Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL PERANCANGAN ARSITEKTUR 4

CONVENTION CENTER DI SEMARANG SELATAN


PENEKANAN DESAIN: GREEN DESIGN

Intan Silvina Aulianda 21020112140094


Mellamie Rahmah 21020112130096
Inez Febianka 20120112130112
Lolita Maharani 21020112130135
Rigie Dwi Agusta 21020112140156
A. Latar Belakang
Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah sering kali menjadi tuan rumah
berbagai acara-acara ataupun kegiatan-kegiatan terkait dalam bidang kebudayaan, kesenian,
pameran, atau pun berbagai kegiatan komunitas lain yang setingkat provinsi. Namun, berbagai
kegiatan tersebut banyak yang terselenggara tidak di tempat yang seharusnya ataupun tidak
memenuhi kapasitas yang diinginkan. Hal ini disebabkan, kota Semarang tidak banyak memiliki
gedung dengan fungsi tunggal untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat konvensi dalam lingkup
Provinsi. Beberapa kegiatan tersebut terkadang malah menggunakan hotel sebagai tempat
pertemuan, dengan kapasitas yang tidak besar.

Semarang mempunyai sekitar 48 tempat atau gedung yang berfungsi sebagai tempat
pertemuan dan pameran, sedang kapasitas terbanyak untuk gedung pertemuan dan pameran
mampu menampung sekitar 5000 tamu, yaitu gedung Marina Convention Centre. Setiap
tahunnya acara seperti pameran, acara rapat atau kampanye partai yang sedang marak di
agendakan pada tahun ini membutuhkan akomodasi dengan kapasitas lebih dari 1000 orang.
Sedangkan pada kenyataannya saat ini kota Semarang hanya mempunyai 2 tempat yang mampu
menampung 2000 orang lebih dalam satu tempat. Sehingga dibutuhkan tambahan Convention
Centre dengan kapasitas lebih dari 2000 orang. (mahendra, 2014)

Pemerintah Kota Semarang sendiri baru-baru ini memiliki salah satu program yang
dijuluki sebagai Semarang Setara, yaitu keinginan untuk menyetarakan Kota Semarang yang
juga merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah dengan kota-kota metropolitan lainnya yang ada
di Indonesia. Salah satu solusi untuk mencapai Semarang Setara ini adalah dengan membangun
sebuah gedung dengan fungsi tunggal sebagai gedung convention hall.

Dalam tata kota Semarang, Wilayah Semarang selatan direncanakan untuk wilayah
dengan prospek pendidikan, dan beberapa tahun terakhir memiliki perkembangan yang terbilang
cepat. Baik berupa perkembangan ekonomi ataupun jumlah penduduk. Banyaknya perguruan
tinggi yang berada di wilayah semarang selatan, seperti UNDIP, POLINES, POLTEKKES,
UNIKA, UNTAG, UNISBANK, PELNI, dll menyebabkan wilayah Semarang Selatan dihuni
banyak mahasiswa-mahasiswa, sehingga kebutuhan akan gedung Convention Hall menjadi lebih
besar. Akan tetapi, Gedung Convention Hall yang memiliki kapasitas 2000 orang di kota
semarang terpusat di wilayah Semarang Utara, seperti new PRPP convention Center dan Marina
Convention Center (MCC).

Bangunan Convention Center dengan Kapasitas ribuan orang tentu saja pada saat
pembangunan, penggunaan dan perawatannya menggunakan energi yang tidak sedikit.
Penggunaan Energi yang begitu besar dapat ditekan dan diminimalisir apabila memiliki
perencanaan yang baik terkait dengan aspek fisika bangunannya. Tujuannya adalah agar gedung
ini setelah dibangun tidak menjadi beban besar bagi lingkungan yang pada masa ini sedang
mengalami krisis yang pelik.

Dari Uraian diatas, di Wilayah Semarang Selatan, dibutuhkan Gedung dengan fungsi
tunggal sebagai Gedung pertemuan atau Convention Center dikarenakan oleh ketidaktersediaan
Gedung dengan fungsi tersebut yang memiliki kapasitas 2000 orang. Oleh Karena itu, solusi
untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan perencanaan dan perancangan tentang
Convention Center yang memiliki penekanan Green Design

B Tujuan dan Sasaran


I. Tujuan

Memperoleh suatu judul PA-4 yang jelas dan layak, dengan suatu keunggulan desain/Penekanan
Desain yang spesifik sesuai konteks judul, karakter bangunan dan citra yang dikehendaki atas
judul yang diajukan tersebut.
II. Sasaran

Tersusunnya usulan langkah-langkah pokok proses (dasar) perencanaan dan perancangan “


Convention Center” melalui aspek-aspek paduan perancangan (design guide lines aspect) dan
alur piker proses penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Peranncangan Arsitektur-4
(LP2PA4) dan Desain Grafis yang akan dikerjakan.

C. Manfaat
Bermanfaat untuk memperoleh wawasan dan pemahaman tentang “Convention Center” untuk
proposal PA-4 yang diajukan, sebagai proses awal dalam praktikum PA-4 sebelum tahap
penyusunan LP2PA-4 dan Studio Grafis.

D. Alur Bahasan
I. Pengertian dan Pemahaman Judul
a. Dasar Pengertian

“Convention atau konvensi” adalah kata benda yang mempunyai arti jamak antara lain dapat
diartikan sebagai “rapat / pertemuan” atau “adat / kebiasaan / hukum tak tertulis” atau
“perjanjian / persetujuan” atau “kaidah / ketentuan”.

Perkembangan dunia usaha kepariwisataan internasional mengartikan konvensi sebagai bentuk


kegiatan yang ada hubungannya dengan kegiatan rapat / pertemuan yang dikelola dalam
pengorganisasian secara profesional dengan melibatkan beberapa unsur-unsur industri pariwisata
(perjalanan, hotel dll)

Negara-negara kawasan kontinental Eropa mengenal kegiatan konvensi sebagai “Meeting


Industries” sedangkan di Amerika Serikat lebih dikenal sebagai “MICE Industries”.
Negara kawasan Asia Pacific mengadopsi istilah MICE sebagai bagian usaha kepariwisataan
dalam mengembangkan industri konvensi karena didasarkan pada pengamatan terhadap praktek
penyelenggaraan kegiatan konvensi dari tahun ke tahun banyak terjadi keterkaitan antar unsur
yaitu Meeting - Incentive Travel - Conference dan Exhibhition.

Untuk menetapkan definisi dan pengertian dasar tentang kovensi dalam dunia pariwisata tidak
semudah yang diperkirakan banyak orang, karena industri konvensi selalu berkembang lebih
kompleks sehingga para ahli dalam mengartikan kegiatan konvensi sangat dipengaruhi dan
dibatasi dengan ruang, gerak dan waktu sudut pengamatannya.

Leonard H. Hoyle, David C. Dorf dan Thomas J.A.dalam bukunya Conventions mengartikan
Convention Industries sebagai berikut :

Industri konvensi merupakan pengembangan dari kegiatan “meeting” dan dikatagorikan sama
dengan industri jasa “hospitality” artinya yang menitik beratkan pada bisnis manusia “a
people business”.

Dengan demikian industri konvensi tidak mungkin dinilai keberhasilannya dengan melihat pada
indikator tertentu tetapi harus dilihat dari keseluruhan siklus operasional dari tahap awal sampai
akhir konvensi.

Richard A. Hildreth dalam bukunya The Essential of Meeting Management mengartikan


konvensi sama dengan meeting profesional yang merupakan media komunikasi intelektual dan
emosional dari dua orang atau lebih yang didesain untuk menjamin keamanan agar tercapai
tujuan untuk kepentingan bersama.

Pengertian diatas lebih menitik beratkan pada aspek komunikasi intelektual dan emosional antar
manusia agar setiap orang yang terlibat didalamnya selalu berperan secara aktif.
Direktorat Jenderal Pariwisata dalam buku Petunjuk Penyelenggaraan Konvensi di Indonesia
1997 - 1998 mengartikan konvensi adalah suatu rangkaian kegiatan berkumpulnya sekelompok
orang / negarawan / usahawan / cendikiawan / kalangan profesional dalam suatu pertemuan di
suatu tempat yang terkondisikan oleh suatu permasalahan dan pembahasan yang berkaitan
dengan kepentingan bersama.

b. Pengertian Dasar MICE

Meeting adalah merupakan suatu pertemuan dari sejumlah orang dengan kepentingan
membahas suatu permasalahan (jumlah peserta relatif kecil).

Incentive Travel adalah suatu kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh suatu
kelompok / pekerja dari suatu organisasi / perusahaan dengan tujuan meningkatkan motivasi
mereka dalam bekerja dan biasanya insentive sebagai bonus yang diberikan oleh perusahaan
kepada karyawannya yang dianggap telah berjasa memajukan perusahaanya.

Conference adalah bentuk kegiataanya hampir sama dengan meeting namun didalamnya
dapat dikembangkan dengan bentuk-bentuk pertemuan yang lebih spesifik (peserta
relatif dalam jumlah besar).

Exhibition adalah suatu rangkaian kegiatan untuk memamerkan/memperagakan demi


kepentingan pihak-pihak peraga pamer dengan maksud memperkenalkan dan
mempromosikan keberadaan produk mereka.

c. Pengertian unsur-unsur dalam MICE

Delegate (Delegasi) adalah peserta resmi atas undangan dan telah teregistrasi dapat
bersifat perorangan atau mengatas namakan perwakilan perusahaan, asosiasi, pemerintah
dari dalam maupun luar negeri yang turut serta secara aktif dalam penyelenggaraan
konvensi.

Co-Delegate (Delegasi Pembantu) adalah peserta urutan kedua dari peserta utama
(delegate) yang memiliki fungsi, tugas, hak dan kewajiban yang sama sebagai peserta
aktif dalam penyelenggaraan konvensi.

Accompaniying Person adalah pendamping peserta yang tidak memiliki hak dan
kewajiban sebagai peserta aktif dan biasanya terdiri para isteri, anak, staf dari peserta
aktif konvensi.

Spouse adalah isteri para peserta aktif yang turut mendampingi dalam kegiatan konvensi.
Observer adalah pengamat resmi yang telah teregistrasi dalam penyelenggaraan konvensi
dan tidak memiliki hak dan kewajiban sebagaimana peserta aktif (biasanya berasal dari
unsur perwakilan negara, asosiasi).

VVIP adalah pejabat penting dari pemerintah, asosiasi yang mempunyai hak previlage /
kehormatan dalam penyelenggaraan konvensi.

Decision Maker adalah pejabat eksekutif yang mempunyai wewenang untuk mengambil
suatu keputusan terhadap penetapan tempat penyelenggaran konvensi.

Professional Convention Organizer (PCO) adalah usaha jasa konvensi, perjalanan


insentif dan pameran yang telah mendapatkan lisensi untuk merencanakan,
mengorganisir suatu kegiatan MICE serta dan memberikan jasa pelayanan bagi para
pelaku dalam kegiatan tersebut.

Steering Committee (SC) adalah Komite / Panitia Pengarah yang terdiri dari sekelompok
orang yang memiliki kredibilitas tertentu yang ditunjuk dan diangkat berdasarkan
keputusan yang mempunyai tugas memberikan pengarahan tentang konsep/pola/bentuk
penyelenggaraan konvensi.

Organizing Committee (OC) adalah Komite / Panitia Penyelenggara yang dibentuk


berdasarkan keputusan yang terdiri dari sekelompok orang yang memiliki kemampuan
sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan dalam rincian kegiatan dengan tugas
merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan kegiatan konvensi.

Host Country adalah negara / daerah yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan
konvensi.

Convention Bureau adalah suatu wadah / asosiasi dari kumpulan para pengusaha
penyedia tempat / venue konvensi di suatu daerah atau negara dan secara resmi dapat
menjadi anggota dari International Convention Bureau.

Supplier Wisata Konvensi adalah suatu badan hukum atau usaha konvensi perorangan
atau sekelompok orang yang menyediakan sarana wisata konvensi maupun jasa berupa
venue, akomodasi, fasilitas dan sarana hiburan, perjalanan, rekreasi dan souvenir.

Sponsor Ship adalah badan hukum, asosiasi, sekelompok orang atau organisasi, anggota
masyarakat afiliasi, perusahaan, badan usaha swasta / pemerintah, instansi pemerintah
atau dermawan perorangan yang memberikan kontribusinya berupa dukungan materiil
budgetair atau non budgetair dalam masalah pendanaan penyelenggaraan konvensi
(biasanya memuat suatu kompensasi imbalan dari penyelenggara).
Official Programme adalah susunan acara kegiatan resmi yang dapat diikuti oleh delegasi
dan co delegasi secara keseluruhan sedangkan pendamping / pengikut / observer hanya
dapat mengikuti sebagian acara dari official programme.

Pre & Post Conference Tour adalah penyelenggaraan perjalanan wisata khusus yang
diperuntukan bagi delegasi konvensi yang diadakan sebelum atau sesudah konvensi.

Social Event adalah acara kegiatan sosial yang diberikan kepada para delegasi konvensi
beserta pendamping berupa pertemuan selamat datang (welcome party), malam kesenian
serta acara khusus bagi para wanita (ladies programme).

Technical Visit adalah acara resmi mengunjungi obyek yang bersifat tehnis yang ada
hubungannya dengan tema pokok penyelenggaraan konvensi.

Bid atau invitasi adalah suatu usaha untuk mengajukan permohonan / penawaran
mengundang calon pemrakarsa konvensi agar menyelenggarakan kegiatan konvensinya
di negara / tempat pengundang.

Bid Document adalah dokumen yang berisi permohonan resmi untuk pengajuan suatu
penyelenggaraan konvensi yang disusun secara lengkap.

Exhibitor adalah sekelompok orang yang memamerkan hasil karyanya baik berupa
produk maupun jasa kepada para delegasi konvensi dengan tujuan komersiil.

Professional Exhibition Organizer (PEO) adalah badan usaha yang bertugas


merencanakan, mempersiapkan dan melaksanakan penyelenggaraan suatu pameran
secara profesional.

Both Contractor adalah badan usaha yang menyediakan, menyewakan dan menata
peralatan stand pameran dari partisi-partisi berikut dengan tata lampu, meja kursi, serta
perlengkapan lain yang dibutuhkan dalam suatu pameran secara profesional.

II. Alur Pikir


Latar Belakang
Aktualita
Kota Semarang sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah memiliki banyak kegiatan
yang terselenggara setinggkat privinsi, namun tidak diimbangi dengan ketersediaan
gedung Convention Center yang memadai
Minimnya ketersediaan gedung pertemuan yang dapat menampung 2000 orang di
kota Semarang
Semarang Setara sebagai salah satu Program Pemda Kota Semarang bertujuan untuk
menyetarakan kota Semarang dengan kota kota metropolitan di Indonesia
Pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang terjadi di wilayah semarang selatan
menimbulkan kebutuhan baru terkait dengan gedung Convention Hall.

Urgensi
Dibutuhkan Gedung dengan fungsi tunggal sebagai Gedung pertemuan atau
Convention Center dikarenakan oleh ketidaktersediaan Gedung dengan fungsi
tersebut yang memiliki kapasitas 2000 orang di Wilayah Semarang Selatan
Originalitas
Perencanaan dan Perancangan Gedung Convention Center di Wilayah Semarang
Selatan ini berfungsi sebagai gedung pertemuan yang mewadahi berbagai acara
ataupun kegiatan dalam bidang kebudayaan, kesenian, pameran, atau pun berbagai
kegiatan komunitas lain. Sasaran utama bagunan ini adalah kegiatan-kegiatan yang
berasal dari Universitas ataupun mahasiswa yang banyak mendiami wilayah
Semarang Selatan.

Rumusan Masalah

Bagaimana merencanakan dan merancang sebuah Gedung Convention Center


dengan daya tampung besar yang dapat mengakomodir berbagai kegiatan-kegiatan yang
berasal dari universitas ataupun mahasiswa di wilayah semarang selatan

Judul PA-4
“Convention Center di Semarang Selatan”

III. Pokok-Pokok Materi


IV. Data
IV.I Data Fisik
a. Keadaan Geografis

Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah, secara geografis terletak di Pantai
Utara Jawa Tengah, tepatnya pada garis 60 5’ – 70 10’ LS dan 1090 5’ – 110 35’ BT.

Semarang memiliki luas wilayah 373,67 km2 dan terbagi menjadi 16 kecamatan dan
177 kelurahan. Batas wilayah kota Semarang ialah :
Barat : Kabupaten Kendal
Timur : Kabupaten Demak
Utara : Laut Jawa
Selatan : Kabupaten Semarang (Kota Ungaran)

Gambar 1.1. Peta Kota Semarang

Sumber :
http://dppad.jatengprov.go.id/
b. Keadaan Topografi

Secara topografis, Kota Semarang memiliki 2 wilayah yakni Semarang Bawah dan
Semarang Atas. Elevasi di Kota Semarang mempunyai ketinggian kurang lebih 0,75m – 350m
diatas permukaan laut. Bagian utara merupakan daerah pantai dan dataran rendah dengan
kemiringan 0% – 2% , sedangkan bagian selatan merupakan daratan tinggi dengan kemiringan
2% – 4% dan bahkan di beberapa tempat mempunyai kemiringan yang curam atau hampir
sekitar 40%.
Tabel 2.1 Topogra Kota Semarang

N Kemiring Luas Prosentase


O an Lahan (%) Wilayah (Ha) Luas Wilayah
1 0–2 15.810,7 42.31%
6
2 2–15 13.379,7 35.80%
6
3 15–25 6.080,18 16.27%

4 25–40 1.138,80 3.05%

5 >40 960,50 2.57%

Jumlah 37.316 100%


Sumber : RDTRK Kota

c. Keadaan Klimatologis

Semarang layaknya daerah – daerah lain di Indonesia, yakni hanya mempunyai 2 iklim
karena letaknya yang berada di area khatulistiwa. Berikut tabel klimatologis Kota Semarang:

Tabel 2.2 Keadaan Klimatologis Semarang

Uraian Satuan Angka


Suhu Udara OC 32
Kecepatan Angin Knot 4.9
Curah Hujan Mm 902
Kelembapan % 72
Sumber : Stasiun Klimatologi Semarang

d. Tata Guna Lahan


Berdasarkan RTRW Kota Semarang tahun 2000-2010 struktur dan pola tata ruang
maupun pola pengembangan yang direncanakan, Kota Semarang dibagi dalam lima Wilayah
Pengembangan (WP) dan sepuluh Bagian Wilayah Kota (BWK), yaitu :

1 WPI :BWKI : Semarang Tengah, Semarang Timur, Semarang Selatan


BWK II : Gajahmungkur, Candisari
BWK III : Semarang Barat, Semarang Utara
2. WP II : BWK IV : Genuk
BWK V : Gayamsari, Pedurungan
3. WP III : BWK VI : Tembalang
BWK VII : Banyumanik
4. WP IV : BWK VIII : Gunung Pati
BWK IX : Mijen
5.WPV :BWKX : Ngalian, Tugu

Gambar 4.1. Tata Guna Lahan Kota Semarang Tahun 2000-2010

Sumber : Stasiun Klimatologi Semarang

Tabel 2.3 Tabel Fungsi Tata Guna Lahan


BWK Fungsi Tata Guna Lahan

1 Meliputi Semarang Timur, Semarang Selatan, dan Semarang Tengah.


Diperuntukkan sebagai wilayah permukiman dan perdagangan barang/ jasa.
2 Meliputi kecamatan Gajahmungkur dan Candisari. Daerah ini
diperuntukkan untuk wilayah permukiman.
3 Meliputi kecamatan Semarang Barat dan Semarang Utara. Pada rencananya
daerah ini diperuntukkan untuk wilayah permukiman dan industri
4 Meliputi kecamatan Genuk. Merupakan daerah permukiman dan industri
5 Meliputi kecamatan Gayamsari dan Pedurungan. Merupakan
daerah permukiman.
6 Meliputi kecamatan Tembalang. Daerah ini diperuntukkan sebagai
wilayah permukiman dan perdagangan.
7 Meliputi wilayah Banyumanik. Wilayah ini mempunyai tata guna
lahan sebagai lahan permukiman.
8 Mencangkup kecamatan Gunungpati. Daerah ini diperuntukkan
sebagai wilayah permukiman, pertanian, dan konservasi.
9 Mencangkup wilayah Mijen. Daerah ini mempunyai tata guna
sebagai permukiman, konservasi, dan pertanian, serta hutan lindung.
10 Meliputi wilayah Ngaliyan dan Tugu. Wilayah ini diperuntukkan
sebagai wilayah permukiman, industri, tambak, hutan, dan pertanian
VI.II Data Non Fisik Sumber : RDTRK Kota Semarang

a. Semboyan dan Julukan

Semarang memiliki slogan “Setara”, yang artinya setara dengan kota-kota lainnya. Kota
Semarang mempunyai julukan sebagai Venetië van Java(Semarang dilalui banyak sungai di
tengah kota seperti di Venesia(italia), sehingga Belanda menyebutnya seperti itu. Semarang juga
mempuyai julukan Kota Lumpia ( Lumpia adalah makanan khas Semarang yang terbuat dari
akulturasi 2 budaya yaitu budaya jawa dan China). Kota Atlas, Semarang memiliki semboyan
kota ATLAS sebagai slogan pemeliharaan kota yang berupa akronim dari Aman, tertib, Lancar ,
Asri, dan Sehat.
b.Perekonomian dan perdagangan

Seiring dengan perkembangan Kota, Kota Semarang berkembang menjadi Kota yang
memfokuskan pada Perdagangan dan Jasa. Berdasarkan lokasinya, kawasan perdagangan dan
jasa di Kota Semarang terletak menyebar dan pada umumnya berada di sepanjang jalan-
jalan utama. Kawasan perdagangan modern, terutama terdapat di Kawasan Simpanglima yang
merupakan urat nadi perekonomian Kota Semarang. Di kawasan tersebut terdapat setidaknya tiga
pusat perbelanjaan, yaitu Matahari, Living Plaza (ex-Ramayana) dan Mall Ciputra, serta PKL-PKL
yang berada disepanjang trotoar. Selain itu, kawasan perdagangan jasa juga terdapat di sepanjang Jl
Pandanaran dengan adanya kawasan pusat oleh-oleh khas Semarang dan pertokoan lainnya serta di
sepanjang Jl Gajahmada. Kawasan perdagangan jasa juga dapat dijumpai di Jl Pemuda dengan
adanya DP mall, Paragon City dan Sri Ratu serta kawasan perkantoran. Kawasan perdagangan
terdapat di sepanjang Jl. MT Haryono dengan adanya Java Supermall, Sri Ratu, Ruko dan Pertokoan.
Adapun kawasan jasa dan perkantoran juga dapat dijumpai di sepanjang Jl
Pahlawan dengan adanya kantor - kantor dan bank-bank. Belum lagi adanya Pasar-pasar
tradisional seperti Pasar Johar di kawasan Kota Lama juga semakin menambah aktifitas
perdagangan di kota semarang.
c.Budaya

Kota Semarang merupakan salah satu kota di jawa tengah dengan rata-rata penduduknya berasal
dari suku jawa. Sehingga kebudayaan sangat dipengaruhi oleh kebudayaan jawa. Termasuk
dalam berbahasa, orang semarang rata-rata menggunakan bahasa jawa. Salah satu tradisi yang
masih kental di semarang yaitu perayaan tradisi Dugderan. Dari tradisi tersebut kita dapat
melihat percampuran seluruh budaya yang ada di kota semarang. Perpaduan budaya tersebut
dapat dilihat pada “ warak endog”, adalah boneka binatang raksaksa yang merupakan mitologi
yang digambarkan sebagai symbol akulturasi budaya di semarang. Kata warak berasal dari
bahasa arab “wara’I” yang artinya suci. Sedangkan edog (telur) merupakan symbol pahala yang
diterima manusia setelah menjalaniproses suci.
d.Kawasan Objek Wisata
Wisata di Semarang bisa dibagi dalam beberapa kategori, yaitu :

1.Wisata alam yang terdiri dari Pulau Tirangcawang, Pantai Tirang,Pantai Marina, Pantai Maron,
Goa Kreo, Taman Lele Semarang.

2.Wisata Sejarah yang terdiri dari Museum MURI, Museum Nyonya Meneer, Museum Jawa
Tengah, Museum Mandala Bhakti, LawangSewu, Tugu Muda, Candi Tugu.

3.Wisata Religi yang terdiri dari Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Baiturrahman Semarang,
Masjid Kauman semarang, Klenteng SamPoKong, Gereja Blenduk, Gereja Katedral Semarang,
Pagoda Buddhagaya.
4.Wisata keluarga terdiri dari Wonderia, Marerokoco, Bonbin Tinjomoyo.

5.Wisata Belanja yang terdiri dari pasar Johar, Citraland Mall, JavaMall, Paragon Mall, Sri Ratu,
DP Mall.
VI.III Keadaan Ekonomi dan Kepariwisataan

Semarang dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan pada pertumbuhan


ekonomi, tercatat pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi semarang mencapai 6%. Hal ini salah
satunya disebabkan karena berkembangnya wisatawan yang masuk ke Semarang sekitar rata –
rata 15% tiap tahunnya. Hal ini tentunya mendatangkan para investor – investor yang
menanamkan uang nya di bank – bank semarang atau venue – venue di Semarang yang
sekiranya menguntungkan seperti Convention Centre dan Exhibition Centre.

Tabel 2.4 Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang


Uraian 2010 2011 2012

PDRB ADHK (2000=100) 21.365,8 22.736,1 24.196,5


(Miliar RP)
PDRB ADHB (Miliar Rp) 43.398,2 48.461,4 54.384,7
PDRB/Kapita ADHK 13.731,4 14.591,7 15.518,8
(Ribu Rp)
PDRB/Kapita ADHb (Ribu 27.891,2 31.101,9 34.880,6
Rp)
Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,87 6,41 6,42
Sumber : PDRB Kota Semarang

Tabel 2.5 Tingkat Wisatawan Kota Semarang


No Tahun Capaian Wisatawan
Tiap Tahun
1 2010 1.633.042
2 2011 1.731.025
3 2012 1.834.886
4 2013 1.944.979
Sumber : RPJMD Kota Semarang, 2014

Berikut data event konvensi dan pameran yang dilakukan di Semarang dari tahun 2007 sampai
2013 :
Tahun Jumlah Kegiatan Jumlah Peserta Jumlah Peserta
2007 880 548.521 548.521
2008 900 577.632 577.632
2009 924 606.743 606.743
2010 945 635.854 635.854
2011 966 664.965 664.965
2012 996 694.076 694.076
2013 1017 723.187 723.187
Tabel 2.7 Data jumlah rata – rata peserta event di Semarang
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2014
No Jenis Pertemuan Jumlah Peserta
1 Konferensi 100 – 1000 orang
2 Forum 50 – 300 orang
3 Rapat 20 – 350 orang
4 Seminar 100 – 500 orang
5 Panel 20 – 150 orang
6 Workshop 30 – 200 orang
7 Upacara 250 – 2000 orang
8 pertunjukan 195 – 5000 orang
9 Pameran 100 – 1000 orang
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2014
Tabel 2.8 Data kapasitas ruang gedung Convensi dan Eksibisi di Semarang
NO NAMA GEDUNG ALAMAT KAPASITAS
DI SEMARANG MUAT
Auditorium RRI Jl. A Yani 700
1.

GOR Jatidiri Jl. Karangrejo 1500


2.

GOR Patriot Jl. Hassanudin 1200


3.

Manunggal Jati Jl. Taman 700


4. Majapahit

Balai Poncowati dan Jl. 3000


5. Ramashinta (Patrajasa Hotel) Sisingamangaraja

4 Anjungan PRPP Jl Tawangsari 4000


6.

Rimba Graha Jl. Pahlawan 1200


7.

Santika Hotel Jl. A Yani 1000


8.

Tmn Budaya Raden Saleh Jl. Sriwijaya No 29 700


9.

Gedung Wanita Jl. Sriwijaya 800


10.

Krakatau Horizon Plaza Simpanglima 3500


11. Lt VII

Hotel Novotel Jl. Pemuda 400


12.

BPLT Jl. Pondok 500


13. Indraprasta

Grand Ballroom (Gumaya) Jl. Gajah Mada 3500


14.

Grand ballroom (crowne Jl. Pemuda 5000


15. plaza)

Marina Exhibition Centre JL. Marina Raya 5000


16.

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2014

V. Aspek-Aspek Panduan Perencanaan dan Perancangan


VI Uraian Penyusunan Aspek-aspek Perncanaan dan Perancangan
VI.I Dasar-Dasar Penyusunan Program Ruang dan Kebutuhan Luas Tapak
a. Fasilitas Administrasi
Fasilitas ini berfungsi sebagai ruang kerja pengelola dan pusat informasi pengunjung,
terdiri dari :
1. Grand lobby ; yang berfungsi sebagai pusat informasi, juga dapat dipergunakan untuk
pameran temporer.
2. Kantor pengelola yang bersifat open layout dengan penggunaan dinding sekat sebagai
pemisah ruang kerja dan dilengkapi dengan lobby sebagai ruang istirahat karyawan, juga
sebagai ruang enerima tamu.
3. Ruang rapat.
4. Toilet dan pantry.

b. Fasilitas Pameran dan Pertemuan


Fasilitas ini berfungsi sebagai ruang serba guna yaitu untuk pertemuan, pameran, resepsi
pernikahan, dan pertunjukan. Ruangan dapat dibagi-bagi menjadi ruang-ruang lebih kecil untuk
meningkatkan fleksibilitas. Material langit-langit dan dinding berdaya serap suara yang baik
untuk menunjang akustik ruang. Ruang pertemuan memiliki dinding sekat yang bersifat fleksibel
yang dapat disesuaikan dengan jenis dan kapasitas pertemuan yang diadakan. Ruang ini
memiliki perlengkapan standar seperti meja, kursi, infokus, layar, papan tulis dan lain-lain yang
disusun sesuai dengan kebutuhan. Fasilitas ini memerlukan ruang pendukung berupa : -Ruang
penyelenggara acara / panitia
-Pantry persiapan untuk mempersiapkan makanan
-Gudang yang berfungsi untuk menyimpan meja, kursi, peralatan hall seperti lampu, signage,
display item, audiovisual aid equipment, extra stand, dan lain-lain.
-Ruang kontrol untuk mengontrol pencahayaan dan tata suara
ruang -Ruang untuk menyimpan partisi
-Panggung dan Ruang Persiapan (Green Area)
-Ruang penyimpanan peralatan panggung
-Ruang tunggu VIP
-Ruang Pers
c. Fasilitas Komersial
Fasilitas ini disediakan untuk menjaga agar aktifitas dalam bangunan tetap berlangsung karena
fasilitas pameran dan pertemuan hanya digunakan pada waktu – waktu tertentu saja. Fasilitas ini
direncanakan tidak hanya melayani kebutuhan intern bangunan saja tapi terbuka untuk umum.
Fasilitas ini terdiri dari retail-retail jasa pelayanan, cafe dan bar.

d. Plaza
Plaza merupakan ruang terbuka sebagai ruang transisi dari jalan raya menuju
bangunan utama. Fasilitas ini yang dapat dipergunakan sebagai tempat diselenggarakannya
pertemuan atau pameran dengan konsep outdoor dengan tetap memperhatikan kenyamanan
pengunjung. Jenis pertemuan yang dapat diselenggarakan di tempat ini adalah pertemuan yang
memiliki karakteristik informal, tidak bermasalah dengan pencahayaan dan penghawaan alami
serta tidak membutuhkan ruang kedap suara. Penyelenggaran pertemuan hanya dengan
penggunaan panggung dan pengaturan letak kursi. Jenis pameran yang diselenggarakan secara
outdoor
adalah pameran yang tidak memiliki masalah dengan pengaruh udara luar, misalnya pameran
produk yang tahan dengan cuaca panas, angin, debu dan lain-lain.

e. Fasilitas Servis
Fasilitas servis berfungsi sebagai pendukung bangunan utama dan menjadi sangat penting pada
saat sebuah kegiatan akan diselenggarakan, yaitu pada waktu persiapan, waktu penyelenggaraan,
dan waktu penutupan. Pada saat akan diselenggarakan sebuah kegiatan, fasilitas ini sangat
mungkin akan dipergunakan selama 24 jam. Ruang-ruang yang termasuk kedalam fasilitas servis
antara lain area loading dock, dapur dan ruang-ruang utilitas pada setiap lantai.

VI.II Dasar-Dasar Penentuan Struktur/ Konstruksi bangunan terkait dengan


Aspek teknis
a. Definisi Struktur Bentang Lebar

Bangunan Convention Hall merupakan bangunan yang bisa disebut juga bangunan
monumental, dan biasanya pembangunan Convention Hall menggunakan sistem struktur bentang
lebar. Bangunan bentang lebar merupakan bangunan yang memungkinkan penggunaan ruang bebas
kolom yang selebar dan sepanjang mungkin. Bangunan bentang lebar biasanya digolongkan secara
umum menjadi 2 yaitu bentang lebar sederhana dan bentang lebar kompleks. Bentang lebar sederhana
berarti bahwa konstruksi bentang lebar yang ada dipergunakan langsung pada bangunan berdasarkan
teori dasar dan tidak dilakukan modifikasi pada bentuk yang ada. Sedangkan bentang lebar kompleks
merupakan bentuk struktur bentang lebar yang melakukan modifikasi dari bentuk dasar, bahkan
kadang dilakukan penggabungan terhadap beberapa sistem struktur bentang lebar.

b. Macam-Macam Sistem Struktur Bentang Lebar


1. SPACE FRAME

Dari sekian banyak sistem struktur, Rangka Ruang (space frame) merupakan salah satu
sistem yang sering diterapkan pada bangunan bentang lebar. Space frame terdiri dari susunan
tiga dimensi dari batang-batang lurus. Batang-batang space frame bisa kaku jika dihubungkan
dengan sendi, atau dapat pula berupa gabungan antara keduanya. Dalam suatu sistem sambungan
sendi, beban yang terjadi kesambungan dari berbagai arah akan dilawan secara aksial. Lentur
dihasilkan oleh efek scunder. Space frame adalah struktur paling kaku yang menggunakan bahan
paling sedikit karena batang-batang bereaksi langsung terhadap beban.

Space frame terutama digunakan sebagai sistem bentang panjang untuk rangka atap di
mana diperlukan ruang bebas antar kolom yang besar (gelanggang renang, pabrik, bangsal
pertemuan, dll). Space frame juga sering digunakan untuk menara transmisi listrik dan kubah
geodesi dengan perakitan ganda. Space frame dapat berfungsi pada bangunan tinggi, ia bisa
menggantikan batang/komponen standar konevensional seperti dinding, balok dan lantai.

Vehicle Assembly Building di Cape Kennedy, Florida, yang dirancang oleh Arsitek Max
O. Urban (Wolgang Schueller: Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi), menggunakan jenis
konstruksi space frame untuk pertama sekalinya pada bangunan ini. Bangunan Vechile Assembly
Building ini merupakan terbesar di dunia dalam volume yang dilingkup olehnya: tinggi setara
dengan pencakar langit 50 lantai, dan demikian besar sehingga kadang-kadang awan
mengembun di dalamnya dan hujan turun. Bangunan ini terdiri dari tiga menara yang merupakan
kantilever vertikal yang melawan gaya-gaya lateral. Susunan dalam denah (tampak atasnya)
seperti huruf “E” yang saling membelakangi.

2. STRUKTUR KABEL

Definisi dari struktur kabel adalah struktur yang mengalami gaya tarik akibat
pembebanan baik dari dalam maupun dari luar. Prinsip kerjanya menarik beban (mengalami
gaya tarik). Struktur kabel yang mengalami beban eksternal akan mengalami deformasi yang
bergantung pada besar dan lokasi beban eksternal. Bentuk yang didapat khusus untuk beban itu
adalah bentuk funicular. Hanya gaya tarik yang timbul pada kabel. Dengan membalik bentuk
struktur yang diperoleh tersebut, kita akan mendapatkan struktur baru yang benar-benar analog
dengan struktur kabel, hanya sekarang yang dialami adalah gaya tekan.

Secara teoritis, bentuk yang terakhir ini dapat diperoleh dengan menumpuk elemen-
elemen yang dihubungkan secara tidak kaku (rantai tekan) dan struktur yang diperoleh akan
stabil. Akan tetapi sedikit variasi pada beban akan berarti bahwa strukturnya tidak lagi
merupakan bentuk funicular, sehingga akan timbul momen lentur dan gaya geser akibat beban
yang baru tersebut.
3. STRUKTUR RANGKA

Sistem struktur rangka adalah sistem struktur yang terdiri dari batang-batang yang
panjangnya jauh lebih besar dibandingkan dengan ukuran penampangnya. Bentuk kontruksi
rangka adalah perwujudan dari pertentangan antara gaya tarik bumi dan kekokohan dan
kontruksi rangka yang modern adalah hasil penggunaan baja dan beton secara rasional dlm
bangunan.

Kerangka ini terdiri atas komposisi dari kolom-kolom dan balok-balok. Unsur vertikal,
berfungsi sebagai penyalur beban dan gaya menuju tanah, sedangkan balok adalah unsur
horizontal yg berfungsi sebagai pemegang dan media pembagian lentur. Kemudian kebutuhan-
kebutuhan terhadap lantai, dinding dan sebagainya untuk melengkapi kebutuhan bangunan untuk
hidup manusia, dapat diletakkan dan ditempelkan pada kedua elemen rangka bangunan tsb
diatas.

Jadi dapat dinyatakan disini bahwa rangka ini berfungsi sebagai struktur bangunan dan
dinding-dinding atau elemen lainnya yg menempel padanya merupakan elemen yg tidak
struktural. Bahan- bahan yg dapat dipakai pada struktur ini adalah kayu, baja, beton atau lain-
lain bahan yg tahan terhadap gaya tarik, tekan, punter, dan lentur. Umtuk masa kini banyak
digunakan baja dan beton yg mampu menahan gaya-gaya tsb dalam skala besar.

4. STRUKTUR CANGKANG

Struktur Cangkang adalah bentuk struktural tiga dimensional yang kaku dan tipis yang
mempunyai permukaan lengkung. Permukaan cangkang dapat mempunyai sembarang bentuk.
Bentuk yang paling umum adalah permukaan yang berasal dari kurva yang diputar terhadap satu
sumbu (misalnya, permukaan bola, elips, kerucut, dan parabola). Bentuk cangkang tidak selalu
harus memenuhi persamaan matematis sederhana. Segala bentuk cangkang mungkin saja
digunakan untuk suatu struktur. Bagaimapun, tinjauan konstruksional mungkin akan membatasi
hal ini.

Beban-beban yang bekerja pada permukaan cangkang diteruskan ketanah dengan


menimbulkan tegangan geser, tarik dan tekan pada arah dalam bidang permukaan tersebut.
Tipisnya permukaan cangkang menyebabkan tidak adanya tahanan momen yang berarti, struktur
cangkang tipis cocoknya digunakan untuk memikul beban terbagi merata pada atap gedung.
Struktur ini tidak cocok untuk memikul beban terpusat.

VI.III Dasar-Dasar Penantuan Utilitas /MEE bangunan terkait dengan Aspek


Kinerja

a) SISTEM PENGHAWAAN
1 Penghawaan Alami
Penghawaan alami terdapat di ruang-ruang servis. Misalnya Ruang Panel,
janitor yang tidak terlalu mengutamakan kenyamanan dalam aktivitasnya.
2 Penghawaan Buatan
Karena objek merupakan bangunan yang sengat mengutamakan kenyamanan
pengunjung, maka hampir semua ruang di dalam bangunan menggunakan penghwaan
buatan. Sistem AC yang dipilih berdasarkan pembagian fungsi dan waktu penggunaan.
Sistem penghawaan yang digunakan yaitu AC central menggunakan sistem water
cooled chiller dengan componen-componen meliputi :
-Chiller -AHU
-Cooling
tower
-Pompa sirkulasi
-ducting

b) SISTEM ELEKTRIKAL

Sumber listrik pada Convention Hall ini menggunakan dua, yaitu PLN dan genset.
Dimana secara otomatis menyala apabila aliran listrik padam. Genset berpotensi bising dan
getaran, karena itu ruang genset diletakkan pada sisi luar bangunan.

c) SISTEM AIR BERSIH

Sistem pendistribusian dengan sistem vertikal. Supply air bersih berasal dari PDAM
yang ditampung di tangki air (groud reservoir) yang terbuat dari beton untuk selanjutnya di
pompa ke tangki atas bangunan lalu didistribusikan menuju bangunan. Kebutuhan air bersih
ini di bagi atas keperluan dapur, KM/WC, pemadam kebakaran. Begitu pula dengan sistem air
kotor, dimana dalam convention ini menggunakan sistem wastewater treatment plan.

d) SISTEM PENCAHAYAAN

Pilihan pencahayaan sangat penting dalam menciptakan atmosfer yang berbeda-beda


untuk menyesuaikan dengan fungsi dan kesan ruang yang ingin ditampilkan. Pada
pencahayaan harus pada level yang lebih tinggi dan lebih menyebar. Semua ruang memliki
bukaan ke arah luar agar sinar matahari dapat masuk sehingga bisa menghemat biaya,
mengigat penekanan design yang digunakan adalah green design.

Pencahayaan buatan berupa general lighting yang mampu menerangi keseluruhan


ruangan dengan baik. Local lighting disediakan untuk fasilitas-fasilitas yang memerlukan
penerangan khusus atau menghadirkan suasana tertentu, seperti galeri/exhibition yang sedang
berlangsung di Convention Hall.

e) SISTEM KEBAKARAN

Sistem kebakaran pada Convention Hall

menggunakan: 1 Hydrant
2 Smoke Detector

3 Fire Extinguisher

4 Sprinkler

f) SISTEM TELEKOMUNIKASI

Sistem telekomunikasi Untuk kebutuhan komunikasi baik internal maupun eksternal


digunakan 2 sistem yaitu :

1 Sistem komunikasi eksternal, dengan sistem Private Automatic Branch Exchange (PABX),
untuk komunikasi antar ruang/bangunan untuk fasilitas koneksi dengan pihak luar.

2 Sistem komunkasi internal, dengan media interkom yang menghubungkan antar


ruang/bangunan tanpa bisa melakukan koneksi dengan pihak luar.

VI.IV Dasar-Dasar Penentuan Keunggulan Desain yang ingin ditampilkan terkait


dengan Aspek Kontekstual dan Arsitektural

E. Ruang Lingkup
I. Ruang Lingkup Substansial

Gedung Convention Center ini merupakan suatu perencanaan dan perancangan bangunan
bermassa. Lingkup pembahasan dibatasi pada masalah-masalah yang berkaitan dengan disiplin
ilmu arsitektur. Hal-hal di luar arsitektur akan dibahas seperlunya sepanjang masih mendukung
permasalahan utama, serta dengan menambahkan fungsi pendukung sebagai daya tarik
tambahan.
II. Ruang Lingkup Spasial

Secara administratif daerah perencanaan Convention Center terletak di Kota Semarang. Kota
Semarang memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut :
Utara : Laut Jawa
Selatan : Kabupaten Semarang
Timur : Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan
Barat : Kabupaten Kendal
F. Penutup
Jika Judul ini dianggap layak dan dapat dilanjutkan untuk Program Perencanaan dan
Perancangan Arsitektur-4: Sampai sejauh mana persiapan yang telah dicapai/ lakukan
prediksi atas kemungkinan kendala yang akan dihadapi dalam penyusunan selanjutnya
(terutama di lapangan)

G. Lampiran
7.1 Daftar Pustaka
7.2 Hasil Observasi Pendahuluan
7.3 Sketsa-Sketsa yang Berkaitan dengan Penekanan Desain
LAMPIRAN
Penekanan Desain
Penekanan desain yang kami usulkan untuk desain Convention Center kami adalah
konsep “Green Architecture”. Berikut ini beberapa teori mengenai konsep Green
Architecture

Definisi Green Architecture


Arsitektur Hijau (Green Architecture)
Arsitektur yang berwawasan lingkungan dan berlandaskan kepedulian tentang
konservasi lingkungan global alami dengan penekanan pada efisiensi energi
(energy-efficient), pola berkelanjutan (sustainable) dan pendekatan holistik
(holistic approach).
(Jimmy Priatman, ”ENERGY-EFFICIENT ARCHITECTURE” PARADIGMA
DAN MANIFESTASI ARSITEKTUR HIJAU, dalam Laporan Tugas Akhir Asrial
D.,2010 )

Arsitektur Hijau (Green Architecture)


Sebuah proses perancangan dengan mengurangi dampak lingkungan yang kurang
baik, meningkatkan kenyamanan manusia dengan efisiensi dan pengurangan
penggunaan sumber daya energi, pemakaian lahan dan pengelolaan sampah efektif
dalam tatanan arsitektur (Futurarch 2008, “Paradigma Arsitektur Hijau”, green
lebih dari sekedar hijau, dalam Laporan Tugas Akhir Asrial D.,2010)

Prinsip-Prinsip Green Architecture


(Sumber : http://yudha-arch.blogspot.com/2009/09/green-architecture_30.html)
Merupakan data-data yang dikumpulkan mengenai prinsip dasar Green
Architecture. Menurut Brenda dan robert vale dalam bukunya “Green
Architecture : Design for A Sustainable Future” (dalam ) ada 6 prinsip dasar dalam
perencanaan Green Architecture (dalam ), antara lain :
1 Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan
bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi alam
sekitar lokasi bangunan ).
2 Working with climate : Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku
di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.
3 Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan
sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat
digunakan di masa mendatang.
4 Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak
kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak
aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).
5 Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua
pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.
6 Holism : Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai
kebutuhan bangunan kita.
Studi Banding Tema
Berikut ini beberapa contoh bangunan convention yang menerapkan konsep
green sebagai penekanan desainnya:
1 Vancouver Convention Centre (Canada)
(Sumber: http://www.vancouverconventioncentre.com/)
Gambar 3.9 Potongan Bangunan Vancouver Convention Center
(Sumber: Google.com)
Convention center yang dibangun pada tahun 2009 ini dikenal dunia karena konsep
green architecturenya. Terlihat dari penggunaan selubung kaca untuk
memaksimalkan potensi cahaya alami, atap green roof untuk mendinginkan suhu
didalamnya sekaligus sebagai bentuk kepedulian mereka untuk mengganti betapa
luasnya lahan hijau yang mereka ambil untuk membangun bangunan ini. Dari skema
potongan kita juga dapat melihat bagaimana arsitek mencoba memanfaatkan cahaya
alami sebagai sumber pencahayaan pada ruang utama konvensi, padahal biasanya
ruang utama konvensi dibuat tertutup sehingga sepenuhnya harus menggunakan
sumber pencahayaan buatan.

Gambar 3.10 Perspektif eksterior Vancouver Convention Center


(Sumber: Google.com)

Gambar 3.10 Green Roof yang digunakan pada Vancouver Convention


Center (Sumber: Google.com)

2 Auditorium and Convention Centre of Aragon Expo (Aragon)


Convention center ini memiliki bentuk yang sangat unik, bentuk-bentuk tersebut ada
tidak hanya sekedar memperhatikan aspek estetika saja, namun ada dasar yang kuat
mengapa bentuk-bentuk tersebut bisa muncul. Dari gambar potongan dapat kita lihat,
jika arsitek membuat bentuk-bentuk tersebut agar cahaya matahari dapat masuk
dengan mudah kedalam bangunan, meskipun area bangunan tersebut berada di
tengah. Terang langit dapat diambil secara optimal, dan tidak menyilaukan karena
pembayangan bidang-bidang miring pada atap.

Gambar 3.9 Potongan Bangunan Auditorium and Convention Centre of


Aragon Expo (Sumber: Google.com)

Gambar 3.10 Perspektif interior Auditorium and Convention Centre of


Aragon Expo (Sumber: Google.com)
Gambar 3.10 Perspektif eksterior Auditorium and Convention Centre of
Aragon Expo (Sumber: Google.com)

H. Kriteria Penilaian
Langkah-langkah dalam penyusunan ini sekaligus sebagai kriteria penilaian kelayakan
usulan judul yang diajukan.