Anda di halaman 1dari 2

Persoalan penyalahgunaan dana BLBI mulai terkuak manakala Badan Pengawas

Keuangan dan Pembangunan (BPKP) melakukan audit untuk neraca Bank Indonesia
dan menghasilkan opini yang “disclaimer” per 14 Mei 1999, masalah penyalahgunaan
penyaluran BLBI tersebut. Sebagai akibat opini disclaimer tersebut, DPR meminta BPK
untuk melakukan audit investigasi atas BLBI ini, yang akhirnya hasilnya ke luar angka
penyalahgunaan dan berpotensi merugikan negara sebesar Rp 138.000.000.000.000,00
atau 96 % dari keseluruhan dana BLBI yang telah dikucurkan bank
Indonesia/Pemerintah, yaitu sejumlah 145.000.000.000.000,00.
Berikut Tabel Daftar 20 Bank dari 48 bank Penerima BLBI:

Penanggung
No Bank Jumlah BLBI %
Jawab
1 Bank Dagang Nasional 37.039.76 25,63 Sjamsyul
Indonesia nursalim
2 Bank Central Asia 25.596,28 18,40 Sudono salim
3 Bank Danamon 23.118,38 15,99 Usman atmadjaja
4 Bank Umum Nasional 12.057,95 8,35 M.hasan K.O
5 Bank Indonesia Raya 4.018,24 2,78 Atang latief
6 Bank Harapan Sentosa 3.866,18 2,67 Hendra raharja
7 Bank Nusa Nasional 3.020,32 2,09 -
8 Bank Tiara Asia 2.99,24 2,01 -
9 Bank Modern 2.557,69 1,77 Samadikun.h
10 Bank Pesona (d/h Bank 2.334,89 1,62 Sigit harjo.j
Utama)
11 Bank Pacific 2.133,37 1,48 Hendrik wilem
12 Bank Asia Pacific 2.054,97 1,42 Yhomas suyatno
13 Bank PDFCI 1.995,00 1,38 -
14 Bank Pelita 1.989,83 1,38 Hashim
15 Bank PSP 1.938,95 1,34 Slamet.S
16 Sejahtera Bank Umum 1.687,35 1,17 Hasudungan.T
17 Bank Surya 1.653,75 1,14 H.suudwi
katmono
18 Bank Central Dagang 1.403,49 0,97 Samhandojo
19 Bank Papan 928,91 0,64 Hasim
20 Bank Picorinvest 917,85 0,64 Dedy nurjaman
Diketahui, KPK menetapkan Syafruddin sebagai tersangka terkait penerbitan SKL
BLBI untuk Sjamsul Nursalim sebagai pemegang saham pengendali Bank Dagang
Negara Indonesia (BDNI) pada 2004 lalu. Sebagai Kepala BPPN, Syafruddin diduga
telah menguntungkan diri sendiri, atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena
jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara dalam penerbitan SKL kepada Sjamsul. Akibatnya, keuangan negara ditaksir
menderita kerugian hingga Rp3,7 triliun.

Sebagai bentuk pemulihkan keuangan negara karena kasus tersebut, KPK akan
menerapkan pasal pencucian uang terhadap tersangka. Tak hanya itu, KPK juga akan
menerapkan pidana korporasi terhadap perusahaan yang diuntungkan dari korupsi
tersebut sebagai mana diatur UU Tindak Pidana Pencucian Uang dalam Perma
Korporasi.

KPK akan menelusuri setiap rupiah yang dialirkan dari korupsi ini. Tak hanya di
Indonesia, pihaknya juga akan memburu aliran dana dari kasus ini hingga ke luar
negeri. Meski BDNI telah tutup akibat krisis ekonomi pada 1997-1998, pidana
korporasi ini belum tentu tak dapat diterapkan. Berdasar Pasal 8 ayat (1) Perma Nomor
13 tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi
disebutkan korporasi yang telah bubar setelah terjadinya tindak pidana tidak dapat
dipidana, akan tetapi terhadap aset milik korporasi yang diduga digunakan untuk
melakukan kejahatan dan/atau merupakan hasil kejahatan, maka penegakan hukumnya
dilaksanakan sesuai mekanisme sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan.

Dengan aturan tersebut, KPK dapat memburu aset-aset BDNI atau Sjamsul Nursalim
yang diketahui berasal dari korupsi SKL BLBI ini, meski telah dialirkan ke sejumlah
perusahaan lain milik Sjamsul, termasuk Gajah Tunggal.