 0,706464

3 10 139 77 62 1,103035811 0,7300128

4 15 139 79 60 1,08509907 0,706464

5 20 129 80 49 0,9805998 0,5769456

6 25 130 82 48 0,9705421 0,5651712

7 30 129 84 45 0,93972336 0,529848

8 35 129 82 47 0,96037909 0,5533968


4. Data Hasil Pengamatan Pada Posisi D

Tabel 3.4 Analisis Data Posisi D

Pembacaan Manometer

Titik h Kecepatan
No Titik Pitot P (m)
(mm) udara (m)
Pembacaan (mm)
(mm)

1 0 136 78 58 1,0668608 0,6829152

2 5 136 78 58 1,0668608 0,6829152

3 10 138 80 58 1,0668608 0,6829152

4 15 138 80 58 1,0668608 0,6829152

5 20 138 84 54 1,02941536 0,6358176

6 25 136 84 52 1,010165 0,61226

7 30 137 88 49 0,9805998 0,5769456

8 35 137 90 47 0,96037909 0,5533968


5. Data Hasil Pengamatan Pada Posisi E

Tabel 3.5 Analisis Data Posisi E

Pembacaan Manometer

Titik h Kecepatan
No Titik Pitot (mm) udara (m)
Pembacaan (mm)
(mm)

1 0 142 180 38 0,86

2 5 144 200 56 1,05

3 10 146 202 56 1,05

4 15 146 198 52 1,01

5 20 142 200 58 1,07

6 25 142 208 66 1,14

7 30 144 202 58 1,07

8 35 144 202 58 1,07


3.2 Pembahasan Hasil Pengamatan

Setelah mendapatkan data praktikum yang sudah dicatat pada datas


hasil pengamatan maka perubahan tekanan dengan massa jenis udara 1,225
kg/m3 dapat dihitung :

Perhitungan ini dilakukan pada tabel 1.1 analisis data pada posisi A dan
perlakuan pada titik 10.

∆𝑝 = 𝜌𝑔∆ℎ

∆𝑝 = 781,648 𝑘𝑔/𝑚3 ∙ 9,8𝑚/𝑠 2 ∙ 12𝑥10−3 𝑚

∆𝑝 = 91,9218

Setelah mendapatkan beda tekanan ( ∆𝑝 ), maka kecepatan udara dapat dihitung :

2∆𝑝
𝑣=√
𝜌

2 . 91,9218
𝑣=√
1,184

𝑣 = 12,4608 𝑚/𝑠

Dari hasil percobaan didapatkan bahwa aliran yang terbentuk fully


developed pada tabung pitot B hingga E , akan tetapi adanya kesalahan
pembacaanya data yang kurang akurat.Yang mempengaruhi kecepatan
pertumbuhan lapisan batas pada pipa adalah viskositas, perbedaan tingkat titik
pitot, dan permukaan pipa
Setelah kita mendapatkan data dari tabel A hingga E sehingga dapat di
plot boundary layer pada masing-masing titiknya. Berikut adalah grafik dari
titik A hingga E:

POSISI A
40
30
20
10
0
-10 0 2 4 6 8 10 12 14 16

-20
-30
-40

Grafik 3.1 Hubungan Antara Kecepatan dan Ketinggian di Posisi A

POSISI B
40
30
20
10
0
-10 23 23.5 24 24.5 25 25.5 26

-20
-30
-40

Grafik 3.2 Hubungan Antara Kecepatan dan Ketinggian di Posisi B


POSISI C
40
30
20
10
0
-10 23 24 25 26 27 28 29

-20
-30
-40

Grafik 3.3 Hubungan Antara Kecepatan dan Ketinggian di Posisi C

POSISI D
40
30
20
10
0
-10 24.5 25 25.5 26 26.5 27 27.5 28

-20
-30
-40

Grafik 3.4 Hubungan Antara Kecepatan dan Ketinggian di Posisi D


POSISI E
40
30
20
10
0
-10 0 5 10 15 20 25 30 35

-20
-30
-40

Grafik 3.5 Hubungan Antara Kecepatan dan Ketinggian di Posisi E

BAB IV
KESIMPULAN
Dari percobaan kali ini,kita mendapatkan data data pengamatan yang tercantum
pada tabel 1.1 1.2 dan pengelohan data dicantumkan pada 3.2 pembahasan data
pengamatan.Aliran fully developed hanya terbentuk pada posisi tabung pitot B hingga
E dikarenakan adanya kesalahan dalam pembacaan. Seharusnya dalam teori, semakin
dalam masuk ke pipa,profil aliran yang terbentuk adalah fully developed.

REFERENSI
1. Syahputra, Andika (2015). LAPISAN BATAS BOUNDARY LAYER. Diakses dari
https://www.academia.edu/30154056/Lapisan_Batas_Boundary_Layer pada 28
September 2019.
2. Sardjadi, Djoko. Mekanika Fluida. Bandung: Art Pro Bandung 2003.
3. Munson, Bruce. 2005. Fundamental of Fluid Mechanics 4th edition
LAMPIRAN

Gambar 1.2 Air Flow Studies Gambar 1.3 Manometer

Gambar 1.4 Tabung Pitot