Anda di halaman 1dari 34

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT sebab karena limpahan
rahmat serta anugerah dari-Nya kami mampu untuk menyelesaikan makalah ini
dengan judul “Elektrokardiografi” ini.

Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi
agung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan
Allah SWT untuk kita semua, yang merupakan sebuah pentunjuk yang paling benar
yakni Syariah agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya karunia
paling besar bagi seluruh alam semesta.

Selanjutnya dengan rendah hati kami meminta kritik dan saran dari pembaca
untuk makalah ini. Karena kami sangat menyadari, bahwa makalah yang telah kami
buat ini masih memiliki banyak kekurangan.

Kami ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada setiap pihak


yang telah mendukung serta membantu kami selama proses penyelesaian makalah
ini hingga rampungnya makalah ini.

Demikianlah yang dapat kami haturkan, kami berharap supaya makalah


yang telah kami buat ini mampu memberikan manfaat.

Cimahi, 7 Juli 2019

Penyusun

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ I

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... II

1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2

1.3 Tujuan Pembahasan.................................................................................... 2

BAB II ISI .............................................................................................................. 3

2.1 Elektrokardiografi dan Elektrokardiogram ............................................. 3

2.2 Sistem Konduksi Jantung ........................................................................... 5

2.3 Elektrofisiologi sel otot jantung ................................................................. 5

2.4 Komponen Instrumen EKG ....................................................................... 8

2.5 Komponen pada Kurva EKG .................................................................. 12

2.6 Pembacaan Elektrokardiogram ............................................................... 14

2.7 Kelainan EKG............................................................................................ 20

BAB III KESIMPULAN ..................................................................................... 31

DAFTAR PUSTAKA

II
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jantung merupakan salah satu rongga organ berotot yang memompa darah ke
pembuluh darah secara teratur dan berulang. Letak jantung berada di sebelah kiri
bagian dada diantara paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Massa jantung kurang
lebih 300 gram atau kira-kira sebesar kepalan tangan. Jantung berfungsi memompa
darah ke seluruh tubuh dan kemudian kembali ke jantung. Maka jika peredaran ini
terganggu maka inilah yang disebut dengan sakit jantung (Jatmiko,2013).

Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan bagi
manusia. Ciri-ciri orang yang terkena penyakit jantung biasanya sering kelelahan,
sering berkeringat, mual berlebihan, merasa cemas dan tegang, nyeri dada, denyut
jantung tidak teratur, sakit kepala, sesak nafas, dan pembengkakan perut dan kaki,
itulah yang disebut dengan sakit jantung (Harjana, 2004). Penyakit jantung dapat
dideteksi secara dini melalui alat medis yang disebut Elektrokardiografi (EKG).
EKG sangat efektif untuk merekam aktivitas kelistrikan jantung pada manusia
(Knneth, 1998).

EKG merupakan alat yang mendeteksi perubahan-perubahan potensial listrik


pada jantung manusia. Kegunaan EKG adalah untuk mengetahui kelainan-kelainan
irama jantung (aritmia), kelainan miokardium (infark, hipertrophy atrial dan
ventrikel), pengaruh atau efek obat-obat jantung, gangguan elektrolit, dan gangguan
peradangan pada lapisan pelindung jantung (perikarditis). Prinsip kerja dari EKG
adalah merekam sinyal listik yang terkait dengan aktivitas jantung dan
menghasilkan grafik rekaman tegangan listrik terhadap waktu. EKG yang normal
menunjukan pembelokan atau defleksi yang dihasilkan dari aktivitas atrial sebagai
perubahan kecenderungan tegangan atau voltage dan polaritas (positif dan negatif)
terhadap waktu (Aston, 1991).

1
1.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah yang timbul dalam pembuatan makalah ini yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan Elektrokardiografi dan Elektrokardiogram?


2. Bagaimana pembacaan Elektrokardiogram?
3. Apa saja gelombang-gelombang yang dibaca oleh Elektrokardiogram?
4. Apa saja kelainan dalam pembacaan sinyal EKG?

1.3 Tujuan Pembahasan

Pembuatan makalah memiliki beberapa tujuan yang dicapai oleh penulis yaitu:
1. Mengetahui secara lengkap tentang Elektrokardiografi dan
Elektrokardiogram.
2. Dapat menjelaskan gelombang-gelombang yang terbaca oleh
Elektrokardiogram.
3. Mendeskripsikan langkah-langkah pembacaan pada Elektrokardiogram.
4. Menentukan penyakit pada jantung berdasarkan pada kelainan pembacaan
sinyal EKG.

2
BAB II

ISI

2.1 Elektrokardiografi dan Elektrokardiogram

Otot jantung merupakan otot yang mempunyai keistimewaan tersendiri


dibandingkan dengan otot lainnya. Otot jantung mempunyai suatu system yang
dapat memberikan suatu impuls rangsangan kontraksi sendiri (automacity) dan
memeruskan rangsangan tersebut keseluruh otot jantung (disebut dengan proses
konduksi).

Setiap kontraksi dan relaksasi dari otot jantung akan memberikan perubahan
potensial aksi kelistrikan yang dapat kita lihat dengan merekam perubahan tersebut
pada alat perekam khusus.

Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik jantung.


Elektrikardiogram (EKG) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik
jantung. EKG menggunakan sebuah mesin yang bernama elektrokardiograf. Alat
ini mencatat aktivitas otot jantung kemudian menampilkan data tersebut pada layar
atau kertas print. Hasil inilah yang kemudian ditafsirkan oleh dokter ahli jantung.
EKG adalah terobosan dalam dunia medis yang memudahkan dokter untuk
mendiagnosis kelainan jantung secara lebih efektif. Kegiatan listrik jantung dalam
tubuh dapat dicatat dan direkam melalui elektroda-elektroda yang dipasang pada
permukaan tubuh.

Fungsi dasar dari elektroda adalah mendeteksi sinyal kelistrikan jantung. Fungsi
dari transducer adalah untuk mengkonversi informasi biologis menjadi sinyal
elektrik yang dapat diukur. Transducer ini dipakai dengan menggunakan interface
jelly electrodeelectrolyte. Dengan menggunakan elektroda Ag/AgCl mengurangi
noise dengan frekuensi rendah pada sinyal EKG yang terjadi karena pergerakan.

3
Gambar 2.1 memperlihatkan beberapa contoh sensor EKG sedangkan gambar 2.2
memperlihatkan salah satu teknik monitoring EKG dalam penempatan elektroda.

Gambar 2.1 Contoh Sensor EKG

Gambar 2.2 Salah satu teknik monitoring EKG

Pada pemeriksaan EKG, kondisi jantung normal biasanya mempunyai


karakteristik irama yang khas. Apabila ditemukan irama jantung yang cenderung
tidak teratur atau aktivitas listrik terganggu akibat gangguan otot jantung, maka
kondisi tersebut bisa dideteksi. Hal ini ditunjukkan dari bentuk EKG yang tidak
beraturan.

Ada beberapa fungsi dari pemeriksaan EKG. Diantara fungsi tersebut antara lain
mengetahui denyut serta irama jantung sehingga membantu dokter untuk
mendiagnosis adanya kelainan. Selain itu, fungsi alat EKG juga meliputi
mengetahui posisi jantung, mendeteksi adanya penebalan otot atau tidak,
mendeteksi adanya kerusakan pada bagian jantung, mengetahui gangguan aliran
darah di dalam jantung, dan mengetahui pola aktifitas listrik jantung yang dapat
menyebabkan gangguan irama jantung.

4
2.2 Sistem Konduksi Jantung

Jantung terdiri dari empat ruang yang berfungsi sebagai pompa system sirkulasi
darah. Yang paling berperan adalah bilik (ventrikel), sedangkan serambi (atria)
sebenarnya berfungsi sebagai ruang penyimpanan selama bilik memompa.
Ventrikel berkontraksi, ventrikel kanan memasok darah ke paru-paru, dan ventrikel
kiri mendorong darah ke aorta berulang-ulang melalui sistem sirkulasi, fasa ini
disebut systole. Sedangkan fasa pengisian atau istirahat (tidak memompa) setelah
ventrikel mengosongkan darah menuju arteri disebut diastole. Kontraksi jantung
inilah yang mendasari terjadinya serangkaian peristiwa elektrik dengan koordinasi
yang baik. Aktivitas elektrik dalam keadaan normal berawal dari impuls yang
dibentuk oleh pacemaker di simpul SinoAtrial (SA) kemudian melewati serabut
otot atrial menuju simpul AtrioVentrikular (AV) lalu menuju ke berkas His dan
terpisah menjadi dua melewati berkas kiri dan kanan dan berakhir pada serabut
Purkinje yang mengaktifkan serabut otot ventrikel.

Gambar 2.3 Sistem Konduksi Jantung

2.3 Elektrofisiologi sel otot jantung

Elektrofisiologi ialah studi sifat kelistrikan sel dan jaringan biologis, yang
melibatkan pengukuran perubahan voltase atau arus listrik pada sejumlah skala
dari protein saluran ion, ke semua jaringan, seperti jantung.

5
Aktifitas listrik jantung merupakan akibat dari perubahan permeabilitas
membran sel, yang memungkinkan pergerakan ion-ion melalui membran tersebut.
Dengan masuknya ion-ion ini, maka muatan listrik sepanjang membran mengalami
perubahan yang relatif.

Terdapat tiga ion penting dalam elektrofisiologi sel otot jantung yaitu :

1. Kalium
2. Natrium
3. Kalsium

Terdapat beribu-ribu kanal ion yang merupakan jalan utama untuk ion dapat
berdifusi, dan kanal-kanal tersebut relative spesifik terhadap ion-ion tertentu.
Contohnya kanal natrium akan lebih utama dilalui oleh ion natrium (Na+), kanal
kalsium lebih utama akan dilalui oleh ion kalsium (Ca++) dan begitu juga dengan
kanal kalium lebih utama akan dilalui oleh ion Kalium (K+). Terbuka dan
tertutupnya pintu gerbang dari kanal-kanal ion tersebut tergantung dari pada kondisi
transmembran.

Pada saat kanal tersebut terbuka maka ion akan mengalir melalui membrane
menurut perbedaan konsentrasi gradiennya, yaitu mengalir dari konsentrasi yang
tinggi menuju ke konsentrasi yang rendah.

Dalam keadaan istirahat sel otot jantung, permukaan luarnya hanya bermuatan
positif dan bagian dalamnya bermuatan negative.

Proses terjadinya perubahan muatan akibat rangsangan disebut depolarisasi,


setelah sel depolarisasi maka akan terjadi pengembalian muatan ke keadaan semula
yang disebut repolarisasi, dan seluruh rangkaian proses tersebut dinamakan aksi
potensial.

6
Gambar 2.4 Kondisi ION saat proses aksi potensial

Aksi potensial terdiri dari 5 fase, antara lain adalah :

1. Fase 0

Merupakan fase depolarisasi, adalah penanjakan pertama dari potensial


istirahat (Resting potensial) sebagai akibat dari masuknya natrium secara
tiba-tiba ke dalam sel.

2. Fase 1

Adalah fase repolarisasi singkat yang terjadi sesaat setelah fase 0. Fase ini
disebabkan karena tertutupnya kanal natrium secara tiba-tiba dan keluarnya
kalium dari dalam sel.

3. Fase 2

Adalah fase plateu dalam aksi potensial, fase ini terjadi secara perlahan-
lahan sebagai akibat masuknya kalsium ke dalam sel dan fase ini sangat
penting untuk mengatur kontraksi jantung.

7
4. Fase 3

Adalah repolarisasi lebih lanjut setelah fase 2. Fase ini terjadi karena
tertutupnya kanal kalsium dan keluarnya kalium dari dalam sel, sehingga
mengurangi muatan positif di dalam sel.

5. Fase 4

Adalah fase di antara kedua potensial aksi. Pada fase ini terjadi redistribusi
ion-ion ke keadaan sel istirahat, dimana bagian dalam sel bermuatan
negative dan bagian luar bermuatan positif.

2.4 Komponen Instrumen EKG

A. Elektroda

Elektroda dibuat dari bahan yang menjamin resistensi yang rendah antara
kulit dan permukaan elektroda. Bentuknya bermacam-macam, seperti :
suction elektroda, flat limb elektroda dan self adhesive silver chloride
elektroda.

Elektroda berdasarkan polaritasnya dibagi menjadi elektroda positif (anode)


dan elektroda negatif (katode) dan netral (ground elektroda). Agar perolehan
gambar EKG jelas, maka dibubuhi krim atau jelly sehingga resistensi antara
elektroda dengan kulit menjadi seminimal mungkin.

EKG dapat direkam antara dua kutub (kurub positif dan negatif) yang
dipasang di permukaan tubuh dengan sebuah elektroda netral sebagai
kontak ketiga dan diletakkan di tungkai dan bertujuan untuk menyalurkan
arus listrik berlebihan ke tanah. EKG standar terdiri dari 12 lead, yang hasil
perekamannya pada tempat yang mampu memberi gambaran aktivitas
bioelektrik jantung.

Terdapat 2 jenis elektroda, yaitu :

8
1. Elektroda Ekstremitas

Elektroda ini terdapat 4 buah yang peletakannya berada di Tangan Kiri


(LA), Tangan Kanan (RA), Kaki Kiri (LL), dan Kaki Kanan (RL)

2. Elektroda Dada

Elektroda ini terdapat 6 buah yaitu V1, V2, V3, V4, V5, V6.

Gambar 2.5 Pemasangan Elektroda Dada

Elektroda yang dipasang di tempat tertentu pada tubuh, merupakan suatu


sadapan. Garis hipotetis yang menghubungkan kedua elektroda ini disebut
poros sadapan. Terdapat tiga macam sadapan, yaitu:

1. Sadapan bipolar/standar

Melalui sadapan ini diukur perbedaan potensial antara dua elektroda


pada permukaan tubuh. Sadapan ini pertama kali digunakan oleh
Einthoven untuk mengetahui perbedaan potensial listrik pada bidang
frontal (Sadapan Einthoven). Sadapan disebut juga sadapan standar
yang ditandai dengan I,II dan III.

 Sadapan I : Elektroda positif yang dihubungkan dengan LA dan


elektroda negative dengan RA. (Menunjukkan keadan jantung
kiri lateral)

9
 Sadapan II : Elektroda positif yang dihubungkan dengan LL
dan elektroda negative dengan RA. (Berjalan paralel dengan
arah vektoryang normal)
 Sadapan III : Elektroda positif yang dihubungkan dengan LA
dan elektroda negative dengan LL. (Menunjukkan keadaan
jantung kanan dan bawah)

2. Sadapan unipolar extremitas

Sandapan ini mengukur potensial listrik pada satu titik. Sandapan ini
pertama kali diguanakan oleh Wilson. Selanjutnya Goldberg
memperbaharui teknik perekaman dengan sandapan ekstremitas yang
diperbesar. Terdiri dari aVR, aVL, aVF.

 Sadapan aVR : Sadapan unipolar lengan kanan yang


diperkuat (menunjukkan jantung kanan)
 Sadapan aVL : Sadapan unipolar lengan kiri yang diperkuat
(menunjukkan jantung kiri dan lateral)
 Sadapan aVF : Sadapan unipolar tungkai kiri yang diperkuat
(menunjukkan jantung bawah)

3. Sadapan unipolar precordial

Sandapan unipolar dada ditandai dengan huruf V, Penempatan


elektroda sebagai berikut :

V1 : ruang iga keempat pada garis sternal kanan

V2 : ruang iga keempat pada garis sternal kiri

V3 : terletak antara V2 dan V6

V4 : ruang iga kelima pada garis midclavicularis kiri.

10
V5 : garis axilla depan

V6 : garis axilla tengah.

V7: garis axilla belakang

V8 : garis scapula belakang

V9 : batas kiri columna vertebralis

V3R : lokasinya sama dengan V3 tetapi disebelah kanan.

Gambaran EKG pada sandapan ini menunjukkan :

V1 : Menunjukkan keadaan jantung anterior atas kanan dan


anteroposterior.

V1, V2, V3 : Menunjukkan kadar jantung anteroseptal.

V4 : Menunjukkan keadaan jantung anteroapical.

V5-V6 : Menunjukkan keadaan jantung anterolateral atau jantung kiri


lateral.

B. Kertas EKG

Kertas EKG merupakan kertas grafik yang dibagi dengan garis tipis (1mm
x 1mm) dan garis yang agak tebal (5mm x 5mm) secara horizontal.

Aksis horizontal mewakili waktu, kecepatan mencatat mesin EKG sebesar


25 mm/detik. Dengan demikian 1 mm horizontal mewakili 0,04 detik dan 5
mm mewakili 0,2 detik. Dalam keadaan frekuensi denyut jantung yang
tinggi maka kecepatan rekaman dirubah menjadi 50 mm/detik.

Aksis vertikal mewakili voltase. Standardisasi baku untuk


voltase(amplitudo) adalah 1, artinya 10 kotak kecil vertikal (1cm) mewakili
1 mV. Standardisasi ini harus selalu konsisten agar dengan melihat

11
amplitudo, gambaran EKG dapat menunjukkan atau mengetahui ada
tidaknya perubahan voltase dari konduksi jantung.

Apabila EKG jantung terekam terlalu kecil, maka standardisasi amplitudo


dapat diubah menjadi 0,5, artinya 0,5 cm mewakili 1mV. Apabila kompleks
EKG terlalu besar, maka standardisasi amplitudo diubah menjadi 2, artinya
2 cm mewakili 1mV.

Gambar 2.6 Gambar Kertas EKG

2.5 Komponen pada Kurva EKG

Hasil yang direkam pada kertas EKG membentuk kurva, yang didalamnya
terdiri dari gelombang-gelombang, interval dan segmen. Gelombang-gelombang
pada kurva EKG terdapat 4 jenis, yaitu:

1. GELOMBANG P

Rekaman depolarisasi di miokardium atrium sejak dari awal sampai akhir. Oleh
karena SA node terletak di atrium kanan, otomatis atrium kanan lebih dulu
terdepolarisasi daripada atrium kiri. Sebagian dari bagian gelombang P pertama
menunjukkan depolarisasi atrium kanan, dan bagian yang kedua menunjukkan
depolarisasi atrium kiri.

12
2. KOMPLEKS QRS

Merupakan rekaman depolarisasi di ventrikel sejak dari awal sampai akhir.


Amplitudo kompleks QRS jauh lebih besar dari gelombang P, sebab ventrikel
jauh lebih besar daripada atrium.

Penamaannya :

 Jika defleksi (letupan) pertama ke bawah, disebut gelombang Q.


 Jika defleksi pertama ke atas, disebut gelombang R.
 Jika ada defleksi ke atas kedua, disebut gelombang R’ (R-pelengkap = R-
prime).
 Defleksi ke bawah pertama setelah defleksi ke atas, disebut gelombang S.

Kompleks QRS biasanya digambarkan dalam EKG sebanyak 3 defleksi, namun


ada juga yang 2 defleksi saja.

 Defleksi pertama menggambarkan peristiwa depolarisasi septum


interventrikulare oleh fasikulus septal dari cabang kiri berkas.
 Defleksi kedua dan ketiga menggambarkan depolarisasi ventrikel kiri dan
kanan.

3. GELOMBANG T

Rekaman repolarisasi ventrikel dari awal sampai akhir. Ada juga yang
dinamakan gelombang.repolarisasi atrium, namun timbulnya bertepatan dengan
depolarisasi ventrikel dan tertutup oleh kompleks QRS yang lebih mencolok.

4. GELOMBANG U

Perpanjangan dari gelombang T yang menunjukkan repolarisasi ventrikel dari


awal sampai akhir. Gelombang ini kadang ada kadang tidak. Hanya muncul
sewaktu waktu dan tidak memberikan kelainan klinis, namun bisa terdapat pada
keadaan patologis.

13
Interval pada kurva EKG paling sedikit mencakup satu gelombang ditambah
garis lurus penghubungnya. Jenis-jenis interval pada kurva EKG yaitu:

1. Interval PR/PQ = gelombang P + garis lurus yang menghubungkannya dg


kompleks QRS. Fungsi : mengukur waktu dari permulaan depolarisasi
atrium sampai pada mulainya depolarisasi ventrikel.
2. Interval QT = meliputi kompleks QRS, segmen ST dan gelombang T.
Fungsi : mengukur waktu dari permulaan depolarisasi ventrikel sampai
akhir repolarisasi ventrikel.
3. Interval QU = meliputi kompleks QRS, segmen ST, gelombang T dan U.
Fungsi : mengukur waktu dari permulaan depolarisasi ventrikel sampai
akhir repolarisasi ventrikel (akhir gelombang U).

Segmen pada kurva EKG adalah garis lurus yang menghubungkan antara 2
gelombang. Jenis-jenis Segmen pada kurva EKG yaitu:

1. Segmen PR/PQ = garis di antara gelombang P dengan kompleks QRS,


menunjukkan waktu akhir depolarisasi atrium sampai mulainya depolarisasi
ventrikel (ventrikel aktif).
2. Segmen ST = garis lurus dari akhir kompleks QRS dg bagian awal glb.T.
Fungsi : mengukur waktu antara akhir depolarisasi ventrikel sampai pada
mulainya repolarisasi ventrikel.
3. Garis Isoelektrik = garis lurus yang sejajar dengan segmen PQ dengan
segmen ST. Jika Segmen ST di atas garis isoelektrik disebut ST elevasi, jika
di bawah disebut ST depresi.

2.6 Pembacaan Elektrokardiogram

Elektrokardiogram tidak menilai kontraktilitas jantung secara langsung. Namun,


EKG dapat memberikan indikasi menyeluruh atas naik-turunnya suatu
kontraktilitas. Berikut cara membaca hasil mesin EKG :

1. Irama Jantung

14
Irama jantung normal adalah irama sinus, yaitu irama yang berasal dari
impuls yang dicetuskan oleh Nodus SA yang terletak di dekat muara Vena
Cava Superior di atrium kanan jantung. Irama sinus adalah irama dimana
terdapat gelombang P yang diikuti oleh kompleks QRS. Irama jantung juga
harus teratur/ reguler, artinya jarak antar gelombang yang sama relatif sama
dan teratur.

Jadi yang ditentukan dari irama jantung adalah sinus atau bukan dan irama
jantung nya reguler atau tidak reguler.

2. Frekuensi Jantung

Frekuensi jantung atau Heart Rate (HR) adalah jumlah denyut jantung
selama 1 menit. Cara menentukannya dari hasil EKG ada bermacam-
macam. Berikut macam-macam rumus untuk menentukan frekuensi jantung
:

a. Rumus 1

HR = 1500 / x

x = jumlah kotak kecil antara gelombang R yang satu dengan


gelombang R setelahnya

b. Rumus 2

HR = 300 / y

y = jumlah kotak sedang (5x5 kotak kecil) antara gelombang R yang


satu dengan gelombang R setelahnya.

c. Rumus 3

Rumus ini dengan menentukan panjang Lead II (durasi 6 detik,


patokannya ada di titik-titik kecil di bawah kertas EKG, jarak antara
titik 1 dengan titik setelahnya = 1 detik). Rumusnya :

HR = Jumlah QRS dalam 6 detik x 10

15
Yang ditentukan dari frekuensi jantung adalah :

 Normal: HR berkisar antara 60 – 100 x / menit.


 Bradikardi= HR < 60x /menit
 Takikardi= HR > 100x/ menit

3. Aksis

Aksis jantung normal (positif) adalah antara -30° sampai dengan 120° (ada
yang mendefinisikan sampai 100° saja). Sebenarnya ini adalah proyeksi dari
arah jantung sebenarnya. Pada kertas EKG, bisa dilihat gelombang potensial
listrik pada masing-masing lead. Gelombang disebut positif jika arah
resultan QRS itu ke atas, dan negatif jika ia kebawah. Berikut ini arti dari
masing-masing Lead:

 Lead I = merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan


tangan kiri (LA), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri
bermuatan positif (+).
 Lead II = merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan
kaki kiri (LF), dimana tangan kanan bermuatan negatif (-), dan kaki
kiri bermuatan positif (+)
 Lead III = merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan
kaki kiri (LF), dimana tangan kanan bermuatan negatif (-) dan
tangan kiri bermuatan positif (+)
 Lead aVL = merekam potensial listrik pada tangan kiri (LA), dimana
tangan kiri bermuatan positif (+), tangan kanan dan kaki kiri
membentuk elektroda indiferen (potensial nol)
 Lead aVF = merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF), dimana
kaki kiri bermuatan positif (+), tangan kiri dan tangan kanan nol.

16
 Lead aVR = merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA),
dimana tangan kanan positif (+), tangan kiri dan kaki kiri nol.

Cara menentukan aksis dari kertas EKG itu adalah:

 Lihat hasil pada Lead I, perhatikan resultan gelombang di kompleks


QRS. Jika resultan gaya Q, R dan S nya positif, (Jika gelombang R-
nya lebih tinggi daripada jumlah Q dan S, bisa dihitung jumlah
kotaknya), maka lead I = positif (+). Jika R-nya lebih rendah
daripada jumlah Q dan S, maka lead I = negatif (-).
 Lihat hasil pada Lead aVF, perhatikan hal yang sama dengan yang
dilakukan pada Lead 1, apakah lead aVF nya positif atau negatif.
 Jika masih ragu lihat lagi di Lead II (lead II hasilnya lebih bagus
karena letak lead II searah dengan arah jantung normal). Tentukan
apakah lead II nya positif atau negatif.

Cara menentukan hasilnya adalah :

 Aksis Normal = ketiga lead tersebut bernilai positif, artinya jantung


berada di antara aksis -30° sampai dengan 120° (beberapa
berpendapat hanya sampai 100°).
 LAD (Left Axis Deviation), artinya aksis / arah proyeksi jantungnya
bergeser ke kiri, atau di atas – 3o°. Lead aVF atau lead II nya negatif.
Ini biasa terjadi jika adanya pembesaran ventrikel kiri/ LVH (Left
Ventricular Hypertrophy), sehingga arah jantung tidak normal lagi.
 RAD (Right Axis Deviation), artinya aksisnya bergeser ke kanan,
atau di atas 120°. Lead I-nya akan negatif, sedangkan aVF dan II
positif. Biasanya ini terjadi jika adanya pembesaran jantung kanan/
RVH (Right Ventricular Hypertrophy).

4. Gelombang P

17
Gelombang P adalah representasi dari depolarisasi atrium. Gelombang P
yang normal:
 Lebar < 0,12 detik (3 kotak kecil ke kanan)
 Tinggi < 0,3 mV (3 kotak kecil ke atas)
 Selalu positif di lead II
 Selalu negatif di aVR

Yang ditentukan dari gelombang P :


 Normal
 Tidak normal:
 P-pulmonal : tinggi > 0,3 mV, bisa karena hipertrofi atrium kanan.
 P-mitral: lebar > 0,12 detik dan muncul seperti 2 gelombang
berdempet, bisa karena hipertrofi atrium kiri.
 P-bifasik: muncul gelombang P ke atas dan diikuti gelombang ke
bawah, bisa terlihat di lead V1, biasanya berkaitan juga dengan
hipertrofi atrium kiri.

5. PR Interval

PR interval adalah jarak dari awal gelombang P sampai awal komplek QRS.
Normalnya 0,12 – 0,20 detik (3 – 5 kotak kecil). Jika memanjang, berarti
ada blokade impuls. Misalkan pada pasien aritmia blok AV.

Yang ditentukan: normal atau memanjang.

6. Kompleks QRS

Adalah representasi dari depolarisasi ventrikel. Terdiri dari gelombang Q,


R dan S. Normalnya:

 Lebar = 0.06 – 0,12 detik (1,5 – 3 kotak kecil)


 tinggi tergantung lead.

18
Yang dinilai:

 Gelombang Q: adalah defleksi pertama setelah interval PR /


gelombang P. Tentukan apakah dia normal atau patologis. Q
Patologis antara lain:
o Durasinya > 0,04 (1 kotak kecil)
o Dalamnya > 1/3 tinggi gelombang R.
 Variasi Kompleks QRS, QS, QR, RS, R saja, rsR’, dll. Variasi
tertentu biasanya terkait dengan kelainan tertentu.
 Interval QRS, adalah jarak antara awal gelombang Q dengan akhir
gelombang S. Normalnya 0,06 – 0,12 detik (1,5 – 3 kotak kecil).
Tentukan apakah dia normal atau memanjang.

7. Menentukan RVH / LVH

Rumusnya,
 RVH jika tinggi R / tinggi S di V1 > 1
 LVH jika tinggi RV5 + tinggi SV1 > 35

8. ST Segmen

ST segmen adalah garis antara akhir kompleks QRS dengan awal


gelombang T. Bagian ini merepresentasikan akhir dari depolarisasi hingga
awal repolarisasi ventrikel. Yang dinilai:
 Normal: berada di garis isoelektrik
 Elevasi (berada di atas garis isoelektrik, menandakan adanya infark
miokard)
 Depresi (berada di bawah garis isoelektrik, menandakan iskemik)

19
9. Gelombang T

Gelombang T adalah representasi dari repolarisasi ventrikel. Yang dinilai


adalah:

 Normal: positif di semua lead kecuali aVR


 Inverted: negatif di lead selain aVR (T inverted menandakan adanya
iskemik)

2.7 Kelainan EKG

1. Bradi kardi Sinus

Bradikardia Sinus adalah kondisi di mana jantung berdetak lebih lambat dari
biasanya. Melambatnya detak jantung seseorang umumnya tidak
menimbulkan gejala. Namun, jika melambatnya detak jantung sering terjadi
dan disertai gangguan irama jantung, hal itu akan berdampak pada organ
dan jaringan tubuh lain yang tidak terpenuhi pasokan darahnya

Detak jantung normal seseorang berbeda-beda, tergantung usia. Berikut


merupakan detak jantung normal seseorang berdasarkan usianya:

 Dewasa: berdetak 60-100 kali dalam satu menit.


 Anak-anak usia 1-12 tahun: berdetak 80-110 kali dalam satu menit.
 Bayi (kurang dari 1 tahun): berdetak 100-160 kali dalam satu menit.

Umumnya, detak jantung normal pada orang dewasa saat beristirahat adalah
60 sampai 100 kali per menit. Sedangkan jantung pengidap Bradikardia
Sinus berdetak di bawah 60 kali per menit. Pada beberapa orang, detak
jantung yang lambat tidak menyebabkan masalah medis. Namun pada
sebagian orang lainnya, Bradikardia Sinus bisa merupakan tanda adanya
gangguan sistem kelistrikan jantung.

20
Perlu diketahui bahwa Bradikardia Sinus dapat menjadi penyakit serius,
bahkan bisa menyebabkan kematian, jika jantung sampai tidak bisa
memompa oksigen yang cukup ke tubuh. Pada beberapa kasus, Bradikardia
Sinus bisa tidak memperlihatkan gejala atau komplikasi apa pun.

Gambar 2.7 EKG kelainan Bradikardia Sinus

Pada gambaran EKG ditandai dengan gelombang P, interval PR dan


gelombang QRS pada keadaan normal.

Umumnya, detak jantung yang melambat tidak menimbulkan gejala.


Namun apabila sering terjadi dan disertai dengan aritmia, detak jantung
yang lambat akan menimbulkan gangguan pada organ dan jaringan tubuh
lain yang tidak terpenuhi pasokan darahnya. Ketika pasokan darah ke organ
atau jaringan tubuh terganggu, gejala yang akan muncul adalah:

 Pusing
 Sesak napas
 Nyeri dada
 Pingsan
 Kebingungan
 Mudah lelah
 Sianosis (warna kulit kebiruan)
 Kulit pucat
 Gangguan penglihatan
 Perut terasa nyeri
 Sakit kepala
 Sakit pada rahang atau lengan

21
 Lemas

Melambatnya detak jantung pada remaja, atlet, atau orang yang sedang tidur
dapat terjadi dan tergolong normal. Namun, apabila kondisi tersebut sering
terjadi dan menimbulkan gejala berupa pusing atau sesak napas, bisa jadi
disebabkan oleh adanya gangguan aktivitas listrik pada jantung yang
berperan sebagai pengatur detak jantung.

Penyebab gangguan aliran listrik pada jantung itu sendiri dapat berbeda-
beda di tiap orang. Kebiasaan merokok dan penyalahgunaan obat-obatan
merupakan salah satu pemicu terjadinya gangguan pada listrik di jantung,
yang kemudian dapat menyebabkan detak jantung melambat.

Sesuatu yang mengganggu impuls listrik pengontrol tempo detak jantung


akan menjadi penyebab bradikardia. Banyak hal yang menyebabkan
gangguan tersebut, beberapa di antaranya adalah:

 Ketidakseimbangan elektrolit tubuh yang dibutuhkan untuk


menghasilkan impuls listrik.
 Hipotiroid.
 Rusaknya jaringan jantung akibat usia, serangan jantung, atau penyakit
tertentu.
 Tekanan darah tinggi atau hipertensi.
 Kelainan jantung saat lahir.
 Infeksi pada jaringan jantung.
 Komplikasi saat pembedahan jantung.
 Gangguan napas berulang saat tidur.
 Penyakit inflamasi, seperti demam rematik atau lupus.
 Penimbunan zat besi pada organ tubuh.
 Obat-obatan.
 Gangguan pada noda sinus, sumber kelistrikan jantung.
 Blok jantung. Kondisi di mana terganggunya aliran listrik yang
mengendalikan denyut jantung.

22
2. Takhi kardi Sinus

Takikardi Sinus adalah keadaan di mana detak jantung melebihi 100 kali
per menit. Dalam keadaan normal, jantung berdetak sebanyak 60 hingga
100 kali per menit. Kondisi percepatan detak jantung tersebut normal
terjadi saat seseorang sedang berolahraga, atau merupakan respon tubuh
terhadap stress, trauma, serta penyakit.

Detak jantung diatur oleh sinyal listrik yang dikirim melalui jaringan
jantung. Takikardia dapat dikatakan abnormal ketika serambi atau bilik
jantung berdetak lebih cepat, walaupun saat sedang beristirahat. Terdapat
beberapa jenis takikardia yang abnormal berdasarkan tempat dan
penyebabnya, yaitu takikardia pada serambi atau atrium (fibrilasi atrium dan
atrial flutter), serta takikardia pada bilik jantung atau ventrikel (takikardia
ventrikel dan supaventrikular).

Gambar 2.8 EKG kelainan Takikardi Sinus

Pada gambaran EKG ditandai dengan gelombang P, interval PR dan


gelombang QRS pada keadaan normal.

Untuk takikardia yang abnormal ini, seringkali juga tidak menimbulkan


gejala atau komplikasi. Tapi jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini
dapat mengganggu fungsi jantung sehingga memicu komplikasi serius,
seperti gagal jantung

Detak jantung manusia diatur oleh pacu jantung alami bernama nodus
sinoatrial yang terletak di serambi kanan jantung, Nodus tersebut

23
memproduksi sinyal elektrik yang memicu setiap detak jantung. Takikardia
terjadi saat terjadi gangguan pada sinyal elektrik yang mengatur detak
jantung untuk memompa darah. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh:

 Kondisi medis; anemia, hipertiroidisme, hipertensi atau hipotensi,


demam.
 Olahraga berat.
 Gangguan elektrolit.
 Efek samping obat, seperti salbutamol atau azithromycin.
 Kebiasaan merokok.
 Konsumsi kafein.
 Penyalahgunaan NAPZA.
 Terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol.
 Mengalami stress atau ketakutan.

Jenis takikardia berkutnya terjadi pada serambi atau atrium jantung. Jenis
tersebut terdiri dari:

 Fibrilasi atrium. Pada takikardia jenis ini, impuls elektrik pada atrium
atau serambi atas jantung menjadi kacau. Akibatnya, sinyal terjadi
secara cepat, tidak teratur, serta kontraksi pada atrium menjadi lemah.
 Atrial flutter. Kondisi ini terjadi saat sirkuit dalam atrium menjadi
kacau, sehingga jantung berdetak lebih cepat, namun ritmenya teratur
dan kontraksi atrium menjadi lebih lemah. Penderita takikardia jenis ini
juga kerap mengalami fibrilasi atrium.

Tiga jenis takikardia lainnya terjadi pada ventrikel jantung. Ketiga jenis
tersebut adalah :

 Takikardia ventrikel. Kondisi ini terjadi saat sinyal elektrik pada


ventrikel berlangsung secara abnormal, sehingga kontraksi tidak dapat
terjadi secara efisien untuk memompa darah ke seluruh tubuh

24
 Fibrilasi ventrikel. Fibrilasi ventrikel terjadi ketika sinyal elektrik
menjadi cepat dan kacau, sehingga ventrikel hanya bergetar namun tidak
efektif memompa darah. Kondisi ini bisa terjadi pada saat atau setelah
terjadinya serangan jantung, dan tergolong fatal.
 Takikardia supraventrikular. Kondisi ini terjadi saat percepatan detak
jantung abnormal berasal dari atas ventrikel, sehingga menimbulkan
putaran sinyal yang tumpang tindih pada jantung.

Pada saat takikardia, denyut jantung dan nadi menjadi cepat, sehingga
pasien dapat merasakan:

 Jantung berdebar.
 Nyeri dada (angina).
 Kelelahan
 Sesak napas.
 Pusing.
 Pingsan.

Pada beberapa kasus, takikardia tidak menyebabkan munculnya gejala.


Namun jika kondisi ini dibiarkan, maka komplikasi serius dapat terjadi. Di
antaranya adalah gagal jantung, stroke, atau henti jantung. Dengan
pemberian obat dan prosedur medis, takikardia dapat dikendalikan, Kondisi
takikardia yang menyebabkan komplikasi, tergantung dari penyebab dan
jenis takikardia yang dialami.

3. Ekstra Sistol Ventrikel

Ekstrasistol ventrikel adalah gangguan irama jantung dimana timbul denyut


jantung prematur yang berasal dari fokus yang terletak di ventrikel.
Ekstrasistol ventrikel dapat berasal dari satu ventrikel atau lebih.
Ekstrasisitol ventrikel merupakan kelainan irama jantung yang paling sering
ditemukan dan dapat timbul pada jantung yang normal. Biasanya

25
frekuensinya bertambah dengan bertambahnya usia, terlebih bila banyak
minum kopi, merokok atau emosi.

Gambar 2.9 EKG kelainan Ekstrasistol ventrikel

Pada gambaran EKG ditandai dengan gelombang P tidak ada, interval PR


tidak ada dan gelombang QRS kurang dari 0,12 detik.

Ekstrasistol ventrikel terjadi karena impuls elektrik yang berfungsi


mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik. Gejala yang akan muncul
adalah:

 Berdebar
 Kehilangan denyut (skip pedbeat)
 Nyeri dada
 Denyut yang tiba – tiba keras
 Sesak nafas
 Dizziness

Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh:

 Kadar elektrolit dalam darah yang tidak seimbang


 Efek samping obat
 Konsumsi kafein atau merokok yang berlebihan. Kafein dan nikotin
menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dari normal dan
berkontribusi terjadinya aritmia
 Gangguan kelenjar tiroid, terlalu aktif (hipertiroid) ataupun kurang aktif
 Diabetes

26
 Hipertensi
 Gangguan pada jantung
 Penyakit jantung koroner

4. Takhi kardi Ventrikel

Ventricular tachycardia atau ventrikel takikardi adalah kondisi di mana


ventrikel (bilik) jantung berdetak terlalu cepat. Hal ini disebabkan oleh
gangguan aliran listrik jantung dengan penyebab yang bervariasi.

Ventrikel takikardi terjadi saat bilik atau ruangan bawah jantung berdetak
terlalu cepat dan tidak sinkron dengan gerakan serambi (atrium) jantung.
Akibatnya, jantung tidak dapat memompa darah secara efektif, sehingga
tubuh kekurangan oksigen.

Ventrikel takikardi disebabkan oleh gangguan listrik di jantung yang


mengontrol gerakan pompa pada bilik atau ventrikel jantung. Hal itu
menyebabkan bilik berdenyut terlalu cepat dari biasanya, sehingga darah
yang dipompa keluar dari jantung jumlahnya menurun dan kebutuhan darah
di seluruh bagian tubuh tidak dapat terpenuhi.

Gambar 2.10 EKG kelainan ventrikel takikardi

Pada gambaran EKG ditandai dengan gelombang P tidak terlihat, interval


PR tidak ada dan gelombang QRS kurang dari 0,12 detik.

Penyebab takikardia ventrikel tidak selalu dapat diidentifikasi, namun


biasanya kondisi ini disebabkan oleh gangguan jantung yang memang sudah
ada sebelumnya. Gangguan jantung yang dimaksud antara lain:

27
 Kardiomiopati atau penyakit otot jantung
 Penyakit jantung koroner
 Serangan jantung
 Gagal jantung
 Miokarditis atau peradangan otot jantung
 Cacat jantung bawaan

Selain faktor penyebab di atas, terdapat beberapa jenis takikardia ventrikel


yang diturunkan secara genetik, yaitu:

 Arrhythmogenic right ventricular tachycardia, yaitu takikardia yang


disebabkan oleh adanya gangguan irama pada bilik kanan jantung.
 Catecholaminergic polymorphic ventricular tachycardia, yaitu
takikardia yang dipicu oleh stres fisik maupun emosional, tanpa
ditemukan adanya kelainan pada struktur jantung.

Ada juga beberapa hal lain yang dapat menyebabkan ventrikel takikardi,
seperti:

 Obat-obatan tertentu, seperti obat dekongestan dan obat menguruskan


badan.
 Penyalahgunaan NAPZA, seperti kokain.
 Konsumsi kafein dan alkohol yang berlebihan.
 Olahraga yang terlalu berat.

Ada beberapa gejala yang menandai terjadi ventrikel takikardi, antara lain:

 Jantung berdebar, sehingga membuat penderitanya merasa tidak


nyaman.
 Sesak napas.
 Dada terasa nyeri atau tertekan.
 Pening atau terasa melayang.
 Penurunan kesadaran.

28
Ventrikel takikardi perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi
ventrikel fibrilasi, yaitu suatu kondisi yang berbahaya dan bisa
menyebabkan kematian.

5. Fibrilasi Ventrikel

Ventricular fibrillation atau ventrikel fibrilasi adalah salah satu jenis


gangguan irama jantung. Bilik jantung yang seharusnya berdenyut, menjadi
hanya bergetar saat terjadi ventrikel fibrilasi. Hal ini disebabkan oleh
adanya gangguan aliran listrik pada jantung. Akibatnya, jantung tidak
mampu memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga pasokan darah yang
membawa oksigen dan nutrisi ke organ-organ tubuh akan terhenti. Kondisi
ini merupakan kondisi darurat yang harus segera mendapatkan penanganan,
karena dapat menimbulkan kematian hanya dalam waktu beberapa menit.

Gambar XX. EKG kelainan ventrikel fibrilasi

Pada gambaran EKG ditandai dengan gelombang P tidak terlihat, interval


PR tidak ada dan gelombang QRS tidak dapat dihitung.

Ventrikel fibrilasi paling banyak ditemui pada orang dewasa berusia 45-75
tahun dan merupakan gangguan irama jantung yang sering dijumpai saat
serangan jantung. Di samping itu, ventrikel fibrilasi juga merupakan
penyebab utama dari kematian akibat henti jantung mendadak.

Gejala utama ventrikel fibrilasi adalah penurunan kesadaran. Selain itu,


penderita juga akan terlihat megap-megap atau berhenti bernapas. Namun
sebelum terjadi penurunan kesadaran dan megap-megap, ventrikel fibrilasi
dapat menimbulkan gejala berupa:

29
 Mual
 Pusing
 Nyeri dada
 Jantung berdebar

Ventrikel fibrilasi dapat terjadi jika terdapat gangguan pada aliran listrik
jantung. Gangguan aliran listrik ini dapat disebabkan oleh:

 Serangan jantung.
 Penyakit otot jantung (kardiomiopati).
 Penyakit jantung bawaan.
 Penyalahgunaan NAPZA jenis kokain atau metamfetamin.
 Gangguan keseimbangan elektrolit tubuh, misalnya magnesium dan
kalium.
 Sengatan listrik.

Ventrikel fibrilasi ini akan lebih rentan terjadi pada orang berusia antara 45-
75 tahun, dan pernah mengalami ventrikel fibrilasi sebelumya.

30
BAB III

KESIMPULAN

Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik jantung.


Elektrikardiogram (EKG) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik
jantung. Tujuan dari penggunaan EKG adalah :

1. Mengetahui denyut serta irama jantung


2. Mendiagnosis adanya kelainan.
3. Mengetahui posisi jantung
4. Mendeteksi adanya penebalan otot atau tidak
5. Mendeteksi adanya kerusakan pada bagian jantung
6. Mengetahui gangguan aliran darah di dalam jantung
7. Mengetahui pola aktifitas listrik jantung yang dapat menyebabkan
gangguan irama jantung.

Kurva pada Elektrokardiogram terdiri atas Gelombang P, Kompleks QRS,


Gelombang T, Gelombang U, Interval PR/PQ, Interval QT, Interval QU, Segmen
PR/PQ, Segmen ST, dan Garis Isoelektrik. Masing masing komponen kurva
mempunyai fungsinya tersendiri.

Untuk dapat membaca hasil dari EKG parameter yang harus diperhatikan adalah
Irama jantung, Frekuensi jantung, Aksis jantung, Gelombang P, PR Interval,
Kompleks QRS, RVH/LVH, ST Segmen, dan Gelombang T.

Beberapa kelainan pada EKG antara lain Bradi kardi Sinus, Takhi kardi Sinus,
Ekstra Sistol Ventrikel, Takhi kardi Ventrikel dan Fibrilasi Ventrikel.

31
DAFTAR PUSTAKA

http://mank-dhe29.blogspot.com/2011/11/belajar-ekg-elektrokardiografi-1-
konsep.html

https://www.slideshare.net/didiknur68/makalah-ekg

https://sentralalkes.com/blog/pengertian-ekg/

https://id.wikipedia.org/wiki/Elektrofisiologi

http://dokumen-muzavi.blogspot.com/2012/04/elektrofisiologi-sel-otot-
jantung.html

http://mycardiovaskuler.blogspot.com/2013/04/elektrofisiologi-sel-sel-otot-
jantung.html

https://sandurezu.wordpress.com/2011/11/16/elektrokardiogram-ekg/

http://hscfkunsoed.blogspot.com/2011/05/sadapan-dan-gelombang-pada-ekg.html